Rabu, 30 Januari 2013

(Analisis Sudut Pandang dalam Novel Pengikat Surga Karya Hisani Bent Soe)

04.38 0 Comments


Ketika Asma Curhat*
(Analisis Sudut Pandang dalam Novel Pengikat Surga Karya Hisani Bent Soe)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Karya sastra diciptakan dengan daya kreativitas dan imajinasi. Kreativitas itu merupakan upaya pengarang melahirkan pengalaman batin dalam karyanya sekaligus  memilih unsur-unsur terbaik dari pengalaman hidup manusia yang dihayatinya.  Pengalaman-pengalaman tersebut diramu dengan imajinasi pengarang. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra. Novel secara fisik memberi ruang yang luas kepada pengarang untuk menuangkan sebanyak-banyaknya pengalaman hidup yang diramunya dengan kreasi dan imajinasi.
Seperti karya sastra lainnya, novel dibangun oleh unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik. Salah satu unsur tersebut adalah tokoh. Ada empat cara utama untuk menampilkan tokoh dalam fiksi, yaitu dengan cara memberitahu pembaca, meminta tokoh bercerita, menyuruh tokoh lain bercerita, dan menggunakan tindakan tokoh. Selain itu ada cara lain, dengan bahasa tubuh, emosi dan dialog (Silvester dan Alexander,2004:32)
Ketika memperoleh ide suatu cerita, pikirkan siapa yang menceritakannya. Di sinilah sudut pandang masuk. Beberapa jenis sudut pandang, yaitu (1) sudut pandang orang pertama yang terdiri dari (a) protagonis org pertama – aku adalah tokoh utama yg menceritakan kisahnya sendiri; (b) saksi orang pertama - cerita tokoh utama diceritakan oleh tokoh lain; (c) pencerita-kembali orang pertama—cerita diceritakan oleh orang yang telah mendengar cerita itu dari orang lain, (2) sudut pandang orang kedua, (3) sudut pandang orang ketiga.
Novel berlatar sejarah bukan sesuatu yang asing sebenarnya. Yang terkesan baru, mungkin adalah novel berlatar sejarah Islam. Sebagai sebuah novel sejarah Islam –          (: sejarah kenabian) pengarang novel Pengikat Surga (PS) cukup berani mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang tokoh utama dalam novel ini. Ini dapat dikatakan unik sekaligus juga berisiko. Tokoh utama dalam novel ini adalah Asma. Asma bukan sembarang Asma. Dia adalah Asma Bint Abu Bakar, putri tercinta sang pembenar, putri seorang sahabat dekat Rasulullah.
Asma dilahirkan 17 tahun sebelum Muhammad Saw. diutus menjadi Nabi (Quthb,1995:15). Dia menyaksikan pengutusan Muhammad sebagai Nabi, mengetahui detil-detilnya karena ia terlibat di dalamnya. Asma adalah anggota keluarga Abu Bakar yang sekian lama menjadi tempat singgah yang aman bagi Rasulullah. Rasulullah hampir setiap hari mengunjungi rumah Abu Bakar.
Di kemudian hari semua terpesona dengan sejarah yang diukirnya melalui sabuknya pada peristiwa hijrah Rasulullah yang ditemani ayahanda tercinta. Pada hari keberangkatan dari Gua Tsur menuju Yastrib, Asma lah yang membuatkan bekal perjalanan. Dia lupa membawa tali untuk mengikatkan makanan dan minuman pada tunggangan. Dengan kecerdasannya, ia melepas sabuknya dan membelahnya jadi dua. Rasul bersabda, “Allah telah menggantikan sabukmu ini dengan dua sabuk di surga.” Peristiwa ini selalu dikenang oleh kaum muslim sepanjang masa. Sebuah gelaran ia dapat dari peristiwa ini. Ya, dialah Asma Dzaatu Nathaqain.
Bukit batu terjal menuju Tsur telah terlihat. Mendakinya tak mungkin dengan menenteng makanan. Makanan ini harus kuikat kebadanku agar aku lincah bergerak. Tak ada kain yang dapat kugunakan untuk mengikat makanan ini. Aku luput memikirkan untuk menyiapkannya. Aku meraba sabuk yang menahan perutku … Aku memotong sabukku memanjang menjadi dua…. (hlm 223)
Tidak hanya itu keistimewaan Asma. Dia adalah tokoh perempuan yang pernah menghadapi “dua setan” dengan ketabahan hati, yaitu Abu Jahal dan Al Hajjaj ibn Yusuf Al-Tsaqafi. Dalam Novel Pengikat Surga baru satu setan yang diceritakan (hlm 224).
Keunikan pemilihan sudut pandang pada novel ini sudah terlihat sejak paragraf pertama.
Kami berlarian saling kejar mengejar menuju bukit Shafa. Minggu ini kali ketiga kami melakukannya. Skornya 2-1 untuk aku. Dan kali ini, ia, Ruqayyah, sahabatku, mengatakan ia akan menyamakan kedudukan. …(hlm 1)
Novel ini dimulai dengan adegan kejar-kejaran dua sahabat, perempuan! Bukit Shafa, Ruqayyah, dua kata yang sudah memperlihatkan pada pembaca betapa istimewanya cerita yang akan dituturkan pengarang. Otak pembaca disirami keindahan imajinasi membayangkan dua perempuan berkejaran menuju bukit Shafa dalam rangka bermain, disamping itu otak pembaca juga “terjaga” untuk selalu “waspada” dan bertanya-tanya, ada apa selanjutnya. Kenapa Ruqayyah yang dipilih sebagai pendamping tokoh utama di permulaan novel ini? Tentu ini bukan pilihan iseng. Semua terjawab ketika membaca teks selanjutnya, Teks selanjutnya pun menimbulkan pertanyaan yang dijawab di teks berikutnya lagi. Begitu seterusnya
Novel ini dari awal sudah mengingatkan pembaca bahwa novel ini dijaga staminanya oleh pengarang. Oleh sebab itu, pembaca pun harus menjaga staminanya untuk bisa menikmati novel ini hingga tetes terakhir. Sebuah novel sejarah sangat rentan menebarkan virus bosan dan ngantuk pada pembacanya. PS pun tak mustahil akan menyebarkan virus tersebut padahal membaca novel ini sampai tamat adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Hisani Bent Soe sepertinya sangat menyadari kelemahan sebuah novel sejarah. Untuk itulah ia memilih sudut pandang yang unik dan cukup berisiko ini. Sebuah sudut pandang yang sifatnya menyuarakan semua hal tentang tokoh utama bahkan sampai hal-hal yang tersembunyi di hati sang tokoh. Pengarang sangat berani mengupas semua hal tentang Asma, bahkan sampai hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari bahasan para sejarawan. Hal kecil yang justru membuat novelnya semakin indah.
Tiba-tiba saja Mush’ab dan AzZubayr datang ke rumahku. Lamunanku buyar. Aku gugup demi melihat kehadiran mereka berdua. Ayah mempersilakan mereka duduk dan membincang alokasi-alokasi keuangan yang harus dilakukan dengan cermat. Sesekali Az Zubayr menatapku. Tak sanggup menahan gugup, aku berlalu saja ke kamarku. (hlm 101)
Aku memperhatikan semua kesibukan persiapan hijrah. Jika berpapasan dengan Az Zubayr mata kami saling menatap. Mataku berkata padanya temuilah ayahku. Tetapi aku memahami situasi ini … sesuatu yang dinamakan kerinduan, kerinduan untukmu Az Zubayr!!! (hlm 125)
Hal kecil lainnya ada pada kutipan teks berikut:
Aku meraba sabuk yang menahan perutku. Bayiku bereaksi tanda persetujuan. …(hlm 223)
Kutipan tersebut mengisahkan bagian dari peristiwa Asma sampai bergelar Si Dua Sabuk. Berapa banyak yang tahu bahwa saat itu Asma sedang hamil?
Gaya bertutur pengarang dalam PS persis gaya seorang perempuan yang sedang curhat. Entah dengan seseorang, atau mungkin curhat di buku diary. Pilihan pengarang terhadap Asma sebagai tokoh utama novel ini sangat tepat mengingat Asma adalah anak Abu Bakar – orang terdekat Rasul. Asma juga saudara seayah Aisyah – istri Rasul. Dan yang lebih penting lagi, Asma hidup sejak Muhammad belum diangkat menjadi Rasulullah. Dari segi politis, Asma mengetahui banyak hal sehingga ketika Asma yang dipilih oleh pengarang untuk jadi tokoh utama, pilihan tersebut sangat tepat. Melalui curhatan Asma, pembaca bisa belajar banyak hal tentang sirah. Pembaca juga disuguhi pengetahuan seputar turunnya ayat Quran secara berurutan tanpa menyadarinya.
Disamping keunikan dan kelebihan-kelebihan di atas, PS dengan sudut pandang orang pertama juga memiliki risiko dan kelemahan. Pada suatu adegan atau peristiwa yang saat itu Asma tidak ada atau tidak melihat, sudah pasti tak bisa diceritakan dengan gaya yang serupa. Yang bisa diceritakan “aku” adalah yang dilihat, dialami, dan dirasakan “aku”. Kelemahan ini diantisipasi dengan cantik oleh pengarang. Pengarang menggunakan teknik Asma bertutur berdasarkan cerita tokoh lain kepadanya. Ini bukan pekerjaan gampang. Pengarang harus jeli dan cermat, tokoh mana yang dalam faktanya benar-benar menyaksikan peristiwa tersebut dan berkesempatan menceritakaannya kembali sehingga sampai ceritanya ke tokoh utama. Misalnya, kejadian di Gua Tsur. Saat itu hanya ada Rasul dan Abu Bakar. Bagaimana cerita tersebut bisa menjadi curhatan Asma?
Aku ingat bagaimana Ayah menceritakan pada kami, tentang yang terjadi sewaktu hijrahnya bersamaRasulullah.
“Aku berjalan kadang di depannya, kadang di belakangnya. Aku takut sesuatu menyergap Rasulullah. Lalu kami mencapai Gua Hira…. (hlm 363-364)
Sekali lagi, pemilihan Asma sebagai tokoh utama dalam PS sangat tepat. Asma mendapat cerita tersebut langsung dari tokoh ayah. Contoh lain adalah pada saat pengarang ingin menjelaskan peristiwa Isra Mi’raj. Dipilihlah dialog antara Asma dengan sang sahabat, Ummu Kultsum.
“Apa yang Rasulullah ceritakan padamu tentang Israa Mi’raj?”
“Jibril datang di pembuka malam. Membawa ayahku ke beranda Masjid Al Haram. Dan di sana ada buraq”…(hlm 178)
PS memadukan keakuratan sejarah kenabian dengan romantika seorang perempuan bernama Asma. Hanya saja pengarang perlu menyiapkan jawaban ketika ada yang iseng bertanya, bukankah novel adalah karya fiksi, lantas pada bagian manakah di  PS yang merupakan fiksi? Bisa saja pada bagian geretek hati Asma lah fiksi nya muncul, ketika Asma merindukan Az Zubayr, ketika Asma cemburu pada Atikah Bint Zayd, atau pada bagian lain? Apapun itu, PS sangat lezat dinikmati hingga hidangan penutup. Ending novel ini pun benar-benar mengejutkan. Novel ini ditutup dengan sebuah kalimat yang sangat mengguncang.
 “Aku menceraikanmu”



