Senin, 03 Desember 2018

ICEGE : my conference story in Malaysia

10.05 10 Comments
Attending of seminary and presenting a paper in a panel discussion is not a difficult thing for me but the Conference international in Malaysia, this is my first experience.

I went to Malaysia with the best lectures of FKIP, University Lambung Mangkurat. Their names are Prof. Rustam Effendi, Prof. Jumadi, Mr. Sunarno, Mr.Sabhan, Mr. Ahsani Taqwiem and Mrs.Rusma. (sorry I cant write the complete names).

We goes to Malaysia from 26 November 2018 till 2 Dec. But I go home faster than it.


Travelling and presenting the paper once... I think thats very nice idea.

In this conference I met many people from other countries in the world.
The man in this picture is Danish, a student from India. He fight for his Ph.D in Malaysia.


When I came to his stall, he make me taste his indian sweets. Its very delicious. Its make from carrot.


Gajar Halwa







Ketika Sendirian di Bandara Internasional

06.33 9 Comments

Apa hal ternekat yang pernah kamu lakukan sepanjang hidupmu? Mencuri brownies ibu di kulkas? Minum air dingin diam-diam di siang bolong saat Ramadhan lalu ngaku puasa full? Mengirim surat cinta kepada gebetanmu yang jadi idola satu sekolah? Melamar pekerjaan tanpa memiliki keterampilan yang diminta perusahaan? Memilih jurusan dengan cara mengundi padahal tidak tahu apa-apa tentang nama-nama jurusan yang ada dalam undian tersebut?

Hal apa yang sebenarnya kita perlukan ketika melakukan kenekatan-kenekatan tersebut? Yup! Hanya satu, keberanian! Keberanian adalah lawan dari ketakutan. Ketakutan identik dengan kemustahilan. Inilah yang aku alami beberapa hari belakangan ini. Aku memilih mengambil segala risiko untuk melawan ketakutan dan kemustahilan yang selama ini memenuhi otak dan hatiku. Aku tahu, keberanian yang kumiliki nyaris nol. Aku mencoba untuk nekat, meski satu sisi hatiku mengatakan aku sedikit bodoh melakukan hal ini dan bisa saja akan mencelakakan aku atau setidaknya membuatku berada dalam masalah besar. Nyatanya, aku tetap melakukannya karena ada satu formula rahasia yang sudah kucampur di dalam kenekatanku. Jangan tanya apa formula rahasiaku karena bukan rahasia namanya kalau aku beri tahu padamu.

Kautahu apa ketakutan terbesarku setelah pocong? Keramaian. Aku takut sendirian berada di tengah-tengah keramaian. Entah kenapa, setiap berada di tengah keramaian, aku justru merasa sepi. Tempat keramaian yang berada di urutan teratas sebagai phobiaku adalah bandara. Aku tidak pernah pergi ke bandara sendirian. Itu artinya, akupun tidak pernah terbang sendirian. Aku membayangkan aku akan diculik ketika berada sendirian di bandara, lalu menjadi korban perdagangan manusia; atau dirampok/dirampas barang bawaanku; atau..ini yang paling kutakutkan: tersesat di bandara, salah masuk pesawat, terbang ke tempat lain yang aku tidak tahu apa-apa, belum lagi hal-hal rumit prosedural di bandara yang harus dijalani dan sebagainya dan sebagainya yang mungkin kamu akan tertawa membacanya.

Hingga hari itu, aku memutuskan untuk mencoba menghadapi semua itu. Sendiri.
Keputusan itu kuambil ketika aku mengikuti international conference selama beberapa hari di sebuah universitas di Malaysia. Sebenarnya aku berangkat bersama rombongan yang terdiri dari beberapa orang penting di universitas lain di kotaku. Mereka sudah mengatur jadwal keberangkatan dan kepulangan yang disesuaikan dengan agenda beberapa trip tambahan selain conference. Akan tetapi, berhubung aku sudah memiliki agenda penting yang sudah kusepakati untuk kulakukan sehari setelah conference, akupun memisah dari rombongan, pulang lebih awal ke tanah air.

Sejak hari keberangkatan, otak dan hatiku sudah dipenuhi “Bagiamana nanti aku pulang sendirian.” Untuk itu, aku memangkas barang bawaan. Aku meminimalkan jumlah baju yang dibawa. Aku mengatur semuanya agar yang kubawa hanya satu tas selempang kecil dan satu koper dorong yang masih bisa masuk kabin pesawat. Aku sengaja tidak memasukkan bawaan ke bagasi. Aku mengurangi satu prosedur di bandara, yaitu prosedur pengambilan barang/bagasi.




Barang yang wajib kubawa dalam tas selempang

1.       Dompet
2.       Kartu identitas/KTP
3.       Paspor
4.       Uang yang berlaku di negaraku dan negara setempat (besar dan kecil)
5.       Bedak, lipstik dan parfum
6.       Telepon genggam/ smartphone
7.       Buku catatan kecil
8.       Pulpen
9.       E-tiket, printout-nya
10.   Boarding-pass
11.   Kacamata
12.   Syal
13.   Peniti cadangan
14.   Earphone
15.   Power bank (tidak melebihi kapasitas yang diizinkan penerbangan), charger dan sambungan tiga lubang (di Malaysia berlaku yang ini).
16.   Sim card (yang berlaku di negara setempat)

Barang yang kumasukkan dalam koper dorong yaitu baju/gamis untuk 4 hari plus kerudungnya, jas hitam, blazer coklat untuk presentasi, pakaian dalam, 2 pasang kaos kaki cadangan, mukena, perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi dan perlengkapan skincare yang sudah kupindahkan ke dalam botol-botol atau kemasan kecil agar lolos pada pemeriksaan di bandara. Untuk menghemat bawaan, aku tidak membawa handuk, tidak membawa sandal dan sepatu cadangan.

Sendirian Mempelajari Rute Petualangan sekaligus Packing

Setelah menunaikan tugasku di international conference, akupun packing untuk pulang sendirian, lebih awal beberapa hari dibanding rombongan. Malamnya, ketika teman sekamarku sudah pulas tertidur, aku masih mengatur perlengkapan petualanganku.

Hal utama yang aku cek adalah E-ticket. Aku mengecek jam atau waktu keberangkatan pesawatku serta berapa waktu minimal untuk check in. O,iya tempat berlangsungnya acara yang kuikuti ini berada di kota Sintok bukan di Kuala Lumpur.  Bisa ditempuh melalui jalur darat dengan memakan waktu sekitar 6 atau 8 jam dari Kuala Lumpur. Untuk efisiensi, aku memilih jalur udara.

Artinya, rute kepulanganku adalah sebagai berikut:
Dari hotel tempat aku menginap/Sintok, aku memerlukan waktu kurang lebih 45-60 menit ke Bandara Alor Setar. Dari Alor Setar aku terbang ke Kuala Lumpur. Selanjutnya, dari Kuala Lumpur aku terbang ke Jakarta. Barulah dari Jakarta aku terbang ke Banjarmasin. Ada tiga penerbangan yang aku jalani. Ada 4 bandara yang akan aku hadapi. Dua bandara  untuk penerbangan internasional dan dua bandara penerbangan domestik. Dan... itu semua akan aku hadapi sendirian.


Oh, iya. Saranku, pastikan keberangkatanmu dari bandara yang mana. Jangan sampai salah menunggu. Di KL ada bandara KLIA 1 dan KLIA 2 yang jaraknya cukup jauh.

Yang membuatku lebih takut daripada menghadapi pocong  saat aku mempelajari e-ticketku adalah:
Setelah terbang dari Alor Setar, aku akan tiba di bandara KLIA 2. Sementara itu, untuk terbang ke Jakarta, yang tertera di e-ticket ku adalah aku harus terbang dari KLIA 1. Kautahu, itu artinya BIG PROBLEM bagiku yang tidak bisa apa-apa dan luar biasa penakut ini. Hal yang serupa akan aku alami lagi setelah tiba di terminal 2D Bandara Sutta. Aku harus pindah ke terminal 1A karena dari situlah pesawatku akan berangkat ke bandara Syamsudinnor/Banjarbaru. Lalu muncul pemikiran, bagaimana kalau pesawat dari Alor Setar delay? Maka aku akan terlambat tiba di KL dan mungkin akan ketinggalan pesawat ke Jakarta. Oh, aku takut luar biasa.

Petualangan Itupun Tiba
Malam keberangkatan itu, atas ide temanku, aku menghubungi resepsionis hotel untuk melakukan panggilan wake up ke kamarku pada pukul 05.00. aku takut bangun kesiangan. Nyatanya, aku sudah bangun sebelum resepsionis itu menelponku. Tidurku tidak nyenyak dan aku sangat sedikit benar-benar tertidur. Aku mengalami anxiety. Perutku mulas sepanjang waktu.

Dari tempat aku menginap yaitu hotel EDC, aku dijemput oleh panitia pukul 05.45. sebelumnya aku sudah mandi dan berwudhu. Aku tidak sempat breakfast dan minum apapun. Aku sholat dalam mobil karena saat di hotel, waktu subuh belum masuk. Jalan raya yang kami lewati masih gelap dan sunyi. Kesulitan memahami bahasa Melayu Malaysia membuat komunikasiku sedikit terbatas dengan mas-mas yang mengantarku ini. Aku juga heran, ternyata meskipun serupa dan serumpun, tidak serta merta membuat kami lancar berkomunikasi dengan orang Malaysia. Kadang-kadang, makna yang kami maksud akan lebih cepat ditangkap ketika kami sama-sama menggunakan bahasa Inggris.

Dari percakapan singkat, aku menemukan penjelasan bahwa aku memerlukan waktu sekitar 10 menit saja dari KLIA 2 ke KLIA 1. Aku sedikit lega. Ini berbeda dengan keterangan yang kudapat dari mbak guide kami sebelumnya. Dia bilang butuh 1 jam untuk ke KLIA 1 dari KLIA 2. Entah mengapa info ini berbeda-beda.

Sesampainya di bandara, mas-mas itu membukakan pintu  mobil untukku, mengambilkan koperku dari dalam bagasi mobil lalu menyerahkannya padaku. Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus. Pada detik itulah, ada gemuruh dalam dadaku. Aku menelan ludah, tetiba tenggorokanku terasa sangat kering. OMG, aku benar-benar sendirian sekarang. What should I do?


Bandara Alor Setar


Pintu otomatis bandara terbuka ketika aku berada tepat di depannya. Aku menyeret koper ke dalam. Rasanya kakiku digelangi rantai besi yang berat. Aku nyaris menyerah. Ada rasa ingin berbalik ke hotel. Bandara Alor Setar masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari selain aku.
Aku duduk sejenak di bangku yang berjejer rapi. “Aku sudah check-in online-kan tiketmu tapi kamu harus tetap lapor secara manual untuk mendapatkan boarding pass.” Aku terngiang kalimat temanku.

Akan tetapi kulihat di sana ada mesin yang berfungsi untuk melakukan check in sendiri dan mencetak boarding pass. Sama seperti yang kulihat di bandara KL. Hanya saja...aku ragu aku bisa mengoperasikannya. Aku mendekati seorang nenek yang di tangannya sudah ada cetakan boarding pass. Akupun bertanya dengan bahasa Melayu. Si nenek bilang gampang saja caranya, dia sudah diajari oleh anaknya sebelumnya. Nenek yang baik itu membantuku mencetak boarding pass.


Mesin self check in

Dari percakapan singkat kami, akupun tahu, nenek ini bukan sembarang nenek. Ia sudah sering terbang bahkan ke beberapa kota di Indonesia. 

Kali ini ia bersama dua orang temannya hendak terbang ke KL lalu besok akan ke Turki dan Ke Makkah untuk umrah. Aku bilang aku belum pernah terbang sendirian. Nenek itu heran, mengapa aku berani terbang sendirian jika belum punya pengalaman. Ia bilang ikuti saja ia sampai nanti masuk pesawat. Akupun bertanya bagaimana cara agar bisa sampai ke KLIA1 dari KLIA2. Ia menatapku prihatin sambil menjelaskan caranya. Aku sudah berusaha menyimak dengan baik. Entanh kecemasanku, entah gangguan bahasa, aku kesulitan memahami penjelasan si Nenek. Ia ada bilang train, kereta, bus, dsb. Aku tidak paham. Yang aku tangkap cuma satu hal, aku akan berhadapan dengan masalah besar di KLIA2!

Menuju KLIA1
Penerbangan yang sangat menegangkan. Sesampainya di KLIA2 aku mulai diserang panik yang luar biasa. Bandara itu berlipat-lipat jauh lebih besar dari bandara Alor Setar tentunya. Aku mulai bertanya kepada beberapa orang. Kautahu, tidak semua orang ramah dan mau menjawab pertanyaanmu di sini. Tetiba aku kangen orang Indonesia. Pantas saja orang asing sering bilang orang Indonesia itu ramah-ramah. Aku sudah mengalaminya. Sekalinya ada yang mau menjawab, ia menggunakan bahasa Melayu dengan sangat cepat. Aku tidak paham. Selebihnya orang-orang menggunakan bahasa china atau semacamnya.

Yang harus aku lakukan pertama-tama adalah keluar dari bangunan KLIA2. Mencari jalan keluarnya saja aku memerlukan waktu 15 menit! Aku haus tapi aku tidak terpikir untuk mencari minum. Setelah menemukan jalan keluar dari KLIA2 aku pun bertanya bagaimana cara ke KLIA1. Ada yang bilang, kau bisa memilih beberapa cara, dengan train atau juga bus. Atau semacam itulah aku lupa namanya. Aku lihat beberapa orang menuju bus berwarna kuning merah. Petugas menagih semacam tiket, aku rasa aku harus membeli tiket juga. Lalu akupun bertanya pada petugas, di mana bisa beli tiket untuk bisa masuk bus itu agar aku bisa ke KLIA1. Astaga, ternyata bus itu bukan bus ke KLIA 1. Petugasnya bilang, ke KLIA1 cari warna purple, free.

Aku mulai bergerilya mencari bus purple yang dimaksud. Untunglah tidak lama kemudian bus tersebut ada. Aku rasa, penjelasan mas-mas sebelumnya salah, ini sudah lebih dari 10 menit kurasa. Tetiba bus berhenti. Orang-orang turun, aku bingung. Tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti bandara. Lebih mirip hutan (setidaknya itu yang mataku tangkap). Ternyata, aku harus naik bus lain lagi setelah itu. Kalau tidak salah bus yang kunaiki ini disebut shuttle bus. Sampailah aku di KLIA1.


Di dalam Shuttle bus


Setelah menyeret koper melewati pintu otomatis bandara, aku tertegun. Selanjutnya apa? Tidak ada tanda-tanda tempat melapor atau semacamnya untuk check in. Aku diserang panik lagi. Perutku mulas. Lalu kulihat serombongan orang dengan seragam seperti hendak umrah. Mereka dipandu seseorang dengan gaya yang mengingatkan aku kepada abang Salih di kartun Upin Ipin. Aku mendekati mereka. Kami berada tepat di depan pintu besar dengan berbagai tulisan keterangan tiap lantai. Ada 5 lantai yang bisa dituju. Aku menebak-nebak, untuk terbang kami harus ke lantai 5. Aku menyerahkan e-ticketku kepada “abang Salih”. Kubilang, aku mau terbang ke Jakarta.  Untunglah dia baik. Dia bilang lantai 5 untuk penerbangan. Ikuti kami katanya. Pintu besar itu membuka, itu lift yang sangat besar tapi tetap tak cukup untuk sejumlah rombongan umrah yang ia bawa. Aku nyaris tertinggal di luar, tapi aku memohon untuk bisa masuk bersama mereka, aku tidak mau sendirian. Jadilah kami berdesakan dan koperku hampir kejepit pintu.

Sampai di lantai 5 barulah aku yakin, ini benar-benar bandara. Aku mencari jalur area yang bertulis penerbangan antarbangsa. Aku harus melewati pemeriksaan seperti biasanya, melewati bagian migrasi juga. Untuk itu, paspor harus selalu ada. Setelah itu, aku mencari tempat untuk check in. Oh iya, ada orang yang bertugas menjawab pertanyaan di sini. Ia memakai selempang bertulis “Ask Me”.  Selain kepada si Ask Me aku harus bertanya ke beberapa orang di mana check in untuk penerbangan Lion atau Malindo. Hingga aku menemukan bahwa aku harus ke jalur A. Aku menerima dua boarding pass. Satu untuk penerbangan ke Jakarta, satu lagi untuk ke Banjarmasin. Selanjutnya aku mencari Gate C31. Untuk sampai ke Gate C31 aku naik eskalator. Aku tiba lebih awal di Gate C31. Akupun bekeliling meihat-lihat. aku sempat membeli coklat di counter coklat. Tidak banyak karena aku kesulitan membawanya.



Tibalah waktu penerbanganku ke Jakarta. Aku duduk bersebelahan dengan seorang gadis muda yang lugu dan polos, berpenampilan sederhana, seadanya. Ia menduduki jatah bangkuku dekat jendela. Aku tidak peduli, bagiku tak soal aku duduk di manapun. Sayangnya, pramugari memeriksa boarding pass kami dan ia menyuruh duduk di bangku sesuai yang tertera di boarding pass. Saat menukar tempat duduk itu, tas kardus si gadis robek bagian bawahnya. Akibatnya barang-barangnya berhamburan. Aku membantunya memungut barang-barang. Pramugari menyuruhku bergegas duduk. Setelah duduk, aku mengeluarkan tote bag yang kulipat dalam tas selempangku. Tote bag yang kubawa dari Banjarmasin, yang kuniatkan sebagai cadangan kalau terjadi sesuatu hal. Selama di Malaysia aku tak pernah menggunakannya. Aku kasihkan tote bag itu ke dia. Dia kaget dan sangat senang. Ia hendak membayarnya. Kujawab dengan senyum sambil bilang tak perlu bayar. Ia berkali-kali berterima kasih. Aku dan dia bercakap-cakap berbahasa Melayu. Ia fasih sekali berbahasa Melayu. Aku hampir tidak menduga bahwa ternyata ia orang Indonesia. Dia ternyata seorang TKW yang sudah 2 tahun bekerja di Malaysia. Ini kepulangan pertamanya setelah 2 tahun. Itupun hanya untuk 3 hari.

Sesampainya di bandara Sutta, setelah sekian lama bercakap melayu dalam pesawat aku mengingatkan dia, “Bisakah kau mengubah gaya bicaramu ke bahasa Indonesia saja?” Aku mencemaskan dia. Dia bilang dia sama seperti aku, tidak pernah pergi sendirian sebelumnya. Aku takut ada orang akan berniat jahat kepadanya kalau tahu dia asing dan tidak tahu apa-apa, sementara cakapnya pun bukan Indonesia. Sebenarnya terlintas dalam hatiku hendak mengantar dan menemani dia sampai ke rumahnya. Konyolnya aku. Aku sendiri tidak tahu medan bukan? Akhirnya aku menitipkannya pada Tuhan. Semoga gadis TKW itu selamat sampai rumahnya.

Mencari Terminal 1A
Aku mendarat di terminal 2D. Setelah melewati pemeriksaan di bagian paspor dalam negeri, aku mencari pintu keluar untuk menuju terminal 1A. Aku bertanya kepada seseorang. Ia menjelaskan panjang lebar, khas orang Indonesia. Aku harus menyeberang kemudian naik ke atas, mencari Sky Train. Di sana aku bertanya lagi dengan seseorang. Ia mengenakan seragam bersama beberapa temannya. Mereka petugas bandara tapi aku tidak tahu apa persisnya. Mungkin semacam mekanik, teknisi, atau apalah. Ia seorang lelaki yang masih muda. Keramahannya membuatku berkali-kali menggumam dalam hati: I love u Indonesia. Ia menjelaskan padaku bagaimana cara menuju terminal 1A. Ia membersamaiku dalam Sky Train menuju terminal 1. Selama dalam Sky Train ia mengajakku ngobrol. Ia bertanya untuk apa aku ke Malaysia. Aku menjawab seperlunya. Lalu ia bertanya, berarti ibu seorang dosen? Selanjutnya ia bercerita pernah ditawari jadi dosen di sebuah kota di Indonesia dan akan dikuliahkan lagi. Ia sanagt ingin menjadi dosen. “Lalu kenapa tidak diambil?” Tanyaku. Dia menjawab sambil tersenyum, “Tempatnya jauh dari orang tua”. Keluar dari sky train ia menunjukkan arah yang harus kuambil selanjutnya. Aku mengangguk dan berlalu sambil berterima kasih, lalu...lagi-lagi kau berdoa pada Tuhan, semoga suatu hari, cita-citanya tercapai.

Setelah menemukan  dan memastikan letak pintu keberangkatan 1A, akupun mencari tempat makan. Bayangkan, tak ada setetes airpun kuminum sejak bangun tidur. Jamku menunjukkan pukul 16.14 waktu Banjarmasin. Aku makan di AW. Memesan nasi, ayam goreng, sup dan coklat hangat.
Aku makan dengan perasaan tidak karuan yang sulit kutuliskan di sini. Aku rasa, aku kesulitan menelan makanan. Coklat hangatnyapun tak bisa kuhabiskan. Lalu aku mencari mushola. Aku menjamak takhir sholat dhuhur dan Asar.
Makan di AW


Cukup lama waktu aku menunggu di terminal 1A. 



Hingga tiba waktuku terbang. Aku tertidur  sepanjang penerbangan. Bangun dengan perasaan yang campur aduk. Aku terakhir turun dari pesawat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah, aku mampir makan mie bakmi Jawa dan minum segelas jus wortel di sebuah rumah makan di Bandara Syamsudinnor sambil menunggu dijemput. 

Malam sudah larut. Aku pulang.... []








Sabtu, 06 Oktober 2018

Mencarimu di Bawah Langit Beku

00.44 0 Comments

Penggalan sebuah surat yang kutulis sehabis pertunjukan Musikalisasi Puisi di Bawah Langit Beku

---
Sedang apa kau sekarang?
Apa yang kau harapkan dari sebuah pertunjukan puisi? Kedamaian? Keindahan? Sesuatu yang menyentuh kalbu? Perenungan? Siraman jiwa?





Sungguh aku tak berani menyebutkan harapan yang muluk-muluk terhadap sebuah pertunjukan puisi. (Sama takutnya dengan berharap yang muluk-muluk terhadap kehidupan ini). Biasanya aku cukup berharap acara semacam itu mampu mengurangi sedikit dahaga dalam jiwa, mengusir penat, melabuhkan angan ke tempat semestinya. Minimal masih bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa jalan yang kupilih bukan jalan yang keliru.
Malam ini, ketika surat ini kutulis, aku baru saja pulang dari menonton sebuah pertunjukan puisi di kota kita. Tak sabar untuk segera menceritakannya padamu (entah kaupaham atau tidak), kutulislah surat ini.
---
tiket

Apakah kau sudah makan? Kalau belum, makanlah dulu. Makan yang banyak. Kaubilang masakan temanmu enak bukan?

Oiya, Karya-karya yang dibawakan malam 5 Oktober 2018 tersebut adalah karya-karya terbaik penyair Y.S. Agus Suseno. Apa? Kau tidak mengenalnya? Ah, ya, aku lupa. Kamu bukan orang sastra. Kapan-kapan kamu cari tentang dia di mesin pencarian andalanmu, hehe.
Dari begitu banyak karya puisinya, yang digarap dan dipentaskan malam itu ada 9 puisi. Semula aku pesimis bisa menikmati sembilan  puisi berturut-turut dalam sekali pementasan. Aku lupa membawa bekal minum dan kudapan. Aku kira aku bakal didera bosan.


Mungkin kaubertanya-tanya, jika punya prasangka buruk begitu, mengapa aku mau membeli tiketnya (@Rp25.000,00) pada hari pementasan? Tunggu, ada yang belum aku ceritakan padamu. Beberapa hari sebelumnya, aku melihat cuplikan acara tersebut di akun medsos penyairnya. Di antara sekian rasa pesimis, terselip optimistis dalam hatiku. Seakan ada yang menarik-narik jiwa agar aku menonton acara bertajuk musikalisasi Puisi “Di bawah Langit Beku”dan Pembacaan Puisi oleh Y.S Agus Suseno.
Singkatnya, aku membeli tiket, duduk manis di bangku lalu menonton pertunjukan.
---

Sedang apa kau sekarang? Pasti jawabanmu, “Sedang membaca suratmu.”

Aku lanjut cerita, ya. Acara dibuka langsung oleh sang penyair Y.S. Agus Suseno. Dia berperan sebagai MC sekaligus menyampaikan kata pengantar yang manis, nyaris tak ada kalimat yang percuma. Dia sempat bilang, inilah musikalisasi versi dia. Tidak ada sambutan-sambutan dari pihak manapun lagi. Dia menyampaikan rencana atau skenario malam itu, termasuk pembacaan puisniya yang berbahasa Banjar tentang situasi terkini.

Setelah itu kami larut dalam puisi. Tiap selesai satu puisi aku selalu bilang dalam hati, ini puisi yang paling aku sukai. Itu terjadi berulang hingga puisi terakhir. Aku terpesona.
Ketika puisi pertama ditampilkan, ada sesuatu dalam hatiku. Ini ,,sungguh indah. Di sela-sela puisi tersebut dilagukan, ada selingan ungkapan hati mereka. Ada cerita di balik layar. Ada cerita di balik makna puisi yang mereka aransemen dan bawakan. Mereka: Isbey, Zay, Finni dan Ole. Mereka membuat suasana malam itu begitu spesial. 

Aku tidak percaya saat itu sedang ada di kota kita. Acara sekeren ini ada di kota kita? Kamu di mana? Meski kamu gak ngerti puisi, aku yakin kamu akan berkomentar “Sound system-nya keren, gila, bagus banget.” Atau “Kostumnya lucu, serasi, cantik” atau “Berasa sedang duduk di kafe minum kopi” atau "Suara vokalisnya bening banget", "Petikan gitarnya mantap", atau ungkapan lainnya selain puisi tentu saja.


Oiya, ini judul-judul puisinya:
Kata Pengantar untuk Sajak Cinta
Kota-kota pun Tertidur
Hujan
Perjalanan Pantai
Pondok Kulit Kayu di Pegunungan Meratus
Sajak Cinta
Menulis Sajak Membuka Cakrawala Membaca Sejarah
Di Redup Cahaya Bulan Mati
Di Bawah Langit Beku

Dari sembilam puisi yang terpilih untuk dibawakan malam itu, aku menangkap sebuah perenungan dan pencarian yang dalam tentang hidup dan kehidupan,; hakikat manusia, agama, Tuhan, rumah, kota, hutan. Di puisi Hujan, ketika sampai bait terakhir, aku tidak tahu bagaimana tiba-tiba sudut mataku basah. .../Orang-orang menepi di masjid ini./ Entah kalimatnya, entah nadanya, entah keduanya menyatu meluruhkan dinding tebal dalam hatiku.  Kubaca catatannya, puisi hujan ditulis 1985. Aku masih 5 tahun ketika puisi itu lahir. Bagaimana aku bisa menangis ketika malam ini puisi tersebut dimusikalisasikan?



Apa kabar, Cinta?


Jangan kurung puisi-puisi dalam kepalamu, tapi bebaskan maknanya dalam hatimu.

Hingga tiba puisi Sajak Cinta aku tak bisa menahan gejolak. Cinta selalu membuat kita menjadi lebih muda, remaja, ceria, bahagia, penuh harapan dan mimpi. Nada yang paling berbeda ada di puisi ini. Aransemennya membuat aku mengingat diriku dalam bingkai yang kaubuat, yaitu masa remaja. Aku mendengar nada itu dan aku melihat kebahagiaan itu dalam puisi Sajak Cinta. Aku ternganga. Bagaimana kebahagiaan sajak cinta bisa mewakili Agus malam itu? Semakin akhir, semakin serius dan berat makna yang kutangkap dari aransemennya. Puisi-puisi terakhir sukses membuat airmataku luruh; ada rasa yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata.. Awesome!



bersama sastrawan  Hatmiati Masyud dan Sandy Firli

Kamu di mana?
Selama pertunjukan, beberapa kali aku membalikkan punggung dan kepalaku; kautahu, para penonton, para penikmat puisi, meraka begitu khidmat dan khusyuk. Nyaris tidak ada gangguan dari penonton. Dalam perjalanan pulang, aku tak putus-putus dari kesan berasa habis nonton konser ekslusif.  Ini pertunjukan terbaik yang pernah kutonton.

Aku sempat mewawancari Dr. Hatmiati Masy'ud, sastrawati Kalsel sekaligus dewan komisi pemilu, aku tanya bagaimana komentar dia terhadap pertunjukan. Kulihat beberapa orang penting malam itu hadir menyaksikan pertunjukan.


bersama Y.S.Agus Suseno dkk

Dia sempat terdiam. Aku tahu apa yang ia rasakan. Aku lihat pancaran ketakjuban di wajahnya. "Gurih" jawabnya sambil tersenyum renyah.

Aku rasa, ini bukan semata pencapaian seorang Y.S. Agus Suseno atau pencapaian 4 orang berkostum nuansa merah tersebut, melainkan pencapaian Kalimantan Selatan, pencapaian Indonesia. Usai pertunjukan ada adegan foto dan salam selamat. Lagi-lagi aku dikepung rasa "Di mana aku? Apakah benar aku sedang di kotaku? Dan bagaimana jawaban pertanyaanku di awal tulisan ini? Ah, kautahu aku mendapatkan semua hal dari pengharapan yang muluk-muluk itu malam ini.

Kau tahu apa yang paling kusesali dalam pertunjukan itu? Satu-satunya yang kusesali adalah kau tidak ada di situ malam itu. Harusnya kau ada, turut menjadi saksi keindahan kota kita di bawah langit beku. []




Rabu, 03 Oktober 2018

Menjadi Perempuan Cerdas di Era Digital

15.05 11 Comments


Prolog
Perkembangan dan kemajuan teknologi seakan mengepung kita dari berbagai sudut atau bidang kehidupan, siapapun dan sebagai apapun kita hari ini. Tidak dapat dielakkan lagi, gemuruh perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tidak hanya menawarkan berbagai perubahan kepada kita tetapi juga menuntut banyak hal kepada kita untuk bisa survive di dalamnya. Ketika kita hanya bisa diam memandangi segala yang terjadi di sekitar kita, bukan tidak mungkin nantinya yang akan berlaku adalah kita tenggelam dan ditinggalkannya.
Sebagai perempuan, era digital merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa diabaikan salah satunya. Pada satu sisi, kemajuan teknologi dan digitalisasi berbagai hal memberikan banyak peluang dan kemudahan hidup bagi kita dengan berbagai ide-ide kreatifnya. Misalnya betapa digitalisasi itu menjadikan alur keseharian kita sebagai perempuan menjadi lebih efektif dan efisien dengan bantuan teknologi. Akan tetapi di sisi lain, ia juga membawa peluang suburnya hal-hal negatif yang akan memberi dampak buruk bagi kita. Berbagai penelitian menyebutkan perkembangan dan kemajuan teknologi di era digital dapat memberikan dampak buruk bagi manusia, sebut saja hal-hal semacam kecanduan gawai, kecanduan game, rusaknya berbagai hubungan keluarga, perubahan emosi yang cenderung ke arah labil, serta masih banyak hal negatif lainnya.
Yang menjadi PR besarnya adalah bagaimana kita sebagai perempuan bisa tetap survive di era digital seperti sekarang. Bagaimana kita tetap bisa menikmati kemajuan teknologi tanpa dihantui rasa takut terhadap dampak buruk yang juga tersimpan di sebaliknya. Untuk mengerjakan semua PR itu tentu kita harus menjadi perempuan cerdas.

Tantangan Perempuan di Era Digital
Ada banyak tantangan yang akan kita hadapi sebagai perempuan di era digital. Digitalisasi sebagai sebuah proses maupun sebagai sebuah produk tidak begitu saja hadir di tengah-tengah kita. Ada efek sertaan atau ikutan yang selalau ada tanpa bisa kita abaikan.  

Tantangan pertama adalah suatu keadaan yang saya sebut sebagai shocking technology. Tidak sedikit di antara kita mengalami suatu keadaan mendadak teknologis. Ketika kita kurang siap dan kurang cerdas menghadapinya, kita bisa jadi tidak mendapat banyak sisi positif, sebaliknya malah lebih banyak mendapat sisi negatif. Shocking technology yang dimaksud adalah suatu keadaan ketika kita mengalami hal-hal buruk dan tidak seimbang dalam hidup sebagai akibat kemajuan teknologi. Beberapa contohnya yaitu: lebih banyak waktu terbuang untuk bermain game online; lebih banyak memegang gawai daripada mengerjakan pekerjaan lain yang lebih penting dan bermanfaat; terlalu banyak hal tidak penting dan tidak layak menjadi konsumsi publik yang di-share ke dunia maya; menjadikan kegiatan online di dunia maya lebih utama dibanding pekerjaan lain/primer seperti makan, minum dan tidur.
Solusi:
Untuk itu, kita sebagai perempuan harus cerdas menimbang dan memilah kapan dan bagian mana dari kemajuan teknologi yang bisa kita pakai dan membantu pekerjaan kita. Kita yang harus menguasai teknologi bukan teknologi yang menguasai kita. Kita sebagai perempuan misalnya, bisa membangun perekonomian keluarga dari rumah, membangun bisnis dengan tidak meninggalkan tugas utama kita sebagai seorang ibu.

Tantangan kedua adalah dalam hal komunikasi. Tidak saja kita akan mengalami misscommunication dengan orang-orang di sekitar, bahkan lebih dari itu, mungkin saja kita akan lost contact dari orang-orang terdekat. Kita tentu tidak asing dengan kalimat “Mendekatkan yang jauh tapi menjauhkan yang dekat” sebagai salah satu dampak kemajuan teknologi di bidang informatika dan  telekomunikasi. Hari ini sering kita jumpai orang-orang duduk dan bersama dalam satu meja tetapi mereka tidak saling bertegur sapa; mereka tidak saling berkomunikasi. Mereka masing-masing sibuk dengan gawainya, entah berselancar di dunia maya, bermain game atau sekadar ngobrol dalam sebuah grup di media sosial yang tidak jauh lebih penting daripada percakapan di dunia nyata.
Solusi: Tidak ada yang terbaik yang bisa kita lakukan selain memulainya dari diri kita sendiri dan dari rumah kita sendiri. Kita harus cerdas menentukan mana komunikasi yang lebih penting di antara hubungan-hubungan komunikasi yang kita anggap sangat penting.
Salah satu hal lagi yang 

Tantangan ketiga adalah kemungkinan hidup dalam Kepura-puraan.
Siapakah diri kita yang sesungguhnya hari ini? Sebagai siapa kita dikenal oleh kawan-kawan kita, keluarga kita, rekan kerja kita, bahkan mungkin rival-rival atau musuh-musuh kita? Berapa persen kejujuran tentang kita yang kita sajikan dalam akun media sosial kita? Tidakkah kita menulis dengan niat jaim (jaga image) semata atau pencitraan belaka atau jangan-jangan kita pun terlalu berlebihan meng-ekspose kelemahan kita serta aib-aib kita? Foto-foto editan yang hanya menampilkan wajah tercantik kita, tidakkah itu sebuah kebohongan yang suatu saat menjadi bumerang bagi kita.
Hari ini, berapa banyak orang menilai kita hanya dari status-status di akun medsos? Baik buruknya kita dinilai dari status dan postingan kita di media sosial. Tidakkah itu menakutkan? Seberapa besar orang memahami pribadi kita yang sesungguhnya sebagai suatu individu?
Solusi: mulai sekarang kita harus lebih cerdas memilih mana yang layak kita posting dan mana yang sebaiknya hanya tersimpan di galeri hp kita. Jika kita bingung, bertanyalah pada hati kecil sebelum kita memposting sesuatu. Terkait dengan komunikasi dalam keluarga, memanfaatkan teknologi adalah sebuah keharusan. Jangan sampai kita kehilangan moment penting dengan anggota keluarga hanya karena kita tidak bisa mengakses akun-akun mereka. 

