Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2025

ARTJOG 2025: Gagap-Gempita Motif Amalan Benchmarking-ku

04.28 0 Comments

 

 



Jogja kota penuh cerita. Kali ini dari ruang sepiku, aku tulis sebuah catatan singkat yang merupakan bidikan-bidikan jiwaku saat mengunjungi Artjog 2025, sekadar oleh-oleh yang akan jadi artefak di sini, di Tatirahku.

Jika kau baca judul tulisan ini, bukan typo. Aku memang sengaja menulis Gagap-Gempita bukan gegap gempita sebagaimana seharusnya. Sebagai Ketua Banjarmasin Artweeks (BAW) 1 di kota Banjarmasin beberapa tahun lalu, sebuah kebahagiaan hari ini aku bisa menginjakkan jiwa di sini, di Artjog yang merupakan referensi utama BAW. 

Ada rasa yang tak dapat kulukiskan. Rasanya seperti mimpi melihat simbol Artjog secara langsung bukan via media lagi. Aku berjalan ragu, gagap melihat semuanya. Jika selama ini aku mengunjungi agenda seni -murni sebagai pengunjung/penikmat, kali ini aku datang dengan misi benchmarking.

Hal pertama yang kutandai adalah banyaknya motor di area parkir, artinya pengunjungnya banyak. Untuk bisa akses semua hal, kita harus membeli tiket terlebih dahulu. Rp80.000,00 angka yang lumayan fantastis jika diterapkan di Banjarmasin Artweeks, pikirku (yang setelah aku berkeliling, harga tersebut tidak ada artimya). Setelah membayar, pengunjung diberi gelang bertulis Artjog 2025 - visitor. Tidak kutemukan buku tamu. Di beberapa titik, terdapat beberapa panitia yang sesekali mengarahkan pengunjung.



Banyak ruang di sini. Banyak karya yang semuanya tentu saja tidak main-main. Astaga, rasanya waktu begitu singkat. Mungkin perlu seharian penuh untuk bisa membaca dan merasakan makna semua tampilan. Beragam lukisan, instalasi, karya seni rupa, tidak hanya sajian visual tapi juga audio. Tak muat ruang jiwa ini menampung semua itu sekaligus. Setiap karya disediakan tempelan deskripsinya di dinding yang memuat penjelasan singkat tentang pemilik karya dan karya itu sendiri. Cukup membantu pengunjung yang awam tentang karya seni.

Ada penampilan khusus dari Reza Rahadian, aktor serba bisa yang sudah tidak asing lagi di jagad perfilman Indonesia. Pengunjung tidak diperbolehkan memoto maupun merekam saat pertunjukan di layar diputar. Aku rasa, itu adalah penampilan Reza yang sangat keren. Di dinding tertera isi hati Reza. Aku terharu. kuabadikan di foto bawah ini:



Dari Artjog 2025 aku petik bahwa seni itu sangat universal. Seni tidak hanya menjanjikan penghiburan bagi jiwa tapi juga pengajaran, agar amalan yang dilakukan selaras dengan dunia dan kebutuhannya. Seni bukan pilihan kedua atau ketiga atau keempat atau kesekian dalam kehidupan. Sama seperti perut kita yang perlu diisi makanan, jiwa dan bahkan otak kita perlu diberi asupan seni.

Sebuah agenda seni, apapun itu, harus dirancang dengan serius. Diperhatikan semua aspek termasuk keamanan dan keselamatannya. 


Ia juga harus memperhatikan aspek keadilan dan kesetaraan. Semua pengunjung mendapat hak yang sama untuk bisa menikmati seni dalam kadar renungnya masing-masing. Artjog kids menjadi salah satu item yang mendukung pernyataanku ini.


Benchmarking ini kulengkapi dengan menelusuri website-nya. Dari sana kutemukan penjelasan terkait tema Artjog 2025, yaitu Amalan. Kukutipkan untuk kalian:

Amalan sebagai ‘motif’ di dunia seni bisa dikenali baik melalui otonomi maupun heteronomi. Keduanya tidak kedap, bukan arena yang bulat sempurna. Akan tetapi di dalam dunia seni yang berpegang pada nilai-nilai estetik yang bersifat intrinsik, motif ini seringkali tidak diperhitungkan oleh para seniman. Di sisi lain, ketika fungsi seni dipertanyakan di dalam realitas yang sungguh heteronom, strukturnya cenderung telah dibayangkan mirip tindakan. Dunia yang heteronom selalu membuyarkan batas-batas seni yang otonom.


Makna amalan dalam ARTJOG tahun ini tidak terikat pada definisi kamus yang menekankan ‘klise’ pahala. Amalan di dunia seni terbentuk baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, dalam dan luar bahasa. Amalan adalah laku praksis sebagai subjek, baik subjek estetik, sosial, politikal, tekstual, agamis, atau sebutlah apa saja. Relasi seniman dengan dunia adalah kelindan persepsi yang menubuh, begitu pula sebaliknya. 

Dengan itulah kebaikan hidup bersama dapat mulai diperbincangkan dan karya seni dipandang sebagai ‘hadiah’ bagi dunia, di luar kalkulasi laba rugi yang kerap tak bisa ditakar nilainya. Demikian tulis Tim Kurator ARTJOG, Hendro Wiyanto, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Ignatia Nilu.

Arah keluar area ini, kupatri memori nada-nada pertunjukan musik band yang memiliki pangsa pasar tersendiri.

Di dinding ada tulisan tonggak-ziarah 1. Aku terenyuh. Betapa mereka sangat menghargai para perintis. Entah apakah ini kunjungan pertama sekaligus terakhirku. Sebelum pulang, kusempatkan membeli cinderamata, tas dagadu-ala Artjog.


Keluar dari Artjog, seketika riuh isi kepalaku, menyaingi riuhnya kota Jogja dalam perjalanan pulang malam itu. Jiwaku seperti teko yang kepenuhan. Banyunya limpuar, limpas. Aku ingin menuangkannya tapi tidak tahu ke gelas yang mana.

Terima kasih Artjog, terima kasih Jogja. Terima kasih yang setia menemaniku sepanjang malam itu.[]



Senin, 28 Januari 2019

3 Destinasi Wisata di Kabupaten Hulu Sungai Tengah

10.12 6 Comments

Hulu Sungai Tengah merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Selatn dengan ibu kota bernama Barabai. Kota Barabai dikenal sebagai kota apam karena salah satu kuliner khasnya adalah kue apam. Kabupaten ini memiliki banyak sekali tempat wisata alam yang dapat dikunjungi. Berikut akan kuceritakan pengalamanku mengunjungi 3 destinasi wisata yang ada di HST.
Berawal dari keinginan mengusir penat setelah menjalani rutinitas dan berharap menemukan inspirasi baru dalam hidup, serta sekelumit data bagian risetku,  aku menghubungi salah satu teman baikku di HST. Aku meminta rekomendasi tempat yang dapat kukunjungi serta menjelaskan dengan rinci tujuan alias visi misiku ke sana.

Aku berangkat ketika sore hampir menjelang. Hari itu, aku sengaja berangkat sendiri dan memilih menggunakan angkutan umum. Kami di sini menyebutnya taksi kol (dari kata Colt). Aku tidak mencarinya di terminal melainkan menunggu alias menghadang di sepanjang jalan. Biasanya ada saja taksi kol yang balaurut. Balarut artinya mobil tersebut tidak mangkal di terminal tapi mencari penumpang sambil jalan.

Perjalanan menuju Barabai dari ibu kota provinsi (Banjarmasin) memakan waktu sekitar 4 atau 5 jam.  Untuk perjalanan ini, aku membayar Rp60.000,00. Aku tiba di Barabai ketika hari sudah malam dan menginap di rumah temanku di Komplek Murakata Muhibbin di daerah Mandingin. Jika kamu hendak mencari penginapan yang pas dengan kantong backpacker aku sarankan kamu memilih hotel Bhima yang terletak di kawasan Pasar Tradisional Barabai.

Petualangan dimulai sejak pukul 08.00 waktu setempat. Dari kawasan Mandingin, aku dan temanku memilih menggunakan transportasi motor menuju destinasi pertama. Kami ditemani oleh remaja setempat yang tidak lain adalah murid temanku sendiri. Seorang ABG manis dan ramah bernama Alif.

Persiapan kecil sebelum petualangan
Karena destinasi yang aku kunjungi ini semuanya bertema sungai alias air, perlengkapan yang wajib dibawa adalah baju ganti dan kantong plastik besar (jika kamu rasa penting, kamu juga bisa bawa handuk). Perlengkapan lainnya standar aja. Aku bawa apa? Ini nih bawaanku:

  1. Dompet
  2. Hp, charger, power bank
  3. Seperangkat baju ganti (beserta pakaian dalamnya tentu saja) dan kerudung serta kaos kaki cadangan
  4. Poket skincare dan make up praktis (pelembab, sun screen, bedak, lipstik)
  5. Minyak kayu putih
  6. Sedikit cemilan

Nah, semua perlengkapan itu aku masukkan dalam kantong plastik besar baru aku masukkan dalam ransel.




Wisata Arung Jeram Nateh


Nateh merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten HST. Perjalanan menuju Nateh sangat menyenangkan. Hujan tadi malam menyisakan hawa sejuk di pagi hari. Pemandangan yang alami membuat mata kita dimanjakan olehnya dan memberi rasa damai di hati. Setelah naik motor kurang lebih 45 menit, kami sampai di destinasi pertama, yaitu wisata Arung Jeram Nateh. Selain warung, di sini terdapat fasilitas umum seperti WC dan empat ganti baju.




Kami datang sebagai pengunjung pertama hari itu. Setelah membayar parkir @Rp5.000,00 kami duduk-duduk di sekitar lokasi sambil menunggu persiapan arung jeram yang dilakukan oleh pengelola. Aku dan temanku membayar Rp150.000,00 untuk merasakan sensasi arung jeram di Nateh. Dengan uang sebesar itu kami mendapatkan satu perahu karet beserta dayungnya tidak lupa satu orang pengelola yang mendampingi kami selama arung jeram. Ia mendayung untuk kami. Sebelumnya, kami diantar pakai mobil menuju rute awal arung jeram.  Rompi pelampung serta helm kami pakai sebagai bagian SOP menikmati wahana ini.




Menyenangkan sekali menyusuri sungai dengan arus yang sedang-sedang saja di pagi hari. Sepinya suasana pagi itu membuat hati tenang. Rasanya Nateh hanya milik kami, hehe. Kiri kanan sungai kita bisa melihat pemandangan yang sangat alami. Pohon, gunung batu, serta sebagian ladang milik warga. Beberapa kali kami harus merunduk ketiaka melewati pohon paring. Aku mencoba ikut mendayung. Gayaku mendayung ditertawakan oleh temanku. "Kamu membuat paman susah, dayungmu berlawanan arah dengan paman," Aku tertawa juga. Kulihat si paman tersenyum simpul. Kupikir, ia terlalu muda dipanggil paman, hehe.







Rute arung jeram berakhir di tempat kami memarkir motor tadi. Kulihat pengunjung lain mulai berdatangan. Beberapa di antaranya kami kenali sebagai para seniman yang sedang menggelar rangkaian acara #Savemeratus.




Menutup agenda di destinasi ini, aku menikmati secangkir kopi hangat di warung yang sudah buka pagi itu di Nateh. Rp5.000,00 untuk kehangatan kopi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sensasinya. Di perjalanan pulang, kami sempat membeli manggis dan pempakin yang dijual oleh penduduk setempat di depan rumahnya. Saat ini sedang musim buahJ

Riam Bajandik



Destinasi kedua adalah Riam Bajandik. Kami tidak lagi bersama Alif tapi bersama Rezqie, sastrawan HST. 


Kami ke sini setelah rehat sebentar untuk makan siang, mandi, ganti baju dan sholat dhuhur. Kali ini, kawanku memilih menggunakan mobil. Untuk masuk ke lokasi wisata yang satu ini, kami harus memarkir mobil agak jauh agar tidak terjebak macet. 



Entah mengapa, saat itu pengunjung sedang banyak-banyaknya. Di kiri kanan jalan, para pedagang buah menggelar dagangannya (kedua temanku pesta durian di tepi jalan, sementara aku hanya memamdangi mereka dengan tulus, hehe. Aku tidak suka durian). Selain pedagang buah, terdapat juga pedagang mainan dan pernik-pernik lainnya. Jika kamu sedang ingin sendiri dan ingin suasana yang tenang dan damai, aku sarankan kamu putar balik.



Untuk menikmati tempat ini, setelah memarkir kendaraan aku dan temanku menyusuri jembatan gantung yang menghubungkan kita dengan dataran di seberangnya. Kata temanku, kemungkinan terbesar inilah sebabnya destinasi ini disebut Riam Bajandik. Bajandik berarti bergoyang atau berayun-ayun. Jembatan gantung itu akan bergoyang/berayun-ayun ketika kita lewat di atasnya. Sensainya beberapa saat akan masih kita rasakan walaupun kita sudah tidak di atas jembatan lagi.
Karena tempatnya sangat ramai, kami tidak jadi berenang di situ.


Manggasang
Dari Riam Banjadik, kami menuju Manggasang. Manggasang terletak di kawasan Batu tunggal, Hantakan. Kita tidak perlu membayar tiket masuk, pengunjung hanya membayar parkir. Tersedia penyewaan ban besar untuk pengunjung. Ada tempat ganti baju dan mushola kecil di sini. Tempat ini relaif aman untuk anak-anak asal di bawah pengawasan orang tua. Kita bisa bermain air dan berenang sepuasnya di sini. Babatuan di dasar sungai membuat tempat ini sangat terasa kealamiannya.


Kali ini kami menemukan destinasi yang tepat dan sesuai dengan visi misi, haha. Pengunjungnya tidak terlalu banyak. Sungainya relatif jernih, sedikit berarus, pemandangan juga indah. Aku melepas kaos kaki dan merendam betis di air sungai sambil ngobrol dengan Rezqie. Sementara temanku Rahme, asyik berendam di sungai. Kulihat pengunjung lain asyik berenang bersama keluarga. Puas menikmati kesegaran air sungai, kami beranjak ke warung tepi Manggasang. Kami masing-masing memesan semangkok mie instan dan dua gelas teh (hangat dan es). Jika beruntung, di sini kita akan menemukan penjual jagung bakar. Manggasang menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Kami kembali ke rumah Rahme ketika azan maghrib berkumandang.

Aku pulang

Aku pulang menggunakan angkutan umum lagi. Kali ini aku menghubungi sopir taksi  kol (sekali lagi, kalian yang bukan orang Banjar jangan membayangkan ini semacam taksi blue bi*d atau sejenisnya ya) dan minta dijepmut di rumah temanku.  Aku memilih taksi kol keberangkatan paling awal, yaitu pukul 03.00.

Pukul 02.00 sopir menelpon aku memberitahu agar aku siap-siap.  Keren ya?!
Tidak lama setelah itu, aku dijemput. Di dalam mobil sudah ada satu penumpang. Kami kemudian menjemput penumpang lain satu per satu,
Aku berusaha menahan kantuk agar tidak tertidur sepanjang jalan, ternyata aku gagal. Aku tertidur dan terbangun ketika mobil berhenti tepat di depan sebuah langgar. Kami semua turun untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.



Satu per satu penumpang turun. Salah satunya ada yang kami hantarkan di bandara Syamsuddin Noor. Oiya, perjalanan Barabai – Banjarmasin merupakan perjalanan yang melewati beberapa kabupaten lain seperti Tapin, HSS, Banjar dan Kota Banjarbaru.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti. Ada yang mau turun lagi. Lalu sopir bertanya padaku, “Pian turun di mana?”
“Di Banjarmasin” jawabku mantap.
“Ini sudah di Banjarmasin.” Jawab sopir.
Aku kaget. Rasanya sebentar banget perjalanan pulang. Hari masih terlalu pagi.
Akhirnya aku turun sebelum terminal. Aku melanjutkan perjalanan menggunakan ojek yang mangkal di tepi jalan. Di atas motor tak henti aku bersyukur bisa pulang dengan selamat di hari Senin. Kautahu hari Senin? Ya, hari kerja! Selamat bekerja kembali, Nai [].






Senin, 03 Desember 2018

ICEGE : my conference story in Malaysia

10.05 10 Comments
Attending of seminary and presenting a paper in a panel discussion is not a difficult thing for me but the Conference international in Malaysia, this is my first experience.

I went to Malaysia with the best lectures of FKIP, University Lambung Mangkurat. Their names are Prof. Rustam Effendi, Prof. Jumadi, Mr. Sunarno, Mr.Sabhan, Mr. Ahsani Taqwiem and Mrs.Rusma. (sorry I cant write the complete names).

We goes to Malaysia from 26 November 2018 till 2 Dec. But I go home faster than it.


Travelling and presenting the paper once... I think thats very nice idea.

In this conference I met many people from other countries in the world.
The man in this picture is Danish, a student from India. He fight for his Ph.D in Malaysia.


When I came to his stall, he make me taste his indian sweets. Its very delicious. Its make from carrot.


Gajar Halwa







Ketika Sendirian di Bandara Internasional

06.33 10 Comments

Apa hal ternekat yang pernah kamu lakukan sepanjang hidupmu? Mencuri brownies ibu di kulkas? Minum air dingin diam-diam di siang bolong saat Ramadhan lalu ngaku puasa full? Mengirim surat cinta kepada gebetanmu yang jadi idola satu sekolah? Melamar pekerjaan tanpa memiliki keterampilan yang diminta perusahaan? Memilih jurusan dengan cara mengundi padahal tidak tahu apa-apa tentang nama-nama jurusan yang ada dalam undian tersebut?

Hal apa yang sebenarnya kita perlukan ketika melakukan kenekatan-kenekatan tersebut? Yup! Hanya satu, keberanian! Keberanian adalah lawan dari ketakutan. Ketakutan identik dengan kemustahilan. Inilah yang aku alami beberapa hari belakangan ini. Aku memilih mengambil segala risiko untuk melawan ketakutan dan kemustahilan yang selama ini memenuhi otak dan hatiku. Aku tahu, keberanian yang kumiliki nyaris nol. Aku mencoba untuk nekat, meski satu sisi hatiku mengatakan aku sedikit bodoh melakukan hal ini dan bisa saja akan mencelakakan aku atau setidaknya membuatku berada dalam masalah besar. Nyatanya, aku tetap melakukannya karena ada satu formula rahasia yang sudah kucampur di dalam kenekatanku. Jangan tanya apa formula rahasiaku karena bukan rahasia namanya kalau aku beri tahu padamu.

Kautahu apa ketakutan terbesarku setelah pocong? Keramaian. Aku takut sendirian berada di tengah-tengah keramaian. Entah kenapa, setiap berada di tengah keramaian, aku justru merasa sepi. Tempat keramaian yang berada di urutan teratas sebagai phobiaku adalah bandara. Aku tidak pernah pergi ke bandara sendirian. Itu artinya, akupun tidak pernah terbang sendirian. Aku membayangkan aku akan diculik ketika berada sendirian di bandara, lalu menjadi korban perdagangan manusia; atau dirampok/dirampas barang bawaanku; atau..ini yang paling kutakutkan: tersesat di bandara, salah masuk pesawat, terbang ke tempat lain yang aku tidak tahu apa-apa, belum lagi hal-hal rumit prosedural di bandara yang harus dijalani dan sebagainya dan sebagainya yang mungkin kamu akan tertawa membacanya.

Hingga hari itu, aku memutuskan untuk mencoba menghadapi semua itu. Sendiri.
Keputusan itu kuambil ketika aku mengikuti international conference selama beberapa hari di sebuah universitas di Malaysia. Sebenarnya aku berangkat bersama rombongan yang terdiri dari beberapa orang penting di universitas lain di kotaku. Mereka sudah mengatur jadwal keberangkatan dan kepulangan yang disesuaikan dengan agenda beberapa trip tambahan selain conference. Akan tetapi, berhubung aku sudah memiliki agenda penting yang sudah kusepakati untuk kulakukan sehari setelah conference, akupun memisah dari rombongan, pulang lebih awal ke tanah air.

Sejak hari keberangkatan, otak dan hatiku sudah dipenuhi “Bagiamana nanti aku pulang sendirian.” Untuk itu, aku memangkas barang bawaan. Aku meminimalkan jumlah baju yang dibawa. Aku mengatur semuanya agar yang kubawa hanya satu tas selempang kecil dan satu koper dorong yang masih bisa masuk kabin pesawat. Aku sengaja tidak memasukkan bawaan ke bagasi. Aku mengurangi satu prosedur di bandara, yaitu prosedur pengambilan barang/bagasi.




Barang yang wajib kubawa dalam tas selempang

1.       Dompet
2.       Kartu identitas/KTP
3.       Paspor
4.       Uang yang berlaku di negaraku dan negara setempat (besar dan kecil)
5.       Bedak, lipstik dan parfum
6.       Telepon genggam/ smartphone
7.       Buku catatan kecil
8.       Pulpen
9.       E-tiket, printout-nya
10.   Boarding-pass
11.   Kacamata
12.   Syal
13.   Peniti cadangan
14.   Earphone
15.   Power bank (tidak melebihi kapasitas yang diizinkan penerbangan), charger dan sambungan tiga lubang (di Malaysia berlaku yang ini).
16.   Sim card (yang berlaku di negara setempat)

Barang yang kumasukkan dalam koper dorong yaitu baju/gamis untuk 4 hari plus kerudungnya, jas hitam, blazer coklat untuk presentasi, pakaian dalam, 2 pasang kaos kaki cadangan, mukena, perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi dan perlengkapan skincare yang sudah kupindahkan ke dalam botol-botol atau kemasan kecil agar lolos pada pemeriksaan di bandara. Untuk menghemat bawaan, aku tidak membawa handuk, tidak membawa sandal dan sepatu cadangan.

Sendirian Mempelajari Rute Petualangan sekaligus Packing

Setelah menunaikan tugasku di international conference, akupun packing untuk pulang sendirian, lebih awal beberapa hari dibanding rombongan. Malamnya, ketika teman sekamarku sudah pulas tertidur, aku masih mengatur perlengkapan petualanganku.

Hal utama yang aku cek adalah E-ticket. Aku mengecek jam atau waktu keberangkatan pesawatku serta berapa waktu minimal untuk check in. O,iya tempat berlangsungnya acara yang kuikuti ini berada di kota Sintok bukan di Kuala Lumpur.  Bisa ditempuh melalui jalur darat dengan memakan waktu sekitar 6 atau 8 jam dari Kuala Lumpur. Untuk efisiensi, aku memilih jalur udara.

Artinya, rute kepulanganku adalah sebagai berikut:
Dari hotel tempat aku menginap/Sintok, aku memerlukan waktu kurang lebih 45-60 menit ke Bandara Alor Setar. Dari Alor Setar aku terbang ke Kuala Lumpur. Selanjutnya, dari Kuala Lumpur aku terbang ke Jakarta. Barulah dari Jakarta aku terbang ke Banjarmasin. Ada tiga penerbangan yang aku jalani. Ada 4 bandara yang akan aku hadapi. Dua bandara  untuk penerbangan internasional dan dua bandara penerbangan domestik. Dan... itu semua akan aku hadapi sendirian.


Oh, iya. Saranku, pastikan keberangkatanmu dari bandara yang mana. Jangan sampai salah menunggu. Di KL ada bandara KLIA 1 dan KLIA 2 yang jaraknya cukup jauh.

Yang membuatku lebih takut daripada menghadapi pocong  saat aku mempelajari e-ticketku adalah:
Setelah terbang dari Alor Setar, aku akan tiba di bandara KLIA 2. Sementara itu, untuk terbang ke Jakarta, yang tertera di e-ticket ku adalah aku harus terbang dari KLIA 1. Kautahu, itu artinya BIG PROBLEM bagiku yang tidak bisa apa-apa dan luar biasa penakut ini. Hal yang serupa akan aku alami lagi setelah tiba di terminal 2D Bandara Sutta. Aku harus pindah ke terminal 1A karena dari situlah pesawatku akan berangkat ke bandara Syamsudinnor/Banjarbaru. Lalu muncul pemikiran, bagaimana kalau pesawat dari Alor Setar delay? Maka aku akan terlambat tiba di KL dan mungkin akan ketinggalan pesawat ke Jakarta. Oh, aku takut luar biasa.

Petualangan Itupun Tiba
Malam keberangkatan itu, atas ide temanku, aku menghubungi resepsionis hotel untuk melakukan panggilan wake up ke kamarku pada pukul 05.00. aku takut bangun kesiangan. Nyatanya, aku sudah bangun sebelum resepsionis itu menelponku. Tidurku tidak nyenyak dan aku sangat sedikit benar-benar tertidur. Aku mengalami anxiety. Perutku mulas sepanjang waktu.

Dari tempat aku menginap yaitu hotel EDC, aku dijemput oleh panitia pukul 05.45. sebelumnya aku sudah mandi dan berwudhu. Aku tidak sempat breakfast dan minum apapun. Aku sholat dalam mobil karena saat di hotel, waktu subuh belum masuk. Jalan raya yang kami lewati masih gelap dan sunyi. Kesulitan memahami bahasa Melayu Malaysia membuat komunikasiku sedikit terbatas dengan mas-mas yang mengantarku ini. Aku juga heran, ternyata meskipun serupa dan serumpun, tidak serta merta membuat kami lancar berkomunikasi dengan orang Malaysia. Kadang-kadang, makna yang kami maksud akan lebih cepat ditangkap ketika kami sama-sama menggunakan bahasa Inggris.

Dari percakapan singkat, aku menemukan penjelasan bahwa aku memerlukan waktu sekitar 10 menit saja dari KLIA 2 ke KLIA 1. Aku sedikit lega. Ini berbeda dengan keterangan yang kudapat dari mbak guide kami sebelumnya. Dia bilang butuh 1 jam untuk ke KLIA 1 dari KLIA 2. Entah mengapa info ini berbeda-beda.

Sesampainya di bandara, mas-mas itu membukakan pintu  mobil untukku, mengambilkan koperku dari dalam bagasi mobil lalu menyerahkannya padaku. Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus. Pada detik itulah, ada gemuruh dalam dadaku. Aku menelan ludah, tetiba tenggorokanku terasa sangat kering. OMG, aku benar-benar sendirian sekarang. What should I do?


Bandara Alor Setar


Pintu otomatis bandara terbuka ketika aku berada tepat di depannya. Aku menyeret koper ke dalam. Rasanya kakiku digelangi rantai besi yang berat. Aku nyaris menyerah. Ada rasa ingin berbalik ke hotel. Bandara Alor Setar masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari selain aku.
Aku duduk sejenak di bangku yang berjejer rapi. “Aku sudah check-in online-kan tiketmu tapi kamu harus tetap lapor secara manual untuk mendapatkan boarding pass.” Aku terngiang kalimat temanku.

Akan tetapi kulihat di sana ada mesin yang berfungsi untuk melakukan check in sendiri dan mencetak boarding pass. Sama seperti yang kulihat di bandara KL. Hanya saja...aku ragu aku bisa mengoperasikannya. Aku mendekati seorang nenek yang di tangannya sudah ada cetakan boarding pass. Akupun bertanya dengan bahasa Melayu. Si nenek bilang gampang saja caranya, dia sudah diajari oleh anaknya sebelumnya. Nenek yang baik itu membantuku mencetak boarding pass.


Mesin self check in

Dari percakapan singkat kami, akupun tahu, nenek ini bukan sembarang nenek. Ia sudah sering terbang bahkan ke beberapa kota di Indonesia. 

Kali ini ia bersama dua orang temannya hendak terbang ke KL lalu besok akan ke Turki dan Ke Makkah untuk umrah. Aku bilang aku belum pernah terbang sendirian. Nenek itu heran, mengapa aku berani terbang sendirian jika belum punya pengalaman. Ia bilang ikuti saja ia sampai nanti masuk pesawat. Akupun bertanya bagaimana cara agar bisa sampai ke KLIA1 dari KLIA2. Ia menatapku prihatin sambil menjelaskan caranya. Aku sudah berusaha menyimak dengan baik. Entanh kecemasanku, entah gangguan bahasa, aku kesulitan memahami penjelasan si Nenek. Ia ada bilang train, kereta, bus, dsb. Aku tidak paham. Yang aku tangkap cuma satu hal, aku akan berhadapan dengan masalah besar di KLIA2!

Menuju KLIA1
Penerbangan yang sangat menegangkan. Sesampainya di KLIA2 aku mulai diserang panik yang luar biasa. Bandara itu berlipat-lipat jauh lebih besar dari bandara Alor Setar tentunya. Aku mulai bertanya kepada beberapa orang. Kautahu, tidak semua orang ramah dan mau menjawab pertanyaanmu di sini. Tetiba aku kangen orang Indonesia. Pantas saja orang asing sering bilang orang Indonesia itu ramah-ramah. Aku sudah mengalaminya. Sekalinya ada yang mau menjawab, ia menggunakan bahasa Melayu dengan sangat cepat. Aku tidak paham. Selebihnya orang-orang menggunakan bahasa china atau semacamnya.

Yang harus aku lakukan pertama-tama adalah keluar dari bangunan KLIA2. Mencari jalan keluarnya saja aku memerlukan waktu 15 menit! Aku haus tapi aku tidak terpikir untuk mencari minum. Setelah menemukan jalan keluar dari KLIA2 aku pun bertanya bagaimana cara ke KLIA1. Ada yang bilang, kau bisa memilih beberapa cara, dengan train atau juga bus. Atau semacam itulah aku lupa namanya. Aku lihat beberapa orang menuju bus berwarna kuning merah. Petugas menagih semacam tiket, aku rasa aku harus membeli tiket juga. Lalu akupun bertanya pada petugas, di mana bisa beli tiket untuk bisa masuk bus itu agar aku bisa ke KLIA1. Astaga, ternyata bus itu bukan bus ke KLIA 1. Petugasnya bilang, ke KLIA1 cari warna purple, free.

Aku mulai bergerilya mencari bus purple yang dimaksud. Untunglah tidak lama kemudian bus tersebut ada. Aku rasa, penjelasan mas-mas sebelumnya salah, ini sudah lebih dari 10 menit kurasa. Tetiba bus berhenti. Orang-orang turun, aku bingung. Tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti bandara. Lebih mirip hutan (setidaknya itu yang mataku tangkap). Ternyata, aku harus naik bus lain lagi setelah itu. Kalau tidak salah bus yang kunaiki ini disebut shuttle bus. Sampailah aku di KLIA1.


Di dalam Shuttle bus


Setelah menyeret koper melewati pintu otomatis bandara, aku tertegun. Selanjutnya apa? Tidak ada tanda-tanda tempat melapor atau semacamnya untuk check in. Aku diserang panik lagi. Perutku mulas. Lalu kulihat serombongan orang dengan seragam seperti hendak umrah. Mereka dipandu seseorang dengan gaya yang mengingatkan aku kepada abang Salih di kartun Upin Ipin. Aku mendekati mereka. Kami berada tepat di depan pintu besar dengan berbagai tulisan keterangan tiap lantai. Ada 5 lantai yang bisa dituju. Aku menebak-nebak, untuk terbang kami harus ke lantai 5. Aku menyerahkan e-ticketku kepada “abang Salih”. Kubilang, aku mau terbang ke Jakarta.  Untunglah dia baik. Dia bilang lantai 5 untuk penerbangan. Ikuti kami katanya. Pintu besar itu membuka, itu lift yang sangat besar tapi tetap tak cukup untuk sejumlah rombongan umrah yang ia bawa. Aku nyaris tertinggal di luar, tapi aku memohon untuk bisa masuk bersama mereka, aku tidak mau sendirian. Jadilah kami berdesakan dan koperku hampir kejepit pintu.

Sampai di lantai 5 barulah aku yakin, ini benar-benar bandara. Aku mencari jalur area yang bertulis penerbangan antarbangsa. Aku harus melewati pemeriksaan seperti biasanya, melewati bagian migrasi juga. Untuk itu, paspor harus selalu ada. Setelah itu, aku mencari tempat untuk check in. Oh iya, ada orang yang bertugas menjawab pertanyaan di sini. Ia memakai selempang bertulis “Ask Me”.  Selain kepada si Ask Me aku harus bertanya ke beberapa orang di mana check in untuk penerbangan Lion atau Malindo. Hingga aku menemukan bahwa aku harus ke jalur A. Aku menerima dua boarding pass. Satu untuk penerbangan ke Jakarta, satu lagi untuk ke Banjarmasin. Selanjutnya aku mencari Gate C31. Untuk sampai ke Gate C31 aku naik eskalator. Aku tiba lebih awal di Gate C31. Akupun bekeliling meihat-lihat. aku sempat membeli coklat di counter coklat. Tidak banyak karena aku kesulitan membawanya.



Tibalah waktu penerbanganku ke Jakarta. Aku duduk bersebelahan dengan seorang gadis muda yang lugu dan polos, berpenampilan sederhana, seadanya. Ia menduduki jatah bangkuku dekat jendela. Aku tidak peduli, bagiku tak soal aku duduk di manapun. Sayangnya, pramugari memeriksa boarding pass kami dan ia menyuruh duduk di bangku sesuai yang tertera di boarding pass. Saat menukar tempat duduk itu, tas kardus si gadis robek bagian bawahnya. Akibatnya barang-barangnya berhamburan. Aku membantunya memungut barang-barang. Pramugari menyuruhku bergegas duduk. Setelah duduk, aku mengeluarkan tote bag yang kulipat dalam tas selempangku. Tote bag yang kubawa dari Banjarmasin, yang kuniatkan sebagai cadangan kalau terjadi sesuatu hal. Selama di Malaysia aku tak pernah menggunakannya. Aku kasihkan tote bag itu ke dia. Dia kaget dan sangat senang. Ia hendak membayarnya. Kujawab dengan senyum sambil bilang tak perlu bayar. Ia berkali-kali berterima kasih. Aku dan dia bercakap-cakap berbahasa Melayu. Ia fasih sekali berbahasa Melayu. Aku hampir tidak menduga bahwa ternyata ia orang Indonesia. Dia ternyata seorang TKW yang sudah 2 tahun bekerja di Malaysia. Ini kepulangan pertamanya setelah 2 tahun. Itupun hanya untuk 3 hari.

Sesampainya di bandara Sutta, setelah sekian lama bercakap melayu dalam pesawat aku mengingatkan dia, “Bisakah kau mengubah gaya bicaramu ke bahasa Indonesia saja?” Aku mencemaskan dia. Dia bilang dia sama seperti aku, tidak pernah pergi sendirian sebelumnya. Aku takut ada orang akan berniat jahat kepadanya kalau tahu dia asing dan tidak tahu apa-apa, sementara cakapnya pun bukan Indonesia. Sebenarnya terlintas dalam hatiku hendak mengantar dan menemani dia sampai ke rumahnya. Konyolnya aku. Aku sendiri tidak tahu medan bukan? Akhirnya aku menitipkannya pada Tuhan. Semoga gadis TKW itu selamat sampai rumahnya.

Mencari Terminal 1A
Aku mendarat di terminal 2D. Setelah melewati pemeriksaan di bagian paspor dalam negeri, aku mencari pintu keluar untuk menuju terminal 1A. Aku bertanya kepada seseorang. Ia menjelaskan panjang lebar, khas orang Indonesia. Aku harus menyeberang kemudian naik ke atas, mencari Sky Train. Di sana aku bertanya lagi dengan seseorang. Ia mengenakan seragam bersama beberapa temannya. Mereka petugas bandara tapi aku tidak tahu apa persisnya. Mungkin semacam mekanik, teknisi, atau apalah. Ia seorang lelaki yang masih muda. Keramahannya membuatku berkali-kali menggumam dalam hati: I love u Indonesia. Ia menjelaskan padaku bagaimana cara menuju terminal 1A. Ia membersamaiku dalam Sky Train menuju terminal 1. Selama dalam Sky Train ia mengajakku ngobrol. Ia bertanya untuk apa aku ke Malaysia. Aku menjawab seperlunya. Lalu ia bertanya, berarti ibu seorang dosen? Selanjutnya ia bercerita pernah ditawari jadi dosen di sebuah kota di Indonesia dan akan dikuliahkan lagi. Ia sanagt ingin menjadi dosen. “Lalu kenapa tidak diambil?” Tanyaku. Dia menjawab sambil tersenyum, “Tempatnya jauh dari orang tua”. Keluar dari sky train ia menunjukkan arah yang harus kuambil selanjutnya. Aku mengangguk dan berlalu sambil berterima kasih, lalu...lagi-lagi kau berdoa pada Tuhan, semoga suatu hari, cita-citanya tercapai.

