Sabtu, 12 November 2022

Riza dan Rahasia Tukang Obat: Catatan di Tepi Pementasan Monolog Tukang Obat Karya Y.S. Agus Suseno pada Banjarmasin Art Week 2022

Banjarmasin Art Week 2022 yang digelar oleh Dewan Kesenian Banjarmasin menjadi lengkap dengan hadirnya teater monolog Tukang Obat yang diperankan oleh aktor Riza Akhmad Fahlipi. Agenda BAW yang memilih berlokasi di area siring Menara Pandang menjadikan seluruh agendanya benar-benar dilempar ke ruang publik. Siring Menara Pandang merupakan lokasi yang sangat strategis untuk keramaian di Banjarmasin.




Naskah Tukang Obat dapat ditemukan pada laman pribadi penulisnya, yaitu di datutadungmura.blogspot.com dengan tahun postingan tertulis 2013. Sementara pada naskah tertera tahun 2007 di bagian akhir. Ketika didekati dengan netnografi, inilah yang dapat kita himpun. Naskah ini ternyata pernah dipentaskan juga oleh aktor yang sama dan diposting melalui kanal youtube.

Akan tetapi, kali ini naskah Tukang Obat benar-benar dihadirkan di ruang publik yang nyata. Ketika dihadirkan di ruang publik dengan kesejatian kepublikan yang melingkupinya, maka setting atau pelataran pementasan ini menjadi ambigu seperti dua sisi koin yang saling berebut peluang. Kita tidak tahu apakah yang hadir menonton saat itu benar-benar mengerti bahwa yang ia tonton adalah pementasan sebuah naskah monolog atau jangan-jangan ada yang menganggap itu tukang obat betulan. Keduanya tentu saja memiliki daya tafsir yang saling melengkapi. Untunglah pementasan ini masih dilengkapi pula oleh penatacahayaan yang bagus. Sehingga di sinilah unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra memainkan perannya.



Aktor Riza bermain ditemani ular yang sudah sangat kooperatif. Keberadaan ular sungguhan, Mandau dan sebotol minyak yang ia sebut sebagai minyak timpakul sudah sangat cukup sebagai sebuah pendukung naskah Tukang Obat. Ular-ular tersebut seakan menjadi penyampai pesan bahwa naskah ini memanng ditulis untuk Riza.



Kualitas vokal dan akting Riza membuat pesan di balik naskah ini berhasil disampaikan kepada penonton.

“Minyak timpakul? Ya! Saya ulangi:  m-i-n-y-a-k  t-i-m-p-a-k-u-l. Ya, betul! Anda tak salah dengar. Menurut saudara ipar dari sepupu keponakan istri saya yang makan sekolahan, Djebar Hapip, timpakul itu i-k-a-n  b-u-t-a. Entah apa maksudnya, padahal matanya sebesar mata kodok. Katanya, manimpakul adalah sifat orang yang di mudah berubah, tidak tetap pendirian. Sedangkan timpakul janjan adalah sifat orang yang jelek perilakunya. Tapi itu kata Djebar Hapip! (Ketawa ngakak.). Nah, kalau timpakul tinggal di rawa-rawa, di pinggir sungai atau di kayu apung, ada juga hewan lain yang perilakunya mirip, tapi tinggal di pepohonan. Apa itu? Angui. Saya ulangi: a-n-g-u-i.

….

Nah, berbeda dengan timpakul yang tak ada persamaan namanya dengan binatang sejenis dalam bahasa Indonesia, angui punya, yaitu b-u-n-g-l-o-n. Lalu, menurut Djebar Hapip tadi, angguk angui adalah ungkapan untuk orang yang selalu mengiyakan, tapi kerjanya juga yang jalan.

 

(Perlahan dan hati-hati mengeluarkan botol kecil berisi cairan dari dalam bungkusan kain kuning, meletakkannya di telapak tangan.) Anda lihat? Ini adalah  s-a-r-i-p-a-t-i alias i-n-t-i atawa h-a-k-i-k-a-t jiwa timpakul. Tepat tengah malam Jumat, olesi jari manis Anda dengan minyak ini. Tanpa menarik napas, tekan jari manis Anda ke langit-langit mulut. Selesai. Keselamatan dan kemakmuran menanti Anda. Mengapa? Karena Anda sudah menyatu dengan jiwa timpakul, sudah manimpakul, mambatang timbul! (Ketawa ngakak.)

Manimpakul tidak jelek! Itu cermin kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Kita tahu, timpakul biasanya tinggal di tebing-tebing sungai atau di kayu apung yang hanyut. Bila gelombang datang menyapu tebing atau kayu apung tempat timpakul berada, dengan gesit ia melompat ke tebing atau ke kayu apung lain untuk menyelamatkan diri. Tebing atau kayunya tenggelam, dia tidak. Begitu seterusnya. Nah, kenapa cara bertahan hidup yang luar biasa  itu dimaknai jelek? Apa salah timpakul? (Ketawa ngakak.)

 

Sebuah kritik sosial sedang ditayangkan dalam pementasan dan secara tersurat telah pula hadir dalam naskah. Kutipan di atas, cukup menjelaskan beberapa hal ekstrinsik yang masih relevan dengan masa sekarang. Di mana jiwa-jiwa menimpakul telah menjadi pemyelamat beberapa oranvg dalam hidupnya. Sadar maupun tidak sadar, menimpakul telah menjadi peyelamat Sebagian besar orang.

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar