Oleh Nailiya Nikmah
Membaca esai yang berisi
ulasan/bedahan karya sastra sejatinya adalah meminjam mata, hati dan pikiran
penulisnya untuk menikmati karya sastra. Jika membaca adalah jendela dunia, seperti
yang dikatakan oleh pepatah lama, membaca esai-esai Marselus Robot adalah jendela
dunia karya sastra. Dengan bekal passion-nya di bidang semiotika,
Metafora dan Wacana, esai-esai yang ia tulis menjadi berbeda dari esai lainnya.
Esai-esai yang lincah menggemaskan itu adalah pintu doraemon alias pintu ke
mana saja-nya karya sastra. Menulis esai/mengulas karya sastra bagi Marselus
Robot adalah penciptaan karya sastra itu sendiri. Baginya pertemuan dengan
karya sastra, seperti puisi, cerpen, novel, drama atau esai sastra orang lain
membuat dirinya harus tunduk/takluk terhadap karya-karya tersebut sekaligus
menaklukkannya.
Ketika karya-karya tersebut
melampaui kemampuannya, baik berupa ilmu pengetahuan, maupun pengalaman dan
kualitas estetika, ia takluk dan bergumul dengan literatur kesusastraan untuk
mendapatkan pisau bedah yang tepat. Setelah itu ia pun hanyut
dalam pembacaan romantik yang sangat menyenangkan. Sebaliknya, ketika ia
berhadapan dengan karya yang secara subjektif bukan seleranya, ia memilih untuk
menaklukkan karya-karya tersebut. Ia dengan rela berpayah-payah membangun
argumentasi agar karya-karya tersebut dapat diterima oleh pembaca. Kurang lebih
begitulah yang ia sampaikan di gerbang buku Kumpulan Esai Kejahatan Sunyi,
Merindumu Itu Luka yang terbit 2022 tepatnya pada halaman Pengantar
Penulis.
Maklumat penyelenggara dalam TOR
Arkais Festival menyebutkan bahwa membaca karya sastra tidak berhenti pada
mengetahui isi sebuah karya tetapi juga membuka persoalan, gagasan, pengalaman,
dan makna yang terkandung di dalamnya. Melalui kumpulan esai Kejahatan
Sunyi, Merindumu Itu Luka, sesi ini menjadi ruang untuk membicarakan
bagaimana karya dibaca, ditafsirkan, dan dikembangkan menjadi gagasan tulisan. Dihelalah
tiga tujuan kegiatan, yaitu 1) mengembangkan kemampuan peserta dalam
membaca karya sastra; 2) membicarakan proses menemukan gagasan dan makna dalam
karya; dan 3) menjadikan pengalaman membaca sebagai bekal menuju proses
penciptaan karya.
Dalam
esai-esainya di buku ini, tidak akan ditemukan kesan menggurui dari penulisnya
kepada pembaca. Sungguh bijak, dengan mata, hati dan pikiran yang ia pinjamkan,
Marselus membiarkan pembacanya melibatkan diri sepanjang proses berpikirnya
melalui metafor-metafor maupun tamsil yang ia tulis. Marselus memandu pembaca
dengan tenang dan hati-hati, hingga tanpa mereka sadari, para pembaca itu,
telah merekonstruksi secara mandiri segala hal yang ditulis Marselus. Dengan mata,
hati dan pikiran Marselus, pembaca mengembangkan kemampuannya dalam membaca
karya sastra sekaligus menemukan gagasan dan makna dalam karya. Lihatlah esai
pertama dalam buku tersebut, Marselus menulis,
Mistik
estetika sebuah puisi terasa ketika pembaca dibawa dalam penyiksaan yang begitu
menyenangkan. Semisal, pembaca berjumpa dengan kata, “Kaulah Kandil kemerlap/Pelita
jendela di malam gelap” (Padamu Jua, Amir Hamzah), lalu mulai bergumul dengan kata-kata
yang menyimpang dari makna lingual itu, di sanalah pembaca akan menjumpai ketaklaziman
dalam penggunaan Bahasa (bahasa ekslusi). Sebab bahasa puisi bukan sekadar alat
ucap informasi (penggunaan bahasa secara inklusi), melainkan mngendapkan makna
lain yang disajikan secara khas. Membaca puisi berarti pula berusaha melintasi
skandal lingual getir itu. Berikutnya, puisi menyediakan ruang kosong yang
penuh sesak dengan makna. Ruang kosong itu adalah makna paling padat (hal 1).
Paragraf
pembuka tersebut diam-diam telah menuntun pembaca untuk memiliki skill membaca
(:menikmati) sebuah puisi. Dimulai dari tahap membaca/menemukan
kata-kata/diksi; bergumul dengannya dalam arti memberi makna setelah mengendapkan
makna lainnya; melintasinya hingga menemukan makna paling padat di dalam ruang
kosongnya.
Melalui esai yang mengulas novel Perburuan
(hal 122) misalnya kita juga disuguhi novel dalam bentuk yang sudah diberi ruh
makna. Selain mendapatkan alur cerita, pembaca juga memperoleh nilai-nilai keteguhan
hati tokohnya dalam berjuang melawan penjajah. Membaca novel secara utuh, bagi sebagian orang kadang
membosankan. Dengan membaca esai Marselus, pembaca menjadi sangat terbantu.
Atau cobalah tengok halaman 31,
Marselus bilang, “Menyusun fiksi dimulai dengan nyanyian tragik atau minimal
pergulatan imajinasi yang menghamburkan kenangan …. Pertama
memilih tema yang unik; kedua di tangan dialah sebuah pengalaman dibuat unik. Lalu dia juga bilang soal karya sastra berguna dan menghibur.
Selanjutnya, ia juga bilang bahwa cara bertutur novel yang sedang ia ulas
tersebut dangat teratur, bahasanya baku tak ingin nyentrik-nyentrikan.” Pada bagian
ini, Marselus telah menggambarkan cara menjadikan pengalaman membaca sebagai
bekal menuju proses penciptaan karya.
Maka sungguh benar adanya, Karolus
Budiman Jama – sang editor menyebut bahwa Marselus Robot bukan memberikan mawar
tetapi mengirimkan aromanya untuk membayangkan mawar. Selamat
menikmati mawar dalam pikiranmu. []

