Rabu, 26 Juli 2017

Hadiah Terindah

23.54 0 Comments

Siang itu aku sedang sibuk memasak di dapur (biasanya sibuk membaca, hehe). Tiba-tiba saja datang salah seorang anakku yang belum genap berusia 8 tahun. "Mama...aku punya hadiah buat mama, tapi bukan kado lho yaaa" ucapnya sambil tersenyum misterius. Anak cowokku ini kalau tersenyum,manis sekali. Kembarannya sedang main di luar.
"Mana hadiahnya?" tanyaku sambil mengaduk masakan di atas kompor.
"Mama sini deh dekat-dekat aku"
"Mana?"
Aku dan dia sudah sangat dekat. Kulihat tangannya kosong.
"Mama nunduk dikit deh"
Aku pun menunduk. Tiba-tiba dia mendaratkan ciuman ke pipiku.
Aih...solihku yang satu ini, so sweet banget.. moga tambah solih ya, Nak gumamku sambil membalas hadiahnya.
"Aku sayang mama,:
"Mama juga sayang kamu"
Kami berpelukan. Waah rasanya itulah hadiah terindah buatku:) kalau kamu??

Senin, 03 April 2017

Momen Pertama Anak Bepergian Tanpa Ortu

09.31 7 Comments

Maafkan, Hari Ini Kami Tak Menemani


Petang itu, si kembar anak bungsu kami yang masih kelas 1 SD berceloteh dengan riangnya. “Mama, kami nanti mau ke Pleihari, melihat gunung, naik bis.”
            Aku terdiam sejenak mencoba memahami. Kupikir itu bisa-bisanya mereka saja. Ternyata keesokan harinya, pihak sekolah mengirimkan surat pemberitahuan resmi tentang kegiatan outbond para murid ke Tambang Ulang (Pleihari) pada hari yang sudah ditentukan (laki-laki dan perempuan pada hari yang terpisah). Di surat itu juga tertera sejumlah uang yang harus kami bayarkan jika ingin mengikutkan anak-anak pada kegiatan tersebut. Kegiatannya tidak wajib tapi aku pikir ini saat yang tepat untuk melatih kemandirian dan keberanian mereka.
            “Aku khawatir. Sebaiknya si kembar tidak usah ikut. Kalaupun ikut, kita harus mengikuti mereka meski dari kejauhan.” Itu komentar suamiku yang tidak aku sangka-sangka sebab biasanya akulah yang suka khawatir.
            “Mereka belum pernah bepergian jauh tanpa kita.”
            “Kita sudah pernah mengajak mereka ke Tambang Ulang, bukan?’ ucapku. “Mereka bahkan sudah mencoba flying fox di sana” aku mengingat setahun yang lalu kami pernah ke sana bahkan menginap satu malam dalam rangka menemani aku yang sedang menjadi pemateri dalam sebuah acara outbond mahasiswa.
            “Justru itu,” suamiku menghela nafas, “Mereka sudah tahu medan. Jangan-jangan nanti mereka memisah dari rombongan, pergi ke danau berdua saja atau apalah…”
            “Yaa nanti kita nasehati dan beri pengarahan supaya mereka tidak macam-macam” jawabku.
            “Apa iya para guru mampu meng-handle anak-anak kelas 1, 2 dan 3 SD tanpa orang tua mereka?” gumamnya. “Sebagian besar dari mereka bahkan belum menikah, belum punya pengalaman mengatasi anak kecil yang sedang aktif-aktifnya.”
            “Lalu?”
            “Kita berangkat dengan mobil sendiri. Diam-diam mengikuti dari belakang” usul suamiku.
            “Trus sampai sana kita ngapain? Ngumpet-ngumpet kaya detektif?”
            Mendekati hari H suamiku malah sedang dikelilingi banyak pekerjaan kantor. Dia menyuruhku mencari tebengan barangkali ada mama-mama lain yang jadi detektif juga. Aku paling malas kalau nebeng-nebeng. Nantilah kita pikir-pikir lagi, kilahku. Suamiku berharap anak-anak sendiri yang membatalkan keberangkatan karena ia juga tidak mau mengecewakan mereka. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, anak-anak makin semangat untuk ikut.
            “Ma, belikan kami kamera dong!”
            “Iya Ma, kamera yang begantung di leher itu…”
Aku ternganga. Aku baru ingat, dalam surat pemberitahuan terdapat catatan bahwa para murid tidak diperbolehkan membawa telepon genggam tapi boleh membawa kamera.
            “Satu-satu ya Ma.”
            “Buat apa?”
            “Kami hendak berfoto di gunung dengan Umar.”
            “Minta fotokan ustadz saja”
            “Yaah Mama… kan di surat ada bacaannya boleh membawa kamera.”
            “Boleh membawa itu bukan berarti harus membawa, Nak. Boleh itu, yaa boleh. Boleh membawa boleh tidak. Kalau tidak punya ya tidak ada yang bisa dibawa.”
            “Makanya Ma, Mama belikan saja supaya kita punya kamera.”
            “Kalian gak usah ikut saja ya?” bujuk suamiku.
            “Yee Abah, orang mau pergi disuruh gak ikut. Seru tauuu”
            “Ya sudah, kamera gak jadi. Permintaan diganti dengan tas baru.” Ini nih keahlian si kembar, keahlian melobi tingkat tinggi.
            “Maksudnya?”
            “Masak kami ke gunung pakai tas sekolah? Kebesaran tasnya, Ma”
            “Sudah, tidur sana. Nanti besok kesiangan.”
            “Setelah kami tidur, mama diam-diam pergi mencarikan tas ya?
            “Huss. Tidur. Pakai yang ada saja. Tas sekolahmu”
            “Bangunkan jam dua lah, Ma. Nanti ditinggal bis” Hah? Memangnya mau sahur?
            Aku berbaring di antara keduanya. Salah seorang memelukku, “Mama, aku sedih”
            “Hah? Kenapa? Masalah tas baru?”
            “Bukan…”
            “Lalu?”
            “Besok aku tak bisa melihat mama dong”
            Aku memeluknya. “Nanti kan pulang juga? Bisa lihat lagi?”
            Aku tidak tahu siapa di antara kami yang terlelap lebih dulu sampai aku merasa ada yang menggoyang-goyang kakiku.
            “Psst..bangun, ayo bangun. Jangan tidur dulu… Saatnya diskusi. ”
           
***
            Setengah terpejam aku berdiskusi dengan suami. Usai merundingkan plus minusnya keberangkatan anak-anak, kami akhirnya bersepakat bahwa mereka berangkat tanpa ada acara detektif-detektifan. Kami juga bersepakat untuk membelikan tas baru yang ukurannya lebih kecil daripada tas sekolah asal dapat harga yang terjangkau. Pukul sembilanan malam itu, setelah mereka tertidur pulas, aku dan suami keliling Jalan Cemara mencari orang jual tas. Alhamdulillah dapat toko yang menjual tas bagus harga terjangkau. Ke dalam masing-masing tas kumasukkan kudapan yang sudah mereka beli sorenya, satu set baju ganti dalam kantong plastik dan susu kotak.
            Paginya mereka bangun lebih cepat. Salat Subuh, sarapan, mandi, memakai seragam olah raga, mengenakan kaos kaki, sepatu, tak lupa kopiah seragam sekolahnya. Mereka sangat bersemangat, terlebih setelah mengetahui ada tas baru. Aku juga memasukkan kotak bekal berisi mie sayur bertabur abon dan sebotol susu coklat hangat.
            Sambil memakaikan baju aku mengajak mereka ngobrol. “Mama bisa mempercayai kalian berdua, kan?”
            Keduanya menatapku. Aku melanjutkan maksudku,“Kalian tidak akan menjauh dari ustadz dan rombongan. Janji?”
            “Baiklah…kami janji”
“Ini uang masing-masing sepuluh ribu, sesuai petunjuk di surat sekolah” kataku.
“Horee, kami mau jajan nanti di sana
            “Lihat…Mama memasukkan satu set baju ganti dalam kantong plastik ini ke tas kalian. Baju ini hanya dipakai kalau keadaan darurat. Jika tidak darurat, tidak usah ganti baju. Baju kotornya, masukkan dalam kantong plastik ini. Oke?’
Keduanya mengangguk.
“Kalian paham arti darurat?”
“Iya lah, Ma. Basah karena kehujanan misalnya, atau tumpah air minum, atau apakah lagi yang basah-basah”
“Pandai anak Mama...,Oiya, kalian perlu jaket tidak?”
“Tentu!”
Tidak ada suara dari suamiku tapi dengan ekor mataku aku melihat kecemasan di wajahnya. Dia pasti meragukan anak-anak bisa mengganti baju sendiri dan membawa balik baju kotor seperti yang kuinstruksikan. Dia diam saja karena sudah aku wanti-wanti agar tidak mengucapkan segala prasangka yang tidak baik. Lalu tibalah adegan mengharu biru itu.
foto keberangkatan

“Ma…maaf ya, hari ini kami harus pergi tanpa Mama.” Kata seseorang di antara mereka.
“Iya, Ma, Maaf ya hari ini kami tidak bisa menemani mama.” Kata yang lainnya.
“Mama jangan sedih dan bete ya? Mama ngobrol-ngobrol dengan siapakah biar tidak bosan selama kami tidak ada hari ini” mereka saling menimpali. Ada yang mengusap-usap tanganku, ada yang mengusap-usap punggungku.

            Aduh…rasa ada yang nyess di hati. Rasanya, aku yang lebih sering meninggalkan mereka daripada sebaliknya. Iya, ini pertama kalinya mereka pergi ke luar kota tanpa kami. Aku jadi mikir bagaimana rasanya para orang tua yang melepas anaknya dalam waktu lama seperti sekolah di luar daerah. 
Para murid diminta berkumpul di sekolah pukul 06.30. Si kembar meminta kami mengantar bersama para kakak. Dalam perjalanan ke sekolah, aku bertanya, “Ini nanti Mama tunggu sampai bis berangkat atau tidak perlu?”
            “Kayaknya tidak perlu deh, Ma. Nanti kami sedih, takutnya kami menangis melihat mama dari dalam bis” Hehehe..ada-ada saja.
            Saking semangatnya, turun dari mobil mereka lupa membawa jaket. Suamiku mulai menunjukkan kekhawatirannya, “Tu…kan. Baru dari sini saja lupa membawa jaket. Apa sebaiknya jaket ditinggal saja daripada hilang di jalan”
            “Apaan sih,,, tanya anaknya aja, mau pakai jaket atau tidak. Kalau pakai ya kasihkan saja” kataku. Nyatanya mereka memilih membawa jaket kesayangannya. Dalam hati aku sudah merelakan seandainya jaket itu hilang dalam perjalanan agar nanti tidak terlalu kecewa.
            Setelah itu, aku sendirian di rumah. Suamiku dan anak kedua sudah berangkat ke sekolah. Anak pertamaku harusnya libur karena sekolahnya hanya memberlakukan 5 hari sekolah tetapi karena sedang ada tugas dari guru, ia pun pergi juga ke sekolah. Kukira, dengan kesendirian itu aku akan lebih banyak punya waktu untuk mengetik, menulis, dan melakukan hal lainnya yang biasanya aku keluhkan tak bisa lagi kulakukan.
            Nyatanya aku tidak mengetik atau menulis satu katapun. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Diam-diam ada cemas yang menjalari pikiran dan hati. Akhirnya aku memilih salat sunat. Sepanjang hari itu aku memilih menyibukkan diri mengerjakan pekerjaan kerumahtanggaaan sambil mendengarkan dzikir pagi-petang dari speaker murottal yang baru kubeli. Aku mengalihkan kecemasanku dalam bentuk menyibukkan diri, mulai menyapu seluruh ruangan, mengepel, mencuci, membenahi lemari pakaian, menyusun ulang koleksi buku dan mengerjakan segala macam kesibukan domestik lainnya. Sesekali aku mengecek handphone. Tak ada apa-apa. Para ustadz tidak ada yang bisa dihubungi. Dalam benakku terngiang kalimat kepala sekolah sehari sebelum keberangkatan, para orang tua nanti akan dihubungi kalau kami sudah sampai.
***

Waktu salat Asar sudah lima belas menitan berlalu. Berkali-kali aku mengecek HP. Belum ada sms, belum ada panggilan. Aku mulai gelisah, mondar-mandir tidak karuan. Kepalaku sedikit pening sehingga aku berbaring di ruang baca kami. Tanganku memegang buku tapi tak satu katapun bisa kucerna. Sampai kemudian HP ku berbunyi tapi setelah kulihat bukan nomor guru anak-anak. Segera kuangkat, terdengar suara santun Ustadz Kha- gurunya anak-anak- dari seberang. Aha! Macam menerima telpon dari pacar saja riangnya hatiku. Anak-anak sudah di sekolah. Kami bergegas menjemput.
Ternyata sebagian anak sudah dijemput. Kulihat si kembar menunggu di tepi jalan depan sekolah sudah mengenakan baju ganti yang kubekali. Kedua guru mereka mendampingi.
“Siapa tadi yang main basah-basahan…” kata wali kelasnya sebelum aku sempat bertanya mengapa mereka memakai baju darurat.
Ramailah anak-anak menanggapi. Mereka berebut bercerita. Setelah ngobrol sebentar, kami pamit pulang. Dalam perjalanan salah seorang memamerkan kartu tanda peserta yang terkalung di lehernya. “Ma, aku punya ini nih coba lihat. Ada namaku di sini” dia tersenyum bangga. Karena di rumah sedang kedatangan adikku sekeluarga, si kembar asyik bermain dengan kakak-kakak dan sepupunya. Aku tahu mereka sebenarnya lelah tapi main adalah urusan paling penting!
Malamnya aku minta mereka masuk kamar duluan. Aku masih sibuk membereskan dapur sehabis makan malam. Kupikir mereka pasti akan langsung terlelap karena lelah seharian ke Tambang Ulang. Ternyata mereka tidak tidur. “Kami menunggu Mama” katanya. Aku jadi merasa bersalah.
“Bagaimana mama hari ini, apakah baik-baik saja?” tanya yang satu.
“Ow…baik, alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat, Allahuakbar” jawabku menirukan yel-ye mereka.
“Capek ya Ma cuci-cuci di dapur?”
“Berkas-berkas Mama beres lah?” (mereka menyebut berkas untuk segala jenis bahan yang menghambur di area kerjaku).
Aku hanya tersenyum.
“Kenapa belum tidur?”
“Kami hendak bercerita”
Satu-satu cerita mengalir. Mulai cerita dalam bis. Mereka duduk tidak berdekatan. Ini sebuah kemajuan dalam sosialisasi mereka. Selalu berdua sejak dalam rahim kadang membuat anak kembar menjadi sangat sulit untuk memiliki teman selain kembarannya. Lalu tentang serunya flying fox dan taman labirin.
“Ma, tanduk rusanya sekarang tanbah panjang lho. Nanti kita ke sana ya Ma biar Mama melihatnya”
“Tadi kami jajan sendiri. Ada teman yang tidak bisa jajan, kami yang membelikan. Aduh…capek bolak-balik”
“Oiya, tadi mau menyewa sepeda seperti waktu dulu. Eh, pamannya tidak mau menyewakan sepedanya kepada kami. Katanya kami tidak bisa naik sepeda nanti jatuh. Kok pamannya lupa sih dengan kami.”
“Kalau baju basah ceritanya gimana?”
“Itu…si Imin nyemplung ke danau, dia berenang. Lihai, Ma. Kok bisa ya Imin berenang dengan mudah seperti itu”
“Lalu? Kenapa kalian yang basah?”
“Ya…kami main-main air di tepinya”
Aku menguap sambil membayangkan betapa pegalnya badan para ustadz malam ini. Tentu tidak mudah mengawasi anak laki-laki kelas 1, 2 dan 3 SD di alam terbuka seperti itu.
“Bagaimana rasanya hari ini?” tanyaku sebelum terlelap.
“Sedikit senang…” jawab mereka.
“Kok sedikit?” aneh banget, cerita heboh-heboh kok bilangnya sedikit senang?
“Ya…karena gak ada Mama.”
Anak-anak memang paling bisa deh.
“Ma.. Sabtu depan kita ke sana yuuk.”
Satu tantangan kami lewati dengan hasil sangat memuaskan. Besok, tentu masih banyak tantangan lain yang lebih amazing![]

Rabu, 08 Februari 2017

Serunya Menjadi Bagian Kelas Inspirasi Banjarbaru 2017

15.28 3 Comments
Kala Satu Mimpi Terwujud: Serunya Menjadi Bagian Kelas Inspirasi Banjarbaru 2017





Bertemu Kelas Inspirasi
Hai, aku Nailiya Nikmah JKF. Aku seorang penulis. Selain itu, jalan hidup menuntunku menjadi seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di kotaku. Hari-hari kujalani sebagai seorang ibu, seorang dosen dan seorang penulis. Agak malu juga sih sebenarnya menyebut diri ini penulis. Kadang-kadang masih suka badmood sehingga ada saja alasan untuk tidak menulis. Jangan ditiru ya sisi gelapku. Harusnya kan penulis tiap hari menulis ya? Tak apa lah ya, kan nulis status nulis juga, ya gak? Kali ini aku ingin bercerita serunya pegalamanku mengajar di sebuah SD. Meski satu hari saja, pengalamannya sangat berkesan di hatiku. Satu hari itu, aku berkesempatan merasakan serunya menjadi pengajar SD karena aku bergabung dengan para relawan dalam sebuah program bernama Kelas Inspirasi Banjarbaru (KIBjb) 2017.
Jauh sebelum Pak Anis Baswedan menjadi salah satu calon pada Pilgub DKI Jakarta, aku sudah jatuh cinta dengan program Indonesia Mengajar-nya (bagian  ini sengaja kutulis karena ada saja yang menuduh program KI berbau politik). Ketertarikanku pada program Indonesia Mengajar makin menggebu ketika aku meminjam sebuah buku bertajuk Indonesia Mengajar dari salah seorang rekan kerjaku. Kalau tidak salah, temanku dapat hadiah buku tersebut dari temannya. Nah, dia sendiri belum tuntas membaca bukunya. Membaca buku tersebut membuat aku terkenang pada salah satu impian masa kecilku. Aku ingin sekali menjadi seorang guru di sekolah pinggiran, sekolah-sekolah di daerah terpencil. Sekolah yang atapnya bolong, anak-anaknya tidak bersepatu, fasilitas minim, yah..mirip mirip sekolah Laskar Pelangi. Dulu, waktu SD aku suka sekali menonton serial drama di salah satu tv yang mengisahkan perjuangan seorang guru muda yang mengajar di desa. Kalau tidak salah judulnya Ibu Guru Delima, pemainnya Monica Oemardi. Ini kalau aku tidak salah ingat lo yaaa. Maaf jika aku keliru, hehe. Setiap menonton serial tersebut, aku selalu membayangkan suatu saat aku akan seperti ibu guru Delima juga, mengajar di desa. Ketika aku mengembalikan buku Indonesia Mengajar, temanku bertanya seru tidak bukunya. Seru banget, jawabku. Aku pengen deh ikut jadi guru di program tersebut. Yaa...tapi ingat kenyataan juga sih. Persyaratannya tidak mungkin bisa aku penuhi. Aku kan sudah menikah dan sudah tidak muda lagi (ini kata anak-anakku) hehe.
Dan ...Beberapa tahun berlalu setelah aku meminjam buku tersebut adalah hari ini!
Suatu hari aku menerima pesan melalui WA dari seorang kenalan sesama komunitas penulis di Kalimantan selatan tapi beda kota. Namanya Rima. Kaka...tertarik ikut ini gak? Yang penulis belum ada, katanya. Kubaca pesan yang dia kirim. Kelas Inspirasi Banjarbaru. Kubaca buru-buru pesannya. Sedikit-sedikit aku mulai memahami apa itu kelas inspirasi. Singkatnya, Kelas Inspirasi merupakan  sebuah program yang menghadirkan para profesional ke sekolah-sekolah dasar untuk mengajar tentang profesinya masing-masing selama satu hari . Aku berteriak kegirangan. Ini mirip dengan Indonesia Mengajar, pekikku dalam hati. Tak apalah cuma sehari. Lagipula kalau lama-lama mana mungkin juga aku bisa meninggalkan tugas domestik sebagai ibu RT, bisa-bisa anak-anakku pada demoJ Belum ngisi link nya, aku langsung konfirmasi aja ke nomor WA koordinatornya. Namanya Jida. Lalu aku menghubungi Rima lagi, eh ternyata harus ngisi link pendaftaran dulu. Hehe, aku terlalu bersemangat. Ada data diri yag harus diisi lengkap dengan media sosial yang kita miliki. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, diantaranya apa motivasi ikut, apa yang akan dijelaskan, kesediaan cuti sehari, kesediaan menghadiri briefing sebelum hari inspirasi, dan kesediaan ditempatkan di sekolah mana saja di Banjarbaru. Aku tidak akan lupa pada bagian “hal apa yang akan disampaikan”, aku tulis begini nih: Manusia bisa mati tapi tulisan akan abadi. Terakhir disebutkan bahwa para pendaftar yang diterima atau lolos seleksi akan dihubungi pada 10 Januari 2017.
Hari berlalu. Tidak sabar menunggu tanggal 10. Ketika 10 Januari tiba, aku deg-degan. Lolos tidak, ya? Dari pagi aku mengecek handphone melulu. Belum ada pesan masuk dari panitia. Mungkin siang pikirku. Siang berlalu berganti sore, tak ada juga kabar yang kunantikan. Sampai tiba waktunya aku menjemput anak sulungku dari sekolah untuk kemudian langsung membawanya ke dokter karena ia sedang ada sedikit masalah pada gigi. Di perjalanan aku bercerita bahwa aku gagal menjadi relawan KIBjb karena tidak mendapat sms. Ketika sedang mengantri di dokter, handphone ku bergetar. Ada pesan masuk. Selamat Anda terpilih sebagai relawan dalam kegiatan KI Banjarbaru yang akan dilaksanakan Tanggal 23 Januari 2017. Anda diundang untuk briefing bersama seluruh relawan, panitia dan perwakilan sekolah pada tanggal 15 Januari 2017 di Aula BP-PAUD DIKMAS KALSEL Banjarbaru pukul 08.30-12.00 mohon konfirmasi kehadiran ke : xxxxxxxxxxx Alhamdulillah, betapa girangnya aku.
Panitia kemudian mengirimkan file modul kegiatan untuk dipelajari sebelum hari briefing. Membaca modul tersebut aku menjadi sedikit panik. Oh, programnya ternyata tidak main-main. Ada contoh format lesson plan, contoh strategi mengajar, dan panduan lainnya. Intinya bagaimana memberi wawasan kepada siswa tentang profesi kita sendiri. Aku membayangkan betapa mudahnya dokter mengenalkan profesinya dibanding aku yang penulis. Bagaimana tidak, dokter dengan menggantungkan steteskop saja di lehernya sudah bisa dikenali profesinya. Apalagi kalau mereka memakai jas putihnya dan membawa jarum suntik, hehe...  Akupun mencari ide dari Om Google dan pergi ke toko buku. Ada salah satu tulisan di sebuah blog penulis yang juga merasakan hal yang sama denganku ketika menjadi relawan KI. Membacanya aku sedkit terhibur. Aku juga membaca beberapa buku tentang mengajar anak SD. Akupun akhirnya menemukan ide untuk dituangkan dalam lesson plan. Tentu saja formula yang kutuangkan dalam lesson plan aku uji coba dulu pada anak-anakku sendiri. Dari situ aku bisa memperbaiki, menambah dan mengurangi. Panitia mem-follow akun Ig-ku. Aku balik mem-follow. Eh, ternyata ada KI Banjarmasin, kota tempat aku tinggal. Sesaat aku sempat tertegun, mengapa aku harus jauh-jauh ke Banjarbaru kalau ternyata ada di Banjarmasin? Detik berikutnya aku segera tersadar. Tak ada yang kebetulan, bukan? Aku yakin, Tuhan sudah memilihkan aku KI Banjarbaru.
Hari briefing tiba. Aku bangun penuh semangat. Kukenakan kerudung baru biar lebih semangat lagi (hahh, bagian yang ini gak nyambung ya?). Aku diantar oleh suamiku beserta keempat anakku yang tak pernah mau ditinggal di rumah. Mereka mau saja didesak-desak untuk bergegas siap-siap padahal itu hari Minggu, hari mereka bersantai. Aku tidak mau datang terlambat. Udara dingin karena hujan yang mengguyur Banjarmasin tidak menghalangi kami untuk berangkat sesegera mungkin. Sepanjang jalan kami ditemani nyanyian hujan. Agak susah menemukan gedung lokasi acara  karena sebelumnya kami tidak pernah ke sana. Anakku menggunakan GM. Setibanya di tempat acara, kulihat panitia sedang memasang spanduk di gerbang utama. Peserta yang lain belum datang. Di meja registrasi aku mendapatkan kartu tanda pengenal dan pin KI. Eh, kok ada tulisan www.indonesiamengajar.org yaa di bagian bawahnya.  Panitanya semua ramah-ramah dan masih muda-muda. Setelah Rima, aku disapa oleh Jida. Orangnya cantik, ramah dan penuh semangat. Jida mengingatkanku pada Yunisa, mahasiswaku dulu di D4 yang sekarang sudah lulus S2. Melihat Jida dan kawan-kawan, aku optimis banua bisa maju. Kulihat ada seorang pemuda berbaju kaos jingga dan rompi bertuliskan Indonesia Mengajar. Sebenarnya aku ingin menyapanya tapi aku merasa terlalu tua untuk itu (hihi...:)) sejam kemudian aku menyesal tidak melakukannya. Ternyata dia guru muda dalam program Indonesia Mengajar. Namanya Dikun. Ia berasal dari Palembang dan ditempatkan di Loksado. Dia salah satu pemateri di hari briefing. Dari materi yang ia sampaikan aku baru tahu, ternyata KI adalah turunan dari program Indonesia Mengajar. Pantas saja ada tulisan Indonesia Mengajarnya. Betapa bahagianya aku ketika mengetahui hal itu. Itu artinya, salah satu impianku terwujud!
Setelah menerima materi, kami para relawan dibagi menjadi tiga kelompok karena untuk program KI Bjb hanya mendatangi tiga sekolah dasar negeri. Aku termasuk dalam kelompok SDN Palam 3. Di kelompokku ada Abhel sang psikolog, ada Deddy ahli gizi, Karina ahli transportasi sekaligus dosen, Dwi yang enterpreuner, Alfian nurse, Sudais, Andry, Effendy, Rizka, Tiara, Elvin, Said. Kami berasal dari tiga kategori yaitu inspirator yang tugasnya mengajar, fotografer dan videografer.  Oiya selain kami, dalam grup tersebut ada juga fasilitator, mereka adalah Ina alias Sauqina, Hajidah, dan Rima. Jida sang koordinator juga ada lhoo. Di hari briefing tidak semua bisa datang. (Nanti di hari inspirasi ada juga yang akhirnya tidak bisa datang karena erbagai alasan). kami mendiskusikan rencana untk hari inspirasi. Pertama-tama setelah dikenalkan oleh Ina sang fasilitator kelompok Palam 3, kami memilih ketua kelompok. Karena yang paling keren itu Kak Abhel, jadilah dia yang kami tunjuk jadi ketua. Selanjutnya komunikasi terjalin melalui grup WA. Aku bersimpulan bahwa dalam timku banyak orang yang lucu dan menyenangkan. Kelak simpulanku salah lho. Ternyata mereka tidak lucu tapi lucuuu pakai bingits. Oiya, Seharusnya ada observasi ke sekolah sebelum hari H dan ada rapat keompok tapi aku tidak bisa ikut. Aku hanya bisa membaca hasil rapatnya di grup WA. Aku mendapat giliran dari pukul 08.30 di kelas 1 2 3. Hari inspirasi adalah hari Senin. Jadi, kami bakalan ikut upacara bendera di sekolah. Aku jadi sentimentil, terkenang masa indah waktu jadi murid yang tiap senin pagi ikut upacara bendera. Aku ingin upacara di sekolah lagi....
Hari inspirasi tiba. Aku bangun lebih awal meski malamnya begadang menyelesaikan persiapan media untuk mengajar. Kesepakatannya, semua anggota tim Palam 3 berkumpul di kampus FK ULM Banjarbaru pukul 06.30 karena pukul 07.00 harus sudah ada di sekolah. Semua perlengkapan kumasukkan dalam totebag pink kesayangan termasuk botol minum seperti yang diinstruksikan oleh fasilitator kami tercinta. Anak pertama dan kedua sudah kubangunkan sebelum azan Subuh. Setelah menyiapkan sarapan untuk mereka, aku segera mandi.  Anak-anak sudah tahu bahwa hari itu ayahnya tidak bisa mengantar mereka ke sekolah karena harus segera mengantarku ke Banjarbaru. Sebagai gantinya, ada ojek langganan yang akan menjemput dan mengantar ke sekolah. Mereka sarapan dengan tertib. Kudengar irama hujan di atas genteng. Dingin menyusup ke tulang. Kupilih terusan hitam dengan rompi sasirangan pink. Kupikir-pikir dengan rompi lumayan untuk mengurangi rasa dingin karena aku merasa tidak pas kalau memkai jaket. Masuk kawasan Banjarbaru, perutku melilit. “Kamu pasti sakit perut karena gugup” celutuk suamiku. “Santai aja kenapa sih”. Aku mengiyakan.
Dari FK aku ikut mobil Rina cantik ke SD Palam 3. Yang lain bersama Psikolog keren Abhel. Ina, fasilitator kami yang tangguh memilih naik motor. Sementara yang lain sebagian sudah berada di lokasi lebih awal. Sepertinya tim kami yang paling sedikit jika dibanding dua tim lainnya. Ini sesuai saja sebenarnya dengan jumlah murid di SDN Palam 3. Setelah semua datang, kecuali Said yang katanya ada sedikit rintangan, kami meluncur ke sekolah. SDN Palam 3 Banjarbaru lokasinya melewati Danau Seran. Kamu cari di google aja ya apa itu Danau Seran. Sayangnya, kami tidak menyempatkan diri untuk mampir ke danau itu. Tiba di SDN Palam 3 aku disergap susana asri dan tentram. Halamannya luas, banyak pohon, jadi rindang. Karena hujan, kami tidak jadi upacara. Sayang sekali padahal aku sudah kepingin banget upacara di SD. Tahap pertama perkenalan tim kami di kelas 1 2 3 yang di gabung dalam satu ruangan. Ketua tim sempat mengajari anak-anak yel-yel tepuk semangat. Agak kesusahan awalnya. Bayangkan mereka masih imut-imut sekali.  Ketika ketua tim melakukan opening dengan bertanya apa cita-cita mereka, murid-murid ramai menjawab. Mau tahu apa cita-cita mereka? Jadi, cita-cita murid-murid kelas 1 2 3 adalah dokter, polisi, tentara, guru. Itu saja semuanya sama. Eh, ada satu yang beda, mau jadi koki. Oh...belum ada yang ingin jadi penulis saudara-saudara. Lalu ketua kami menyambangi aku. “Kamu dapat kelas 1 2 3 kan ya? Penulis kan ya? Gimana kira-kira? Apa mau ditukar aja dengan kelas 4 5 6?” Rina pun menawari aku tukar kelas dengan dia. Aku menimbang sejenak lalu memutuskan untuk tetap di kelas 1 2 3. Baiklah, jadi misiku sangat jelas, ngasih tahu ada satu kosakata lagi untuk dijadikan pilihan masa depan mereka, yaitu penulis!
Penulis itu...orang yang mencatat, ya?

Ini ceritaku pas action.
Pertama-tama aku mengenalkan nama, lalu profesi. Waktu kutanya apa itu penulis, murid-murid bingung mau menjawab apa. Ada beberapa yang menjawab “Orang yang suka nulis; orang yang mencatat sesuatu; orang yang mengajar; orang yang membuat buku” semua jawaban kubenarkan. Aku hepi banget kelas tidak sepi.
Selanjutnya aku menambah beberapa penjelasan sesuai yang sudah kurancang dalam lesson plan meski ada bagian-bagian yang harus aku improv. Apa itu penulis, di mana mereka bekerja, apa manfaat penulis bagi orang banyak dan seterusnya. Aku mengeluarkan dua bukuku dari totebag pink. Ini contoh buku kaka yang sudah terbit dan ada yang dijual di toko buku. Kutanyakan siapa saja yang suka dan pernah ke toko buku dan ke perpustakaan. Banyak tangan yang mengacung. Dua bukuku kupersilakan untuk mereka lihat, sentuh dan baca sekilas. Ada kumpulan cerpen Rindu Ilalang dan satunya lagi novelku Sekaca Cempaka.  Lalu aku mengeluarkan beberapa buku dongeng klasik seperti Cinderella, Putri Salju, Putri Duyung, Gadis Tudung Merah. Buku-buku tersebut berkeliling dari tangan ke tangan.
“Kok semuanya putri-putrian yaa? Gak ada yang cowoknya kah?” tanya seorang murid laki-laki.
 Aku memekik pelan, “Ah iya...benar kamu. Ini ada buku yang bergambar anak cowok, ditulis oleh anak cowok juga. Ini buku puisi.” Aku mengeluarkan buku puisi karangan Abdurrahman Faiz.
Selanjutnya aku mengeluarkan lagi satu buku yang masih berbungkus plastik bening. Murid-murid penasaran.
“Naah...ini contoh buku yang masih baru. Lihat belum dibuka plastiknya. Sekarang kita buka yaaa.” Mungkin karena gambarnya kartun mereka lebih semangat melihatnya.
Mereka boleh memegang bukunya satu-satu. “Oiya,  buku ini ditulis oleh anak-anak dari berbagai kota. Yang dari Banjarmasin juga ada, lho. Ini nih yang cowok, yang namanya Ihda” kataku. “Coba lihat, anak-anak ini tidak bertemu satu sama lain tapi karya mereka berkumpul dalam satu buku, terus bukunya beredar di seluruh Indonesia. Jadi banyak anak yang bisa mengetahui cerita yang mereka tulis. Siapa yang mau begini? Tulisannya dijadikan buku macam begini. Siapa mau?”
Murid-mrid berdengung seperti lebah. Tangan-tangan mungil mengacung.
“Sekarang...kita latihan membuat buku yaaa,” ajakku.
Murid-murid antusias. Kubagikan kertas warna-warni yag sudah kusapkan untuk mereka menulis di dalamnya. Semula aku membagi 10 calon buku kecil  itu yang berwarna pink. Kubagi satu satu. Ketika aku mengeluarkan yang biru dan hijau, murid-murid maju menyerbu. Ibu...aku mau pink, aku yang hijau, aku yang biru. Anak-anak itu berdesakan di sekelilingku. Aku sedikit kaget. Mahasiswa mana ada yang berkerumun begitu demi memperebutkan kertas hvs berwarna yang sudah diolah menjadi bentuk buku tipis. Ada rasa yang tak dapat dijelaskan indahnya ketika anak-anak itu mengerubungi aku. Rasa yang belum pernah kudapatkan di tempat kerjaku selama ini.
Sesudah kupastikan semua murid memegang satu media dariku, akupun menyampaikan apa yang harus dilakukan oleh mereka. Di lembar sampul, kuinstruksikan mereka agar menulisi namanya. Ada yang bolak balik menyamperi aku sekadar bertanya betul atau salah yang ia tulis. Selanjutnya mereka kuminta menuliskan perasaan meraka masing-masing pada halaman berikutnya. Tentu saja dengan kalimat yang sederhana. Semua mengasyikkan hingga tak terasa waktuku habis, aku sampai diperingatkan oleh ketua tim. Aku harus gantian dengan inspirator lain. Kok sebentar ya? Perasaan aku baru melakukan bang! Untuk opening kok sudah harus berakhir sampai di sini... L Mau lagi, kakaks, hiks.
Waktu jeda kupakai untuk membantu inspirator lain pada bagian-bagian yang mereka memang memerlukan bantuan. Selebihnya, aku berkeliling seputar area sekolah sambil sesekali membayangkan aku adalah guru di sekolah itu. Asyik kali,ya? Selama berkeliling tentunya mataku bekerja dengan baik. Ya, barangkali ada bahan buat dijadikan ide cerpen atau novel. Dasar penulis! Tuing! Ide pun muncul.  Menurut pengamatanku, sekolah memiliki  satu area toilet yang sudah memadai. Area tersebut mempunyai 6 bilik toilet murid yang terletak di belakang sekolah bagian kanan. Tiga toilet untuk laki laki, tiga  toilet perempuan, berhadapan tiga tiga. Masing –masing dibagi untuk kelas 1 dan 6 satu toilet, 2 dan 5  satu toilet, serta 3 dn 4 satu toilet (sori kalau salah nulisnya). Air mengalir deras dari kerannya. Oiya tiap kelas ada fasitas untuk cuci tangan. Aku juga sempat ngobrol dengan guru mata pelajaran Agama. Bapaknya ramah sekali. Dari perbincangan kami aku mendapat informasi berapa jumlah guru, guru tetap dan guru honor, sedikit tentang dana BOS, dan yang paling penting nih, informasi tentang adanya lahan untuk bercocok tanam atau berkebun di belakang sekolah. Ada kacang dan tanaman lainnya. Murid dan guru yang menananmnya. Beliau mengajak kami berkeliling. Aku juga sempat menengok sebentar ruang perpustakaan sekolah. Setelah itu aku menuju kantin yang terlatak di kanan depan sekolahan. Aku memebeli  sepiring kecil bihun dan segelas teh hangat, totalnya Rp3.000,00 saja. Jajanan anak SD negeri la yaaa.  Lumayan buat mengganjal perut. Semula aku hendak beli nasi goreng tapi sudah habis. Sambil makan aku mengobrol dengan si ibu penjual dan beberapa murid yang beli. Ibu penjualnya sangat ramah dan santun. Rasanya semua orang di sekolah tersebut ramah-ramah deh.
Sesi terakhir, murid menuliskan nama dan cita-citanya pada pohon harapan. Setelah  itu, murid-murid kami minta membuat cap tangannya pada spanduk yang sudah disiapkan oleh timku. Cat warna dituang dalam piring-piring plastik berjejer di samping spanduk. Sebelumnya, murid yang memakai baju lengan panjang satu –persatu lengan bajunya kugulungi, mereka tak sabar ingin membuat cap tangan di spanduk. Selesai membuat cap tangan, satu satu mereka kami arahkan untuk cuci tangan. Semua dilakukan dengan tertib karena dikondisikan untuk mengantri dengan berbaris panjang sesuai kelas.  Ada saja yang sempat menangis diganggu oleh teman di barisan belakangnya...biasalah namanya juga anak-anak. Sementara itu para fotografer dan videografer sibuk mengabadikan momen demi momen. Beberapa kali kami membuat foto bersama. Kurasa timku penuh kehebohan. Orangnya pada ngocol semua. Ada yang tak luput dari ingatanku ketika sesi foto-foto. Ayo, semuanya yang ceriaaa kata salah seorang inspirator. Eh, suasana yang tadinya sudah ceria malah berubah sepi mencekam beberapa detik, lalu seorang murid bertanya, “Yang ceria itu yang bagaimana?” nah, lho!  Eh, ada lagi yang asyik nih. Anak kelas 1 dan 2 kan pulangnya lebih awal. Eh setelah dipulangkan oleh guru, ada 4 atau 5 anak yang masih bertahan di sekolah, sepertinya mereka masih betah dengan kami. (Maafkan jika agak sombong sedikit di bagian yang ini. Hehe).
Sesi yang beneran terakhir adalah say good bye dengan anak-anak dan pihak sekolah. “Kakak...besok datang lagi ya?” pertanyaan murid-murid membuatku terharu. Bener banget kata Ka Dikun di sat briefing: Hati-hati aja, kalau sudah sekali mencoba jadi relawan, awas nanti bisa ketagihan. Aku Pengen lagi...![] Nai





Selasa, 20 September 2016

Bahan Ajar

10.47 0 Comments



Ada beberapa tugas utama dosen. Salah satunya adalah pendidikan dan pengajaran. Pendidikan dan pengajaran tersebut memiliki beberapa komponen. Setiap komponen memiliki nilai sendiri yang akan dihargai dalam bentuk penilaian angka kredit. Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu komponen yang harus dipenuhi dalam hal ini. Bahan ajar yang dibuat oleh dosen merupakan penunjang proses pembelajaran yang tentunya memiliki perhitungan angka kredit sesuai bobot produk yang dihasilkan.
Bahan ajar secara terminologi belum bisa dijelaskan dalam satu definisi yang baik. Beberapa aturan perundangan menggunakan istilah yang berbeda untuk kepentingan yang sama. Pengembangan bahan ajar mata kuliah tidak lepas dari sederet upaya pengembangan kurikulum kampus khususnya kurikulum program studi. Beberapa definisi mensyaratkan bahwa produk bahan ajar sedapat mungkin mengacu pada kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan.
Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Pangkat Jabatan Akademik Dosen oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud 2014 menyebutkan bahwa mengembangkan bahan pengajaran adalah hasil pengembangan inovatif materi substansi pengajaran dalam bentuk buku ajar, diktat, modul, petunjuk praktikum, model, alat bantu, audio visual, naskah tutorial, job sheet terkait dengan mata kuliah yang diampu. Beberapa penjelasan di antara hal tersebut yaitu:
a.       Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar di bidangnya memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan (angka kredit 20 dengan batas maksimal diakui 1 buku/tahun).
b.      Diktat adalah bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh dosen mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah (angka kredit 5 dengan batas maksimal diakui 1 produk/semester).
c.       Modul adalah bagian dari bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis oleh dosen mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah (angka kredit 5 dengan batas maksimal diakui 1 produk/semester).

Paulina (1997) dalam Suhardjono menyatakan paling tidak ada tiga cara yang dapat dipergunakan dosen dalam menyusun bahan ajar, yakni (a) menulis sendiri, (b) pengemasan kembali informasi, dan (c) penataan kembali. 


Bagian-bagian Modul
1. Bagian Awal
Halaman terdepan setelah cover.
Kata Pengantar
Daftar Isi
Halaman Pendahuluan
Bagian ini memuat beberapa informasi sebagai berikut: (1) Deskripsi Mata Kuliah, (2) Prasarat mata kuliah (jika ada), (3) Rencana pembelajaran, (4) Petunjuk Penggunaan buku baik bagi mahasiswa maupun dosen, (5) Capaian pembelajaran, dan (6) Cek kemampuan awal mahasiswa.

2. Isi Utama Buku
Batang tubuh terdiri dari modul-modul (N modul). Setiap modul memiliki
kegiatan belajar. Jumlah kegiatan belajar dalam setiap modul disesuaikan dengan
Rencana pembelajaran.
a. Modul I : (Nama Modul)
Kegiatan Belajar-1: (Nama Kegiatan Belajar)
A. Deskripsi Singkat
B. Relevansi
C. Capaian Pembelajaran
1) Uraian materi
2) Latihan
3) Rangkuman
4) Pustaka
5) Tugas/ Lembar Kerja
6) Tes Formatif/ Kunci Jawaban
7) Umpan Balik dan Tindak Lanjut
(Bagian – bagian ini akan berulang pada kegitan belajar
berikutnya)

3. Bagian Akhir Modul
a . Lampiran
Lampiran bisa berisi materi pelengkap, penjelasan atau mungkin merupakan materi pendukung yang ditambahkan di luar bahasan utama.
b. Daftar Istilah (Glosarium)
c. Halaman Indeks (disarankan)
d. Biografi Penulis

selamat menulis, teman!

Bahan Ajar

10.47 0 Comments



Ada beberapa tugas utama dosen. Salah satunya adalah pendidikan dan pengajaran. Pendidikan dan pengajaran tersebut memiliki beberapa komponen. Setiap komponen memiliki nilai sendiri yang akan dihargai dalam bentuk penilaian angka kredit. Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu komponen yang harus dipenuhi dalam hal ini. Bahan ajar yang dibuat oleh dosen merupakan penunjang proses pembelajaran yang tentunya memiliki perhitungan angka kredit sesuai bobot produk yang dihasilkan.
Bahan ajar secara terminologi belum bisa dijelaskan dalam satu definisi yang baik. Beberapa aturan perundangan menggunakan istilah yang berbeda untuk kepentingan yang sama. Pengembangan bahan ajar mata kuliah tidak lepas dari sederet upaya pengembangan kurikulum kampus khususnya kurikulum program studi. Beberapa definisi mensyaratkan bahwa produk bahan ajar sedapat mungkin mengacu pada kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan.
Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Pangkat Jabatan Akademik Dosen oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud 2014 menyebutkan bahwa mengembangkan bahan pengajaran adalah hasil pengembangan inovatif materi substansi pengajaran dalam bentuk buku ajar, diktat, modul, petunjuk praktikum, model, alat bantu, audio visual, naskah tutorial, job sheet terkait dengan mata kuliah yang diampu. Beberapa penjelasan di antara hal tersebut yaitu:
a.       Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar di bidangnya memenuhi kaidah buku teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan (angka kredit 20 dengan batas maksimal diakui 1 buku/tahun).
b.      Diktat adalah bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh dosen mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah (angka kredit 5 dengan batas maksimal diakui 1 produk/semester).
c.       Modul adalah bagian dari bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis oleh dosen mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah (angka kredit 5 dengan batas maksimal diakui 1 produk/semester).

