Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 September 2018

Komunikasi Antarbudaya dan Relasi Antarpribadi dalam Cerpen “Dosen Pun Perlu Becermin” Karya Aboe Fadhil

00.23 0 Comments
Ini adalah materi yang aku bawakan ketika diminta penguasa Kindai Seni Kreatif untuk menjadi "Jaksa Penuntut Umum" dalam ruang sidang majelis cerpen milik Aboe Fadhil. Sebelumnya, jika kau belum tahu apa itu Kindai Seni Kreatif segeralah cari tahu. Kalau perlu tanya google dulu...hehe. Baiklaah sekarang mari nikmati celotehanku:

Komunikasi dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan Edward T.Hall mengatakan “Komunikasi adalah kebudayan dan kebudayaan adalah komunikasi.” Dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi; sebaliknya, hanya dengan komunikasi pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan. Kebudayaan hanya bisa eksis jika ada komunikasi.
Proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki adanya interaksi sosial. Ini terjadi secara alamiah. Menurut Watzlawick, Beavin dan Jackson, isi komunikasi tidaklah berada dalam sebuah tempat ataupun ruang yang terisolasi. Isi dan makna adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang essensial dalam membentuk relasi. Dengan kata lain relasi antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diiterpretasi (Liliweri, 2009).

Dalam kerangka mencermati kajian komunikasi antarbudaya dikenal beberapa asumsi, beberapa di antaranya adalah:
1.      Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar adanya perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan
2.      Dalam komunikasi antarbudaya terdapat isi dan relasi antarpribadi
3.      Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi
4.      Komunikasi antarbudayabertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian
5.      Komunikais berpusat pada kebudayaan
6.      Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya
Relasi antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diinterpretasi. Dengan siapa seseorang berkomunikasi, apa hubungan seseorang tersebut dengan orang yang menjadi rekan komunikasinya akan sangat mempengaruhi interpretasinya terhadap pesan yang dikomunikasikan.
Mempelajari hal-hal tersebut dari sebuah karya sastra berbentuk cerpen, bukan sesuatu yang gampang tapi tentu saja bukan sesuatu yang mustahil. Melalui dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah cerpen, pembaca bisa menangkap siapa dan bagaimana pengguna dialog tersebut berperan dalam cerita secara keseluruhan. Dialog-dialog tersebut secara universal akan membawa pembaca kepada suatu keadaan yang mirip dengan saat saat sedang becermin. Tentang bagaimana relasi antarpribadi kita dengan seseorang, tentang bagaimana komunikasi antarbudaya yang sedang terjadi pada masyarakat kita di era kekinian.

SSeberapa Penting Kita Becermin?
Cerpen yang ditulis oleh Aboe Fadhil, “Dosen Pun Perlu Becermin” memuat realitas komunikasi antarbudaya serta relasi antarpribadi sebagimana yang tertera dalam pendahuluan tulisan ini. Cerpen ini berkisah tentang seorang dosen benama Pak Asmi,M.Pd. yang memiliki karakter sebagaimana terdapat pada cuplikan berikut:
Ia tidak berani mengetuk pintu, sebab ia tahu karakter sang dosen. Pak Asmi itu sangat tegas dan konsisten dengan keputusannya, serta sangat objektif dalam memberikan penilaian. Semester sebelumnya, dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D. Mahasiswa yang terlambat, kalau pun diizinkan masuk, pasti disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, dan di Daftar Hadir tetap dicatat absen, seperti yang dialaminya dua minggu yang lalu. Tapi itu lebih mending daripada diusir dan disuruh pulang, seperti yang dirasakannya minggu sebelumnya.

Cuplikan tersebut berasal dari satu paragraf dalam cerpen DPPB. Sebagai sebuah paragraf secara umum, paragraf tersebut sebenarnya bukan sebuah paragraf yang baik dilihat dari kriteria dan syarat paragraf. Salah satu syarat paragraf yang baik adalah adanya unsur kesatuan, artinya dalam satu paragraf hanya boleh ada satu ide pokok yang dijabarkan menjadi beberapa kalimat pembangun paragraf tersebut. Ini cerpen, bukan karya ilmiah – barangkali ada yang berkometar seperti itu. Baiklah, bagaimana kalau kriteria tersebut diabaikan saja kali ini. Ini artinya, paragraf tersebut merupakan cermin sebuah kegamangan ketika seseorang menginterpretasi lawan komunikasinya.
Tegas, konsisten, objektif dalam memberi nilai, adalah hal-hal positif dalam paragraf ini sebagai penggambaran sang dosen yang harusnya menjadi hal membanggakan bagi para mahasiswanya. Akan tetapi pada saat yang bersamaan hal-hal positif tersebut disandingkan dengan disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, di daftar hadir tetap dicatat absen, serta diusir, disuruh pulang. Di tengah-tengah kedua hal kontras tersebut, informasi tentang dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D menjadi sebuah wacana yang interpretasinya bisa jadi sangat abu-abu. Akankah ini menjadi penguat kararkter positif dari sang dosen atau justru sebaliknya menjadi penambah point jeleknya si dosen. Informasi inipun terletak di tengah-tengah. Ketika ini diinterpretasi oleh mahasiswa yang rajin belajar, giat berjuang, lalu dapat nilai terbaik, maka informasi ini menjadi penguat bahwa Bapak Asmi adalah dosen yang sangat objektif. Bapak Asmi memberi nilai sesuai pekerjaan dan kualitas intelektual mahasiswanya. Akan tetapi ketika ini lebih didekatkan kepada hal-hal negatif semacam disemprot, dianggap absen, diusir dan disuruh pulang maka gambaran nilai-nilai tersebut dapat diinterpretasikan sebagai sebuah kekejaman sang dosen atau paling tidak ketegaan dosen.
... Atau laporkan saja sama Dekan, atau kepada Rektor kalau perlu, bahwa dosen ini terlalu otoriter, killer,” bisik egonya.
Kutipan tersebut mempertegas interpretasi mahasiswa terhadap sikap objektif dosennya. Relasi antara sang mahasiswa dengan dosen menjadi sebuah relasi antar pribadi yang tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan. Sikap tegas dan disiplin yang diterapkan oleh dosen menjadikan dosen mendapat predikat dosen otoriter dan dosen killer dari mahasiswanya.
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan semisal “Bagaimana perasaan dia terhadap saya? Bagaimana sikap dia terhadap saya? Apa yang akan saya peroleh kalau berkomunikasi dengan dia?” Untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan ini, seseorang memaksa dirinya untuk berkomunikasi sehingga akan menemukan suasana relasi yang lebih pasti.
Inilah yang terjadi pada tokoh Fadil dalam cerpen DPPB. Dari awal cerpen ini dibuka hingga lebih dari pertengahannya, Fadil berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggambarkan ketidakpastian dirinya tentang relasi sesungguhnya antara dia dengan sang dosen.
Dalam studi komunikasi, tingkat ketidakpastian itu akan berkurang saat kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi. Ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Di antaranya adalah tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal serta tahapan membuka diri dan memahami mengapa orang lain berbuat atau melakukan  sesuatu.
Yang dilakukan Siska dalam cuplikan berikut misalnya,
Tiba-tiba Siska yang merasa harga dirinya dilecehkan, mengangkat wajah. Sambil menyeka airmata dengan ujung kerudungnya, ia berkata tegas: “Bapak sendiri perlu becermin!”

Bukan hanya karena perasaan harga diri yang dilecehkan yang membuat Siska berani mengeluarkan kalimat Bapak sendiri perlu becermin. Siska mengeluarkan pernyataan tersebut sebagai tanggapan lanjutan – yang tidak diceritakan oleh pengarang pada bagian sebelumnya – bahwa di wajah sang dosen ada butiran nasi.
Sebuah tindakan yang diterima oleh sang dosen sebagai sebuah pelajaran berharga. Betapa ia sebelumnya juga harus terburu-buru agar tidak terlambat masuk ruangan. Tanggapan selanjutnya adalah dengan memberikan sebuah soal kepada mahasiswanya.
Ini bagian drama dalam cerpen DPPB. Di dalamnya tersimpan kekuatan sekaligus kelemahan cerpen ini. Dikatakan kekuatan karena ternyata setelah Fadil menjawab soal dengan benar, sang dosen menjadi lebih kooperatif. Ini makin menunjukkan bahwa tokoh dosen dalam cerpen ini sebenarnya adalah dosen yang baik dan benar. Ia menghargai Fadil sebagai penjawab soal yang benar walaupun seharusnya Fadil layak mendapat hukuman atas keterlambatannya. Momen ini sebuah gambaran positif yang seharusnya membuat masyarakat (:mahasiswa) becermin, agar lebih jelas terlihat siapa sebenarnya yang sedang keliru. Sisi kelemahannya adalah hal tersebut terkesan dipaksakan untuk memenangkan mahasiswa. Ini juga yang terlihat ketika Fadil mengajukan pertanyaan kepada Pak Asmi yang tidak bisa dijawab oleh dosen tersbut meski ia sudah mebuka-buka bukunya.
Seberapa penting dosen becermin? Tentu sangat penting karena dosen adalah sosok yang menjadi contoh pertama yang dilihat oleh mahasiswa di dalam kelas. Akan tetapi, hendaknya mahasiswa lebih sering becermin, melakukan upaya-upaya mengurangi ambiguitas tentang relasinya dengan sang dosen. Bagaimanapun, dosen adalah orang yang akan memberikan banyak manfaat (ilmu dan lain-lain) bagi mahasiswa.
Teori atribusi dalam komunikasi menganjurkan agar kita harus lebih mengerti perilaku orang lain dengan meyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dia. Pertanyaan yang relevan adalah “Apa yang mendorong dia berkata, berpikir atau berbuat demikian?” Mahasiswa hendaknya bertanya pada dirinya mengapa kami tidak boleh terlambat masuk kelas? Mengapa dosen memarahi kami kalau kami terlambat?

  Bagian Akhir: Kepada Siapa Cerpen Ini Berpihak?
Dari judul sudah jelas terlihat, cerpen ini tidak memihak dosen. Cerpen ini semacam sarana untuk mengata-ngatai dosen, mengkritik dosen, merundung dosen. Realitanya, dosen adalah manusia-manusia intelektual yang mempunyai tiga tugas utama atau yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga dharma ini yang membedakan dosen dengan profesi lain di muka planet bernama bumi. Terlebih sejak perguruan tinggi berada di bawah kemenristekdikti, para dosen makin terlatih dan terdidik menjadi masyarakat pembelajar yang tidak boleh menyerah begitu saja terhadap keadaan. Pro kontra pasti ada. Akan tetapi terkadang kita tidak punya pilihan lain, dalam lini apapun, kita bisa saja dihadapkan pada hanya dua pilihan, bergerak atau tertinggal lalu mati.
DPPB menyimpulkan satu hal bahwa dosen adalah manusia bukan dewa atau malaikat. Entah disadari atau tidak, jika semula cerpen ini dimaksudkan untuk menasehati dosen, maka yang tertangkap justru sebaliknya. Cerpen ini hendaknya menyadarkan mahasiswa bahwa bagaimanapun kendali tetap berada di tangan dosen yang baik. Ia berhak menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswanya. Jika ia mau, bisa saja Pak Asmi melempar balik pertanyaan Fadil kepada seluruh mahasiswanya tapi tidak. Ia tidak melakukan itu. Ia memilih menampung pertanyaan itu untuk dijawab di lain waktu. Ia malah masih sempat memberi nasehat sambil menunjukkan sikap ramah, “Kamu jangan telat lagi ya!” Betapa baiknya sang dosen [] Nai


Selasa, 05 April 2016

Sastra sebagai Penguat Identitas Nasional dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

15.08 0 Comments


Sastra sebagai Penguat Identitas Nasional
dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
Oleh Nailiya Nikmah, M.Pd.
Penulis berkerudung coklat paling ujung, saat membawakan makalah ini.(Foto Dok Panitia)


ASEAN telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan menuju pada tahapan baru yang lebih integratif dan berwawasan ke depan, yaitu Masyarakat ASEAN. Masyarakat ASEAN adalah kesatuan bangsa Asia Tenggara yang berpandangan keluar, hidup damai, stabil dan makmur, serta terikat bersama dalam kemitraan pembangunan yang dinamis dan saling peduli. Pembentukan Masyarakat ASEAN dilatarbelakangi antara lain oleh adanya pengaruh negatif krisis ekonomi yang menimpa negara-negara ASEAN pada 1997. Hal itu mendorong ASEAN berinisiatif untuk menciptakan kawasan yang memiliki daya tahan ekonomi.
Masyarakat Ekonomi ASEAN dibentuk untuk mewujudkan integrasi ekonomi ASEAN, yakni tercapainya wilayah ASEAN yang aman dengan tingkat dinamika pembangunan yang lebih tinggi dan terintegrasi, pengentasan masyarakat ASEAN dari kemiskinan, serta pertumbuhan ekonomi untuk mencapai kemakmuran yang merata dan berkelanjutan. Untuk itu, MEA memiliki empat karakteristik utama, yaitu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, serta kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global.
Dalam upaya menciptakan sebuah kawasan yang kompetitif, ASEAN telah menetapkan beberapa sektor kerja sama yang perlu ditingkatkan antara lain: perlindungan konsumen, hak kekayaan intelektual (HKI), pengembangan infrastruktur dan e-commerce. Kebijakan HKI salah satunya dapat  menjadi pendorong yang kuat bagi kreativitas budaya, intelektual dan seni beserta aspek komersilnya.
Sebagai salah satu negara ASEAN, Indonesia sudah semestinya melakukan berbagai persiapan menuju MEA. Hal ini merupakan suatu upaya mengingat MEA akan menghadirkan berbagai tantangan selain peluang-peluang positif bagi masyarakat Indonesia. Salah satu tantangan tersebut menyangkut persoalan identitas nasional bangsa Indonesia.
Identitas nasional adalah suatu jati diri yang khas yang dimiliki oleh suatu bangsa dan tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dalam hubungan antarbangsa, identitas menjadi penting karena menyangkut keberlanjutan eksistensi sebuah bangsa terutama dalam konteks global. Identitas nasional merupakan kumpulan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai dasar dan arah pengembangannya. Identitas nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Unsur-unsur pembentuk identitas nasional meliputi suku bangsa, agama, budaya dan bahasa.
Sebagai salah satu unsur pembentuk identitas nasional, bahasa Indonesia memiliki peluang sekaligus tantangan dalam menghadapi MEA. Persaingan bahasa terus menjadi pembahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Bila sebelumnya beberapa pakar bahasa di Indonesia menyebutkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu bahasa Internasional yang berpengaruh, dalam situasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) potensi bahasa Indonesia juga turut diteliti serta dicanangkan untuk menjadi bahasa ASEAN.
 Terdapat empat argumentasi yang mendukung hal ini, yaitu bahasa Indonesia itu sudah banyak dipelajari pada banyak negara, mudah dikuasai, laju perkembangannya fantastis, dan sebagaian kosa kata Indonesia juga ada di dalam bahasa negara-negara ASEAN lainnya. (Lihat http://www.goodnewsfromindonesia.org/2016/01/10/inilah-alasan-mengapa-bahasa-indonesia-bisa-menjadi-bahasa-asean).
Bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas instrumental yang diatur dalam undang-undang. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai lambang identitas nasional. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera dan lambang negara. Dalam hal ini bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya dengan baik.
Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemanfaatannya dalam menjembatani komunikasi antarwarga, antardaerah dan antarbudaya menjadikannya sangat penting di samping penggunaan bahasa daerah yang ada di Indonesia. Di tengah-tengah ratusan bahasa dan budaya daerah yang ada, bahasa Indonesia menjadi unsur istimewa yang tidak bisa dilepaskan dari keseharian masyarakat Indonesia. Ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat perhubungan antarwarga, antardaerah sekaligus antarbudaya yang paling memungkinkan.
Selain sebagai alat perhubungan, bahasa Indonesia merupakan alat penyatuan berbagai suku, bahasa dan budaya yang ada di Indonesia. Sebagai bangsa yang terdiri atas sekian ratus suku, Indonesia serta merta terdiri atas lebih dari sekian ratus bahasa daerah sekaligus budaya daerahnya masing-masing. Keragaman suku, bahasa dan budaya ini merupakan tantangan tersendiri bagi integrasi bangsa Indonesia. Keberadaan bahasa Indonesia terbukti mendukung upaya integrasi bangsa yang terus-menerus. Eksistensi bahasa Indonesia sebagai satu hal yang menguatkan identitas nasional membuat masyarakat saling menghargai perbedaan suku, bahasa dan budaya yang ada serta tetap merasa satu dalam NKRI. Ketika memahami hal ini, akan muncul pemahaman berikutnya bahwa bahasa Indonesia tidak saja berperan sebagai alat untuk berkomunikasi tapi juga sebagai alat untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk. Bahasa Indonesia dijunjung tinggi sebagai bahasa persatuan dengan tidak mematikan peranan bahasa daerah. Sebaliknya, bahasa daerah justru memperkaya bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia sudah membuktikan eksistensinya secara internal bagi masyarakat Indonesia. Kini, di era MEA, bahasa Indonesia diuji eksistensinya secara eksternal. Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia kini akan berhadapan dengan bahasa lainnya di kawasan Asia Tenggara bahkan di kawasan lainnya secara internasional.
Pakar bahasa dari Institut Teknologi Bandung menegaskan bahawa Bahasa Indonesia perlu internasionalisasi agar bisa menjadi bahasa ASEAN. Dibanding negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Ini menunjukkan bahasa Indonesia memiliki jumlah penutur yang mayoritas pula. Prof. Mahsun mengatakan, saat ini bahasa Indonesia terancam tergeser oleh bahasa Inggris dalam pelaksanaan MEA. Menurutnya, jika bahasa Indonesia tidak digunakan dalam MEA, Indonesia akan kehilangan identitasnya padahal era MEA merupakan era persaingan dan hanya bangsa yang memiliki identitas kuat yang bisa memenangkan persaingan.
Pembicaraan tentang bahasa suatu negara tidak bisa dilepaskan dari hal-hal yang menyangkut bidang kesusastraan. Begitu juga dengan bahasa Indonesia, sastra merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pemertahanan dan pengembangan bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembelajaran, karya sastra merupakan unsur penting yang mendukung keterampilan berbahasa seseorang. Bicara tentang karya sastra berarti bicara tentang unsur-unsur intrinsik sekaligus unsur ekstrinsik yang membangunnya. Itu artinya, pembacaan terhadap sebuah karya sastra merupakan penafsiran-penafsiran terhadap bahasa sekaligus nilai-nilai budaya yang melingkupinya. Nilai-nilai budaya inilah yang menjadi pembentuk identitas nasional.
Berikut ini dapat penulis paparkan beberapa hal penting yang berhubungan dengan sastra sebagai penguat identitas nasional di era MEA. Pertama, pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam karya sastra. Yang disebut sastra Indonesia adalah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia, yaitu ketika bahasa Indonesia pertama kali diumumkan sebagai bahasa persatuan pada momen Sumpah Pemuda 1928. Sejak itulah segala macam kegiatan komunikasi dan berkarya sastra ditulis dalam bahasa Indonesia (Rani, 1996:40). Roman yang dianggap sebagai roman pertama lahirnya sastra Indonesia oleh para ahli adalah roman Azab dan Sengsara karangan Merary Siregar. Selanjutnya, bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa semakin kuat tercermin melalui kemunculan karya sastra Indonesia modern yang berkembang pesat setelah kemerdekaan.
Dalam bukunya, Segenggam Gumam, Helvy Tiana Rosa menyebutkan adanya semacam pengakuan bahwa Indonesia adalah negeri dengan perkembangan sastra terpesat dari negara serumpun lainnya (2003:128). Hal ini kemudian disusul dengan ‘ketakutan’ negeri-negeri jiran terhadap hegemoni bahasa Indonesia, dikaitkan dengan era teknologi informasi. Bahasa Indonesia dengan penutur sekitar 200 juta orang, dianggap telah memengaruhi kemurnian bahasa Melayu.  
Kedua, penggalian nilai-nilai di balik karya sastra. Karya sastra yang baik adalah karya yang mampu memberikan pencerahan kepada pembacanya. Setiap karya sastra membawa amanat bagi kehidupan. Tinggal sedalam apa penggalian terhadap amanat tersebut diupayakan. Penggalian nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra dapat membantu mengenalkan sekaligus mempertahankan hal-hal positif dari nilai-nilai karya sastra itu sendiri. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan didukung oleh unsur kebudayaan lainnya, yaitu bahasa dan seni. Setiap bahasa memiliki tradisi sastranya dalam kadar yang berbeda-beda. Sastra sebuah bangsa mencerminkan tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa. Bahasa yang dapat dipelajari melalui karya sastra sarat dengan kandungan pemikiran dan ideologi. Kedua unsur ini kemudian dianggap sebagai jati diri suatu bangsa.
Sutardji Calzoum Bachri menyatakan bahwa dengan karyanya seorang pengarang menorehkan identitas dirinya. Ketika pengarang menorehkan identitas dirinya ia juga telah menorehkan identitas bangsanya. Jadi, sastra memberi ruang yang di dalamnya persoalan-persoalan kebangsaan dapat ditemukan. Penggalian karya-karya sastra yang mengeksplorasi budaya lokal misalnya, dapat menuntun kita pada konteks sosial dan zaman yang terepresentasi dalam karya tersebut.
Ketiga, pentingnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap perlindungan hak cipta khususnya karya sastra. Pembajakan, penjiplakan, plagiat, merupakan persoalan-persoalan yang masih menghantui dunia karya sastra Indonesia. Tindakan-tindakan yang mencerminkan sikap tidak menghargai karya orang lain tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat bangsa Indonesia sendiri tapi juga dilakukan oleh masyarakat asing. Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan perhatiannya terhadap dunia sastra untuk meningkatkan industri kreatif sastra di Indonesia.
Keempat, perlunya peran serta masyarakat Indonesia dalam segala kegiatan dan kelompok sastra  ASEAN. Beberapa negara anggota ASEAN telah ada yang melakukan kerja sama di bidang seni sastra bahkan ada yang terjalin jauh sebelum era Masyarakat ASEAN. Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya telah sering bekerja sama dalam kegiatan dan kelompok-kelompok sastra. Sekadar menyebut beberapa, ada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) dan Pertemuan Sastrawan Malaysia (PSM), Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), ASEAN Literary Festival dan lain-lain.
Pada agenda-agenda besar yang dapat mengangkat nama negara seperti ini hendaknya pemerintah memberikan kontribusi yang serius. Selama ini momen sastra di kawasan negara ASEAN dimaksudkan sebagai upaya untuk menyejajarkan sastra negara-negara kawasan ASEAN dengan sastra dunia. Selain itu, terdapat harapan saling mengenal produk dan nilai-nilai sastra  antarnegara ASEAN. Bagi Indonesia sendiri, momen-momen seperti ini dapat mengenalkan sekaligus menguatkan sastra Indonesia di mata negara-negara peserta lainnya yang secara langsung juga memperkuat posisi bahasa Indonesia di mata dunia. Peserta yang diutus menjadi delegasi pun hendaknya dapat menjaga citra bangsa di hadapan negara-negara lain dan dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas diri dan negeri.
Demikianlah, karya sastra Indonesia yang bermutu diharapkan dapat menguatkan identitas nasional di era masyarakat ekonomi ASEAN. Sebaliknya, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar secara konsisten dapat meningkatkan perkembangan sastra di negeri ini.[]


Referensi
Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI. 2015. Ayo Kenali ASEAN.
-------. 2015. ASEAN Selayang Pandang Edisi Ke-21.
Rosa, Helvy Tiana. 2003. Segenggam Gumam. Bandung: Syamil.
Sunarti, Sastri. 2014. Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Identitas Bangsa. Tabloid Sastra. https://tabloidsastra.wordpress.com/2015/02/16/bahasa-dan-sastra-indonesia-sebagai-identitas-bangsa/


*Makalah ini disampaikan dalam Seminar Bahasa dan Sastra, Himbi Sastra, K
FKIP Unlam, Banjarmasin, 2 April 2015

Senin, 04 November 2013

KARYA SASTRA BERBAHASA BANJAR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PELESTARIAN BAHASA BANJAR

12.50 0 Comments


KARYA SASTRA BERBAHASA BANJAR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PELESTARIAN BAHASA BANJAR*
Oleh Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd

A.          Pendahuluan
Dalam catatan perjalanan sejarah bangsa Indonesia tercantum salah satu hal penting berkaitan dengan bahasa bangsa, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan menjadi salah satu pengikat keragaman suku bangsa dalam semangat kebangsaan Indonesia. Tidak berlebihan jika ikrar yang dicetuskan oleh para pemuda tersebut menjadi salah satu unsur terpenting bangsa Indonesia khususnya dalam hal persatuan dan kesatuan. Para pemuda pada tahun tersebut menyatakan ikrar yang mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia.
Semangat Sumpah Pemuda melandasi pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pasal tersebut mempertegas bahwa bahasa  negara ialah  Bahasa Indonesia. Kemudian, tentang Bahasa Indonesia ini selanjutnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut juga mengatur tentang bahasa daerah. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah-daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Indonesia terdiri atas berbagai suku dengan bahasanya masing-masing. Dalam artikelnya, Budiwiyanto menyebutkan berdasarkan laporan hasil penelitian Kekerabatan dan Pemetaan Bahasa-Bahasa di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Bahasa pada tahun 2008, telah berhasil diidentifikasi sejumlah 442 bahasa. Hingga tahun 2011, tercatat terjadi penambahan sejumlah 72 bahasa sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 514 bahasa. Jumlah tersebut masih dapat bertambah karena masih ada beberapa daerah yang belum diteliti. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1285.
Selanjutnya, pelestarian bahasa daerah tidak terlepas dari peran dan tanggung jawab pemerintah daerah, dengan tetap mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009, Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara Serta Lagu Kebangsaan. Upaya pelestarian ini idealnya diatur dalam peraturan daerah (Perda) sebagai wujud apresiasi Pemda atas pelestarian budaya daerah.
Upaya pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan karena bahasa daerah mulai terkikis oleh pengaruh globalisasi, serta kecenderungan penurunan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan masyarakat di luar keluarga. Jika diamati lebih jauh, banyak kemungkinan penyebab terkikisnya bahasa daerah. Sebagai contoh yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan segala gaya hidup yang mempengaruhinya termasuk bahasa. Kebutuhan berbahasa yang dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat yang didatangi membuat bahasa ibu (bahasa daerah) perlahan-lahan tersaingi. Ekonomi juga turut mempengaruhi hal ini. Kecenderungan orang yang pandai berbahasa asing dan atau bahasa Indonesia yang lebih diutamakan untuk menempati sebuah posisi di dunia kerja membuat bahasa daerah lambat laun akan memudar penggunaannya.
B.           Bahasa Banjar sebagai Salah Satu Bahasa Daerah di Indonesia
Salah satu bahasa daerah di Indonesia yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar. Abdul Djebar Hapip dalam Kamus Banjar Indonesia (2008) menjelaskan bahwa bahasa Banjar (BB) ialah bahasa yang dipergunakan oleh suku Banjar. Secara geografis suku ini pada mulanya mendiami hampir seluruh wilayah provinsi Kalimantan Selatan sekarang ini yang kemudian akibat perpindahan atau percampuran penduduk dan kebudayaannya di dalam proses waktu berabad-abad, maka suku Banjar dan BB tersebar meluas sampai ke daerah-daerah pesisir Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, bahkan banyak didapatkan di beberapa tempat di Pulau Sumatra yang kebetulan menjadi pemukiman orang-orang perantau dari Banjar sejak lama seperti di Muara Tungkal, Sapat dan Tembilahan.
BB bisa dibedakan antara dua dialek besar, yaitu dialek bahasa Banjar Kuala (BK) dan dialek Bahasa Banjar Hulu Sungai (BH). Dialek BK umumnya dipakai oleh penduduk “asli” sekitar kota Banjarmasin, Martapura dan Pelaihari, sedangkan dialek BH adalah BB yang dipakai oleh penduduk di daerah hulu sungai umumnya, yaitu daerah-daerah Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara serta Tabalong. Pemakai BH ini jauh lebih luas dan masih menunjukkan beberapa variasi subdialek lagi yang oleh Den Hamer disebut dengan istilah dialek lokal, yaitu Amuntai, Alabio, Kalua, Kandangan, Tanjung, bahkan ia cenderung berpendapat bahwa bahasa yang dipakai oleh “orang bukit” yaitu penduduk pedalaman pegunungan Meratus merupakan salah satu subdialek BH pula. Dan mungkin subdialek baik BK maupun BH itu masih banyak lagi.

C.          Peran Karya Sastra sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Bahasa Daerah

Karya sastra bukan semata-mata penyajian peristiwa yang indah melainkan penyampaian hakikat peristiwa tersebut. Dari sini akan ditemukan makna-makna peristiwa setelah melalui penghayatan, pendalaman makna dan penafsiran. Karya sastra memuat bahan perenungan yang melibatkan aspek moral, nurani, emosi dan etika.
Karya sastra diciptakan dengan daya kreativitas dan imajinasi tapi kreativitas itu tidak lantas menghilangkan unsur realita dalam prosesnya. Pengarang melahirkan berbagai pengalaman dalam karyanya dengan  memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman hidupnya maupun pengalaman manusia lain yang dihayatinya.  Pengalaman tersebut tidak hanya pengalaman lahir tetapi juga lebih pada pengalaman batin.
Karya sastra mengemukakan masalah-masalah manusia, masalah hidup dan kehidupan. Pengarang yang kreatif selalu mampu mengolah permasalahan- permasalahan tersebut menjadi suatu karya yang berharga, berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Pengarang kreatif senantiasa berusaha mengemukakan wacana baru dalam karyanya, apapun bentuk karya sastra yang ditulisnya agar para pembacanya tidak hanya merasa terhibur tapi juga merasa tercerahkan jiwanya.
Berbicara tentang karya sastra tidak bisa lepas dari bahasa sebagai media dan unsur utamanya. Pada umumnya masyarakat terkini mengenal karya sastra sebagai karya yang berbahasa Indonesia padahal ada juga karya sastra yang bukan berbahasa Indonesia, melainkan berbahasa daerah. Di Kalimantan Selatan misalnya terdapat bahasa daerah Banjar (yang dominan) di samping bahasa daerah lainnya. Meskipun yang dimaksud dengan karya sastra bertema lokalitas  bukan semata tentang hadirnya suatu bahasa dalam karya melainkan nuansa kehidupan lokal yang menjadi ciri utama mesyarakatnya, kiranya bukan sesuatu yang berlebihan jika mengemukakan unsur eksistensi bahasanya ke permukaan ranah sastra. Hal ini diwujudkan dengan penggunaan bahasa daerah (:Banjar) sebagai bentuk penyampaian ekspresi (Mungkin cerpen, mungkin puisi).
1.      Upaya Pelestarian Bahasa Banjar Melalui Puisi Berbahasa Banjar
Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra menggunakan bahasa sebagai medianya. Akan tetapi bahasa yang digunakan dalam puisi “berbeda” dengan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa puisi memiliki keunikan tersendiri sebagai hasil kreativitas, ekspresi dan imajinasi penyair. Bahasa puisi memiliki nilai estetika yang akan diperoleh oleh pembacanya melalui pembacaan yang intens dan apresiasi yang tinggi. Tarsyad menyebutkan bahwa bahasa puisi mengalami proses pemadatan makna dan kreativitas pemilihan diksi penyairnya (2011:6).
            Puisi berbahasa Indonesia relatif mudah dan banyak ditemui. Hal ini sejalan dengan Sumpah Pemuda yang ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Akan tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu adanya bahasa-bahasa daerah yang merupakan unsur pembangun dan pemerkaya bahasa Indonesia. Sudah sewajarnya ada upaya untuk melestarikan bahasa daerah dari masyarakat penuturnya. Salah satu upaya pelestarian tersebut bisa dilakukan melalui jalur kesusastraan.
            Salah satu bahasa daerah yang dipakai dalam bahasa puisi adalah bahasa Banjar. Menemukan puisi berbahasa Banjar dari jenis puisi lama mungkin relatif lebih mudah. Yang masih terbilang langka adalah puisi baru/puisi modern yang menggunakan bahasa Banjar, baik bahasa Banjar Hulu maupun bahasa Banjar Kuala.
            Contoh puisi yang menggunakan bahasa Banjar yang dapat kita apresiasi dan kritisi bersama adalah puisi-puisi karangan penyair asal Kalimantan Selatan, Abdurrahman El Husaini. Ada dua buku yang memuat kumpulan puisi berbahasa Banjar yang ia karang, yaitu Doa Banyu Mata (diterbitkan oleh Tahura Media, Juni 2011) dan Jukung Waktu (diterbitkan oleh Scripta Cendekia, Februari 2012).

Tasanda jua Banyu Mata Ngini

Tasanda jua banyu mata ngini paampihannya
Lawan sungai-sungai nang ditabat
Lawan pahumaan-pahumaan nang disaluh manjadi rumah-rumah ganal bagus
Lawan gunung manggunung nang diruntuhakan
Lawan puhun mamuhun nang ditabangi
Lawan paparutan tanah nang dibungkari


Cuba pian liati janak-janak
Cuba pian janaki pitih-pitih
Amun kumarau
Kumarau balalandangan
Amun musim ujan
Ba ah saalaman

Musim kada kawa ditangguh lagi
Nang disangka panas sakalinya ujan sing labatan
Nang disangka ujan sakalinya panas manggantang
Mbah anu ujan mbah anu panas
Mbah anu panas mbah anu ujan

Tasanda jua banyu mata ngini paampihannya
Lawan ingui tangis kita barataan

(Puisi Abdurrahman El Husaini dalam Doa Banyu Mata, 2011:66).
            Puisi tersebut berbicara tentang kepedulian penyairnya terhadap lingkungan. Sungai, sawah, gunung, pohon, hutan, tanah, mulai terancam keberadaannya karena ulah tangan manusia. Akibatnya musim menjadi tidak menentu, tidak lagi bisa terbaca. Kadang-kadang hujan, kadang-kadang panas. Hal ini menjadikan kesedihan yang mendalam bagi penyair. Dalam puisi tersebut ia mewakilkannya dengan tergadainya airmata.
            Ada beberapa kosakata yang mungkin tidak terlalu dikenal lagi oleh masyarakat Banjar khususnya usia remaja ke bawah dalam puisi tersebut misalnya “pitih”, “balalandangan” dan “ingui”. Dalam Kamus Banjar Indonesia karangan Abdul Djebar Hapip, dapat ditemukan kata “itih”, mungkin ini yang dimaksud oleh penyair dengan “pitih”. Itih berarti teliti (2008:63). Sedangkan “landang” berarti jauh, panjang, lama (2008:102). Adapun “ingui” (2008:6) dipadankan dengan “iluy” yang berarti lagu; bailuy berlagu (menangis).

ZIKIR HATI
Zikir hati
Bajalulut
Bajarikit
Lawan gatah
Hidayah
Allah Taala
Siang malam kada sing lingkahan

Malam Sabtu 12 Ramadhan 1432 H
(puisi Abdurrahman El Husaini dalam Jukung Waktu, 2012:65).
            Puisi tersebut berbicara tentang kereligiusan, kecintaan, kedekatan terhadap Allah. Beberapa kosakata yang cukup khas dalam puisi tersebut adalah “bajalulut”, “bajarikit” dan “sing lingkahan”. “ Jalulut” tidak ditemukan dalam kamus sedangkan “ Jarikit” berarti lekat, lengket (Hapip, 2008:67). Adapun  yang dimaksud dengan “lingkah” dalam puisi tersebut masih menurut Kamus Banjar Indonesia berarti terlepas atau hilang (2008:111).

2.                  Upaya Pelestarian Bahasa Banjar Melalui Cerpen Berbahasa Banjar
Poe dalam Afra (2007: 112) menyatakan bahwa cerpen adalah narasi yang bisa dibaca dalam sekali duduk, dengan lama waktu setengah hingga dua jam. Karena pendek, cerpen memiliki ruang yang padat. Meski kelihatannya pendek, sebuah cerpen mampu menyampaikan hal-hal berharga yang bisa tersampaikan secara implisit maupun eksplisit.
Unsur-unsur yang membangun sebuah cerpen secara intrinsik adalah tema, plot (alur), setting, sudut pandang atau penokohan dan tokoh. Namun secara ekstrinsik sebuah cerpen dipengaruhi pula oleh pandangan-pandangan dan latar belakang kehidupan penulisnya.
Cerpen sebagai bagian dari kesuasteraan modern Indonesia merupakan cermin kebudayaan bangsa Indonesia yang hidup dalam keberagaman sistem budaya. Hal ini diwujudkan ke dalam aspek-aspek tematis dan stilistis karya.
Sebagai karya fiksi, cerpen diciptakan dengan daya kreativitas dan imajinasi. Kreativitas itu tidak saja dituntut dalam upaya pengarang melahirkan pengalaman batin dalam karyanya, tetapi juga harus kreatif memilih unsur-unsur terbaik  dari pengalaman hidup manusia yang dihayatinya. Penulis cerpen bersandar pada kreativitas. Kreativitas memberi peluang yang sangat luas bagi keragaman muatan karya sastra. Dunia fiksi jauh lebih banyak mengandung berbagai kemungkinan daripada yang ada di dunia nyata. Dalam proses kreativitasnya pengarang bisa saja menyiasati, mengkreasi, memanipulasi berbagai masalah hidup dan kehidupan yang dialami dan diamatinya.
Seperti halnya puisi, cerpen pun menggunakan bahasa sebagai media. Cerpen berbahasa Banjar senasib dengan puisi berbahasa Banjar. Para penulis cerpen Kalimantan Selatan lebih banyak menulis cerpen dalam bahasa Indonesia. Salah satu buku kumpulan cerpen berbahasa Banjar yang dapat dibaca, diapresiasi dan dikritisi adalah kumpulan kisdap Malam Kumpai Batu (disusun oleh Sandi Firly dan diterbitkan oleh Media Tahura, April 2012).
Berikut kutipan cerpen “Malam Kumpai Batu” yang terdapat dalam buku tersebut.
Tadapatnya kami tabarungan haja, wan pulang, kada disangka-sangka. Mulai kapal At Taslim balayang matan Palabuhan Pasar Lima Banjar siang tadi, bujur nah, aku kada tahu inya sakalinya umpat jua, jadi panumpang, di kapal ngini. Di Murung Panti, waktu kapal singgah di pos panjagaan, aku handak bakunjang kaluar kapal, ka warung palabuhan handak manukar roko. Sakilaran, bibinian ngitu takurihing. Asa pinandu asa kada, kada kuherani ai inya. Kalu ai inya takurihing gasan urang lain. Dua pulang, kau gair kalu aku dikira urang lalakian liur baungan. …. (Kisdap Malam Kumpai Batu karangan M. Rifani Djamhari, 2012:1).

Kutipan tersebut menggambarkan adanya perjalanan yang menggunakan kapal bernama At Taslim. Pembaca memperoleh gambaran bahwa dulu, alat transportasi yang diandalkan adalah kapal. Dari kutipan tersebut diperoleh pula ungkapan “liur baungan” yang tidak mustahil suatu saat tidak terdengar lagi dalam percakapan orang Banjar karena berganti ungkapan dari bahasa lain. Begitu juga dengan kata “sakilaran” dan “takurihing”.
Cerpen “Malam Kumpai Batu” mengisahkan pertemuan kembali sepasang manusia yang pernah memiliki hubungan khusus secra tidak sengaja dalam sebuah perjalanan yang menggunakan alat transportasi air. Dalam cerpen ini pembaca akan menemukan rute-rute perjalanan yang dilalui. Perjalanan tokoh aku dimulai dari pelabuhan pasar lama Banjarmasin. Dari cerpen ini pula, pembaca akan mengetahui rute Banjarmasin-Nagara melewati  Margasari Marabahan.
Cerpen selanjutnya yang bisa diamati adalah sebagai berikut,
Imah takulimpapak! Bakalincuat saitu saini. Hinaknya mahingal, kaya urang ngangal, pual-pual lacit ka bantal, nang kaya hadangan disumbalih angkal. Awaknya manggitir. Jimus paluh. Inya hanyar mailan tumatan mimpi nang kada sing baikan. Bakalimpusut inya bapuat, duduk mancugut di tubir ranajng sambil mangajang pinggang nang ngilu. Dilacungakanya hinak landang-landang. Rancak Imah mangucak-ngucak bigi matanya, tagal hayabang mimpi nang saling kada baikan tuti maguni haja maumpinak di panjanaknya. (Cerpen “Anja” karangan Aliman Syahrani dalam buku kumpulan kisdap Banjar Malam Kumpai Batu,2012:40).

Kutipan cerpen “Anja” tersebut menghadirkan bahasa Banjar Hulu dengan subdialek Kandangan. Kata-kata “takulimpapak”, “bakalincuat”, “pual-pual” termasuk kata-kata yang tidak mudah dipahami artinya oleh pembaca yang bukan penutur bahasa Banjar Hulu (dalam kamus Banjar pun belum ada). “Takalimpapak” artinya sangat terkejut, disertai gerakan seluruh tubuhsecara refleks. “Bakalincuat” artinya bangkit dari berbaring atau duduk dengan segera, bisa karena takut, marah, atau kaget. “Pual-pual” sama dengan “kepul”, seperti orang mengeluaran asap rokok dari mulut. Mungkin masih ada beberapa kata lain yang maknanya tidak langsung dipahami oleh pembaca karena kemungkinan kata tersebut berasal dari dialek atau subdialek yang bukan dialek atau subdialek keseharian pembaca.
Secara bentuk, kata-kata tersebut menunjukan bahwa bahasa Banjar memiliki keunikan. Ada kata (hanya satu kata) yang menjelaskan suatu keadaan yang tidak bisa dipadankan dengan kata lain. Semacam keunikan yang terdapat pada kata “intil” misalnya. “Intil” menurut Kamus Banjar Indonesia berarti letak sesuatu yang hampir jatuh, atau mudah terlihat, mudah diambil orang (Hapip, 2008:62). Ini memperlihatkan kekayaan bahasa Banjar dalam mengemukakan suatu konsep.
 Jika dibaca secara utuh, cerpen “Anja” memberi gambaran tentang salah satu kepercayaan masyarakat Loksado terhadap arwah. Cerpen ini sangat kental nuansa lokalnya. Tidak hanya karena bahasa yang dipakai adalah bahasa daerah (Banjar Hulu) tapi karena memang dalam cerpen ini ditemukan unsur lokalitas yang khas dari masyarakat Loksado. Kepercayaan tersebut mungkin lambat laun tidak akan terjalin lagi dalam kehidupan masyarakat Banjar. Seiring perkembangan zaman, keterbukaan pemikiran dan wawasan masyarakat, peningkatan intelektualitas, kepercayaan tersebut bisa saja akan menghilang. Menghilangnya sebuah konsep akan diikuti dengan hilangnya sebuah istilah.
Jika dibandingkan dengan cerpen “Julak Utam” karangan Dewi Alfianti, masih dalam buku kumpulan kisdap Malam Kumpai Batu, cerpen “Anja” sangat kental bahasa BH nya sedangkan “Julak Utam” terasa lebih mengarah ke bahasa BK nya. Tentu secara ekstrinsik, sedikit banyaknya latar belakang pengarangnya turut mempengaruhi hal ini. Aliman Syahrani, pengarang cerpen “Anja”, lahir di Datar Balimbing Loksado kemudian tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan di kota Kandangan sedangkan Dewi Alfianti, pengarang cerpen “Julak Utam” lahir dan tinggal di Banjarmasin.
Berikut kutipan cerpen “Julak Utam” dalam buku kumpulan kisdap Malam Kumpai Batu (2012):
Rambut basulah, muha pina membulat, dahi meneng, pas haja lawan potongan muha bulat nang jua pina putih baminyak…(hlm 86).
Atau kutipan berikut,
Sidin datang, bubuhannya abut wan tumbur-tumburnya. Ada nang bukah-bukah, siapakah tu di bawah. Iwan, nang manyetel lagu rok di higa kamarku mahamuk-hamuk lakas manggemeti tip-nya…(hlm 87).
Kutipan tersebut memuat kata-kata yang dominan terdapat dalam tuturan bahasa BK. Salah satu hal yang utama adalah dalam bahasa BH tidak terdapat vokal “O” dan vokal “e”. Keduanya secara berturut-turut digantikan oleh vokal “u” dan vokal “a” atau “i”.  “manyetel” dan “manggemeti” misalnya, dapat dikenali sebagai bagian dari bahasa BK.
Melalui cerpen berbahasa Banjar, pembaca tidak hanya memperoleh “Banjar” sebagai tempatan atau lokalitas sebuah pengisahan tapi juga memperoleh pengetahuan bahasa Banjar itu sendiri. Mungkin saja terdapat beberapa kosa kata yang sudah tidak dijumpai lagi dalam penuturan sehari-hari, mungkin pula ada kosa kata yang berasal dari sub-subdialek BB yang akan memperkaya khasanah BB. Melalui cerpen, kosa kata dan pemahaman terhadap kosa kata tersebut kiranya dapat dijaga kelestariannya.

D.          Penutup

Suatu bahasa sebagai salah satu identitas suatu masyarakat memiliki kemungkinan akan hilang dari masyarakatnya, terpengaruh arus globalisasi, lalu terbentuklah bahasa-bahasa baru.  Sebagai masyarakat yang lebih dekat dengan tradisi lisan, masyarakat Banjar memerlukan pengembangan tradisi literasi sebagai salah satu upaya pelestarian bahasa. Tradisi yang menyandingkan kegiatan baca dan tulis dalam suasana yang sehat dan kreatif. Keberadaan cerpen dan puisi berbahasa Banjar merupakan salah satu upaya pelestarian bahasa Banjar yang dapat diandalkan.
Meskipun cerpen dan puisi dihasilkan oleh individu-individu pengarang, masyarakat memerlukan peran dan dukungan pemerintah serta berbagai pihak terkait lainnnya untuk menopang upaya pelestarian ini. Pemerintah dapat memfasilitasi penerbitan karya-karya bermutu, lebih daripada itu juga melakukan upaya penyosialisasiannya kepada masyarakat pembaca misalnya dengan mengadakan kegiatan rutin “pembacaan” karya sastra berbahasa Banjar.
Sastra Berbahasa Banjar dengan bentuk puisi dan cerpen dapat diaplikasikan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku pada tiap tingkatan. Ini berarti, pada pembelajaran puisi dan cerpen, siswa-siswa di Kalimantan Selatan tidak hanya mempelajari puisi dan cerpen berbahasa Indonesia tapi juga mempelajari puisi dan cerpen berbahasa Banjar. Sebenarnya selain puisi dan cerpen, bentuk karya sastra lainnya yang dapat dipakai sebagai upaya pelestarian bahasa Banjar adalah sastra berbentuk drama, baik yang tradisional maupun yang modern.  
Selain mata pelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran Muatan Lokal dapat pula dipakai sebagai upaya pelestarian bahasa Banjar. Baik melalui pembelajaran bahasa Banjarnya maupun melalui pembelajaran seni budayanya yang menggunakan bahasa Banjar sebagai media.
E.           Daftar Pustaka

Afra, Afifah. 2007. How To Be A Smart Writer. Surakarta: Indiva Media Kreasi.

El Husaini, Abdurrahman. 2011. Doa Banyu Mata. Banjarmasin: Tahura Media.

------------. 2012. Jukung Waktu. Banjarbaru: Scripta Cendekia.
Firly, Sandi (Ed). 2012. Malam Kumpai Batu. Banjarmasin: Tahura Media.
Hapip, Abdul Djebar. 2008. Kamus Banjar Indonesia. Banjarbaru:
CV Rahmat Hafz Al Mubaroq.
Tarsyad, Tarman Effendi. 2011. Kajian Stilistika Puisi Sapardi Djoko Damono. Banjarmasin: Tahura Media.


Biodata
Nailiya Nikmah JKF lahir di Banjarmasin, 9 Desember 1980. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banjarmasin dan Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Kalimantan Selatan. Sekarang menjabat wakil sekretaris Dewan Kesenian Kota Banjarmasin. Ia bertugas sebagai pengajar di Politeknik Negeri Banjarmasin. Nailiya menulis cerpen, puisi, esai dan novel. Beberapa karyanya yang telah dibukukan adalah Nyanyian Tanpa Nyanyian (Antocer bersama-9 penulis perempuan Kal-Sel), Menulis itu Mudah (esai bersama), Konser Kecemasan (Kumpulan Puisi Lingkungan Hidup/Puisi bersama), Rindu Rumpun Ilalang (antocer sendiri), Kalimantan dalam Prosa Indonesia, Pelangi di Pelabuhan (kumcer bersama FLP), Antologi Bersama-Puisi Religius Indonesia “Para Kekasih”, Ketika Api Bicara (antocer HSU), Senja di Teluk Wandoma (antocer nasional bersama), Malam Kumpai Batu (anto kisdap bersama), Kiat Menulis dan Cerpen Pilihan (bersama penulis HSU). Cerpennya “Mangadap Langit” terpilih sebagai juara harapan III Lomba Menulis Cerpen Bahasa Banjar, Disbudpar. Novelnya Sekaca Cempaka terpilih sebagai unggulan dalam lomba menulis novel dalam rangka Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2013.

 *Mengalami penyuntingan setelah disampaikan dalam Dialog Bahasa Daerah Sekalimantan, Banjarbaru 23-24 Oktober 2013.



Rabu, 30 Januari 2013

(Analisis Sudut Pandang dalam Novel Pengikat Surga Karya Hisani Bent Soe)

