Kamis, 06 Februari 2020

14.50 0 Comments

Mengelola Keuangan Menjelang Usia 30*
Oleh Nailiya Nikmah


Uang memang bukan segalanya, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa dengan uang kita bisa melakukan banyak kebaikan. Uang yang dikelola dengan rapi tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di masa sekarang tapi juga berguna untuk masa yang akan datang. Sayangnya, tidak semua orang menyadari pentingnya keterampilan mengelola keuangan pribadi. Terlebih bagi mereka yang sudah berada pada fase mapan alias berpenghasilan tetap dan mandiri. Kadang-kadang kemapanan membuat seseorang terlena dan menjadi tidak bijak dalam hal pengelolaan dan perencanaan keuangan.
Sebuah artikel dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis Vol. 7 No. 2 September 2007 menyebutkan terdapat 11 alasan mengapa perencanaan keuangan perlu dilakukan oleh individu maupun keluarga, yaitu untuk melindungi diri sendiri dan keluarga dari berbagai risiko yang berdampak secara financial (seperti kecelakaan, penyakit, kematian, dan tuntutan hukum); mengurangi hutang-hutang pribadi/keluarga; membiayai kehidupan saat tidak lagi berada dalam rentang usia produktif; ini berkaitan dengan naiknya tingkat ekspektasi hidup rata-rata manusia di suatu negara; membayar biaya-biaya yang diperlukan untuk membesarkan anak; menyediakan biaya pendidikan anak sampai ke jenjang yang tinggi; membayar biaya pernikahan; membeli kendaraan; membeli rumah; mampu menentukan masa pensiun dengan gaya hidup yang kita inginkan; membayar biaya-biaya perawatan yang bersifat jangka panjang, dan mewariskan kesejahteraan kepada generasi berikutnya.
Meski kenyataan di lapangan bervariasi, dalam hitungan normal, seseorang memasuki fase mandiri dalam hal ekonomi pada usia 23 ke atas, dengan asumsi mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah strata 1. Pada tahap awal memasuki fase ini, seseorang cenderung menggunakan seluruh gaji atau penghasilannya untuk keperluan jangka pendek saja. Selain itu, mereka tidak membuat perencanaan keuangan yang baik dan benar. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa disadari seseorang akan mengalami kerugian finansial di masa depannya. Oleh sebab itu, kita perlu mengatur cashflow keuangan pribadi.
Nah, bagi yang akan memasuki usia 30 tahun, beberapa tips mengelola keuangan berikut ini bisa dicoba, yaitu:
1.        Melakukan pencatatan pengeluaran
Untuk melakukan perencanaan keuangan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencatat pengeluaran rutin yang dilakukan setiap bulannya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi apa saja kebutuhan kita dan seberapa besar dana yang kita keluarkan setiap bulan. Kita bisa mengenali mana pengeluaran rutin dan lainnya.
2.        Menyusun rencana anggaran berdasar skala prioritas
Di era sekarang, kemajuan di bidang teknologi dan informasi membuat kita setiap saat dikepung promo belanja online. Hal ini juga diperparah oleh tekanan gaya hidup. Tidak jarang, kita membeli sesuatu hanya karena tergiur iklan tanpa menganalisis seberapa urgen produk tersebut untuk dibeli. Langkah kedua dalam mengatur keuangan adalah menyusun anggaran atau budgeting berdasar skala prioritas. Usia 30 ke atas adalah fase seseorang merasa mapan lalu merasa sah-sah saja membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Jadi, kita harus melatih diri untuk membedakan mana kebutuhan, mana keinginan. Setelah itu, kita bisa membagi kelompok kebutuhan berdasar 3 klasifikasi, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
Bagi yang sudah menikah dan bekeluarga, anggaran pendapatan dan belanja keluarga (APBK) merupakan hal utama dari sebuah perencanaan yang baik dan efektif. Anggaran yang diperhitungkan secara benar akan memaksimalkan pencapaian sasaran maupun tujuan keuangan jangka panjang di tengah keterbatasan pendapatan.
3.        Mulai memiliki investasi dan tabungan
Banyak alternatif investasi dan tabungan yang ditawarkan. Pertimbangkan alternatif instrumen yang memang kita butuhkan dan kuasai. Investasi saham dan emas misalnya, harus benar-benar kita pelajari peluangnya sebelum memutuskan salah salah satunya sebagai pilihan. Sisihkan 20% dari penghasilan untuk langkah ketiga ini. Alangkah baiknya jika kita memiliki beberapa pos tabungan khusus sesuai keperluan, misal tabungan khusus untuk persiapan pergi haji bagi muslim; tabungan persiapan untuk menikah, dsb. Bahkan tabungan yang terdiri atas uang receh yang sepertinya tidak berguna akan menjadi sangat berguna suatu saat kelak.
4.        Mencari pendapatan tambahan
Meski kita sudah memiliki penghasilan atau pendapatan dari suatu pekerjaan tetap, ada baiknya kita memiliki pemasukan lain. Kita bisa mencoba usaha sampingan yang tidak mengganggu pekerjaan utama, misalnya mencoba usaha online bagi karyawan kantoran. Usaha ini tidak memerlukan modal besar dan tidak memerlukan tempat khusus.
5.        Mengatur batas hutang
Sebaiknya kita menghindari berhutang. Jika tidak dapat menghindarinya, kita harus mengatur batas hutang kita. Sebuah teori menyebutkan bahwa total jumlah cicilan hutang kita setiap bulan tidak boleh melebihi 30-35% penghasilan. Ini bisa dijadikan salah satu patokan kita dalam mengatur limit hutang. Selain itu, milikilah kesadaran untuk segera melunasi hutang-hutang agar tidak membebani.
6.        Menyiapkan dana pensiun
Mungkin ada yang beranggapan usia 30 masih jauh untuk pensiun dari dunia kerja sehingga menganggap persiapannya tidak terlalu penting. Pemikiran ini sebenarmya keliru. Persiapan dana pensiun justru harus dilakukan sedini mungkin. Saat pensiun, akan banyak perubahan dalam hidup kita termasuk kita akan kehilangan begitu banyak penghasilan dari sebelumnya. Jika kita tidak siap dengan perubahan ini, kita bisa saja akan shock dan panik ketika menjalaninya.
7.        Memiliki asuransi
Terlepas dari hal-hal yang kurang mengenakkan terkait asuransi, memiliki asuransi termasuk salah satu trend hidup yang pada salah satu kondisi tertentu akan sangat membantu kita. Sebelum memutuskan, pelajari agar tidak mengalami kerugian. Jika perlu, berkonsultasilah dengan ahlinya.
8.        Meningkatkan skill
Menjelang usia 30, kita harus tetap meningkatkan skill, termasuk skill mengelola keuangan. Banyak cara untuk meningkatkan skill misalnya dengan rajin membaca, mengikuti seminar atau pelatihan serta menonton tayangan-tayangan yang bermuatan edukasi.
9.        Membiasakan diri mengeluarkan dana sosial (:kegiatan amal, zakat, sedekah, infak dll)
Memiliki uang yang banyak bukan satu-satunya kebahagiaan. Jika ingin meraih kebahagiaan yang hakiki, langkah terakhir ini paling efektif untuk dilakukan. Secara psikologis, menolong orang lain akan membahagiakan diri sendiri. Setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain sejatinya akan kembali kepada kita. Dipandang dari kacamata agama, kegiatan semacam ini tidak akan membuat kita miskin tetapi justru sebaliknya.[]

*pernah dimuat di Harian Banjarmasin Post dengan proses penyuntingan oleh redaksi

Sabtu, 14 Desember 2019

Pengenalan Budaya Lokal

21.04 0 Comments

Pengenalan Budaya Lokal


Ini adalah rangkuman materi yang pernah aku sampaikan dalam sebuah acara di sebuah kampus bertajuk pengenalan budaya lokal.

Kebudayaan
Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta budhayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kata budaya merupakan perkembangan dari kata majemuk budi daya yang berarti daya dari budi. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, dan kebudayaan itu adalah segala hasil dari cipta, karsa dan rasa (Notowidagdo, 1997).
Culture (bahasa Inggris) yang artinya sama dengan kebudayaan, berasal dari kata Latin colere  yang berarti mengolah, mengerjakan terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti kata tersebut berkembang arti culture menjadi segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Beberapa antropolog mendefinisikan kebudayaan sebagai berikut:
E.B. Tylor (Inggris)
Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
R. Linton
Kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.
Sementara Ernest membagi dalam 5 (lima) Aspek, yaitu: Kehidupan spiritual; Bahasa dan kesusastraan; Kesenian; sejarah dan Ilmu pengetahuan.
Culture Universal
1)      Bahasa (lisan maupun tertulis)
2)      Sistem teknologi (peralatan dan perlengkapan hidup manusia)
3)      Sistem mata pencarian (termasuk sistem ekonomi)
4)      Organisasi sosial (sistem kemasyarakatan)
5)      Sistem pengetahuan
6)      Kesenian (seni rupa, seni musik, seni sastra, dll)
7)      Religi
(dikutip dari Koentjaraningrat oleh Notowidagdo, 1997)
Mengenal Budaya Banjar
Berdasarkan teori-teori sebelumnya terkait unsur budaya atau kebudayaan, dibahas tentang budaya lokal khususnya Budaya Banjar. Banjarmasin adalah Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dikenal dengan sebutan kota seribu sungai. Kondisi geografis tersebut mempengaruhi unsur-unsur budaya lainnya seperti mata pencaharian, teknologi dan kesenian. Mata pencaharian orang Banjar pada awalnya adalah bertani, mencari ikan di sungai dan berjualan di pasar terapung.

Kain khas Banjar
Kain khas Banjar adalah sasirangan. Kain sasirangan semula dimanfaatkan untuk pengobatan. Kain sasirangan dipercaya memiliki kekuatan magis. Zaman dahulu, bahan pewarna kain sasirangan berasal dari bahan alami yaitu berasal dari tumbuh-tumbuhan atau tanaman.
Bahasa Banjar
Bahasa Banjar atau yang dikenal dengan sebutan Basa Banjar secara umum terbagi dua, yaitu Basa Banjar Hulu dan Basa Banjar Kuala.
Kesenian
Setiap daerah memiliki ciri dan keunikan seninya masing-masing. Mulai dari seni tari, seni musik hingga yang lainnya. Beberapa tarian Banjar misalnya Tari Baksa Kembang, Tari Radap Rahayu. Alat musik Banjar misalnya panting dan kuriding. Seni pertunjukan tradisional misalnya mamanda, balamut, madihin. Adapun seni beladiri tradisionalnya adalah kuntau atau bakuntau.
Permainan tradisional
                Salah satu permainan tradisional Banjar adalah balogo.
Pamali
Pamali merupakan larangan atau pantangan yang tidak boleh dilanggar. Ada sebagian yang bisa dijelaskan secara logika, ada yang tidak bisa dijelaskan. Secara etika, terdapat pamali yang justru mengatur kehidupan masyarakat untuk menjadi lebih baik. Berbagai penelitian dan kajian ilmiah telah dilakukan terkait pamali Banjar. Beberapa contoh pamali:
1)      Jangan duduk di depan pintu saat senja
2)      Jangan becermin berdua
3)      Jangan menyapu di malam hari
4)      Ibu hamil dilarang berkata-kata buruk
5)      Jangan berfoto dalam jumlah ganjil
6)      Jangan membuka payung dalam rumah
7)      Jangan menggunting kuku di malam hari
o
dDisampaikan pada Acara Pengenalan Budaya Lokal, Banjarmasin, Sabtu 14 Desember 2019

Selasa, 03 Desember 2019

Bersenang- senang dengan Buku "Fun Research" Karya Bonnie Soeherman

22.11 0 Comments

Oleh Nailiya Nikmah

Salah Satu Koleksi Buku Nai


Hai, saya Nai. Basic utama keilmuan saya adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Dalam perjalanan karir mengajar, saya juga menjadi pengajar mata kuliah lain yang masih senada dan seirama seperti Komunikasi Bisnis; Kepribadian dan Kepemimpinan; Pendidikan Kewarganegaraan (:karena saya pernah mengikuti pelatihan doswar); serta Metodologi Penelitian (bertim dengan dosen core kelas yang saya ajar).

Sebagai pengajar, terutama pengajar mata kuliah Metodologi Penelitian, saya tidak pernah membatasi mahasiswa dalam memilih buku atau referensi seputar metode penelitian. Bahkan untuk sekadar mewajibkan mengopi modul perkuliahan yang saya susun pun saya tidak pernah. Bagi saya, memberikan rekomendasi (wajib) satu judul buku kepada mahasiswa bisa berakibat buruk, yaitu mereka hanya terfokus pada satu buku padahal ilmu tentang metode penelitian sangat luas. Saya juga menerapkan hal tersebut untuk diri saya sendiri. Saya membeli dan meminjam beberapa buku metode penelitian. Saya membaca semunya, mengamati, menganalisis, membandingkan, dan menerapkan beberapa.

Sekian tahun saya mempelajari ilmu tentang metode penelitian (:terima kasih kepada guru dan dosen di semua jenjang pendidikan saya), tidak ada bosannya memepelajari ilmu yang satu ini. Hingga saya menemukan formula sendiri dalam mengajarkannya.  Formula ini saya terapkan di mata kuliah Bahasa Indonesia pada Unit Menulis Karangan Ilmiah dan mata kuliah Metodologi Penelitian).

Suatu hari (2019) rekan mengajar saya menawari saya untuk menitip pembelian sebuah buku bertajuk penelitian kualitatif di luar Pulau kami. Saya mengiyakan. Saya jarang menolak buku (J). Pamali, hehe. Meski sempat juga berpikir, paling-paling buku tersebut sama saja dengan buku-buku metode penelitian yang sudah saya koleksi di perpus pribadi.

Ketika buku itu tiba di tangan saya, saya berubah pikiran,  judulnya menggelitik “Fun Research: Penelitian Kualitatif dengan Design Thinking”, buku ini diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo (masih satu naungan dengan penerbit novel saya Sekaca Cempaka). Buku bersampul kuning itu ditulis oleh Bonnie Soeherman. Pada halaman akhir buku kita bisa mengetahui penulis adalah seorang dosen dengan basic ilmu Akuntansi.

Halaman awal bertajuk Pengantar Sang Guru, pembaca disuguhi pengantar Prof. Basuki – pembimbing tesis penulis – yang membuat kita menemukan satu rahasia kecil semacam like father like son. Cuman kalau ini like coach like student.
Buku dengan isi 9 bab ini sebenarnya nyaris sama dengan semua buku yang pernah saya baca. Tapi tidak, gaya bahasa yang dipilih penulisnya membuat buku ini berbeda. Membaca halaman demi halaman buku tersebut memberikan sensasi ajaib. Asli, seperti tidak sedang membaca buku metodologi penelitian. Sebagai orang bahasa dan sastra, saya menemukan gaya maupun diksi yang tidak biasa untuk sebuah buku metode penelitian. Lebih mirip sebuah novel atau buku harian kalau menurut saya. Gaya bahasa yang dipakai oleh penulis membuat saya terjaga sepanjang pembacaan. Saya penasaran, kepo, terlonjak, bahagia, haru semua campur aduk. Belum pernah ada buku metode penelitian seperti ini.

Semua yang ditulis Bonnie Soeherman persis seperti apa yang selama ini saya yakini dan jalankan. Saya merasa bahagia, sebagai pengajar metodologi penelitian, baru kali ini saya merasa sangat percaya diri terhadap formula yang saya pakai sebagaimana saya sebut di paragraf sebelumnya. Saya merasa dikuatkan. Rasanya ingin bilang ke orang-orang, hei...aku benar, aku tidak salah, hehe.

Hingga halaman 159 - 160, saya tidak bisa menahan haru. Soeherman (2019)  menulis seperti ini:

Dalam kegalauan di toko buku, saya berjalan menyusuri lorong sepi yang berisi buku-buku filsafat dan sastra. Mata saya tertuju pada buku Paul Ricoer. Membacanya memberi banyak pencerahan dan pengaruh pada cara berpikir saya. ... Saya sungguh berterima kasih pada disiplin ilmu sastra. Ilmu sastra menawarkan berbagai teknik interpretasi wacana. Pelajaran yang belum saya temukan pada disiplin lain. Konsep interpretasi banyak berkembang dari penelitian sastra. Bakhtin (dalam Endraswara, 2011) mengatakan bahwa meneliti karya sastra sama saja dengan proses dialog dengan “manusia lain”. Walaupun keduanya seolah diam, mereka tetap sedang berdialog dalam kebisuan sehingga memerlukan interpretasi yang kuat.
Sepanjang yang saya ingat dan ketahui, inilah pertama kalinya ada orang dengan basic ilmu di luar bidang sastra menulis pernyataan semacam itu. Ingin rasanya membagikan paragraf tersebut ke orang-orang yang suka rasis dalam ilmu pengetahuan. Saya menyebutnya dengan istilah rasis, mungkin kurang tepat, tetapi itulah faktanya. Tidak sedikit orang-orang menganggap bidang ilmunya lebih unggul daripada bidang ilmu lain, khususnya ilmu bahasa dan sastra.

Jika suatu hari saya ditakdirkan bertemu beliau, saya ingin memberinya buku puisi saya hehe. Siapa tahu dia bisa menganalisis buku puisi saya melalui kacamata seorang akuntan. Akuntansi dalam Tetiba Mencintai, misalnya... siapa tahu?[]


Jumat, 29 November 2019

Kanaya: Menolak Sedih Walau Sedih

22.35 0 Comments
Esai Nailiya Nikmah JKF
Rini Intama dan Nailiya Nikmah JKF usai bincang Kanaya


Kanaya tiba di ruang sunyiku ketika ombak besar datang menggulung semua yang ada. Ia mengetuk dinding kaca dalam bilik jiwaku, ketika aku nyaris memutuskan untuk berhenti bernafas. Meski perih, berkali-kali aku meyakinkan diri: bukan, ini bukan saatnya mati. Dalam otakku berputar-putar satu-satunya diksi yang membuatku gagap sekaligus tegap: perempuan. Lalu satu-satu, barisan air mata kusibak dan kusisihkan. Bersama puisi, aku ingin mengembara malam-malam, menembus portal, mengunjungimu dan memintamu menghapus seluruh takdir buruk.
***
Pendahuluan
Setiap orang yang mempelajari teori sastra pada ujungnya akan memahami bahwa ada dua unsur dalam karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sejalan dengan sebuah rumusan bahwa untuk menganalisis sebuah karya sastra kita memerlukan kedua unsur tersebut. Bahwa karya sastra tidak bisa dipandang terpisah dari kreatornya, semua pun bisa memahaminya. Itu pula yang banyak  dilakukan para kritikus dan analis ketika mendekati sebuah karya, baik berupa puisi, cerpen, novel maupun naskah lainnya.
Mungkin itulah sebabnya titi mangsa dalam setiap puisi diistimewakan keberadaannya. Mungkin, itu pula yang kadang membuat sebuah novel perlu dituliskan embel-embel based on true story. Ketika semua hal nyata dan tidak nyata itu saling terkait, haruskah kita memaksa diri mengenang semua kejadian persis sebagaimana adanya? Padahal berapa banyak dari kita yang mampu mengingat semua peristiwa sama persis dengan alur sebenarnya lengkap dengan warna perasaan saat kita mengalaminya? Seorang penyair papan atas pernah berkata bahwa dia sudah lupa dengan hal yang melatarbelakangi sebuh puisi yang pernah ditulisnya sedemikian rupa. Dia lupa bagaimana puisinya bisa sedemikian.
Akan tetapi tidak untuk Kanaya. Tidak bagi Rini Intama. Setiap diksi yang ia hadirkan begitu kuat. Jalin-menjalin antar semua puisi. Kecil kemungkinan Intama melupakan semua hal yang ia tulis (semua hal yang melatari). Sebelum sampai pada titik ini, saya memutuskan mengabaikan unsur ekstrinsik, kecuali bahwa Kanaya ditulis oleh seorang perempuan. Saya tidak ingin mencari tahu siapa Rini Intama. Saya menahan jari-jari agar tidak mengetik nama penyairnya di mesin pencarian. Saya memilih bereksperimen. Bagaiamana kalau Kanaya didekati sebagai Kanaya saja? Bukan sebagai hasil cipta atau kreasi seorang Rini Intama?

Psikologi Sastra dan Perempuan yang Suka Berbohong
Pendekatan yang digunakan dalam esai ini adalah pendekatan psikologi sastra. To know a work of literature is to know the soul of the man who created it, and who created it in order that his soulhould be known (J. Middleton Murry).
Carlyle (1827) menulis kritik sastra tentang keterkaitan antara seorang penyair yang puisinya mencerminkan tingkah laku yang berhubungan secara psikologis. Telah sekian lama orang memandang karya-karya sastra banyak terkait dengan masalah biografi pengarang; karya sastra merupakan cerminan perasaan, dan lebih ekstrim lagi sastra merupakan ekspresi impuls seksual yang terpendam dari si pencipta. Menurut Abrams, sebelum telaah mendalam tentang hal tersebut, ada beberapa unsur yang peru diketahui.  Pertama, perlunya mengamati si pengarang untuk menjelaskan karyanya. Telaah dilakukan terhadap eksponen yang memisahkan dan menjelaskan kualitas khusus suatu karya sastra melalui referensi kuaitas nalar, kehidupan dan lingkungan si pengarang. Kedua, perlunya memahami si pengarang terlepas dari karyanya dengan cara mengamati biografi pengarang untuk merekonstruksi si pengarang dari sisi kehidupannya dan menggunakan karyanya sebagai rekaman kehidupan dan perwatakan. Ketiga, perlunya membaca suatu karya sastra untuk menemukan cerminan kepribadian si pengarang dalam karya tersebut. Fenomena sastra sebagai “cermin” pribadi telah lama berkembang meskipun demikian Endraswara menyatakan tidak selamanya pribadi pengarang selalu masuk ke dalam karya sastranya. (Minderop, 2013:61-62).

Pendekatan
Selanjutnya, berbekal satu informasi saja bahwa Kanaya ditulis oleh perempuan -belum tahu dia perempuan yang seperti apa- esai ini ditulis menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan mengambil unsur ketiga dari paparan sebelumnya. Kanaya merupakan kumpulan puisi Rini Intama yang terbit 2019, diterbitkan oleh Tarebooks, Jakarta. 
Penyairnya perempuan, maka coba kita pelajari sebuah rumus perempuan. Perempuan adalah makhluk yang cenderung suka berbohong. Ketika perempuan mengatakan “Saya baik-baik saja” sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Ketika dia mengatakan, “Tidak apa-apa” sebenarnya apa-apa. Ketika dia bilang “Saya tidak sedih” sebenarnya dia sedang menahan air matanya. Ketika dia bilang “Saya kuat kok” sejatinya dia sedang menggapai-gapai mencari pegangan, sandaran atau apa saja agar tidak terjatuh. Burukkah hal tersebut? saya kira tidak. Kebohongan tersebut membuat dia menjadi benar-benar seperti pada keadaan yang ia bohongkan. Barangkali inilah kekuatan kata-kata yang menjelma doa-doa hamba teraniaya. Semacam sebuah afirmasi dalam bidang psikologi.

Pembahasan
Kanaya begitu perempuan. Semua yang mengalun dari derai kawihnya adalah perempuan. Air mata sebagai duta kesedihan menjadi kontras di antara tembang-tembang berkekuatan super.
.../Lalu perempuan manakah tak melukis air mata?/.../tempat membiaknya luka/...(hlm 17)
Bait tersebut menggambarkan bahwa perempuan adalah pelukis air mata. Tidak ada pengecualian dalam kutipan tersebut. Hatta Kanaya menampilkan kekuatan-kekuatannya. Perempuan adalah “tukang nangis”, itu yang disampaikan dalam Kanaya.
.../Di tanah Priangan/ Air mata kita jatuh// (hlm 33), ini kutipan puisi berjudul “Kawih Ibu”. Diksi kita bermakna aku dan ibu. Dua orang perempuan sedang bertangis-tangisan pada saat yang sama, pada tempat dan kejadian yang sama. Tapi jangan ambil simpulan dulu, lihatlah bagaimana kekontrasan ada pada puisi-puisi setelahnya. Kanaya mencoba menolak, melawan kesedihannya. Hal yang paling lumrah dari banyak perempuan di dunia.
.../Tak perlu kita tangisi// Tentang sekar ibu/ Jika aku punya air mata/... (hlm 41).
.../Dan ruang-ruang yang gaduh/ tak perlu air mata/ sebab perempuan memanggul kecemasan/ menggenggam hidup dari bara api/ ...(hlm 43).
Kutipan tersebut masing-masing berasal dari puisi Sekar dan Pasar. Pada saat bersamaan, Kanaya menyampaikan ia tidak punya air mata; tak memerlukan air mata. Lihatlah, bagaimana cantiknya Kanaya bermain. Selain “tukang nangis”, perempuan “tukang bohong” dengan rapi terlukis dalam Kanaya. Inilah cara perempuan menolak sedih walau sebenarnya sedih. Memanggul kecemasan, menggenggam hidup dari bara api merupakan frase-frase yang mencerminkan kesulitan-kesulitan hidup para perempuan. Sesuatu yang dipanggul tentu saja adalah sesuatu yang berat, tidak ringan, bukan hal-hal receh. Kecemasan pada ujungnya adalah air mata. Adapun Bara api adalah sesuatu yang sangat potensial, potensial mendatangkan keburukan maupun kebaikan. Perempuan itu menyimpan banyak persoalan. Mereka berpotensi  melakukan perlawanan yang dahsyat, tapi jangan heran jika ujung-ujungnya dia menangis meraung-raung di kamar mandi; menghabiskan berlembar-lembar tissue. Pernah berkonflik dengan perempuan? Bagaimana the power of emak bekerja? Polanya selalu sama. Dia kukuh dan garang level 12 dari skala 1-10 tapi tidak lama kemudian, dia akan bersimbah air mata. Itu yang saya temukan dalam Kanaya. Terima kasih, Rini Intama. Terima kasih atas kejujuran yang paling jujur.

Penutup
Kanaya, kita tidak mencari pembenaran dalam puisi. Meski kadang terlihat rumit, puisi bukan matematika. Ia bukan rumus-rumus pasti yang dikungkung oleh hanya dua pilihan, benar-salah. Puisi adalah tempat jiwa kita berleha-leha. Ia lahan kita untuk merenung. Sesuatu yang kita gapai-gapai ketika jiwa terlunta-lunta setelah ayat-ayat Tuhan. Kanaya, mari kita saling menguatkan; menolak sedih walau sedih.[]

Disampaikan pada Malam Bincang Buku Kanaya karangan Rini Intama bersama Pemantik lainnya Di Kindai, 28 November 2019. Diabadikan di Flamboyan sehari setelahnya.

Kamis, 19 September 2019

RPS Pendidikan Kewarganegaraan

21.12 0 Comments


POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN
JURUSAN AKUNTANSI
PRODI D-3 AKUNTANSI
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
MATA KULIAH
KODE
Rumpun
MK
BOBOT (sks)
SEMESTER
Tgl Penyusunan
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

MKU dan Penunjang Lainnya
2
Ganjil
20 Agustus 2019
OTORISASI
Dosen Pengembang RPS
Koordinator MK/RMK
Ketua  Prodi



Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd.
NIP 198012092005012002



Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd
NIP 198012092005012002



Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd.
NIP 198012092005012002
Capaian Pembelajaran (CP)
CPL      

  1. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.
  2. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama dan kepercayaan serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
  3. Mampu bekerja sama, berkomunikasi dan berinovatif dalam pekerjaannya.
  4. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas bersadarkan agama, moral dan etika.
  5. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.
  6. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama dan kepercayaan serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
  7. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.
  8. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
  9. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
CP-MK

Mampu menjelaskan hubungan antara warganegara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Diskripsi Singkat MK
Pada mata kuliah ini mahasiswa belajar menjadi warga negara yang baik dengan memahami Filsafat Pancasila, Identitas Nasional, Politik dan Strategi, Demokrasi Indonesia, Hak Azasi Manusia dan Rule Of Law, Hak dan Kewajiban Warga Negara, Geopolitik Indonesia, Geostrategi Indonesia.
Bahan Kajian/Pokok Bahasan
Filsafat Pancasila, Identitas Nasional, Politik dan Strategi, Demokrasi Indonesia, Hak Azasi Manusia dan Rule Of Law, Hak dan Kewajiban Warga Negara, Geopolitik Indonesia, Geostrategi Indonesia.
Pustaka/referensi
Utama :


  1. Kaelan (ed). 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma.
  2. Kaelan. 2003. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
  3. -------. 1999. Pendidikan Pancasila Yuridis Kenegaraan. Yogyakarta: Paradigma.

Pendukung :

  1. Matta, M. Anis. 2007. Menikmati Demokrasi. Jakarta: Insan Media.
  2. Rais, Amien. 2004. Hubungan antara Politik dan Dakwah. Bandung: Mujahid.
  3. Roestandi, Achmad. 2002. Rule Of Law Versi Islam. Bandung: Gema Media Pustakama.
  4. Sumarsono, S.dkk. 2004. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Gramedia  Pustaka Utama.
  5. Utomo, Setiawan Budi. 2000. Fikih Kontemporer. Jakarta: Pustaka Saksi.
  6. Undang-undang Otonomi Daerah .2004.Bandung: Citra Umbara.
Media Pembelajaran
Perangkat lunak :
Perangkat keras :
grup kelas online
MS Word, MS Power Point
Buku, LCD, Laptop
Team Teaching
-
Matakuliah prasyarat
-
Minggu Ke-

(1)
 Sub-CP-MK


(2)
Indikator


(3)
Kriteria & Bentuk Penilaian

(4)
Metode Pembelajaran
 [ Estimasi Waktu]
(5)
Materi Pembelajaran
[Pustaka/Referensi]

(6)
Bobot Penilaian (%)
(7)
1
Mampu menjelaskan konsep pancasila sebagai sistem filsafat

Mampu menjelaskan pengertian pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara

Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.

Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.
Ketepatan menjelaskan konsep pancasila sebagai sistem filsafat

Ketepatan menjelaskan pengertian pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara


Kriteria:
Ketepatan dan Kesesuaian
Bentuk Non tes:
Merangkum konsep pancasila sebagai sistem filsafat dan ideologi
Kuliah dan Diskusi Kelas (TM: 1x (2x50’)

Tugas 1: Mengemukakan konsep pancasila sebagai sistem filsafat dan ideologi negara.
(BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Filsafat Pancasila
10%
2 dan 3
Mampu menjelaskan karakteristik identitas nasional.
Mampu menjelaskan proses berbangsa dan bernegara.


Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.

Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama dan kepercayaan serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.

Ketepatan menjelaskan karakteristik identitas nasional

Ketepatan menjelaskan proses berbangsa dan bernegara
Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelompok yang mendapat materi ini membuat makalah lalu disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 2
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
(BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Identitas Nasional
10%
4 dan 5
Mampu menjelaskan tentang sistem konstitusi.

Mampu menjelaskan sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia

Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku.

Ketepatan menjelaskan sistem konstitusi

Ketepatan menjelaskan sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia
Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelompok yang mendapat materi ini membuat makalah lalu disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 3:
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
Tugas 4:
Membuat kliping berita politik dan mempresentasikan
 (BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Politik dan Strategi
15%
6 dan 7
Mampu menjelaskan konsep dan prinsip demokrasi.

Mampu menjelaskan tentang demokrasi dan pendidikan demokrasi khususnya di Indonesia.

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas bersadarkan agama, moral dan etika.

Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.
Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.
Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku.
Ketepatan menjelaskan konsep dan prinsip demokrasi

Ketepatan menjelaskan  demokrasi dan pendidikan demokrasi
Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelompok yang mendapat materi ini membuat makalah lalu disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 5:
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
Tugas 6:
Memilih 1 di antara 10 pilar demokrasi untuk dijelaskan beserta  contonya.
 (BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Demokrasi

15%
8
UTS





9 dan 10
Mampu menjelaskan konsep dan sejarah Hak Azasi Manusia.

Mampu menjelaskan tentang rule of law

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas bersadarkan agama, moral dan etika.
Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.
Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama dan kepercayaan serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.
Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku.
Ketepatan menjelaskan konsep dan sejarah HAM

Ketepatan menjelaskan rule of law
Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelompok yang mendapat materi ini membuat makalah lalu disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 7:
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
 (BT+BM: (1+1)x(2x60”)


HAM dan Rule of Law
15%
11 dan 12
Mampu menjelaskan pengertian warga negara Indonesia dan segala hal yang berhubungan dengan kewarganegaraan seseorang.

Mampu menjelaskan hak warga negara Indonesia.

Mampu menjelaskan kewajiban warga negara Indonesia.

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas bersadarkan agama, moral dan etika.
Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.

Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama dan kepercayaan serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.
Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku.
Ketepatan menjelaskan pengertian warga negara Indonesia dan segala hal yang berhubungan dengan kewarganegaraan seseorang


Ketepatan menjelaskan hak warg anegara Indonesia















Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelompok yang mendapat materi ini membuat makalah lalu disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 8:
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
Tugas 9:
 Role Play tentang kewarganegaraan(BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Hak dan Kewajiban Warga Negara

15%
13 dan 14





Mampu menjelaskan pengertian geopolitik.

Mampu menjelaskan tentang wilayah sebagai ruang hidup.

Mampu menjelaskan konsep dan sejarah otonomi daerah serta penerapannya.

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas bersadarkan agama, moral dan etika.

Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.

Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.

Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku.
Ketepatan menjelaskan pengertian geopolitik

Ketepatan menjelaskan wilayah sebagai ruang hidup

Ketepatan menjelaskan konsep dan sejarah otonomi daerah serta penerapannya
Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelompok yang mendapat materi ini membuat makalah lalu disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 10:
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
 (BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Geopolitik Indonesia
10%
15 dan 16
Mampu menjelaskan konsep strategi Indonesia.

Mampu menjelaskan konsep Asta Gatra.

Mampu menjelaskan peran serta Indonesia dalam perdamaian dunia.

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas bersadarkan agama, moral dan etika.

Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.

Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan kemajuan peradaban berdasarkan pancasila.

Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Mampu menyelesaikan pekerjaan berlingkup luas dan menganalisis data dengan beragam metode yang sesuai, baik yang belum maupun yang sudah baku.
Ketepatan menjelasakan konsep strategi Indonesia

Ketepatan menjelaskan konsep Astra Gatra

Ketepatan menjelaskan peran serta Indonesai dalam perdaiamain dunia
Kriteria:
Ketepatan dan kesesuaian

Bentuk non test:
Studi Kasus:
Kelas dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing mendapat satu problem kasus untuk dipecahkan dalam kelompok kemudian disampaikan dalam diskusi kelas.
Kuliah dan Diskusi (TM: 2x (2x50’)

Tugas 11:
Membuat resume materi setelah diskusi kelas
 (BT+BM: (1+1)x(2x60”)


Geostrategi Indonesia

10%
17
Evaluasi Akhir Semester
100%

www.nailiyanikmah.com