Senin, 13 April 2020
Strategi Jitu Kelola Uang bagi Anak Kost
Oleh Nailiya
Nikmah
Situasi tertentu seperti rumah yang jauh dari tempat menimba ilmu akan
membuat seseorang harus menyewa rumah atau kamar untuk tempat tinggal sementara
dan menjalani hidup sebagai anak kost. Menjadi anak kost memerlukan seni tersendiri
dalam hidup. Kemandirian dalam segala hal sangat diperlukan agar survive menghadapi segala kemungkinan
yang ada.
Anak kost harus bisa membawa diri di tengah lingkungan baru yang bisa saja
berbeda adat dan tradisi dari tempat asal. Ia juga harus pandai mengurus
keperluan dirinya sendiri dari bangun tidur hingga tidur lagi. Anak kost harus
pandai memanajemen waktu karena tidak ada lagi yang akan mengingatkan ketika ia
lalai dari tugas. Anak kost juga harus selektif memilih lingkungan pergaulan
karena sudah tidak ada lagi pengawasan orang tua secara langsung. Lebih dari
itu, yang tidak kalah penting adalah anak kost harus terampil mengelola
keuangan.
Pada umumnya anak kost mendapatkan uang sekali sebulan dari orang tua atau
walinya. Uang tersebut bisa ditransfer maupun diantar langsung oleh orang tua
atau diambil oleh anak ketika pulang kampung dalam waktu tertentu. Diperlukan
strategi untuk mengelola uang tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan seperti kehabisan uang jauh sebelum tiba waktu pengiriman berikutnya.
Berikut ini beberapa strategi jitu mengelola keuangan bagi anak kost:
1.
Meletakkan biaya sewa kamar di urutan
pertama daftar anggaran
Sebagai
anak kost, pengeluaran wajib yang utama adalah membayar sewa kamar (dengan
catatan biaya kuliah/SPP tidak termasuk dalam uang bulanan). Uang untuk
membayar kost tidak boleh dipakai untuk keperluan lain karena menunggak
pembayaran kost bisa berakibat fatal. Bagi anak kost, tidak punya tempat
tinggal akan berpengaruh pada stabilitas hidup dan ini bisa mengganggu studi.
2.
Menyusun rencana menu makan selama satu
bulan beserta biaya yang diperlukan
Salah satu strategi pengelolaan keuangan anak kost
adalah dengan menyusun menu makan selama satu bulan beserta anggaran biayanya.
Kita perlu melakukan analisis perhitungan mana yang lebih efektif dan efisien
antara memasak sendiri dengan membeli yang sudah jadi. Memasak sendiri tidak
selalu lebih efektif dan efisien. Terutama pada tahap awal yang memerlukan
banyak penyesuaian. Yang perlu diingat adalah makan untuk hidup bukan untuk
gaya hidup.
3.
Mengurangi kebiasaan ngemil
Anak kost
biasanya menumpuk makanan (snack) dan
minuman ringan (soft drink) dalam
kamar dan mengonsumsinya terus-menerus di sela waktu makan utama. Selain tidak
baik untuk kesehatan, kebiasaan tersebut juga membuat pengeluaran bertambah.
Ini bisa diganti dengan kebiasaan minum air putih serta pola makan yang
teratur. Bawalah botol minum kemanapun kita pergi. Bawalah bekal makan siang
jika jadwal kuliah sangat padat dan tidak memungkinkan untuk pulang sehingga
kita tidak tergoda untuk membeli soft
drink dan yang lainnya sebagai penunda lapar.
4.
Mengutamakan keperluan kuliah di atas
keperluan lainnya
Selain
urusan bayar kuliah, masih banyak pengeluaran lain terkait keperluan kuliah
misalnya membeli alat tulis dan buku kuliah, mengopi diktat, mencetak dan
menjilid laporan tugas, iuran organisasi, dan sebagainya. Keperluan-keperluan ini
harus diutamakan sebelum kita berpikir untuk melakukan pengeluaran lain yang
sifatnya hanya untuk kesenangan dan gaya hidup seperti nongkrong di tempat hiburan bersama teman setiap pulang kuliah atau
membeli baju model terbaru padahal baju lama masih layak pakai.
5.
Mengatur pengeluaran untuk kuota internet
Di era
sekarang, kebutuhan terhadap kuota internet bagi seseorang hampir setara dengan
kebutuhannya terhadap makanan. Jika tidak dikelola dengan baik, pembelian paket
kuota internet akan sangat mempengaruhi keuangan anak kost. Lakukan upaya-upaya
penghematan dan pergunakan kuota dengan bijak.
6.
Melakukan penghematan dengan mencuci dan
menyetrika baju sendiri
Kadang-kadang
anak kost malas mencuci bajunya sendiri. Tidak jarang, ada yang menumpuk baju
kotor di kolong tempat tidur atau menggantungnya di dinding kamar sampai tidak
tersisa lagi satupun baju bersih untuk
dipakai. Tumpukan baju kotor yang menyerupai anak gunung membuat anak kost
putus asa lalu mengantarnya ke tempat laundry. Tentu saja Ini akan menambah daftar
pengeluaran. Aturlah jadwal mencuci dan menyetrika baju sendiri secara berkala
sebelum menumpuk di dalam kamar.
7.
Menyimpan 25% dari uang bulanan sebagai
cadangan
Anak kost
sebaiknya melakukan pencadangan dana. Kita tidak tahu apa yang terjadi di bulan
berikutnya. Sisihkan dan simpanlah setidaknya 25% (kalian bisa menyesuaikannya)
dari uang bulanan sebagai dana cadangan. Dana ini tidak boleh dipakai kecuali
keadaan darurat.
8.
Mencoba peluang beasiswa
Sebagai student/mahasiswa, kita memiliki
peluang untuk memperoleh beasiswa. Rajinlah mengikuti informasi dari pihak
kampus termasuk info beasiswa dan cobalah setiap peluang yang ada. Jika
beruntung dan berhasil mendapatkan beasiswa, ini akan sangat membantu keuangan
kita. Kalaupun uang bulanan kita sudah lebih dari cukup, kita bisa menabung/menyimpannya
sebagai investasi.
9.
Mulai usaha kecil-kecilan sebagai tambahan
keuangan
Jika kita
kreatif, kemajuan teknologi memberi banyak kesempatan untuk kita melakukan
usaha kecil-kecilan yang dapat menambah pemasukan. Tentu saja ini dilakukan
tanpa menomorduakan urusan studi. Pilih kegiatan usaha yang tidak mengganggu
studi. Jadikan teman-teman dan lingkungan studi sebagai bagian dari kemajuan
usahamu.
10. Memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang receh/koin
Uang
receh/koin sebagai bagian dari uang kembalian seringkali mengisi cukup banyak
dompet atau tas. Tidak jarang ada yang sembarangan menaruhnya, berceceran di
area kamar kost. Sebaiknya kita memiliki tempat khusus untuk mengumpulkan dan
menyimpan uang receh/koin. Saat diperlukan, kita dengan mudah mengambilnya.
Jika tidak digunakan, ini akan menjadi tabungan. Nah, selamat mencoba! [] Nai
Jumat, 20 Maret 2020
Ditetapkannya corona
sebagai pandemi oleh WHO, membuat berbagai kebijakan dikeluarkan oleh
pemerintah yang wilayahnya telah terdapat kasus covid-19. Berbagai spekulasi
dan persepsi bertebaran di media. Semua berusaha belajar dari China dan Italia.
Masyarakat mulai lebih melek setelah Arab Saudi (KSA) menutup akses umrah bagi
sebagian besar negara yang terdapat kasus covid-19. Indonesia yang semula nyaris membusungkan
dada karena nol kasus, nyatanya harus mengambil langkah juga setelah diumumkan
secara resmi oleh presiden tentang adanya pasien 01 dan 02.
Masyarakat yang lebih dulu
paham, mulai melakukan edukasi di media-media yang mereka punya. Hingga
sampailah Indonesia pada fase menerapkan 14 hari di rumah alias work from home (WFH) untuk menekan angka
penyebaran virus ini. Hal ini menimbulkan efek ke berbagai hal, di antaranya dalam
dunia pendidikan. Kampus-kampus mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh,
melarang kegiatan yang menimbulkan potensi berkumpulnya orang-orang bahkan
menunda kegiatan penting yang sebelumnya sudah direncanakan hingga akhir Maret 2020.
Sebagai pengajar, aku turut
merasakan dampaknya. Kami harus kreatif melakukan pembelajaran dari jarak jauh.
Aku di rumahku. Mahasiswaku di rumahnya masing-masing. Berbagai aplikasi dan
platform yang ada aku coba. Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan
pembelajaran elektronik (e-learning). Aku pernah menggunakan edmodo dan google
classroom serta sarana e-learning yang telah disediakan kampusku. Hanya saja beberapa aplikasi masih ada yang
aku belum terampil menggunakannya. Ini yang aku coba dalam situasi sekarang.
Hari pertama
Aku nekat menggunakan
aplikasi zoom meeting cloud, meski sebelumnya aku hanya pernah berperan sebagai
peserta sebuah teleconference dengan
aplikasi ini. Tepat pada hari dan jam perkuliahan aku mengunduh aplikasi
tersebut di laptop. Mahasiswaku juga sudah kuberitahu di grup WA. Aku membagi
password dan meeting ID agar mahasiswaku bisa bergabung.
Pengalaman pertama sungguh
lucu dan membuat aku ternganga. Aku bersiap seperti biasa. Mandi, berbaju
kerja, berias muka, memakai jam tangan, dan tetap berparfum. Bagiku itu penting
untuk membangun suasana kerja. Ya, aku kan mau mengajar. Hehe. Jam
perkuliahanku ada di jam pertama. Ternyata, mahasiswaku rata-rata baru bangun
tidur. Mereka masih awut-awutan. Aku yakin mereka belum mandi. Kumaafkan karena
ini hari pertama dan salahku juga tidak membuat aturan sebelumnya.
Pesanku, buatlah aturan dan kesepakatan sebelumnya tentang ini. Penampilan harus tetap dijaga. Berpakaian rapi dan sopan selayaknya peserta kuliah.
Hari Kedua
Aku sudah memberitahu
mahasiswaku agar berpakaian rapi dan sopan sebelum mengaktifkan kamera. Hari
ini lebih baik meski masih ada beberapa yang sepertinya cuma cuci muka. Ada
beberapa orang yang gagal join entah
apa masalahnya.
Di tengah PBM, aku
tiba-tiba kehilangan akses. Ya ampun, ternyata hp yang kupakai untuk teathring
kuota kehabisan batrai. Setelah kuisi baterai, aku gagal masuk room lagi.
Akhirnya PBM kulanjutkan di grup WA.
Pesanku di hari kedua: Cek baterai selalu, jangan sampai putus di tengah jalan
Hari Ketiga
Persiapanku lebih matang.
Mahasiswaku juga telah melakukan simulasi sebelumnya. Malamnya aku juga sudah
membuat kelas-kelas di google classroom buat jaga-jaga. Materi sudah kukirim.
Penjelasan bisa lebih efektif dan selesai hampir tanpa gangguan berarti. Mahasiswa
komen berebut, ada suara lain yang masuk, dan semua terhenti atas kesadaran
mereka sendiri mematikan mikrofon.
Tiba-tiba aku kehilangan
akses padahal baterai masih ada, mahasiswaku ramai chat di grup wa, “Kami
keluar sendiri, Bu.”
Pesanku di hari ketiga: kenali, pelajari dan teruslah berusaha menguasai aplikasi yang kamu pilih
Rupanya waktu yang disediakan
zoom sudah habis, alias 40 menit gratisan sudah berakhir. Untunglah materi
memang sudah selesai dan sudah sempat tanya jawab. Hari ini, aku tidak
memberikan tugas. Setahuku, dosen lain sudah banyak yang memberi mereka tugas.
Kasihan juga, kan?
Pekan Kedua
Aku mulai lebih memahami aplikasi tersebut (Begitu juga dengan mahasiswaku hehe- pastilah mereka ada yang iseng dan mengakal. Cari saja lelucon seputar ini. Banyak berhamburan di dunia maya). Ada banyak tools yang bisa digunakan. Aku bisa mengajar sambil menjalankan slide PPT; sambil menulis-nulis di layar; sambil mempelajari manajemen personalnya. Aku juga mulai menyadari ada beberapa bagian dari materi yang harus ku-setting ulang. Ada tugas-tugas yang harus direvisi; ada pencapaian-pencapaian yang akan diminimalkan.
Pekan Ketiga
Aku mulai mengurangi power, menghemat energi. Ternyata WFH kami tidak cukup dua pekan. Akupun mulai yakin, WFH ini akan berlangsung masih sangat lama. Aku benar-benar serius memikirkan PBM dan ketercapaiannya. Sekali lagi, jangan terlalu memberatkan, baik diri sendiri maupun mahasiswa.
Pekan Keempat
Aku memberikan opsi-opsi kepada mahasiswaku. Mereka boleh me-request hendak PBM menggunakan aplikasi apapun. Masih ada kelas yang menyukai zoom; ada kelas yang minta menggunakan WA; ada yang meminta menggunakan google classroom. Apapun, akan kuterima, asal mereka tetap semangat belajar. Sayangnya, di tiap kelas ada saja yang absen. Bukan apa-apa, mereka ternyata pada pulang kampung alias mudik. Terus, di kampung tidak ada sinyal. Ya, gitu deh.
Oiya, sejak pekan kedua aku sudah mulai merekam sebagian pertemuan kami. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin menyimpannya sebagai sebuah kenangan, sebuah dokumen. Seperti halnya tulisan receh ini, aku hanya ingin meninggalkan jejak digital tentang secuil peranku dalam perjuangan manusia menghadapi covid-19.
Jika kamu membacanya, terima kasih telah singgah di rumahku.[]Nai
Pekan Kedua
Aku mulai lebih memahami aplikasi tersebut (Begitu juga dengan mahasiswaku hehe- pastilah mereka ada yang iseng dan mengakal. Cari saja lelucon seputar ini. Banyak berhamburan di dunia maya). Ada banyak tools yang bisa digunakan. Aku bisa mengajar sambil menjalankan slide PPT; sambil menulis-nulis di layar; sambil mempelajari manajemen personalnya. Aku juga mulai menyadari ada beberapa bagian dari materi yang harus ku-setting ulang. Ada tugas-tugas yang harus direvisi; ada pencapaian-pencapaian yang akan diminimalkan.
Pesanku di pekan kedua: Jangan terlalu serius, kendorkan sedikit agar kita tetap waras
Pekan Ketiga
Aku mulai mengurangi power, menghemat energi. Ternyata WFH kami tidak cukup dua pekan. Akupun mulai yakin, WFH ini akan berlangsung masih sangat lama. Aku benar-benar serius memikirkan PBM dan ketercapaiannya. Sekali lagi, jangan terlalu memberatkan, baik diri sendiri maupun mahasiswa.
Pekan Keempat
Aku memberikan opsi-opsi kepada mahasiswaku. Mereka boleh me-request hendak PBM menggunakan aplikasi apapun. Masih ada kelas yang menyukai zoom; ada kelas yang minta menggunakan WA; ada yang meminta menggunakan google classroom. Apapun, akan kuterima, asal mereka tetap semangat belajar. Sayangnya, di tiap kelas ada saja yang absen. Bukan apa-apa, mereka ternyata pada pulang kampung alias mudik. Terus, di kampung tidak ada sinyal. Ya, gitu deh.
Pesanku di pekan keempat: Jika sudah pulang kampung, sudahlah, relakan saja mereka.
Oiya, sejak pekan kedua aku sudah mulai merekam sebagian pertemuan kami. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin menyimpannya sebagai sebuah kenangan, sebuah dokumen. Seperti halnya tulisan receh ini, aku hanya ingin meninggalkan jejak digital tentang secuil peranku dalam perjuangan manusia menghadapi covid-19.
Jika kamu membacanya, terima kasih telah singgah di rumahku.[]Nai
Selasa, 25 Februari 2020
Puan dan Cinta yang Kehilangan Tuan
(Catatan Pementasan
Asih dan Nuri dan Setangkai Mawar (NdSM))
Oleh Nailiya
Nikmah JKF
Prolog
23 Februari 2020 menjadi tanggal penting bagi Kalimantan Selatan, khususnya
kota Banjarmasin dengan terselenggaranya proyek Puan oleh Sanggar Anam Banua.
Sebuah proyek yang saya tengarai diniatkan untuk bercerita tentang perempuan.
Perempuan secara universal. Tidak peduli siapapun dan apapun keadaan serta
latar belakang kehidupannya. Setidaknya itu yang bisa kita tangkap dari dua
judul pementasan. Dikerjakan oleh lebih dari 65% perempuan, sebuah produksi
yang dipimpin oleh Rosy memberi satu makna, betapa perempuan dan laki-laki bisa
menjadi mitra, rekan, relasi, tim, partner, teman dalam dunia teater.
“Kami tidak sedang menyampaikan kesedihan atau penderitaan atau kelemahan kaum
perempuan.” Kurang lebih demikian janji penasehat Sanggar Anam Banua – Riza Rahim
dalam sambutannya sebelum pementasan Asih
dan Nuri dan Setangkai Mawar (NdSM). Lalu
kitapun berteka-teki, kisah macam apakah jika bukan kesedihan dan penderitaan
yang akan dipersaksikan? Inilah catatan kecil saya, seorang penikmat teater,
usai menjadi saksi keistimewaan Puan.
Bagian 1
Naskah pertama yang dipentaskan pukul 16.00 berjudul Asih. Asih ditulis dan
disutradarai oleh Elma Salpiani - seorang puan yang jelita. Asih menawarkan kisah kuasa perempuan dibalik
kelemahan dan keluguan seorang Asih. Seorang janda yang menghidupi anak
perempuannya (Yarti) dan menantunya (suami Yarti) dengan cara memulung. Sebagaimana
alur kehidupan yang selalu berpasangan, malam dan siang, bulan dan bintang,
baik dan jahat, seperti itu pula yang terdapat dalam Asih. Asih sebagai tokoh baik berpasangan dengan tokoh Yarti sebagai
tokoh jahat. Dengan itulah hidup terus berjalan. Orang jahat ada untuk menguji
kebaikan orang baik. Orang baik ada untuk menerangi jalan orang jahat.
Tidak muluk-muluk yang diperjuangkan Asih. Ia hanya tidak ingin kehilangan
peluang dan kesempatan untuk memberikan sebanyak-banyaknya cinta kepada Yarti,
anak perempuannya yang berparas menawan sehingga apapun titah Yarti akan selalu
ia penuhi. Sayangnya, Yarti bukan anak yang tahu balas budi. Keadaan ibunya (digambarkan
dengan fisik tidak menarik dan kepribadian polos, lugu, jenaka) membuat ia
berpikir bahwa ibunya adalah semacam kutukan dan pembawa sial dalam hidupnya. Yarti juga sering menghubungkan kematian ayahnya dengan kebenciannya terhadap Asih. Hati
Yarti yang sempit menambah segala kesulitan hidup mereka menjadi lebih berat. Ia
adalah anak sekaligus istri yang pemarah dan pengeluh. Memiliki ibu dan suami
yang penyayang tidak serta-merta membuat Yarti bersyukur. Ia tak pernah berhenti
mengutuk keadaan, meminta ini-itu kepada suami dan ibunya sendiri. Hingga suatu
hari suami Yarti ditangkap polisi dan masuk penjara karena mencuri. Selama suaminya
dipenjara, Yarti berselingkuh dengan beberapa laki-laki. Keluguan dan kecintaan Asih
pada Yarti membuat ia memilih diam meski menyaksikan perilaku Yarti dengan mata
kepalanya sendiri.
Kegamangan Elma
Sebuah cerita biasanya memiliki sentral atau fokus cerita. Dalam Asih saya meragukannya. Meski kisah ini
diberi judul Asih, Elma tidak benar-benar
fokus hanya kepada tokoh Asih. Saya berhipotes bahwa Asih yang dimaksud dalam
judul ini bukan Asih sebagai nama tokoh melainkan asih dalam makna yang luas dari kata tersebut. Jika hipotesis saya
salah, maka inilah hal lain itu. Saya menyebutnya kegamangan yang positif. Cerita
Asih tidak fokus. Elma gamang memilih mana yang akan ditonjolkan. Asih atau
Yarti. Semacam sebuah
pengakuan bahwa perempuan dalam kacamata Elma tidak selalu bersih dan berhati
malaikat. Barangkali pula, inilah kejujuran Elma dalam berkarya. Inilah perempuan
dalam bingkai seorang Elma. Terima kasih, Elma.
Bagian 2
Naskah kedua yang dipentaskan pukul 20.00 adalah NdSM karya Ahmad Yamani
disutradarai oleh Normasari. NdSM berkisah tentang seorang perempuan tuna
susila bernama Nuri. Ia menjadi perempuan tuna susila setelah pernah dijual
oleh suaminya sendiri. Ia juga menjadi tokoh yang dicari-cari polisi atas kasus
pembunuhan yang tidak pernah ia lakukan. Kehidupan yang menjelma neraka tidak
lantas membuat ia abai terhadap tanggung jawabnya sebagai seorang manusia untuk menjadi berguna bagi sesama. Di mata
anak-anak yang ia asuh, Nuri adalah ibu yang baik. Sama seperti ibu-ibu lain di muka
bumi ini.
NdSM dan Ruh Lelaki di Dalamnya.
Dalam buku Teori Drama dan Pembelajarannya disebutkan bahwa untuk menulis
naskah drama, pengarang memiliki gaya ekspresi verbal dalam menyampaikan
gagasan. Ekspresi verbal merupakan teknik yang dipilih penulis dalam menyajikan
dialog-dialog naskah drama. Ada tiga jenis gaya penggunaan ekspresi verbal
dalam penyajian isi cerita, yakni gaya
percakapan, gaya puisi dan gaya lirik (Pratiwi dan Frida, 2014).
Gaya percakapan merupakan gaya pengembangan dialog dengan
memanfaatkan ciri-ciri bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari
masyarakat di tengah masyarakat yang disesuaikan dengan ciri budaya bahasa
lisan masyarakat yang dikisahkan dalam naskah. Meski sudah ada istilah
perempuan tuna susila dalam bahasa Indonesia yang dimaksudkan untuk memperhalus
– istilah pelacur merupakan istilah
yang lebih bersesuaian dengan gaya percakapan dalam NdSM. Tidak hanya istilah
pelacur, beberapa istilah lain seperti burung
yang kecil juga merupakan bagian dari gaya ini.
Beberapa adegan yang menjurus kepada hubungan seksual memberikan gambaran
betapa NdSM sangat laki-laki. Ia adalah suara lelaki tentang kebutuhan lelaki. Bahwa
cinta nomor sekian setelah seks. Meski diucapkan oleh Nuri – tokoh perempuan- “Tahi
kucing dengan cinta!” atau “Persetan dengan Cinta” atau kalimat semisal itu,
kalimat itu bukan kalimat perempuan. Sejatinya, kalimat tersebut adalah kalimat
laki-laki yang dititipkan melalui Nuri. Adapun Ujang, barangkali dia anomali. Barangkali
pula, ia adalah sebuah pembelaan bahwa tidak semua laki-laki pragmatis, bahwa
tidak semua laki-laki jahat.
Maka demikianlah, meski disutradarai oleh perempuan dan produksinya dipimpin
oleh seorang perempuan, ruh Ahmad Yamani – ruh lelaki mendekam dalam NdSM. NdSM
menjadi semacam media bagi Yamani untuk menyampaikan harapannya tentang
perempuan yang ideal. Bahwa perempuan, sejauh apapun ia berjalan, ia tetaplah
seseorang yang memiliki sisi pengasih dan pengasuh. Tentu saja, Yamani harus
berterima kasih kepada sutradara perempuannya yang telah menafsirkan naskahnya dengan baik.
Bagian 3
Asih dan NdSM: Puan dan Cinta yang Kehilangan Tuan
“Kamu tidak tahu rasa sakit yang kualami,” berkali-kali Yarti mengatakannya
setelah ia tertangkap basah oleh Acil sebelah rumahnya ketika berbuat tidak
senonoh. Rasa sakit seperti apa yang dimaksud Yarti sebenarnya sehingga ia
berpikir dapat menjadikannya sebagai pembelaan terhadap perilakunya. Kesepiankah?
Kekurangan materikah? Kesulitan hidupkah? Tidak digambarkan secara eksplisit
bahwa Yarti melakukannya demi uang sebagaimana Nuri dalam NdSM.
Jika Nuri berpikir cinta sudah tidak penting dalam salah satu dialog di
NdSm, sekarang tengoklah Yarti dalam Asih.
“Aku mencintai suamiku,” tangis Yarti. Lantas, cinta macam apa yang bisa
membuat seorang perempuan bisa melayani laki-laki lain? Serumit itukah cinta
untuk dijelaskan?
Yarti dan Nuri, dua puan yang sama-sama cintanya tak bertuan saat mereka
melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Yarti kehilangan separuh jiwanya
setelah ayahnya tiada, lalu kehilangan arah setelah suaminya dipenjara. Nuri kehilangan
rasa hormatnya terhadap laki-laki setelah suaminya tidak menghargai cintanya. Ia
memandang laki-laki tak lebih sebagai sosok yang diperbudak nafsu. Cinta yang kehilangan tuannya, membuat Nuri dan
Yarti memilih jalan yang keliru.
Epilog
Menjadi baik, lebih baik
Puan, 23 Februari 2020 telah berhasil mengungkapkan dunia perempuan dengan
segala kelebihan dan kekurangannya. Sebagai sebuah naskah drama - sebagai
bagian karya sastra yang tidak hanya menghibur tapi juga mendidik, dua naskah
Puan berujung pada satu simpul yang sama: menjadi
(perempuan) baik, lebih baik. Pada akhir cerita, Yarti menyadari
kesalahannya setelah diguyur sebaskom air oleh Asih. Ending yang terlalu
sederhana sepertinya tapi begitulah hidup. Seringkali penyelesaian-penyelesaian
terhadap masalah yang kita hadapi datang dengan cara yang tidak kita sangka dan
perhitungkan. Nuri menyerahkan diri kepada polisi untuk memberi keterangan
lengkap setelah menitipkan sang anak pada Ujang. Ia juga melabuhkan hati pada
lelaki baik itu. Jika penonton jeli, Bi Ijah (mantan perempuan tuna susila
dalam NdSM) beberapa kali bilang bahwa hidup adalah pilihan. Nuri bisa saja berargumen
ia menjadi pelacur karena nasib,
bukan kehendaknya. Akan tetapi Nuri dan Yarti dan perempuan manapun di muka bumi
ini punya hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri yang jauh lebih baik. So, move on -lah para puan.[] Nai
Special for my friend Elma: Dear,
Elma. Congratulation for Asih. Reward ur self!
Kamis, 06 Februari 2020
Nailiya Nikmah
14.50
0 Comments
Mengelola Keuangan Menjelang Usia 30*
Oleh Nailiya Nikmah
Uang memang bukan segalanya, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa dengan
uang kita bisa melakukan banyak kebaikan. Uang yang dikelola dengan rapi tidak hanya
mendatangkan manfaat bagi pemiliknya di masa sekarang tapi juga berguna untuk
masa yang akan datang. Sayangnya, tidak semua orang menyadari pentingnya
keterampilan mengelola keuangan pribadi. Terlebih bagi mereka yang sudah berada
pada fase mapan alias berpenghasilan tetap dan mandiri. Kadang-kadang kemapanan
membuat seseorang terlena dan menjadi tidak bijak dalam hal pengelolaan dan
perencanaan keuangan.
Sebuah artikel dalam Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis Vol. 7 No. 2 September
2007 menyebutkan terdapat 11 alasan mengapa perencanaan keuangan perlu
dilakukan oleh individu maupun keluarga, yaitu untuk melindungi diri sendiri
dan keluarga dari berbagai risiko yang berdampak secara financial (seperti kecelakaan, penyakit, kematian, dan tuntutan
hukum); mengurangi hutang-hutang pribadi/keluarga; membiayai kehidupan saat
tidak lagi berada dalam rentang usia produktif; ini berkaitan dengan naiknya
tingkat ekspektasi hidup rata-rata manusia di suatu negara; membayar
biaya-biaya yang diperlukan untuk membesarkan anak; menyediakan biaya
pendidikan anak sampai ke jenjang yang tinggi; membayar biaya pernikahan;
membeli kendaraan; membeli rumah; mampu menentukan masa pensiun dengan gaya
hidup yang kita inginkan; membayar biaya-biaya perawatan yang bersifat jangka
panjang, dan mewariskan kesejahteraan kepada generasi berikutnya.
Meski kenyataan di lapangan bervariasi, dalam hitungan normal, seseorang
memasuki fase mandiri dalam hal ekonomi pada usia 23 ke atas, dengan asumsi
mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah strata 1. Pada tahap awal memasuki fase
ini, seseorang cenderung menggunakan seluruh gaji atau penghasilannya untuk
keperluan jangka pendek saja. Selain itu, mereka tidak membuat perencanaan
keuangan yang baik dan benar. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, tanpa
disadari seseorang akan mengalami kerugian finansial di masa depannya. Oleh
sebab itu, kita perlu mengatur cashflow keuangan
pribadi.
Nah, bagi yang akan memasuki usia 30 tahun, beberapa tips mengelola
keuangan berikut ini bisa dicoba, yaitu:
1.
Melakukan pencatatan pengeluaran
Untuk melakukan perencanaan keuangan, langkah pertama
yang harus dilakukan adalah mencatat pengeluaran rutin yang dilakukan setiap
bulannya. Dari sini kita bisa mengidentifikasi apa saja kebutuhan kita dan
seberapa besar dana yang kita keluarkan setiap bulan. Kita bisa mengenali mana
pengeluaran rutin dan lainnya.
2.
Menyusun rencana anggaran berdasar skala prioritas
Di era sekarang, kemajuan di bidang teknologi dan
informasi membuat kita setiap saat dikepung promo belanja online. Hal ini juga diperparah oleh tekanan gaya hidup. Tidak
jarang, kita membeli sesuatu hanya karena tergiur iklan tanpa menganalisis
seberapa urgen produk tersebut untuk dibeli. Langkah kedua dalam mengatur
keuangan adalah menyusun anggaran atau budgeting
berdasar skala prioritas. Usia 30 ke atas adalah fase seseorang merasa mapan
lalu merasa sah-sah saja membeli barang-barang mewah yang sebenarnya tidak
dibutuhkan. Jadi, kita harus melatih diri untuk membedakan mana kebutuhan, mana
keinginan. Setelah itu, kita bisa membagi kelompok kebutuhan berdasar 3 klasifikasi, yaitu kebutuhan primer, sekunder dan tersier.
Bagi yang sudah menikah dan bekeluarga, anggaran
pendapatan dan belanja keluarga (APBK) merupakan hal utama dari sebuah
perencanaan yang baik dan efektif. Anggaran yang diperhitungkan secara benar
akan memaksimalkan pencapaian sasaran maupun tujuan keuangan jangka panjang di
tengah keterbatasan pendapatan.
3.
Mulai memiliki investasi dan tabungan
Banyak alternatif investasi dan tabungan yang ditawarkan.
Pertimbangkan alternatif instrumen yang memang kita butuhkan dan kuasai.
Investasi saham dan emas misalnya, harus benar-benar kita pelajari peluangnya
sebelum memutuskan salah salah satunya sebagai pilihan. Sisihkan 20% dari
penghasilan untuk langkah ketiga ini. Alangkah baiknya jika kita memiliki
beberapa pos tabungan khusus sesuai keperluan, misal tabungan khusus untuk
persiapan pergi haji bagi muslim; tabungan persiapan untuk menikah, dsb. Bahkan
tabungan yang terdiri atas uang receh yang sepertinya tidak berguna akan
menjadi sangat berguna suatu saat kelak.
4.
Mencari pendapatan tambahan
Meski kita sudah memiliki penghasilan atau pendapatan dari
suatu pekerjaan tetap, ada baiknya kita memiliki pemasukan lain. Kita bisa
mencoba usaha sampingan yang tidak mengganggu pekerjaan utama, misalnya mencoba
usaha online bagi karyawan kantoran.
Usaha ini tidak memerlukan modal besar dan tidak memerlukan tempat khusus.
5.
Mengatur batas hutang
Sebaiknya kita menghindari berhutang. Jika tidak dapat
menghindarinya, kita harus mengatur batas hutang kita. Sebuah teori menyebutkan
bahwa total jumlah cicilan hutang kita setiap bulan tidak boleh melebihi 30-35%
penghasilan. Ini bisa dijadikan salah satu patokan kita dalam mengatur limit
hutang. Selain itu, milikilah kesadaran untuk segera melunasi hutang-hutang
agar tidak membebani.
6.
Menyiapkan dana pensiun
Mungkin ada yang beranggapan usia 30 masih jauh untuk
pensiun dari dunia kerja sehingga menganggap persiapannya tidak terlalu
penting. Pemikiran ini sebenarmya keliru. Persiapan dana pensiun justru harus
dilakukan sedini mungkin. Saat pensiun, akan banyak perubahan dalam hidup kita
termasuk kita akan kehilangan begitu banyak penghasilan dari sebelumnya. Jika
kita tidak siap dengan perubahan ini, kita bisa saja akan shock dan panik ketika menjalaninya.
7.
Memiliki asuransi
Terlepas dari hal-hal yang kurang mengenakkan terkait
asuransi, memiliki asuransi termasuk salah satu trend hidup yang pada salah
satu kondisi tertentu akan sangat membantu kita. Sebelum memutuskan, pelajari
agar tidak mengalami kerugian. Jika perlu, berkonsultasilah dengan ahlinya.
8.
Meningkatkan skill
Menjelang usia 30, kita harus tetap meningkatkan skill, termasuk skill mengelola keuangan. Banyak cara untuk meningkatkan skill misalnya dengan rajin membaca, mengikuti
seminar atau pelatihan serta menonton tayangan-tayangan yang bermuatan edukasi.
9.
Membiasakan diri mengeluarkan dana sosial (:kegiatan
amal, zakat, sedekah, infak dll)
Memiliki uang yang banyak bukan satu-satunya kebahagiaan.
Jika ingin meraih kebahagiaan yang hakiki, langkah terakhir ini paling efektif
untuk dilakukan. Secara psikologis, menolong orang lain akan membahagiakan diri
sendiri. Setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain sejatinya akan
kembali kepada kita. Dipandang dari kacamata agama, kegiatan semacam ini tidak
akan membuat kita miskin tetapi justru sebaliknya.[]
*pernah dimuat
di Harian Banjarmasin Post dengan proses penyuntingan oleh redaksi
Sabtu, 14 Desember 2019
Pengenalan Budaya Lokal
Ini adalah rangkuman materi yang pernah aku
sampaikan dalam sebuah acara di sebuah kampus bertajuk pengenalan budaya lokal.
Kebudayaan
Kata
kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta budhayah,
bentuk jamak dari buddhi yang berarti
budi atau akal. Kebudayaan
dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kata budaya merupakan perkembangan dari
kata majemuk budi daya yang berarti
daya dari budi. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa,
dan kebudayaan itu adalah segala hasil dari cipta, karsa dan rasa (Notowidagdo,
1997).
Culture (bahasa Inggris) yang artinya sama dengan
kebudayaan, berasal dari kata Latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan terutama
mengolah tanah atau bertani. Dari arti kata tersebut berkembang arti culture menjadi segala daya dan
aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Beberapa antropolog mendefinisikan kebudayaan
sebagai berikut:
E.B. Tylor (Inggris)
Kebudayaan adalah keseluruhan kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan
lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
R. Linton
Kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil
tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh
anggota dari masyarakat tertentu.
Sementara Ernest membagi dalam 5 (lima) Aspek,
yaitu: Kehidupan spiritual; Bahasa dan kesusastraan; Kesenian; sejarah dan Ilmu
pengetahuan.
Culture Universal
1)
Bahasa
(lisan maupun tertulis)
2)
Sistem
teknologi (peralatan dan perlengkapan hidup manusia)
3)
Sistem
mata pencarian (termasuk sistem ekonomi)
4)
Organisasi
sosial (sistem kemasyarakatan)
5)
Sistem
pengetahuan
6)
Kesenian
(seni rupa, seni musik, seni sastra, dll)
7)
Religi
(dikutip dari Koentjaraningrat oleh Notowidagdo, 1997)
Mengenal Budaya Banjar
Berdasarkan teori-teori sebelumnya terkait unsur
budaya atau kebudayaan, dibahas tentang budaya lokal khususnya Budaya Banjar. Banjarmasin
adalah Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang dikenal dengan sebutan kota
seribu sungai. Kondisi geografis tersebut mempengaruhi unsur-unsur budaya
lainnya seperti mata pencaharian, teknologi dan kesenian. Mata pencaharian
orang Banjar pada awalnya adalah bertani, mencari ikan di sungai dan berjualan
di pasar terapung.
Kain khas Banjar
Kain khas Banjar
Kain khas Banjar adalah sasirangan. Kain sasirangan
semula dimanfaatkan untuk pengobatan. Kain sasirangan dipercaya memiliki
kekuatan magis. Zaman dahulu, bahan pewarna kain sasirangan berasal dari bahan
alami yaitu berasal dari tumbuh-tumbuhan atau tanaman.
Bahasa Banjar
Bahasa Banjar atau yang dikenal dengan sebutan
Basa Banjar secara umum terbagi dua, yaitu Basa Banjar Hulu dan Basa Banjar
Kuala.
Kesenian
Setiap daerah memiliki ciri dan keunikan seninya
masing-masing. Mulai dari seni tari, seni musik hingga yang lainnya. Beberapa
tarian Banjar misalnya Tari Baksa Kembang, Tari Radap Rahayu. Alat musik Banjar
misalnya panting dan kuriding. Seni pertunjukan tradisional misalnya mamanda,
balamut, madihin. Adapun seni beladiri tradisionalnya adalah kuntau atau
bakuntau.
Permainan tradisional
Salah
satu permainan tradisional Banjar adalah balogo.
Pamali
Pamali merupakan larangan atau pantangan yang
tidak boleh dilanggar. Ada sebagian yang bisa dijelaskan secara logika, ada
yang tidak bisa dijelaskan. Secara etika, terdapat pamali yang justru mengatur
kehidupan masyarakat untuk menjadi lebih baik. Berbagai penelitian dan kajian
ilmiah telah dilakukan terkait pamali Banjar. Beberapa contoh pamali:
1)
Jangan
duduk di depan pintu saat senja
2)
Jangan
becermin berdua
3)
Jangan
menyapu di malam hari
4)
Ibu
hamil dilarang berkata-kata buruk
5)
Jangan
berfoto dalam jumlah ganjil
6)
Jangan
membuka payung dalam rumah
7)
Jangan
menggunting kuku di malam hari
o
dDisampaikan pada Acara Pengenalan Budaya Lokal, Banjarmasin, Sabtu 14 Desember 2019
o
dDisampaikan pada Acara Pengenalan Budaya Lokal, Banjarmasin, Sabtu 14 Desember 2019
Selasa, 03 Desember 2019
Hai, saya Nai. Basic utama keilmuan saya adalah Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan Daerah. Dalam perjalanan karir mengajar, saya juga menjadi
pengajar mata kuliah lain yang masih senada dan seirama seperti Komunikasi
Bisnis; Kepribadian dan Kepemimpinan; Pendidikan Kewarganegaraan (:karena saya
pernah mengikuti pelatihan doswar); serta Metodologi Penelitian (bertim dengan
dosen core kelas yang saya ajar).
Sebagai pengajar, terutama pengajar mata kuliah Metodologi Penelitian, saya
tidak pernah membatasi mahasiswa dalam memilih buku atau referensi seputar metode
penelitian. Bahkan untuk sekadar mewajibkan mengopi modul perkuliahan yang saya
susun pun saya tidak pernah. Bagi saya, memberikan rekomendasi (wajib) satu
judul buku kepada mahasiswa bisa berakibat buruk, yaitu mereka hanya terfokus
pada satu buku padahal ilmu tentang metode penelitian sangat luas. Saya juga
menerapkan hal tersebut untuk diri saya sendiri. Saya membeli dan meminjam
beberapa buku metode penelitian. Saya membaca semunya, mengamati, menganalisis,
membandingkan, dan menerapkan beberapa.
Sekian tahun saya mempelajari ilmu tentang metode penelitian (:terima kasih
kepada guru dan dosen di semua jenjang pendidikan saya), tidak ada bosannya
memepelajari ilmu yang satu ini. Hingga saya menemukan formula sendiri dalam
mengajarkannya. Formula ini saya
terapkan di mata kuliah Bahasa Indonesia pada Unit Menulis Karangan Ilmiah dan
mata kuliah Metodologi Penelitian).
Suatu hari (2019) rekan mengajar saya menawari saya untuk menitip pembelian
sebuah buku bertajuk penelitian kualitatif di luar Pulau kami. Saya mengiyakan.
Saya jarang menolak buku (J). Pamali, hehe. Meski sempat juga berpikir,
paling-paling buku tersebut sama saja dengan buku-buku metode penelitian yang
sudah saya koleksi di perpus pribadi.
Ketika buku itu tiba di tangan saya, saya berubah pikiran, judulnya menggelitik “Fun Research: Penelitian
Kualitatif dengan Design Thinking”, buku ini diterbitkan oleh PT Elex Media
Komputindo (masih satu naungan dengan penerbit novel saya Sekaca Cempaka). Buku bersampul kuning itu ditulis oleh Bonnie
Soeherman. Pada halaman akhir buku kita bisa mengetahui penulis adalah seorang
dosen dengan basic ilmu Akuntansi.
Halaman awal bertajuk Pengantar Sang Guru, pembaca disuguhi pengantar Prof.
Basuki – pembimbing tesis penulis – yang membuat kita menemukan satu rahasia
kecil semacam like father like son. Cuman
kalau ini like coach like student.
Buku dengan isi 9 bab ini sebenarnya nyaris sama dengan semua buku yang
pernah saya baca. Tapi tidak, gaya bahasa yang dipilih penulisnya membuat buku
ini berbeda. Membaca halaman demi halaman buku tersebut memberikan sensasi
ajaib. Asli, seperti tidak sedang membaca buku metodologi penelitian. Sebagai orang
bahasa dan sastra, saya menemukan gaya maupun diksi yang tidak biasa untuk
sebuah buku metode penelitian. Lebih mirip sebuah novel atau buku harian kalau menurut
saya. Gaya bahasa yang dipakai oleh penulis membuat saya terjaga sepanjang
pembacaan. Saya penasaran, kepo, terlonjak, bahagia, haru semua campur aduk. Belum
pernah ada buku metode penelitian seperti ini.
Semua yang ditulis Bonnie Soeherman persis seperti apa yang selama ini saya
yakini dan jalankan. Saya merasa bahagia, sebagai pengajar metodologi
penelitian, baru kali ini saya merasa sangat percaya diri terhadap formula yang
saya pakai sebagaimana saya sebut di paragraf sebelumnya. Saya merasa
dikuatkan. Rasanya ingin bilang ke orang-orang, hei...aku benar, aku tidak
salah, hehe.
Hingga halaman 159 - 160, saya tidak bisa menahan haru. Soeherman (2019) menulis seperti ini:
Dalam kegalauan di toko buku, saya berjalan menyusuri lorong sepi yang berisi buku-buku filsafat dan sastra. Mata saya tertuju pada buku Paul Ricoer. Membacanya memberi banyak pencerahan dan pengaruh pada cara berpikir saya. ... Saya sungguh berterima kasih pada disiplin ilmu sastra. Ilmu sastra menawarkan berbagai teknik interpretasi wacana. Pelajaran yang belum saya temukan pada disiplin lain. Konsep interpretasi banyak berkembang dari penelitian sastra. Bakhtin (dalam Endraswara, 2011) mengatakan bahwa meneliti karya sastra sama saja dengan proses dialog dengan “manusia lain”. Walaupun keduanya seolah diam, mereka tetap sedang berdialog dalam kebisuan sehingga memerlukan interpretasi yang kuat.
Sepanjang yang saya ingat dan ketahui, inilah pertama kalinya ada orang
dengan basic ilmu di luar bidang
sastra menulis pernyataan semacam itu. Ingin rasanya membagikan paragraf
tersebut ke orang-orang yang suka rasis dalam ilmu pengetahuan. Saya menyebutnya
dengan istilah rasis, mungkin kurang tepat, tetapi itulah faktanya. Tidak sedikit
orang-orang menganggap bidang ilmunya lebih unggul daripada bidang ilmu lain,
khususnya ilmu bahasa dan sastra.
Jika suatu hari saya ditakdirkan bertemu beliau, saya ingin memberinya buku
puisi saya hehe. Siapa tahu dia bisa menganalisis buku puisi saya melalui
kacamata seorang akuntan. Akuntansi dalam Tetiba Mencintai, misalnya... siapa
tahu?[]
Jumat, 29 November 2019
Esai Nailiya Nikmah JKF
Kanaya tiba di ruang sunyiku ketika ombak besar datang menggulung semua yang ada. Ia mengetuk dinding kaca dalam bilik jiwaku, ketika aku nyaris memutuskan untuk berhenti bernafas. Meski perih, berkali-kali aku meyakinkan diri: bukan, ini bukan saatnya mati. Dalam otakku berputar-putar satu-satunya diksi yang membuatku gagap sekaligus tegap: perempuan. Lalu satu-satu, barisan air mata kusibak dan kusisihkan. Bersama puisi, aku ingin mengembara malam-malam, menembus portal, mengunjungimu dan memintamu menghapus seluruh takdir buruk.
***
Pendahuluan
Setiap orang
yang mempelajari teori sastra pada ujungnya akan memahami bahwa ada dua unsur
dalam karya sastra, yaitu unsur intrinsik
dan ekstrinsik. Sejalan dengan
sebuah rumusan bahwa untuk menganalisis sebuah karya sastra kita memerlukan
kedua unsur tersebut. Bahwa karya sastra tidak bisa dipandang terpisah dari
kreatornya, semua pun bisa memahaminya. Itu pula yang banyak dilakukan para kritikus dan analis ketika
mendekati sebuah karya, baik berupa puisi, cerpen, novel maupun naskah lainnya.
Mungkin itulah
sebabnya titi mangsa dalam setiap puisi diistimewakan keberadaannya. Mungkin, itu
pula yang kadang membuat sebuah novel perlu dituliskan embel-embel based on true story. Ketika semua hal nyata
dan tidak nyata itu saling terkait, haruskah kita memaksa diri mengenang semua
kejadian persis sebagaimana adanya? Padahal berapa banyak dari kita yang mampu
mengingat semua peristiwa sama persis dengan alur sebenarnya lengkap dengan
warna perasaan saat kita mengalaminya? Seorang penyair papan atas pernah
berkata bahwa dia sudah lupa dengan hal yang melatarbelakangi sebuh puisi yang
pernah ditulisnya sedemikian rupa. Dia lupa bagaimana puisinya bisa sedemikian.
Akan tetapi
tidak untuk Kanaya. Tidak bagi Rini Intama. Setiap diksi yang ia hadirkan
begitu kuat. Jalin-menjalin antar semua puisi. Kecil kemungkinan Intama melupakan
semua hal yang ia tulis (semua hal yang melatari). Sebelum sampai pada titik
ini, saya memutuskan mengabaikan unsur ekstrinsik, kecuali bahwa Kanaya ditulis
oleh seorang perempuan. Saya tidak ingin mencari tahu siapa Rini Intama. Saya menahan
jari-jari agar tidak mengetik nama penyairnya di mesin pencarian. Saya memilih
bereksperimen. Bagaiamana kalau Kanaya didekati sebagai Kanaya saja? Bukan sebagai
hasil cipta atau kreasi seorang Rini Intama?
Psikologi Sastra dan Perempuan yang Suka Berbohong
Pendekatan yang digunakan dalam esai ini adalah pendekatan psikologi
sastra. To know a work of literature is to know the soul of
the man who created it, and who created it in order that his soulhould be known
(J. Middleton Murry).
Carlyle (1827) menulis kritik sastra tentang
keterkaitan antara seorang penyair yang puisinya mencerminkan tingkah laku yang
berhubungan secara psikologis. Telah sekian lama orang memandang karya-karya sastra banyak terkait
dengan masalah biografi pengarang; karya sastra merupakan cerminan perasaan,
dan lebih ekstrim lagi sastra merupakan ekspresi impuls seksual yang terpendam
dari si pencipta. Menurut Abrams, sebelum telaah mendalam tentang hal tersebut,
ada beberapa unsur yang peru diketahui.
Pertama, perlunya mengamati si pengarang untuk menjelaskan karyanya.
Telaah dilakukan terhadap eksponen yang memisahkan dan menjelaskan kualitas
khusus suatu karya sastra melalui referensi kuaitas nalar, kehidupan dan
lingkungan si pengarang. Kedua, perlunya memahami si pengarang terlepas dari
karyanya dengan cara mengamati biografi pengarang untuk merekonstruksi si
pengarang dari sisi kehidupannya dan menggunakan karyanya sebagai rekaman
kehidupan dan perwatakan. Ketiga, perlunya membaca suatu karya sastra untuk
menemukan cerminan kepribadian si pengarang dalam karya tersebut. Fenomena
sastra sebagai “cermin” pribadi telah lama berkembang meskipun demikian
Endraswara menyatakan tidak selamanya pribadi pengarang selalu masuk ke dalam
karya sastranya. (Minderop, 2013:61-62).
Pendekatan
Selanjutnya, berbekal satu informasi saja bahwa Kanaya ditulis oleh
perempuan -belum tahu dia perempuan yang seperti apa- esai ini ditulis menggunakan
pendekatan psikologi sastra dengan mengambil unsur ketiga dari paparan
sebelumnya. Kanaya merupakan kumpulan puisi Rini Intama yang terbit 2019, diterbitkan oleh Tarebooks, Jakarta.
Penyairnya perempuan, maka coba kita pelajari sebuah rumus perempuan. Perempuan
adalah makhluk yang cenderung suka berbohong. Ketika perempuan mengatakan “Saya
baik-baik saja” sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Ketika dia mengatakan, “Tidak
apa-apa” sebenarnya apa-apa. Ketika dia bilang “Saya tidak sedih” sebenarnya
dia sedang menahan air matanya. Ketika dia bilang “Saya kuat kok” sejatinya dia
sedang menggapai-gapai mencari pegangan, sandaran atau apa saja agar tidak terjatuh.
Burukkah hal tersebut? saya kira tidak. Kebohongan tersebut membuat dia menjadi
benar-benar seperti pada keadaan yang ia bohongkan. Barangkali inilah kekuatan
kata-kata yang menjelma doa-doa hamba teraniaya. Semacam sebuah afirmasi dalam
bidang psikologi.
Pembahasan
Kanaya begitu perempuan. Semua yang mengalun dari derai kawihnya adalah
perempuan. Air mata sebagai duta kesedihan menjadi kontras di antara
tembang-tembang berkekuatan super.
.../Lalu perempuan manakah tak melukis air mata?/.../tempat membiaknya luka/...(hlm
17)
Bait tersebut menggambarkan bahwa perempuan adalah pelukis air mata. Tidak ada
pengecualian dalam kutipan tersebut. Hatta Kanaya menampilkan
kekuatan-kekuatannya. Perempuan adalah “tukang nangis”, itu yang disampaikan
dalam Kanaya.
.../Di tanah Priangan/ Air mata kita jatuh// (hlm 33), ini kutipan puisi
berjudul “Kawih Ibu”. Diksi kita
bermakna aku dan ibu. Dua orang perempuan sedang bertangis-tangisan pada saat yang
sama, pada tempat dan kejadian yang sama. Tapi jangan ambil simpulan dulu,
lihatlah bagaimana kekontrasan ada pada puisi-puisi setelahnya. Kanaya mencoba
menolak, melawan kesedihannya. Hal yang paling lumrah dari banyak perempuan di
dunia.
.../Tak perlu kita tangisi// Tentang sekar ibu/ Jika aku punya air mata/...
(hlm 41).
.../Dan ruang-ruang yang gaduh/ tak perlu air mata/ sebab perempuan
memanggul kecemasan/ menggenggam hidup dari bara api/ ...(hlm 43).
Kutipan tersebut masing-masing berasal dari puisi Sekar dan Pasar. Pada saat
bersamaan, Kanaya menyampaikan ia tidak punya air mata; tak memerlukan air mata.
Lihatlah, bagaimana cantiknya Kanaya bermain. Selain “tukang nangis”, perempuan
“tukang bohong” dengan rapi terlukis dalam Kanaya. Inilah cara perempuan
menolak sedih walau sebenarnya sedih. Memanggul
kecemasan, menggenggam hidup dari bara api merupakan frase-frase yang
mencerminkan kesulitan-kesulitan hidup para perempuan. Sesuatu yang dipanggul
tentu saja adalah sesuatu yang berat, tidak ringan, bukan hal-hal receh. Kecemasan
pada ujungnya adalah air mata. Adapun Bara
api adalah sesuatu yang sangat potensial, potensial mendatangkan keburukan
maupun kebaikan. Perempuan itu menyimpan banyak persoalan. Mereka berpotensi melakukan perlawanan yang dahsyat, tapi jangan
heran jika ujung-ujungnya dia menangis meraung-raung di kamar mandi;
menghabiskan berlembar-lembar tissue. Pernah berkonflik dengan perempuan? Bagaimana
the power of emak bekerja? Polanya selalu sama. Dia kukuh dan garang level 12
dari skala 1-10 tapi tidak lama kemudian, dia akan bersimbah air mata. Itu yang
saya temukan dalam Kanaya. Terima kasih, Rini Intama. Terima kasih atas
kejujuran yang paling jujur.
Penutup
Kanaya, kita tidak mencari pembenaran dalam puisi. Meski kadang terlihat
rumit, puisi bukan matematika. Ia bukan rumus-rumus pasti yang dikungkung oleh
hanya dua pilihan, benar-salah. Puisi adalah tempat jiwa kita berleha-leha. Ia lahan
kita untuk merenung. Sesuatu yang kita gapai-gapai ketika jiwa terlunta-lunta
setelah ayat-ayat Tuhan. Kanaya, mari kita saling menguatkan; menolak sedih
walau sedih.[]
Disampaikan pada Malam Bincang
Buku Kanaya karangan Rini Intama bersama Pemantik lainnya Di Kindai, 28
November 2019. Diabadikan di Flamboyan sehari setelahnya.










