Rabu, 30 Oktober 2019

# Buku Harianku

10 Oktober 2019 yang Tidak Akan Kulupakan

Hai, kali ini aku hendak mengabadikan kenangan salah satu kisah hidupku menjadi salah satu kandidat pemilihan sebuah jabatan struktural di tempat kerjaku. 

Kisah ini bermula dari terpampangnya namaku dalam daftar orang yang berhak mencalonkan diri dalam bursa jabatan struktural di tempat kerja. Daftar tersebut dikuatkan oleh peraturan direktur sebagai legalnya aku dan beberapa nama lain untuk bisa mendaftar.
Dengan niat baik, aku memutuskan mendaftar setelah sholat istikharah beberapa kali dan yakin bahwa aku mendapat dukungan dari teman-temanku. Oiya, aku juga minta izin dulu pada keluargaku. Ini yang paling penting. 



Selanjutnya, berbagai macam persyaratan harus aku penuhi. Mulai dari mengumpulkan berkas-berkas seperti surat sehat jasmani, rohani, bebas narkoba, penilaian kinerjaku selama 2 tahun terakhir, pasfoto, hingga visi misi dan proker untuk 4 tahun ke depan. Aku juga harus mengisi berlembar-lembar formulir terkait pendaftaran.



Aku mendaftar di hari terakhir. Di menit-menit terakhir pendaftaran. Aku sah sebagai calon resmi dan mengikuti seluruh prosedur pemilihan dengan baik dan benar.



Tibalah hari pemilihan alias pemungutan suara. 10 Oktober 2019, tanggal yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Jujur saja, malamnya aku tidak bisa tidur. Berasa hendak presentasi tesis saja. 

Aku dan kandidat lainnya harus mempresentasikan visi misi sebelum pemungutan suara dilakukan. Hanya ada dua kandidat di departemen kami.

Aku menyampaikan visi misi dan proker yang sebelumnya aku rancang dan susun sepenuh hatiku dengan niat tulus membangun tempat kerjaku, rumah keduaku, tempat aku bernaung dan berkarya serta mengabdi selama belasan tahun.

halaman pertama slide presentasiku


Innalillah, aku meraih suara terbanyak. 16:8. Aku menangis. Tidak tahu harus berkata apa saat diminta menyampaikan sepatah kata sebagai yang terpilih. Kerja berat terasa sudah menanti di depan mata. 

Setelah hari itu, aku sudah bersiap-siap untuk meninjau ulang prokerku, siap-siap untuk bekerja. Ternyata Tuhan punya hal lain untukku. Beberapa orang yang kurang menyukaiku menggugat keterpilihanku dengan berbagai alasan. Sampai tulisan ini kuposting, aku belum tahu bagaimana nasibku. 

Aku hanya bisa berpasrah pada Tuhan. Dialah pemilik kekuasaan. Dia menggenggam segalanya termasuk aku yang sebutir debu ini. Aku percaya Dia Maha Baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar