Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2020

Dalgona Rumahan Simpel Pakai Mixer

10.39 0 Comments
Waktu pertama kali minuman varian kopi bernama Dalgona ini muncul dan viral, aku sudah mencoba bikin dan memposting di status FB. Saat itu, aku membuat menggunakan pengaduk atau pengocok manual. Lumayan lelah hayati, hehe. Lelahnya langsung terbayar setelah bisa dapat satu konten foto yang keren.

Nah, beberapa hari kemarin, paksu pulang bawa Mixer listrik. Anak-anak heboh langsung minta buatkan dalgona yang pakai Mixer. Karena kesibukan aku, hari ini baru bisa mengabulkan permintaan mereka.



Namanya juga dalgona rumahan, jangan bayangkan seideal di kafe-kafe ya.

Bahan yang aku pakai, (sengaja nyebut merk biar teman-teman tahu aku bikin gak seperti orang-orang):

1. 2 sachet susu Zee varian vanilla.
2. 2 sendok sedang kopi Indocafe.
3. 4 sendok makan gula putih.
4. Air dan es batu.

Cara membuat ala aku:
1. Susu seperti biasa diseduh dengan air hangat dan aduk sempurna. Tambahkan air putih dingin. Jika suka manis, tambahkan gula secukupnya. Kalau aku, satu sachet bisa untuk dua gelas.

2. Masukkan es batu ke dalam setiap gelas susu.

3. Mixer kopi dan gula bersama sedikit air.




4. Setelah warnanya mulai coklat muda dan terlihat seperti busa atau buih di lautan (kangen pantai), berarti sudah oke. Btw, karena aku pakai kopi yang bukan kopi merk itu tu.. kayaknya kurang mengembang deh. Aku sih gak terlalu penting soal itu. Yang penting rasanya. Hehe.

5. Setelah selesai, sendokki hasil mixeran kopi dan gula tadi ke setiap gelas. Dalgona siap dinikmati bersama sepotong brownies.




Selamat mencoba ya.


Minggu, 03 Februari 2019

Pepes Telur Asin ala Nai

13.32 2 Comments
Siang ini hari ke sekian aku tak enak hati. Salah satu caraku mengatasinya kali ini adalah dengan bereksperimen macam terjun payung tanpa parasut alias memasak tanpa buku panduan.


Di dapurku ada 3 biji telur asin mentah. Ada tomat, jagung, lombok besar hijau, ramania mentah, bawang merah.



Semua bahan kucuci. Kuiris tipis. Kutaburi garam dan gula secukupnya. Di dapurku tidak ada penyedap, tidak ada MSG, semua aman.

Setelah itu semua bahan yang sudah kuiris tipis tadi kumasukkan dalam daun pisang yang sudah diganggang atau diasap di atas api sebelum dan sesudah telur asin mentahnya dimasukkan. Daun dilipat rapat dan disemat pakai lidi, lalu dikukus dalam api sedang.

Bukan belajar namanya kalau tidak ada kesalahan alias keerorran. Hehe. Namanya juga eksperimenku...

Air dalam panci kukus kebanyakan, hehe. Pepesanku nyaris terendam. Ini kalau ketahuan mertua bisa tercemar nama baik. Wkwkwk.

Tidak lama kemudian...pepes telur asinku dah jadi..


Rasanya sih biasa saja tapi bagiku ini pencapaian luar biasa hari ini. Besok besok eksperimen apa lagi ya?

Senin, 05 Februari 2018

Kuliner Unik Urang Banjar

11.46 14 Comments
Aku sedang terkenang dengan kuliner unik/khas Banjar yang waktu kecil dikenalkan ayah kepada kami. Tidak semua orang Banjar bisa memakannya, lho. Yang suka memakan, biasanya jadi ketagihan, apalagi kalau lagi musimnya seperti sekarang.
Berikut kuliner khas yang kumaksud:



Jaruk Tigaron
Ini adalah kembang tanaman tigaron (tigarun: hulu sungai) yang diasinkan, makanya disebut jaruk tigarun. Rasanya agak pahit asam asam gimanaa gitu, krenyes-krenyes pas digigit. Airnya juga enak disiram di atas nasi putih pas untuk teman makan. Selain mengandung serat, sayur ini juga membuat nafsu makan meningkat. Makan bagian bunga atau pucukannya saja, batangnya jangan, keras, kamu takkan kuat, hehe.

Kalangkala
Ini sejenis buah berbentuk bundar. Warnanya merah muda campur putih krem kalau sudah masak. Hati-hati bijinya cukup besar melebihi isinya. Cara menyajikannya: cuci bersih buahnya, kemudian buang bagian penutup atas tempat tangkai menempel (mirip topinya, hehe). Setelah itu, siram dengan air panas, tabur garam secukupnya. Kalau mau masukkan cabe rawit ke dalam wadah. Diamkan beberapa saat. Kalau ingin awet, gunakan sendok ketika mengambil kalangkala dari wadah.
Cara memakannya: kalangkala lebih enak dimakan pakai nasi. Pencet buah dari bagian bawah ke atas sehingga bagian isi keluar, buang bijinya. Isi kalangkala lebih enak kalau dioles di atas nasi panas. Rasa kalangkala agak sepet-sepet gurih, segar, membuat selera makan meningkat. Hm...yummy! Makan nasi akan terasaa lebih nikmat.


Atas: kalangkala
Bawah: mandai

Mandai
Mandai atau kadang ada yang menyebutnya dami, terbuat dari kulit kedua buah tiwadak (mirip nangka). Buah tiwadak biasanya dimakan langsung atau kadang dijadikan bahan isi gorengan yang disebut guduh tiwadak atau gaguduh tiwadak. Nah, bagian luarnya dipotong sesuai selera, taburi garam, goreng dengan minyak panas.
Kadang ada yang membuatnya menjadi olahan lain seperti ditumis campur bahan lain. Kalau aku lebih suka digoreng begitu saja setelah digarami. Oiya sebaiknya kulitnya jangan dicuci. Kalau kulit ini dicuci bersih-bersih maka rasanya akan berubah menjadi hambar dan kurang enak.
Mandai juga dimakan pakai nasi sebagai lauk. Entah mengandung apa, kalau makan nasi pakai mandai membuat selera makan berlipat.


Sabtu, 16 April 2016

Membuat Kue Brownies Tanpa Oven

14.19 2 Comments


RESEP KUE BROWNIES TANPA OVEN
(Ketika Membuat Kue Semudah Menulis Status)

Aku adalah seorang perempuan yang tidak pandai masak-memasak. Bagiku, lebih baik aku disuruh menulis sebuah esai pendek daripada harus memasak sebuah makanan. Aku hanya bisa memasak makanan wajib saja seperti nasi, sayur sederhana, ikan goreng, tempe goreng, telur dadar, telur ceplok, sop ayam, sop ikan, dan mie instan tentunya!
Nah, kalau cemilan, kue-kue an, aku hanya bisa membuat pisang goreng, lempeng, puding dan bubur kacang hijau. Pernah juga mencoba membuat kue basah khas daerahku, namanya kue amparan tatak pisang. Ini gara-gara suamiku yang sangat suka kue amparan tatak pisang. Tiap pulang kampung, dia selalu minta buatkan kue ini pada ibunya. Penasaran, akupun belajar cara membuat kue tersebut. Tak lupa dengan bekal buku catatan  karena aku tidak pede mencoba resep tanpa ada catatannya. Nanti kapan-kapan aku ceritakan pengalamanku membuat kue amparan tatak pisang. Kali ini aku ingin bercerita tentang kue brownies dulu.
Berawal dari membaca postingan seorang penulis keren di akun facebook-nya tentang resep membuat kue brownies yang terkesan sangat gampang, aku pun menjadi merasa wajib mencobanya. Jadi ceritanya, Mbak Dee juga nemu resep itu di internet. Dia membaca, mencoba, dan menikmati hasilnya….
Beberapa alasan aku merasa wajib mencoba resep tersebut:
1.    Penulis keren itu adalah Mbak Rahmadiyanti Rusdi yang semangat menulisnya tak kalah keren dengan orangnya, lho. Mbak Dee – biasa dia disapa – merupakan salah seorang dedengkot FLP juga. Status-statusnya selain seru, lucu, juga bermanfaat. (Harusnya saya dapat sesuatu nih dari Mbak Dee☺).
2.     Dalam statusnya tentang resep kue brownies tersebut, kalau tidak salah ingat, Mbak Dee menulis sesuatu yang menyiratkan bahwa dia juga tidak terlalu terampil memasak (ampun ya Mbak Dee jika daku salah ingat, hihi..). Inilah yang membuatku tambah semangat. Mbak Dee berani mencoba, mengapa aku tidak?
3.  Dalam resep tersebut tertulis “tidak memerlukan oven”, bahan-bahannya pun mudah dicari. Sebagai pengganti oven, aku hanya memerlukan magic com. Itu tuuh, alat pemasak nasi yang sangat praktis. Kupikir ini pasti sangat gampang.
4.      Kue brownies adalah salah satu kue kesukaan aku dan keluarga.
5.      Pengen jadi perempuan seutuhnya (ini alasan yang ngawur kali yaa).
            Sebelum mencoba resep yang ditulis Mbak Dee, aku berselancar di dunia maya. Berbekal kata kunci “Resep kue brownies” dan “Resep kue brownies tanpa oven” aku menemukan banyak resep yang diposting para pembuat kue handal. Ada juga resep kue brownies serba tiga sendok. Beberapa resep yang mirip ku-screenshoot dan kusimpan. Resep-resep tersebut kubandingkan dengan resep yang diposting Mbak Dee. Aku padu padankan, aku buat rumusan sendiri. Nekat sekali ya aku, padahal seumur-umur belum pernah membuat kue brownies.
            Hari yang tepat untuk membuat kue pun tiba. Pagi itu gerimis lirih menyapa Banjarmasin, bermantel abu-abu aku pergi ke mini market terdekat. Aku membeli beberapa bahan untuk membuat kue brownies. Telur ayam, Susu bubuk Milo 3 in 1 beberapa sachet, gula, keju, mentega atau margarin Blue Band, lalu baking powder. Ya ampun aku tidak tahu yang mana baking powder. Tiba-tiba aku ingat, duluuu banget, aku pernah belajar membuat donat di rumah teman. Ada satu bahan bernama fermivan. Apa itu ya baking powder? Daripada keliru, akhirnya aku putuskan bertanya pada seorang ibu yang saat itu sedang mencari bahan membuat kue juga. Semula dia agak kaget tapi setelah kujelaskan aku sedang belajar membuat kue, dia dengan senang hati membantuku. Hampir saja aku menuju kasir jika saja aku tidak mengingat satu bahan lagi. Tepung! Aku menuju rak tepung. Aduh, ternyata ada berbagai jenis tepung dan berbagai merk tepung. Yang mana yaa? Lagi-lagi ibu tadi yang membantuku. Dia bilang, kalau cuma sedang belajar, pilih tepung yang biasa saja, lebih murah. Aku manggut-manggut sambil mengambil tepung biasa. Tapi setelah ibu itu pergi, aku kembalikan tepungnya. Aku mengambil tepung yang bermerk. Yang menurut iklannya sih tepung bagus. Biarpun cuma belajar, aku ingin hasil yang terbaik. Tapi bagaimanapun terima kasih atas bantuan tadi ya, Bu.
            Sebelum memasak, aku pastikan semua bahan tersedia. Hari itu kebetulan magic com ku sedang kosong. Aku menunda memasak nasi agar aku bisa mencoba resep kue brownies. Sebelumnya aku minta izin dulu dengan suami karena magic itu masih terbilang baru. Dan dia yang membelikan. Aku takut saja kalau-kalau resepku gagal dan terjadi sesuatu dengan magic kami. Rusak misalnya….hehe.
Bahan-bahan membuat brownies tanpa oven

            Aku mencampur semua bahan sambil mataku tak lepas dari layar ponsel tempat aku menyimpan screenshoot resep. Tiba-tiba upps..ponselku mati. Aku panik. Ponselku ini sudah mulai eror. Kalau habis baterainya, memerlukan waktu yang sangat lama untuk menge-charge. Bagaimana ini ? aku kan tidak hafal cara membuatnya? Sambil panik, aku terus memasak.
            Saat yang mendebarkan adalah saat memasukkan adonan ke dalam magic com. Setelah mencolok kabel dan menekan tombol on, aku menunggui sambil harap-harap cemas. Tidak lama, ada bunyi, lalu lampu “cooking” mati berganti “Warming”. Aku pun membuka tutupnya. Hah?! Kue ku belum matang. Kutekan lagi tombol “cooking” . Kejadian terulang lagi seperti semula. Kueku belum matang juga. Kucoba lagi menekan tombol cooking. Eh, tidak mau. Aku gugup sekali. Takut magic-ku rusak. Lalu kabelnya kucabut. Kuulang kembali, eh ternyata bisa! Aku lupa sampai berapa kali aku melakukan itu. Yang jelas, akhirnya kueku matang juga.
            Keempat anakku heboh. “Wuih…mama kita bisa bikin kue!”
            “Kita bikin yang banyak, Ma! Kita jualan, Ma!” teriak salah seorang anakku.
            Ini momen yang sangat berharga buatku. Ada rasa haru, bangga, girang, semua campur aduk. Aku sudah jadi perempuan beneran saudara-saudara..hihihi.
            “Eiits, sebelum dipotong-potong, kita foto dulu kuenya.” Untunglah ponselku kembali menyala, aku bisa memotretnya sebelum browniesku diserbu anak-anakku. Semua menyukai kue buatanku. Aku sangat berterima kasih pada pembuat resep itu, iya, kepada-siapapun orang pertama yang menemukan atau menciptakan resep gampang itu. Aku juga berterima kasih pada Mbak Dee. Selama ini, begitu banyak resep yang di-posting teman-teman di facebook, baru resep di status Mbak Dee ini yang membuatku tergoda untuk mencobanya.  Baru kali ini aku berpikir, betapa mudah membuat kue, semudah menulis status di facebook☺