Sabtu, 29 Desember 2012

Rindu Rumpun Ilalang

14.18 0 Comments


RINDU RUMPUN ILALANG
Oleh  Nailiya Nikmah JKF

“Ayolah...kita bermain di padang ilalang. Sebentar...aja.”
Aku suka ilalang. Tidak semata-mata karena kesederhanaan yang ditampilkannya seperti awenku Bakumpai tapi juga karena hal-hal misterius yang selalu menjelma di sela-sela rimbunnya. Setiap aku menatap rumpunnya yang bergoyang ditiup angin, akan terbit rasa rinduku. Rindu yang tak terbatas dan tak terbalas pada yang tak tertentu. Rindu yang tak dapat kupahami, yang selalu berubah-ubah bentuk.

Ketika aku masih berseragam putih merah, menatap rumpun ilalang di belakang rumah kami membuatku rindu Ibu. Uma yaku hantarawang kan langit. Iye melay si awan.* Begitulah kata Ayah dan Neneng. Mulanya aku percaya. Kupikir, kalau sudah lelah di atas langit, Ibu pasti akan pulang dan mencariku. Seiring berjalannya waktu, aku jadi mengerti kemana Ibu sebenarnya. Saat pertama kalin memahami makna kepergian Ibu sebenarnya, aku menangis seperti langitg menumpahkan hujan. Aku memeluk nisan bertuliskan nama Ibu. Aku merasa tak ada lagi harapan bertemu Ibu. Aku menyesali perjalanan waktu. Kadang aku berpura-pura belum mengerti dan memaksakan diriku untuk tetap menganggap Ibu ada di atas langit, dan kalau sudah lelah Ibu pun akan pulang. Tapi usaha itu sia-sia. Waktu sudah mengatakan yang sebenarnya.

Lambat laun kesedihanku berkurang. Ketika aku SMP, mentap rumpun ilalang membuatku tersipu-sipu dan tersenyum sendiri. Aku tidak tahu mengapa di sela-sela rimbunnya kutemukan wajah Aldi. Aldi adalah ketua kelasku. Aldi adalah teman laki-laki pertama yang memujiku. Dia bilang aku manis. Saat itu kunyatakan padanya bukankah Lala lebih cantik? Lala adalah anak tercantik disekolahku. “Cantik dan manis itu tidak sama. Manis itu tidak membosankan “kurang lebih begitu yang dikatakan Aldi. Lalu aku merasa rumpun ilalang menarik tanganku dan mengajakku menari. Hanya itu, tak ada sesuatu yang berlebih . sesederhana para ilalang, sesederhana itulah kerinduanku.

Aku terlanjur mencintai ilalang dibelakang rumah kami. Sampai-sampai ketika ayah memaksaku melanjutkan sekolah ke Marabahan, aku sempat berontak. Aku ingin di Tabukan. Neneng sama saja, ia bilang sekolah di Marabahan lebih bagus. Aku tak ingin jauh dari makam ibu- alasan ini dipatahkan Ayah. Kata Ayah Tabukan-Marabahan tidak terlalu jauh. Tapi aku tak ingin berpisah dengan ilalangku. Kusaksikan rumpun ilalangku menunduk sedih. Dan betapa kecewanya aku, sesampainya di Marabahan ternyata Ayah sudah menyiapkan Ibu baru untukku.

Kekecewaanku tak bertahan lama. Ibu baruku yang juga awen Bakumpai dan masih ada ikatan kerabat dengan Neneng sangat pandai mengambil hatiku (aku agak heran juga, mengapa Ayah yang berdarah Jawa tidak mencari istri sesukunya). Selain itu, aku menemukan rumpun ilalang yang baru! Ketika menatap rumpun ilalang itu, seperti biasanya terbitlah rasa rinduku. Pertama kali yang kurindukan adalah rimbun ilalang di Tabukan!

Kesibukan di bangku SMA membuatku jarang menatap ilalang berlama-lama. Aku anggota Pramuka, PMR, KIR, OSIS, pokoknya semua organisasi aku ikuti. Ayah sampai memperingatkanku agar tidak melupakan belajar. Peringatan Ayah kujawab dengan prestasi. Aku selalu juara kelas. Lalu tibalah hari itu. Hari prmbagian jurusan di kelas tiga. Aku dipanggil ke ruang BP.
“Kema, apa benar kamu memilih jurusan IPS?”Tanya bu Ida.
“Ya, Bu.”Jawabku.
“Kamu yakin?Tatapanya mencoba mencari kepastian.
“Sangat yakin”
“Ibu tidak ingin kamu salah pilih dan menyasal di kemudian hari,Nak”Guru BP ku meredakan nada bicaranya.
“Kema sudah memikirkannya sejak kelas satu,Bu” Ujarku menutup sidang tak resmi bdi ruang BP.
Berdengunglah seisi sekolahku. Ayah dipanggil ke sekolah. Semua orang seakan-akan tak rela aku masuk jurusan IPS. Aku heran, apakah pemisahan IPA-IPS sama dengan pemisahan pintar dan tak pintar? Kudengar di kota lain malah ada jurusan Bahasa. Berhubung tidak ada, ya sudah kupilih IPS. Yang jelas aku tak minat di IPA.
“Kema sayang, mengapa harus memilih IPS? Kamu mampu di IPA, Nak” bujuk Ayah.
“Kenapa  harus IPA, Yah?” balasku. Ayah tak menyahut. Perundingan berakhir dengan kemenanganku.
“Tapi, Kema... kalau kau di IPA, kita akan tetap bersama. Aku ingin kita sekelas. Dayat rekan sekelompokku setiap kali praktikum ikut-ikutan membujuk.
“Memang kenapa kita harus harus sekelas?” Tanyaku polos.
“Aku hanya ingin kita sekela. Itu saja”. Dayat ghelagapan. Ia seperti penjahat tertangkap yang menyembunyikan barang bukti.
Aku tak puas. Kutatap matanya. Ia melengos. Benar kata pepatah, mata adalah jendela hati. Kalau ingin kejujuran lawan bicara, tataplah matanya.
“Tak ada alasan yang logis kan?” ucapku senang karena mematahkan argumen Dayat.
Cinta kadang-kadang tak ada logika**” gumam Dayat.
“Apa? Kau bilang apa, tadi?” tanyaku.
“Cinta!” Dayat balik menatapku tajam. “Yaku mancintai ikaw! Bawi”***

Detik berikutnya aku yang tak berani menatap matanya. Dayat? Cinta? Kenapa kata-kata itu begitu tiba-tiba datangnya? Tiba-tiba aku ingin mengulang seluruh praktikum di laboratorium. Tiba-tiba aku ingin Ibu BP memanggilku dan melakukan sidang ulang. Tiba-tiba aku ingin Ayah mendebatku lagi. Aku berlari menerjang rumpun ilalang. Aku ingin ada yang menjelaskan ketiba-tibaan ini. Aku menatap rumpun ilalang. Oh, sungguh kacau rindu yang diterbitkannya. Mula-mula terselip wajah Dayat, lalu ini’ Aldi, lalu...apa-apaan ini, aku merindukan para perempuan Bakumpai uang sedang berdendang menumbuk padi dengan halu di Tabukan. Terakhir ada awan putih di langit. Itu pasti Ibu! Kutanya ilalang itu. Mereka tak memberiku jawaban lain. Ilalang itu membiarkanku pada pilihan pertamaku.

                                      ***

           Keindahan rumpun ilalang terakhir kunikmati seminggu menjelang pernikahanku. Di sela rimbunnya tak ada lagi wajah Aldi, Dayat atau siapa pun. Ya..sejak mengikuti kajian intensif di kampusku, aku menatap rumpun ilalang sambil menyebut asma-Nya dan aku tak pernah lagi menemukan wajah-wajah nonmahram terselip di sela rumpun ilalangku. Biasanya yang kurindukan adalah Ibu, Ayah, Neneng dan sahabat-sahabatku di kelompok kajian pekanan. Di sela rimbunnya waktu itu, kutemukan wajah calon suamiku, memperkuat hasil istikharahku. Sejak itu ilalang-ilalang itu berganti sosok anak-anakku yang lincah dan aktif.
              “Ayolah ...kita bermain di padang ilalang. Sebentar...aja.”
Lalu hari ini, anak-anakku merengekkan ilalang. Sama seperti aku dulu, mereka tak kalah gilanya daripadsa aku dalam urusan ilalang. Sebenarnya aku agak takut dan ragu. Hampir lima tahun aku tak lagi menatap rimbunan ilalang sekhusyuk dulu. Apakah ilalang itu marah padaku? Apakah mereka juga semakin tua sepertiku? Aku memberanikan diri membawa anak-anakku ke sebuah padang ilalang. Kedua balitaku berteriak kegirangan. Kupejamkan mataku beberapa saat. Pelan-pelan kubuka kedua mataku...Oh, tidak! Di sela rimbunnya kutemukan wajah seorang laki-laki. Bukan, ia bukan ayahku. Suamiku pun bukan. Aku tak percaya. Wajah itu...
“...merupakan gambaran hidup dan kehidupan... di dalamnya ada realitas...substansinya harus kita pahami...”

Aku terngiang-ngiang kalimat-kalimatnya yang dulu pernah menghipnotisku. Meski terpotong-potong, kenangan yang ditampilkannya menerbitkan kerinduan yang sangat besar. Ini pasti gara-gara perbincanganku dengan Mitha seminggu lalu. Mitha begitu antusias bercerita tentang dia padaku.
“Dia sekarang sudah berubah. Tidak seperti dulu lagi. Kamu pasti terpesona” ucap Mitha sungguh-sungguh.
“Kenapa terpesona?” tanyaku.
“Penampilannya sekarang seperti idolamu dulu” jawab Mitha.
“Idolaku? Siapa?”
“Osama bin Laden!” Mitha terbahak lalu berlari meninggalkanku yang mulai tertusuk rindu.

Tergesa ku kemasi anak-anak. Aku ingin segera pulang. Kerinduan ini menakutkanku. Tapi sayang, kerinduan yang diterbitkan ilalang itu terbawa sampai ke kamarku dan menjadi topik perbincanganku dengan suami setiap mamal.
“Apakah kau pernah bertemu dengannya baru-baru ini??” aku menanyakan lelaki itu pada suamiku. Lelaki yang juga pernah dikenal olehnya.
“Kenapa kayu menanyakannya terus?” Tanya suamiku.
“Aku... merindukannya”lirihku.
Mata suamiku membesar. Tapi hanya beberapa detik. “Kalau begitu, kau temui saja dia!”
“Tidak mungkin. Tidak ada alasan yang sangat penting untuk bertemu dengannya”keluhku.
Setelah itu ia tersenyum. “Nanti kalau aku bertemu dengannya, akan kuceritakan bagaimana keadaannya sekarang. Yang jelas, dia sudah berubah”
Begitulah berbulan-bulan aku ditikam kerinduan yang terbatas. Maka, belangsarlah aku ketika mendapat pesan singkat di ponselku. Pengirimnya tak jelas siapa. Sepertinya pesan yang diteruskan dari pengirim lain. “EsokSeminarPmbcrxDF” DF adalah inisial laki-laki itu. Aku penasaran, apa yang akan dipaparkannya tentang sastra setelah perubahan habis-habisan yang ia lakoni?
“Pokoknya, besok aku ke kampus. Wajib” begitulah gayaku kalau meminta izin pada suami. Untunglah suamiku tidak terlalu sulit dimintai izin. Ia sangat memahami kecenderunganku pada dunia sastra. Aku sibuk menata hati. Ada gemuruh yang tak bisa kusunyikan. Ketika menapaki anak tangga gedung tempat seminar berlangsung aku nyaris terjatuh saking gugupnya. Di anak tangga terakhir, sebelum sampai di pintu masuk, aku menarik nafas. Aku tak ingin kelihatan kacau di hadapannya. Nanti kalau bertanya apa ya? Gumamku dalam hati.

Betapa terkejutnya aku ketika tak menemukan sosoknya di forum itu. Sepertinya ia sengaja tak ingin menghadiri acara. Aku menelan kecewa. Tapi kekecewaan ini tak sama dengan kekecewaan ketika aku kehilangan Aldi dan Dayat. Bukan, ini bukan pencarian yang berakar dari romantisme konyol karena untuk urusan romantisme aku sudah ada ikatan perjanjian dengan-Nya. Laki-laki itu adalah orang yang sangat kuhormati. Orang yang pernah memberiku pengajaran dan pendidikan tentang sastra. Orang yang pernah meminjamiku buku langka-yang rela mengopikannya karena kerapiannya mengarsip pustaka. Dia adalah dosenku.
Aku manuruni anak tangga dengan hampa. Kuterabas rumpun ilalang. Kupejamkan mataku lalu perlahan-lahan kubuka. Kulihat rindu itu masih terselip di sela rimbunnya.

                                                                          (Assalamu’alaikum yaa Ustadz)

*Ibuku pergi di langit, ia tinggal di langit. (Bahasa Bakumpai)
**Cuplikan lagu Agnes Monica
***Aku mencintaimu, Gadis!

Cerpen ini terdapat dalam buku antologi cerpenku "Rindu Rumpun Ilalang" Terbitan KSI Banjarmasin, 2010

Rumah di Bawah Pelangi

14.10 0 Comments


RUMAH DI BAWAH PELANGI*
Cerpen Nailiya Nikmah JKF

Imah berdecak kagum menatap rumah mungil bercat biru muda itu. Daun pintu dan jendela-jendelanya berwarna merah muda. Mirip rumah-rumahan barbie milik Sasha. Hanya saja rumah yang di hadapannya ini tidak bertingkat dan modelnya sangat sederhana. Pekarangannya cukup luas. Tak ada pagar pembatas. Yang membuat rumah itu istimewa adalah lengkungan indah warna-warni di atasnya. Ya, ada pelangi di atas rumah mungil itu. Kapan pun Imah datang, di langit di atas rumah itu selalu ada pelangi. Kurang lebih lima belas menit ia menikmati pemandangan tersebut. Setelah itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia pun menghidupkan motornya dan melaju menuju rumahnya sendiri.
Imah tak sengaja menemukan rumah itu. Suatu sore Sasha mengamuk tidak mau berangkat ke tempat les piano. Biasanya tiap Senin dan Jumat sore Sasha ke les piano diantar papanya tapi sore itu Sasha mogok. Entah apa sebabnya, ia baru mau berangkat setelah dipaksa Imah dan Imah sendiri yang harus mengantarnya. Karena merasa sudah terlambat, padahal guru les piano sangat disiplin, Imah pun tergesa-gesa. Ia lupa membawa dompet. Ia juga lupa memakai helm. Di tengah perjalanan, dari jauh Imah melihat ada keramaian di depannya. Seseorang meneriakinya, “muter, muter, razia, razia!”
Imah tiba-tiba sadar ia tidak memakai helm, ia pun panik. Tak sengaja matanya tertuju pada belokan sempit di sebelah kirinya. Ia lihat beberapa pengendara membelok ke sana. Tanpa pikir panjang Imah mengikuti para pengendara yang sama paniknya dengan dirinya. Rupanya belokan tersebut adalah jalan tembus ke Jalan utama yang akan ditujunya. Nah, dalam jalan tembus itulah Imah menemukan rumah berpelangi tersebut. Sebenarnya bukan Imah yag menemukan pertama kali. Sasha lah yang pertama menemukannya. Sasha berteriak, “Ma, berhenti Ma, Sasha mau lihat pelangi! Ada pelangi, Ma!”
Imah gusar mendengar celoteh Sasha. “Sha, kita sedang kabur dari polisi, nih. Kamu jangan macam-macam. Lagipula kamu sudah telat les pianonya!” teriak Imah.
“Sebentar saja, Ma. Pelanginya aneh. Masa pelanginya cuma di atas rumah biru itu?” Suara Sasha mulai menjadi rengekan.
“Balik lagi dong Ma ke rumah yang sudah kita lewati tadiii” Sasha merengek lagi. Imah hafal betul, kalau sudah nada rengekan yang seperti itu, Sasha pasti akan mengamuk kalau tidak dituruti. Imah pun membalikkan arah motornya.
Bukan hanya Sasha yang melongo, Imah pun ternganga melihat rumah di bawah pelangi tersebut. Anehnya pemakai jalan yang lain tak ada yang tertarik melihat pemandangan langka itu. Bahkan sepertinya mereka tidak melihatnya. Imah merasakan kedamaian yang luar biasa saat memandanginya. Mungkin yang ia rasakan dirasakan pula oleh Sasha. Sejak itulah, Imah setiap hari menyempatkan diri melewati jalan itu hanya untuk melihat rumah di bawah pelangi.
Ini pekan keempat Imah menjadi pengagum rumah orang. Selama ini, Imah menganggap rumahnya adalah rumah terindah di kotanya, eits rumah terindah di dunia malah. Rumah yang dibeli suaminya itu menurutnya sangat spesial. Selain bahan dan arsitektur rumah yang elegan, rumah tersebut ada kolam renangnya, ada tiruan air terjun Niagaranya, ada hutan kecilnya – yang ditanami tetumbuhan hutan pada umumnya lengkap dengan danau buatan,  ada ruang pameran karya seni, tak lupa mushola kecil untuk beribadah.  Memiliki rumah mewah dan suami yang punya banyak duit membuat Imah merasa menjadi orang yang paling beruntung. Apalagi setelah kelahiran Sasha, putri tunggalnya yang bermata kejora. Ia merasa sangat lengkap, kecuali satu hal. Sampai saat ini ia tak berani menyetir mobil sendiri. Ia harus puas dengan hanya mengendarai motor kerennya. Setelah menemukan rumah berpelangi itu, Imah merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.
Pekan keempat mengagumi rumah itu, Imah menginginkan rumah tersebut. Sebenarnya bukan rumahnya, melainkan pelanginya. Imah ingin pelangi itu bisa dipindah ke langit di atas rumahnya. Sang suami tertawa waktu mendengar keinginan Imah, “Hahaha, pelangi itu tidak bisa dibeli, Imah. Pelangi itu tak bisa dimiliki. Ia milik semua orang. Ada-ada saja kamu,”
“Tapi rumah biru itu memiliki pelangi sendiri, Bang,” Imah menyahut.
Suaminya berhenti tertawa. Laki-laki berambut keriting itu menyentuh dahi istrinya. Imah menepis tangan suaminya, “Apa-apaan sih, Bang!”
 “Hm, kupikir kau demam atau sakit tapi…tidak,” suami Imah menggeleng-geleng.
Imah hampir putus asa meyakinkan suaminya. Tiba-tiba ia berteriak, “Aha, Sasha, Sasha, Bang!”
“Kenapa dengan Sasha, Ma?”
“Dia yang pertama kali melihatnya. Kalau Abang tak percaya, coba tanyakan pada Sasha,” Imah bersemangat.
Setelah menjemput Sasha yang sedang bermain di rumah sebelah, mereka bertiga pergi ke rumah pelangi. Sebelum berangkat, Imah hampir meledak melihat tangan Sasha belepotan warna-warni bekas krayon. Imah sudah berulang kali melarang Sasha bermain-main dengan alat warna. Ia tak ngin Sasha jadi pelukis. Ia ingin Sasha jadi pemain piano yang hebat. Imah membersihkan tangan Sasha. “Tanganmu ini untuk main piano, Sha!”
Sesampainya di sana giliran suami Imah yang melongo. Ia berkali-kali mengucek-ngucek matanya, mencubit lengannya dan menepuk-nepuk pipinya sendiri.
“Jadi, kita mau membeli rumah ini, Ma? Pa?” tanya Sasha.
“Tidak, sayang. Kita mau membeli pelanginya saja” suara suami Imah membuat Imah riang.
Mereka disambut hangat oleh pemilik rumah. Sepasang suami istri yang ramah. Sasha senang sekali disuguhi semangkuk es krim rasa vanilla dengan butiran coklat chip di atasnya. Imah dan suaminya disuguhi teh hangat beraroma cengkeh dan mint, teman yang pas untuk kue brownis kukus buatan istri pemilik rumah.
“Jadi, apakah kami bisa membeli pelangi punya Bapak dan Ibu?” tanya suami Imah setelah mengelap bibirnya dengan tisu.
Imah sangat senang, kini justru suaminya yang terlihat lebih bersemangat. Suami dan istri pemilik rumah saling berpandangan lalu tersenyum mesra. Sang suami memberi isyarat agar istrinya yang berbicara.
“Begini Pak, Bu, pelangi yang di atas rumah kami tak bisa dibeli, tak bisa dipindah-pindahkan. Kami merawatnya sejak kecil. Kalau Bapak dan Ibu mau, kami mempunyai bibitnya. Ya… Bapak, Ibu harus sabar merawatnya, menyirami, memberi pupuk, nanti lama-lama dia akan tumbuh besar sepeti pelangi di rumah kami ini” Perempuan itu tersenyum, terlihat lekuk kecil di kedua pipinya.
Imah dan suaminya mengangguk dan berkata bersamaan, “Mau, mau.” Mereka semua tertawa. Sasha kebingungan melihat semua orang tertawa, gadis kelas satu SD itu dari tadi asyik dengan es krimnya. Bibir dan pipinya belepotan es krim. Ia pikir orang-orang menertawakannya. Ia buru-buru menyeka pipinya dengan tangan. Bukannya membersihkan, Sasha malah menambah kotor mukanya karena tangannya sudah berlumuran es krim. Imah segera mengelap muka Sasha dengan tisu.
“Mungkin dia perlu cuci muka dengan air, mari saya antar dia ke belakang” Istri pemilik rumah menggandeng Sasha. Ia membawa Sasha menuju ruang makan, di sudutnya ada tempat untuk cuci tangan. Ada sabun dan kain lap di sana. Agak ke kiri, Sasha mendapati sebuah lukisan tergantung di dindingnya. Lukisan bunga matahari yang sangat indah. Warnanya kuning keemasan. Sasha menatapnya. Ia berjinjit, lalu tangan mungilnya mencoba menyentuh lukisan itu.
“Hm, cuci tangan dulu, Sayang…” kata istri pemilik rumah.
Sasha segera mencuci dan mengeringkan tangannya. Ia kembali ke lukisan bunga matahari. Karena tubuhnya masih kecil, ia hanya bisa menyentuh bagian bawah lukisan. Istri pemilik rumah menggendongnya. “Kau suka lukisan, Nak?” tanyanya lembut.
“Ya, aku suka melukis, di kamarku banyak lukisan, lukisanku sendiri. Ada mawar, melati, anggrek, raflesia arnoldi. Aku juga suka melukis binatang. Ada kelinci, kucing, hamster, burung kakatua, panda…” celoteh Sasha. Sasha sangat senang. Belum pernah ia seriang ini berbicara dengan orang asing.
“Kalau rumah, kebun, taman, kau pernah melukisnya?” tanya istri pemilik rumah sambil membelai kepala Sasha.
“Ada sih, tapi tidak terlalu bagus” jawab Sasha takut.
“Tak apa Sayang, kalau latihan dan belajar, lama-lama nanti juga bagus hasilnya” Istri pemilik rumah tersenyum.
Sasha lega. Ia sangat takut jawabannya mengecewakan istri pemilik rumah. Ia takut istri pemilik rumah berubah sangar seperti guru les pianonya kalau lagi kesel karena ia salah memainkan nada. Sebenarnya Sasha sudah tidak tahan lagi dengan les pianonya. Ia lebih senang melukis tapi sayang mamanya tak membolehkannya ikut sanggar melukis di taman budaya dekat rumahnya.
Begitulah, keesokan paginya, sesuai instruksi pemilik rumah pelangi, Imah dan suaminya menabur bibit pelangi. Hampir saja terjadi pertengkaran seru antara Imah dan suaminya soal di mana mereka akan menabur bibit pelangi. Imah ingin menaburnya dekat air terjun. Suaminya ingin menaburnya dekat hutan mini mereka. Akhirnya Imah mengalah karena ia sudah tak sabar lagi menabur bibit pelangi. Imah dan suaminya bergantian menyiram dan memberi pupuk. Mereka sabar menanti lengkungan pelangi di atas langit di hutan mini.
Hingga suatu pagi Sasha menjerit, “Mama…Papa! Lihat! Banyak awan gelap di atas langit!”
Imah dan suaminya bingung, bibit pelangi tumbuh menjadi awan gelap. Sungguh aneh padahal mereka sudah rajin merawatnya. Mereka bertiga mendatangi pemilik rumah pelangi lagi.
“Dengan apa kalian menyirami dan memupukinya?” tanya suami pemilik rumah.
“Tentu saja dengan air dan pupuk, pupuk yang paling bagus” jawab suami Imah.
Sepasang suami istri pemilik rumah tersenyum. “Pantas saja” sahut sang Suami.
“Seharusnya, kalian menyiramnya dengan kebahagiaan dan memupukinya dengan ketulusan” jelas sang istri.
“Kebahagiaan dan ketulusan? Maksudnya?”tanya Imah.
“Penghuni rumah harus lah merasa bahagia sepanjang hari dan melakukan semua perbuatan dengan tulus, tidak karena terpaksa. Ingat, semua perbuatan.” Suami pemilik rumah menjelaskan panjang lebar.
“Apa kamu tidak bahagia, Ma?” tanya suami Imah seolah menyalahkan Imah.
“Ah, selama ini aku bahagia, sangat bahagia malah. Dan aku, tidak pernah terpaksa melakukan segalanya. Aku memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengantar Sasha, semua kulakukan tidak karena terpaksa,” Imah agak kesal, “jangan-jangan kau yang tidak bahagia, Bang?” selidik Imah.
“Jangan menuduhku, Ma. Aku lelaki paling bahagia di dunia ini” bantah suaminya.
“Tunggu, masih ada satu orang yang belum ditanya” kata istri pemilik rumah.
“Tidak, Bu. Tidak ada orang lain lagi di rumah kami. Kami cuma ber..tiga,”suara Imah mendadak datar dan kaku.
“Bertiga? Ada Sasha, kan? Hei, ke mana Sasha tadi?” Suami pemilik rumah bertanya.
“Dia pasti di dalam, ayo…” Istri pemilik rumah menggiring semuanya ke ruang makan. Di sana terlihat Sasha sedang duduk di lantai dengan peralatan gambarnya. Sesekali kepalanya mendongak ke atas, ke lukisan bunga matahari.
“Saya tahu sekarang… Hm, kalau kalian masih menginginkan pelangi itu, hentikan les piano Sasha. Masukkan ia ke sanggar lukis” kata istri pemilik rumah tegas.

Epilog
Belasan tahun kemudian, di salah satu hari Senin di bulan Desember, seluruh media memberitakan: pameran tunggal pelukis muda berbakat, Rumaisa. Telah terjual dengan harga fantastis, lukisan berjudul Rumah di Bawah Pelangi.


*Cerpen ini terdapat dalam buku Kiat Menulis dan Cerpen Pilihan

Dongeng dalam Becak

13.02 0 Comments


DONGENG DALAM BECAK*
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Sayangnya, aku selalu tak bisa lepas dari pekerjaan yang satu ini. Waktu kecil, aku harus menunggu lama agar bisa pamer baju baru pada teman-teman karena ayahku terlalu lama mengumpulkan duitnya. Ayahku baru bisa dapat duit kalau ada orang yang dapat musibah dengan kendaraannya, khususnya bagian ban. Ya, ayahku adalah seorang tukang tambal ban. Sebuah profesi yang membuatku ngetop semasa SD. Bagaimana tidak, aku menjadi terkenal dengan tambahan lain di belakang nama asliku. Namaku Hamdan. Teman-teman menjuluki Hamdan ATT. Bukan, bukan karena wajahku atau suaraku mirip penyanyi dangdut itu. ATT di belakang namaku adalah kependekan dari anak tukang tambal. Menurut teman-temanku, aku cocok sekali menyandang nama itu ditambah dengan kemiskinan yang begitu melekat di hidupku, jadilah aku Hamdan ATT, orang termiskin di dunia.
Aku harus menunggu sekian lama untuk bisa melihat angka-angka yang tertawa di raporku. Lagi-lagi karena masalah duit. Aku tak bisa mengambil rapor karena belum melunasi bermacam-macam pembayaran.
Aku harus menunggu lama agar bisa mengerjakan tugas dan belajar dengan tenang sampai dagangan gorenganku habis. Aku bahkan pernah harus menunggu lama agar bisa memejamkan mataku di malam hari karena perutku yang keroncongan minta diisi. Tapi sejujurnya masih ada saat-saat aku terbebas dari pekerjaan menunggu, yaitu ketika teman-temanku serentak berlarian sambil berteriak “Kelengan pagat! Kelengan pagat!” Aku orang paling cepat merespon teriakan itu. O,iya masih ada satu hal lagi yang membuatku pernah terbebas dari pekerjaan menunggu. Waktu itu aku habis menerima ijazah. “Bu, Hamdan setelah ini sekolah di mana?”
Mendengar tanyaku, tanpa basa-basi ibuku langsung menjawab,”Sekarang giliran adik-adikmu, Dan. Giliranmu itu, tuh...” Ibu menunjuk tempat mangkal operasi ayah. Tiga tahun kemudian, ketika teman-temanku merengek seragam abu-abu putih, Ibu menunjukan jarinya ke sebuah becak yang terparkir manis depan rumah kami.
Sebenarnya itu adalah mimpi buruk bagiku. Aku bisa malu berat kalau bertemu Wenny-gadis pujaanku. Wenny teman SD yang selalu berkepang dua itu begitu baik padaku. Ia satu-satunya teman yang selalu menanyakan apakah aku sudah mengerjakan PR atau belum. Ia juga pernah merelakan roti bekalnya untukku ketika ia memergokiku sedang memungut sisa nasi bungkus di tempat sampah kantin sekolah. Wenny pasti melanjutkan ke sekolah yang terbaik. Aku tidak tahu bagaimana menamai perasaanku waktu itu. Perasaan ingin terus sekolah-kalau bisa sekelas lagi dengan Wenny. Perasaan malu membayangkan Wenny melihatku sedang menarik becak. Yang jelas, perasaan-perasaan itu dikalahkan oleh tatapan adik-adikku yang tak mau menunggu. Mereka juga ingin sekolah. Becak itu mungkin merupakan mimpi buruk bagiku tapi bagi adik-adikku tentu becak itu adalah sebuah harapan.
Tak terasa tiga belas tahunan sudah aku menjadi tukang becak. Mulai dari menarik becak sewaan sampai akhirnya aku punya becak sendiri. Sejak jadi tukang becak, aku pun tak lepas dari menunggu. Menunggu kedatangan penumpang yang tak pasti sehari itu ada; menunggu penumpang yang minta dijemput, eh tidak tahunya lama sekali baru berangkat; menunggu penumpang yang minta mampir-mampir dulu sebelum sampai ke tujuan yang disepakati di awal. Enak benar sopir taksi, kudengar kalau menunggu lama seperti itu bisa dikenai hitungan oleh mesinnya. Kalau tidak salah namanya argo.
Hari ini, aku sedang menunggu. Anehnya, menunggu kali ini terasa berbeda dibanding pertungguanku yang sebelum-sebelumnya. Aku memang merasa jemu dan gelisah tapi ketika yang kutunggu sudah datang, aku malah tambah gelisah. Sebelum pertungguanku yang satu ini aku belum pernah merasa serumit ini untuk menjelaskan sesuatu, selain tentang perasaanku pada Wenny dulu.
Semua ini bermula ketika Abang Jacky memintaku menggantikan tugasnya. Jangan berprasangka yang wah dulu mendengar nama Bang Jacky. Namanya memang keren seperti orang sugih tapi ia beda tipis denganku. Ia seniorku dalam urusan perbecakan. Nama sebenarnya aku tidak tahu siapa. Mungkin Zaki, Muzakki, Yuzakki...entahlah sampai hari ini tidak ada yang tahu siapa nama aslinya.
“Dan, beberapa hari ini tolong gantikan tugas Abang ya. Istriku lagi sakit, aku khawatir meninggalkannya sendirian di rumah. Kemarin ia jatuh pingsan di kamar mandi” itulah prolog cerita pertungguanku yang beda ini.
Aku diminta menjemput seorang perempuan di rumah mewah di tepi jalan raya, lalu ke sebuah sekolah-menjemput anaknya, setelah itu balik lagi ke rumah semula. Enak juga Bang Jacky punya langganan seperti ini. Paling tidak dalam sehari sudah ada rezeki pasti yang sudah menunggu. Tidak sepertiku yang serba tak pasti. Tapi kalau kuingat penjelasan guru agama dulu, katanya rezeki manusia itu sudah pasti, sudah di atur oleh Allah. Manusia tinggal berusaha. Mungkin inilah masalahnya, usahaku yang belum pas.
Hari pertama aku menjalankan tugas aku bertanya-tanya. Penumpangku ini masih terlalu muda untuk punya anak. Terlalu muda? Ah mungkin tidak juga. Bukankah Fatma teman sekelasku dulu lulus SD langsung kawin? Aku tersenyum miris mengingat Fatma dikejar-kejar ibunya sehari sebelum pernikahannya. Fatma tidak mau kawin tapi kemiskinan memaksanya. Penumpangku ini tentu kawin muda bukan karena alasan ekonomi. Tidak ada tanda-tanda kemiskinan dipenampilannya. Jangan-jangan dia “kecelakaan”? aku menepis prasangka burukku. Tidak mungkin, dia berkerudung rapi dan selalu berbaju panjang. Tampang alim begitu sepertinya tidak mungkin bergaul bebas apalagi sampai kebablasan.
Hari kedua, aku mencuri-curi wajahnya. Mulanya sih sekedar mencoba mengenali lama-lama aku ketagihan. Wajahnya cantik bersinar. Persis bintang iklan produk pemutih wajah. Mataku dan matanya belum pernah bertemu. Mana berani aku menatapnya. Bisa-bisa aku dipecat. Lalu aku mulai menyimak setiap tuturnya dengan anaknya. Suaranya lembut.
 “Rini senang sekolah hari ini?” sapanya pada anak kecilnya.
“Senang, Bu...”anak itu menjawab dengan riang. Lalu ia berceloteh ke sana kemari tentang sekolahnya.
“Oh, iya tadi ada PR. Nanti Ibu bantu Rini ya...?”
“Tentu sayang. Tentu Ibu akan membantu Rini”
Percakapan mereka membuatku teringat masa lalu. “Kena aja belajarnya, Dan. Sawat godoh lawan jalabianya dingin. Kada nyaman lagi” Ibu selalu marah melihatku mengulang pelajaran sepulang sekolah. Gorenganku sampai pukul lima sore baru habis. Itu juga kalau lagi mujur. Setelah itu teman-teman mengajakku main sambil sesekali membantu ayah, habis magrib aku nonton tv di kelurahan. Usai Isya aku sudah kelelahan. Besok pagi saja belajarnya pikirku. Paginya rumah kami ribut. Ibu berteriak, ayah menyumpah, adik-adik menangis. Lama-lama aku jadi malas belajar.
Hari ketiga, penumpangku mendongeng. Perjalanan jadi tak terasa. Sumpah, baru kali ini aku mendengar dongeng Cinderella seindah dan seutuh itu. “Bekesah pang Ma...kakawalan di kelas bagus-bagus karangannya. Buhannya raja-raja mengarang, jarnya mun handak guring dikesahi kuitannya.” Aku pernah meminta.
Ibuku menjawab “Mama haur. Banyak gawian tahu lah! Kena, isuk-isuk aja bakesahnya”  Besoknya dan besoknya Ibuku tak pernah menepati janjinya. Sampai aku lupa, tepatnya sampai aku tak ingin memintanya lagi.
Malamnya aku tak sabar ingin segera siang dan menjemput penumpangku. Kira-kira besok apakah ia mendongeng lagi? Semoga besok ia mendongeng lagi. Apakah ia akan mendongeng kisah Timun Mas, Putri Salju, atau... Bawang Merah Bawang Putih seperti yang pernah diceritakan Wenny di depan kelas? Aku tertidur. Dalam tidur aku bermimpi jadi pangeran yang sedang berdansa dengan Cinderella.
Hari keempat, aku tambah terpesona dengan penumpangku. Kali ini ia mengajari anaknya menghafal ayat Quran. Kalau tidak salah namanya surat Al Fiil. Hafalan ayat tidak terasa menakutkan karena ia menambahnya dengan cerita indah tentang pasukan bergajah yang dilempari kerikil. Aku menyeka keringat dengan handuk kecil yang setia menggantung di leherku. Aku tersenyum sendiri teringat dulu aku berkeringat dingin ketika di panggil Bu Guru ke depan kelas untuk menyetorkan hafalan surat ini. Aku ketakutan. Aku sama sekali tidak hafal karena aku memang tak pernah menghafalnya. Aku jadi iri berat dengan Rini. Betapa beruntung anak kecil ini punya orang tua kaya raya dan baik seperti penumpangku. Aku menjelma anak kecil sedang naik becak bersama ibu sesempurna penumpangku.
Ini hari kelima. Aku kecewa berat ketika Bang Jacky datang mengambil alih lagi rezekinya. Ingin rasanya aku marah-marah pada Bang Jacky. Setelah mengenalkanku pada keindahan ini kenapa sekarang ia ingin merebutnya dariku? Lho, kenapa aku jadi begini rumit? Bukankah keinginan Bang Jacky sederhana saja. Ia hanya ingin mengambil lagi langganan penumpangnya. Kenapa aku jadi sakit hati?
“Kenapa, Dan? Ada yang tidak beres?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan.”Tak ada Bang.”
“Ya sudah, Abang narik dulu,” ia pamit.
“Bang...!” aku menahannya. Ingin sekali aku memberanikan diri untuk berkata biarkan aku yang menjemputnya. Duitnya buat Abang. Tapi lidahku kelu.
“Ada apa, Dan? Bayaranmu kurang?” desak Bang Jacky.
Lagi-lagi aku menggeleng.”Anu bang...nama Ibu itu siapa ya?”tanyaku asal.
“Oh...itu. namanya Rahimah. Dia pembantu Nyonya Lisda tapi sudah dianggap seperti adik sendiri oleh Nyonya” jawaban Bang Jacky membuat mulutku ternganga.
“Pembantu? Tapi..kok dipanggilnya Ibu?”tanyaku.
Bang Jacky tersenyum. “Makanya gaul dikit, Dan. Kalau sore ia ngajar ngaji di TPA kampung kita”
Aku masih menganga sampai Bang Jacky berteriak. “Woi! Mikir apa? Kamu naksir ya? Abang pergi dulu. Nanti kita ngobrol lagi”
Aku tak tahu bagaimana menamai perasaan ini. Ada sedikit harapan menari di benakku. Aku berharap suatu saat ada dongeng indah dalam becakku. Dongeng tentang aku dan Rahimah. Tapi sampai kapan aku menunggu dongeng itu datang?

(Kado spesial untuk teman-teman SD ku yangekarang mencoba mengukir pelangi dalam becaknya masing-masing)

*Pernah dimuat di Harian Radar Banjarmasin dan termasuk dalam buku Kalimantan dalam Prosa (Ed Korrie Layun Rampan).

Minggu, 23 Desember 2012

Kangen dll

04.02 1 Comments


Puisi Nailiya Nikmah JKF
Banjarmasin



Kangen

(Buat Aliman Syahrani)

kukatakan aku kangen
dan ingin pulang
katamu, “Di Pahuluan kada rami,
hanya ada embun yang luruh bersama puisi”

Kangenku jadi berlipat-lipat!


      Banjarmasin, 13 November 2012





Pengantar Rinduku

kau kah yang mengetuk pintu senja-senja
meletakkan serumpun ilalang
di ambin rumahku
lalu pergi diam-diam

kau kah pengantar rindu
yang kucari ke segala musim
sekali bertemu
dinding-dinding sudah temaram

kau kah yang sembunyi-sembunyi meningkalung
jendela hatiku dengan cinta
hingga kacanya berceraian
mengapa engkau terlampau sunyi
padahal di sini banyak nyanyian

Banjarmasin, 23 November 2012


Mimpi di Bulan Desember

maukah kau menemaniku
menyusuri jalan bersalju
sambil memainkan kata-kata
yang menumpuk di balik sweater

lihatlah, Desember membekukan sungai Martapura
aku dan kamu asyik melempar kata. Aku tahu ini hanya mimpi,
mimpi di bulan Desember
Jangan bangunkan aku sebab kata-kata masih menumpuk di balik sweater

(Flamboyan, 12/12/12)















Kamis, 29 November 2012

Merobek Hujan

09.53 1 Comments
Puisi Nailiya Nikmah JKF
Banjarmasin

Merobek Hujan
Buat –mu

hapuslah kalimat asing dalam prosa pendek kita
penampakannya hanya membasikan kenangan
kuncup ini takkan pernah jadi bunga
meski di belantaranya hujan bermain

hapuslah seluruh ingatan yang menyandera namaku
di serat-serat catatanmu
karena seperti juga aku
kau terbebas dari semua belenggu
kecuali takdir yang sudah di kumur-Nya
menjadi semburan di kertas kita

Robeklah kitab cinta kita
seperti aku merobek hujan hari ini!



Hujan, November 2012




Hujan, Matahari, dan Sajak Terakhir


jika engkau hujan
dimanakah dapat kusentuh rintiknya
jika engkau matahari
di manakah dapat kupandang sinarnya

Jika ini luka- dan sepertinya begitu
- biarlah kutulis sajak terakhir

12 November 2012

Sabtu, 17 November 2012

mengenang tanah huma, mengenang masa lalu

22.50 0 Comments

DZIKRUL MAUT DALAM KUMPULAN PUISI “TANAH HUMA”
Oleh Nailiya Nikmah

1.      Pendahuluan
Para penyair memiliki kebebasan untuk mengekspresikan segala perasaan dan pemikirannya melalui bahasa yang digunakannya dalam sebuah karya. Terlebih karena puisi adalah bentuk karya sastra yang istimewa. Unsur bahasa (kata) yang minim bisa mengandung makna yang dalam dan memerlukan penjelasan yang panjang. Itulah sebabnya kadang agak sukar memahami sebuah puisi.
Tidak berlebihan tentunya jika pembaca (penikmat) puisi pun mempunyai kebebasan yang sama dalam menikmati atau mengapresiasikan sebuah karya sastra (puisi) sesuai dengan pengalaman yang melatarbelakangi pemikiran dan perasaannya. Kumpulan puisi “Tanah Huma” karangan tiga penyair Kalimantan memiliki banyak kemungkinan objek yang dapat diamati tergantung dari sudut mana dan siapa yang memandang. Membaca judul kumpulan puisi ini kita diajak membayangkan atau mengasosiasikannya pada hamparan luas pehumaan, kebanggaan orang-orang tuha, harapan anak-anak untuk tetap bisa meneruskan perjalanan hidup.
Memang secara umum Tanah Huma menghadirkan panorama khas Kalimantan; hutan maupun kekayaan alam lainnya (Kepada Paduka Puisi, Hutan, Huma yang Perih, Berbisik dengan Laut, Gua Batu, Lapar, Kali Martapura, Di Sebuah Tanjung, dan Surat dari Muara Teweh).
Lain Tapi sesungguhnya ada hal lain yang tidak kalah menariknya untuk diamati dalam Tanah Huma. Jika cermat mengamati, kita akan menjumpai nuansa kematian dalam beberapa puisi yang dapat mengingatkan kita pada kematian atau istilahnya adalah dzikrul maut.
2.      Dzikrul Maut
Dzikrul maut, sebuah istilah yang dapat diartikan sebagai “mengingat kematian”. Mungkin tidak semua penyair berminat menggoreskan kisah kematian, seperti halnya tidak semua pengapresiasi tertarik mengupas makna kematian dalam sebuah puisi.
Mengingat kematian adalah salah satu anjuran Rasulullah. “Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan” HR Tirmidzi. Artinya kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian agar berkonsentrasi pada Allah.  Selain itu mengingat kematian juga berguna untuk melembutkan hati kita. “Shafiyah ra. berkata: Ada seorang wanita mengadu kepada Aisyah ra. tentang kekesatan hatinya lalu Aisyah berkata ‘perbanyaklah mengingat kematia niscaya hatimu menjadi lembut’.
Jalan merealisasikan mengingat kematian adalah dengan mengosongkan hati dari  segala sesuatu kecuali dzikrul maut yang ada di hadapannya, seperti orang yang ingin bepergian mencapai keberuntungan besar atau menyeberangi lautan sehingga ia tidak memikirkan yang lain.
Cara paling mujarab dalam hal ini ialah memperbanyak mengingat kawan-kawan atau orang-orang yang telah mendahului. Mengingat kematian mereka, pembaringan mereka di bawah tanah, dan bagaimana tanah kuburan sekarang menimbunnya.
Abu Darda ra. berkata: Apabila Anda mengingat orang yang sudah mati anggaplah dirimu termasuk salah seorang diantara mereka.
Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: Tidakkah kalian melihat bahwa kalian setiap hari menyiapkan orang yang pergi dan pulang kepada Allah, kalian meletakkannya di dalam tanah dan berbantalkan tanah degan meninggalkan para kekasih dan terputus segala upaya.
Terus-menerus menghadirkan pikiran-pikiran tersebut, ziarah kubur, dan menengok orang sakit merupakan hal-hal yang bisa memerbaharui dzikrul maut di dalam hati sehingga mendominasi dan menjadi perhatian utamanya. Pada saat itulah orang hampir telah siap dan terhindar dari kampung tipu daya. Jika tidak, maka zhahir hati dan manisnya lisan tidak lagi banyak berguna dalam memperingatkan.
Jika hatinya merasa senang dengan sesuatu di dunia maka ia harus segera ingat bahwa ia pasti berpisah darinya. Pada suatu hari Ibnu Muth’I memandangi rumahnya lalu mengagumi keindahannya kemudian ia menangis dan berkata: Demi Allah kalau bukan karena kematian niscaya aku merasa senang terhadapmu, dan seandainya bukan karena kita aka berada di dalam himpitan kuburan niscaya kami merasa senang kepada dunia. Kemudian ia menangis dengan keras sehingga suaranya terdengar.
3.      Dzikrul Maut dalam Tanah Huma
Seperti yang sudah disebitkan di awal, pembaca atau penikmat puisi bebas mengapresiasikan sebuah karya yang dibacanya. Meskipun kadang tigkat kebebasan memaknai sebuah puisi tidak setinggi kebebasan penyair dalam berkarya. Setidakya dalam berapresiasi dan mengkritisi sebuah puisi, pembaca dipengaruhi oleh latar belakang pengalamannya.
Inilah yang mendasari Tanah Huma dianalisis dari sisi kematian. Meskipun tidak semua puisi Tanah Huma berbicara tentang kematian, tetapi beberapa puisi yang mengangkat tema kematian sangat menarik untuk dicermati sebagai salah satu perwujudan dari dzikrul maut atau mengingat kematian.
Coba kita simak ‘Melintas Jalan Makam’ (halaman 9). Dari judulnya saja kita sudah mendapati nuansa kematian. Meskipun mungkin bukan kematian dalam arti sesungguhnya yang dimaksud penyair.
Dalam ‘Kepada Filsafah’ (halaman 10) kata-kata dhaif dan idhafi merupakan kata kunci yang menghubungkan kita kepada kematian. Bait terakhir memperjelas kefanaan dengan lembut.
Daun luruh
Ruh luruh
Kau lusuh
Pada puisi berikutnya, ‘Sekamar dengan Mayat’ (halaman 14) benar-benar merupakan jalan merealisasikan dzikrul maut. Hari kematian seorang sahabat tentu memberi kesan kesedihan yang mendalam, apalagi bila kematiannya dengan tragis atau tidak wajar. Ada sesuatu yang menyentak jiwa kita, betapa kematian adalah sebuah kepastian yang kita tidak tahu kapan datangnya. Bayangkan saat kita tidur di samping mayatnya, seusai membacakan Yassin sekali. Hujan yang turun saat itu menambah kepedihan. Menatap tubuhnya yang terbujur kaku dan menutupkan tudung putih di atasnya.
Setelah kematian akan ada masa perhitungan, inilah yang coba digambarkan oleh penyair dalam ‘Hisab’ (halaman 17). Sebuah peringatan bahwa setiap perbuatan dosa akan ada perhitungannya.
Menyimak ‘Melankolik’ (halaan 18) kita masih disuguhi hawa pekuburan yang sunyi. Di sana hanya ada bulan dan angin. Muram.
‘Di bawah Merah Lampu’ (halaman 19) secara simbolik mengisyaratkan kematian juga. Lampu merah merupakan tanda berhenti pada lalu lintas. Ini dapat kita asosiasikan  sebagai berhenti dari kehidupan dengan melambangkan duka abadi serta dalam kafe kelabu.
‘Memikul Keranda’(halaman 29) adalah sebuah pekerjaan yang dilakuakn orang untuk mengantar mayat ke pekuburan. Puisi ini bertutur kesedihan mendalam yang dirasakan seseorang karena kematian orang yang dikasihi. adalah sebuah pekerjaan yang dilakuakn orang untuk mengantar mayat ke pekuburan. Puisi ini bertutur kesedihan mendalam yang dirasakan seseorang karena kematian orang yang dikasihi. Perasaan tidak dapat menerima kenyatan membuatnya merasa sepi, segala menuli dan membisu seolah ia sendirian di dunia ini. Dengan diliputi kesedihan, aku lirik tetap menghantarkan kakandanya menuju peristirahatan terakhir. Uniknya perasaan sedih dan kehilangan itu justru menyadarkan aku bahwa suatu saat ia pun akan menyusul kakandanya (meninggal dunia). Ini dapat kita jumpai di bait terakhir.
dan aku juga kakanda, sampai waktu
seperti kau ke laut kembali
Sementara itu ‘Pengembara di Jalan Ujung (halaman 30) berbicara tetang perjalanan seorang manusia, sebuah perjalanan dalam episode panjang bernama kehidupan yang akan berakhir. Frase ujung jalan, ujung hari, dan mengepak jauh menggambarkan sebuah akhir yang akan segera kita temui. Begitu juga dengan fajar ke maghrib. Bait Engkau kan kembali tidakkan kembali makin mempertegas simbol kematian.
Puisi ‘Musnah’ (halaman 39) mengisyaratkan sesuatu yang tidak akan abadi. Bagi manusia ketidakabadian ini ditemukan dalam kenyataan menua dan kematian. Masa remaja pasti akan berlalu dan tidak akan pernah kembali. Tak ada manusia yang dapat menyangkal kenyataan itu.
Begitu juga dengan puisi ‘Tangisan Senja’ (halaman 40). Senja menggambarkan masa pergantian dari siang ke malam. Senja perlambang masa-masa terakhir dalam kehidupan. Boleh dikatakan sebagai waktu ajal menjemput hampir tiba atau sekarat. Tangisan anak-anak dan orang-orang yang dikasihi takkan dapat mengubah kehendak-Nya. Tinggallah harapan agar sang anak dapat meneruskan cita-cita dan berusaha sendiri.
‘Kudukung Kemenangan Tanpa Melati’ (halaman 41) terkesan begitu lembut dan bersahaja. Aku lirik mengemukakan betapa ia takut sekali mati, takut kehilangan. Tapi itu tak menghalanginya untuk terus berusaha dalam hidup. Ingin meraih kemenangan, keberhasilan, meski tak perlu diberi penghargaan. Bait terakhirnyalah yang menjelaskan makna ini. Kita memang dianjurkan mengingat kematian, tapi bukan berarti kita tidak bekerja dalam kehidupan dunia.
Agak sukar memahami ‘Kepada Bapa’ (halaman 44), tapi lambang-lambang yang digunakan masih relevan dengan kematian. Coba kita simak bait tika daun pada bunga sudah kuning tua, kemudian bait berikut:
beringsut-ingsut lara baru kau datang menjemput
sekilas pisau kata diapun melambai maut
Atau
karena beginilah harusnya akhir cerita
biar kutelan tangis kumalku komat-kamit bendungnya
Membaca ‘Malam Penghabisan’ (halaman 49) ada kesan ‘akhir’ yang kita tangkap. Itulah yang ingin disampaikan dalam baris karena kecapaian angsur mengesani jasmani pendukung. Menutup hari tentu akan membawa goresan-goresan hasil perjalanan yang ditempuh. Perlahan menyusuri cerita hidup, semua orang akan sampai pada masa tuanya. Ini yang coba disampaikan penyair dalam ‘Biola Tua’ (halaman 52).
Berbeda dengan dua penyair sebelumnya, Hijaz Yamani tak terlalu banyak bicara kematian. Hanya ada dua puisi yang menawarkan sedikit aroma kematian. ‘Saat dan Hari Baik’ mencoba mewakili. Puisi ini ditulis malam Ramadhan. Sebuah bulan yang membuat kita selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah. Mungkin ini juga saat mengingat kematian oleh sebagian orang. Unsur dzikrul maut puisi ini diantarkan oleh bait berikut:
kalau tiba saat akhir menjelang segala penyelesaian
dengan segala harapan besar
akan penutupan segala dosa demi dosa
malam begitu merunduk kesepian
Dalam puisi ‘Orang Lalu’ (halaman 62) baris Ah, keperkasaan apakah yang harus dipertahankan mengisyaratkan bahwa tak ada kehebatan apapun yang dapat dipertahankan karena semua pasti akan musnah.
4.      Penutup
Ternyata melalui puisi pun kita dapat mengingat kematian. Tentu saja tak cukup hanya dengan membaca puisi-puisi ini untuk mengingat kematian. Banyak hal lain yang harus kita lakukan. Tapi setidaknya mungkin cara inilah yang cukup efektif bagi penggemar puisi.
Demikianlah dzikrul maut dalam kumpulan puisi Tanah Huma. Sebuah apresiasi sederhana terhadap kumpulan puisi karya D. Zauhidie, Yustan Aziddin dan Hijaz Yamani. Mungkin tak semua penikmat kumpulan puisi ini sepakat dengan pemahaman penulis bahkan mungkin sangat bertentangan. Tak ada salahnya berbagi kisah di sini, di Tanah Huma.

Sumber: Kumpulan Puisi Tanah Huma, Pustaka Jaya, 1978
Mensucikan Jiwa, Said Hawa, 1998


Makalah tersebut kusalin ulang tanpa menyuntingnya dari hardcopy yang kudapatkan dari seseorang yang aku sangat berterima kasih padanya. Aku sempat kehilangan jejak tulisanku ini. Tulisan yang sangat berarti bagi keberadaanku di ranah sastra, seni dan budaya.
Makalah ini pernah kusampaikan pada acara sastra bertajuk Diskusi Puisi di Taman Budaya, 28 maret 2002. Waktu itu, aku masih menjadi mahasiswa S1 PBSID FKIP Unlam. Masa-masa aku gila puisi. Menulis maupun membacanya. Aku mendengar kabar mau ada acara sastra di taman budaya.  Aku segera menemui dosenku, Bapak Drs. Jarkasi (alm). Kukatakan aku sangat ingin ikut acara tersebut. Bisakah aku didaftarkan. Beliau mengiyakan. Kira-kira seminggu sebelum acara, beliau memanggilku. “Coba kamu buat makalah tentang kumpulan puisi ini. Ini contoh makalah punyaku. Kamu buat yang seperti ini tapi cari topik lain!” Aku terkaget-kaget. Mau jadi peserta malah disuruh jadi pemakalah! Tapi dasar aku gila puisi, aku terima saja perintah tersebut.
Ternyata selain Bapak Jarkasi, pembicaranya adalah Bapak Ajamudin Tiffany (alm). Ehem, ehem, dua-duanya sudah almarhum nah. Tinggal aku yang belum…J Sebelumnya aku tak pernah mengikuti acara yang sekeren itu. Gugup juga aku pas melihat para peserta. Tidak hanya kalangan mahasiswa (teman-temanku), juga ada dari kalangan seniman, sastrawan, dan budayawan.Tau gak, saking tergila-gilanya aku pada para penyair tersebut, selesai acara aku nguber-nguber mereka, minta tanda tangan! Dulu gak secanggih sekarang. Aku gak punya kamera, hp kamera apalagi. Sayang aku gak punya dokumentasi fotonya selembar pun.
Nah, peserta mata kuliah Bapak Jarkasi wajib ikut acara ini dan wajib membuat tulisan semacam esai tentang acara. Jadi, meski aku pembicara, aku juga wajib mengerjakan tugas tersebut. Sampai sekarang aku masih menyimpan lembar tugas yang sudah dinilai beliau itu. Nilaiku termasuk paling sempurna (narsis.com). Aku suka memamerkannya pada anak-anakku.
Aku ingat banget habis bubar acara, aku sempat berkenalan dan berbincang dengan seseorang dari koran, namanya Bang Sandi Firly. Entah dia masih ingat momen itu atau sudah melupakannya.  Hari itu aku merasa orang paling beruntung sedunia. Bisa bertemu para penyair, berkenalan dengan Bang Sandi, dan ternyata dapat honor pula. Honornya lumayan besar untuk ukuran mahasiswa sepertiku. Sorenya, aku mentraktir adikku makan-makan dan berniat membeli sesuatu yang berharga dari uang tersebut. Akhirnya aku putuskan membeli Quran terjemah karena saat itu aku belum punya. Di halaman pertama Quran tersebut kutulisi, kenang-kenangan honor Tanah Huma.
Sampai hari ini aku tak pernah melupakan momen itu. Aku sangat berterima kasih pada Bapak Jarkasi- orang yang menyuburkan cintaku pada sastra. Beliau pembimbing skripsi terkeren yang pernah kukenal. Beliau juga yang membuatku sempat mengajar 1 semester di almamaterku pasca kelulusanku. Sayang, aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya….
Aku sempat merasa menyesal karena setelah itu, komputerku rusak dan aku tak punya arsip makalahku. Makalah Pak Jarkasi malah aku masih punya. 2012, 7 tahun setelah aku diterima di Poliban, aku menemukan makalahku. Unik sekali, yang masih menyimpan makalahku adalah dosen senior di kampusku mengajar. 2005 aku diterima sebagai PNS di Poliban tapi aku tak pernah berusaha mencari jejak makalahku. 2012, setelah berdiskusi dengan dosen senor tersebut – namanya Pak Tarman Effendi Tarsyad – aku kegirangan. Ternyata beliau termasuk peserta acara tersebut dan masih menyimpan makalahku! Beliau mengopikannya untukku. Thanks banget, Pak…
Hari ini, aku masih dan selalu mengenang acara Tanah Huma, mengenang para almarhum yang terlibat di acara itu. Mengenang kematian… ***

Fa: Lamut Cinta

02.58 2 Comments

Fa: Lamut Cinta
Cerpen Nailiya Nikmah JKF

Bismillahi ini mula kubilang kartas dan dawat jualan dagang kartasnya putih selain lapang pena manulis tangan bagoyang, tintanya titih di kartas lapang bukannya beta pandai mengarang hanya taingat di dalam badan hanya kurait diumpamakan tali dadayan umpama pendek kupanjangakan umpama tagumpal kita bujurakan. Wahai Saudara anak tuntunan baik laki-laki atau parampuan, jantan, betina, janda parawan, tua, muda, balu dan bujang, jikalau ada malam ini tasama ngaran, jangan jadi pikiran.[1]

“Beruntung ya jadi laki-laki,” celutuk Fa tiba-tiba.
“Maksudmu apa, say?” Wida menghentikan ketikannya. Keningnya berkerut. Tak biasanya rekan kerja sekaligus sahabatnya itu begitu iri dengan laki-laki.
“Kalau seorang laki-laki yang sudah beristri jatuh cinta lagi, sudah ada pintu darurat bernama poligami. Sebaliknya, kalau perempuan yang sudah bersuami jatuh cinta lagi, hanya bisa menahan hati” jawab Fa enteng. Seenteng angin sore itu yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Karyawan lain sudah pulang semua. Tinggal Fa dan Wida di kantor karena harus menyelesaikan laporan penelitian. Fa dan Wida sama-sama penggemar sejuk AC alami. Jika mereka hanya tertinggal berdua di kantor, no AC.
Wida melotot. Ia segera menutup file setelah memastikan datanya tersimpan aman. “Pekerjaan kita kali ini benar-benar membuatmu lelah sepertinya, Fa. Fisik yang lelah kadang membuat pikiran kita terganggu, lho. Ayo, di-save dulu. Besok saja lagi.”
“Ah, siapa bilang? Aku masih fit kok. Nih, lihat” Fa berdiri sambil memutar tubuhnya 360 derajat.
“Berarti, otakmu yang lelah. Ada yang korslet barangkali sampai kamu menggugat hal yang satu itu,” Wida tergelak.
“Enak aja. Kamu yang korslet” Fa menimpuk Wida dengan kertas buram yang menggumpal di mejanya.
“Hati-hati bicara lho, Fa. Salah-salah kamu nanti dituduh aliran Islam liberal, kalau nggak, dibilang kafir.”
“Iya, iya, bos…. Maaf deh, ku delete ucapanku.” Fa mengemasi barangnya. Sebenarnya ia berharap Wida menusiknya agar ia bisa menumpahkan beban hatinya.
* * *
Sore mengantarkan resah ke lubuk hati Fa. Pelabuhan Lama, satu-satunya tempat yang disukainya, menjadi penjeda sebelum pulang, sebelum matahari terbenam sempurna. Angin mengibarkan kerudungnya. Fa memandang riak-riak kecil berwarna coklat muda yang terhampar di hadapannya. Tak dipedulikannya pengunjung lain yang lalu-lalang di sekitarnya. Ia ingin berceloteh pada sungai dan angin. Sesekali ditatapnya layar ponselnya. Fa membaca ulang beberapa pesan di kotak masuk dalam seminggu terakhir yang sengajanya tidak dihapus. Seminggu terakhir ini ia nyaris tak pernah tak menjeda perjalanannya dari kantor ke rumah dengan ritual seperti itu. Ritual membacakan sms untuk sungai dan angin. Sampai ia merasa yakin azan akan berkumandang untuk daerah Banjarmasin dan sekitarnya, barulah ia meninggalkan Pelabuhan Lama.
Di perjalanan pulang, sambil menyetir hanya ada satu nama yang berputar-putar di kepala Fa. Sebuah nama yang akan menghubungkannya dengan nama lain. Re. Ya, nama itu lah yang akhir-akhir ini memenuhi kotak masuk di ponselnya. Sebuah nama yang akan menghubungkannya pula dengan nama Salman dan Rijal menjadi sebuah rajutan syal yang kusut masai. Ia tak tahan lagi. Kali ini ia ingin berbagi. Di tekannya nomor kontak Wida. Fa mengalurkan ceritanya, membagikan kepingan-kepingan kisahnya yang belum diketahui Wida. Sudut matanya mengalirkan bening sesalan. Ia yakin, Wida di ujung ponselnya pun sedang menangis. Ia merasakan pelukan sahabat terbaiknya itu dari jauh.
* * *
Sapuluh parkara kubawahakan, satu per satu kukatakan, nanti maknanya kupacahakan: satu tali, dua lalaran, tiga tungkat, ampat ukuran, lima jarum, anam kulindan, tujuh kompas, delapan padoman, kasambilan teuri politik, yang kasapuluh dengan aturan.
Sapuluh tadi dengan aturan di mana tadi awal parmulaan ini maknanya kupacahakan. Satu tali tadi dua lalaran tiga taqdimtaqlim yang ditantukan. Malam ini kita balamutan carita bahari kubawaakan. Memang badanku sebagai palamutan tiada mamakai buku atau tulisan, tiada di kitab seperti Quran, tiada dijual dari pasaran, tiada batajwid seperti al-Quran…[2]

Fa membaca kitabnya pelan-pelan. Sesekali ia menyeka air mata yang menggantung di pipi dan sudut bibirnya. Saat seperti ini adalah saat terdekat Fa dengan Tuhannya.
Fa malu karena ia telah melanggar aturan. Aturan tertinggi dalam hidupnya yang juga menjadi aturan tertinggi Ibu Bapaknya, Kai Nininya, Datu-Datunya. Tak ada yang lebih melukai selain dikhianati. Tak ada yang lebih memalukan selain mengkhianati. Fa tidak kunjung mengerti kenapa ia sampai bisa jatuh hati dua kali dalam hidupnya. Pun ia tak pernah memahami kenapa matanya yang awas itu bisa dibutakan oleh pesona lain. Bahkan logikanya tak jua menemukan jawaban kenapa perempuan selengkap ia bisa merasa lebih lengkap oleh kehadiran pelengkap lain selain Rijal.
Salman. Lelaki berusia tujuh tahun di atasnya yang selalu menggunakan kata ganti ulun untuk menyebut dirinya meski dengan orang yang lebih muda. Lelaki cerdas tapi sederhana yang beramalan ilmu padi. Lelaki sederhana itulah yang telah mengubah sedikit saja haluan jiwa Fa. Sesederhana perkenalannya. Mereka bahkan tidak berkenalan secara langsung. Fa mengetahui ada seseorang bernama Salman di focus group discussion-nya dari daftar hadir yang dibagikannya ke peserta. Saat membaca daftar hadir itu, samar-samar Fa ingat, ada budayawan atau sastrawan bernama Salman yang berasal dari Hulu Sungai yang suka membuat tulisan tentang sastra dan budaya Banjar. Lalu ia membisiki  Wida agar mencari tahu yang mana di antara peserta tersebut yang bernama Salman. Wida mencari tahu ke peserta lain, lalu memberitahukannya pada Fa. Begitu saja. Ya, begitulah perkenalannya dengan Salman.
Fa ingin lamut sebagai bahan disertasinya untuk meraih gelar Doktor. Teman-temannya sudah mengingatkannya bahwa meneliti lamut seperti mengurai benang kusut. Rijal bahkan mengumpamakannya seperti melukis dalam air saking susahnya meneliti lamut menurutnya. Fa seperti cadas. Ia kukuh mau mengangkat lamut.
“Jangan ribet-ribet deh, Fa. Yang penting kamu cepat lulus dan jadi Doktor” ucap Wida.
“Tapi aku mau lamut, Wid” rengeknya.
“Kenapa harus lamut?”
“Karena aku peduli!” suara Fa meninggi.
“Peduli itu sama anak yatim, orang miskin, orang terlantar, korban bencana…” sanggah Wida.
“Aku melihat kondisi Lamut sekarang lebih buruk dari itu, Wid” Fa mulai berorasi.
“Ah, terserah kau lah, Fa” Wida kehabisan bahan. Ia terlihat sebel karena tak sependapat dengan Fa.
“Tapi, kau mau membantuku, kan?” suara Fa melunak karena melihat wajah Wida yang mulai tak bersahabat.
Wida langsung mengacak-acak kepala Fa sampai kerudungnya mencong-mencong. “Alah…sudah ada maunya, baru deh ramah….”
Ternyata pendapat teman-temannya ada benarnya juga. Minggu-minggu pertama penelitiannya, Fa kewalahan. Data yang diperolehnya simpang siur. Ada yang bilang lamut asli Hulu Sungai Selatan. Ada juga yang bilang, lamut dari Cina di bawa ke Hulu Sungai Utara.[3] Referensi juga kurang lengkap. Yang paling membuat Fa nyaris menyerah adalah kenyataan bahwa lamut adalah tradisi lisan yang hampir punah. Menelitinya tak bisa dikerjakan sambil lalu dan sendirian di dalam kamar sambil tidur-tiduran seperti meneliti sastra tulis. Meneliti lamut berarti menjalin kerja sama. Fa harus turun ke lapangan, menggali informasi dari informan dan palamutan. [4]
Meski dari awal menyatakan siap membantu, Wida kadang absen juga. Rijal juga tidak terlalu bisa diandalkan, ia sibuk dengan proyeknya. Entah bagaimana awalnya, akhirnya yang banyak membantunya adalah Salman. Salman sampai menginap berhari-hari di rumah temannya hanya untuk membantu Fa. Waktu Fa menanyakan alasan kenapa Salman mau repot-repot membantunya, jawaban Salman membuat Fa merasa “sesuatu”.
Ulun peduli dengan lamut….” Salman menjawab dengan santai.  Ia membutiri beberapa alasan tapi Fa tidak mendengarkan lagi. Cukup kalimat awalnya saja yang ia simak. Kalimat yang membuatnya merasa se-misi dengan Salman.
Fa tidak akan lupa saat tinggal lima orang saja di ruang pertunjukan – salah satunya Salman. Saat itu, ia terkantuk-kantuk menyaksikan palamutan menuturkan serunya kisah Kasan Mandi sambil manapak terbang. Wida serius merekam pertunjukan. Salman menyeduhkan secangkir kopi manis untuk Fa. Semula Fa mengira kopi itu untuk palamutan. Ketika tahu kopi itu untuknya, Fa terbengong-bengong.
Rekonstruksi lamut hampir selesai. Salman sudah pulang ke kampungnya tapi komunikasi tetap terjalin lewat sms. Fa sering meminta pendapat-pendapat Salman tentang sastra. Ia nyaris lupa kalau Salman lulusan SMA. Berdiskusi dengan Salman seperti berbicara dengan doktor sastra dari negeri antah berantah yang belum pernah ditemuinya. Salman juga ahli membuat puisi. Fa dikiriminya beberapa. Lama-lama ia jadi terbiasa dengan Salman. Terasa ada yang janggal jika tak menerima sms Salman. Semacam perasaan mengganggu yang rasanya sama dengan perasaan  jika lama tak mengunjungi Ibu. Ah, bukankah itu kangen namanya? Lalu terciptalah bait-bait puisi di laptopnya. Bait-bait tentang Salman.
Hingga suatu sore yang berpelangi. Fa sedang membaca naskah transkrip lamut, ada kosa kata yang membuatnya bingung. Ia teringat Salman tapi tidak enak hati menghubunginya. Rasanya sudah terlalu sering ia mengganggu Salman. Lagi pula, ia sedang ingin menghindar dari Salman. Tengah Fa menimang-nimang ponselnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi ponselnya. Ada pesan masuk. Ternyata dari Salman! Fa hampir memekik. Ia seperti anak kecil yang baru dijanjikan es krim.
Ulun lagi ngetik naskah baru nih. Mau dikirim ke penerbit.
Fa segera membalasnya, baru aja mau sms pyan.
Wah, kayaknya kita sehati…hohoo.., Salman membalas.
Fa terhenyak. Entah kenapa, ia merasa ada yang aneh menyusup ke ruang hati. Seperti ada yang mengalir, menelikung di lorong-lorong jiwa. Ramai dan sepi bersilangan. Fa merasa senang sekaligus cemas.
Jujur, kata “sehati” membuatku takut. Fa memejamkan matanya sambil menekan tombol di ponsel. Di layar tertulis pesan terkirim.
Duh, maaf kalau ulun keliru menggunakan  kata “sehati” untuk menggambarkan keadaan yang terjadi. Kenapa takut? Salman membalas.
Fa bingung mau membalas apa. Akhirnya ia hanya mengirim satu kata, Entahlah…
Duh, bisa jadi bahan tulisan, tuh! Kalimat itu yang dikirim Salman berikutnya.
Fa langsung membalas, Sudah tercipta sepuluh puisi. Mendadak puitis.
Sekitar lima menit kemudian Salman membalas Wah…wah… menurut Socrates, semua orang mendadak jadi penyair kalau sedang jatuh cinta. Hayoo…
Balasan Salman membuat Fa panas dingin. Ia bertanya-tanya apakah sebenarnya Salman tahu apa yang ia rasakan. Apakah Salman juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan? Fa tak berani berharap. Fa merasa seperti anak baru gede yang sedang terlibat cinta monyet. Ia merasa sangat konyol tapi tangannya mengetik, Itulah yang kutakutkan.
Salman pasti kehabisan kata. Ia hanya membalas dengan Hm…
Akhirnya Fa pun membalas Hm…juga. Setelah itu ia menghapus semua item di kotak pesan ponselnya.
Sejak hari itu Fa seperti orang linglung. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Yang ada di pikirannya hanya Salman dan Salman. Fa tahu apa yang dirasakannya adalah sebuah pelanggaran tapi ia tetap membiarkan perasan-perasaan itu dan menyimpannya rapi-rapi. Fa seperti menyimpan bom waktu yang kapan saja bisa meledak.  
Tak usah menunggu lama. Bom itu ternyata justru meledak di hulu sana. Di subuh yang luka, seseorang yang mengaku tulang rusuk Salman, seseorang yang bernama Re menelpon ke ponselnya. Di saat ia baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyucikan jiwa dan raganya dengan air wudhu. Seharian itu dan hari-hari selanjutnya Fa menerima luapan kecaman dari Re. Fa sangat paham apa yang dirasakan Re. Tak ada pembelaan apa-apa dari Fa atas sumpah serapah Re. Fa hanya satu kali mengirim balasan, sebuah kalimat singkat bahwa tak ada apa-apa antara ia dengan Salman.
 Lalu datanglah sms ini, Minggu depan aku labuh ke Banjar. Aku mau ketemu kamu. Tempatnya kau yang tentukan. Sms inilah yang menggiring burung-burung cemas ke langit pantai hati Fa. Untuk apa Re ingin bertemu dengannya? Untuk menambah luka hatinya dan hati Fa? Wida tak berani menyarankan apa-apa. Fa tahu, sahabatnya itu sebenarnya kecewa dengannya.

***
sungai adalah kaca bening
di permukaannya selalu terpantulkan wajah yang bingung,
entah milik siapa.
(mungkin juga wajah kita sendiri) yang mencari ke luhuk-
luhuk tersembunyi [5]

Beberapa menit Re dan Fa mematung. Keduanya mengakrabi pertemuan langit dan sungai yang menjadi kawan setia kapal-kapal putih. “Menikahlah dengannya. Aku siap dimadu. Jika kau mau, aku bersedia membagi Salman denganmu.” Di Pelabuhan Lama, Re menawarkan jaring untuk menangkap angin pada Fa.
Fa melotot mendengar tawaran Re. Ia luruh. Ada yang menggedor-gedor pintu jiwanya yang lelah. “Aku tak bisa menikah dengan Salman,” derai Fa.
“Tapi kenapa?” tusik Re. “Itu jalan yang sesuai aturan.”
Fa mematung. Pandangannya lurus ke tengah sungai. Sore tidak menyuguhkan gerimis tapi Fa merasa ada yang membasahi hatinya. Tidak semua pertautan hati bisa disimpulkan dalam ikatan pernikahan, batin Fa.
“Kau dan Salman sama saja. Tak ada yang mau menerima tawaranku. Aku tahu, ada sesuatu di antara kalian,” desak Re.
“Kau lihat laki-laki yang sedang bermain lempar tangkap bola dengan balita lucu itu?”Fa menunjuk ke seberang jalan. Re mengikuti tunjukan Fa.
“Laki-laki itu namanya Rijal dan balita itu, Adit. Suami dan anakku,” Fa menggetaskan hatinya.
Kali ini gilaran Re yang membisu. Beberapa detik keduanya tak bersuara, larut dalam pikiran masing-masing. Angin sibuk mengibarkan kerudung keduanya.
“Re, aku janji, setelah ini aku tak akan menghubungi Salman lagi,” ucap Fa.
“Kau tidak tapi Salman iya!” Re menyahut cepat.
“Dia tak kan bisa lagi. Percaya padaku,” sekonyong-konyong Fa melempar ponselnya sekuat tenaga ke tengah sungai, menciptakan bunyi cemplung dan riak-riak di permukaannya beberapa saat. Setelah itu sungai kembali tenang dan bisa dijadikan cermin. Fa yakin, hatinya pun seperti sungai itu. Besok atau besoknya lagi, pasti ia akan melupakan Salman.
* * *
Aku tersenyum. Cerpenku dimuat. Kali ini aku tak memakai nama asli. Takut sepenggal kisahku diketahui oleh orang lain. Beginilah kalau pengarang lagi jatuh cinta, bisa jadi ide cerita. Sebelum cerpen itu jadi, aku tak bisa ngapa-ngapain. Gara-gara karindangan dengan seseorang. Setelah kujadikan cerpen, lumayan, bisa membuatku lebih tenang. Mungkin ini bagian dari proses kreatifku?
“Kenapa, La, senyum-senyum sendiri baca koran?” tanya adikku. “Cerpennya lucu, ya? Cerpen siapa?”
“Tidak lucu sih…tapi aku senang aja membacanya. Nama pengarangnya Nayomi.” Aku menutup koran Minggu. Lumayan, bisa beli buku baru nih dari honornya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Hai, Fa. Apa kabar?
Aku kaget setengah mati. Berarti ada yang tahu kalau penulis cerpen itu adalah aku! Segera kubalas sms nya, Siapa, neh?
Aku Salman
Aku buru-buru mematikan ponsel. Apakah itu dia? Bagaimana dia bisa tahu? Apakah aku harus membuang ponselku ke sungai juga seperti tokohku? Aku memandangi ponselku. Ah, enggak ah. Sayang, kan ponselnya? Ganti kartu aja. Beres.
***

Catatan:
Beberapa bagian yang menyangkut lamut, datanya  diambil dari artikel/esai Sainul Hermawan dalam bukunya Maitihi Sastra Kalimantan Selatan  2008-2011:




[1] kutipan ucapan palamutan yang biasa dibawakan oleh Jamhar Akbar di awal pertunjukan, lihat  Hermawan, 2011:265.
[2] kutipan ucapan palamutan yang biasa dibawakan oleh Jamhar Akbar di awal pertunjukan, lihat  Hermawan, 2011:265.
[3] Lihat Hermawan, 2011:252.
[4] Lihat Hermawan, 2011:234
[5] Penggalan puisi Hajriansyah, “Sungai Adalah Kenangan dan Mimpi yang Terang”, dikutip dari buku Sungai Kenangan, 2012:66