Tampilkan postingan dengan label Cara Mendidik Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cara Mendidik Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

PR dan Tugas Anak dikerjakan Orang Tua, Bolehkah?

06.51 8 Comments
Setelah anak memasuki dunia sekolah, sudah tentu akan berhadapan dengan PR atau tugas sekolah. Mulai PR yang sifatnya menyalin ulang teks dari buku paket, PR mengerjakan soal latihan, PR mengarang, PR mencari referensi di internet sampai PR membuat kerajinan tangan atau prakarya. Mulai dari PR yang luar biasa gampang sampai dengan PR yang susahnya minta ampun.

Full day school biasanya tidak memberi anak PR atau tugas yang banyak. Paling-paling PR atau tugas yang memang tidak bisa dilakukan di sekolah pada jam sekolah, misalnya mewawancarai Pak RT, menulis liputan ibadah kurban, dll.
Sementara sekolah negeri pada umumnya memberikan PR yang cukup banyak dengan maksud menambah jam terbang anak alias agar anak rajin latihan soal.

PR yang layak dikerjakan oleh anak

Tahukah, Anda tidak semua PR atau tugas layak dikerjakan oleh anak, lho. Menurut saya PR yang layak dikerjakan oleh anak setidaknya harus memenuhi kriteria berikut;

Dilihat dari jumlah soal
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang jumlah soalnya masuk akal untuk dikerjakan. Masuk akal di sini artinya jumlah soal sebanding dengan waktu pengerjaan dan tingkat atau level pendidikan anak dan jenis soal/mata pelajaran. Misalnya, anak SD mendapat PR matematika dengan jumlah soal 50 s.d 100, jenis soal penerapan beberapa rumus, waktu pengerjaan hanya 1 malam. Ini termasuk contoh PR yang tidak layak dikerjakan oleh anak.

Dilihat dari tingkat kerumitan
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang tingkat kerumitannya sesuai dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor anak. Misalnya, anak kelas 1 SD diberi tugas menyurvei harga sembako di pasar tradisional secara berkelompok tanpa ditemani orang dewasa. Ini termasuk PR atau tugas yang tidak layak dikerjakan oleh anak. Contoh lainnya, anak kelas 2 SD diberi tugas membuat kerajinan tangan yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi seperti menyulam kruistik.
Lain halnya jika tugas tersebut misalnya mengukur panjang aneka daun seperti yang dilakukan oleh anak ini. Tentu tugas semacam ini bisa dikerjakan oleh anak bahkan tanpa ada orang dewasa.


Idealnya tingkat kerumitan dan kesesuaian anak dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor ini sudah tidak perlu diragukan jika dalam penyusunan bahan ajar sudah diperhatikan hal-hal tersebut yang tertuang dalam tujuan pembelajaran maupun kompetensi yang ingin dicapai. Artinya, setiap PR atau tugas menyesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam tiap pembelajaran. Sejatinya, tugas atau PR manfaatnya untuk anak bukan untuk guru.


Dilihat dari keamanan
PR atau tugas hendaknya tidak membahayakan anak baik dari segi fisik maupun mental/psikis. Anak kelas 1 SD misalnya jangan sampai diberi tugas yang memerlukan penggunaan alat-alat berbahaya bagi anak seperti senjata tajam, alat elektronik (colok ke listrik), atau tugas yang harus dikerjakan dekat sungai. Tugas seperti ini kalau tidak didampingi oleh orang dewasa sebaiknya tidak usah dikerjakan oleh anak.

Mengerjakan PR Bersama
Anak memerlukan rasa mampu dan rasa berprestasi dalam dirinya. Penting bagi guru dan orang tua untuk mempertimbangkan apakah tugas atau PR yang diberikan bisa dikerjakan oleh anak secara mandiri. Ketika anak mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri, anak akan mendapatkan rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Ini penting bagi perkembangan emosi dan pribadi anak. Itulah sebabnya perlu ada contoh yang konkret sebelum anak diberi tugas.

Bagaimana kalau anak ternyata mendapat PR yang tidak layak dikerjakan? Bolehkah orang tua membantu? Bukan boleh lagi tapi wajib. Dalam beberapa hal yang kasuistik bahkan bila perlu tugas jangan dikerjakan sebelum mendapat petunjuk lengkap agar anak mampu mengerjakannya. Orang tua bisa menghubungi guru untuk mendiskusikannya.

"Mama, mama saja yang mengerjakan. Aku gak bisa. Kalau gak dikerjakan aku dihukum."

Pernah mendapat kalimat seperti itu dari anak? Bagaimana menyikapinya?


  1. Jangan panik, jangan marah
  2. Jangan sibuk dengan dugaan dugaan sendiri.
  3. Cek soal yang diberikan, cocokkan dengan buku teks atau buku pegangan, cek tujuan pembelajaran.
  4. Tanyai anak satu contoh yang ada di buku, cek kepahamannya terhadap materi. Jika ia tidak paham berarti sudah pasti dia tidak bisa mengerjakan tugas atau PR tersebut.
  5. Beri penjelasan ulang pada anak tentang materi yang menjadi tugas tapi bukan mengerjakan PR dari guru. Jika anak sudah paham, minta dia mengerjakan tugasnya di bawah pengawasan.
  6. Jika hal ini berulang terjadi, barangkali perlu dilakukan diskusi dengan guru. Jika anak memang agak terlambat dari yang lain, berarti perlu dilakukan upaya-upaya lain sesuai kondisi anak.


Pada beberapa buku teks malah terdapat tugas yang khusus dikerjakan anak bersama orang tua. Dengan dibantu orang tua, anak akan lebih bersemangat mengerjakan tugas. Selain itu, ini juga bisa jadi upaya orang tua untuk lebih dekat dengan anak.

Beberapa waktu lalu anak-anak saya mendapat tugas yang harus dikerjakan bersama orang tua. Ada tugas membuat boneka, tugas mengukur aneka daun, tugas membuat pigura dan lain-lain. Mereka senang bukan main. Selain itu, tugas sekolah membuat anak lupa pada gadgetnya. Ini yang penting! []

Kamis, 28 Desember 2017

Arti Piagam dan Piala bagi Anak

12.21 9 Comments

doc pribadi
Setiap piagam, sertifikat, piala, tentu punya arti yang berbeda bagi semua orang  meski pada umumnya sama-sama menyuratkan prestasi-prestasi yang layak dibanggakan oleh pemiliknya. Terlebih jika yang mendapatkannya seorang anak, maka orang tuanyalah yang paling berbangga hati.

Piagam dan Piala Perspektif Keluargaku 
Bagi kami sendiri, benda-benda tersebut selalu membawa cerita unik di sebaliknya. Tentang gigihnya perjuangan, pentingnya giat latihan serta yang lebih penting adalah tetap sportif apapun yang terjadi. Menang tidak sombong, kalah jangan patah. Coba lagi. Itu yang kutanamkan pada anak-anak.
Menanamkan sportivitas pada anak bukan pekerjaan yang gampang. Aku masih ingat ketika anak sulung dan anak keduaku mengikuti beberapa cabang lomba mewakili sekolahnya bersama beberapa temannya. Artinya, selain bersaing dengan orang lain, mereka juga bersaing dengan teman-temannya sendiri. Dan alangkah menyakitkan ternyata, ketika kemenangan diraih oleh teman yang satu sekolah denganmu. Lebih menyakitkan daripada ketika kemenangan diraih okeh utusan sekolah lain. Beragam cara kulakukan untuk menghibur mereka, termasuk menasihati agar tetap sportif, misalnya dengan memberi ucapan selamat pada teman yang menang.
Yang susah itu kalau standar penilaian juri tidak sama dengan konsep yang ada di kepala kita. Namanya lomba, pasti ada menang ada kalah, pasti ada unsure subjektivitas sedikit banyaknya. Ini pernah terjadi ketika anak-anakku ikut lomba puisi dan melukis (bisa jadi aku salah menyikapinya saat itu). Temanya keragaman budaya. Kupikir pastilah konsepnya tentang bagaimana kita berbeda tapi tetap satu. Anakku yang ikut lomba puisi menulis puisi tentang persahabatannya bersama teman beda suku. Sementara anakku yang ikut lomba melukis cerita bergambar memilih melukis kisah Ben Ten yang keliling Indonesia, ke beberapa pulau dengan ciri khas daerah masing-masing (ia sudah melatihnya di tempat kursus). Dari gaya dan teknik anakku melukis, aku yakin dia menang. Paling tidak dapat nomor 3. Ternyata kami keliru. Anakku tidak menang sama sekali. Yang menang justru yang teknik melukisnya masih jauh dari anakku. Tidak berkarakter sama sekali. Aku terbelalak. Sepertinya kami salah konsep. Yang menang adalah yang mengangkat satu saja sisi lokalitas daerah kami. Ya, tidak salah lagi, yang menang rata-rata yang melukis pasar terapung! Itu juga terjadi pada anakku yang ikut cabang puisi. Kalian mau tahu apa yang kuucapkan pada anak-anakku? Kalian kalah bukan karena jelek. Kalian kalah bukan karena kurang latihan. Kalian kalah karena konsep jurinya tidak sama dengan kita. Gambarmu bagus, puisimu bagus. Mari kita rayakan dengan makan-makan (kaya iklan). Meski luka, kuajari anakku menegakkan kepala di depan temannya yang menang. “Beri selamat pada temanmu.” Bahkan kuambil fotonya bersama temantemannya.
Sepanjang jalan aku tahu persis bagaimana kecewanya mereka. Besoknya, kusuruh anakku melukis sebagus mungkin. Kubantu ia membereskan puing-puing hatinya. “Perhatikan, Mama. Gambarmu akan mama kirim ke majalah. Mama akan buktikan gambarmu bagus dan akan lebih berharga di media nasional sana.”

Aku melonjak kegirangan, ketika suatu hari ada sebuah paket dari majalah anak. Paket berisi boneka yang berarti lukisan anakku dimuat! Aku menangis lega. Bagaimana tidak, aku sedang bertaruh dengan ucapanku sendiri. Aku sedang bertaruh dengan harga diri dan kepercayaan anakku. Halaman majalah yang memuat lukisannya kami beri pigura, kami pajang di dinding rumah.
Di lain kesempatan, anakku ikut lomba lagi (tidak kapok). Waktu itu dia pulang membawa piala tapi kok wajahnya tidak ceria. “Kenapa? Kan dapat piala?”
“Ambil saja mama pialanya. Aku kalah kok. Ini piala bohongan, Cuma buat menghibur hati. Semua peserta dapat piala”
Aku tertegun. Bukan piala yang membuat mereka senang. Mereka sudah paham arti kekalahan.
Lama-lama anakku kapok jua ikut lomba. Malas katanya.
***
Sejak kakak-kakaknya malas lomba, si kembar juga tidak pernah kuikutkan lomba. Terus terang aku trauma. Lalu hari itu, TK-nya bekerja sama dengan sebuah rumah makan mengadakan lomba mewarna. Semua anak ikut. Kubilang kita hepi-hepi saja. Seru-seruan. Ternyata kekalahan itupun membuat mereka mengomel sepanjang masa dan bertekad tidak mau ikut lomba lagi hingga takdir berkata lain. Itu terjadi ketika mereka sudah SD.
Inilah cerita keramat itu, jeng-jeng…
“Ma, aku dipaksa guru ikut lomba mewarnai kaligrafi mewakili kelasku. Aku padahal tidak mau” kata kembar 1 sebel.
“Lhaa, kan bagus ikut lomba”
“Malas ah, Ma!”
“Kamu harusnya senang dan bersyukur.” Gumam kembar 2.
“Senang apanya?” Kata kembar 1
“Padahal… aku pengen lho..ikut lomba mewarnai kaligrafi,” gumam kembar 2.
“Lho, kenapa gak bilang ke guru kalau kamu mau ikut?”
“Kan dipilih, Maaa. Aku gak dipilih. Yang dipilih dia” sahutnya sedih.
“Jangan sedih, aku juga gak mau ikut kok!” teriak kembar 1.
Sampai bagian ini aku mulai mengendus sesuatu. Astaga, aku memahaminya sekarang. Kembar 2 sedang sakit hati karena kalah dengan kembarannya sendiri dan kembar 1 tidak mau ikut lomba karena toleransi dengan hati kembar 2. Kalah dari kembaranmu sendiri? Ow, aku memang belum pernah merasakannya. Membayangkannya saja hatiku terasa ditusuk-tusuk duri. Ini harus diselesaikan dengan baik. Tidak boleh ada yang merasa tersakiti tapi setiap anak punya hak untuk maju dan berkembang. Aku memutar otak.
“Ah, mama ada ide. Kamu gantikan dia ikut lomba. Gurumu mana tahu, muka kalian kan mirip”
“Mama, baju kami kan pakai nama?!” seru keduanya.
“Gampang, tuker aja bajunya”
“Mama pikir kami bisa menukar suara dan tahi lalat?” mereka berebut protes menyebut ciri khas masing-masing.
Aku tertawa sambil menutup mulut.
“Lagipula, Ma. Dia terpilih karena memang warnaannya dia lebih bagus daripada aku” ucap kembar 2.
Aku tersentak. That’s the point! Horayy. We did it.
“Bagaimana guru bisa tahu warnaan siapa yang lebih bagus?” tanyaku.
“Kami semua diminta mewarnai lembaran kaligrafi, dikumpul, lalu dipilih yang terbagus” cerita mereka.
“Ooow begitu.” Aku mengangguk-angguk.
“Makanya tadi kubilang harusnya senang dan bersyukur” kata kembar 2.
“Iyaa yaa… Kalau begitu, tugasmu memberi semangat untuknya. Boleh kan saat lomba diberi semangat?”
“Iya..mama benar. Ayo, kamu ikut lomba, aku akan memberi semangat pas kamu lomba nanti” kembar 2 berkata antusias.
Melihat keceriaan kembar 2, kembar 1 berangsur-angsur tersenyum. Baiklah, aku akan ikut lomba besok”
Penasaran dengan hasilnya? Ya, piagam itu jawabannya. Semula kembar 1 ragu dan takut melihat piagam itu. “Aku sebenarnya tidak ingin menang. Aku mewarnanya tidak bagus kok. Aku tidak mau juga piagam ini” aku menatap mata beningnya. Toleransi yang sangat tinggi, Nak.
“Beri bingkai Ma, piagam ini!” kata kembar 2. “Ini kenanganmu lho!” katanya semangat. Aku tahu, itu bukan kalimat basa-basi. Aku tahu dia tulus.
Kembar 1 tersenyum senang. “Tidak usah dipajang. Simpan saja baik baik, Ma”
Tentu aku akan menyimpannya baik-baik. Insya Allah. Piagam itu saksi keberhasilan kembar 1. Eits, bukan. Piagam itu adalah saksi kemenangan mereka berdua karena berhasil melewati satu fase yang nyaris merusak hubungan mereka sebagai saudara dan nyaris menghalangi kemajuan satu sama lain. Kalau boleh aku narsis sedikit…hiks..aku ingin pula mengklaim piagam itu adalah saksi cintaku pada mereka berdua. Boleh kan yaaa? []

Senin, 03 April 2017

Momen Pertama Anak Bepergian Tanpa Ortu

09.31 7 Comments

Maafkan, Hari Ini Kami Tak Menemani


Petang itu, si kembar anak bungsu kami yang masih kelas 1 SD berceloteh dengan riangnya. “Mama, kami nanti mau ke Pleihari, melihat gunung, naik bis.”
            Aku terdiam sejenak mencoba memahami. Kupikir itu bisa-bisanya mereka saja. Ternyata keesokan harinya, pihak sekolah mengirimkan surat pemberitahuan resmi tentang kegiatan outbond para murid ke Tambang Ulang (Pleihari) pada hari yang sudah ditentukan (laki-laki dan perempuan pada hari yang terpisah). Di surat itu juga tertera sejumlah uang yang harus kami bayarkan jika ingin mengikutkan anak-anak pada kegiatan tersebut. Kegiatannya tidak wajib tapi aku pikir ini saat yang tepat untuk melatih kemandirian dan keberanian mereka.
            “Aku khawatir. Sebaiknya si kembar tidak usah ikut. Kalaupun ikut, kita harus mengikuti mereka meski dari kejauhan.” Itu komentar suamiku yang tidak aku sangka-sangka sebab biasanya akulah yang suka khawatir.
            “Mereka belum pernah bepergian jauh tanpa kita.”
            “Kita sudah pernah mengajak mereka ke Tambang Ulang, bukan?’ ucapku. “Mereka bahkan sudah mencoba flying fox di sana” aku mengingat setahun yang lalu kami pernah ke sana bahkan menginap satu malam dalam rangka menemani aku yang sedang menjadi pemateri dalam sebuah acara outbond mahasiswa.
            “Justru itu,” suamiku menghela nafas, “Mereka sudah tahu medan. Jangan-jangan nanti mereka memisah dari rombongan, pergi ke danau berdua saja atau apalah…”
            “Yaa nanti kita nasehati dan beri pengarahan supaya mereka tidak macam-macam” jawabku.
            “Apa iya para guru mampu meng-handle anak-anak kelas 1, 2 dan 3 SD tanpa orang tua mereka?” gumamnya. “Sebagian besar dari mereka bahkan belum menikah, belum punya pengalaman mengatasi anak kecil yang sedang aktif-aktifnya.”
            “Lalu?”
            “Kita berangkat dengan mobil sendiri. Diam-diam mengikuti dari belakang” usul suamiku.
            “Trus sampai sana kita ngapain? Ngumpet-ngumpet kaya detektif?”
            Mendekati hari H suamiku malah sedang dikelilingi banyak pekerjaan kantor. Dia menyuruhku mencari tebengan barangkali ada mama-mama lain yang jadi detektif juga. Aku paling malas kalau nebeng-nebeng. Nantilah kita pikir-pikir lagi, kilahku. Suamiku berharap anak-anak sendiri yang membatalkan keberangkatan karena ia juga tidak mau mengecewakan mereka. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, anak-anak makin semangat untuk ikut.
            “Ma, belikan kami kamera dong!”
            “Iya Ma, kamera yang begantung di leher itu…”
Aku ternganga. Aku baru ingat, dalam surat pemberitahuan terdapat catatan bahwa para murid tidak diperbolehkan membawa telepon genggam tapi boleh membawa kamera.
            “Satu-satu ya Ma.”
            “Buat apa?”
            “Kami hendak berfoto di gunung dengan Umar.”
            “Minta fotokan ustadz saja”
            “Yaah Mama… kan di surat ada bacaannya boleh membawa kamera.”
            “Boleh membawa itu bukan berarti harus membawa, Nak. Boleh itu, yaa boleh. Boleh membawa boleh tidak. Kalau tidak punya ya tidak ada yang bisa dibawa.”
            “Makanya Ma, Mama belikan saja supaya kita punya kamera.”
            “Kalian gak usah ikut saja ya?” bujuk suamiku.
            “Yee Abah, orang mau pergi disuruh gak ikut. Seru tauuu”
            “Ya sudah, kamera gak jadi. Permintaan diganti dengan tas baru.” Ini nih keahlian si kembar, keahlian melobi tingkat tinggi.
            “Maksudnya?”
            “Masak kami ke gunung pakai tas sekolah? Kebesaran tasnya, Ma”
            “Sudah, tidur sana. Nanti besok kesiangan.”
            “Setelah kami tidur, mama diam-diam pergi mencarikan tas ya?
            “Huss. Tidur. Pakai yang ada saja. Tas sekolahmu”
            “Bangunkan jam dua lah, Ma. Nanti ditinggal bis” Hah? Memangnya mau sahur?
            Aku berbaring di antara keduanya. Salah seorang memelukku, “Mama, aku sedih”
            “Hah? Kenapa? Masalah tas baru?”
            “Bukan…”
            “Lalu?”
            “Besok aku tak bisa melihat mama dong”
            Aku memeluknya. “Nanti kan pulang juga? Bisa lihat lagi?”
            Aku tidak tahu siapa di antara kami yang terlelap lebih dulu sampai aku merasa ada yang menggoyang-goyang kakiku.
            “Psst..bangun, ayo bangun. Jangan tidur dulu… Saatnya diskusi. ”
           
***
            Setengah terpejam aku berdiskusi dengan suami. Usai merundingkan plus minusnya keberangkatan anak-anak, kami akhirnya bersepakat bahwa mereka berangkat tanpa ada acara detektif-detektifan. Kami juga bersepakat untuk membelikan tas baru yang ukurannya lebih kecil daripada tas sekolah asal dapat harga yang terjangkau. Pukul sembilanan malam itu, setelah mereka tertidur pulas, aku dan suami keliling Jalan Cemara mencari orang jual tas. Alhamdulillah dapat toko yang menjual tas bagus harga terjangkau. Ke dalam masing-masing tas kumasukkan kudapan yang sudah mereka beli sorenya, satu set baju ganti dalam kantong plastik dan susu kotak.
            Paginya mereka bangun lebih cepat. Salat Subuh, sarapan, mandi, memakai seragam olah raga, mengenakan kaos kaki, sepatu, tak lupa kopiah seragam sekolahnya. Mereka sangat bersemangat, terlebih setelah mengetahui ada tas baru. Aku juga memasukkan kotak bekal berisi mie sayur bertabur abon dan sebotol susu coklat hangat.
            Sambil memakaikan baju aku mengajak mereka ngobrol. “Mama bisa mempercayai kalian berdua, kan?”
            Keduanya menatapku. Aku melanjutkan maksudku,“Kalian tidak akan menjauh dari ustadz dan rombongan. Janji?”
            “Baiklah…kami janji”
“Ini uang masing-masing sepuluh ribu, sesuai petunjuk di surat sekolah” kataku.
“Horee, kami mau jajan nanti di sana
            “Lihat…Mama memasukkan satu set baju ganti dalam kantong plastik ini ke tas kalian. Baju ini hanya dipakai kalau keadaan darurat. Jika tidak darurat, tidak usah ganti baju. Baju kotornya, masukkan dalam kantong plastik ini. Oke?’
Keduanya mengangguk.
“Kalian paham arti darurat?”
“Iya lah, Ma. Basah karena kehujanan misalnya, atau tumpah air minum, atau apakah lagi yang basah-basah”
“Pandai anak Mama...,Oiya, kalian perlu jaket tidak?”
“Tentu!”
Tidak ada suara dari suamiku tapi dengan ekor mataku aku melihat kecemasan di wajahnya. Dia pasti meragukan anak-anak bisa mengganti baju sendiri dan membawa balik baju kotor seperti yang kuinstruksikan. Dia diam saja karena sudah aku wanti-wanti agar tidak mengucapkan segala prasangka yang tidak baik. Lalu tibalah adegan mengharu biru itu.
foto keberangkatan

“Ma…maaf ya, hari ini kami harus pergi tanpa Mama.” Kata seseorang di antara mereka.
“Iya, Ma, Maaf ya hari ini kami tidak bisa menemani mama.” Kata yang lainnya.
“Mama jangan sedih dan bete ya? Mama ngobrol-ngobrol dengan siapakah biar tidak bosan selama kami tidak ada hari ini” mereka saling menimpali. Ada yang mengusap-usap tanganku, ada yang mengusap-usap punggungku.

            Aduh…rasa ada yang nyess di hati. Rasanya, aku yang lebih sering meninggalkan mereka daripada sebaliknya. Iya, ini pertama kalinya mereka pergi ke luar kota tanpa kami. Aku jadi mikir bagaimana rasanya para orang tua yang melepas anaknya dalam waktu lama seperti sekolah di luar daerah. 
Para murid diminta berkumpul di sekolah pukul 06.30. Si kembar meminta kami mengantar bersama para kakak. Dalam perjalanan ke sekolah, aku bertanya, “Ini nanti Mama tunggu sampai bis berangkat atau tidak perlu?”
            “Kayaknya tidak perlu deh, Ma. Nanti kami sedih, takutnya kami menangis melihat mama dari dalam bis” Hehehe..ada-ada saja.
            Saking semangatnya, turun dari mobil mereka lupa membawa jaket. Suamiku mulai menunjukkan kekhawatirannya, “Tu…kan. Baru dari sini saja lupa membawa jaket. Apa sebaiknya jaket ditinggal saja daripada hilang di jalan”
            “Apaan sih,,, tanya anaknya aja, mau pakai jaket atau tidak. Kalau pakai ya kasihkan saja” kataku. Nyatanya mereka memilih membawa jaket kesayangannya. Dalam hati aku sudah merelakan seandainya jaket itu hilang dalam perjalanan agar nanti tidak terlalu kecewa.
            Setelah itu, aku sendirian di rumah. Suamiku dan anak kedua sudah berangkat ke sekolah. Anak pertamaku harusnya libur karena sekolahnya hanya memberlakukan 5 hari sekolah tetapi karena sedang ada tugas dari guru, ia pun pergi juga ke sekolah. Kukira, dengan kesendirian itu aku akan lebih banyak punya waktu untuk mengetik, menulis, dan melakukan hal lainnya yang biasanya aku keluhkan tak bisa lagi kulakukan.
            Nyatanya aku tidak mengetik atau menulis satu katapun. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Diam-diam ada cemas yang menjalari pikiran dan hati. Akhirnya aku memilih salat sunat. Sepanjang hari itu aku memilih menyibukkan diri mengerjakan pekerjaan kerumahtanggaaan sambil mendengarkan dzikir pagi-petang dari speaker murottal yang baru kubeli. Aku mengalihkan kecemasanku dalam bentuk menyibukkan diri, mulai menyapu seluruh ruangan, mengepel, mencuci, membenahi lemari pakaian, menyusun ulang koleksi buku dan mengerjakan segala macam kesibukan domestik lainnya. Sesekali aku mengecek handphone. Tak ada apa-apa. Para ustadz tidak ada yang bisa dihubungi. Dalam benakku terngiang kalimat kepala sekolah sehari sebelum keberangkatan, para orang tua nanti akan dihubungi kalau kami sudah sampai.
***

Waktu salat Asar sudah lima belas menitan berlalu. Berkali-kali aku mengecek HP. Belum ada sms, belum ada panggilan. Aku mulai gelisah, mondar-mandir tidak karuan. Kepalaku sedikit pening sehingga aku berbaring di ruang baca kami. Tanganku memegang buku tapi tak satu katapun bisa kucerna. Sampai kemudian HP ku berbunyi tapi setelah kulihat bukan nomor guru anak-anak. Segera kuangkat, terdengar suara santun Ustadz Kha- gurunya anak-anak- dari seberang. Aha! Macam menerima telpon dari pacar saja riangnya hatiku. Anak-anak sudah di sekolah. Kami bergegas menjemput.
Ternyata sebagian anak sudah dijemput. Kulihat si kembar menunggu di tepi jalan depan sekolah sudah mengenakan baju ganti yang kubekali. Kedua guru mereka mendampingi.
“Siapa tadi yang main basah-basahan…” kata wali kelasnya sebelum aku sempat bertanya mengapa mereka memakai baju darurat.
Ramailah anak-anak menanggapi. Mereka berebut bercerita. Setelah ngobrol sebentar, kami pamit pulang. Dalam perjalanan salah seorang memamerkan kartu tanda peserta yang terkalung di lehernya. “Ma, aku punya ini nih coba lihat. Ada namaku di sini” dia tersenyum bangga. Karena di rumah sedang kedatangan adikku sekeluarga, si kembar asyik bermain dengan kakak-kakak dan sepupunya. Aku tahu mereka sebenarnya lelah tapi main adalah urusan paling penting!
Malamnya aku minta mereka masuk kamar duluan. Aku masih sibuk membereskan dapur sehabis makan malam. Kupikir mereka pasti akan langsung terlelap karena lelah seharian ke Tambang Ulang. Ternyata mereka tidak tidur. “Kami menunggu Mama” katanya. Aku jadi merasa bersalah.
“Bagaimana mama hari ini, apakah baik-baik saja?” tanya yang satu.
“Ow…baik, alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat, Allahuakbar” jawabku menirukan yel-ye mereka.
“Capek ya Ma cuci-cuci di dapur?”
“Berkas-berkas Mama beres lah?” (mereka menyebut berkas untuk segala jenis bahan yang menghambur di area kerjaku).
Aku hanya tersenyum.
“Kenapa belum tidur?”
“Kami hendak bercerita”
Satu-satu cerita mengalir. Mulai cerita dalam bis. Mereka duduk tidak berdekatan. Ini sebuah kemajuan dalam sosialisasi mereka. Selalu berdua sejak dalam rahim kadang membuat anak kembar menjadi sangat sulit untuk memiliki teman selain kembarannya. Lalu tentang serunya flying fox dan taman labirin.
“Ma, tanduk rusanya sekarang tanbah panjang lho. Nanti kita ke sana ya Ma biar Mama melihatnya”
“Tadi kami jajan sendiri. Ada teman yang tidak bisa jajan, kami yang membelikan. Aduh…capek bolak-balik”
“Oiya, tadi mau menyewa sepeda seperti waktu dulu. Eh, pamannya tidak mau menyewakan sepedanya kepada kami. Katanya kami tidak bisa naik sepeda nanti jatuh. Kok pamannya lupa sih dengan kami.”
“Kalau baju basah ceritanya gimana?”
“Itu…si Imin nyemplung ke danau, dia berenang. Lihai, Ma. Kok bisa ya Imin berenang dengan mudah seperti itu”
“Lalu? Kenapa kalian yang basah?”
“Ya…kami main-main air di tepinya”
Aku menguap sambil membayangkan betapa pegalnya badan para ustadz malam ini. Tentu tidak mudah mengawasi anak laki-laki kelas 1, 2 dan 3 SD di alam terbuka seperti itu.
“Bagaimana rasanya hari ini?” tanyaku sebelum terlelap.
“Sedikit senang…” jawab mereka.
“Kok sedikit?” aneh banget, cerita heboh-heboh kok bilangnya sedikit senang?
“Ya…karena gak ada Mama.”
Anak-anak memang paling bisa deh.
“Ma.. Sabtu depan kita ke sana yuuk.”
Satu tantangan kami lewati dengan hasil sangat memuaskan. Besok, tentu masih banyak tantangan lain yang lebih amazing![]

Senin, 01 Agustus 2016

DUKUNG EKSPLORASI SI KECIL, DIDIK MEREKA MELALUI BERMAIN

04.02 0 Comments

Dukung Eksplorasi Si Kecil, Didik Mereka Melalui Bermain
Oleh Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd.


