Kamis, 11 Juni 2026

Menjadi Manusia Seutuhnya dalam Baris Puisi-Puisi Sahasranana

05.33 0 Comments

 

Menjadi Manusia Seutuhnya dalam Baris Puisi-Puisi Sahasranana

Oleh Nailiya Nikmah



“Di era digital yang serba cepat ini, ketika kecerdasan buatan bisa merangkai kata dalam hitungan detik, untuk apa kita masih membaca dan bahkan belajar menulis puisi?”

Puisi bukanlah sekadar dekorasi kata atau barisan kalimat yang kadang seperti sengaja dibuat rumit. Sejatinya, puisi adalah rekaman sinyal-sinyal emosi manusia yang paling jujur. Sebagai salah satu bentuk karya sastra, ketika teknologi mampu meniru logika kita, ketika semua keindahan yang semu mudah diciptakan, maka sebenarnya puisilah yang menjaga agar sisi kemanusiaan—rasa runtuh, jatuh cinta, patah, hingga pencarian spiritual yang sunyi—tetap hidup dan bernyawa.

Memegang dan membaca Kumpulan puisi Sahasranana kita akan berselancar dan berseluncur mencuci jiwa untuk kemudian kembali menjadi manusia yang jujur terhadap apa yang kita rasakan, alami, keluhkan, rindukan dan sebagainya. Buku ini diterbitkan 2025, ditulis oleh mahasiwa PBSI Angkatan 2021. Demikian sekelumit informasi yang kita tangkap dari sampul depannya. Cukup jelas untuk kita pahami bahwa secara eksternal, puisi ini diterbitkan pada masa menyala-nyalanya api kecerdasan buatan dan ditulis oleh para gen z.

Lanskap Estetika vs kejujuran kata

Pada Kata Pengantar – yang ditulis oleh Novia Winda (dosen pengampu mata kuliah sekaligus mentor dan editor penulisan buku ini) disebutkan bahwa puisi dalam buku Sahasranana terlalu kaku pada tipografi, terjebak pada kata klise, penggunaan citraan yang belum tepat serta sering terjebak pada rasa dan nada. Ini menjadi semacam warning sebelum kita menjelajahinya. Akan tetapi, mari kita mencoba melihatnya dari perspektif lain. Sebagaimana uang koin dengan dua sisinya, begitu pula buku ini. Simaklah Suasana Pagi yang ditulis oleh Yeti Ariani hlm 58, dalam dua baitnya disajikan suasana pagi dengan pilihan diksi yang sederhana.

Tubuh terbangun oleh hangatmu

Mata disambut silaumu

Kicauan burung terdengar merdu

menandakan adanya hari baru

Sepintas gemerisik daunan lepas

Desiran angin yang berirama.

 

Membaca kumpulan puisi ini seperti sedang diajak bertamu ke dalam kepala para penulisnya. Kita mungkin belum menemukan lanskap estetika seperti yang disuguhkan oleh Sapardi atau Chairil (:atau penyair lainnya) tetapi kita dihadapkan pada sebuah lanskap yang khas.

Kekuatan larik-larik dalam buku ini sebenarnya justru terletak pada karakternya yang jujur dan polos. Kata-kata yang dipilih tidak mengenakan topeng atau kosmetik yang berlebihan untuk berpura-pura menjadi bijaksana. Mereka tampil apa adanya, mencerminkan kepolosan seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia, baru mengenal puisi, sekaligus kejujuran seseorang yang berani mengakui kerapuhannya sendiri. Melalui kepolosan kata-kata inilah, puisi-puisi di dalam buku ini berhasil meruntuhkan dinding pertahanan kita sebagai pembaca, memaksa kita untuk ikut bercermin dan mengakui perasaan-perasaan paling personal yang selama ini barangkali sering kita sembunyikan dari dunia luar. Luth dalam Kelak menulis:

Teruntuk hati yang semakin rapuh

Aku harap, tetaplah berusaha utuh

Meskipun sekelilingmu semuanya acuh

selalu bangkit meskipun sering terjatuh

Kelak, semua tangis akan terbalaskan

Kelak, bahagia pasti akan berdatangan

Mungkin saat ini luka sedang menyukaimu

Akan tetapi luka datang karena dia tau bahwa kau mampu.

 

Antara Jarak Estetis dan Kejujuran Rasa

Sebagai penulis, mungkin para penulis dalam buku ini menjadikan puisi sebagai media curhat. Dalam teori sastra, kita mengenal istilah jarak estetis—bagaimana seorang penulis menjaga jarak dengan realitas agar karyanya tidak terjebak menjadi sekadar curhatan yang cengeng atau klise. Maka, ‘aku” dalam puisi adalah aku lirik bukan serta-merta aku penulis/penyair. Di sinilah pembaca diberi ruang untuk bernapas dan menginterpretasikan maknanya sendiri. Puisi yang baik tidak pernah mendikte; ia memantik ingatan pembacanya sendiri tentang luka atau bahagia yang pernah mereka alami.

