Menjadi Manusia Seutuhnya dalam Baris Puisi-Puisi
Sahasranana
Oleh Nailiya Nikmah
“Di era digital yang serba cepat ini, ketika kecerdasan
buatan bisa merangkai kata dalam hitungan detik, untuk apa kita masih membaca
dan bahkan belajar menulis puisi?”
Puisi bukanlah sekadar dekorasi kata atau
barisan kalimat yang kadang seperti sengaja dibuat rumit. Sejatinya, puisi
adalah rekaman sinyal-sinyal emosi manusia yang paling jujur. Sebagai salah
satu bentuk karya sastra, ketika teknologi mampu meniru logika kita, ketika
semua keindahan yang semu mudah diciptakan, maka sebenarnya puisilah yang
menjaga agar sisi kemanusiaan—rasa runtuh, jatuh cinta, patah, hingga pencarian
spiritual yang sunyi—tetap hidup dan bernyawa.
Memegang dan membaca Kumpulan puisi
Sahasranana kita akan berselancar dan berseluncur mencuci jiwa untuk
kemudian kembali menjadi manusia yang jujur terhadap apa yang kita rasakan,
alami, keluhkan, rindukan dan sebagainya. Buku ini diterbitkan 2025, ditulis
oleh mahasiwa PBSI Angkatan 2021. Demikian sekelumit informasi yang kita
tangkap dari sampul depannya. Cukup jelas untuk kita pahami bahwa secara eksternal,
puisi ini diterbitkan pada masa menyala-nyalanya api kecerdasan buatan dan
ditulis oleh para gen z.
Lanskap Estetika vs kejujuran
kata
Pada Kata Pengantar – yang ditulis
oleh Novia Winda (dosen pengampu mata kuliah sekaligus mentor dan editor
penulisan buku ini) disebutkan bahwa puisi dalam buku Sahasranana terlalu kaku
pada tipografi, terjebak pada kata klise, penggunaan citraan yang belum tepat
serta sering terjebak pada rasa dan nada. Ini menjadi semacam warning sebelum
kita menjelajahinya. Akan tetapi, mari kita mencoba melihatnya dari perspektif
lain. Sebagaimana uang koin
dengan dua sisinya, begitu pula buku ini. Simaklah Suasana Pagi yang
ditulis oleh Yeti Ariani hlm 58, dalam dua baitnya disajikan suasana pagi dengan
pilihan diksi yang sederhana.
Tubuh terbangun oleh hangatmu
Mata disambut silaumu
Kicauan burung terdengar merdu
menandakan adanya hari baru
Sepintas gemerisik daunan lepas
Desiran angin yang berirama.
Membaca kumpulan puisi ini seperti sedang
diajak bertamu ke dalam kepala para penulisnya. Kita mungkin belum menemukan
lanskap estetika seperti yang disuguhkan oleh Sapardi atau Chairil (:atau penyair
lainnya) tetapi kita dihadapkan pada sebuah lanskap yang khas.
Kekuatan larik-larik dalam buku ini sebenarnya justru
terletak pada karakternya yang jujur dan polos. Kata-kata yang dipilih tidak
mengenakan topeng atau kosmetik yang berlebihan untuk berpura-pura menjadi
bijaksana. Mereka tampil apa adanya, mencerminkan kepolosan seorang anak kecil
yang baru pertama kali melihat dunia, baru mengenal puisi, sekaligus kejujuran
seseorang yang berani mengakui kerapuhannya sendiri. Melalui kepolosan
kata-kata inilah, puisi-puisi di dalam buku ini berhasil meruntuhkan dinding
pertahanan kita sebagai pembaca, memaksa kita untuk ikut bercermin dan mengakui
perasaan-perasaan paling personal yang selama ini barangkali sering kita
sembunyikan dari dunia luar. Luth dalam Kelak menulis:
Teruntuk hati yang semakin rapuh
Aku harap, tetaplah berusaha utuh
Meskipun sekelilingmu semuanya acuh
selalu bangkit meskipun sering
terjatuh
Kelak, semua tangis akan terbalaskan
Kelak, bahagia pasti akan
berdatangan
Mungkin saat
ini luka sedang menyukaimu
Akan tetapi luka datang karena dia
tau bahwa kau mampu.
Antara Jarak Estetis dan Kejujuran Rasa
Sebagai penulis, mungkin para penulis dalam
buku ini menjadikan puisi sebagai media curhat. Dalam teori sastra, kita
mengenal istilah jarak estetis—bagaimana seorang penulis menjaga jarak dengan
realitas agar karyanya tidak terjebak menjadi sekadar curhatan yang cengeng
atau klise. Maka, ‘aku” dalam puisi adalah aku lirik bukan serta-merta aku
penulis/penyair. Di sinilah pembaca diberi ruang untuk bernapas dan
menginterpretasikan maknanya sendiri. Puisi yang baik tidak pernah mendikte; ia
memantik ingatan pembacanya sendiri tentang luka atau bahagia yang pernah
mereka alami.