Siapa yang hari ini merasa super lelah karena mengurus anak sepanjang waktu? Mungkin para orang tua khususnya ibu ada yang tak henti mengeluh bahkan sampai merasa dirinyalah yang paling banyak bebannya di dunia ini. Padahal, hari-hari mengurus si kecil adalah hari-hari yang paling berharga baik bagi sang anak maupun bagi sang ibu itu sendiri. Hari-hari yang mestinya dengan ikhlas kita jalani.
Pernahkah terpikir, suatu hari kaki-kaki mungil yang tak henti menjelajah area rumah lalu menyisakan jejak kotor itu akan berubah menjadi kaki-kaki dewasa lalu menjelajah dan melakukan eksplorasi terhadap dunia luas dengan segala perannya. Tangan-tangan mungil yang tak henti membuat ‘kreasi’ yang sering membuat kita marah karena rumah berantakan, suatu saat tangan itu akan membuat masterpiece yang mencengangkan.
Lalu tak terasa waktu akan menjadi begitu singkat. Anak-anak itu tiba-tiba tidak membutuhkan kita lagi dan mungkin akan jauh dari kita tapi pola asuh yang kita lakukan akan selalu menempel pada mereka. Cara mendidik anak yang kita lakukan adalah kunci kesuksesan mereka. Jangan menyiakan masa kecil. Jangan matikan bakat eksplorasi anak. Lantas, bagaimana cara mendidik anak yang baik tapi kita selalu ikhlas dalam menjalankaannya?
Sungguh beruntung para orang tua yang bisa mengikuti kegiatan Seminar Parenting yang diadakan oleh Dancow Parenting Center, Sabtu 30 Juli 2016 lalu di Golden Tulip Hotel Banjarmasin. Event keren yang menghadirkan empat pakar di bidangnya, yaitu Dr.dr. Soedjatmiko, Sp.A(K),M.Si, Bunda Sari Sunda Bulan, Bunda Ratih Ibrahim dan Ayah Aidil Akbar dipandu artis cantik Mbak Shahnaz Haque. Acara berlangsung dari pukul 08.00 sampai 12.00. Masing-masing pakar secara tuntas mengupas persoalan yang sering memuat galau para orang tua.
Ternyata, cinta, nutrisi dan stimulasi harus seimbang diperoleh anak. Tidak hanya makannya yang harus diperhatikan tapi juga apakah mereka sudah mendapatkan cinta yang cukup dari kita. Tak kalah penting, bermain merupakan bagian dari stimulasi anak. Mengajak anak bermain setiap hari tidak harus ke tempat hiburan yang mahal atau membeli mainan mahal. Rumah dan sekitarnya adalah tempat dan sarana bermain anak yang sangat luas untuk kegiatan eksplorasi mereka. Alat-alat dan segala sesuatu yang tidak berbahaya yang ada di rumah, semua bisa dipakai untuk bermain. Tentu saja anak belajar melalui bermain. Alangkah membahagiakan jika para orang tua menyadari hal ini sejak dini.
Di era gadget yang menyediakan berbagai fitur bermain canggih secara maya, cara mendidik anak dengan ‘bermain’ yang sesungguhnya, awalnya mungkin akan terpikir ah susah, ah kuno. Akan tetapi lama-lama kita akan merasakan manfaatnya. Daripada anak kecanduan game lebih baik anak kecanduan ‘bermain’ membantu orang tua. Iya,kan? Kata dr.Soedjatmiko, kecanduan game membuat emosi anak negatif dan cenderung melakukan kekerasan terhadap sesama anak.
Penulis membayangkan kira-kira begini model cara mendidik dengan bermain setalah menyimak penjelasan para pakar. “Anak Bunda yang cantik, coba susun gelas yang berwarna kuning di meja, ayo kita hitung ada berapa yang warna kuning…owh…gelasnya dari plastik? Pantas tidak pecah ketika jatuh tadi. Eh, Aya memerlukan gelas tuuh untuk minum. Bisakah Bunda minta tolong si cantik mengantar gelas kuning ke kamar ayah? Oh, ayah suka gelas hijau? Baiklah…dst.” Waah…masih bisa dikembangkan lagi sesuai perkembangan usia mereka tentunya.
Di acara itu pula ditayangkan iklan terbaru Dancow yang sangat menyentuh. Para peserta antusias mengikuti seminar. Banyak pula yang mengemukakan pertanyaan. Di akhir acara, peserta yang jumlahnya 200-an lebih dengan dress code kuning tersebut mendapat oleh-oleh cantik dari Dancow. Yang beruntung malah mendapatkan doorprize keren lho. Tidak hanya dapat ilmu, pulang-pulang membawa Dancow dan tas super kereen juga! Yang tidak ikut pasti menyesal![]