Film ini bagus ditonton bersama teman terbaikmu, sahabat dekatmu, agar kamu lebih baik lagi menjalin persahabatan. Kalau kau berani, ajaklah orang-orang yang tidak menghargai makna persahabatan, siapa tahu hatinya sedikit terbuka untuk mengerti arti pentingnya seorang sahabat.[] Nai, Juni 2019.
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Juni 2019
Prolog
Cerita rakyat, dongeng, hikayat dan sejenisnya, selain menghibur selalu
membawa pesan-pesan penting untuk masyarakat di berbagai masanya. Sebagaimana
menurut teorinya, seni sastra yang baik selalu memuat dua hal sekaligus, ia
menghibur sekaligus mendidik. Siapa yang tak kenal dongeng klasik Aladdin dan lampu ajaibnya yang
merupakan bagian dari kisah 1001 Malam? Dongeng itu, difilmkan kembali tahun
ini (2019) disutradarai oleh Guy Ritchie yang menulis skenarionya bersama John August berdasarkan Aladdin-nya Disney. Mungkin ada yang berpikir untuk apa dongeng yang kisahnya sudah
diketahui oleh seisi dunia itu difilmkan. Seperti biasa, film-film Walt Disney
selalu memberikan sesuatu yang baru untuk penontonnya.
Meski diangkat dari kisah dongeng pengantar tidur, yang pada umumnya untuk
konsumsi anak-anak, film ini kurang cocok ditonton oleh anak-anak. Di bagian
awal film ini pun dicantumkan bahwa tayangan tersebut untuk usia di atas 13
tahun. Pemberian kategori tersebut bukan hanya karena ada adegan ciuman di
dalamnya tetapi juga karena tema dan pesan yang diusungnya cukup berat bagi
anak di bawah usia 13 tahun.
Jika selama ini masyarakat mengenal Aladdin sebagai tokoh sentral, itu
tidak berlaku di film ini. Dalam film ini Aladdin, sang jin dan Putri Jasmine
mendapat tempat yang sama. Bahkan jika kita melihat perspektif pesan-pesan yang
disampaikan dalam film ini, maka sesungguhnya kisah ini tentang Jasmine, lebih
tepatnya tentang seorang perempuan.
***
Tersebutlah seorang pemuda miskin yang baik hati bernama Aladdin (dimainkan oleh Mena Massoud). Aladdin hidup
sebatang kara di sebuah gubuk sederhana. Ia ditemani seekor monyet bernama Abu.
Aladdin menghidupi dirinya dengan cara mencuri dan menipu. Trik-trik Aladdin
bersama monyetnya di luar dugaan lawan-lawannya. Pertemuan pertamanya dengan
Putri Jasmine adalah ketika sang putri menyamar menjadi rakyat biasa dan
berjalan-jalan di luar istana. Putri Jasmine tidak tega melihat orang miskin,
ia mengambil roti milik seorang pedagang dan memberikannya pada orang msikin
yang kelaparan. Perbuatannya diketahui oleh pemilik roti. Mereka terlibat perseteruan.
Aladdin membantu sang putri dengan trik-triknya. Kelihaian dan trik inilah yang
kemudian membawa nasib Aladdin ke istana.
Kelihaian Aladdin dimanfaatkan oleh Jafar, perdana mentri yang ingin
merebut tahta sultan dengan berbagai cara. Jafar memerintahkan Aladdin
mencarikan lampu minyak ajaib yang sudah lama diidamkannya. Ia membawa Aladdin
ke suatu tempat dan menjelaskan segalanya. Aladdin harus membawa lampu keluar
dari tempat rahasia tersebut tanpa membawa benda lain yang sangat menggiurkan di
sana.
Singkat cerita, Aladdin lah yang akhirnya menjadi pemilik lampu dan menjadi
tuan bagi jin yang ada dalam lampu. Sampai pada bagian Aladdin menjadi
pangeran, kisah karpet ajaib, dan tiga permintaan, cerita masih sejalan dengan
versi dongeng sebelumnya. Tentu saja akan lebih banyak hal istimewa kamu dapatkan jika menontonnya langsung. Indahnya film ini dari sisi kolosal, teatrikal dan
musikal sudah tidak diragukan lagi.
Akan tetapi bukan Walt Disney jika filmnya biasa saja. Inilah beberapa hal
berharga dalam film Aladdin 2019 yang sayang untuk dilewatkan versi Tatirah.
Putri Jasmine (:perempuan)
yang visioner, fighter, dan penuh
percaya diri
Dalam film Aladdin 2019, Putri Jasmine diperankan oleh Naomi scott mengemban karakter perempuan yang
sangat kuat meski ia sangat dimanja dan dilayani oleh laki-laki dalam
lingkungan kesehariannya. Sayangnya, pelayanan tersebut menuntut ia membayarnya
dengan hal yang tidak sepadan. Ia harus diam, duduk manis, tidak boleh
menyatakan pendapat karena satu alasan: karena ia perempuan. Secara tersirat maupun tersurat, film ini menunjukkan
keberpihakannya pada perjuangan perempuan yang terkungkung dalam tradisi
patriarki. Berbeda dengan perempuan lain di negerinya, Agrabah, Jasmine sangat visioner, fighter dan penuh percaya
diri. Ia ingin melakukan banyak hal, ia ingin berjuang untuk rakyatnya. Ia rajin
membaca buku, mempelajari segala hal, dan melakukan survei ke lapangan dengan
menyamar. Ia ingin menjadi penerus ayahnya, yakni menjadi sultan. Satu hal yang
tidak mungkin terwujud di negerinya. Peraturan telah ditetapkan sekian lama,
bahwa perempuan tidak boleh dan tidak akan bisa menjadi sultan/pemimpin di
negeri Agrabah.
Akan tetapi, Jasmine sangat percaya diri, ia yakin bisa menjadi penerus
ayahnya karena ia sudah mempelajari banyak hal. Jasmine juga tidak menyerah
bahkan ketika Jafar mengatakan tidak cukup belajar dari buku. Pun ketika
ayahnya sendiri yang mematahkan cita-citanya. Jasmine membuktikan keyakinannya
dengan keterampilannya membaca situasi dan peluang. Jasmine menunjukkan
kecerdasan dan kemampuannya dalam memimpin di saat rakyatnya dalam situasi
genting dan saat situasi mengancam jiwa ayahnya sendiri. Setelah sempat
dibungkam oleh para lelaki tersebut, Jasmine melakukan perlawanan. Hal ini
digambarkan dengan apik secara musikal oleh Walt Disney. Soundtrack “Speechless”
yang dinyanyikan oleh pemain Jasmine, betul-betul mewakili perjuangan Jasmine.
Jasmine berhasil merebut logika dan perasaan Hakim yang sempat berbalik
menjadi pengikut Jafar. Sebagai laki-laki yang logika dan perasaannya telah
dikuasai oleh Jasmine, Hakim menjadi sosok yang adil dan terbuka pikirannya. Tidak
tanggung-tanggung, detik itu juga Hakim memanggilnya dengan sebutan Sultan. Detik
itu pula sang ayah tersadar dan mengakui eksistensi Jasmine sebagai
penggantinya. Adegan ini adalah salah satu adegan yang wajib ditonton dan dihayati oleh para perempuan yang sedang berjuang memperjuangkan mimpinya.
Jujurlah pada Diri Sendiri
Sebelum Memutuskan untuk Mencintai
Dalam film ini, Aladdin dikisahkan sempat terjebak untuk melakukan
kebohongan tentang jati dirinya. Cinta dan kecantikan Jasmine sempat membutakan
mata dan hati Aladdin. Berkali-kali Jin mengingatkan Aladdin untuk jujur dan
berterus terang pada Jasmine. Beberapa dialog tentang hal ini cukup berhasil
menyentuh emosi penonton. Jika mereka datang untuk mencari sisi romantis dalam
film ini, bagian inilah yang memenuhi harapan tersebut. Sebenarnya, Aladdin
tidak sedang menipu Jasmine atau siapapun. Aladdin sedang menipu dirinya
sendiri. Ia kehilangan jati dirinya. Hal klasik, hal utama dalam rumus segala
hubungan di muka bumi ini adalah jujurlah pada diri sendiri, jujurlah sebelum
mencoba menjalin hubungan, jujurlah sebelum memutuskan untuk mencintai. Bahkan sebelum
kau mengatakan dan memutuskan bahwa kau tidak mencintai seseorang pun, kau
harus jujur pada dirimu sendiri.
Persahabatan selalu Menjadi
Hal Paling Indah dalam Kisah Apapun
Persahabatan selalu menjadi hal paling indah dalam kisah apapun dan
manapun. Tidak terkecuali dalam film Aladdin 2019. Persahabatan antara Aladdin
dengan Jin biru lampu ajaib melanggar pakem hubungan tuan dan jin dalam
dongeng-dongeng lampu ajaib. Dalam film ini, Jin biru tidak hanya melayani
Aladdin sebagai tuan, tetapi jauh melebihi hal tersebut, kebaikan hati dan
kepolosan Aladdin akhirnya membuat ia dan sang jin menemukan chemistry dan menjalin pertemanan yang
sangat indah. Will Smith (sebagai jin) membawakan peran ini dengan sangat baik, seperti acting-actingnya di film sebelumnya.
Persahabatan pula yang melandasi pilihan Aladdin dalam menyebutkan permintaan terakhirnya. Yang menontonnya pakai hati, pasti
membutuhkan tissue saat menonton film ini.
Epilog
Film ini bagus ditonton bersama teman terbaikmu, sahabat dekatmu, agar kamu lebih baik lagi menjalin persahabatan. Kalau kau berani, ajaklah orang-orang yang tidak menghargai makna persahabatan, siapa tahu hatinya sedikit terbuka untuk mengerti arti pentingnya seorang sahabat.[] Nai, Juni 2019.
Film ini bagus ditonton bersama teman terbaikmu, sahabat dekatmu, agar kamu lebih baik lagi menjalin persahabatan. Kalau kau berani, ajaklah orang-orang yang tidak menghargai makna persahabatan, siapa tahu hatinya sedikit terbuka untuk mengerti arti pentingnya seorang sahabat.[] Nai, Juni 2019.
Rabu, 01 Mei 2019
Semua genre dalam dunia pengisahan pondasinya adalah ide cerita. Ide cerita
merupakan ruh yang akan memberi energi bagi jalannya cerita melalui para tokoh
dan unsur instrinsik lainnya. Terutama dalam film, ide cerita merupakan bagian
utama yang akan menentukan keberhasilan dunia pengisahan. Kekuatan idelah yang
akan menuntun para aktor untuk memerankan tokoh yang diamanatkan kepadanya. Dalam
idelah tersimpan pesan-pesan bijak dunia seni dan kisah. Kualitas idelah yang
akan menyemangati para penggarap untuk bertahan hingga akhir. Puncaknya, ide
cerita yang berterima di hati dan otak penontonlah yang akan memuaskan dan
memberi manfaat bagi mereka.
Hal tersebut menghantui pikiran saya ketika melangkahkan kaki menuju acara Screening
Layar Film Banjar yang digagas oleh Forum Sineas Banua. Saya mendapat tiket
gratis menghadiri acara tersebut sebagai hadiah sebuah kuis di akun instagram
panitia. Dari berbagai informasi yang tayang di akun-akun media sosial panitia,
saya menemukan screening schedule sebagai berikut:
Berdasarkan beberapa pertimbangan - di antaranya kelonggaran waktu dan
kemungkinan bisa ngopi di lokasi - saya memilih menghadiri yang 30 April 2019 di
Capung Cafe n Resto Banjarmasin dimulai pukul 20.00 wita.
***
Malam itu, ada 8 film yang terpilih untuk ditayangkan dengan durasi bervariasi.
Kedelapan film tersebut yaitu Mahiyau, Puan Panting, Dindra, Terlambat, Anum,
Kada Bara Wara, Sarakap dan Pamit.
Lokalitas dan Sebuah Ide
Sejak awal mendengar dan mengetahui ada acara ini, saya bertanya-tanya,
apakah yang dimaksud dengan film Banjar dalam hal ini. Sisi peneliti, dunia
akademik saya membuat saya bertanya-tanya apakah definisi operasional film
Banjar dalam konsep penyelenggara. Apakah seluruh film yang dibuat oleh orang
Banjar; apakah film berbahasa Banjar; ataukah film yang bersetting Banjar atau
perpaduan semuanya?
Menonton film-film tersebut, saya menyimpulkan sendiri apa yang dimaksud
film Banjar dalam hal ini, yaitu perpaduan semua hal tersebut.
Para penggarap dan penyumbang ide film-film tersebut saya kira berusaha
keras menghadirkan ide-ide yang bersinggungan dengan lokalitas. Lokalitas sampai
sejauh ini (bahkan di era millenial) masih merupakan tema seksi dalam dunia
pengisahan. Kajian-kajian tentang lokalitas tidak akan saya bahas semuanya di
sini, yang pasti lokalitas tidak melulu persoalan bahasa dan atribut-atribut
kesukuan atau kedaerahan. Lokalitas merujuk pada hal-hal yang menjadi denyut
nadi dan inti persoalan yang ada. Oleh sebab itu, ia tidak hanya
tempelan-tempelan penghias yang akan menjadi simbol tanpa makna. Tidak. Ia lebih
dari itu. Ia adalah jantung cerita. Yang tanpanya, cerita tidak akan hidup. Yang
tanpanya cerita akan hambar, basi dan biasa saja. Itulah hakikat lokalitas.
Dari kedelapan film yang saya tonton, Film Mahiyau yang diproduksi oleh Neotimo merupakan film dengan tingkat
lokalitas terbaik sependek pengetahuan saya. Keseluruhan unsur yang ada dalam
film ini diangkat dari tema besar hal-hal mistis yang memang menjadi bagian
dari hal-hal yang dipercayai oleh sebagian orang Banjar. Dalam film yang
disutradarai oleh Akhmad Megryan ini, nyaris tidak ada sisi yang mubazir atau
sekadar tempelan. Setiap dialog, setiap adegan menjalankan peran dan fungsinya
sebagai sebuah sistem yang mengarah pada satu sistem ide yang sama dengan judul
film ini, yaitu Mahiyau (sebuah ritual pemanggilan jiwa orang yang dipercayai
disembunyikan di alam gaib). Pelaksanaan ritual yang dilakukan Bainah; ritual
yang dilakukan Khairi, merupakan sisi mistis yang masih dipercaya oleh sebagian
masyarakat kita.
Sarakap yang disutradari oleh Upin Barikin berada
pada nomor urut dua dalam hal lokalitas
yang jika diungkapkan dengan angka atau point, secara kuantitas bersaing ketat
dengan Mahiyau. Kemampuan pemilik ide
dan para penggarap dalam menghadirkan sisi kehidupan urang pahumaan dan urang
paiwakan merupakan hal utama yang benar-benar mewakili satu sudut lokalitas
urang Banjar. Film ini mengungkap sisi geografis tanah Banjar, lingkungan dan
alam yang mempengaruhi mata pencaharian mereka. Dalam film ini tersampaikan ide
bahwa ketika mereka tercerabut dari akar kehidupan yang melahirkannya, berbagai
kesulitan pun muncul. Hanya saja, kemulusan sisi lokalitasnya sedikit goyang
dengan munculnya isu kecurangan yang dilakukan oleh pambakal. Isu ini sedikit mengaburkan kekuatan utama film ini dari
segi lokalitas.
Kada Bara Wara yang disutradarai oleh Rizwan Azhar menempati
urutan ketiga menurut perspektif saya dari sisi lokalitas. Isu-isu dan wacana
dalam dunia pertambangan di Banjar (:Kalimantan) merupakan sisi lokalitas yang
sangat jelas. Dalam film ini batu bara menjadi hal utama yang menjadi nafas
cerita, bukan tempelan, bukan hiasan. Kalaupun ada sedikit kelemahan dalam film
ini adalah setting dan suasana. Film tersebut mengambil setting Banjar di tahun
yang sangat jauh di depan. Masa depan. Masa yang seharusnya didukung oleh
perubahan-perubahan budaya, sikap, bahkan karakter.
Selebihnya, bagi saya sebagian besar film ini bicara tentang hal-hal
psikologis. Film-film ini bicara tentang konflik batin, pencarian identitas dan
jati diri, pertahanan hidup manusia yang dibalut dengan isu-isu karakter dan
budaya.
Puan Panting, Dindra
dan Pamit memiliki kekuatan pada
teknik penggarapan, jalan cerita dan pengaluran. Menonton ketiga film ini
berasa sedang menonton film-film nasional yang tayang di bioskop-bioskop besar.
Mulai dari kemampuan para aktor/artis, teknik kamera/pengambilan gambar, tata
suara, backsound, serta hal-hal
teknis lainnya patut diacungi jempol. Hampir tidak terdapat cela dari ketiga
film ini.
Film Anum, memiliki kekuatan dari
teknik dan pemeran utama. Kemampuan akting pemeran utama dalam film ini layak
mendapat apresiasi. Di usianya yang relatif masih muda, keterampilannya dalam
seni peran sangat bagus. Meski tokoh utama film yang disutradarai oleh Yuniardo
Alvares ini adalah anak-anak, saya kira film ini bukan untuk anak-anak. Di antara
delapan film yang saya tonton, film Anum
merupakan film yang cukup berat, yang memerlukan keseriusan lebih ketika
menontonnya untuk mendapatkan inti cerita. Rumah Jomblo yang menjadi setting
film ini, bisa jadi merupakan peran atau tokoh bayangan yang menjadi simbol
utama cerita Anum.
Selain menghibur, sastra dan seni itu hendaknya bermanfaat. Saya kira, film
dengan nilai positif terbanyak yang disampaikan - ada pada film Terlambat yang disutradrai oleh M.
Nafidz Khalifa. Sedikit perbaikan pada teknik penceritaan dan alur akan membuat
film ini berpotensi luar biasa positif untuk ditonton oleh seluruh pelajar.
Sebuah Ramalan
Secara umum, film-film yang saya tonton malam itu memberi angin segar bagi
perfilman lokal khususnya film Banjar. Menyaksikan dengan seksama film-film
tersebut membuat kita memiliki harapan yang positif terhadap masa depan film
Banjar. Keberadaan film Banjar, kesuksesan film Banjar akan memberikan efek
yang sangat baik bagi perkembangan budaya secara umum serta bahasa Banjar
secara khusus yang pada ujungnya akan mempengaruhi bidang ekonomi dan bidang
lainnya.
Terkait bahasa Banjar, saya kira inilah satu-satunya kritik yang ingin saya
sampaikan. Bahasa Banjar sebagaimana bahasa lainnya memiliki kekhasan. Bahasa
Banjar yang digunakan sebaiknya bukanlah bahasa Indonesia yang dialihbahasakan
seadanya ke bahasa Banjar melainkan bahasa Banjar dengan diksi-nya yang khas
sesuai konteks.
Akhirnya, selamat berkarya, tidak ada keberhasilan tanpa proses yang
sungguh-sungguh. Semoga para sineas banua fokus pada pergerakannya dan
melahirkan film-film terbaik yang dapat bersaing dengan film lainnya.
Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
Nailiya Nikmah
00.24
0 Comments
Harapan vs
Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
(Menonton pakai
perasaan/ Bukan Spoiler Evengers:Endgame)
Jauh-jauh hari, teman sekaligus editorku yang baik hati memintaku dengan
sangat manis untuk menemaninya menonton film kesukaannya, Avengers:Endgame. Dia
sangat takut dengan spoiler-spoiler yang bertebaran seperti hantu di sekitarnya,
saking pengennya dia menghayati film ini. Konon dia adalah penggemar berat
film-film marvels. Untuk itu, dia bahkan membelikanku tiket online dan memintaku mengatur jadwal
yang tepat secara aku adalah orang paling sibuk sedunia (ini kulebih-lebihkan).
Aku bukan orang yang mewajibkan diri menonton film sebagai orang dalam
golongan pertama. Aku tidak mengharuskan diri pergi ke bioskop. Aku tidak
terlalu takut spoiler-spoiler karena bagiku dalam setiap kepala kita tersimpan
mekanisme sendiri untuk menikmati sebuah tayangan. Beberapa film yang kutonton
di bioskop selalu dalam misi spesial, misal aku kenal baik dengan produsernya
(cie, siapa coba aku ini); aku nge-fans berat sama penulis ceritanya; ada
puisi, ada hujan dalam film tersebut; atau misi menggalakkan film-film islami. Nah, Avengers ini tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut. Jadi, ini
kategori baru, yaitu ditraktir teman. Ditunggu
traktiran lainnya ya. Hehe.
Aku penggemar drama korea. Aku suka film-film India. Aku salut pada
film-film Hollywood. Aku pendukung film nasional yang bervisi jelas. Aku menonton
semua sequel Iron Man. Aku kagum dengan teknologi yang dipakai Toni. Aku iri
pada kecanggihan-kecanggihan yang ada dalam kehidupan Toni. Aku terpesona pada
alur romantisme yang menyisip dan menyusup pada seri Iron Man. Bagiku, inilah
film yang menyeimbangkan logika dan perasaan. Film yang memperjuangkan
pentingnya kemajuan teknologi tapi juga mengedepankan perasaan.
Sebelum ke bioskop, aku menyempatkan diri googling. Mencari semua artikel
dengan kata kunci mengarah kepada Avengers. Setidaknya, aku punya referensi di
kepala. Sekali lagi aku tidak takut spoiler. Aku ingin jadi teman nonton yang
baik, yang cerdas. Di awal penayangan, beberapa kali temanku menanyakan apakah
aku mengantuk atau tertidur.
Nah, ini oleh-oleh dari menonton Avengers. Aku menuliskannya untukmu. Sekali
lagi, ini bukan spoiler.
Apalah arti sebuah kisah tanpa ide yang spesial. Endgame memilih ide besar “Andai”.
Andai waktu dapat kembali. Andai permasalahan bisa diselesaikan dengan cara
memutar waktu kembali. Andai sesuatu yang sudah terjadi tidak pernah terjadi. Ini
merupakan persoalan yang sering ada dalam kebanyakan kepala dan hati manusia
ketika mengahadapi masalah. Dalam dunia nyata, ini nyaris tidak bisa terjadi
bahkan mustahil. Akan tetapi, itulah harapan yang paling banyak diinginkan oleh
manusia.
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Konsep mengulang waktu sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pengisahan.
Lorong waktu di sinetron Indonesia, mesin waktu-nya Doraemon, dan masih banyak
film lain yang menggunakan konsep ini (silakan googling sendiri). Yang membedakan
adalah tekniknya. Keindahan teknik pengembalian para tokoh Avengers ke
masa-masa lalu mereka tidak diragukan lagi. Seperti film Hollywood lainnya,
teknik selalu nomor satu. Kita dibohongi tanpa merasa dibohongi. Aku tidak akan
mengulas teknik panjang lebar. Itu jatah para kritikus film. Aku ingin membagi
apa yang ada di kepalaku sepulang menonton. Beberapa hal positif yang kukira
akan memberi manfaat untukmu:
1. Sekuat
apapun para super hero, mereka tetaplah manusia yang punya perasaan.
Ini ditunjukkan oleh semua tokoh dalam film ini. Semuanya
memiliki perasaan khusus yang kukira sangat melankolis terhadap masa lalu masing-masing.
Hal ini membuat film ini menjadi lebih rasional dan berterima di hati penonton.
2. Seorang
ibu selalu punya insting melindungi, menyayangi dan menasihati anaknya.
Ini dapat dilihat pada bagian Thor yang kembali ke
masa lalu sebelum sang ibu meninggal. Sekali lagi, teknik yang membedakan. Dalam
film ini, ibu Thor di masa lalu ketika ditemui Thor dengan teknologi yang
ditemukan Toni- mengetahui bahwa Thor yang di hadapannya adalah Thor di masa
depan. Dalam kasus Thor, fungsi memutar waktu tidak seratus persen berhasil
karena ibu Thor dengan instingnya menyadari siapa Thor yang ditemuinya saat
itu. Dia bahkan sempat memberikan nasihat bijak kepada Thor. Sebuah adegan yang
mengharukan.
3. Setiap
perjuangan membutuhkan pengorbanan.
Selain memutar waktu, konsep besar sekaligus
amanat dalam film ini adalah setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak ada
yang free, tidak ada yang bisa didapatkan dengan tangan kosong. Seluruh perjuangan Avengers dibayar dengan kehilangan tokoh-tokoh hebat. Terutama pada salah satu
titik pengambilan batu yang harus mengorbankan satu di antara dua tokoh yang
saling menyayangi.
4 . Selalu
ada titik keterbatasan, sehebat apapun kita.
Ini merupakan amanat yang juga membuat film ini
sejenak membuat kita lupa bahwa itu cuma film, cuma khayalan. Pada adegan
menjelang kematian Toni, saat kematiannya hingga pemakamannya. Adegan-adegan
tersebut memupuskan kesan bahwa superhero tak akan pernah mati. Ini juga
merupakan bagian yang mengaduk-aduk logika dan perasaan dalam film Avengers.
Yang menarik dalam film ini adalah ketika Kapten Amerika menyerahkan
posisinya kepada tokoh lain. Tokoh tersebut merupakan manusia berkulit berwarna
(maaf, tanpa bermaksud SARA), ini seakan mengingatkan kita pada sejarah Amerika
yang pernah dipimpin oleh Barack Obama.
Akhirnya, Meski cuma film, aku berduka karena Toni yang ditakdirkan pergi. Itu
artinya (:seharusnya) tidak akan ada lagi sequel Iron Man. Kalaupun ada, dia
harus berujung pada kematian Toni. Kita lihat saja nanti, apakah Endgame memang
benar-benar akhir dari Iron Man. [] Nai





