Selasa, 29 September 2026

# esai # sastra

Membaca Karya Sastra dengan Mata, Hati dan Pikiran Marselus


Oleh Nailiya Nikmah



Membaca esai yang berisi ulasan/bedahan karya sastra sejatinya adalah meminjam mata, hati dan pikiran penulisnya untuk menikmati karya sastra. Jika membaca adalah jendela dunia, seperti yang dikatakan oleh pepatah lama, membaca esai-esai Marselus Robot adalah jendela dunia karya sastra. Dengan bekal passion-nya di bidang semiotika, Metafora dan Wacana, esai-esai yang ia tulis menjadi berbeda dari esai lainnya. Esai-esai yang lincah menggemaskan itu adalah pintu doraemon alias pintu ke mana saja-nya karya sastra. Menulis esai/mengulas karya sastra bagi Marselus Robot adalah penciptaan karya sastra itu sendiri. Baginya pertemuan dengan karya sastra, seperti puisi, cerpen, novel, drama atau esai sastra orang lain membuat dirinya harus tunduk/takluk terhadap karya-karya tersebut sekaligus menaklukkannya.

Ketika karya-karya tersebut melampaui kemampuannya, baik berupa ilmu pengetahuan, maupun pengalaman dan kualitas estetika, ia takluk dan bergumul dengan literatur kesusastraan untuk mendapatkan pisau bedah yang tepat. Setelah itu ia pun hanyut dalam pembacaan romantik yang sangat menyenangkan. Sebaliknya, ketika ia berhadapan dengan karya yang secara subjektif bukan seleranya, ia memilih untuk menaklukkan karya-karya tersebut. Ia dengan rela berpayah-payah membangun argumentasi agar karya-karya tersebut dapat diterima oleh pembaca. Kurang lebih begitulah yang ia sampaikan di gerbang buku Kumpulan Esai Kejahatan Sunyi, Merindumu Itu Luka yang terbit 2022 tepatnya pada halaman Pengantar Penulis.

Maklumat penyelenggara dalam TOR Arkais Festival menyebutkan bahwa membaca karya sastra tidak berhenti pada mengetahui isi sebuah karya tetapi juga membuka persoalan, gagasan, pengalaman, dan makna yang terkandung di dalamnya. Melalui kumpulan esai Kejahatan Sunyi, Merindumu Itu Luka, sesi ini menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana karya dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan menjadi gagasan tulisan. Dihelalah tiga tujuan kegiatan, yaitu 1) mengembangkan kemampuan peserta dalam membaca karya sastra; 2) membicarakan proses menemukan gagasan dan makna dalam karya; dan 3) menjadikan pengalaman membaca sebagai bekal menuju proses penciptaan karya.

Dalam esai-esainya di buku ini, tidak akan ditemukan kesan menggurui dari penulisnya kepada pembaca. Sungguh bijak, dengan mata, hati dan pikiran yang ia pinjamkan, Marselus membiarkan pembacanya melibatkan diri sepanjang proses berpikirnya melalui metafor-metafor maupun tamsil yang ia tulis. Marselus memandu pembaca dengan tenang dan hati-hati, hingga tanpa mereka sadari, para pembaca itu, telah merekonstruksi secara mandiri segala hal yang ditulis Marselus. Dengan mata, hati dan pikiran Marselus, pembaca mengembangkan kemampuannya dalam membaca karya sastra sekaligus menemukan gagasan dan makna dalam karya. Lihatlah esai pertama dalam buku tersebut, Marselus menulis,

Mistik estetika sebuah puisi terasa ketika pembaca dibawa dalam penyiksaan yang begitu menyenangkan. Semisal, pembaca berjumpa dengan kata, “Kaulah Kandil kemerlap/Pelita jendela di malam gelap” (Padamu Jua, Amir Hamzah), lalu mulai bergumul dengan kata-kata yang menyimpang dari makna lingual itu, di sanalah pembaca akan menjumpai ketaklaziman dalam penggunaan Bahasa (bahasa ekslusi). Sebab bahasa puisi bukan sekadar alat ucap informasi (penggunaan bahasa secara inklusi), melainkan mngendapkan makna lain yang disajikan secara khas. Membaca puisi berarti pula berusaha melintasi skandal lingual getir itu. Berikutnya, puisi menyediakan ruang kosong yang penuh sesak dengan makna. Ruang kosong itu adalah makna paling padat (hal 1).

Paragraf pembuka tersebut diam-diam telah menuntun pembaca untuk memiliki skill membaca (:menikmati) sebuah puisi. Dimulai dari tahap membaca/menemukan kata-kata/diksi; bergumul dengannya dalam arti memberi makna setelah mengendapkan makna lainnya; melintasinya hingga menemukan makna paling padat di dalam ruang kosongnya.

Melalui esai yang mengulas novel Perburuan (hal 122) misalnya kita juga disuguhi novel dalam bentuk yang sudah diberi ruh makna. Selain mendapatkan alur cerita, pembaca juga memperoleh nilai-nilai keteguhan hati tokohnya dalam berjuang melawan penjajah. Membaca novel secara utuh, bagi sebagian orang kadang membosankan. Dengan membaca esai Marselus, pembaca menjadi sangat terbantu.

Atau cobalah tengok halaman 31, Marselus bilang, “Menyusun fiksi dimulai dengan nyanyian tragik atau minimal pergulatan imajinasi yang menghamburkan kenangan …. Pertama memilih tema yang unik; kedua di tangan dialah sebuah pengalaman dibuat unik. Lalu dia juga bilang soal karya sastra berguna dan menghibur. Selanjutnya, ia juga bilang bahwa cara bertutur novel yang sedang ia ulas tersebut dangat teratur, bahasanya baku tak ingin nyentrik-nyentrikan.” Pada bagian ini, Marselus telah menggambarkan cara menjadikan pengalaman membaca sebagai bekal menuju proses penciptaan karya.

Maka sungguh benar adanya, Karolus Budiman Jama – sang editor menyebut bahwa Marselus Robot bukan memberikan mawar tetapi mengirimkan aromanya untuk membayangkan mawar. Selamat menikmati mawar dalam pikiranmu. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar