Kamis, 02 Mei 2019

# Buku Harianku

Dear, Wi. Ini Puisi-puisiku Lagi.

Sudah tengah malam. Beberapa saat lagi sudah menjadi "kemarin". Aku menyelesaikan sekian puisi yang menurutmu harus kutambah lagi.

Kautahu Wi. Ini bukan pekerjaan mudah. Aku melakukan survei dan observasi mendalam sebagaimana ketika aku menulis karya ilmiah dan novelku Sekaca Cempaka.
Ini jauh lebih sulit dari yang pernah aku kerjakan.

Aku nongkrong di kafe meski lebih banyak sedihnya kalau duduk sendirian di sana tapi lumayan, dapat beberapa puisi; memesan semangkok mie goreng di kantin kampus agar bisa duduk melihat tingkah orang-orang; mendekam di sekre karena di sana aku dapat feel lebih tentang cinta.

Aku ingin tulisanku tidak semata subjektivitasku tentang cinta. Aku ingin tulisanku mewakili orang lain. Aku tahu di luar sana banyak orang dengan problematika cintanya masing-masing. Aku ingin puisiku bisa menerjemahkan semua itu ke dalam bahasa kita. Puisi.

Aku berada di titik paling hampa saat puisi terakhirku selesai.
Aku merasa ada banyak ruang kosong dalam jiwa. Setelah puisi puisi itu aku tuliskan, mereka seakan menerobos keluar dari jiwaku sehingga aku menjadi sepi.

Dear, Wi.
Hari ini aku menyadari. Aku lahir sendirian ke dunia ini dan suatu saat akan kembali sendiri. Harusnya aku tidak perlu takut jika akan kembali  sendiri.
Tidak ada yang abadi. Semua akan pergi, kecuali kenangan. Baru saja, seseorang yang kukira menganggapku teman mengucap kalimat perpisahan. Semacam let me go, let me alone, dont disturb me, i am boring, Im tired, dont wanna talk about it, etc. Seperti yang sudah-sudah juga kan takdirku?

Tidak ada teman selamanya atau selamanya teman. Meski demikian, aku selalu menyisipkan doa, "Tuhan, jangan biarkan teman terbaikku pergi kecuali dia bisa menggubah airmataku menjadi sebuah  prasasti lagu di tengah pantai."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar