Sabtu, 21 November 2020

APA YANG KAUHARAPKAN DARI HATI YANG RAPUH; DALAM CERUK KESEDIHAN; DI PINTU SEPI

12.03 0 Comments

 Tentang Antologi Puisi Tangan-tangan Kecil Semesta Karya Mahasiswa Prodi PBSI FKIP ULM 2020


 

 


Terkadang butuh waktu menyendiri

Bukan tuk melamun

Hanya saja merenung diri

Menjauh dari keramaian

Dan berteman dengan keheningan

....

(“Insecure (Aku Terlalu Rapuh)” Puisi Karya Muhammad Hendriansyah, hlm 38)

 

***

Pendahuluan

Dari sekian puisi yang terdapat dalam antologi Tangan-tangan Kecil Semesta (TtKS) karya mahasiswa PBSI ULM (2020) yang dieditori oleh Sainul Hermawan, puisi berjudul “Insecure (Aku Terlalu Rapuh)” Karya Muhammad Hendriansyah menarik untuk dijadikan pintu masuk sebagai salah satu jalan menyelami kanal puisi para generasi milenial ini. Dia ibarat portal menuju dunia entah yang hectic, hiruk-pikuk; dipenuhi pernik-pernik kemajuan zaman dan teknologi, perubahan tradisi, revolusi industri terbaru. Portal yang setelah berhasil kita lewati justru akan membuat kita tercekat dan tersadar bahwa tidak ada yang berubah sebenarnya. Hidup dan kehidupan berpola. Kisah-kisah berjalan mengikuti pola. Cerita mungkin berbeda tapi amanat yang dibawa tak berubah, tak lekang oleh masa.

Amanat kehidupan yang dititipkan pada sehelai puisi tidak semudah karya sastra lainnya untuk ditelisik. Meski kita sudah memahami seluruh unsur intrinsiknya, menelusuri unsur ekstrinsik puisi juga sangat baik dan perlu dilakukan jika kita benar-benar ingin menemukan makna yang sesungguhnya. Di akhir pengantarnya untuk antologi puisi TtKS, Sunu Wasono menyampaikan satu harapan semoga pembaca bisa berdialog dengan sajak-sajak yang terhimpun dalam antologi tersebut. Sebuah harapan yang sangat solutif. Bukankah berdialog merupakan salah satu cara manusia untuk bisa (saling) memahami. 

Antologi TtKs ditulis oleh sekelompok mahasiswa yang menjalani kehidupan sebagai generasi milenial. Generasi yang sering kali diklaim baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain sebagai sebuah generasi paling maju. Sayangnya, berbagai kemajuan yang melingkupi mereka tidak serta-merta menjadikan mereka sebagai manusia baru yang terlepas dari kemungkinan-kemungkinan buruk atau negatif. Salah satunya, perasaan insecure yang saya jadikan gerbang untuk meyingkap seluruh puisi. Dengan pendekatan psikologi sastra, inilah bedah kecil yang saya lakukan untuk TtKS.

Di Pintu Insecure

Insecure, atau rasa tidak aman, bisa diartikan sebagai rasa takut akan sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri. Rasa insecure inilah yang pada akhirnya, memicu anak untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Perilaku insecure pada anak dapat dicegah dengan mengasuh anak dalam cara-cara yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan optimisme anak. (Muaawanah, 2017) http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/assibyan/article/view/1336

Perasaan secure dan insecure yang dimiliki oleh seseorang tergantung dari internal working models of attachment yang dimilikinya (Bowlby dalam Collins & Feeney, 2004). Perasaan tersebut merupakan representasi umum tentang bagaimana orang terdekat memberi respon dan memberikan dukungan setiap kali seseorang membutuhkan orang lain dan bahwa dirinya sangat mendapat perhatian dan dukungan. Ini juga sangat berperan untuk membentuk kognisi, afeksi dan perilaku seseorang dalam konteks yang berhubungan dengan attachment. Individu yang mendapat secure attachment akan mengembangkan sebuah working model tentang dirinya sebagai orang yang dicintai dan memandang orang lain dekat, perhatian dan responsif terhadap kebutuhannya. Sebaliknya, individu yang mendapat insecure attachment akan mengembangkan working model diri yang tidak berharga, tidak kompeten dan sebagainya (Aji, Pranoto dan  Zahrotul Uyun, 2010).

Sebuah penelitian berjudul Hubungan antara Insecure Attachment dengan Kesepian yang dilakukan oleh Veri Aristi Amalia (2016) mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menghasilkan simpulan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara insecure attachment dengan kesepian.

 

 

Pembahasan


Butuh waktu bagiku menerimanya

Sempat raga dan batin tak seirama

Bahkan hatipun tak jelas suaranya

 

Aku sudah terlalu rapuh untuk dipatahkan

Bahkan terlalu retak untuk dipecahkan

Dihujani cacian seakan hal biasa

Lirikan matanya seolah menghina

 

Lidahnya bak seribu duri

Tiap percikan liur hanya menggores sembilu di hati

 

Dalam tes-tes atau wawancara psikologi, biasanya kata demi kata atau diksi/ pilihan kata yang diucapkan oleh klien merupakan petunjuk berharga yang tidak bisa diabaikan. Kadang-kadang kata diwakili oleh simbol-simbol, lambang, gambar, coretan-coretan tangan untuk kemudian diselami, dimaknai. Pendekatan semacam itulah yang harus dilakukan saat kita menyelami TtKS melalui pintu bernama insecure.

Meski tidak disebutkan siapa yang melakukannya, dapat dilihat dan didengar dengan jelas bahwa aku lirik dalam cuplikan bait-bait puisi  di atas mendapatkan perlakuan yang buruk. Ini bisa diketahui dari frase-frase seperti  dihujani cacian, lirikan menghina, lidah seribu duri, tiap percikan liur hanya menggores sembilu di hati. perlakuan-perlakuan yang ia terima inilah yang kemudian membuat aku lirik mengembangkan working model diri yang tidak berharga, tidak kompeten dan sebagainya seperti disebutkan oleh Aji dan  Zahrotul Uyun (2010). Aku sudah terlalu rapuh untuk dipatahkan. Bahkan terlalu retak untuk dipecahkan. Seperti itu yang muncul dalam perasaan aku lirik. Perasaan bahwa dirinya rapuh dan retak merupakan sebuah pernyataan alias dialog yang coba disampaikan sebagai salah satu bentuk insecure yang dialami.

Selanjutnya tengoklah Linda Pahlina dalam Puisinya “Segaris” hlm 37.

dalam garisku sebagai manusia

aku hanyalah orang yang penuh kegagalan

tanpa ada seorangpun yang sudi

menjadi tempat sekadar berbagi pelukan

saat hidup ini terasa menyakitkan

 

dalam garisku sebagai manusia

aku hanyalah orang yang kalah

yang menyerah, dipermainkan imajinasiku sendiri

....

                Sungguh sedih mendengar aku lirik bertutur sebagaimana dalam cuplikan bait puisi di atas. Akan tetapi, kejujurannya menyampaikan semua yang dirasakan merupakan sebuah kabar baik. Ini artinya, aku lirik mengenali perasaan-perasaan insecure yang ada pada dirinya. Aku lirik juga dengan lugas menyampaikan apa yang ia inginkan, apa yang ia harapkan dalam garis hidupnya sebagai seorang manusia. kutipan-kutipan ini selanjutnya menjadi petunjuk. .../aku lelah merasa terbuang/.../aku jatuh.../.../aku hanya ingin memanusiakan diriku/hingga disematkan kata pantas/diperlakukan sebagai manusia.//

                “Bunga Tak Bernama” ditulis oleh Firda Nabila Hidayati pada halaman 30, memperlihatkan insecure attachment yang diterima aku lirik, duri yang tumbuh bersamanya terus membisikkan bahwa dirinya tak lebih dari bunga buangan, bunga yang tak pernah diharapkan. Jika pada puisi sebelumnya tidak jelas siapa yang memberikan perlakuan-perakuan buruk terhadap aku lirik, pada puisi Firda ditulisnya bahwa duri yang tumbuh bersama sang bunga lah yang menumbuhkan perasaan insecure itu. Siapakah duri yang tumbuh bersama bunga? Orang-orang terdekat, orang-orang yang masih berada dalam satu lingkaran utama. Inilah salah satu contoh insecure attachment. Perlakuan-perlakuan tidak nyaman justru dilakukan oleh orang terdekat. Ini tidak bisa dipungkiri. Berita-berita di berbagai belahan bumi sudah banyak yang menginformasikan peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti orang tua yang menganiaya anaknya - melakukan kekerasan fisik dan psikis, anak yang menjahati orang tuanya, kakak terhadap adik, adik terhadap kakak, paman, bibi, sepupu, sahabat dll. Pada puisi Ayu Anindya Sekarndari, “Asalkan Ibu Tetap di Sini” hlm 24 makin memperjelas pentingnya secure attachment bagi seseorang. Ibu sebagai individu pertama dan utama dalam kehidupan manusia dalam puisi tersebut dengan lugas dituturkan oleh aku lirik .../Asalkan ibu tetap di sini/ Hidupku akan selalu penuh makna//.

Selanjutnya Annida Fitriani di hlm 9 dalam puisinya "Dalam Ceruk Kesedihan" menulis /jiwa-jiwa yang rapuh/lirih kumembisik sebuah ratapan/tentang leburnya perasaan/....Cahaya Nor Hidayah dalam puisi “Ruang Jiwa”hlm 27 menyuguhkan tentang keadaan sunyi tanpa suara. Sepercik semangatpun hampir tak ada/ tampak kuat padahal tak tersisa apa-apa/.../ingin rasanya berdebat dengan jiwa/.... Sunyi, sepi berkaitan dengan insecure. Kemudian rasa insecure ini pada akhirnya, memicu seseorang untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Tampak kuat padahal tak tersisa apa-apa.

                Lantas, bagaimanakah perasaan-perasaan tidak aman alias insecure tersebut sebaiknya disikapi? Antologi ini memaparkan dengan apik melalui beberapa puisi. Jika diamati maka polanya adalah pertama-tama ada rasa terluka, marah, benci, ingin melampiaskan semuanya, lalu tahap berikutnya melakukan perenungan, memilih untuk diam, hingga menemukan satu titik kembali pada hakikat sebagai manusia, makhluk yang tunduk pada ketetapan Tuhan. Seperti sambungan puisi insecure berikut ini

Ingin kumarah dan melepas amarah

Tapi lisan lebih memilih untuk tidak

Kadang semangatku membara

Dan tak heran  jika awan hitam bisa saja datang tiba-tiba

Pada akhirmya diri memilih tak peduli dan menutup telinga

Dan mencoba berdamai dengan realita

 

Ada fase untuk memilih, seperti kata Nur Anggia Febrina dalam “Memilih” (hlm 46). Dalam menjalani hidup kita akan selalu/memilih antara memacik nafsu atau/memeluk nurani/.... ada proses bagi makhluk yang berpikir. Selain itu, Anisa Nurul Fadilah memberikan sebuah altenatif paling keren melalaui puisi “Syukur” pada halaman 10. Perasaan-perasaan tidak nyaman dan tidak puas terhadap diri sendiri kadang juga disebabkan oleh kurang bersyukurnya kita terhadap kehidupan kita. .../Begitu bodohnya aku/tidak bisa bersyukur dengan apa yang kumiliki//.

Cahaya Nor Hidayah menulis di bait terakhir “Ruang jiwa” ah, tapi tenang saja/bukankah tuhan maha tahu/apa-apa yang tersembunyi di balik segalanya/dan takkan pernah mengacuhkan hamba yang datang/kepadanya//.

Sri Annisa dalam “Tangan-tangan Kecil Semesta” memberikan gambaran .../Aku berjalan merenungi semesta/Kita diberikan kehidupan yang berbeda, dengan/punggung yang beda juga kuatnya/.... Puisi Annisa sekaligus yang menjadi judul antologi ini dengan bijak menepuk pundak kita saat hati bersimpah duka. Kehidupan yang berbeda dengan punggung yang berbeda juga. Menerima kenyataan bahwa kita berbeda dari orang lain kadang perlu untuk menyadarkan kita agar tidak selalu menjadikan kehidupan orang lain sebagai tolak ukur. Kita perlu menyadari bahwa Tuhan tidak akan membebani di luar batas kemampuan kita; menyadari bahwa tidak akan tejadi apapun kepada kita selama tidak tertulis dalam takdir kita.

                Lantas, berterima kasihlah pada Dina Septiana Dewi yang dengan lugasnya pada hlm 29 menulis “Takdir Tuhan Pasti Baik”.

Ketika kau hampir menyerah pada tujuanmu

Jangan pernah kau berbalik arah

Apalagi berhenti untuk menggapainya

Ingatlah Tuhan selalu di sisimu

Mungkin apa yang kauminta sekian lama

Belum juga terwujud

Bukan karena Tuhan tak mendengar doamu

Tuhan lebih tahu apa yang kaubutuhkan

Karena takdir Tuhan pasti baik

 

***

 

 

Epilog

 

Saya akan kembali sekarang, melewati portal yang berbeda. Di penghujung esai ini, saya kutipkan sebuah puisi yang akan menghantarkan kita menuju jalan pulang. Ditulis oleh Anugrah Gio Pratama, begini bunyinya:

 

 

Di Pintu Sepi

 

Di pintu Sepi,

Pecahan pagi berguguran

 

Aku menyentuhnya

Lalu keributan mengungsi

Ke dalam dada

Lalu kesedihan tumpah

Di pelupuk mata

 

Tidak masalah jika saat ini kita merasa sedang insecure, tidak aman, tidak nyaman. Tidak masalah jika hari ini kita menangis atau bersedih dalam takaran yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh penduduk lain di muka bumi ini. Jika fase itu sedang kita jalani, itu artinya kita perlu jeda, perlu rehat. Jemputlah kata-kata sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga dada. Kata-kata indah, positif, penuh harapan, penuh doa, agar besok jauh lebih baik daripada hari ini.

 

 

 

Sabtu, 07 November 2020

Si Cantik dan Traumatik Politik

23.13 0 Comments

 (Sejarah yang Dititipkan dalam Novel May Karya Sandi Firly)

Oleh Nailiya Nikmah JKF

 


 

Prolog

Disadari atau tidak, sejarah hanya memuat dua hal besar dalam perjalanannya, yaitu rasa cinta dan rasa benci. Perasaan cinta dan benci sama-sama memberikan energi yang besar pada seseorang untuk melakukan sesuatu. Cinta cenderung mengarah kepada hal-hal positif sedangkan benci cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Rasa cinta atau benci yang mendominasi hati seseorang akan menutupi dirinya dari segala hal yang bernama objektivitas. Segalanya menjadi subjektif dan menjadi sulit untuk menerima pendapat orang lain. Mampukah kita menjadi lebih adil ketika berhadapan dengan berbagai peristiwa demi sesuatu yang bernama sejarah sebab sejatinya sebuah sejarah adalah riwayat mengadanya kita dan segala yang pernah ada.

 

Sastra dan Psikologi

Fenomena sastra sebagai cermin pribadi telah lama berkembang. Hanya saja, istilah “cermin” di sini bukan berarti sebagai cermin pribadi pengarang karena tidak selamanya pribadi pengarang selalu masuk ke dalam karya sastra yang ia ciptakan ( Endraswara dalam Minderop, 2013). Tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita, ada untuk membangun kisah, membangun suatu objek, secara psikologis merupakan wakil sang pengarang. Pesan-pesan pengarang muncul melalui para tokoh yang ia hidupkan dalam ceritanya.

John Keble berpendapat kedekatan antara karya sastra dan psikologi dapat dicermati melalui, misalnya karya-karya sastra yang merupakan ungkapan pemuasan motif konflik – desakan keinginan dan nafsu yang ditampilkan para tokoh untuk mencari kepuasan imajinatif yang dibarengi dengan upaya menyembunyikan dan menekan perasaan – dengan menggunakan ‘cadar’ atau ‘penyamar’ dari lubuk hati yang paling dalam (Abrams dalam Minderop). Gelora jiwa dan nafsu yang tampil melalui para tokoh inilah yang dapat digali melalui pendekatan psikologi. Psikologi sastra merupakan sebuah interdisiplin psikologi dan sastra. Mempelajarinya sama dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Menurut Minderop, daya tarik psikologi sastra adalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Bukan jiwa sendiri saja yang muncul, melainkan perwakilan jiwa-jiwa orang lain. Setiap pengarang menambahkan pengalamannya sendiri dalam karyanya, pengalaman tersebut sering pula dialami oleh orang lain.

 

May

Membaca May (2019) adalah membaca jiwa-jiwa para tokoh; membaca sekelumit peristiwa sejarah yang menjadi hal traumatik bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung. Peristiwa kelam yang dalam kepala masyarakat serta-merta berlabel “Politik” dengan sebutan khusus yaitu Jumat Kelabu. Jumat Kelabu mungkin menjadi satu-satunya tragedi besar di bidang politik bagi warga Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin. Ia menambah satu lagi point dalam daftar abu-abunya sejarah Indonesia. Tidak jelas diketahui apa sebenarnya yang terjadi, siapa, mengapa dan bagaimana.

 

...bukankah terkadang kebenaran sejarah itu sering ditutup-tutupi, bahkan disembunyikan sampai mati? Sejarah menjadi sejarah itu sendiri.”

“Lalu apa yang hendak kamu sampaikan dengan novelmu?”

“Mungkin tentang tragedi manusia-manusia setelah peristiwa kerusuhan itu.”(hlm 128).

 

Kutipan tersebut dan kutipan lainnya yang senada dengan itu (cari dan bacalah sendiri), sejalan dengan teori psikologi sastra sebelumnya yang menyebutkan bahwa pesan-pesan pengarang muncul melalui para tokoh yang ia hidupkan dalam ceritanya. Sandi memunculkan Kin sebagai sosok yang tidak terlalu jauh berbeda dengan dirinya. Seakan-akan Kin adalah Sandi yang sesungguhnya. Sandi sebagai pengarang bisa saja berlindung dibalik fiksionalitas sebuah novel. Akan tetapi, sesungguhnya, sandi terjebak pada fiksionalitas tersebut. Dengan beberapa pengaburan, ia justru seperti memperlihatkan banyak hal yang ia titipkan dalam May. Berikut, beberapa hal yang dititipkan Sandi dalam May.

1.       Ketakutan, kegamangan sebagai orang yang hidup dalam masa terjadinya tragedi tersebut.

Kegamangan dan ketakutan Sandi sudah terbaca dari sisi penamaan para tokoh. Ketakutan-ketakutan yang lumrah setiap kita hendak bicara politik menjangkiti pemikiran Sandi. Menyebut satu kata, satu nama, bisa jadi akan membuat kita terlibat banyak dalam suatu kejadian. Karena itulah kita takut, takut menyebut nama seseorang, takut membuat orang terfitnah atau tertuduh tanpa pembuktian yang jelas. Sandi memilih menamai tokohnya dengan gadis kedai, pak tua, laki-laki berjenggot, lelaki gendut, laki-laki muda, perempuan dewasa, pelaut muda, pemuda berdasi. Penamaan yang teramat umum, sulit untuk diidentifikasi terutama jika dikaitkan dengan lokalitas setting novel ini. Beberapa tokoh yang diberi nama misalnya, May, ini semacam berlindung dibalik penanda waktu kejadian saja. Tidak bisa dirujuk kepada satu sosok tertentu. Pak Gun, juga bukan nama seseorang yang mewakili tempat peristiwa ini terjadi secara khusus.

2.       Opini Sandi tentang tidak adanya penanda tragedi Jumat Kelabu dan karakter orang Banjar.

Jika kita membaca hlm 125 – 127 kita akan dapatkan hal utama yang hendak disampaikan pengarang dalam novel ini.

“Mengenai peristiwa 23 Mei, apakah ada tugu peringatannya? Tanya kin.

“Tidak ada.” Jawab May singkat. (hlm 125).

....

3.       Alam bawah sadar dan traumatik para tokoh

Hampir seluruh tokoh yang terlibat dalam tragedi 23 Mei dalam novel ini mengalami traumatik gangguan kejiwaan. Sebagai orang Banjar yang biasanya pemaaf, May merasa harus sudah bisa memaafkan dan melupakan. Tidak banyak orang tahu bahwa tanpa penanganan psikologis yang tepat, alam bawah sadar selamanya akan bekerja mengenang peristiwa sebagaimana kejadian awalnya.Yang paling parah, tidak salah lagi adalah May si gadis kedai. Sayangnya, ia pun ditulis dalam kegamangan hingga ending.

 

Kegamangan dalam novel ini bukan sesuatu yang buruk. Inilah sebuah pilihan tema yang dengan berani diambil oleh pengarangnya. Ia adalah bukti nyata bahwa demikianlah fenomena sejarah kita. Entahlah.

 

 

 

Jumat, 06 November 2020

Rahasia Survive di Era Milenial

18.48 0 Comments

 



Menjalani era milenial bukan hal mudah terutama bagi mereka yang sudah terlanjur pewe dengan posisi yang selama ini dijalani. Tak memandang dari generasi mana kita berasal, era milenial memukul rata semua lini untuk kita wajib survive demi sebuah ketahanan hidup yang lebih baik.

 

Di antara sekian tips untuk bisa survive di era milenial adalah berani dan pandai beradaptasi dengan keadaan. Kemampuan beradaptasi atau kemampuan menyesuaikan diri merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Hanya yang hidup yang dituntut untuk beradaptasi. Dengan kata lain, ketika kita tidak mampu beradaptasi, kita akan tergerus oleh keadaan. Kita akan mati dan punah ditelan zaman.

 

Salah satu kemampuan adaptasi yang dituntut kepada kita adalah dalam hal komunikasi dan dunia pendidikan. Penggunaan media teknologi dalam dunia pendidikan dapat membantu kita menghadapi kenyataan yang terjadi, sebagaimana dalam artikel ini.

 

Tentu saja akan ada tantangan dalam setiap peluang. Dalam dunia pendidikan, misalnya, pembelajaran daring akan membuat kita juga bisa merasa bosan sehingga kita harus bisa melakukan berbagai hal agar tetap survive. Cek di sini untuk mengatasi rasa bosan dalam PBM Daring.

 

Rahasia lain agar survive di era milenial adalah selalu menjadi diri dan pribadi yang terbuka dan berhenti memikirkan serta mengerjakan hal-hal tidak penting. Ada banyak cara untuk bisa move on dari masalah dan hal-hal yang tidak penting, kalian bisa cek di sini: Tips Cepat Move On.

 

Era milenial juga memaksa kita untuk beradaptasi dalam bidang bisnis dan ekonomi. Masa pandexx hanya satu unsur yang memaksa kita untuk beradaptasi. Sebenarnya jauh sebelum musibah tersebut datang, era milenial telah membuat kita harus mengubah prilaku belanja kita seperti dalam artikel Gaya Belanja pada Masa yang satu ini.

 

Buka Pikiran – Rahasia Survive di Era Milenial

 

Yang menurut kita bagus, belum tentu bagus menurut orang lain,

 

Demikian kurang lebih pesan yang disampaikan oleh Niko Julius sang pemateri dalam sesi Pelatihan Optimalisasi Instagram pada rangkaian  acara ulang tahun komunitas blogger perempuan banua yang berkibar di bawah bendera Female Blogger of Banjarmasin.  Komunitas blogger perempuan yang satu ini tahun 2020 merayakan hari jadinya yang ke-4. Masih terbilang muda namun melihat perayaannya yang super meriah kali ini membuat komunitas blogger perempuan ini patut diperhitungkan keberadaannya untuk ditilik peran dan kiprahnya dalam dunia blogger. Niko Julius - Pengusaha Muda dan online enterpreneur digaet oleh FBB menjadi nara sumber dalam acara puncak ultahnya dengan mengusung tema keren Unstoppable Creation.

 

Pada sesi tersebut, Niko Julius menyarankan banyak hal seputar upaya memaksimalkan media Instagram bagi para blogger. Salah satunya adalah memasang postingan blog ke feed instagram. Dia juga memberikan satu tips agar sering-sering saja memposting sesuatu agar orang semakin mengenal kita melalui media tersebut.

 

Seorang peserta bertanya tentang mengapa postingannya di IG yang sudah begitu bagus tidak banyak yang menyaksikan dan atau memberikan like. Niko menjelaskan panjang lebar. Belum tentu yang menurut kita bagus akan bagus juga di mata dan pikiran orang lain. Bisa jadi, yang menurut kita tidak bagus, justru yang disukai orang.  Selain itu, kita juga perlu melihat perspetif kita di mata orang lain. Orang lain melihat dan ingin melihat kita sebagai apa atau siapa.

 

Beberapa saat sebelumnya, dilaksanakan juga sesi Pelatihan fundamental SEO On Page yang dipaparkan dengan sangat apik oleh Irwin Andriyanto - Founder dan owner Tangerang Digital. Penjelasan beliau membuat kita berusaha melakukan upaya lebih lagi untuk blog yang kita miliki.

 



Ditambah acara bagi-bagi doorprize, acara bertabur sponsor tersebut membuat Minggu, 11 Oktober 2020 berasa sangat berkesan. Acara berlangsung lancar melalui platform zoom dari pukul 09.45 – 13.00 dengan pengaturan atau mekanisme sebagai berikut: Live zoom dari Have hotel bagi pengurus FBB dan live zoom dari rumah bagi anggota FBB. Acara yang bernuansa marun dengan desain background bernuansa kuning memberi kesan meriah bagi perayaan ultah FBB tahun ini. Acara kali ini didukung oleh 9 sponsor  dan 1 media partner. Kemeriahannya sudah berlangsung sejak beberapa hari menjelang puncak acara. Peserta ramai memposting berbagai tayangan menarik dan informatif dari para sponsor, yaitu:

 

1.       Mirabella Cosmetics

2.       Gloskin Banjarmasin

3.       Fave Hotel Banjarmasin

4.       Clean well Banjarmasin

5.       Tupperware Palma Tika Raya

6.       Kebabblasan Banjarmasin

7.       Summer Bed and Breakfast

8.       Ambeer.Le Hijab

9.       57 Kitchen

10.   Media Partner My Radio Banjarbaru

Demikian kenangan keseruan ultah fbb yang ke-4, semoga tahun depan kita bisa bersua lagi dalam kebersamaan yang jauh lebih baik dan tidak kurang suatu apapun.

Jumat, 30 Oktober 2020

Lima Tips Mengatasi Rasa Bosan Saat Kuliah Daring

10.14 1 Comments



Tidak terasa sudah berbulan-bulan dunia menghadapi situasi pandexx. Di Indonesia, situasi ini dimulai sejak awal Maret 2020. 


Berbagai kebijakan dalam segala bidang kehidupan diatur dengan memperhatikan kriteria protokol kesehatan demi memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. 


Salah satu trend kebijakan yang muncul adalah work from home atau bekerja dari rumah. Kebijakan ini memunculkan kebijakan lainnya dalam bidang pendidikan, yaitu belajar dari rumah. Dimulailah strategi pembelajaran jarak jauh dengan segala suka dukanya.

Konsep pembelajaran jarak jauh yang dipilih para pengajar sebagian besar adalah pembelajaran daring. Dengan ketersediaan kuota jaringan internet sebagai faktor pendukung utama, pembelajaran daring diharapkan dapat menunjang proses pendidikan sekaligus mendukung gerakan di rumah saja.


Para pengajar kemudian berburu platform dan mulai menjajal diri dengan berbagai keterampilan seputar teknologi pembelajaran. Jika dulu pembelajaran hanya bisa dilakukan di kelas, di kampus dengan media yang itu-itu saja, kini mereka mulai terbiasa melakukan beberapa hal baru dalam PBM, mulai dari berbagi materi melalui grup kelas, membuat dan mengirim video pembelajaran ke media sosial, hingga menyelenggarakan teleconference melalui berbagai platform meeting online gratis yang sudah tersedia.




Sebagaimana teknik dan strategi pembelajaran lainnya, pembelajaran daring juga memiliki peluang untuk dirasa membosankan, baik oleh peserta didik maupun para pengajarnya sendiri.

Berikut lima tips untuk para pengajar saat dilanda bosan dalam pembelajaran daring; agar tetap keren sebagai pengajar kelas daring:





1.    1. Semua berawal dari niat

Segala sesuatu bermula dan berpulang pada niat. Ingatlah dan luruskan kembali niat sebagai pengajar dan pendidik kala jenuh melanda hari-hari mengajar daring. Jangan lupa bahwa yang sedang dilakukan adalah tugas yang sudah menjadi bagian dari amanah yang suatu masa akan dimintai pertanggungjawabannya.


2.    2. Tepati jadwal

Berusahalah untuk selalu menepati jadwal pembelajaran yang sudah disusun oleh manajemen. Jika suatu ketika terlambat masuk maka bukan berarti bisa terlambat juga keluar kelas, ingatlah kelas lain sudah menunggu setelahnya. Kebiasaan melanggar jadwal akan membuat kita kehilangan semangat.


3.     3. Fleksibel

Pembelajaran daring sangat menuntut kita untuk bisa fleksibel dalam aktivitas pembelajaran. Kita harus bisa sedikit merenovasi kerangka berpikir kita dalam cara pandang pembelajaran konvensional yang terikat dengan ruang kelas dan segala atributnya. Jarak, ruang dan waktu sekarang menjadi semu dan tak berbatas. Longgarkan sedikit kekakuan kita dalam memandang ruang kelas yang terbatas. Pahami bahwa kini materi bisa didapatkan dan diberikan dengan beragam cara.



4.     4. Empati

Ada banyak kelebihan pembelajaran daring, namun masih banyak juga kendala dan kekurangannya. Penelitian yang saya lakukan bersama rekan-rekan (Nikmah, dkk, 2020)  menghasilkan temuan bahwa pengajar merasa kesulitan untuk menangkap apakah mahasiswanya sudah paham atau belum terhadap materi yang ia berikan. Sebaliknya mahasiswa juga kerepotan memahami para pengajar dalam pembelajaran jarak jauh. Sebagai pengajar, milikilah rasa empati yang lebih besar daripada sebelumnya. Berikan kesempatan peserta untuk bertanya bahkan di luar jam pembelajaran jika Anda masih memiliki waktu untuk melakukannya. Empati juga terhadap hal-hal terkait sarana dan prasarana yang mungkin tidak sama ketersediaannya pada semua peserta didik Anda.


5.     5. Jeda dan rehat

Ini point paling penting. Pembelajaran daring sering kali mengaburkan batas waktu. Jangan over dosis. Mengajarlah sesuai jadwal, sesuai tujuan pembelajaran. Atur waktu untuk tetap bisa beribadah tepat waktu. Miliki pula waktu untuk jeda dan rehat. Selain itu, siapkan selalu hal-hal kecil kesukaan Anda di samping perangkat mengajar. Secangkir kopi latte misalnya atau barangkali permen, cokelat, cookies, atau buku puisi kesukaan. Putar lagu favorit atau audio kesuakaan Anda di sela-sela jadwal mengajar. Jangan lupa berdiri dan berjalan-jalanlah di sekitar tempat Anda mengudara. Lakukan gerakan fisik ringan untuk membuat tubuh lebih rileks. Sesekali telponlah teman-teman ngerumpi Anda untuk sekadar say hello. Sekadar update status juga bisa mengurangi kebosanan.




Jika Anda seorang student, ini tips untuk para peserta kelas daring kala bosan melanda:



1.     1. Ingat masa depan

Sebosan apapun Anda, ingatlah bahwa pembelajaran daring merupakan bagian dari proses pencapaian tujuan hidup Anda di masa depan. Ingat kembali bahwa ini hanya bagian kecil yang pasti akan bisa dilalui dengan gemilang demi hari esok yang jauh lebih baik. Mengingat masa depan, mengingat masa kesuksesan akan menghilangkan rasa bosan di masa sekarang.


2.     2. Siap lahir batin

Bukan hanya pernikahan yang memerlukan persiapan lahir batin (hehe), pembelajaran daring juga butuh persiapan lahir batin. Kita perlu menyiapkan hati dan tekad yang kuat di samping perlu juga menyiapkan kuota internet yang banyak agar tidak terganggu ketika menjalani pembelajaran daring, terlebih jika pengajar kita menggunakan teleconference daring. Jangan kebanyakan begadang, rugi kalau kita ketiduran saat dosen menjelaskan dalam kelas meeting online, sementara kuota kita terkuras, hehe.



3.      3. Disiplin

Para pengajar kita akan sangat senang kalau kita disiplin baik dalam kehadiran maupun dalam pengerjaan tugas-tugas. Terutama dalam pembelajaran daring ini, kedisiplinan kita adalah hal berharga bagi para pengajar kita. Mereka jadi punya lebih banyak waktu untuk mengoreksi tugas kita dan memberikan feed back. Disiplin mengerjakan tugas juga akan sangat membantu kita dalam proses pembelajaran. tugas yang menumpuk hanya akan membuat kita stres dan frustasi.


4.     4. Empati

Miliki sikap empati, baik kepada sesama teman sekelas maupun kepada pengajar. Bantulah teman yang memiliki kemampuan belajar lebih rendah daripada kita. Hubungi dia jika dia terlihat belum online di kelas. Barangkali dia sedang menghadapi kendala berat yang bisa kita ringankan. Empati juga pada para pengajar, barangkali beliau juga sama lelahnya dengan kita. Jangan membuat dia gusar dan jengkel dengan prilaku kita.


5.     5. Jeda dan rehat

Karena kita bukan robot, kita perlu jeda dan rehat. Jangan lupa menjalankan ritual ibadah sesuai agama masing-masing. Kita juga perlu waktu untuk tetap bisa melakukan hal-hal yang kita sukai. Selain itu, sediakan tempat khusus untuk belajar online dengan suasana yang paling kondusif yang bisa kita upayakan. Tidak perlu perangakat yang mahal dan mewah. Bahkan jika hanya ada handphone yang bisa kita pakai, jangan berkecil hati. Gunakan headset untuk membantu.  Sama seperti pengajar, Anda juga berhak menyiapkan hal kecil kesukaan Anda. Secangkir kopi latte misalnya atau barangkali permen, cokelat, cookies, atau buku puisi kesukaan. Putar lagu favorit atau audio kesuakaan Anda di sela-sela jadwal belajar/kuliah. Jangan lupa berdiri dan berjalan-jalanlah di sekitar tempat Anda sedang daring. Lakukan gerakan fisik ringan untuk membuat tubuh lebih rileks. Lakukan hobi Anda saat ada jeda. Memetik gitar misalnya. 



Sesekali telponlah teman-teman ngerumpi Anda untuk sekadar say hello. Sekadar selfie dan update status juga bisa mengurangi kebosanan. Selamat mencoba!

 

Selasa, 20 Oktober 2020

Make up Simpel untuk Ke Kantor, Review Mirabella Colorfix

00.27 1 Comments




Pekerjaan yang menumpuk kadang membuat kita tidak sempat melakukan banyak hal lainnya. Apalagi saat tugas penting mendesak untuk segera diselesaikan tanpa batas waktu yang bisa ditoleransi lagi. Kita seakan tak bisa beranjak dari meja kerja.

Sebagai perempuan yang tetap mengutamakan penampilan, make up merupakan hal penting. Untuk itu, perlu make up yang tepat. Perempuan bekerja tidak memerlukan make up yang macam-macam karena tujuannya cuma untuk membuat wajah tetap fresh dan cerah. Cukup yang simpel dan praktis, tetapi tetap bisa menunjang penampilan terbaik kita.



Rangkaian kosmetik Mirabella merupakan pilihan yang tepat bagi perempuan bekerja. Yang aku pakai ada tiga item, yaitu Mirabella two way cake UV, Mirabella Lip cream Matte Ekspert, dan Mirabella Colorfix Lipstik. Dalam postingan kali ini aku juga aku mau review Mirabella colorfix yaa. Ketiga item ini aku peroleh dari dalam goodybag acara ultah FBB yang ke-4. Meski aku mengikuti secara daring, acara seru ini tetap bisa aku ikuti dengan baik. Anniversary FBB kali ini bertabur hadiah dari sponsor. Berbagai doorprize dan bingkisan membuat semua hepi.

Mirabella Two Way Cake merupakan kombinasi alas bedak dan bedak dengan formula tahan lama yang menghasilkan tampilan warna yang lebih merata dan halus. Bedak ini terasa ringan, bisa dipakai saat santai maupun saat formal hendak pergi ke kantor. Ia mengandung titanium dioxide sebagai uv filter yang sangat cocok untuk perempuan yang super sibuk. Ia juga mengandung vitamin E sebgai antioksidan dan jojoba oil yang dapat melembabkan. Paket yang sangat lengkap, bukan? 

Yang aku pakai adalah seri 02 golden beige. pas dengan warna kulitku. Saat aku sapukan sponnya ke wajah, butiran halus bedaknya terasa lembut dan seketika wajah kita menjadi terlihat bercahaya. Kemasannya yang simpel dan praktis (netto 11gr) karena sudah ada cermin di dalamnya, sangat cocok dimasukkan dalam tas kantor dengan warna ungu yang sangat elegan. Kita bisa touch up sehabis wudhu ketika ishoma di kantor.


 

Selain two way cake, kita bisa melengkapi penampilan dengan Mirabella colorfix lipstik. Ini nih, review Mirabella colorfix dariku. Yang aku punya No.71. Warnanya sangat soft sehingga cocok dipakai untuk sehari-hari tanpa merasa berlebihan dalam bermake-up. Cream lembutnya juga sangat ringan di bibir. Kemasan ungu elegan, berdiameter kecil, netto 23gr membuatnya mudah dibawa dalam tas kerja. Ia bahkan bisa dimasukkan dalam kotak ATK kita :)

Untuk melengkapi review Mirabella colorfix aku kali ini, akan aku tambahkan satu item lagi, barangkali akan masuk dalam keranjang belanja kalian. Saat kita hendak menghadiri meeting yang lebih serius atau acara jamuan makan bersama relasi bisnis, kita bisa menggunakan  Mirabella lip cream matte ekspert 08. Warna ungu agak gelap membuat penampilan kita sedikit tidak biasa. Ada kesan lebih tegas dan percaya diri di balik kecantikan dan kelembutan pemakainya. Kemasan bentuk persegi, netto 8gr juga pas dimasukkan dalam kotak ATK jika kita malas menambah-nambah slot lagi dalam tas kerja. Dengan Mirabella lip cream matte ekspert 08, kita bisa make over dalam sekejap yanpa harus repot ganti kostum atau ke salon saat di kantor tetiba ada undangan acara khusus.

Tambahkan teks



Sebelum aku tutup review Mirabela Colorfix kali ini, berikut beberapa Tips Rangkaian Make Up Simpel untuk Ke Kantor versi Tatirah

1.  Jangan lupa bersihkan wajah baik dari sisa make up maupun dari debu yang menempel sebelum langkah lainnya. Ini juga membantu mengangkat sel-sel kulit yang mati. Selain itu, membersihkan wajah yang baik dan benar akan membuat kulit rileks dan kita juga tidak merasa bersalah pada wajah. Gunakan susu pembersih dan penyegarnya dengan baik. Lakukan ini kembali sebelum touch up di siang hari di tempat kerja.

2.  Kenakan pelembab dan sunscreen sebagai rangkaian wajib setelah muka sudah bersih. Langkah yang satu ini bahkan jauh lebih penting daripada menggunakan skincare dan make up lainnya.

3.     Selanjutnya, gunakan Mirabella Two Way Cake UV yang akan membuat wajah lebih berkilau. Lengkapi dengan lipstik warna lembut yang sesuai dengan tone kulit dan bibir kita.

Selamat bekerja dan tetap cantik, ya!

 

 

Minggu, 06 September 2020

Gaya Belanja pada Masa Pandemi

16.09 9 Comments
Masa Pandemi membuat gaya belanja kami berubah. Kami jadi jarang ke luar rumah dan ke tempat belanja. Semua bisa dilakukan dari rumah sekarang. Hidup telah berubah. Akan tetapi, hei jangan salah. Jangan kira ini begitu mudah terjadi padaku. Ini kisahku di Hari Pelanggan Nasional (4 September) yang kutulis sebagai artikel yang kuikutkan dalam FBB Kolaborasi Edisi bulan ini.


Untuk sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup, aku selalu menundanya. Aku tidak mau ikut-ikutan gaya orang lain. Selama aku belum memerlukannya aku tidak akan mengikuti perubahan atau gaya orang lain yang lagi trend sekalipun.
Dulu, ketika teman-temanku sudah punya akun belanja online, aku masih bertahan dengan belanja gaya konvensional. Sesekali aku menitipkan belanjaanku pada mereka jika kebetulan barang yang kami inginkan sama. Lumayan menghemat ongkir dan berpeluang mendapatkan diskon kata temanku. Temanku yang lainnya malah sudah memiliki akun berjualan online. Aku semakin jauh dong tertinggalnya.


Kemunculan berbagai aplikasi transaksi belanja dan lainnya membuat aku semakin merasa "Hello, Nai. Wake up. Kamu masih hidup, kan?" 

Aku sadar semua ini tidak bisa dihindari tapi aku merasa masih belum memerlukannya. Aku tidak memasang aplikasi tersebut di smartphone-ku. Jika aku terdesak memerlukannya, aku biasanya minta bantuan saudaraku. Aku menelponnya lalu meminta dia, entah memesankan Go***, memesankan barang, dan sebagainya.


Suatu hari aku ikut sebuah training di Jakarta. Sendirian. Setelah mendarat di Bandara Soetta, mulailah masalahku. Untuk menuju hotel yang sudah dipesankan oleh sepupuku, aku disuruhnya memesan mobil G***. Aku belum memasang aplikasinya bahkan di hp. Sesuai petunjuk sepupuku, aku minta bantuan petugas stand G*** yang ada di bandara saat itu. Dia memasangkan aplikasi di hp ku hingga memesankan aku sebuah mobil untuk mengantarku ke tempat tujuan. Sejak itu dua aplikasi transportasi ada di hp-ku.


Usai pelatihan, aplikasi itu sangat jarang aku pakai. Hingga tiba masa Pandemi yang sangat mengguncang dunia ini. Bulan-bulan pertama aku masih bertahan. Tidak menggunakan aplikasi apapun untuk hidup. Aku sesekali masih keluar untuk belanja.  Lama-lama aku lelah. Akhirnya sedikit demi sedikit aku belanja online lewat aplikasi tersebut. Paling banyak kupakai Untuk  membeli makanan dengan sistem bayar tunai di tempat.

Sesekali aku pergi ke ATM untuk melakukan pembayaran. Masih ribet? Yup. Aku masih tidak mengaktifkan mobile banking.
***


Pada Hari Pelanggan Nasional ini, aku juga mau cerita tentang pada akhirnya aku melakukan sesuatu terkait mobile banking.
Suatu hari -panjang ceritanya- aku harus mengirimkan uang beberapa teman di kantor melalui rekening aku, sebagian lainnya melalui rekening temanku. Aku pun pergi ke bank. Oleh bank aku ditolak mengirim melalui teller karena sesuatu hal. Aku diminta mengirim lewat ATM saja. Setelah aku coba ternyata lewat ATM pun gagal. Oleh pihak bank, aku diminta mengirim via mobile banking. Jujur aja ya saat itu sebenarnya aku rasa mau menghilang dari muka bumi tapi aku harus segera mengirim. Akhirnya aku menyerah ketika pihak bank memasangkan aplikasi mobile banking di hp-ku. Dia juga mengajari aku cara menggunakannya.
***

Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Hohoo...aku sekarang sudah lihai transfer-transfer lewat hp. Hihi. Efek lainnya, aku sudah bisa belanja online terutama saat kebutuhan mendesak dan mendadak ditambah situasi Pandemi yang sangat membatasi gerak ini.

***
Zaman berubah, teknologi berkembang, gaya belanja pun menyesuaikan. 


Bertepatan dengan hari Pelanggan Nasional ini aku menyadari satu hal bahwa aku bisa berubah meski harus melalui kondisi darurat terlebih dahulu. Tentu saja itu membuatku lega. Bukankah kita perlu bergerak dan berubah? Bukankah air yang diam akan menimbulkan penyakit? Selain itu, konon dinosaurus punah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.