Senin, 11 Desember 2017

# blog collab # Buku Harianku

Selamat Jalan Luka, Selamat Datang 2018


Selamat Jalan Luka, Selamat Datang 2018
(Resolusi 2018 Nailiya Nikmah JKF)


Aku bukan tipe orang yang suka merayakan sesuatu berlebihan, termasuk tahun baru. Bagiku, tahun baru lebih dari sekadar sebuah perayaan atau pesta. Tahun baru kujadikan sebuah momen untuk menyetting perubahan diri ke arah yang lebih baik. Bukankah terkadang orang memerlukan momen tertentu sebagai pemicu upgrade diri? Kebetulan aku lahir bulan Desember, pas sekali momen tahun baru Masehi sekaligus momen “tahun baru” ku secara pribadi.
Biasanya aku membuat daftar “ini-itu” alias daftar perencanaan untuk tahun mendatang. Aku menuliskannya di buku Diary. Kadang beberapa kutuliskan di kertas yang kutempel di dinding kamar. Kadang, ada juga sebagian kecil yang hanya kucatatkan di langit-langit kamar, di angan-angan dan khayalku (yang ini biasanya sifatnya rahasia).
Sebelum menulis resolusi untuk tahun baru, biasanya juga aku kilas balik tahun yang sudah dijalani. Hal apa yang sudah dicapai, hal apa yang belum. Termasuk hal-hal yang mengganggu otak dan hati, jangan sampai mengganggu kewarasan diri di tahun berikutnya (hehe).

2017 dalam Kenangan
2017 nyaris sama dengan tahun sebelumnya jika saja aku tidak mempunyai anak-anak yang special. Keempat anakku sama spesialnya. Pada 2017, si kembar bermasalah dengan sekolahnya. Kami bahkan sampai harus memindahkan mereka ke sekolah yang lain. Sementara itu, para kakak baru saja memasuki dunia ABG. Dunia kupu-kupu kertas menurut Ebiet G. Ade. ABG kami yang perempuan sedang asyik dengan K-Pop, yang laki-laki sedang asyik dengan kegiatan naik gunung. Keduanya mulai tertarik dengan lawan jenis. Mereka pun sudah mulai suka membantah, melawan dan menolak aturan kami. Sebagai ibu yang merangkap wanita karier, semua persoalan itu cukup membuat hatiku was-was.

2017 adalah tahun kami sekeluarga melek dokter dan rumah sakit. Diawali dengan ayahku yang mendapat serangan stroke yang kedua (serangan pertama tidak kami sadari). Ayah yang selama sakit tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit, akhirnya pasrah kami bawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Tepat setelah kami sholat Idul Adha, 5 September 2017, kami sekeluarga (:keluarga besar) membawa ayah ke rumah sakit. Di ruang IGD, kami bahkan berkali-kali ditegur satpam karena kelebihan penjaga. Banyak sekali pelajaran dan hikmah selama ayah sakit. Ayah nyaris terlambat ditangani. Ayah salah minum obat, ayah kena dampak buruk beli obat sembarangan. Ayah kena stroke dua kali! Bukan sakit biasa. Ayah juga kena gangguan ginjal, untung tidak sampai harus cuci darah. Ayah kehilangan memorinya, demensia istilahnya. 14 hari opname, pulang ke rumah 5 hari, balik lagi opname seminggu. Aku berburu buku dan referensi tentang stroke, ternganga-nganga membaca, kadang sambil berderai airmata. Bagaimana aku bisa setolol ini selama ini – gumamku setiap habis satu bacaan. Kami seperti baru ngeh dengan dunia kedokteran dan medis. Intinya, kami melek dokter dan rumah sakit. Aku yang sebelumnya sudah bye-bye dan menyatakan loe-gue end dengan dokter, kembali mencoba menjalin hubungan baik (apa coba).

Belum selesai mengurus ayah, salah satu anak adikku mendapat sakit yang tidak sepele yang membuatnya harus opname juga di rumah sakit yang lain. Kami seperti pontang-panting menghadapi serangan penyakit. Belum lama ke-shock-an kami, anakku yang bungsu bermasalah dengan telinga. Singkat cerita, ia harus operasi pemasangan grommet. Apa itu grommet? Bius total? Oh, aku seperti tersesat di dunia entah. Nanti akan kuceritakan di kesempatan lain. Kata dokter, anakku sering pilek karena alergi. Aku harus menjaganya dari debu, rumah harus dipel setiap hari. Makanan juga harus dijaga. Harusnya aku memasak sendiri makanan untuk anakku. Oh, ini kelemahanku.

2017 bagi karierku: aku mumet urusan jurnal. Cemas tunjangan akan dipotong. Sama saja dengan yang dikeluhkan orang lain. Kadang aku juga merasa berada di tempat yang kurang tepat. Bagi dunia tulis-menulisku, aku merasa tidak banyak kemajuan. Belum bisa membuang luka akibat novelku yang diplagiat orang. Aku juga belum bisa menerbitkan kumpulan puisi seperti yang kutargetkan sebelumnya. Draft novelku belum tergarap juga. Banyak lomba dan acara sastra yang terlewatkan. selain itu semua, ada satu lagi yang menggangguku di 2017. Aku bosan dengan warna lipstikku dan sepertinya aku akan menggantinya.

Resolusi 2018
Nah, karena aku termasuk makhluk multidimensi, di 2018 ini resolusiku kubagi beberapa kelompok:

Dalam Kehidupan Rumah Tangga, aku ingin
  1.  Meningkatkan ibadah kepada Tuhan YME sesuai agama yang kuanut: merutinkan lagi salat Tahajud, salat Dhuha, dan salat sunah lainnya; meningkatkan kepedulian terhadap perkembangan dan hal-hal yang menimpa umat secara global; mengaktifkan lagi One Day One Juz.
  2. Meneruskan pengobatan dan terapi sesuai saran dokter untuk anakku dan ayahku.
  3.  Meneruskan perawatan gigi anak-anakku biar giginya rapi dan sehat (jangan kayak mamanya yang telat merawat gigi,hehe).
  4.  Mencarikan halaqoh untuk anak gadisku.
  5. Mencarikan sekolah menengah atas yang bagus untuk anakku.
  6. Belajar memasak makanan yang sehat. Entah bagaimana memulainya. Aku rasa, harusnya dimulai dengan merenovasi dapur agar dapur lebih cantik (biar semangat masaknya). Aku inginnya dapurku bergaya ala-ala shabby atau kalau tidak, ya..yang simple (dengan tempelan kata motivasi di salah satu dinding dapur).
  7.  Membeli vacuum cleaner agar membantu meringankan pekerjaanku mengusir debu dari rumah yang membuat alergi anakku kambuh. Rumah harus bersih setiap hari, setiap saat. Kalau massih ada budget, pengen juga memperbaharui karpet di ruang tengah yang sudah mulai robek.
  8.  Menata ulang kamar anakku yang kembar agar lebih gampang dipel dan dibersihkan setiap hari. Perabot yang tidak perlu pun disingkirkan. Ini terkait dengan agenda mengepel karena mengepel adalah agenda wajib tiap hari. Hidup mengepel!
  9.  Membeli timbangan berat badan untuk mengontrol berat badan seluruh anggota keluarga (terutama aku yang mulai ditanya orang “Berapa bulan?” – sangkanya aku hamil, efek perut membesar).
  10.  Mengurangi parfum karena anakku bisa saja alergi parfum.
  11.  Membongkar lemari pakaian, mengeluarkan yang harus dikeluarkan (agar bisa diizinkan suami beli yang baru, hehe).
  12.  Membelikan anakku tenda baru yang lebih kecil.
  13. Mencarikan tempat les untuk anak-anakku. Sepertinya ini sudah sangat urgen. (les umum dan agama).
  14.  Mencoba mesin jahit kecil yang sudah lama kubeli.
  15.  Memiliki jadwal keluar jalan-jalan dengan suami.
  16.  Menjalankan olah raga rutin tiap pekan/ syukur kalau bisa ikut kelas senam.
  17. Membeli lipstik baru.
  18. Mengulang kursus menyetir dan mengurus SIM A (menurut ayahku, aku harus mengulang!)

Dalam Pekerjaan/Karierku, aku ingin:
  1. Menulis 3 artikel ilmiah untuk 3 jurnal
  2.  Memperbaiki RPS sesuai buku terbaru dan mengacu profil lulusan
  3.  Menyusun perangkat pembelajaran baru
  4. Menyusun bahan ajar
  5. Mempelajari bahasa Inggris
  6. Mengajar di kampus lain agar ilmuku tidak stag.

Dalam Dunia Tulis-Menulisku (Sastra), aku ingin:
  1. Memaafkan kesalahan orang-orang yang telah melukai hatiku di dunia sastra (walaupun masih luka, tetap berkarya).
  2. Membeli beberapa buku sastra.
  3. Menyunting puisi-puisi di laptop, mencari dan menghubungi editor, proses menerbitkan kumpulan puisiku.
  4. Menulis esai untuk dikirim ke media.
  5.  Membenahi rumah mayaku- Tatirah, mendisiplinkan diri kembali untuk mengisi Tatirah dengan tulisan berkualitas tinggi agar tidak memalukan menjadi member of Female Banjarmasin Blogger (FBB).
  6. Menyeriusi draft novel. Harus serius. H-A-R-U-S.
  7. Mencoba menulis di Wattpad. (ini ikut-ikutan anakku saja sebenarnya).


Nah, demikian resolusiku. Adakah yang sama dengan resolusimu? Jangan-jangan kita bisa kerja bareng? Yuuk… hubungi aku ya! [Nai].

29 komentar:

  1. Semangat ka buat resolusinya. Ulun jua handak nulis fiksi lagi tahun depan. Kalau soal lipstik bisa tanya rima atau Vina. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari Antung kita nulis fiksi lagi. Iya nah. Bosan dah dengan warna lipstik yg kupakai ni. Hdk warna lain lagi. Nunggu Rima komen di sini. Haha.

      Hapus
  2. Keren sekali bu resolusinya. Jujur, piyan ini termasuk salah satu rule mode ulun dalam hidup. Masih ingat piyan yg pertama kali nyuruh ulun buat bikin blog. And its work! Ulun mulai merasa hidup kembali dan berevolusi ditahun ini berkat ngeblog. Semoga tahun depan lebih baik. Semoga resolusi 2018 pyn bisa tercapai semua ya bu.. Amiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah its work! Tidak ada hal yang paling menyenangkan selain melihat saran kita berguna buat orang lain. Terus kreatif ya Wind.

      Hapus
  3. Mba nai, resolusi nya keren banget. Semangat mba nai. Mba nai beli lipstik baru nya di os aya aja 😂😂😂

    www.Aya-Khairiah.BlogSpot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seriusan nih ay? Merk ap aja adanyA

      Hapus
    2. Seriusan nih ay? Merk ap aja adanyA

      Hapus
  4. Wah targetnya banyak..semoga semua tercapai. Aku serasa ikut bersemangat mengejarnya padahal bukan list ku. Hahaha.. Sehat2 terus bapak.. Proud of you mbaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Ruli. Saling menyemangati yaaa.

      Hapus
    2. Terima kasih mbak Ruli. Saling menyemangati yaaa.

      Hapus
  5. Wah banyak banget resolusi mba nay, moga semuanya bisa tercapai yaa hhi..
    btw, masalah gigi anak mba emang penting bgt ituu setujuu enyy hhi.

    www.enychan.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Urusan gigi sama dengan tambah anggaran rumah tangga lho :)

      Hapus
  6. Semangay buat resolusinya.. semoga tercapai dan istiqomah...
    Sehat sekeluarga..
    Kalo sehat mau ngapain juga enak.. hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Mbak Mitha. Sehat pangkal bahagia. Kaya iklan apa lah ini?

      Hapus
  7. Baru pertama ini berkunjung ke blog Bu Nai, saya terkesan. Tapi kenapa harus pernah say good bye dengan dokter Bu? *loh jadi kepo. Tapi apapun luka di masa lalu semoga Alloh ganti dengan yg lebih baik ya Bu. 2018,you are our turn! *BismiLlaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya panjang Mbak Latifika. Hehe:)

      Hapus
  8. Aku suka Korea, apakah aku juga masih abege kayak anaknya mbak nai. Hihi

    BalasHapus
  9. Odoj itu resolusi paling kece, sekaligus paling berat mbak. Sukses ya... ^^
    Btw, wattpadnya apa nih, aku sering baca-baca disana mba. Sekalian aja mampir. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak Leha. Odoj kece juga beratt.dulu pernah dah. Sempat off. Wattpad ku baru. Belum keisi.hehe

      Hapus
  10. Wahhh, keren Mba Nai resolusinya banyak dan sangat detail. Apapun resolusinya ya Mba semoga akhir tahun 2018 bisa mencapai target. Aamiin....

    Follback blog aku Mba, aku udah follow hihihi

    BalasHapus
  11. sabar ya mbak... semoga ada hikmah dari setiap kejadian, dan semoga resolusi tahun depan bisa terwujud

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin yra. Trims mbak Retno. Sama sama sal8ng mendoakan kita yaa.

      Hapus
    2. Amin yra. Trims mbak Retno. Sama sama sal8ng mendoakan kita yaa.

      Hapus
  12. Wah, kerennya Mbak Nai resolusi pian. Ulun jadi terinspirasi dan termotivasi untuk bikin resolusi sedetail pian 😉 Sebelumnya, resolusi ulun umum banget dan terkesan NADO, no action dream only. Semoga semuanya tercapai Mbak Nai. Sukses untuk kehidupan pribadi, keluarga, dan karirnya ya 😊

    BalasHapus
  13. Wah, kerennya Mbak Nai resolusi pian. Ulun jadi terinspirasi dan termotivasi untuk bikin resolusi sedetail pian 😉 Sebelumnya, resolusi ulun umum banget dan terkesan NADO, no action dream only. Semoga semuanya tercapai Mbak Nai. Sukses untuk kehidupan pribadi, keluarga, dan karirnya ya 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Rindang. Semoga kamu juga sukses ya ��

      Hapus