Setelah menemukan  dan memastikan letak pintu keberangkatan 1A, akupun mencari tempat makan. Bayangkan, tak ada setetes airpun kuminum sejak bangun tidur. Jamku menunjukkan pukul 16.14 waktu Banjarmasin. Aku makan di AW. Memesan nasi, ayam goreng, sup dan coklat hangat.
Aku makan dengan perasaan tidak karuan yang sulit kutuliskan di sini. Aku rasa, aku kesulitan menelan makanan. Coklat hangatnyapun tak bisa kuhabiskan. Lalu aku mencari mushola. Aku menjamak takhir sholat dhuhur dan Asar.
Makan di AW


Cukup lama waktu aku menunggu di terminal 1A. 



Hingga tiba waktuku terbang. Aku tertidur  sepanjang penerbangan. Bangun dengan perasaan yang campur aduk. Aku terakhir turun dari pesawat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah, aku mampir makan mie bakmi Jawa dan minum segelas jus wortel di sebuah rumah makan di Bandara Syamsudinnor sambil menunggu dijemput. 

Malam sudah larut. Aku pulang.... []








Senin, 29 Januari 2018

Produk Perawatan Kulit yang Perlu Dibawa Saat Travelling

01.00 17 Comments
Mungkin ada yang berpikir keganjenan banget bepergian bawa-bawa kosmetik. Padahal, setiap orang yang menyadari pentingnya merawat wajah harusnya tahu bahwa penting juga membawa perlengkapan kosmetik khususnya jenis perawatan atau skincare ketika bepergian. Terutama bagi perempuan yang sudah memasuki  usia 30+. Kita perlu merawat kulit agar terlindung dari polusi dan sinar uv yang bisa berefek tidak baik untuk kita.

Tentu saja...kosmetik atau peralatan make up yang dibawa pas travelling tidak sekomplet mau ke kondangan 😊. Selain produk perawatan kulit, kita juga perlu bawa kelengkapan lainnya seperti body mist, lho!

Ini beberapa produk yang wajib dibawa menurut aku dan yang biasa aku bawa kalau bepergian atau travelling. Kebetulan produk yang kupakai adalah Wardah Lightening Series.


Lightening Milk Cleanser (1)
Milk cleanser biasa juga disebut susu pembersih adalah produk wajib dalam pocket kosmetikku. Bepergian akan membuat wajah kita gampang kotor dan kusam. Biasanya kita dianjurkan membersihkan wajah dua kali sehari. Ini pun aku lakukan ketika bepergian selama sikonnya masih 1memungkinkan. Minimal 1 kali sehari kalau agak repot, terutama sebelum memakai bedak dan kosmetik lainnya agar pori-pori kita tidak tertutup kotoran dan sisa make up sebelumnya. Apalagi kalau tempat yang kita kunjungi minim air bersih.

Lightening Face Toner k (2)
Face toner adalah pasangan setia milk cleanser. Toner berguna untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang tidak terangkat oleh milk cleanser. Selain itu juga berguna untuk meringkas pori-pori. setelah memakai toner wajah akan terasa segar dan bersih.

Lightening Facial Serum (3)
Yang satu ini bagus dipakai sebelum kita memakai krim harian baik krim siang maupun krim malam. Setelah rutin memakai lightening facial serum, kulitku terasa lebih kenyal, lembut dan tidak kering. Kulit juga terlihat lebih cerah dari sebelumnya.

Wardah Perfect Bright Lightening Moisturizer (4)
Kulit perempuan yang tinggal di daerah tropis seperti kita memerlukan pelembab yang juga mengandung UV protectian. Produk wardah yang satu ini memiliki SPF 30 sangat cocok untuk melembutkan dan membuat kulit lebih cerah karena terlindungi. Selain itu, aku tidak perlu memakai foundation lagi kalau sudah memakainya. Bahkan kalau kita dalam keadaan santai saja, kita tidak perlu lagi mengenakan bedak kalau sudah memakainya.

Compact Powder atau Two Way Cake (5)
Untuk acara meet up atau hang out ketika travelling, aku memakai twc luminous yang seri light beige. Biasanya aku membawa yang refill atau isi ulang karena lebih praktis. Aku tidak cocok memakai twc yang seri lightening karena tingkat warnanya tidak ada yang pas dengan warna kulitku.

Lipstik wardah exlusive No.34 (6)
Untuk tampilan yang lebih fresh, aku memakai lipstik exlusive series no.34 tipis tipis. Dengan memakainya kulit bibir jadi terlindungi dn terjaga kelembabannya.


Bedak BB
Aku hampir tidak pernah melupakan bedak BB jika bepergian. Kemasannya dalam bentuk sachet memudahkanku membawanya dengan menyelipkannya di saku tas maupun pocket make up.

Wardah Body Mist.(7)
Kalau bepergiannya lebih dari 2 hari, aku membawa body mist wardah. Kadang kalau bawaan tidak banyak, meski cuma sehari aku tetap membawanya. Terutama kalau aku bepergian dengan suami.

Kapas Facial
Kapas sangat penting untutk dibawa. Kadang aku membawa juga tisue basah dan tissue kering. Kapas sangat penting untuk mengangkat kotoran setelah memakai milk cleanser dan toner.

Lightening Gentle Wash
Yang satu ini kalau aku bepergian ke tempat-tempat yang gampang mendapatkan air bersih menjadi satu bawaan wajib juga. Karena kita memerlukan air untuk membilasnya.

Demikian bawaanku dalam travelling. Aku tidak membawa eye shadow, blush on dkk. Selamat mencoba!