*Disampaikan pada Bedah Novel "Pengikat Surga" karangan Hisani Bent Soe, 
Banjarmasin 11 Juli 2010 -- Olah gawe FLP Banjarmasin

Bicara Pendidikan di Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul Hermawan

04.34 0 Comments


Ayo, Belajar !
(Bicara Pendidikan di Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul Hermawan)
(Buku Pelajaran Bahasa Karangan Sainul Hermawan dalam Perspektif Pendidikan)
Oleh Nailiya Nikmah, M.Pd.



A. Sebuah Pengantar
Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Pepatah ini sudah tak asing lagi tetapi benarkah ketidakasingan terhadap pepatah ini menjamin dalamnya pemaknaan terhadap pepatah tersebut? Pelajaran Bahasa (PB) karangan Sainul Hermawan mencoba menuliskan jawabannya. PB seperti sebuah komplek sekolah yang menyediakan beragam jenjang, kelas dan bahkan bidang-bidang spesialis yang ingin ditekuni oleh murid. “Cantik” berjenjang sekolah dasar diwakili oleh Nauka murid kelas 3. “ Pelajaran Bahasa” berjenjang sekolah menengah pertama diwakili oleh Iyus, “Parang” dan “Nanang dan Galuh” mewakili jenjang sekolah menengah atas, “Asty Amelia” mewakili perguruan tinggi. PB juga menghadirkan sekolah yang tidak formal. PB juga menyuguhkan pelajaran di luar dinding-dinding bangunan bernama sekolah.
“Sarak” yang berarti cerai merupakan sebuah cerpen yang memberikan pelajaran pernikahan. Pelajaran tentang posisi perempuan yang berstatus istri dihadapan laki-laki yang menikahinya. “Lelaki yang maha esa” memberikan pelajaran tentang sikap seorang anak terhadap orang tuanya dan sebaliknya. “Asty Amelia” berisi pelajaran tentang teknologi bernama internet. “Sakadup”, “Mariana yang Bimbang”, “Lima Liang Banua”, “Kuburan”, “Pangeran Facebook”, “Radius Satu: Tanatos!” merupakan kelas-kelas khusus yang memberi ruang pendidikan politik. Menariknya, ‘sekolah’ yang dibangun oleh Sainul adalah sekolah yang bervisi politik dan moral.
Lantas, sejak kapan dan sampai kapan para murid sebaiknya menikmati pendidikan?  “Kuburan” pun menjawab bahwa pendidikan itu sejak lahir sampai mati. Belajar itu tidak hanya dari orang yang masih hidup tapi juga dari orang yang sudah mati!

B. Pendidikan Berbasis Karakter dalam PB
Pendidikan adalah “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (KBBI, 2003:263).  
Sejak anak-anak memasuki usia sekolah, para orang tua mencarikan sekolah yang bagus untuk anaknya. Tidak cukup dengan memasukkan ke sekolah yang bagus, para orang tua pun membelikan anak-anaknya perlengkapan dan fasilitas penunjang belajar bahkan mendaftarkan anak-anaknya les macam-macam. Kalau perlu memanggil pengajar ke rumah. Betapa inginnya orang tua melihat anak-anaknya sukses dalam pendidikan.  Sayangnya, kadang-kadang orang tua terlalu sempit memaknai kata sukses untuk anak-anaknya. Sukses adalah angka 8 dan 9. Sukses adalah menjadi juara kelas. Sukses adalah lulus ujian nasional. Tak jadi soal, bagaimana cara anak mendapatkannya dan bagaimana anak mengurai makna hasil yang diperolehnya.
Tidak sedikit orang tua memahami belajar dalam pengertian yang cenderung sempit. Belajar hanya jika anaknya duduk manis sambil membaca buku teks, menghitung, menulis ‘pelajaran’ di buku. Jadi, jika anaknya berlari-lari di halaman  rumah sambil menghitung anak bebek yang mengikuti induknya, anak sedang bermain bukan belajar. Belajar adalah melakukan sesuatu untuk bisa lulus ujian nasional.
Ujian nasional (UN) setiap tahunnya menghadirkan beragam fenomena. PB dengan jeli memotret sisi  memprihatinkan tentang UN dalam Parang (23-29). Cerpen ini menggambarkan kerabunan orang tua tentang pendidikan yang sejati. Dalam benak orang tua, yang penting anaknya lulus UN bagaimanapun caranya.  
Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, anak saya harus lulus! Kalau sampai dia gagal, pian bukan hanya akan berpisah dengan anak saya dan kawan-kawannya, tapi kepala pian itu bisa pisah dari badan.” (hlm 24)
Jika UN tiba guru-guru dan murid-murid yang masih idealis akan mengalami ‘demam kelas’, sedangkan yang tidak jujur malah berlenggang santai seolah tidak terjadi apa-apa. Malam menjelang UN beredar sms yang berisi kunci jawaban. Guru dan murid sama kelakuannya. Murid yang menolak meneruskan sms akan dimusuhi oleh murid lainnya, dicap belagu, sok pintar. Guru yang menolak meneruskan sms akan dipisuhi oleh guru-guru lain, dianggap sok jujur, sok suci, dan sok-sok lainnya. Tidak takut ketahuan kepsek? Tentu saja tidak. Kan, kepsek yang nyuruh? Apakah kepsek tidak takut sama kepala dinas? Tentu saja tidak. Kan kepala dinas yang nyuruh? Lalu apa sebenarnya ini? Jawabannya ada pada kutipan di bawah:
Dia cuma bisa berandai-andai jika tak ada passing grade, vonis lulus pusat, tekanan politik dan parang, dia merasa lebih bahagia jadi kepala sekolah (hlm 27.)
Parang adalah simbol kekuasaan dan kekuatan dalam dunia pendidikan kita saat ini. Parang adalah sebuah benda yang bisa melukai, tapi sebenarnya parang pun memudahkan kita dalam beberapa pekerjaan. Seperti pisau bermata dua. Mata pisau pertama bisa kita pakai memotong sayuran, mata pisau berikutnya bisa saja melukai muka kita sendiri hingga berdarah. Seperti itulah karakter. Abdullah Munir dalam pengantar bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter (2010) menyebutkan bahwa setiap karakter memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Anak yang memiliki keyakinan yang tinggi akan memiliki dua kemungkinan yang berbeda dan berlawanan. Kemungkinan pertama, akan jadi anak yang pemberani, kemungkinan kedua akan jadi anak yang sembrono karena terlalu yakin sehingga kurang perhitungan.
Murid yang berkarakter positif menghadapi apapun termasuk UN secara positif pula. Masalahnya penerapan pendidikan berbasis karakter memerlukan ruang yang jika kurikulum sekarang masih dipakai mungkin tidak muat. Orang tua yang sudah terbuka matanya terhadap pendidikan karakter diharapkan memulainya dari rumah. Lihatlah cerpen “Cantik” (15-22). Mama Nauka sudah memulainya. Nauka diarahkan, dibentuk untuk jadi cantik yang sejati.
Penjelasan tentang cantik secara ramah, santun, serta memberi ruang berpendapat untuk Nauka adalah salah satu contoh bekal minimal yang harus disiapkan orang tua untuk pendidikan karakter. Orang tua harus meyediakan waktu rutin setiap hari sekitar setengah sampai satu jam untuk berdialog dengan anaknya. Waktu untuk memberikan pemahaman, melatihkan tindakan, dan melakukan muhasabah (Munir, 2010:15).
Bekal utama berikutnya adalah visi. Orang tua harus memiliki visi yang jelas untuk anaknya. Abah Galuh dalam “Nanang dan Galuh” bervisi meningkatkan derajat hidup. Visi yang membuat Galuh menikah dengan lelaki lain yang akhirnya memiliki dua anak tanpa memiliki cinta. Visi yang membuat jiwanya labil sehingga memotivasinya mencari Nanang di facebook setelah tujuh belas tahun berlalu. Untunglah Nanang adalah lelaki yang sejak awal sudah memiliki visi yang jelas, yaitu “Aku ingin memegang tanganmu saat Allah mengizinkan aku menetapkan akad nikah” sehingga ketika Galuh menawarkan pesonanya lagi, Nanang has signed out sambil sebelumnya menulis, “…. Tanda kasih kita di sekolah itu sudah sirna.”

C. Pendidikan Seumur Hidup
Mulyasa (2004:5) menyebutkan bahwa Unesco (1994) mengemukakan dua prinsip pendidikan. Pertama, pendidikan harus diletakkan pada empat pilar, yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Kedua, belajar seumur hidup (life long learning).
Cerpen “Pelajaran Bahasa” sebagai sampel memperlihatkan beberapa prinsip ini.
Sudah biasa, Pak Izul menugaskan setiap muridnya membawa satu kata yang ingin diketahuinya lebih jauh (hlm 2).
Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Pak Izul memberi motivasi pada muridnya untuk belajar mencari tahu apa yang ingin diketahui; belajar mengetahui apa yang ingin dipelajari. Hal ini sesuai dengan pilar pertama, yaitu belajar mengetahui. Pelajaran dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan anak. Belajar terpusat pada murid bukan pada guru.
Dia suka belajar bahasa karena dia senang mengutak-atik kata sejak kecil (hlm 1).
Pilar kedua, belajar melakukan tersirat dari kutipan tersebut. Iyus senang mengutak-atik kata sejak kecil. Iyus sudah belajar melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pelajaran bahasa.
Pilar ketiga adalah belajar hidup dalam kebersamaan. Hal ini secara tersirat ada dalam cerpen “Pelajaran Bahasa”, baik dari proses belajar-mengajar Iyus dan teman-temannya maupun dari pengalaman-pengalaman Iyus dan teman-teman di luar kelas.
Pilar keempat, belajar menjadi diri sendiri. Dalam cerpen “Pelajaran Bahasa” tergambar murid-murid percaya diri memberi jawaban dan mengemukakan pendapat. Tak semua murid berani mengacungkan tangan. Ada yang karena takut, malu, atau memang tak tahu mau berkata apa. Sikap guru pun mempengaruhi sikap murid-muridnya. Guru yang terbuka dan menyenangkan seperti Pak Izul tentu akan selalu memancing murid terus belajar, berani bicara, berani berpendapat. Kelas pun hidup dengan diskusi bukan ribut dengan kata ‘setuju’, ‘iya,Pak’, ‘sama dengan si A’. Sebenarnya pilar ini secara global diwakili oleh cerpen “Cantik.”
Prinsip Kedua, yaitu belajar seumur hidup. Agaknya inilah yang ingin disampaikan Sainul dalam sekolahnya yang bernama PB. Belajar tak mengenal kata tamat. Belajar pun tak terbatas pada hal-hal yang tertulis di buku pelajaran sekolah. Belajar tak mengenal batas waktu dan materi. Hasil pendidikan sejati tak bisa diperoleh dengan cara instan. Sekali lagi, pendidikan tidak terbatas pada kata ‘lulus’ dan ‘nilai’.
Akhirnya, sampai disini dulu pelajaran ini. Semoga peserta diskusi tidak bernasib seperti kutipan ini:Mereka hasil dari perkuliahan yang hanaya obral nilai. Daripada pusing-pusing, ya cetak saja mereka seperti roti. Mereka kan cuma ingin jadi sarjana? Sangat jarang yang memang ingin jadi manusia berilmu. (“Sakadup”, hlm 37).

                                                                                             Flamboyan, 17 Desember 2010


 Disampaikan pada Diskusi Interdisipliner Buku antologi cerpen Sainul Hermawan, Perpus Unlam Banjarmasin, Senin 20 Desember 2010

Entrepreneurship dalam Karya Religi Berkonteks Lokal

04.28 0 Comments


Entrepreneurship dalam Karya Religi Berkonteks Lokal
(Sebuah Pembacaan Novel Bulan Sabit di Langit Burniau)
Oleh Nailiya Nikmah, S.Pd., M.Pd.

Merantau atau pergi ke suatu tempat/negeri yang lain untuk mencari “sesuatu” kadang menjadi pilihan wajib bagi orang-orang yang berpikiran kreatif. Tak jarang, manusia menemukan titik cerahnya setelah ia pergi ke tempat lain.  Dalam jagat kisah, Malin Kundang – terlepas dari label anak durhaka yang ia terima – pun telah membuktikan hal ini. Kisah yang melegenda ini secara tersirat menyampaikan bahwa orang Minang adatnya merantau. Konsep merantau pun ada dalam budaya masyarakat Banjar. Adanya istilah madam cukuplah menjadi salah satu pembukti hal ini. Dalam Kamus Banjar Indonesia terdapat istilah madam ‘merantau’; bamadaman ‘bepergian’(Hapip, 2001:114).
“Sesuatu” yang dicari di perantauan tak harus berupa harta benda atau materi yang terlihat. Ilmu pun adalah “sesuatu” yang bisa diperoleh dengan cara pergi ke negeri seberang. Inilah yang dilakukan Rasyid, tokoh utama dalam novel Bulan Sabit di Langit Burniau karangan Hafiez ‘Aliyatul Anwar. Rasyid pemuda asli Martapura diberangkatkan oleh Haji Syamsuddin ke Tanah Jawa untuk menutut ilmu.
Di kota Apel, Rasyid tak hanya berkesempatan menuntut ilmu. Persis seperti apa yang ditengarai oleh salah satu tokoh dalam novel ini, yaitu Pak Haji, Rasyid memiliki jiwa entrepreneur. Jadi – meminjam istilah Ahmad Tohari – Rasyid ini adalah cerita yang mengeksplorasi santri salaf metropolis dan musafir yang sadar entrepreneurship.  
Menurut Suharyadi, dkk (2008: 9-10), semangat kewirausahaan dibangun berdasarkan asas pokok sebagai berikut : a.       kemauan kuat untuk berkarya (terutama dalam bidang ekonomi) dan semangat mandiri; b. mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil risiko; c.        kreatif dan inovatif; d.            tekun, teliti dan produktif; serta e.        berkarya dengan semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat. Jika kita cermat membaca BSdLB kita akan menemukan hal-hal tersebut.
Ambillah satu contoh berikut, Ia berniat jika nanti memang uang itu tak ia gunakan, ia akan kembalikan uang itu kepada Pak Haji. Ia tak nyaman jika harus terus bergantung hidup kepada orang lain yang bukan siapa-siapa baginya (hlm 19). 
Di Malang, ia bekerja menjadi tukang ketik di sebuah rental. Ia juga bekerja di Dinoyo Printing, di bagian penyablonan (hlm 19). Rasyid tidak menggunakan uang kiriman Pak Haji jika tidak mendesak, ia bahkan berniat mengembalikan uang Pak Haji. Secara keseluruhan saya melihat novel ini sebagai novel religi berjiwa entrepreneurship.
Pada bagian pertama diceritakan kilas balik riwayat keberadaan Rasyid di kota Malang. Ibu Rasid meninggal setelah melahirkan Rasyid dan saudara kembarnya. Tak berapa lama, ayahnya meninggalkannya pergi bersama saudara kembarnya itu. Rasyid dititipkan kepada Julak Basun. Kehidupan Rasyid bersama Julak Basun adalah episode yang penuh perjuangan. Sejak kecil, Rasyid bangun sebelum fajar. Ia dan Julak Basun membuat kue kemudian menjajakannya dan menitipkannya ke warung-warung. Sepertinya Julak Basun lah yang menanamkan “bakat” entrepreneur dalam diri Rasyid. Saat Rasid 14 tahun, Julak Basun meninggal. Ia diasuh oleh Kakek Abdul Ja’far – ayah dari ibu Rasyid. Pengasuhan Kakek Ja’far merupakan penyeimbang didikan Julak Basun. Kakek Ja’far mendidik Rasyid agar tahu diri sebagai hamba Allah. Kakeknya pula yang membuat Rasyid mondok di Darul Hijrah asuhan Kiai Muhammad Karim Mubarak. Pondok yang membuat ia berkesempatan nyantri ke Hadramaut (hlm 12-13).
Selepas mondok, atas petuah Kakeknya, Rasyid tak lantas berbelok menjadi ulama. Ia tetap mantap di jalur “pengusaha”. Rasyid pun bekerja di toko intan milik saudagar kaya, Haji Syamsuddin yang tak lain adalah teman kakeknya. Sifat-sifat baik Rasyid membuat Haji Syamsuddin terpesona. Ia tidak hanya menguliahkan Rasyid tapi juga ingin menikahkan Rasyid dengan putrinya yang cantik (hlm 6).
Di bagian kedua diceritakan pertemuan Rasyid dengan Zahra setelah sebuah insiden “kebetulan”. Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Pada bagian selanjutnya akan terlihat bahwa insiden ini adalah sebuah tanda bagi kehidupan Rasyid di masa depan. Bagian ketiga menggambarkan secara bertahap keistimewaan Zahra. Perangainya yang ramah, tutur kata lembut, santun, sopan, gaya berpakaiannya bear-benar berbeda dari yang lain, muslimah dan cantik buuuaaanget…apalagi ia putri seorang Kiai (hlm 50).
Bagian keempat memuat dua hal yang kontras. Rasyid menerima lamaran Kiai Syamsuddin untuk Amelia sedangkan di pihak lain, Zahra telah jatuh hati dengan Rasyid, pemuda Banjar yang telah menolongnya. Konflik cinta segitiga pun mulai terlihat di bagian kelima dan keenam, antara Rasyid, Zahra dan Amelia. Di bagian ini ketiganya, dikisahkan sama-sama pulang kampung. Uniknya, Zahra bertemu dengan Amelia di ruang tunggu keberangkatan. Kepulangan Rasyid adalah kepulangan Kakeknya ke alam baka. Pada bagian tujuh dan delapan diceritakan kepergian sang kakek untuk selamanya.
Bagian sembilan masih mengisahkan kepedihan Rasyid ditinggal Kakeknya. Di bagian Zahra, dikisahkan rencana reuni pondok. Di bagian ini lah Rasyid bertemu lagi dengan Zahra, kali ini Rasyid bisa dengan lengkap mengetahui identitas Zahra yang ternyata adalah putri Kiai nya. Zahra yang jatuh cinta pada Rasyid sejak pandangan pertama, tak bisa menerima pinangan orang lain. Ia telah berharap Rasyid lah jodohnya. Bagian 10 dan 11 memuat kesalahpahaman Zahra terhadap pinangan lelaki lain yang berujung penolakannya pada pinangan tersebut. Rasyid sendiri seandainya belum dijodohkan dengan Amelia pun sebenarnya tertarik dengan Zahra (hlm 162).  
Di bagian 12 dan 13, keinginan Rasyid untuk bisa bertemu dengan Amelia menjadi kenyataan. Ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Amelia ketika gadis itu membeli beras di kios Acilnya. Pernikahan dipercepat karena Haji Samsuddin tak berumur panjang. Sebelum meninggal, Haji Samsuddin menikahkan Rasyid dan Amelia.
Sayang, kebahagiaan keduanya tak berlangsung lama. Di bagian 14, 15 dan 16, Rasyid mengalami kecelakaan. Kapal yang ia tumpangi dari Jawa ke Banjarmasin mendapat musibah. Rasyid menghilang tak diketahui rimbanya. Rasyid termasuk dalam daftar orang hilang (hlm 217). Amelia sangat terpukul, apalagi ia dalam kondisi hamil. Akhirnya, Zaki, anak mereka terlahir tanpa mengenal ayah kandungnya.
Sepeninggal Rasyid, Amelia menikah lagi dengan Mujahid. Masalah pun muncul, ternyata Rasyid tidak meninggal dalam kecelakaan itu. Pada bagian 17 dan 18 Rasyid muncul dan menceritakan kejadian yang menimpa dirinya sampai ia bisa kembali lagi. Ternyata Rasyid sempat kehilangan memori. Di bagian 19 dituliskan Amelia menemukan kembali cintanya yang hilang. Hal ini membuat Amelia tak mampu menahan gejolak jiwanya. Ia menemui Rasyid untuk mengungkapkan isi hatinya. Tapi keimanan Rasyid membuat Rasyid mampu menahan dirinya. Ia berusaha tidak menghiraukan ekspresi muka mantan istrinya supaya tidak ikut terbawa perasaan (hlm 252).
Rasyid menegaskan pada Amelia bahwa mereka bukan suami istri lagi. Yang mestinya Amelia lakukan adalah memuliakan suaminya suaminya sekarang, yaitu Mujahid. Mereka harus menerima kenyataan ini sebagai sebuah ketetapan dari Allah.  Pertemuan Amelia dengan Rasyid ternyata diintip oleh Mujahid. Setelah Amelia pergi, Mujahid pun menemui Rasyid. Tak sedikitpun Mujahid menunjukkan sikap marah. Mereka berbicara antara sesama lelaki yang mencintai Amelia. Mujahid menghormati Rasyid sebagai orang yang dicintai amelia. Sikap ikhlas Mujahid membuat Rasyid bangga terhadap orang yang akhirnya ia panggil Dangsanak. Rasyid pun merasa bahwa Mujahid adalah orang yang pantas menjadi suami Amelia. Ia yakin, Mujahid bisa membahagiakan Amelia. Hal ini membuat Rasyid lega. Ia dan Mujahid sepakat untuk sementara antara Rasyid dan Amelia tidak usah bertemu.
Bagian 20 adalah bagian yang di dalamnya terdapat sebuah kisah lama, legenda urang banua Banjar, manakib Syaikh Muhammad Arsyad AlBanjary, Datuk Kelampayan. Kisah tersebut digunakan oleh Mujahid untuk membujuk hati Amelia yang sedang “galau” karena kemunculan Rasyid. Hingga akhirnya hati Amelia pun sadar dan kembali ke bilik hati Mujahid, suaminya yang sekarang. Masalahnya sekarang adalah bagaimana dengan si kecil Zaki? Ya, Zaki anak Amelia dengan Rasyid. Di Bagian 21 Rasyid dipertemukan dengan Zaki oleh neneknya, yaitu ibu dari Amelia. Pada saat itu, sang nenek juga menawari Rasyid menjadi konsultan bisnis rumah makannya. Pada saat yang hampir bersamaan Rasyid juga ditawari menjadi manajer tambak oleh Kiai Karim. Di bagian 22 dan 23 pertemuan Rasyid dan Zahra mendominasi alur. Hingga di bagian 24 Kiai Karim meminta Rasyid menikahi Zahra.
Novel BSdLB tergolong novel religi karena jika kita membacanya dengan seksama akan terasa sekali nuansa religi tersebut. Unsur religius tersebut tidak hanya karena novel tersebut berlatar Martapura yang sudah dikenal sebagai kota santri tapi secara keseluruhan, tokoh-tokoh yang terdapat dalam BSdLB berkarakter kuat sebagai muslim dan muslimah yang taat. Tokoh utamanya, Rasyid adalah pemuda soleh yang begitu sering mendapat ‘kebetulan’yang menguntungkan. Sebagai seorang lelaki, Rasyid merupakan tokoh yang nyaris sempurna dalam novel ini. Tokoh-tokoh lain pun mirip dengan Rasyid. Terutama Mujahid, rival Rasyid dalam persoalan Amelia. Mujahid tidak kalah soleh dibanding Rasyid. Tokoh-tokoh perempuannya pun solehah-solehah dan cantik-cantik dengan hati lembut seperti salju.
Hampir tidak ada konflik yang tajam dalam novel ini, kecuali ketika Rasyid hilang dalam sebuah kecelakaan kapal dan konflik Amelia dengan Mujahid pasca kemunculan Rasyid. Uniknya, konflik tersebut justru lebih mengarah pada konflik batin Amelia. Kisah Syarifah akhirnya menempatkan Mujahid pada posisi pemenang di hati Amelia. Lantas, bagaimanakah dengan Rasyid? tidak salah lagi, yang menjadi pendamping Rasyid adalah Zahra. Novel ini mengingatkan kita pada gaya karya-karya Kang Abik (Habiburrahman Elshirazy). Karya yang tidak memunculkan konflik antara tokoh antagonis dan protagonis seperti konflik cerita pada umumnya. BSdLB persis seperti karya-karya Kang Abik yang menghadirkan dunia malaikat ke dalam cerita. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi kelemahan jika pengarangnya tidak menyadarinya. Di sisi lain, hal ini mungkin menjadi kekuatan jika memang pengarangnya memilih dengan sadar alur yang ia pilih untuk ditempuh para tokohnya.
Maka, Rasyid telah membuktikan bahwa sesuai dengan janji-Nya, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik.


*disampaikan pada Bedah Novel Bulan Sabit di Langit Burniau, MAN 2 Model Banjarmasin, 27 April 2012

Ayah, Berhentilah Merokok...!

04.23 3 Comments


Ayah, Berhentilah Merokok…!
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Ini adalah sepenggal episode hidupku bersama Ayah. Mungkin ayahku takkan pernah membaca tulisan ini karena ayahku tak kenal facebook. Aku harap tulisan ini jadi prasasti cintaku pada ayah dan cinta ayah kepadaku.
Ayahku adalah lelaki penyayang. Ia tak tega melihat makhluk apapun tersakiti. Membunuh seekor semutpun ayahku tak tega. Beberapa kali halaman rumah didatangi ular. Bukannya membunuh ular tersebut, Ayah malah mengobrol dengan ular tersebut sambil menunjukkan jalan keluar dari halaman rumah. Begitu juga dengan tikus yang kadang datang mengganggu. Ayah tak pernah mau memasang perangkap atau meracun. Kasihan, kata ayah. Waktu Ibu sedang mengandung aku, Ayah pernah menolong seekor kucing yang hamil tua dan sedang mencari tempat untuk melahirkan. Kata ibuku, sejak itulah di rumah nenekku banyak kucing.
Ayah berhati lembut tapi kalau berkata-kata kadang agak kasar, apalagi bagi orang yang belum mengenalnya. Waktu kecil aku sangat segan terhadapnya. Ayah sangat disiplin, rapi, teliti. Konon, waktu Ayah masih bujang, kamar ayah bisa dijilat saking bersihnya. Sebelum masuk kamar, kami terbiasa cuci kaki. Aku dan adikku tak pernah membawa mainan ke atas tempat tidur. Kalau sampai ada mainan di atas tempat tidur, artinya kita sudah bosan dengan mainan tersebut alias akan dibuang ayah.
Ayah tak suka jalan-jalan. Hobi Ayah adalah membaca. Hobi ini menular pada kami, anak-anaknya. Kalaupun Ayah mengajak kami jalan-jalan, maka tempat yang dituju adalah toko buku, pameran buku, ya tidak jauh-jauh dari buku. Kalau aku, adikku dan Ayah sudah memegang buku, sepertinya tak ada yang menarik lagi di dunia ini.
Meski tegas dan disiplin – kadang terkesan otoriter, Ayah sebenarnya demokratis. Ketika aku masih duduk di bangku sekolah, hampir tiap malam kami berdiskusi tentang apa saja. Ayah tak gengsi mendengarkan pendapat kami. Satu hal yang tak bisa disepakati Ayah, yaitu masalah rokok (dulu ayahku perokok). Tiap kami menasehati ayah agar berhenti merokok, kami selalu kalah argumen. Macam-macam alasan Ayah. Satu yang menurutku paling aneh, yaitu ayah merokok karena setia kawan! Kata Ayah, sungguh tidak enak kalau sedang berkumpul dengan teman-teman yang semuanya merokok, lalu kita tidak merokok. Rasa gimana…gitu. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Ayah sudah sering dinasehati oleh dokter agar berhenti merokok karena ayah sering mengalami serangan sakit dada mendadak. Waktu itu, aku belum tahu teori tentang perokok pasif yang justru lebih menderita daripada perokok aktif. Yang kutahu hanyalah ayahku perokok, ayahku sakit dada, ayahku harus berhenti merokok. Aku belum tahu penjelasan ilmiah tentang rokok semisal kandungan nikotin dan kawan-kawannya itu. Aku juga belum membaca referensi tentang cara berhenti merokok dan cara menolong orang agar bisa berhenti merokok. Aku juga belum tertarik untuk mempelajari hukum merokok menurut agama. Aku pun belum pernah melakukan hitung-hitungan andai uang rokok ayahku dikumpulkan untukku saja. Aku belum terpikir semua itu. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah aku mencintai ayah, aku tak mau ayahku mati gara-gara rokok.
Lalu sore itu, menjelang azan maghrib berkumandang seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol bersama Ayah. Aku berkata, “Ayah, seandainya aku meninggal, aku meminta satu permintaan terakhir, apakah ayah akan mengabulkan?” tanyaku.
“Memangnya kau mau minta apa?” tanya Ayah.
“Aku minta, Ayah berhentilah merokok… Ya, Yah. Jangan lupa, ini pesanku kalau aku mati duluan” Entah darimana aku dapat kalimat tersebut. Yang jelas, sebagai anak-anak pada saat itu aku sudah kehabisan bahan untuk menasehati Ayah.
Subhanallah. Sungguh ajaib, sejak itu, Ayahku benar-benar berhenti merokok. Hari ini belasan tahun telah berlalu, tak jarang ibuku mengungkit cerita lama tersebut sambil berkata, “Tuh, Ayahmu tak mau mendengarkan kata-kata Ibu, tapi mendengarkan anak-anaknya mau aja”
Aku suka tersenyum sendiri jika mengingat peristiwa tersebut. Apakah sebenarnya yang membuat ayahku berhenti merokok? Aku tak pernah menanyakannya, dan aku tak ingin bertanya. Biarlah aku merasa senang dan bangga dengan satu simpulan yang kuukir sendiri bahwa ayahku berhenti merokok karena ia tahu aku mencintainya dan karena ia pun mencintai kami, anak-anaknya.

Perpisahan di Cakrawala

04.21 0 Comments


Perpisahan di Cakrawala
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Sahabat saya yang berprofesi sebagai guru TK pernah bercerita. Sehari setelah hari perisahan dia dengan murid-muridnya – ia pindah mengajar karena mengikuti suami – ia ditelepon orang tua murid. Orang tua murid tersebut meminta sahabat saya untuk membujuk anaknya lewat telepon. Ternyata sang murid mogok sekolah gara-gara sahabat saya pindah. Sang murid sudah terlanjur cinta pada sahabat saya dan tak mau diajar oleh guru lain.
Bukan hanya karena usia sang murid yang masih terlalu belia untuk bisa memahami arti sebuah perpisahan melainkan adanya ikatan emosional antara sahabat saya dengan dirinya. Ikatan emosional yang sudah terjalin kuat takkan mudah diputuskan begitu saja. Ikatan emosional inilah yang kadang membuat kita berat menerima perubahan. Sepertinya, inilah yang sedang melanda dunia sastra di Kalsel. Pasca kepergian Sandi Firly sang perintis Cakrawala, kelesuan melanda bumi Cakrawala. Iklim sastra Kalsel seperti mendadak dingin bahkan membeku. Setidaknya itulah yang terlihat di Cakrawala beberapa edisi terakhir.
Tak bisa kita pungkiri rubrik Cakrawala yang meski hanya satu kali sepekan muncul di Radar ini adalah satu-satunya media yang tekun membina, mendukung dan memfasilitasi kebutuhan bersastra masyarakat Kalsel. Bisa dikatakan Cakrawala adalah ikon sastra di Kalsel setidaknya untuk delapan tahun terakhir. Cakrawala tidak sekedar sarana “memajang” karya sastra tapi juga sarana informasi dan komunikasi bagi masyarakat sastra Kalsel. Cakrawala pula yang memberi ruang seluasnya untuk pendidikan politik sastra melalui pemuatan esai, kritik dan artikel para penulis Kalsel. Bagi saya pribadi, Cakrawala lah yang menghubungkan saya kembali dengan guru-guru bahasa sastra saya seperti Pak Hasbi Salim dan Ibu Diana Murni.
Pemangkasan alias penyempitan lahan Cakrawala seperti awal dari sebuah mimpi buruk bagi perkembangan sastra Kalsel. Terlepas dari apapun alasannya, saya menyebutnya ini semacam membuang perangai. Siapa yang membuang perangai? Ya, tidak salah lagi, Sandi firly yang membuang perangai. Bukankah penyempitan lahan Cakrawala disusul oleh kepergian Sandi dari bumi Cakrawala. Seolah-olah Sandi telah berwasiat “Wahai pewaris tahtaku selanjutnya (penulis tidak mengkhususkannya untuk Randu), bersiap-siaplah untuk pekerjaan yang tidak mudah…lakukanlah sesuatu untuk kelangsungan hidup di Cakrawala”
Maka jangan heran, dalam kolomnya Randu pernah menuliskan betapa ia merasa ada beban yang tidak ringan ketika menerima tampuk kepemimpinan selanjutnya. Ini adalah kali pertama Cakrawala mengalami perubahan “presiden”. Wajar jika akan ada wacana pembandingan, Cakrawala di tangan Sandi Vs Cakrawala di tangan Randu. Hal yang biasa pula jika ada yang dengan berat hati berusaha menerima; atau yang ekstrim menolak mentah-mentah.
Perihal Cakrawala Sandi Vs Cakrawala Randu ini, izinkanlah saya menganalisis menurut sudut pandang saya yang sangat sederhana. Cakrawala dalam wujud terakhirnya versi Sandi adalah Cakrawala yang sudah delapan tahun dirintis, dibangun, diupayakan oleh Sandi dengan kerja yang tidak mudah. Saya yakin, Sandi melakukan pendekatan, teknik, dan macam-macam strategi yang tidak semudah membalik tangan untuk menghadirkan Cakrawala tiap pekannya. Kerja keras Sandi lah yang mampu membuat sebuah rubrik yang sepertinya hanya numpang mejeng di harian Radar menjadi sebuah rubrik yang paling dinanti-nantikan oleh masyarakat sastra Kalsel. Mungkin kalau diteliti (entah sudah ada atau belum yang meneliti hal ini) penjualan koran Radar edisi Minggu sekian persen lebih banyak dibanding hari lain.
Sepeninggal Sandi, sepintas kita melihat bahwa pewaris tahta selanjutnya adalah orang yang akan mempertahankan kejayaan Cakrawala (sastra koran di Kalsel). Benarkah Randu bertugas mempertahankan? Saya justru melihat lain. Lahan Cakrawala sudah dipangkas sebelum kepemimpian Randu. Sempitnya lahan tentu akan mempengaruhi ruang kreativitas kita. Otomatis cerpen atau tulisan yang panjang-panjang seperti zamannya Sandi tidak bisa lagi kita temui. Jadi, Randu sebenarnya tidak sedang mempertahankan tapi membangun ulang. Pentingkah perbedaan istilah ini? Sangat penting! Kata “mempertahankan” secara psikologis menuntut tanggung jawab dan beban yang lebih berat sedangkan “membangun ulang” terkesan lebih fleksibel dan kreatif.
Masalahnya Randu memang harus kerja keras. Pertama, meski Potret diganti Sketsa, Cakrawala sudah begitu melekat dengan sosok Sandi. Cakrawala is Sandi.  Hal ini jangan sampai membuat Randu berusaha “meniru” Sandi sehingga Randu tidak  berani menampilkan dirinya sendiri. Randu tentu tidak akan sama dengan Sandi. Tiap orang tentu memiliki style yang berbeda. Sah-sah saja Randu belajar dari kesuksesan Sandi mengelola Cakrawala tapi dia tetap harus mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sendiri. Kedua, Cakrawala pada hakikatnya bukan milik harian Radar atau kepunyaan Sandi melainkan kehidupan masyarakat sastra di Kalsel. Mau tidak mau, untuk kemajuan Cakrawala, Randu- atau siapapun yang mengelolanya, harus mau dan mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat sastra Kalsel. Bahkan lebih dari itu, harus bisa menjalin ikatan sosial-emosional. Pengelola Cakrawala tidak hanya bertanggung jawab pada harian Radar tapi juga menjadi unsur penting bagi perkembangan sastra Kalsel.
Sekian dulu dari saya, kalau salah mohon ampun dan maaf… 



