| Media Kalimantan, 7 Okt 2014 |
Rabu, 08 Oktober 2014
Suatu Malam di Sidang Pembaca
Catatanku Tentang
Diskusi Novel Sekaca Cempaka
Oleh Nailiya Nikmah JKF
Aku sangat
berterima kasih pada sidang pembaca yang bersedia hadir di malam diskusi novel
Sekaca Cempaka (SC), Jumat, 5 September 2014 pukul 20.30 Wita. Acara yang
digawangi oleh Harie Insani Putra dkk (Bubuhan Onoff Solutindo) tersebut
berlangsung di Aula Pustarda Banjarbaru. Malam itu peserta tidak hanya dari
Banjarbaru dan Banjarmasin
tapi datang juga peserta dari Martapura dan Hulu Sungai (Barabai, Kandangan,
Amuntai) serta Tanah Bumbu dan Kotabaru. Peserta tidak hanya sastrawan prosa,
para penyair (puisi) pun datang. Beberapa komunitas teater dan seni ada hadir.
FLP Banjarbarupun mengirim utusannya. Sang fotografer, salah satunya, Yulian
Manan pun tidak ketinggalan.
Acara dimoderatori
oleh Sainul Hermawan, dosen Unlam yang tulisan-tulisannya kerap mejeng di koran
(kritikannya itu lhooo, terasa sampai ke hati hehe.) Moderator membukanya
dengan menyampaikan bahwa Aruh Sastra Kalsel 2013 telah berlalu namun malam ini
kita kembali mengingatnya dengan dua hal, yaitu novel SC karya Nailiya Nikmah
JKF sebagai Unggulan dan Dewi Alfianti sebagai pemenang lomba Menulis Esai.
Pemateri adalah
Aliman Syahrani (sastrawan asal Hulu Sungai Selatan) dan Dewi Alfianti (Dosen
Unlam). Tiga orang yang namanya kusebut ini kuyakini sudah membaca SC dengan
baik. Mereka menyampaikan pemaparan dari kaca mata masing-masing. Diskusi
dimulai segera tidak lama setelah aku datang karena para pembicara sudah hadir
lengkap. Dewi membawakan esainya yang sebelumnya terbit di Media Kalimantan, Sekaca Cempaka dalam Perspektif Feminis
Kritis.
Yang mendebarkan
adalah sesi diskusi. Komentar, kritikan, pertanyaan, saran, dan lainnya dari
peserta diskusi membuat aku ber-o panjang dalam hati. Niatku semula untuk “diam
mendengarkan saja” menjadi terlupakan. Akupun tidak tahan hati untuk tidak
menjawab komen-komen tersebut.
Aliman Syahrani
menganggap alur ketika anak Nurul sakit dan Nurul membawa anaknya ke rumah
sakit adalah bagian yang kurang penting.
Andi Syahludin
menanyakan apakah penulis pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga; apakah
penulis pernah merasakan tinggal di tengah-tengah lingkungan laki-laki; apakah
penulis pernah punya teman yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. (Andi
Sahludin lebih dari satu kali berkomentar). Menurutnya, poligami bukan hal yang
khusus terjadi di Hulu Sungai melainkan bisa terjadi di mana saja.
Hajriansyah
memaparkan tanggapannya setelah membaca SC dari BAB belakang. Ia menghargai
upaya penulis dalam melakukan riset kecil-kecilan sebelum menulis SC.
Iberamsyah
Barbary menanyakan di mana letak islaminya novel SC karena ada label NI. Mana
nilai-nilai islaminya. Ia juga memaparkan pengetahuannya tentang bunga cempaka
dalam botol.
Datang
bersama Aliman seorang sastrawan dari Kandangan yang mengingatkan kita pada
Boerhanuddin Soebly. Beliau memaparkan pembacaan-pembacaan sastra yang pernah
beliau baca.
Seorang
mahasiswa dari Darussalam Martapura memaparkan konsep islami yang mungkin
muncul dalam karya sastra islami.
Yang menyenangkan
juga adalah diskusi tersebut dihadiri oleh dua orang juri lomba menulis novel
Aruh Sastra Kalimantan Selatan 2013,
yaitu Randu Alamsyah dan Sandi Firly. Menurut
Randu, ia
mengunggulkan SC dibanding novel satunya (saingan SC dalam lomba tersebut). Ia
mengatakan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang setia karena itu sulit
untuk move on.
Hatmiati Masy’ud,
penulis cerpen perempuan dari HSU memaparkan tentang alasan laki-laki menikah
lagi tidak lain hanya sebgai pembuktian dirinya. Dia juga memaparkan tentang
bunga cempaka dalam botol yang menjadi kerajinan khas dari Amuntai. Selain itu
Hatmiati bercerita tentang “misteri” perempuan Hulu Sungai yang mampu memikat
hati lelaki.
Budi
Kurniawan menyampaikan apresiasinya. Ia juga menanyakan mengapa bunga cempaka
yang dipilih. Benarkah cempaka khas Kalimantan?
Sandi Firly
menyayangkan mengapa dalam diskusi tersebut penulis terlalu ngotot tentang
adanya bunga dalam botol tersebut. Ia lebih melihat bagaimana teknik
penceritaan yang baik yang seharusnya dilakukan oleh penulis novel.
Apapun yang
mereka sampaikan, bagiku keindahan. Tidak ada yang lebih indah selain ketika
karya kita diapresiasi, dikritik, dibicarakan. Syukur-syukur jika dari situ ada
sesuatu yang dibawa pulang oleh peserta dan pembaca lainnya. Thanks, all. Begitu
banyak komen lain yang ingin kudengar sebenarnya. Ada Nahdiansyah Abdi di
ruangan itu, ada HE Benyamin, ada Ali Syamsudin Arsy, ada Zian Army Wahyufi,
ada Maulana Usaid, ada Syam Indra Pratama dan yang lainnya. Mereka kukenal sebagai
pembaca-pembaca kritis juga. Sayang mereka tidak menyampaikan sepatah katapun.
Lain waktu barangkali, semoga….[]
*Larut malam,
sebelum memejamkan mata aku bertanya padanya, adakah kata-kataku yang salah di
acara tadi?
Kamis, 04 September 2014
![]() |
| Foto OSD dari internet |
Hijab yang Keren Itu
Oleh Nailiya Nikmah JKF
Katanya hari ini hari hijab sedunia. aku pengen nulis sesuatu di sini tentang hijab...
Kita
boleh berbangga hati ketika melihat perkembangan busana muslimah di negara kita
sekarang. Sekarang busana muslimah sudah diterima oleh masyarakat luas dari kalangan
mana saja. Tidak hanya bu guru agama (Islam) yang mengenakannya, tapi juga bu
dokter, bu hakim, polwan, bu bidan, mbok jamu gendong, ibu petani, ibu pedagang,
ibu-ibu arisan, mbak penyiar dan presenter, ibu-ibu pejabat, bahkan para artis.
Pemakai busana muslimah tidak hanya ditemukan di tempat pengajian. Sekarang
pemakai busana tersebut juga gampang ditemukan di tempat lain seperti di mal, di
sanggar senam, di pasar, di rumah sakit, di sekolah, di kantor-kantor. Karakter
pemakai busana muslimah juga sudah banyak ditemukan dalam novel, sinetron dan
film.
Busana
muslimah yang rapi menutup aurat, dulu identik dengan istilah jilbab, sekarang
mempunyai istilah baru yang lebih populer, yaitu hijab. Sayang, pada sebagian kalangan, istilah hijab yang dikaitkan
dengan busana muslimah ini mengalami penyempitan makna. Sekarang kalau kita mendengar
ada yang menyebut si A memakai hijab, maka artinya dia memakai kerudung dengan
aneka warna dan gaya
yang menyerupai penataan rambut sehingga kadang tetap memperlihatkan lekuk
tubuh terutama bagian dada yang seharusnya ditutupi atau dilindungi dari
pandangan orang yang tidak berhak. Lalu untuk menandingi istilah tersebut,
muncullah istilah hijab syari. Ciri
yang paling menonjol dari hijab syari
ini adalah kerudung yang lebih panjang dan lebar. Keduanya sama-sama memiliki
tren modenya masing-masing. Keduanya sama-sama berperan penting dalam
perkembangan busana muslimah di Indonesia.
Dulu,
busana muslimah membuat pemakainya terlihat sangat bersahaja dan anggun. Secara
ekonomi, satu set busana muslimah merupakan busana yang hemat biaya karena bisa
dipakai untuk segala keperluan dan sepanjang masa selama tidak ada kerusakan
yang berarti. Sekarang, busana muslimah banyak sekali modelnya dan selalu
dimutakhirkan secepat kilat. Busana muslimah bukan lagi busana yang simpel dan
hemat biaya. Busana muslimah sekarang bisa mencapai harga yang terbilang
fantastis. Satu kerudung ada yang mencapai harga sampai ratusan ribu rupiah.
Satu gamis bahkan ada yang mencapai harga jutaan rupiah. Ini kadang masih harus
ditambah dengan aksesoris pelengkapnya seperti bros, gelang, cincin, sepatu dan
tas. Selain bisa mempengaruhi kestabilan perekonomian rumah tangga, hal ini
tentu tidak relevan lagi dengan idealisme kebersahajaan seorang muslimah.
Di
era 90-an dan sebelumnya, memakai busana muslimah merupakan sebuah pilihan yang
harus diputuskan dengan sungguh-sungguh. Beberapa di antara pemakainya bahkan
pernah mengalami fase “penolakan” dan “pelarangan” oleh lingkungan. Mulai dari
lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan kerja sampai lingkungan
sosial masyarakat umumnya. Mulai dari hal kecil seperti dipanggil “Ninja”,
dianggap ekslusif, sampai dikeluarkan dari lingkungan. Kita patut bersyukur
karena sekarang relatif sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Kalaupun ada,
biasanya hanya bersifat kasuistik
internal kelembagaan.
Mudahnya
memakai busana muslimah secara sempurna sekarang ini hendaknya dibarengi dengan
meningkatnya kualitas para muslimah. Menjamurnya para pemakai busana muslimah
hendaknya diiringi dengan meningkatnya minat menuntut ilmu terutama ilmu
tentang busana muslimah itu sendiri. Ada
beberapa hal yang perlu dipelajari. Pertama,
belajar tentang aurat dan dalil kewajiban menutup aurat/berjilbab. Ini penting
karena akan mempengaruhi niat dalam memilih busana yang dipakai. Kedua, belajar tentang mahrom. Belajar
tentang mahrom diperlukan karena terkait dengan kewajiban menutup aurat di
hadapan non-mahrom. Para muslimah perlu tahu
apa itu mahrom, siapa saja yang termasuk mahromnya dan siapa saja yang bukan,
sehingga tidak sembarangan membuka hijabnya. Ketiga, selain memahami hakikat mahrom dan non-mahrom, para
muslimah juga perlu mempelajari seperti apa sejatinya busana muslimah. Secara
singkat, busana muslimah harus memenuhi persyaratan berikut: tidak
memperlihatkan aurat perempuan (seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan),
tidak memperlihatkan lekuk tubuh (tidak transparan dan tidak ketat), tidak
menyerupai pakaian laki-laki, tidak menyerupai pakaian nonmuslim dan tidak
mencolok.
Beberapa
hal di atas jangan lantas dijadikan alasan untuk melepas hijab kembali apalagi menunda
berhijab. Tidak sedikit para perempuan menunda menutup aurat secara sempurna
dengan dalih memperbaiki hati dulu baru
memperbaiki penampilan. Menuju perbaikan diri memang memerlukan proses
tetapi berbusana menutup aurat dengan benar adalah satu kewajiban yang harus
segera dilaksanakan oleh perempuan muslim yang sudah baligh. Alangkah indahnya
jika menyegerakan menutup aurat dengan terus berikhtiar memperbaiki hati (diri).
Ada juga yang
berdalih, tidak apa-apa tidak menutup
aurat dengan sempurna yang penting hatinya baik. Sekali lagi, menutup aurat
adalah satu kewajiban. Sementara itu jika sudah memiliki hati yang baik tentu
itu satu hal plus lainnya.
Sebagai
bagian dari perwujudan ketundukan seorang muslimah terhadap peraturan agamanya,
memakai busana muslimah yang sempurna merupakan bagian dari realisasi keimanan.
Karena keimanan itu sendiri sifatnya fluktuatif, maka tidak menutup kemungkinan
adanya hijab-hijab yang terlepas baik secara permanen maupun secara
insindental. Banyak faktor yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah
kurang mendalamnya pemahaman terhadap hijab sebagai sebuah kewajiban dari Allah
dan hikmah yang terkandung dibalik kewajiban tersebut. Selain itu, terdapat
berbagai argumen yang tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat saja sebagai
pembenaran bongkar pasangnya hijab oleh seseorang. Salah satu contohnya,
melepas hijab gara-gara mendapat ujian hidup yang terlalu berat.
Pada
level sekolah dasar dan menengah, sudah banyak sekolah yang mewajibkan muridnya
memakai jilbab. Hal ini tentu saja menggembirakan. Akan tetapi jika tidak
dibarengi dengan beberapa langkah penguatan, maka murid akan menganggap jilbab
sebatas kewajiban dari sekolah/guru sama seperti kewajiban memakai atribut
sekolah lainnya seperti ikat pinggang dan topi. Jangan heran, jika guru tidak
melihat, para murid ramai-ramai melepas jilbabnya. Jangan heran, keluar dari
gerbang sekolah, keluar pula rambut mereka. Jangan bingung, setelah lulus
sekolah, tamat juga riwayat jilbabnya. Lalu, di bangku kuliah, jadilah jilbab
sebatas tren yang bisa dipakai sesuai suasana hati dan suasana pergaulan.
Untuk
menghindari ketidaklurusan dalam berhijab diperlukan upaya penanaman
nilai-nilai akidah yang benar. Salah satunya adalah menanamkan kesadaran bahwa
yang memerintahkan memakai busana muslimah yang sempurna adalah Allah Swt bukan
makhluknya. Setelah pemahaman mendasar ini sudah tertanam dengan baik, langkah
selanjutnya adalah mengetahui manfaat dan hikmah yang terkandung di dalamnya
baik secara medis, sosial, budaya, ekonomi, hukum maupun bidang lainnya.
Tahapan berikutnya adalah banyak bergaul dalam lingkungan para pemakai busana
muslimah yang konsisten. Dengan cara ini, para muslimah dapat saling
mengingatkan, saling menguatkan, saling menasehati, saling menyemangati. Efek
lainnya, mereka bahkan memancarkan nilai positif ke mana-mana, ke setiap tempat
atau lingkungan lain yang mereka datangi.
Kini,
apapun istilahnya, bagaimanapun bentuk dan coraknya, busana muslimah sudah
menjadi bagian dari gaya
hidup masyarakat. Hal ini seperti pisau bermata dua. Ia bisa menjadi positif
bisa pula menjadi negatif. Busana muslimah sebagai gaya hidup akan bermakna positif ketika ia
dipahami secara utuh sebagai bagian dari kepribadian muslimah dengan
memperhatikan hal-hal lain yang menyertainya secara kaffah. Sebaliknya, busana
muslimah sebagai gaya
hidup akan menjadi negatif ketika ia dimaknai hanya sebagai tren mode yang
suatu saat akan berubah.
Menyikapi
busana muslimah sebagai sebuah tren mode, para perempuan hendaknya menyadari
siapa dan bagaimana dirinya seharusnya. Bicara tren mode tentu tidak dapat
dilepaskan dari kepentingan bisnis. Mau tidak mau, perempuan dalam hal ini
adalah konsumen. Mereka menjadi target atau sasaran perusahaan.
Secara
teori, suatu perusahaan yang menganut konsep pemasaran harus memahami perilaku
konsumen secara keseluruhan agar perusahaan dapat bertahan. Perusahaan
mempelajari perilaku konsumen untuk
dapat diaplikasikan pada proses produksi dan pemasaran. Perusahaan mempelajari
perilaku konsumen dengan baik, tidak hanya apa yang dibeli oleh konsumen tapi
juga hal lainnya seperti di mana konsumen melakukan pembelian, bagaimana dan
kapan mereka melakukan pembelian. Kotler (2009) menyebutkan beberapa faktor seperti
faktor budaya, sosial, kepribadian dan psikologis akan mempengaruhi tingkah
laku konsumen khususnya dalam hal keputusan pembelian.
Jika
dipahami mendalam, sebenarnya produk yang dipasarkan akan bergantung pada
perilaku konsumen (:muslimah). Artinya, pemahaman terhadap hijab itu sendiri akan
sangat mempengaruhi keputusan pembelian yang ke depannya akan mempengaruhi proses
produksi dan pemasaran pula. Tidak ada salahnya dari sekarang jika kita
berpikir bahwa bukan kita yang mengikuti tren mode hijab yang keren itu melainkan
tren mode yang mengikuti kita. Jadi, teruslah berproses menjadi muslimah yang lebih baik dan keren di mata
Allah. Semoga di balik hijab yang keren tersimpan kepribadian muslimah yang
keren pula.[]
Sabtu, 07 Juni 2014
Bersahabat dengan Orang Tua (Versi aku)
Kutuliskan
kisah ini untukmu karena kupikir kisah ini adalah beberapa kepingan puzzle yang
hilang yang seharusnya melengkapi puzzle-mu agar kamu bisa melihat gambarnya
secara utuh (meski mungkin tidak segamblang dengan seandainya kau sendiri yang
mengalaminya).
Sepeninggalmu
dari White House beberapa waktu sebelumnya, tentu saja, sudah tidak mungkin
lagi buatku untuk turut pergi meninggalkannya. Memang, sudah tidak ada lagi
halamannya yang terbentang luas tempat kita bermain-main (membuat video klip
berlatar bunga-bunga dan asap bakaran dedaunan); sudah tidak ada lagi kolam
cantik tempat bebek-bebek tetangga biasa numpang berenang di pagi hari; sudah
tidak ada lagi pagar kayu dan kawatnya yang berwarna putih (yang membuat rumah
kita mirip rumah praktik dokter); pun sudah tidak ada lagi para aktivis kampus
sepekan sekali berkumpul di berandanya yang teduh. Bagaimanapun itu semua sudah
sangat lama berlalu, bukan? Dalam sekejap, kita sudah bukan anak-anak kecil
lagi di rumah itu. Dalam sekejap, kita sudah bukan mahasiswa aktivis lagi yang
biasa mengundang kawan seperjuangan di rumah itu. Dalam sekejap, bebek-bebek
itu sudah tidak pernah datang lagi karena kolam dan halamannya sudah dibanguni
ruang tambahan. Dalam sekejap, kita sudah sibuk dengan tanggung jawab
masing-masing. Dalam sekejap, kita sudah menjadi orang tua yang punya banyak
anak (kusebut banyak karena lebih dari dua).
Meski
aku sempat berpikir untuk meninggalkan White House sepertimu (bahkan mungkin
idenya lebih dulu daripada kamu), sama sekali bukan karena aku membenci semua
yang ada di dalamnya. Aku malah teramat mencintainya. Terlalu mencintai kenangan inilah yang
menahan langkahku. Tidak hanya kenangan tentang rumah serba putih itu tapi
kenangan dengan orang-orang di dalamnya terutama kedua orang tua kita.
Aku
tahu, kedua orang tua kita sudah cukup bersedih dengan kepergianmu waktu itu.
Ah, tak perlu lah aku menceritakannya lagi. Orang tua mana yang tak sedih
ditinggal pergi anaknya. Apalagi orang tuanya model orang tua kita. Hehehe.
Meski begitu, aku yakin, kepergianmu menyimpan banyak kebaikan dan hikmah buat
kita semua.
Pernahkah kaubaca tentang orang tua yang
menjalani masa tuanya? Siapa sangka, masa-masa itu sudah dimulai bersamaan
dengan kepergianmu ke negeri orang. Inilah hari-hari itu.
Hari
itu, di subuh yang beku, Ibu menggedor pintu kamarku. Dia terlihat panik. Ayah
tiba-tiba jatuh dan tidak bisa bangun ketika mau sholat subuh. Dari hasil
pemeriksaan dokter yang datang ke rumah, diagnosanya Ayah kena stroke. Tekanan
darah Ayah sangat tinggi. Kautahu, Ibu sudah tidak karuan. Meski ayah masih
bisa bicara, aku yakin, yang ada di benak Ibu saat itu hanyalah kedatangan
malaikat maut ke rumah kita. Rumah kita penuh kedatangan para keluarga yang
menengok Ayah. Karena Ayah tidak mau dibawa ke rumah sakit, sepupu kita yang
dokter itu awalnya setiap hari datang ke rumah. Dia datang dua kali sehari
untuk menensi tekanan darah Ayah dan membawakan obat darah tinggi. Kadang
bergantian dengan adik atau ayahnya. Lama-lama kasian juga, rumahnya kan jauh dari rumah
kita. Lagi pula tidak enak juga telpon-telpon hanya untuk minta tensikan. Ibu
membeli alat tensian. Bukan yang digital lho, yang beneran, yang sama dipakai
oleh para dokter. Aku belajar cara menggunakannya. Cukup sulit sih awalnya tapi
lama-lama bisa juga. (Hm…berasa jadi bu dokter). Hanya saja, kadang Ayah tidak
percaya dengan hasil tensianku.
Aku
sempat membeli perlak, tissue basah, kapas, alat semprot air, diapers dan
pispot untuk Ayah BAB. Kata Ibu, buat jaga-jaga. Ternyata Ayah tak mau
memakainya. Dia lebih memilih berupaya perlahan-lahan ke kamar mandi daripada
memakai diapers dan atau pispot. Kautahu, ketika membelinya di apotek, aku
melihat banyak alat kesehatan. Tongkat, kursi roda, bermacam pispot, dan
lain-lain. Aku teringat para orang tua jompo yang uzur di film-fillm dan di
buku-buku cerita, aku teringat kakek dan nenek kita dahulu. Aku tersentak,
inikah saatnya bagi Ayah menjalani masa tersebut? Inikah saatnya bagiku
menjalani masa bakti sebagai anak yang sesungguhnya?
Kata
para tamu, makan Ayah harus dijaga. Tidak bisa lagi yang asin-asin yang seperti
biasa aku beli. Sejak itu, aku termotivasi memasak sendiri makanan untuk Ayah.
Kadang bubur, kadang tempe
goreng, kadang sop tahu, kadang sop ikan, dan yang lainnya yang semuanya hambar
alias tanpa garam. Inilah saat tersulit buatku. Syukur ayah bukan kakek-kakek
yang cerewet. Dia makan saja apa yang kuhidangkan. Cuma, sebagai orang yang
sangat tidak terampil memasak, ini menjadi satu hal yang cukup berat buatku.
Aku sempat mati gaya
juga. Cooking is my weakness…J
Beberapa
hari silih berganti para keluarga datang menjenguk. Ajaib, Ayah terlihat
membaik. Setiap ada tamu, Ayah terlihat lebih segar. Pahamlah aku sekarang.
Ayah butuh teman bicara selain ibu tentunya. Kau tahu kan banyak topik yang ada di kepala Ayah
yang belum tentu Ibu nyambung (politik, ekonomi, agama, budaya, hukum, banyak
deh). Ini tahun keempat Ayah pensiun. Pasti banyak hal yang ia simpan. Tak
jarang aku menyuruh Ayah menuliskannya tapi sayang dia menolak.
Sekarang,
keadaan Ayah sudah jauh lebih baik. Dan aku kembali nakal, tidak lagi memasak
menu khusus buat Ayah tapi malah membeli lauk dan sayur di warung langganan.
Maafkan aku tapi percayalah kalau aku sedang rajin dan punya ide menu, aku
sempatkan memasak menu sehat untuk Ayah kok.
Janganlah dulu kau iri denganku karena
(mungkin) kamu pikir pahalaku akan lebih banyak daripada pahalamu dalam hal
mengurus orang tua. Hahaha…Just kidding.
Hm… bisa jadi sebaliknya, akulah yang berpeluang mendapat dosa lebih banyak
daripada kamu. Kautahu, menghadapi orang tua kadang mirip dengan menghadapi
anak-anak yang masih kecil. Kau tentu paham maksudku.
Pernah
suatu hari, sepulang kerja aku bertanya pada Ibu apakah dia sudah makan karena hari
itu aku ada pulang sebentar ke rumah membawa makanan di saat jam istirahat
kantor. Ibu menjawab dia tidak bisa memakan apa-apa karena makanan yang kubawa
tidak enak. Akupun jadi sedih. Eh, pas kutanya Ayah, Ayah bilang mereka berdua
sudah makan. Aku hanya bisa mengerutkan kening. Mungkin ibu lupa bahwa ibu
sudah makan. Yang paling sedih itu kalau Ibu bilang makanan yang kubuat atau
yang kubeli tidak ada rasanya sama sekali alias tidak enak padahal menurut
lidahku sudah sangat enak. Awalnya aku heran mengapa ini bisa terjadi.
Belakangan aku tidak heran dan tidak risau lagi setelah aku membaca sebuah buku
yang ditulis oleh teman kita Nurul Asmayani (Bersahabat dengan Orang Tua).
Nanti kamu baca sendiri bukunya ya? Intinya, menurut buku itu, lidah orang yang
sudah usia pensiun macam ortu kita itu memang tidak sama lagi dengan lidah
kita. Ya kekuatannya, ya pengecapan rasanya. Bahkan kadang orang-orang tua
tidak pengen alias tidak punya selera makan apa-apa lagi.
Satu
lagi, orang tua tidak suka digurui atau dinasehati apalagi dilarang-larang.
Harga dirinya akan terinjak-injak. Padahal, kita melarang mereka melakukan ini
itu untuk kebaikan mereka sendiri. Misal, ayah suka sekali mengelap-lap
mobilnya di subuh yang dingin. Ya kadang kularang takut kenapa-napa. Pernah ayah
jatuh terduduk dekat mobilnya dan tidak bisa bangkit dari duduknya. Aku panik
sekali. Inilah maksudku melarang ayah. Untuk kebaikannya juga. Eh, kok
kedengarannya mirip dengan alasan mereka dulu melarang kita ini itu juga ya?
Ayah juga masih suka minum kopi padahal sudah kuberitahu bahwa pantangan utama
penyakit stroke adalah kopi. Tetap saja ayah minum kopi. Ayah masih suka
mencuci bajunya sendiri dan menyetrikanya. Aku sudah bilang, aku bisa saja
mengerjakannya tapi ayah bilang kalau
menunggu kamu, lambat…. Ya, iya sih. Aku mengerjakannya tergantung sikon
anak-anakku. Kalau lagi rewel bin cerewet ya aku tidak bisa mengerjakan
apa-apa.
Pasca
stroke ringan, ayah satu pekan tidak bisa ke mana-mana termasuk untuk sholat
Jumat. Pekan berikutnya, ayah meminta aku mencarikan becak. Kubilang, aku bisa
kok mengantar dan menunggui ayah di masjid tapi lagi-lagi ayah menolak. Sempat
beberapa pekan ayah pergi jumatan naik becak. Setelah agak kuat berdiri, ayah
tidak lagi naik becak. Ia naik motor sendiri! Teman-temanku bilang, sebaiknya
ayah jangan dibiarkan mengendarai motor sendiri. Setelah kuat jumatan naik
motor sendiri, ayah memberanikan diri mengantar ibu bepergian naik motor. Aku
tidak tahan lagi untuk tidak mengingatkan ayah. Suatu hari pas ayah mau bepergian
naik motor aku tanya pelan-pelan, “Ayah, apa tidak berbahaya naik motor
sendirian?” Rupanya pertanyaanku tidak tepat. Ayah marah-marah, “Jangan maharai
aku kaya itu!” (: jangan menakut-nakutiku seperti itu) lalu ayah masuk ke dalam
rumah dan tidak jadi pergi. Aku menyesal mengucapkannya. Sejak itu aku tidak
pernah lagi melarang ayah kalau ia ingin bepergian naik motor meski hatiku
was-was. Mungkin seperti ini perasaan ayah dan ibu kita dulu setiap melepas
kita bepergian naik motor di awal-awal kita bisa mengendarainya. Aku hanya bisa
berdoa, semoga ayah baik-baik saja.[]
Sabtu, 31 Mei 2014
Lomba Paling Keren yang Pernah Kuikuti
Kali ini aku
akan bercerita tentang sebuah lomba yang aku ikuti di akhir Mei 2014. Tidak,
ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tulis-menulis. Ini bukan lomba
menulis cerpen atau novel. Ini adalah lomba yang paling menakutkan buatku.
Lomba yang membuatku berniat akan mengikuti kursus masak suatu saat kelak.
Yeah, ini adalah lomba memasak! Perlu diketahui, aku bukan perempuan Banjar
yang terampil memasak. Paling-paling aku bisa masak sayur bening, sayur sop,
dan goreng-gorengan.
Sejujurnya,
inilah lomba paling keren yang pernah kuikuti. Aku terlibat dalam lomba ini
karena terpaksa sebenarnya. Ceritanya begini, di sekolah anakku, tiap kelas ada
perkumpulan orang tua murid yang disebut dengan istilah paguyuban. Tiap bulan
ada pertemuannya dan ini syarat untuk bisa mengambil rapor. Karena anakku dua
orang yang bersekolah di sana
(kelas 4 dan kelas 5), aku dan suami berbagi tugas. Suamiku biasanya hadir di
paguyuban kelas 4, aku di paguyuban kelas 5. Nah, aku ditunjuk menjadi ketua
paguyuban secara demokratis oleh para ortu kelas tersebut. Ini adalah tahun
kedua aku menjadi ketua paguyuban kelas tersebut. Artinya, sudah dua periode
aku menjadi ketua paguyuban.
Nah, dalam
rangka memeperingati milad sekolah, tahun ini diadakan lomba memasak antar
paguyuban. Tim terdiri maksimal 4 orang. Oiya perlu diketahui, sekolah anakku
merupakan sekolah swasta yang berada di bawah naungan sebuah yayasan yang
pemiliknya adalah orang bersuku Jawa. Sekolahannya terletak di tengah-tengah
kediaman karyawan pabrik (pada mulanya) yang didominasi oleh orang Jawa. (Ini
bukan SARA lho yaa…). Anak pertamaku termasuk dalam angkatan pertama SD nya.
Kelasnya didominasi oleh warga sekitar yang notabene orang Jawa. Para murid dipanggil “Mas” dan “Mbak” oleh gurunya. Para guru juga banyak yang bersuku Jawa. Angkatan
berikutnya barulah banyak yang dari suku Banjar.
Uniknya, lomba
masak kali ini temanya “Masakan Banjar”. Masakannya harus ada santannya, ada
nasi, ada ikan dan ada minuman esnya. Saat rapat kelas, tidak ada yang mau
menjadi perwakilan kelas. Alasannya, mereka rata-rata bukan orang Banjar. “Lha,
ini ketua kita kan
asli Banjar. Tinggal pilih anggota timnya aja lagi,” kata Ibu-ibu.
Aku jadi panik.
“Aku ora iso,” jawabku dimedok-medokin Jawanya.
Ibu-ibu tertawa
semua mendengar jawabanku.
“Ayolah, yang
orang Banjar di sini cuma 4. Mama Nisa sakit, Mama Amel baru melahirkan, Nenek
Saula sedang perawatan mata, jadi ya tinggal sampeyan…” sahut mereka.
Aku mesem-mesem.
Dalam hati aku merutuki diri. Kenapa harus tinggal aku yang orang Banjar.
Kenapa harus lomba memasak sih? Kenapa tidak lomba mewarna saja misalnya?
Kenapa aku tidak terampil memasak???
“Ndak papa kita
lebih dari 4 orang. Siapa bisa kutarik aja besok itu” kata Mama Icha. “Yang
penting kamu sebagai ketua paguyuban ikut Jeng”
Akhirnya aku
jadi ikut. Betapa malunya aku. Aku sama sekali tidak bisa memasak “Gangan
Keladi”. Menyesal juga tidak belajar sama mertua dulunya. Malah Yu’ Temi alias
Mama Dwi yang lincah memasaknya. Memotong kangkung, susupan, keladi, pisang, ikan
pepuyu, dan entah apa saja bumbunya.
“Ayo Jeng
dicicipi, sudah pas apa belum rasane?” tanya Mama Dwi.
Sok ahli aku
menyendok gangan. “Hm…kayanya ada yang kurang tapi aku tidak tahu apa…, bumbu
apa ya?”
Mama Icha
bergegas mencicipi juga. “Oalah, ini sih kurang garam” sahut Mama Icha.
Aku jadi malu.
Hehe.
“Ini papuyu
bakarnya dah matang apa belum, Jeng?”tanya Mama Raihan sambil mengipas-ngipas.
“Jeng..liatin
ikan bakarnya tuh,” aku mencolek Mama Dwi lagi. Aku sama sekali tidak tahu
kapan ikan bakar matang atau belum. Selama ini aku cuma bisa menggoreng.
“Kita bikin es
kelapanya yuk” ajak Mama Diah.
Ups, aku tidak
tahu cara membelah kelapa. Sepertinya susah deh.
“Yo, wes,
sampeyan cicipin ini dah pas apa belum manisnya…”
Jadi, aku cuma
bantu-bantu dikit. Jadi isin aku…hehe.
Dan
tara….jadilah gangan keladi, ikan bakar, sambal acan, cacapan, minumnya es
kelapa. Memang kami tidak menang sih tapi aku pribadi merasa senang. Inilah
pertama kali aku ikut lomba memasak. Lomba memasak masakan Banjar dengan para
koki orang Jawa dana aku yang asli Banjar cuma bisa mencicipi. Duh Gusti…
Rabu, 14 Mei 2014
Menulis Cerita Thriller dan Horor
Dirangkum oleh Nailiya
Nikmah JKF
Cerita Thriller
Cerita Thriller atau cerita getaran dalam bahasa
Inggris adalah sebuah tipe literatur, film dan televisi yang memiliki
banyak sub-tipe di dalamnya. Kata tersebut berasal dari bahasa Inggris yang
dapat diartikan secara bebas sebagai “petualangan yang mendebarkan”. Tipe alur
ceritanya biasanya berupa para jagoan yang berpacu dengan waktu, penuh aksi
menantang, dan mendapatkan berbagai bantuan yang kebetulan sangat dibutuhkan
yang harus menggagalkan rencana-rencana kejam para penjahat yang lebih kuat dan
lebih lengkap persenjataannya.
Thriller dapat meliputi sub-tipe berikut ini
Action Thriller - karya tipe ini seringkali berupa situasi berpacu dengan waktu, menampilkan banyak adegan kekerasan dan seorang tokoh antagonis yang jelas. Film-film tipe ini menggunakan banyak senjata, ledakan dan perlengkapan yang sangat banyak untuk merekam adegan-adegannya. Film-film ini seringkali memiliki elemen film misteri dan film kriminal, tapi elemen-elemen ini tidak ditonjolkan. Contoh-contoh paling jelas untuk tipe ini adalah film-film James Bond, The Transporter, dan novel/film Jason Bourne (Bourne Identity, Bourne Supremacy).
Conspiracy Thriller - karya tipe ini menampilkan seorang jagoan yang menghadapi sebuah kelompok musuh yang berkuasa yang suatu kebenaran dari perjuangannya itu hanya jagoan tersebut yang tahu. The Chancellor Manuscript dan The Aquitane Progression karya Robert Ludlum masuk dalam kategori ini, seperti juga film-film Three DaysoftheCondordanJFK.
Crime Thriller - karya tipe ini adalah gabungan dari thriller dan film kriminal yang menampilkan cerita tegang dari sebuah atau beberapa tindakan kriminal yang sukses atau gagal. Film-film ini lebih berfokus pada tokoh penjahatnya daripada pihak polisi. Tipe ini biasanya menekankan faktor adegan aksi daripada aspek psikologis. Topik utama dari film-film ini termasuk pembunuhan, perampokan, pengejaran, baku-tembak, dan pengkhianatan. Contohnya adalah film The Killing, Seven, Reservoir Dogs, Inside Man, and The Asphalt Jungle.
Disaster Thriller - karya tipe ini menceritakan konflik yang terjadi karena bencana yang disebabkan oleh alam maupun oleh manusia, seperti banjir, gempa bumi, badai, letusan gunung berapi, dan bencana alam lainnya, atau bencana nuklir sebagai bencana yang disebabkan oleh manusia. Contoh film tipe ini seperti Twister, Perfect Storm, dan Volcano.
Psychological Thriller - karya tipe ini memiliki elemen thriller yang menitikberatkan pada tekanan psikologis yang dihadapi masing-masing karakter. Film-film tipe ini biasanya berjalan lebih lambat dan melibatkan banyak pengembangan karakter tokoh-tokoh dan alur cerita yang penuh kejutan. The Illusionist, The Number 23, The Sixth Sense, dan The Prestige adalah contoh-contoh film tipe ini.
Eco-Thriller - dalam karya ini sang tokoh protagonis harus menghindarkan atau memperbaiki sebuah bencana alam atau bencana biologis, disamping harus berhadapan dengan musuh-musuh atau tantangan-tantangan yang ada di cerita thriller lainnya. Komponen lingkungan hidup seringkali menjadi pesan utama atau tema dari cerita. Contoh tipe thriller ini adalah The Loop karya Nicholas Evans, Echoes in the Blue karya C. George Muller, dan Elephant Song karya Wilbur Smith. Semua karya ini menonjolkan masalah-masalah lingkungan hidup yang nyata.
Erotic Thriller - tipe ini menggabungkan unsur erotis dan thriller. Tipe ini menjadi laris sejak era 1980-an dan berkembangnya penetrasi pasar VCR (salah satu tipe perangkat pemutar kaset video). Termasuk dalam tipe ini adalah film-film Basic Instinct dan Fatal Attraction.
Horror Thriller - dalam tipe ini, konflik antara tokoh-tokoh di dalamnya terjadi secara mental, emosional dan fisik. Dua contoh terbaru dari tipe thriller ini adalah film-film Saw dan 28 Days Later karya Danny Boyle. Apa yang paling membedakan Horror Thriller adalah elemen ketakutan yang dijunjung sepanjang cerita. Tokoh-tokoh utamanya tidak hanya berhadapan dengan musuh yang lebih kuat, tapi pada akhirnya mereka menjadi korban setelah merasakan ketakutan yang luar biasa akibat menarik perhatian sang musuh/monster.
Contoh film lainnya adalah Psycho karya Alfred Hitchcock dan Silence of the Lambs karya Thomas Harris.
Legal Thriller - Para pengacara jagoan berhadapan dengan musuh-musuh mereka dalam tipe thirller ini, baik di dalam maupun di luar ruang persidangan, baik membahayakan kasus yang mereka perjuangkan maupun nyawa mereka sendiri. The Pelican Brief karya John Grisham adalah contoh terkenal dari film bertipe ini.
Buatlah cerita thriller yang seru untuk para pembaca. Jangan biarkan mereka hampa tanpa ekspresi ketika membacanya. Permainkan imajinasi mereka.
Buatlah cerita thriller kita dengan sesuatu yang membuat pembaca bertanya:
- Apa?
- Kenapa?
- Atau, siapa?
Aduk-aduk kembali rasa penasaran pembaca sampai ia berpikir
perlu menyelesaikan cerita sampai ending. Tunjukkan sedikit demi sedikit
inti-inti permasalahan. Biarkan pembaca terkaget-kaget dengan ending cerita
thriller kita. Jangan biarkan mereka merasa kebingungan, jelaskan penyelesaian
masalah sampai tuntas.
Cerita Horor
Cerita horor atau misteri hanyalah salah satu genre
fiksi. Penulis dianggap berhasil kalau pembaca berkomentar soal cerita
horor yang dibacanya, baik negatif maupun positif. Karena itu, hendaknya
penulis yang ingin menulis cerita horor harus tahu bagaimana membuat twist
ending cerita horor atau misteri yang menggigit. Setidaknya ada enam tipe
cerita horor.
Pertama: tipe Discovery | Pada tipe twist ini, tokoh protagonis akan menemukan jati dirinya sendiri atau jati diri dari tokoh lain yang sebenarnya. Informasi mengenai yang sebelumnya tidak ditampilkan akan dibeberkan di akhir cerita. Contoh dari tipe twist ini adalah film horor The Sixth Sense. Tokoh utamanya awalnya ditampilkan seolah masih hidup, namun di akhir film dibeberkan bahwa ia sebenarnya sudah mati. Film “The Others”-nya Nicole Kidman juga punya twist ending yang serupa.
Kedua: tipe Flashback | Yang ini mungkin banyak diadopsi dalam cerita horor Indonesia. Contohnya banyak film "Jelangkung" dan serial "Di Sini Ada Setan".
Ketiga: tipe Unreliable Narrator | Kalau diterjemahkan, artinya “Narator yang tak bisa dipercaya”. Cerita dengan twist ending ini biasanya memakai sudut pandang orang pertama. Nah, cerita dari sudut pandang si “aku” ini ternyata bukan kejadian sebenarnya. Bisa jadi si “aku” berbohong dalam ceritanya atau menutupi sesuatu, bisa juga ia mengalami semacam kelainan jiwa atau guncangan yang membuatnya berhalusinasi dan membuat pembaca/penonton “tertipu”, mengira apa yang disaksikan oleh si “aku” adalah kejadian sebenarnya (padahal bukan). Di akhir cerita, biasanya akan ditunjukkan kejadian sebenarnya. Contohnya adalah novel detektif “The Murder of Roger Ackroyd”-nya Agatha Christie, di mana si “aku”, yang adalah pembunuh sebenarnya, berusaha menutupi kenyataan lewat pengisahannya. Film horor Korea “A Tale of Two Sisters” juga demikian, di mana “aku” mengalami kelainan jiwa kepribadian ganda dan halusinasi.
Keempat: tipe Chekhov’s gun | Chekhov’s gun adalah sebuah benda, tokoh, atau kejadian yang muncul di awal cerita. Tapi, sepertinya tidak penting dan tidak pula disebut-sebut sampai menjelang akhir cerita. Walaupun demikian, benda, tokoh, atau kejadian ini memegang peranan penting dalam menciptakan twist ending. Misalnya, adegan penembakan si tokoh utama yang muncul di awal film “The Sixth Sense”, pada akhir cerita barulah kita sadar akan signifikannya adegan tersebut, saat kita diberi tahu bahwa si tokoh utama sebenarnya sudah mati.
Kelima: tipe Red Herring | tipe ini memberi pembaca petunjuk palsu dan membawa pada kesimpulan yang salah. Pada akhir cerita, baru semua kebenarannya dibeberkan. Red herring dapat dikatakan sebagai “kambing hitam”, orang yang kita kira merupakan pelaku/pembunuh, namun sebenarnya bukan. Umumnya, dipakai dalam cerita detektif.
Keenam: tipe Reverse Chronology | tipe ini berbeda dengan flashback. Dalam reverse chronology, yang ditampilkan pertama adalah kejadian akhir/akibat-nya. Lalu, ditampilkan urutan kejadiannya secara terbalik, dari kejadian yang paling belakangan sampai kejadian yang terjadi paling awal/sebab kejadian. Misalnya pada film “Memento”.
Membuat para pembaca
ketakutan setengah mati merupakan dambaan setiap penulis cerita horor - baik
itu novel maupun cerpen. Berikut ini sepuluh tips terbaik dalam menulis cerita
horor:
1. Buatlah cerita horor yang orisinal
2. Buatlah kerangka cerita horor Anda
3. Buatlah karakter kuat untuk cerita horor Anda
4. Bacalah cerita horor lainnya
5. Baca dan pelajarilah buku cerita horor klasik
6. Lakukanlah penelitian untuk dapat menggambarkan cerita horor Anda
7. Jangan terburu-buru mengirimkan cerita horor Anda
8. Bacalah, bacalah, bacalah...
9. Cobalah memilih subjek yang menakutkan Anda secara pribadi
10.Cek cerita horor Anda sekali lagi
1. Buatlah cerita horor yang orisinal
2. Buatlah kerangka cerita horor Anda
3. Buatlah karakter kuat untuk cerita horor Anda
4. Bacalah cerita horor lainnya
5. Baca dan pelajarilah buku cerita horor klasik
6. Lakukanlah penelitian untuk dapat menggambarkan cerita horor Anda
7. Jangan terburu-buru mengirimkan cerita horor Anda
8. Bacalah, bacalah, bacalah...
9. Cobalah memilih subjek yang menakutkan Anda secara pribadi
10.Cek cerita horor Anda sekali lagi
Dirangkum dari berbagai situs di internet
SUDUT
PANDANG
Kita sudah
menemukan siapa tokoh-tokoh kita, kita sudah pula memberinya nama. Kita sudah
tahu bagaimana mengekspresikan/menampilkan para tokoh. Masih ingat dengan
materi minggu lalu, kan?
Sekarang, yang
perlu kita pikirkan adalah yang mana di antara mereka yang akan mengisahkan
kisahmu…
Banyak sudut
pandang yang dapat dipilih oleh penulis. Masing-masing punya masalah, tanggung
jawab dan efek yang berbeda-beda.
Macam-macam
Sudut Pandang
v
Sudut pandang orang pertama
v
Sudut pandang orang kedua
v
Sudut pandang orang ketiga
Beberapa varian
Protagonis Orang Pertama: Seorang tokoh menceritakan
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada mereka; “aku” adalah tokoh utama yang
menceritakan kisahnya sendiri.
Saksi Orang Pertama: Cerita tokoh utama diceritakan oleh
orang lain yang mengamati peristiwa-peristiwa.
Pencerita kembali Orang Pertama: Cerita diceritakan, buka
oleh saksi atas peristiwa itu tapi oleh orang yang mendengar cerita itu dari
orang lain.
Orang Kedua: narator menyebut protagonis sebagai “Anda”.
Sudut pandang ini sangat jarang digunakan karena sulit. Pembaca mungkin merasa
mereka adalah orang yang diajak bicara dan akan merasa sulit menerima bahwa
mereka sedang melakukan hal-hal yang yang diinginkan narator untuk dilakukan.
Orang Ketiga Mahatahu: Narator tahu segala sesuatu; semua
pemikiran, perasaan dan tindakan mungkin diceritakan kepada pembaca (atau
mungkin disembunyikan).
Orang Ketiga Obyektif: Narator hanya dapat menceritakan
kepada pembaca apa yang dilihat atau didengar.
Orang Ketiga Terbatas: Narator dapat melihat ke dalam
pikiran satu tokoh.
Tentang “Perlihatkan,
Jangan Ceritakan”
Ketahuilah, ada saat untuk
memperlihatkan, ada saat untuk menceritakan.
Eksposisi: wacana yang menjelaskan, mendefinisikan, melukiskan atau
mengomentari sesuatu. Digunakan untuk menyampaikan informasi yang perlu tapi
tidak bisa disampaikan melalui adegan.
Narasi: laporan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dalam urutan
kejadian. Merangkum peristiwa yang tidak dapat didramatisasi dalam adegan.
Dialog: percakapan dalam bentuk tertulis.
Kapan membuat dramatisasi?
Pada peristiwa paling penting;
peristiwa yang merupakan kunci bagi pergerakan alur; dan peristiwa kunci bagi
perkembangan tokoh
Novel Vs Cerpen dari segi
struktur
Cerpen = insiden pemicu – aksi
menaik – klimaks – aksi menurun – akhir cerita
Novel = insiden pemicu – aksi
menaik – pembalikan – dan lain-lain – klimaks – aksi menurun – akhir cerita
Nah, sebagai Latihan, coba tebak sudut pandang apa yang digunakan pada paragraf -paragraf berikut!
Aku ketinggalan bus pagi itu karena aku tidak dapat
meyakinkan diriku sendiri untuk bangun dari tempat tidur. Aku merasa terlalu
enak di bawah selimut, dengan kucing melingkar di sampingku. Aku terpaksa
berjalan kaki ke tempat kerja.
Dia ketinggalan bus. Dia mungkin harus berdebat dengan
dirinya sendiri selama sejam ahwa dia mestinya bangun. Aku dapat membayangkan
dia di sana,
meringkuk di tempat tidur dengan kucing di sampingnya. Sekarang dia terpaksa
berjalan kaki ke kantor.
Dia ketinggalan bus. Aku tidak tahu mengapa; mungkin
tidak dapat bangun. Anda tau betapa hangat ketika Anda meringkuk di bawah
selimut. Dia juga punya kucig, dan kucing menambah sulit untuk bangun di pagi
hari. Maka dia ketinggalan bus dan harus berjalan kaki ke kantor.
Kau ketinggalan bus lagi karena kau tidak dapat
meyakinkan dirimu sendiri untuk bangun. Selimut menjadi sarang yang enak
bagimu, dan ada kucing, dengan bulu-bulunya yang hangat, meringkuk di
sampingmu. Maka kau terpaksa berjalan kaki ke kantor.
Dia ketinggalan bus. Dia menghabiskan waktu hampir
satu jam berdebat dengan dirinya sendiri tentang bangun. Kau harus bangun sekarang, ini saatnya bekerja. Tapi rasanya hangat
sekali. Beberapa menit lagi. Kau akan terlambat. Aku tidak peduli. Ya kau tak
peduli. Meringkuk besama kucing, sangat sulit untuk bergerak, sangat hangat
dan enak. Dan dia pun ketinggalan bus dan menyumpah, dan mengatakan kepada
dirinya sendiri betapa bodohnya ia. Kemudian ia mulai berjalan kaki ke kantor.
Dia tiba dengan terengah-engah di halte bus, ketika
bus sudah pergi. Dia melihat jamnya dan bersumpah. “Keparat selimut hangat,”
katanya. “Keparat kucing yang hangat dan mendengkur.” Dia melenguh dan berjalan
kaki ke arah kantor.
Dia tiba dengan terengah-engah di halte bus dan hanya
bisa melihat sekilas bagian punggung bus itu melasat pergi. Dia melihat jamnya.
Pukul setengah sembilan. “Keparat selimut hangat itu,” katanya seraya
membayangkan bagaimana rasanya meringkuk di balik selimut hangat di tempat
tidur. Dia telah berbantah dengan diri sendiri selama satu jam tentang
bagaimana dia harus bangun. Dia tinggal di tempat tidur lama sekali sehingga
dia tidak punya waktu untuk mandi dan sekarang dia ketinggalan bus. Kucing
hangat yang neringkuk di sampingnya itulah yang telah membuatnya sulit untuk
bangun. “Keparat kucing hangat dan mendengkur itu,” katanya dan berjalan kaki
menuju kantor.
Sabtu, 10 Mei 2014
Sebutir Impian yang
Terwujud
Catatan Kecil Nailiya
Nikmah
Sejak kecil,
satu hal yang termasuk dalam daftar impianku adalah menjadi penyiar radio.
Entah mengapa aku sangat ingin menjadi penyiar radio. Mungkin karena sejak
kecil hobiku adalah mendengarkan radio, mungkin pula karena aku sadar diri
wajahku pas-pasan jadi tidak mungkin aku jadi penyiar televisiJ
Aku pernah
menjuarai lomba baca puisi, pernah pula menjuarai lomba pidato (semacam dai
cilik). Aku bahkan pernah mewakili TPA ku untuk menyampaikan tausiyah di acara
peresmian sebuah TPA lain. Di SMP, aku selalu menjadi juara 1 lomba pidato,
begitu pula di SMA. Kalau ada acara yang memerlukan siswa menyampaikan pidato
atau sambutan, guru-guru biasanya memilihku (narsis.com).
Yang tak terlupa
dalam memori abu-abu putihku (bukan kisah kasih di sekolah;)) adalah ketika
dalam satu pekan ada lomba di sekolah dalam rangka bulan bahasa alias
memperingati sumpah pemuda, aku memenangi beberapa cabang lomba. Akibatnya aku
terpilih menjadi juara umum se-SMA ku. Aku juara lomba menulis berita, juara
pidato, dan juara lomba baca berita. Yang terakhir ini nih yang paling
berkesan. Aku masih ingat, waktu itu aku dapat no urut 2. Para
juri adalah guru bahasa Indonesia di sekolahku. Selesai aku membacakan berita
dengan gaya
yang sangat “penyiar TVRI”, guru-guruku tersenyum-senyum dan ada yang bilang,
“Langsung jadi penyiar RRI saja kamu…” Dalam hati aku sangat senang. Aku memang
sangat ingin menjadi penyiar radio. Kalimat guruku membuatku semakin ingin jadi
penyiar. Sayang aku belum menemukan jalan ke sana. Mungkin pula aku kurang gigih. Aku
belum berani melamar menjadi penyiar. Yang kulakukan waktu SMA hanya menjadi
fans radio swasta di kotaku. Aku hadir di beberapa acaranya dan menjalin
persahabatn dengan sesama fans. Kulihat penyiarnya keren dan cantik (ceritanya
dulu aku minderan).
Kesukaanku pada
radio, membuatku sering bermain sandiwara radio. Adikku adalah pendengar
setianya. Tiap malam aku mengudara dalam kamar. Ceritanya kubuat bersambung.
Seingatku kisahnya kisah persilatan. Aku begitu menghayati. Kalau ceritanya pas
tokohnya naik kuda, maka kubuatlah suara ringkikan kuda dari mulutku sendiri.
(lama-lama aku capek pake suara, akhirnya cerita kutulis…).
Setiap ada
pelatihan motivasi, aku selalu mencantumkan ingin menjadi penyiar radio sebagai
salah satu daftar impianku. Waktu aku pindah ke kota lain karena melanjutkan studi, aku
dengar salah seorang kawan akrabku berhasil menjadi penyiar radio. Betapa
irinya aku saat mendengarnya. Belakangan, aku sadar, mungkin aku memang tidak
ditakdirkan menjadi penyiar radio. Impianku kupersempit, okelah aku tidak bisa
jadi penyiar radio tapi setidaknya aku ingin merasakan bagaimana rasanya
mengudara, berbicara sendiri dengan suara sebagus-bagusnya tapi ada yang denger
di seberang sana.
Beberapa kali aku hampir mendapat kesempatan menjadi nara sumber di radio tapi selalu berbelok
alias tidak jadi.
Hingga tibalah
hari itu. Hari ketika seorang kawan menelponku. Aku diminta mengisi acara di
radio, temanya tentang seni budaya, terserah aku mau ngomong tentang apa. Saat
itu anak bungsuku sedang sakit dan rasanya tidak mungkin meninggalkannya.
Selain itu, aku sendiri kurang sehat. Tenggorokanku sakit, hidungku meler,
suaraku serak. Bagiku pastilah suaraku tidak sempurna. Akan tetapi hati kecilku
berkata, saat ini kamu diminta karena tugas organisasi dan sepertinya inilah
kesempatanu untuk mencapai salah satu impian masa kecil. Akupun menyiapkan diri
sebaik-baiknya. Mencari ide, menyusun kerangka, mengumpulkan referensi. Aku
memilih topik sastra daerah.
Selesai aku
siaran, aku berfoto dengan kru dan penyiarnya (salah satunya ternyata teman
kuliahku!). Yang menyenangkanku, sorenya ketika pulang kerja, suamiku memutar
suaraku saat sedang mengudara. Ternyata ia merekamkannya untukku. Malam itu akupun
narsis mendengarkan suara sendiri. Terima kasih Tuhan, kini aku sudah tahu
rasanya mengudara alias siaran…:) hehe.

