Minggu, 24 Mei 2020

7 Langkah Efektif Melupakan Orang yang Pernah Disayangi

09.38 2 Comments
Selama roda kehidupan masih terus berjalan, akan ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Tidak ada yang abadi. Tidak ada hubungan yang selalu baik-baik saja. Orang yang dulu menyayangi kita, bisa jadi hari ini adalah orang yang paling membenci kita. Ketika mengingat semua itu hanya akan membuat kita menderita, maka tidak ada saran terbaik selain melupakan.

Berikut 7 langkah efektif melupakan orang yang pernah disayangi dan menyayangi.

1. Dekatkan diri pada Tuhan


Tidak ada cara terbaik untuk mengatasi masalah apapun dalam hidup ini selain mendekatkan diri kepada Tuhan. Tuhanlah yang Maha Membolak-balik hati kita. Mintalah pada-Nya untuk memudahkan kita melupakan si dia.

2. Olah Raga


Lakukanlah kegiatan fisik yang rutin dan teratur yang dapat membuatmu berkeringat. Olah raga seperti senam, renang, naik sepeda, dan sebagainya akan melatih fisikmu dengan baik. Kegiatan fisik akan sangat membantu mengatasi masalah yang mengendap dalam pikiran. Olah raga membuat fisik lebih sehat dan kuat serta bersemangat menjalani hidup. Tubuh yang sehat akan membantu kita mengembalikan semangat positif dalam hidup.

3. Lakukan Hobi


Setiap orang memiliki hobi atau passion masing-masing. Kerjakan hobimu setiap hari. Lakukan hal-hal yang kamu senangi. Ini akan membuat hati gembira sepanjang hari. Hati yang gembira akan lebih mudah diajak berpikir jernih. Hari-hari akan dijalani dengan pemikiran yang lebih positif.

4. Bersosiallah.



Jangan terlalu lama menyendiri. Jangan terlalu lama menyembunyikan diri. Kembalilah bergaul dengan orang-orang. Bersosiallah dengan semua kalangan. Ini akan memperluas pergaulan badan wawasan. Kamu akan melihat dan menyadari bahwa dunia tidak sesempit yang kamu kira. Dunia sangat luas. Tidak hanya dia aja yang ada dalam lingkaran hidup kamu.

5. Tingkatkan Kualitas Diri

Selain berguna secara internal. Ini juga akan sangat berguna, jika kamu berpikir hendak melakukan "balas dendam" yang elegan. Kamu memperlihatkan pada orang tersebut juga pada dunia bahwa kamu baik-baik saja tanpanya. Upaya meningkatkan kualitas diri juga akan membuat kamu sibuk sehingga akan lebih mudah dan cepat melupakan. Hanya saja, kamu jangan melakukannya setengah hati. Nanti yang ada malah pura-pura bahagia. Jalani dengan niat sungguh-sungguh dan upaya yang benar.

6. Menulislah


Sudah ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa menulis akan membantu mengurangi berbagai beban masalah.
Tulislah semua hal yang sedang kamu hadapi . Tulislah semua kesedihanmu. Lebih bagus lagi kalau kamu juga menulis semua kejelekannya. Tulislah bahwa kamu ingin melupakan beberapa hal dalam hidup ini yaitu dia. Tulislah bahwa kamu ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentunya ini hanya untuk ditulis bukan untuk dipublikasikan. Jangan memosting keambyaranmu di media sosial karena semua itu tidak ada keuntungannya, kecuali kamu menggubahnya menjadi karya seni atau karya sastra.

7. Bekonsul pada ahlinya

Jika kamu sudah tidak sanggup lagi, pergilah ke psikolog atau sejenisnya. Mintalah saran dan pendapat ahlinya. Jika perlu lakukan konsul rutin dan terjadwal sampai kamu benar-benar move on.

Selamat mencoba.

Senin, 13 April 2020

10 Strategi Jitu Kelola Uang Bagi Anak Kost

02.35 3 Comments

Strategi Jitu Kelola Uang bagi Anak Kost
Oleh Nailiya Nikmah



Situasi tertentu seperti rumah yang jauh dari tempat menimba ilmu akan membuat seseorang harus menyewa rumah atau kamar untuk tempat tinggal sementara dan menjalani hidup sebagai anak kost. Menjadi anak kost memerlukan seni tersendiri dalam hidup. Kemandirian dalam segala hal sangat diperlukan agar survive menghadapi segala kemungkinan yang ada.

Anak kost harus bisa membawa diri di tengah lingkungan baru yang bisa saja berbeda adat dan tradisi dari tempat asal. Ia juga harus pandai mengurus keperluan dirinya sendiri dari bangun tidur hingga tidur lagi. Anak kost harus pandai memanajemen waktu karena tidak ada lagi yang akan mengingatkan ketika ia lalai dari tugas. Anak kost juga harus selektif memilih lingkungan pergaulan karena sudah tidak ada lagi pengawasan orang tua secara langsung. Lebih dari itu, yang tidak kalah penting adalah anak kost harus terampil mengelola keuangan.

Pada umumnya anak kost mendapatkan uang sekali sebulan dari orang tua atau walinya. Uang tersebut bisa ditransfer maupun diantar langsung oleh orang tua atau diambil oleh anak ketika pulang kampung dalam waktu tertentu. Diperlukan strategi untuk mengelola uang tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehabisan uang jauh sebelum tiba waktu pengiriman berikutnya. Berikut ini beberapa strategi jitu mengelola keuangan bagi anak kost:

1.    Meletakkan biaya sewa kamar di urutan pertama daftar anggaran

Sebagai anak kost, pengeluaran wajib yang utama adalah membayar sewa kamar (dengan catatan biaya kuliah/SPP tidak termasuk dalam uang bulanan). Uang untuk membayar kost tidak boleh dipakai untuk keperluan lain karena menunggak pembayaran kost bisa berakibat fatal. Bagi anak kost, tidak punya tempat tinggal akan berpengaruh pada stabilitas hidup dan ini bisa mengganggu studi.

2.    Menyusun rencana menu makan selama satu bulan beserta biaya yang diperlukan
Salah satu strategi pengelolaan keuangan anak kost adalah dengan menyusun menu makan selama satu bulan beserta anggaran biayanya. Kita perlu melakukan analisis perhitungan mana yang lebih efektif dan efisien antara memasak sendiri dengan membeli yang sudah jadi. Memasak sendiri tidak selalu lebih efektif dan efisien. Terutama pada tahap awal yang memerlukan banyak penyesuaian. Yang perlu diingat adalah makan untuk hidup bukan untuk gaya hidup.

3.    Mengurangi kebiasaan ngemil

Anak kost biasanya menumpuk makanan (snack) dan minuman ringan (soft drink) dalam kamar dan mengonsumsinya terus-menerus di sela waktu makan utama. Selain tidak baik untuk kesehatan, kebiasaan tersebut juga membuat pengeluaran bertambah. Ini bisa diganti dengan kebiasaan minum air putih serta pola makan yang teratur. Bawalah botol minum kemanapun kita pergi. Bawalah bekal makan siang jika jadwal kuliah sangat padat dan tidak memungkinkan untuk pulang sehingga kita tidak tergoda untuk membeli soft drink dan yang lainnya sebagai penunda lapar.

4.    Mengutamakan keperluan kuliah di atas keperluan lainnya

Selain urusan bayar kuliah, masih banyak pengeluaran lain terkait keperluan kuliah misalnya membeli alat tulis dan buku kuliah, mengopi diktat, mencetak dan menjilid laporan tugas, iuran organisasi, dan sebagainya. Keperluan-keperluan ini harus diutamakan sebelum kita berpikir untuk melakukan pengeluaran lain yang sifatnya hanya untuk kesenangan dan gaya hidup seperti nongkrong di tempat hiburan bersama teman setiap pulang kuliah atau membeli baju model terbaru padahal baju lama masih layak pakai.

5.    Mengatur pengeluaran untuk kuota internet

Di era sekarang, kebutuhan terhadap kuota internet bagi seseorang hampir setara dengan kebutuhannya terhadap makanan. Jika tidak dikelola dengan baik, pembelian paket kuota internet akan sangat mempengaruhi keuangan anak kost. Lakukan upaya-upaya penghematan dan pergunakan kuota dengan bijak.

6.    Melakukan penghematan dengan mencuci dan menyetrika baju sendiri

Kadang-kadang anak kost malas mencuci bajunya sendiri. Tidak jarang, ada yang menumpuk baju kotor di kolong tempat tidur atau menggantungnya di dinding kamar sampai tidak tersisa lagi satupun baju  bersih untuk dipakai. Tumpukan baju kotor yang menyerupai anak gunung membuat anak kost putus asa lalu mengantarnya ke tempat laundry.  Tentu saja Ini akan menambah daftar pengeluaran. Aturlah jadwal mencuci dan menyetrika baju sendiri secara berkala sebelum menumpuk di dalam kamar.

7.    Menyimpan 25% dari uang bulanan sebagai cadangan

Anak kost sebaiknya melakukan pencadangan dana. Kita tidak tahu apa yang terjadi di bulan berikutnya. Sisihkan dan simpanlah setidaknya 25% (kalian bisa menyesuaikannya) dari uang bulanan sebagai dana cadangan. Dana ini tidak boleh dipakai kecuali keadaan darurat.

8.    Mencoba peluang beasiswa

Sebagai student/mahasiswa, kita memiliki peluang untuk memperoleh beasiswa. Rajinlah mengikuti informasi dari pihak kampus termasuk info beasiswa dan cobalah setiap peluang yang ada. Jika beruntung dan berhasil mendapatkan beasiswa, ini akan sangat membantu keuangan kita. Kalaupun uang bulanan kita sudah lebih dari cukup, kita bisa menabung/menyimpannya sebagai investasi.

9.    Mulai usaha kecil-kecilan sebagai tambahan keuangan
Jika kita kreatif, kemajuan teknologi memberi banyak kesempatan untuk kita melakukan usaha kecil-kecilan yang dapat menambah pemasukan. Tentu saja ini dilakukan tanpa menomorduakan urusan studi. Pilih kegiatan usaha yang tidak mengganggu studi. Jadikan teman-teman dan lingkungan studi sebagai bagian dari kemajuan usahamu.

10. Memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang receh/koin

Uang receh/koin sebagai bagian dari uang kembalian seringkali mengisi cukup banyak dompet atau tas. Tidak jarang ada yang sembarangan menaruhnya, berceceran di area kamar kost. Sebaiknya kita memiliki tempat khusus untuk mengumpulkan dan menyimpan uang receh/koin. Saat diperlukan, kita dengan mudah mengambilnya. Jika tidak digunakan, ini akan menjadi tabungan. Nah, selamat mencoba! [] Nai

Versi ringkas pernah dimuat di B.Post/ News Analysis/Smartmoney

Jumat, 20 Maret 2020

Catatan Hari-hari Pembelajaran Daringku dengan Zoom Cloud Meetings

13.59 0 Comments




Ditetapkannya corona sebagai pandemi oleh WHO, membuat berbagai kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah yang wilayahnya telah terdapat kasus covid-19. Berbagai spekulasi dan persepsi bertebaran di media. Semua berusaha belajar dari China dan Italia. Masyarakat mulai lebih melek setelah Arab Saudi (KSA) menutup akses umrah bagi sebagian besar negara yang terdapat kasus covid-19. Indonesia yang semula nyaris membusungkan dada karena nol kasus, nyatanya harus mengambil langkah juga setelah diumumkan secara resmi oleh presiden tentang adanya pasien 01 dan 02.

Masyarakat yang lebih dulu paham, mulai melakukan edukasi di media-media yang mereka punya. Hingga sampailah Indonesia pada fase menerapkan 14 hari di rumah alias work from home (WFH) untuk menekan angka penyebaran virus ini. Hal ini menimbulkan efek ke berbagai hal, di antaranya dalam dunia pendidikan. Kampus-kampus mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh, melarang kegiatan yang menimbulkan potensi berkumpulnya orang-orang bahkan menunda kegiatan penting yang sebelumnya sudah direncanakan hingga akhir Maret 2020.

Sebagai pengajar, aku turut merasakan dampaknya. Kami harus kreatif melakukan pembelajaran dari jarak jauh. Aku di rumahku. Mahasiswaku di rumahnya masing-masing. Berbagai aplikasi dan platform yang ada aku coba. Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan pembelajaran elektronik (e-learning). Aku pernah menggunakan edmodo dan google classroom serta sarana e-learning yang telah disediakan kampusku.  Hanya saja beberapa aplikasi masih ada yang aku belum terampil menggunakannya. Ini yang aku coba dalam situasi sekarang.


Hari pertama
Aku nekat menggunakan aplikasi zoom meeting cloud, meski sebelumnya aku hanya pernah berperan sebagai peserta sebuah teleconference dengan aplikasi ini. Tepat pada hari dan jam perkuliahan aku mengunduh aplikasi tersebut di laptop. Mahasiswaku juga sudah kuberitahu di grup WA. Aku membagi password dan meeting ID agar mahasiswaku bisa bergabung.

Pengalaman pertama sungguh lucu dan membuat aku ternganga. Aku bersiap seperti biasa. Mandi, berbaju kerja, berias muka, memakai jam tangan, dan tetap berparfum. Bagiku itu penting untuk membangun suasana kerja. Ya, aku kan mau mengajar. Hehe. Jam perkuliahanku ada di jam pertama. Ternyata, mahasiswaku rata-rata baru bangun tidur. Mereka masih awut-awutan. Aku yakin mereka belum mandi. Kumaafkan karena ini hari pertama dan salahku juga tidak membuat aturan sebelumnya.

Pesanku, buatlah aturan dan kesepakatan sebelumnya tentang ini. Penampilan harus tetap dijaga. Berpakaian rapi dan sopan selayaknya peserta kuliah.



Hari Kedua
Aku sudah memberitahu mahasiswaku agar berpakaian rapi dan sopan sebelum mengaktifkan kamera. Hari ini lebih baik meski masih ada beberapa yang sepertinya cuma cuci muka. Ada beberapa orang yang gagal join entah apa masalahnya.




Di tengah PBM, aku tiba-tiba kehilangan akses. Ya ampun, ternyata hp yang kupakai untuk teathring kuota kehabisan batrai. Setelah kuisi baterai, aku gagal masuk room lagi. Akhirnya PBM kulanjutkan di grup WA.

Pesanku di hari kedua: Cek baterai selalu, jangan sampai putus di tengah jalan

Hari Ketiga

Persiapanku lebih matang. Mahasiswaku juga telah melakukan simulasi sebelumnya. Malamnya aku juga sudah membuat kelas-kelas di google classroom buat jaga-jaga. Materi sudah kukirim. Penjelasan bisa lebih efektif dan selesai hampir tanpa gangguan berarti. Mahasiswa komen berebut, ada suara lain yang masuk, dan semua terhenti atas kesadaran mereka sendiri mematikan mikrofon.

Tiba-tiba aku kehilangan akses padahal baterai masih ada, mahasiswaku ramai chat di grup wa, “Kami keluar sendiri, Bu.”

Pesanku di hari ketiga: kenali, pelajari dan teruslah berusaha menguasai aplikasi yang kamu pilih

Rupanya waktu yang disediakan zoom sudah habis, alias 40 menit gratisan sudah berakhir. Untunglah materi memang sudah selesai dan sudah sempat tanya jawab. Hari ini, aku tidak memberikan tugas. Setahuku, dosen lain sudah banyak yang memberi mereka tugas. Kasihan juga, kan?

Pekan Kedua

Aku mulai lebih memahami aplikasi tersebut (Begitu juga dengan mahasiswaku hehe- pastilah mereka ada yang iseng dan mengakal. Cari saja lelucon seputar ini. Banyak berhamburan di dunia maya). Ada banyak tools yang bisa digunakan. Aku bisa mengajar sambil menjalankan slide PPT; sambil menulis-nulis di layar; sambil mempelajari manajemen personalnya. Aku juga mulai menyadari ada beberapa bagian dari materi yang harus ku-setting ulang. Ada tugas-tugas yang harus direvisi; ada pencapaian-pencapaian yang akan diminimalkan.

Pesanku di pekan kedua: Jangan terlalu serius, kendorkan sedikit agar kita tetap waras

Pekan Ketiga

Aku mulai mengurangi power, menghemat energi. Ternyata WFH kami tidak cukup dua pekan. Akupun mulai yakin, WFH ini akan berlangsung masih sangat lama. Aku benar-benar serius memikirkan PBM dan ketercapaiannya. Sekali lagi, jangan terlalu memberatkan, baik diri sendiri maupun mahasiswa.

Pekan Keempat


Aku memberikan opsi-opsi kepada mahasiswaku. Mereka boleh me-request hendak PBM menggunakan aplikasi apapun. Masih ada kelas yang menyukai zoom; ada kelas yang minta menggunakan WA; ada yang meminta menggunakan google classroom. Apapun, akan kuterima, asal mereka tetap semangat belajar. Sayangnya, di tiap kelas ada saja yang absen. Bukan apa-apa, mereka ternyata pada pulang kampung alias mudik. Terus, di kampung tidak ada sinyal. Ya, gitu deh.

Pesanku di pekan keempat: Jika sudah pulang kampung, sudahlah, relakan saja mereka.

Oiya, sejak pekan kedua aku sudah mulai merekam sebagian pertemuan kami. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin menyimpannya sebagai sebuah kenangan, sebuah dokumen. Seperti halnya tulisan receh ini, aku hanya ingin meninggalkan jejak digital tentang secuil peranku dalam perjuangan manusia menghadapi covid-19.

Jika kamu membacanya, terima kasih telah singgah di rumahku.[]Nai

Selasa, 25 Februari 2020

Puan dan Cinta yang Kehilangan Tuan

00.27 0 Comments

Puan dan Cinta yang Kehilangan Tuan
(Catatan Pementasan Asih dan Nuri dan Setangkai Mawar (NdSM))
Oleh Nailiya Nikmah JKF



Prolog
23 Februari 2020 menjadi tanggal penting bagi Kalimantan Selatan, khususnya kota Banjarmasin dengan terselenggaranya proyek Puan oleh Sanggar Anam Banua. Sebuah proyek yang saya tengarai diniatkan untuk bercerita tentang perempuan. Perempuan secara universal. Tidak peduli siapapun dan apapun keadaan serta latar belakang kehidupannya. Setidaknya itu yang bisa kita tangkap dari dua judul pementasan. Dikerjakan oleh lebih dari 65% perempuan, sebuah produksi yang dipimpin oleh Rosy memberi satu makna, betapa perempuan dan laki-laki bisa menjadi mitra, rekan, relasi, tim, partner, teman dalam dunia teater.
“Kami tidak sedang menyampaikan kesedihan atau penderitaan atau kelemahan kaum perempuan.” Kurang lebih demikian janji penasehat Sanggar Anam Banua – Riza Rahim dalam sambutannya sebelum pementasan Asih dan Nuri dan Setangkai Mawar (NdSM). Lalu kitapun berteka-teki, kisah macam apakah jika bukan kesedihan dan penderitaan yang akan dipersaksikan? Inilah catatan kecil saya, seorang penikmat teater, usai menjadi saksi keistimewaan Puan.

Bagian 1



Naskah pertama yang dipentaskan pukul 16.00 berjudul Asih. Asih ditulis dan disutradarai oleh Elma Salpiani - seorang puan yang jelita. Asih menawarkan kisah kuasa perempuan dibalik kelemahan dan keluguan seorang Asih. Seorang janda yang menghidupi anak perempuannya (Yarti) dan menantunya (suami Yarti) dengan cara memulung. Sebagaimana alur kehidupan yang selalu berpasangan, malam dan siang, bulan dan bintang, baik dan jahat, seperti itu pula yang terdapat dalam Asih. Asih sebagai tokoh baik berpasangan dengan tokoh Yarti sebagai tokoh jahat. Dengan itulah hidup terus berjalan. Orang jahat ada untuk menguji kebaikan orang baik. Orang baik ada untuk menerangi jalan orang jahat.

Tidak muluk-muluk yang diperjuangkan Asih. Ia hanya tidak ingin kehilangan peluang dan kesempatan untuk memberikan sebanyak-banyaknya cinta kepada Yarti, anak perempuannya yang berparas menawan sehingga apapun titah Yarti akan selalu ia penuhi. Sayangnya, Yarti bukan anak yang tahu balas budi. Keadaan ibunya (digambarkan dengan fisik tidak menarik dan kepribadian polos, lugu, jenaka) membuat ia berpikir bahwa ibunya adalah semacam kutukan dan pembawa sial dalam hidupnya. Yarti juga sering menghubungkan kematian ayahnya dengan kebenciannya terhadap Asih. Hati Yarti yang sempit menambah segala kesulitan hidup mereka menjadi lebih berat. Ia adalah anak sekaligus istri yang pemarah dan pengeluh. Memiliki ibu dan suami yang penyayang tidak serta-merta membuat Yarti bersyukur. Ia tak pernah berhenti mengutuk keadaan, meminta ini-itu kepada suami dan ibunya sendiri. Hingga suatu hari suami Yarti ditangkap polisi dan masuk penjara karena mencuri. Selama suaminya dipenjara, Yarti berselingkuh dengan beberapa laki-laki. Keluguan dan kecintaan Asih pada Yarti membuat ia memilih diam meski menyaksikan perilaku Yarti dengan mata kepalanya sendiri.

Kegamangan Elma

Sebuah cerita biasanya memiliki sentral atau fokus cerita. Dalam Asih saya meragukannya. Meski kisah ini diberi judul Asih, Elma tidak benar-benar fokus hanya kepada tokoh Asih. Saya berhipotes bahwa Asih yang dimaksud dalam judul ini bukan Asih sebagai nama tokoh melainkan asih dalam makna yang luas dari kata tersebut. Jika hipotesis saya salah, maka inilah hal lain itu. Saya menyebutnya kegamangan yang positif. Cerita Asih tidak fokus. Elma gamang memilih mana yang akan ditonjolkan. Asih atau Yarti. Semacam sebuah pengakuan bahwa perempuan dalam kacamata Elma tidak selalu bersih dan berhati malaikat. Barangkali pula, inilah kejujuran Elma dalam berkarya. Inilah perempuan dalam bingkai seorang Elma. Terima kasih, Elma.