Mengapa tidak mencoba membuat grup keluarga misalnya.
grup seorang ibu bersama anak-anaknya


Langkah kecil biar tetap cerdas dan cantik
Di era digital, pertemanan sudah lintas ruang dan waktu. Seperti itulah yang dialami oleh para perempuan yang tergabung dalam Female Blogger of Banjarmasin (FBB). Sebuah komunitas bloger yang tahun ini secara resmi berusia 2 tahun. Di tahun keduanya ini, FBB bekerja sama dengan Iwita untuk melakukan sebuah upaya untuk menjadi perempuan yang lebih cerdas di era digital. Indonesia Women Information Technology Awareness (IWITA) merupakan organisasi berbadan hukum untuk mencerdaskan perempuan Indonesia melalui Teknologi Informasi.
Perempuan akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Kecerdasan ibu akan menjadi bekal meraih kebahagiaan anak-anaknya, sebaliknya kebahagiaan anak-anak akan menjadi alasan bagi ibu untuk tetap cerdas dalam hidupnya.

Iwita hadir dengan visi terwujudnya perempuan Indonesia tanggap teknologi informasi melalui advancement, learning, impelentation dan socialization sehingga perempuan dapat berperan dan berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia dan membentuk generasi bangsa yang beraklak mulia dan berprestasi. Berbagai kegiatan diadakan oleh Iwita, salah satunya adalah Gerakan kesadaran literasi digital.
Tentu bukan sesuatu yang berlebihan jika para member FBB pun berharap bisa berperan serta sebagaimana yang telah dicanangkan oleh Iwita.
Selamat ulang tahun yang kedua FBB. Semoga meraih impian dan harapan di tahun berikutnya.



Epilog
Siapapun kita di luar sana yang hingar-bingar, kita tetaplah seorang perempuan di dalam keheningan jiwa kita.[]


Minggu, 30 September 2018

Ketika Tradisi Menjadi Amanah: Catatan Kecil Pementasan Pengumbar Tersipu III

00.00 6 Comments




Apakah yang paling berharga dalam hidup ini selain mempercayai hal-hal yang sudah semestinya kita percayai? Bahkan di saat seluruh orang tidak lagi berkenan mempercayainya, bukan alasan untuk kita meraguinya. Penggambaran semacam itulah salah satu dari banyak hal yang dapat ditangkap dari pementasan Pengumbar Tersipu III alias Pementasan Pengurus Baru Teater Wasi Putih Politeknik Negeri Banjarmasin Jilid III dengan judul Jukung Tanpa Pewaris karya M. Irwan Aprialdy, Sabtu 29 Sepetember 2018 di Halaman Gedung E Kampus Poliban. Sebuah pementasan yang cukup berimbang antara kekuatan naskah dengan penggarapan naskahnya yang mengangkat tradisi sebagai tema utama.
Bicara tradisi, ada nilai-nilai yang menaungi di atasnya. Nilai kekeluargaan atau kekerabatan merupakan nilai utama yang di-eksplore dalam cerita. Jukung, uma, sungai, tanggui, pasar terapung, alam roh merupakan hal-hal yang dapat kita tangkap sebagai ikon Banjar. Begitu juga dengan isue “ikatan darah” yang diungkap dalam alurnya. Tidak salah lagi, konsep ikatan darah dalam penceritaan tersebut mau tidak mau menjadi salah satu hal yang akan merujuk kepada tradisi Banjar. Konsep “bubuhan” begitu lekat dalam keseharian Orang Banjar. Seringkali kita harus memberi jejak pada kepercayaan kita terhadap suatu hal dengan “Dia bubuhan si anu” atau “bubuhan anu”. Pada umumnya, seseorang yang mendapat sebutan “bubuhan si anu” akan memiliki karakter seperti si anu. Setidaknya itulah hal yang dipercayai urang Banjar. Bubuhan alim ulama misalnya – cenderung akan memiliki karakter alim ulama juga.
Akan tetapi, hal tersebut ditabrak oleh ketiga anak kandung Uma Bainah. Ketiganya memiliki kecanduan akut terhadap hal yang berbeda. Ada yang kecanduan harta, kecanduan kehormatan dan kecanduan obat. Ketiganya tidak seidealis Uma Bainah dalam banyak hal terutama dalam hal memelihara tradisi keluarga terkait jukung warisan. Jukung yang mestinya sudah bisa disebut sebagai barang  antik ternyata memiliki sebuah” kutukan” agar tetap dijalankan oleh keturunan pemilik sebelumnya. Jukung yang dikisahkan sudah ada sejak zaman Belanda dan melindungi serta menghidupi juriat keluarga tersebut hingga sampai ke generasi uma Bainah. Konon, jika tidak dijalankan ia akan berakibat fatal.
Perihal jukung peninggalan uma yang sebenarnya sudah dipersoalkan sebelum sang uma meninggal menjadi pusat penceritaan yang sangat lengkap. Jukung kepunyaan keluarga ini bukan sekadar jukung biasa melainkan sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah terputus sebelumnya. Dalam cerita ini, dituturkan betapa sebuah tradisi dirawat dan dijaga dengan sebuah alasan “ikatan darah”. Sebuah isue pemertahanan tradisi yang nyaris nonsense untuk sebuah jukung di era canggih seperti sekarang. Jangankan dalam kehidupan nyata, dalam cerita pun hal tersebut disangsikan oleh para tokoh. Bahkan tokoh Taufik dalam cerita ini menyebutnya sebagai sebuah kesialan.



Bisa jadi jukung dalam cerita tersebut adalah simbol pentingnya sebuah kepercayaan terhadap ikatan kekerabatan. Kepercayaan yang lambat laun akan digerus oleh banyak hal –  yang dalam hal ini seringkali kita menuduh kemajuan zaman dan teknologi sebagai penyebab utamanya. Kita sering lupa, jika benar kemajuan teknologi merupakan perusak yang paling niscaya mengapa masih ada orang-orang seperti Sari yang juga merupakan user tetap dari teknologi seperti orang-orang lainnya (:tiga bersaudara kandung anak Uma Bainah) tetap teguh memegang tradisi yang bahkan bukan menjadi tanggung jawab utamanya.
Sepanjang pementasan, para pemain seperti berlomba memperlihatkan kekuatan masing-masing. Nyaris tidak ada tokoh yang lemah dalam pengkarakteran. Semua pemain mendapat porsi yang hampir seimbang. Pementasan ini bahkan melibatkan para penonton menjadi bagian pementasan secara bolak-balik pada bagian tertentu. Peran penonton menjadi bagian penting yang turut membangun suasana yang sudah coba dibangun sejak awal pementasan. Konsep anja membantu memberi warna terhadap upaya terbangunnya suasana yang diharapkan oleh pengonsep. Sebagai sebuah pementasan outdoor, pementasan ini terbilang berhasil menjaga suasana yang diharapkan dari awal hingga akhir pementasan. Bagimanapun tidak mudah "menjaga" penonton yang majemuk untuk bisa fokus pada sebuah pementasan. Dekor panggung, lighting, hingga musik/back sound yang mengiringi menyatu sebagai sebuah unsur penting yang mencerminkan keseriusan penggarapan. Penonton "dipaksa" untuk menuruti konsep penggarapan tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai penonton yang merdeka.

Kesetaraan karakter seluruh pemain membuat seluruh tokoh terlihat penting. Kalaupun terpaksa harus dipilih, maka karakter Sari menjadi yang paling menonjol dalam hal  ini. Sari menjadi satu-satunya kunci penghubung kemajuan zaman dan teknologi dengan kepercayaan terhadap tradisi. Ajaibnya, Sari bukan bubuhan asli Uma Bainah. Sari bukan anak kandung Uma Bainah. Jelas Sari tidak akan pernah bisa mewarisi jukung Uma Bainah. Pertanyaannya, mengapa Sari yang bukan anak kandung Uma Bainah begitu peduli terhadap Uma Bainah dan jukungnya? Begitulah hidup memberikan motif lain dalam riwayatnya. Di tengah pentingnya memelihara ikatan kekeluargaan (pertalian darah), melakukan hal-hal baik kepada orang lain seringkali menjadi sesuatu yang penting untuk kehidupan.
Sari tidak mencintai Uma Bainah dengan cinta buta. Sari mempelajari banyak hal sebelumnya dari Uma Bainah hingga akhirnya ia yang terbebani oleh amanah. Orang-orang seperti Sari tidak banyak dalam realita tapi tidak banyak bukan berarti tidak ada, bukan? Sayangnya di akhir cerita Sari pun terpaksa pergi meninggalkan semuanya setelah dia pikir dia telah menyelesaikan semua hal yang diamanahkan kepadanya.
 Coba tengok sekelilingmu, barangkali ada Sari-Sari lain yang masih teguh meyakini dan memegang tradisi - bahkan tradisi yang tidak masuk akal sekalipun. Barangkali, salah satu Sari itu adalah kamu sendiri. Who knows? [] Nai



Usai pementasan, 01.00 30 Sept 2018: di sela riset, angket, deadline paper, prosiding, BKD, ultah fbb, international conference, semnastik, dll.
Selamat untuk semuanya: awesome!
Salam tradisi untuk Amin: selamat menemukan karaktermu.


Jumat, 07 September 2018

Komunikasi Antarbudaya dan Relasi Antarpribadi dalam Cerpen “Dosen Pun Perlu Becermin” Karya Aboe Fadhil

00.23 0 Comments
Ini adalah materi yang aku bawakan ketika diminta penguasa Kindai Seni Kreatif untuk menjadi "Jaksa Penuntut Umum" dalam ruang sidang majelis cerpen milik Aboe Fadhil. Sebelumnya, jika kau belum tahu apa itu Kindai Seni Kreatif segeralah cari tahu. Kalau perlu tanya google dulu...hehe. Baiklaah sekarang mari nikmati celotehanku:

Komunikasi dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan Edward T.Hall mengatakan “Komunikasi adalah kebudayan dan kebudayaan adalah komunikasi.” Dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi; sebaliknya, hanya dengan komunikasi pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan. Kebudayaan hanya bisa eksis jika ada komunikasi.
Proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki adanya interaksi sosial. Ini terjadi secara alamiah. Menurut Watzlawick, Beavin dan Jackson, isi komunikasi tidaklah berada dalam sebuah tempat ataupun ruang yang terisolasi. Isi dan makna adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang essensial dalam membentuk relasi. Dengan kata lain relasi antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diiterpretasi (Liliweri, 2009).

Dalam kerangka mencermati kajian komunikasi antarbudaya dikenal beberapa asumsi, beberapa di antaranya adalah:
1.      Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar adanya perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan
2.      Dalam komunikasi antarbudaya terdapat isi dan relasi antarpribadi
3.      Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi
4.      Komunikasi antarbudayabertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian
5.      Komunikais berpusat pada kebudayaan
6.      Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya
Relasi antarmanusia sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna sebuah pesan diinterpretasi. Dengan siapa seseorang berkomunikasi, apa hubungan seseorang tersebut dengan orang yang menjadi rekan komunikasinya akan sangat mempengaruhi interpretasinya terhadap pesan yang dikomunikasikan.
Mempelajari hal-hal tersebut dari sebuah karya sastra berbentuk cerpen, bukan sesuatu yang gampang tapi tentu saja bukan sesuatu yang mustahil. Melalui dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah cerpen, pembaca bisa menangkap siapa dan bagaimana pengguna dialog tersebut berperan dalam cerita secara keseluruhan. Dialog-dialog tersebut secara universal akan membawa pembaca kepada suatu keadaan yang mirip dengan saat saat sedang becermin. Tentang bagaimana relasi antarpribadi kita dengan seseorang, tentang bagaimana komunikasi antarbudaya yang sedang terjadi pada masyarakat kita di era kekinian.

SSeberapa Penting Kita Becermin?
Cerpen yang ditulis oleh Aboe Fadhil, “Dosen Pun Perlu Becermin” memuat realitas komunikasi antarbudaya serta relasi antarpribadi sebagimana yang tertera dalam pendahuluan tulisan ini. Cerpen ini berkisah tentang seorang dosen benama Pak Asmi,M.Pd. yang memiliki karakter sebagaimana terdapat pada cuplikan berikut:
Ia tidak berani mengetuk pintu, sebab ia tahu karakter sang dosen. Pak Asmi itu sangat tegas dan konsisten dengan keputusannya, serta sangat objektif dalam memberikan penilaian. Semester sebelumnya, dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D. Mahasiswa yang terlambat, kalau pun diizinkan masuk, pasti disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, dan di Daftar Hadir tetap dicatat absen, seperti yang dialaminya dua minggu yang lalu. Tapi itu lebih mending daripada diusir dan disuruh pulang, seperti yang dirasakannya minggu sebelumnya.

