Jumat, 12 Desember 2025

GENERASI YANG GELISAH BERPESIAR TANPA BERLAYAR

12.05 0 Comments

Oleh Nailiya Nikmah Disampaikan pada Forum Penyair Muda, Dialektika Sastra Menara Pandang, DK Bjm, 12-13 Desember 2025



Dalam dunia kepenulisan terdapat sebuah teori yang mengatakan bahwa orang akan lebih mudah menuliskan sesuatu yang dekat dengan kehidupan kesehariannya; akan lebih sigap menuliskan sesuatu yang sedang berkecamuk memenuhi rongga jiwanya. Pun dengan puisi. Terlebih lagi karena puisi adalah media tulis yang paling dekat dengan upaya pengungkapan isi hati penulisnya.

Tidak ada puisi yang salah. Hanya saja, kita memerlukan puisi-puisi yang indah untuk layak bersemayam dalam benak pembacanya. Ukuran-ukuran, kriteria, juknis seringkali menjadi acuan ketika menulis puisi menjadi sebuah lomba atau sayembara. Tak dapat dipungkiri kadang subjektivitas penilai berperan sedikit banyaknya, setidaknya terkait selera. Meski terdapat unsur ekstrinsik, bahwa sebuah karya dipengaruhi oleh latar belakang pengarang - sebagai sebuah karya sastra - setelah sebuah puisi tercipta dari rahim penulisnya serta-merta ia telah menjadi milik pembacanya. Sebagai sebuah karya, maka sebuah puisi berjuang atas dirinya sendiri. Akankah diterima dan diapresiasi oleh pembaca, maka biarlah pembaca memainkan perannya.

Sebagai bagian dari  karya sastra, sama dengan karya sastra lainnya, puisi dibangun atas dari dua unsur utama, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Meski pembicaraan-pembicaraan yang hanya mengupas soal intrinsik sudah lama ditinggalkan – beralih ke hal-hal ekstrinsik dan multidimensi, tetap saja kita tidak bisa meninggalkan faktor-faktor intrinsik sebagai bagian utama bangunan sebuah karya sastra. Puisi telah berkembang dari puisi lama ke puisi modern. Dari yang terikat bait dan baris hingga ke yang sudah tidak terikat lagi. Pembaharuan-pembaharuan di bidang perpuisian tidak hanya soal bentuk tetapi juga sudah ke ranah tematik, filosofis serta apa yang diperjuangkan sebagai hal substantif lainnya.

Karya-karya yang terhimpun dalam Berpesiar Tanpa Berlayar ditulis oleh para penyair yang berkumpul dalam Forum Penyair Muda Kalimantan Selatan 2025. Sebuah jarak waktu yang begitu jauh dari Forum Penyair Muda yang pernah ada sebelumnya, yaitu 40 tahun silam. Angka yang cukup signifikan untuk sebuah perubahan generasi. Apabila dikaitkan dengan usia, para penyair peserta forum ini dikategorikan berusia muda dan rata-rata berusia 40 tahun ke bawah (kelahiran tahun 1980-an dan 2000-an).

Setiap generasi memperjuangkan kehidupan zamannya. Sebuah tulisan di website kementrian keuangan menyebutkan bahwa Generasi Y (Milenial) dan Generasi Z adalah dua kelompok demografi yang tumbuh di era digital yang berbeda, menghasilkan karakteristik, prioritas, dan pandangan yang berbeda, terutama di ranah pencaharian dan profesi. Generasi Y, atau Milenial, umumnya lahir antara tahun 1981 hingga 1996. Mereka adalah "imigran digital" yang mengalami transisi dari dunia analog ke dunia digital. Karakteristik utama cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menyukai sesuatu yang serba cepat; mencari makna dan tujuan di tempat kerja, bukan sekadar gaji; mengharapkan umpan balik yang teratur mengenai kinerja dan lingkungan kerja mereka; menghargai fleksibilitas dalam cara dan tempat mereka bekerja, serta keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi; cenderung berorientasi pada tim, menghargai keberagaman, ekspresi diri, dan tanggung jawab sosial. Sementara Generasi Z, atau Gen Z, lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka adalah "penduduk asli digital" (digital natives) sejati yang tumbuh dengan teknologi canggih seperti ponsel pintar dan internet sejak usia dini. Milenial tumbuh di masa transisi dan sering kali menghadapi tekanan untuk mencapai kesuksesan yang tinggi, yang terkadang mengarah pada kecenderungan ingin menyenangkan orang lain (people-pleasing) atau merasa cemas. Baik Generasi Y (Milenial) maupun Generasi Z mengalami krisis identitas, tetapi pemicunya dan cara mereka menghadapinya sangat berbeda, terutama karena perbedaan konteks sosial, ekonomi, dan teknologi saat mereka tumbuh.

Pembahasan

Mari kita baca puisi-puisi Arief Rahman Heriansyah, Dalam Banjarmasin, Riwayat di Ujung Sungai misalnya yang bicara tentang para leluhur yang kehidupannya bersetia pada air. Diksi-diksi seperti perahu kayu, dayung, jangkar, pasar terapung dan menara masjid misalnya sebagai sebuah pengantar kegelisahan generasi ini di tengah gempuran teknologi. Meski sang penyair secara ekstrinsik memiliki perbedaan konteks sosial, ekonomi, dan teknologi saat mereka tumbuh, ada kerinduan dan romantisme yang justru hadir merespon kemajuan zaman yang melingkupi generasinya. Lalu baris .../kota ini masih bernafas dalam dada kami/ seolah meyakinkan diri sendiri dan sesuatu di luar dirinya bahwa tidak ada yang berubah. Sebuah kegelisahan untuk tetap dianggap tidak tercerabut dari akar budaya dan lokalitas.  Lalu puisi berikutnya yang mencerminkan kegelisahan .../Kau kenal aku sebagai apa?/ sebuah pertanyaan ringan namun menggiring jawaban yang begitu banyak, menyeruak mencari identitas sebuah generasi. Masih sebuah pengakuan terhadap masa lampau; bahwa kemajuan zaman tidak mengubah kualitas loyalitas sebuah generasi terhadap lingkungan yang menghidupi nenek moyang dan para leluhur.

BANJARMASIN, RIWAYAT DI UJUNG SUNGAI

Arief Rahman Heriansyah

 

Di hulu waktu, 

arus pertama mengalir dari napas para leluhur

menyusuri akar rawa 

menyemai nama; Banjarmasin 

— sepotong tanah yang bersetia pada air

 

Perahu-perahu kayu 

menulis sejarah dengan dayung yang sabar

membawa rempah, syair, dan doa 

menyeberangi abad, menyulam kisah 

seperti kenangan yang menolak karam

 

Di pasar terapung, 

suara tawar-menawar menyerupai zikir

setiap senyum pedagang 

menyimpan selaksa musim 

yang membentuk denyut kota

 

Menara-menara masjid 

menjulang seperti jemari yang meraba langit

menjadi jangkar, 

bagi jiwa-jiwa yang belajar 

menjadi tenang di tengah pasang

 

Tepat hari ini, 

pada usiamu ke-499, 

kota ini masih bernafas dalam dada kami

seperti riak

yang tak pernah menanyakan asal tetes hujan

namun menampung semuanya serupa janji fajar

 

Kini, menualah dengan anggun

keriput di tepi dermaga

adalah tanda bahwa waktu mencintaimu,

dan kami pun — 

masih menambatkan hati 

pada sungai yang tak pernah lelah 

menyebut namamu.

 

Selanjutnya puisi-puisi Muhammad Daffa riuh dalam baris-baris yang pendek, dengan diksi-diksi yang menggambarkan betapa berbahayanya kehidupan. Berbeda dengan Arief , alih-alih memilih diksi-diksi manis, Daffa dalam Repertoar Zaman Terguling memilih diksi-diksi dengan makna negatif seperti pusara, luka, ditempeleng, disepak, sengketa, retak, matahari terbelah. Lalu dalam Bibliografi Kesadaran, penyair juga bicara tentang mimpi, sepasang manusia yang terusir, bayang-bayang masa lalu yang selalu menghantui. Sebuah kegelisahan generasi terhadap sejarah, riwayat masa silam para leluhur. Dalam Nonsens Jam Tiga Pagi kegelisahan atas peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan menjadi perwakilan generasi abad ini yang instan, serta-merta, tanpa sekat tanpa filter dipapar berbagai berita peristiwa.

Berikutnya, Fitri S Getas pun tak kalah gelisahnya dalam Menyulut Dupa Di Tanah Leluhur. Lebih dari sebuah kegelisahan yang disampaikan Arief, Fitri seakan mengalami krisis identitas melalui beberapa puisinya. Beberapa diksi dalam bahasa daerahnya (Bakumpai) seolah menyiratkan bahwa penyair ingin diakui sebagai bagian dari sukunya. Diksi yang dihadirkan menggunakan bahasa daerah dalam puisi berbahasa Indonesia jika tidak benar-benar mewakili sebuah identitas budaya yang diusungnya, hanya akan membuat penyair terjebak pada sebuah terjemahan atau alih bahasa yang justru mengganggu pembaca. Dari bait berikut dapat kita temukan akar penyebab. Barangkali memang perkembangan ekonomi, sosial, teknologi membuat genarasi Y dan Z menjadi seakan melupakan identitas, lalu merasa hilang, terasing, dan pulang adalah satu-satunya penyelesaian yang terbaik

Tanah itu pun merawatku seperti dahulu

Ketika senja menuruni pundak

Aku merasa tak lagi terasing dari detak dunia

Asap dupa yang kusulut berubah menjadi doa

Mengalir kembali ke rahim tanah yang setia

Akhirnya kutemukan diriku yang hilang

 

Murni Marfu’ah menjadi penyair yang barangkali paling sederhana dalam bentuk di kumpulan ini. Jika kita simak puisi-puisinya yang begitu santai, sederhana, seakan puisi tak perlu berlebay-labay dalam kata.

KEPADA PEREMPUAN PENIKMAT KOPI

Murni Marfu’ah

 

Perempuan penikmat kopi itu

Meracik sendiri langkahnya di antara ribuan takdir

Berjalan mengisari waktu di pekat malam

Ia tak pernah menyeduh lebih dari apa yang disuguhkan

Pada musim-musim tertentu

Ia enggan meneduhkan diri dari hujan

Seolah nestapa yang dilakukan

Perempuan penikmat kopi itu

Terus berjalan menimbang langkahnya

Mengisari waktu di pekat malam

Dan kelembutan hatinya menyatu pada serbuk kopi yang tertinggal

 

Ia menjadi satu-satunya yang jujur dan menerima keadaan, kenyataan. Menjadi perempuan penikmat kopi agaknya adalah salah satu pilihan generasi Y dan Z. Seolah menyeduh dan menikmati kopi bukan saja gaya hidup melainkan hidup itu sendiri.

Lantas, mari kita menerima dengan lapang dada ketika generasi ini dengan jujur pula mengakui keegoannya. Beragam tulisan mulai yang ilmiah hingga tulisan-tulisan populer sering membicarakan generasi sekarang yang tak luput dari sikap egoisnya. Melalui Cara Menikmati Diri Sendiri, Muhammad Jayadi seolah menegaskan apa yang sudah ditulis oleh Murni Marfu’ah dalam kejujurannya tentang perempuan dan kopi. Penyair menyampaikan respon dan kegelisahannya atas tudingan generasi pendahulu tentang egoisme. Ia tidak menyangkal bahwa ego itu ada namun ia mencoba membela diri dengan menyatakan bahwa keseimbangan hadir, menata/gerak. dari batin yang dalam/mengalir di nadi kehidupan/sebagai diriku, aku yang merasa/pecah ego saat kuterobos waktu.

 

CARA MENIKMATI DIRI SENDIRI

              Muhammad Jayadi

 

hanya kata tinggal di sini

di dalam hadirku, di jiwa

menunggu terang, banyak

risau datang bertandang

 

kemarin adalah kenangan

kita bungkus dalam sajak

memangkas jejak jarak

antara duka dan kebahagiaan

 

keseimbangan hadir, menata

gerak. dari batin yang dalam

mengalir di nadi kehidupan

sebagai diriku, aku yang merasa

 

pecah ego saat kuterobos waktu

khayal dan ketakutan adalah

setan penutup mata. kupuaskan

diri dalam bening dalam hening

 

memandang sunyi, menyimpulkan

suara hati. di sini, di sini

kebenaran tak pernah berbunyi

diresapi nurani, bersemi puisi

 

2025

 

Setali tiga uang dengan Fitri S Getas, Aluh Srikandi juga mengalami kegelisahan dan krisis identitas terkait geografis, wilayah teritorial hidup dan kehidupan yang melingkupinya. Dalam puisi Banjarmasin, Kembalikan Aku Ke Rumah Orang Tuaku,

Aku merindukan aroma mandai besanga

Aku terkenang manisnya satrup Batumandi

Rindu pada embun di pucuk karet pegunungan Garuda Maharam

Semua terasa samar kini

Haruskah dandanan ini kuendapkan saja

Agar Banjarmasin tak terluka 

Saat dia tahu aku begitu merindukan Balangan

 

Tentu saja soal hati dan rindu adalah hak personal yang sangat pribadi. Sungguh aneh jika ada kerinduan yang harus diendapkan hanya karena merasa tidak enak dengan pihak lain. Menjadi pribadi yang tidak enakan, ingin semua orang senang, agaknya bukan karakterisktik utama generasi Y dan Z, kecuali jika itu ada hubungannya dengan motif-motif materi, financial. Gen Z lebih pragmatis. Krisis identitas mereka mungkin berpusat pada kekhawatiran apakah mereka bisa bertahan secara finansial di dunia yang semakin sulit. Singkatnya, krisis identitas Milenial sering kali dipicu oleh benturan antara harapan dan realitas, sedangkan krisis identitas Gen Z lebih dipicu oleh paparan informasi berlebihan, ketidakpastian global, dan navigasi identitas digital yang kompleks.

Di akhir pembedahan ini, bagus sekali jika kita bersama-sama menikmati puisi Luka Sungai karya Syarif Hidayatullah.

 

LUKA SUNGAI

Syarif Hidayatullah

 

Narasi kecilnya mengabarkan tentang musim diakhir kemarau

Yang membawa sisa rempah-rempah hutan ke segala penjuru muara

Ada banyak kisah yang tak mampu disebutkan satu persatu

Hingga menjadi pertanda sebuah peradaban

Yang pernah Berjaya di waktu bahari

 

Luka sungai itu kini telah merembes

Pada ibu-ibu penanak air keruh

Pada bapak-bapak penabur jala

Pada bocah-bocah bertelanjang dada

 

Daun-daun kering jatuh berserakan

Hanyut terbawa deras warna coklat

Pada penghuninya mengeja deras rintik hujan

Sembari menyeka keringat musim yang panas

 

Apakah yang kita harapkan di masa tua ?

Mewariskan ingatan ke anak cucu

Bahwa penyembuhan luka sungai adalah kita

Menjaga dan merawatnya

 

Marabahan, 1/10/2024

 

Generasi Y yang merupakan generasi yang  tumbuh  pada  era  internet  booming  (Lyons,  2004)(dalam  Putra,  2016).  Tidak hanya  itu  saja,  generasi  Y  ini  lebih  terbuka  dalam  pandangan  politik  dan  ekonomi sehingga mereka terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya. Sebagai puisi yang ditulis oleh penyair dari generasi Y, Luka Sungai menjadi sebuah harapan bagi dunia. Betapa tidak, ada kepedulian terhadap sungai sebagai bagian dari peradaban, ada pengakuan terhadap masa lalu dan sejarah, ada janji sebagai bentuk respon terhadap luka-luka yang ada. Semoga janji ini akan ditepati.[]

Senin, 04 Agustus 2025

ARTJOG 2025: Gagap-Gempita Motif Amalan Benchmarking-ku

04.28 0 Comments

 

 



Jogja kota penuh cerita. Kali ini dari ruang sepiku, aku tulis sebuah catatan singkat yang merupakan bidikan-bidikan jiwaku saat mengunjungi Artjog 2025, sekadar oleh-oleh yang akan jadi artefak di sini, di Tatirahku.

Jika kau baca judul tulisan ini, bukan typo. Aku memang sengaja menulis Gagap-Gempita bukan gegap gempita sebagaimana seharusnya. Sebagai Ketua Banjarmasin Artweeks (BAW) 1 di kota Banjarmasin beberapa tahun lalu, sebuah kebahagiaan hari ini aku bisa menginjakkan jiwa di sini, di Artjog yang merupakan referensi utama BAW. 

Ada rasa yang tak dapat kulukiskan. Rasanya seperti mimpi melihat simbol Artjog secara langsung bukan via media lagi. Aku berjalan ragu, gagap melihat semuanya. Jika selama ini aku mengunjungi agenda seni -murni sebagai pengunjung/penikmat, kali ini aku datang dengan misi benchmarking.

Hal pertama yang kutandai adalah banyaknya motor di area parkir, artinya pengunjungnya banyak. Untuk bisa akses semua hal, kita harus membeli tiket terlebih dahulu. Rp80.000,00 angka yang lumayan fantastis jika diterapkan di Banjarmasin Artweeks, pikirku (yang setelah aku berkeliling, harga tersebut tidak ada artimya). Setelah membayar, pengunjung diberi gelang bertulis Artjog 2025 - visitor. Tidak kutemukan buku tamu. Di beberapa titik, terdapat beberapa panitia yang sesekali mengarahkan pengunjung.



Banyak ruang di sini. Banyak karya yang semuanya tentu saja tidak main-main. Astaga, rasanya waktu begitu singkat. Mungkin perlu seharian penuh untuk bisa membaca dan merasakan makna semua tampilan. Beragam lukisan, instalasi, karya seni rupa, tidak hanya sajian visual tapi juga audio. Tak muat ruang jiwa ini menampung semua itu sekaligus. Setiap karya disediakan tempelan deskripsinya di dinding yang memuat penjelasan singkat tentang pemilik karya dan karya itu sendiri. Cukup membantu pengunjung yang awam tentang karya seni.

Ada penampilan khusus dari Reza Rahadian, aktor serba bisa yang sudah tidak asing lagi di jagad perfilman Indonesia. Pengunjung tidak diperbolehkan memoto maupun merekam saat pertunjukan di layar diputar. Aku rasa, itu adalah penampilan Reza yang sangat keren. Di dinding tertera isi hati Reza. Aku terharu. kuabadikan di foto bawah ini:



Dari Artjog 2025 aku petik bahwa seni itu sangat universal. Seni tidak hanya menjanjikan penghiburan bagi jiwa tapi juga pengajaran, agar amalan yang dilakukan selaras dengan dunia dan kebutuhannya. Seni bukan pilihan kedua atau ketiga atau keempat atau kesekian dalam kehidupan. Sama seperti perut kita yang perlu diisi makanan, jiwa dan bahkan otak kita perlu diberi asupan seni.

Sebuah agenda seni, apapun itu, harus dirancang dengan serius. Diperhatikan semua aspek termasuk keamanan dan keselamatannya. 


Ia juga harus memperhatikan aspek keadilan dan kesetaraan. Semua pengunjung mendapat hak yang sama untuk bisa menikmati seni dalam kadar renungnya masing-masing. Artjog kids menjadi salah satu item yang mendukung pernyataanku ini.


Benchmarking ini kulengkapi dengan menelusuri website-nya. Dari sana kutemukan penjelasan terkait tema Artjog 2025, yaitu Amalan. Kukutipkan untuk kalian:

Amalan sebagai ‘motif’ di dunia seni bisa dikenali baik melalui otonomi maupun heteronomi. Keduanya tidak kedap, bukan arena yang bulat sempurna. Akan tetapi di dalam dunia seni yang berpegang pada nilai-nilai estetik yang bersifat intrinsik, motif ini seringkali tidak diperhitungkan oleh para seniman. Di sisi lain, ketika fungsi seni dipertanyakan di dalam realitas yang sungguh heteronom, strukturnya cenderung telah dibayangkan mirip tindakan. Dunia yang heteronom selalu membuyarkan batas-batas seni yang otonom.


Makna amalan dalam ARTJOG tahun ini tidak terikat pada definisi kamus yang menekankan ‘klise’ pahala. Amalan di dunia seni terbentuk baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, dalam dan luar bahasa. Amalan adalah laku praksis sebagai subjek, baik subjek estetik, sosial, politikal, tekstual, agamis, atau sebutlah apa saja. Relasi seniman dengan dunia adalah kelindan persepsi yang menubuh, begitu pula sebaliknya. 

Dengan itulah kebaikan hidup bersama dapat mulai diperbincangkan dan karya seni dipandang sebagai ‘hadiah’ bagi dunia, di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya. Demikian tulis Tim Kurator ARTJOG, Hendro Wiyanto, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Ignatia Nilu.

Arah keluar area ini, kupatri memori nada-nada pertunjukan musik band yang memiliki pangsa pasar tersendiri.

Di dinding ada tulisan tonggak-ziarah 1. Aku terenyuh. Betapa mereka sangat menghargai para perintis. Entah apakah ini kunjungan pertama sekaligus terakhirku. Sebelum pulang, kusempatkan membeli cinderamata, tas dagadu-ala Artjog.


Keluar dari Artjog, seketika riuh isi kepalaku, menyaingi riuhnya kota Jogja dalam perjalanan pulang malam itu. Jiwaku seperti teko yang kepenuhan. Banyunya limpuar, limpas. Aku ingin menuangkannya tapi tidak tahu ke gelas yang mana.

Terima kasih Artjog, terima kasih Jogja. Terima kasih yang setia menemaniku sepanjang malam itu.[]



Rabu, 12 Maret 2025

MENGETUK PINTU ISTANA; HARI INI, AKU DAN KAWANKU

06.12 0 Comments



MENGETUK PINTU ISTANA; HARI INI, AKU DAN KAWANKU

Puisi Nailiya Nikmah

 

Ruang-ruang kelas menjadi saksi bisu

perjuangan mendidik anak negeri

berangkat pagi pulang senja hari

mengajar, meneliti dan mengabdi

dari kelas ke kelas; dari lab ke lab; dari bengkel ke bengkel

dari studio ke studio

dari aplikasi satu ke berbagai aplikasi lainnya

Kopi, buku, jurnal, masyarakat; deru nafas kami

 

Kadang tidak tidur mengerjakan proposal

mengharap hibah yang tak boleh diambil penelitinya sebagai upah

mengejar berderet angka kredit agar meningkat kepangkatan

berharap meningkat pula kesejahteraan

Sungguh kami tak berharap UKT mencekik leher para orang tua untuk membayar kami

Karena kami pun adalah bagian dari orang tua itu

 

Dan inilah kami para dosen

berdatangan dari seluruh penjuru negeri Indonesia

melintasi darat, laut dan udara

meninggalkan rumah-rumah kami yang hangat

Dihantarkan doa dan harapan seluruh kawan

Mengetuk pintu istana

Mengadukan jeritan hati kami

 

Kami tidak gila materi

tapi kami butuh amunisi

Kami bukan pengemis

meski datang dengan tangan di bawah

Kami bukan tak pandai bersyukur

meski datang dengan tuntutan

Kami hanya ingin keadilan dan hak kami ditunaikan

 

Sebuah tunjangan kinerja dosen,

Ya,

Tu-kin.

 

Jakarta, Aksi Dosen, 3 Februari 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 25 April 2023

Ngaji Puisi 2023 Mengenang Jamal T. Suryanata dan Abdussukur

19.47 0 Comments




Sudah lama aku tidak ke sini. Aku ingin menulis sesuatu dengan santai saja. Kali ini aku hanya ingin mencatatkan sekelumit kenangan pada Ramadan ke-25 di tahun 2023 atau 1444H. Malam itu aku diminta menjadi moderator acara bertajuk Ngaji Puisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Banjarmasin. Tahun lalu aku juga menjadi moderator di acara yang sama. Jika tahun lalu yang dibahas adalah Ajamuddin Tiffani, tahun ini yang dibahas adalah Jamal T. Suryanata dan Abdussukur. Bang Jamal dan Bang Sukur, demikian beliau berdua biasanya disapa. Oiya, kalau mau tahu apa itu Ngaji Puisi, silakan berselancar di sumber lain ya. 

Acara dihantarkan dengan apik oleh pembawa acara, Akbar atau Abay dari Komite Sastra DKBjm. Rekan kami, Cupi yang multilatent membacakan doa. Istimewanya, malam itu acara dihadiri oleh Walikota Banjarmaisn. Ya, setelah disambut oleh Ketua DK yaitu Bang Hajriansyah, acara Ngaji Puisi malam itu kemudian dibuka secara resmi oleh Walikota Banjarmasin, Bapak Ibnu Sina. Pak Ibnu Sina sempat juga membacakan puisi setelah menyampaikan sambutannya.

Aku pikir setelah membuka acara, Walikota akan meninggalkan forum. Tak disangka beliau masih bertahan saat aku sudah dipanggil oleh MC untuk bergabung memoderatori jalannya acara. Jadilah aku duduk di sebelah Pak Wali, malam itu. Acara menghadirkan guru-guruku di bidang seni dan sastra sebagai pemantik. Siapa lagi kalau bukan Bapak Micky Hidayat dan Y.S. Agus Suseno. Suatu kehormatan pula, panitia menghadirkan Bapak Hadani yang merupakan Ketua DK Tala.

