Selasa, 29 September 2026

Membaca Karya Sastra dengan Mata, Hati dan Pikiran Marselus

02.43 0 Comments


Oleh Nailiya Nikmah



Membaca esai yang berisi ulasan/bedahan karya sastra sejatinya adalah meminjam mata, hati dan pikiran penulisnya untuk menikmati karya sastra. Jika membaca adalah jendela dunia, seperti yang dikatakan oleh pepatah lama, membaca esai-esai Marselus Robot adalah jendela dunia karya sastra. Dengan bekal passion-nya di bidang semiotika, Metafora dan Wacana, esai-esai yang ia tulis menjadi berbeda dari esai lainnya. Esai-esai yang lincah menggemaskan itu adalah pintu doraemon alias pintu ke mana saja-nya karya sastra. Menulis esai/mengulas karya sastra bagi Marselus Robot adalah penciptaan karya sastra itu sendiri. Baginya pertemuan dengan karya sastra, seperti puisi, cerpen, novel, drama atau esai sastra orang lain membuat dirinya harus tunduk/takluk terhadap karya-karya tersebut sekaligus menaklukkannya.

Ketika karya-karya tersebut melampaui kemampuannya, baik berupa ilmu pengetahuan, maupun pengalaman dan kualitas estetika, ia takluk dan bergumul dengan literatur kesusastraan untuk mendapatkan pisau bedah yang tepat. Setelah itu ia pun hanyut dalam pembacaan romantik yang sangat menyenangkan. Sebaliknya, ketika ia berhadapan dengan karya yang secara subjektif bukan seleranya, ia memilih untuk menaklukkan karya-karya tersebut. Ia dengan rela berpayah-payah membangun argumentasi agar karya-karya tersebut dapat diterima oleh pembaca. Kurang lebih begitulah yang ia sampaikan di gerbang buku Kumpulan Esai Kejahatan Sunyi, Merindumu Itu Luka yang terbit 2022 tepatnya pada halaman Pengantar Penulis.

Maklumat penyelenggara dalam TOR Arkais Festival menyebutkan bahwa membaca karya sastra tidak berhenti pada mengetahui isi sebuah karya tetapi juga membuka persoalan, gagasan, pengalaman, dan makna yang terkandung di dalamnya. Melalui kumpulan esai Kejahatan Sunyi, Merindumu Itu Luka, sesi ini menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana karya dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan menjadi gagasan tulisan. Dihelalah tiga tujuan kegiatan, yaitu 1) mengembangkan kemampuan peserta dalam membaca karya sastra; 2) membicarakan proses menemukan gagasan dan makna dalam karya; dan 3) menjadikan pengalaman membaca sebagai bekal menuju proses penciptaan karya.

Dalam esai-esainya di buku ini, tidak akan ditemukan kesan menggurui dari penulisnya kepada pembaca. Sungguh bijak, dengan mata, hati dan pikiran yang ia pinjamkan, Marselus membiarkan pembacanya melibatkan diri sepanjang proses berpikirnya melalui metafor-metafor maupun tamsil yang ia tulis. Marselus memandu pembaca dengan tenang dan hati-hati, hingga tanpa mereka sadari, para pembaca itu, telah merekonstruksi secara mandiri segala hal yang ditulis Marselus. Dengan mata, hati dan pikiran Marselus, pembaca mengembangkan kemampuannya dalam membaca karya sastra sekaligus menemukan gagasan dan makna dalam karya. Lihatlah esai pertama dalam buku tersebut, Marselus menulis,

Mistik estetika sebuah puisi terasa ketika pembaca dibawa dalam penyiksaan yang begitu menyenangkan. Semisal, pembaca berjumpa dengan kata, “Kaulah Kandil kemerlap/Pelita jendela di malam gelap” (Padamu Jua, Amir Hamzah), lalu mulai bergumul dengan kata-kata yang menyimpang dari makna lingual itu, di sanalah pembaca akan menjumpai ketaklaziman dalam penggunaan Bahasa (bahasa ekslusi). Sebab bahasa puisi bukan sekadar alat ucap informasi (penggunaan bahasa secara inklusi), melainkan mngendapkan makna lain yang disajikan secara khas. Membaca puisi berarti pula berusaha melintasi skandal lingual getir itu. Berikutnya, puisi menyediakan ruang kosong yang penuh sesak dengan makna. Ruang kosong itu adalah makna paling padat (hal 1).

Paragraf pembuka tersebut diam-diam telah menuntun pembaca untuk memiliki skill membaca (:menikmati) sebuah puisi. Dimulai dari tahap membaca/menemukan kata-kata/diksi; bergumul dengannya dalam arti memberi makna setelah mengendapkan makna lainnya; melintasinya hingga menemukan makna paling padat di dalam ruang kosongnya.

Melalui esai yang mengulas novel Perburuan (hal 122) misalnya kita juga disuguhi novel dalam bentuk yang sudah diberi ruh makna. Selain mendapatkan alur cerita, pembaca juga memperoleh nilai-nilai keteguhan hati tokohnya dalam berjuang melawan penjajah. Membaca novel secara utuh, bagi sebagian orang kadang membosankan. Dengan membaca esai Marselus, pembaca menjadi sangat terbantu.

Atau cobalah tengok halaman 31, Marselus bilang, “Menyusun fiksi dimulai dengan nyanyian tragik atau minimal pergulatan imajinasi yang menghamburkan kenangan …. Pertama memilih tema yang unik; kedua di tangan dialah sebuah pengalaman dibuat unik. Lalu dia juga bilang soal karya sastra berguna dan menghibur. Selanjutnya, ia juga bilang bahwa cara bertutur novel yang sedang ia ulas tersebut dangat teratur, bahasanya baku tak ingin nyentrik-nyentrikan.” Pada bagian ini, Marselus telah menggambarkan cara menjadikan pengalaman membaca sebagai bekal menuju proses penciptaan karya.

Maka sungguh benar adanya, Karolus Budiman Jama – sang editor menyebut bahwa Marselus Robot bukan memberikan mawar tetapi mengirimkan aromanya untuk membayangkan mawar. Selamat menikmati mawar dalam pikiranmu. []

Kamis, 11 Juni 2026

Menjadi Manusia Seutuhnya dalam Baris Puisi-Puisi Sahasranana

05.33 0 Comments

 

Menjadi Manusia Seutuhnya dalam Baris Puisi-Puisi Sahasranana

Oleh Nailiya Nikmah



“Di era digital yang serba cepat ini, ketika kecerdasan buatan bisa merangkai kata dalam hitungan detik, untuk apa kita masih membaca dan bahkan belajar menulis puisi?”

Puisi bukanlah sekadar dekorasi kata atau barisan kalimat yang kadang seperti sengaja dibuat rumit. Sejatinya, puisi adalah rekaman sinyal-sinyal emosi manusia yang paling jujur. Sebagai salah satu bentuk karya sastra, ketika teknologi mampu meniru logika kita, ketika semua keindahan yang semu mudah diciptakan, maka sebenarnya puisilah yang menjaga agar sisi kemanusiaan—rasa runtuh, jatuh cinta, patah, hingga pencarian spiritual yang sunyi—tetap hidup dan bernyawa.

Memegang dan membaca Kumpulan puisi Sahasranana kita akan berselancar dan berseluncur mencuci jiwa untuk kemudian kembali menjadi manusia yang jujur terhadap apa yang kita rasakan, alami, keluhkan, rindukan dan sebagainya. Buku ini diterbitkan 2025, ditulis oleh mahasiwa PBSI Angkatan 2021. Demikian sekelumit informasi yang kita tangkap dari sampul depannya. Cukup jelas untuk kita pahami bahwa secara eksternal, puisi ini diterbitkan pada masa menyala-nyalanya api kecerdasan buatan dan ditulis oleh para gen z.

Lanskap Estetika vs kejujuran kata

Pada Kata Pengantar – yang ditulis oleh Novia Winda (dosen pengampu mata kuliah sekaligus mentor dan editor penulisan buku ini) disebutkan bahwa puisi dalam buku Sahasranana terlalu kaku pada tipografi, terjebak pada kata klise, penggunaan citraan yang belum tepat serta sering terjebak pada rasa dan nada. Ini menjadi semacam warning sebelum kita menjelajahinya. Akan tetapi, mari kita mencoba melihatnya dari perspektif lain. Sebagaimana uang koin dengan dua sisinya, begitu pula buku ini. Simaklah Suasana Pagi yang ditulis oleh Yeti Ariani hlm 58, dalam dua baitnya disajikan suasana pagi dengan pilihan diksi yang sederhana.

Tubuh terbangun oleh hangatmu

Mata disambut silaumu

Kicauan burung terdengar merdu

menandakan adanya hari baru

Sepintas gemerisik daunan lepas

Desiran angin yang berirama.

 

Membaca kumpulan puisi ini seperti sedang diajak bertamu ke dalam kepala para penulisnya. Kita mungkin belum menemukan lanskap estetika seperti yang disuguhkan oleh Sapardi atau Chairil (:atau penyair lainnya) tetapi kita dihadapkan pada sebuah lanskap yang khas.

Kekuatan larik-larik dalam buku ini sebenarnya justru terletak pada karakternya yang jujur dan polos. Kata-kata yang dipilih tidak mengenakan topeng atau kosmetik yang berlebihan untuk berpura-pura menjadi bijaksana. Mereka tampil apa adanya, mencerminkan kepolosan seorang anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia, baru mengenal puisi, sekaligus kejujuran seseorang yang berani mengakui kerapuhannya sendiri. Melalui kepolosan kata-kata inilah, puisi-puisi di dalam buku ini berhasil meruntuhkan dinding pertahanan kita sebagai pembaca, memaksa kita untuk ikut bercermin dan mengakui perasaan-perasaan paling personal yang selama ini barangkali sering kita sembunyikan dari dunia luar. Luth dalam Kelak menulis:

Teruntuk hati yang semakin rapuh

Aku harap, tetaplah berusaha utuh

Meskipun sekelilingmu semuanya acuh

selalu bangkit meskipun sering terjatuh

Kelak, semua tangis akan terbalaskan

Kelak, bahagia pasti akan berdatangan

Mungkin saat ini luka sedang menyukaimu

Akan tetapi luka datang karena dia tau bahwa kau mampu.

 

Antara Jarak Estetis dan Kejujuran Rasa

Sebagai penulis, mungkin para penulis dalam buku ini menjadikan puisi sebagai media curhat. Dalam teori sastra, kita mengenal istilah jarak estetis—bagaimana seorang penulis menjaga jarak dengan realitas agar karyanya tidak terjebak menjadi sekadar curhatan yang cengeng atau klise. Maka, ‘aku” dalam puisi adalah aku lirik bukan serta-merta aku penulis/penyair. Di sinilah pembaca diberi ruang untuk bernapas dan menginterpretasikan maknanya sendiri. Puisi yang baik tidak pernah mendikte; ia memantik ingatan pembacanya sendiri tentang luka atau bahagia yang pernah mereka alami.

Aku, Kamu dan Petang, misalnya. Ditulis oleh Erni Maulida hlm 24.

Lihatlah petang ini, sinar senja menyinari kulitmu

Kamu yang tadi asyik duduk menatap riakan air danau itu

telah ku sekap menyatu dengan biasan langit merah

lambat laun danau menenggelamkan matahari juga aku

Iya, aku tenggelam di bola matamu yang persis menyerupai langit merah barat itu

Udara petang menggeser jarak duduk kita

sunyi mempersilahkan mata-mata kita saling menatap/lebih dalam/…/kita menyatu Bagai Bagai matahri dan bulan di fase mereka gerhana.