*esai ini pernah di muat di Harian Radar Banjarmasin

Sembilan Jam di Kotamu

04.17 0 Comments


Sembilan Jam di Kotamu


sepanjang jalan hujan cemburu
tangannya bertubi-tubi menamparku
yang tengah menyembunyikan sepayung rindu

setapak menuju Loksadomu
peta nya asyik bercumbu
dalam tangis diyang bermata sayu

sembilan jam berlalu
detiknya bagiku adalah kelu
kecuali setitik senyummu
di depan anggrek berwarna ungu

Lalu, tiba-tiba kulihat “selamat jalan” pada sebuah tugu


Kandangan, 1-3, Januari 2013


























Inikah Kasudahannya?

04.14 0 Comments


Inikah Kasudahannya?
(Tentang Cerpen “Kada Bakasudahan” Vs “Karindangan”)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Sudah sepekan ini perbincangan tentang kecurigaan terhadap cerpen “Kada Bakasudahan” yang ditulis oleh Nur Hidayah mewarnai pemberitaan di kolom Seni Budaya Media Kalimantan. Hal ini diawali oleh Tajuddin Noor Ganie (TNG) (Media Kalimantan, 6 Desember 2010) yang memaparkan hasil temuannya, yaitu 7 paragraf di “Kada Bakasudahan” yang mirip dengan paragraf di cerpen “Karindangan” karya Seroja Murni.
Temuan tersebut cukup mengejutkan saya tetapi saya belum bisa berkomentar apa-apa karena menurut saya semuanya masih kabur. 7 paragraf, istilah hypogram dan beberapa kalimat lain yang ditulis TNG membuat saya ragu-ragu mengambil simpulan apapun terhadap karya Nur Hidayah.
Saya mencoba mengingat kembali suasana sidang dewan juri saat mencari pemenang lomba cerpen tersebut. Saat proses penjurian berlangsung kami tak tahu cerpen A ditulis oleh siapa, cerpen B ditulis oleh siapa dan seterusnya karena nama pengarang telah dihilangkan oleh panitia sebelum cerpen-cerpen tersebut diserahkan ke  tangan kami. Betapa menyenangkan melakukan penilaian tanpa mengetahui siapa nama-nama dibalik penulisan cerpen tersebut. Perdebatan seputar ide mana yang paling menarik, diksi yang tepat, alur yang bagus dan sebagainya mewarnai proses penjurian. Dalam hal ini istilah unsur yang kami pakai adalah bahasa, bentuk dan isi. Ada cerpen yang idenya biasa saja tapi dari segi diksi (bahasa)  sangat kuat, ada yang sebaliknya dan ada juga yang bagus semua unsurnya (selengkapnya baca buku Aruh Manyanggar Banua, 2010:55-61).
Menurut saya, Cerpen “Kada Bakasudahan” cukup menarik dilihat dari ide, alur dan terutama diksinya. Kesan “Banjar”nya pun sangat menonjol. Setelah cerpen “Karindangan” karangan Seroja Murni  sampai ke tangan saya, mulailah saya membaca, membandingkan dan menganalisis kedua cerpen tersebut. Pertama, unsur tema. Tema besar kedua cerpen ini mirip, yaitu tema percintaan. Yang membedakan adalah “Karindangan” mengangkat tema percintaan orang dewasa sedangkan “Kada Bakasudahan” mengangkat tema percintaan ‘orang muda’. Yang kedua, segi alur. Cerpen “Karindangan” bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencintai dan menginginkan seorang lelaki untuk menjadi suaminya. Sayangnya lelaki tersebut sudah beristri dan beranak. Meski sang perempuan sudah tahu lelaki idamannya sudah ada yang memiliki, ia tetap menaruh harapan. Wacana poligami pun muncul. Ia bahkan mendatangi ‘calon madunya’ untuk meminta restu. Proses ini lah yang menjadi pusat cerita cerpen ini. Sementara itu pada cerpen “Kada Bakasudahan”, diceritakan seorang perempuan remaja yang jatuh cinta pada seorang lelaki lajang. Ia mendatangi rumah lelaki tersebut dengan maksud menyampaikan isi hatinya pada si lelaki. Proses inilah yang jadi pusat cerita. Ia terkagum-kagum pada segala keindahan yang ada di rumah lelaki tersebut. Di akhir cerita ada sebuah kejutan ternyata lelaki tersebut sudah mempunyai pacar. Hancurlah hati sang perempuan.
Ketiga , kedua cerpen ini memiliki kemiripan pada hal tak sampainya sebuah hasrat untuk memiliki seseorang yang dicintai. Kemiripan atau bahkan kesamaan ide cerita bukanlah sebuah kesalahan. Tak sedikit penulis membuat sebuah karya yang idenya mirip dengan karya orang lain padahal ia tak pernah membaca karya orang tersebut. Hal inilah yang membuat saya sampai pada detik-detik terakhir sebelum membaca “Karindangan” punya Seroja Murni – selalu bersikap positif dan berprasangka baik kepada Nur Hidayah.
Setelah itu saya meneliti paragraf-paragraf yang dianggap mirip oleh TNG. Sayapun memberanikan diri  membuat simpulan (atas nama pribadi) bahwa Nur Hidayah  telah melakukan pengutipan terhadap paragraf-paragraf tersebut. Di dunia kepenulisan, pengutipan boleh dan bisa saja dilakukan, khususnya pada karangan non fiksi atau karangan ilmiah. Tentu saja, ada tata cara dan teknik pengutipan yang harus dipatuhi. Pada karangan fiksi pun sebenarnya pengutipan boleh dilakukan untuk mendukung cerita dan tentu saja  ini pun ada aturan dan etikanya. Pengutipan yang tidak dilakukan dengan etika pengutipan yang benar bukanlah pengutipan yang diperbolehkan dalam dunia tulis-menulis. Pengutipan yang dilakukan Nur Hidayah tidak hanya mendukung cerpen “Kada Bakasudahan” tetapi juga menjadi kekuatan cerpen ini. Sebagai contoh, paragraf awal yang begitu memesona tak lain adalah paragraf awal cerpen “Karindangan”.
 Ketidakjujuran pengarang “Kada Bakasudahan” membuat beberapa pihak jadi kesal, marah dan kecewa. Secara hiperbolik HE Benyamin pun melampiaskannya kepada dewan juri sehingga nila setitik telah merusak susu sebelanga. Berkenaan dengan tulisan HEB di Media Kalimantan, 12 Desember 2010, saya memberi tanggapan sebagai berikut: Pertama, juri sudah berusaha melakukan penilaian seobjektif mungkin. Kedua, juri sudah berupaya melakukan penilaiai sesuai dengan kapasitas masing-masing sehingga tidak benar jika dikatakan juri tidak serius mengemban amanah. Menangnya sang plagiat bukanlah sesuatu yang disengaja oleh juri. Ketiga, pendapat HEB yang menyatakan “…seandainya, cerpen peserta lomba Aruh Sastra tersebut plagiat dari cerpen yang tidak pernah dipublikasikan, maka hal seperti ini dapat dimaklumi.” menurut saya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Keempat, yang kita cari sekarang adalah solusi bukan bacakut papadaan. Tulisan HEB menurut saya kurang memberikan solusi tapi malah menyiratkan kesan ketidaksenangannya terhadap person (mohon maaf kalau saya keliru menafsirkan.) Kelima, seharusnya HEB (dan siapapun) melakukan penyorotan yang seimbang. Tidak hanya mengarahkan jari telunjuk kepada juri tapi juga menyadarkan si plagiator dan menyuarakan serta mensosialisasikan betapa berdosanya perbuatan memplagiat karya orang lain. 
Berdasarkan uraian di atas, dengan segala kerendahan hati, kami (:saya, karena belum ada sidang formal dewan juri) memohon maaf apabila terpilihnya cerpen “Kada Bakasudahan” menjadi salah satu nominasi dan menjadi juara harapan II Lomba Menulis Cerpen Bahasa Banjar dalam rangkaian kegiatan Aruh Sastra Kal-sel VII dianggap merugikan banyak pihak. Izinkan kami mengulang kalimat terakhir kami di Manyanggar Banua: 2010:61 “Tak ada gading yang tak retak, tak ada gading yang tak retak!” Kami juga mengucapkan terima kasih kepada TNG yang telah menemukan data/bukti seperti yang sudah saya sebut di awal. Secara pribadi saya mencoba menyapa Nur Hidayah untuk berbesar jiwa ‘menerima’ kenyataan ini.
Semoga tulisan ini dapat dianggap sebagai langkah awal upaya positif dan solutif dari kami.
                                            Flamboyan, 12 Desember 2010.


Cinta di Musim Tengkujuh

04.07 0 Comments


Cinta di Musim Tengkujuh
Untuk Ran

untuk apa fatwamu
jika yang berkenan hanya bisu

di musim tengkujuh ku kayuh cinta
padamu yang tak mungkin kulabuh
muram-muram mengerumuni

Puisi mainanmu,
mencengkeram kalimat-kalimatku berbilang purnama
mengirimkan musim airmata ke kamarku
mengelabui langit-langitnya tidak bersela
mencabik-cabik sukma hingga sekarat

cercahan majasmu belum habis kutafsiri
angin kencang buru-buru menghampiri
di musim tengkujuh kali ini, Ran
ada cinta yang harus tenggelam


Banjarmasin, Januari 2013

Sebongkah Rindu dalam Lemari

04.02 0 Comments


Sebongkah Rindu dalam Lemari

selembar kenangan kutempel di kamar mandi
cicak membacanya malu-malu
kecoa mengejar-ngejar waktuku
sebentar lagi, sekejap saja – kah
cermin berembun mengaburkan wajah
di kabusnya kutulis namamu dengan telunjuk
dan mengakhirinya dengan tanda tanya

rinai di ujung shower membagi-bagi harapan yang dingin
menusukkan sepi hingga ke tulang
mendustakan suam-suam kuku senyum matahari
pada dinding batu yang diam
ku tabur serbuk-serbuk tangis
ku puangi dada yang penuh dendam

“mengapa engkau, mengapa aku”

dalam lemari ku tapakan sebongkah rindu
terselip di antara gaun merah jambu, daster-daster,
pakaian dalam dan blazer
gigil menetesi ujung handuk, membirui bibir merah
mencicil jejak retak setiap pagi
kelak rayap melagukan nyanyian waktu
dengan tempo luka andante
bongkahan rindu menyublim
menguar abadi pada gaun merah jambu, daster-daster,
pakaian dalam dan blazer





Banjarmasin, Oktober 2012 – Januari 2013

Rabu, 16 Januari 2013

Juriyat Cinta

02.05 0 Comments

Juriyat Cinta
(balasan Sajak Sanggam Cinta)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

untuk Kanda Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara

membaca pahatan Sanggam Cinta mu di alam maya
adalah mengoyak mimpi semu mata pena dinda
menimang ukiran rindumu yang bertahta rumpun ilalang
adalah mendulang luka-luka purbaku yang hilang
melukis sanja kuning di batang banyu sambil menghitung caracau enggang
adalah mandarasi juriyat dukaku sepanjang Hulu Sungai

maafkan,
sesungguhnya
lalaya mimpi telah lama kutinggalkan
bersama persembahan tarian terakhir di Meratusmu
di purnama ke sembilan

kukubur perahu yang tak pernah kukayuh
ke dalam pagi yang renta
kulabuh tangis yang tak pernah tiris
ke dalam butah kenangan
kusalin kecipak telapak diyang
ke bayang bulan yang jatuh di bola matamu

Kanda,
jangan terlalu lama menafsiri airmataku
menanti keringnya adalah keakhiran sungaimu
kan kuabadikan juriyat cinta kita
pada kitab lamut dan mamandaku yang tak pernah nyata

samar ku dengar senandung panting ditingkahi nyanyian orang dalam
dari bukit yang jauh, teramat jauh

dinding-dinding beton menyentuh langit
- pencerabut rindu rumpun ilalangku-
di situlah kini aku menganyam purun cinta
menunggu kereta ke negeri niscaya

(masih tercium wangi kesturi
yang kau semat di ujung lekuk kerudungku
- kuhirup sepanjang pejaman mata sejarah cinta kita)

Flamboyan 3, Banjarmasin, 9 Januari 2012

Sabtu, 05 Januari 2013

Teriakan Bisu Tiga Lelaki

03.54 1 Comments


TERIAKAN BISU TIGA LELAKI
Esai Nailiya Nikmah JKF*

Menuangkan isi hati ke dalam bentuk puisi terkadang menjadi pilihan terbaik bagi siapa saja. Tidak terkecuali bagi tiga orang lelaki (Imam Budiman, M. Ansyar dan Zian Army Wahyufi) yang mengumpulkan puisi-puisinya dalam buku Teriakan Bisu (TB) terbitan Media Tahura, 2012. Ada dua kemungkinan yang ingin disampaikan ketiganya melalui teriakan bisunya. Pertama, mereka sebenarnya sedang ingin berteriak tetapi mereka tidak punya suara (:kekuatan) untuk berteriak sehingga yang terjadi adalah mereka menyunyikan teriakan tersebut menjadi baris-baris puisi yang sepi. Kemungkinan kedua, mereka berceloteh, berteriak lewat puisi-puisi tersebut namun sejatinya mereka “bisu”. Hal ini diakui oleh Zian secara tersurat dalam epilog buku TB, “ …maka setidaknya, buku inilah teriakan kami selanjutnya, meski kami hanyalah orang-orang “bisu“.
Di antara beragam hal yang diteriakkan oleh Zian dkk dalam TB, pembaca dapat menemukan “orang tua” sebagai salah satunya. Anak lelaki berbicara tentang orang tua. Adakah keunikannya jika dibandingkan dengan pembicaraan oleh anak perempuan? Para orang tua biasanya lebih lembut dan halus perangainya ketika berbicara dengan anak perempuannya tapi tidak dengan anak laki-laki. Saat anak perempuan menangis, ayah pasti kelimpungan mencari sapu tangan untuk mengusap air matanya tapi saat anak lelaki menangis, ayahnya akan berkata, “simpan tangismu, anak laki nggak boleh cengeng!
Ada empat puisi tentang orang tua dalam TB. Puisi tersebut adalah Bapak (hlm 24) dikarang oleh Imam Budiman; Puisi untuk Orang tuaku (hlm 47) dikarang oleh M. Ansyar; Krak! (hlm 59) dan Kampung Batu (hlm 65) dikarang oleh Zian Army Wahyufi.
 Puisi “Bapak” didominasi oleh bunyi-bunyi ringan dan lembut seperti e dan i. Misalnya pada kata semburat, manapun, menimpa, sebelumnya, setumpuk, permata, menuduhnya, tersenyum, membahagiakan dan diam. Lambang bunyi dapat dihubungkan dengan suasana jiwa (Tarsyad, 2011:15). Bunyi yang ringan dan lembut melukiskan suasana yang sendu. Hal ini terkait dengan makna umum puisi “Bapak” yang menggambarkan kesedihan aku lirik ketika tahu bapaknya ingin menikah lagi yang disebutnya dengan ibu baru.
Gaya bahasa klimaks terdapat pada larik “…dan ketika ia singgah dalam jangka waktu relatif singkat, sangat sebentar/ dirinya pun terengguti ketidakadilan yang entah dengan siapa ku/ harus menuduhnya.” Gagasan-gagasan yang diungkapkan mengandung urutan pikiran yang semakin meningkat kepentingannya. Di sini terdapat pula ungkapan yang perifrasis, yaitu mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan. “Jangka waktu relatif singkat, sangat sebentar.” Seharusnya cukup “waktu yang singkat” atau “sangat sebentar”. Keduanya tidak perlu digunakan bersamaan. 
Gaya bahasa yang antitesis juga terdapat dalam “Bapak”. “…meski keinginan diri menolak keras…/aku diam.” Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan (Keraf, 2002:126). Gagasan “ingin menolak keras” dibenturkan dengan gagasan “diam”. Semua itu karena Imam terpaksa. Untuk keterpaksaan itu, Imam pun mengeluh /huh! Entah apa jadinya!/. Lihat juga catatan di akhir puisi Imam.   “Keterpaksaan, Juli 2011”
Pada puisi “Puisi untuk Orangtuaku” terdapat gaya bahasa kiasan persamaan/ simile. Gaya bahasa ini adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain (Keraf, 2002:138). /Itulah ketakutanku Ayah, Ibu/ yang datang bak gelombang besar/. Ansyar begitu takutnya terhadap orangtuanya sampai ia menyamakan ketakutannya dengan gelombang besar. Gelombang yang siap menggulungnya.
Puisi berikutnya berjudul “Krak!” ditulis oleh Zian. Puisi ini mengingatkan kita pada gaya puisi Sutardji Calzoum Bachri. Penggunaan gaya bahasa repetisi yang berupa anafora pada “Kau tulis” menjadi ruh puisi “Krak!”.
Gaya aliterasi juga mewarnai puisi ini. Gaya aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud pengulangan konsonan yang sama (Keraf, 2002: 130). Pada puisi “Krak!” terdapat pengulangan konsonan k di tiap barisnya. Terdapat kata sajak, jejak, serak, berontak, gejolak, bentak, sorak, teriak, sesak, Bapak, Anak, sentak, gertak, benak, jarak, hentak, gerak, detak, retak, kelak, tebak, hendak dan tidak.
Semua kata yang mengandung pengulangan konsonan k tersebut ditulis menggunakan huruf kecil pada huruf pertamanya, kecuali pada kata Bapak dan Anak. Ini menyiratkan bahwa ada yang penting yang terjadi antara bapak dan anak. Kedua kata  ini pun diletakkan di tengah baris, yang menyiratkan poros persoalan pada puisi ini adalah bapak dan anak.
Berdasarkan teori lambang bunyi Semi dalam Tarsyad (2011:15), konsonan k termasuk dalam kelompok bunyi yang ringan. Bunyi yang ringan melukiskan suasana sendu. Krak! adalah bunyi yang ditimbulkan oleh sesuatu yang patah atau belah.  Dengan tanda seru di sampingnya menyiratkan bunyi tersebut cukup keras. Di balik kegaduhan bunyi Krak! tersimpan unsur kesenduan. Biasanya sesuatu yang patah akan menimbulkan kesedihan mendalam, terlebih apabila yang patah itu adalah sekeping hati.
Puisi “Kampung Batu” dimulai Zian dengan melempar sebuah pertanyaan. “Buat apa kau datang ke kampungku”. Pertanyaan ini menimbulkan kode teka-teki secara struktur. Zian seolah-olah meragukan urgensi orang lain untuk datang ke kampungnya.
Pada puisi ini terdapat repetisi kata batu dan debu. Bunyi vokal a dan u serta bunyi konsonan b dan d termasuk dalam kelompok bunyi-bunyi yang berat. Bunyi yang berat melukiskan perasaan jiwa yang tertekan dan gelisah (Semi dalam Tarsyad, 2011:15). Zian menyimpan perasaan tertekan dan gelisah karena persoalan-persoalan yang bisa membuatnya termasuk dalam kategori anak durhaka. Anak durhaka tentunya akan menjadi batu seperti Malin Kundang di Sumatra (atau menjadi gunung seperti Angui di banua kita). Lalu batu itu pun akan jadi debu. Anak durhaka akan sia-sia hidupnya.
Sebenarnya Zian anak terakhir yang belum jadi batu. Seperti katanya “…Sisa aku di sini – yang juga telah durhaka, menunggu jadi batu dan debu/…/ Mama-abah pergi umrah”. Sayangnya Zian pun kelak akan jadi batu. Akan tetapi ada peluang sebenarnya untuk Zian. “…Mama-abah pergi umrah” Kalimat ini menyiratkan harapan untuk Zian. Bisa saja ketika umrah itu orangtuanya khusyuk berdoa untuk Zian. Bukankah doa di Baitullah sering terkabul? Meski begitu, Zian tetap tertekan dan gelisah. Untuk itu ia ma- anyaki lagi.” Jadi, masih tertarik datang ke kampungku?”
Puisi-puisi yang bicara tentang orang tua ini bertemakan suasana keterpaksaan. Zian dkk terpaksa menuruti kehendak orang tua, tak berani membantah, lama-kelamaan hal ini membuat mereka memilih “bisu”. Pada puisi “Bapak”, Imam Budiman tidak suka bapaknya menikah lagi tetapi demi melihat bapaknya tersenyum, ia terpaksa menyetujuinya dan memilih untuk diam. Pada puisi “Puisi untuk Orangtuaku” Muhammad Ansyar juga terpaksa tak bisa jujur karena ia takut terhadap kemarahan ayah ibunya. Dengan melankolis, Ansyar mengakui bahwa hatinya begitu rapuh. Kemarahan orang tuanya membuatnya tidak merasa bebas. Ia juga tak bisa melihat keramaian dengan jelas. Dengan kata lain, hidupnya selalu sepi. Pada puisi “Krak!” Zian dengan tegas mendeskripsikan perseteruan antara anak dengan Bapak. Zian ingin memberontak tapi bapaknya balas membentak. Ketika Zian menyentak, bapaknya balas menggertak. Ujung-ujungnya Zian merasa ada yang retak karena tiap kehendaknya selalu tidak sama dengan kehendak Bapak. Agaknya puisi ini terhubung dengan puisi “Kampung Batu”. Dalam “Kampung Batu” Zian akhirnya mengakui bahwa ia pun telah berani melawan orang tuanya. Ia melakukan kedurhakaan – mengikuti seluruh orang di kampungnya – justru di saat orang tuanya sedang mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya. Secara berlawanan Zian juga ingin mengemukakan bahwa masih ada setitik harapan dari doa dan ampunan orangtuanya. Tapi sepertinya menjadi batu sudah terlanjur menjadi ancaman yang menakutkan bagi dirinya. Zian merasa ia pasti akan membatu pula. Zian tidak sendiri, orang sekampung bahkan telah lebih dulu menjadi batu. Ternyata “bersuara” pun akan berujung pada diam. Seperti diamnya batu-batu yang terbuat dari anak durhaka. 
Puisi-puisi tadi mengingatkan saya pada puisi Arief Rahman Heriansyah yang berjudul “Sajak Ayah; Pada Pernyataan Ngarai Sastra” dalam buku Balian Jazirah Anak Ladang (2011:5-6).
Puisi tersebut berisi suara hati Arief tentang ayahnya: “…/kemudian saatnya menjadi bisu/ bisu yang tertahan di kemudian…// dalam sajak Ayah; mengapa terlalaikan oleh cinta/ dalam sajak Ayah; hempaskanlah apapun maksud baikmu/ dalam sajak Ayah; aku selalu menggenggam fatamorgana/ dalam sajak Ayah; mengapa bingkisan tua itu masih terkatup rapat?...// …dalam luka aku menggores sajak/ pada langit buram yang tak kumengerti”. Sama seperti Zian dkk, Arief pun menjalani saat-saat menjadi bisu.
Diksi-diksi seperti hasrat, mimpi, imaji, dikontraskan dengan tak bernyali menjelaskan apa yang disebut dengan fatamorgana. Suasana sedih mewarnai puisi ini dari awal sampai akhir. Arief bahkan merasa perlu menegaskan kelukaan hatinya dengan memberi catatan pada puisinya tersebut, “*Ayah; kehendakmu goreskan sakit hatiku, bagaimanapun aku tetap mencintaimu…
Jurang yang menganga antara orang tua dan anak; ketidakterampilan dalam berkomunikasi, kerap menutupi maksud baik orang tua terhadap anaknya. Akhirnya ada anak yang merasa terpaksa menuruti semua keinginan orang tuanya. Artinya, ia mau saja menepiskan keinginan dirinya sendiri demi berbakti pada orang tua dan menelan konsekuensinya: hati yang terluka. Ada juga anak yang memilih berontak – lalu durhaka. Sementara Zian dkk terkatung-katung antara keduanya. Akhirnya mereka memilih berteriak lewat puisi. Uniknya, puisi-puisi tentang orangtua tersebut didominasi oleh sosok orangtua laki-laki. Imam menyebutnya “Bapak”. Ansyar dan Arief menyebutnya “Ayah”, Zian menyebutnya “Bapak” dan “Abah”. Adakah misteri yang tak bisa ditemukan jawabannya antara ayah dan anak laki-laki?
-------------------------------------------------------------------------------------------------

* Nailiya Nikmah JKF lahir di Banjarmasin, 9 Desember 1980. Pencinta hujan ini sejak kecil menyukai sastra dan menggemari baca tulis, menjalani masa remaja yang indah di Amuntai. Nailiya aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banjarmasin dan Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Kalimantan Selatan. Sekarang ia menjadi pengajar Bahasa Indonesia di Politeknik Negeri Banjarmasin, sering menjadi pembicara pada seminar, pelatihan, workshop, diskusi, bedah buku seputar kesusastraan dan keterampilan berbahasa. Beberapa karyanya yang telah dibukukan adalah Nyanyian Tanpa Nyanyian (Antocer bersama-9 penulis perempuan Kal-Sel), Menulis itu Mudah (esai bersama), Konser Kecemasan (Kumpulan Puisi Lingkungan Hidup/Puisi bersama), Rindu Rumpun Ilalang (antocer sendiri), Kalimantan dalam Prosa Indonesia, Pelangi di Pelabuhan (kumcer bersama FLP), Antologi Bersama-Puisi Religius Indonesia “Para Kekasih”, Ketika Api Bicara (antocer HSU), Senja di Teluk Wandoma (antocer nasional bersama), Malam Kumpai Batu (anto kisdap bersama), Kiat Menulis dan Cerpen Pilihan (bersama penulis HSU). Cerpennya “Mangadap Langit” terpilih sebagai juara harapan III Lomba Menulis Cerpen Bahasa Banjar, Disbudpar.