Aku, Kamu dan Petang, misalnya. Ditulis oleh Erni Maulida hlm 24.

Lihatlah petang ini, sinar senja menyinari kulitmu

Kamu yang tadi asyik duduk menatap riakan air danau itu

telah ku sekap menyatu dengan biasan langit merah

lambat laun danau menenggelamkan matahari juga aku

Iya, aku tenggelam di bola matamu yang persis menyerupai langit merah barat itu

Udara petang menggeser jarak duduk kita

sunyi mempersilahkan mata-mata kita saling menatap/lebih dalam/…/kita menyatu Bagai Bagai matahri dan bulan di fase mereka gerhana.

 

Namun, tidak ada karya yang lahir di ruang hampa yang sempurna. Di beberapa bagian, kita mungkin akan menemukan beberapa bait yang terasa sedikit repetitif atau metafora yang polanya mudah ditebak. Namun, justru di sanalah letak kemanusiaan dari sebuah karya sastra. Celah-celah kecil itu justru menjadi ruang diskusi yang menarik bagi kita semua.

Fajar Maulida di hlm 26 menuliskan puisi Maaf/ dengan piliha diksi yang terasa tidak asing dan rasanya ia adalah milik kita semua, //Selalu ada kata maaf disetiap khilaf/…/kita lupakan saja segala amarah/dengan kata dan tangis parah/Hati sudah terlanjur patah/oleh lidah yang takterarah//.

Mengembalikan Puisi ke Tengah Kita

Menjadi narasumber bedah buku hari ini bukanlah tentang menentukan apakah buku puisi ini "benar" atau "salah", "bagus" atau "buruk". Tugas kita hari ini adalah merayakan proses kreatif sang penulis, menguliti lapisan-lapisan makna tersembunyi yang mungkin terlewat saat dibaca sekali duduk, dan memulangkan puisi-puisi ini ke dalam hati kita masing-masing.

Saya pun bertanya kepada google, adakah puisi yang jelek? Ia menjawab bahwa dalam kritik sastra konvensional, puisi biasanya dianggap gagal karena beberapa alasan teknis:

  • Klise: Menggunakan rima, metafora, dan perumpamaan yang sudah terlalu sering dipakai (contoh: "wajahmu indah bak rembulan" atau "darah mengalir bagai sungai").
  • Sentimentalitas Berlebihan (Melodramatis): Puisi yang terlalu memaksakan kesedihan atau romantisasi tanpa kedalaman makna, sehingga terasa dangkal atau kekanak-kanakan.
  • Didaktisme Kasar: Puisi yang isinya hanya menggurui atau berceramah secara langsung tanpa menggunakan bahasa estetis atau simbolisme sastra.
  • Gagal Membangun Jembatan Estetis: Jika dikaitkan dengan teori Teeuw, puisi yang jarak estetisnya nol (sangat mudah ditebak dan tidak menawarkan hal baru) sering kali hanya dianggap sebagai "sastra kuliner" atau hiburan instan, bukan karya seni yang berbobot.

Seiring berkembangnya zaman, batasan antara puisi bagus dan jelek menjadi kabur karena beberapa faktor:

  • Perubahan Horizon Harapan: Puisi Sutardji Calzoum Bachri (seperti O Amuk Kapak) awalnya dianggap "merusak bahasa" dan jelek oleh kritikus konvensional. Namun, kini karya tersebut dianggap sebagai mahakarya karena berhasil mengubah standar estetika sastra Indonesia.
  • Estetika Keburukan (The Aesthetics of Ugliness): Banyak penyair modern sengaja menulis puisi menggunakan kata-kata kasar, kotor, atau struktur yang berantakan untuk merespons realitas dunia yang kacau. Di sini, "kejelekan" justru menjadi alat estetis untuk menyampaikan protes.

Beberapa teman pernah berkata, puisi buatan AI tidak memiliki nilai rasa. Sangat terasa dibuat oleh robot. Bagaimana jika ia mengembangkan terus sistemnya dengan menyerap beragam masukan teori-teori sastra? Akankah kelak, puisi buatan AI melampaui estetika buatan manusia?

Buku kumpulan puisi ini telah selesai ditulis oleh para penulisnya. Tugas penyair telah usai begitu buku ini dicetak. Sekarang, tugas kita sebagai pembacalah yang menghidupkan kembali kata-kata yang mati di atas kertas putih ini, menyuarakannya, dan memberi mereka makna yang baru.

Mari kita buka lembar demi lembar, kita temukan potongan diri kita yang mungkin selama ini tersembunyi di balik bait-baitnya. Di era manusia lebih memilih memposting foto kebahagiaan di akun media sosialnya, ada setitik harapan untuk manusia tetap jujur ketika menulis puisi sebagai bagian karya sastra yang publikasinya patut kita rayakan.[]