Tampilkan postingan dengan label blog collab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog collab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2020

Gaya Belanja pada Masa Pandemi

16.09 9 Comments
Masa Pandemi membuat gaya belanja kami berubah. Kami jadi jarang ke luar rumah dan ke tempat belanja. Semua bisa dilakukan dari rumah sekarang. Hidup telah berubah. Akan tetapi, hei jangan salah. Jangan kira ini begitu mudah terjadi padaku. Ini kisahku di Hari Pelanggan Nasional (4 September) yang kutulis sebagai artikel yang kuikutkan dalam FBB Kolaborasi Edisi bulan ini.


Untuk sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup, aku selalu menundanya. Aku tidak mau ikut-ikutan gaya orang lain. Selama aku belum memerlukannya aku tidak akan mengikuti perubahan atau gaya orang lain yang lagi trend sekalipun.
Dulu, ketika teman-temanku sudah punya akun belanja online, aku masih bertahan dengan belanja gaya konvensional. Sesekali aku menitipkan belanjaanku pada mereka jika kebetulan barang yang kami inginkan sama. Lumayan menghemat ongkir dan berpeluang mendapatkan diskon kata temanku. Temanku yang lainnya malah sudah memiliki akun berjualan online. Aku semakin jauh dong tertinggalnya.


Kemunculan berbagai aplikasi transaksi belanja dan lainnya membuat aku semakin merasa "Hello, Nai. Wake up. Kamu masih hidup, kan?" 

Aku sadar semua ini tidak bisa dihindari tapi aku merasa masih belum memerlukannya. Aku tidak memasang aplikasi tersebut di smartphone-ku. Jika aku terdesak memerlukannya, aku biasanya minta bantuan saudaraku. Aku menelponnya lalu meminta dia, entah memesankan Go***, memesankan barang, dan sebagainya.


Suatu hari aku ikut sebuah training di Jakarta. Sendirian. Setelah mendarat di Bandara Soetta, mulailah masalahku. Untuk menuju hotel yang sudah dipesankan oleh sepupuku, aku disuruhnya memesan mobil G***. Aku belum memasang aplikasinya bahkan di hp. Sesuai petunjuk sepupuku, aku minta bantuan petugas stand G*** yang ada di bandara saat itu. Dia memasangkan aplikasi di hp ku hingga memesankan aku sebuah mobil untuk mengantarku ke tempat tujuan. Sejak itu dua aplikasi transportasi ada di hp-ku.


Usai pelatihan, aplikasi itu sangat jarang aku pakai. Hingga tiba masa Pandemi yang sangat mengguncang dunia ini. Bulan-bulan pertama aku masih bertahan. Tidak menggunakan aplikasi apapun untuk hidup. Aku sesekali masih keluar untuk belanja.  Lama-lama aku lelah. Akhirnya sedikit demi sedikit aku belanja online lewat aplikasi tersebut. Paling banyak kupakai Untuk  membeli makanan dengan sistem bayar tunai di tempat.

Sesekali aku pergi ke ATM untuk melakukan pembayaran. Masih ribet? Yup. Aku masih tidak mengaktifkan mobile banking.
***


Pada Hari Pelanggan Nasional ini, aku juga mau cerita tentang pada akhirnya aku melakukan sesuatu terkait mobile banking.
Suatu hari -panjang ceritanya- aku harus mengirimkan uang beberapa teman di kantor melalui rekening aku, sebagian lainnya melalui rekening temanku. Aku pun pergi ke bank. Oleh bank aku ditolak mengirim melalui teller karena sesuatu hal. Aku diminta mengirim lewat ATM saja. Setelah aku coba ternyata lewat ATM pun gagal. Oleh pihak bank, aku diminta mengirim via mobile banking. Jujur aja ya saat itu sebenarnya aku rasa mau menghilang dari muka bumi tapi aku harus segera mengirim. Akhirnya aku menyerah ketika pihak bank memasangkan aplikasi mobile banking di hp-ku. Dia juga mengajari aku cara menggunakannya.
***

Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Hohoo...aku sekarang sudah lihai transfer-transfer lewat hp. Hihi. Efek lainnya, aku sudah bisa belanja online terutama saat kebutuhan mendesak dan mendadak ditambah situasi Pandemi yang sangat membatasi gerak ini.

***
Zaman berubah, teknologi berkembang, gaya belanja pun menyesuaikan. 


Bertepatan dengan hari Pelanggan Nasional ini aku menyadari satu hal bahwa aku bisa berubah meski harus melalui kondisi darurat terlebih dahulu. Tentu saja itu membuatku lega. Bukankah kita perlu bergerak dan berubah? Bukankah air yang diam akan menimbulkan penyakit? Selain itu, konon dinosaurus punah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. 

Selasa, 09 Juni 2020

5 Langkah Penting Menyiapkan Kampus Menuju Kenormalan Baru #FBBKolaborasi

19.40 15 Comments

Oleh Nailiya Nikmah





Setelah berbagai istilah muncul terkait pandemi covid-19, kini muncul istilah lainnya yaitu new normal. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini disebut kenormalan baru. Istilah new normal dalam konteks Covid-19 merupakan sebuah istilah yang mewakili suatu konsep langkah percepatan penanganan covid-19 dalam bidang sosial, ekonomi dan tentu saja kesehatan. (Istilah ini juga yang menginspirasi FBB Kolaborasi kali ini).

Presiden telah meminta seluruh jajarannya untuk mempelajari kesiapan penerapan new normal alias kenormalan baru di Indonesia. Tidak semua negara, wilayah atau daerah langsung bisa menerapkan kenormalan baru. Ada berbagai pertimbangan dan kriteria sebelum era yang baru ini diterapkan. Menurut WHO salah satu kriteria suatu negara boleh menerapkan new normal adalah negara yang bersangkutan terbukti mampu mengendalikan penularan covid-19.

Penerapan kenormalan baru juga harus diiringi dengan kedisiplinan protokol kesehatan yang memerlukan peran dan kerja sama berbagai pihak. Yang perlu disadari bersama adalah kenormalan baru tidak sama dengan normal. Ada banyak hal yang berubah. Ada banyak kebiasaan baru yang harus kita tanamkan dan lakukan. Ini tidak mudah. Butuh kemauan, kedisplinan, kerelaan dan kesadaran yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.

Civitas akademika alias masyarakat kampus merupakan salah satu kelompok atau lapisan dalam struktur masyarakat kita. Kelompok ini merupakan kelompok orang-orang yang dekat dengan dunia ilmu pengetahuan dan informasi. Jadi, sudah seharusnya menjadi contoh pelaksanaan kenormalan baru yang baik dan benar kerika nantinya era ini diterapkan.

Nah, apa saja yang harus dilakukan ketika kampus hendak menerapkan kenormalan baru? Berikut persiapannya versi Tatirah di nailiyanikmah.com yang ditulis dalam rangka FBB Kolaborasi edisi Juni 2020.

Memastikan bahwa kampus merupakan zona aman

Memastikan status zona kampus adalah langkah awal yang harus dilakukan sebelum kampus benar-benar menerapkan kenormalan baru. Apakah kampus termasuk zona hijau, merah atau mungkin hitam? Untuk itu, pastikan data yang diterima akurat, tepat dan dapat dipercaya. Transparansi informasi sangat diperlukan dalam hal ini sebab ketika gerbang kampus telah dibuka, itu artinya kerumunan orang akan segera memenuhi lingkungan kampus. Orang-orang yang selanjutnya berada di bawah tanggung jawab kampus selama mereka berada di kampus.

Memiliki suatu kepanitiaan khusus penanganan covid-19

Alangkah idealnya jika kampus memiliki suatu kepanitiaan khusus terkait covid-19, kepanitiaan yang bisa saja melibatkan dosen dan mahasiswa dalam kegiatannya. Sebaiknya dipilih orang-orang yang memang concern dan peduli terhadap pandemi ini – yang juga berfungsi sebagai pusat data dan informasi per-covid-an di kampus.

