Sabtu, 06 Oktober 2018

Mencarimu di Bawah Langit Beku

00.44 0 Comments

Penggalan sebuah surat yang kutulis sehabis pertunjukan Musikalisasi Puisi di Bawah Langit Beku

---
Sedang apa kau sekarang?
Apa yang kau harapkan dari sebuah pertunjukan puisi? Kedamaian? Keindahan? Sesuatu yang menyentuh kalbu? Perenungan? Siraman jiwa?





Sungguh aku tak berani menyebutkan harapan yang muluk-muluk terhadap sebuah pertunjukan puisi. (Sama takutnya dengan berharap yang muluk-muluk terhadap kehidupan ini). Biasanya aku cukup berharap acara semacam itu mampu mengurangi sedikit dahaga dalam jiwa, mengusir penat, melabuhkan angan ke tempat semestinya. Minimal masih bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa jalan yang kupilih bukan jalan yang keliru.
Malam ini, ketika surat ini kutulis, aku baru saja pulang dari menonton sebuah pertunjukan puisi di kota kita. Tak sabar untuk segera menceritakannya padamu (entah kaupaham atau tidak), kutulislah surat ini.
---
tiket

Apakah kau sudah makan? Kalau belum, makanlah dulu. Makan yang banyak. Kaubilang masakan temanmu enak bukan?

Oiya, Karya-karya yang dibawakan malam 5 Oktober 2018 tersebut adalah karya-karya terbaik penyair Y.S. Agus Suseno. Apa? Kau tidak mengenalnya? Ah, ya, aku lupa. Kamu bukan orang sastra. Kapan-kapan kamu cari tentang dia di mesin pencarian andalanmu, hehe.
Dari begitu banyak karya puisinya, yang digarap dan dipentaskan malam itu ada 9 puisi. Semula aku pesimis bisa menikmati sembilan  puisi berturut-turut dalam sekali pementasan. Aku lupa membawa bekal minum dan kudapan. Aku kira aku bakal didera bosan.


Mungkin kaubertanya-tanya, jika punya prasangka buruk begitu, mengapa aku mau membeli tiketnya (@Rp25.000,00) pada hari pementasan? Tunggu, ada yang belum aku ceritakan padamu. Beberapa hari sebelumnya, aku melihat cuplikan acara tersebut di akun medsos penyairnya. Di antara sekian rasa pesimis, terselip optimistis dalam hatiku. Seakan ada yang menarik-narik jiwa agar aku menonton acara bertajuk musikalisasi Puisi “Di bawah Langit Beku”dan Pembacaan Puisi oleh Y.S Agus Suseno.
Singkatnya, aku membeli tiket, duduk manis di bangku lalu menonton pertunjukan.
---

Sedang apa kau sekarang? Pasti jawabanmu, “Sedang membaca suratmu.”

Aku lanjut cerita, ya. Acara dibuka langsung oleh sang penyair Y.S. Agus Suseno. Dia berperan sebagai MC sekaligus menyampaikan kata pengantar yang manis, nyaris tak ada kalimat yang percuma. Dia sempat bilang, inilah musikalisasi versi dia. Tidak ada sambutan-sambutan dari pihak manapun lagi. Dia menyampaikan rencana atau skenario malam itu, termasuk pembacaan puisniya yang berbahasa Banjar tentang situasi terkini.

Setelah itu kami larut dalam puisi. Tiap selesai satu puisi aku selalu bilang dalam hati, ini puisi yang paling aku sukai. Itu terjadi berulang hingga puisi terakhir. Aku terpesona.
Ketika puisi pertama ditampilkan, ada sesuatu dalam hatiku. Ini ,,sungguh indah. Di sela-sela puisi tersebut dilagukan, ada selingan ungkapan hati mereka. Ada cerita di balik layar. Ada cerita di balik makna puisi yang mereka aransemen dan bawakan. Mereka: Isbey, Zay, Finni dan Ole. Mereka membuat suasana malam itu begitu spesial. 

Aku tidak percaya saat itu sedang ada di kota kita. Acara sekeren ini ada di kota kita? Kamu di mana? Meski kamu gak ngerti puisi, aku yakin kamu akan berkomentar “Sound system-nya keren, gila, bagus banget.” Atau “Kostumnya lucu, serasi, cantik” atau “Berasa sedang duduk di kafe minum kopi” atau "Suara vokalisnya bening banget", "Petikan gitarnya mantap", atau ungkapan lainnya selain puisi tentu saja.


Oiya, ini judul-judul puisinya:
Kata Pengantar untuk Sajak Cinta
Kota-kota pun Tertidur
Hujan
Perjalanan Pantai
Pondok Kulit Kayu di Pegunungan Meratus
Sajak Cinta
Menulis Sajak Membuka Cakrawala Membaca Sejarah
Di Redup Cahaya Bulan Mati
Di Bawah Langit Beku

Dari sembilam puisi yang terpilih untuk dibawakan malam itu, aku menangkap sebuah perenungan dan pencarian yang dalam tentang hidup dan kehidupan,; hakikat manusia, agama, Tuhan, rumah, kota, hutan. Di puisi Hujan, ketika sampai bait terakhir, aku tidak tahu bagaimana tiba-tiba sudut mataku basah. .../Orang-orang menepi di masjid ini./ Entah kalimatnya, entah nadanya, entah keduanya menyatu meluruhkan dinding tebal dalam hatiku.  Kubaca catatannya, puisi hujan ditulis 1985. Aku masih 5 tahun ketika puisi itu lahir. Bagaimana aku bisa menangis ketika malam ini puisi tersebut dimusikalisasikan?



Apa kabar, Cinta?


Jangan kurung puisi-puisi dalam kepalamu, tapi bebaskan maknanya dalam hatimu.

Hingga tiba puisi Sajak Cinta aku tak bisa menahan gejolak. Cinta selalu membuat kita menjadi lebih muda, remaja, ceria, bahagia, penuh harapan dan mimpi. Nada yang paling berbeda ada di puisi ini. Aransemennya membuat aku mengingat diriku dalam bingkai yang kaubuat, yaitu masa remaja. Aku mendengar nada itu dan aku melihat kebahagiaan itu dalam puisi Sajak Cinta. Aku ternganga. Bagaimana kebahagiaan sajak cinta bisa mewakili Agus malam itu? Semakin akhir, semakin serius dan berat makna yang kutangkap dari aransemennya. Puisi-puisi terakhir sukses membuat airmataku luruh; ada rasa yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata.. Awesome!



bersama sastrawan  Hatmiati Masyud dan Sandy Firli

Kamu di mana?
Selama pertunjukan, beberapa kali aku membalikkan punggung dan kepalaku; kautahu, para penonton, para penikmat puisi, meraka begitu khidmat dan khusyuk. Nyaris tidak ada gangguan dari penonton. Dalam perjalanan pulang, aku tak putus-putus dari kesan berasa habis nonton konser ekslusif.  Ini pertunjukan terbaik yang pernah kutonton.

Aku sempat mewawancari Dr. Hatmiati Masy'ud, sastrawati Kalsel sekaligus dewan komisi pemilu, aku tanya bagaimana komentar dia terhadap pertunjukan. Kulihat beberapa orang penting malam itu hadir menyaksikan pertunjukan.


bersama Y.S.Agus Suseno dkk

Dia sempat terdiam. Aku tahu apa yang ia rasakan. Aku lihat pancaran ketakjuban di wajahnya. "Gurih" jawabnya sambil tersenyum renyah.

Aku rasa, ini bukan semata pencapaian seorang Y.S. Agus Suseno atau pencapaian 4 orang berkostum nuansa merah tersebut, melainkan pencapaian Kalimantan Selatan, pencapaian Indonesia. Usai pertunjukan ada adegan foto dan salam selamat. Lagi-lagi aku dikepung rasa "Di mana aku? Apakah benar aku sedang di kotaku? Dan bagaimana jawaban pertanyaanku di awal tulisan ini? Ah, kautahu aku mendapatkan semua hal dari pengharapan yang muluk-muluk itu malam ini.

Kau tahu apa yang paling kusesali dalam pertunjukan itu? Satu-satunya yang kusesali adalah kau tidak ada di situ malam itu. Harusnya kau ada, turut menjadi saksi keindahan kota kita di bawah langit beku. []




Rabu, 03 Oktober 2018

Menjadi Perempuan Cerdas di Era Digital

15.05 11 Comments


Prolog
Perkembangan dan kemajuan teknologi seakan mengepung kita dari berbagai sudut atau bidang kehidupan, siapapun dan sebagai apapun kita hari ini. Tidak dapat dielakkan lagi, gemuruh perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tidak hanya menawarkan berbagai perubahan kepada kita tetapi juga menuntut banyak hal kepada kita untuk bisa survive di dalamnya. Ketika kita hanya bisa diam memandangi segala yang terjadi di sekitar kita, bukan tidak mungkin nantinya yang akan berlaku adalah kita tenggelam dan ditinggalkannya.
Sebagai perempuan, era digital merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa diabaikan salah satunya. Pada satu sisi, kemajuan teknologi dan digitalisasi berbagai hal memberikan banyak peluang dan kemudahan hidup bagi kita dengan berbagai ide-ide kreatifnya. Misalnya betapa digitalisasi itu menjadikan alur keseharian kita sebagai perempuan menjadi lebih efektif dan efisien dengan bantuan teknologi. Akan tetapi di sisi lain, ia juga membawa peluang suburnya hal-hal negatif yang akan memberi dampak buruk bagi kita. Berbagai penelitian menyebutkan perkembangan dan kemajuan teknologi di era digital dapat memberikan dampak buruk bagi manusia, sebut saja hal-hal semacam kecanduan gawai, kecanduan game, rusaknya berbagai hubungan keluarga, perubahan emosi yang cenderung ke arah labil, serta masih banyak hal negatif lainnya.
Yang menjadi PR besarnya adalah bagaimana kita sebagai perempuan bisa tetap survive di era digital seperti sekarang. Bagaimana kita tetap bisa menikmati kemajuan teknologi tanpa dihantui rasa takut terhadap dampak buruk yang juga tersimpan di sebaliknya. Untuk mengerjakan semua PR itu tentu kita harus menjadi perempuan cerdas.

Tantangan Perempuan di Era Digital
Ada banyak tantangan yang akan kita hadapi sebagai perempuan di era digital. Digitalisasi sebagai sebuah proses maupun sebagai sebuah produk tidak begitu saja hadir di tengah-tengah kita. Ada efek sertaan atau ikutan yang selalau ada tanpa bisa kita abaikan.  

Tantangan pertama adalah suatu keadaan yang saya sebut sebagai shocking technology. Tidak sedikit di antara kita mengalami suatu keadaan mendadak teknologis. Ketika kita kurang siap dan kurang cerdas menghadapinya, kita bisa jadi tidak mendapat banyak sisi positif, sebaliknya malah lebih banyak mendapat sisi negatif. Shocking technology yang dimaksud adalah suatu keadaan ketika kita mengalami hal-hal buruk dan tidak seimbang dalam hidup sebagai akibat kemajuan teknologi. Beberapa contohnya yaitu: lebih banyak waktu terbuang untuk bermain game online; lebih banyak memegang gawai daripada mengerjakan pekerjaan lain yang lebih penting dan bermanfaat; terlalu banyak hal tidak penting dan tidak layak menjadi konsumsi publik yang di-share ke dunia maya; menjadikan kegiatan online di dunia maya lebih utama dibanding pekerjaan lain/primer seperti makan, minum dan tidur.
Solusi:
Untuk itu, kita sebagai perempuan harus cerdas menimbang dan memilah kapan dan bagian mana dari kemajuan teknologi yang bisa kita pakai dan membantu pekerjaan kita. Kita yang harus menguasai teknologi bukan teknologi yang menguasai kita. Kita sebagai perempuan misalnya, bisa membangun perekonomian keluarga dari rumah, membangun bisnis dengan tidak meninggalkan tugas utama kita sebagai seorang ibu.

Tantangan kedua adalah dalam hal komunikasi. Tidak saja kita akan mengalami misscommunication dengan orang-orang di sekitar, bahkan lebih dari itu, mungkin saja kita akan lost contact dari orang-orang terdekat. Kita tentu tidak asing dengan kalimat “Mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat” sebagai salah satu dampak kemajuan teknologi di bidang informatika dan  telekomunikasi. Hari ini sering kita jumpai orang-orang duduk dan bersama dalam satu meja tetapi mereka tidak saling bertegur sapa; mereka tidak saling berkomunikasi. Mereka masing-masing sibuk dengan gawainya, entah berselancar di dunia maya, bermain game atau sekadar ngobrol dalam sebuah grup di media sosial yang tidak jauh lebih penting daripada percakapan di dunia nyata.
Solusi: Tidak ada yang terbaik yang bisa kita lakukan selain memulainya dari diri kita sendiri dan dari rumah kita sendiri. Kita harus cerdas menentukan mana komunikasi yang lebih penting di antara hubungan-hubungan komunikasi yang kita anggap sangat penting.
Salah satu hal lagi yang 

Tantangan ketiga adalah kemungkinan hidup dalam Kepura-puraan.
Siapakah diri kita yang sesungguhnya hari ini? Sebagai siapa kita dikenal oleh kawan-kawan kita, keluarga kita, rekan kerja kita, bahkan mungkin rival-rival atau musuh-musuh kita? Berapa persen kejujuran tentang kita yang kita sajikan dalam akun media sosial kita? Tidakkah kita menulis dengan niat jaim (jaga image) semata atau pencitraan belaka atau jangan-jangan kita pun terlalu berlebihan meng-ekspose kelemahan kita serta aib-aib kita? Foto-foto editan yang hanya menampilkan wajah tercantik kita, tidakkah itu sebuah kebohongan yang suatu saat menjadi bumerang bagi kita.
Hari ini, berapa banyak orang menilai kita hanya dari status-status di akun medsos? Baik buruknya kita dinilai dari status dan postingan kita di media sosial. Tidakkah itu menakutkan? Seberapa besar orang memahami pribadi kita yang sesungguhnya sebagai suatu individu?
Solusi: mulai sekarang kita harus lebih cerdas memilih mana yang layak kita posting dan mana yang sebaiknya hanya tersimpan di galeri hp kita. Jika kita bingung, bertanyalah pada hati kecil sebelum kita memposting sesuatu. Terkait dengan komunikasi dalam keluarga, memanfaatkan teknologi adalah sebuah keharusan. Jangan sampai kita kehilangan moment penting dengan anggota keluarga hanya karena kita tidak bisa mengakses akun-akun mereka. 

Mengapa tidak mencoba membuat grup keluarga misalnya.
grup seorang ibu bersama anak-anaknya


Langkah kecil biar tetap cerdas dan cantik
Di era digital, pertemanan sudah lintas ruang dan waktu. Seperti itulah yang dialami oleh para perempuan yang tergabung dalam Female Blogger of Banjarmasin (FBB). Sebuah komunitas bloger yang tahun ini secara resmi berusia 2 tahun. Di tahun keduanya ini, FBB bekerja sama dengan Iwita untuk melakukan sebuah upaya untuk menjadi perempuan yang lebih cerdas di era digital. Indonesia Women Information Technology Awareness (IWITA) merupakan organisasi berbadan hukum untuk mencerdaskan perempuan Indonesia melalui Teknologi Informasi.
Perempuan akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Kecerdasan ibu akan menjadi bekal meraih kebahagiaan anak-anaknya, sebaliknya kebahagiaan anak-anak akan menjadi alasan bagi ibu untuk tetap cerdas dalam hidupnya.

Iwita hadir dengan visi terwujudnya perempuan Indonesia tanggap teknologi informasi melalui advancement, learning, impelentation dan socialization sehingga perempuan dapat berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia dan membentuk generasi bangsa yang beraklak mulia dan berprestasi. Berbagai kegiatan diadakan oleh Iwita, salah satunya adalah Gerakan kesadaran literasi digital.
Tentu bukan sesuatu yang berlebihan jika para member FBB pun berharap bisa berperan serta sebagaimana yang telah dicanangkan oleh Iwita.
Selamat ulang tahun yang kedua FBB. Semoga meraih impian dan harapan di tahun berikutnya.



Epilog
Siapapun kita di luar sana yang hingar-bingar, kita tetaplah seorang perempuan di dalam keheningan jiwa kita.[]


Minggu, 30 September 2018

Ketika Tradisi Menjadi Amanah: Catatan Kecil Pementasan Pengumbar Tersipu III

00.00 6 Comments




Apakah yang paling berharga dalam hidup ini selain mempercayai hal-hal yang sudah semestinya kita percayai? Bahkan di saat seluruh orang tidak lagi berkenan mempercayainya, bukan alasan untuk kita meraguinya. Penggambaran semacam itulah salah satu dari banyak hal yang dapat ditangkap dari pementasan Pengumbar Tersipu III alias Pementasan Pengurus Baru Teater Wasi Putih Politeknik Negeri Banjarmasin Jilid III dengan judul Jukung Tanpa Pewaris karya M. Irwan Aprialdy, Sabtu 29 Sepetember 2018 di Halaman Gedung E Kampus Poliban. Sebuah pementasan yang cukup berimbang antara kekuatan naskah dengan penggarapan naskahnya yang mengangkat tradisi sebagai tema utama.
Bicara tradisi, ada nilai-nilai yang menaungi di atasnya. Nilai kekeluargaan atau kekerabatan merupakan nilai utama yang di-eksplore dalam cerita. Jukung, uma, sungai, tanggui, pasar terapung, alam roh merupakan hal-hal yang dapat kita tangkap sebagai ikon Banjar. Begitu juga dengan isue “ikatan darah” yang diungkap dalam alurnya. Tidak salah lagi, konsep ikatan darah dalam penceritaan tersebut mau tidak mau menjadi salah satu hal yang akan merujuk kepada tradisi Banjar. Konsep “bubuhan” begitu lekat dalam keseharian Orang Banjar. Seringkali kita harus memberi jejak pada kepercayaan kita terhadap suatu hal dengan “Dia bubuhan si anu” atau “bubuhan anu”. Pada umumnya, seseorang yang mendapat sebutan “bubuhan si anu” akan memiliki karakter seperti si anu. Setidaknya itulah hal yang dipercayai urang Banjar. Bubuhan alim ulama misalnya – cenderung akan memiliki karakter alim ulama juga.
Akan tetapi, hal tersebut ditabrak oleh ketiga anak kandung Uma Bainah. Ketiganya memiliki kecanduan akut terhadap hal yang berbeda. Ada yang kecanduan harta, kecanduan kehormatan dan kecanduan obat. Ketiganya tidak seidealis Uma Bainah dalam banyak hal terutama dalam hal memelihara tradisi keluarga terkait jukung warisan. Jukung yang mestinya sudah bisa disebut sebagai barang  antik ternyata memiliki sebuah” kutukan” agar tetap dijalankan oleh keturunan pemilik sebelumnya. Jukung yang dikisahkan sudah ada sejak zaman Belanda dan melindungi serta menghidupi juriat keluarga tersebut hingga sampai ke generasi uma Bainah. Konon, jika tidak dijalankan ia akan berakibat fatal.
Perihal jukung peninggalan uma yang sebenarnya sudah dipersoalkan sebelum sang uma meninggal menjadi pusat penceritaan yang sangat lengkap. Jukung kepunyaan keluarga ini bukan sekadar jukung biasa melainkan sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah terputus sebelumnya. Dalam cerita ini, dituturkan betapa sebuah tradisi dirawat dan dijaga dengan sebuah alasan “ikatan darah”. Sebuah isue pemertahanan tradisi yang nyaris nonsense untuk sebuah jukung di era canggih seperti sekarang. Jangankan dalam kehidupan nyata, dalam cerita pun hal tersebut disangsikan oleh para tokoh. Bahkan tokoh Taufik dalam cerita ini menyebutnya sebagai sebuah kesialan.



Bisa jadi jukung dalam cerita tersebut adalah simbol pentingnya sebuah kepercayaan terhadap ikatan kekerabatan. Kepercayaan yang lambat laun akan digerus oleh banyak hal –  yang dalam hal ini seringkali kita menuduh kemajuan zaman dan teknologi sebagai penyebab utamanya. Kita sering lupa, jika benar kemajuan teknologi merupakan perusak yang paling niscaya mengapa masih ada orang-orang seperti Sari yang juga merupakan user tetap dari teknologi seperti orang-orang lainnya (:tiga bersaudara kandung anak Uma Bainah) tetap teguh memegang tradisi yang bahkan bukan menjadi tanggung jawab utamanya.
Sepanjang pementasan, para pemain seperti berlomba memperlihatkan kekuatan masing-masing. Nyaris tidak ada tokoh yang lemah dalam pengkarakteran. Semua pemain mendapat porsi yang hampir seimbang. Pementasan ini bahkan melibatkan para penonton menjadi bagian pementasan secara bolak-balik pada bagian tertentu. Peran penonton menjadi bagian penting yang turut membangun suasana yang sudah coba dibangun sejak awal pementasan. Konsep anja membantu memberi warna terhadap upaya terbangunnya suasana yang diharapkan oleh pengonsep. Sebagai sebuah pementasan outdoor, pementasan ini terbilang berhasil menjaga suasana yang diharapkan dari awal hingga akhir pementasan. Bagimanapun tidak mudah "menjaga" penonton yang majemuk untuk bisa fokus pada sebuah pementasan. Dekor panggung, lighting, hingga musik/back sound yang mengiringi menyatu sebagai sebuah unsur penting yang mencerminkan keseriusan penggarapan. Penonton "dipaksa" untuk menuruti konsep penggarapan tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai penonton yang merdeka.

Kesetaraan karakter seluruh pemain membuat seluruh tokoh terlihat penting. Kalaupun terpaksa harus dipilih, maka karakter Sari menjadi yang paling menonjol dalam hal  ini. Sari menjadi satu-satunya kunci penghubung kemajuan zaman dan teknologi dengan kepercayaan terhadap tradisi. Ajaibnya, Sari bukan bubuhan asli Uma Bainah. Sari bukan anak kandung Uma Bainah. Jelas Sari tidak akan pernah bisa mewarisi jukung Uma Bainah. Pertanyaannya, mengapa Sari yang bukan anak kandung Uma Bainah begitu peduli terhadap Uma Bainah dan jukungnya? Begitulah hidup memberikan motif lain dalam riwayatnya. Di tengah pentingnya memelihara ikatan kekeluargaan (pertalian darah), melakukan hal-hal baik kepada orang lain seringkali menjadi sesuatu yang penting untuk kehidupan.
Sari tidak mencintai Uma Bainah dengan cinta buta. Sari mempelajari banyak hal sebelumnya dari Uma Bainah hingga akhirnya ia yang terbebani oleh amanah. Orang-orang seperti Sari tidak banyak dalam realita tapi tidak banyak bukan berarti tidak ada, bukan? Sayangnya di akhir cerita Sari pun terpaksa pergi meninggalkan semuanya setelah dia pikir dia telah menyelesaikan semua hal yang diamanahkan kepadanya.
 Coba tengok sekelilingmu, barangkali ada Sari-Sari lain yang masih teguh meyakini dan memegang tradisi - bahkan tradisi yang tidak masuk akal sekalipun. Barangkali, salah satu Sari itu adalah kamu sendiri. Who knows? [] Nai



Usai pementasan, 01.00 30 Sept 2018: di sela riset, angket, deadline paper, prosiding, BKD, ultah fbb, international conference, semnastik, dll.
Selamat untuk semuanya: awesome!
Salam tradisi untuk Amin: selamat menemukan karaktermu.


Jumat, 07 September 2018

Komunikasi Antarbudaya dan Relasi Antarpribadi dalam Cerpen “Dosen Pun Perlu Becermin” Karya Aboe Fadhil

00.23 0 Comments
Ini adalah materi yang aku bawakan ketika diminta penguasa Kindai Seni Kreatif untuk menjadi "Jaksa Penuntut Umum" dalam ruang sidang majelis cerpen milik Aboe Fadhil. Sebelumnya, jika kau belum tahu apa itu Kindai Seni Kreatif segeralah cari tahu. Kalau perlu tanya google dulu...hehe. Baiklaah sekarang mari nikmati celotehanku:

Komunikasi dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan Edward T.Hall mengatakan “Komunikasi adalah kebudayan dan kebudayaan adalah komunikasi.” Dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi; sebaliknya, hanya dengan komunikasi pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan. Kebudayaan hanya bisa eksis jika ada komunikasi.
Proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki adanya interaksi sosial. Ini terjadi secara alamiah. Menurut Watzlawick, Beavin dan Jackson, isi komunikasi tidaklah berada dalam sebuah tempat ataupun ruang yang terisolasi. Isi dan makna adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang essensial dalam membentuk relasi. Dengan kata lain relasi antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diiterpretasi (Liliweri, 2009).

