Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 07 September 2018
Nailiya Nikmah
00.23
0 Comments
Ini adalah materi yang aku bawakan ketika diminta penguasa Kindai Seni Kreatif untuk menjadi "Jaksa Penuntut Umum" dalam ruang sidang majelis cerpen milik Aboe Fadhil. Sebelumnya, jika kau belum tahu apa itu Kindai Seni Kreatif segeralah cari tahu. Kalau perlu tanya google dulu...hehe. Baiklaah sekarang mari nikmati celotehanku:
Komunikasi dan
kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan Edward T.Hall
mengatakan “Komunikasi adalah kebudayan dan kebudayaan adalah komunikasi.”
Dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran
simbol-simbol komunikasi; sebaliknya, hanya dengan komunikasi pertukaran
simbol-simbol dapat dilakukan. Kebudayaan hanya bisa eksis jika ada komunikasi.
Proses komunikasi
antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki adanya
interaksi sosial. Ini terjadi secara alamiah. Menurut Watzlawick, Beavin dan
Jackson, isi komunikasi tidaklah berada dalam sebuah tempat ataupun ruang yang
terisolasi. Isi dan makna adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal
yang essensial dalam membentuk relasi. Dengan kata lain relasi antarmanusia
sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diiterpretasi
(Liliweri, 2009).
Dalam kerangka
mencermati kajian komunikasi antarbudaya dikenal beberapa asumsi, beberapa di
antaranya adalah:
1.
Komunikasi
antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar adanya perbedaan persepsi antara
komunikator dengan komunikan
2.
Dalam
komunikasi antarbudaya terdapat isi dan relasi antarpribadi
3.
Gaya
personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi
4.
Komunikasi
antarbudayabertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian
5.
Komunikais
berpusat pada kebudayaan
6.
Efektivitas
antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya
Relasi
antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan
diinterpretasi. Dengan siapa seseorang berkomunikasi, apa hubungan seseorang
tersebut dengan orang yang menjadi rekan komunikasinya akan sangat mempengaruhi
interpretasinya terhadap pesan yang dikomunikasikan.
Mempelajari
hal-hal tersebut dari sebuah karya sastra berbentuk cerpen, bukan sesuatu yang
gampang tapi tentu saja bukan sesuatu yang mustahil. Melalui dialog-dialog yang
terdapat dalam sebuah cerpen, pembaca bisa menangkap siapa dan bagaimana
pengguna dialog tersebut berperan dalam cerita secara keseluruhan.
Dialog-dialog tersebut secara universal akan membawa pembaca kepada suatu
keadaan yang mirip dengan saat saat sedang becermin. Tentang bagaimana relasi
antarpribadi kita dengan seseorang, tentang bagaimana komunikasi antarbudaya
yang sedang terjadi pada masyarakat kita di era kekinian.
SSeberapa Penting Kita Becermin?
Cerpen yang ditulis
oleh Aboe Fadhil, “Dosen Pun Perlu Becermin” memuat realitas komunikasi
antarbudaya serta relasi antarpribadi sebagimana yang tertera dalam pendahuluan
tulisan ini. Cerpen ini berkisah tentang seorang dosen benama Pak Asmi,M.Pd. yang
memiliki karakter sebagaimana terdapat pada cuplikan berikut:
Ia tidak berani
mengetuk pintu, sebab ia tahu karakter sang dosen. Pak Asmi itu sangat tegas
dan konsisten dengan keputusannya, serta sangat objektif dalam memberikan
penilaian. Semester sebelumnya, dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat
nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D. Mahasiswa
yang terlambat, kalau pun diizinkan masuk, pasti disemprot dulu dengan
kata-kata yang pedas, dan di Daftar Hadir tetap dicatat absen, seperti yang
dialaminya dua minggu yang lalu. Tapi itu lebih mending daripada diusir dan
disuruh pulang, seperti yang dirasakannya minggu sebelumnya.
Cuplikan tersebut berasal dari satu paragraf dalam cerpen
DPPB. Sebagai sebuah paragraf secara umum, paragraf tersebut sebenarnya bukan
sebuah paragraf yang baik dilihat dari kriteria dan syarat paragraf. Salah satu
syarat paragraf yang baik adalah adanya unsur kesatuan, artinya dalam satu paragraf hanya boleh ada satu ide
pokok yang dijabarkan menjadi beberapa kalimat pembangun paragraf tersebut. Ini
cerpen, bukan karya ilmiah – barangkali ada yang berkometar seperti itu.
Baiklah, bagaimana kalau kriteria tersebut diabaikan saja kali ini. Ini
artinya, paragraf tersebut merupakan cermin sebuah kegamangan ketika seseorang
menginterpretasi lawan komunikasinya.
Tegas, konsisten, objektif dalam memberi nilai, adalah
hal-hal positif dalam paragraf ini sebagai penggambaran sang dosen yang
harusnya menjadi hal membanggakan bagi para mahasiswanya. Akan tetapi pada saat
yang bersamaan hal-hal positif tersebut disandingkan dengan disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, di daftar hadir tetap dicatat absen, serta diusir, disuruh pulang. Di
tengah-tengah kedua hal kontras tersebut, informasi tentang dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang
mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D
menjadi sebuah wacana yang interpretasinya bisa jadi sangat abu-abu. Akankah
ini menjadi penguat kararkter positif dari sang dosen atau justru sebaliknya
menjadi penambah point jeleknya si dosen. Informasi inipun terletak di
tengah-tengah. Ketika ini diinterpretasi oleh mahasiswa yang rajin belajar,
giat berjuang, lalu dapat nilai terbaik, maka informasi ini menjadi penguat
bahwa Bapak Asmi adalah dosen yang sangat objektif. Bapak Asmi memberi nilai
sesuai pekerjaan dan kualitas intelektual mahasiswanya. Akan tetapi ketika ini
lebih didekatkan kepada hal-hal negatif semacam disemprot, dianggap absen,
diusir dan disuruh pulang maka gambaran nilai-nilai tersebut dapat
diinterpretasikan sebagai sebuah kekejaman sang dosen atau paling tidak
ketegaan dosen.
...
Atau laporkan saja sama Dekan, atau kepada Rektor kalau perlu, bahwa dosen ini
terlalu otoriter, killer,” bisik egonya.
Kutipan tersebut mempertegas interpretasi mahasiswa
terhadap sikap objektif dosennya. Relasi antara sang mahasiswa dengan dosen
menjadi sebuah relasi antar pribadi yang tidak menyenangkan dan tidak
menguntungkan. Sikap tegas dan disiplin yang diterapkan oleh dosen menjadikan
dosen mendapat predikat dosen otoriter
dan dosen killer dari mahasiswanya.
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan
bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian
tentang orang lain. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan semisal “Bagaimana
perasaan dia terhadap saya? Bagaimana sikap dia terhadap saya? Apa yang akan
saya peroleh kalau berkomunikasi dengan dia?” Untuk menuntaskan
pertanyaan-pertanyaan ini, seseorang memaksa dirinya untuk berkomunikasi
sehingga akan menemukan suasana relasi yang lebih pasti.
Inilah yang terjadi pada tokoh Fadil dalam cerpen DPPB. Dari
awal cerpen ini dibuka hingga lebih dari pertengahannya, Fadil berkutat dengan
pertanyaan-pertanyaan yang menggambarkan ketidakpastian dirinya tentang relasi
sesungguhnya antara dia dengan sang dosen.
Dalam studi komunikasi, tingkat ketidakpastian itu akan
berkurang saat kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi. Ini dapat
dilakukan melalui beberapa tahap. Di antaranya adalah tanggapan lanjutan atas
kesan yang muncul dari kontak awal serta tahapan membuka diri dan memahami
mengapa orang lain berbuat atau melakukan
sesuatu.
Yang dilakukan Siska dalam cuplikan berikut misalnya,
Tiba-tiba
Siska yang merasa harga dirinya dilecehkan, mengangkat wajah. Sambil menyeka
airmata dengan ujung kerudungnya, ia berkata tegas: “Bapak sendiri perlu
becermin!”
Bukan hanya karena perasaan harga diri yang dilecehkan
yang membuat Siska berani mengeluarkan kalimat Bapak sendiri perlu becermin. Siska mengeluarkan pernyataan
tersebut sebagai tanggapan lanjutan – yang tidak diceritakan oleh pengarang
pada bagian sebelumnya – bahwa di wajah sang dosen ada butiran nasi.
Sebuah tindakan yang diterima oleh sang dosen sebagai
sebuah pelajaran berharga. Betapa ia sebelumnya juga harus terburu-buru agar
tidak terlambat masuk ruangan. Tanggapan selanjutnya adalah dengan memberikan
sebuah soal kepada mahasiswanya.
Ini bagian drama dalam cerpen DPPB. Di dalamnya tersimpan
kekuatan sekaligus kelemahan cerpen ini. Dikatakan kekuatan karena ternyata
setelah Fadil menjawab soal dengan benar, sang dosen menjadi lebih kooperatif.
Ini makin menunjukkan bahwa tokoh dosen dalam cerpen ini sebenarnya adalah
dosen yang baik dan benar. Ia menghargai Fadil sebagai penjawab soal yang benar
walaupun seharusnya Fadil layak mendapat hukuman atas keterlambatannya. Momen
ini sebuah gambaran positif yang seharusnya membuat masyarakat (:mahasiswa) becermin,
agar lebih jelas terlihat siapa sebenarnya yang sedang keliru. Sisi
kelemahannya adalah hal tersebut terkesan dipaksakan untuk memenangkan
mahasiswa. Ini juga yang terlihat ketika Fadil mengajukan pertanyaan kepada Pak
Asmi yang tidak bisa dijawab oleh dosen tersbut meski ia sudah mebuka-buka
bukunya.