Melakukan sosialisasi dan persamaan persepsi terhadap konsep kenormalan baru

Sebelum gerbang kampus dibuka alias kenormalan baru diterapkan, sebaiknya pihak kampus sudah melakukan sosialisasi ke seluruh elemen kampus tentang prinsip-prinsip kenormalan baru yang akan diterapkan kampus sehingga terjadi proses penyamaan persepsi tentang bagaimana seharusnya konsep ini dilakukan bersama, dengan visi dan spirit yang sama. Jika ini sudah dilakukan maka setiap orang akan mudah diarahkan untuk melakukan penyesuaian seperti akan sukarela dan senang hati memakai masker ketika berada di kampus bahkan mengubah strategi pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan semangat new normal. Misalnya waktu untuk berada di kelas lebih singkat, jika perlu membuat jadwal baru dengan sistem bergiliran, selain itu lebih mengoptimalkan PBM Daring.

Memiliki kebijakan dan protokol kenormalan baru yang baik dan benar hingga ke unit terkecil

Semua langkah akan percuma jika langkah yang satu ini dilalaikan oleh pihak kampus. Kampus harus menyiapkan kebijakan dan protokol kenormalan baru yang baik dan benar yang mengatur kehidupan kampus di era yang baru hingga ke unit-unit terkecil. Diperlukan kedisiplinan, ketegasan, jika perlu ada sanksi-sanksi bagi yang tidak menaati kebijakan atau protokol. Sebuah langkah yang bukan saja dimulai dari depan gerbang kampus (dengan pemeriksaan suhu badan dan kelengkapan atribut standar) melainkan langkah yang sudah harus dimulai dari rumah sejak mau berangkat ke kampus.

Menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai

Bagian akhir dari persiapan yang juga tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai. Beberapa hal yang harus diprioritaskan misalnya melakukan penyemprotan desinfektan; menyediakan sumber air untuk cuci tangan di banyak titik beserta dengan sabunnya plus handsanitizer; menyediakan tempat sampah sesuai jenis sampah; menyiapkan para petugas kebersihan yang cekatan, sigap dan paham akan tugasnya; menyediakan masker cadangan; mengatur ulang tata ruang dengan jarak tertentu untuk setiap posisi. Bukan hanya ruangan untuk PBM dan administrasi/pelayanan, perlu juga diperhatikan kelayakan dan kesiapan ruangan /fasilitas lain seperti tempat parkir, kantin, perpustakaan, mushola/ tempat ibadah, laboratorium, dsb (:sebaiknya pelajari referensi dari badan kesehatan dunia).

Demikian hal yang sebaiknya sudah disiapkan. Jika semua sudah siap, apa yang perlu ditakutkan? Kita wajib takut jika kita belum siap. Tagar #dirumahsaja jika belum siap. Nah, bagaimana menurut para peserta FBB Kolaborasi lainnya? Mari bersiap!

*Tulisan ini diikutkan pada momen FBB Kolaborasi edisi Juni 2020. 

Minggu, 15 April 2018

Bumi dan Kekuasaan Perempuan dalam Novel Aroma Karsa Karya Dee Lestari

10.25 8 Comments

Novelis cantik Dee Lestari (Dee) pada Maret 2018 kembali menerbitkan novel terbarunya melalui penerbit Bentang Pustaka yang diberi judul Aroma Karsa (AK). Dilihat dari jumlah halamannya (710 hlm) buku setebal hampir 4 cm tersebut tentu bukan termasuk kategori bahan bacaan ringan, setidaknya tidak bagi saya dan kelompok ibu-ibu sibuk. Saya tidak yakin kelompok ibu-ibu sibuk bisa menyelesaikannya dalam sekali baca. Saya membaca AK dalam tiga atau empat fase pembacaan. Saya harus pandai membagi waktu agar bisa menamatkan AK dengan terus berusaha menahan sense-nya setiap saya menutup halaman untuk kemudian membacanya di fase berikutnya. Fase terakhir, saya menyediakan waktu khusus alias begadang untuk menamatkannya.
Saya berusaha menyandera setiap adegan dalam AK dan menampung segala aroma yang dideskripsikan di dalamnya. Selama proses pembacaan tersebut saya tetiba merasa indera penciuman menjadi lebih sensitif, lebih peka. Sesekali saya menciumi, membaui sekitar termasuk kulit tangan sendiri,  seakan-akan saya adalah Jati Wesi atau Tanaya Suma, dua tokoh yag memiliki indera penciuman spesial dalam AK. Diksi yang dipilih Dee dalam bangunan 61 bab tersebut seakan membuat aneka aroma keluar dari novel dan mengajak pembaca menari-nari di antara aroma tersebut.
Halaman-halaman pembuka AK membuat saya membayangkan dua pengusaha perempuan terkenal yang fokus dalam bidang kosmetik dan ramuan tradisional (jamu) di Indonesia. Kemudian saya menimbang-nimbang mana di antara keduanya yang lebih mendekati gambaran dalam novel. Halaman berikutnya saya menyadarkan diri, ini novel. Novel adalah karya fiksi. Sampai kapanpun ia tidak akan menjadi nyata meski dibangun oleh banyak fakta dan data. Jadi, realistis sajalah bahwa yang ada dalam cerita tersebut fiktif.
Terhitung sejak hlm 25, saya merasa (harus) menjadi lebih peka terhadap diksi dan kalimat-kalimat  yang mendeskripsikan kerja indera penciuman. Diikuti halaman setelahnya, saya makin yakin tokoh dalam AK bukan tokoh biasa dalam hal penciuman.

“...Jati meraih baju gantinya yang terjemur di tembok. Pergerakan udara di sekitar mereka berdua mengantarkan bau amonia berbaur sampo aroma apel yang sudah dibiarkan semalaman di rambut... Kibasan udara kini mengantarkan jejak furaneol yang digeontori metanol ke hidungnya.” (Lestari, 2018:25).

Halaman-halaman selanjutnya menambah informasi bahwa Jati Wesi, tokoh utama lelaki dalam AK tidak sekadar mampu membaui aroma tatapi lebih dari itu, ia membuat formulasi, melakukan analisis, membuat sintesis dan simpulan terhadap aneka aroma tersebut.

“Menjelang hujan turun, segala wewangian akan tercium lebih tajam baginya. Tadi, wangi asiri dan sayatan rmput begitu pekat sampai-sampai hidungnya gatal. Yang bakal hadir bukan hujan biasa, demikia Jati menyimpulkan. Hidungnya mengendus kedatangan badai. Ingin jati menyampaikan itu kepada Nurdin, tapi entah harus memulai dari mana.” (hlm 31).


Setelah rampung membacanya, saya menemukan simpul-simpul yang menalikan beberapa kata kunci yaitu bumi (:alam), perempuan dan kekuasaan perempuan yang sangat khas dalam novel ini. Siapa yang mendominasi siapa atau apa, saling silang dalam alur kehendak para tokoh. Paradigma yang dipakai dalam memahami hal-hal tersirat dan tersurat akan sangat menentukan hal-hal yang selanjutnya bakal mengepung kita pasca membaca tuntas AK. Saya menemukan beberapa kata kunci yang menuntun saya pada sebuah paradigma. Selanjutnya, berdasar kata kunci yang saya temukan, saya menggunakan teori ekofeminisme untuk menganalisis AK.
Kajian ulang terhadap paradigma sains yang mendukung dominasi alam dan perempuan sekaligus adalah agenda awal feminis new age. Kajian tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa dominasi terhadap perempuan berjalan sudah sangat  lama- bahkan sama tuanya dengan dominasi terhadap bumi (alam). Bumi-perempuan sama-sama menjadi objek eksploitasi. Ini dapat dibuktikan misalnya dari mitos atau legenda yang menyimbolkan bumi sebagai ibu (:perempuan). Kemudian gerakan spiritual feminis lebih khusus digerakkan oleh spiritualitas ekofeminisme yang mengintegrasikan kesadaran spiritual feminis dengan kesadaran ekologis. Ekofeminisme ditafsirkan sebagai gerakan spiritual (spiritual movement) oleh Starhawk – seorang tokoh spiritual ekofeminisme yang tergabung dalam konteks gerakan new age. Hal ini disebabkan oleh sudah tercakupnya transformasi nilai kultural dan ekologis di dalam penafsiran tersebut. Ia pula yang mempopulerkan kata kunci “spiritualitas ekofeminis” yang disandarkan pada bumi (earth-based) dan ekologi (ecology-based). Starhawk memberikan informasi tentang seputar kebangkitan gerakan feminisme yang melindungi kerusakan hutan dengan cara merangkul pohon yang akan di-bulldozer, seperti gerakan Chipko Andolan di India. Masih banyak lagi contoh gerakan spiritual ekofeminisme yang ramah dan sadar-ekologis seperti New Age, Moral Majority dan Happiness of Womanhood di AS (Sukidi, 2001).
Analisis ini sangat relevan dengan peringatan Hari Bumi sedunia yang dirayakan setiap 22 April.  Merayakan hari Bumi tentu tidak hanya dilakukan dengan kegiatan berupa seremonial saja, namun lebih ke peran serta aktif masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam upaya pelestarian lingkungan. Di Indonesia, upaya-upaya penyelamatan lingkungan terutama disuarakan oleh para akktivis lingkungan dan masyarakat yang tinggal di area yang mengalami kerusakan alam parah akibat eksploitasi. Sebut saja area pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit, pertambangan intan, penambangan batu alam di pegunungan, penambangan pasir, penebangan hutan secara liar sampai penyempitan area sungai. Baru-baru ini, di provinsi saya tinggal, yaitu Kalimantan Selatan telah banyak masyarakat yang melakukan upaya #savemeratus dengan sangat serius dan mengundang perhatian banyak pihak. Dalam bidang sastra sendiri, ULM pernah mengadakan seminar prosiding bertema Ekologi Sastra (2015).
Dalam kajiannya terhadap beberapa puisi tentang kerusakan hutan di Kalimantan Selatan, Alfianti (2015) menyebutkan bahwa “Yang bertanggung jawab atas kerusakan hutan juga adalah mereka yang memiliki akses pada kekuasaan yang tak bisa dilawan begitu saja oleh masyarakat.” Aroma serupa dengan pernyataan ini dapat saya endus pula dalam AK.
Sementara itu, peran perempuan terkait teori kealaman oleh perempuan Indonesia dapat dilihat dari pelbagai lini kehidupan. Dalam bidang ekonomi misalnya, perempuan Indonesia di Kalimantan Selatan begitu lekat dengan sungai sebagai jalur mata pencaharian, kemudian sawah untuk pertanian, perkebunan, perikanan hingga pertambangan. Di pasar terapung, kita akan melihat setiap subuh para perempuanlah yang mengayuh ekonomi keluarga. Begitu juga di sawah, di kebun dan di area lainnya. Perempuan Indonesia sudah akrab dengan buminya dari masa ke masa.
Meskipun demikian, dalam hal lain, perempuan kerap dijadikan simbol bagi bumi dan unsur alam lainnya. Saya ambil satu contoh, intan sebagai hasil pendulangan sering disebut “galuh” oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Mereka percaya turun-temurun bahwa intan harus disebut “galuh” karena alasan tertentu yang berhubungan dengan tradisi. Galuh adalah panggilan atau sebutan untuk gadis atau perempuan Banjar. Ini kemudian memposisikan perempuan menjadi pihak yang dikuasai (:oleh laki-laki) sebagaimana alam yang dikuasai oleh manusia. Karren J warren dalam Maimunah (2013:233) menyatakan bahwa opresi patriarki terhadap alam dan perempuan disebabkan oleh pandangan bahwa alam/perempuan adalah sesuatu yang feminin, tidak berdaya dan pantas untuk dikuasai. Politik othering ini didasarkan pada cara berpikir maskulin bahwa alam = perempuan. Dari sisi linguistik sering ditemui unsur-unsur yang meng’alam’kan perempuan atau mem’feminin’kan perempuan, misalnya frase “pemerkosaan hutan” atau “penggarapan tanah”.
Salah satu pertanyaan saya dalam analisis sederhana ini adalah “Adakah penyimbolan perempuan terhadap alam (:bumi) dalam AK? Jika ada, bagaimanakah semua hal yang terkait dengannya direpresentasikan oleh Pengarang?

Bumi (:Alam) memberi banyak tapi kehendak manusia tak berujung
Begitu banyak yang diberikan oleh alam akan tetapi manusia selalu punya kehendak di atas kehendak. Selama lebih dari tiga generasi, keluarga Prayagung menghabiskan usia dalam perburuan sumber puspa karsa. Meski percikan kekuatannya sudah berhasil dimiliki, keluarga Prayagung tidak berhenti melakukan perburuan terhadap hal yang turun-temurun diwariskan melalui dua hal kontras, dongeng dan penelitian ilmiah.

Porsi pertama akan mengubah nasibmu
Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu
Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu. (Lestari, 2018:9)

Bermula dari temuannya dalam kotak besi berupa lontar-lontar, tiga tube berisi cairan sari puspa karsa disertai selembar catatan lapuk berisi tiga pesan tersebut, Janirah memulai langkah menuju hal-hal besar dalam hidupnya. Janirah percaya ia bisa menjadi lebih daripada dirinya sebelumnya, seorang abdi keraton yang bersahaja. Janirah bukan saja pencuri benda pusaka melainkan pencuri nasib yang dengan tangannya sendiri hendak mengubah garis hidupnya. Kematian bahkan tidak mampu menghentikan ambisi Janirah. Janirah mewariskan kehendak terbesar sepanjang sejarah pesonanya kepada cucunya. Bumi telah memberi Janirah (:manusia) aneka biji, rempah, bunga, tanaman yang  menjadi bahan baku bisnis Kemara milik keluarga Prayagung beserta sari puspa karsa curian yang mengantarkan mereka menjadi pengusaha sukses dan terkenal seantero negeri. Janirah merupakan simbol yang mewakili manusia – penghuni bumi yang tercipta dalam bentuk sempurna.
Pada halaman 605 diceritakan tentang dunia lain yang tak kasat mata. Pandangan Ambrik mewakili orang Dwarapala terhadap dunia manusia cukup untuk mendeskripsikan seperti apa penghuni bumi bernama manusia. “... Kisah dunia manusia selalu bernada suram; manusia bergerak cepat dalam ragam kendaraan gaduh; jalanan keras panas menyengat telapak, rumah-rumah kotak bertumpang tindih, sesak oleh barang yang tak ia pahami; siang terasa lebih panjang karena tak terputusnya penerangan, tak mengenal sunyi; ladang subur sekaligus tempat bermain sempurna bagi sanghyang Batari Karsa. Terlalu banyak orang muram, tegang, lelah, saling tak tegur sapa, jumlahnya banyak tapi seperti terasing satu sama lain. Di dunia semacam itu, cukup satu percik untuk Sanghyang Batari Karsa memuaskan laparnya.” (Lestari, 2018:605).
Selain Dwarapala, AK mengisahkan Alas Kalingga, sebuah hutan yang tidak biasa. Yang dijaga oleh para Banaspati, yaitu anak hutan. Kisah penjagaan Alas Kalingga ini patut ditiru oleh manusia dalam kehidupan nyata sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi. Sebagaimana selama ini yang diperlihatkan oleh juru kunci pegunungan yang dapat memahami bahasa alam.

“...Mereka menyimpannya sebagai pengingat bahwa Bumi bisa dikendalikan dengan aroma. Bukan cuma pedang atau bubuk mesiu.” (Lestari, 2018:11).

Kutipan halaman 11 menggambarkan sebuah realitas tentang penguasaan dan pengendalian bumi (:alam). AK menyampaikan bahkan tidak perlu pedang dan bubuk mesiu untuk mengendalikan bumi. Cukup aroma. Terkesan mistis dan tidak ilmiah. Akan tetapi Dee mengantisipasinya secara kontras dengan menghadirka..n tokoh Raras yang menggunakan metode ilmiah dan ekspedisi serius untuk membuktikan keberadaan aroma tersebut.

Raras mendengar Puspa Karsa pada masa kecilnya, sekitar tahun 1960-an, saat Indonesia telah menjadi republik modern dan zaman kerajaan tinggal menjadi hantu arkais. Bertahun-tahun ia menelan cerita tentang Puspa Karsa tak lebih dari pengantar tidur layaknya Timun Mas dan Malin Kundang. ... semua asumsinya terjungkir pada momen ia membuka kotak besi di bank hari itu. Ia baru tersadar bahwa Eyang Putri tumbuh besar dalam lingkungan kerajaan, dan selama itu pula neneknya menyampaikan petunjuk terbalut dongeng.” (Lestari, 2018:11).

Selanjutnya, Raras menjadi pusaran perjuangan perwujudan ambisi yang diwariskan oleh Janirah. Janirah mengkader Raras sejak dini melalui dongeng masa kecil semacam Timun Mas dan Malin Kundang. Berbeda dengan anak lain seusianya, Raras mendapat tambahan “dongeng”, yaitu Puspa Karsa. Ketika waktu kematiannya telah tiba, Janirah tinggal meng-klik satu tombol dalam benak Raras untuk dalam sekejap mengubah dongeng menjadi warisan “kehendak”.

Puspa Karsa: Simbol Kekuasaan Perempuan
Secara keseluruhan, AK mengirimkan pesan tentang kekuasaan perempuan yang disimbolkan melalui Puspa Karsa. Terdapat beberapa unsur yang merepresentasikan hal tersebut. Inilah beberapa hal yang saya temukan dalam AK:

1. Keturunan laki-laki tidak bisa diandalkan
Janirah menikah dengan seorang keturunan keluarga ningrat Prayagung. Janirah dikaruniai anak laki-laki. Berikut gambaran anak lelaki Janirah yang disuarakan oleh tokoh Raras,

“... Romo ibarat kutukan. Romo tidak kebagian secuil pun keuletan Janirah Prayagung. Romo bertingkah persis ningrat-ningrat kebesaran nama, tapi tak berguna. Kerjanya Cuma makan harta turun-temurun. Romo senang membuat perusahaan baru dan macam-macam, sibuknya bukan main, tapi tak ada satupun yang jalan. Romo kebanyakan perempuan simpanan. Romo terlalu lama menghabiskan waktu di lapangan golf dan klub pria.” (Lestari, 2018:15).

Dengan deskripsi seperti itu, jelas anak kandung Janirah tidak dapat melanjutkan bisnis dan kekuasaan Janirah. Janirah menitis ke cucunya, yaitu Raras. Raras begitu sempurna menjadi replika Janirah. Ia bahkan lebih banyak melakukan gebrakan dibanding Janirah pada masanya.

2. Dominasi Raras terhadap banyak lelaki.
Raras sebagai tokoh perempuan dalam AK memiliki banyak kaki tangan maupun rekan kerja laki-laki. Dalam hidupnya, Raras selalu berhasil membuat para lelaki melakukan banyak hal sesuai dengan keinginannya. Ia bisa melakukan apapun untuk mencapai ambisinya mendapatkan sumber utama Puspa Karsa. Perusahaan Kemara hingga urusan ekspedisi Puspa Karsa memperlihatkan seluruh dominasi perempuan bernama Raras. Semua anggota tim ekspedisi pencarian Puspa Karsa adalah laki-laki yang punya ilmu, posisi dan keterampilan yang tidak main-main. Semuanya  berhasil dikuasai oleh Raras.

3. Empu Smarakandi
Jika di dunia manusia ada perempuan penguasa bernama Raras, maka di dunia dewa dalam AK Alas Kalingga memiliki perempuan hebat bergelar Empu Smarakandi. Selain kepemimpinannya, kepiawaian tokoh perempuan yang satu ini juga terlihat dalam urusan pengobatan hingga urusan asmara. Empu Smarakandi pula yang pertama kali menyadari puspa karsa telah menitis kepada Suma. Ia merupakan simbol perempuan bijak dan kuat dalam AK. Sebagaimana lazimnya kehidupan, selalu ada dua sisi berlawanan. Penokohan Empu Smarakandi menepis anggapan bahwa perempuan hanya memiliki potensi untuk mengacaukan dunia seperti yang dilakukan oleh Raras.

4. Ambrik: Istri sekaligus Ibu terbaik di Dwarapala
Sebagai perempuan yang telah dipilih oleh Batari Karsa sebagai wadak penitisan, Ambrik memahami betul tugas dan perannya serta konsekuensi apa yang harus ia lakukan sewaktu-waktu termasuk kepasrhannya terhadap ritual Girah Rudira. Sebuah ritual yang akan memisahkan ia dengan suami dan anaknya selama-lamanya. Untuk memahami perempuan pilihan bernama Ambrik, kita  bisa menyimak kutipan berikut:

“Di dalam gubuk, Ambrik tahu persis apa yang harus ia lakukan. Ia mengambil bedungan dari tangan Anung, lalu membaringkan bayi itu di dipan., bersisian dengan bayi dari dekapannya. Ambrik meminumkan air dari dalam kendi kecl kepada kedua bayi itu secara bergantian dengan telaten.” (Lestari, 2018:607)

“Sekarang atau nanti, sama saja.” Ambrik mengelus sekilas rambut suaminya. “Bantu aku.” (Lestari, 2018:608)


Kekuatan Puspa Karsa: Kekuasaan Perempuan

Puspa Karsa merupakan simbol kekuasaan dan kekuatan perempuan. Dalam AK fisik aslinya digambarkan sebagai  berikut:

“... organisme berbentuk bunga dengan ukuran sekepala manusia. Tanpa batang dan daun, bunga itu langsung tersambung ke akar. Fisiknya menyerupai anggrek yang memiliki tiga kelopak dan dua mahkota. Bagian kolomnya berbentuk sedemikian rupa hingga menyerupai rengkorak. Terjulur labelum panjang hingga ke lantai gua, bergerak-gerak seperti ular hidup. Warna dan teksturnya soperti daging busuk. ... yang lain tidak melihatnya seperti kita. Sanghyang Karsa sangat lihai membuat tipuan. Semua hewan jadi makanan bagi wujud bunganya tapi temanmu tadi dan semua penduduk Dwarapala, jika tertangkap, adalah makanan bagi rohnya. Kalau sanpai ia lepas dari wujud bunga pergi ke duniamu, beliau tidak akan habis-habis memangsa atma manuia.(Lestari,2018:646-647).

Sementara itu kekuatannya sendiri dimulai dari terbangunnya Sanghyang Batari Karsa dengan ditandai oleh bau atau aroma tajam yang sulit didefinisikan oleh indra biasa. Seiring dengan itu, Talinganbuana, semacam alarm yang dipasang Mahesa Guning akan berbunyi mengingatkan orang-orang Dwarapala akan ancaman terhadap Alas Kalingga. Ancaman terhadap dunia manusia pula. Seluruh makhluk berduyun-duyun menuju pusat aroma yang kemudian akan menjadi mangsa Puspa Karsa.
Seperti inilah efek aroma puspa karsa direpresentasikan melalui suara Lambang, salah satu tokoh AK yang menjadi bagian tim ekspedisi pencarian puspa Karsa:

“Aroma aneh di udara kian menyerang. Lambang tak tahan lagi. Ia beusaha menahan nafas dan malah semakin sesak. Anehnya bau tak lazim itu, yang bersabur limbur antara buah, bunga, kayu, rempah, daging, keringat, lendir kelamin dan entah apalagi. Terkadang begitu lezat hingga memancing liur dan membuat ia ingin menghirup sedalam mungkin. ... yang paling menggetarkan dari bau itu adalah kekuatannya. ... Lambang seperti dikuasai sesuatu dan tak berdaya mengambil alih. ... Di atas sana, di rumah-rumah pohon, pecahlah suara-suara tak terkendali. Laki-laki-perempuan. Jeritan melengking, tawa bengis, lolongan, geraman, racauan. Lambang menyaksikan kengerian baru. Rumah-rumah bergetar karena penghuninya menandak-nandak dan membetot-betot tali yang mengikat tangan dan kaki mereka.” (Lestari, 2018:644).

“Ambrik sudah diincar untuk penitisan. Kalau kalian kawin, punya anak, dan anak kalian perempuan, penitisan Sanghyang Batari Karsa akan bersambung ke anakmu, kecuali Girah Rudira dilakuan.” (Lestari, 2018:614).
Jika penitisan terjadi, maka kembangnya akan bertambah. Dunia pun semakin mudah berada di bawah kendalinya. Dee memilih perempuan sebagai perwujudan penguasa dalam AK. Dewi Puspa yang kemudian dikenal dengan Sanghyang Batari Karsa, menjelma dalam wujud bunga dan manusia perempuan, yang hanya akan menitis kepada perempuan pilihannya. Dialah yang dipanggil oleh Suma sebagai “Ibu”.

Epilog
Demikianlah, saya menemukan kekusaan perempuan dalam novel yang menyimpan pesan “Selamatkan lingkungan dari ambisi manusia” ini. Open ending yang dipilih Dee bagi saya memberikan peluang lebar bagi pemerhati ekofeminisme untuk mengkaji lebih dalam lagi. Manusia mestinya memahami betapa keserakahan dan ketidakarifan terhadap alam akan membuat celaka bagi dirinya sendiri. Semoga pembaca menangkap makna atas frase genderang perang yang dipilih Dee untuk menutup ceritanya. Akankah di dunia nyata bermunculan Banaspati-Banaspati yang dapat menjaga Hutan Meratus misalnya? Mari optimis. Mari melakukan sesuatu sebanyak yang bisa kita lakukan, sesuai peran kita di bumi ini. Selamat Hari Bumi.[] Nai

Referensi
Alfianti, Dewi. “Kerusakan Hutan sebagai Pengetahuan Bersama dalam Perspektif Sosiokognitif
Teun A. Van Dijk (Analisis Wacana Kritis Kumpulan Puisi Konser Kecemasan karya Penyair Kalimantan Selatan)” dalam Prosiding Ecology of Language and Literature, Seminar Proceedings Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Maret, 2015, 45-65.
Lestari, Dewi. 2018. Aroma Karsa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nikmah, Nailiya. “Alam dan Femininitas dalam Kumpulan Puisi Mantra Rindu Karya Kalsum Belgis“ dalam
Prosiding Ecology of Language and Literature, Seminar Proceedings Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Maret, 2015, 185 -202.
Sukidi. 2001. “Spiritualitas Feminis dalam Gerakan New Age” dalam Jurnal Perempuan No.20 Tahun 2001,
7-21. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Collab Female of Blogger Banjarmasin Edisi April 2018 dengan tema “Hari Bumi” selanjutnya sedang dikaji ulang secara serius untuk sebuah karya tulis ilmiah di bidang sastra oleh penulis.


Rabu, 14 Maret 2018

7 Hal Biasa yang Membuat Wanita Bahagia: Refleksi Hari Kebahagiaan Internasional

22.10 16 Comments

Majelis Umum PBB telah menetapkan tanggal 20 Maret sebagai hari kebahagiaan internasional atau International Day of Happiness. Ada beberapa artikel yang mengupas sejarah ditetapkannya tanggal tersebut sebagai hari kebahagiaan internasional di dunia maya. Salah satu artikel menarik ada di Voaindonesia. Dalam artikel tersebut disebutkan tahun 2012, negara kecil di Himalaya, Bhutan, membujuk Majelis Umum PBB untuk menetapkan hari kebahagiaan internasional. “Di kerajaan Bhutan, ukuran kualitas hidup dinyatakan dalam GNH (Gross National Happiness)."
Seberapa penting kebahagiaan untuk dirayakan sebagai sebuah “Hari” internasional? Akankah memperingatinya memberikan jaminan kita bisa berbahagia setidaknya pada hari itu? Memperingati hari kebahagiaan internasional memang tidak lantas membuat kita pasti bahagia. Setidaknya, pada satu haari dalam setahun kita memiliki momen untuk merefleksikan makna kebahagiaan bagi diri sendiri dan bagaimana menebar kebahagiaan ke sekitar kita.
Begitu banyak hal yang dapat membuat manusia bahagia. Mulai dari hal-hal yang berifat materi sampai hal-hal yang tak terdefinisi. Bahagia adalah hal penting dalam hidup manusia. Sayangnya, masih banyak yang salah kaprah dengan masalah kebahagiaan. Sebagian orang menganggap kesuksesan dalam hidup akan membuat manusia bahagia. Hal ini justru berkebalikan dengan fakta tentang kebahagiaan yang sesungguhnya. Ya, justru perasaan bahagialah yang dapat mendorong orang mencapai banyak hal terbaik dalam hidupnya.
Ada banyak orang di luar sana yang kerap merasa terhalang untuk berbahagia karena hidupnya yang tak kunjung mencapai kesuksesan. Jika Anda pikir Anda salah satunya, mulailah untuk mengubah paradigma Anda tentang kebahagiaan dan kesuksesan. Mulailah untuk berbahagia setiap hari agar minggu depan atau bulan depan atau tahun depan Anda akan mencapai sebuah hal terbaik dalam hidup.
Sejalan dengan waktu dan ritme hidup, tiap orang akan menemukan definisi bahagianya masing-masing. Setiap orang berhak bahagia tapi setiap wanita wajib bahagia. Terutama wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak, bahagia adalah hal wajib dalam hidupnya. Ada banyak orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada seorang wanita yang ia sebut istri, ibu, nenek. Jadi, berbahagia adalah salah satu cara untuk bisa membahagiakan orang lain.

Berikut 7 hal biasa yang membuat wanita berbahagia versi Tatirah:

1. Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga
Wanita pada umumnya memiliki fitrah mengurus pekerjaan rumah tangga. Ketika pekerjaan tersebut secara wajar dan normal dilakukan, wanita akan merasa menjadi wanita seutuhnya. Pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika pakaian, menata perabot, bahkan hal kecil seperti sekadar menggantungkan pewangi dengan aroma pilihannya di dalam toilet adalah hal biasa yang akan membuat wanita berbahagia karena telah mengekspresikan eksistensinya.

2. Melihat Anak Tersenyum
Hal yang paling membahagiakan wanita adalah melihat anak-anaknya tersenyum dan tertawa riang. Ketika anak-anak tersenyum gembira itu pertanda separuh dunia sang wanita sedang baik-baik saja.

   3.  Memastikan Anak-anak Sehat dan Beribadah Sesuai Keyakinan yang Dianut
Memastikan anak sudah menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang dianut adalah hal yang membahagiakan seorang wanita. Begitupun dengan hal kesehatan anak. Memastikan anaknya dalam keadaan sehat adalah kebahagiaan utama seorang wanita. Kadang ini bahkan lebih utama daripada nilai raport yang bagus. Untuk itu, seorang wanita bahkan ada yang sampai harus menghabiskan uangnya untuk membayar aneka vaksin dan multivitamin dari dokter spesialis anak terbaik yang ia kenal.

4. Menuliskan Daftar Impian Sebanyak-banyaknya.
Tidak peduli apakah daftar itu logis atau tidak, bisa terwujud atau tidak, menuliskan sekian impian akan membuat hari seorang wanita lebih menyenangkan. Apalagi kalau ditulis dalam buku diary berdesain cantik. Menulis dan membacanya ulang akan membuat wanita tersenyum simpul dan rasa bahagia pun akan menjalari. Secara teori, hal ini bahkan akan membuat sang penulis daftar akan mencapai impiannya.

    5. Bertemu dengan Teman Se-passion
Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Setiap orang memerlukan teman untuk saling berbagi. Bahkan setelah menikah dan mempunyai anak, seorang wanita memerlukan teman seirama dan se-passion untuk sekadar saling sapa dan meyakinkan diri, hei aku tak sendiri di jagad raya ini! Di era digital, pertemuan dengan teman se-passion bahkan tak terbatas dan tersekat oleh ruang dan waktu. Tentu saja ada batasan etika, norma dan agama yang harus selalu dipatuhi. Dalam keadaan wajar, hal ini bisa menjadi satu hal yang membuat wanita berbahagia.

    6. Mengerjakan Hobi di Waktu Luang
Setelah menikah dan mempunyai anak, tak jarang seorang wanita kehilangan kesempatan untuk mengerjakan hobinya. Kembali menekuni hobi terutama di saat luang adalah hal membahagiakan bagi wanita. Tentu saja tidak sebanyak waktu masih single. Jika sebelum menikah bisa membaca tiga buku dalam satu pekan, mungkin setelah mempunyai anak, membaca satu buku favorit selama satu bulan masih terasa cukup untuk menekuni hobi lama membaca buku.

   7. Menjadi Teman Diskusi Suami
Poin terakhir ini sangat penting bagi kebahagiaan hakiki wanita. Wanita memerlukan rekan setara dengannya untuk berdiskusi banyak hal. Ketika suami memilihnya sebagai teman diskusi, wanita akan merasa dihargai dan diakui keberadaannya sebagai teman hidup. Hanya saja, dalam banyak kasus, poin terakhir ini akan terdengar sebagai “memiliki pendengar setia” karena yang terjadi adalah wanita yang akan lebih banyak bicara dan itu sangat membahagiakan bagi wanita.

