![]() |
| Aku, Adikku dan Saprudi |
Jika ada yang bertanya tentang riwayat kepenulisanku, dengan bangga aku menjawab “Aku dilahirkan oleh FLP dan dibesarkan oleh KSI (Komunitas Sastra Indonesia) Banjarmasin.”
Bicara FLP Selalu Teringat Annida
![]() |
| Beberapa Koleksi Annida-ku yang masih Tersisa |
Setelah Sembilan Mata Hati, satu per satu terbit buku fiksi islami yang hampir tak pernah kulewatkan (beli, baca, pinjamkan). Ketika Mas Gagah Pergi, Hingga Batu Bicara (nah, aku punya kisah menarik tentang koleksi Hingga Batu Bicara yang kini sudah tidak di tanganku lagi)), Pinkan, Tiga Ribu Tanda Tangan, Serial Aisyah Putri, Muara Kasih, Nyanyian Perjalanan, Trilogi Gola Gong, dll. Bacaan-bacaan fiksi islami tersebut cukup besar perannya dalam keistiqomahanku menapak jalan dakwah, selain nasyid-nasyid seperti yang dinyanyikan grup Raihan, Brother, The Mupla, Bestari, Saujana, dkk (terbayang kan aku angkatan lama?). Gara-gara prinsip beli, baca dan pinjamkan ini, aku dan adikku sempat membuka perpustakaan kecil di rumah, khusus bacaaan islami. Selain fiksi aku juga mengoleksi dan meminjamkan majalah nonfiksi seperti Sabili, Tarbawi dan Ummi.
![]() |
| Beberapa Di antara Koleksi Buku Fiksi Islamiku |
Inilah mulanya...
Suatu ketika, dalam salah satu edisinya, Annida membuka pendaftaran kelompok penulis islami bernama “Forum Lingkar Pena (FLP)." Maaf, aku sudah lupa bagaimana detil pengumumannya. Yang jelas, di halaman tersebut ada formulir yang harus diisi. Akupun mengisi formulir dan mengirimnya bersama selembar foto ke alamat yang tertera di majalah. Aku bersemangat sekali ingin menjadi bagian dari komunitas tersebut, sama semangatnya ketika aku bergabung dalam sebuah kelompok pergerakan Islam di kampus. Aku menunggu balasan dari forum tersebut.
Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Aku ditelepon oleh panitianya. Tidak lama kemudian, aku menerima sepucuk amplop berisi beberapa formulir peserta yang berasal dari provinsiku. Aku malah diminta menjadi koordinator FLP di Kalsel. Bukan, bukan karena aku paling hebat. Kurasa karena akulah satu-satunya pengirim yang memiliki alamat paling lengkap plus nomor telepon rumah. Singkat cerita, suatu hari aku berhasil mengundang para pengirim formulir tersebut ke rumahku melalui surat yang kukirim ke alamat masing-masing. Mereka dari berbagai kampus, berbagai kelompok dakwah, bahkan ada juga yang masih SMA. (Kelak, hal ini - bahwa aku koordinator FLP Kalsel diabadikan Mbak Helvy dalam bukunya Segenggam Gumam).
![]() |
| Disket FLP diantar oleh Mas Bahtiar HS ke rumahku |
![]() |
| Acara Bersama Mbak Asma Nadia |
Silnas 1 adalah pengalaman pertamaku ke Jakarta; naik kapal laut dan kereta api.
![]() |
| Kenangan Silnas 1 |
![]() |
| bersama HTR, GG, Ali Muakhir dan teman FLP daerah lain |
Banyak cerita berharga di Silnas 1. Rasanya tak percaya aku bisa bertemu dan berfoto dengan para pendiri FLP seperti Mbak Helvy Tiana Rosa dan Mbak Asma Nadia yang karya-karyanya berperan dalam semangat hidupku. Lebay dikit gapapa kan ya? O,iya yang paling berkesan di Silnas 1 adalah berkenalan dengan Mbak Dee (yang super enerjik dan ramah), berdiskusi dengan anggota FLP utusan seluruh Indonesia bahkan ada juga FLP Mesir. Selain itu aku juga berkenalan dengan Mas Gola Gong. Aku juga sempat bertemu Pak Taufiq Ismail di acara ini, sempat berfoto dengan beliau. Wuiih... aku berasa mimpi bisa ngobrol dengan Pak Taufiq Ismail. Sebelumnya hanya bisa menikmati karyanya di buku dan pelajaran sekolah.
![]() |
| Atas: Aku Bersama Pak Taufiq Ismail Bawah: Aku, Khairani dan Saiful Nazar |
Di Silnas 1 aku juga membeli buku. Salah satunya antologi cerpen FLP Cermin dan Malam Ganjil. Buku tersebut jadi "azimat" bagiku. Di sana ada tanda tangan beberapa orang penting. Tanda tangan kenalanku di silnas, tanda tangan para penulisnya dan tanda tangan Pak Taufiq Ismail.
Dalam rentang fase ini, FLP Banjarmasin sempat mengadakan acara Kafe Nida bekerja sama dengan majalah Annida mengundang Mbak Dian Yasmina Fajri. Yang zaman dulu bacaannya Annida pasti tahu Kafe Nida:)
![]() |
| Proposal Kafe Nida FLP Bjm |
Adikku pindah ke Jogja mengikuti suaminya. Sebelumnya, FLP sempat mengadakan
acara rihlah tapi aku tidak bisa ikut.
FLP Banjarmasin Mati Suri
Aku sempat mengikuti kelas menulis jarak jauh oleh FLP pusat, namanya PMJ FLP (lupa apa kepanjangannya). Kelas ini berbayar, lho. Cukup mahal untuk ukuranku saat itu. Aku memilih konsultasi pembelajaran menggunakan print-out yang dikirim via pos. Kalau aku tidak salah ingat, nama mentorku Denny Prabowo. Sayangnya, aku tidak menyelesaikan tugas akhir sehingga aku tidak sempat mendapatkan sertifikat.
![]() |
| Beberapa Materi PMJ FLP |
Sejalan dengan baktiku di FLP (aku dan adikku juga mulai aktif di FLP bersama suami kami masing-masing). Aku mulai dipercaya menjadi pemateri, pembicara, juri, dalam acara kebahasaan dan kesusastraan di Kalimantan Selatan. Terkait dengan itu, namaku sulit dipisahkan dari nama FLP. FLP seolah melekat menjadi identitasku. Setiap aku berkumpul teman-teman sastra, mereka kerap bertanya bagaimana kabar FLP? – entah itu pertanyaan basa-basi atau beneran mau tahu.
Oiya, seingatku aku tidak pernah mau jadi ketua, baik itu ketua wilayah maupun ketua cabang Bjm. Aku merasa bebanku sebagai koordinator Kalsel sudah cukup berat. Aku dan teman-teman mempercayai Khairani untuk memimpin kami. Lelaki aktivis bersahaja dari kampus lain yang dulu pernah jadi rekan bisnisku berdagang majalah islami😊. Kelak setelah dia sangat sibuk menjadi orang penting di sebuah sekolah swasta islami, FLP wilayah Kalsel dipercayakan kepada adikku, Nailiya Noor Azizah.
Sebelum berangkat, aku menghubungi teman lama sesama anggota FLP. Ia dari pulau seberang, kupanggil ia Ra.
![]() |
| Album Kenangan Silnas 2 |
![]() |
| anak-anakku tertidur saat materi |
![]() |
| Berita acr FLP di SK |
Buku Kumpulan Cerpenku Rindu Rumpun Ilalang termasuk dalam daftar buku yang boleh diresensi dalam Lomba Resensi Buku Memperingati Milad FLP ke-15 tahun 2012. Aku turut senang ketika yang meresensi bukuku tersebut menjadi salah satu pemenang.
![]() |
| Profil FLP Banjarmasin di Radar Banua |
2011 s.d 2013 FLP Wilayah Kalsel diketuai oleh adikku, Nailiya Noor Azizah. Semula aku masih hendak diajukan sebagai ketua tapi aku lantas teringat Ra dan olok-olok kutukan yang ia celotehkan. Suamiku, Jumiadi Khairi Fitri terpilih menjadi Bendahara. Aku sendiri ada di Divisi Pengkaderan. Mungkin sudah takdirku untuk menerima “kutukan” ini, pikirku. Pelantikan sekaligus up-grading dihadiri oleh Mbak IJ. Seminar menulis juga diadakan untuk menyemarakkan agenda kami. Selainbak IJ, hadir juga Y.S. Agus Suseno sebagai pembicara.
Pada acara tersebut FLP Wilayah Kalsel me-launching buku antologi cerpen berjudul “Pelangi di Pelabuhan”. Dalam masa kepengurusan tersebut, 2 cabang baru terbentuk, yaitu FLP Cabang Amuntai dan FLP Cabang Barabai. Kami mengunjungi kota-kota tersebut dalam rangkaian acara FLP goes to School sekaligus pelantikan pengurus cabang. Dengan FLP Banjarmasin dan FLP Banjarbaru, maka total ada 4 Cabang FLP di lingkup Wilayah Kalimantan Selatan.
Pada fase ini FLP Wilayah Kalsel menjadi satu komunitas menulis yang sudah "dianggap" oleh kawan-kawan sastra di Kalsel. Aku dan adikku serta teman-teman FLP wilayah memiliki agenda silaturrahim ke sastrawan-sastrawan Kalsel. Kalsel banyak penyairnya. Satu-satu kami jadwalkan untuk didatangi. Pada periode ini pula, FLP mendapat undangan resmi Acara Aruh Sastra Kalsel (sebuah event sastra yang sangat keren di Kalsel).


