Seberapa penting dosen becermin? Tentu sangat penting
karena dosen adalah sosok yang menjadi contoh pertama yang dilihat oleh
mahasiswa di dalam kelas. Akan tetapi, hendaknya mahasiswa lebih sering becermin,
melakukan upaya-upaya mengurangi ambiguitas tentang relasinya dengan sang
dosen. Bagaimanapun, dosen adalah orang yang akan memberikan banyak manfaat
(ilmu dan lain-lain) bagi mahasiswa.
Teori atribusi dalam komunikasi menganjurkan agar kita
harus lebih mengerti perilaku orang lain dengan meyelidiki motivasi atas suatu
perilaku atau tindakan dia. Pertanyaan yang relevan adalah “Apa yang mendorong
dia berkata, berpikir atau berbuat demikian?” Mahasiswa hendaknya bertanya pada
dirinya mengapa kami tidak boleh terlambat masuk kelas? Mengapa dosen memarahi
kami kalau kami terlambat?
Bagian
Akhir: Kepada Siapa Cerpen Ini Berpihak?
Dari judul sudah
jelas terlihat, cerpen ini tidak memihak dosen. Cerpen ini semacam sarana untuk
mengata-ngatai dosen, mengkritik dosen, merundung dosen. Realitanya, dosen
adalah manusia-manusia intelektual yang mempunyai tiga tugas utama atau yang
dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga dharma ini yang membedakan
dosen dengan profesi lain di muka planet bernama bumi. Terlebih sejak perguruan
tinggi berada di bawah kemenristekdikti, para dosen makin terlatih dan terdidik
menjadi masyarakat pembelajar yang tidak boleh menyerah begitu saja terhadap
keadaan. Pro kontra pasti ada. Akan tetapi terkadang kita tidak punya pilihan lain,
dalam lini apapun, kita bisa saja dihadapkan pada hanya dua pilihan, bergerak
atau tertinggal lalu mati.
DPPB menyimpulkan
satu hal bahwa dosen adalah manusia bukan dewa atau malaikat. Entah disadari
atau tidak, jika semula cerpen ini dimaksudkan untuk menasehati dosen, maka
yang tertangkap justru sebaliknya. Cerpen ini hendaknya menyadarkan mahasiswa
bahwa bagaimanapun kendali tetap berada di tangan dosen yang baik. Ia berhak
menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswanya. Jika
ia mau, bisa saja Pak Asmi melempar balik pertanyaan Fadil kepada seluruh
mahasiswanya tapi tidak. Ia tidak melakukan itu. Ia memilih menampung
pertanyaan itu untuk dijawab di lain waktu. Ia malah masih sempat memberi
nasehat sambil menunjukkan sikap ramah, “Kamu jangan telat lagi ya!” Betapa
baiknya sang dosen [] Nai
Selasa, 05 April 2016
Sastra sebagai Penguat Identitas Nasional dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Nailiya Nikmah
15.08
0 Comments
Sastra sebagai Penguat Identitas
Nasional
dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
Oleh Nailiya Nikmah, M.Pd.
| Penulis berkerudung coklat paling ujung, saat membawakan makalah ini. | (Foto Dok Panitia) |
ASEAN
telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan menuju pada
tahapan baru yang lebih integratif dan berwawasan ke depan, yaitu Masyarakat
ASEAN. Masyarakat ASEAN adalah kesatuan bangsa Asia Tenggara yang berpandangan
keluar, hidup damai, stabil dan makmur, serta terikat bersama dalam kemitraan
pembangunan yang dinamis dan saling peduli. Pembentukan Masyarakat ASEAN
dilatarbelakangi antara lain oleh adanya pengaruh negatif krisis ekonomi yang
menimpa negara-negara ASEAN pada 1997. Hal itu mendorong ASEAN berinisiatif
untuk menciptakan kawasan yang memiliki daya tahan ekonomi.
Masyarakat
Ekonomi ASEAN dibentuk untuk mewujudkan integrasi ekonomi ASEAN, yakni
tercapainya wilayah ASEAN yang aman dengan tingkat dinamika pembangunan yang
lebih tinggi dan terintegrasi, pengentasan masyarakat ASEAN dari kemiskinan,
serta pertumbuhan ekonomi untuk mencapai kemakmuran yang merata dan berkelanjutan.
Untuk itu, MEA memiliki empat karakteristik utama, yaitu pasar tunggal dan
basis produksi, kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan
pembangunan ekonomi yang merata, serta kawasan yang terintegrasi penuh dengan
ekonomi global.
Dalam
upaya menciptakan sebuah kawasan yang kompetitif, ASEAN telah menetapkan
beberapa sektor kerja sama yang perlu ditingkatkan antara lain: perlindungan
konsumen, hak kekayaan intelektual (HKI), pengembangan infrastruktur dan e-commerce. Kebijakan HKI salah satunya
dapat menjadi pendorong yang kuat bagi
kreativitas budaya, intelektual dan seni beserta aspek komersilnya.
Sebagai
salah satu negara ASEAN, Indonesia
sudah semestinya melakukan berbagai persiapan menuju MEA. Hal ini merupakan
suatu upaya mengingat MEA akan menghadirkan berbagai tantangan selain
peluang-peluang positif bagi masyarakat Indonesia. Salah satu tantangan
tersebut menyangkut persoalan identitas nasional bangsa Indonesia.
Identitas
nasional adalah suatu jati diri yang khas yang dimiliki oleh suatu bangsa dan
tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dalam hubungan antarbangsa, identitas menjadi
penting karena menyangkut keberlanjutan eksistensi sebuah bangsa terutama dalam
konteks global. Identitas nasional merupakan kumpulan nilai-nilai budaya yang
tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang
dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia
menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika
sebagai dasar dan arah pengembangannya. Identitas nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa
yang majemuk. Unsur-unsur pembentuk identitas nasional meliputi suku bangsa,
agama, budaya dan bahasa.
Sebagai
salah satu unsur pembentuk identitas nasional, bahasa Indonesia memiliki
peluang sekaligus tantangan dalam menghadapi MEA. Persaingan bahasa terus
menjadi pembahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Bila sebelumnya beberapa
pakar bahasa di Indonesia menyebutkan bahwa bahasa Indonesia memiliki potensi
untuk menjadi salah satu bahasa Internasional yang berpengaruh, dalam situasi
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) potensi bahasa Indonesia juga turut diteliti
serta dicanangkan untuk menjadi bahasa ASEAN.
Terdapat empat argumentasi yang mendukung hal
ini, yaitu bahasa Indonesia itu sudah banyak dipelajari pada banyak negara, mudah
dikuasai, laju perkembangannya fantastis, dan sebagaian kosa kata Indonesia
juga ada di dalam bahasa negara-negara ASEAN lainnya. (Lihat http://www.goodnewsfromindonesia.org/2016/01/10/inilah-alasan-mengapa-bahasa-indonesia-bisa-menjadi-bahasa-asean).
Bahasa
Indonesia merupakan salah satu identitas instrumental yang diatur dalam
undang-undang. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, salah satu fungsi
bahasa Indonesia adalah sebagai lambang identitas nasional. Sebagai lambang
identitas nasional, bahasa Indonesia dijunjung tinggi di samping bendera dan
lambang negara. Dalam hal ini bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya
apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya dengan baik.
Bahasa
Indonesia memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Pemanfaatannya dalam menjembatani komunikasi antarwarga, antardaerah
dan antarbudaya menjadikannya sangat penting di samping penggunaan bahasa
daerah yang ada di Indonesia.
Di tengah-tengah ratusan bahasa dan budaya daerah yang ada, bahasa Indonesia
menjadi unsur istimewa yang tidak bisa dilepaskan dari keseharian masyarakat Indonesia.
Ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya alat perhubungan
antarwarga, antardaerah sekaligus antarbudaya yang paling memungkinkan.
Selain
sebagai alat perhubungan, bahasa Indonesia merupakan alat penyatuan berbagai
suku, bahasa dan budaya yang ada di Indonesia. Sebagai bangsa yang
terdiri atas sekian ratus suku, Indonesia
serta merta terdiri atas lebih dari sekian ratus bahasa daerah sekaligus budaya
daerahnya masing-masing. Keragaman suku, bahasa dan budaya ini merupakan
tantangan tersendiri bagi integrasi bangsa Indonesia. Keberadaan bahasa Indonesia
terbukti mendukung upaya integrasi bangsa yang terus-menerus. Eksistensi bahasa
Indonesia
sebagai satu hal yang menguatkan identitas nasional membuat masyarakat saling
menghargai perbedaan suku, bahasa dan budaya yang ada serta tetap merasa satu
dalam NKRI. Ketika memahami hal ini, akan muncul pemahaman berikutnya bahwa bahasa
Indonesia tidak saja berperan sebagai alat untuk berkomunikasi tapi juga sebagai
alat untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk. Bahasa
Indonesia dijunjung tinggi sebagai bahasa persatuan dengan tidak mematikan
peranan bahasa daerah. Sebaliknya, bahasa daerah justru memperkaya bahasa Indonesia.
Bahasa
Indonesia sudah membuktikan eksistensinya secara internal bagi masyarakat Indonesia.
Kini, di era MEA, bahasa Indonesia diuji eksistensinya secara eksternal. Bahasa
Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia kini akan berhadapan
dengan bahasa lainnya di kawasan Asia Tenggara bahkan di kawasan lainnya secara
internasional.
Pakar
bahasa dari Institut Teknologi Bandung menegaskan bahawa Bahasa Indonesia perlu
internasionalisasi agar bisa menjadi bahasa ASEAN. Dibanding negara-negara
ASEAN lainnya, Indonesia
merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak. Ini menunjukkan bahasa
Indonesia memiliki jumlah penutur yang mayoritas pula. Prof. Mahsun mengatakan,
saat ini bahasa Indonesia terancam tergeser oleh bahasa Inggris dalam
pelaksanaan MEA. Menurutnya, jika bahasa Indonesia tidak digunakan dalam MEA, Indonesia
akan kehilangan identitasnya padahal era MEA merupakan era persaingan dan hanya
bangsa yang memiliki identitas kuat yang bisa memenangkan persaingan.
Pembicaraan
tentang bahasa suatu negara tidak bisa dilepaskan dari hal-hal yang menyangkut
bidang kesusastraan. Begitu juga dengan bahasa Indonesia,
sastra merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari upaya pemertahanan dan
pengembangan bahasa Indonesia.
Dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembelajaran, karya sastra merupakan
unsur penting yang mendukung keterampilan berbahasa seseorang. Bicara tentang
karya sastra berarti bicara tentang unsur-unsur intrinsik sekaligus unsur
ekstrinsik yang membangunnya. Itu artinya, pembacaan terhadap sebuah karya
sastra merupakan penafsiran-penafsiran terhadap bahasa sekaligus nilai-nilai
budaya yang melingkupinya. Nilai-nilai budaya inilah yang menjadi pembentuk
identitas nasional.
Berikut
ini dapat penulis paparkan beberapa hal penting yang berhubungan dengan sastra
sebagai penguat identitas nasional di era MEA. Pertama, pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
dalam karya sastra. Yang disebut sastra Indonesia
adalah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia, yaitu ketika bahasa
Indonesia pertama kali diumumkan sebagai bahasa persatuan pada momen Sumpah Pemuda
1928. Sejak itulah segala macam kegiatan komunikasi dan berkarya sastra ditulis
dalam bahasa Indonesia
(Rani, 1996:40). Roman yang dianggap sebagai roman pertama lahirnya sastra Indonesia
oleh para ahli adalah roman Azab dan Sengsara karangan Merary Siregar.
Selanjutnya, bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa semakin kuat tercermin
melalui kemunculan karya sastra Indonesia
modern yang berkembang pesat setelah kemerdekaan.
Dalam
bukunya, Segenggam Gumam, Helvy Tiana
Rosa menyebutkan adanya semacam pengakuan bahwa Indonesia adalah negeri dengan
perkembangan sastra terpesat dari negara serumpun lainnya (2003:128). Hal ini
kemudian disusul dengan ‘ketakutan’ negeri-negeri jiran terhadap hegemoni
bahasa Indonesia,
dikaitkan dengan era teknologi informasi. Bahasa Indonesia dengan penutur
sekitar 200 juta orang, dianggap telah memengaruhi kemurnian bahasa Melayu.
Kedua, penggalian nilai-nilai di balik
karya sastra. Karya sastra yang baik adalah karya yang mampu memberikan
pencerahan kepada pembacanya. Setiap karya sastra membawa amanat bagi
kehidupan. Tinggal sedalam apa penggalian terhadap amanat tersebut diupayakan. Penggalian
nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra dapat membantu mengenalkan
sekaligus mempertahankan hal-hal positif dari nilai-nilai karya sastra itu
sendiri. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan didukung oleh unsur kebudayaan
lainnya, yaitu bahasa dan seni. Setiap bahasa memiliki tradisi sastranya dalam
kadar yang berbeda-beda. Sastra sebuah bangsa mencerminkan tinggi rendahnya peradaban
suatu bangsa. Bahasa yang dapat dipelajari melalui karya sastra sarat dengan
kandungan pemikiran dan ideologi. Kedua unsur ini kemudian dianggap sebagai
jati diri suatu bangsa.
Sutardji
Calzoum Bachri menyatakan bahwa dengan karyanya seorang pengarang menorehkan
identitas dirinya. Ketika pengarang menorehkan identitas dirinya ia juga telah
menorehkan identitas bangsanya. Jadi, sastra memberi ruang yang di dalamnya
persoalan-persoalan kebangsaan dapat ditemukan. Penggalian karya-karya sastra
yang mengeksplorasi budaya lokal misalnya, dapat menuntun kita pada konteks
sosial dan zaman yang terepresentasi dalam karya tersebut.
Ketiga, pentingnya perhatian pemerintah
dan masyarakat terhadap perlindungan hak cipta khususnya karya sastra. Pembajakan,
penjiplakan, plagiat, merupakan persoalan-persoalan yang masih menghantui dunia
karya sastra Indonesia.
Tindakan-tindakan yang mencerminkan sikap tidak menghargai karya orang lain
tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat bangsa Indonesia sendiri tapi juga dilakukan
oleh masyarakat asing. Pemerintah Indonesia
perlu meningkatkan perhatiannya terhadap dunia sastra untuk meningkatkan
industri kreatif sastra di Indonesia.
Keempat, perlunya peran serta
masyarakat Indonesia
dalam segala kegiatan dan kelompok sastra ASEAN. Beberapa negara anggota ASEAN telah ada
yang melakukan kerja sama di bidang seni sastra bahkan ada yang terjalin jauh
sebelum era Masyarakat ASEAN. Indonesia
dan negara-negara ASEAN lainnya telah sering bekerja sama dalam kegiatan dan
kelompok-kelompok sastra. Sekadar menyebut beberapa, ada Pertemuan Sastrawan
Nusantara (PSN) dan Pertemuan Sastrawan Malaysia (PSM), Majelis Sastra Asia
Tenggara (Mastera), ASEAN Literary Festival dan lain-lain.
Pada agenda-agenda besar yang dapat mengangkat nama negara seperti ini
hendaknya pemerintah memberikan kontribusi yang serius. Selama ini momen sastra
di kawasan negara ASEAN dimaksudkan sebagai upaya untuk menyejajarkan sastra
negara-negara kawasan ASEAN dengan sastra dunia. Selain itu, terdapat harapan
saling mengenal produk dan nilai-nilai sastra
antarnegara ASEAN. Bagi Indonesia
sendiri, momen-momen seperti ini dapat mengenalkan sekaligus menguatkan sastra Indonesia
di mata negara-negara peserta lainnya yang secara langsung juga memperkuat
posisi bahasa Indonesia di mata dunia. Peserta yang diutus menjadi delegasi pun
hendaknya dapat menjaga citra bangsa di hadapan negara-negara lain dan dapat
memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas diri dan negeri.
Demikianlah, karya sastra Indonesia
yang bermutu diharapkan dapat menguatkan identitas nasional di era masyarakat
ekonomi ASEAN. Sebaliknya, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
secara konsisten dapat meningkatkan perkembangan sastra di negeri ini.[]
Referensi
Direktorat
Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI. 2015. Ayo Kenali ASEAN.
-------.
2015. ASEAN Selayang Pandang Edisi Ke-21.
Rosa,
Helvy Tiana. 2003. Segenggam Gumam. Bandung: Syamil.
Sunarti, Sastri.
2014. Bahasa dan Sastra Indonesia
sebagai Identitas Bangsa. Tabloid Sastra. https://tabloidsastra.wordpress.com/2015/02/16/bahasa-dan-sastra-indonesia-sebagai-identitas-bangsa/
*Makalah ini disampaikan dalam Seminar Bahasa dan Sastra, Himbi Sastra, K
FKIP Unlam, Banjarmasin, 2 April 2015
Senin, 04 November 2013
KARYA SASTRA BERBAHASA BANJAR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PELESTARIAN BAHASA BANJAR
Nailiya Nikmah
12.50
0 Comments
KARYA SASTRA BERBAHASA BANJAR SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PELESTARIAN
BAHASA BANJAR*
Oleh Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd
A.
Pendahuluan
Dalam catatan
perjalanan sejarah bangsa Indonesia
tercantum salah satu hal penting berkaitan dengan bahasa bangsa, yaitu bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928
sebagai bahasa persatuan menjadi salah satu pengikat keragaman suku bangsa
dalam semangat kebangsaan Indonesia. Tidak berlebihan jika ikrar yang
dicetuskan oleh para pemuda tersebut menjadi salah satu unsur terpenting bangsa
Indonesia
khususnya dalam hal persatuan dan kesatuan. Para pemuda pada tahun tersebut
menyatakan ikrar yang mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia,
dan menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia.
Semangat
Sumpah Pemuda melandasi pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945. Pasal tersebut mempertegas bahwa bahasa negara ialah
Bahasa Indonesia. Kemudian, tentang Bahasa Indonesia ini selanjutnya diatur
dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang
Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut juga mengatur tentang
bahasa daerah. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa bahasa daerah adalah
bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah-daerah di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Indonesia
terdiri atas berbagai suku dengan bahasanya masing-masing. Dalam artikelnya,
Budiwiyanto menyebutkan berdasarkan laporan hasil penelitian Kekerabatan dan
Pemetaan Bahasa-Bahasa di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Bahasa pada tahun
2008, telah berhasil diidentifikasi sejumlah 442 bahasa. Hingga tahun 2011,
tercatat terjadi penambahan sejumlah 72 bahasa sehingga jumlah keseluruhannya
menjadi 514 bahasa. Jumlah tersebut masih dapat bertambah karena masih ada
beberapa daerah yang belum diteliti. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1285.
Selanjutnya,
pelestarian bahasa daerah tidak terlepas dari peran dan tanggung jawab
pemerintah daerah, dengan tetap mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 24 Tahun 2009, Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara Serta Lagu
Kebangsaan. Upaya pelestarian ini idealnya diatur dalam peraturan daerah
(Perda) sebagai wujud apresiasi Pemda atas pelestarian budaya daerah.
Upaya
pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan karena bahasa daerah mulai terkikis
oleh pengaruh globalisasi, serta kecenderungan penurunan penggunaan bahasa
daerah dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun
lingkungan pergaulan masyarakat di luar keluarga. Jika diamati lebih jauh,
banyak kemungkinan penyebab terkikisnya bahasa daerah. Sebagai contoh yaitu
perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan
segala gaya
hidup yang mempengaruhinya termasuk bahasa. Kebutuhan berbahasa yang dapat
diterima dan dipahami oleh masyarakat yang didatangi membuat bahasa ibu (bahasa
daerah) perlahan-lahan tersaingi. Ekonomi juga turut mempengaruhi hal ini.
Kecenderungan orang yang pandai berbahasa asing dan atau bahasa Indonesia yang
lebih diutamakan untuk menempati sebuah posisi di dunia kerja membuat bahasa
daerah lambat laun akan memudar penggunaannya.
B.
Bahasa
Banjar sebagai Salah Satu Bahasa Daerah di Indonesia
Salah
satu bahasa daerah di Indonesia
yang terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar. Abdul Djebar
Hapip dalam Kamus Banjar Indonesia
(2008) menjelaskan bahwa bahasa Banjar (BB) ialah bahasa yang dipergunakan oleh
suku Banjar. Secara geografis suku ini pada mulanya mendiami hampir seluruh
wilayah provinsi Kalimantan Selatan sekarang ini yang kemudian akibat
perpindahan atau percampuran penduduk dan kebudayaannya di dalam proses waktu
berabad-abad, maka suku Banjar dan BB tersebar meluas sampai ke daerah-daerah
pesisir Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, bahkan banyak didapatkan di
beberapa tempat di Pulau Sumatra yang kebetulan menjadi pemukiman orang-orang
perantau dari Banjar sejak lama seperti di Muara Tungkal, Sapat dan Tembilahan.
BB
bisa dibedakan antara dua dialek besar, yaitu dialek bahasa Banjar Kuala (BK)
dan dialek Bahasa Banjar Hulu Sungai (BH). Dialek BK umumnya dipakai oleh
penduduk “asli” sekitar kota Banjarmasin, Martapura dan Pelaihari, sedangkan
dialek BH adalah BB yang dipakai oleh penduduk di daerah hulu sungai umumnya,
yaitu daerah-daerah Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah
dan Hulu Sungai Utara serta Tabalong. Pemakai BH ini jauh lebih luas dan masih
menunjukkan beberapa variasi subdialek lagi yang oleh Den Hamer disebut dengan
istilah dialek lokal, yaitu Amuntai, Alabio, Kalua, Kandangan, Tanjung, bahkan
ia cenderung berpendapat bahwa bahasa yang dipakai oleh “orang bukit” yaitu
penduduk pedalaman pegunungan Meratus merupakan salah satu subdialek BH pula.
Dan mungkin subdialek baik BK maupun BH itu masih banyak lagi.
C.
Peran Karya
Sastra sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Bahasa Daerah
Karya
sastra bukan semata-mata penyajian peristiwa yang indah melainkan penyampaian
hakikat peristiwa tersebut. Dari sini akan ditemukan makna-makna peristiwa
setelah melalui penghayatan, pendalaman makna dan penafsiran. Karya sastra
memuat bahan perenungan yang melibatkan aspek moral, nurani, emosi dan etika.
Karya
sastra diciptakan dengan daya kreativitas dan imajinasi tapi kreativitas itu
tidak lantas menghilangkan unsur realita dalam prosesnya. Pengarang melahirkan
berbagai pengalaman dalam karyanya dengan
memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman hidupnya maupun pengalaman
manusia lain yang dihayatinya.
Pengalaman tersebut tidak hanya pengalaman lahir tetapi juga lebih pada
pengalaman batin.
Karya
sastra mengemukakan masalah-masalah manusia, masalah hidup dan kehidupan.
Pengarang yang kreatif selalu mampu mengolah permasalahan- permasalahan
tersebut menjadi suatu karya yang berharga, berguna bagi dirinya dan bagi orang
lain. Pengarang kreatif senantiasa berusaha mengemukakan wacana baru dalam
karyanya, apapun bentuk karya sastra yang ditulisnya agar para pembacanya tidak
hanya merasa terhibur tapi juga merasa tercerahkan jiwanya.
Berbicara
tentang karya sastra tidak bisa lepas dari bahasa
sebagai media dan unsur utamanya. Pada umumnya masyarakat terkini mengenal
karya sastra sebagai karya yang berbahasa Indonesia
padahal ada juga karya sastra yang bukan berbahasa Indonesia, melainkan berbahasa
daerah. Di Kalimantan Selatan misalnya terdapat bahasa daerah Banjar (yang
dominan) di samping bahasa daerah lainnya. Meskipun yang dimaksud dengan karya
sastra bertema lokalitas bukan semata
tentang hadirnya suatu bahasa dalam karya melainkan nuansa kehidupan lokal yang
menjadi ciri utama mesyarakatnya, kiranya bukan sesuatu yang berlebihan jika
mengemukakan unsur eksistensi bahasanya ke permukaan ranah sastra. Hal ini
diwujudkan dengan penggunaan bahasa daerah (:Banjar) sebagai bentuk penyampaian
ekspresi (Mungkin cerpen, mungkin puisi).
1.
Upaya Pelestarian Bahasa Banjar Melalui Puisi Berbahasa
Banjar
Puisi
sebagai salah satu bentuk karya sastra menggunakan bahasa sebagai medianya.
Akan tetapi bahasa yang digunakan dalam puisi “berbeda” dengan bahasa yang
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa puisi memiliki keunikan
tersendiri sebagai hasil kreativitas, ekspresi dan imajinasi penyair. Bahasa
puisi memiliki nilai estetika yang akan diperoleh oleh pembacanya melalui
pembacaan yang intens dan apresiasi yang tinggi. Tarsyad menyebutkan bahwa
bahasa puisi mengalami proses pemadatan makna dan kreativitas pemilihan diksi
penyairnya (2011:6).
Puisi berbahasa Indonesia relatif mudah dan banyak
ditemui. Hal ini sejalan dengan Sumpah Pemuda yang ketiga, menjunjung bahasa
persatuan, bahasa Indonesia. Akan tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan
yaitu adanya bahasa-bahasa daerah yang merupakan unsur pembangun dan pemerkaya
bahasa Indonesia.
Sudah sewajarnya ada upaya untuk melestarikan bahasa daerah dari masyarakat
penuturnya. Salah satu upaya pelestarian tersebut bisa dilakukan melalui jalur
kesusastraan.
Salah satu bahasa daerah yang
dipakai dalam bahasa puisi adalah bahasa Banjar. Menemukan puisi berbahasa
Banjar dari jenis puisi lama mungkin relatif lebih mudah. Yang masih terbilang
langka adalah puisi baru/puisi modern yang menggunakan bahasa Banjar, baik
bahasa Banjar Hulu maupun bahasa Banjar Kuala.
Contoh puisi yang menggunakan bahasa
Banjar yang dapat kita apresiasi dan kritisi bersama adalah puisi-puisi
karangan penyair asal Kalimantan Selatan, Abdurrahman El Husaini. Ada dua buku
yang memuat kumpulan puisi berbahasa Banjar yang ia karang, yaitu Doa Banyu Mata (diterbitkan oleh Tahura
Media, Juni 2011) dan Jukung Waktu
(diterbitkan oleh Scripta Cendekia, Februari 2012).
Tasanda
jua Banyu Mata Ngini
Tasanda jua
banyu mata ngini paampihannya
Lawan
sungai-sungai nang ditabat
Lawan
pahumaan-pahumaan nang disaluh manjadi rumah-rumah ganal bagus
Lawan gunung
manggunung nang diruntuhakan
Lawan puhun
mamuhun nang ditabangi
Lawan
paparutan tanah nang dibungkari
Cuba
pian liati janak-janak
Cuba
pian janaki pitih-pitih
Amun kumarau
Kumarau
balalandangan
Amun musim ujan
Ba ah saalaman
Musim kada
kawa ditangguh lagi
Nang disangka
panas sakalinya ujan sing labatan
Nang disangka
ujan sakalinya panas manggantang
Mbah anu ujan
mbah anu panas
Mbah anu panas
mbah anu ujan
Tasanda jua
banyu mata ngini paampihannya
Lawan ingui
tangis kita barataan
(Puisi
Abdurrahman El Husaini dalam Doa Banyu
Mata, 2011:66).
Puisi tersebut berbicara tentang
kepedulian penyairnya terhadap lingkungan. Sungai, sawah, gunung, pohon, hutan,
tanah, mulai terancam keberadaannya karena ulah tangan manusia. Akibatnya musim
menjadi tidak menentu, tidak lagi bisa terbaca. Kadang-kadang hujan,
kadang-kadang panas. Hal ini menjadikan kesedihan yang mendalam bagi penyair.
Dalam puisi tersebut ia mewakilkannya dengan tergadainya airmata.
Ada beberapa kosakata yang mungkin
tidak terlalu dikenal lagi oleh masyarakat Banjar khususnya usia remaja ke
bawah dalam puisi tersebut misalnya “pitih”, “balalandangan” dan “ingui”. Dalam
Kamus Banjar Indonesia karangan Abdul
Djebar Hapip, dapat ditemukan kata “itih”, mungkin ini yang dimaksud oleh
penyair dengan “pitih”. Itih berarti teliti (2008:63). Sedangkan “landang”
berarti jauh, panjang, lama (2008:102). Adapun “ingui” (2008:6) dipadankan
dengan “iluy” yang berarti lagu; bailuy berlagu
(menangis).
ZIKIR
HATI
Zikir hati
Bajalulut
Bajarikit
Lawan gatah
Hidayah
Allah Taala
Siang malam
kada sing lingkahan
Malam
Sabtu 12 Ramadhan 1432 H
(puisi
Abdurrahman El Husaini dalam Jukung Waktu, 2012:65).
Puisi tersebut berbicara tentang
kereligiusan, kecintaan, kedekatan terhadap Allah. Beberapa kosakata yang cukup
khas dalam puisi tersebut adalah “bajalulut”, “bajarikit” dan “sing lingkahan”.
“ Jalulut” tidak ditemukan dalam kamus sedangkan “ Jarikit” berarti lekat,
lengket (Hapip, 2008:67). Adapun yang
dimaksud dengan “lingkah” dalam puisi tersebut masih menurut Kamus Banjar Indonesia
berarti terlepas atau hilang (2008:111).
2.
Upaya Pelestarian Bahasa Banjar Melalui Cerpen
Berbahasa Banjar
Poe dalam Afra (2007: 112) menyatakan bahwa cerpen adalah narasi yang
bisa dibaca dalam sekali duduk, dengan lama waktu setengah hingga dua jam.
Karena pendek, cerpen memiliki ruang yang padat. Meski kelihatannya pendek,
sebuah cerpen mampu menyampaikan hal-hal berharga yang bisa tersampaikan secara
implisit maupun eksplisit.
Unsur-unsur yang membangun sebuah cerpen secara intrinsik adalah tema,
plot (alur), setting, sudut pandang atau penokohan dan tokoh. Namun secara
ekstrinsik sebuah cerpen dipengaruhi pula oleh pandangan-pandangan dan latar
belakang kehidupan penulisnya.
Cerpen sebagai bagian dari kesuasteraan modern Indonesia
merupakan cermin kebudayaan bangsa Indonesia yang hidup dalam
keberagaman sistem budaya. Hal ini diwujudkan ke dalam aspek-aspek tematis dan
stilistis karya.
Sebagai karya fiksi, cerpen diciptakan dengan daya kreativitas dan
imajinasi. Kreativitas itu tidak saja dituntut dalam upaya pengarang melahirkan
pengalaman batin dalam karyanya, tetapi juga harus kreatif memilih unsur-unsur
terbaik dari pengalaman hidup manusia
yang dihayatinya. Penulis cerpen bersandar pada kreativitas. Kreativitas
memberi peluang yang sangat luas bagi keragaman muatan karya sastra. Dunia
fiksi jauh lebih banyak mengandung berbagai kemungkinan daripada yang ada di
dunia nyata. Dalam proses kreativitasnya pengarang bisa saja menyiasati,
mengkreasi, memanipulasi berbagai masalah hidup dan kehidupan yang dialami dan
diamatinya.
Seperti halnya puisi, cerpen pun menggunakan bahasa sebagai media. Cerpen
berbahasa Banjar senasib dengan puisi berbahasa Banjar. Para penulis cerpen
Kalimantan Selatan lebih banyak menulis cerpen dalam bahasa Indonesia. Salah satu buku kumpulan
cerpen berbahasa Banjar yang dapat dibaca, diapresiasi dan dikritisi adalah
kumpulan kisdap Malam Kumpai Batu
(disusun oleh Sandi Firly dan diterbitkan oleh Media Tahura, April 2012).
Berikut kutipan cerpen “Malam Kumpai Batu” yang terdapat dalam buku
tersebut.
Tadapatnya kami tabarungan haja, wan pulang, kada disangka-sangka. Mulai
kapal At Taslim balayang matan Palabuhan Pasar Lima Banjar siang tadi, bujur
nah, aku kada tahu inya sakalinya umpat jua, jadi panumpang, di kapal ngini. Di
Murung Panti, waktu kapal singgah di pos panjagaan, aku handak bakunjang kaluar
kapal, ka warung palabuhan handak manukar roko. Sakilaran, bibinian ngitu
takurihing. Asa pinandu asa kada, kada kuherani ai inya. Kalu ai inya
takurihing gasan urang lain. Dua pulang, kau gair kalu aku dikira urang
lalakian liur baungan. …. (Kisdap Malam Kumpai Batu karangan M. Rifani
Djamhari, 2012:1).
Kutipan tersebut menggambarkan adanya perjalanan yang menggunakan kapal bernama
At Taslim. Pembaca memperoleh gambaran bahwa dulu, alat transportasi yang
diandalkan adalah kapal. Dari kutipan tersebut diperoleh pula ungkapan “liur
baungan” yang tidak mustahil suatu saat tidak terdengar lagi dalam percakapan
orang Banjar karena berganti ungkapan dari bahasa lain. Begitu juga dengan kata
“sakilaran” dan “takurihing”.
Cerpen “Malam Kumpai Batu” mengisahkan pertemuan kembali sepasang manusia
yang pernah memiliki hubungan khusus secra tidak sengaja dalam sebuah
perjalanan yang menggunakan alat transportasi air. Dalam cerpen ini pembaca
akan menemukan rute-rute perjalanan yang dilalui. Perjalanan tokoh aku dimulai
dari pelabuhan pasar lama Banjarmasin.
Dari cerpen ini pula, pembaca akan mengetahui rute Banjarmasin-Nagara
melewati Margasari Marabahan.
Cerpen selanjutnya yang bisa diamati adalah sebagai berikut,
Imah takulimpapak! Bakalincuat saitu saini. Hinaknya mahingal, kaya
urang ngangal, pual-pual lacit ka bantal, nang kaya hadangan disumbalih angkal.
Awaknya manggitir. Jimus paluh. Inya hanyar mailan tumatan mimpi nang kada sing
baikan. Bakalimpusut inya bapuat, duduk mancugut di tubir ranajng sambil
mangajang pinggang nang ngilu. Dilacungakanya hinak landang-landang. Rancak
Imah mangucak-ngucak bigi matanya, tagal hayabang mimpi nang saling kada baikan
tuti maguni haja maumpinak di panjanaknya. (Cerpen “Anja” karangan Aliman
Syahrani dalam buku kumpulan kisdap Banjar Malam
Kumpai Batu,2012:40).
Kutipan cerpen “Anja” tersebut menghadirkan bahasa Banjar Hulu dengan
subdialek Kandangan. Kata-kata “takulimpapak”, “bakalincuat”, “pual-pual”
termasuk kata-kata yang tidak mudah dipahami artinya oleh pembaca yang bukan
penutur bahasa Banjar Hulu (dalam kamus Banjar pun belum ada). “Takalimpapak”
artinya sangat terkejut, disertai gerakan seluruh tubuhsecara refleks.
“Bakalincuat” artinya bangkit dari berbaring atau duduk dengan segera, bisa
karena takut, marah, atau kaget. “Pual-pual” sama dengan “kepul”, seperti orang
mengeluaran asap rokok dari mulut. Mungkin masih ada beberapa kata lain yang
maknanya tidak langsung dipahami oleh pembaca karena kemungkinan kata tersebut
berasal dari dialek atau subdialek yang bukan dialek atau subdialek keseharian
pembaca.
Secara bentuk, kata-kata tersebut menunjukan bahwa bahasa Banjar memiliki
keunikan. Ada
kata (hanya satu kata) yang menjelaskan suatu keadaan yang tidak bisa
dipadankan dengan kata lain. Semacam keunikan yang terdapat pada kata “intil”
misalnya. “Intil” menurut Kamus Banjar Indonesia berarti letak sesuatu
yang hampir jatuh, atau mudah terlihat, mudah diambil orang (Hapip, 2008:62).
Ini memperlihatkan kekayaan bahasa Banjar dalam mengemukakan suatu konsep.
Jika dibaca secara utuh, cerpen
“Anja” memberi gambaran tentang salah satu kepercayaan masyarakat Loksado
terhadap arwah. Cerpen ini sangat kental nuansa lokalnya. Tidak hanya karena
bahasa yang dipakai adalah bahasa daerah (Banjar Hulu) tapi karena memang dalam
cerpen ini ditemukan unsur lokalitas yang khas dari masyarakat Loksado.
Kepercayaan tersebut mungkin lambat laun tidak akan terjalin lagi dalam
kehidupan masyarakat Banjar. Seiring perkembangan zaman, keterbukaan pemikiran
dan wawasan masyarakat, peningkatan intelektualitas, kepercayaan tersebut bisa
saja akan menghilang. Menghilangnya sebuah konsep akan diikuti dengan hilangnya
sebuah istilah.
Jika dibandingkan dengan cerpen “Julak Utam” karangan Dewi Alfianti,
masih dalam buku kumpulan kisdap Malam
Kumpai Batu, cerpen “Anja” sangat kental bahasa BH nya sedangkan “Julak
Utam” terasa lebih mengarah ke bahasa BK nya. Tentu secara ekstrinsik, sedikit
banyaknya latar belakang pengarangnya turut mempengaruhi hal ini. Aliman
Syahrani, pengarang cerpen “Anja”, lahir di Datar Balimbing Loksado kemudian
tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Selatan di kota
Kandangan sedangkan Dewi Alfianti, pengarang cerpen “Julak Utam” lahir dan
tinggal di Banjarmasin.
Berikut kutipan cerpen “Julak Utam” dalam buku kumpulan kisdap Malam Kumpai Batu (2012):
Rambut basulah, muha pina membulat, dahi meneng, pas haja lawan potongan
muha bulat nang jua pina putih baminyak…(hlm 86).
Atau kutipan berikut,
Sidin datang, bubuhannya abut wan tumbur-tumburnya. Ada nang bukah-bukah, siapakah tu di bawah.
Iwan, nang manyetel lagu rok di higa kamarku mahamuk-hamuk lakas manggemeti
tip-nya…(hlm 87).
