Tampilkan postingan dengan label Catatan Umrahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Umrahku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Jumat di Madinah: Catatan Umrahku (2)

17.03 0 Comments


JUMAT DI MADINAH
Catatan Umrahku (2)
Oleh Nailiya Nikmah



Matahari masih bersinar garang di Madinah. Ketika itu, kami sedang duduk-duduk di halaman masjid Nabawi menunggu waktu sholat Asar tiba. Itu adalah Jumat kedua kami di tanah mulia, setelah Jumat pertama  kami jalani di Makkah.
Aku dan adikku asyik membaca Alquran. Kami membawa mushaf pribadi. Aku membawa mushaf-ku kemana-mana karena aku merasa sudah terbiasa dengannya. Sampulnya terbuat dari kain beledru berwarna pink magenta. Pink adalah warna kesukaanku sejak kecil. Selain itu, mushaf-ku ini merupakan mushaf yang satu halamannya terdiri dari 20 baris. Jadi, kesannya seolah-olah sejuz itu lebih sedikit daripada mushaf yang lain. Padahal sih sama saja, hehe. Sebenarnya aku bawa dua. Satunya lagi yang ungu, pemberian kawanku. Kebetulan saat itu yang ungu dibawa suamiku. Mushaf yang aku bawa ini sering menarik perhatian jamaah lain. Tidak hanya jamaah dari negara lain tapi juga dari negaraku sendiri, Indonesia. Tak jarang mereka meminjamnya atau sekadar membolak-balik dan mengamati desainnya. Mungkin juga karena warnanya yang mencolok mata, terlihat sangat kontras dengan mushaf pada umumnya yang dipakai di tanah suci.





Tak terkecuali saat aku di Madinah Jumat itu. Seorang jamaah asal negara lain yang duduk di kananku menunjuk2 mushafku ketika aku menghentikan tilawahku karena aku merasa diamati. Aku menduga-duga, apakah dia terganggu dengan suara tilawah kami (aku pernah dengar, hanya jamaah Indonesia yang tilawah dengan mengeluarkan suara).
Dia mencoba berkomunikasi denganku. Sayang sekali aku sama sekali tidak mengerti bahasanya. Arab bukan, Inggris bukan.
Dia menunjuk-nunjuk mushafku. Aku menyodorkan Quran pink-ku. Barangkali dia mau pinjam.
Dia tersenyum, menggeleng-geleng, ekspresif sekali.
“Jum’ah..Alkahfi..Alkahfi..” ucapnya.
Aku baru paham. Subhanallah, aku bukannya tidak tahu kalau membaca surat Alkahfi memiliki banyak keutamaan ketika dibaca di hari Jumat (atau kalimat lainnya mungkin begini, salah satu amalan yang dianjurkan di hari Jumat adalah membaca Surat Alkahfi). Aku tahu. Aku bahkan sudah pernah mengamalkannya karena hal itu terdapat juga dalam kesepakatan grup baca Quran yang aku ikuti lewat WA. Hanya saja, karena aku sedang mengejar target khatam selama umrah, aku jadi melupakan kebiasaan yang satu itu. Aku membaca surat yang sesuai dengan urutan tilawahku saja meski saat itu hari Jumat.
            Dia lalu bersuara lagi sambil memiringkan kepala ke kanan dan meletakkan tangkupan tangan di bawahnya, mengisyaratkan orang sedang ingin tidur, aku tak paham apa yang ia ucapkan, tapi dari kata terakhir aku mulai mengerti.
            “...blablabla.., Al-Mulk”
“Ah..ya..ya..syukron” sahutku. Aku yakin sekali, ia sedang memberitahu bahwa kalau ingin tidur bagus membaca Surat Al-Mulk.
Aku bergegas mencari halaman Surat Al-Kahfi. Mataku berkaca-kaca. Aku teringat kawan-kawan dalam grup “Sehari Sejuz” yang aku ikuti. Orang-orang dalam grup itulah yang pertama kali memberitahu aku keutamaan surat tersebut. Sesaat sebelum membaca surat Al-Kahfi, kupanjatkan doa untuk seluruh kawan dalam grup itu. Rasanya, inilah tilawah Alkahfi-ku yang paling mengesankan. Terima kasih, Ibu jamaah negara lain-yang aku tak tahu namanya. Semoga Allah selalu merahmati engkau di manapun engkau kini.[]











Selasa, 05 April 2016

Aku Penuhi Panggilanmu: Catatan Umrahku (1)

15.23 0 Comments


Aku Penuhi Panggilanmu
Catatan Umrahku (1)


2011-an aku mengalami sakit yang cukup parah. Sakit yang semula aku remehkan dan aku tunda-tunda untuk mengobatinya. Sebuah Sakit yang membuat aku berada pada titik paling nol dalam hidupku. Sakit yang membuat aku begitu menghargai kata “sehat” dan “hidup”. Sakit yang membuat aku merasa dekat dengan kematian (aku bahkan mulai merancang-rancang dengan siapa anak-anakku hidup nanti jika aku telah tiada). Sakit yang membuat aku memiliki satu lompatan hidup yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Selama sakit itu, dalam tiga hari aku mampu mengkhatamkan membaca Alquran.
Aku sempat stress menghadapinya tapi lambat laun aku menyerah. Aku memilih berdamai dengan penyakitku. Aku mengikuti saran keluargaku untuk berobat ke luar pulau. Akupun pergi ke ibukota negara bersama ayahku. Anak-anakku bersama suami dan ibuku di rumah. Sebelumnya, dokterku bilang, tidak terlalu berarti Anda ke Jakarta atau ke manapun. Obatnya sama saja dengan yang saya berikan selama ini. Tapi aku pergi untuk menuntaskan ikhtiarku sebelum aku mengambil jalan lain. Banyak hal yang aku dapatkan selama berobat di Jakarta. Aku makin mengerti betapa berharganya hidup dan kesempatan untuk berbuat sesuatu dalam hidup. Satu hal lagi, aku semakin yakin, betapa orang miskin tidak boleh sakit. Sama sekali tidak boleh….
Sepulang dari Jakarta, tidak lama kemudian aku memutuskan untuk menghentikan obat dokter. Bukan apa-apa. Aku tidak tahan dengan efek sampingnya. Aku mempelajari banyak buku, terutama tentang pengobatan herbal, pengobatan nabawi, pengobatan timur, pengobatan cina, dll. Lalu aku intens membacai tafsir surat An-Nahl. Dari situ aku yakin, madu adalah salah satu obat segala penyakit. Aku memadukan madu dengan herbal lain. Alhamdulillah aku merasa lebih baikan. (Maaf, ini bukan testimoni produk. Ini hanya sedikit ceritaku). Aku juga mencoba terapi totok, bekam, rukyah syariyah, dll.
Aku merasa lebih segar tapi di kedalaman hatiku aku tak mampu menepis kemungkinan aku lebih cepat mati karena penyakitku. Lalu, tiba-tiba aku terpekur. Aku teringat kabah di Makkah sana. Aku belum pergi haji. Aku belum pernah ke sana…Bagaimana aku bisa mati dalam keadaan belum berhaji?  Aku tiba-tiba diliputi rindu yang sangat mendalam. Aku ingin pergi haji. Itu saja yang aku pikirkan saat itu.
Pelan-pelan aku menyampaikan keinginanku pada suamiku. Semula ia kaget dan ia merasa belum yakin untuk mendaftar haji. Proses yang tidak mudah, hingga akhirnya Ramadhan 2012 kami resmi mendaftar haji. Menurut perkiraan, kami akan berangkat tahun 2026! Kota Banjarmasin merupakan kota yang paling banyak antrian calon jamaah hajinya. Sementara kuota terbatas. Jadi jangan heran kalau masa keberangkatan kami masih sangat lama. Kukatakan, dengan mendaftar, aku sudah menunjukkan kesungguhan niatku pada Tuhan.
Tahun-tahun berikutnya, aku mulai dilanda rindu. Aku mulai berharap agar bisa pergi umrah. Tiap awal tahun, yang menjadi daftar resolusiku di nomor urut pertama adalah pergi umrah. Suamiku geleng-geleng kepala. Setiap mendengar ada yang pergi umrah, diam-diam aku menyeka airmata. Tidak tahu kenapa, selalu saja aku menangis setiap mendengar ada yang pergi ke sana.
Dan Februari 2016 ini, ketika aku akhirnya pergi umrah, tidak ada lagi yang bisa aku tuturkan selain Labbaikallahumma labbaik…(bersambung)