 

Namun, tidak ada karya yang lahir di ruang hampa yang sempurna. Di beberapa bagian, kita mungkin akan menemukan beberapa bait yang terasa sedikit repetitif atau metafora yang polanya mudah ditebak. Namun, justru di sanalah letak kemanusiaan dari sebuah karya sastra. Celah-celah kecil itu justru menjadi ruang diskusi yang menarik bagi kita semua.

Fajar Maulida di hlm 26 menuliskan puisi Maaf/ dengan piliha diksi yang terasa tidak asing dan rasanya ia adalah milik kita semua, //Selalu ada kata maaf disetiap khilaf/…/kita lupakan saja segala amarah/dengan kata dan tangis parah/Hati sudah terlanjur patah/oleh lidah yang takterarah//.

Mengembalikan Puisi ke Tengah Kita

Menjadi narasumber bedah buku hari ini bukanlah tentang menentukan apakah buku puisi ini "benar" atau "salah", "bagus" atau "buruk". Tugas kita hari ini adalah merayakan proses kreatif sang penulis, menguliti lapisan-lapisan makna tersembunyi yang mungkin terlewat saat dibaca sekali duduk, dan memulangkan puisi-puisi ini ke dalam hati kita masing-masing.

Saya pun bertanya kepada google, adakah puisi yang jelek? Ia menjawab bahwa dalam kritik sastra konvensional, puisi biasanya dianggap gagal karena beberapa alasan teknis:

  • Klise: Menggunakan rima, metafora, dan perumpamaan yang sudah terlalu sering dipakai (contoh: "wajahmu indah bak rembulan" atau "darah mengalir bagai sungai").
  • Sentimentalitas Berlebihan (Melodramatis): Puisi yang terlalu memaksakan kesedihan atau romantisasi tanpa kedalaman makna, sehingga terasa dangkal atau kekanak-kanakan.
  • Didaktisme Kasar: Puisi yang isinya hanya menggurui atau berceramah secara langsung tanpa menggunakan bahasa estetis atau simbolisme sastra.
  • Gagal Membangun Jembatan Estetis: Jika dikaitkan dengan teori Teeuw, puisi yang jarak estetisnya nol (sangat mudah ditebak dan tidak menawarkan hal baru) sering kali hanya dianggap sebagai "sastra kuliner" atau hiburan instan, bukan karya seni yang berbobot.

Seiring berkembangnya zaman, batasan antara puisi bagus dan jelek menjadi kabur karena beberapa faktor:

  • Perubahan Horizon Harapan: Puisi Sutardji Calzoum Bachri (seperti O Amuk Kapak) awalnya dianggap "merusak bahasa" dan jelek oleh kritikus konvensional. Namun, kini karya tersebut dianggap sebagai mahakarya karena berhasil mengubah standar estetika sastra Indonesia.
  • Estetika Keburukan (The Aesthetics of Ugliness): Banyak penyair modern sengaja menulis puisi menggunakan kata-kata kasar, kotor, atau struktur yang berantakan untuk merespons realitas dunia yang kacau. Di sini, "kejelekan" justru menjadi alat estetis untuk menyampaikan protes.

Beberapa teman pernah berkata, puisi buatan AI tidak memiliki nilai rasa. Sangat terasa dibuat oleh robot. Bagaimana jika ia mengembangkan terus sistemnya dengan menyerap beragam masukan teori-teori sastra? Akankah kelak, puisi buatan AI melampaui estetika buatan manusia?

Buku kumpulan puisi ini telah selesai ditulis oleh para penulisnya. Tugas penyair telah usai begitu buku ini dicetak. Sekarang, tugas kita sebagai pembacalah yang menghidupkan kembali kata-kata yang mati di atas kertas putih ini, menyuarakannya, dan memberi mereka makna yang baru.

Mari kita buka lembar demi lembar, kita temukan potongan diri kita yang mungkin selama ini tersembunyi di balik bait-baitnya. Di era manusia lebih memilih memposting foto kebahagiaan di akun media sosialnya, ada setitik harapan untuk manusia tetap jujur ketika menulis puisi sebagai bagian karya sastra yang publikasinya patut kita rayakan.[]