Bagian 2

Naskah kedua yang dipentaskan pukul 20.00 adalah NdSM karya Ahmad Yamani disutradarai oleh Normasari. NdSM berkisah tentang seorang perempuan tuna susila bernama Nuri. Ia menjadi perempuan tuna susila setelah pernah dijual oleh suaminya sendiri. Ia juga menjadi tokoh yang dicari-cari polisi atas kasus pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan. Kehidupan yang menjelma neraka tidak lantas membuat ia abai terhadap tanggung jawabnya sebagai seorang manusia untuk menjadi berguna bagi sesama. Di mata anak-anak yang ia asuh, Nuri adalah ibu yang baik. Sama seperti ibu-ibu lain di muka bumi ini.

NdSM dan Ruh Lelaki di Dalamnya.

Dalam buku Teori Drama dan Pembelajarannya disebutkan bahwa untuk menulis naskah drama, pengarang memiliki gaya ekspresi verbal dalam menyampaikan gagasan. Ekspresi verbal merupakan teknik yang dipilih penulis dalam menyajikan dialog-dialog naskah drama. Ada tiga jenis gaya penggunaan ekspresi verbal dalam penyajian isi cerita, yakni gaya percakapan, gaya puisi dan gaya lirik (Pratiwi dan Frida, 2014).

Gaya percakapan merupakan gaya pengembangan dialog dengan memanfaatkan ciri-ciri bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat di tengah masyarakat yang disesuaikan dengan ciri budaya bahasa lisan masyarakat yang dikisahkan dalam naskah. Meski sudah ada istilah perempuan tuna susila dalam bahasa Indonesia yang dimaksudkan untuk memperhalus – istilah pelacur merupakan istilah yang lebih bersesuaian dengan gaya percakapan dalam NdSM. Tidak hanya istilah pelacur, beberapa istilah lain seperti burung yang kecil juga merupakan bagian dari gaya ini.

Beberapa adegan yang menjurus kepada hubungan seksual memberikan gambaran betapa NdSM sangat laki-laki. Ia adalah suara lelaki tentang kebutuhan lelaki. Bahwa cinta nomor sekian setelah seks. Meski diucapkan oleh Nuri – tokoh perempuan- “Tahi kucing dengan cinta!” atau “Persetan dengan Cinta” atau kalimat semisal itu, kalimat itu bukan kalimat perempuan. Sejatinya, kalimat tersebut adalah kalimat laki-laki yang dititipkan melalui Nuri. Adapun Ujang, barangkali dia anomali. Barangkali pula, ia adalah sebuah pembelaan bahwa tidak semua laki-laki pragmatis, bahwa tidak semua laki-laki jahat.

Maka demikianlah, meski disutradarai oleh perempuan dan produksinya dipimpin oleh seorang perempuan, ruh Ahmad Yamani – ruh lelaki mendekam dalam NdSM. NdSM menjadi semacam media bagi Yamani untuk menyampaikan harapannya tentang perempuan yang ideal. Bahwa perempuan, sejauh apapun ia berjalan, ia tetaplah seseorang yang memiliki sisi pengasih dan pengasuh. Tentu saja, Yamani harus berterima kasih kepada sutradara perempuannya yang  telah menafsirkan naskahnya dengan baik.

Bagian 3
Asih dan NdSM: Puan dan Cinta yang Kehilangan Tuan

“Kamu tidak tahu rasa sakit yang kualami,” berkali-kali Yarti mengatakannya setelah ia tertangkap basah oleh Acil sebelah rumahnya ketika berbuat tidak senonoh. Rasa sakit seperti apa yang dimaksud Yarti sebenarnya sehingga ia berpikir dapat menjadikannya sebagai pembelaan terhadap perilakunya. Kesepiankah? Kekurangan materikah? Kesulitan hidupkah? Tidak digambarkan secara eksplisit bahwa Yarti melakukannya demi uang sebagaimana Nuri dalam NdSM.

Jika Nuri berpikir cinta sudah tidak penting dalam salah satu dialog di NdSm, sekarang tengoklah Yarti dalam Asih.

“Aku mencintai suamiku,” tangis Yarti. Lantas, cinta macam apa yang bisa membuat seorang perempuan bisa melayani laki-laki lain? Serumit itukah cinta untuk dijelaskan?

Yarti dan Nuri, dua puan yang sama-sama cintanya tak bertuan saat mereka melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Yarti kehilangan separuh jiwanya setelah ayahnya tiada, lalu kehilangan arah setelah suaminya dipenjara. Nuri kehilangan rasa hormatnya terhadap laki-laki setelah suaminya tidak menghargai cintanya. Ia memandang laki-laki tak lebih sebagai sosok yang diperbudak nafsu. Cinta yang kehilangan tuannya, membuat Nuri dan Yarti memilih jalan yang keliru.

Epilog
Menjadi baik, lebih baik

Puan, 23 Februari 2020 telah berhasil mengungkapkan dunia perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebagai sebuah naskah drama - sebagai bagian karya sastra yang tidak hanya menghibur tapi juga mendidik, dua naskah Puan berujung pada satu simpul yang sama: menjadi (perempuan) baik, lebih baik. Pada akhir cerita, Yarti menyadari kesalahannya setelah diguyur sebaskom air oleh Asih. Ending yang terlalu sederhana sepertinya tapi begitulah hidup. Seringkali penyelesaian-penyelesaian terhadap masalah yang kita hadapi datang dengan cara yang tidak kita sangka dan perhitungkan. Nuri menyerahkan diri kepada polisi untuk memberi keterangan lengkap setelah menitipkan sang anak pada Ujang. Ia juga melabuhkan hati pada lelaki baik itu. Jika penonton jeli, Bi Ijah (mantan perempuan tuna susila dalam NdSM) beberapa kali bilang bahwa hidup adalah pilihan. Nuri bisa saja berargumen ia menjadi pelacur karena nasib, bukan kehendaknya. Akan tetapi Nuri dan Yarti dan perempuan manapun di muka bumi ini punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri yang jauh lebih baik. So, move on -lah para puan.[] Nai

Special for my friend Elma: Dear, Elma. Congratulation for Asih. Reward ur self!




Kamis, 06 Februari 2020

14.50 0 Comments

Mengelola Keuangan Menjelang Usia 30*
Oleh Nailiya Nikmah


Uang memang bukan segalanya, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa dengan uang kita bisa melakukan banyak kebaikan. Uang yang dikelola dengan rapi tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di masa sekarang tapi juga berguna untuk masa yang akan datang. Sayangnya, tidak semua orang menyadari pentingnya keterampilan mengelola keuangan pribadi. Terlebih bagi mereka yang sudah berada pada fase mapan alias berpenghasilan tetap dan mandiri. Kadang-kadang kemapanan membuat seseorang terlena dan menjadi tidak bijak dalam hal pengelolaan dan perencanaan keuangan.
Sebuah artikel dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis Vol. 7 No. 2 September 2007 menyebutkan terdapat 11 alasan mengapa perencanaan keuangan perlu dilakukan oleh individu maupun keluarga, yaitu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari berbagai risiko yang berdampak secara financial (seperti kecelakaan, penyakit, kematian, dan tuntutan hukum); mengurangi hutang-hutang pribadi/keluarga; membiayai kehidupan saat tidak lagi berada dalam rentang usia produktif; ini berkaitan dengan naiknya tingkat ekspektasi hidup rata-rata manusia di suatu negara; membayar biaya-biaya yang diperlukan untuk membesarkan anak; menyediakan biaya pendidikan anak sampai ke jenjang yang tinggi; membayar biaya pernikahan; membeli kendaraan; membeli rumah; mampu menentukan masa pensiun dengan gaya hidup yang kita inginkan; membayar biaya-biaya perawatan yang bersifat jangka panjang, dan mewariskan kesejahteraan kepada generasi berikutnya.
Meski kenyataan di lapangan bervariasi, dalam hitungan normal, seseorang memasuki fase mandiri dalam hal ekonomi pada usia 23 ke atas, dengan asumsi mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah strata 1. Pada tahap awal memasuki fase ini, seseorang cenderung menggunakan seluruh gaji atau penghasilannya untuk keperluan jangka pendek saja. Selain itu, mereka tidak membuat perencanaan keuangan yang baik dan benar. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa disadari seseorang akan mengalami kerugian finansial di masa depannya. Oleh sebab itu, kita perlu mengatur cashflow keuangan pribadi.
Nah, bagi yang akan memasuki usia 30 tahun, beberapa tips mengelola keuangan berikut ini bisa dicoba, yaitu:
1.        Melakukan pencatatan pengeluaran
Untuk melakukan perencanaan keuangan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencatat pengeluaran rutin yang dilakukan setiap bulannya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi apa saja kebutuhan kita dan seberapa besar dana yang kita keluarkan setiap bulan. Kita bisa mengenali mana pengeluaran rutin dan lainnya.
2.        Menyusun rencana anggaran berdasar skala prioritas
Di era sekarang, kemajuan di bidang teknologi dan informasi membuat kita setiap saat dikepung promo belanja online. Hal ini juga diperparah oleh tekanan gaya hidup. Tidak jarang, kita membeli sesuatu hanya karena tergiur iklan tanpa menganalisis seberapa urgen produk tersebut untuk dibeli. Langkah kedua dalam mengatur keuangan adalah menyusun anggaran atau budgeting berdasar skala prioritas. Usia 30 ke atas adalah fase seseorang merasa mapan lalu merasa sah-sah saja membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Jadi, kita harus melatih diri untuk membedakan mana kebutuhan, mana keinginan. Setelah itu, kita bisa membagi kelompok kebutuhan berdasar 3 klasifikasi, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
Bagi yang sudah menikah dan bekeluarga, anggaran pendapatan dan belanja keluarga (APBK) merupakan hal utama dari sebuah perencanaan yang baik dan efektif. Anggaran yang diperhitungkan secara benar akan memaksimalkan pencapaian sasaran maupun tujuan keuangan jangka panjang di tengah keterbatasan pendapatan.
3.        Mulai memiliki investasi dan tabungan
Banyak alternatif investasi dan tabungan yang ditawarkan. Pertimbangkan alternatif instrumen yang memang kita butuhkan dan kuasai. Investasi saham dan emas misalnya, harus benar-benar kita pelajari peluangnya sebelum memutuskan salah salah satunya sebagai pilihan. Sisihkan 20% dari penghasilan untuk langkah ketiga ini. Alangkah baiknya jika kita memiliki beberapa pos tabungan khusus sesuai keperluan, misal tabungan khusus untuk persiapan pergi haji bagi muslim; tabungan persiapan untuk menikah, dsb. Bahkan tabungan yang terdiri atas uang receh yang sepertinya tidak berguna akan menjadi sangat berguna suatu saat kelak.
4.        Mencari pendapatan tambahan
Meski kita sudah memiliki penghasilan atau pendapatan dari suatu pekerjaan tetap, ada baiknya kita memiliki pemasukan lain. Kita bisa mencoba usaha sampingan yang tidak mengganggu pekerjaan utama, misalnya mencoba usaha online bagi karyawan kantoran. Usaha ini tidak memerlukan modal besar dan tidak memerlukan tempat khusus.
5.        Mengatur batas hutang
Sebaiknya kita menghindari berhutang. Jika tidak dapat menghindarinya, kita harus mengatur batas hutang kita. Sebuah teori menyebutkan bahwa total jumlah cicilan hutang kita setiap bulan tidak boleh melebihi 30-35% penghasilan. Ini bisa dijadikan salah satu patokan kita dalam mengatur limit hutang. Selain itu, milikilah kesadaran untuk segera melunasi hutang-hutang agar tidak membebani.
6.        Menyiapkan dana pensiun
Mungkin ada yang beranggapan usia 30 masih jauh untuk pensiun dari dunia kerja sehingga menganggap persiapannya tidak terlalu penting. Pemikiran ini sebenarmya keliru. Persiapan dana pensiun justru harus dilakukan sedini mungkin. Saat pensiun, akan banyak perubahan dalam hidup kita termasuk kita akan kehilangan begitu banyak penghasilan dari sebelumnya. Jika kita tidak siap dengan perubahan ini, kita bisa saja akan shock dan panik ketika menjalaninya.
7.        Memiliki asuransi
Terlepas dari hal-hal yang kurang mengenakkan terkait asuransi, memiliki asuransi termasuk salah satu trend hidup yang pada salah satu kondisi tertentu akan sangat membantu kita. Sebelum memutuskan, pelajari agar tidak mengalami kerugian. Jika perlu, berkonsultasilah dengan ahlinya.
8.        Meningkatkan skill
Menjelang usia 30, kita harus tetap meningkatkan skill, termasuk skill mengelola keuangan. Banyak cara untuk meningkatkan skill misalnya dengan rajin membaca, mengikuti seminar atau pelatihan serta menonton tayangan-tayangan yang bermuatan edukasi.
9.        Membiasakan diri mengeluarkan dana sosial (:kegiatan amal, zakat, sedekah, infak dll)
Memiliki uang yang banyak bukan satu-satunya kebahagiaan. Jika ingin meraih kebahagiaan yang hakiki, langkah terakhir ini paling efektif untuk dilakukan. Secara psikologis, menolong orang lain akan membahagiakan diri sendiri. Setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain sejatinya akan kembali kepada kita. Dipandang dari kacamata agama, kegiatan semacam ini tidak akan membuat kita miskin tetapi justru sebaliknya.[]

*pernah dimuat di Harian Banjarmasin Post dengan proses penyuntingan oleh redaksi