Rabu, 28 Maret 2018

7 Tips Agar Selalu Semangat Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

10.00 9 Comments

Tidak semua keluarga memiliki asisten rumah tangga di rumahnya. Pada umumnya, masyarakat menjadikan pekerjaan rumah tangga seakan-akan menjadi tanggung jawab dan beban istri atau ibu. Hal ini kadang terasa sangat menjengkelkan bagi sebagian wanita. Padahal, mengerjakan pekerjaan rumah tangga merupakan salah satu hal biasa yang akan membuat wanita bahagia seperti yang pernah diulas dalam artikel “7 Hal Biasa yang Membuat Wanita Bahagia.”
Hanya saja, sebagaimana iman, ia pun mengalami yang namanya turun-naik. Hari ini semangat senang suka ria besok bisa jadi tidak semangat.

Berikut 7 tips agar selalu semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga versi Tatirah.

Niat
Merasa malas dan gampang bete saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Coba cek niat. Dalam segala hal, niat adalah faktor penentu keberhasilan yang paling utama. Kalau tidak memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tentu saja tidak akan ada pekerjaan yang dikerjakan dengan baik. Niat-niat yang suci akan membuat diri lebih bersemangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Menyandarkan segala pekerjaan rumah tangga sebagai ibadah akan melapangkan hati saat bekerja dan pekerjaan pun akan teras lebih ringan.

Warna dan Aroma Kesukaan
Kurang semangat ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Cek peralatan pendukung. Peralatan pendukung pekerjaan tidak perlu mahal dan lengkap. Belilah peralatan sederhana dan secukupnya dengan warna senada yang sesuai dengan warna favoritmu. Sapu ijuk bergagang pink atau ungu, pengki warna senada, serta pel lantai, tempat sabun, ember dan lain-lain dengan warna kesukaan. Warna-warna kesukaan akan mempengaruhi hati kita saat bekerja. Jika tidak terlalu fanatik dengan satu warna atau tidak punya warna favorit, pilih warna cerah yang dapat memberi efek semangat seperti merah tua, kuning atau orange.
Efek seperti pada warna berlaku pula pada bau. Aroma atau bau-bauan tidak asing lagi sebagai bagian dari terapi penyemangat. Jika tidak ada masalah alergi dengan salah seorang anggota keluarga, pakailah aroma atau bau-bauan dengan varian bau yang dapat memberikan efek segar dalam rumah misalnya aroma lemon, green tea, apel, citrus, amber, floral, lavender dll. Pemilihan aroma kesukaan ini dapat diterapkan pada pembersih lantai dan kloset, sabun cuci piring, deterjen, sabun mandi, sampo, atau pengharum ruangan.

Sedikit tapi rutin
Pekerjaan rumah tangga akan lebih baik dikerjakan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu rutin dan teratur selama tidak ada gangguan berarti. Jika selama ini menyetrika seminggu sekali, itu artinya menumpuk setrikaan di akhir pekan. Sesekali cobalah menyelipkan jadwal menyetrika di  hari Rabu atau Kamis dan rasakan perbedaannya. Begitu pula dengan mengepel dan menyapu. Lakukan ini setiap hari ketika mengawali hari atau ketika mengakhiri hari. Begitu pula dengan mencuci piring dan peralatan masak. Lebih baik mencuci piring setiap selesai memakainya. Membiarkannya menumpuk hanya akan membuat kita frustasi.

Kerja Harmoni
Beruntung kita hidup di zaman now. Sudah banyak alat canggih yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumah tangga menjadi lebih efektif dan efisien. Mesin cuci misalnya, kehadirannya membuat kita bisa mencuci pakaian sambil mencuci piring bahkan sambil memasak. Pada generasi terbaru, kita malah bisa mencuci sambil tidur. Catatan penting: peralatan yang dibeli harus sesuai anggaran ya! Jangan besar pasak daripada tiang. Oiya, yang dimaksud kerja harmoni di sini adalah mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Saat menggoreng ikan misalnya, daripada bengong memandangi muka ikan yang sedang proses menuju siap santap, lebih baik kita sambil mencuci peralatan kotor bekas membumbui ikan tadi. Daripada bosan menunggu lantai kering habis dipel sebelum digelari karpet, lebih baik menjemur pakaian yang sudah dicuci.

Daftar Prioritas
Ada kalanya kita mengalami hal-hal di luar kekuasaan atau di luar perencanaan kita. Tidak usah panik. Susunlah daftar prioritas. Kerjakan satu per satu dari yang paling penting untuk segera dilakukan. Dahulukan kepentingan anak-anak dan anggota keluarga lain yang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri (manula dan yang lagi sakit misalnya). Kerjakan pekerjaan rumah yang kalau tidak kita kerjakan bisa memrugikan dan membahayakan orang serumah (:membersihkan pecahan kaca, mengeringkan lantai yang basah, mengangkat jemuran ketika hujan, memberi minum obat pada anak, memasak, dan seterusnya).

Rapikan Peralatan
Ini sepertinya sepele tapi sangat penting. Ya, selalu merapikan peralatan yang sudah selesai dipakai dan meletakkannya di tempatnya akan sangat membantu ketika kita akan memerlukannya kembali. Tempatkan peralatan pada satu pojokan atau rak yang dipercantik dengan aneka hiasan dan warna kesukaan kita. Sekarang sudah banyak contoh kreasi tentang ini yang bisa kita cari di internet. Kita juga bisa menambahkan kalimat-kalimat motivasi di dekatnya.

Hadiahi diri
Jangan lupa menghadiahi diri sendiri setiap selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Reward ur self istilahnya. Tidak perlu yang mahal dan mewah. 

Segelas coklat hangat sambil mendengarkan lagu kesukaan sehabis mengepel lantai adalah hadiah simpel yang berefek menenangkan sekaligus meningkatkan hormon bahagia. Boleh juga ditambah sepiring spageti. Sesaat kemudian kita pun akan merasa segar dan bersemangat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Jika pekerjaannya cukup berat, kita bisa menaikkan level hadiahnya sesuai anggaran yang ada lho ya. Misalnya, belanja skincare sehabis membersihkan gudang belakang rumah!

Nah, gampang, kan. Selamat mencoba! [] Nai

Sabtu, 17 Maret 2018

Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku

08.31 36 Comments

Operasi Pemasangan Grommet: Kisah Mendebarkan Seputar Pengobatan Telinga

Sudah pernah mendengar istilah operasi grommet? Operasi pemasangan grommet tepatnya. Jika kamu bukan dokter spesialis THT kujamin kamu bakal mengernyitkan dahi kebingungan, kecuali kamu atau orang dekatmu pernah mengalaminya. Seperti itulah reaksi pertama kami, ditambah cemas, gundah, was-was, takut, bercampur sedikit harapan akan kesembuhan anak kami, ketika pertama kali dokter THT kami yang cantik mengeluarkan statement tersebut.

Ceritanya lengkapnya begini,
Hari itu, anak bungsuku yang berusia 8 tahun untuk kesekiankalinya mengeluhkan pendengarannya yang berkurang.

Sebelumnya, dia sebenarnya sudah sering menunjukkan gejala bermasalahnya pendengarannya. Hanya saja, kami kurang begitu serius menanggapinya (aku meminta ampun kepada Tuhan berkali-kali atas kekhilafanku yang satu ini). Misalnya, kalau diajak bicara ia selalu meminta lawan bicara mengulang kalimat berberapa kali sambil memiringkan kepala ke arah yang lebih dekat dengan lawan bicara.

Indikator lain sebenarnya ada pada seringnya dia memutar televisi dengan volume yang kencang, yang semula kupikir ini bagian keseruan anak-anak saja. Ia juga pernah mengeluhkan ada bagian yang sakit di telinganya.

Waktu itu kamipun membawanya ke dokter anak. Setelah memeriksa anakku, dokter menyimpulkan sakit telinganya hanya karena pilek dan itu biasa. Kami menebus resep, pulang, minum obat, selesai. Itu terjadi beberapa kali.

Hingga hari itu, setelah ayahku pulang dari RS (ayahku opname karena stroke), entah mengapa aku merasa tetiba melek medis. Aku berniat membawa anakku ke spesialis THT langganan kami. Dokter cantik dan ramah itu memeriksa, menanya-nanyai aku dan anakku, lalu meresepkan obat dan memberikan kami sebuah perintah tambahan.

“Gangguan telinga ini akibat pilek, ingus yang tidak bisa dikeluarkan dengan benar menumpuk di telinga. Obat ada dua jenis. Ada obat-obat yang diminum, ada obat yang ditetes di hidung. Kita lihat satu minggu. Kalau belum ada kemajuan, ibu bawa anak ibu ke THT Center di RS XXX, ini saya buatkan surat rujukan untuk tes blablabla (aku belum familiar dengan nama tesnya waktu itu). Setelah itu, bawa ke sini hasil tesnya. Selain itu, anak ibu harus rajin membasuh hidungnya. Dia menunjukkan cara membasuh hidung menggunakan air infuse dan alat suntik. Aku ternganga.

Seumur-umur, baru kali ini aku tahu cairan infuse bisa dipakai untuk membasuh hidung dengan cara dimasukkan ke lobang hidung menggunakan alat suntik.

“Ini biasa saja, Bu. Sama seperti pembiasaan cuci tangan pakai sabun,” kilahnya santai kayak di pantai. Dia seperti menangkap kebengongan kami (aku dan suamiku).
"Coba ibu lihat di Youtube, ada caranya, kalau ibu masih belum paham dengan penjelasan saya tadi” katanya lagi.

Sepulang dari dokter, aku mempelajari tutorial cuci hidung pakai air infuse. Saat mempraktikkannya aku sempat ragu dan takut. Untunglah anakku sangat kooperatif. Luar biasa, kembarannya turut membantu.
Seminggu setelah itu, aku perhatikan belum ada perubahan pada anakku.

Kami segera membawanya ke THT Center untuk dites. Ternyata, nama tesnya adalah tes Audio. Anakku masuk ke dalam ruangan kecil, lalu dipasangi alat semacam headset. Petugasnya sudah memberi petunjuk atau teknis pemerikasaan. Anakku akan mengangkat sebelah tangannya, yaitu tangan yang sesuai dengan sisi telinga yang dapat menerima bunyi. Lagi-lagi aku bersyukur anakku sangat kooperatif. Kutangkap nada cemas di wajah petugasnya. Sepertinya hasilnya akan menjadi kabar buruk bagi kami.

Petugas menulis-nulis seusatu di selembar kertas lalu menjelaskan sedikit hal padaku. Intinya, hasil pemeriksaan anakku jauh di bawah hasil pengecekan kondisi telinga normal. Setelah membayar biaya pengecekan audio, kami membawa hasilnya ke dr.THT.

“Wah, hasilnya di bawah normal. Jauh sekali. Coba ibu tes blablabla lagi untuk lebih akurat”

Kami menuruti sabda sang dokter. Kami kembali lagi ke THT center di RS XXX untuk tes Tympano (ingat-ingat ya namanya).

Ketika sang dokter melihat hasil tes tympano, ia terkejut. “Anak ibu sekarang ini pendengarannya seperti para manula yang kondisi pendengarannya kurang. Ada tumpukan cairan ingus di gendang telinga. Itu harus dikeluarkan dan dipasangi pipa grommet. Supaya operasi pemasangannya lancar, anak ibu akan dibius total nantinya.”

Aku dan suami ternganga. Operasi? Bius total? Kupandangi wajah anakku. Kasihan sekali kamu nak.

“Anak ibu punya kartu BPJS, kan?”
Aku dan suami menggeleng.
“Kalian PNS, kan?”
“Si kembar anak ketiga dan keempat. Hanya kakak-kakaknya yang sudah terdaftar.”
“Anak ketiga masih bisa. Uruskan dulu. Setelah itu, ini prosedur selanjutnya… Dokter menuliskan sesuatu.
“Maaf ya dok.. kalau misal..misal nih dok tidak pakai BPJS, berapa sih biayanya..kisarannya?” tanyaku hati-hati. Sesaat kemudian ekspresiku berganti menjadi setengah shock mendengar kisaran angka yang ia sebutkan.
“Tanggal sekian-sekian saya akan ke luar negeri. Kalau mau operasi dengan saya, berarti harus cepat” sambungnya ramah. “Tapi sebenarnya tidak masalah kalau operasinya dengan dokter lain. Sama saja” sambungnya lagi.

Di rumah, aku dan suami berunding. Kami merasa tidak sreg kalau operasi dengan dokter lain sementara yang memberi saran operasi dan yang selama ini merawat anak kami adalah dokter tersebut. Suamikupun ngebut mengurus BPJS anakku. Kami akan berusaha mengejar kesempatan operasi sebelum dokter baik itu berangkat ke luar negeri.

Perjuangan sesungguhnya baru dimulai
Setelah anakku memiliki kartu BPJS, kami pun memulai prosedurnya (diawali dengan meminta rujukan dokter faskes 1 kami). Barulah kami membawa rujukan tersebut ke rumah sakit. Hari itu, lucu sekali, aku tidak bisa menahan tawa kalau ingat pengalaman ini. Kami sudah menyiapkan diri untuk menginap di RS. Semua perlengkapan ada dalam mobil. Ya, bagaimana aku tidak tertawa, ternyata prosedurnya masih sangat panjaaang dan berhari-hari setelah itu, hehe.

Di rumah sakit, inilah yang kami jalani.

Pertama-tama, kami harus menuju loket pendaftaran peserta BPJS. Untuk itu kami harus mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Kulihat sudah banyak yang duduk di kursi tunggu. Oh, besar sekali angka urutan antrian kami. Pastilah orang-orang yang banyak ini datangnya jauh lebih pagi. Baiklah, mari kita bersabar, ucapku pada diri sendiri. Seorang kakek menyapaku, “Kamu baru ya berobat di sini. Kami sudah lama berobat di sini.”

Beberapa lama kemudian, nomor antrianku disebut untuk menuju loket sekian. Di loket itu aku mendapat karcis (demikian kami menyebutnya) untuk ke poli THT. Kami menuju poli THT. Astaga, antriannya juga banyak betul. Setelah tiba giliran kami, anakku diperiksa oleh seorang dokter senior didampingi para dokter muda. Dokter itu bilang, hanya sebelah saja telinga yang perlu dioperasi. Kami bingung. Padahal dokter kami yang cantik mengatakan kedua telinga anakku bermasalah dan harus dioperasi keduanya. Di poli itu kami dijelaskan langkah selanjutnya. Anakku harus dirontgen dan cek lab darahnya. Artinya, besok kami berjuang lagi.

Dalam lift RS kami bertemu dokter THT kami yang lain. Ya, kami punya dua dokter THT langganan. Keduanya perempuan. Aku memberanikan diri menyapanya. “Dok, masih ingat kami? Ini si kembar yang dulu pernah ketulangan lalu dicabut oleh dokter”

Dokter itu tersenyum menyapa anak-anakku.
“Maaf, dok, boleh bertanya?”
“Oh, silakan Bu,”
“Dokter tahu operasi Grommet?”
“Ya, tentu saja.”
“Apakah operasi grommet sesuatu yang biasa atau sesuatu yang wah.. wow..mengerikan atau gimanaa” tanyaku lagi.
“Biasa saja, kok” jawabnya dengan suara khasnya yang lembut tapi tegas berwibawa.
Pintu lift terbuka. Kami harus segera keluar. Sampai di situ saja percakapanku, aku merasa tidak puas. Malamnya, kami pun ke tempat praktik beliau. Hitung-hitung untuk second atau third opinion.
Dokter itu menjelaskan panjang lebar. Lalu karena kami terlihat ragu, dia menyarankan cek tympano ulang. Kami kembali ke THT center RS xxx. Setelah ada hasil, dokter membacanya dan berkata, “Dari tes ini, malah ada penurunan Bu, kedua telinganya. Sudahlah, ibu pasrah saja. Berdoa dan berusaha. Teruskan saja prosedurnya.

Untuk cek lab darah dan rontgen, lagi-lagi kami harus mengantri. Setelah itu, hari selanjutnya kami ke poli anak dan bagian anastesi. Kami sudah benar-benar pasrah. Dokter sasaran kami sudah terbang ke luar negeri. Kami harus mempercayai siapapun dokter yang akan menanganinya. Setelah mendapat jadwal operasi (sebenarnya pada bagian ini ceritanya masih panjang), kami mencari ruangan. Terkait ini, kami sempat sedikit rumit. Kami hendak memilih dokter tapi tidak bisa kecuali kami memilih kelas VIP dengan bayaran yang tidak sedikit.

Operasi dilakukan
Petang Rabu yang basah oleh hujan, kami memandangi jalanan dari atas jendela RS. Perawat menginstruksikan agar rambut anakku dipotong agak lebih pendek terutama di bagian dekat telinga. Sepupuku membawa tukang cukur yang masih kerabat kami. Untuk menjaga kestabilan emosi, saudara kembarnya mau juga dipotong rambut. Tengah malam perawat masuk mengingatkan kembali bahwa anakku harus puasa.

Pagi-pagi, kami semua sepakat tidak ada adegan sarapan demi menyukseskan puasa anakku yang hendak operasi. Perawat datang memasang infuse. Anakku pun dibawa ke ruang operasi. Lagi-lagi kami mengantri juga. Hingga tiba giliran anakku. Sesaat setelah obat bius disuntikkan lewat infuse, aku masih sempat membacakan doa sebelum tidur di telinganya…

Setelah oporasi selesai dan anakku siuman. Kami kembali ke kamar. Anakku merengek kelaparan. Lalu dia muntah beberapa kali. Aku panik.
Untunglah semua berlalu. Kami pulang dua hari kemudian, dan melanjutkan rawat jalan. Dan inilah takdir Tuhan selanjutnya bagi kami. Kepasrahan kami sebagai pasien BPJS justru mempertemukan kami dengan dokter THT senior lainnya yang sangat detail.

Sekilas tentang Grommet
Jadi, grommet itu semacam alat yang sangat kecil yang dimasukkan dalam gendang telinga.
Gambar asli diambil saat operasi

Keterangan berikut mungkin bisa menambah penjelasan tentang si grommet. Kuambil dari kamusdotcom.

Setelah batas waktu tertentu, grommet pun harus dicabut kembali.
Nanti akan kuceritakan bagaimana proses pencabutan grommet anakku dan apa yang kami jalani selama grommet dipasang. [] Nai.

tulisan selanjutnya dapat dilihat pada artikel berikut, klik di sini.

Rabu, 14 Maret 2018

7 Hal Biasa yang Membuat Wanita Bahagia: Refleksi Hari Kebahagiaan Internasional

22.10 16 Comments

Majelis Umum PBB telah menetapkan tanggal 20 Maret sebagai hari kebahagiaan internasional atau International Day of Happiness. Ada beberapa artikel yang mengupas sejarah ditetapkannya tanggal tersebut sebagai hari kebahagiaan internasional di dunia maya. Salah satu artikel menarik ada di Voaindonesia. Dalam artikel tersebut disebutkan tahun 2012, negara kecil di Himalaya, Bhutan, membujuk Majelis Umum PBB untuk menetapkan hari kebahagiaan internasional. “Di kerajaan Bhutan, ukuran kualitas hidup dinyatakan dalam GNH (Gross National Happiness)."
Seberapa penting kebahagiaan untuk dirayakan sebagai sebuah “Hari” internasional? Akankah memperingatinya memberikan jaminan kita bisa berbahagia setidaknya pada hari itu? Memperingati hari kebahagiaan internasional memang tidak lantas membuat kita pasti bahagia. Setidaknya, pada satu haari dalam setahun kita memiliki momen untuk merefleksikan makna kebahagiaan bagi diri sendiri dan bagaimana menebar kebahagiaan ke sekitar kita.
Begitu banyak hal yang dapat membuat manusia bahagia. Mulai dari hal-hal yang berifat materi sampai hal-hal yang tak terdefinisi. Bahagia adalah hal penting dalam hidup manusia. Sayangnya, masih banyak yang salah kaprah dengan masalah kebahagiaan. Sebagian orang menganggap kesuksesan dalam hidup akan membuat manusia bahagia. Hal ini justru berkebalikan dengan fakta tentang kebahagiaan yang sesungguhnya. Ya, justru perasaan bahagialah yang dapat mendorong orang mencapai banyak hal terbaik dalam hidupnya.
Ada banyak orang di luar sana yang kerap merasa terhalang untuk berbahagia karena hidupnya yang tak kunjung mencapai kesuksesan. Jika Anda pikir Anda salah satunya, mulailah untuk mengubah paradigma Anda tentang kebahagiaan dan kesuksesan. Mulailah untuk berbahagia setiap hari agar minggu depan atau bulan depan atau tahun depan Anda akan mencapai sebuah hal terbaik dalam hidup.
Sejalan dengan waktu dan ritme hidup, tiap orang akan menemukan definisi bahagianya masing-masing. Setiap orang berhak bahagia tapi setiap wanita wajib bahagia. Terutama wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak, bahagia adalah hal wajib dalam hidupnya. Ada banyak orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada seorang wanita yang ia sebut istri, ibu, nenek. Jadi, berbahagia adalah salah satu cara untuk bisa membahagiakan orang lain.

Berikut 7 hal biasa yang membuat wanita berbahagia versi Tatirah:

1. Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga
Wanita pada umumnya memiliki fitrah mengurus pekerjaan rumah tangga. Ketika pekerjaan tersebut secara wajar dan normal dilakukan, wanita akan merasa menjadi wanita seutuhnya. Pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika pakaian, menata perabot, bahkan hal kecil seperti sekadar menggantungkan pewangi dengan aroma pilihannya di dalam toilet adalah hal biasa yang akan membuat wanita berbahagia karena telah mengekspresikan eksistensinya.

2. Melihat Anak Tersenyum
Hal yang paling membahagiakan wanita adalah melihat anak-anaknya tersenyum dan tertawa riang. Ketika anak-anak tersenyum gembira itu pertanda separuh dunia sang wanita sedang baik-baik saja.

   3.  Memastikan Anak-anak Sehat dan Beribadah Sesuai Keyakinan yang Dianut
Memastikan anak sudah menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang dianut adalah hal yang membahagiakan seorang wanita. Begitupun dengan hal kesehatan anak. Memastikan anaknya dalam keadaan sehat adalah kebahagiaan utama seorang wanita. Kadang ini bahkan lebih utama daripada nilai raport yang bagus. Untuk itu, seorang wanita bahkan ada yang sampai harus menghabiskan uangnya untuk membayar aneka vaksin dan multivitamin dari dokter spesialis anak terbaik yang ia kenal.

4. Menuliskan Daftar Impian Sebanyak-banyaknya.
Tidak peduli apakah daftar itu logis atau tidak, bisa terwujud atau tidak, menuliskan sekian impian akan membuat hari seorang wanita lebih menyenangkan. Apalagi kalau ditulis dalam buku diary berdesain cantik. Menulis dan membacanya ulang akan membuat wanita tersenyum simpul dan rasa bahagia pun akan menjalari. Secara teori, hal ini bahkan akan membuat sang penulis daftar akan mencapai impiannya.

    5. Bertemu dengan Teman Se-passion
Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Setiap orang memerlukan teman untuk saling berbagi. Bahkan setelah menikah dan mempunyai anak, seorang wanita memerlukan teman seirama dan se-passion untuk sekadar saling sapa dan meyakinkan diri, hei aku tak sendiri di jagad raya ini! Di era digital, pertemuan dengan teman se-passion bahkan tak terbatas dan tersekat oleh ruang dan waktu. Tentu saja ada batasan etika, norma dan agama yang harus selalu dipatuhi. Dalam keadaan wajar, hal ini bisa menjadi satu hal yang membuat wanita berbahagia.

    6. Mengerjakan Hobi di Waktu Luang
Setelah menikah dan mempunyai anak, tak jarang seorang wanita kehilangan kesempatan untuk mengerjakan hobinya. Kembali menekuni hobi terutama di saat luang adalah hal membahagiakan bagi wanita. Tentu saja tidak sebanyak waktu masih single. Jika sebelum menikah bisa membaca tiga buku dalam satu pekan, mungkin setelah mempunyai anak, membaca satu buku favorit selama satu bulan masih terasa cukup untuk menekuni hobi lama membaca buku.

   7. Menjadi Teman Diskusi Suami
Poin terakhir ini sangat penting bagi kebahagiaan hakiki wanita. Wanita memerlukan rekan setara dengannya untuk berdiskusi banyak hal. Ketika suami memilihnya sebagai teman diskusi, wanita akan merasa dihargai dan diakui keberadaannya sebagai teman hidup. Hanya saja, dalam banyak kasus, poin terakhir ini akan terdengar sebagai “memiliki pendengar setia” karena yang terjadi adalah wanita yang akan lebih banyak bicara dan itu sangat membahagiakan bagi wanita.

Demikian 7 hal biasa yang dapat membahagiakan wanita. Selamat berbahagia! [] Nai.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Collaboration Female Blogger BanjarmasinEdisi Maret 2018