Rabu, 23 Oktober 2013

BAB V

04.04 0 Comments


BAB V
SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN
5.3.1 Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti perkuliahan Metodologi Penelitian inii diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan konsep dasar penelitian, menguraikan gambaran proses penelitian, membuat rancangan penelitian dan mempresentasikannya dengan baik dan benar.
5.3.2 Tujuan Instruksional Khusus
5.3 Skala Pengukuran
5.3.1  Macam-Macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam mengukur akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrument untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur, meteran sebagai instrument untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrument tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efesien dan komunikatif. Misalnya berat emas 19 gram, berat besi 100 kg, suhu badan orang yang sehat 370 Celcius, IQ seseorang 150. Selanjutnya dalam pengukuran sikap, sikap sekelompok orang akan diketahui termasuk gradasi mana dari suatu skala sikap. Macam-macam skala pengukuran dapat berupa : skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio, dari skala pengukuran itu akan diperoleh data nominal, ordinal, interval dan ratio.
Dari empat macam seperti yang telah dibicarakan, ternyata skala interval yang lebih banyak digunakan untuk mengukur fenomena/gejala sosial. Para ahli sosial membedakan dua tipe skala menurut fenomena sosial yang diukur, yaitu :
1.   Skala pengukuran untuk perilaku sosial dan kepribadian
2.   Skal pengukuran mengukur berbagai aspek budaya dan lingkungan sosial
Yang termasuk tipe yang pertama  adalah : skala sikap,  skala moral, test dan karakter dan partisipasi sosial. Yang termasuk tipe kedua  adalah skala untuk mengukur status sosial ekonomi, lembaga-lembaga sosial, kemasyarakatan (communities) dan kondisi kerumahtanggaan.
Pada dasarnya skala pengukuran dapat digunakan dalam berbagai bidang. Perbedaan terletak pada isi dan penekanannya. Para ahli psikologi lebih menekankan pada pengembangan instrument untuk mengukur perilaku manusia. Tetapi baik ahli sosiologi maupun psikologi, keduanya sama-sama menekankan pada pengukuran sikap yang menggunakan skala sikap.
Berbagai jenis skala yang dapat digunakan untuk mengukur fenomena sosial, dan dapat dianalisis menggunakan metode statistic adalah skala untuk mengukur intelegensi, kepribadian, sikap, status sosial, institusional (kelembagaan) dan berbagai tipe yang lainnya seperti : arbitrary scale, scale in which the item, scales values, scale constructed in accordance with “scale analysis” techniques device by Louis guttman and coworker, “projective test” in projective test’. Skala yang lain dapat merupakan penggabungan dari berbagai macam skala di atas (young dalam Sugiyono, 2005:107).
Berbagai skala yang dapat digunakan untuk penelitian administrator antara lain adalah :
1.      Skala likert
2.      Skala Guttman
3.      Ratting scale
4.      Semantic deferential
5.      Skala thurstone
Kelima jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval, atau rasio. Hal ini akan tergantung pada bidang yang akan diukur. Skala Thurstone tidak dibicarakan di sini.
1.      Skala likert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara sfesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indicator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrument yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain :
a.       Sangat setuju                     a.  Selalu
b.      Setuju                                b.  Sering
c.       Tidak setuju                      c.  Kadang-kadang
d.      Sangat tidak setuju           d.  Tidak pernah
a.       Sangat positif                    a.  sangat baik
b.      Positif                                b.  baik
c.       Negatif                              c.  tidak baik
d.      Sangat  negatif                  d.  sangat tidak baik
untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya :
1.      Setuju/selalu/sangat positif diberi skor                             5
2.      Setuju/sering/positif diberi skor                                        4
3.      Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor                    3
4.      Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor       2
5.      Sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor                    1
Instrument penelitian yang menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk : check list ataupun pilihan ganda.
a.       Contoh bentuk check list
Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda dengan cara memberi tanda ( v ) pada kolom yang tersedia.
No
Pertanyaan
Jawaban
SS
ST
RG
TS
STS
1

2
Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan diperusaan anda
……………………………………



v



S          = sangat setuju            diberi skor       5
ST        = setuju                       diberi skor       4
RG      = ragu-ragu                  diberi skor       3
TS        = tidak setuju              diberi skor       2
TS        = tidak setuju              diberi skor       1
Kemudian dengan teknik pengumpulan data angket, maka instrument tersebut misalnya diberikan kepada 100 orang karyawan yang diambil secara random. Dari 100 orang pegawai setelah dilakukan analisis misalnya :
25        orang menjawab          SS
40        orang menjawab          ST
5          orang menjawab          RG
30        orang menjawab          TS
10        orang menjawab          TS
Berdasarkan data tersebut 65 orang (40+25) atau 65 % karyawan menjawab setuju dan sangat setuju. Jadi kesimpulannya mayoritas karyawan setuju dengan adanya metode kerja baru.
Data interval tersebut juga dapat dianalisis dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skroring setiap jawaban dari responden. Berdasarkan skor yang telah ditetapkan dapat dihitung sebagai berikut :
Jumlah skor 25 orang yang menjawab SS       = 25 x 5           = 125
Jumlah skor 40 orang yang menjawab SS       = 40 x 4           = 160
Jumlah skor 5 orang yang menjawab RG       = 5 x 3             = 15
Jumlah skor 20 orang yang menjawab TS       = 20 x 2           = 20
Jumlah skor 10 orang yang menjawab STS    = 10 x 1           = 10
Jumlah total                                                                             = 350

Jumlah skor ideal (kriterium) untuk seluruh item 5 x 100 = 500 (seandainya smena menjawab SS). Jumlah skor yang diperoleh dari penelitian = 350. Jadi berdasarkan data itu tingkat persetujuan terhadap metode kerja baru itu = (350 : 500) x 100% = 70%.
Secara kontinum dapat digambarkan seperti berikut :


 




Jadi berdasarkan data yang diperoleh dari 100 responden maka rata-rata 350 terletak pada daerah setuju.

b.      Contoh bentuk pilihan ganda
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia.
            Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan di lembaga anda ?
a.       Sangat tidak setuju
b.      Tidak setuju
c.       Ragu-ragu/netral
d.      Setuju
e.       Sangat setuju
Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat diletakkan pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban diatas, sangat tidak setuju, diletakkan pada jawaban nomor pertama. Untuk item selanjutnya jawaban “sangat tidak setuju” dapat diletakkan pada jawaban nomor terakhir.
Dalam penyusunan instrument untuk variabel tertentu. Sebaiknya butir-butir pertanyaan dibuat dalam bentuk kalimat positif. Netral atau negatif sehingga responden dapat menjawab dengan serius dan konsisten. Contoh :
1.      Saya mencintai mobil diesel karena hemat bahan bakar (positif)
2.      Mobil diesel banyak diproduksi di jepang (netral)
3.      Mobil diesel sulit dihidupkan di tempat dingin (negatif)
Dengan cara demikian maka kecenderungan responden untuk menjawab pada kolom tertentu dari bentuk ceck list dapat dikurangi. Dengan model ini juga responden akan selalu membaca pertanyaan setiap item instrument dan juga jawabannya. Pada bentuk check list, sering jawaban tidak dibaca karena letak jawaban sudah menetu. Tetapi dengan bentuk check list maka akan didapat keuntungan dalam hal ini singkat dalam pembuatannya, hemat kertas, mudah mentabulasikan data dan secara visual lebih menarik. Data yang diperoleh dari skala tersebut adalah berupa data interval.
2.      Skala Guttam
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”: “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; “positif-negatif” dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala likert terdapat 3, 4, 5, 6, 7 interval, dari kata “sangat setuju”-“sangat tidak setuju”, maka pada dalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju atau tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Contoh :
1.   Bagaimana pendapat anda bila orang itu menjabat pimpinan diperusahaan ini ?
a.       Setuju
b.      Tidak setuju
2.   Pernahkah pimpinan melakukan pemeriksaan di ruang kerja anda ?
a.       Tidak pernah
b.      Pernah
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk (v) jawaban dapat diberi skor tertinggi satu dan terendah nol. Missal untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0, analisa dilakukan seperti pada skala likert. Pernyataan yang berkenaan dengan fakta benda bukan termasuk dalam skala pengukuran interval dikotomi.
Contoh.
1.      Apakah tempat kerja anda dekat jalan protocol ?
a.       Iya
b.      Tidak
2.      Anda punya ijazah sarjana ?
a.       Tidak
b.      Punya
3.      Semantic Defferensial
Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun cheek list, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
Contoh :


Beri nilai gaya kepemimpinan Manajer anda
 
 



Oval: 4
 
Oval: 3Oval: 5Bersahabat                  5                      3          2          1          tidak bersahabat
Tepat janji                               4                      2          1          lupa janji
Oval: 1Bersahabat                  5          4          3          2          1          memusuhi
Oval: 3Memberi pujian           5          4          3          2                      mencela
Mempercayai               5          4                      2          1          mendominasi

Respon dapat memberi jawaban, pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung pada persepsi responden kepada yang dinilai. Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap pemimpin itu sangat positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral dan bila memberi jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap pemimpinya sangat negatif.
4.      Reting Scale
Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating-scale data mentah yang berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Respon menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah-tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain.
Yang penting bagi penyusun instrument dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrument. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu dalam tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2.

Contoh 1 :
Seberapa baik data ruang kerja yang ada di Perusahaan A ?
Berilah jawaban dengan angka :
4          bila tata ruang itu sangat baik
3          bila tata ruang itu cukup baik
2          bila tata ruang itu kurang baik
1                    bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
No.
Item
Pertanyaan tentang tata ruang kantor
Interval jawaban
1

2
3

4

5
6

7
8
9
10

Penataan meja kerja sehingga arus kerja menjadi pendek
Pencahayaan alam tiap ruangan
Pencahayaan buatan/listrik tiap ruang sesuai dengan kebutuhan
Warna lantai sehingga tidak menimbulkan pantulan cahaya yang dapat mengganggu pegawai
Sirkulasi udara setiap ruangan
Keserasian warna alat-alat kantor, perabot dengan ruangan
Penempatan lemari arsip
Penempatan ruangan pimpinan
Meningkatkan keakraban sesama pegawai
Kebersihan ruangan
4        3       2       1

4        3       2       1
4        3       2       1

4        3       2       1

4        3       2       1
4        3       2       1

4        3       2       1
4        3       2       1
4        3       2       1
4        3       2       1


Bila instrument tersebut digunakan sebagai angket dan diberikan kepada 30 responden, maka sebelum dianalisis, data dapat ditabulasikan seperti pada halaman berikut.
Jumlah skor kriterium (bila setiap butir mendapatkan skor tertinggi) = 4 x 10 x 30 = 120. Untuk ini skor tertinggi tiap butir 4, jumlah butir 10 dan jumlah responden 30.
Jumlah skor hasil pengumpulan data = 818. Dengan demikian kualitas tata ruang kantor lembaga A menurut persepsi 30 responden itu 818 : 120 = 68 %, dari kriterium yang ditetapkan. Hal ini secara kontinum dapat dibuat kategori sebagai berikut :


 





 Nilai 818 termasuk dalam kategori interval “kurang baik dan cukup baik”, tetapi lebih,……..lekati cukup baik.
Contoh 2 :
Seberapa tinggi pengetahuan anda terhadap mata pelajaran berikut sebelum dan sesudah mengikuti pendidikan dan latihan. Arti setiap angka adalah sebagai berikut :
0        = bila sama sekali belum tahu
1        = telah mengetahui sampai dengan 25 %
2        = telah mengetahui sampai dengan 50 %
3        = telah mengetahui sampai dengan 75 %
4        = telah mengetahui 100 % (semuanya)
Mohon dijawab dengan cara melingkari nomor sebelum dann sesudah latihan.
Pengetahuan
Sebelum mengikuti diklat
Mata pelajaran
Pengetahuan
Sesudah mengikuti diklat
0     1      2      3     4
Komunikasi
0     1      2      3     4
0     1      2      3     4
Tata ruang kantor
0     1      2      3     4
0     1      2      3     4
Pengambilan keputusan
0     1      2      3     4
0     1      2      3     4
System pembuatan laporan
0     1      2      3     4
0     1      2      3     4
Pemasaran
0     1      2      3     4
0     1      2      3     4
Akutansi
0     1      2      3     4
0     1      2      3     4
Statistic
0     1      2      3     4

Tabel 5.1 Jawaban responden tentang tata ruang kantor
Nomor
responden
Jawaban responden untuk item nomor
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Jumlah
4
3
3
1
4
1
2
3
4
1
3
2
3
4
3
4
2
3
3
1
2
3
2
3
4
3
3
3
3
3
3
4
3
2
3
1
2
3
4
1
3
2
2
4
3
4
2
3
3
1
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
1
2
3
4
1
3
2
2
4
3
4
2
2
3
1
3
3
4
3
4
2
4
3
3
2
4
1
3
2
3
1
2
3
4
1
3
2
3
3
3
4
2
3
2
2
3
3
4
3
4
2
4
2
2
2
3
3
3
3
3
2
2
3
4
1
3
2
3
3
3
4
2
3
2
2
3
3
4
3
4
2
4
2
2
2

2
4
2
3
3
2
2
3
4
1
2
1
3
3
3
4
2
3
2
3
3
3
4
3
3
2
4
2
2
3
1
4
2
3
1
1
1
4
3
2
2
1
3
3
2
4
2
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
2
2
4
2
3
2
3
2
2
1
4
3
2
1
1
3
3
2
3
2
3
3
2
3
4
3
4
3
4
3
2
1
4
3
2
3
2
2
2
2
4
3
2
1
1
3
3
2
3
2
2
3
3
2
2
4
2
3
4
4
4
4
4
4
1
4
3
4
1
1
3
3
2
3
1
3
3
2
3
2
2
3
2
2
2
4
3
3
4
4
2
2
2

29
29
28
25
29
15
18
33
36
14
24
15
28
33
20
38
20
27
27
21
26
28
37
30
35
29
38
26
25
29
818


Dengan dapat diketahuinya pengetahuan sebelum dan sesudah mengikuti diklat, maka pengaruh pendidikan dan latihan dalam menambah pengetahuan para pegawai yang mengikuti diklat dapat dikenali.
Data dari pengukuran sikap dengan skala sikap adalah berbentuk data interval, demikian juga dalam pengukuran tata ruang. Tetapi data hasil dari pengukuran penambahan pengetahuan seperti diatas akan menghasilkan rasio. Selain instrument seperti yang telah dibicarakan diatas, ada instrument penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data nominal dan ordinal.
1.      Instrument untuk menjaring data nominal
Contoh :
a.       Berapakah jumlah pegawai di tempat anda bekerja….pegawai
b.      Berapakah orang yang dapat berbahasa Belanda….. orang
c.       Berapakah orang pemimpin yang anda sukai…..
d.      Berapakah jumlah komputer yang dapat digunakan di lembaga anda…..komputer
e.       Dari mana anda mengetahui tata kerja yang baru…..
2.      Instrument untuk menjaring data ordinal
Contoh :
Berilah rangking terhadap sepuluh pegawai di bidang pelayanan rumah sakit sebagai berikut :
Tabel 5.2 Rangking terhadap sepuluh pegawai
di bidang pelayanan Rumah Sakit
Nama Pegawai
Rangking Nomor
A
………………………….
B
………………………….
C
………………………….
D
………………………….
E
………………………….
F
………………………….
G
………………………….
H
………………………….
I
………………………….
J
………………………….

Misalnya pegawai E adalah yang paling baik kinerjanya, maka pegawai tersebut diberi rangking 1.
Berikut ini juga diberikan contoh instrument untuk mendapatkan data ordinal. Dengan instrument tersebut responden diminta untuk mengurutkan rangking 23 faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Misalnya system pembinaan karir merupakan faktor yang paling berperan dalam mempengaruhi produktivitas, maka factor no. 10 tersebut diberi rangking 1.


Tabel 5.3
Rangking faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas karyawan

Rank
No
Faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
……..
1.      Latar belakang pendidikan formal
2.      Dorongan keluarga
3.      Training sebelum bekerja
4.      Magang sebelum bekerja
5.      Bakat seseorang
6.      Pengawasan atasan
7.      Peranan pimpinan
8.      Gajih bulanan
9.      Uang lembur
10.  Pembinaan karier
11.  Pekerjaan sesuai minat
12.  Hubungan dengan teman kerja
13.  Hubungan dengan pemimpin
14.  Kejelasan apa yang dikerjakan
15.  Kreatifitas
16.  Kebersihan ruangan
17.  Cahaya ruangan
18.  Sirkulasi udara
19.  Waktu istirahat
20.  Alat-alat kerja
21.  Kesehatan kerja
22.  Harapan karyawan yang dipenuhi
23.  Disiplin kerja
Rounded Rectangle:
5.4     Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian.
Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrument penelitian. Jadi instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.
Instrument-instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu-ilmu sudah banyak tersedia dan telah teruji validitas dan reabilitasnya. Variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya panas, maka instrumenya adalah colorimeter. Variabel suhu maka instrumenya adalah thermometer, variabel panjang maka instrumennya adalah mistar (meteran), variabel berat maka intrumennya adalah timbangan berat. Instrumen-instrumen tersebut mudah didapat dan telah teruji validitas dan relibilitasnya, kecuali yang rusak dan palsu. Instrument-instrumen yang rusak atau palsu bila digunakan untuk mengukur harus diuji validitas dan reabilitasnya terlebih dahulu.
Instrument-instrumen dalam penelitian sosial memang ada yang sudah tersedia dan telah teruji validitas dan relibilitasnya, seperti instrument untuk mengukur motif berprestasi (…..) untuk mengukur sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain.
Walaupun instrument-instrumen tersebut sudah ada tetapi sulit untuk dicari, dimana harus dicari dan apakah bisa dibeli atau tidak. Selain itu instrument-instrumen dalam bidang sosial budaya walaupun telah teruji validitas analisis reabilitasnya, tetapi bila digunakan untuk tempat tertentu belum tentu tepat dan mungkin tidak valid dan realibel lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena gejala/fenomena sosial itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya. Instrument tentang kepemimpinan mungkin valid untuk kondisi Amerika, tetapi mungkin tidak valid untuk Indonesia.
Untuk itu maka peneliti-peneliti dalam bidang sosial instrument penelitian yang digunakan sering, disusun sendiri termasuk menguji validitas dan relibilitasnya. Jumlah instrument penelitian tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan untuk diteliti. Misalnya akan meneliti tentang “peranan kepemimpinan dan iklim kerja lembaga terhadap produktivitas kerja pegawai”. Dalam hal ini ada tiga instrument yang perlu dibuat yaitu:
1.      Instrumen untuk mengukur kepemimpinan
2.      Instrumen untuk mengukur iklim kerja
3.      Instrument untuk mengukur produktivitas kerja pegawai
5.5     Cara Menyusun Instrumen
Instrument-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang administrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka penelitian harus mampu membuat instrument yang akan digunakan untuk penelitian. Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atas pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrument, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrument” atau kisi-kisi instrument.
Sebagai contoh misalnya variabel penelitiannya “tingkat kekayaan”. Indikator kekayaan misalnya : rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan, jenis makanan yang sering dimakan, jenis olahraga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indikator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya : 1) berapa jumlah rumah 2) dimana letak rumah 3) berapa luas masing-masing rumah 4) bagaimana kualitas bangunan rumah dan sebagainya.
Untuk bisa menetapkan indikator-indikator dari tiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrument harus secermat mungkin agar diperoleh indicator yang valid. Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai referensi (seperti buku, jurnal) membaca hasil-hasil dari penelitian sebelumnya yang sejenis, dan konsultasi pada orang yang dipandang ahli
Moorhed (1986) mengemukakan indikator birokrasi yang ideal menurut Max Weber, indicator (prinsip) pengorganisasian menurut Fayol, dan indikator performace kerja (kinerja) adalah sebagai berikut :
1.      Indikator  Birokrasi yang ideal menurut Weber :
a.      Rules and procedur
b.      Division of labor
c.       Hierarchy of authority
d.      Technical competence
e.       Separation of ownership
f.        Right and property of the position
g.      Documentation
2.      Indikator pengorganisasian (prinsip organisasi) menurut Fayol
a.      Division of work
b.      Authority and responsibility
c.       Discipline
d.      Unity of command
e.       Unity of direction
f.        Subordination of individual interst to general interest
g.      Remuneration of personnel
h.      Centrallization
i.        Scalar chain
j.        Order
3.      Indikator Performance
a.      Quantity
b.      Quanlity
c.       Teamwork
d.      Innovation
e.       Independence
Osborne dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Government” How the Entreprencurial Spirit is Transforming The Public Sector, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Mewirausahakan Birokrasi” mengemukakan 10 prinsip yang dapat dijadikan sebagai indikator pemerintah wirausaha :
1.      Pemerintah katalis : mengarahkan daripada mengayuh (Catalytic Government Streering Rather Than Rowing).
2.      Pemerintah milik masyarakat : memberi wewenang daripada melayani (Community Owned-Gobvernment : Empowering rather than serving).
3.      Pemerintah yang kompetitif : menyuntikkan persaingan ke dalam pemberian pelayanan (Competitive government : injecting Competition in to service delivery)
4.      Pemerintah yang digerakkan oleh Misi : mengubah organisasi yang digerakkan oleh peraturan (Mission driven government : transferring rule-driven organization)
5.      Pemerintah yang berorientasi hasil : membiayai hasil, bukan masukan (Result oriented government : funding outcome nor input)
6.      Pemerintah berorientasi pelanggan : memenuhi kebutuhan pelanggan bukan birokrasi (Customer-driven government : Mecting the needs of the customer, not bureaucracy)
7.      Pemerintah wirausaha : menghasilkan ketimbang membelanjakan (Enterprising Government: Earning rather than spending)
8.      Pemerintah Antisipatif : mencegah daripada mengobati (Anticipatory Government :prevention rather than cure)
9.      Pemerintah berorientasi pasar : mendongkrak perubahan melalui pasar (Market-Oriented Government leveraging change through out the market)
10.  Mengumpulkan semua menjadi satu (Put it all together)
Robert M. Ranftl (1982) mengemukakan indicator manajemen yang efektif dilihat dari variabel planning, organizing and staffing, directing, control, communication, space and facilities.
5.6     Rangkuman
1.      Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrument untuk mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik peneliti akan lebih banyak menjadi instrument, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key instrument.
2.      Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagau acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.
3.      Berbagai skala yang dapat digunakan untuk penelitian Administrator antara lain adalah :      1) Skala Ikert, 2) Skala Guttman, 3) Rating Scala 4) Semantic Defferensial, 5) Skala Thurstone.
4.      Karena pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur dalam penelitian biasanya dinamakan instrument penelitian. Jadi instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.
5.      Peneliti harus mampu membuat instrument yang akan digunakan untuk penelitian. Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indicator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrument maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrument” atau kisi-kisi instrument”.
5.7  Soal
Jawablah pertanyaan berikut dengan baik !
1.      Sebutkan dan jelaskan macam-macam skala pengukuran ?
2.      Apa yang dimaksud dengan instrument penelitian ? jelaskan beserta contoh !

Jumat, 11 Oktober 2013

Pulang

02.34 0 Comments


Pulang
Catatan Nai

Menjelang libur hari raya seperti ini adalah saat-saat yang menggalaukan hatiku. Di benakku bermain-main kata “pulang” dan rasanya aku ingin pulang seperti yang lainnya.
Para peserta didikku pulang ke kampung orang tuanya. Atasanku pulang ke kampung halamannya. Teman-temanku juga pada umumnya seperti itu. Kalau tidak pulang ke kampung halaman sendiri, mereka pulang ke kampung halaman suami/istrinya. Tidak terkecuali paman sayur langgananku, bibi jamu gendong, tukang koran, guru ngaji anak-anak, acil warung lauk, semua menjeda aktivitasnya. Semua pada pulang.
Sudah lama sekali aku tidak melakukan ritual pulang. Pulang ke tempat yang selalu kurindukan. Aku tidak menyebutnya pulang ke kampung halaman karena sesungguhnya aku tidak yakin di manakah kampung halamanku.
Aku dilahirkan di Banjarmasin tapi pernah cukup lama bermukim di Hulu Sungai. Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Tengah, bahkan nyaris Hulu Sungai Selatan pula (:gagal karena ibuku tidak bisa pindah mengikuti Ayah, jadilah Ayah yang bolak-balik Amuntai-Kandangan). Semua itu gara-gara ayahku seorang PNS yang sering dipindahtugaskan. Selama masa pengabdiannya ayahku pernah bertugas di Amuntai, Barabai, Tanjung, Kandangan dan Banjarbaru.
Uniknya, ayahku tidak pernah menjadikan pulang ke Banjarmasin sebagai tradisi menjelang hari raya meskipun keluarga besar kami ada di Banjarmasin. Kami dibawa pulang hanya saat liburan sekolah usai pembagian rapor. Jadilah kami merayakan hari raya di Hulu Sungai. Aku tidak tahu persis apa alasan orang tuaku karena aku juga tidak pernah menanyakannya. Aku dan adikku pun enjoy saja merayakan hari spesial tersebut di Hulu Sungai. Yang paling melekat dalam ingatanku adalah berhari raya di Hulu Sungai Utara (Amuntai).
Menjelang hari raya, selain soal baju baru, yang membuat kami sibuk adalah kartu lebaran. Aku dan adikku hobi surat-menyurat. Momen hari raya adalah momen yang paling asyik untuk berkirim surat dan kartu lebaran (dengan peletakan prangko yang unik-unik yang konon ada makna tertentu di baliknya). Tiap orang dikirimi kartu berbeda dengan kata-kata berbeda pula, sesuai karakter mereka. Para sepupu, sahabat pena, teman sekolah waktu di Banjarmasin, semua mendapat kiriman kartu. Kadang-kadang disisipi foto kami sebagai pengobat kangen. Sebaliknya, mereka juga akan mengirimi kami kartu lebaran. Menjelang hari raya, Pak Pos bolak-balik ke rumah kecil kami. Negara Dipa, LK 1 No. 57, itu alamatku dulu.
Awalnya, memang terasa aneh ketika tidak merayakan lebaran di Banjarmasin. Apalagi sepulang dari tanah lapang (habis sholat ied). Lingkungan sekitar tempat tinggal kami sepi. Aku heran, ke mana orang-orang. Apakah mereka tidak ingin saling berkunjung? Kami membunuh sepi dengan menonton televisi. Sambil menantikan film atau drama spesial di TVRI. Tidak lama kemudian pintu diketuk. Satu-satu tetangga berdatangan. Mereka datang masing-masing membawa makanan. Ada aneka kue basah, ada soto, ada lontong, macam-macam yang enak-enak. Ternyata sebelum bersilaturahim antar tetangga, mereka terlebih dahulu mengunjungi makam keluarga yang sudah pergi mendahului; menabur kembang dan membaca doa-doa. Setelah itu, tahun-tahun berikutnya aku tidak heran lagi jika sepulang sholat ied lingkungan sekitar rumah kami sunyi sepi karena kesunyian itu tidak lama kemudian akan berubah jadi keramaian.
Setelah kira-kira tidak ada lagi tetangga dekat yang berkunjung, aku dan adikku punya kebiasaan jalan-jalan keliling kota pakai sepedaJ, kadang mampir ke rumah teman satu sekolah, tujuan akhir sebelum pulang ke rumah adalah warung bakso di belakang (bekas) bioskop. Bakso pedas tanpa saos tomat ditemani es teh aroma melati. Hm, nyaman banar, kam! Lama-lama aku tidak lagi merasa di kampung orang. Hei, kupikir di sinilah kampungku!
Kini, setelah kami semua bermukim di Banjarmasin, setiap hari raya tiba, aku kerap merindukan suasana dan hal-hal tersebut. Setiap mendengar ada rekan yang akan pulang ke Hulu Sungai, terasa ada yang menepuk pundakku dan berkata “Kada bulik, Ikam leh?” []


Sabtu, 05 Oktober 2013

Perempuan yang Menggelisahkan ASA (Pembacaan Terhadap Buku Menolak Bayang Karya Ali Syamsudin Arsi

12.19 0 Comments


Perempuan yang Menggelisahkan ASA*)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

“Bukankah kau perempuan?” ….
“Aku? Perempuan? Pertanyaan apa itu.”

/1/
Ada dua hal yang menjadi kebutuhan pokok seorang pengarang. Pertama, ia memerlukan saat-saat untuk mengeluarkan kegelisahan-kegelisahan yang memenuhi ruang batinnya. Kegelisahan kreatif yang membuatnya menghasilkan salah satu atau lebih bentuk karya sastra. Kedua, ia memerlukan orang lain di luar dirinya untuk menikmati kreativitasnya tersebut. Ia memerlukan pembaca-pembaca yang bisa menangkap dan menafsirkan kegelisahan-kegelisahannya baik yang berada di permukaan saja maupun yang menukik jauh ke kedalaman maknanya.
Membangun tradisi menulis di tengah masyarakat yang sudah lekat dengan tradisi lisan tidak mudah. Ini bertalian pula dengan tidak mudahnya membangun tradisi membaca. Tanpa pengarang tidak mungkin ada karya sastra. Akan tetapi, karya sastra tidak ada artinya jika tidak dinikmati oleh pembaca. Tradisi membaca tidak hanya akan mencerahkan masyarakat sebagai penerima makna pesan-pesan tapi juga akan mencerahkan pengarang sebagai pengirim makna pesan.
Kiranya, dua tradisi inilah, menulis dan membaca yang menjadi fokus perhatian seorang Ali Syamsudin Arsi (ASA). ASA banyak menulis tapi ia tidak berhenti sampai di situ. Ia tidak lantas berpuas hati ketika ia mampu menuangkan kegelisahannya dalam berbagai teks. Ia juga mengupayakan bagaimana cara agar kegelisahannya tertangkap oleh orang lain. ASA tidak jarang melakukan “promosi-promosi” agar orang lain bisa menemukan kegelisahannya; agar orang lain mau dan mampu membaca hasil pemikiran panjangnya.
/2/
Menurut Maman S. Mahayana (2012:18) teks terlahir dari sejumlah persoalan di belakangnya dan sekian harapan di depannya. Ada proses panjang dan tidak seketika jadi. Teks merupakan hasil perjalanan panjang sebuah proses pergulatan pemikiran manusia pengarang dalam kepungan berbagai budaya yang diterima sekaligus ditolaknya.
Pergulatan pemikiran ASA dapat kita temukan (dengan tidak mudah) dalam buku terbarunya yang ia sebut sebagai kumpulan cerpen berjudul Menolak Bayang (MB) diterbitkan oleh 2A Dream Publishing (September 2013). Dilihat dari bentuk dan gaya penulisan, kumpulan cerpen ASA memiliki bentuk dan gayanya sendiri yang ketika kita membacanya kita akan -- mau tidak mau -- teringat pada bentuk karyanya yang lain, yaitu gumam ASA.
Ada banyak persoalan di belakang kelahiran kumcer MB, salah satu yang menarik adalah persoalan perempuan. Persoalan perempuan selalu menarik untuk ditulis dan dibaca. Menarik karena dia memiliki dilema. Ketika “perempuan” tidak dilibatkan dalam peran-peran penting di luar peran domestik dan peran “wajib”, ada kejanggalan dan ketimpangan yang menggoda untuk dipertanyakan. Akan tetapi ketika mereka dilibatkan dengan alasan keperempuanannya, hal ini justru akan semakin mempertajam pandangan tentang perbedaan perempuan dengan laki-laki.
Cerpen “Lelaki Penjaga” (2013:82) seperti terlahir dari pemikiran dilematis tersebut. Tokoh aku (seorang perempuan) mencoba mewakili suara perempuan yang tidak mau kemampuan dirinya dipertanyakan karena alasan dia seorang perempuan. Kutipan yang saya tampilkan dalam bagian pembuka tulisan ini menjadi corongnya. Perempuan tidak mau dipandang pantas atau tidak pantas, mampu atau tidak mampunya dia melakukan sesuatu dari sudut keperempuanannya. Hanya karena dia perempuan, dia dianggap tidak layak/tidak pantas melakukan sebuah penelitian dengan topik dan lokasi penelitian yang berbahaya. Ketika tokoh lelaki menanyakan hal ini dengan kalimat“Bukankah kau perempuan?”, tokoh perempuan menjadi gusar dan menjawab,“Aku? Perempuan? Pertanyaan apa itu.” Jawaban ini memberi gambaran keberanian perempuan sekaligus kekesalannya terhadap pandangan orang lain yang meremehkan dirinya. Tersimpan sebuah tekad untuk membuktikan kemampuannya dibalik jabatan perempuan yang ia sandang.
Hanya saja, ASA tidak membiarkan perempuannya menjadi gagah berani begitu saja. ASA menghadirkan ancaman bahaya bagi tokoh perempuannya. Dalam cerpen itu tergambar bahwa yang menyebabkan tokoh perempuan dalam bahaya tidak lain adalah para lelaki hidung belang --  dari jenis laki-laki. Ini menjadi ironis. Yang menjadi ancaman dalam cerpen ini adalah lelaki, di sisi lain yang menjadi penyelamat tokoh perempuan dalam cerpen ini juga laki-laki. Laki-laki menjadi pisau bermata dua bagi perempuan. Satu sisi ia bisa menjadi pengancam, di sisi lain ia juga yang menjadi penjaga perempuan.
Perempuan bukan makhluk yang kedudukannya berada di bawah laki-laki tapi kedudukan perempuan juga tidak mungkin berada di atas laki-laki. Kurang lebih begitu yang ingin disampaikan ASA dalam kumcernya MB. Perempuan terlalu menggelisahkan bagi ASA dalam MB. MB ingin menghebatkan perempuan tapi keinginan menghebatkan itu selalu berhasil dibelokkan kembali. Semacam ada keraguan, ketakutan, kekhawatiran jika perempuan berhasil dihebatkan. Bacalah, ketika tokoh perempuan dalam “Lelaki Penjaga” berhasil melakukan penelitiannya dengan memuaskan (mendapat nilai A). Kemenangan itu tidak begitu saja bisa dirayakan oleh tokoh perempuan dengan dirinya sendiri sebagai sebuah pribadi yang tunggal. ASA merasa perlu menaruh embel-embel bahwa keberhasilan itu disebabkan oleh pertolongan tokoh lelaki yang setia menjaganya. Tidak cukup sampai di situ, tokoh lelaki penjaga ini pula yang berhasil mencuri hatinya. Maka kutipan kalimat “Ini semua merupakan bagian dari emansipasi, kau mau mengerti?” menjadi tidak terlalu penting lagi karena ia telah kehilangan ruhnya.
Hal serupa juga tampak dalam “Puisi yang Melintas”(2013:53). Dua tokoh perempuan, Nisda dan Ningsih ditampilkan sebagai perempuan cerdas yang memiliki minat sama dalam hal konstruksi sebuah bangunan besar bernama kebudayaan. Pemahaman demi pemahaman tentang terbentuknya tatanan besar kebudayaan yang lahir dari semangat kebersamaan yang luar biasa diserap oleh Nisda dari Ningsih. Akan tetapi lagi-lagi kecerdasan mereka harus disela oleh hal lain yang meski hanya selintas tapi patut diperbincangkan, yaitu seorang laki-laki. Yang mereka rumpikan adalah selera makan Kobar, tokoh laki-laki dalam cerpen ini. Ketika Ningsih menyampaikan pemikirannya tentang kebudayaan, Nisda lebih banyak diam. Lihat kutipan Nisda dengan hikmad menyerap saja kata-kata yang disimaknya atau Nisda masih membisukan bibirnya. Anehnya, ketika Ningsih menyampaikan “wawasannya” tentang selera makan Kobar, Nisda tidak bisa tinggal diam. Ia segera membalasnya dengan “Dia juga suka yang pedas-pedas,”. Ending cerpen ini pun menjadi bukti bahwa laki-laki harus menjadi power dalam MB. Kobar melintas dalam pikirannya.
Dalam “Berlari Semakin Jauh” (2013:22) kita bisa melihat peran perempuan melalui tokoh Siti Masmurah. Siti Masmurah biasanya akan memainkan peran yang tidak gampang. Jam terbangnya sudah tidak diragukan berhadapan dengan persoalan seperti ini. Perempuan dalam hal ini berada di antara dua lelaki, Dulmas dan Burhan, yaitu suami dan anaknya sendiri. Perempuan menjadi bijak dan adil dalam menyikapi perbedaan pandang dua lelakinya.  Sementara itu, “P tanpa Bunga” (2013:68) menampilkan penderitaan beberapa perempuan sekaligus. Seakan perempuan menyandang dosa turunan. Dosa turunan yang membuat ia harus susah payah untuk bisa hidup normal, punya suami dan anak-anak yang lucu. Cerpen ini menegaskan bahwa perempuan tidak akan “normal” jika ia tidak memiliki suami (laki-laki) dan anak-anak yang lucu. Sekali lagi, anak-anak yang lucu. Itu artinya tidak cukup satu anak.

/3/
Teks menyimpan begitu banyak makna tersembunyi dan itu hanya mungkin dapat ditelusuri dan diungkap lebih lengkap jika kita melacak jejak pengarangnya. Mungkin bingkai sosial, budaya, agama, yang melekati pengarangnya membuat MB sedemikian. Mungkin saja banyak makna lain tentang perempuan yang tersembunyi dalam Kumcer MB karya ASA. Dengan mengenali ASA lebih jauh, lebih dari sekadar ia seorang penyair yang lahir di Barabai, yang karya-karyanya adalah ini dan itu, yang pengalamannya ternyata begini dan begitu. Mungkin perlu juga kita telusuri pemikiran-pemikirannya dalam jejak gumamnya yang sekarang entah sampai mana. Tidak berhenti sampai persoalan bentuk dan gaya semata tapi hal lain menyangkut persoalan apa yang ingin ASA sampaikan melalui gumamnya. Hal-hal lain yang membuat kita meraba-raba momentum cerpen “Abah Aluh” yang ia tulis di Sebamban, Juli 1991. Agar kita tidak mengerutkan kening saja ketika ASA mengklaim Abah Aluh sebagai pahlawan zamannya? Mengapa bukan Mama Aluh, misalnya?;) []

*) Disampaikan sebagai pengantar Diskusi Malam Sabtu, 4 Oktober 2013 – 20:30 – selesai, Topik: Menolak Bayang Menembus Bias Cahaya (Buku Menolak Bayang – Kumpulan Cerpen Ali Syamsudin Arsi) di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) kota Banjarbaru

Senin, 23 September 2013

Pesan untuk Zelda

14.02 0 Comments


Pesan untuk Zelda

Zelda, tak ada hujan hari ini karena musim hujan telah berlalu, namun mendung masih menggantungi pikiranku. Mendung itu kamu, Ze!
Seperti yang pernah kusampaikan padamu, menjadi penulis bukan hanya sebuah pilihan bagiku. Kadang-kadang aku berpikir bahwa menjadi penulis adalah sebuah kewajiban. Ketika kita memiliki sesuatu yang berharga, yang seharusnya dibagi dengan orang lain, kadang menulis adalah suatu keharusan.
Katamu penulis adalah orang-orang individualis. Suka mengurung diri di kamar berjam-jam, mungkin berhari-hari hanya untuk memuaskan diri sendiri, menghasilkan tulisan yang bagus, yang belum tentu dibaca orang. Kamu salah besar, Ze. Menjadi penulis adalah menjadi arti bagi orang lain. Menjadi penulis adalah mengabdi sepanjang masa. Menjadi penulis akan membuat kita memerlukan orang lain. Menjadi penulis adalah terlebih dahulu menjadi pendengar yang baik. Sekalipun yang kita tulis adalah bualan!
Kau tahu Ze, ada pembual yang berhasil mengubah sikap dan gaya hidup beberapa orang dari hasil bualannya (kau sebut kita para pembual karena yang kita tulis adalah karya fiksiJ). Ada pula pembual yang bisa menyumbangkan hasil jualan bualannya untuk membantu sesama.
Mengapa ragu meneruskan langkahmu di jalan pena, Ze? Aku tahu, penulis juga butuh nasi. Jangan khawatir, Ze. Tidak sedikit pembual yang sungguh-sungguh, mereka tidak hanya mampu membeli nasi tapi juga sanggup membeli rumah dan mobil mewah. Tentu saja semua tidak semudah membalik tangan. Kita harus berusaha keras, Ze. Tidak ada yang kebetulan. Tidak ada yang tiba-tiba. Semua sudah ada jatahnya. Masih ingat Misteri DNA-nya Kazuo Murakami? Kupikir di gen kita telah tertulis kata “pembual seumur hidup”. Mungkin saat ini gen pembualmu sedang tertidur.
            Kaubilang kautakut, Ze? Takut apa? Takut pada kritikus? Menurutmu mereka seperti komentator bola yang sibuk mencela para pemain sementara mereka sendiri belum tentu bisa main bagus. Ah, Ze. Kau tidak boleh berpikir seperti itu. Para pemain bola belum tentu dapat melihat semua sudut pandang. Sementara Komentator bola tentu dapat melihat dengan bebas ke segala arah. Ada hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh pemain bola yang hanya bisa dilihat oleh komentator. Begitu juga dengan kritikus. Tentu mereka lebih objektif memandang karya kita dan penglihatannya lebih tajam daripada kita. Apa? Pembantaian? Kautakut karyamu dibantai, Ze? Lebih baik kau tidak usah menulis seumur hidup jika kau takut karyamu dibantai. Untuk apa menulis kalau karyamu tidak boleh dibaca orang lain? Jangan katakan kau ingin karyamu dibaca dan dipuji saja biarpun pujian itu cuma basa-basi “Bagus banget tulisanmu…” padahal di belakangmu sang pemuji mencibir.
Aku tahu Ze, tidak mudah menghasilkan sebuah tulisan. Mau puisi, mau cerpen, mau novel, semua sama-sama tidak gampang. Arswendo pasti lagi membual waktu nulis “Mengarang itu Mudah”. Tapi bukankah tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada yang sulit jika kita berusaha mempelajarinya. Kau sudah membuktikannya? Nah, bagus kalau kau sudah membuktikannya. Berarti Om Arswendo tidak membual. Sekarang apalagi? Kau takut hasil jerih payahmu dicemooh orang? Kupikir wajar saja kau takut dicela. Kupikir tidak ada manusia yang mau dicela tapi coba lihat sisi baiknya, Ze. Dengan celaan itu kita bisa tahu kelemahan kita. Dari celaan itu kita bisa memperbaiki karya kita. Kau menangis saat dicela? Tak apa, Ze. Menangis sajalah. Asal habis menangis segera kauperbaiki karyamu. Ketahuilah Ze, setiap karya akan menemukan nasibnya sendiri. Rasanya aku pernah baca hal demikian di buku Munsyi Sastra Maman S Mahayana. Kita sebagai pengarang tidak pernah bisa menebak apakah karya kita akan jadi monumen atau akan jadi sampah. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya, ketika kita menulisnya dari hati, dengan niat terbaik kita, lalu berusaha sebaik-baiknya (dengan banyak baca dan belajar tekniknya), tidak akan ada yang sia-sia.
Kau tanya tentang niat terbaik? Sudah lupakah, Ze? Siapakah kita sebelum menjadi penulis? Siapakah kita sebelum menjadi pembual? Aku tak ingin menjelaskannya di sini. Aku yakin kau akan mengingatnya kembali. (Kecuali jika kau benar-benar lupa).
Masih ragu di jalan ini? Carilah kawan selain aku. Bersama kawan, segalanya akan lebih mudah. Ah, ya aku tahu kau juga takut berkawan dengan para pembual. Memang ada beberapa yang suka ngomong ceplas-ceplos, sikut situ sikut sini, hina sana hina sini, giliran ia yang dihina tidak terima sampai mati. Tapi itu tidak semua kan, Ze? Masih banyak yang baik-baik.
Sekarang, mana karya terbarumu, Ze? Boleh aku baca? Apa?! Sedang tidak mood menulis? Oh, kau masih menjadi budak mood, Ze? Bukankah kita sepakat untuk tidak bergantung lagi pada mood? Ayolah, Ze. Kita bukan pembual ketika kita sedang diam. Kita bukan penulis ketika kita sedang tidak menulis. Penulis itu adalah orang yang menulis, Ze. Sekali lagi “Yang menulis”!
Aku tunggu tulisanmu, Ze. Salam Pena!

Tanpamu Aku Bukan Apa-apa

13.59 0 Comments


TANPAMU AKU BUKAN APA-APA
Oleh Nailiya Nikmah

Barangkali kau punya pengasuh saat si kembar lahir, sehingga masih banyak waktu untuk menulis.
Kalimat tersebut adalah SMS yang kuterima dari seorang kawan. Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada prolog sebelumnya. Entah apa yang sedang terjadi dengannya atau yang sedang ia pikirkan ketika mengirim SMS tersebut ke nomorku, aku senyum-senyum saja membacanya. Tanganku menekan tombol-tombol HP, membalas SMS-nya.
Semoga saja kawanku tersebut membaca tulisanku yang ini karena sesungguhnya jawabanku beberapa waktu lalu tidak terlalu tepat dan tidak begitu jujur.
Si kembar lahir tepat ketika semangat menulisku sedang tinggi-tingginya. Sebelumnya aku sempat mengalami fase kegelapan, demikian aku menyebut masa-masa aku stagnan menulis dan bersastra. Fase itu menimpaku setelah aku menikah. Mungkin masa beradaptasi. Saat itu yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana agar aku bisa lulus kuliah S1 tetap sesuai targetku (3,5 tahun) – aku menikah ketika masih kuliah dan masih ingin meneruskan ke S2, bagaimana agar aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik dan bagaimana agar keluarga kecilku hidup bahagia sejahtera selamanya (seperti ending dongeng-dongeng ).
Sepertinya aku memegang standar yang terlalu ideal tentang istri dan ibu yang baik. Aku tidak lagi memiliki waktu untuk keluar bersama teman-teman se-gank, aku tidak punya waktu lagi untuk menulis banyak hal kecuali beberapa puisi galau, aku bahkan tidak terlalu banyak lagi membaca buku kecuali buku tentang merawat diri, merawat bayi, dan buku resep masakan. Waktuku habis untuk rumah tangga dan kantor. Belakangan aku pikir mungkin bukan karena aku tak punya waktu lagi melainkan karena aku tidak menginginkannya sekuat aku menginginkannya dulu.
Fase kegelapanku berakhir setelah aku menyelesaikan studi S2-ku. Saat itu anakku sudah dua dan aku sudah mendapat pekerjaan tetap. Aku mulai sering diserang ide. Aku katakan diserang karena aku tidak mencari-carinya ke sana kemari. Ide itu mengepungku, minta segera dituliskan. Aku mencoba menulis cerpen lagi. Meski aku punya banyak ide, aku tidak punya banyak waktu untuk menuliskannya. Rasa ada yang menekan-nekan di pikiran, rasa ada yang mendesak-desak ingin dikeluarkan. Aku memilih tengah malam sebagai waktu menulis. Itupun kadang tidak cukup.
Cerpen pertamaku setelah masa kegelapanku adalah Episode Durian, dimuat 2 pekan setelah kukirim (thanks Om Sandi). Cerpen yang disambut baik oleh pembaca. Ulasan seorang kritikus membuat cerpen tersebut makin bermakna. Setelah itu, satu-satu cerpenku yang lain lahir. Sesekali aku juga menulis esai dan puisi. Saat itu suamiku bertindak sebagai manajer. Aku tahunya cuma menulis di rumah. Dialah yang mengirimkan cerpenku, mengecekkan hasilnya di koran minggu dan mengambilkan honornya jika cerpenku terbit. Selain menulis, aku sering diminta menjadi pembicara dalam beberapa acara seperti seminar, diskusi, workshop, dan bedah buku seputar sastra dan kepenulisan. Dalam hal ini, suamiku pula yang banyak mendorong dan membantuku. Aku juga mulai aktif di beberapa komunitas sastra dan kepenulisan, pernah juga memenangi lomba menulis cerpen bahasa Banjar.
Di tengah-tengah aktivitas mengajar dan menulisku, aku tetaplah seorang ibu yang sesekali menangis ketika menghadapi anak-anakku. Yang lagi sakit, lah. Yang dinakali teman di sekolah, lah. Yang mogok makan, lah. Yang minta tunggui selama sekolah. Yang menangis ketika dititip dengan Kakak penjaga. Semua sama dengan ibu-ibu lainnya. Mungkin salah satu tips dariku adalah tentang menyiasati waktu. Siasatku adalah tidur paling akhir dan bangun paling awal. Ketika semua penghuni rumah tertidur, aku mengerjakan semua aktivitasku. Membereskan rumah, menyetrika pakaian, mencuci pakaian, menyiapkan bahan mengajar, membaca buku dan mengetik naskah.
Yang paling berkesan adalah ketika aku akan menjadi penguji sidang mahasiswa (:aku seorang dosen). Berhubung saat itu tidak ada yang bisa dititipi, anak-anak kubawa ke kampus. Setengah jam menjelang sidang, aku masih sibuk menegejar kedua anakku dengan sendok yang berisi bubur ayam di halaman kampusJ Syukurlah pas giliran menyidang, ada mahasiswa yang mau kutitipi anak-anak. Alhamdulillah sidangku lancar-lancar saja.
            Si kembar lahir 3 tahun setelah Episode Durian. Si Sulung waktu itu berusia 6 tahun dan si adik 5 tahun. Ketika aku masih di rumah sakit, aku tersenyum membaca esaiku yang dimuat koran Radar (thanks om Randu). Esai tersebut kutulis dan kukirim menjelang kelahiran si kembar. Aku menganggap itu adalah kado melahirkan yang paling indah. Pasca kehadiran si kembar, aku masih bisa aktif. Aku sempat jadi juri lomba menulis cerpen bahasa Banjar. Beberapa karyaku diterbitkan dalam bentuk buku. Ada yang keroyokan, ada yang sendirian.
            Dengan adanya si kembar, otomatis anakku jadi empat orang. Mengurus empat orang anak tanpa pembantu dan masih sempat membaca dan menulis sepertinya adalah hal yang istimewa. Memang waktu anak pertama dan kedua aku sempat memakai jasa penjaga. Tapi tugasnya hanya menjaga anak-anakku selama aku mengajar. Semua pekerjaan rumah tetap aku yang mengerjakan (Salah satu prinsip di keluargaku adalah “Tidak Ada Pembantu is The Best”). Aku malah yang menyiapkan makan dan minum Kakak Penjaga. Bahkan pernah ada Kakak Penjaga yang tidak bisa naik motor. Aku lah yang mengantar jemputnya. Setelah anak-anakku sekolah, aku tidak lagi memerlukan Kakak Penjaga. Nah, pas giliran si kembar, sulit sekali mencari penjaganya karena tidak ada kakak Penjaga yang berani menjaga dua bayi sekaligus.
Lalu, bagaimana aku bisa tetap aktif setelah ada si kembar? Nah, aku pikir sudah saatnya aku mengemukakan rahasia dibalik semuanya. Tentu aku tidak boleh tinggi hati dan melupakan jasa orang-orang terdekatku. Semua itu tidak akan berjalan dengan baik jika aku tidak dibantu dan didukung oleh suami dan kedua orang tuaku. Kadang-kadang adikku ikut pula menjadi penjaga anakku. Kepada merekalah aku biasanya menitipkan anak-anak jika aku mengajar, rapat organisasi, mengisi acara atau sekadar mencari bacaan ke toko buku. Salam hormat dan terima kasih untuk mereka. Terlebih Ayahku, kakek si kembar. Beliau lah yang menjaga dan mengasuh si kembar akhirnya karena bertepatan setelah si kembar lahir, Ayah pensiun (ibuku belum pensiun). Sungguh hebat Ayahku, berani menjaga dua bayi sekaligus!
            Tidak hanya dalam urusan penjagaan anak-anak. Begitu pula dengan pekerjaan rumah. Semua turun tangan membantuku. Dalam hal ini aku benar-benar berterima kasih kepada kedua orang tuaku yang tak bosan-bosannya membantu. Aku bukan apa-apa tanpa mereka.
            Setelah membaca tulisanku, semoga kawanku paham, maklum dan memaafkanku kalau SMS balasanku tidak selengkap tulisan ini. Waktu itu aku hanya membalas: Pengasuh? Haha. Kedua orang tua kami tidak pernah mengizinkan ada pengasuh/pembantu di rumah kami.

Minggu, 08 September 2013

Episode Kenangan

03.45 0 Comments

Episode Kenangan

Kau menyukai seni dan sastra? Aku tidak.
aku tidak menyukai seni dan sastra,
aku mencintainya.

Melalui tulisan ini aku ingin mengenang orang-orang yang pernah ada dalam lintasan sastra dan seniku dalam kurun waktu 2005-2013 khusus di tempat yang dipilihkan-Nya untuk aku menjadi salah satu abdi negara.
***
Aku bekerja di lembagaku sejak 2005. Sejak aku menjalani tes wawancara dan microteach, aku sadar bahwa jika aku diterima, aku akan mengabdi sebagai pengajar pada sebuah lembaga yang tidak dekat dengan dunia seni dan sastra. Terlebih setelah aku membaca silabus di kemudian hari. Akan tetapi aku bersyukur, begitu banyak orang yang berharap bisa lulus tes -- bahkan ada yang berkali-kali-- berguguran begitu saja. Aku yang baru sekali ikut tes, langsung lulus. Jadilah aku sebagai salah satu pengajar di lembagaku. Aku diterima sebagai pengajar Bahasa Indonesia yang dalam perjalanannya aku juga mengajar beberapa pelajaran lain.
Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai pelajaran umum lebih menitikberatkan pada kemampuan menulis karangan ilmiah. Tentu saja tidak ada pelajaran teori sastra; sejarah sastra; apresiasi sastra; kajian puisi, kajian prosa, fiksi dan drama; sastra daerah, dan lain-lain yang berbau sastra. Kadang-kadang aku rindu ingin mengajar sastra dan seni. Pada bab tertentu aku memasukkan drama dan puisi dalam materi. Entah sebagai konten, entah sebagai metode dan strategi.

1.      Kenangan Puisi
Genre sastra yang pertama aku sukai adalah puisi. Sejak SD aku suka menulis puisi. Dengan menulis puisi aku merasa tersalurkan apa yang ada dalam hati. Kesal, sedih, senang, semua kutuangkan dalam puisi. Aku juga sering ikut lomba membaca puisi. Orang tuaku suka mengikutkan aku jika ada lomba baca puisi dan lomba melukis. Yang melatih adalah ayah dan ibuku. Beberapa kali aku pernah menjuarai lomba baca puisi dan lomba melukis. Selain lomba baca puisi dan melukis, orang tuaku juga sering mengikutkanku dalam lomba pidato keagamaan (semacam dai cilik). Mungkin karena membaca puisi dan membaca pidato masih dalam alur yang sama. Hanya saja waktu itu ujung-ujungnya ibuku terkesan menekan dan memaksaku untuk latihan. Aku bosan. Aku tidak mau lagi ikut lomba baca puisi jika ibu yang menyuruhku. Belakangan hari aku menyesal mengapa aku tidak menuruti saja kehendak ibu.
Sejak SD hingga SMA, aku selalu menjadi wakil kelas yang menyampaikan sepatah kata dari siswa yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Aku juga langganan membaca UUD 1945 ketika upacara bendera senin, kalau tidak menjadi pembawa acara. Bulan Bahasa (Oktober) adalah bulan yang kutunggu-tunggu. Baik di SMP maupun SMA, aku tak pernah ketinggalan ikut lomba yang diadakan sekolahku untuk memperingati bulan bahasa. Semua cabang lomba kuikuti, yaitu menulis karangan, membaca pidato, membaca berita, menulis berita. Aku selalu membawa hadiah sebagai juara.
Ketika aku kuliah, ada salah satu dosen yang paling berjasa dalam jalur kepuisianku (ada dalam esai Tanah Huma). Dan ada beberapa teman seruangan yang sering menjadi kawan aku berbicara puisi (salah satunya sekarag menjadi suamiku).
***

Di lembaga tempat aku mengabdi, aku tak berkesempatan dalam arti kesempatan yang sebenarnya untuk berpuisi. Titik tekan pembelajaran adalah menulis karangan ilmiah. Aku berimprov sedikit dengan memasukkan materi puisi karena menurutku masih sesuai dengan tujuan pembelajaran umum.
Di ruanganku tidak ada yang mencintai puisi. Kalaupun ada, mereka tidak benar-benar mencintai puisi sebagai bagian dari hidupnya. Betapa gembiranya aku ketika baru tahu ada pengajar di ruangan sebelah yang mencintai puisi sama seperti aku. Dia bahkan sudah senior. Dia seorang penyair. Dia seorang sastrawan! Aku tahu dari teman seruanganku. Padahal orang pertama yang kutemui di lembaga ini adalah dia. Dia merupakan salah satu pengujiku ketika tes masuk lembaga (tes wawancara dan mikroteach).
Aku sering mendiskusikan karya sastra dengannya. Jika kami bertemu, yang kami perbincangkan adalah seputar sastra dan seni. Dia juga sering meminjami aku buku. Satu hal yang takkan aku lupakan. Aku pernah kehilangan file materi kajian puisiku. (Ceritanya ada dalam esai lain di laman ini). Ternyata dia masih menyimpannya. Menyenangkan sekali ketika menyadari aku tidak benar-benar sendiri di lembaga ini. Ada dia yang bisa menjadi rekan, teman dan sahabatku dalam dunia sastra. Meski aku harus jaga jarak juga, karena dia laki-lakiJ

2.      Kenangan Drama
Suatu hari, aku sedang menonton pertunjukan drama/teater di gedung Balairung Sari Taman Budaya di kotaku. Di tengah-tengah penonton yang dapat kupastikan tidak ada teman-teman dari lembaga tempat aku bekerja, aku duduk sendiri menikmati pertunjukan. Tiba-tiba mataku menangkap sosok yang sudah kukenal. Aku sangat terkejut. Dia adalah salah satu murid di lembagaku mengajar. Aku tidak menyangka dia ada di situ. Saat itu kulihat ia juga agak terkejut melihat aku ada di gedung pertunjukan. Tahulah aku kemudian bahwa ia orang seni juga. Ketika itu aku seperti menemukan setitik air di tengah kemarau. Hahaha. Mungkin aku terlalu lebay;). Sayang dia (lagi-lagi) seorang laki-laki. Kalau saja ia perempuan, mungkin aku langsung duduk di sampingnya.
Tapi tidak ada apa-apa setelah pertemuan itu. Aku mengajar seperti biasa, dia belajar seperti biasa pula. Aku lupa berapa lama waktu berlalu sampai kami dipertemukan dalam sebuah tim. Bagi orang lain mungkin ini kebetulan tapi bagiku ini sebuah anugerah yang telah disiapkan Tuhan jauh-jauh hari untukku.
Semua berawal dari bincang-bincang aku dengan dua rekan sejawat. Kami bertiga sama-sama memiliki sense of art yang agak lebih (:konyol) dibanding teman-teman lainnya. Kami sama-sama punya ide untuk membuat acara yudisium yang bernuansa seni. Salah satu di antara temanku itu kemudian membuat proposal lengkap yang ia ajukan kepada pimpinan kami. Tidak tanggung-tanggung, ia yang menjabat sebagai ketua, ia juga sudah menyusun nama-nama anggota yang sekiranya bisa kami ajak kerja sama dengan baik. Proposalnya disetujui oleh pimpinan. Kami pun menyambutnya dengan segera bekerja. (Sayang, meski kami sudah melakukannya sesuai prosedur, ternyata konsep tersebut tidak serta-merta berjalan mulus. Banyak rekan lain yang tidak suka. Beberapa hal diubah termasuk susunan kepanitiaan).
Konsep acaranya sangat jauh berbeda dengan konsep acara yudisium tahun-tahun sebelumnya. Aku diminta meng-handle acara drama/teater. Aku juga diminta menyusun naskah yang berisi pengalaman berkesan peserta yudisium selama menempuh pendidikan di lembaga kami. Caranya dengan meminta seluruh peserta didik menuliskan kisahnya kemudian mengumpulkannya kepadaku. Ada 3 kelas yang harus kubaca cerita-ceritanya. Selama proses pembacaan itu, aku sempat jatuh sakit yang cukup parah dan aku sempat pesimis akan tetap bisa bekerja.
Tahap berikutnya adalah pertemuan seluruh calon pengisi acara. Ketua acara menyampaikan konsep acara secara global lalu ia menyuruhku menyampaikan konsep drama/teater. Selanjutnya aku mengadakan pertemuan dengan para calon pemain yang dipilih oleh Ketua acara yudisium. Para calon pemain itu berasal dari seluruh kelas dan semester, kecuali semester akhir. Terpilih beberapa orang. Di antara belasan orang yang dipilih, “dia” salah satunya. 28 Desember 2012 kami mengadakan audisi/casting para pemain. Aku sangat senang bisa satu tim dengannya.
Kepada peserta didik lainnya aku katakan bahwa aku menunjuk “dia” sebagai pemimpin sekaligus pelatih. “Mungkin dalam tim ini ada yang sudah punya jabatan penting di organisasi lain, mungkin ada yang sudah jadi ketua atau posisi penting lainnya. Ibu harap, kali ini, semua mengikuti aturan temanmu yang satu ini karena ia lah sekarang pemimpin kalian.”
Latihan demi latihan yang kami jalani sangat menyenangkan. Apalagi dia juga menyelipkan games dalam setiap latihan. Nama gamesnya “sutradara bilang”. Sebenarnya aku pernah ikut games semacam itu pada pelatihan-pelatihan lain tapi melihat peserta didikku bermain dengan riang akupun tertarik dan akhirnya membaur dengan mereka dalam satu games. Mungkin games itu juga yang membuat peserta didikku cepat akrab meski mereka berasal dari berbagai kelas dan angkatan.
“Ingat, jangan sampai ada yang terkena cinta lokasi ya. Ibu harap sebelum kalian tampil mentas di acara yudisium, tidak ada yang boleh terkena cinta lokasi. Nanti bisa kacau,” ucapku mewanti-wanti sambil separuh bercanda.
Ketua acara ingin drama yang kami pentaskan nanti lucu. Aku kemudian menyerahkan naskahku kepada “dia”. Kusilakan ia melakukan perubahan-perubahan asal alurnya tidak keluar. Karena drama yang akan kami pentaskan adalah kabaret, dan karena keterbatasan alat saat mentas, kami memutuskan untuk merekam suara. Jadi nantinya semuanya lipsing. Proses perekaman mempunyai kesulitan tersendiri. Aku melihat langsung bagaimana susahnya proses perekaman suara.
Sayang sekali ada cerita sedih di balik pertunjukan kami. Mulai dari lambatnya SK panitia keluar, keluarnya 4 orang pemain dari tim, pengunduran jadwal tayang drama dari acara pembuka sampai jadi acara akhir yang tanpa konfirmasi, komen-komen miring berkenaan dengan budget (padahal aku tidak minta apa-apa), rencana perekaman ulang, sampai dengan tidak dicantumkannya acara drama dalam susunan acara di cetakan undangan (tanpa konfirmasi juga kepadaku selaku penghandle drama). Aku lantas merasa seperti melawan arus. Aku merasa punya beban “jika mainnya tidak bagus, drama dibatalkan saja.” Tidak seperti pengisi acara yang lain. Bagus tidak bagus mereka tetap akan tampil. Semua hal fals ini kututupi dari anggota drama yang lain. Aku tidak mau konsentrasi mereka terganggu. Hanya saja aku agak galau karena kemudian ada suatu fase mereka sulit sekali untuk dikumpulkan secara lengkap. Aku berdiskusi dengannya. Dia mengusulkan kami membuat semacam surat komitmen yang harus ditandatangani setiap pemain. Aku minta dia mengonsep dan aku mengetiknya.
Pada pertemuan, nyatanya aku malah batal menyebar surat komitmen untuk ditandatangani. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa untuk bisa menekan mereka. Aku pun tidak punya apa-apa yang bisa kujanjikan sebagai kompensasi jika mereka rajin berlatih. Akhirnya aku hanya mengatakan, “Benar-benar, lah kalian berlatih. Jika kalian tidak yakin bisa menampilkan yang terbaik, lebih baik kalian tidak usah tampil. Jika kalian memang ingin tampil, tunjukkan bahwa kalian memang layak untuk tampil.”
Ketika mereka bersemangat kembali aku katakan, “Ibu sangat berterima kasih kalian mau capek-capek latihan. Ibu tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada kalian. Ibu tidak bisa memberikan apa-apa. Ibu bersyukur bisa dipertemukan dengan lima belas orang seperti kalian di tengah-tengah lembaga ini. Sudah lama Ibu merindukan suasana seperti ini,”
Menjelang hari H, kami lebih giat dan intens berlatih. Karena persepsi yang kurang baik terhadap drama, aku menjadi merasa tertantang untuk melakukan yang terbaik. Aku seperti tidak berada dalam kepanitiaan secara global lagi. Apalagi setelah ada anggota di kepanitiaan yang mengambil alih semua hal tanpa memperhatikan etika team work padahal ia bukan ketua. Aku seperti seorang ibu yang anak-anaknya akan mengikuti sebuah lomba. Latihan kupindah ke rumahku. Semula gara-gara “markas”, tempat kami biasa latihan, dipakai orang. Keesokannya, semua malah sepakat latihan tetap di rumahku. Kebersamaan yang intens itu juga membuat kami makin solid. Makan bersama, minum bersama, bercanda bersama. Kami menjadi lebih dekat satu sama lain. Serasa seperti satu keluarga.
Beberapa hari sebelum gladi bersih, panitia ingin melakukan gladi. Kami menyebutnya gladi kotor. Kukatakan padanya, aku kurang sepakat kalau drama kami ditampilkan secara utuh saat gladi. Ternyata ia sependapat denganku. Jadilah mereka hanya melakukan gerakan-gerakan dan sedikit berbicara tanpa diiringi musik/rekaman suara mereka. Begitu juga saat gladi bersih. Tidak seperti pengisi acara lainnya, kami tidak menampilkan secara utuh pertunjukan kami. Aku bahkan tidak menyerahkan kopian file rekaman suara timku kepada panitia lain. Aku takut terjadi apa-apa dengan timku. Aku tidak mau timku diintervensi apalagi disabotase. Timku tidak boleh gagal. Mereka harus tampil apapun yang terjadi.Sepertinya aku berlebihanJ
Well, akhirnya 28 Agustus 2013 tiba. Kami berangkat bareng dari rumahku. Saatnya mereka tampil. Aku sempat kecewa lagi karena giliran mereka tampil diundur kembali dan lagi-lagi tanpa konfirmasi. Akhirnya kukatakan pada mereka, “Kita menunggu MC saja. Saat MC memanggil, itulah giliran kita.”
“Maaf ya, Ibu tidak bisa memperjuangkan agar giliran kalian tampil tetap seperti rencana semula,” sesalku padanya.
“Mau tampil di awal, di tengah, atau di akhir, sama saja Bu. Asal kita mainnya bagus, penonton pasti akan tetap tertarik” hiburnya.
Aku duduk di antara timku, tidak di deretan bangku tamu dan pengajar. Sesekali aku menimpali candaan mereka.
“Bu, properti kita meja yang kecil putih kemarin ternyata dipakai untuk tamu undangan. Bagaimana ini?” tanya dia. “Bisakah kita mendapatkan meja lain yang seperti itu?”
“Akan ibu carikan. Kalau tidak ada juga, pas giliran kita, angkat saja meja di deretan tamu itu. Kalau tidak ada yang berani, nanti ibu yag mengangkatnya” sahutku.
Ternyata setelah kutanyakan dengan pihak hotel, meja itu dari marmer. Sepertinya aku tidak akan kuat mengangkatnya sendiriJ, akhirnya kami diberi meja lain
Ah, satu lagi, tentang pencahayaan. Supaya pertunjukan lebih bagus dan fokus, kupikir lebih baik semua lampu dimatikan kecuali lampu yang di bawah panggung. Aku sangat berterima kasih pada rekan sejawatku yang dengan suka rela mau menjadi operator lampu yang sangat baik. Sebelum giliran kami tiba, aku mencandainya, “Bu, ibu aja ya yang ngurusi lampu. Kumohon bantuannya…” ucapku sambil membungkuk seperti di film-film Jepang.
 “Bu, file rekaman suara dan musik kita ada dalam laptop ini. Ibu aja yang pegang. Ibu aja yang handle pas kami tampil,” dia memberiku tugas. Sepertinya ia mulai ketularan akuJ. “unbelive anyone”. Jika ada sesuatu aku hanya bertanya dan bicara dengannya. Jangan sampai empat belas orang yang lain ketularan cemas.
“Wah, kuterima amanah berat ini. Semoga aku bisa menjalankannya, yah?” gurauku sambil bergaya hiperbola. Tanganku membuka laptop.
“Ibu mau ngapain?” kata anggota yang lain.
“Mau bertegur sapa dulu dengan laptopnya,”
Mereka senyum-senyum.
“Apakah kalian punya file cadangan?” tanyaku.
“Maksud ibu?”
“Yaa…cadangan file selain dalam laptop ini?”
“Baterainya full, Bu. Lagian kita bawa chargernya. Ini laptop yang biasa kita pakai latihan juga, kok”
“Bagaimana kalau mati lampu?” ada yang menimpali.
“Hei, ini Merqure!” teriak yang lain. Kami pun tergelak bersama.
Aku takut mengatakan hal terburuk. Akhirnya aku diam saja. 
Di tengah acara, laptop panitia eror. Musik pengiring acara sempat tidak bisa keluar. Seharusnya ada musik yang mengiringi ketika para yudisiawan menjalani prosesi yudisium. Aku tidak tahan lagi. Aku bisiki “dia”, “Bagaimana kalau laptop ini tiba-tiba tidak bisa dibuka? Apa yang akan terjadi dengan kita?” Dia hanya tersenyum, “Tidak akan. Laptopnya pasti bisa dibuka. Tidak akan terjadi apa-apa. Semua akan berjalan lancar.”
Aku mengangguk dan mempercayai kata-katanya. Hari ini aku benar-benar jadi pencemas. Hei, laptop tolong kerja samamu, ya… aku mengelus laptop tersebut.
Aku sudah tenang sekarang. Aku berusaha menikmati suguhan acara lain. Tapi tidak lama kemudian aku lihat dia merogoh tasnya. Kulihat ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah benda kecil persegi empat. Flashdisk!
“Bu, jika terjadi apa-apa dengan laptopnya, file cadangan ada dalam sini” wajahnya sangat serius. Giliran aku yang tersenyum sekarang.
 Mereka mentas dengan sempurna. Penonton tertawa. Aku menyeka airmata karena terharu. Setelah semua yang sudah kualami dan kurasakan, rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat mereka tampil bagus. Mereka sukses! Di antara semua acara, kabaret lah yang paling menyedot perhatian. Tepuk tangan, senyum dan tawa, riuh rendah di lantai atas hotel Merqure. Ketika lima belas teman-teman timku saling berpegangan tangan, membungkukkan badan mereka, lalu bangkit kembali sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, perlahan-lahan, perasaan bangga mengendap-endap dalam dadaku. (Perasaan yang kemudian hari merusak keihklasanku di jalan ini. Setelah kesuksesan timku, aku sempat bete berat karena ada seseorang yang mengaku-ngaku menjadi manajer timku. Seseorang yang secara tidak langsung mengatakan bahwa kesuksesan timku bukan karena aku. Seseorang yang sedikitpun tidak memberiku apresiasi. Seseorang yang membuatku su’ul khatimah). Aku terharu, itulah closing terindah yang sekian lama aku nanti-nantikan.
Tepuk tangan yang mengiringi closing mereka, membuat airmataku menderas. Yang membuat airmataku tak terbendung adalah aku tahu ini bukan saja closing sebuah pertunjukan melainkan juga closing kebersamaan kami. Kami bukan organisasi resmi. Kami bukan lembaga ekskul. Kami hanya tim dalam drama ini. Seusai acara itu aku selalu saja menangis jika mengingat mereka. I’m sorry Team, sepertinya aku yang terkena cinta lokasi. Aku jatuh cinta pada kalian semua!
Tiga hari setelah itu, kami melakukan perjalanan bersama. Wisata air menyusuri sungai di Banjarmasin dimulai dari pukul 5 dini hari. Kami berkumpul di kost salah seorang anggota tim. Semula mereka ingin berkumpul di rumahku, bahkan ada yang mengusulkan agar nginap di rumahkuJ. Tapi tidak jadi karena aku takut penghuni rumahku terbangun semua dan ingin ikut juga. Rutenya dimulai dari Kuin, ke pasar terapung, ke pulau kembang, keliling Banjarmasin. Sebelum hari itu, sedikitpun aku tidak pernah membayangkan akan melakukan perjalanan bersama mereka. Beberapa komunitasku yang mengagendakan wisata air bersama malah belum pernah kuikuti.
Beberapa orang menyayangkan kenapa saat closing dan tepuk tangan itu bergemuruh aku tidak ikut naik ke panggung. Sekian hari berlalu, aku mengerti satu hal, aku memang tidak perlu naik ke panggung saat teman-teman timku melakukan closing. Tepuk tangan di akhir pertunjukan itu tentu saja bukan untukku karena aku memang bukan apa-apa dalam tim ini. Lagipula aku tidak memerlukan tepuk tangan. Aku hanya seorang perindu sastra yang sudah terbasuh rindunya setelah dipertemukan dengan lima belas orang pelaku sastra yang hebat dalam lembaga non sastra. Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan aku dengan mereka. Congratulation team! Good bye. I will be miss u so much…L

Note:
Dalam momen ini aku juga berterima kasih pada teman terbaikku, JKF. Yang dari awal sampai pascapertunjukan selalu memberiku dukungan.

3.      Kenangan Blogger
Dunia blogger memang bukan dunia baru bagiku sekarang tapi dulu, aku termasuk orang yang gaptek juga lohJ. Aku malas bersentuhan dengan teknologi jika aku tidak benar-benar membutuhkannya. Aku mengenal email dari dosenku karena dulu tugas-tugas mata kuliahnya harus dikirim lewat email. Facebook pun dibuatkan oleh teman perempuan se-organisasi. Waktu itu membuatya juga karena iseng dan tidak berniat menekuninya. Hanya agar bisa menjawab jika ditanya orang apakah aku punya akun fb atau tidak. Dia juga yang mengajariku blog.
Khusus blog, selama aku berada di lembaga, aku berhutang budi pada beberapa orang. Orang pertama di lembaga yang membuatku tidak gaptek lagi tentang blog adalah seorang pengajar (lagi-lagi!) laki-laki. Dia membuatkan aku email, lalu membuatkanku satu blog. Lama-lama aku jadi tidak enak jika terlalu sering bertanya dan merepotkannya. Aku sempat meninggalkan blogku begitu saja.
Suatu hari aku kangen dengan blogku dan berniat memperbaharuinya. Aku belajar dari buku tapi sepertinya tidak cukup. Aku pun bertanya ke sana kemari, mencari-cari orang yang mau membantuku memperbaharui tampilan blogku. Aku berharap murid perempuanku mau mengajariku ternyata ia juga tidak terlalu terampil. Ia merekomendasikan sebuah nama dan no kontak padaku. Ia juga yang mengenalkanku pada seseorang yang menurutnya lebih mengerti tentang blog daripada dia. Dia (laki-laki, again!) masih murid di lembagaku tapi di ruangan sebelah.
Menyenangkan sekali bisa mengenalnya. Bagiku, dia tidak hanya seorang instruktur blog tapi juga teman diskusi yang seru. Dia pecinta buku juga (pecinta buku sejati). Dia hobi baca sastra juga. Padahal ia sedang studi di jurusan yang sangat jauuh dari yang namanya sastra. Serius!
Jika ada tulisanku yang dimuat di media, aku memberitahunya. Biasanya dia mengucapkan selamat tapi dia juga pernah mengkritik salah satu cerpenku. Ini di luar dugaanku. Secara usia, aku lebih tua daripada dia. Secara posisi, aku pengajar sedangkan dia murid di lembaga. Tapi sepertinya aku tidak boleh melupakan satu hal. Dia adalah instrukturku yang hobi baca bukuJ. Dia bilang, “Saya agak terganggu dengan tokoh A. Mengapa tokoh A begini-begini padahal awalnya ibu menyebutnya begitu-begitu.” Seorang pengkritik dari lembagaku? Ini seperti menemukan berlian di padang paku!
            Aku pernah menerima sms darinya, “Ibu masih tertarik belajar tentang blog?”
            “Tentu saja, aku masih harus banyak belajar” jawabku.
            “Aku punya buku bagus tentang blog. Ibu mau?”
            “Boleh. Berapa harganya?”
            “Cuma-cuma, Bu. Saya dulu juga dikasih teman. Saya pikir, sekarang ibu lebih memerlukannya daripada saya. Nanti saya antar ke ruangan ibu. Kapan ibu ada di ruangan?”
            Aku tak habis pikir. Aku mendapat buku darinya. Menurutku, seharusnya aku yang memberinya buku. Aku memang pernah berniat ingin memberinya buku tapi ternyata ia melampauiku dalam hal ini.
            Sayang, ia sekarang sudah lulus. Di hari wisudanya, kami membuat foto kenangan. Jika kupandangi foto itu, aku tersenyum. Rasanya tidak percaya. Aku bisa bertemu dengan seorang pecinta buku dan penyuka tulis-menulis seperti dia, di lembagaku? Syahrini bilang, Sesuatu!!! J
           

Senin, 01 April 2013

Esai: Kampanye ASI melalui Cerpen

04.14 0 Comments

KAMPANYE ASI MELALUI CERPEN, MENGAPA TIDAK?
(Kritik Cerpen Acil Katuy Karangan Dewi Alfianti)
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Pernahkah Anda melihat seorang perempuan sedang asyik menyusui anaknya? Apa yang terlintas di benak Anda kala melihat pemandangan tersebut? Risih, malu, senang, jengkel, atau biasa saja? Yang terlintas di benak Anda sangat dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman Anda terhadap pemandangan tersebut. Jika Anda adalah orang yang tidak terlalu banyak pengalaman tentang menyusui, mungkin bagi Anda itu pemandangan biasa. Hal yang sangat wajar seorang ibu menyusui anaknya. Sama wajarnya dengan seekor kucing betina menyusui anaknya. Tahukah Anda? Menyusui adalah sebuah seni yang memadukan insting dan keterampilan. Insting dan keterampilan dua belah pihak, yaitu ibu dan anaknya. Menyusui adalah sebuah keterampilan yang dianugerahkan oleh Tuhan hanya kepada makhluk berjenis perempuan. Akan tetapi, sebagai sebuah keterampilan, ia tak serta-merta dapat mencapai tingkat mahir jika sebelumnya tak dilatih.
Di rumah-rumah sakit dan klinik-klinik bersalin saat ini telah populer istilah inisiasi dini menyusui, menyusul terkuaknya keistimewaan air susu ibu (ASI) dari berbagai sudut pandang. Sesegeranya setelah dilahirkan, bayi didekatkan ke puting susu ibunya agar ia bisa segera menyusu karena ASI yang pertama kali keluar mengandung zat terbaik bagi bayi. Zat bernama kolostrum yang selama zaman uma-abah kita dulu justru sengaja dibuang karena dianggap bisa membuat bayi sakit perut.
Kelihatannya urusan menyusui adalah urusan ibu dengan bayinya saja. Padahal, kesuksesan seorang ibu menyusui sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Seperti yang diiklankan di televisi dan radio “dukung ibu menyusui”. Dukungan yang pertama adalah dari suami, setelah itu ibu, ibu mertua, dan anggota keluarga lainnya. Dukungan tenaga medis yang membantu ibu sejak masa kehamilan hingga pasca melahirkan juga sangat penting. Bahkan kalau perlu, di era maraknya sarana jejaring sosial, ibu bergabung dengan klub atau grup menyusui. Karena kalau tidak mendapat dukungan yang cukup, ibu akan kerepotan selama menyusui.
Lihatlah Maskunah, tokoh dalam cerpen “Acil Katuy” (AK) karangan Dewi Alfianti yang dimuat di Media Kalimantan Edisi Minggu, 4 Maret 2012. Perempuan ini digambarkan telah memiliki kesadaran untuk memberikan ASI ekslusif selama enam bulan kepada bayinya. Pengetahuan Maskunah yang makan sekolahan kerap bertentangan dengan ibunya sendiri, yaitu Acil Katuy. Kasihan sekali Maskunah. Saat ia berjuang memberikan ASI ekslusif selama enam bulan untuk Fikri, ia harus berhadapan dengan tingkah ibunya yang keras kepala. Ibu yang masih memegang teguh aneka mitos dalam kehidupan.
Banyak mitos seputar kehamilan dan menyusui yang kadang tidak hanya membahayakan kesehatan ibu dan bayi tapi juga bisa mencemari akidah (seorang muslim). Cerpen AK memuat beberapa mitos tersebut. Fikri yang harus memakai gelang hitam agar terhindar dari gangguan jin dan dedemit; pemberian makanan tambahan saat Fikri belum enam bulan – yang tak sesuai dengan konsep ASI ekslusif; hingga masalah guam yang harus diobati dengan mengusapkan tangan orang yang pernah melihat buaya putih.
Bayi memang telah didesain oleh Tuhan untuk bisa menyusu tapi sama seperti ibunya, bayi pun harus belajar terlebih dahulu agar bisa terampil mengisap puting susu ibunya dengan benar. Benar tidaknya cara bayi menyusu mempengaruhi kuantitas asi. Makin sering bayi mengisap puting susu ibunya, makin banyak produksi asi. Untuk itu, bayi tak perlu diberi minuman dan makanan tambahan lainnya selama enam bulan. Selain untuk kelancaran produksi ASI, sebelum enam bulan bayi memang belum memerlukan makanan tambahan. Sementara itu untuk membantu meningkatkan kualitas ASI, ibu perlu banyak makan sayur, ikan, daging, buah dan makanan bergizi lainnya. Hal ini bertentangan dengan salah satu mitos yang pernah dilakoni oleh teman saya, sehabis melahirkan, ia dilarang ibunya makan banyak. Ia juga dilarang makan ikan dan daging karena nanti air kencing bayi jadi amis.
Acil Katuy tak bisa menerima pengetahuan yang jauh berbeda dengan kebiasaan yang telah dilakoninya dan diwarisi dari nenek moyangnya. Ketika Maskunah pergi bekerja, Acil Katuy diam-diam memberikan makanan tambahan kepada Fikri yang baru berusia tiga bulan. Maskunah sebenarnya tidak sendirian. Ada Maskunah-Maskunah lain di bumi ini, khususnya di Indonesia yang bernasib seperti Maskunah. Meski berperan sebagai wanita karir, Maskunah masih memiliki tekad memberikan ASI ekslusif untuk anaknya. Sayangnya, lingkungan – dalam hal ini ibunya sendiri kurang mendukung Maskunah.
Persoalan ASI sepertinya hanya sisipan dalam cerpen AK. Terlihat dari dipilihnya tokoh utama dalam cerpen ini, yaitu Acil Katuy. Mengapa bukan Maskunah? Persoalan harga diri Acil Katuy lah yang menjadi fokus cerita. Dewi sepertinya ragu-ragu mengangkat ASI sebagai isu utama dalam AK. AK menjadi cerpen bermuatan budaya menggosip para acil, perseteruan antartetangga, persoalan rumah warisan dan permasalahan ipar-maruai.
Mengapa persoalan harga diri Acil Katuy yang diutamakan Dewi? Pikiran semacam ini membuat saya sebagai pembaca hampir kecewa berat. Benarkah persoalan harga diri Acil Katuy yang jadi fokus Dewi? Dewi sepertinya rambang dalam memilih ide. AK menjadi bias antara persoalan-persoalan harga diri yang ditampilkan dalam wadah pergosipan dan persoalan ASI. Ataukah Dewi kurang percaya diri mengangkat isu ASI dalam cerpennya? Apakah Dewi takut mengampanyekan ASI melalui cerpen? Karya tidak terlahir dari ruang vakum, menurut Bakhtin, tapi tercipta dari sebuah dialog. Saya yakin, Dewi tidak hanya telah melakukan sebuah dialog untuk melahirkan AK tapi berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus-ratus dialog.
Sebagai sesama perempuan, masih dalam suasana hari perempuan sedunia, saya berprasangka baik saja terhadap Dewi. Jangan-jangan persoalan ASI memang fokus utama cerpen AK. Jangan-jangan Dewi ingin menggambarkan bahwa di banua kita sudah ada perempuan cerdas di tengah-tengah kungkungan perempuan-perempuan beradat (:penggosip, pengelahian, keras kepala, anti pembaharuan). Jangan-jangan Dewi tengah berjuang menumbangkan mitos-mitos seputar menyusui yang sangat merugikan ibu dan bayi. Saya ingin mengakhiri kritik ini dengan sesuatu yang membahagiakan saya seperti bahagianya saya saat menyadari ada kampanye ASI dalam cerpen AK.
Setelah saya membaca ending-nya, saya pun tersenyum puas. Hanya saja, ia tidak tahu, Fikri tak lagi terkena guam. Warna lidahnya telah berangsur normal, Kunah telah membersihkan lidah anaknya itu, di hari Katuy pergi. Dewi telah menumbangkan salah satu mitos itu. Selamat, Dewi. Inilah saatnya, teman! Saatnya perempuan mengawani sastra untuk “kepentingan” kita (:perempuan).     
         Flamboyan, 8 Maret 2012