Kutipan tersebut memuat kata-kata yang dominan terdapat dalam tuturan
bahasa BK. Salah satu hal yang utama adalah dalam bahasa BH tidak terdapat
vokal “O” dan vokal “e”. Keduanya secara berturut-turut digantikan oleh vokal
“u” dan vokal “a” atau “i”. “manyetel”
dan “manggemeti” misalnya, dapat dikenali sebagai bagian dari bahasa BK.
Melalui cerpen berbahasa Banjar, pembaca tidak hanya memperoleh “Banjar”
sebagai tempatan atau lokalitas sebuah pengisahan tapi juga memperoleh
pengetahuan bahasa Banjar itu sendiri. Mungkin saja terdapat beberapa kosa kata
yang sudah tidak dijumpai lagi dalam penuturan sehari-hari, mungkin pula ada
kosa kata yang berasal dari sub-subdialek BB yang akan memperkaya khasanah BB.
Melalui cerpen, kosa kata dan pemahaman terhadap kosa kata tersebut kiranya dapat
dijaga kelestariannya.
D.
Penutup
Suatu bahasa sebagai salah satu identitas suatu masyarakat memiliki
kemungkinan akan hilang dari masyarakatnya, terpengaruh arus globalisasi, lalu
terbentuklah bahasa-bahasa baru. Sebagai
masyarakat yang lebih dekat dengan tradisi lisan, masyarakat Banjar memerlukan
pengembangan tradisi literasi sebagai salah satu upaya pelestarian bahasa.
Tradisi yang menyandingkan kegiatan baca dan tulis dalam suasana yang sehat dan
kreatif. Keberadaan cerpen dan puisi berbahasa Banjar merupakan salah satu
upaya pelestarian bahasa Banjar yang dapat diandalkan.
Meskipun cerpen dan puisi dihasilkan oleh individu-individu pengarang,
masyarakat memerlukan peran dan dukungan pemerintah serta berbagai pihak
terkait lainnnya untuk menopang upaya pelestarian ini. Pemerintah dapat
memfasilitasi penerbitan karya-karya bermutu, lebih daripada itu juga melakukan
upaya penyosialisasiannya kepada masyarakat pembaca misalnya dengan mengadakan
kegiatan rutin “pembacaan” karya sastra berbahasa Banjar.
Sastra Berbahasa Banjar dengan bentuk puisi dan cerpen dapat
diaplikasikan dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Ini disesuaikan dengan
kurikulum yang berlaku pada tiap tingkatan. Ini berarti, pada pembelajaran
puisi dan cerpen, siswa-siswa di Kalimantan Selatan tidak hanya mempelajari
puisi dan cerpen berbahasa Indonesia
tapi juga mempelajari puisi dan cerpen berbahasa Banjar. Sebenarnya selain
puisi dan cerpen, bentuk karya sastra lainnya yang dapat dipakai sebagai upaya
pelestarian bahasa Banjar adalah sastra berbentuk drama, baik yang tradisional
maupun yang modern.
Selain mata pelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran Muatan Lokal dapat
pula dipakai sebagai upaya pelestarian bahasa Banjar. Baik melalui pembelajaran
bahasa Banjarnya maupun melalui pembelajaran seni budayanya yang menggunakan
bahasa Banjar sebagai media.
E.
Daftar
Pustaka
Afra, Afifah. 2007. How To Be A Smart Writer. Surakarta: Indiva Media
Kreasi.
El Husaini, Abdurrahman. 2011. Doa Banyu Mata. Banjarmasin: Tahura Media.
------------. 2012.
Jukung Waktu. Banjarbaru: Scripta
Cendekia.
Firly, Sandi
(Ed). 2012. Malam Kumpai Batu. Banjarmasin: Tahura Media.
Hapip, Abdul Djebar. 2008. Kamus Banjar Indonesia. Banjarbaru:
CV
Rahmat Hafz Al Mubaroq.
Tarsyad,
Tarman Effendi. 2011. Kajian Stilistika
Puisi Sapardi Djoko Damono. Banjarmasin:
Tahura Media.
Biodata
Nailiya Nikmah JKF lahir di Banjarmasin,
9 Desember 1980. Aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banjarmasin
dan Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Kalimantan Selatan. Sekarang menjabat
wakil sekretaris Dewan Kesenian Kota Banjarmasin. Ia bertugas sebagai pengajar
di Politeknik Negeri Banjarmasin.
Nailiya menulis cerpen, puisi, esai dan novel. Beberapa karyanya yang telah
dibukukan adalah Nyanyian Tanpa Nyanyian
(Antocer bersama-9 penulis perempuan Kal-Sel), Menulis itu Mudah (esai bersama), Konser Kecemasan (Kumpulan Puisi Lingkungan Hidup/Puisi bersama), Rindu Rumpun Ilalang (antocer sendiri), Kalimantan dalam Prosa Indonesia, Pelangi di
Pelabuhan (kumcer bersama FLP), Antologi
Bersama-Puisi Religius Indonesia “Para Kekasih”, Ketika Api Bicara (antocer HSU), Senja di Teluk Wandoma (antocer nasional bersama), Malam Kumpai Batu (anto kisdap bersama),
Kiat Menulis dan Cerpen Pilihan (bersama
penulis HSU). Cerpennya “Mangadap Langit” terpilih sebagai juara harapan III
Lomba Menulis Cerpen Bahasa Banjar, Disbudpar. Novelnya Sekaca Cempaka terpilih sebagai unggulan dalam lomba menulis novel
dalam rangka Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2013.
*Mengalami penyuntingan setelah disampaikan
dalam Dialog Bahasa Daerah Sekalimantan, Banjarbaru 23-24 Oktober 2013.
Rabu, 30 Januari 2013
(Analisis Sudut Pandang dalam Novel Pengikat Surga Karya Hisani Bent Soe)
Nailiya Nikmah
04.38
0 Comments
Ketika Asma Curhat*
(Analisis Sudut
Pandang dalam Novel Pengikat Surga Karya
Hisani Bent Soe)
Oleh Nailiya Nikmah
JKF
Karya
sastra diciptakan dengan daya kreativitas dan imajinasi. Kreativitas itu
merupakan upaya pengarang melahirkan pengalaman batin dalam karyanya sekaligus memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman
hidup manusia yang dihayatinya. Pengalaman-pengalaman
tersebut diramu dengan imajinasi pengarang. Novel merupakan salah satu jenis
karya sastra. Novel secara fisik memberi ruang yang luas kepada pengarang untuk
menuangkan sebanyak-banyaknya pengalaman hidup yang diramunya dengan kreasi dan
imajinasi.
Seperti
karya sastra lainnya, novel dibangun oleh unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Salah satu unsur tersebut adalah tokoh. Ada
empat cara utama untuk menampilkan tokoh dalam fiksi, yaitu dengan cara memberitahu
pembaca, meminta tokoh bercerita, menyuruh tokoh lain bercerita, dan menggunakan
tindakan tokoh. Selain itu ada cara lain, dengan bahasa tubuh, emosi dan dialog
(Silvester dan Alexander,2004:32)
Ketika
memperoleh ide suatu cerita, pikirkan siapa yang menceritakannya. Di sinilah sudut
pandang masuk. Beberapa jenis sudut pandang, yaitu (1) sudut pandang orang pertama
yang terdiri dari (a) protagonis org pertama – aku adalah tokoh utama yg
menceritakan kisahnya sendiri; (b) saksi orang pertama - cerita tokoh utama
diceritakan oleh tokoh lain; (c) pencerita-kembali orang pertama—cerita
diceritakan oleh orang yang telah mendengar cerita itu dari orang lain, (2)
sudut pandang orang kedua, (3) sudut pandang orang ketiga.
Novel
berlatar sejarah bukan sesuatu yang asing sebenarnya. Yang terkesan baru,
mungkin adalah novel berlatar sejarah Islam. Sebagai sebuah novel sejarah Islam
– (: sejarah kenabian) pengarang
novel Pengikat Surga (PS) cukup
berani mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang tokoh utama
dalam novel ini. Ini dapat dikatakan unik sekaligus juga berisiko. Tokoh utama
dalam novel ini adalah Asma. Asma bukan sembarang Asma. Dia adalah Asma Bint
Abu Bakar, putri tercinta sang pembenar, putri seorang sahabat dekat
Rasulullah.
Asma dilahirkan 17 tahun sebelum Muhammad Saw. diutus menjadi Nabi
(Quthb,1995:15). Dia menyaksikan pengutusan Muhammad sebagai Nabi, mengetahui
detil-detilnya karena ia terlibat di dalamnya. Asma adalah anggota keluarga Abu
Bakar yang sekian lama menjadi tempat singgah yang aman bagi Rasulullah.
Rasulullah hampir setiap hari mengunjungi rumah Abu Bakar.
Di kemudian hari semua terpesona dengan sejarah yang diukirnya melalui
sabuknya pada peristiwa hijrah Rasulullah yang ditemani ayahanda tercinta. Pada
hari keberangkatan dari Gua Tsur menuju Yastrib, Asma lah yang membuatkan bekal
perjalanan. Dia lupa membawa tali untuk mengikatkan makanan dan minuman pada
tunggangan. Dengan kecerdasannya, ia melepas sabuknya dan membelahnya jadi dua.
Rasul bersabda, “Allah telah menggantikan sabukmu ini dengan dua sabuk di
surga.” Peristiwa ini selalu dikenang oleh kaum muslim sepanjang masa. Sebuah
gelaran ia dapat dari peristiwa ini. Ya, dialah Asma Dzaatu Nathaqain.
Bukit batu terjal menuju Tsur telah
terlihat. Mendakinya tak mungkin dengan menenteng makanan. Makanan ini harus
kuikat kebadanku agar aku lincah bergerak. Tak ada kain yang dapat kugunakan
untuk mengikat makanan ini. Aku luput memikirkan untuk menyiapkannya. Aku
meraba sabuk yang menahan perutku … Aku memotong sabukku memanjang menjadi
dua…. (hlm 223)
Tidak hanya itu keistimewaan Asma. Dia adalah tokoh perempuan yang pernah
menghadapi “dua setan” dengan ketabahan hati, yaitu Abu Jahal dan Al Hajjaj ibn
Yusuf Al-Tsaqafi. Dalam Novel Pengikat
Surga baru satu setan yang diceritakan (hlm 224).
Keunikan
pemilihan sudut pandang pada novel ini sudah terlihat sejak paragraf pertama.
Kami berlarian saling kejar mengejar menuju
bukit Shafa. Minggu ini kali ketiga kami melakukannya. Skornya 2-1 untuk aku.
Dan kali ini, ia, Ruqayyah, sahabatku, mengatakan ia akan menyamakan kedudukan.
…(hlm 1)
Novel ini dimulai dengan adegan kejar-kejaran dua sahabat, perempuan!
Bukit Shafa, Ruqayyah, dua kata yang sudah memperlihatkan pada pembaca betapa
istimewanya cerita yang akan dituturkan pengarang. Otak pembaca disirami
keindahan imajinasi membayangkan dua perempuan berkejaran menuju bukit Shafa
dalam rangka bermain, disamping itu otak pembaca juga “terjaga” untuk selalu
“waspada” dan bertanya-tanya, ada apa selanjutnya. Kenapa Ruqayyah yang dipilih
sebagai pendamping tokoh utama di permulaan novel ini? Tentu ini bukan pilihan
iseng. Semua terjawab ketika membaca teks selanjutnya, Teks selanjutnya pun
menimbulkan pertanyaan yang dijawab di teks berikutnya lagi. Begitu seterusnya
Novel ini dari awal sudah mengingatkan pembaca bahwa novel ini dijaga
staminanya oleh pengarang. Oleh sebab itu, pembaca pun harus menjaga staminanya
untuk bisa menikmati novel ini hingga tetes terakhir. Sebuah novel sejarah
sangat rentan menebarkan virus bosan dan ngantuk pada pembacanya. PS pun tak
mustahil akan menyebarkan virus tersebut padahal membaca novel ini sampai tamat
adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Hisani Bent Soe sepertinya
sangat menyadari kelemahan sebuah novel sejarah. Untuk itulah ia memilih sudut
pandang yang unik dan cukup berisiko ini. Sebuah sudut pandang yang sifatnya
menyuarakan semua hal tentang tokoh utama bahkan sampai hal-hal yang
tersembunyi di hati sang tokoh. Pengarang sangat berani mengupas semua hal
tentang Asma, bahkan sampai hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari
bahasan para sejarawan. Hal kecil yang justru membuat novelnya semakin indah.
Tiba-tiba saja Mush’ab dan AzZubayr datang
ke rumahku. Lamunanku buyar. Aku gugup demi melihat kehadiran mereka berdua.
Ayah mempersilakan mereka duduk dan membincang alokasi-alokasi keuangan yang
harus dilakukan dengan cermat. Sesekali
Az Zubayr menatapku. Tak sanggup
menahan gugup, aku berlalu saja ke kamarku. (hlm 101)
Aku memperhatikan semua kesibukan persiapan
hijrah. Jika berpapasan dengan Az Zubayr mata kami saling menatap. Mataku
berkata padanya temuilah ayahku. Tetapi aku memahami situasi ini … sesuatu yang
dinamakan kerinduan, kerinduan untukmu Az Zubayr!!! (hlm 125)
Hal kecil
lainnya ada pada kutipan teks berikut:
Aku meraba sabuk yang menahan perutku.
Bayiku bereaksi tanda persetujuan. …(hlm 223)
Kutipan tersebut mengisahkan bagian dari peristiwa Asma sampai bergelar
Si Dua Sabuk. Berapa banyak yang tahu bahwa saat itu Asma sedang hamil?
Gaya bertutur pengarang dalam PS persis gaya seorang perempuan
yang sedang curhat. Entah dengan
seseorang, atau mungkin curhat di buku diary. Pilihan pengarang terhadap Asma
sebagai tokoh utama novel ini sangat tepat mengingat Asma adalah anak Abu Bakar
– orang terdekat Rasul. Asma juga saudara seayah Aisyah – istri Rasul. Dan yang
lebih penting lagi, Asma hidup sejak Muhammad belum diangkat menjadi
Rasulullah. Dari segi politis, Asma mengetahui banyak hal sehingga ketika Asma
yang dipilih oleh pengarang untuk jadi tokoh utama, pilihan tersebut sangat
tepat. Melalui curhatan Asma, pembaca
bisa belajar banyak hal tentang sirah.
Pembaca juga disuguhi pengetahuan seputar turunnya ayat Quran secara berurutan
tanpa menyadarinya.
Disamping keunikan dan kelebihan-kelebihan di atas, PS dengan sudut
pandang orang pertama juga memiliki risiko dan kelemahan. Pada suatu adegan
atau peristiwa yang saat itu Asma tidak ada atau tidak melihat, sudah pasti tak
bisa diceritakan dengan gaya
yang serupa. Yang bisa diceritakan “aku” adalah yang dilihat, dialami, dan
dirasakan “aku”. Kelemahan ini diantisipasi dengan cantik oleh pengarang.
Pengarang menggunakan teknik Asma bertutur berdasarkan cerita tokoh lain
kepadanya. Ini bukan pekerjaan gampang. Pengarang harus jeli dan cermat, tokoh
mana yang dalam faktanya benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut dan
berkesempatan menceritakaannya kembali sehingga sampai ceritanya ke tokoh
utama. Misalnya, kejadian di Gua Tsur. Saat itu hanya ada Rasul dan Abu Bakar.
Bagaimana cerita tersebut bisa menjadi curhatan
Asma?
Aku ingat bagaimana Ayah menceritakan pada
kami, tentang yang terjadi sewaktu hijrahnya bersamaRasulullah.
“Aku berjalan kadang di depannya, kadang di
belakangnya. Aku takut sesuatu menyergap Rasulullah. Lalu kami mencapai Gua
Hira…. (hlm 363-364)
Sekali lagi, pemilihan Asma sebagai tokoh utama dalam PS sangat tepat.
Asma mendapat cerita tersebut langsung dari tokoh ayah. Contoh lain adalah pada
saat pengarang ingin menjelaskan peristiwa Isra Mi’raj. Dipilihlah dialog
antara Asma dengan sang sahabat, Ummu Kultsum.
“Apa yang Rasulullah ceritakan padamu
tentang Israa Mi’raj?”
“Jibril datang di pembuka malam. Membawa
ayahku ke beranda Masjid Al Haram. Dan di sana
ada buraq”…(hlm 178)
PS memadukan keakuratan sejarah kenabian dengan romantika seorang
perempuan bernama Asma. Hanya saja pengarang perlu menyiapkan jawaban ketika
ada yang iseng bertanya, bukankah novel adalah karya fiksi, lantas pada bagian
manakah di PS yang merupakan fiksi? Bisa
saja pada bagian geretek hati Asma
lah fiksi nya muncul, ketika Asma merindukan Az Zubayr, ketika Asma cemburu
pada Atikah Bint Zayd, atau pada bagian lain? Apapun itu, PS sangat lezat
dinikmati hingga hidangan penutup. Ending
novel ini pun benar-benar mengejutkan. Novel ini ditutup dengan sebuah kalimat
yang sangat mengguncang.
“Aku menceraikanmu”
*Disampaikan pada Bedah Novel "Pengikat Surga" karangan Hisani Bent Soe,
Banjarmasin 11 Juli 2010 -- Olah gawe FLP Banjarmasin
Ayo, Belajar !
(Bicara Pendidikan di
Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul
Hermawan)
(Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul
Hermawan dalam Perspektif Pendidikan)
A. Sebuah
Pengantar
Tuntutlah
ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Pepatah ini sudah tak asing lagi tetapi
benarkah ketidakasingan terhadap pepatah ini menjamin dalamnya pemaknaan
terhadap pepatah tersebut? Pelajaran
Bahasa (PB) karangan Sainul Hermawan mencoba menuliskan jawabannya. PB
seperti sebuah komplek sekolah yang menyediakan beragam jenjang, kelas dan
bahkan bidang-bidang spesialis yang ingin ditekuni oleh murid. “Cantik”
berjenjang sekolah dasar diwakili oleh Nauka murid kelas 3. “ Pelajaran Bahasa”
berjenjang sekolah menengah pertama diwakili oleh Iyus, “Parang” dan “Nanang
dan Galuh” mewakili jenjang sekolah menengah atas, “Asty Amelia” mewakili
perguruan tinggi. PB juga menghadirkan sekolah yang tidak formal. PB juga
menyuguhkan pelajaran di luar dinding-dinding bangunan bernama sekolah.
“Sarak”
yang berarti cerai merupakan sebuah cerpen yang memberikan pelajaran
pernikahan. Pelajaran tentang posisi perempuan yang berstatus istri dihadapan
laki-laki yang menikahinya. “Lelaki yang maha esa” memberikan pelajaran tentang
sikap seorang anak terhadap orang tuanya dan sebaliknya. “Asty Amelia” berisi
pelajaran tentang teknologi bernama internet. “Sakadup”, “Mariana yang Bimbang”,
“Lima Liang Banua”, “Kuburan”, “Pangeran Facebook”, “Radius Satu: Tanatos!”
merupakan kelas-kelas khusus yang memberi ruang pendidikan politik. Menariknya,
‘sekolah’ yang dibangun oleh Sainul adalah sekolah yang bervisi politik dan
moral.
Lantas,
sejak kapan dan sampai kapan para murid sebaiknya menikmati pendidikan? “Kuburan” pun menjawab bahwa pendidikan itu
sejak lahir sampai mati. Belajar itu tidak hanya dari orang yang masih hidup
tapi juga dari orang yang sudah mati!
B. Pendidikan
Berbasis Karakter dalam PB
Pendidikan adalah “proses pengubahan sikap
dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik
(KBBI, 2003:263).
Sejak
anak-anak memasuki usia sekolah, para orang tua mencarikan sekolah yang bagus
untuk anaknya. Tidak cukup dengan memasukkan ke sekolah yang bagus, para orang
tua pun membelikan anak-anaknya perlengkapan dan fasilitas penunjang belajar
bahkan mendaftarkan anak-anaknya les macam-macam. Kalau perlu memanggil
pengajar ke rumah. Betapa inginnya orang tua melihat anak-anaknya sukses dalam
pendidikan. Sayangnya, kadang-kadang
orang tua terlalu sempit memaknai kata sukses
untuk anak-anaknya. Sukses adalah angka 8 dan 9. Sukses adalah menjadi juara
kelas. Sukses adalah lulus ujian nasional. Tak jadi soal, bagaimana cara anak
mendapatkannya dan bagaimana anak mengurai makna hasil yang diperolehnya.
Tidak
sedikit orang tua memahami belajar dalam pengertian yang cenderung sempit.
Belajar hanya jika anaknya duduk manis sambil membaca buku teks, menghitung,
menulis ‘pelajaran’ di buku. Jadi, jika anaknya berlari-lari di halaman rumah sambil menghitung anak bebek yang
mengikuti induknya, anak sedang bermain bukan belajar. Belajar adalah melakukan
sesuatu untuk bisa lulus ujian nasional.
Ujian
nasional (UN) setiap tahunnya menghadirkan beragam fenomena. PB dengan jeli
memotret sisi memprihatinkan tentang UN
dalam Parang (23-29). Cerpen ini
menggambarkan kerabunan orang tua tentang pendidikan yang sejati. Dalam benak
orang tua, yang penting anaknya lulus UN bagaimanapun caranya.
“Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, anak
saya harus lulus! Kalau sampai dia gagal, pian bukan hanya akan berpisah dengan
anak saya dan kawan-kawannya, tapi kepala pian itu bisa pisah dari badan.”
(hlm 24)
Jika
UN tiba guru-guru dan murid-murid yang masih idealis akan mengalami ‘demam
kelas’, sedangkan yang tidak jujur malah berlenggang santai seolah tidak
terjadi apa-apa. Malam menjelang UN beredar sms yang berisi kunci jawaban. Guru
dan murid sama kelakuannya. Murid yang menolak meneruskan sms akan dimusuhi
oleh murid lainnya, dicap belagu, sok
pintar. Guru yang menolak meneruskan sms akan dipisuhi oleh guru-guru lain, dianggap sok jujur, sok suci, dan
sok-sok lainnya. Tidak takut ketahuan kepsek? Tentu saja tidak. Kan, kepsek yang nyuruh? Apakah kepsek tidak
takut sama kepala dinas? Tentu saja tidak. Kan kepala dinas yang nyuruh? Lalu apa sebenarnya ini? Jawabannya ada pada kutipan di
bawah:
Dia cuma bisa berandai-andai jika tak ada
passing grade, vonis lulus pusat, tekanan politik dan parang, dia merasa lebih
bahagia jadi kepala sekolah (hlm 27.)
Parang
adalah simbol kekuasaan dan kekuatan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Parang
adalah sebuah benda yang bisa melukai, tapi sebenarnya parang pun memudahkan
kita dalam beberapa pekerjaan. Seperti pisau bermata dua. Mata pisau pertama
bisa kita pakai memotong sayuran, mata pisau berikutnya bisa saja melukai muka
kita sendiri hingga berdarah. Seperti itulah karakter. Abdullah Munir dalam
pengantar bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter (2010) menyebutkan bahwa setiap
karakter memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Anak yang memiliki keyakinan
yang tinggi akan memiliki dua kemungkinan yang berbeda dan berlawanan.
Kemungkinan pertama, akan jadi anak yang pemberani, kemungkinan kedua akan jadi
anak yang sembrono karena terlalu yakin sehingga kurang perhitungan.
Murid
yang berkarakter positif menghadapi apapun termasuk UN secara positif pula.
Masalahnya penerapan pendidikan berbasis karakter memerlukan ruang yang jika
kurikulum sekarang masih dipakai mungkin tidak muat. Orang tua yang sudah
terbuka matanya terhadap pendidikan karakter diharapkan memulainya dari rumah.
Lihatlah cerpen “Cantik” (15-22). Mama Nauka sudah memulainya. Nauka diarahkan,
dibentuk untuk jadi cantik yang sejati.
Penjelasan
tentang cantik secara ramah, santun, serta memberi ruang berpendapat untuk
Nauka adalah salah satu contoh bekal minimal yang harus disiapkan orang tua
untuk pendidikan karakter. Orang tua harus meyediakan waktu rutin setiap hari
sekitar setengah sampai satu jam untuk berdialog dengan anaknya. Waktu untuk
memberikan pemahaman, melatihkan tindakan, dan melakukan muhasabah (Munir,
2010:15).
Bekal
utama berikutnya adalah visi. Orang tua harus memiliki visi yang jelas untuk
anaknya. Abah Galuh dalam “Nanang dan Galuh” bervisi meningkatkan derajat
hidup. Visi yang membuat Galuh menikah dengan lelaki lain yang akhirnya
memiliki dua anak tanpa memiliki cinta. Visi yang membuat jiwanya labil
sehingga memotivasinya mencari Nanang di facebook
setelah tujuh belas tahun berlalu. Untunglah Nanang adalah lelaki yang sejak
awal sudah memiliki visi yang jelas, yaitu “Aku
ingin memegang tanganmu saat Allah mengizinkan aku menetapkan akad nikah” sehingga
ketika Galuh menawarkan pesonanya lagi, Nanang has signed out sambil
sebelumnya menulis, “…. Tanda kasih kita
di sekolah itu sudah sirna.”
C. Pendidikan
Seumur Hidup
Mulyasa
(2004:5) menyebutkan bahwa Unesco (1994)
mengemukakan dua prinsip pendidikan. Pertama, pendidikan harus diletakkan pada
empat pilar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan
(learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together),
dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Kedua, belajar seumur hidup
(life long learning).
Cerpen
“Pelajaran Bahasa” sebagai sampel memperlihatkan beberapa prinsip ini.
Sudah biasa, Pak Izul menugaskan setiap
muridnya membawa satu kata yang ingin diketahuinya lebih jauh (hlm 2).
Kutipan
di atas memperlihatkan bahwa Pak Izul memberi motivasi pada muridnya untuk
belajar mencari tahu apa yang ingin diketahui; belajar mengetahui apa yang ingin
dipelajari. Hal ini sesuai dengan pilar pertama, yaitu belajar mengetahui.
Pelajaran dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan anak. Belajar terpusat pada
murid bukan pada guru.
Dia suka belajar bahasa karena dia senang
mengutak-atik kata sejak kecil (hlm 1).
Pilar
kedua, belajar melakukan tersirat dari kutipan tersebut. Iyus senang
mengutak-atik kata sejak kecil. Iyus sudah belajar melakukan sesuatu yang
berhubungan dengan pelajaran bahasa.
Pilar
ketiga adalah belajar hidup dalam kebersamaan. Hal ini secara tersirat ada
dalam cerpen “Pelajaran Bahasa”, baik dari proses belajar-mengajar Iyus dan
teman-temannya maupun dari pengalaman-pengalaman Iyus dan teman-teman di luar
kelas.
Pilar
keempat, belajar menjadi diri sendiri. Dalam cerpen “Pelajaran Bahasa” tergambar
murid-murid percaya diri memberi jawaban dan mengemukakan pendapat. Tak semua
murid berani mengacungkan tangan. Ada
yang karena takut, malu, atau memang tak tahu mau berkata apa. Sikap guru pun
mempengaruhi sikap murid-muridnya. Guru yang terbuka dan menyenangkan seperti
Pak Izul tentu akan selalu memancing murid terus belajar, berani bicara, berani
berpendapat. Kelas pun hidup dengan diskusi bukan ribut dengan kata ‘setuju’,
‘iya,Pak’, ‘sama dengan si A’. Sebenarnya pilar ini secara global diwakili oleh
cerpen “Cantik.”
Prinsip
Kedua, yaitu belajar seumur hidup. Agaknya inilah yang ingin disampaikan Sainul
dalam sekolahnya yang bernama PB. Belajar tak mengenal kata tamat. Belajar pun
tak terbatas pada hal-hal yang tertulis di buku pelajaran sekolah. Belajar tak
mengenal batas waktu dan materi. Hasil pendidikan sejati tak bisa diperoleh
dengan cara instan. Sekali lagi, pendidikan tidak terbatas pada kata ‘lulus’
dan ‘nilai’.
Akhirnya,
sampai disini dulu pelajaran ini. Semoga peserta diskusi tidak bernasib seperti
kutipan ini:Mereka hasil dari perkuliahan
yang hanaya obral nilai. Daripada pusing-pusing, ya cetak saja mereka seperti
roti. Mereka kan
cuma ingin jadi sarjana? Sangat jarang yang memang ingin jadi manusia berilmu. (“Sakadup”,
hlm 37).
Flamboyan, 17 Desember 2010
Disampaikan pada Diskusi Interdisipliner Buku antologi cerpen Sainul Hermawan, Perpus Unlam Banjarmasin, Senin 20 Desember 2010