04.38 0 Comments


Ketika Asma Curhat*
(Analisis Sudut Pandang dalam Novel Pengikat Surga Karya Hisani Bent Soe)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Karya sastra diciptakan dengan daya kreativitas dan imajinasi. Kreativitas itu merupakan upaya pengarang melahirkan pengalaman batin dalam karyanya sekaligus  memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman hidup manusia yang dihayatinya.  Pengalaman-pengalaman tersebut diramu dengan imajinasi pengarang. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra. Novel secara fisik memberi ruang yang luas kepada pengarang untuk menuangkan sebanyak-banyaknya pengalaman hidup yang diramunya dengan kreasi dan imajinasi.
Seperti karya sastra lainnya, novel dibangun oleh unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Salah satu unsur tersebut adalah tokoh. Ada empat cara utama untuk menampilkan tokoh dalam fiksi, yaitu dengan cara memberitahu pembaca, meminta tokoh bercerita, menyuruh tokoh lain bercerita, dan menggunakan tindakan tokoh. Selain itu ada cara lain, dengan bahasa tubuh, emosi dan dialog (Silvester dan Alexander,2004:32)
Ketika memperoleh ide suatu cerita, pikirkan siapa yang menceritakannya. Di sinilah sudut pandang masuk. Beberapa jenis sudut pandang, yaitu (1) sudut pandang orang pertama yang terdiri dari (a) protagonis org pertama – aku adalah tokoh utama yg menceritakan kisahnya sendiri; (b) saksi orang pertama - cerita tokoh utama diceritakan oleh tokoh lain; (c) pencerita-kembali orang pertama—cerita diceritakan oleh orang yang telah mendengar cerita itu dari orang lain, (2) sudut pandang orang kedua, (3) sudut pandang orang ketiga.
Novel berlatar sejarah bukan sesuatu yang asing sebenarnya. Yang terkesan baru, mungkin adalah novel berlatar sejarah Islam. Sebagai sebuah novel sejarah Islam –          (: sejarah kenabian) pengarang novel Pengikat Surga (PS) cukup berani mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang tokoh utama dalam novel ini. Ini dapat dikatakan unik sekaligus juga berisiko. Tokoh utama dalam novel ini adalah Asma. Asma bukan sembarang Asma. Dia adalah Asma Bint Abu Bakar, putri tercinta sang pembenar, putri seorang sahabat dekat Rasulullah.
Asma dilahirkan 17 tahun sebelum Muhammad Saw. diutus menjadi Nabi (Quthb,1995:15). Dia menyaksikan pengutusan Muhammad sebagai Nabi, mengetahui detil-detilnya karena ia terlibat di dalamnya. Asma adalah anggota keluarga Abu Bakar yang sekian lama menjadi tempat singgah yang aman bagi Rasulullah. Rasulullah hampir setiap hari mengunjungi rumah Abu Bakar.
Di kemudian hari semua terpesona dengan sejarah yang diukirnya melalui sabuknya pada peristiwa hijrah Rasulullah yang ditemani ayahanda tercinta. Pada hari keberangkatan dari Gua Tsur menuju Yastrib, Asma lah yang membuatkan bekal perjalanan. Dia lupa membawa tali untuk mengikatkan makanan dan minuman pada tunggangan. Dengan kecerdasannya, ia melepas sabuknya dan membelahnya jadi dua. Rasul bersabda, “Allah telah menggantikan sabukmu ini dengan dua sabuk di surga.” Peristiwa ini selalu dikenang oleh kaum muslim sepanjang masa. Sebuah gelaran ia dapat dari peristiwa ini. Ya, dialah Asma Dzaatu Nathaqain.
Bukit batu terjal menuju Tsur telah terlihat. Mendakinya tak mungkin dengan menenteng makanan. Makanan ini harus kuikat kebadanku agar aku lincah bergerak. Tak ada kain yang dapat kugunakan untuk mengikat makanan ini. Aku luput memikirkan untuk menyiapkannya. Aku meraba sabuk yang menahan perutku … Aku memotong sabukku memanjang menjadi dua…. (hlm 223)
Tidak hanya itu keistimewaan Asma. Dia adalah tokoh perempuan yang pernah menghadapi “dua setan” dengan ketabahan hati, yaitu Abu Jahal dan Al Hajjaj ibn Yusuf Al-Tsaqafi. Dalam Novel Pengikat Surga baru satu setan yang diceritakan (hlm 224).
Keunikan pemilihan sudut pandang pada novel ini sudah terlihat sejak paragraf pertama.
Kami berlarian saling kejar mengejar menuju bukit Shafa. Minggu ini kali ketiga kami melakukannya. Skornya 2-1 untuk aku. Dan kali ini, ia, Ruqayyah, sahabatku, mengatakan ia akan menyamakan kedudukan. …(hlm 1)
Novel ini dimulai dengan adegan kejar-kejaran dua sahabat, perempuan! Bukit Shafa, Ruqayyah, dua kata yang sudah memperlihatkan pada pembaca betapa istimewanya cerita yang akan dituturkan pengarang. Otak pembaca disirami keindahan imajinasi membayangkan dua perempuan berkejaran menuju bukit Shafa dalam rangka bermain, disamping itu otak pembaca juga “terjaga” untuk selalu “waspada” dan bertanya-tanya, ada apa selanjutnya. Kenapa Ruqayyah yang dipilih sebagai pendamping tokoh utama di permulaan novel ini? Tentu ini bukan pilihan iseng. Semua terjawab ketika membaca teks selanjutnya, Teks selanjutnya pun menimbulkan pertanyaan yang dijawab di teks berikutnya lagi. Begitu seterusnya
Novel ini dari awal sudah mengingatkan pembaca bahwa novel ini dijaga staminanya oleh pengarang. Oleh sebab itu, pembaca pun harus menjaga staminanya untuk bisa menikmati novel ini hingga tetes terakhir. Sebuah novel sejarah sangat rentan menebarkan virus bosan dan ngantuk pada pembacanya. PS pun tak mustahil akan menyebarkan virus tersebut padahal membaca novel ini sampai tamat adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Hisani Bent Soe sepertinya sangat menyadari kelemahan sebuah novel sejarah. Untuk itulah ia memilih sudut pandang yang unik dan cukup berisiko ini. Sebuah sudut pandang yang sifatnya menyuarakan semua hal tentang tokoh utama bahkan sampai hal-hal yang tersembunyi di hati sang tokoh. Pengarang sangat berani mengupas semua hal tentang Asma, bahkan sampai hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari bahasan para sejarawan. Hal kecil yang justru membuat novelnya semakin indah.
Tiba-tiba saja Mush’ab dan AzZubayr datang ke rumahku. Lamunanku buyar. Aku gugup demi melihat kehadiran mereka berdua. Ayah mempersilakan mereka duduk dan membincang alokasi-alokasi keuangan yang harus dilakukan dengan cermat. Sesekali Az Zubayr menatapku. Tak sanggup menahan gugup, aku berlalu saja ke kamarku. (hlm 101)
Aku memperhatikan semua kesibukan persiapan hijrah. Jika berpapasan dengan Az Zubayr mata kami saling menatap. Mataku berkata padanya temuilah ayahku. Tetapi aku memahami situasi ini … sesuatu yang dinamakan kerinduan, kerinduan untukmu Az Zubayr!!! (hlm 125)
Hal kecil lainnya ada pada kutipan teks berikut:
Aku meraba sabuk yang menahan perutku. Bayiku bereaksi tanda persetujuan. …(hlm 223)
Kutipan tersebut mengisahkan bagian dari peristiwa Asma sampai bergelar Si Dua Sabuk. Berapa banyak yang tahu bahwa saat itu Asma sedang hamil?
Gaya bertutur pengarang dalam PS persis gaya seorang perempuan yang sedang curhat. Entah dengan seseorang, atau mungkin curhat di buku diary. Pilihan pengarang terhadap Asma sebagai tokoh utama novel ini sangat tepat mengingat Asma adalah anak Abu Bakar – orang terdekat Rasul. Asma juga saudara seayah Aisyah – istri Rasul. Dan yang lebih penting lagi, Asma hidup sejak Muhammad belum diangkat menjadi Rasulullah. Dari segi politis, Asma mengetahui banyak hal sehingga ketika Asma yang dipilih oleh pengarang untuk jadi tokoh utama, pilihan tersebut sangat tepat. Melalui curhatan Asma, pembaca bisa belajar banyak hal tentang sirah. Pembaca juga disuguhi pengetahuan seputar turunnya ayat Quran secara berurutan tanpa menyadarinya.
Disamping keunikan dan kelebihan-kelebihan di atas, PS dengan sudut pandang orang pertama juga memiliki risiko dan kelemahan. Pada suatu adegan atau peristiwa yang saat itu Asma tidak ada atau tidak melihat, sudah pasti tak bisa diceritakan dengan gaya yang serupa. Yang bisa diceritakan “aku” adalah yang dilihat, dialami, dan dirasakan “aku”. Kelemahan ini diantisipasi dengan cantik oleh pengarang. Pengarang menggunakan teknik Asma bertutur berdasarkan cerita tokoh lain kepadanya. Ini bukan pekerjaan gampang. Pengarang harus jeli dan cermat, tokoh mana yang dalam faktanya benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut dan berkesempatan menceritakaannya kembali sehingga sampai ceritanya ke tokoh utama. Misalnya, kejadian di Gua Tsur. Saat itu hanya ada Rasul dan Abu Bakar. Bagaimana cerita tersebut bisa menjadi curhatan Asma?
Aku ingat bagaimana Ayah menceritakan pada kami, tentang yang terjadi sewaktu hijrahnya bersamaRasulullah.
“Aku berjalan kadang di depannya, kadang di belakangnya. Aku takut sesuatu menyergap Rasulullah. Lalu kami mencapai Gua Hira…. (hlm 363-364)
Sekali lagi, pemilihan Asma sebagai tokoh utama dalam PS sangat tepat. Asma mendapat cerita tersebut langsung dari tokoh ayah. Contoh lain adalah pada saat pengarang ingin menjelaskan peristiwa Isra Mi’raj. Dipilihlah dialog antara Asma dengan sang sahabat, Ummu Kultsum.
“Apa yang Rasulullah ceritakan padamu tentang Israa Mi’raj?”
“Jibril datang di pembuka malam. Membawa ayahku ke beranda Masjid Al Haram. Dan di sana ada buraq”…(hlm 178)
PS memadukan keakuratan sejarah kenabian dengan romantika seorang perempuan bernama Asma. Hanya saja pengarang perlu menyiapkan jawaban ketika ada yang iseng bertanya, bukankah novel adalah karya fiksi, lantas pada bagian manakah di  PS yang merupakan fiksi? Bisa saja pada bagian geretek hati Asma lah fiksi nya muncul, ketika Asma merindukan Az Zubayr, ketika Asma cemburu pada Atikah Bint Zayd, atau pada bagian lain? Apapun itu, PS sangat lezat dinikmati hingga hidangan penutup. Ending novel ini pun benar-benar mengejutkan. Novel ini ditutup dengan sebuah kalimat yang sangat mengguncang.
 “Aku menceraikanmu”



*Disampaikan pada Bedah Novel "Pengikat Surga" karangan Hisani Bent Soe, 
Banjarmasin 11 Juli 2010 -- Olah gawe FLP Banjarmasin

Bicara Pendidikan di Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul Hermawan

04.34 0 Comments


Ayo, Belajar !
(Bicara Pendidikan di Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul Hermawan)
(Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul Hermawan dalam Perspektif Pendidikan)
Oleh Nailiya Nikmah, M.Pd.



A. Sebuah Pengantar
Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Pepatah ini sudah tak asing lagi tetapi benarkah ketidakasingan terhadap pepatah ini menjamin dalamnya pemaknaan terhadap pepatah tersebut? Pelajaran Bahasa (PB) karangan Sainul Hermawan mencoba menuliskan jawabannya. PB seperti sebuah komplek sekolah yang menyediakan beragam jenjang, kelas dan bahkan bidang-bidang spesialis yang ingin ditekuni oleh murid. “Cantik” berjenjang sekolah dasar diwakili oleh Nauka murid kelas 3. “ Pelajaran Bahasa” berjenjang sekolah menengah pertama diwakili oleh Iyus, “Parang” dan “Nanang dan Galuh” mewakili jenjang sekolah menengah atas, “Asty Amelia” mewakili perguruan tinggi. PB juga menghadirkan sekolah yang tidak formal. PB juga menyuguhkan pelajaran di luar dinding-dinding bangunan bernama sekolah.
“Sarak” yang berarti cerai merupakan sebuah cerpen yang memberikan pelajaran pernikahan. Pelajaran tentang posisi perempuan yang berstatus istri dihadapan laki-laki yang menikahinya. “Lelaki yang maha esa” memberikan pelajaran tentang sikap seorang anak terhadap orang tuanya dan sebaliknya. “Asty Amelia” berisi pelajaran tentang teknologi bernama internet. “Sakadup”, “Mariana yang Bimbang”, “Lima Liang Banua”, “Kuburan”, “Pangeran Facebook”, “Radius Satu: Tanatos!” merupakan kelas-kelas khusus yang memberi ruang pendidikan politik. Menariknya, ‘sekolah’ yang dibangun oleh Sainul adalah sekolah yang bervisi politik dan moral.
Lantas, sejak kapan dan sampai kapan para murid sebaiknya menikmati pendidikan?  “Kuburan” pun menjawab bahwa pendidikan itu sejak lahir sampai mati. Belajar itu tidak hanya dari orang yang masih hidup tapi juga dari orang yang sudah mati!

B. Pendidikan Berbasis Karakter dalam PB
Pendidikan adalah “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI, 2003:263).  
Sejak anak-anak memasuki usia sekolah, para orang tua mencarikan sekolah yang bagus untuk anaknya. Tidak cukup dengan memasukkan ke sekolah yang bagus, para orang tua pun membelikan anak-anaknya perlengkapan dan fasilitas penunjang belajar bahkan mendaftarkan anak-anaknya les macam-macam. Kalau perlu memanggil pengajar ke rumah. Betapa inginnya orang tua melihat anak-anaknya sukses dalam pendidikan.  Sayangnya, kadang-kadang orang tua terlalu sempit memaknai kata sukses untuk anak-anaknya. Sukses adalah angka 8 dan 9. Sukses adalah menjadi juara kelas. Sukses adalah lulus ujian nasional. Tak jadi soal, bagaimana cara anak mendapatkannya dan bagaimana anak mengurai makna hasil yang diperolehnya.
Tidak sedikit orang tua memahami belajar dalam pengertian yang cenderung sempit. Belajar hanya jika anaknya duduk manis sambil membaca buku teks, menghitung, menulis ‘pelajaran’ di buku. Jadi, jika anaknya berlari-lari di halaman  rumah sambil menghitung anak bebek yang mengikuti induknya, anak sedang bermain bukan belajar. Belajar adalah melakukan sesuatu untuk bisa lulus ujian nasional.
Ujian nasional (UN) setiap tahunnya menghadirkan beragam fenomena. PB dengan jeli memotret sisi  memprihatinkan tentang UN dalam Parang (23-29). Cerpen ini menggambarkan kerabunan orang tua tentang pendidikan yang sejati. Dalam benak orang tua, yang penting anaknya lulus UN bagaimanapun caranya.  
Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, anak saya harus lulus! Kalau sampai dia gagal, pian bukan hanya akan berpisah dengan anak saya dan kawan-kawannya, tapi kepala pian itu bisa pisah dari badan.” (hlm 24)
Jika UN tiba guru-guru dan murid-murid yang masih idealis akan mengalami ‘demam kelas’, sedangkan yang tidak jujur malah berlenggang santai seolah tidak terjadi apa-apa. Malam menjelang UN beredar sms yang berisi kunci jawaban. Guru dan murid sama kelakuannya. Murid yang menolak meneruskan sms akan dimusuhi oleh murid lainnya, dicap belagu, sok pintar. Guru yang menolak meneruskan sms akan dipisuhi oleh guru-guru lain, dianggap sok jujur, sok suci, dan sok-sok lainnya. Tidak takut ketahuan kepsek? Tentu saja tidak. Kan, kepsek yang nyuruh? Apakah kepsek tidak takut sama kepala dinas? Tentu saja tidak. Kan kepala dinas yang nyuruh? Lalu apa sebenarnya ini? Jawabannya ada pada kutipan di bawah:
Dia cuma bisa berandai-andai jika tak ada passing grade, vonis lulus pusat, tekanan politik dan parang, dia merasa lebih bahagia jadi kepala sekolah (hlm 27.)
Parang adalah simbol kekuasaan dan kekuatan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Parang adalah sebuah benda yang bisa melukai, tapi sebenarnya parang pun memudahkan kita dalam beberapa pekerjaan. Seperti pisau bermata dua. Mata pisau pertama bisa kita pakai memotong sayuran, mata pisau berikutnya bisa saja melukai muka kita sendiri hingga berdarah. Seperti itulah karakter. Abdullah Munir dalam pengantar bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter (2010) menyebutkan bahwa setiap karakter memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Anak yang memiliki keyakinan yang tinggi akan memiliki dua kemungkinan yang berbeda dan berlawanan. Kemungkinan pertama, akan jadi anak yang pemberani, kemungkinan kedua akan jadi anak yang sembrono karena terlalu yakin sehingga kurang perhitungan.
Murid yang berkarakter positif menghadapi apapun termasuk UN secara positif pula. Masalahnya penerapan pendidikan berbasis karakter memerlukan ruang yang jika kurikulum sekarang masih dipakai mungkin tidak muat. Orang tua yang sudah terbuka matanya terhadap pendidikan karakter diharapkan memulainya dari rumah. Lihatlah cerpen “Cantik” (15-22). Mama Nauka sudah memulainya. Nauka diarahkan, dibentuk untuk jadi cantik yang sejati.
Penjelasan tentang cantik secara ramah, santun, serta memberi ruang berpendapat untuk Nauka adalah salah satu contoh bekal minimal yang harus disiapkan orang tua untuk pendidikan karakter. Orang tua harus meyediakan waktu rutin setiap hari sekitar setengah sampai satu jam untuk berdialog dengan anaknya. Waktu untuk memberikan pemahaman, melatihkan tindakan, dan melakukan muhasabah (Munir, 2010:15).
Bekal utama berikutnya adalah visi. Orang tua harus memiliki visi yang jelas untuk anaknya. Abah Galuh dalam “Nanang dan Galuh” bervisi meningkatkan derajat hidup. Visi yang membuat Galuh menikah dengan lelaki lain yang akhirnya memiliki dua anak tanpa memiliki cinta. Visi yang membuat jiwanya labil sehingga memotivasinya mencari Nanang di facebook setelah tujuh belas tahun berlalu. Untunglah Nanang adalah lelaki yang sejak awal sudah memiliki visi yang jelas, yaitu “Aku ingin memegang tanganmu saat Allah mengizinkan aku menetapkan akad nikah” sehingga ketika Galuh menawarkan pesonanya lagi, Nanang has signed out sambil sebelumnya menulis, “…. Tanda kasih kita di sekolah itu sudah sirna.”

C. Pendidikan Seumur Hidup
Mulyasa (2004:5) menyebutkan bahwa Unesco (1994) mengemukakan dua prinsip pendidikan. Pertama, pendidikan harus diletakkan pada empat pilar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Kedua, belajar seumur hidup (life long learning).
Cerpen “Pelajaran Bahasa” sebagai sampel memperlihatkan beberapa prinsip ini.
Sudah biasa, Pak Izul menugaskan setiap muridnya membawa satu kata yang ingin diketahuinya lebih jauh (hlm 2).
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Pak Izul memberi motivasi pada muridnya untuk belajar mencari tahu apa yang ingin diketahui; belajar mengetahui apa yang ingin dipelajari. Hal ini sesuai dengan pilar pertama, yaitu belajar mengetahui. Pelajaran dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan anak. Belajar terpusat pada murid bukan pada guru.
Dia suka belajar bahasa karena dia senang mengutak-atik kata sejak kecil (hlm 1).
Pilar kedua, belajar melakukan tersirat dari kutipan tersebut. Iyus senang mengutak-atik kata sejak kecil. Iyus sudah belajar melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran bahasa.
Pilar ketiga adalah belajar hidup dalam kebersamaan. Hal ini secara tersirat ada dalam cerpen “Pelajaran Bahasa”, baik dari proses belajar-mengajar Iyus dan teman-temannya maupun dari pengalaman-pengalaman Iyus dan teman-teman di luar kelas.
Pilar keempat, belajar menjadi diri sendiri. Dalam cerpen “Pelajaran Bahasa” tergambar murid-murid percaya diri memberi jawaban dan mengemukakan pendapat. Tak semua murid berani mengacungkan tangan. Ada yang karena takut, malu, atau memang tak tahu mau berkata apa. Sikap guru pun mempengaruhi sikap murid-muridnya. Guru yang terbuka dan menyenangkan seperti Pak Izul tentu akan selalu memancing murid terus belajar, berani bicara, berani berpendapat. Kelas pun hidup dengan diskusi bukan ribut dengan kata ‘setuju’, ‘iya,Pak’, ‘sama dengan si A’. Sebenarnya pilar ini secara global diwakili oleh cerpen “Cantik.”
Prinsip Kedua, yaitu belajar seumur hidup. Agaknya inilah yang ingin disampaikan Sainul dalam sekolahnya yang bernama PB. Belajar tak mengenal kata tamat. Belajar pun tak terbatas pada hal-hal yang tertulis di buku pelajaran sekolah. Belajar tak mengenal batas waktu dan materi. Hasil pendidikan sejati tak bisa diperoleh dengan cara instan. Sekali lagi, pendidikan tidak terbatas pada kata ‘lulus’ dan ‘nilai’.
Akhirnya, sampai disini dulu pelajaran ini. Semoga peserta diskusi tidak bernasib seperti kutipan ini:Mereka hasil dari perkuliahan yang hanaya obral nilai. Daripada pusing-pusing, ya cetak saja mereka seperti roti. Mereka kan cuma ingin jadi sarjana? Sangat jarang yang memang ingin jadi manusia berilmu. (“Sakadup”, hlm 37).

                                                                                             Flamboyan, 17 Desember 2010


 Disampaikan pada Diskusi Interdisipliner Buku antologi cerpen Sainul Hermawan, Perpus Unlam Banjarmasin, Senin 20 Desember 2010