Siapa Bang Jamal, siapa Bang Sukur, tak ingin kujelaskan lebih dalam. Keduanya memiliki tempat spesial di hati masyarakat Kalsel. Khusus bagiku, kepergian beliau berdua dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh, setelah sebelumnya berada dalam satu forum dengan mereka berdua (aku juga sebagai moderator dan beliau berdua nara sumber), forum terakhir yang sangat berkesan bagiku. Lalu, ketika malam Ngaji Puisi aku mendapat kesempatan menjadi moderator di acara mengenang mereka berdua, tidakkah aku merasa sendu dan haru. 


Oiya, malam itu, panitia membagikan semacam buklet berisi puisi-puisi Bang Jamal dan Bang Sukur. Aku diminta Ketua DK untuk menulis sebuah pengantar. Berikut yang kutulis:

Sebuah Pengantar

Ada begitu banyak kehilangan dalam beberapa tahun terakhir, terkhusus di dunia sastra Kalimantan Selatan. Nama Abdussukur dan Jamal T. Suryanata menjadi bagian tersedih dari lirik kehilangan tersebut. Banyak catatan telah ditulis oleh rekan dan sahabat-teman seperjuangan mengantar kepergian keduanya sejak hari pertama berpulang. Baik Abdussukur maupun Jamal T Suryanata, keduanya mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat sastra Kalimantan Selatan.

Dari berbagai catatan kisah dan jejak lainnya yang masih dapat ditelusuri dapat diketahui bahwa Jamal menoreh sangat banyak prestasi di dunia sastra hingga membawa harum nama Kalsel hingga ke kancah internasional. Berbagai prestasi dan karyanya terangkum dalam berbagai penghargaan yang pernah ia terima. Jamal pernah menerima Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (bidang sastra) tahun 2006, penerima Penghargaan Sastra dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin (bidang cerpen) tahun 2007, penerima Anugerah Budaya dari Gubernur Kalimantan Selatan tahun 2015, bukunya Sastra di Tapal Batas terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) dari Pemerintah Malaysia tahun 2016, penerima Hadiah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage, Bandung atas novel berbahasa Banjar Pambatangan tahun 2017 dan novelet Naga Runting tahun 2022.

Berbeda dengan Jamal, Abdussukur memilih dan “dipilih” untuk lebih banyak berjalan di alur tradisi lisan. Banyak hal yang ia lakoni selama karir kesenimannya dengan lebih menonjolkan keterampilan lisannya. Ada saja yang bisa ia jadikan bahan untuk membuat pendengar/penonton terkesima ketika ia tampil di panggung. Pertunjukan dan panggung adalah dunianya. Seakan panggung adalah takdir yang selalu berpihak padanya. Bapandung merupakan salah satu kepiawaiannya yang hingga hari ini belum mendapat tandingan sepadan di bumi Kalimantan. Kepergiannya akan menjadi  putusnya salah satu rantai seni tradisi lisan yang harus menjadi perhatian lebih dunia sastra Kalimantan Selatan untuk segera diantisipasi.

Terlepas dari seluruh prestasi mereka berdua, patutlah kita menyimak tutur hati mereka di jalan sunyi para penyair. Sambil mengenang hari-hari indah bersama mereka di masa yang silam sebelum mereka pamit, mari kita baca dan selami puisi-puisinya. Mari kita kaji dalam “Ngaji Puisi 2023” pada Ramadan kali ini.

Banjarmasin, 15 April 2023

                                                                                    Nailiya Nikmah

Sabtu, 12 November 2022

Riza dan Rahasia Tukang Obat: Catatan di Tepi Pementasan Monolog Tukang Obat Karya Y.S. Agus Suseno pada Banjarmasin Art Week 2022

22.35 0 Comments

Banjarmasin Art Week 2022 yang digelar oleh Dewan Kesenian Banjarmasin menjadi lengkap dengan hadirnya teater monolog Tukang Obat yang diperankan oleh aktor Riza Akhmad Fahlipi. Agenda BAW yang memilih berlokasi di area siring Menara Pandang menjadikan seluruh agendanya benar-benar dilempar ke ruang publik. Siring Menara Pandang merupakan lokasi yang sangat strategis untuk keramaian di Banjarmasin.




Naskah Tukang Obat dapat ditemukan pada laman pribadi penulisnya, yaitu di datutadungmura.blogspot.com dengan tahun postingan tertulis 2013. Sementara pada naskah tertera tahun 2007 di bagian akhir. Ketika didekati dengan netnografi, inilah yang dapat kita himpun. Naskah ini ternyata pernah dipentaskan juga oleh aktor yang sama dan diposting melalui kanal youtube.

Akan tetapi, kali ini naskah Tukang Obat benar-benar dihadirkan di ruang publik yang nyata. Ketika dihadirkan di ruang publik dengan kesejatian kepublikan yang melingkupinya, maka setting atau pelataran pementasan ini menjadi ambigu seperti dua sisi koin yang saling berebut peluang. Kita tidak tahu apakah yang hadir menonton saat itu benar-benar mengerti bahwa yang ia tonton adalah pementasan sebuah naskah monolog atau jangan-jangan ada yang menganggap itu tukang obat betulan. Keduanya tentu saja memiliki daya tafsir yang saling melengkapi. Untunglah pementasan ini masih dilengkapi pula oleh penatacahayaan yang bagus. Sehingga di sinilah unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra memainkan perannya.



Aktor Riza bermain ditemani ular yang sudah sangat kooperatif. Keberadaan ular sungguhan, Mandau dan sebotol minyak yang ia sebut sebagai minyak timpakul sudah sangat cukup sebagai sebuah pendukung naskah Tukang Obat. Ular-ular tersebut seakan menjadi penyampai pesan bahwa naskah ini memanng ditulis untuk Riza.



Kualitas vokal dan akting Riza membuat pesan di balik naskah ini berhasil disampaikan kepada penonton.

“Minyak timpakul? Ya! Saya ulangi:  m-i-n-y-a-k  t-i-m-p-a-k-u-l. Ya, betul! Anda tak salah dengar. Menurut saudara ipar dari sepupu keponakan istri saya yang makan sekolahan, Djebar Hapip, timpakul itu i-k-a-n  b-u-t-a. Entah apa maksudnya, padahal matanya sebesar mata kodok. Katanya, manimpakul adalah sifat orang yang di mudah berubah, tidak tetap pendirian. Sedangkan timpakul janjan adalah sifat orang yang jelek perilakunya. Tapi itu kata Djebar Hapip! (Ketawa ngakak.). Nah, kalau timpakul tinggal di rawa-rawa, di pinggir sungai atau di kayu apung, ada juga hewan lain yang perilakunya mirip, tapi tinggal di pepohonan. Apa itu? Angui. Saya ulangi: a-n-g-u-i.

….

Nah, berbeda dengan timpakul yang tak ada persamaan namanya dengan binatang sejenis dalam bahasa Indonesia, angui punya, yaitu b-u-n-g-l-o-n. Lalu, menurut Djebar Hapip tadi, angguk angui adalah ungkapan untuk orang yang selalu mengiyakan, tapi kerjanya juga yang jalan.

 

(Perlahan dan hati-hati mengeluarkan botol kecil berisi cairan dari dalam bungkusan kain kuning, meletakkannya di telapak tangan.) Anda lihat? Ini adalah  s-a-r-i-p-a-t-i alias i-n-t-i atawa h-a-k-i-k-a-t jiwa timpakul. Tepat tengah malam Jumat, olesi jari manis Anda dengan minyak ini. Tanpa menarik napas, tekan jari manis Anda ke langit-langit mulut. Selesai. Keselamatan dan kemakmuran menanti Anda. Mengapa? Karena Anda sudah menyatu dengan jiwa timpakul, sudah manimpakul, mambatang timbul! (Ketawa ngakak.)

Manimpakul tidak jelek! Itu cermin kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Kita tahu, timpakul biasanya tinggal di tebing-tebing sungai atau di kayu apung yang hanyut. Bila gelombang datang menyapu tebing atau kayu apung tempat timpakul berada, dengan gesit ia melompat ke tebing atau ke kayu apung lain untuk menyelamatkan diri. Tebing atau kayunya tenggelam, dia tidak. Begitu seterusnya. Nah, kenapa cara bertahan hidup yang luar biasa  itu dimaknai jelek? Apa salah timpakul? (Ketawa ngakak.)

 

Sebuah kritik sosial sedang ditayangkan dalam pementasan dan secara tersurat telah pula hadir dalam naskah. Kutipan di atas, cukup menjelaskan beberapa hal ekstrinsik yang masih relevan dengan masa sekarang. Di mana jiwa-jiwa menimpakul telah menjadi pemyelamat beberapa oranvg dalam hidupnya. Sadar maupun tidak sadar, menimpakul telah menjadi peyelamat Sebagian besar orang.

(bersambung)