Dalam kerangka mencermati kajian komunikasi antarbudaya dikenal beberapa asumsi, beberapa di antaranya adalah:
1.      Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar adanya perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan
2.      Dalam komunikasi antarbudaya terdapat isi dan relasi antarpribadi
3.      Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi
4.      Komunikasi antarbudayabertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian
5.      Komunikais berpusat pada kebudayaan
6.      Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya
Relasi antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diinterpretasi. Dengan siapa seseorang berkomunikasi, apa hubungan seseorang tersebut dengan orang yang menjadi rekan komunikasinya akan sangat mempengaruhi interpretasinya terhadap pesan yang dikomunikasikan.
Mempelajari hal-hal tersebut dari sebuah karya sastra berbentuk cerpen, bukan sesuatu yang gampang tapi tentu saja bukan sesuatu yang mustahil. Melalui dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah cerpen, pembaca bisa menangkap siapa dan bagaimana pengguna dialog tersebut berperan dalam cerita secara keseluruhan. Dialog-dialog tersebut secara universal akan membawa pembaca kepada suatu keadaan yang mirip dengan saat saat sedang becermin. Tentang bagaimana relasi antarpribadi kita dengan seseorang, tentang bagaimana komunikasi antarbudaya yang sedang terjadi pada masyarakat kita di era kekinian.

SSeberapa Penting Kita Becermin?
Cerpen yang ditulis oleh Aboe Fadhil, “Dosen Pun Perlu Becermin” memuat realitas komunikasi antarbudaya serta relasi antarpribadi sebagimana yang tertera dalam pendahuluan tulisan ini. Cerpen ini berkisah tentang seorang dosen benama Pak Asmi,M.Pd. yang memiliki karakter sebagaimana terdapat pada cuplikan berikut:
Ia tidak berani mengetuk pintu, sebab ia tahu karakter sang dosen. Pak Asmi itu sangat tegas dan konsisten dengan keputusannya, serta sangat objektif dalam memberikan penilaian. Semester sebelumnya, dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D. Mahasiswa yang terlambat, kalau pun diizinkan masuk, pasti disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, dan di Daftar Hadir tetap dicatat absen, seperti yang dialaminya dua minggu yang lalu. Tapi itu lebih mending daripada diusir dan disuruh pulang, seperti yang dirasakannya minggu sebelumnya.

Cuplikan tersebut berasal dari satu paragraf dalam cerpen DPPB. Sebagai sebuah paragraf secara umum, paragraf tersebut sebenarnya bukan sebuah paragraf yang baik dilihat dari kriteria dan syarat paragraf. Salah satu syarat paragraf yang baik adalah adanya unsur kesatuan, artinya dalam satu paragraf hanya boleh ada satu ide pokok yang dijabarkan menjadi beberapa kalimat pembangun paragraf tersebut. Ini cerpen, bukan karya ilmiah – barangkali ada yang berkometar seperti itu. Baiklah, bagaimana kalau kriteria tersebut diabaikan saja kali ini. Ini artinya, paragraf tersebut merupakan cermin sebuah kegamangan ketika seseorang menginterpretasi lawan komunikasinya.
Tegas, konsisten, objektif dalam memberi nilai, adalah hal-hal positif dalam paragraf ini sebagai penggambaran sang dosen yang harusnya menjadi hal membanggakan bagi para mahasiswanya. Akan tetapi pada saat yang bersamaan hal-hal positif tersebut disandingkan dengan disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, di daftar hadir tetap dicatat absen, serta diusir, disuruh pulang. Di tengah-tengah kedua hal kontras tersebut, informasi tentang dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D menjadi sebuah wacana yang interpretasinya bisa jadi sangat abu-abu. Akankah ini menjadi penguat kararkter positif dari sang dosen atau justru sebaliknya menjadi penambah point jeleknya si dosen. Informasi inipun terletak di tengah-tengah. Ketika ini diinterpretasi oleh mahasiswa yang rajin belajar, giat berjuang, lalu dapat nilai terbaik, maka informasi ini menjadi penguat bahwa Bapak Asmi adalah dosen yang sangat objektif. Bapak Asmi memberi nilai sesuai pekerjaan dan kualitas intelektual mahasiswanya. Akan tetapi ketika ini lebih didekatkan kepada hal-hal negatif semacam disemprot, dianggap absen, diusir dan disuruh pulang maka gambaran nilai-nilai tersebut dapat diinterpretasikan sebagai sebuah kekejaman sang dosen atau paling tidak ketegaan dosen.
... Atau laporkan saja sama Dekan, atau kepada Rektor kalau perlu, bahwa dosen ini terlalu otoriter, killer,” bisik egonya.
Kutipan tersebut mempertegas interpretasi mahasiswa terhadap sikap objektif dosennya. Relasi antara sang mahasiswa dengan dosen menjadi sebuah relasi antar pribadi yang tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan. Sikap tegas dan disiplin yang diterapkan oleh dosen menjadikan dosen mendapat predikat dosen otoriter dan dosen killer dari mahasiswanya.
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan semisal “Bagaimana perasaan dia terhadap saya? Bagaimana sikap dia terhadap saya? Apa yang akan saya peroleh kalau berkomunikasi dengan dia?” Untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan ini, seseorang memaksa dirinya untuk berkomunikasi sehingga akan menemukan suasana relasi yang lebih pasti.
Inilah yang terjadi pada tokoh Fadil dalam cerpen DPPB. Dari awal cerpen ini dibuka hingga lebih dari pertengahannya, Fadil berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggambarkan ketidakpastian dirinya tentang relasi sesungguhnya antara dia dengan sang dosen.
Dalam studi komunikasi, tingkat ketidakpastian itu akan berkurang saat kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi. Ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Di antaranya adalah tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal serta tahapan membuka diri dan memahami mengapa orang lain berbuat atau melakukan  sesuatu.
Yang dilakukan Siska dalam cuplikan berikut misalnya,
Tiba-tiba Siska yang merasa harga dirinya dilecehkan, mengangkat wajah. Sambil menyeka airmata dengan ujung kerudungnya, ia berkata tegas: “Bapak sendiri perlu becermin!”

Bukan hanya karena perasaan harga diri yang dilecehkan yang membuat Siska berani mengeluarkan kalimat Bapak sendiri perlu becermin. Siska mengeluarkan pernyataan tersebut sebagai tanggapan lanjutan – yang tidak diceritakan oleh pengarang pada bagian sebelumnya – bahwa di wajah sang dosen ada butiran nasi.
Sebuah tindakan yang diterima oleh sang dosen sebagai sebuah pelajaran berharga. Betapa ia sebelumnya juga harus terburu-buru agar tidak terlambat masuk ruangan. Tanggapan selanjutnya adalah dengan memberikan sebuah soal kepada mahasiswanya.
Ini bagian drama dalam cerpen DPPB. Di dalamnya tersimpan kekuatan sekaligus kelemahan cerpen ini. Dikatakan kekuatan karena ternyata setelah Fadil menjawab soal dengan benar, sang dosen menjadi lebih kooperatif. Ini makin menunjukkan bahwa tokoh dosen dalam cerpen ini sebenarnya adalah dosen yang baik dan benar. Ia menghargai Fadil sebagai penjawab soal yang benar walaupun seharusnya Fadil layak mendapat hukuman atas keterlambatannya. Momen ini sebuah gambaran positif yang seharusnya membuat masyarakat (:mahasiswa) becermin, agar lebih jelas terlihat siapa sebenarnya yang sedang keliru. Sisi kelemahannya adalah hal tersebut terkesan dipaksakan untuk memenangkan mahasiswa. Ini juga yang terlihat ketika Fadil mengajukan pertanyaan kepada Pak Asmi yang tidak bisa dijawab oleh dosen tersbut meski ia sudah mebuka-buka bukunya.
Seberapa penting dosen becermin? Tentu sangat penting karena dosen adalah sosok yang menjadi contoh pertama yang dilihat oleh mahasiswa di dalam kelas. Akan tetapi, hendaknya mahasiswa lebih sering becermin, melakukan upaya-upaya mengurangi ambiguitas tentang relasinya dengan sang dosen. Bagaimanapun, dosen adalah orang yang akan memberikan banyak manfaat (ilmu dan lain-lain) bagi mahasiswa.
Teori atribusi dalam komunikasi menganjurkan agar kita harus lebih mengerti perilaku orang lain dengan meyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dia. Pertanyaan yang relevan adalah “Apa yang mendorong dia berkata, berpikir atau berbuat demikian?” Mahasiswa hendaknya bertanya pada dirinya mengapa kami tidak boleh terlambat masuk kelas? Mengapa dosen memarahi kami kalau kami terlambat?

  Bagian Akhir: Kepada Siapa Cerpen Ini Berpihak?
Dari judul sudah jelas terlihat, cerpen ini tidak memihak dosen. Cerpen ini semacam sarana untuk mengata-ngatai dosen, mengkritik dosen, merundung dosen. Realitanya, dosen adalah manusia-manusia intelektual yang mempunyai tiga tugas utama atau yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga dharma ini yang membedakan dosen dengan profesi lain di muka planet bernama bumi. Terlebih sejak perguruan tinggi berada di bawah kemenristekdikti, para dosen makin terlatih dan terdidik menjadi masyarakat pembelajar yang tidak boleh menyerah begitu saja terhadap keadaan. Pro kontra pasti ada. Akan tetapi terkadang kita tidak punya pilihan lain, dalam lini apapun, kita bisa saja dihadapkan pada hanya dua pilihan, bergerak atau tertinggal lalu mati.
DPPB menyimpulkan satu hal bahwa dosen adalah manusia bukan dewa atau malaikat. Entah disadari atau tidak, jika semula cerpen ini dimaksudkan untuk menasehati dosen, maka yang tertangkap justru sebaliknya. Cerpen ini hendaknya menyadarkan mahasiswa bahwa bagaimanapun kendali tetap berada di tangan dosen yang baik. Ia berhak menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswanya. Jika ia mau, bisa saja Pak Asmi melempar balik pertanyaan Fadil kepada seluruh mahasiswanya tapi tidak. Ia tidak melakukan itu. Ia memilih menampung pertanyaan itu untuk dijawab di lain waktu. Ia malah masih sempat memberi nasehat sambil menunjukkan sikap ramah, “Kamu jangan telat lagi ya!” Betapa baiknya sang dosen [] Nai


Kamis, 19 Juli 2018

Acer Day 2018 Banjarmasin: Serangan Acer Swift 3 dan New Nitro 5

09.25 22 Comments


Belasan tahun yang lalu, laptop bagiku adalah benda yang masuk dalam kategori kebutuhan extra tertier (:ini istilah aku sendiri, hehe) sekelompok dengan gelang emas, cincin permata, liburan ke Paris, dan hal-hal mewah lainnya. Setelah aku berkhidmad di jalan sunyi para penulis dan mengabdi di dunia pengajaran, laptop termasuk kebutuhan primer. Nyaris setara dengan makan dan minum. Tanpa laptop aku merasa kesulitan untuk tetap bertahan hidup di dunia kepenulisan dan pengajaran.

Senin, 16 Juli 2018 aku mengikuti acara keren, yaitu media gathering bertajuk Acer Day 2018. Acara bertempat di Intro Jazz Bistro & Cafe, Tree Park Hotel Banjarmasin. Aku tertarik mengikuti acara ini karena ... Laptopku Acer! (bagus sekali, kan alasanku, hihi). Sebenarnya bukan hanya itu sih alasanku. Aku sedang mencoba lari dari kenyataan (kenyataan banyak tugas dan kenyataan aku tidak punya waktu lagi untuk pergi berlibur. Libur tlah usai, guys). Well, lebih dari itu sejujurnya aku ikut karena aku penasaran seperti apa Acer Day dan ada apa dengan Acer Day. Bagaimana keseruan di acara tersebut, baca lengkap tulisanku yuuk.

Apa sih Acer Day?


Aku dan teman FBB

Agenda dari Acer ini sebenarnya sudah yang kedua alias tahun kedua. Acer Day digelar serentak di 12 negara di Asia Fasifik. Di Indonesia, Acer Day 2018 digelar di 8 kota di seluruh Indonesia. Tema utamanya adalah “Musik”. Tema ini membuat Acer makin memperkuat brand image-nya sebagai perusahaan IT yang muda, trendi, keren dengan berbagai kegiatannya secara online maupun offline. Kita bisa cek di acerid.com/acer-day/



Acer Day 2018 menghadirkan program Acer Day Lucky Draw (points collection) dan beragam penawaran menarik lainnya. Tahun ini, Acer menyelenggarakan berbagai program kegiatan seperti:
Activity online, yaitu berupa kegiatan interaktif. Kita harus melakukan registrasi agar bisa bergabung. Setelah itu, kita bisa ikutan Create Song yang ketentuannya adalah berkelompok. Tiap kelompok terdiri atas tiga orang yang berasal dari negara berbeda. Keren banget gak sih bikin lagu bersama teman dari dua negara lain.
Agenda lainnya ada Fun Festival. Cara ikutan yang satu ini gampang sekali, bisa dengan cara membeli produk (semua produk Acer yang dijual resmi) kemudian melakukan registrasi lalu kita bisa mengumpulkan point. Gampang kan?



Yang Terbaru dari Acer



Petang itu, aku dan yang lainnya diserang penampakan laptop yang keren abis dari Acer. Ini dia produk dengan AMD RyzenTM  pertama dan terlengkap di Indonesia. Yup, apalagi kalau bukan Acer Aspire 3 and Swift 3 AMD RyzenTM

Acer Swift 3 menjadi notebook pertama di Indonesia yang menggunakan AMD Ryzen Mobile. 

Ada beberapa produk Swift 3 Acer Day Edition, yaitu AMD Ryzen 3, Ryzen 5 dan Ryzen 7.

Emang penting yah AMD? Yang masih ragu dan bimbang terhadap AMD, ini kucatatkan beberapa hal tentang AMD.
5 Hal yang perlu diketahui tentang AMD
1.       Berada di konsol gaming dan hiburan di rumah yaitu, Microsoft Xbox One X dan Sony PS4TM Pro.
2.       AMD memberikan tenaga kartu grafis untuk Apple iMac dengan layar Retina 5k serta Apple Mac Pro.
3.       AMD satu perusahaan yang membuat Prosesor dan Kartu Grafis.
4.       Teknologi RadeonTM GPU telah membantu perkembangan dunia.
5.       AMD bekerja sama dengan perangkat lunak Bethesda, pembuat judul game teratas untuk mengembangkan dan mempercepat teknologi game.

Pada sesi khusus, kami diperkenankan melihat dan menyentuh langsung produk generasi terbaru Acer. Siapapun akan terpesona dengan laptop tipis nan ringan tersebut. Penawaran terbaik di tahun ini adalah Swift 3 Acer Day edition yang desainnya ekslusif dengan spesifikasi terbaik yang ditawarkan mulai 6 jutaan.



Swift 3 Acer Day Edition lengkapi tawaran seru lainnya seperti Nitro 5 mjulai 11 jt-an dan penawaran sensasional lainnya.
Oiya, ada tambahan informasi nih. AMD Ryzn mendukung dual storage serta kemudahan-kemudahan upgrade. Selain itu, fingerprint reader berguna sekali untuk login dengan nyaman, mudah dan cepat.



So, AMD tidak hanya identik dengan harga murah tapi ada banyak keunggulan lainnya.
Aku tertarik dengan Ryzen 7 yang memberikan kinerja grafis yang sangat baik dan efisiensi daya yang lebih unggul.
Tidak hanya para gamers yang memerlukan laptop bagus, keren dan murah bukan? Bloggers juga perlu. Ya, gak? [] Nai.


Kamis, 28 Juni 2018

Menulis Surat Resmi

12.41 0 Comments

PENDAHULUAN
Kemajuan zaman terutama di bidang teknologi menambah variasi cara dan bentuk dalam kegiatan bertukar informasi. Saat ini orang berkomunikasi lebih murah dan cepat melalui SMS, MMS, surat elektronik, dan berbagai situs jejaring sosial. Hal tersebut membuat tradisi berkirim surat menjadi seakan kurang penting. Sebenarnya jika dicermati keberadaan surat sebagai sarana komunikasi masih penting dan pada hal-hal tertentu tidak bisa digantikan dengan sarana yang lain.
Selain sebagai sarana komunikasi surat juga memiliki fungsi yang lainnya yaitu sebagai alat bukti tertulis, bukti historis, alat pengingat, dan tuntunan kerja (misalnya surat keputusan, surat penunjukan atau surat instruksi). Surat dapat menjadi bentuk komunikasi yang efektif dapat pula tidak. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang menulis surat yang baik dan benar.

A.    Standar Kompetensi
Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan mahasiswa dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan sebagai sarana pengungkapan gagasan ilmiah, mampu bersikap positif terhadap bahasa Indonesia.

B.     Kompetensi Dasar
                 Setelah mengikuti perkuliahan ini diharapkan mahasiswa dapat:
1.      membedakan jenis-jenis surat.
2.      mengidentifikasikan syarat-syarat surat resmi yang baik.
3.      mengidentifikasi bagian-bagian surat resmi.
4.      menyusun sebuah surat resmi.
5.    mengidentifikasikan ciri-ciri karya ilmiah.
6.   membedakan jenis-jenis karya ilmiah.
7.   menerapkan langkah-langkah penyusunan karya ilmiah.
8.    menyusun sebuah karya ilmiah sederhana berdasarkan komponen dan bahasa ilmiah yang telah ditentukan.

C.    Kegiatan Belajar 1
1.      Jenis-jenis Surat
Berdasarkan isinya, surat dapat dibedakan atas surat pribadi, surat dinas dan surat dagang.
Surat pribadi adalah surat yang berisi hal-hal pribadi. Surat pribadi biasa ditujukan kepada keluarga, teman, sahabat, kenalan. Surat ini biasanya menggunakan ragam akrab dan santai.
Surat dinas adalah surat yang berisi masalah kedinasan. Surat ini dikeluarkan oleh instansi pemerintah. Karena bersifat resmi, surat ini memakai ragam bahasa resmi. Contoh surat ini yaitu surat keputusan, surat instruksi, surat tugas, surat edaran, dan sebagainya.
Surat dagang adalah surat yang berisi masalah perdagangan. Surat ini disebut juga surat niaga. Contoh surat dagang di antaranya surat permintaan, surat penawaran, surat tagihan dan surat pengiriman barang.
Berdasarkan sifat pengamanannya, surat dapat dibedakan menjadi surat sangat rahasia, surat rahasia dan surat biasa.
Surat sangat rahasia berisi hal-hal yang sangat penting berupa dokumen/naskah yang berhubungan dengan rahasia keamanan negara.
Surat rahasia adalah surat yang isinya tidak boleh diketahui oleh orang lain yang tidak berhak.
Surat biasa adalah surat yang berisi masalah biasa yang jika diketahui oleh orang lain tidak akan merugikan pihak lembaga atau diri yang bersangkutan.

2.      Syarat-syarat Surat Resmi yang Baik

Surat yang baik menurut Soedjito dan Solchan (2001:3) haruslah memenuhi syarat penyusunan sebagai berikut:
a.       Surat disusun dengan teknik penyusunan surat yang benar.
b.      Isi surat harus dinyatakan secara ringkas, jelas dan eksplisit.
c.       Bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang benar/baku sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, baik tentang ejaan, pemilihan kata, bentuk kata, maupun kalimatnya. Selain itu bahasa surat harus efektif.
d.      Memahami kedudukan masalah yang dikemukakan.
e.       Memahami peraturan-peraturan yang berkaitan dengan masalah itu
f.       Mengetahui posisi dan bidang tugasnya
g.      Hal-hal lainnya yang berkaitan dengan ketatausahaan.