Cuplikan tersebut berasal dari satu paragraf dalam cerpen DPPB. Sebagai sebuah paragraf secara umum, paragraf tersebut sebenarnya bukan sebuah paragraf yang baik dilihat dari kriteria dan syarat paragraf. Salah satu syarat paragraf yang baik adalah adanya unsur kesatuan, artinya dalam satu paragraf hanya boleh ada satu ide pokok yang dijabarkan menjadi beberapa kalimat pembangun paragraf tersebut. Ini cerpen, bukan karya ilmiah – barangkali ada yang berkometar seperti itu. Baiklah, bagaimana kalau kriteria tersebut diabaikan saja kali ini. Ini artinya, paragraf tersebut merupakan cermin sebuah kegamangan ketika seseorang menginterpretasi lawan komunikasinya.
Tegas, konsisten, objektif dalam memberi nilai, adalah hal-hal positif dalam paragraf ini sebagai penggambaran sang dosen yang harusnya menjadi hal membanggakan bagi para mahasiswanya. Akan tetapi pada saat yang bersamaan hal-hal positif tersebut disandingkan dengan disemprot dulu dengan kata-kata yang pedas, di daftar hadir tetap dicatat absen, serta diusir, disuruh pulang. Di tengah-tengah kedua hal kontras tersebut, informasi tentang dari 40 mahasiwa, hanya 4 orang yang mendapat nilai A, 7 orang menerima nilai B, selebihnya memperoleh C dan D menjadi sebuah wacana yang interpretasinya bisa jadi sangat abu-abu. Akankah ini menjadi penguat kararkter positif dari sang dosen atau justru sebaliknya menjadi penambah point jeleknya si dosen. Informasi inipun terletak di tengah-tengah. Ketika ini diinterpretasi oleh mahasiswa yang rajin belajar, giat berjuang, lalu dapat nilai terbaik, maka informasi ini menjadi penguat bahwa Bapak Asmi adalah dosen yang sangat objektif. Bapak Asmi memberi nilai sesuai pekerjaan dan kualitas intelektual mahasiswanya. Akan tetapi ketika ini lebih didekatkan kepada hal-hal negatif semacam disemprot, dianggap absen, diusir dan disuruh pulang maka gambaran nilai-nilai tersebut dapat diinterpretasikan sebagai sebuah kekejaman sang dosen atau paling tidak ketegaan dosen.
... Atau laporkan saja sama Dekan, atau kepada Rektor kalau perlu, bahwa dosen ini terlalu otoriter, killer,” bisik egonya.
Kutipan tersebut mempertegas interpretasi mahasiswa terhadap sikap objektif dosennya. Relasi antara sang mahasiswa dengan dosen menjadi sebuah relasi antar pribadi yang tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan. Sikap tegas dan disiplin yang diterapkan oleh dosen menjadikan dosen mendapat predikat dosen otoriter dan dosen killer dari mahasiswanya.
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Akan muncul pertanyaan-pertanyaan semisal “Bagaimana perasaan dia terhadap saya? Bagaimana sikap dia terhadap saya? Apa yang akan saya peroleh kalau berkomunikasi dengan dia?” Untuk menuntaskan pertanyaan-pertanyaan ini, seseorang memaksa dirinya untuk berkomunikasi sehingga akan menemukan suasana relasi yang lebih pasti.
Inilah yang terjadi pada tokoh Fadil dalam cerpen DPPB. Dari awal cerpen ini dibuka hingga lebih dari pertengahannya, Fadil berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggambarkan ketidakpastian dirinya tentang relasi sesungguhnya antara dia dengan sang dosen.
Dalam studi komunikasi, tingkat ketidakpastian itu akan berkurang saat kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi. Ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Di antaranya adalah tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal serta tahapan membuka diri dan memahami mengapa orang lain berbuat atau melakukan  sesuatu.
Yang dilakukan Siska dalam cuplikan berikut misalnya,
Tiba-tiba Siska yang merasa harga dirinya dilecehkan, mengangkat wajah. Sambil menyeka airmata dengan ujung kerudungnya, ia berkata tegas: “Bapak sendiri perlu becermin!”

Bukan hanya karena perasaan harga diri yang dilecehkan yang membuat Siska berani mengeluarkan kalimat Bapak sendiri perlu becermin. Siska mengeluarkan pernyataan tersebut sebagai tanggapan lanjutan – yang tidak diceritakan oleh pengarang pada bagian sebelumnya – bahwa di wajah sang dosen ada butiran nasi.
Sebuah tindakan yang diterima oleh sang dosen sebagai sebuah pelajaran berharga. Betapa ia sebelumnya juga harus terburu-buru agar tidak terlambat masuk ruangan. Tanggapan selanjutnya adalah dengan memberikan sebuah soal kepada mahasiswanya.
Ini bagian drama dalam cerpen DPPB. Di dalamnya tersimpan kekuatan sekaligus kelemahan cerpen ini. Dikatakan kekuatan karena ternyata setelah Fadil menjawab soal dengan benar, sang dosen menjadi lebih kooperatif. Ini makin menunjukkan bahwa tokoh dosen dalam cerpen ini sebenarnya adalah dosen yang baik dan benar. Ia menghargai Fadil sebagai penjawab soal yang benar walaupun seharusnya Fadil layak mendapat hukuman atas keterlambatannya. Momen ini sebuah gambaran positif yang seharusnya membuat masyarakat (:mahasiswa) becermin, agar lebih jelas terlihat siapa sebenarnya yang sedang keliru. Sisi kelemahannya adalah hal tersebut terkesan dipaksakan untuk memenangkan mahasiswa. Ini juga yang terlihat ketika Fadil mengajukan pertanyaan kepada Pak Asmi yang tidak bisa dijawab oleh dosen tersbut meski ia sudah mebuka-buka bukunya.
Seberapa penting dosen becermin? Tentu sangat penting karena dosen adalah sosok yang menjadi contoh pertama yang dilihat oleh mahasiswa di dalam kelas. Akan tetapi, hendaknya mahasiswa lebih sering becermin, melakukan upaya-upaya mengurangi ambiguitas tentang relasinya dengan sang dosen. Bagaimanapun, dosen adalah orang yang akan memberikan banyak manfaat (ilmu dan lain-lain) bagi mahasiswa.
Teori atribusi dalam komunikasi menganjurkan agar kita harus lebih mengerti perilaku orang lain dengan meyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dia. Pertanyaan yang relevan adalah “Apa yang mendorong dia berkata, berpikir atau berbuat demikian?” Mahasiswa hendaknya bertanya pada dirinya mengapa kami tidak boleh terlambat masuk kelas? Mengapa dosen memarahi kami kalau kami terlambat?

  Bagian Akhir: Kepada Siapa Cerpen Ini Berpihak?
Dari judul sudah jelas terlihat, cerpen ini tidak memihak dosen. Cerpen ini semacam sarana untuk mengata-ngatai dosen, mengkritik dosen, merundung dosen. Realitanya, dosen adalah manusia-manusia intelektual yang mempunyai tiga tugas utama atau yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tiga dharma ini yang membedakan dosen dengan profesi lain di muka planet bernama bumi. Terlebih sejak perguruan tinggi berada di bawah kemenristekdikti, para dosen makin terlatih dan terdidik menjadi masyarakat pembelajar yang tidak boleh menyerah begitu saja terhadap keadaan. Pro kontra pasti ada. Akan tetapi terkadang kita tidak punya pilihan lain, dalam lini apapun, kita bisa saja dihadapkan pada hanya dua pilihan, bergerak atau tertinggal lalu mati.
DPPB menyimpulkan satu hal bahwa dosen adalah manusia bukan dewa atau malaikat. Entah disadari atau tidak, jika semula cerpen ini dimaksudkan untuk menasehati dosen, maka yang tertangkap justru sebaliknya. Cerpen ini hendaknya menyadarkan mahasiswa bahwa bagaimanapun kendali tetap berada di tangan dosen yang baik. Ia berhak menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswanya. Jika ia mau, bisa saja Pak Asmi melempar balik pertanyaan Fadil kepada seluruh mahasiswanya tapi tidak. Ia tidak melakukan itu. Ia memilih menampung pertanyaan itu untuk dijawab di lain waktu. Ia malah masih sempat memberi nasehat sambil menunjukkan sikap ramah, “Kamu jangan telat lagi ya!” Betapa baiknya sang dosen [] Nai