Kamis, 02 Mei 2019

Dear, Wi. Ini Puisi-puisiku Lagi.

23.02 0 Comments
Sudah tengah malam. Beberapa saat lagi sudah menjadi "kemarin". Aku menyelesaikan sekian puisi yang menurutmu harus kutambah lagi.

Kautahu Wi. Ini bukan pekerjaan mudah. Aku melakukan survei dan observasi mendalam sebagaimana ketika aku menulis karya ilmiah dan novelku Sekaca Cempaka.
Ini jauh lebih sulit dari yang pernah aku kerjakan.

Aku nongkrong di kafe meski lebih banyak sedihnya kalau duduk sendirian di sana tapi lumayan, dapat beberapa puisi; memesan semangkok mie goreng di kantin kampus agar bisa duduk melihat tingkah orang-orang; mendekam di sekre karena di sana aku dapat feel lebih tentang cinta.

Aku ingin tulisanku tidak semata subjektivitasku tentang cinta. Aku ingin tulisanku mewakili orang lain. Aku tahu di luar sana banyak orang dengan problematika cintanya masing-masing. Aku ingin puisiku bisa menerjemahkan semua itu ke dalam bahasa kita. Puisi.

Aku berada di titik paling hampa saat puisi terakhirku selesai.
Aku merasa ada banyak ruang kosong dalam jiwa. Setelah puisi puisi itu aku tuliskan, mereka seakan menerobos keluar dari jiwaku sehingga aku menjadi sepi.

Dear, Wi.
Hari ini aku menyadari. Aku lahir sendirian ke dunia ini dan suatu saat akan kembali sendiri. Harusnya aku tidak perlu takut jika akan kembali  sendiri.
Tidak ada yang abadi. Semua akan pergi, kecuali kenangan. Baru saja, seseorang yang kukira menganggapku teman mengucap kalimat perpisahan. Semacam let me go, let me alone, dont disturb me, i am boring, Im tired, dont wanna talk about it, etc. Seperti yang sudah-sudah juga kan takdirku?

Tidak ada teman selamanya atau selamanya teman. Meski demikian, aku selalu menyisipkan doa, "Tuhan, jangan biarkan teman terbaikku pergi kecuali dia bisa menggubah airmataku menjadi sebuah  prasasti lagu di tengah pantai."

Rabu, 01 Mei 2019

Pasca Operasi Pemasangan Grommet pada Telinga Anakku

10.34 0 Comments

Blog ini kubangun dengan visi merawat kenangan. Aku menjadikan Tatirah sebagai tempat memajang prasasti hati, kemudian menjadikannya pelajaran berharga untuk diri sendiri yang masih suka alfa dan khilaf. Aku pun berharap, Tatirah berguna buat orang lain, meski hanya seujung kuku.
Suatu hari, aku mengalami problem kesehatan pada salah satu anakku. Hal-hal yang masih benar-benar asing bagi orang awam sepertiku mendadak harus aku pelajari. Sebagaimana masyarakat lain yang hidup di zaman millenial, aku langsung googling mencari informasi. Ternyata tidak banyak artikel yang memuat persoalan seperti kami alami. Sejak itu aku bertekad menuliskannya. Aku yakin, di luar sana akan ada orang lain, para ibu yang bernasib sama dan barangkali memerlukan informasi seperti yang terjadi padaku ketika itu.

Alasan itulah yang membuat artikel yang berjudul Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku kutulis. Dugaanku benar. Banyak orang lain yang mencari informasi sama dengan yang aku tulis. Mereka mampir di Tatirah. Beberapa di antara mereka malah menghubungi aku melalui akun media sosialku karena ada hal lain yang ingin ditanyakan. Bagiku, hal yang mungkin receh bagi orang lain  itu, umpama intan mungil yang kutemukan di area pertambangan.
Sebagian besar yang ditanyakan adalah bagaimana keadaan anakku pasca operasi pemasangan grommet di telinganya; berapa lama benda itu bercokol mendekam mesra di telinga; bagaimana prosedur pelepasannya serta berapa peluang keberhasilan operasi untuk kesembuhan anakku. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena baru saja bisa menuliskannya. 

Aku merekam dengan cara mencatat semua kejadian di buku diary-ku. Kapan waktu/tanggal-tanggal kejadian, apa yang terjadi, apa yang dimakan anakku, apa obat yang diresepkan, apa yang dikeluhkan dia, semua kucatat. Kuharap kalian sudah membaca link sebelumnya ya, tentang riwayat awal anakku harus menjalani operasi. Agar tidak ada informasi yang hilang atau tidak nyambung.



Keluar dari Ruang Operasi
Anakku dioperasi Kamis, 16 November 2017.
Cukup lama kami menunggu anakku bisa keluar dari ruang operasi karena menunggu dia siuman. Reaksi obat bius sepertinya cukup lama bekerja. Ketika keluar dari ruang operasi, keadaan dan kondisinya terlihat sangat lemah. Badannya yang kurus membuat dia terlihat sangat memprihatinkan. Sungguh aku tidak tega melihatnya.
Ingin menangis rasanya tapi sini kuberitahu satu hal, saat-saat seperti itu, sejak serangkaian pengobatan ini kita pilih, jangan pernah memperlihatkan isi hati kita sesungguhnya kepada anak. Sebagaimana bahagia, sedih dan cemas menular. Jangan menularkan kecemasan kita yang tidak beralasan kepada anak. Jangan membebani anak karena sesungguhnya dalam hati dan otaknya sendiri dia sudah sangat cemas. Selain mencemaskan dirinya sendiri; anak juga mencemaskan ibunya. Ia cemas keadaannya akan membuat ibunya bersedih.
Hal pertama yang diinginkan oleh anakku adalah minum dan makan. Sebagaimana prosedur operasi umumnya, dia harus buang angin dulu baru boleh makan dan minum. Akan tetapi seingatku saat itu terjadi sedikit perbedaan pendapat antar tenaga medis. Ada yang menyebut istilah bising usus dulu baru anakku boleh minum dan makan. Ada yang membolehkan minum, ada yang keras melarangnya. Kami memilih untuk menahan dulu, meski anakku merengek-rengek kehausan.
Yang membuat keadaan hatiku lebih berat adalah kembarannya yang bersikeras juga untuk tidak makan.
Tidak lama kemudian anakku muntah. Sepertinya ini bagian dari efek pembiusan atau mungkin efek proses operasi. Untuk itu dia diresepkan obat penahan muntah. Setelah muntah itu, kondisi anakku semakin terlihat lemah. Kalau saja aku tidak menahan diri, aku sudah panik saat itu. Aku bahkan menumpahkan sebotol obat syirup karena kegugupanku melihat kondisi anakku.
Setelah boleh makan, anakku justru kehilangan selera makannya. Dia hanya mau disuapi biskuit yang dicelup di air hangat. Dokter juga menyarankan agar anakku makan yang lembut dan lunak saja dulu. Malamnya, dia mulai makan bubur nasi.
Dokter jaga yang pada umumnya para dokter muda alias dokter coas bergantian mengunjungi dan memeriksa. Anak-anakku sangat sosial. Mereka cepat akrab dengan para tenaga medis yang mendatangi kamar anakku. Beberapa sempat mencandai tentang siapa yang sakit, siapa yang akan diperiksa karena kekembaran anakku.
Oiya saat itu, selain bermasalah pada telinga, anakku juga ada sedikit masalah pada hidung. Untuk itu, dia diresepkan obat tetes hidung. Hari kedua, anakku minum obat batuk karena dia masih batuk pilek. Hari itu suhu badannya tinggi sehingga belum  boleh pulang. Beberapa nama obat yang diresepkan untuk anakku, yaitu Vometa, Iliadin Oxymetazoline, Ambroxol, Kamolas,  dan Cetrizones.
Selain soal makan, aku juga mengamati timing anakku buang air kecil dan buang air besar. Bagaimanapun, proses operasi akan mempengaruhi sistem yang bekerja pada tubuh anakku, seperti sistem kerja lambung, pencernaan, pengeluaran.
Hari ketiga, ada darah keluar dari telinga kiri anakku. Untungnya telinga kanan tidak. Akan tetapi menurut dokter, hal tersebut bisa ditangani dengan rawat jalan. Satu hal yang harus kami ingat juga, penyebab atau rujukan anakku dalam surat asuransi adalah tindakan operasi-nya bukan hal lain.
Satu pekan berikutnya, 23 November 2017
kami membawa anakku kontrol ke rumah sakit lain, tempat dokter yang memimpin operasi anakku bertugas di malam hari. Di tempat praktiknya terdapat sarana atau alat yang memungkinkan kita bisa melihat apa yang terjadi pada bagian dalam telinga kita melalui tampilan di layar monitor. Hasil pemeriksaan malam itu bagus. Luka operasi sudah menegring. Hanya, masih ada pilek dan amandel pada anakku yang harus ditangani.