3.      Bagian-bagian Surat Resmi

Surat resmi terdiri atas:

a. Kepala surat
Kepala surat menunjukkan resminya sebuah surat. Kepala surat merupakan alamat (identitas) pengirim surat.

Contoh:


   
b. Nama, tempat dan tanggal
            Tanggal surat bisa diketik di sebelah kiri atas dan kanan atas. Angka tahun maupun nama bulan hendaknya dituliskan utuh jangan disingkat.
Contoh:
13 Oktober 2011
23 Agustus 2012
11 September 2013

c. Nomor surat
            Nomor surat menunjukkan kapan surat dikirimkan. Nomor surat memudahkan pengarsipan. Setiap instansi memiliki kode-kode suratnya.
d. Lampiran
Lampiran berarti menyertakan sesuatu dengan yang lain. Misalnya bersama surat yang dikirimkan disertakan pula surat-surat lain seperti fotokopi ijazah, surat berkelakuan baik, dan surat sehat.
e. Hal/perihal
Hal atau perihal menunjukkan isi atau inti surat secara singkat.
            Contoh penggunaan nomor, lampiran dan hal dapat dilihat berikut ini.
            Nomor       :     334/14.11/BS/2013
Lampiran   :     Jadwal Kegiatan
Hal            :     Dialog Bahasa Daerah se-Kalimantan

f. Alamat
                  Alamat surat ada dua macam, yaitu alamat pada dalam surat maupun alamat luar (pada amplop). Alamat dalam menyebutkan berturut-turut nama orang/ nama jabatan, nama jalan dan nomor rumah/ gedung dan nama kota. Nama orang sebaiknya ditulis dengan teliti sesuai dengan yang biasa ditulis oleh pemiliknya. Di depan nama orang/ jabatan ditulis ungkapan Yang terhormat (Yth) sedangkan kata Kepada tidak perlu dituliskan karena tanpa kata kepada sudah jelas kepada siapa surat ditujukan. Nama kota tidak perlu didahului kata depan di.
      Contoh:
      Yth. Direktur Politeknik Negeri Banjarmasin
      Jalan Brigjen Hasan Basry Kayutangi
      Banjarmasin

g. Salam pembuka
Salam pembuka yang biasa dipakai dalam surat resmi adalah Dengan hormat. Salam pembuka menggunakan Assalamualaikum Wr.Wb dipakai secara khusus antara kantor/ lembaga yang berhubungan dengan agama Islam.
h. Isi surat
Pada umumnya, isi surat ada tiga, yaitu pembukaan, isi (pokok), penutup. Kalimat yang digunakan pada pembukaan hendaknya ditulis sesuai dengan maksud surat tersebut ditulis. Karena ia bersifat mengantarkan, pembuka haruslah menarik perhatian pembaca.
Contoh:
Sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan Seminar Bahasa Banjar se-Kalimantan Selatan 24 Oktober 2013, kami mengundang Saudara sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.
Isi (pokok) surat hendaknya ditulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sederhana, sopan dan jelas. Perhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca yang tepat. Jangan menggunakan singkatan atau akronim-akronim yang tidak jelas karena bisa mengaburkan makna surat dan menimbulkan kesalahpahaman.
Penutup surat merupakan simpulan atau pengunci surat. Umumnya berisi ucapan terima kasih. Misalnya, atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih. Penggunaan enklitis –nya  tidak tepat digunakan karena –nya adalah bentuk terikat orang ketiga tunggal. Jadi, kalimat atas perhatiannya… tidak tepat digunakan.
i. Salam penutup
Salam penutup surat resmi lembaga pemerintahan menyebutkan nama jabatan, tanda tangan, nama terang dan nomor induk pegawai.
Contoh:
Hormat kami
a.n. plt. Kepala,
Kepala Subbagian Tata Usaha


Syamsuddin, S.Pd.
NIP 196504061986011001

j. Tembusan
Tembusan dibuat jika isi surat yang dikirimkan kepada orang yang dituju (sebenarnya) perlu diketahui juga oleh pihak lain yang memang ada hubungannya dengan isi surat tersebut. Tembusan ditulis di sebelah kiri bawah, lurus ke atas dengan komponen Nomor, Lampiran dan Hal.

D.    Rangkuman
1.      Jenis-jenis surat berdasarkan isinya surat dapat dibedakan atas surat pribadi, surat resmi dan surat dagang. Berdasarkan sifat keamanannya, surat terdiri atas surat sangat rahasia, surat rahasia dan surat biasa.
2.      Syarat-syarat surat resmi yang baik menurut Soedjito dan Solchan (2001:3) adalah sebagai berikut.
a.       Surat disusun dengan teknik penyusunan surat yang benar.
b.      Isi surat harus dinyatakan secara ringkas, jelas dan eksplisit.
c.       Bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang benar/baku sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, baik tentang ejaan, pemilihan kata, bentuk kata, maupun kalimatnya. Selain itu bahasa surat harus efektif.
d.      Memahami kedudukan masalah yang dikemukakan.
e.       Memahami peraturan-peraturan yang berkaitan dengan masalah itu
f.       Mengetahui posisi dan bidang tugasnya
g.      Hal-hal lainnya yang berkaitan dengan ketatausahaan.
3.      Bagian-bagian surat resmi adalah
a.       Kepala
b.      Nama tempat dan tanggal
c.       Nomor
d.      Lampiran
e.       Hal
f.       Alamat
g.      Salam pembuka
h.      Isi
i.        Salam penutup
j.        Tembusan


E.     Latihan dan Tugas

1.      Sebutkan jenis-jenis surat!
2.      Sebutkan dan jelaskan syarat-syarat surat resmi yang baik!
3.      Susunlah sebuah surat resmi!

F.     Daftar Pustaka

Sutojo, Siswanto dan Michael Setiawan. 2003. Komunikasi Bisnis yang Efektif. Jakarta: Damar Mulia Pustaka.

Soeparno dkk. 2001. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta: Ekonisia.

Soedjito dan Solchan TW. 2001. Surat-Menyurat Resmi Bahasa Indonesia. Bandung: Rosdakarya.