Rabu, 07 April 2021

Menafsir Ramuan Sihir Baru Sebuah Kota

19.03 1 Comments

 

Oleh Nailiya Nikmah


 

Pendahuluan

Dalam bukunya Pengarang Tidak Mati, Mahayana (2012:122) menulis satu sub bab khusus tentang komunitas sebagai gerakan ideologi estetika. Ia menyebut sebuah komunitas terbentuk seringkali dipicu oleh adanya kesadaran yang sama dalam memandang problem yang melatarbelakanginya dan harapan yang melatardepaninya.

Antologi puisi dan cerpen Sihir Baru Sebuah Kota (SBSK) diterbitkan oleh G Pustaka (Februari 2021) berjumlah 110 halaman ditulis oleh sekumpulan penulis muda Kalimantan Selatan dengan sebutan Sekte Penulis Muda Kalimantan Selatan (demikian tertulis di sampul buku). Terlepas dari siapa yang memberi nama dan hal apa yang melatarinya, makna yang bisa diambil yaitu, pertama, para penulisnya merupakan sekelompok penulis muda yang berasal dari Kalsel. Kedua, penggunaan kata sekte menjadi semacam clue awal bagi pembaca sebelum menyelami satu-persatu isi buku ini, seperti membaca rasi bintang di langit malam.

Menurut KBBI, “Sekte berarti kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut; mazhab. Ini menjadi semacam ajang pencarian jati diri, baik para penulisnya sebagai individu maupun sebagai bagian dari kelompok tersebut sekaligus upaya pengklaiman mereka (para penulis tersebut) sebagai kelompok penulis yang berbeda.

Siapa atau kelompok manakah yang hendak mereka bedakan dari kelompok mereka? Apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan? Arah mana yang hendak dituju? Apa yang hendak dihasilkan oleh ‘sekte’ tersebut? Ramuan macam apa yang mereka janjikan? Pertanyan-pertanyaan ini kita bawa saja sambil menuju sihir baru di sebuah kota.

Kerangka Teori

Hasil penelitian, kajian dan penelusuran data yang dilakukan oleh Sulaiman dan Priyono Tri Febrianto (2017) dalam artikel ilmiahnya pada Jurnal Masyarakat, Kebudayaan dan Politik mengemukakan bahwa konsep periodesasi sejarah sastra Indonesia berdasarkan perubahan warna sastra Indonesia dipengaruhi oleh sosial, budaya dan politik. Periodesasi tersebut, yaitu Angkatan 20 (Angkatan Balai Pustaka), Angkatan 33 (Pujangga Baru), Angkatan 45 (Perjuangan), Angkatan 66 (Pergolakan), Angkatan 80 (Romantisme) dan Angkatan 98 (Reformasi).

Mahayana (2012) menyebutkan bahwa tradisi kepengarangan di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Dilihat dari perspektif kepengarangan sebagai sebuah profesi, cikal-bakalnya dimulai sejak zaman raja-raja. Pada masa silam, para pujangga dan pengarang memiliki misi memperkokoh karisma raja di hadapan rakyatnya agar raja dikagumi dan dibanggakan oleh rakyat sehingga dapat melegitimasi kesaktian raja yang harus dipercaya oleh rakyat. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang memandang raja sebagai keturunan dewa. Dalam kehidupan modern, kedudukan dan peran pengarang (sastrawan) relatif lebih bebas dan mandiri meski sejarah kita mencatat bahwa pernah ada seniman dan sastrawan yang diawasi, dipaksa dan diperalat untuk kepentingan ideologi tertentu. Kemudian kesadaran sastrawan mengenai licentia poetica sebagai hak istimewa yang fundamental menyebabkan sastrawan tidak mau terikat pada pihak manapun. Mereka berpihak pada kemanusiaan. Yang diperjuangkan adalah peningkatan moral, keluhuran budi, dan peri kemanusiaan.

Menafsir Ramuan Sihir SBSK

SBSK mengandung dua jenis ramuan, yaitu puisi dan cerpen. Sungguh sebuah kerja yang berat untuk membaca dan menafsir dua ramuan sekaligus dalam satu kesempatan. Untuk itu, saya akan membaginya menjadi dua bagian dengan pendekatan yang berbeda sebelum memandang keduanya sebagai sebuah kesatuan dalam SBSK.

1.      Puisi-puisi dalam SBSK

Terdapat 25 nama penulis puisi (yang didominasi oleh laki-laki) dalam SBSK dengan jumlah puisi yang tidak seragam pada setiap penulis. Beberapa penulis sudah mempunyai ‘nama’ dalam artian sudah jelas posisinya dalam ranah kepenulisan (:kesusastraan) di Kalimantan Selatan. Penulis-penulis yang karya-karyanya sudah memiliki bentuk dan karakter. Untuk itu saya pikir saya tidak perlu lagi menghambur-hamburkan puja-puji atas keterampilan dan kepiawaian mereka dalam membuat ramuan puisi.

Tengoklah ketika ia bicara soal rindu misalnya, Ikhlas El Qasr sebagai wakil pada halaman 25 menulis di ‘Pukul Sepuluh Malam.’

...

lampu-lampu redup

barak-barak pekerja telah mencapai lelapnya

dan beberapa kendaraan telah terparkir

tapi kepalaku masih begitu beku

begitu rindu

 

Jika dibaca bait-bait sebelumnya, akan kita temukan suasana kesepian yang dibangun dengan sangat hati-hati oleh penyair. Suasana sepi yang dibangun dalam kewajaran kehidupan sebuah kota. Masih ada sedikit riuh di sekitar, akan tetapi sepi secara bertahap sudah mengerumuni aku lirik. Situasi yang sempurna untuk sebuah kerinduan.

Suasana dan situasi semacam itu, beberapa juga diramu oleh penyair lainnya. Abdillah Mubarak Nurin pada halaman 8 menulis ... Memandangmu ialah mendengarkan bunyi hujan/ Di sebuah pagi di hari libur/ .../Memandangmu ialah caraku menepi/ Dari segala keluh kesah dan kebisingan/ .... atau di puisi lainnya tentang kota dia menulis .../Langgar-langgar yang sepi /Juga pepohonan yang rapuh/ .../ Daun-daun jatuh tanpa denting/ Sungai-sungai mengering/ ....Atau tengoklah ‘Grafir Mata Luka’ yang ditulis oleh M. Irwan Aprialdy, Kau menyortir ingatan.../mata luka, pagi bertahan amsal angan/ tertahan di mimpi ganjil kepergian:/...cerita-cerita klandestin/ di bawah hujan?/.

Pada pembacaan selanjutnya, tulisan ini menggunakan pendekatan kritik feminis sederhana. Dalam ilmu sastra, feminisme berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Arti sederhana yang dikandung adalah pengeritik memandang sastra dengan kesadaran khusus bahwa ada jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan (Syuropati dan Agustina Soebachman, 2012).

‘Kepada Cinta’ halaman 11, aku lirik menyampaikan seluruh ihwal kepada seseorang atau sesuatu yang ia sebut Amizah. Menghadap rahim permaimu menjadi sebuah petunjuk bahwa aku lirik sedang bercakap dengan perempuan atau sesuatu yang direlasikan sebagai perempuan. Bawalah, sudahilah, marilah, izinkan, jangan kita izinkan, menjadi simbol-simbol perintah, permintaan dan larangan bagi Amizah yang memiliki rahim (:perempuan) dalam puisi ini. Di bawah lindungan judul ‘Kepada Cinta’, puisi ini pun memberikan gambaran, bahwa cinta (kepada perempuan) itu isinya larangan dan perintah.

F. Chopin:Nocturne yang ditulis oleh Achmad Zulkifli Altinus halaman 12, ...merambah di celah-celah kesunyian, menyentuh cadar keingintahuanku.

Ahmad Rasyid dalam ‘Menunggu Tua” halaman 14 secara utuh dan eksplisit menuliskan curahan hati aku lirik kepada seorang perempuan. Keinginan dan harapan-harapan yang bersifat ragawi terpampang di sini.  Aku ingin pulang dan menemukan kau mengeluh di meja makan  beserta anak-anak/ .../Aku ingin pulang dan menemukan/ selarik sambutan mesramu di atas ranjang/...aku ingin mencintaimu seperti sajak sapardi; sederhana namun kuat/. Kutipan-kutipan ini menggambarkan bahwa perempuan diharapkan ada di rumah ketika aku lirik pulang, fasih mengurus anak, terampil melayani dirinya. Selanjutnya di puisi ‘Kota” hal tersebut dipertegas kembali, setelah seharian bergurau dengan kesibukan/ laki-laki itu beranjak menuju sarangnya/ dengan kepala mendidih/ Disambut seorang wanita yang sedang bersandiwara/ di atas ranjang kayu mereka kembali berbulan madu/. Lalu pada masanya, pada akhirnya perempuan pun menjadi tidak berdaya dalam ‘Pembantu Gila’ .

‘Riwayat Nenek Tua di Perahu Terapung’ yang ditulis Arif Rahman Heriansyah pada halaman 20, kembali mengingatkan kita pada kekuatan sekaligus kelemahan perempuan banua. Senada dengan Arif, M. Rahim Arza pada halaman 29 menuliskan ‘Hikayat Muara Sungai Lok Baintan’. Pada pukul enam subuh/menatap sunrise pada kecantikan sungai Lok Baintan/ Acil berjamaah mengayuh harapannya di perbatasan waktu/ .../ yang terbingkai dalam senyum Hajjah Faridah, tenggelam di masa silam/.

Perempuan-perempuan banua begitu rajin, dini hari berkabut, merekalah yang memenuhi permukaan sungai. Seperti dua mata pisau. Satu sisi kita bisa berbangga hati, lihatlah perempuan kami mandiri dan gagah berani. Akan tetapi di sisi lain, tidakkah kita perlu juga bertanya kemana para lelaki. Maka, betapa sempurna baris terakhir puisi Arif yang berupa tanya tanpa tanda tanya, yaitu masih adakah pemuda, yang bisa menggenggam Banua.

‘Sihir Sebuah Kota’ karya Muhammad Daffa menyapa Sinta dalam dua baitnya. Dalam heningmu, Sinta, ratusan malam merombak jalan pulang/dari seluruh kisah yang dibuang/, sementara Muhammad Zaini, merayu Ratih dalam dua lariknya. Kau puisi yang selalu kucoba mengerti/ kau sajak yang selalu ingin kunikmati/. Nama-nama perempuan sering menjadi objek dalam puisi. Jika ingin ditelaah lebih jauh, barangkali kita akan temukan lebih banyak nama perempuan yang disebut dalam puisi daripada nama laki-laki. Adakah ini menjadi sebuah tanda bahwa perempuan adalah objek yang masih dan akan terus berpotensi untuk dieksploitasi. Perempuan adalah sesuatu yang selalu ingin dinikmati, demikian tulis Zaini. Barangkali pula ini sebuah petunjuk bahwa penyair laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Jikapun hipotesis ini keliru, barangkali perempuan enggan menulis nama laki-laki yang dipujanya karena ia merasa malu.

Rahmat Akbar dalam ‘Nelayan Tua’halaman 38 seorang lelaki berwajah legam menggenggam/ .../lalu tersemai di sebuah saku ibu/ berisi mimpi yang akan lebih maju. Dalam puisi ini bahkan lelaki sekuat apapun memerlukan sosok perempuan (:ibu) dalam perjuangannya. Meski sekadar dioerankan sebagai pemanjat doa dan harapan.

‘Hikayat Cinta Nelayan Piatu’ karya Rezqie M.A. Atmanegara, halaman 39. Puisi ini meng’alam’kan perempuan. Simaklah larik nelayan lahir dari rahim pesisir/.../kukalungkan selaksa permata buih di lehermu. Kita perlu menelisik lebih dalam apa yang dimaksud nelayan piatu oleh penyair. Piatu artinya seseorang yang sudah tidak beribu. Di bait kedua disebutkan nelayan lahir dari rahim pesisir. Ketika nelayan menjadi piatu, artinya dia telah kehilangan pesisir padahal kita tahu nelayanlah yang meninggalkan pesisir. Ini menjadi sesuatu yang agak bertentangan dengan logika. Menariknya lagi, penggambaran piatu yang bisa kita relasikan dengan kehilangan sosok ibu dalam puisi ini membuat aku lirik mencari pengganti sosok lain. Akulah sang nelayan piatu/ dan kaulah sampan cintaku/. Bait ini kiranya tidak bicara cinta terhadap perempuan yang berperan sebagai ibu lagi tetapi cinta terhadap perempuan lain sebagaimana relasi laki-laki dan perempuan lazimnya. Konon laki-laki akan mencari pujaan hati yang sekarakter dengan sosok ibunya. Barangkali inilah salah satu sihir dalam ramuan SBSK.

Rizani ‘Mantap’ halaman 41 menulis dengan sangat lugas, jujur, jika kita tidak ingin menyebutnya vulgar. Jika pada halaman-halaman sebelumnya pembicaraan tentang perempuan adalah sanjungan, puja-puji dan harapan-harapan lelaki (sulit untuk tidak membacanya sebagai bukan harapan laki-laki) dalam balutan masa lampau dan konvensional, Rizani dalam ‘Mantap’ menuturkan kelamahannya ketika menghadapi (:melihat) perempuan di tik tok. Perempuan yang tidak ada secara fisik atau nyata di dekatnya namun mampu membua nafsu aku lirik tak terbendung.

Rizky Burmin ‘Selepas Subuh’ halaman 43 menulis selepas subuh/ kau menggodaku/ dengan linger* warna ungu/ bers*t*buh katamu adalah obat paling ampuh melupakan hutang dan sewa kontrakan.dst. Puisi ini mencoba meminjam suara perempuan untuk mengemukakan suara laki-laki. Aku lirik tidak berani mengatakan bahwa dialah yang berpendapat demikian. Hubungan antara dua lawan jenis yang bisa melupakan hal-hal lain hanya ada dalam pikiran laki-laki. Tidak bagi perempuan.

 

2.      Cerpen-cerpen dalam SBSK

Terdapat 6 cerpen dalam SBSK yang semuanya ditulis oleh laki-laki. Berbeda dengan puisi, meski sama-sama dikerjakan dalam kesendirian, cerpen memerlukan energi yang relatif lebih banyak untuk menciptanya menjadi sebuah cerpen yang bagus. Sekali lagi, sebuah cerpen yang bagus. Bukan asal cerpen, bukan asal jadi. Ada hal penting yang memang benar-benar penting untuk bisa dikisahkan, dituliskan dan diselesaikan.

Ketika sebuah orkestra memainkan simfoni, ada upaya bersama banyak pihak di sana. Para musisi memainkan alat musik; dirigen membantu agar semua terdengar harmonis; sebelumnya komponis harus menuliskan lembar musiknya. Begitu pula dengan sandiwara, teater, film. Ada lebih banyak pihak lagi yang memainkan perannya. Ada penulis skenario, aktor, penata kostum, penata latar, pencahayaan dan sebagainya. Berbeda dengan hal tersebut, menulis fiksi adalah seni yang sepi. Card (2005) memaparkan bahwa bagi penulis fiksi, tidak ada sekelompok aktor atau musisi yang akan mengikuti perintahnya. Penulis fiksi adalah penggubah sekaligus pemain; pencerita (pendongeng) sekaligus penulis.

Seorang penulis fiksi harus mampu memadukan peran pendongeng sekaligus penulis dan melakukan keduanya dengan baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui penokohan yang efektif. Dalam bukunya, Card membaginya menjadi tiga bagian, yaitu penciptaan, pengembangan dan penampilan. Di antara tiga bagian tersebut, bagian penciptaan merupakan hal pertama yang mestinya dipenuhi. Seperti apakah tokoh fiksi yang baik? “Jika dia adalah tokoh penting, dia harus cukup menarik dan dapat dipercaya. Jika dia tokoh sampingan, dia harus memajukan alur cerita atau membelokkannya atau meredakan ketegangan atau menyampaikan informasi-lalu dia harus menyingkir.”

Bicara tentang tokoh dan penokohan memang identik dengan pembahasan unsur intrinsik. Kadang ada kritikus yang berpendapat jangan lagi membicarakan unsur intrinsik. Akan tetapi untuk menguji kualitas sebuah karya sastra, unsur intrinsik merupakan salah  satu hal yang harusnya jadi ukuran atau indikator. Tokohlah yang membawa cerita mengalir dan berjalan kemana-mana. Pada tokohlah disematkan karakternya. Tokohlah yang menempati ruang dan waktu yang menjadi latar sebuah cerita. Tokohlah yang mengemban tema dan amanat-amanat.

Dilihat dari unsur-unsur intrinsiknya, keenam cerpen ini memiliki seluruh unsur yang harus ada dalam sebuah cerpen. Artinya, untuk bisa disebut sebagai sebuah cerpen, keenamnya sudah memenuhi kriteria tersebut. Tokoh-tokoh yang ada dalam keenam cerpen ini memenuhi apa yang ditulis oleh Card sebagai tokoh fiksi yang baik. Selanjutnya, mari kita gunakan pendekatan psikologi sastra untuk memahami ramuan sihir dalam 6 cerpen ini.

Keenam cerpen ini membicarakan perihal jiwa-jiwa yang gelisah, yang resah terhadap lingkungan sekitar sekaligus terhadap dirinya sendiri. Abdul Karim menulis “Bukankah hidup ini diciptakan? Dan kita yang menjalaninya, juga tanpa alasan yang jelas?... Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini” setelah pertanyaan tentang Uttar dan orang berpakaian besi tidak bisa terjawab.

Muhammad Noor Fadillah menulis “Apakah aku ini anak yang durhaka?”Setelah sekian panjang upaya dan argumennya terhadap kewajiban menaati prokes di masa pandemi.

Muhammad Rifki menulis “Mengapa aku bunuh diri? Benarkah aku bunuh diri? Apakah ini neraka bagi mereka yang dibunuh? Atau bunuh diri? Mengapa Tuhan tidak menjawab pertanyaanku?...entah apa yang akan terjadi besok. Apakah aku akan berjumpa dengannya lagi?

Musa Bastara bahkan harus mengirimkan kegelisahan-kegelisahannya pada beberapa nama. Ia menyebutnya enam kisah yang menyesatkan. Mengapa Musa Bastara memilih nama-nama tersebut? Siapa mereka? Seberapa besar peran mereka terhadap pemenuhan kesempurnaan kisah yang ia tulis? Malaikat mengajariku membaca alkitab-alkitab, tapi aku belum memutuskan beragama. Itulah pernyataan yang sangat terang tentang sebuah kegelisahan, kebimbangan.

Takara Belati menuliskan sebuah kisah dengan judul berupa tanda titik dua diikuti tanda petik tunggal dan tanda kurung buka alias simbol emoji orang sedih. Sama seperti kisah-kisah sebelumnya, cerpen ini pun menghadirkan kegelisahan jiwa. Sedikit berbeda, Takara Belati menghadirkan kegelisahan jiwa yang dialami oleh manusia yang juga mengalami penderitaan fisik. Penderitaan yang membuat Majuro tidak dapat berpikir jernih. “Kau boleh memilih,” ucap sosok itu.”Ikut denganku dan sesaat berbahagia atau tetap di sini mengais-ngais sampah. Majuro dan penderitaannya membuat ia mengabaikan kata “sesaat” pada frase “sesaat berbahagia”. Untuk itu, iapun hanya mendapatkan apa yang sudah ia pilih.  Kau tak bisa mengerti semuanya, namun destinasi akhir tak semua berhenti pada api. Demikian cerpen tersebut ditutup.

Rafii Syihab menitipkan kegelisahannya pada tokoh perempuan bernama Karmila. Banyak sekali beban amanat yang harus ditanggung Karmila dalam cerpen ini. Beban utama, beban sampiran. Kisah-kisah utama, kisah-kisah pengecoh dan lain sebagainya. Beban seorang perempuan yang kehilangan suami. Beban politik. Entah mana yang utama dan mana yang sampiran.

Keenam cerpen ini mengingatkan kita pada teori Kebutuhan Maslow yang menyebutkan bahwa kebutuhan mendasar yang paling penting bagi manusia adalah aktualisasi diri alias pengakuan atas eksistensi dirinya. Keseluruhan tokoh dalam cerpen-cerpen SBSK mengirimkan pesan-pesan rahasia agar manusia merenungi hakikat kemanusiaannya kembali.

Epilog

Kembali pada pertanyaan semula. Apa sebenarnya yang diinginkan sekte penulis muda Kalsel? Arah mana yang hendak mereka tuju?[]

Sabtu, 21 November 2020

APA YANG KAUHARAPKAN DARI HATI YANG RAPUH; DALAM CERUK KESEDIHAN; DI PINTU SEPI

12.03 0 Comments

 Tentang Antologi Puisi Tangan-tangan Kecil Semesta Karya Mahasiswa Prodi PBSI FKIP ULM 2020


 

 


Terkadang butuh waktu menyendiri

Bukan tuk melamun

Hanya saja merenung diri

Menjauh dari keramaian

Dan berteman dengan keheningan

....

(“Insecure (Aku Terlalu Rapuh)” Puisi Karya Muhammad Hendriansyah, hlm 38)

 

***

Pendahuluan

Dari sekian puisi yang terdapat dalam antologi Tangan-tangan Kecil Semesta (TtKS) karya mahasiswa PBSI ULM (2020) yang dieditori oleh Sainul Hermawan, puisi berjudul “Insecure (Aku Terlalu Rapuh)” Karya Muhammad Hendriansyah menarik untuk dijadikan pintu masuk sebagai salah satu jalan menyelami kanal puisi para generasi milenial ini. Dia ibarat portal menuju dunia entah yang hectic, hiruk-pikuk; dipenuhi pernik-pernik kemajuan zaman dan teknologi, perubahan tradisi, revolusi industri terbaru. Portal yang setelah berhasil kita lewati justru akan membuat kita tercekat dan tersadar bahwa tidak ada yang berubah sebenarnya. Hidup dan kehidupan berpola. Kisah-kisah berjalan mengikuti pola. Cerita mungkin berbeda tapi amanat yang dibawa tak berubah, tak lekang oleh masa.

Amanat kehidupan yang dititipkan pada sehelai puisi tidak semudah karya sastra lainnya untuk ditelisik. Meski kita sudah memahami seluruh unsur intrinsiknya, menelusuri unsur ekstrinsik puisi juga sangat baik dan perlu dilakukan jika kita benar-benar ingin menemukan makna yang sesungguhnya. Di akhir pengantarnya untuk antologi puisi TtKS, Sunu Wasono menyampaikan satu harapan semoga pembaca bisa berdialog dengan sajak-sajak yang terhimpun dalam antologi tersebut. Sebuah harapan yang sangat solutif. Bukankah berdialog merupakan salah satu cara manusia untuk bisa (saling) memahami. 

Antologi TtKs ditulis oleh sekelompok mahasiswa yang menjalani kehidupan sebagai generasi milenial. Generasi yang sering kali diklaim baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain sebagai sebuah generasi paling maju. Sayangnya, berbagai kemajuan yang melingkupi mereka tidak serta-merta menjadikan mereka sebagai manusia baru yang terlepas dari kemungkinan-kemungkinan buruk atau negatif. Salah satunya, perasaan insecure yang saya jadikan gerbang untuk meyingkap seluruh puisi. Dengan pendekatan psikologi sastra, inilah bedah kecil yang saya lakukan untuk TtKS.

Di Pintu Insecure

Insecure, atau rasa tidak aman, bisa diartikan sebagai rasa takut akan sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri. Rasa insecure inilah yang pada akhirnya, memicu anak untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Perilaku insecure pada anak dapat dicegah dengan mengasuh anak dalam cara-cara yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan optimisme anak. (Muaawanah, 2017) http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/assibyan/article/view/1336

Perasaan secure dan insecure yang dimiliki oleh seseorang tergantung dari internal working models of attachment yang dimilikinya (Bowlby dalam Collins & Feeney, 2004). Perasaan tersebut merupakan representasi umum tentang bagaimana orang terdekat memberi respon dan memberikan dukungan setiap kali seseorang membutuhkan orang lain dan bahwa dirinya sangat mendapat perhatian dan dukungan. Ini juga sangat berperan untuk membentuk kognisi, afeksi dan perilaku seseorang dalam konteks yang berhubungan dengan attachment. Individu yang mendapat secure attachment akan mengembangkan sebuah working model tentang dirinya sebagai orang yang dicintai dan memandang orang lain dekat, perhatian dan responsif terhadap kebutuhannya. Sebaliknya, individu yang mendapat insecure attachment akan mengembangkan working model diri yang tidak berharga, tidak kompeten dan sebagainya (Aji, Pranoto dan  Zahrotul Uyun, 2010).

Sebuah penelitian berjudul Hubungan antara Insecure Attachment dengan Kesepian yang dilakukan oleh Veri Aristi Amalia (2016) mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menghasilkan simpulan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara insecure attachment dengan kesepian.

 

 

Pembahasan


Butuh waktu bagiku menerimanya

Sempat raga dan batin tak seirama

Bahkan hatipun tak jelas suaranya

 

Aku sudah terlalu rapuh untuk dipatahkan

Bahkan terlalu retak untuk dipecahkan

Dihujani cacian seakan hal biasa

Lirikan matanya seolah menghina

 

Lidahnya bak seribu duri

Tiap percikan liur hanya menggores sembilu di hati

 

Dalam tes-tes atau wawancara psikologi, biasanya kata demi kata atau diksi/ pilihan kata yang diucapkan oleh klien merupakan petunjuk berharga yang tidak bisa diabaikan. Kadang-kadang kata diwakili oleh simbol-simbol, lambang, gambar, coretan-coretan tangan untuk kemudian diselami, dimaknai. Pendekatan semacam itulah yang harus dilakukan saat kita menyelami TtKS melalui pintu bernama insecure.

Meski tidak disebutkan siapa yang melakukannya, dapat dilihat dan didengar dengan jelas bahwa aku lirik dalam cuplikan bait-bait puisi  di atas mendapatkan perlakuan yang buruk. Ini bisa diketahui dari frase-frase seperti  dihujani cacian, lirikan menghina, lidah seribu duri, tiap percikan liur hanya menggores sembilu di hati. perlakuan-perlakuan yang ia terima inilah yang kemudian membuat aku lirik mengembangkan working model diri yang tidak berharga, tidak kompeten dan sebagainya seperti disebutkan oleh Aji dan  Zahrotul Uyun (2010). Aku sudah terlalu rapuh untuk dipatahkan. Bahkan terlalu retak untuk dipecahkan. Seperti itu yang muncul dalam perasaan aku lirik. Perasaan bahwa dirinya rapuh dan retak merupakan sebuah pernyataan alias dialog yang coba disampaikan sebagai salah satu bentuk insecure yang dialami.

Selanjutnya tengoklah Linda Pahlina dalam Puisinya “Segaris” hlm 37.

dalam garisku sebagai manusia

aku hanyalah orang yang penuh kegagalan

tanpa ada seorangpun yang sudi

menjadi tempat sekadar berbagi pelukan

saat hidup ini terasa menyakitkan

 

dalam garisku sebagai manusia

aku hanyalah orang yang kalah

yang menyerah, dipermainkan imajinasiku sendiri

....

                Sungguh sedih mendengar aku lirik bertutur sebagaimana dalam cuplikan bait puisi di atas. Akan tetapi, kejujurannya menyampaikan semua yang dirasakan merupakan sebuah kabar baik. Ini artinya, aku lirik mengenali perasaan-perasaan insecure yang ada pada dirinya. Aku lirik juga dengan lugas menyampaikan apa yang ia inginkan, apa yang ia harapkan dalam garis hidupnya sebagai seorang manusia. kutipan-kutipan ini selanjutnya menjadi petunjuk. .../aku lelah merasa terbuang/.../aku jatuh.../.../aku hanya ingin memanusiakan diriku/hingga disematkan kata pantas/diperlakukan sebagai manusia.//

                “Bunga Tak Bernama” ditulis oleh Firda Nabila Hidayati pada halaman 30, memperlihatkan insecure attachment yang diterima aku lirik, duri yang tumbuh bersamanya terus membisikkan bahwa dirinya tak lebih dari bunga buangan, bunga yang tak pernah diharapkan. Jika pada puisi sebelumnya tidak jelas siapa yang memberikan perlakuan-perakuan buruk terhadap aku lirik, pada puisi Firda ditulisnya bahwa duri yang tumbuh bersama sang bunga lah yang menumbuhkan perasaan insecure itu. Siapakah duri yang tumbuh bersama bunga? Orang-orang terdekat, orang-orang yang masih berada dalam satu lingkaran utama. Inilah salah satu contoh insecure attachment. Perlakuan-perlakuan tidak nyaman justru dilakukan oleh orang terdekat. Ini tidak bisa dipungkiri. Berita-berita di berbagai belahan bumi sudah banyak yang menginformasikan peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti orang tua yang menganiaya anaknya - melakukan kekerasan fisik dan psikis, anak yang menjahati orang tuanya, kakak terhadap adik, adik terhadap kakak, paman, bibi, sepupu, sahabat dll. Pada puisi Ayu Anindya Sekarndari, “Asalkan Ibu Tetap di Sini” hlm 24 makin memperjelas pentingnya secure attachment bagi seseorang. Ibu sebagai individu pertama dan utama dalam kehidupan manusia dalam puisi tersebut dengan lugas dituturkan oleh aku lirik .../Asalkan ibu tetap di sini/ Hidupku akan selalu penuh makna//.

Selanjutnya Annida Fitriani di hlm 9 dalam puisinya "Dalam Ceruk Kesedihan" menulis /jiwa-jiwa yang rapuh/lirih kumembisik sebuah ratapan/tentang leburnya perasaan/....Cahaya Nor Hidayah dalam puisi “Ruang Jiwa”hlm 27 menyuguhkan tentang keadaan sunyi tanpa suara. Sepercik semangatpun hampir tak ada/ tampak kuat padahal tak tersisa apa-apa/.../ingin rasanya berdebat dengan jiwa/.... Sunyi, sepi berkaitan dengan insecure. Kemudian rasa insecure ini pada akhirnya, memicu seseorang untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Tampak kuat padahal tak tersisa apa-apa.

                Lantas, bagaimanakah perasaan-perasaan tidak aman alias insecure tersebut sebaiknya disikapi? Antologi ini memaparkan dengan apik melalui beberapa puisi. Jika diamati maka polanya adalah pertama-tama ada rasa terluka, marah, benci, ingin melampiaskan semuanya, lalu tahap berikutnya melakukan perenungan, memilih untuk diam, hingga menemukan satu titik kembali pada hakikat sebagai manusia, makhluk yang tunduk pada ketetapan Tuhan. Seperti sambungan puisi insecure berikut ini

Ingin kumarah dan melepas amarah

Tapi lisan lebih memilih untuk tidak

Kadang semangatku membara

Dan tak heran  jika awan hitam bisa saja datang tiba-tiba

Pada akhirmya diri memilih tak peduli dan menutup telinga

Dan mencoba berdamai dengan realita

 

Ada fase untuk memilih, seperti kata Nur Anggia Febrina dalam “Memilih” (hlm 46). Dalam menjalani hidup kita akan selalu/memilih antara memacik nafsu atau/memeluk nurani/.... ada proses bagi makhluk yang berpikir. Selain itu, Anisa Nurul Fadilah memberikan sebuah altenatif paling keren melalaui puisi “Syukur” pada halaman 10. Perasaan-perasaan tidak nyaman dan tidak puas terhadap diri sendiri kadang juga disebabkan oleh kurang bersyukurnya kita terhadap kehidupan kita. .../Begitu bodohnya aku/tidak bisa bersyukur dengan apa yang kumiliki//.

Cahaya Nor Hidayah menulis di bait terakhir “Ruang jiwa” ah, tapi tenang saja/bukankah tuhan maha tahu/apa-apa yang tersembunyi di balik segalanya/dan takkan pernah mengacuhkan hamba yang datang/kepadanya//.

Sri Annisa dalam “Tangan-tangan Kecil Semesta” memberikan gambaran .../Aku berjalan merenungi semesta/Kita diberikan kehidupan yang berbeda, dengan/punggung yang beda juga kuatnya/.... Puisi Annisa sekaligus yang menjadi judul antologi ini dengan bijak menepuk pundak kita saat hati bersimpah duka. Kehidupan yang berbeda dengan punggung yang berbeda juga. Menerima kenyataan bahwa kita berbeda dari orang lain kadang perlu untuk menyadarkan kita agar tidak selalu menjadikan kehidupan orang lain sebagai tolak ukur. Kita perlu menyadari bahwa Tuhan tidak akan membebani di luar batas kemampuan kita; menyadari bahwa tidak akan tejadi apapun kepada kita selama tidak tertulis dalam takdir kita.

                Lantas, berterima kasihlah pada Dina Septiana Dewi yang dengan lugasnya pada hlm 29 menulis “Takdir Tuhan Pasti Baik”.

Ketika kau hampir menyerah pada tujuanmu

Jangan pernah kau berbalik arah

Apalagi berhenti untuk menggapainya

Ingatlah Tuhan selalu di sisimu

Mungkin apa yang kauminta sekian lama

Belum juga terwujud

Bukan karena Tuhan tak mendengar doamu

Tuhan lebih tahu apa yang kaubutuhkan

Karena takdir Tuhan pasti baik

 

***

 

 

Epilog

 

Saya akan kembali sekarang, melewati portal yang berbeda. Di penghujung esai ini, saya kutipkan sebuah puisi yang akan menghantarkan kita menuju jalan pulang. Ditulis oleh Anugrah Gio Pratama, begini bunyinya:

 

 

Di Pintu Sepi

 

Di pintu Sepi,

Pecahan pagi berguguran

 

Aku menyentuhnya

Lalu keributan mengungsi

Ke dalam dada

Lalu kesedihan tumpah

Di pelupuk mata

 

Tidak masalah jika saat ini kita merasa sedang insecure, tidak aman, tidak nyaman. Tidak masalah jika hari ini kita menangis atau bersedih dalam takaran yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh penduduk lain di muka bumi ini. Jika fase itu sedang kita jalani, itu artinya kita perlu jeda, perlu rehat. Jemputlah kata-kata sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga dada. Kata-kata indah, positif, penuh harapan, penuh doa, agar besok jauh lebih baik daripada hari ini.

 

 

 

Sabtu, 07 November 2020

Si Cantik dan Traumatik Politik

23.13 0 Comments

 (Sejarah yang Dititipkan dalam Novel May Karya Sandi Firly)

Oleh Nailiya Nikmah JKF

 


 

Prolog

Disadari atau tidak, sejarah hanya memuat dua hal besar dalam perjalanannya, yaitu rasa cinta dan rasa benci. Perasaan cinta dan benci sama-sama memberikan energi yang besar pada seseorang untuk melakukan sesuatu. Cinta cenderung mengarah kepada hal-hal positif sedangkan benci cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Rasa cinta atau benci yang mendominasi hati seseorang akan menutupi dirinya dari segala hal yang bernama objektivitas. Segalanya menjadi subjektif dan menjadi sulit untuk menerima pendapat orang lain. Mampukah kita menjadi lebih adil ketika berhadapan dengan berbagai peristiwa demi sesuatu yang bernama sejarah sebab sejatinya sebuah sejarah adalah riwayat mengadanya kita dan segala yang pernah ada.

 

Sastra dan Psikologi

Fenomena sastra sebagai cermin pribadi telah lama berkembang. Hanya saja, istilah “cermin” di sini bukan berarti sebagai cermin pribadi pengarang karena tidak selamanya pribadi pengarang selalu masuk ke dalam karya sastra yang ia ciptakan ( Endraswara dalam Minderop, 2013). Tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita, ada untuk membangun kisah, membangun suatu objek, secara psikologis merupakan wakil sang pengarang. Pesan-pesan pengarang muncul melalui para tokoh yang ia hidupkan dalam ceritanya.

John Keble berpendapat kedekatan antara karya sastra dan psikologi dapat dicermati melalui, misalnya karya-karya sastra yang merupakan ungkapan pemuasan motif konflik – desakan keinginan dan nafsu yang ditampilkan para tokoh untuk mencari kepuasan imajinatif yang dibarengi dengan upaya menyembunyikan dan menekan perasaan – dengan menggunakan ‘cadar’ atau ‘penyamar’ dari lubuk hati yang paling dalam (Abrams dalam Minderop). Gelora jiwa dan nafsu yang tampil melalui para tokoh inilah yang dapat digali melalui pendekatan psikologi. Psikologi sastra merupakan sebuah interdisiplin psikologi dan sastra. Mempelajarinya sama dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Menurut Minderop, daya tarik psikologi sastra adalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Bukan jiwa sendiri saja yang muncul, melainkan perwakilan jiwa-jiwa orang lain. Setiap pengarang menambahkan pengalamannya sendiri dalam karyanya, pengalaman tersebut sering pula dialami oleh orang lain.

 

May

Membaca May (2019) adalah membaca jiwa-jiwa para tokoh; membaca sekelumit peristiwa sejarah yang menjadi hal traumatik bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung. Peristiwa kelam yang dalam kepala masyarakat serta-merta berlabel “Politik” dengan sebutan khusus yaitu Jumat Kelabu. Jumat Kelabu mungkin menjadi satu-satunya tragedi besar di bidang politik bagi warga Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin. Ia menambah satu lagi point dalam daftar abu-abunya sejarah Indonesia. Tidak jelas diketahui apa sebenarnya yang terjadi, siapa, mengapa dan bagaimana.

 

...bukankah terkadang kebenaran sejarah itu sering ditutup-tutupi, bahkan disembunyikan sampai mati? Sejarah menjadi sejarah itu sendiri.”

“Lalu apa yang hendak kamu sampaikan dengan novelmu?”

“Mungkin tentang tragedi manusia-manusia setelah peristiwa kerusuhan itu.”(hlm 128).

 

Kutipan tersebut dan kutipan lainnya yang senada dengan itu (cari dan bacalah sendiri), sejalan dengan teori psikologi sastra sebelumnya yang menyebutkan bahwa pesan-pesan pengarang muncul melalui para tokoh yang ia hidupkan dalam ceritanya. Sandi memunculkan Kin sebagai sosok yang tidak terlalu jauh berbeda dengan dirinya. Seakan-akan Kin adalah Sandi yang sesungguhnya. Sandi sebagai pengarang bisa saja berlindung dibalik fiksionalitas sebuah novel. Akan tetapi, sesungguhnya, sandi terjebak pada fiksionalitas tersebut. Dengan beberapa pengaburan, ia justru seperti memperlihatkan banyak hal yang ia titipkan dalam May. Berikut, beberapa hal yang dititipkan Sandi dalam May.

1.       Ketakutan, kegamangan sebagai orang yang hidup dalam masa terjadinya tragedi tersebut.

Kegamangan dan ketakutan Sandi sudah terbaca dari sisi penamaan para tokoh. Ketakutan-ketakutan yang lumrah setiap kita hendak bicara politik menjangkiti pemikiran Sandi. Menyebut satu kata, satu nama, bisa jadi akan membuat kita terlibat banyak dalam suatu kejadian. Karena itulah kita takut, takut menyebut nama seseorang, takut membuat orang terfitnah atau tertuduh tanpa pembuktian yang jelas. Sandi memilih menamai tokohnya dengan gadis kedai, pak tua, laki-laki berjenggot, lelaki gendut, laki-laki muda, perempuan dewasa, pelaut muda, pemuda berdasi. Penamaan yang teramat umum, sulit untuk diidentifikasi terutama jika dikaitkan dengan lokalitas setting novel ini. Beberapa tokoh yang diberi nama misalnya, May, ini semacam berlindung dibalik penanda waktu kejadian saja. Tidak bisa dirujuk kepada satu sosok tertentu. Pak Gun, juga bukan nama seseorang yang mewakili tempat peristiwa ini terjadi secara khusus.

2.       Opini Sandi tentang tidak adanya penanda tragedi Jumat Kelabu dan karakter orang Banjar.

Jika kita membaca hlm 125 – 127 kita akan dapatkan hal utama yang hendak disampaikan pengarang dalam novel ini.

“Mengenai peristiwa 23 Mei, apakah ada tugu peringatannya? Tanya kin.

“Tidak ada.” Jawab May singkat. (hlm 125).

....

3.       Alam bawah sadar dan traumatik para tokoh

Hampir seluruh tokoh yang terlibat dalam tragedi 23 Mei dalam novel ini mengalami traumatik gangguan kejiwaan. Sebagai orang Banjar yang biasanya pemaaf, May merasa harus sudah bisa memaafkan dan melupakan. Tidak banyak orang tahu bahwa tanpa penanganan psikologis yang tepat, alam bawah sadar selamanya akan bekerja mengenang peristiwa sebagaimana kejadian awalnya.Yang paling parah, tidak salah lagi adalah May si gadis kedai. Sayangnya, ia pun ditulis dalam kegamangan hingga ending.

 

Kegamangan dalam novel ini bukan sesuatu yang buruk. Inilah sebuah pilihan tema yang dengan berani diambil oleh pengarangnya. Ia adalah bukti nyata bahwa demikianlah fenomena sejarah kita. Entahlah.

 

 

 

Jumat, 06 November 2020

Rahasia Survive di Era Milenial

18.48 0 Comments

 



Menjalani era milenial bukan hal mudah terutama bagi mereka yang sudah terlanjur pewe dengan posisi yang selama ini dijalani. Tak memandang dari generasi mana kita berasal, era milenial memukul rata semua lini untuk kita wajib survive demi sebuah ketahanan hidup yang lebih baik.

 

Di antara sekian tips untuk bisa survive di era milenial adalah berani dan pandai beradaptasi dengan keadaan. Kemampuan beradaptasi atau kemampuan menyesuaikan diri merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Hanya yang hidup yang dituntut untuk beradaptasi. Dengan kata lain, ketika kita tidak mampu beradaptasi, kita akan tergerus oleh keadaan. Kita akan mati dan punah ditelan zaman.

 

Salah satu kemampuan adaptasi yang dituntut kepada kita adalah dalam hal komunikasi dan dunia pendidikan. Penggunaan media teknologi dalam dunia pendidikan dapat membantu kita menghadapi kenyataan yang terjadi, sebagaimana dalam artikel ini.

 

Tentu saja akan ada tantangan dalam setiap peluang. Dalam dunia pendidikan, misalnya, pembelajaran daring akan membuat kita juga bisa merasa bosan sehingga kita harus bisa melakukan berbagai hal agar tetap survive. Cek di sini untuk mengatasi rasa bosan dalam PBM Daring.

 

Rahasia lain agar survive di era milenial adalah selalu menjadi diri dan pribadi yang terbuka dan berhenti memikirkan serta mengerjakan hal-hal tidak penting. Ada banyak cara untuk bisa move on dari masalah dan hal-hal yang tidak penting, kalian bisa cek di sini: Tips Cepat Move On.

 

Era milenial juga memaksa kita untuk beradaptasi dalam bidang bisnis dan ekonomi. Masa pandexx hanya satu unsur yang memaksa kita untuk beradaptasi. Sebenarnya jauh sebelum musibah tersebut datang, era milenial telah membuat kita harus mengubah prilaku belanja kita seperti dalam artikel Gaya Belanja pada Masa yang satu ini.

 

Buka Pikiran – Rahasia Survive di Era Milenial

 

Yang menurut kita bagus, belum tentu bagus menurut orang lain,

 

Demikian kurang lebih pesan yang disampaikan oleh Niko Julius sang pemateri dalam sesi Pelatihan Optimalisasi Instagram pada rangkaian  acara ulang tahun komunitas blogger perempuan banua yang berkibar di bawah bendera Female Blogger of Banjarmasin.  Komunitas blogger perempuan yang satu ini tahun 2020 merayakan hari jadinya yang ke-4. Masih terbilang muda namun melihat perayaannya yang super meriah kali ini membuat komunitas blogger perempuan ini patut diperhitungkan keberadaannya untuk ditilik peran dan kiprahnya dalam dunia blogger. Niko Julius - Pengusaha Muda dan online enterpreneur digaet oleh FBB menjadi nara sumber dalam acara puncak ultahnya dengan mengusung tema keren Unstoppable Creation.

 

Pada sesi tersebut, Niko Julius menyarankan banyak hal seputar upaya memaksimalkan media Instagram bagi para blogger. Salah satunya adalah memasang postingan blog ke feed instagram. Dia juga memberikan satu tips agar sering-sering saja memposting sesuatu agar orang semakin mengenal kita melalui media tersebut.

 

Seorang peserta bertanya tentang mengapa postingannya di IG yang sudah begitu bagus tidak banyak yang menyaksikan dan atau memberikan like. Niko menjelaskan panjang lebar. Belum tentu yang menurut kita bagus akan bagus juga di mata dan pikiran orang lain. Bisa jadi, yang menurut kita tidak bagus, justru yang disukai orang.  Selain itu, kita juga perlu melihat perspetif kita di mata orang lain. Orang lain melihat dan ingin melihat kita sebagai apa atau siapa.

 

Beberapa saat sebelumnya, dilaksanakan juga sesi Pelatihan fundamental SEO On Page yang dipaparkan dengan sangat apik oleh Irwin Andriyanto - Founder dan owner Tangerang Digital. Penjelasan beliau membuat kita berusaha melakukan upaya lebih lagi untuk blog yang kita miliki.

 



Ditambah acara bagi-bagi doorprize, acara bertabur sponsor tersebut membuat Minggu, 11 Oktober 2020 berasa sangat berkesan. Acara berlangsung lancar melalui platform zoom dari pukul 09.45 – 13.00 dengan pengaturan atau mekanisme sebagai berikut: Live zoom dari Have hotel bagi pengurus FBB dan live zoom dari rumah bagi anggota FBB. Acara yang bernuansa marun dengan desain background bernuansa kuning memberi kesan meriah bagi perayaan ultah FBB tahun ini. Acara kali ini didukung oleh 9 sponsor  dan 1 media partner. Kemeriahannya sudah berlangsung sejak beberapa hari menjelang puncak acara. Peserta ramai memposting berbagai tayangan menarik dan informatif dari para sponsor, yaitu:

 

1.       Mirabella Cosmetics

2.       Gloskin Banjarmasin

3.       Fave Hotel Banjarmasin

4.       Clean well Banjarmasin

5.       Tupperware Palma Tika Raya

6.       Kebabblasan Banjarmasin

7.       Summer Bed and Breakfast

8.       Ambeer.Le Hijab

9.       57 Kitchen

10.   Media Partner My Radio Banjarbaru

Demikian kenangan keseruan ultah fbb yang ke-4, semoga tahun depan kita bisa bersua lagi dalam kebersamaan yang jauh lebih baik dan tidak kurang suatu apapun.