Minggu, 06 September 2020

Gaya Belanja pada Masa Pandemi

16.09 9 Comments
Masa Pandemi membuat gaya belanja kami berubah. Kami jadi jarang ke luar rumah dan ke tempat belanja. Semua bisa dilakukan dari rumah sekarang. Hidup telah berubah. Akan tetapi, hei jangan salah. Jangan kira ini begitu mudah terjadi padaku. Ini kisahku di Hari Pelanggan Nasional (4 September) yang kutulis sebagai artikel yang kuikutkan dalam FBB Kolaborasi Edisi bulan ini.


Untuk sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup, aku selalu menundanya. Aku tidak mau ikut-ikutan gaya orang lain. Selama aku belum memerlukannya aku tidak akan mengikuti perubahan atau gaya orang lain yang lagi trend sekalipun.
Dulu, ketika teman-temanku sudah punya akun belanja online, aku masih bertahan dengan belanja gaya konvensional. Sesekali aku menitipkan belanjaanku pada mereka jika kebetulan barang yang kami inginkan sama. Lumayan menghemat ongkir dan berpeluang mendapatkan diskon kata temanku. Temanku yang lainnya malah sudah memiliki akun berjualan online. Aku semakin jauh dong tertinggalnya.


Kemunculan berbagai aplikasi transaksi belanja dan lainnya membuat aku semakin merasa "Hello, Nai. Wake up. Kamu masih hidup, kan?" 

Aku sadar semua ini tidak bisa dihindari tapi aku merasa masih belum memerlukannya. Aku tidak memasang aplikasi tersebut di smartphone-ku. Jika aku terdesak memerlukannya, aku biasanya minta bantuan saudaraku. Aku menelponnya lalu meminta dia, entah memesankan Go***, memesankan barang, dan sebagainya.


Suatu hari aku ikut sebuah training di Jakarta. Sendirian. Setelah mendarat di Bandara Soetta, mulailah masalahku. Untuk menuju hotel yang sudah dipesankan oleh sepupuku, aku disuruhnya memesan mobil G***. Aku belum memasang aplikasinya bahkan di hp. Sesuai petunjuk sepupuku, aku minta bantuan petugas stand G*** yang ada di bandara saat itu. Dia memasangkan aplikasi di hp ku hingga memesankan aku sebuah mobil untuk mengantarku ke tempat tujuan. Sejak itu dua aplikasi transportasi ada di hp-ku.


Usai pelatihan, aplikasi itu sangat jarang aku pakai. Hingga tiba masa Pandemi yang sangat mengguncang dunia ini. Bulan-bulan pertama aku masih bertahan. Tidak menggunakan aplikasi apapun untuk hidup. Aku sesekali masih keluar untuk belanja.  Lama-lama aku lelah. Akhirnya sedikit demi sedikit aku belanja online lewat aplikasi tersebut. Paling banyak kupakai Untuk  membeli makanan dengan sistem bayar tunai di tempat.

Sesekali aku pergi ke ATM untuk melakukan pembayaran. Masih ribet? Yup. Aku masih tidak mengaktifkan mobile banking.
***


Pada Hari Pelanggan Nasional ini, aku juga mau cerita tentang pada akhirnya aku melakukan sesuatu terkait mobile banking.
Suatu hari -panjang ceritanya- aku harus mengirimkan uang beberapa teman di kantor melalui rekening aku, sebagian lainnya melalui rekening temanku. Aku pun pergi ke bank. Oleh bank aku ditolak mengirim melalui teller karena sesuatu hal. Aku diminta mengirim lewat ATM saja. Setelah aku coba ternyata lewat ATM pun gagal. Oleh pihak bank, aku diminta mengirim via mobile banking. Jujur aja ya saat itu sebenarnya aku rasa mau menghilang dari muka bumi tapi aku harus segera mengirim. Akhirnya aku menyerah ketika pihak bank memasangkan aplikasi mobile banking di hp-ku. Dia juga mengajari aku cara menggunakannya.
***

Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?
Hohoo...aku sekarang sudah lihai transfer-transfer lewat hp. Hihi. Efek lainnya, aku sudah bisa belanja online terutama saat kebutuhan mendesak dan mendadak ditambah situasi Pandemi yang sangat membatasi gerak ini.

***
Zaman berubah, teknologi berkembang, gaya belanja pun menyesuaikan. 


Bertepatan dengan hari Pelanggan Nasional ini aku menyadari satu hal bahwa aku bisa berubah meski harus melalui kondisi darurat terlebih dahulu. Tentu saja itu membuatku lega. Bukankah kita perlu bergerak dan berubah? Bukankah air yang diam akan menimbulkan penyakit? Selain itu, konon dinosaurus punah karena tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. 

Sabtu, 29 Agustus 2020

Tentang Hari Ini dan Kemarin

01.58 0 Comments


Dear, u.

Sapardi bilang kenangan adalah fosil. Ia tidak akan menjadi abu. Ia membuat jarum jam bergerak berlawanan. Aku rasa itulah yang sering terjadi padaku. Meski tak punya mesin waktu, aku dan sebuah portal bernama kecerobohan sering membuat pembuktian-pembuktian atas semua sihir Sapardi.



Aku tahu, kamu tidak mengenal Sapardi sebaik aku. Kamu bahkan tidak mengenal aku sebaik aku mengenalmu. Di antara rimbunan sepi, kenangan tentangmu luruh. Aku ingin membantai dan menewaskan semua kisah yang pernah ada. Akan tetapi itu tidak adil bagi hari kemarin yang sudah begitu bijak memberiku pelajaran berharga.



Besok, ketika hujan pertama turun di hari pertama kamu kembali, aku ingin menitipkan kata-kata. Kata-kata yang kutimang-timang sepanjang perjalanan sunyi penuh sejarah. Jangan mengelabukan fakta dengan asumsi pribadimu. Kita sudah kerap menyerah pada sisi harapan yang paling jelaga.



Untuk kamu, terima kasih banyak. Luka yang kamu ngangakan membuat aku lebih peka agar tidak membuat luka serupa pada yang lain.

Rabu, 05 Agustus 2020

Ben dan Belantara Rindunya: Pengantar Buku Kumpulan Puisi Hutan Segala Rindu Karya HE Benyamin

22.39 0 Comments

Oleh Nailiya Nikmah JKF



Menjadikan alam dan lingkungan hidup sebagai latar tempat maupun suasana dalam sebuah karya barangkali merupakan hal biasa yang relatif mudah dilakukan oleh para pencipta (:penulis) karya sastra. Yang dilakukan oleh HE Benyamin (Ben) dalam kumpulan puisi ini lebih dari itu. Alam dan lingkungan hidup menjadi bangunan utama puisi-puisi Ben; menjadi sandaran setiap judul; menjadi ruh setiap bait. Ia menumpahkan tidak hanya perasaan-perasaan yang bersinggungan dengan nilai estetika sebuah karya dalam puisinya  tetapi juga mencurahkan seluruh pemikiran dan ide-ide yang tidak cukup diungkapkan melalui jalan biasa.

Membaca puisi-puisi dalam buku ini menggiring kita perlahan-lahan untuk memasuki gerbang ekokritisme - yang menurut Glotfelty adalah sebuah studi tentang hubungan sastra dan lingkungan hidup. Isue kerusakan lingkungan, krisis global dan kerentaan bumi memengaruhi cara pandang manusia tentang dirinya sendiri dan kaitannya dengan alam/lingkungan. Setelah cara pandang tentang hubungan manusia dan alam mulai diperbaiki, bermunculan kajian hijau/ekokritisme. Kajian ini sendiri mulai marak pada 1900-an. Karya sastra (:puisi-puisi) dapat dipandang sebagai bagian dari ekosistem pada sebuah kajian sastra lingkungan.

Melalui puisi-puisinya, Ben menyampaikan keindahan alam dan lingkungan Kalimantan. Kita disuguhi diksi-diksi seperti hutan,belantara, lahan gambut, rawa, bukit, sawah, gunung, pantai, gerimis, hujan, embun, bunga, anggrek, keragaman hayati, ranting, akar, kulit kayu, daun-daun dan sebagainya. Ia hadir sebagai dua hal yang kontradiksi sekaligus.

Dalam  kumpulan puisi yang diberi judul Hutan Segala Rindu (HSR), kita dibentangkan fakta-fakta lingkungan yang bisa jadi belum tersentuh dengan sempurna oleh rumpun ilmu lain secara leluasa. Kita disodori hal-hal memprihatinkan yang mungkin akan sangat sulit diperjuangkan dengan cara lain, yang dalam buku ini di-capture dengan baik oleh Ben melalui puisi. Kebakaran dan pembabatan hutan, rawa yang tenggelam, sawah beracun, limbah, banjir, menjadi topik dalam HSR.

Di antara sekian banyak hal yang bisa dipilih terkait alam dan lingkungan hidup, Ben memilih hutan sebagai fokus utama. Di sinilah sisi kearifan lokal seorang penyair bermain. Pada banyak bagian, Ben secara spesifik bicara tentang Kalimantan (khususnya Kalimantan Selatan). Pulau Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia karena hutannya. Dalam beberapa kurun waktu yang lalu, laju deforestasi di Kalimantan sangat cepat. Untuk itulah berbagai upaya perlu dilakukan oleh semua pihak.

HSR mengungkapkan cerita tentang eksploitasi terhadap Meratus; penambangan batubara; gelondongan kayu; serta hal-hal lain yang mengungkapan ketamakan manusia terhadap lingkungan dalam aktivitasnya mengambil habis isi kekayaan alam tanpa upaya pengembalian kondisi. Pembabatan hutan serta pertambangan tanpa reklamasi dan reboisasi misalnya. “Meratus Rantai Pengetahuan Tak Boleh Putus” menjadi salah satu puisi yang bisa kita jadikan referensi dalam hal ini.

Ada yang menarik dalam diksi atau pilihan kata yang digunakan Ben dalam puisi-puisinya. Kita akan temukan diksi yang bersinonim bahkan ada yang sama persis dalam beberapa puisi yang berbeda. Ini bisa kita telusuri pada beberapa cuplikan bait berikut: /Mata mistismu bagai embun sapa mentari/ dalam puisi“Bunga-bunga Menjelma Kau”; /sudah berapa lama mata mistismu menghuni imajinasi hatiku/ dalam puisi “Hujan Mendekap Aura Rahim”; /mata mistismu mencurahkan kebeningan telaga rindu/ dalam puisi “Mencurahkan Kebeningan”; /tatapanmu alur mantra mendekam/ dalam puisi “Kejernihan Tak Tersesat”; /mata mistismu ramuan belantara dan samudera/ dalam puisi “Terbakar Tumbuh Kembali”; /menemu matamu, rindu balian menari dalam hujan/ dalam puisi“Balian Mantra Matamu”; /kau menatap tanpa binar/ dalam puisi “Deras Ternyata Rindu Mengalir”; /matamu memancar dalam jiwaku/ dalam puisi “Kekasih (13)”; /kilat sesekali mengejutkanku, matamu begitu mistis/ dalam puisi “Kekasih (14)”. Puisi-puisi tersebut seakan mengabarkan bahwa kita telah tiba pada suatu fase di mana bukan kita yang memantau atau melihat alam dan lingkungan hidup melainkan sebaliknya, alam dan lingkungan hiduplah yang saat ini sedang mengawasi dan mengintai kita. Ketika kita lengah dan lalai maka kita harus siap menerima segala konsekuensinya.

***

Tidak ada puisi tanpa kerinduan di dalamnya. Bahkan hal tersebut dari awal telah diakui oleh Ben dengan meletakkan kata rindu sebagai bagian dari judul buku ini. Pertanyaannya, kerinduan macam apa yang dimiliki olehnya? /alangkah hebat rindu melumat waktu dan jarak/ tuturnya dalam puisi “Terbakar Tumbuh Kembali”. Sejalan dengan itu, puisi berjudul “Kekasih (9)” berikut menjelaskan dengan lugas; mewakili seluruh kerinduan yang ada.

Kekasih, ribuan lesung pipitmu kuatkan ketidakberdayaanku

Hanya rindu penuh mampu tatap hujan sungguh puitis

Kau tahu, jarak dan waktu terkurung dalam hatiku

Melapangkan hadirmu.

 

Demikianlah, belantara rindu, jarak dan waktu semua berpulang pada hati yang lapang. Selamat menjelajah Hutan Segala Rindu. [] Zona Merah di Utara, 02 Juli 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Jumat, 26 Juni 2020

Amsterdam dan Angin yang Mengirimkan Salam: Sebuah Catatan untuk Buku Cinta Jangan Selesai Karya Yose S. Beal

01.51 0 Comments

oleh Nailiya Nikmah



Aku merasa kautinggalkan
Harus berjalan sendirian membuatku ketakutan
Aku berlari di musim dingin tidak juga menghindari cintamu
Yang tiba-tiba tumbuh subur di setiap relung hatiku
Tetapi kedua kaki dan juga detak jantungku
Mengirimkan tanda untuk menguji kekuatanku
Meski hanya dalam hati bisakah kau mendengarnya?*


Pendahuluan

Jika ada yang bilang buku adalah jendela dunia dan mata adalah jendela hati, maka puisi adalah kedua-duanya. Ia jendela dunia sekaligus jendela hati. Setidaknya itulah yang tergambar dalam Puisi-puisi Yose S. Beal (YSB) di buku Cinta Jangan Selesai. Buku terbitan Garudhawaca, Yogyakarta 2020, berisi puisi YSB dan rekan-rekannya (lima penulis lainnya, yaitu iLuz, Nora Lelyana, Septi AS. Abdullah, Naidee, HE Benyamine).

Sebagai seorang pelari dalam makna denotatif, keberadaan puisi-puisi yang ia tulis adalah sebuah cara bagi YSB untuk mengomunikasikan segala macam pemikirannya yang silih berganti seiring dengan perjalanan (:pelarian) yang ia lakukan.  Pemikiran yang berlompatan terlihat dari susunan puisi dalam buku ini jika kita mengamati titi mangsa. Puisi-puisi dalam buku ini merupakan puisi yang intens dicipta dari rentang waktu 2015 hingga 2019. Buku atau kumpulan puisi ini mencoba mengomunikasikan segala sesuatu yang ia alami dan rasakan sejak 2007 ketika ia menjadi pembaca puisi jalanan.

Teori dan Pendekatan

Komunikasi adalah dasar kehidupan. Manusia melakukan komunikasi untuk memenuhi beragam keperluan. Kita bahkan melakukannya tanpa menggunakan teori atau metode tertentu. Itu sebabnya, komunikasi disebut ilmu sekaligus seni (Ruben, 2014).

 Teori sastra kontemporer yang berhubungan dengan hal ini adalah teori Formalisme Rusia-nya Roman Jakobson. Ketika menitikberatkan antara bunyi dan makna dalam sastra, Jakobson menyimpulkan bahwa bunyi dan makna diantarai oleh perbedaan, yang disebut sebagai ciri khusus. Dia memandang bahasa sebagai suatu sistem makna. Ciri khusus tersebut menjadi salah satu bagian yang tak terubahkan dalam sistem komunikasi itu sendiri. Inilah awal dari teori komunikasinya, bertitik tolak dari fenomenologi Husserl, dia tidak pernah menyimpang dalam mempertahankan model bahasa sebagai sarana pengiriman pesan dari pengirim ke penerima. Pengirim dan penerima merupakan entitas psikologis, membentuk bagian sistem yang paling penting. Mulanya yang menjadi kajian utama Jakobson adalah puisi dengan adanya fungsi puitik. Selanjutnya dikembangkannya sehingga ia menjadi seorang teoritikus pertama yang menjelaskan adanya komunikasi dalam teks sastra. Istilah fungsi mengacu penempatan suatu karya sastra dalam suatu modul komunikasi yang meliputi relasi antara pengarang, teks dan pembaca. (Syuropati dan Agustina Soebachman, 2012:17).

Dalam teori komunikasi pada bagian asas-asas komunikasi manusia terdapat beberapa aspek komunikasi yang tidak terlihat, di antaranya adalah referensi diri dan refleksivitas diri. Referensi diri mengandung makna bahwa komunikasi antarmanusia sangat mengacu pada kehidupan diri sendiri dan bersifat otobiografis. Apa yang kita lihat dan kita katakan tentang orang lain, pesan, dan acara di lingkungan akan selalu juga mengatakan banyak tentang kita seperti halnya tentang mereka. Pada aspek refleksivitas diri individu dimungkinkan untuk melihat diri mereka sebagai “diri”, sebagai bagian lingkungan atau sebagai bagian lingkungan atau sebagai bagian yang terpisah dari lingkungan. Dari refleksi diri, kita mampu untuk berpikir tentang pertemuan kita dan keberadaan kita, tentang komunikasi dan perilaku manusia (Ruben & Lea P. Stewart).

Pembahasan
Jiwa YSB seperti langit dipenuhi awan yang berisi benih-benih hujan. Puisi-puisinya dalam buku CJS adalah deraian hujan yang tak bisa dibendung-bendung. Banyak yang ingin ia sampaikan tapi tidak semua bisa diucapkan. Puisi-puisi adalah caranya mengomunikasikan semuanya. Ada banyak puisi di sini yang merekam dialog sebagai upaya penyampaian pesan-pesan untuk seseorang yang entah, yang menggunakan diksi kau.

1.    Puisi yang Berlari
Membaca karya-karya YSB dalam Cinta Jangan Selesai, kita akan menemukan spirit, semangat dan optimisme dalam menghadapi kehidupan. Pada sampul belakang, di bagian biodata penulis buku (YSB) ditemukan frase penulis yang pelari. Dia juga tertera di situ sebagai pembaca puisi jalanan. Informasi-informasi kecil yang sepertinya remeh ini dalam sebuah buku puisi tidak bisa diabaikan. Ini seolah menjadi semacam jembatan bagi pembaca untuk bisa terhubung dengan aku lirik; berusaha menemukan apa yang sebenarnya sedang berusaha dikomunikasikan oleh pengarang atau penulis tersebut. yang menghubungkan pengarang, puisi, dengan aku lirik.

 Sedikitnya ada 15 lokasi berbeda menjadi tempat persinggahan YSB dalam menuangkan gagasan. Buku ini sebuah personifikasi atas diri YSB. Aku lirik sebagai bagian dari teks sastra dalam buku CJS sesungguhnya tengah melakukan sprint di arena marathon. Ia berlari dengan kecepatan yang biasa dipakai oleh para sprinter tapi ia lupa ia tengah berada dalam arena marathon. Bahkan jika ia punya kekuatan super sekalipun ia akan kelelahan sebelum tiba di garis finish.

Aku lirik mulai berlari dari Surabaya dalam “Persemaian” (hlm 3) dimulai dari ingatan tentang kisah yang telah lama menjadi masa lalu tetapi menjadi dekat sedekat hari ini. Akan berapa lama lagi semua kenangan bertahan? Sebuah pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab menjadi pembuka buku ini. Selanjutnya semua kisah berlarian, berjatuhan seperti rinai hujan.

2.    Referensi Diri

CJS seperti menu lengkap dalam sebuah sajian. Di antara puisi-puisi tentang perasaan cinta dan semacamnya, terdapat beberapa puisi yang bertema nasionalis. “Inilah Wajahku”, “Janji Merdeka”, “Karnaval Proklamasi Ibu Pertiwi” dan “Negeri Tanpa Janji” di antaranya.

“Inilah wajahku” menjadi sebuah referensi diri dalam komunikasi yang sedang dilakukan YSB.  Apa yang YSB lihat dan ia katakan tentang negaranya (Indonesia) pada akhirnya  membuat aku lirik harus mengatakan bahwa itu memang wajah cintanya .../Indonesia adalah/ kaleng berisi sabu yang disimpan di bawah ijasah palsu/ tapi tak akan kutukar/ merah putihku dengan puluhan bintang/ karena itulah wajah cintaku//.

Lalu pada Pohon Hidup (hlm 97) .../cinta memerdekakan/ hidup harus ditunjukkan/.../Akuilah diri kita/ kau terima aku apa adanya/....merupakan bait yang memggambarkan sebuah referensi diri.


3.    Refleksivitas Diri

Aspek refleksivitas cukup banyak dalam CJS. Barangkali, inilah yang menjadi pilihan-pilihan manusia dalam aktivitas komunikasinya. Aku lirik dimungkinkan untuk melihat diri sebagai “diri”, sebagai bagian lingkungan maupun sebagai bagian yang terpisah dari lingkungan. Dari refleksi diri ini aku lirik mampu untuk berpikir tentang pertemuan-pertemuan yang ia alami dan keberadaan dirinya, serta tentang komunikasi dan perilaku manusia. Memilih diam dan kesedihan setelah diam menjadi pilihan dalam fase refleksivitas.

.../namun jika nanti ternyata dia mencariku/.../meski negeriku diam tak bersuara// (“Negeri Tanpa Janji”, hlm 99). Puisi ini bicara tentang seberapa berharga aku lirik bagi negeri ini, sebuah refleksivitas diri yang sangat elegan.

Tercantum pula dalam “Mari Kita” ...kita tak bersuara hanya ada suara hati/.... serta pada “Karnaval Prolamasi Ibu Pertiwi”(hlm 102), ...(Aku juga berteriak: merdeka!!!/ Meski hanya dalam hati,/ bisakah kau mendengarnya?)//. Hal yang serupa juga bisa ditemukan pada “Berjalan Di Desa Weesp” (hlm 152) ...Jika nanti sekali saat engkau tanyakan/ Jika nanti sekali saat kau ingin tahu/ Maka hanya jawaban jujur yang ada/ Meski itu tak bersuara dan tak kau dengar apa maknanya/ ....

4.    Melepaskan Diri dan Jalan Keluar

Apakah masalah terbesar manusia? Pengkhianatan, ketakutan, kesedihan, kesendirian, kegalauan, gagal move on, ketidakmapanan, kehilangan orang tercinta, kehilangan pekerjaan, kehilangan jati diri, ketidakwarasan, kehilangan kemerdekaan, ketidakbahagiaan? YSB pelari yang gesit dan energik ini pun tidak lepas dari semua itu. .../Mataku perih menangis kehilanganmu/...(“Mencari Apa”, hlm 21)

Sudah kuduga akan begini/ memang bebal membuat rasa sakit di hati/ sisa-sisa kisah jangan dikenangkan lagi/ bisakah berjalan sendiri?// (“Menunggu Armagedon”, hlm 40)

Waktu yang kami rampas diminta kembali oleh pemiliknya/.../senyuman kami yang terakhir kali saling tersungging begitu saja/ tiba-tiba menjadi begitu lapar sangat terasa// (“Duduk Berdua”, hlm 41).

Akan tetapi “Pintu Biru yang Ragu-ragu” mewakili kesedihan yang tidak membuatnya harus kehilangan sisi gentleman. Bacalah dengan lengkap puisi tersebut dan berhentilah pada bagian ini .../Sesungguhnya kamu di mana?/Tanganku mulai lemah membawa tas kain penuh cinta/ jadi benar semua ini telah menimpaku?/....

Liliweri (2009) menyebutkan bahwa kadang kita berkomunikasi untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. Seberapa banyak di antaranya yang bisa kita selesaikan dengan memperbaiki komunikasi? Dalam “Ketika Kita Sendirian” (hlm 95), aku lirik menceritakan kembali dialog-dialognya dengan kau. /Aku merasa kau tinggalkan/ harus berjalan sendirian membuatku ketakutan/.../Ketika kau menjawab bahwa selama ini kau juga sendiran tiba-tiba aku punya keberanian/.../kini aku mengerti bahwa kita tidak pernah sendirian//. Aku membuka ruang komunikasi dengan si kau dalam kesendirian yang membuatnya ketakutan namun setelah itu ia mampu menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Bahkan ketika hal paling buruk terjadi, dalam “ Lambaian Berpisah (hlm 6), aku lirik menemukan sebuah pencerahan yang ia komunikasikan kepada kita sebagai pembaca. Jangan risau jika kalian sendiri atau disendirikan/ karena saat sendiri atau bersama/keduanya sesungguhnya sama saja/....

5.    Relasi dan Pilihan Berharga

Dalam pengantarnya di buku ini, YSB menyatakan bahwa “Menulis adalah ekspresi perasaan, hakekatnya adalah wujud kebebasan.” Menulis dan berlari menjadi pilihan YSB mengomunikasikan seluruh jiwanya. Tidak salah lagi, CJS adalah dialog batinnya kepada orang-orang terdekat, kepada orang asing di luar sana, kepada kita semua. “Izinkan Aku berlari” (hlm 141) menjadi sebuah moment gunting pita yang meresmikan dua pilihan hidupnya. Pilihan hidup yang salah mempertemukannya dengan lima rekan spesialnya,  dalam buku Cinta Jangan Selesai ini.  

“Terbakar Tumbuh Kembali” (hlm 54) oleh HE Benyamin; “Kupu-kupu” (hlm 173) oleh iLuz; “Hidup adalah Pilihanku” (hlm 145) oleh R.A. Nora Lelyana; “Sebuah Kisah Akhir Jalan” (hlm 105) oleh Septi AS Abdullah; dan “Rubuhnya Aksara Angka 9 – 0” (hlm 32) oleh Naidee adalah harmoni, menjadi warna-warni yang bersinergi satu sama lain dalam CJS. Ada benang merah yang bisa ditemukan dari puisi-puisi tersebut yang akan membuat mereka saling mencerahkan satu sama lain.

Pencerahan demi pencerahan ditemukan oleh YSB setelah melewati masa-masa berlari. Bukan, ini bukan berarti ia berubah jadi malaikat yang tak beremosi. Ia masih memiliki rasa susah dan sedih .../ Saat itu hati susah dan airmata berlomba menguasai hari-hariku/.../ Ternyata aku masih bisa merasa susah saat kau tidak memililihku/.../Tapi aku sudah terlatih untuk tidak berkeluh kesah/ Di usiaku yang lewat senja sudah/.... (“Cerita Pohon Jambu, hlm 175) bentuk kontemplasi yang sempurna sebagai seorang manusia. Puisi ini menuturkan sebuah kejujuran bahwa sedih, susah, dan air mata tidak mengenal gender bahkan usia.

Air yang tergenang akan menjadi sarang penyakit, begitu kira-kira sebuah nasihat tentang betapa kita seharusnya bergerak, berubah, berkelana. Dalam “pelarian-pelariannya” YSB mendapatkan begitu banyak hal berharga. Yang paling berharga ia temukan dalam “pelarian”nya dari Amsterdam ke Praha, Cheko.
 .../Kemudian angin mengirimkan salamnya/ Bahwa keinginan itu, seperti air yang akan mencari jalannya/.../Orang besar bisa menerima kebahagiaan orang lain tetapi/ Tidak semua orang bisa menjadi orang besar// Bebas adalah tidak memelihara takut/ Perasaan takut, khawatir, harus dibuang/ Untuk menguji seseorang yang tulus atu tidak maka/ Kita harus yakin bahwa mereka menerima kita apa adanya//. (“Perjalanan Amsterdam ke Praha, Cheko”, hlm 169). Cuplikan bait ini adalah tujuh mutiara YSB. Mutiara yang ia ronce selama perjalanan 12 jam di atas bus menjadi sebuah gelang cantik or something. Tujuh hal penting yang mungkin baru terekstrak selama ia berlari di dataran Eropa, lebih tepatnya di Amsterdam.

Epilog
Apa yang terjadi di Amsterdam sebelum ia ke Praha, biarlah menjadi kisah lain di kemudian hari. Yang jelas, ketika angin mengirimkan salamnya, YSB kemudian menitip satu pesan singkat bagi pelari lain dalam kehidupan ini: Cinta Jangan Selesai! []Nai, Zona merah, Siang Malam Juni 2020 ditemani Suraj Huwa Madham dan Full Album Naff The Best of


Referensi
Liliweri, Alo. 2009. Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta :Pustaka Pelajar.
Ruben, Brent D. 2014. Komunikasi dan Perilaku Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Syuropati, Mohammad A. dan Agustina Soebachman. 2012. 7 Teori Sastra Kontemporer & 17 Tokohnya. Yogyakarta:In AzNa Books.

*Cuplikan beberapa puisi YSB dalam CJS


Disampaikan pada peluncuran dan bedah buku CJS, 27 Juni 2020.


Sabtu, 20 Juni 2020

Miniso PINK Melbourne Pink Lake Perfume

12.55 0 Comments
Sudah lama aku tidak memposting review produk. Kali ini aku me-review parfum yang kubeli beberapa waktu lalu.

Ceritanya, aku lagi pengen mengubah suasana hati biar lebih semangat dan fresh. Nah, kalau aku, salah satu caranya adalah dengan aroma terapi alias bau-bauan. Cara paling simpel ya melalui parfum atau wewangian yang aku pakai.

Singkat cerita aku beli parfum ini nih.

Namanya PINK, MELBOURNE PINK LAKE PERFUME, isi 50ml.


Asyiknya:

Packaging alias kemasannya lucu banget. Sweet banget di mataku.

Parfum ini pakai kotak karton berwarna pink ke arah peach dengan sedikit list putih di bagian depan. Sisi depan sangat simpel. Ada tulisan merk parfumnya beserta keterangan jumlah isi. Di sisi kiri kanan ada keterangan product name, product featured, ingredients, expiration date, batch number, how to use, storage and caution. Ada barcode dan logo-logo terkait peduli lingkungan.

Setelah dibuka, bagian dalam masih ada karton pelindungnya. So, parfum aman terlindungi.




Botol parfum sangat cantik berbentuk persegi empat alias balok terbuat dari kaca berwarna pink bening polos, di bagian belakang ada motif polkadot alias bulatan-bulatan warna pink. Penutupnya kaca mika bening yang cukup tebal. Tampilan yang sangat kece memberi kesan elegan tapi simpel.  Cocok buat menghiasi meja rias kamu. Untuk dibawa-bawa juga keren.




Aroma
Aromanya manis tapi lembut, memberikan kesan feminim tapi kuat bersemangat. Sangat cocok dipakai di pagi hari setelah mandi pagi sebelum beraktivitas atau ketika bersantai di sore hari saat kita memerlukan aroma yang menenangkan.

Aku suka parfum ini. Kalau kamu?



Jumat, 19 Juni 2020

Dalgona Rumahan Simpel Pakai Mixer

10.39 0 Comments
Waktu pertama kali minuman varian kopi bernama Dalgona ini muncul dan viral, aku sudah mencoba bikin dan memposting di status FB. Saat itu, aku membuat menggunakan pengaduk atau pengocok manual. Lumayan lelah hayati, hehe. Lelahnya langsung terbayar setelah bisa dapat satu konten foto yang keren.

Nah, beberapa hari kemarin, paksu pulang bawa Mixer listrik. Anak-anak heboh langsung minta buatkan dalgona yang pakai Mixer. Karena kesibukan aku, hari ini baru bisa mengabulkan permintaan mereka.



Namanya juga dalgona rumahan, jangan bayangkan seideal di kafe-kafe ya.

Bahan yang aku pakai, (sengaja nyebut merk biar teman-teman tahu aku bikin gak seperti orang-orang):

1. 2 sachet susu Zee varian vanilla.
2. 2 sendok sedang kopi Indocafe.
3. 4 sendok makan gula putih.
4. Air dan es batu.

Cara membuat ala aku:
1. Susu seperti biasa diseduh dengan air hangat dan aduk sempurna. Tambahkan air putih dingin. Jika suka manis, tambahkan gula secukupnya. Kalau aku, satu sachet bisa untuk dua gelas.

2. Masukkan es batu ke dalam setiap gelas susu.

3. Mixer kopi dan gula bersama sedikit air.




4. Setelah warnanya mulai coklat muda dan terlihat seperti busa atau buih di lautan (kangen pantai), berarti sudah oke. Btw, karena aku pakai kopi yang bukan kopi merk itu tu.. kayaknya kurang mengembang deh. Aku sih gak terlalu penting soal itu. Yang penting rasanya. Hehe.

5. Setelah selesai, sendokki hasil mixeran kopi dan gula tadi ke setiap gelas. Dalgona siap dinikmati bersama sepotong brownies.




Selamat mencoba ya.


Selasa, 09 Juni 2020

5 Langkah Penting Menyiapkan Kampus Menuju Kenormalan Baru #FBBKolaborasi

19.40 15 Comments

Oleh Nailiya Nikmah





Setelah berbagai istilah muncul terkait pandemi covid-19, kini muncul istilah lainnya yaitu new normal. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini disebut kenormalan baru. Istilah new normal dalam konteks Covid-19 merupakan sebuah istilah yang mewakili suatu konsep langkah percepatan penanganan covid-19 dalam bidang sosial, ekonomi dan tentu saja kesehatan. (Istilah ini juga yang menginspirasi FBB Kolaborasi kali ini).

Presiden telah meminta seluruh jajarannya untuk mempelajari kesiapan penerapan new normal alias kenormalan baru di Indonesia. Tidak semua negara, wilayah atau daerah langsung bisa menerapkan kenormalan baru. Ada berbagai pertimbangan dan kriteria sebelum era yang baru ini diterapkan. Menurut WHO salah satu kriteria suatu negara boleh menerapkan new normal adalah negara yang bersangkutan terbukti mampu mengendalikan penularan covid-19.

Penerapan kenormalan baru juga harus diiringi dengan kedisiplinan protokol kesehatan yang memerlukan peran dan kerja sama berbagai pihak. Yang perlu disadari bersama adalah kenormalan baru tidak sama dengan normal. Ada banyak hal yang berubah. Ada banyak kebiasaan baru yang harus kita tanamkan dan lakukan. Ini tidak mudah. Butuh kemauan, kedisplinan, kerelaan dan kesadaran yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.

Civitas akademika alias masyarakat kampus merupakan salah satu kelompok atau lapisan dalam struktur masyarakat kita. Kelompok ini merupakan kelompok orang-orang yang dekat dengan dunia ilmu pengetahuan dan informasi. Jadi, sudah seharusnya menjadi contoh pelaksanaan kenormalan baru yang baik dan benar kerika nantinya era ini diterapkan.

Nah, apa saja yang harus dilakukan ketika kampus hendak menerapkan kenormalan baru? Berikut persiapannya versi Tatirah di nailiyanikmah.com yang ditulis dalam rangka FBB Kolaborasi edisi Juni 2020.

Memastikan bahwa kampus merupakan zona aman

Memastikan status zona kampus adalah langkah awal yang harus dilakukan sebelum kampus benar-benar menerapkan kenormalan baru. Apakah kampus termasuk zona hijau, merah atau mungkin hitam? Untuk itu, pastikan data yang diterima akurat, tepat dan dapat dipercaya. Transparansi informasi sangat diperlukan dalam hal ini sebab ketika gerbang kampus telah dibuka, itu artinya kerumunan orang akan segera memenuhi lingkungan kampus. Orang-orang yang selanjutnya berada di bawah tanggung jawab kampus selama mereka berada di kampus.

Memiliki suatu kepanitiaan khusus penanganan covid-19

Alangkah idealnya jika kampus memiliki suatu kepanitiaan khusus terkait covid-19, kepanitiaan yang bisa saja melibatkan dosen dan mahasiswa dalam kegiatannya. Sebaiknya dipilih orang-orang yang memang concern dan peduli terhadap pandemi ini – yang juga berfungsi sebagai pusat data dan informasi per-covid-an di kampus.

Melakukan sosialisasi dan persamaan persepsi terhadap konsep kenormalan baru

Sebelum gerbang kampus dibuka alias kenormalan baru diterapkan, sebaiknya pihak kampus sudah melakukan sosialisasi ke seluruh elemen kampus tentang prinsip-prinsip kenormalan baru yang akan diterapkan kampus sehingga terjadi proses penyamaan persepsi tentang bagaimana seharusnya konsep ini dilakukan bersama, dengan visi dan spirit yang sama. Jika ini sudah dilakukan maka setiap orang akan mudah diarahkan untuk melakukan penyesuaian seperti akan sukarela dan senang hati memakai masker ketika berada di kampus bahkan mengubah strategi pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan semangat new normal. Misalnya waktu untuk berada di kelas lebih singkat, jika perlu membuat jadwal baru dengan sistem bergiliran, selain itu lebih mengoptimalkan PBM Daring.

Memiliki kebijakan dan protokol kenormalan baru yang baik dan benar hingga ke unit terkecil

Semua langkah akan percuma jika langkah yang satu ini dilalaikan oleh pihak kampus. Kampus harus menyiapkan kebijakan dan protokol kenormalan baru yang baik dan benar yang mengatur kehidupan kampus di era yang baru hingga ke unit-unit terkecil. Diperlukan kedisiplinan, ketegasan, jika perlu ada sanksi-sanksi bagi yang tidak menaati kebijakan atau protokol. Sebuah langkah yang bukan saja dimulai dari depan gerbang kampus (dengan pemeriksaan suhu badan dan kelengkapan atribut standar) melainkan langkah yang sudah harus dimulai dari rumah sejak mau berangkat ke kampus.

Menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai

Bagian akhir dari persiapan yang juga tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai. Beberapa hal yang harus diprioritaskan misalnya melakukan penyemprotan desinfektan; menyediakan sumber air untuk cuci tangan di banyak titik beserta dengan sabunnya plus handsanitizer; menyediakan tempat sampah sesuai jenis sampah; menyiapkan para petugas kebersihan yang cekatan, sigap dan paham akan tugasnya; menyediakan masker cadangan; mengatur ulang tata ruang dengan jarak tertentu untuk setiap posisi. Bukan hanya ruangan untuk PBM dan administrasi/pelayanan, perlu juga diperhatikan kelayakan dan kesiapan ruangan /fasilitas lain seperti tempat parkir, kantin, perpustakaan, mushola/ tempat ibadah, laboratorium, dsb (:sebaiknya pelajari referensi dari badan kesehatan dunia).

Demikian hal yang sebaiknya sudah disiapkan. Jika semua sudah siap, apa yang perlu ditakutkan? Kita wajib takut jika kita belum siap. Tagar #dirumahsaja jika belum siap. Nah, bagaimana menurut para peserta FBB Kolaborasi lainnya? Mari bersiap!

*Tulisan ini diikutkan pada momen FBB Kolaborasi edisi Juni 2020.