Aku, Kamu dan Petang, misalnya.
Ditulis oleh Erni Maulida hlm 24.
Lihatlah petang ini, sinar senja menyinari kulitmu
Kamu yang tadi asyik duduk menatap riakan air danau itu
telah ku sekap menyatu dengan biasan langit merah
lambat laun danau menenggelamkan matahari juga aku
Iya, aku tenggelam di bola matamu yang persis menyerupai langit merah
barat itu
Udara petang
menggeser jarak duduk kita
sunyi mempersilahkan
mata-mata kita saling menatap/lebih dalam/…/kita menyatu Bagai Bagai matahri
dan bulan di fase mereka gerhana.
Namun, tidak ada karya yang lahir
di ruang hampa yang sempurna. Di beberapa bagian, kita mungkin akan menemukan
beberapa bait yang terasa sedikit repetitif atau metafora yang polanya mudah
ditebak. Namun, justru di sanalah letak kemanusiaan dari sebuah karya sastra.
Celah-celah kecil itu justru menjadi ruang diskusi yang menarik bagi kita
semua.
Fajar Maulida di hlm 26
menuliskan puisi Maaf/ dengan piliha diksi yang terasa tidak asing dan
rasanya ia adalah milik kita semua, //Selalu ada kata maaf disetiap khilaf/…/kita
lupakan saja segala amarah/dengan kata dan tangis parah/Hati sudah terlanjur
patah/oleh lidah yang takterarah//.
Mengembalikan Puisi ke Tengah Kita
Menjadi narasumber bedah buku
hari ini bukanlah tentang menentukan apakah buku puisi ini "benar"
atau "salah", "bagus" atau "buruk". Tugas kita hari
ini adalah merayakan proses kreatif sang penulis, menguliti lapisan-lapisan
makna tersembunyi yang mungkin terlewat saat dibaca sekali duduk, dan
memulangkan puisi-puisi ini ke dalam hati kita masing-masing.
Saya pun bertanya kepada google,
adakah puisi yang jelek? Ia menjawab
bahwa dalam kritik sastra konvensional, puisi biasanya dianggap gagal karena
beberapa alasan teknis:
- Klise: Menggunakan rima, metafora,
dan perumpamaan yang sudah terlalu sering dipakai (contoh: "wajahmu
indah bak rembulan" atau "darah mengalir bagai sungai").
- Sentimentalitas
Berlebihan (Melodramatis): Puisi yang terlalu memaksakan kesedihan
atau romantisasi tanpa kedalaman makna, sehingga terasa dangkal atau
kekanak-kanakan.
- Didaktisme
Kasar: Puisi
yang isinya hanya menggurui atau berceramah secara langsung tanpa
menggunakan bahasa estetis atau simbolisme sastra.
- Gagal
Membangun Jembatan Estetis: Jika dikaitkan dengan teori Teeuw, puisi yang jarak estetisnya
nol (sangat mudah ditebak dan tidak menawarkan hal baru) sering kali hanya
dianggap sebagai "sastra kuliner" atau hiburan instan, bukan
karya seni yang berbobot.
Seiring berkembangnya zaman, batasan antara
puisi bagus dan jelek menjadi kabur karena beberapa faktor:
- Perubahan
Horizon Harapan:
Puisi Sutardji Calzoum Bachri (seperti O Amuk Kapak) awalnya
dianggap "merusak bahasa" dan jelek oleh kritikus konvensional.
Namun, kini karya tersebut dianggap sebagai mahakarya karena berhasil
mengubah standar estetika sastra Indonesia.
- Estetika Keburukan (The Aesthetics of
Ugliness): Banyak penyair modern sengaja menulis puisi menggunakan
kata-kata kasar, kotor, atau struktur yang berantakan untuk merespons
realitas dunia yang kacau. Di sini, "kejelekan" justru menjadi
alat estetis untuk menyampaikan protes.
Beberapa teman pernah berkata, puisi buatan AI
tidak memiliki nilai rasa. Sangat terasa dibuat oleh robot. Bagaimana jika ia
mengembangkan terus sistemnya dengan menyerap beragam masukan teori-teori sastra?
Akankah kelak, puisi buatan AI melampaui estetika buatan manusia?
Buku kumpulan puisi ini telah selesai ditulis
oleh para penulisnya. Tugas penyair telah usai begitu buku ini dicetak.
Sekarang, tugas kita sebagai pembacalah yang menghidupkan kembali kata-kata
yang mati di atas kertas putih ini, menyuarakannya, dan memberi mereka makna
yang baru.
Mari kita buka lembar demi
lembar, kita temukan potongan diri kita yang mungkin selama ini tersembunyi di
balik bait-baitnya. Di era manusia lebih memilih memposting foto kebahagiaan di
akun media sosialnya, ada setitik harapan untuk manusia tetap jujur ketika
menulis puisi sebagai bagian karya sastra yang publikasinya patut kita rayakan.[]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar