Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2025

MENGETUK PINTU ISTANA; HARI INI, AKU DAN KAWANKU

06.12 0 Comments



MENGETUK PINTU ISTANA; HARI INI, AKU DAN KAWANKU

Puisi Nailiya Nikmah

 

Ruang-ruang kelas menjadi saksi bisu

perjuangan mendidik anak negeri

berangkat pagi pulang senja hari

mengajar, meneliti dan mengabdi

dari kelas ke kelas; dari lab ke lab; dari bengkel ke bengkel

dari studio ke studio

dari aplikasi satu ke berbagai aplikasi lainnya

Kopi, buku, jurnal, masyarakat; deru nafas kami

 

Kadang tidak tidur mengerjakan proposal

mengharap hibah yang tak boleh diambil penelitinya sebagai upah

mengejar berderet angka kredit agar meningkat kepangkatan

berharap meningkat pula kesejahteraan

Sungguh kami tak berharap UKT mencekik leher para orang tua untuk membayar kami

Karena kami pun adalah bagian dari orang tua itu

 

Dan inilah kami para dosen

berdatangan dari seluruh penjuru negeri Indonesia

melintasi darat, laut dan udara

meninggalkan rumah-rumah kami yang hangat

Dihantarkan doa dan harapan seluruh kawan

Mengetuk pintu istana

Mengadukan jeritan hati kami

 

Kami tidak gila materi

tapi kami butuh amunisi

Kami bukan pengemis

meski datang dengan tangan di bawah

Kami bukan tak pandai bersyukur

meski datang dengan tuntutan

Kami hanya ingin keadilan dan hak kami ditunaikan

 

Sebuah tunjangan kinerja dosen,

Ya,

Tu-kin.

 

Jakarta, Aksi Dosen, 3 Februari 2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 15 Agustus 2017

Jika Nafasmu Masih Puisi (oleh Nailiya Nikmah)

10.59 0 Comments


Jika Nafasmu Masih Puisi
(Nailiya Nikmah)

Jika nafasmu masih puisi
pinjami aku sebait kenangan
agar masih bisa
menengok pantai sandiwaramu
Berjalan dengan kaki telanjang
Bersuka cita meraup desau angin

Senja berkali-kali mengirimi aku kabar buruk
menjelma gema dalam sunyi
Ombak menjadi wajahmu
yang tak pandai menjaga setia
Umpama bayang-bayang tertimpa cahaya

Tidak apa jika aku benar-benar sendiri
Tak perlu sakit hati pada pinus yang tak henti
berbisik tentang pecundang sejati
Permainan baru saja dimulai
Akan tiba masa kita tak lagi bisa
memilih lakon sesuka hati
Bintang laut atau kunang-kunang
semua terlihat sama

Jangan lagi berharap pada sekawanan hujan
Karena derainya kini racun

Bjm, Juli 2017

Jumat, 19 Desember 2014

Romansa Tanah Basah

03.46 2 Comments


ROMANSA TANAH BASAH

Kepada Hulu Sungaiku

berterima kasihlah pada hujan pagi ini
gemericiknya menaruh harapan
pada huruf-huruf di ujung jemari
biarkan sebaris kenangan
menyertai aku yang musafir

Sayang, engkaulah
makna yang tak habis kupahami
api yang tak bisa kupadam-padam
rindu yang tak mampu kubunuh-bunuh

di jalan sunyi tak bernama
engkau melambai-lambai
seperti tangkai mawar ditimpa hujan

akankah kaupanggil aku kekasih hujan
sedang langit sebentar lagi benderang
lalu tinggal tanah basah


Banjarmasin Utara, Juni 2013

Romansa Tanah Basah 2

03.43 0 Comments


ROMANSA TANAH BASAH 2
Puisi Nailiya Nikmah JKF

mengapa kauresahkan musim yang
tak kunjung berganti
tidakkah kaudengar
banyak nada tercipta di antara daun-daun kering
apa perlunya memaknai seluruh janji
lagunya takkan terganti

tanah ini akan terus menabur harap
pada kenangannya
di menit pertama sehabis hujan pagi-pagi

(Flamboyan, 2014)

Rabu, 30 Januari 2013

Sembilan Jam di Kotamu

04.17 0 Comments


Sembilan Jam di Kotamu


sepanjang jalan hujan cemburu
tangannya bertubi-tubi menamparku
yang tengah menyembunyikan sepayung rindu

setapak menuju Loksadomu
peta nya asyik bercumbu
dalam tangis diyang bermata sayu

sembilan jam berlalu
detiknya bagiku adalah kelu
kecuali setitik senyummu
di depan anggrek berwarna ungu

Lalu, tiba-tiba kulihat “selamat jalan” pada sebuah tugu


Kandangan, 1-3, Januari 2013


























Cinta di Musim Tengkujuh

04.07 0 Comments


Cinta di Musim Tengkujuh
Untuk Ran

untuk apa fatwamu
jika yang berkenan hanya bisu

di musim tengkujuh ku kayuh cinta
padamu yang tak mungkin kulabuh
muram-muram mengerumuni

Puisi mainanmu,
mencengkeram kalimat-kalimatku berbilang purnama
mengirimkan musim airmata ke kamarku
mengelabui langit-langitnya tidak bersela
mencabik-cabik sukma hingga sekarat

cercahan majasmu belum habis kutafsiri
angin kencang buru-buru menghampiri
di musim tengkujuh kali ini, Ran
ada cinta yang harus tenggelam


Banjarmasin, Januari 2013

Sebongkah Rindu dalam Lemari

04.02 0 Comments


Sebongkah Rindu dalam Lemari

selembar kenangan kutempel di kamar mandi
cicak membacanya malu-malu
kecoa mengejar-ngejar waktuku
sebentar lagi, sekejap saja – kah
cermin berembun mengaburkan wajah
di kabusnya kutulis namamu dengan telunjuk
dan mengakhirinya dengan tanda tanya

rinai di ujung shower membagi-bagi harapan yang dingin
menusukkan sepi hingga ke tulang
mendustakan suam-suam kuku senyum matahari
pada dinding batu yang diam
ku tabur serbuk-serbuk tangis
ku puangi dada yang penuh dendam

“mengapa engkau, mengapa aku”

dalam lemari ku tapakan sebongkah rindu
terselip di antara gaun merah jambu, daster-daster,
pakaian dalam dan blazer
gigil menetesi ujung handuk, membirui bibir merah
mencicil jejak retak setiap pagi
kelak rayap melagukan nyanyian waktu
dengan tempo luka andante
bongkahan rindu menyublim
menguar abadi pada gaun merah jambu, daster-daster,
pakaian dalam dan blazer





Banjarmasin, Oktober 2012 – Januari 2013

Rabu, 16 Januari 2013

Juriyat Cinta

02.05 0 Comments

Juriyat Cinta
(balasan Sajak Sanggam Cinta)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

untuk Kanda Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara

membaca pahatan Sanggam Cinta mu di alam maya
adalah mengoyak mimpi semu mata pena dinda
menimang ukiran rindumu yang bertahta rumpun ilalang
adalah mendulang luka-luka purbaku yang hilang
melukis sanja kuning di batang banyu sambil menghitung caracau enggang
adalah mandarasi juriyat dukaku sepanjang Hulu Sungai

maafkan,
sesungguhnya
lalaya mimpi telah lama kutinggalkan
bersama persembahan tarian terakhir di Meratusmu
di purnama ke sembilan

kukubur perahu yang tak pernah kukayuh
ke dalam pagi yang renta
kulabuh tangis yang tak pernah tiris
ke dalam butah kenangan
kusalin kecipak telapak diyang
ke bayang bulan yang jatuh di bola matamu

Kanda,
jangan terlalu lama menafsiri airmataku
menanti keringnya adalah keakhiran sungaimu
kan kuabadikan juriyat cinta kita
pada kitab lamut dan mamandaku yang tak pernah nyata

samar ku dengar senandung panting ditingkahi nyanyian orang dalam
dari bukit yang jauh, teramat jauh

dinding-dinding beton menyentuh langit
- pencerabut rindu rumpun ilalangku-
di situlah kini aku menganyam purun cinta
menunggu kereta ke negeri niscaya

(masih tercium wangi kesturi
yang kau semat di ujung lekuk kerudungku
- kuhirup sepanjang pejaman mata sejarah cinta kita)

Flamboyan 3, Banjarmasin, 9 Januari 2012

Minggu, 23 Desember 2012

Kangen dll

04.02 1 Comments


Puisi Nailiya Nikmah JKF
Banjarmasin



Kangen

(Buat Aliman Syahrani)

kukatakan aku kangen
dan ingin pulang
katamu, “Di Pahuluan kada rami,
hanya ada embun yang luruh bersama puisi”

Kangenku jadi berlipat-lipat!


      Banjarmasin, 13 November 2012





Pengantar Rinduku

kau kah yang mengetuk pintu senja-senja
meletakkan serumpun ilalang
di ambin rumahku
lalu pergi diam-diam

kau kah pengantar rindu
yang kucari ke segala musim
sekali bertemu
dinding-dinding sudah temaram

kau kah yang sembunyi-sembunyi meningkalung
jendela hatiku dengan cinta
hingga kacanya berceraian
mengapa engkau terlampau sunyi
padahal di sini banyak nyanyian

Banjarmasin, 23 November 2012


Mimpi di Bulan Desember

maukah kau menemaniku
menyusuri jalan bersalju
sambil memainkan kata-kata
yang menumpuk di balik sweater

lihatlah, Desember membekukan sungai Martapura
aku dan kamu asyik melempar kata. Aku tahu ini hanya mimpi,
mimpi di bulan Desember
Jangan bangunkan aku sebab kata-kata masih menumpuk di balik sweater

(Flamboyan, 12/12/12)















Kamis, 29 November 2012

Merobek Hujan

09.53 2 Comments
Puisi Nailiya Nikmah JKF
Banjarmasin

Merobek Hujan
Buat –mu

hapuslah kalimat asing dalam prosa pendek kita
penampakannya hanya membasikan kenangan
kuncup ini takkan pernah jadi bunga
meski di belantaranya hujan bermain

hapuslah seluruh ingatan yang menyandera namaku
di serat-serat catatanmu
karena seperti juga aku
kau terbebas dari semua belenggu
kecuali takdir yang sudah di kumur-Nya
menjadi semburan di kertas kita

Robeklah kitab cinta kita
seperti aku merobek hujan hari ini!



Hujan, November 2012




Hujan, Matahari, dan Sajak Terakhir


jika engkau hujan
dimanakah dapat kusentuh rintiknya
jika engkau matahari
di manakah dapat kupandang sinarnya

Jika ini luka- dan sepertinya begitu
- biarlah kutulis sajak terakhir

12 November 2012