Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2019

Ketika Perempuan Tak Lagi Diam: Tentang Film Aladdin 2019

19.25 0 Comments

Prolog

Cerita rakyat, dongeng, hikayat dan sejenisnya, selain menghibur selalu membawa pesan-pesan penting untuk masyarakat di berbagai masanya. Sebagaimana menurut teorinya, seni sastra yang baik selalu memuat dua hal sekaligus, ia menghibur sekaligus mendidik. Siapa yang tak kenal dongeng klasik Aladdin dan lampu ajaibnya yang merupakan bagian dari kisah 1001 Malam? Dongeng itu, difilmkan kembali tahun ini (2019) disutradarai oleh Guy Ritchie yang menulis skenarionya bersama John August berdasarkan Aladdin-nya Disney. Mungkin ada yang berpikir untuk apa dongeng yang kisahnya sudah diketahui oleh seisi dunia itu difilmkan. Seperti biasa, film-film Walt Disney selalu memberikan sesuatu yang baru untuk penontonnya.


sumber:internet

Meski diangkat dari kisah dongeng pengantar tidur, yang pada umumnya untuk konsumsi anak-anak, film ini kurang cocok ditonton oleh anak-anak. Di bagian awal film ini pun dicantumkan bahwa tayangan tersebut untuk usia di atas 13 tahun. Pemberian kategori tersebut bukan hanya karena ada adegan ciuman di dalamnya tetapi juga karena tema dan pesan yang diusungnya cukup berat bagi anak di bawah usia 13 tahun.

Jika selama ini masyarakat mengenal Aladdin sebagai tokoh sentral, itu tidak berlaku di film ini. Dalam film ini Aladdin, sang jin dan Putri Jasmine mendapat tempat yang sama. Bahkan jika kita melihat perspektif pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini, maka sesungguhnya kisah ini tentang Jasmine, lebih tepatnya tentang seorang perempuan.

***
Tersebutlah seorang pemuda miskin yang baik hati bernama Aladdin (dimainkan oleh Mena Massoud). Aladdin hidup sebatang kara di sebuah gubuk sederhana. Ia ditemani seekor monyet bernama Abu. Aladdin menghidupi dirinya dengan cara mencuri dan menipu. Trik-trik Aladdin bersama monyetnya di luar dugaan lawan-lawannya. Pertemuan pertamanya dengan Putri Jasmine adalah ketika sang putri menyamar menjadi rakyat biasa dan berjalan-jalan di luar istana. Putri Jasmine tidak tega melihat orang miskin, ia mengambil roti milik seorang pedagang dan memberikannya pada orang msikin yang kelaparan. Perbuatannya diketahui oleh pemilik roti. Mereka terlibat perseteruan. Aladdin membantu sang putri dengan trik-triknya. Kelihaian dan trik inilah yang kemudian membawa nasib Aladdin ke istana.

Kelihaian Aladdin dimanfaatkan oleh Jafar, perdana mentri yang ingin merebut tahta sultan dengan berbagai cara. Jafar memerintahkan Aladdin mencarikan lampu minyak ajaib yang sudah lama diidamkannya. Ia membawa Aladdin ke suatu tempat dan menjelaskan segalanya. Aladdin harus membawa lampu keluar dari tempat rahasia tersebut tanpa membawa benda lain yang sangat menggiurkan di sana.

Singkat cerita, Aladdin lah yang akhirnya menjadi pemilik lampu dan menjadi tuan bagi jin yang ada dalam lampu. Sampai pada bagian Aladdin menjadi pangeran, kisah karpet ajaib, dan tiga permintaan, cerita masih sejalan dengan versi dongeng sebelumnya. Tentu saja akan lebih banyak hal istimewa kamu dapatkan jika menontonnya langsung. Indahnya film ini dari sisi kolosal, teatrikal dan musikal sudah tidak diragukan lagi.

Akan tetapi bukan Walt Disney jika filmnya biasa saja. Inilah beberapa hal berharga dalam film Aladdin 2019 yang sayang untuk dilewatkan versi Tatirah.

Putri Jasmine (:perempuan) yang visioner, fighter, dan penuh percaya diri

Dalam film Aladdin 2019, Putri Jasmine diperankan oleh Naomi scott mengemban karakter perempuan yang sangat kuat meski ia sangat dimanja dan dilayani oleh laki-laki dalam lingkungan kesehariannya. Sayangnya, pelayanan tersebut menuntut ia membayarnya dengan hal yang tidak sepadan. Ia harus diam, duduk manis, tidak boleh menyatakan pendapat karena satu alasan: karena ia perempuan. Secara tersirat maupun tersurat, film ini menunjukkan keberpihakannya pada perjuangan perempuan yang terkungkung dalam tradisi patriarki. Berbeda dengan perempuan lain di negerinya, Agrabah, Jasmine sangat visioner, fighter dan penuh percaya diri. Ia ingin melakukan banyak hal, ia ingin berjuang untuk rakyatnya. Ia rajin membaca buku, mempelajari segala hal, dan melakukan survei ke lapangan dengan menyamar. Ia ingin menjadi penerus ayahnya, yakni menjadi sultan. Satu hal yang tidak mungkin terwujud di negerinya. Peraturan telah ditetapkan sekian lama, bahwa perempuan tidak boleh dan tidak akan bisa menjadi sultan/pemimpin di negeri Agrabah.

Akan tetapi, Jasmine sangat percaya diri, ia yakin bisa menjadi penerus ayahnya karena ia sudah mempelajari banyak hal. Jasmine juga tidak menyerah bahkan ketika Jafar mengatakan tidak cukup belajar dari buku. Pun ketika ayahnya sendiri yang mematahkan cita-citanya. Jasmine membuktikan keyakinannya dengan keterampilannya membaca situasi dan peluang. Jasmine menunjukkan kecerdasan dan kemampuannya dalam memimpin di saat rakyatnya dalam situasi genting dan saat situasi mengancam jiwa ayahnya sendiri. Setelah sempat dibungkam oleh para lelaki tersebut, Jasmine melakukan perlawanan. Hal ini digambarkan dengan apik secara musikal oleh Walt Disney. Soundtrack “Speechless” yang dinyanyikan oleh pemain Jasmine, betul-betul mewakili perjuangan Jasmine.

Jasmine berhasil merebut logika dan perasaan Hakim yang sempat berbalik menjadi pengikut Jafar. Sebagai laki-laki yang logika dan perasaannya telah dikuasai oleh Jasmine, Hakim menjadi sosok yang adil dan terbuka pikirannya. Tidak tanggung-tanggung, detik itu juga Hakim memanggilnya dengan sebutan Sultan. Detik itu pula sang ayah tersadar dan mengakui eksistensi Jasmine sebagai penggantinya. Adegan ini adalah salah satu adegan yang wajib ditonton dan dihayati oleh para perempuan yang sedang berjuang memperjuangkan mimpinya.

Jujurlah pada Diri Sendiri Sebelum Memutuskan untuk Mencintai

Dalam film ini, Aladdin dikisahkan sempat terjebak untuk melakukan kebohongan tentang jati dirinya. Cinta dan kecantikan Jasmine sempat membutakan mata dan hati Aladdin. Berkali-kali Jin mengingatkan Aladdin untuk jujur dan berterus terang pada Jasmine. Beberapa dialog tentang hal ini cukup berhasil menyentuh emosi penonton. Jika mereka datang untuk mencari sisi romantis dalam film ini, bagian inilah yang memenuhi harapan tersebut. Sebenarnya, Aladdin tidak sedang menipu Jasmine atau siapapun. Aladdin sedang menipu dirinya sendiri. Ia kehilangan jati dirinya. Hal klasik, hal utama dalam rumus segala hubungan di muka bumi ini adalah jujurlah pada diri sendiri, jujurlah sebelum mencoba menjalin hubungan, jujurlah sebelum memutuskan untuk mencintai. Bahkan sebelum kau mengatakan dan memutuskan bahwa kau tidak mencintai seseorang pun, kau harus jujur pada dirimu sendiri.

Persahabatan selalu Menjadi Hal Paling Indah dalam Kisah Apapun

Persahabatan selalu menjadi hal paling indah dalam kisah apapun dan manapun. Tidak terkecuali dalam film Aladdin 2019. Persahabatan antara Aladdin dengan Jin biru lampu ajaib melanggar pakem hubungan tuan dan jin dalam dongeng-dongeng lampu ajaib. Dalam film ini, Jin biru tidak hanya melayani Aladdin sebagai tuan, tetapi jauh melebihi hal tersebut, kebaikan hati dan kepolosan Aladdin akhirnya membuat ia dan sang jin menemukan chemistry dan menjalin pertemanan yang sangat indah. Will Smith (sebagai jin) membawakan peran ini dengan sangat baik, seperti acting-actingnya di film sebelumnya.

Persahabatan pula yang melandasi pilihan Aladdin dalam menyebutkan permintaan terakhirnya. Yang menontonnya pakai hati, pasti membutuhkan tissue saat menonton film ini.

Epilog

Film ini bagus ditonton bersama teman terbaikmu, sahabat dekatmu, agar kamu lebih baik lagi menjalin persahabatan. Kalau kau berani, ajaklah orang-orang yang tidak menghargai makna persahabatan, siapa tahu hatinya sedikit terbuka untuk mengerti arti pentingnya seorang sahabat.[] Nai, Juni 2019.


Rabu, 01 Mei 2019

Lokalitas, Sebuah Ide dan Ramalan Masa Depan Film Banjar

02.38 3 Comments

Prolog


Semua genre dalam dunia pengisahan pondasinya adalah ide cerita. Ide cerita merupakan ruh yang akan memberi energi bagi jalannya cerita melalui para tokoh dan unsur instrinsik lainnya. Terutama dalam film, ide cerita merupakan bagian utama yang akan menentukan keberhasilan dunia pengisahan. Kekuatan idelah yang akan menuntun para aktor untuk memerankan tokoh yang diamanatkan kepadanya. Dalam idelah tersimpan pesan-pesan bijak dunia seni dan kisah. Kualitas idelah yang akan menyemangati para penggarap untuk bertahan hingga akhir. Puncaknya, ide cerita yang berterima di hati dan otak penontonlah yang akan memuaskan dan memberi manfaat bagi mereka.
Hal tersebut menghantui pikiran saya ketika melangkahkan kaki menuju acara Screening Layar Film Banjar yang digagas oleh Forum Sineas Banua. Saya mendapat tiket gratis menghadiri acara tersebut sebagai hadiah sebuah kuis di akun instagram panitia. Dari berbagai informasi yang tayang di akun-akun media sosial panitia, saya menemukan screening schedule sebagai berikut:

Berdasarkan beberapa pertimbangan - di antaranya kelonggaran waktu dan kemungkinan bisa ngopi di lokasi - saya  memilih menghadiri yang 30 April 2019 di Capung Cafe n Resto Banjarmasin dimulai pukul 20.00 wita.
***
Malam itu, ada 8 film yang terpilih untuk ditayangkan dengan durasi bervariasi. Kedelapan film tersebut yaitu Mahiyau, Puan Panting, Dindra, Terlambat, Anum, Kada Bara Wara, Sarakap dan Pamit.

Lokalitas dan Sebuah Ide
Sejak awal mendengar dan mengetahui ada acara ini, saya bertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan film Banjar dalam hal ini. Sisi peneliti, dunia akademik saya membuat saya bertanya-tanya apakah definisi operasional film Banjar dalam konsep penyelenggara. Apakah seluruh film yang dibuat oleh orang Banjar; apakah film berbahasa Banjar; ataukah film yang bersetting Banjar atau perpaduan semuanya?
Menonton film-film tersebut, saya menyimpulkan sendiri apa yang dimaksud film Banjar dalam hal ini, yaitu perpaduan semua hal tersebut.
Para penggarap dan penyumbang ide film-film tersebut saya kira berusaha keras menghadirkan ide-ide yang bersinggungan dengan lokalitas. Lokalitas sampai sejauh ini (bahkan di era millenial) masih merupakan tema seksi dalam dunia pengisahan. Kajian-kajian tentang lokalitas tidak akan saya bahas semuanya di sini, yang pasti lokalitas tidak melulu persoalan bahasa dan atribut-atribut kesukuan atau kedaerahan. Lokalitas merujuk pada hal-hal yang menjadi denyut nadi dan inti persoalan yang ada. Oleh sebab itu, ia tidak hanya tempelan-tempelan penghias yang akan menjadi simbol tanpa makna. Tidak. Ia lebih dari itu. Ia adalah jantung cerita. Yang tanpanya, cerita tidak akan hidup. Yang tanpanya cerita akan hambar, basi dan biasa saja. Itulah hakikat lokalitas.

Dari kedelapan film yang saya tonton, Film Mahiyau yang diproduksi oleh Neotimo merupakan film dengan tingkat lokalitas terbaik sependek pengetahuan saya. Keseluruhan unsur yang ada dalam film ini diangkat dari tema besar hal-hal mistis yang memang menjadi bagian dari hal-hal yang dipercayai oleh sebagian orang Banjar. Dalam film yang disutradarai oleh Akhmad Megryan ini, nyaris tidak ada sisi yang mubazir atau sekadar tempelan. Setiap dialog, setiap adegan menjalankan peran dan fungsinya sebagai sebuah sistem yang mengarah pada satu sistem ide yang sama dengan judul film ini, yaitu Mahiyau (sebuah ritual pemanggilan jiwa orang yang dipercayai disembunyikan di alam gaib). Pelaksanaan ritual yang dilakukan Bainah; ritual yang dilakukan Khairi, merupakan sisi mistis yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita.


Sarakap yang disutradari oleh Upin Barikin berada pada nomor urut dua dalam hal  lokalitas yang jika diungkapkan dengan angka atau point, secara kuantitas bersaing ketat dengan Mahiyau. Kemampuan pemilik ide dan para penggarap dalam menghadirkan sisi kehidupan urang pahumaan dan urang paiwakan merupakan hal utama yang benar-benar mewakili satu sudut lokalitas urang Banjar. Film ini mengungkap sisi geografis tanah Banjar, lingkungan dan alam yang mempengaruhi mata pencaharian mereka. Dalam film ini tersampaikan ide bahwa ketika mereka tercerabut dari akar kehidupan yang melahirkannya, berbagai kesulitan pun muncul. Hanya saja, kemulusan sisi lokalitasnya sedikit goyang dengan munculnya isu kecurangan yang dilakukan oleh pambakal. Isu ini sedikit mengaburkan kekuatan utama film ini dari segi lokalitas.
Kada Bara Wara yang disutradarai oleh Rizwan Azhar menempati urutan ketiga menurut perspektif saya dari sisi lokalitas. Isu-isu dan wacana dalam dunia pertambangan di Banjar (:Kalimantan) merupakan sisi lokalitas yang sangat jelas. Dalam film ini batu bara menjadi hal utama yang menjadi nafas cerita, bukan tempelan, bukan hiasan. Kalaupun ada sedikit kelemahan dalam film ini adalah setting dan suasana. Film tersebut mengambil setting Banjar di tahun yang sangat jauh di depan. Masa depan. Masa yang seharusnya didukung oleh perubahan-perubahan budaya, sikap, bahkan karakter.
Selebihnya, bagi saya sebagian besar film ini bicara tentang hal-hal psikologis. Film-film ini bicara tentang konflik batin, pencarian identitas dan jati diri, pertahanan hidup manusia yang dibalut dengan isu-isu karakter dan budaya.
Puan Panting, Dindra dan Pamit memiliki kekuatan pada teknik penggarapan, jalan cerita dan pengaluran. Menonton ketiga film ini berasa sedang menonton film-film nasional yang tayang di bioskop-bioskop besar. Mulai dari kemampuan para aktor/artis, teknik kamera/pengambilan gambar, tata suara, backsound, serta hal-hal teknis lainnya patut diacungi jempol. Hampir tidak terdapat cela dari ketiga film ini.
Film Anum, memiliki kekuatan dari teknik dan pemeran utama. Kemampuan akting pemeran utama dalam film ini layak mendapat apresiasi. Di usianya yang relatif masih muda, keterampilannya dalam seni peran sangat bagus. Meski tokoh utama film yang disutradarai oleh Yuniardo Alvares ini adalah anak-anak, saya kira film ini bukan untuk anak-anak. Di antara delapan film yang saya tonton, film Anum merupakan film yang cukup berat, yang memerlukan keseriusan lebih ketika menontonnya untuk mendapatkan inti cerita. Rumah Jomblo yang menjadi setting film ini, bisa jadi merupakan peran atau tokoh bayangan yang menjadi simbol utama cerita Anum.
Selain menghibur, sastra dan seni itu hendaknya bermanfaat. Saya kira, film dengan nilai positif terbanyak yang disampaikan - ada pada film Terlambat yang disutradrai oleh M. Nafidz Khalifa. Sedikit perbaikan pada teknik penceritaan dan alur akan membuat film ini berpotensi luar biasa positif untuk ditonton oleh seluruh pelajar.

Sebuah Ramalan
Secara umum, film-film yang saya tonton malam itu memberi angin segar bagi perfilman lokal khususnya film Banjar. Menyaksikan dengan seksama film-film tersebut membuat kita memiliki harapan yang positif terhadap masa depan film Banjar. Keberadaan film Banjar, kesuksesan film Banjar akan memberikan efek yang sangat baik bagi perkembangan budaya secara umum serta bahasa Banjar secara khusus yang pada ujungnya akan mempengaruhi bidang ekonomi dan bidang lainnya.
Terkait bahasa Banjar, saya kira inilah satu-satunya kritik yang ingin saya sampaikan. Bahasa Banjar sebagaimana bahasa lainnya memiliki kekhasan. Bahasa Banjar yang digunakan sebaiknya bukanlah bahasa Indonesia yang dialihbahasakan seadanya ke bahasa Banjar melainkan bahasa Banjar dengan diksi-nya yang khas sesuai konteks.
Akhirnya, selamat berkarya, tidak ada keberhasilan tanpa proses yang sungguh-sungguh. Semoga para sineas banua fokus pada pergerakannya dan melahirkan film-film terbaik yang dapat bersaing dengan film lainnya.

Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu

00.24 0 Comments

Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
(Menonton pakai perasaan/ Bukan Spoiler Evengers:Endgame)


Jauh-jauh hari, teman sekaligus editorku yang baik hati memintaku dengan sangat manis untuk menemaninya menonton film kesukaannya, Avengers:Endgame. Dia sangat takut dengan spoiler-spoiler yang bertebaran seperti hantu di sekitarnya, saking pengennya dia menghayati film ini. Konon dia adalah penggemar berat film-film marvels. Untuk itu, dia bahkan membelikanku tiket online dan memintaku mengatur jadwal yang tepat secara aku adalah orang paling sibuk sedunia (ini kulebih-lebihkan).



Aku bukan orang yang mewajibkan diri menonton film sebagai orang dalam golongan pertama. Aku tidak mengharuskan diri pergi ke bioskop. Aku tidak terlalu takut spoiler-spoiler karena bagiku dalam setiap kepala kita tersimpan mekanisme sendiri untuk menikmati sebuah tayangan. Beberapa film yang kutonton di bioskop selalu dalam misi spesial, misal aku kenal baik dengan produsernya (cie, siapa coba aku ini); aku nge-fans berat sama penulis ceritanya; ada puisi, ada hujan dalam film tersebut; atau misi menggalakkan film-film islami. Nah, Avengers ini tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut. Jadi, ini kategori  baru, yaitu ditraktir teman. Ditunggu traktiran lainnya ya. Hehe.
Aku penggemar drama korea. Aku suka film-film India. Aku salut pada film-film Hollywood. Aku pendukung film nasional yang bervisi jelas. Aku menonton semua sequel Iron Man. Aku kagum dengan teknologi yang dipakai Toni. Aku iri pada kecanggihan-kecanggihan yang ada dalam kehidupan Toni. Aku terpesona pada alur romantisme yang menyisip dan menyusup pada seri Iron Man. Bagiku, inilah film yang menyeimbangkan logika dan perasaan. Film yang memperjuangkan pentingnya kemajuan teknologi tapi juga mengedepankan perasaan.
Sebelum ke bioskop, aku menyempatkan diri googling. Mencari semua artikel dengan kata kunci mengarah kepada Avengers. Setidaknya, aku punya referensi di kepala. Sekali lagi aku tidak takut spoiler. Aku ingin jadi teman nonton yang baik, yang cerdas. Di awal penayangan, beberapa kali temanku menanyakan apakah aku mengantuk atau tertidur.  
Nah, ini oleh-oleh dari menonton Avengers. Aku menuliskannya untukmu. Sekali lagi, ini bukan spoiler.
Apalah arti sebuah kisah tanpa ide yang spesial. Endgame memilih ide besar “Andai”. Andai waktu dapat kembali. Andai permasalahan bisa diselesaikan dengan cara memutar waktu kembali. Andai sesuatu yang sudah terjadi tidak pernah terjadi. Ini merupakan persoalan yang sering ada dalam kebanyakan kepala dan hati manusia ketika mengahadapi masalah. Dalam dunia nyata, ini nyaris tidak bisa terjadi bahkan mustahil. Akan tetapi, itulah harapan yang paling banyak diinginkan oleh manusia. 
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Konsep mengulang waktu sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pengisahan. Lorong waktu di sinetron Indonesia, mesin waktu-nya Doraemon, dan masih banyak film lain yang menggunakan konsep ini (silakan googling sendiri). Yang membedakan adalah tekniknya. Keindahan teknik pengembalian para tokoh Avengers ke masa-masa lalu mereka tidak diragukan lagi. Seperti film Hollywood lainnya, teknik selalu nomor satu. Kita dibohongi tanpa merasa dibohongi. Aku tidak akan mengulas teknik panjang lebar. Itu jatah para kritikus film. Aku ingin membagi apa yang ada di kepalaku sepulang menonton. Beberapa hal positif yang kukira akan memberi manfaat untukmu:
      1.    Sekuat apapun para super hero, mereka tetaplah manusia yang punya perasaan.
Ini ditunjukkan oleh semua tokoh dalam film ini. Semuanya memiliki perasaan khusus yang kukira sangat melankolis terhadap masa lalu masing-masing. Hal ini membuat film ini menjadi lebih rasional dan berterima di hati penonton.
      2. Seorang ibu selalu punya insting melindungi, menyayangi dan menasihati anaknya.
Ini dapat dilihat pada bagian Thor yang kembali ke masa lalu sebelum sang ibu meninggal. Sekali lagi, teknik yang membedakan. Dalam film ini, ibu Thor di masa lalu ketika ditemui Thor dengan teknologi yang ditemukan Toni- mengetahui bahwa Thor yang di hadapannya adalah Thor di masa depan. Dalam kasus Thor, fungsi memutar waktu tidak seratus persen berhasil karena ibu Thor dengan instingnya menyadari siapa Thor yang ditemuinya saat itu. Dia bahkan sempat memberikan nasihat bijak kepada Thor. Sebuah adegan yang mengharukan.
      3.   Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan.
Selain memutar waktu, konsep besar sekaligus amanat dalam film ini adalah setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak ada yang free, tidak ada yang bisa didapatkan dengan tangan kosong. Seluruh perjuangan Avengers dibayar dengan kehilangan tokoh-tokoh hebat. Terutama pada salah satu titik pengambilan batu yang harus mengorbankan satu di antara dua tokoh yang saling menyayangi.
      4 . Selalu ada titik keterbatasan, sehebat apapun kita.
Ini merupakan amanat yang juga membuat film ini sejenak membuat kita lupa bahwa itu cuma film, cuma khayalan. Pada adegan menjelang kematian Toni, saat kematiannya hingga pemakamannya. Adegan-adegan tersebut memupuskan kesan bahwa superhero tak akan pernah mati. Ini juga merupakan bagian yang mengaduk-aduk logika dan perasaan dalam film Avengers.

Yang menarik dalam film ini adalah ketika Kapten Amerika menyerahkan posisinya kepada tokoh lain. Tokoh tersebut merupakan manusia berkulit berwarna (maaf, tanpa bermaksud SARA), ini seakan mengingatkan kita pada sejarah Amerika yang pernah dipimpin oleh Barack Obama.
Akhirnya, Meski cuma film, aku berduka karena Toni yang ditakdirkan pergi. Itu artinya (:seharusnya) tidak akan ada lagi sequel Iron Man. Kalaupun ada, dia harus berujung pada kematian Toni. Kita lihat saja nanti, apakah Endgame memang benar-benar akhir dari Iron Man. [] Nai