Cara Kerja Grommet
Grommet itu bukan obat. Grommet bukan penyembuh dalam arti simpel seperti kita demam lalu minum obat penurun panas, lalu sembuh. Tidak seperti itu. Jadi, grommet itu adalah alat yang akan membantu proses penyaluran,  pengeluaran atau pembuangan cairan yang menumpuk di dalam telinga. Ketika cairan yang memenuhi telinga sudah keluar semua, itulah fase sembuhnya.

Inilah yang harus kami lakukan pasca operasi
Ada beberapa hal yang harus kami perjuangkan. Kami harus menyembuhkan pilek, batuk dan amandelnya dengan segera lalu mempertahankan kondisi positif tersebut pada anakku. Jika tidak, grommet pada anakku tidak bisa dilepas karena artinya proses pengeluaran cairan masih diperlukan. Sementara itu, grommet itu sendiri ada masa kadaluarsanya untuk bisa bertahan di dlam telinga. Sebuah dilema  bukan? Melepas grommet sebelum anakku sembuh berarti kegagalan.
Kata dokter, jika anakku segera sembuh, sebenarnya kadang grommet yang sangat kecil itu bahkan bisa lepas sendiri tanpa perlu dilepas oleh dokter. Akan tetapi peluang dia terlepas sendiri pada saat anakku belum sembuh juga ada.
Anakku harus benar-benar dijaga keadaan telinganya untuk tetap kering. Tidak boleh kemasukan air. Ini tantangan terberat juga bagi kami karena anakku hobi main air. Aku membelikan dia penutup kepala dari plastik yang biasa dipakai untuk mandi agar rambut tidak basah tetapi aku memasangkannya sampai ke telinga. Di tahap awal aku malah memasangkan bulatan kapas di telinganya sebelum dia mandi untuk lebih berhati-hati. Tiap bangun tidur, kami memeriksa sprei apakah grommet terlepas. Ini lucu sekaligus mencemaskan.
Satu pekan berikutnya, Jumat 1 Desember 2019, anakku pusing hebat seharian dan muntah-muntah. Aku mencari informasi di internet, kudapatkan hasil bahwa kemungkinan ada yang tidak beres dengan telinga anakku.
Besoknya, kami membawanya ke tempat praktik dokter. Menurut dokter, anak kami kena radang/infeksi pada telinga kanannya, ada nanah. Inilah yang menyebabkan dia pusing sedemikian hebat. Telinga kiri sudah membaik. Malam itu telinga anakku dibersihkan. Kami menebus resep obat dari dokter.
Problem utama anakku adalah alergi yang menyebabkan batuk pileknya lambat sembuh. Beberapa pantangan diberitahu oleh dokter. Tidak hanya makanan dan minuman, udara, benda dan hewan di sekitar, bahkan debu bisa menjadi pemicu alerginya.  Alergi itu yang menyebabkan dia lambat sembuh. Aku menjadi ibu phobia debu.
8 Desember 2017, sehari sebelum hari ulang tahunku kami kontrol lagi ke dokter. Grommet-nya aman masih terpasang  manis keduanya di telinga, amandelnya tidak radang lagi tetapi pilek masih ada sedikit. Anakku harus menjaga pola makan dan dianjurkan olahraga sendiri seperti melompat-lompat setiap pagi sebelum mandi sebanyak 50 kali. Kebersihan rumah harus benar-benatr dijaga dari debu. Aku menggulung semua karpet berbulu, menyingkirkan bantal, guling, boneka dan benda-benda berbulu lainnya yang berpeluang menyimpan debu.
27 Desember 2017 anakku pusing lagi sampai muntah-muntah. Saat itu dokter langganan kami sedang tidak ada. Penggantinya ternyata sama kerennya dalam komunikasi dan pelayanan. Malam itu, anakku muntah dua kali sesampai d rumah. Anakku diresepkan obat.

Proses Melepas Grommet
10 Januari 2018 anakku kontrol lagi dan keadaannya mulai membaik sehingga 15 Februari 2018, grommet pada anakku siap dilepas. Kami mengantri di tempat praktik dokter dengan nomor antrian 7. Janagn tanya bagaimana kecemasan dan kepanikan kami. Bahkan asisten dokter yang ramah itu bisa kulihat kecemasannya juga. Anakku dioles salep yang bekerja sebagai penahan nyeri. Semacam bius lokal. Salep itu dioles 20 menit sebelum grommet dilepas.
Jadi, untuk melepas  grommet tidak diperlukan prosedur operasi yang seperti operasi sebelumnya. Tidak perlu bius total.  Anak tidak perlu dibuat tidur atau hilang kesadaran. Dokter melepasnya dengan menggunakan peralatan dia di ruang praktiknya dan kami bisa melihat prosesnya. Grommetnya diperlihatkan dan disimpan oleh dokter. Aku tidak tertarik menyimpannya. Itu seperti mimpi buruk bagi kami. Benda itu akan membuat kami mengenang hal tidak baik.
Seluruh rangkaian tersebut dijalani anakku dengan sangat manis. Dia tidak menangis sama sekali. Asisten dan sang dokter berkali-kali mengacungi jempol sambil memperlihatkan ekspresi kagum. Asisten dokter membisikiku, “Anak ibu hebat, luar biasa. Anak lain sering kali menangis dan mengamuk menjalani proses ini.”
Masih Harus Berjuang
13 Februari 2018 dan 22 Februari 2018 anakku kembali mengeluh pusing.
Pada kedua tanggal itu, aku melarikan anakku ke praktik dokter THT. Aku lagi-lagi berfirasat ini ada hubungannya dengan telinganya. Dokter yang baik itu begitu telaten mengobati anakku.
Hingga ketika 1 April 2019 anakku mengeluh pusing lagi, sesuai saran dokterku sebelumnya, kami kali ini ke dokter spesialis anak. Kami menceritakan semua kronologinya. Dokter membuat rujukan ke lab untuk cek darah. Alhamdulillah setelah itu anakku sembuh.

Catatan penting
Ketika anak sakit, pada anak usia sekolah, maka dia akan ketinggalan pelajaran. Dalam hal ini, aku tidak pernah memaksa anakku untuk mengejar ketinggalannya. Aku membiarkan semua apa adanya sebatas kemampuan anakku. Aku hanya ingin anakku sembuh, sehat dan selalu bahagia.
Ketika ini terjadi pada anak kembar, maka yang ditangani oleh orang tua bukan hanay satu anak melainkan keduanya. Terutama pada anak kembar identik. Aku selalu berusaha memperhatikan kondisi psikologis keduanya.
Ketika anak sakit dan kita harus menjalani semua prosedur medis yang kadang menguras seluruh energi, kita harus selalu menekan emosi, menguatkan kesabaran, dan jangan mengeluh di hadapan anak. Perbanyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ketika para tamu dewasa datang menengok, pastikan kita tidak membicarakan penyakit anak di depan anak. Bisa saja dia mendengarkan dan menyimpulkan hal-hal menurut persepsi dia sendiri yang berakibat buruk di kemudian hari.
Berusahalah menjalin komunikasi dengan petugas medis dan jadilah orang tua pasien yang cerdas, tanggap terhadap semua situasi. Bertanyalah pada orang yang tepat jika kita mengalami kebingungan. Jangan lupa menjaga kesehatan diri agar kita tetap fit karena kita diperlukan oleh anak kita.
Terima kasih sudah mampir di Tatirah. Aku mencintai kalian. Semoga kita tetap sabar dan survive apapun yang terjadi. [] Nai

Lokalitas, Sebuah Ide dan Ramalan Masa Depan Film Banjar

02.38 3 Comments

Prolog


Semua genre dalam dunia pengisahan pondasinya adalah ide cerita. Ide cerita merupakan ruh yang akan memberi energi bagi jalannya cerita melalui para tokoh dan unsur instrinsik lainnya. Terutama dalam film, ide cerita merupakan bagian utama yang akan menentukan keberhasilan dunia pengisahan. Kekuatan idelah yang akan menuntun para aktor untuk memerankan tokoh yang diamanatkan kepadanya. Dalam idelah tersimpan pesan-pesan bijak dunia seni dan kisah. Kualitas idelah yang akan menyemangati para penggarap untuk bertahan hingga akhir. Puncaknya, ide cerita yang berterima di hati dan otak penontonlah yang akan memuaskan dan memberi manfaat bagi mereka.
Hal tersebut menghantui pikiran saya ketika melangkahkan kaki menuju acara Screening Layar Film Banjar yang digagas oleh Forum Sineas Banua. Saya mendapat tiket gratis menghadiri acara tersebut sebagai hadiah sebuah kuis di akun instagram panitia. Dari berbagai informasi yang tayang di akun-akun media sosial panitia, saya menemukan screening schedule sebagai berikut:

Berdasarkan beberapa pertimbangan - di antaranya kelonggaran waktu dan kemungkinan bisa ngopi di lokasi - saya  memilih menghadiri yang 30 April 2019 di Capung Cafe n Resto Banjarmasin dimulai pukul 20.00 wita.
***
Malam itu, ada 8 film yang terpilih untuk ditayangkan dengan durasi bervariasi. Kedelapan film tersebut yaitu Mahiyau, Puan Panting, Dindra, Terlambat, Anum, Kada Bara Wara, Sarakap dan Pamit.

Lokalitas dan Sebuah Ide
Sejak awal mendengar dan mengetahui ada acara ini, saya bertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan film Banjar dalam hal ini. Sisi peneliti, dunia akademik saya membuat saya bertanya-tanya apakah definisi operasional film Banjar dalam konsep penyelenggara. Apakah seluruh film yang dibuat oleh orang Banjar; apakah film berbahasa Banjar; ataukah film yang bersetting Banjar atau perpaduan semuanya?
Menonton film-film tersebut, saya menyimpulkan sendiri apa yang dimaksud film Banjar dalam hal ini, yaitu perpaduan semua hal tersebut.
Para penggarap dan penyumbang ide film-film tersebut saya kira berusaha keras menghadirkan ide-ide yang bersinggungan dengan lokalitas. Lokalitas sampai sejauh ini (bahkan di era millenial) masih merupakan tema seksi dalam dunia pengisahan. Kajian-kajian tentang lokalitas tidak akan saya bahas semuanya di sini, yang pasti lokalitas tidak melulu persoalan bahasa dan atribut-atribut kesukuan atau kedaerahan. Lokalitas merujuk pada hal-hal yang menjadi denyut nadi dan inti persoalan yang ada. Oleh sebab itu, ia tidak hanya tempelan-tempelan penghias yang akan menjadi simbol tanpa makna. Tidak. Ia lebih dari itu. Ia adalah jantung cerita. Yang tanpanya, cerita tidak akan hidup. Yang tanpanya cerita akan hambar, basi dan biasa saja. Itulah hakikat lokalitas.

Dari kedelapan film yang saya tonton, Film Mahiyau yang diproduksi oleh Neotimo merupakan film dengan tingkat lokalitas terbaik sependek pengetahuan saya. Keseluruhan unsur yang ada dalam film ini diangkat dari tema besar hal-hal mistis yang memang menjadi bagian dari hal-hal yang dipercayai oleh sebagian orang Banjar. Dalam film yang disutradarai oleh Akhmad Megryan ini, nyaris tidak ada sisi yang mubazir atau sekadar tempelan. Setiap dialog, setiap adegan menjalankan peran dan fungsinya sebagai sebuah sistem yang mengarah pada satu sistem ide yang sama dengan judul film ini, yaitu Mahiyau (sebuah ritual pemanggilan jiwa orang yang dipercayai disembunyikan di alam gaib). Pelaksanaan ritual yang dilakukan Bainah; ritual yang dilakukan Khairi, merupakan sisi mistis yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita.


Sarakap yang disutradari oleh Upin Barikin berada pada nomor urut dua dalam hal  lokalitas yang jika diungkapkan dengan angka atau point, secara kuantitas bersaing ketat dengan Mahiyau. Kemampuan pemilik ide dan para penggarap dalam menghadirkan sisi kehidupan urang pahumaan dan urang paiwakan merupakan hal utama yang benar-benar mewakili satu sudut lokalitas urang Banjar. Film ini mengungkap sisi geografis tanah Banjar, lingkungan dan alam yang mempengaruhi mata pencaharian mereka. Dalam film ini tersampaikan ide bahwa ketika mereka tercerabut dari akar kehidupan yang melahirkannya, berbagai kesulitan pun muncul. Hanya saja, kemulusan sisi lokalitasnya sedikit goyang dengan munculnya isu kecurangan yang dilakukan oleh pambakal. Isu ini sedikit mengaburkan kekuatan utama film ini dari segi lokalitas.
Kada Bara Wara yang disutradarai oleh Rizwan Azhar menempati urutan ketiga menurut perspektif saya dari sisi lokalitas. Isu-isu dan wacana dalam dunia pertambangan di Banjar (:Kalimantan) merupakan sisi lokalitas yang sangat jelas. Dalam film ini batu bara menjadi hal utama yang menjadi nafas cerita, bukan tempelan, bukan hiasan. Kalaupun ada sedikit kelemahan dalam film ini adalah setting dan suasana. Film tersebut mengambil setting Banjar di tahun yang sangat jauh di depan. Masa depan. Masa yang seharusnya didukung oleh perubahan-perubahan budaya, sikap, bahkan karakter.
Selebihnya, bagi saya sebagian besar film ini bicara tentang hal-hal psikologis. Film-film ini bicara tentang konflik batin, pencarian identitas dan jati diri, pertahanan hidup manusia yang dibalut dengan isu-isu karakter dan budaya.
Puan Panting, Dindra dan Pamit memiliki kekuatan pada teknik penggarapan, jalan cerita dan pengaluran. Menonton ketiga film ini berasa sedang menonton film-film nasional yang tayang di bioskop-bioskop besar. Mulai dari kemampuan para aktor/artis, teknik kamera/pengambilan gambar, tata suara, backsound, serta hal-hal teknis lainnya patut diacungi jempol. Hampir tidak terdapat cela dari ketiga film ini.
Film Anum, memiliki kekuatan dari teknik dan pemeran utama. Kemampuan akting pemeran utama dalam film ini layak mendapat apresiasi. Di usianya yang relatif masih muda, keterampilannya dalam seni peran sangat bagus. Meski tokoh utama film yang disutradarai oleh Yuniardo Alvares ini adalah anak-anak, saya kira film ini bukan untuk anak-anak. Di antara delapan film yang saya tonton, film Anum merupakan film yang cukup berat, yang memerlukan keseriusan lebih ketika menontonnya untuk mendapatkan inti cerita. Rumah Jomblo yang menjadi setting film ini, bisa jadi merupakan peran atau tokoh bayangan yang menjadi simbol utama cerita Anum.
Selain menghibur, sastra dan seni itu hendaknya bermanfaat. Saya kira, film dengan nilai positif terbanyak yang disampaikan - ada pada film Terlambat yang disutradrai oleh M. Nafidz Khalifa. Sedikit perbaikan pada teknik penceritaan dan alur akan membuat film ini berpotensi luar biasa positif untuk ditonton oleh seluruh pelajar.

Sebuah Ramalan
Secara umum, film-film yang saya tonton malam itu memberi angin segar bagi perfilman lokal khususnya film Banjar. Menyaksikan dengan seksama film-film tersebut membuat kita memiliki harapan yang positif terhadap masa depan film Banjar. Keberadaan film Banjar, kesuksesan film Banjar akan memberikan efek yang sangat baik bagi perkembangan budaya secara umum serta bahasa Banjar secara khusus yang pada ujungnya akan mempengaruhi bidang ekonomi dan bidang lainnya.
Terkait bahasa Banjar, saya kira inilah satu-satunya kritik yang ingin saya sampaikan. Bahasa Banjar sebagaimana bahasa lainnya memiliki kekhasan. Bahasa Banjar yang digunakan sebaiknya bukanlah bahasa Indonesia yang dialihbahasakan seadanya ke bahasa Banjar melainkan bahasa Banjar dengan diksi-nya yang khas sesuai konteks.
Akhirnya, selamat berkarya, tidak ada keberhasilan tanpa proses yang sungguh-sungguh. Semoga para sineas banua fokus pada pergerakannya dan melahirkan film-film terbaik yang dapat bersaing dengan film lainnya.

Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu

00.24 0 Comments

Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
(Menonton pakai perasaan/ Bukan Spoiler Evengers:Endgame)


Jauh-jauh hari, teman sekaligus editorku yang baik hati memintaku dengan sangat manis untuk menemaninya menonton film kesukaannya, Avengers:Endgame. Dia sangat takut dengan spoiler-spoiler yang bertebaran seperti hantu di sekitarnya, saking pengennya dia menghayati film ini. Konon dia adalah penggemar berat film-film marvels. Untuk itu, dia bahkan membelikanku tiket online dan memintaku mengatur jadwal yang tepat secara aku adalah orang paling sibuk sedunia (ini kulebih-lebihkan).



Aku bukan orang yang mewajibkan diri menonton film sebagai orang dalam golongan pertama. Aku tidak mengharuskan diri pergi ke bioskop. Aku tidak terlalu takut spoiler-spoiler karena bagiku dalam setiap kepala kita tersimpan mekanisme sendiri untuk menikmati sebuah tayangan. Beberapa film yang kutonton di bioskop selalu dalam misi spesial, misal aku kenal baik dengan produsernya (cie, siapa coba aku ini); aku nge-fans berat sama penulis ceritanya; ada puisi, ada hujan dalam film tersebut; atau misi menggalakkan film-film islami. Nah, Avengers ini tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut. Jadi, ini kategori  baru, yaitu ditraktir teman. Ditunggu traktiran lainnya ya. Hehe.
Aku penggemar drama korea. Aku suka film-film India. Aku salut pada film-film Hollywood. Aku pendukung film nasional yang bervisi jelas. Aku menonton semua sequel Iron Man. Aku kagum dengan teknologi yang dipakai Toni. Aku iri pada kecanggihan-kecanggihan yang ada dalam kehidupan Toni. Aku terpesona pada alur romantisme yang menyisip dan menyusup pada seri Iron Man. Bagiku, inilah film yang menyeimbangkan logika dan perasaan. Film yang memperjuangkan pentingnya kemajuan teknologi tapi juga mengedepankan perasaan.
Sebelum ke bioskop, aku menyempatkan diri googling. Mencari semua artikel dengan kata kunci mengarah kepada Avengers. Setidaknya, aku punya referensi di kepala. Sekali lagi aku tidak takut spoiler. Aku ingin jadi teman nonton yang baik, yang cerdas. Di awal penayangan, beberapa kali temanku menanyakan apakah aku mengantuk atau tertidur.  
Nah, ini oleh-oleh dari menonton Avengers. Aku menuliskannya untukmu. Sekali lagi, ini bukan spoiler.
Apalah arti sebuah kisah tanpa ide yang spesial. Endgame memilih ide besar “Andai”. Andai waktu dapat kembali. Andai permasalahan bisa diselesaikan dengan cara memutar waktu kembali. Andai sesuatu yang sudah terjadi tidak pernah terjadi. Ini merupakan persoalan yang sering ada dalam kebanyakan kepala dan hati manusia ketika mengahadapi masalah. Dalam dunia nyata, ini nyaris tidak bisa terjadi bahkan mustahil. Akan tetapi, itulah harapan yang paling banyak diinginkan oleh manusia. 
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Konsep mengulang waktu sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pengisahan. Lorong waktu di sinetron Indonesia, mesin waktu-nya Doraemon, dan masih banyak film lain yang menggunakan konsep ini (silakan googling sendiri). Yang membedakan adalah tekniknya. Keindahan teknik pengembalian para tokoh Avengers ke masa-masa lalu mereka tidak diragukan lagi. Seperti film Hollywood lainnya, teknik selalu nomor satu. Kita dibohongi tanpa merasa dibohongi. Aku tidak akan mengulas teknik panjang lebar. Itu jatah para kritikus film. Aku ingin membagi apa yang ada di kepalaku sepulang menonton. Beberapa hal positif yang kukira akan memberi manfaat untukmu:
      1.    Sekuat apapun para super hero, mereka tetaplah manusia yang punya perasaan.
Ini ditunjukkan oleh semua tokoh dalam film ini. Semuanya memiliki perasaan khusus yang kukira sangat melankolis terhadap masa lalu masing-masing. Hal ini membuat film ini menjadi lebih rasional dan berterima di hati penonton.
      2. Seorang ibu selalu punya insting melindungi, menyayangi dan menasihati anaknya.
Ini dapat dilihat pada bagian Thor yang kembali ke masa lalu sebelum sang ibu meninggal. Sekali lagi, teknik yang membedakan. Dalam film ini, ibu Thor di masa lalu ketika ditemui Thor dengan teknologi yang ditemukan Toni- mengetahui bahwa Thor yang di hadapannya adalah Thor di masa depan. Dalam kasus Thor, fungsi memutar waktu tidak seratus persen berhasil karena ibu Thor dengan instingnya menyadari siapa Thor yang ditemuinya saat itu. Dia bahkan sempat memberikan nasihat bijak kepada Thor. Sebuah adegan yang mengharukan.
      3.   Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan.
Selain memutar waktu, konsep besar sekaligus amanat dalam film ini adalah setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak ada yang free, tidak ada yang bisa didapatkan dengan tangan kosong. Seluruh perjuangan Avengers dibayar dengan kehilangan tokoh-tokoh hebat. Terutama pada salah satu titik pengambilan batu yang harus mengorbankan satu di antara dua tokoh yang saling menyayangi.
      4 . Selalu ada titik keterbatasan, sehebat apapun kita.
Ini merupakan amanat yang juga membuat film ini sejenak membuat kita lupa bahwa itu cuma film, cuma khayalan. Pada adegan menjelang kematian Toni, saat kematiannya hingga pemakamannya. Adegan-adegan tersebut memupuskan kesan bahwa superhero tak akan pernah mati. Ini juga merupakan bagian yang mengaduk-aduk logika dan perasaan dalam film Avengers.

Yang menarik dalam film ini adalah ketika Kapten Amerika menyerahkan posisinya kepada tokoh lain. Tokoh tersebut merupakan manusia berkulit berwarna (maaf, tanpa bermaksud SARA), ini seakan mengingatkan kita pada sejarah Amerika yang pernah dipimpin oleh Barack Obama.
Akhirnya, Meski cuma film, aku berduka karena Toni yang ditakdirkan pergi. Itu artinya (:seharusnya) tidak akan ada lagi sequel Iron Man. Kalaupun ada, dia harus berujung pada kematian Toni. Kita lihat saja nanti, apakah Endgame memang benar-benar akhir dari Iron Man. [] Nai