Paulina (1997) dalam Suhardjono menyatakan paling tidak ada tiga cara yang dapat dipergunakan dosen dalam menyusun bahan ajar, yakni (a) menulis sendiri, (b) pengemasan kembali informasi, dan (c) penataan kembali. 


Bagian-bagian Modul
1. Bagian Awal
Halaman terdepan setelah cover.
Kata Pengantar
Daftar Isi
Halaman Pendahuluan
Bagian ini memuat beberapa informasi sebagai berikut: (1) Deskripsi Mata Kuliah, (2) Prasarat mata kuliah (jika ada), (3) Rencana pembelajaran, (4) Petunjuk Penggunaan buku baik bagi mahasiswa maupun dosen, (5) Capaian pembelajaran, dan (6) Cek kemampuan awal mahasiswa.

2. Isi Utama Buku
Batang tubuh terdiri dari modul-modul (N modul). Setiap modul memiliki
kegiatan belajar. Jumlah kegiatan belajar dalam setiap modul disesuaikan dengan
Rencana pembelajaran.
a. Modul I : (Nama Modul)
Kegiatan Belajar-1: (Nama Kegiatan Belajar)
A. Deskripsi Singkat
B. Relevansi
C. Capaian Pembelajaran
1) Uraian materi
2) Latihan
3) Rangkuman
4) Pustaka
5) Tugas/ Lembar Kerja
6) Tes Formatif/ Kunci Jawaban
7) Umpan Balik dan Tindak Lanjut
(Bagian – bagian ini akan berulang pada kegitan belajar
berikutnya)

3. Bagian Akhir Modul
a . Lampiran
Lampiran bisa berisi materi pelengkap, penjelasan atau mungkin merupakan materi pendukung yang ditambahkan di luar bahasan utama.
b. Daftar Istilah (Glosarium)
c. Halaman Indeks (disarankan)
d. Biografi Penulis


Senin, 01 Agustus 2016

DUKUNG EKSPLORASI SI KECIL, DIDIK MEREKA MELALUI BERMAIN

04.02 0 Comments

Dukung Eksplorasi Si Kecil, Didik Mereka Melalui Bermain
Oleh Nailiya Nikmah, S.Pd.,M.Pd.


Siapa yang hari ini merasa super lelah karena mengurus anak sepanjang waktu? Mungkin para orang tua khususnya ibu ada yang tak henti mengeluh bahkan sampai merasa dirinyalah yang paling banyak bebannya di dunia ini. Padahal, hari-hari mengurus si kecil adalah hari-hari yang paling berharga baik bagi sang anak maupun bagi sang ibu itu sendiri. Hari-hari yang mestinya dengan ikhlas kita jalani.
Pernahkah terpikir, suatu hari kaki-kaki mungil yang tak henti menjelajah area rumah lalu menyisakan jejak kotor itu akan berubah menjadi kaki-kaki dewasa lalu menjelajah dan melakukan eksplorasi terhadap dunia luas dengan segala perannya. Tangan-tangan mungil yang tak henti membuat ‘kreasi’ yang sering membuat kita marah karena rumah berantakan, suatu saat tangan itu akan membuat masterpiece yang mencengangkan.
Lalu tak terasa waktu akan menjadi begitu singkat. Anak-anak itu tiba-tiba tidak membutuhkan kita lagi dan mungkin akan jauh dari kita tapi pola asuh yang kita lakukan akan selalu menempel pada mereka. Cara mendidik anak yang kita lakukan adalah kunci kesuksesan mereka. Jangan menyiakan masa kecil. Jangan matikan bakat eksplorasi anak. Lantas, bagaimana cara mendidik anak yang baik tapi kita selalu ikhlas dalam menjalankaannya?
Sungguh beruntung para orang tua yang bisa mengikuti kegiatan Seminar Parenting yang diadakan oleh Dancow Parenting Center, Sabtu 30 Juli 2016 lalu di Golden Tulip Hotel Banjarmasin. Event keren yang menghadirkan empat pakar di bidangnya, yaitu Dr.dr. Soedjatmiko, Sp.A(K),M.Si, Bunda Sari Sunda Bulan, Bunda Ratih Ibrahim dan Ayah Aidil Akbar dipandu artis cantik Mbak Shahnaz Haque. Acara berlangsung dari pukul 08.00 sampai 12.00. Masing-masing pakar secara tuntas mengupas persoalan yang sering memuat galau para orang tua.
Ternyata, cinta, nutrisi dan stimulasi harus seimbang diperoleh anak. Tidak hanya makannya yang harus diperhatikan tapi juga apakah mereka sudah mendapatkan cinta yang cukup dari kita. Tak kalah penting, bermain merupakan bagian dari stimulasi anak. Mengajak anak bermain setiap hari tidak harus ke tempat hiburan yang mahal atau membeli mainan mahal. Rumah dan sekitarnya adalah tempat dan sarana bermain anak yang sangat luas untuk kegiatan eksplorasi mereka. Alat-alat dan segala sesuatu yang tidak berbahaya yang ada di rumah, semua bisa dipakai untuk bermain. Tentu saja anak belajar melalui bermain. Alangkah membahagiakan jika para orang tua menyadari hal ini sejak dini.
Di era gadget yang menyediakan berbagai fitur bermain canggih secara maya, cara mendidik anak dengan ‘bermain’ yang sesungguhnya, awalnya mungkin akan terpikir ah susah, ah kuno. Akan tetapi lama-lama kita akan merasakan manfaatnya. Daripada anak kecanduan game lebih baik anak kecanduan ‘bermain’ membantu orang tua. Iya,kan? Kata dr.Soedjatmiko, kecanduan game membuat emosi anak negatif dan cenderung melakukan kekerasan terhadap sesama anak.
Penulis membayangkan kira-kira begini model cara mendidik dengan bermain setalah menyimak penjelasan para pakar. “Anak Bunda yang cantik, coba susun gelas yang berwarna kuning di meja, ayo kita hitung ada berapa yang warna kuning…owh…gelasnya dari plastik? Pantas tidak pecah ketika jatuh tadi. Eh, Aya memerlukan gelas tuuh untuk minum. Bisakah Bunda minta tolong si cantik mengantar gelas kuning ke kamar ayah? Oh, ayah suka gelas hijau? Baiklah…dst.” Waah…masih bisa dikembangkan lagi sesuai perkembangan usia mereka tentunya.
Di acara itu pula ditayangkan iklan terbaru Dancow yang sangat menyentuh. Para peserta antusias mengikuti seminar. Banyak pula yang mengemukakan pertanyaan. Di akhir acara, peserta yang jumlahnya 200-an lebih dengan dress code kuning tersebut mendapat oleh-oleh cantik dari Dancow. Yang beruntung malah mendapatkan doorprize keren lho. Tidak hanya dapat ilmu, pulang-pulang membawa Dancow dan tas super kereen juga! Yang tidak ikut pasti menyesal![]



Rabu, 08 Juni 2016

Hingga Batu Bicara

19.42 0 Comments
  Harga Sebuah Kenangan (Tentang Buku Hingga Batu Bicara)

Sedang asyik-asyiknya melihat-lihat postingan teman-teman di instagram, aku terpana melihat sebuah foto yang diunggah oleh salah seorang penulis idolaku, Helvy Tiana Rosa. Foto itu merupakan gambar cover sebuah buku lama. Judul buku tersebut adalah “Hingga Batu Bicara” (HBB). Postingan tersebut menginformasikan bahwa buku HBB sedang dicari-cari untuk suatu keperluan penting. Dari beberapa komentar di bawahnya aku simpulkan yang dicari adalah buku aslinya, bukan kopian. Aku tertegun…rasanya aku sangat familiar dengan judulnya tapi apa iya covernya yang itu? Dari postingan itu, HTR mengumumkan bahwa yang dapat membantu akan mendapatkan buku KMGP yang ditandatangani para pemain filmnya sebagai gantinya.
Aku ikut mengomen. Kukatakan aku punya tapi beda cover. Mbak Helvy menjawab tidak apa-apa. Semula aku pikir mbak Helvy yang sedang memerlukannya, ternyata orang lain. Seseorang yang bernama Mira. Beberapa hari setelah itu, aku dihubunginya lewat instagram. Dia menanyakan buku itu. Kami berkomunikasi lewat WA. Mira sempat mengatakan tidak apa-apa kalau kopiannya.
Aku yakin sekali aku pernah membeli buku tersebut belasan tahun silam. Aku pernah membacanya, pernah memilikinya. Buku tersebut berisi kisah-kisah (Cerpen) tentang Palestina, ditulis oleh tiga orang penulis mumpuni. Mereka adalah Maimon Herawati, Izzatul Jannah dan tentu saja Helvy Tiana Rosa. Aku bergegas menuju ruang baca keluarga yang merangkap ruang nonton TV, ruang makan dan ruang bermain. Mataku menyusuri judul demi judul buku yang kususun rapi dalam lemari kaca.
“Mencari apa, Ma?” tanya sulungku.
“Buku…” gumamku.
“Ya iya lah buku, masa mama nyari baju dalam lemari buku?” omelnya.
“Hm…”
“Novel ya, Ma?”
“Hingga Batu Bicara,” ucapku.
Nisrina ikut-ikutan mencari.
Tidak lama kemudian aku berhasil menemukannya. Tentu saja aku yang akan duluan menemukannya karena aku yang menyusunnya. Aku hampir selalu ingat di mana aku menaruh buku A, B, C dst dan pada kumpulan apa buku tersebut kuletakkan. Kecuali ada yang mengacaukan susunanku, aku hampir tak pernah melupakan susunan koleksi bukuku dalam lemari. “Harta Karun Ibumu” demikian suamiku menyebutnya kalau aku dan anak-anakku membahas soal buku-buku dalam lemariku.
Kuusap sampul plastiknya yang mengusam. Di sana tertera nama lengkapku yang dulu kutulis menggunakan spidol merah tua. Kubuka lembar demi lembarnya. Kertasnya menguning. Lembarannya nyaris terlepas. Aku tersenyum simpul melihat beberapa peringatan yang kutulis dengan tanganku, semacam dilarang membaca sambil makan dll. Aku juga mendapati beberapa catatan kecil menandai kalimat tertentu dalam buku HBB. Ciri khasku kalau membaca buku bagus. Selalu ada coretan kecilnya.
Dulu semasa kuliah, aku suka sekali meminjamkan buku-bukuku kepada teman-teman. Hitung-hitung dakwah. Aku dan adikku sempat membuka perpustakaan kecil-kecilan di rumah kami. Yang meminjamnya sebatas teman kuliah dan teman organisasi yang suka main ke rumah. Rumah kami pernah jadi markas beberapa organisasi yang aku dan adikku ikuti. Belakangan, aku agak enggan meminjamkan buku karena aku terlalu menyayangi buku-bukuku. Ini juga gara-gara para peminjam buku kadang tidak mengembalikan buku yang mereka pinjam.
Aku menimang-nimang buku HBB. Hampir saja aku membacanya kembali tapi segera kuurungkan. Entahlah, satu sisi hatiku mengatakan sebaiknya aku tidak usah membacanya kembali. Bisa saja setelah membacanya aku akan berubah pikiran. Aku memang sudah lupa bagaimana detil cerita tiap-tiap cerpennya tapi aku tidak pernah lupa betapa airmataku pernah tumpah ketika membacanya, betapa semangat ini pernah tergugah selesai membacanya. Sebagai seseorang yang gampang belajar dari buku, HBB merupakan salah satu buku yang berperan penting dalam proses tarbiyahku.
“Mau diapakan?” tanya suamiku.
“Seseorang memerlukannya” lirihku.
“Maksudnya?”
Aku pun menceritakannya.
“Dikopikan saja. Buku itu kan sangat berharga bagimu” saran suamiku yang lebih terdengar sebagai larangan.
“Dia perlu aslinya. Lagipula… apa iya, anak-anakku akan bisa merawat dan terus menghargai koleksiku ini?” jawabku. “Barangkali di tangannya, buku ini lebih bermanfaat.”
Aku tahu, aku sedang berbohong. Seseorang itu sebenarnya membolehkan aku mengirim kopiannya saja setelah tahu betapa berartinya buku itu bagiku. Tapi melihat lembar-lembarnya yang mudah terlepas, aku tidak tega membayangkan buku ini akan hancur kalau ditekan-tekan di mesin fotokopi.
“Tapi..Ma, sayang kan Ma?” anak-anakku ramai menimpali. Mereka, terutama dua orang yang sudah remaja menatapku heran. Mereka tak percaya aku akan melepaskan buku dari dalam lemari “Harta Karunku”.
“Iya! Mama kalian sudah tidak ingin memiliki kenangannya!” Ucapan suamiku dengan nada yang cukup tinggi menusuk hatiku. Aku tahu, dia sedang berusaha menahanku agar tidak melepas buku itu. Aku tahu, dia orang yang paling tahu (setelah adikku) bagaimana aku memperlakukan kenangan berbentuk buku. Aku yakin, dia hanya sedang ingin memastikan keseriusanku melepas buku itu.
Aku tak ingin berdebat karena aku tahu, aku mulai ragu….
Aku meletakkan buku itu di suatu tempat. Kuniatkan untuk sesegeranya mengirimkan buku HBB kepada Mira. Sayangnya, aku mendapat tugas mendadak dari kantor. Aku harus berangkat ke kabupaten-kabupaten untuk sebuah keperluan institusi.
Dalam perjalanan, Mira mengirim pesan melalui wa. Ia menanyakan kepastian buku HBB dan menanyakan berapa jumlah uang yang harus dia transfer serta ke rekening mana dia akan mentransfer. Aku merasa bersalah karena melambatkan mengirim meski tidak sengaja. Setelah meminta maaf dan menjelaskan rencana pengiriman, aku menyudahi percakapan kami di WA tanpa memberi jawaban berapa jumlah uang yang harus Mira bayar dan berapa no rek ku. Segera kuhubungi suamiku dan kuminta ia mengambil serta mengirimkan bukuku melalui pengiriman yang tercepat. Aku juga meminta suamiku memasukkan satu buku kumcerku “Rindu Rumpun Ilalang” dalam paket tersebut. Bukankah niat baik tidak boleh ditunda?
Dua hari kemudian kuterima pesan dari Mira. Ia sangat senang dan terharu. Lagi-lagi aku tidak menjawab berapa harga buku HBB yang sudah kukirimkan agar ia bisa segera mentransfernya. Duhai, bisakah kausebutkan berapa harga sebuah buku bekas yang penuh ibrah? Bisakah kausebutkan berapa harga sebuah ghirah yang menunas dari cerita-cerita fiksi? Bisakah kausebutkan berapa harga jalinan ukhuwah yang pernah tercipta melalui perantaraan sebuah buku? Bisakah kausebutkan harga sebuah kenangan?
Sebagai penganut aliran ‘tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini’, aku yakin ada sebuah hikmah yang tersimpan di balik ini. Salah satunya misalnya, aku mendapatkan satu teman lagi yang insya Allah akan selalu mengingatkan aku pada kebaikan. Ah, Engkau menyusun kenangan baru tentang buku -HBB-lamaku. Terima kasih, Mira. Kutitipkan kenanganku padamu. Semoga buku HBB lebih bermanfaat di tanganmu.[] Jelang Ramadhan, Akhir Mei 2016 – 3 Ramadhan.