Demikian 7 hal biasa yang dapat membahagiakan wanita. Selamat berbahagia! [] Nai.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Collaboration Female Blogger BanjarmasinEdisi Maret 2018

Kamis, 08 Februari 2018

KISAH ROMANTIS: PUISI, BUKU DAN CERITA CINTA KITA

21.33 13 Comments

Siapa bilang Dilan cowok paling romantis abad ini? Di belahan bumi ini, aku mengenal sesosok cowok romantis selain Dilan. Namanya Jimmy. Dia teman seangkatanku di kampus ungu. Orangnya sederhana, humoris, baik hati dan suka menolong. Ketika aku terpilih menjadi ketua himpunan mahasiswa prodi, dia menjadi ketua di salah satu divisinya. Dari beberapa interaksiku dengannya, aku tahu dia suka menulis puisi. Setelah tahu aku juga suka puisi, kami sering membahas puisi dan tukar-menukar puisi untuk dibahas. Teman-temanku sering mencandai aku.
“Kayaknya ada yang naksir, nih”
Aku cuek saja karena saat itu aku sudah mantap untuk tidak pacaran sebelum nikah. Jadi, ceritanya aku baru mendapat hidayah, berhijab lebih rapi, mencoba belajar agama lebih baik dan menyeluruh.

Dia suka meminjam bukuku. Aku suka mengoleksi novel-novel islami. Jimmy meminjam beberapa. Suatu hari dia menyapaku dan bertanya, “Eh, di mana sih beli buku serial Nida yang judulnya Apapun Namanya Melati Tetap Harum?”

“Lho, bukannya kamu sudah kupinjami buku itu kemaren?”
“Eng, eh, anu,,aku mau beli, bukunya bagus”
“Kayaknya ada yang disembunyikan nih... Jujur saja, bukuku rusak ya?” tanyaku.
Dia pun tertawa malu. Ternyata benar, bukuku tak sengaja rusak lalu ia hendak menggantinya.
“Tidak perlu,” ucapku.
Dia favorit sekali dengan buku itu lho, hehe.

Suatu ketika, aku ikut sebuah pengajian yang membahas beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Salah satunya puisi! Aku pun jadi galau. Apalagi dalam acara tersebut dibahas juga beberapa pekerjaan yang baik untuk  muslimah. Tidak ada penulis puisi atau karya sastra di dalamnya. Cerpen, novel dan yang lainnya adalah cerita bohong, itu yang dikatakan pemateri. Padahal aku baru saja keluar dari kampus teknik dan pindah ke kampus bahasa sastra. Aku memendam kegalauanku sendiri. Tak ada teman sekelas yang mengetahuinya termasuk Jimmy.

Di tengah kegalauanku, sungguh keajaiban, Jimmy meminjami aku sebuah buku. Buku bertema religi sastra. Aku lupa judulnya. Salah satu yang dibahas dalam buku itu adalah tentang para penyair. Itulah pertama kalinya aku tahu ada nama surat dalam kitab suciku yang berhubungan dengan puisi. Nama suratnya adalah Asy-syuaraa yang artinya para penyair. Dalam buku tersebut dikutip QS Asy-Syuaraa ayat 224-227 (cari sendiri yaa dalam Alquran).
Setelah membaca buku itu aku jadi lega. Aku sangat berterima kasih pada Jimmy karena sudah meminjami buku tersebut. Itulah titik “wow” dalam hidupku terhadap kegiatan perpuisian. Aku semakin yakin dengan jalan yang kupilih.

Ketika program kerja kami dipatahkan dan ditentang beberapa dosen prodi, Jimmy malah menyemangatiku. Saat itu, untuk pertama kalinya ada acara bertajuk Olimpiade Sastra Se-Kalimantan Selatan dan kami yang menjadi penyelenggara. Aku sebenarnya takut program ini gagal. Ternyata Jimmy dan kawan-kawan seluruh divisi benar-benar memberikan yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Inilah program terbesar di kepemimpinanku.

Puisi-puisi Jimmy berikutnya menyiratkan rasa hatinya padaku. Aku mulai membenarkan olok-olok temanku dan aku mulai takut dengan sebuah rasa yang mulai muncul.


Akupun berdoa pada Tuhan, doa para jomblo  pada umumnya. Jika dia baik untukku, dekatkanlah, jika dia tidak baik untukku, jauhkanlah.

Di hari lain, sedang asyik kuliah Wacana, seseorang menepuk bahuku dari belakang menggunakan buku. Aku kaget, ternyata Jimmy. Ia menyodorkan sebuah buku tebal. “Aku pinjam di perpus, kayanya kamu suka, aku sudah baca, nih kupinjami,” bisiknya. Buku itu berbungkus kertas koran. Karena penasaran, aku pun segera membukanya, sesaat kemudian aku melotot karena kaget, judul bukunya “Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya”. Saking kagetnya, kertas koran pembungkusnya terjatuh.
Sialnya, dosenku melihat. Salahku juga, duduk paling depan berani-beraninya membuka buku lain di saat kuliah. Beliau mengambil bukuku dan membaca judulnya lantang. “Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya”. Beliau tersenyum-senyum lalu menyambung..”Kaya anak barangkali ya?” Malunya akuu.

“Cek email, ya!” pesan Jimmy suatu ketika.
Akupun pergi ke warnet. Zaman old, ngecek email ya ke warnet dulu laah. Ya ampun...isinya puisi sekaligus sebuah lamaran romantis.
Setelah itu Dilan eh Jimmy bertamu ke rumahku, melamarku langsung ke ayahku. 
(Beberapa hari kemudian baru orang tuanya dan orang kepercayaan mereka datang melamarku secara resmi).

Bagaimana? Lebih romants dari kisah Dilan, kan? Hehe.
Jadilah hari itu, 3 November 2002 kami menikah. Saat itu aku masih kuliah s1, baru saja selesai PKL, baru mulai menggarap skrispi dan masih memegang amanah sebagai ketua himpunan mahasiswa prodi....[]


Kamis, 04 Januari 2018

3 Drama Korea Terbaik Sepanjang Masa yang Memuat Kisah Cinta Anak Perempuan Kepada Ayahnya

19.54 6 Comments
Apa yang terbayang di benakmu mendengar “Korea Selatan”? Apakah Kosmetik? Musik K-Pop? Tampang-tampang putih mulus dengan mata sipit? Kostum dengan rok mini? Atau film-film alias dramanya yang so romantic? Ya, semua hal tersebut memang menjadi bagian trend Korea Selatan. Hal-hal tersebut tidak akan habisnya untuk dibahas terutama oleh para penggemar Korea.
Di antara sekian hal berbau Korea, kali ini aku akan membahas satu hal yang paling aku sukai, yaitu film alias dramanya. Secara umum, melalui film atau drama, tidak hanya hiburan yang bisa kita peroleh tetapi juga hal-hal lain yang berada di sebaliknya, salah satunya adalah nilai budaya. Begitu juga dengan drama Korea. Bukan hanya sisi romantisnya yang bisa kita nikmati (:sebagai sebuah hiburan), melainkan nilai penting lainnya seperti budaya Korea itu sendiri, terutama budaya keluarga.
Semua anggota keluarga penting, tentu saja. Begitupun dalam budaya Korea. “Secara khusus, kebudayaan garis keluarga di Korea berdasarkan atas sistem patrilineal. Pria memegang peranan penting dalam kesejahteraan keluarga dan diwajibkan untuk bekerja. Budaya perkawinan Korea menghormati kesetiaan. Para janda, walaupun suaminya sudah meninggal di usia muda, tidak diizinkan menikah lagi, dan harus mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tua dari suaminya, begitu juga sebaliknya jika istri yang meninggal lebih dulu.” (viegagaby.wordpress.com).
Kita bisa mencari sinopsis aneka film dan drama korea (drakor) melalui mesin pencarian google tapi tentu saja akan lain rasanya dibanding dengan menontonnya sendiri. Dengan alasan itulah, tulisan ini hanya membahas beberapa drakor yang sudah pernah kutonton sendiri. Aku bahkan menontonnya lebih dari 1 kali. Dari beberapa yang kutonton, secara umum aku menemukan dalam drama Korea terdapat nilai budaya berupa sikap dan pengungkapan rasa cinta seseorang kepada anggota keluarga lainnya – bisa orang tua, saudara, kakek atau nenek, dan anggota keluarga lainnya. Secara spesifiknya lagi, aku akan membahas cinta anak perempuan kepada ayahnya yang terdapat dalam film Korea, baik itu sebagai hal yang mendominasi maupun hal selintasan saja karena kisah cinta anak perempuan kepada ayahnya adalah kisah teristimewa yang pernah ada di jagat raya.
Berikut adalah 3 drama Korea terbaik yang memuat kisah cinta anak perempuan kepada ayahnya – yang pernah kutonton (urutan tidak mempengaruhi):



1. 49 Days.
Drama ini termasuk dalam kategori drama fantasi Korea Selatan yang awalnya disiarkan oleh SBS pada 2011 berjumlah 20 episode. 49 Days sebenarnya berkisah tentang cinta sejati yang sangat luas. Tokoh perempuan Ji Hyun sedang koma di RS yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan mobil. Selama ia koma, rohnya meninggalkan tubuhnya dan bertemu malaikat. Ji Hyun dapat berkomunikasi kembali ke kehidupan nyata dengan meminjam tubuh orang lain, yaitu Song Yi-Kyeong. Ji Hyun bisa hidup kembali kalau selama 49 hari (ini ada dalam bagian kepercayaan Budha) ia bisa mendapatkan 3 tetes airmata masing-masing dari orang yang mencintainya (di luar anggota keluarganya). Selama proses pencarian 3 tetes air mata itulah banyak kebenaran terungkap di mata Ji Hyun yang selama ini menjalani hari dengan kepolosan dan keceriaan sebagai anak tunggal seorang pengusaha kaya. Saat koma, Ia baru mengetahui bahwa tunangannya menipunya, begitu juga sahabatnya. Kemudian ia juga mengetahui ada lelaki lain yang lebih mencintainya dan sebenarnya juga lebih ia cintai daripada tunangannya. Keinginan Ji Hyun untuk bisa hidup semata-mata karena ia ingin menyelamatkan keluarganya, khususnya ayahnya. Ayahnya telah ditipu oleh tunangannya sendiri. Di sinilah muncul sisi kecintaan seorang anak perempuan pada ayahnya ditonjolkan. Bagaimana kita mengungkapkan cinta kepada orang yang kita cintai dengan meminjam tubuh orang lain (yang di akhir cerita terungkap sebagai saudara kandungnya yang dulu hilang), inilah konflik batin drama 49 days. Beberapa adegan mengharukan yang melibatkan Ji Hyun dengan ayah menguras airmata.

   2. Prime Minister and I

Drama ini termasuk dalam kategori drama komedi romantis berjumlah 17 episode. Tokoh utamanya adalah Nam Da –jung (Yoona), seorang jurnalis yang menulis pada sebuah tabloid untuk mengobati ayahnya yang sedang sakit. Perjuangannya membuat ia harus menjalani pernikahan kontrak dengan seorang perdana mentri – duda dengan 3 anak. Sebagaimana kisah drama romantic, sudah bisa ditebak jika nantinya Nam Da-jung dan perdana mentri akan saling jatuh cinta beneran. Yang mengharukan adalah Nam Da-jung merahasiakan semua itu pada ayahnya. Ia sedang berjuang mengobati ayahnya. Ia pikir, ayah tidak boleh tahu segalanya yang telah ia lakukan. Sementara itu, Ayahnya sedang berjuang melawan penyakit yang lambat laun akan melumpuhkan ingatannya. Ayah memahami dengan baik apa yang sedang ia derita. Selama dirawat, ayah menulis di buku harian. Yang ia tulis pernah dibaca oleh Nam Da, ia pun menangis tersedu ketika membaca diary ayah. Ayah menulis nama Nam dan tanggal lahirnya, ayah tahu suatu saat ia akan lupa segalanya termasuk siapa dirinya dan Nam. Ia tidak ingin kehilangan memori tentang anak gadisnya yaitu Nam Da. Adegan mengharukan ketika Nam menikah meski hanya pura-pura dengan Perdana Mentri. Akan tetapi, kebaikan hati Nam membuat Perdana Mentri pun memperlakukan ayah sebagaimana mertua sebenarnya. Ayah hampir saja percaya selamanya bahwa pernikahan mereka asli jika saja ia tidak membaca diary Nam. Betapa penting membuat ayah selalu bahagia ditunjukkan oleh Nam dalam drama ini. Betapa hancur hati ayah ketika tahu pernikahan Nam bukan sesungguhnya, akan tetapi sesaat kemudian penyakit ayah semakin parah. Ayah mulai kehilangan memorinya. Nam pun harus merelakan kepergian ayah untuk selamanya.

   3. Will it Snow for Christmas
 

Ini termasuk drama romans berjumlah 16 episode, tayang pertama kali oleh SBS 2 Des 2009 – 28 Jan 2010. Film ini juga bercerita tentang cinta sejati. Kang Jin dan Ji won, sepasang remaja yang awalnya tidak ada hubungan apa-apa menjadi saling tertarik satu sama lain. Akan tetapi sebuah tragedy membuat cinta keduanya selalu diuji sepanjang masa. Kang Jin kehilangan liontin berharga dari ayahnya. Liontin itu hilang di sungai dalam sebuah perseteruan. Secara tidak langsung penyebabnya adalah Ji won. Ji Won merasa bersalah dan kasihan. Setiap hari ia menyelam mencari liontin sampai kakaknya turun tangan membantu. Malang, kakak Ji Won tewas tenggelam dalam pencarian liontin. Ibunya marah dan memaki-maki Ji Won. Ji Won pun membenci Kang Jin. Pada akhirnya nanti mereka berdua disatukan kembali. Akan tetapi dalam proses tersebut, Ji Won pergi meninggalkan rumah karena tidak tahan atas perlakuan ibunya yang selalu menyalahkannya atas kematian sang kakak. Ayahlah yang melindungi Ji Won. Ketika harus pergi, Ji Won sangat sedih karena harus meninggalkan ayah yang mencintai dan dicintainya. Ji Won tidak terlalu dicintai ibunya sendiri.
Selanjutnya, Ji Won meneruskan bakat ayahnya dalam pengobatan tradisional. Meski waktu kecil Ji Won tidak terlalu pintar, ternyata ia dapat mewarisi bakat ayah meski untuk itu ia harus bekerja dan belajar lebih keras.  Adegan mengharukan adalah ketika mereka bertemu kembali dan saat itu Ji Won harus menghadapi dilemma antara cinta ayah dan Kang Jin. Ibu Kang Jin ternyata adalah selingkuhan ayahnya.  
Demikian 3 Drama Korea terbaik yang memuat kisah cinta anak gadis kepada ayahnya. Melalui drakor tersebut kita bisa melihat bagimana rasa cinta sejati yang diberikan oleh anak kepada ayah yang bahkan kadang harus mengalahkan cintanya kepada sang kekasih pujaan hati. Semoga bermanfaat dan menginspirasi! [Nai]

Senin, 11 Desember 2017

Selamat Jalan Luka, Selamat Datang 2018

13.26 29 Comments

Selamat Jalan Luka, Selamat Datang 2018
(Resolusi 2018 Nailiya Nikmah JKF)


Aku bukan tipe orang yang suka merayakan sesuatu berlebihan, termasuk tahun baru. Bagiku, tahun baru lebih dari sekadar sebuah perayaan atau pesta. Tahun baru kujadikan sebuah momen untuk menyetting perubahan diri ke arah yang lebih baik. Bukankah terkadang orang memerlukan momen tertentu sebagai pemicu upgrade diri? Kebetulan aku lahir bulan Desember, pas sekali momen tahun baru Masehi sekaligus momen “tahun baru” ku secara pribadi.
Biasanya aku membuat daftar “ini-itu” alias daftar perencanaan untuk tahun mendatang. Aku menuliskannya di buku Diary. Kadang beberapa kutuliskan di kertas yang kutempel di dinding kamar. Kadang, ada juga sebagian kecil yang hanya kucatatkan di langit-langit kamar, di angan-angan dan khayalku (yang ini biasanya sifatnya rahasia).
Sebelum menulis resolusi untuk tahun baru, biasanya juga aku kilas balik tahun yang sudah dijalani. Hal apa yang sudah dicapai, hal apa yang belum. Termasuk hal-hal yang mengganggu otak dan hati, jangan sampai mengganggu kewarasan diri di tahun berikutnya (hehe).

2017 dalam Kenangan
2017 nyaris sama dengan tahun sebelumnya jika saja aku tidak mempunyai anak-anak yang special. Keempat anakku sama spesialnya. Pada 2017, si kembar bermasalah dengan sekolahnya. Kami bahkan sampai harus memindahkan mereka ke sekolah yang lain. Sementara itu, para kakak baru saja memasuki dunia ABG. Dunia kupu-kupu kertas menurut Ebiet G. Ade. ABG kami yang perempuan sedang asyik dengan K-Pop, yang laki-laki sedang asyik dengan kegiatan naik gunung. Keduanya mulai tertarik dengan lawan jenis. Mereka pun sudah mulai suka membantah, melawan dan menolak aturan kami. Sebagai ibu yang merangkap wanita karier, semua persoalan itu cukup membuat hatiku was-was.

2017 adalah tahun kami sekeluarga melek dokter dan rumah sakit. Diawali dengan ayahku yang mendapat serangan stroke yang kedua (serangan pertama tidak kami sadari). Ayah yang selama sakit tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit, akhirnya pasrah kami bawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Tepat setelah kami sholat Idul Adha, 5 September 2017, kami sekeluarga (:keluarga besar) membawa ayah ke rumah sakit. Di ruang IGD, kami bahkan berkali-kali ditegur satpam karena kelebihan penjaga. Banyak sekali pelajaran dan hikmah selama ayah sakit. Ayah nyaris terlambat ditangani. Ayah salah minum obat, ayah kena dampak buruk beli obat sembarangan. Ayah kena stroke dua kali! Bukan sakit biasa. Ayah juga kena gangguan ginjal, untung tidak sampai harus cuci darah. Ayah kehilangan memorinya, demensia istilahnya. 14 hari opname, pulang ke rumah 5 hari, balik lagi opname seminggu. Aku berburu buku dan referensi tentang stroke, ternganga-nganga membaca, kadang sambil berderai airmata. Bagaimana aku bisa setolol ini selama ini – gumamku setiap habis satu bacaan. Kami seperti baru ngeh dengan dunia kedokteran dan medis. Intinya, kami melek dokter dan rumah sakit. Aku yang sebelumnya sudah bye-bye dan menyatakan loe-gue end dengan dokter, kembali mencoba menjalin hubungan baik (apa coba).

Belum selesai mengurus ayah, salah satu anak adikku mendapat sakit yang tidak sepele yang membuatnya harus opname juga di rumah sakit yang lain. Kami seperti pontang-panting menghadapi serangan penyakit. Belum lama ke-shock-an kami, anakku yang bungsu bermasalah dengan telinga. Singkat cerita, ia harus operasi pemasangan grommet. Apa itu grommet? Bius total? Oh, aku seperti tersesat di dunia entah. Nanti akan kuceritakan di kesempatan lain. Kata dokter, anakku sering pilek karena alergi. Aku harus menjaganya dari debu, rumah harus dipel setiap hari. Makanan juga harus dijaga. Harusnya aku memasak sendiri makanan untuk anakku. Oh, ini kelemahanku.

2017 bagi karierku: aku mumet urusan jurnal. Cemas tunjangan akan dipotong. Sama saja dengan yang dikeluhkan orang lain. Kadang aku juga merasa berada di tempat yang kurang tepat. Bagi dunia tulis-menulisku, aku merasa tidak banyak kemajuan. Belum bisa membuang luka akibat novelku yang diplagiat orang. Aku juga belum bisa menerbitkan kumpulan puisi seperti yang kutargetkan sebelumnya. Draft novelku belum tergarap juga. Banyak lomba dan acara sastra yang terlewatkan. selain itu semua, ada satu lagi yang menggangguku di 2017. Aku bosan dengan warna lipstikku dan sepertinya aku akan menggantinya.

Resolusi 2018
Nah, karena aku termasuk makhluk multidimensi, di 2018 ini resolusiku kubagi beberapa kelompok:

Dalam Kehidupan Rumah Tangga, aku ingin
  1.  Meningkatkan ibadah kepada Tuhan YME sesuai agama yang kuanut: merutinkan lagi salat Tahajud, salat Dhuha, dan salat sunah lainnya; meningkatkan kepedulian terhadap perkembangan dan hal-hal yang menimpa umat secara global; mengaktifkan lagi One Day One Juz.
  2. Meneruskan pengobatan dan terapi sesuai saran dokter untuk anakku dan ayahku.
  3.  Meneruskan perawatan gigi anak-anakku biar giginya rapi dan sehat (jangan kayak mamanya yang telat merawat gigi,hehe).
  4.  Mencarikan halaqoh untuk anak gadisku.
  5. Mencarikan sekolah menengah atas yang bagus untuk anakku.
  6. Belajar memasak makanan yang sehat. Entah bagaimana memulainya. Aku rasa, harusnya dimulai dengan merenovasi dapur agar dapur lebih cantik (biar semangat masaknya). Aku inginnya dapurku bergaya ala-ala shabby atau kalau tidak, ya..yang simple (dengan tempelan kata motivasi di salah satu dinding dapur).
  7.  Membeli vacuum cleaner agar membantu meringankan pekerjaanku mengusir debu dari rumah yang membuat alergi anakku kambuh. Rumah harus bersih setiap hari, setiap saat. Kalau massih ada budget, pengen juga memperbaharui karpet di ruang tengah yang sudah mulai robek.
  8.  Menata ulang kamar anakku yang kembar agar lebih gampang dipel dan dibersihkan setiap hari. Perabot yang tidak perlu pun disingkirkan. Ini terkait dengan agenda mengepel karena mengepel adalah agenda wajib tiap hari. Hidup mengepel!
  9.  Membeli timbangan berat badan untuk mengontrol berat badan seluruh anggota keluarga (terutama aku yang mulai ditanya orang “Berapa bulan?” – sangkanya aku hamil, efek perut membesar).
  10.  Mengurangi parfum karena anakku bisa saja alergi parfum.
  11.  Membongkar lemari pakaian, mengeluarkan yang harus dikeluarkan (agar bisa diizinkan suami beli yang baru, hehe).
  12.  Membelikan anakku tenda baru yang lebih kecil.
  13. Mencarikan tempat les untuk anak-anakku. Sepertinya ini sudah sangat urgen. (les umum dan agama).
  14.  Mencoba mesin jahit kecil yang sudah lama kubeli.
  15.  Memiliki jadwal keluar jalan-jalan dengan suami.
  16.  Menjalankan olah raga rutin tiap pekan/ syukur kalau bisa ikut kelas senam.
  17. Membeli lipstik baru.
  18. Mengulang kursus menyetir dan mengurus SIM A (menurut ayahku, aku harus mengulang!)

Dalam Pekerjaan/Karierku, aku ingin:
  1. Menulis 3 artikel ilmiah untuk 3 jurnal
  2.  Memperbaiki RPS sesuai buku terbaru dan mengacu profil lulusan
  3.  Menyusun perangkat pembelajaran baru
  4. Menyusun bahan ajar
  5. Mempelajari bahasa Inggris
  6. Mengajar di kampus lain agar ilmuku tidak stag.

Dalam Dunia Tulis-Menulisku (Sastra), aku ingin:
  1. Memaafkan kesalahan orang-orang yang telah melukai hatiku di dunia sastra (walaupun masih luka, tetap berkarya).
  2. Membeli beberapa buku sastra.
  3. Menyunting puisi-puisi di laptop, mencari dan menghubungi editor, proses menerbitkan kumpulan puisiku.
  4. Menulis esai untuk dikirim ke media.
  5.  Membenahi rumah mayaku- Tatirah, mendisiplinkan diri kembali untuk mengisi Tatirah dengan tulisan berkualitas tinggi agar tidak memalukan menjadi member of Female Banjarmasin Blogger (FBB).
  6. Menyeriusi draft novel. Harus serius. H-A-R-U-S.
  7. Mencoba menulis di Wattpad. (ini ikut-ikutan anakku saja sebenarnya).


Nah, demikian resolusiku. Adakah yang sama dengan resolusimu? Jangan-jangan kita bisa kerja bareng? Yuuk… hubungi aku ya! [Nai].