Senin, 29 Januari 2018

Produk Perawatan Kulit yang Perlu Dibawa Saat Travelling

01.00 17 Comments
Mungkin ada yang berpikir keganjenan banget bepergian bawa-bawa kosmetik. Padahal, setiap orang yang menyadari pentingnya merawat wajah harusnya tahu bahwa penting juga membawa perlengkapan kosmetik khususnya jenis perawatan atau skincare ketika bepergian. Terutama bagi perempuan yang sudah memasuki  usia 30+. Kita perlu merawat kulit agar terlindung dari polusi dan sinar uv yang bisa berefek tidak baik untuk kita.

Tentu saja...kosmetik atau peralatan make up yang dibawa pas travelling tidak sekomplet mau ke kondangan ๐Ÿ˜Š. Selain produk perawatan kulit, kita juga perlu bawa kelengkapan lainnya seperti body mist, lho!

Ini beberapa produk yang wajib dibawa menurut aku dan yang biasa aku bawa kalau bepergian atau travelling. Kebetulan produk yang kupakai adalah Wardah Lightening Series.


Lightening Milk Cleanser (1)
Milk cleanser biasa juga disebut susu pembersih adalah produk wajib dalam pocket kosmetikku. Bepergian akan membuat wajah kita gampang kotor dan kusam. Biasanya kita dianjurkan membersihkan wajah dua kali sehari. Ini pun aku lakukan ketika bepergian selama sikonnya masih 1memungkinkan. Minimal 1 kali sehari kalau agak repot, terutama sebelum memakai bedak dan kosmetik lainnya agar pori-pori kita tidak tertutup kotoran dan sisa make up sebelumnya. Apalagi kalau tempat yang kita kunjungi minim air bersih.

Lightening Face Toner k (2)
Face toner adalah pasangan setia milk cleanser. Toner berguna untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang tidak terangkat oleh milk cleanser. Selain itu juga berguna untuk meringkas pori-pori. setelah memakai toner wajah akan terasa segar dan bersih.

Lightening Facial Serum (3)
Yang satu ini bagus dipakai sebelum kita memakai krim harian baik krim siang maupun krim malam. Setelah rutin memakai lightening facial serum, kulitku terasa lebih kenyal, lembut dan tidak kering. Kulit juga terlihat lebih cerah dari sebelumnya.

Wardah Perfect Bright Lightening Moisturizer (4)
Kulit perempuan yang tinggal di daerah tropis seperti kita memerlukan pelembab yang juga mengandung UV protectian. Produk wardah yang satu ini memiliki SPF 30 sangat cocok untuk melembutkan dan membuat kulit lebih cerah karena terlindungi. Selain itu, aku tidak perlu memakai foundation lagi kalau sudah memakainya. Bahkan kalau kita dalam keadaan santai saja, kita tidak perlu lagi mengenakan bedak kalau sudah memakainya.

Compact Powder atau Two Way Cake (5)
Untuk acara meet up atau hang out ketika travelling, aku memakai twc luminous yang seri light beige. Biasanya aku membawa yang refill atau isi ulang karena lebih praktis. Aku tidak cocok memakai twc yang seri lightening karena tingkat warnanya tidak ada yang pas dengan warna kulitku.

Lipstik wardah exlusive No.34 (6)
Untuk tampilan yang lebih fresh, aku memakai lipstik exlusive series no.34 tipis tipis. Dengan memakainya kulit bibir jadi terlindungi dn terjaga kelembabannya.


Bedak BB
Aku hampir tidak pernah melupakan bedak BB jika bepergian. Kemasannya dalam bentuk sachet memudahkanku membawanya dengan menyelipkannya di saku tas maupun pocket make up.

Wardah Body Mist.(7)
Kalau bepergiannya lebih dari 2 hari, aku membawa body mist wardah. Kadang kalau bawaan tidak banyak, meski cuma sehari aku tetap membawanya. Terutama kalau aku bepergian dengan suami.

Kapas Facial
Kapas sangat penting untutk dibawa. Kadang aku membawa juga tisue basah dan tissue kering. Kapas sangat penting untuk mengangkat kotoran setelah memakai milk cleanser dan toner.

Lightening Gentle Wash
Yang satu ini kalau aku bepergian ke tempat-tempat yang gampang mendapatkan air bersih menjadi satu bawaan wajib juga. Karena kita memerlukan air untuk membilasnya.

Demikian bawaanku dalam travelling. Aku tidak membawa eye shadow, blush on dkk. Selamat mencoba!

Sabtu, 27 Januari 2018

Dua Lelaki di Hati Junjung Buih (Sebuah Catatan Pementasan Dipa: Tales of Sukmaraga And Padmaraga)

01.45 7 Comments
Kisah Puteri Junjung Buih hampir tidak asing lagi bagi masyarakat Kalimantan Selatan khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kisah yang begitu melekat di hati urang banua karena terkait pula dengan kisah-kisah seputar situs Candi Agung yang terletak di kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kisah tersebut terkait pula dengan sebuah nama yang menjadi nama perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan, yaitu Sang Patih Lambung Mangkurat (:Universitas Lambung Mangkurat). Karena ia termasuk dalam cerita rakyat yang berkembangnya secara lisan atau dari mulut ke mulut, tidak heran jika ada beberapa perbedaan atau beberapa versi cerita.

Tersebutlah sebuah kerajaan yang hendak mencari pemimpin terbaik bernama Negara Dipa. Sang Patih yang bernama Lambung Mangkurat bertapa sekian waktu. Hingga seorang puteri berkenan menjelma ke permukaan air. Di antara buih-buih, ia hadir dengan wujud perempuan yang sangat cantik. Karena itulah ia disebut Puteri Junjung Buih. Sebelumnya, para gadis menyirang kain sebagai persyaratan dari sang puteri yang harus dipenuhi. Dalam kisah lain disebut juga sang putri meminta Mahligai setinggi rumpun bambu sebagai persyaratan.


Prolog Dipa

Kemunculan sang puteri menarik perhatian dua perjaka terbaik Negara Dipa, Sukmaraga dan Padmaraga yang tak lain adalah kemenakan Lambung Mangkurat. Sayangnya, Sang Paman tidak senang melihat kedekatan Sukmaraga dan Padmaraga terhadap Puteri Junjung Buih. Menurut Lambung Mangkurat, kedua lelaki tersebut tidak layak untuk dekat dengan Puteri Junjung Buih.
Pertapaan Lambung Mangkurat sebelum Putri Junjung Buih menjelma

Dalam berbagai versi, disebutkan pada akhirnya para ponakan tewas di tangan paman sendiri. Maka muncullah sebuah lelucon yang sebenarnya tidak lucu, lelucon tentang sang pahlawan adalah pembunuh. Akan tetapi dalam pementasan bertajuk Dipa: Tales of Sukmaraga And Padmaraga, hal tersebut disampaikan berbeda.

Unsur Yang Membangun Pementasan Dipa

Diangkatnya kisah Putri Junjung Buih menjadi sebuah pementasan atau pertunjukan bukan hal yang baru. Sekadar menyebut contoh, Sanggar Air HSU pernah mengangkatnya dalam sebuah pertunjukan pada momen Aruh Sastra Kalsel Banjarbaru beberapa tahun lalu. Pertunjukan yang memaksimalkan gerak (tari) dan musik didukung visualisasi siluet yang elegan membuat kisah Junjung Buih menancap penuh kesan di hati penonton meski kisahnya telah khatam dibaca bahkan kisahnya sudah di luar kepala.

Bagaimana menghadirkan kisah yang telah diakrabi oleh masyarakat menjadi sebuah tontonan baru yang memikat merupakan sebuah tantangan bagi insan seni pertunjukan. Sebuah tontonan yang lebih sesuai dengan suasana kekinian (:zaman now) sehingga cerita-cerita rakyat akan tetap menjadi pilihan masyarakatnya sendiri; sehingga penonton tidak merasa rugi membeli tiket dan meluangkan waktu untuk menonton.

Hal ini pula kiranya yang menjadi tantangan bagi tim Sendratasik Berkarya 7 yang mementaskan kisah Putri Junjung Buih pada 27-28 Desember 2017 lalu di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan. Disutradarai oleh Bayu Bastari Setiawan dan Astrada Supriyanto, Sendratasik Berkarya 7 berhasil menjawab tantangan tersebut. Pementasan Dipa membawa angin segar bagi dunia seni pertunjukan. Ia sepertinya diharapkan dapat menjadi satu indikasi bahwa lokalitas masih menjadi pilihan yang seksi di era kekinian. Untuk itulah, seperti yang dituturkan dalam Buku Pementasan, konsep garapan yang dipilih agak berbeda dari pakem. Jika selama ini kisah tertuju pada satu titik semata “sang Puteri”, bagaimana kalau kali ini fokus utama bukan sang puteri?

“Tim Sendratasik Berkarya 7 ingin keluar dari jalur kebiasaan tersebut, sehingga memutuskan untuk lebih menyorot tokoh dua putera Mandastana, yaitu Sukmaraga dan Padmaraga dengan tidak mensubordinasi peran Lambung Mangkurat dan Puteri Junjung Buih.” (Buku Pementasan, 2017).
Bagian pemenuhan persyaratan dari Putri

Yang menjadi persoalan berikutnya adalah seberapa berhasil Dipa keluar dari “pakem” cerita Junjung Buih yang terlanjur beredar dan melekat di ingatan masyarakat? Apakah ketika hal itu tidak berhasil dilakukan sama dengan kegagalan Dipa sebagai sebuah pementasan? Tulisan ini mencermati hal tersebut secara sederhana menggunakan Model Perselingkuhan Kreatif (Suryanata, 2016:135) antara model pengkajian sosiologis dan struktural.

Sebagaimana karya sastra pada umumnya, Dipa: Tales of Sukmaraga Padmaraga dibangun atas beberapa unsur:
Lambung Mangkurat menyambut kehadiran Putri Junjung Buih


1.   Tema dan amanat
Pada umumnya tema yang berkembang di masyarakat tentang kisah Puteri Junjung Buih terkait dengan pentingnya kepemimpinan serta kisah terlarangnya kasih sayang sang puteri dengan dua bersaudara Sukmaraga Padmaraga. Akan tetapi melalui dialog-dialog cerdasnya, Dipa mencoba mengusung tema lain, yaitu tema sosial. Ini terlihat dari beberapa adegan yang menampilkan Sukmaraga dan Padmaraga dididik oleh sang ayah untuk menjadi pemuda yang selalu melakukan kebaikan, mendahulukan kepentingan orang banyak, membela rakyat yang lemah, tidak membiarkan kesewenangan terjadi begitu saja di depan mata.
Hanya saja jika dicermati lebih dalam, secara tersirat Dipa masih belum bisa lepas dari tema pakem, yaitu kisah cinta terlarang. Dipa masih mengungkap cinta yang dibedakan oleh kedudukan atau kasta seseorang. Ini terdapat dalam dialog yang diucapkan oleh Lambung Mangkurat yang  mengungkapkan bahwa sebagai raja puteri titisan dewata, Junjung Buih tidak layak bersanding dengan dua bujang pilihan Negara Dipa. Puteri titisan dewata hanya pantas bersanding dengan putera titisan dewata.
Putri Junjung Buih disambut gembira 

2.   Tokoh, perwatakan dan penokohan
Dari judulnya, terlihat bahwa tokoh utama pementasan Dipa adalah Sukmaraga dan Padmaraga. Pemilihan Sukmaraga dan Padmaraga membuat pementasan ini berkategori tokoh sederhana karena sifat dan watak keduanya tidak berubah dari awal sampai akhir. Kebaikan dan ketulusan hati dua bersaudara ini terasa sampai akhir pertunjukan. Pemilihan para pemain dan inner action para aktor dalam pementasan berhasil membuat perwatakan dan penokohan Sukmaraga dan Padmaraga menarik perhatian para penonton melebihi porsi ketokohan Junjung Buih dan Lambung Mangkurat.
Sukamaraga dan Padmaraga bersama Puteri Junjung Buih

Akan tetapi, kharisma Junjung buih dan Lambung Mangkurat tidak bisa dipadamkan begitu saja walau penggarapan Dipa telah ditata sedemikian rupa untuk menonjolkan sisi ketokohan Sukmaraga dan Padmaraga. 
Junjung Buih masih ditampilkan sebagai yang tercantik dalam pertunjukan. Secara tersurat, Junjung Buih menaruh hati pada dua pemuda yang tidak lain adalah rakyatnya sendiri. Ia bahkan harus berdebat dengan Lambung Mangkurat dalam urusan ini. Meski seorang Raja (Ratu), Junjung Buih juga manusia, demikian yang ingin disampaikan Dipa. Kalau saya menyukai dan ingin berteman dengan mereka memangnya kenapa? So what? kira-kira begitu bahasa kekiniannya. 
Sementara itu, Lambung Mangkurat masih ditonjolkan sebagai pemegang mutlak kekuasaan di Negara Dipa. Bahkan pementasan ini melakukan upaya pembelaan terhadap Lambung Mangkurat dengan mengajukan pertanyaan naka “Bagaimana kalau”. “Bagaimana kalau” dalam pementasan Dipa salah satunya adalah bagaimana kalau Lambung Mangkurat tidak membunuh Sukmaraga dan Padmaraga sementara sejarah telah mencatat keduanya tewas mengenaskan. Lalu dicarilah dan dimunculkanlah tokoh antagonis sang perompak dari negeri seberang yang secara open ending story menjadi salah satu tokoh yang berpeluang menjadi tersangka pembunuhan terhadap Sukmaraga dan Padmaraga.

3.   Latar atau setting dan pelataran
Latar dan pelataran Dipa hampir tidak jauh berbeda dengan pementasan cerita serupa pada umumnya, yaitu istana tempat tinggal puteri Junjung Buih dengan segala atributnya dan lingkungan keseharian Sukmaraga Padmaraga. Ada sedikit tambahan latar fantasi sebagai pengembangan cerita utama.
Ada beberapa faktor pendukung unsur latar dan pelataran Dipa sebagai sebuah pementasan. Selain memaksimalkan panggung Balairung Sari, Dipa memanfaatkan teknik visualisasi pada layar yang bersumber dan didukung teknologi komputer sehingga membuat Dipa tidak melulu berada di zamannya. Pementasan Dipa juga didukung penuh oleh musik suasana dan vokal kualitas prima para choir sebagai bagian dari upaya penguatan latar dan pelataran.

4.   Alur dan pengaluran
Alur pementasan Dipa diilhami dari naskah “Lambung Mangkurat di Negara Dipa” Karya DMA. H. Adjim Arijadi yang digubah dengan tambahan tokoh-tokoh fiktif dan perubahan ending cerita. Sebagai sebuah pementasan utuh, Dipa menawarkan alur gabung dengan menampilkan penombakan yang dilakukan oleh Lambung Mangkurat di awal cerita. Ini membuat kesan awal, “Oh, kisah ini sama saja dengan yang saya ketahui” di benak penonton. Berikutnya, penonton mendapat banyak kejutan sehingga Dipa tidak lantas menjadi pertunjukan yang membosankan.

5.   Bahasa dan gaya bahasa
Pementasan Dipa menggunakan bahasa Indonesia dengan menyelipkan gaya-gaya sindiran melalui lelucon atau humor segar pada beberapa bagian. Secara umum gaya bahasa yang dipilih cenderung lurus dan sangat berhati-hati sehingga kesan klasik masih tetap ada. Sebagaimana lazimnya karya-karya drama, simbolisme menjadi satu hal yang akan semakin terbuka pemaknaannya setelah dipentaskan. Berbagai sarana panggung atau pementasan seringkali sangat membantu dalam proses penafsiran makna yang disimbolkan (Suryanata, 2016:57).
Dalam pementasan Dipa simbol ini salah satunya bisa kita dapati pada properti yang membuat posisi Ibu Sukmaraga Padmaraga berada di atas, lebih tinggi daripada tokoh lain dalam sebuah adegan. Ini menyimbolkan sosok seorang ibu yang paling dihormati dan dihargai. Ini juga mendukung kemungkinan seorang ibu selalu berada “di atas” dalam hal feeling atau firasat.
Simbol lain dapat kita temukan pada prosesi munculnya Puteri Junjung Buih setelah para gadis menyirang kain, serta simbol-simbol lain pada kostum yang dikenakan para pemain.

Catatan pementasan

Pementasan Dipa merupakan proyek tahunan bertajuk Sendratasik Berkarya dengan Dipa sebagai yang ke-7. Ketua pelaksana adalah Nida Arifah, Pimpro Aminuddin, Stage Manager Ove Natari. Pementasan tersebut menghadirkan 14 orang pemusik, 21 pemain teater, 4 orang choir dan 6 orang penari utama.
Kekuatan pementasan Dipa, seperti kekuatan pementasan Sendratasik lainnya ada pada penataan setting, penata tari dan penata musik. Pementasan Dipa menghadirkan 5 orang penata setting, 2 orang penata tari serta 3 orang penata musik. Ketiga hal ini digarap maksimal sehingga menghasilkan kolaborasi yang harmoni di atas panggung. Nyaris tidak ada yang janggal dalam tiga hal pendukung tersebut. Tiap properti (termasuk kostum) memiliki makna sehingga hampir tidak ada properti yang mubazir. Begitu juga dengan musik dan tari, tidak ada musik dan tari yang hadir sebagai pelengkap semata. Hampir semua komponen merupakan unsur utama yang memiliki peran utuh dalam pementasan Dipa.

Siapakah Sebenarnya Pusat Cerita dalam Dipa: Tales of Sukmaraga Padmaraga?

Pengkajian Pementasan Dipa secara sosiologis yang mendekati sastra sebagai cermin proses sosial-ekonomi  yang terjadi di masyarakat menghasilkan beberapa hal sebagai berikut:

Kebaikan akan selalu ada berdampingan dengan kejahatan. Seberapa besarpun kejahatan akan selalu ada upaya-upaya perlawanannya. Ini dapat kita lihat dari pembelaan yang dilakukan oleh Sukmaraga dan Padmaraga terhadap para dayang yang sedang diganggu para perompak jahat.
Cerminan lain yang diungkap Dipa adalah masih terdapatnya pengkastaan dan pelevelan manusia berdasar derajat-derajat yang pengukurannya dibuat oleh manusia itu sendiri. Hingga akhir waktu, cinta akan selalu menemukan tantangannya sendiri-sendiri. Sekalipun ia seorang puteri yang harusnya bisa mempunyai kehendak, Junjung Buih tidak diperkenankan memilih belahan jiwanya. Nyanyian sedih Junjung Buih seta tarian-tarian cantiknya membuat sang putri masih menjadi power of story dalam Dipa.
Berikutnya, yang dapat kita temukan ketika melongok ke cermin Dipa, adanya sebuah ketetapan bahwa seorang pemimpin harus menjunjung hukum yang berlaku dan bertindak sesuai hukum tersebut. Hanya saja pada kasus Lambung Mangkurat, Dipa tidak dengan tegas menunjukkan dia berada di pihak yang mana. Dengan kata lain, Dipa tidak tegas menunjukkan apakah sejatinya yang menjadi dasar sikap Lambung Mangkurat. Pada adegan Lambung Mangkurat berperang dalam batinnya sendiri, batin Lambung Mangkurat menyindir benarkah larangan kedekatan Sukmaraga Padmaraga terhadap Puteri Junjung Buih murni didasari keinginan Lambung Mangkurat menjunjung hukum yang berlaku di Negara Dipa?
“Biarlah orang-orang menyangka aku yang membunuh Sukmaraga Padmaraga. Biarlah sejarah mencatat aku sang pembunuh” menyiratkan sebuah pembelaan terhadap Lambung Mangkurat. Dipa mencoba mengaburkan “hal” yang selama ini dianggap fakta oleh masyarakat tentang Lambung Mangkurat sang pembunuh. Dipa memunculkan peluang “Bagaimana kalau catatan sejarah selama ini keliru? Bagaimana kalau bukan Lambung Mangkurat yang membunuh dua ksatria Negara Dipa? Sebagai sebuah kisah yang berkembang secara lisan, maka Dipa memiliki sedikit “kebolehan” atau “kewajaran” untuk membuat jawaban-jawaban lain tentang Lambung Mangkurat.
Ketika ketiga hal tersebut (Sukmaraga dan Padmaraga; Putrj Junjung Buih; dan Lambung Mangkurat) tampil secara seimbang dalam pementasan Dipa, maka mari kita bertanya, benarkah Dipa: Tales of Sukmaraga Padmaraga adalah kisah tentang Sukmaraga dan Padmaraga? [] 

Nai, Kayutangi Januari 2018

Referensi
Tim Kreatif Sendratasik Berkarya 7. 2017. Buku Pementasan Dipa: Tales of Sukmaraga and Padmaraga.
Suryanata, Jamal T. 2016. Pengkajian Drama. Yogyakarta: Akar Indonesia.











Selasa, 23 Januari 2018

Sore di Taman Patung Bekantan

00.34 2 Comments
Siapa bilang Banjarmasin minim tempat hang out? Ini nih satu lagi tempat hang out yang keren abis tapi tetap mengusung uniknya lokalitas Banjar.
Sore itu hujan baru saja menyiram Banjarmasin. Aku bersama suami nongkrong sebentar di taman yang satu ini. Cuma...kali ini kami malas banget pasang tampang. Jadi, biar si Bekantan ini saja yang menghias postinganku kali ini.

Yang belum pernah mampir ke taman ini, aku akan beberkan beberapa fakta di Taman Bekantan dengan gaya artikel seseruan. Siapa tahu jadi pengen ke sini.


Fakta 1
Kebanyakan pengunjung yang gigih ke sini adalah masyarakat dari luar Banjar. Soalnya penasaran ama si doi, Bekantan yang bisa menyemburkan air.

Fakta 2
Patung bekantan menyemburkan air hingga ke sungai di taman tersebut. Kalau dilihat dari gaya menyembur2 ini jadi ingat patung singa-nya Singapore yah!



Fakta 3
View di sini keren banget. Kita bisa memandang Sungai Martapura yang mengalir tenang sambil menikmati udara segar serta sejauh mata memandang langit membentang membuat hati terasa lapang.

Fakta 4
Selain kumpul kumpul biasa, jalan sore atau pagi santai, di sini tersedia lapangan basket. Yang hobi basket, ke sini aja!

Fakta 5
Sewaktu sore itu aku ke sana..ada orang jualan pernik lucu. Entah ini sebenarnya diizinkan atau tidak lho ya oleh pihak ketertiban.

Fakta 6
Di sini tersedia tempat parkir yang menurutku cukup luas terutama kalau lagi sepi pengunjung.

Fakta 7
Selain jadi tempat jalan, tempat ngebasket, pastinya taman ini merupakan spot unik untuk selfie atau foto bareng teman dan keluarga.

Fakta 8
Bekantan adalah binatang yang dilindungi serta menjadi ikon Banjarmasin. Tangan kanannya lagi menggaruk atau lagi mikir ya? Silakan ditebak. Yang pasti tangan kirinya sedang memegang buah rambai. Ini juga buah yang unik dan mulai langka di Banjarmasin.

Nah, tertarik melihat taman Patung Bekantan yang nyembur air?
Ayo, ke Banjarmasin!

Senin, 22 Januari 2018

Menjadi Ibu Traveller Zaman Now

16.59 22 Comments

Menjadi wanita yang berperan ganda bukan hal asing lagi bagiku. Ibuku dan semua saudara perempuannya adalah wanita pekerja, sebagian besar menjadi guru. Aku sudah sering melihat berkas-berkas pekerjaan kantor yang menumpuk di rumah. Ibu yang begadang sampai tengah malam menulis (tulis tangan lho) Satuan Pembelajaran adalah pemandangan biasa bagiku. Ibuku dan saudaranya menitipkan anak-anak di rumah nenek juga sebuah tradisi yang tidak asing lagi bagiku. Karena ayah pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah, ibu pun menjadi ibu dharma wanita. Tugas dan kegiatan ibu-ibu dharma wanita dan atau ibu-ibu PKK tidak kalah banyak daripada kegiatan karier ibu sendiri. Aku sering mendengar bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh ibu bekerja akan kekurangan kasih sayang dan cenderung nakal. Aku pernah melihat sendiri beberapa kawanku bernasib seperti itu. Anehnya, aku dan adikku tidak seperti itu. Kami fine-fine aja ibu tidak ada di rumah, hehe. Kadang aku suka bercanda pada adikku, “Betapa beruntungnya ibu kita, sukses di luar, sukses di dalam.” Kami paham dan maklum saja kalau ibu sibuk bekerja. Kami tidak lantas nakal hanya karena kekurangan waktu bersama ibu.” Belakangan aku yakin, itu semua karena Ayah yang tak lelah mendoakan kami.
Salah satu kesibukanku:
mengisi materi  kepenulisan sambil traveling
Lokasi: hutanpinus bjb


Kini, aku menjadi wanita karier juga seperti ibu. Bedanya, aku punya anak 4 sedangkan ibu hanya punya 2 anak. Orang-orang pada umumnya kaget mendengar ibu muda seperti aku sudah punya 4 anak. Beberapa prinsip ibu menurun pada kami. Urusan rumah misalnya, harus beres di tangan sendiri bukan di tangan asisten rumah tangga. Aku bahkan sampai sekarang tidak pernah mempekerjakan asisten rumah tangga. Mulai memasak, mencuci, mengepel, menyapu, menyetrika, belanja, semua kukerjakan sendiri dibantu suami dan orang serumah lainnya. Berbeda dengan ibu, anak-anakku keempatnya nempel denganku. Segala hal ingin aku yang melayani dan menemani. Pergi ke dokter gigi, misalnya. Mereka selalu ingin aku yang menemani. Jadi aku merasa bebanku lebih berat daripada beban ibuku dulu. Ditambah lagi, anak-anakku adalah kids zaman now, hehe. O,iya meski sibuk mengajar, aku tak pernah melewatkan fase-fase penting anak-anakku. Setiap mereka ada kemajuan, sekecil apapun, bagiku adalah prestasi yang harus dihargai. Tiap ada momen bagus aku selalu berusaha mengabadikannya lewat kamera sakuku. Entah itu nanti diunggah ke akun medsosku, atau kucetak.

Kami berenam sama-sama menyukai alam bebas. Ini membuat kami menyukai kegiatan traveling. Bagiku pribadi, kegiatan traveling selain menjaga “kewarasan” berguna juga sebagai  bagian dari penunjang kegiatan menulis. Beberapa tahun lalu misalnya, aku nekat pergi sendiri ke Kabupaten di Hulu Sungai tepatnya di Kecamatan Batang Alai Utara hanya untuk melakukan riset dalam rangka penulisan novelku Sekaca Cempaka. Aku perlu riset tentang pohon cempaka dan kebun kembang di kecamatan tersebut. Beberapa hal harus kupotret untuk dipelajari lebih lanjut.  Saat itu si kembar masih terlalu kecil menurutku untuk dibawa.
Sekarang mereka sudah 8 tahun, saatnya aku mengajak mereka dalam petualangan kami seperti kakak-kakaknya. Diawali dari travel libur tahun baruan di PantaiTurki, Kabupaten Tanah Laut, yeay 2018 akan jadi tahun traveling kami, semoga!

Kami sekeluarga menyukai traveling. Saat libur, anak-anak lebih memilih bertualang di alam daripada ngemall (anak kedua kami malah sekarang tergabung dalam sebuah komunitas pendakian di kotaku). Menurut artikel yang pernah kubaca, bepergian bersama anak akan sangat bermanfaat untuk perkembangan kepribadian dan fisik mereka.

So, menjadi ibu zaman now harus punya kamera yang bagus dan praktis juga sepertinya. Ini selalu jadi bahan rundingan aku dan suami yang sama-sama suka mengabadikan kenangan. Terlebih di antara anak kami ada anak kembar yang selalu saja ada momen istimewanya. Kami tidak ingin anak-anak melupakan begitu saja momen kebersamaan yang pernah ada hanya karena tidak ada fotonya. Jauh sebelum ada trend selfie menggunakan ponsel seperti sekarang, aku suka juga selfie menggunakan kamera saku. Tentu saja hasilnya kurang maksimal. Aku dan suami sempat terpikir hendak membeli kamera gede yang biasa dipakai para fotografer profesional agar kualitas foto  lebih maksimal.
Personil lengkap disela perjalanan susur sungai: sarapan nasi kuning di dekat pasar Lama Bjm


Selain mengajar, passion utamaku adalah menulis. Menulis otomatis sepaket dengan membaca. Passionku yang satu ini membuatku sering berkumpul bersama komunitas-komunitas seputar kepenulisan, mulai komunitas sastra dan seni, forum penulis, sampai komunitas blogger khusus perempuan di kotaku. 


Berada dalam komunitas yang sesuai dengan passion kita akan mendukung gerak dan memberi ruang bagi kita untuk meningkatkan kualitas diri di samping kebermaknaan diri  kita terhadap orang lain.

Tulisan yang bagus akan lebih bagus lagi kalau ditambah oleh foto-foto yang bagus pula. Awalnya, aku enjoy ngeblog menggunakan laptop dan melengkapi foto dengan jepretan kamera saku. Di kamera itu ada memory card yang menyimpan data foto-foto aku. Nanti aku tinggal mencopot dan memasukkannya ke laptop setelah itu baru diunggah untuk melengkapi tulisanku. Belakangan, karena seabrek tugas dan tanggung jawab, aku merasa tidak praktis lagi menggunakan kamera saku. Suamiku menyarankan aku beli hp yang dilengkapi fitur kamera yang lebih bagus daripada hp ku sebelumnya. Hanya saja belum kesampaian. Kalaupun aku membeli hp baru, aku maunya hp tersebut memiliki keunggulan yang lebih banyak dalam hal foto-memoto. Biasalah tipe ibu pelit (:penuh perhitungan) kaya aku kalau mau membeli sesuatu harus timbang-timbang plus minus nya dulu. Sebuah benda yang akan dibeli harus benar-benar bermanfaat serta  secara kualitas maupun kuantitas. Pengennya punya hp kamera yang tidak sekadar menangkap dan mengabadikan momen-momen spesial tapi mampu memperindah dan mempercantik momen tersebut dengan aplikasinya.

Sehari Bersama OPPO Selfie Tour With F5 dan Liputan 6.Com Seseruan bareng FBB ๐Ÿ˜™


Sebuah kesempatan yang sangat berharga ketika aku bisa menghadiri acara OPPO Selfie Tour With F5 di Mercure Hotel Banjarmasin (Selasa, 16 Januari 2018). OPPO F5 merupakan smartphone terbaik no 4 dunia beresolusi tinggi 2160 x1080 pixel. Ini akan memberikan pengalaman pertama kepada kita untuk pencapaian teknologi dalam fotografi smartphone. Aku menghadiri acara tersebut bersama sembilan orang temanku (kurang lebih sepertiga member kami) yang  tergabung dalam Female Blogger Banjarmasin (FBB). Menghadiri even-even seperti ini bagi kami seperti meet up seru karena biasanya kami lebih sering bertemu di dunia maya (saling bw). 
Bersama Member FBB di acara Oppo Selfietour with F5

Yang pertama kami lakukan ketika sudah ngumpul di tempat acara tidak lain adalah berfoto bersama ๐Ÿ˜— Dalam acara tersebut ada juga komunitas lain, kebanyakan sih ibu-ibu muda yang cantik, sebagian lainnya kurasa para gamers.
Setelah melakukan registrasi, aku dan teman-teman FBB menikmati kudapan yang disediakan panitia sambil menunggu acara dimulai. Secangkir teh hangat manis yang kucampur krimer ditambah kacang koro menjadi pilihanku. Sore itu langit cerah meski beberapa saat sebelumnya Banjarmasin sempat diguyur hujan. Aku memilih duduk di bangku tepi kolam renang hotel. Sekali dua selfie bersama teman-teman. Tidak lama kemudian kami segera memasuki ruang acara karena acara akan segera dimulai.

Memasuki ruang acara, perhatianku langsung tertuju pada stage untuk pembicara dan stage sampingnya yang memajang gambar Batman dan Superman dengan lampu ikon F5. MC begitu lincah dan luwes membuka sekaligus memandu acara. Kadang-kadang dia menggunakan bahasa Banjar, bahasa daerah kami untuk mencairkan suasana karena entah kenapa, awalnya para peserta terkesan tegang macam mau ikut ujian seminar proposal skripsi saja, hehe. MC sampai harus mengingatkan bahwa dalam acara tersebut kita rileks, santai saja gak usah tegang. Good job, kaka MC cantik!  Satu per satu pembicara tampil menyampaikan materinya masing-masing.

Mas Aryo, Ekspertnya OPPO, eui!

Waktu pertama dipanggil maju ke stage, kupikir pemateri yang satu ini bakal ngebosenin karena mukanya yang agak formal. Eh, setelah panjang lebar bicara ternyata asyik banget. Sebagai PR Manager Oppo Indonesia, ia menjelaskan panjang lebar, lancar dan detail tentang OPPO F5. Aku berpikir keras saat dia bertanya, “Apa yang kalian tangkap dari tayangan iklan OPPO-nya Chelsea Island tadi?” Aku menebak-nebak, menjawab dalam hati. Sepertinya aku belum fokus, jawabanku salah, heu heu.

Capture The Real You

“Emang harus sama,ya?” nah ternyata ini nih kuncinya. OPPO F5 punya teknologi kecerdasan buatan yang dapat mempelajari dan mengenali perbedaan kita sebagai manusia, lho! Yup, Capture The Real You, guys.

Perbedaan apa saja yang bisa dia deteksi? Ya perbedaan warna kulit, usia bahkan jenis kelamin. Ini membuat peningkatan akurasi yang sesuai dengan subjek foto kita. Jadi, OPPO F5 ini bisa mengenali apakah subjeknya itu balita yang kulitnya masih halus mulus ataukah manula yang sudah ada keriputnya. Ini membuat foto kita terhindar dari tersajinya efek yang sama seperti kalau kita memoto dengan kamera lain. Misalnya nih, cowok kalau selfie ya nanti hasilnya tidak akan sama dengan cewek. Warna kulitnya, warna bibirnya, bahkan tipis kumisnya. Ini nih yang dimaksud dengan OPPO Capture The Real You. Bagaimana kalau kita foto berdua dengan teman kita yang beda jenis kelamin? Ini nih hebatnya OPPO F5, dia bisa mengenali kita berdua dengan baik dan hasilnya ya kita dan teman kita akan berbeda penampakannya, yaitu sesuai aslinya kita masing-masing. Jangankan foto berdua, foto berlima dan berombongan pun hasinya akan sesuai keadaan kita masing-masing yang ada di frame- nya. Ini benar-benr menjadikan OPPO F5 sebagai selfie ekxpert & leader.


Yang akan di-detect oleh Oppo F5 adalah: Skin Tone, Skin Type, Gender and Age.

Selain itu, Mas Aryo juga menjelaskan fitur-fitur utama OPPO F5 yang bikin mupeng kita-kita. Nih kukasih bocorannya:

1. AI Beauty Recognition Technology
Ini seperti yang sudah kutulis sebelumnya, F5 akan memindai lebih dari 200 titik pengenal wajah, menuju setiap titik keunikan wajah dan membuat penyesuaian dengan peningkatan kecantikan yang halus tampak alami. Ini membuat cantiknya kita adalah cantiknya kita sendiri yang tidak akan sama dengan orang lain.
2. Tampilan Layar Penuh
F5 berlayar FHD +6 inchi degan aspek rasio 18:9, dengan 84,2% screen to body ratio memberikan pengalaman visual yang nyata tanpa menambah dimensi perangkat. Ketika membaca artikel, daya tangkap visual kita lebih luas karena Full Screen Display. Begitu juga ketika urusan foto memoto. Media juga dapat menjalankan mode Split screen, yaitu menjalankan dua aplikasi sekaligus pada layar yang sama, misal mau nonton you tube sambil tetap goggling-goggling yang lain. Tidak ada Home Button fisik atau fingerprint scanner mengganggu tampilan depan.
3. ColorOS OS 3.2 untuk pengalaman pengguna yang lebih smooth
F5 dengan OS terbaru kombinasi RAM 4G + 32 GB memory internal membuat sistem operasi  jauh lebih mulus dan kecepatan transfer file 100 kali lebih cepat daripada bluetooth. Prosessor Octa-core hadir dengan fitur penghematan, mengendalikan panas dan kinerja lebih baik. OS yang disempurnakan membuat kita dapat menjalankan beberapa aplikasi yang berjalan saat kita sedang main game online dengan arena of Valor dan melihat apakah ada pelambatan dalam gameplay.
Penampakan Oppo f5, kuambil waktu sesi experience

Uniknya, dalam F5 ada yang namanya Fitur atau Fungsi Jangan Ganggu. Jadi gini nih, saat kita asyik main game, ada panggilan masuk, itu akan terlihat di notif panggilan masuk yang muncul dari atas, sehingga gameplay tidak terganggu tanpa melewatkan panggilan. Nah, terkait game, kita pasti ingat anak. Oppo F5 ini ada fitur Kids spaces-nya , yaitu fitur yang dapat membatasi anak dari penggunaan hp semaunya. Diantaranya, membatasi game untuk mengirimkan sms berbayar, membatasi anak melakukan pemasangan atau penghapusan aplikasi, membatasi aplikasi yang dapat diakses anak, membatasi waktu penggunaan tiap aplikasi, serta membatasi penggunaan jaringan data.

4. Fitur Sederhana untuk Pengguna yang Lebih baik sebenarnya ada tiga, yaitu facial unlock, daya baterai dan fitur jangan ganggu (yang sudah kusebut tadi).
Adapun facial unlock merupakan sebuah teknologi yang menerapkan teknologi pengenal wajah. F5 dapat membuka dalam 0,4 detik. Untuk mengunci telepon tersedia pilihan memindai sidik jari dan proteksi  dengan password. Yang membuat lega dari penjelasan Mas Aryo adalah F5 yang keren itu ternyata punya daya baterai pemakaian hingga 12 jam. yang kucatat dari slide-nya Mas Aryo sih, battery performance-nya 3200 mAh, 14 hour 30 minutes.
Disela materi, bersama Melisa, teman fbb juga

Belajar dari Bang Yuslianson

Sesi selanjutnya giliran Bang Yus yang cool abis, jurnalis dari Liputan 6.Com. Beliau dengan gaya khasnya menyampaikan banyak hal tentang fotografi. Termasuk tips memotret terutama selfie yang bagus lho. Salah  satunya adalah tahan nafas ketika mengambil foto. F5 dengan Kamera terbaik di kelasnya punya kemampuan selfie expert yang luar biasa. Kamera F5 dilengkapi kamera depan 20MP dengan aperture F2 .0 dan kamera belakang 16MP dengan apertureF1.8. Kamera depan dapat memberikan efek bokeh dan HDR. 


ES anti-shake DSP memungkinkan pengambilan gambar multiframe dan mengaktifkan fitur de-noising sehingga mengurangi noise pada gambar terlepas dari kondisi kurang cahaya dan gambar yang buram. Selain itu F5 memiliki triple slot card try penyimpanan yang luas. F5 punya 3 slot, yaitu 2 kartu nano dan 1 kartu mikro- SD secara bersamaan. Oiya ada yang lucu tentang istilah ‘bokeh’, Bang Yus sempat terhenti sambil bertanya adakah makna tertentu dari istilah bokeh dalam bahasa Banjar. Beliau khawatir ada makna yang tidak bagus atau mungkin tabu untuk diucapkan. Setelah kami jawab tidak ada, diapun lega sambil tertawa lebar.

Bang Yus menampilkan dua foto dia yang menampilkan perbandingan hasil foto menggunakan F5 dan kamera lain. Tidak salah lagi, Oppo benar-benar selfie expert and leader.

Mbak Nadia,  Cantik-Cantik Jurnalistik

Si Mbak yang satu ini paling bisa menghebohkan suasana. Orangnya lucu dan ramah. Dia menceritakan pengalaman sebagai jurnalis lifesyle yang jalan-jalan sambil kerja, alias kerjanya ya jalan-jalan, hehe. Untuk mendukung pekerjaannya tersebut, dia memerlukan kamera yang simple tetapi canggih. Kebanyakan sih dia selfie di tempat-tempat yang biasanya dia datangi untuk diliput. Waktu dia tanya siapa di ruangan ini yang mau jadi jurnalis, tidak ada yang angkat tangan selain aku! Dia bilang, oh sukurlah ada yang mau jadi penerus saya. Aku terkekeh dalam hati... secara aku lebih tua daripada dia. 


Foto-foto dia yang keren diambil menggunakan kamera Oppo. Salah satunya bertajuk tentang sungai di Banjarmasin. Membaca komentar orang luar tentang kotaku rasanya bangga sekali menjadi orang Banjar. Diam-diam aku menyusun rencana untuk wisata sungai lagi nanti dengan anak-anakku.

Mbak Kadek Arini: Si Blogger Traveler


Pertama melihat tampilannya aku kagum, semuda dia sudah keliling dunia. Aku sih baru mau mulai, hehe. Aku dan suami punya komitmen untuk tidak akan bepergian ke luar negeri sebelum menginjakkan kaki di Makkah dan Madinah, kota suci dalam agama kami. Februari 2016 aku dan suami ikut rombongan adikku umrah backpacker. Itulah traveling pertama kami ke luar negeri. Perjalanan kami melalui Malaysia. Jadi, baru dua negara yang kukunjungi, yaitu Arab Saudi dan Malaysia. Berikutnya kami berencana ingin ke Palestina, Jepang, Korea, India, Perancis, Belanda, Thailand, dll oh, banyak sekali negara yang ingin kudatangi nanti. 
Bersama Kadek Arini, blogger traveler

Yang menarik dari Kadek Arini adalah dia mengabadikan perjalanannya dengan tulisan dan foto. Ih, aku banget gitu loh. Baiklah, travelingku dimulai dari Kalimantan dulu, nanti merambah ke pulau lain, ke negara lain. Tentu saja aku akan tetap menuliskannya dan mengabadikannya juga lewat foto. Kadekarini memberikan tips ngeblog dan edit foto. Eh, ternyata ada lagi kesamaan kami. Dia juga berpikir agak repot kalau traveling membawa kamera gede. Maunya yang simpel tapi tetap elegan dan sekualitas dengan kamera bagus itu. Kurasa aku sudah tahu solusinya buat kami.

Bandingkan 2 foto tsb. 1 pakai oppo f5, 1 nya hp merk lain. Coba temukan bedanya๐Ÿ˜Š



Tak lengkap rasanya penjelasan panjang lebar tanpa mencoba langsung Kamera Oppo F5. Untunglah ada sesi experience yang disediakan oleh tim Oppo. 



Malu-malu aku mendatangi stage experience. Setelah memegang, mengelus (hihi), aku pengen juga mencoba selfie pakai Oppo F5. Astaga...hasilnya luarr biasa. Senangnyaa melihat hasil fotoku ini:) Asli jadi mupeng sama hp yang satu ini. Kudu menabung dulu nih. Well, sepertinya ada yang mau menambah daftar resolusi 2018 nih๐Ÿ˜Š



Aku pulang dijemput suami. Dalam perjalanan pulang, aku bilang ke suami, tau gak, OPPO F5 itu kameranya bagus banget. Dia akan mengenali jenis kelamin dan usia kita sehingga gambar kita akan mewakili diri kita yang sesungguhnya. Bagus banget kalau dipakai buat agenda traveling kita nanti. Suami aku sih senyum-senyum aja, sepertinya dia sudah tahu kalimat pentingnya nanti apa. Apa coba? Tebak aja!

Sabtu, 20 Januari 2018

Suatu Hari di Pantai Turki

20.46 21 Comments
Libur tahun baru tadi aku sekeluarga berlibur ke pantai Turki. Hehe, ini bukan pantai yang ada di Turki luar negeri itu lho ya. Ini adalah pantai kecil yang ada di Pelaihari, Desa Swarangan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Pantai Turki disingkat dari Tungkaran Kiri. Dalam arus lalu lintas normal, memakan waktu tempuh kurang lebih 3 jam dari ibu kota provinsi (Banjarmasin). Tiket masuk sekitar Rp20.000,00 lebih mahal daripada di Pantai Batakan dan Pantai Takisung.

Semula pantai Turki masih perawan, lama-lama banyak juga pengunjungnya. Kami ke sana karena belum pernah ke sana sama sekali sementara teman-teman suka cerita tentang pantai yang satu itu.

Kami memutuskan berangkat pagi hari tanggal 1 Januari. Menurut perkiraanku, pantai relatif sepi karena orang-orang sudah pulang habis merayakan tahun baruan. Aku sengaja menunda keberangkatan agar tidak pas malam tahun baru di sana. Aku kurang suka hura-hura semacam itu. Aku berencana berangkat pagi-pagi sekali.
Malamnya, salah satu televisi swasta menayangkan film favorit anak-anakku. Bukannya tidur cepat, mereka malah tidur larut malam karena keasyikan menonton film padahal sudah berkali-kali menonton film tersebut. Tidak salah lagi, besoknya kami kesiangan. Persiapan berangkat cukup merepotkan. Kami membawa dua tenda dan perlengkapan kemping lainnya. Pukul 10 lewat kami baru berangkat.
Di luar dugaanku, sebelum masuk kawasan Gunung Khayangan, jalanan macet. Anakku ngomel-ngomel karena terawanganku salah. Hihi. Untung aku sempat membeli jagung rebus yang banyak dijual di tepi jalan. Hujan yang sempat mengguyur jalan membuat kami dingin dan lapar.
Menuju Pantai Turki macet tambah parah. Kami sempat hendak ganti tempat tujuan tapi anak-anak kadung penasaran sama Pantai Turki. Macet sangat parah karena arus balik dan arus berangkat hampir sama besarnya. Ada beberapa pantai yang menggunakan rute sejalur dengan pantai Turki. Ada Pantai Jorong, Pantai Asmara, Pantai Pagatan, Pantai Angsana dan lain lain.
Kurang lebih tiga jam kami terjebak macet. Untunglah anak-anak tidak cerewet.

Sesaat sebelum memasuki kawasan Pantai Turki, kami mencari lokasi dengan bertanya pada mBak Goggle. Ternyata peta tersebut tidak berlaku lagi. Jalur yang ada di peta google tidak terbuka untuk umum. Jalur tersebut khusus untuk perusahaan.

Kami sampai di Pantai Turki ketika hari sudah sore sekitar pukul 17.00. Sunset di Pantai Turki sangat indah. Aku teringat pasukan pecinta senja, teman-teman puisiku. Anak-anak langsung menyapa pantai. Mereka bermain dengan riang.

Oiya...sampai di pantai aku kecewa banget. Pantai sangat kotor, di mana-mana sampah bertaburan. Bekas botol minuman, bekas gelas plastik air mineral, bungkus makanan ringan, sisa nasi, bahkan ada botol minuman keras. Yang terakhir ini membuatku bergidik ngeri. Sepertinya ada yang habis berpesta habis-habisan malamnya.

Karena kami bermalam, tahap awal yang dilakukan adalah mencari space untuk memasang tenda. Dua tenda untuk kami berenam. Suamiku dan anak nomor dua bertugas memasang tenda. Aku dan anakku yang lain memunguti sampah. Sebelumnya kami solat Asar karena tadi waktu dhuhur belum dijamak.

Menurut info yang kudapat sebelumnya, di Pantai Turki tidak ada wc umum, ternyata pas kami datang sudah ada wc umum tapi sangat sederhana. Kamar mandi dan wc umum dengan dinding yang terbuat dari bahan terpal tanpa atap. Ada air tawar mengalir dari kran. Lumayan buat membilas tubuh dan wudhu.
Kami salat Maghrib dijamak dengan Isya dan diqasar. Si kembar antusias diajari salat jamak dan qasar. Ini praktik langsung buat mereka.
(Sampai rumah efeknya mau menjamak terus, haha).

Dua tenda sudah terpasang. Anakku Ihda sudah lima bulanan ini bergabung dalam klub pendakian. Ia sudah terampil memasang tenda. 1 tenda kecil merah dipakai anak sulungku yang perempuan. 1 tenda lagi diperuntukkan buatku dan si bungsu kembar. Kami bertiga di dalam tenda biru. Udara sangat panas malam itu.
Suami dan anakku yang pendaki memilih tidur di teras tenda. Mereka tidur memakai kantong tidur.
Anak-anakku lambat sekali tidur. Ada saja yang mereka kerjakan. Sambil membersihkan wajah dengan milk ckeanser dan toner serta mengoles serum wardah, aku harus berkali-kali mengingatkan mereka agar cepat tidur. Sunrise besok..sunrise besok.

Yang membuat aku senang, anak-anakku tampak dekat satu sama lain malam itu. Setelah mereka semua tertidur..malah aku yang melek. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Aku membuka ponsel, membiarkan terpajang berjuta memori di benak, mengizinkan sebuah kenangan hadir, mengukirnya perlahan-lahan dengan ketajaman mata hatiku. Beberapa kali mataku memanas dan ada yang mengalir di sudutnya. Ah, kenanganku, duh kutukan itu. Hingga aku mengantuk sangat dan akhirnya terlelap.

Besoknya, aku bangun lebih dulu. Lalu aku bangunkan anakku satu per satu. Setelah salat subuh, kami menikmati pagi di pantai Turki. Aku menyuruh anak-anak meminum madu vitamin Gizidat yang bahan dasarnya madu dan ikan sidat untuk menjaga stamina dan nafsu makannya.
Aku merebus air dan menyiapkan minuman hangat pengganjal perut teman kudapan.
Udara pagi sangat segar. Pengunjung pantai relatif sedikit. Aku berasa jadi pemilik pantai. Haha.

Di pantai Turki ada space terunik untuk berfoto. Aku sekeluarga menyempatkan berfoto di situ. Ada rumah pohon bertulis Pantai Turki nya loh. Setelah itulah baru kami ke pantai.

Keempat anakku asyik berenang dan bermain pasir. Aku sibuk pemotretan. Kulihat dari jauh kapal nelayan berjalan tenang. Macam-macam yang kujadikan objek pemotretan. Tak sengaja, pas main air, anakku melihat udang. Ia pun menangkap udang. Suamiku pun ikut-ikutan seru-seruan menangkap udang rebon. Enak kali ya kalau dimasak, pikirnya iseng. Pucuk dicinta, tak lama ada nelayan yang suka rela memberi kami segayung udang tangkapannya.

Suamiku menyalakan kompor kemping yang kami bawa, lalu menyuruhku memasak udang pantai Turki. Pertama-tama udang dicuci bersih, setelah itu diremas-remas dengan garam dan asam jawa. Ini nih, kalau traveling, bawaan suamiku komplit. Ada bumbu dapur simpel. Udang digoreng dengan irisan bawang merah. Tak lupa tambahkan gula secukupnya. Hm..aromanya sedap banget.
Udang rebon masih mentah

Kami sarapan menjelang siang dengan udang rebon ditambah sozis dan mie goreng rebus. Nasi putih kami beli di warung terdekat.
Anak-anakku lahap sekali makan. Jarang-jarang makan sambil main pasir, kan?
Udang sedang digoreng harum banget

Puas bermain barulah kami mandi di kamar mandi buatan yang sangat darurat. Eits, ini bayar lo yach.
Setelah foto-foto, kami membereskan tenda bersiap pulang. Anak-anak memelas tidak ingin pulang karena mereka masih libur panjang. Maaf ya Nak, besok mama tidak libur.