Senin, 03 Desember 2018

# Traveling

Ketika Sendirian di Bandara Internasional


Apa hal ternekat yang pernah kamu lakukan sepanjang hidupmu? Mencuri brownies ibu di kulkas? Minum air dingin diam-diam di siang bolong saat Ramadhan lalu ngaku puasa full? Mengirim surat cinta kepada gebetanmu yang jadi idola satu sekolah? Melamar pekerjaan tanpa memiliki keterampilan yang diminta perusahaan? Memilih jurusan dengan cara mengundi padahal tidak tahu apa-apa tentang nama-nama jurusan yang ada dalam undian tersebut?

Hal apa yang sebenarnya kita perlukan ketika melakukan kenekatan-kenekatan tersebut? Yup! Hanya satu, keberanian! Keberanian adalah lawan dari ketakutan. Ketakutan identik dengan kemustahilan. Inilah yang aku alami beberapa hari belakangan ini. Aku memilih mengambil segala risiko untuk melawan ketakutan dan kemustahilan yang selama ini memenuhi otak dan hatiku. Aku tahu, keberanian yang kumiliki nyaris nol. Aku mencoba untuk nekat, meski satu sisi hatiku mengatakan aku sedikit bodoh melakukan hal ini dan bisa saja akan mencelakakan aku atau setidaknya membuatku berada dalam masalah besar. Nyatanya, aku tetap melakukannya karena ada satu formula rahasia yang sudah kucampur di dalam kenekatanku. Jangan tanya apa formula rahasiaku karena bukan rahasia namanya kalau aku beri tahu padamu.

Kautahu apa ketakutan terbesarku setelah pocong? Keramaian. Aku takut sendirian berada di tengah-tengah keramaian. Entah kenapa, setiap berada di tengah keramaian, aku justru merasa sepi. Tempat keramaian yang berada di urutan teratas sebagai phobiaku adalah bandara. Aku tidak pernah pergi ke bandara sendirian. Itu artinya, akupun tidak pernah terbang sendirian. Aku membayangkan aku akan diculik ketika berada sendirian di bandara, lalu menjadi korban perdagangan manusia; atau dirampok/dirampas barang bawaanku; atau..ini yang paling kutakutkan: tersesat di bandara, salah masuk pesawat, terbang ke tempat lain yang aku tidak tahu apa-apa, belum lagi hal-hal rumit prosedural di bandara yang harus dijalani dan sebagainya dan sebagainya yang mungkin kamu akan tertawa membacanya.

Hingga hari itu, aku memutuskan untuk mencoba menghadapi semua itu. Sendiri.
Keputusan itu kuambil ketika aku mengikuti international conference selama beberapa hari di sebuah universitas di Malaysia. Sebenarnya aku berangkat bersama rombongan yang terdiri dari beberapa orang penting di universitas lain di kotaku. Mereka sudah mengatur jadwal keberangkatan dan kepulangan yang disesuaikan dengan agenda beberapa trip tambahan selain conference. Akan tetapi, berhubung aku sudah memiliki agenda penting yang sudah kusepakati untuk kulakukan sehari setelah conference, akupun memisah dari rombongan, pulang lebih awal ke tanah air.

Sejak hari keberangkatan, otak dan hatiku sudah dipenuhi “Bagiamana nanti aku pulang sendirian.” Untuk itu, aku memangkas barang bawaan. Aku meminimalkan jumlah baju yang dibawa. Aku mengatur semuanya agar yang kubawa hanya satu tas selempang kecil dan satu koper dorong yang masih bisa masuk kabin pesawat. Aku sengaja tidak memasukkan bawaan ke bagasi. Aku mengurangi satu prosedur di bandara, yaitu prosedur pengambilan barang/bagasi.




Barang yang wajib kubawa dalam tas selempang

1.       Dompet
2.       Kartu identitas/KTP
3.       Paspor
4.       Uang yang berlaku di negaraku dan negara setempat (besar dan kecil)
5.       Bedak, lipstik dan parfum
6.       Telepon genggam/ smartphone
7.       Buku catatan kecil
8.       Pulpen
9.       E-tiket, printout-nya
10.   Boarding-pass
11.   Kacamata
12.   Syal
13.   Peniti cadangan
14.   Earphone
15.   Power bank (tidak melebihi kapasitas yang diizinkan penerbangan), charger dan sambungan tiga lubang (di Malaysia berlaku yang ini).
16.   Sim card (yang berlaku di negara setempat)

Barang yang kumasukkan dalam koper dorong yaitu baju/gamis untuk 4 hari plus kerudungnya, jas hitam, blazer coklat untuk presentasi, pakaian dalam, 2 pasang kaos kaki cadangan, mukena, perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi dan perlengkapan skincare yang sudah kupindahkan ke dalam botol-botol atau kemasan kecil agar lolos pada pemeriksaan di bandara. Untuk menghemat bawaan, aku tidak membawa handuk, tidak membawa sandal dan sepatu cadangan.

Sendirian Mempelajari Rute Petualangan sekaligus Packing

Setelah menunaikan tugasku di international conference, akupun packing untuk pulang sendirian, lebih awal beberapa hari dibanding rombongan. Malamnya, ketika teman sekamarku sudah pulas tertidur, aku masih mengatur perlengkapan petualanganku.

Hal utama yang aku cek adalah E-ticket. Aku mengecek jam atau waktu keberangkatan pesawatku serta berapa waktu minimal untuk check in. O,iya tempat berlangsungnya acara yang kuikuti ini berada di kota Sintok bukan di Kuala Lumpur.  Bisa ditempuh melalui jalur darat dengan memakan waktu sekitar 6 atau 8 jam dari Kuala Lumpur. Untuk efisiensi, aku memilih jalur udara.

Artinya, rute kepulanganku adalah sebagai berikut:
Dari hotel tempat aku menginap/Sintok, aku memerlukan waktu kurang lebih 45-60 menit ke Bandara Alor Setar. Dari Alor Setar aku terbang ke Kuala Lumpur. Selanjutnya, dari Kuala Lumpur aku terbang ke Jakarta. Barulah dari Jakarta aku terbang ke Banjarmasin. Ada tiga penerbangan yang aku jalani. Ada 4 bandara yang akan aku hadapi. Dua bandara  untuk penerbangan internasional dan dua bandara penerbangan domestik. Dan... itu semua akan aku hadapi sendirian.


Oh, iya. Saranku, pastikan keberangkatanmu dari bandara yang mana. Jangan sampai salah menunggu. Di KL ada bandara KLIA 1 dan KLIA 2 yang jaraknya cukup jauh.

Yang membuatku lebih takut daripada menghadapi pocong  saat aku mempelajari e-ticketku adalah:
Setelah terbang dari Alor Setar, aku akan tiba di bandara KLIA 2. Sementara itu, untuk terbang ke Jakarta, yang tertera di e-ticket ku adalah aku harus terbang dari KLIA 1. Kautahu, itu artinya BIG PROBLEM bagiku yang tidak bisa apa-apa dan luar biasa penakut ini. Hal yang serupa akan aku alami lagi setelah tiba di terminal 2D Bandara Sutta. Aku harus pindah ke terminal 1A karena dari situlah pesawatku akan berangkat ke bandara Syamsudinnor/Banjarbaru. Lalu muncul pemikiran, bagaimana kalau pesawat dari Alor Setar delay? Maka aku akan terlambat tiba di KL dan mungkin akan ketinggalan pesawat ke Jakarta. Oh, aku takut luar biasa.

Petualangan Itupun Tiba
Malam keberangkatan itu, atas ide temanku, aku menghubungi resepsionis hotel untuk melakukan panggilan wake up ke kamarku pada pukul 05.00. aku takut bangun kesiangan. Nyatanya, aku sudah bangun sebelum resepsionis itu menelponku. Tidurku tidak nyenyak dan aku sangat sedikit benar-benar tertidur. Aku mengalami anxiety. Perutku mulas sepanjang waktu.

Dari tempat aku menginap yaitu hotel EDC, aku dijemput oleh panitia pukul 05.45. sebelumnya aku sudah mandi dan berwudhu. Aku tidak sempat breakfast dan minum apapun. Aku sholat dalam mobil karena saat di hotel, waktu subuh belum masuk. Jalan raya yang kami lewati masih gelap dan sunyi. Kesulitan memahami bahasa Melayu Malaysia membuat komunikasiku sedikit terbatas dengan mas-mas yang mengantarku ini. Aku juga heran, ternyata meskipun serupa dan serumpun, tidak serta merta membuat kami lancar berkomunikasi dengan orang Malaysia. Kadang-kadang, makna yang kami maksud akan lebih cepat ditangkap ketika kami sama-sama menggunakan bahasa Inggris.

Dari percakapan singkat, aku menemukan penjelasan bahwa aku memerlukan waktu sekitar 10 menit saja dari KLIA 2 ke KLIA 1. Aku sedikit lega. Ini berbeda dengan keterangan yang kudapat dari mbak guide kami sebelumnya. Dia bilang butuh 1 jam untuk ke KLIA 1 dari KLIA 2. Entah mengapa info ini berbeda-beda.

Sesampainya di bandara, mas-mas itu membukakan pintu  mobil untukku, mengambilkan koperku dari dalam bagasi mobil lalu menyerahkannya padaku. Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus. Pada detik itulah, ada gemuruh dalam dadaku. Aku menelan ludah, tetiba tenggorokanku terasa sangat kering. OMG, aku benar-benar sendirian sekarang. What should I do?


Bandara Alor Setar


Pintu otomatis bandara terbuka ketika aku berada tepat di depannya. Aku menyeret koper ke dalam. Rasanya kakiku digelangi rantai besi yang berat. Aku nyaris menyerah. Ada rasa ingin berbalik ke hotel. Bandara Alor Setar masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari selain aku.
Aku duduk sejenak di bangku yang berjejer rapi. “Aku sudah check-in online-kan tiketmu tapi kamu harus tetap lapor secara manual untuk mendapatkan boarding pass.” Aku terngiang kalimat temanku.

Akan tetapi kulihat di sana ada mesin yang berfungsi untuk melakukan check in sendiri dan mencetak boarding pass. Sama seperti yang kulihat di bandara KL. Hanya saja...aku ragu aku bisa mengoperasikannya. Aku mendekati seorang nenek yang di tangannya sudah ada cetakan boarding pass. Akupun bertanya dengan bahasa Melayu. Si nenek bilang gampang saja caranya, dia sudah diajari oleh anaknya sebelumnya. Nenek yang baik itu membantuku mencetak boarding pass.


Mesin self check in

Dari percakapan singkat kami, akupun tahu, nenek ini bukan sembarang nenek. Ia sudah sering terbang bahkan ke beberapa kota di Indonesia. 

Kali ini ia bersama dua orang temannya hendak terbang ke KL lalu besok akan ke Turki dan Ke Makkah untuk umrah. Aku bilang aku belum pernah terbang sendirian. Nenek itu heran, mengapa aku berani terbang sendirian jika belum punya pengalaman. Ia bilang ikuti saja ia sampai nanti masuk pesawat. Akupun bertanya bagaimana cara agar bisa sampai ke KLIA1 dari KLIA2. Ia menatapku prihatin sambil menjelaskan caranya. Aku sudah berusaha menyimak dengan baik. Entanh kecemasanku, entah gangguan bahasa, aku kesulitan memahami penjelasan si Nenek. Ia ada bilang train, kereta, bus, dsb. Aku tidak paham. Yang aku tangkap cuma satu hal, aku akan berhadapan dengan masalah besar di KLIA2!

Menuju KLIA1
Penerbangan yang sangat menegangkan. Sesampainya di KLIA2 aku mulai diserang panik yang luar biasa. Bandara itu berlipat-lipat jauh lebih besar dari bandara Alor Setar tentunya. Aku mulai bertanya kepada beberapa orang. Kautahu, tidak semua orang ramah dan mau menjawab pertanyaanmu di sini. Tetiba aku kangen orang Indonesia. Pantas saja orang asing sering bilang orang Indonesia itu ramah-ramah. Aku sudah mengalaminya. Sekalinya ada yang mau menjawab, ia menggunakan bahasa Melayu dengan sangat cepat. Aku tidak paham. Selebihnya orang-orang menggunakan bahasa china atau semacamnya.

Yang harus aku lakukan pertama-tama adalah keluar dari bangunan KLIA2. Mencari jalan keluarnya saja aku memerlukan waktu 15 menit! Aku haus tapi aku tidak terpikir untuk mencari minum. Setelah menemukan jalan keluar dari KLIA2 aku pun bertanya bagaimana cara ke KLIA1. Ada yang bilang, kau bisa memilih beberapa cara, dengan train atau juga bus. Atau semacam itulah aku lupa namanya. Aku lihat beberapa orang menuju bus berwarna kuning merah. Petugas menagih semacam tiket, aku rasa aku harus membeli tiket juga. Lalu akupun bertanya pada petugas, di mana bisa beli tiket untuk bisa masuk bus itu agar aku bisa ke KLIA1. Astaga, ternyata bus itu bukan bus ke KLIA 1. Petugasnya bilang, ke KLIA1 cari warna purple, free.

Aku mulai bergerilya mencari bus purple yang dimaksud. Untunglah tidak lama kemudian bus tersebut ada. Aku rasa, penjelasan mas-mas sebelumnya salah, ini sudah lebih dari 10 menit kurasa. Tetiba bus berhenti. Orang-orang turun, aku bingung. Tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti bandara. Lebih mirip hutan (setidaknya itu yang mataku tangkap). Ternyata, aku harus naik bus lain lagi setelah itu. Kalau tidak salah bus yang kunaiki ini disebut shuttle bus. Sampailah aku di KLIA1.


Di dalam Shuttle bus


Setelah menyeret koper melewati pintu otomatis bandara, aku tertegun. Selanjutnya apa? Tidak ada tanda-tanda tempat melapor atau semacamnya untuk check in. Aku diserang panik lagi. Perutku mulas. Lalu kulihat serombongan orang dengan seragam seperti hendak umrah. Mereka dipandu seseorang dengan gaya yang mengingatkan aku kepada abang Salih di kartun Upin Ipin. Aku mendekati mereka. Kami berada tepat di depan pintu besar dengan berbagai tulisan keterangan tiap lantai. Ada 5 lantai yang bisa dituju. Aku menebak-nebak, untuk terbang kami harus ke lantai 5. Aku menyerahkan e-ticketku kepada “abang Salih”. Kubilang, aku mau terbang ke Jakarta.  Untunglah dia baik. Dia bilang lantai 5 untuk penerbangan. Ikuti kami katanya. Pintu besar itu membuka, itu lift yang sangat besar tapi tetap tak cukup untuk sejumlah rombongan umrah yang ia bawa. Aku nyaris tertinggal di luar, tapi aku memohon untuk bisa masuk bersama mereka, aku tidak mau sendirian. Jadilah kami berdesakan dan koperku hampir kejepit pintu.

Sampai di lantai 5 barulah aku yakin, ini benar-benar bandara. Aku mencari jalur area yang bertulis penerbangan antarbangsa. Aku harus melewati pemeriksaan seperti biasanya, melewati bagian migrasi juga. Untuk itu, paspor harus selalu ada. Setelah itu, aku mencari tempat untuk check in. Oh iya, ada orang yang bertugas menjawab pertanyaan di sini. Ia memakai selempang bertulis “Ask Me”.  Selain kepada si Ask Me aku harus bertanya ke beberapa orang di mana check in untuk penerbangan Lion atau Malindo. Hingga aku menemukan bahwa aku harus ke jalur A. Aku menerima dua boarding pass. Satu untuk penerbangan ke Jakarta, satu lagi untuk ke Banjarmasin. Selanjutnya aku mencari Gate C31. Untuk sampai ke Gate C31 aku naik eskalator. Aku tiba lebih awal di Gate C31. Akupun bekeliling meihat-lihat. aku sempat membeli coklat di counter coklat. Tidak banyak karena aku kesulitan membawanya.



Tibalah waktu penerbanganku ke Jakarta. Aku duduk bersebelahan dengan seorang gadis muda yang lugu dan polos, berpenampilan sederhana, seadanya. Ia menduduki jatah bangkuku dekat jendela. Aku tidak peduli, bagiku tak soal aku duduk di manapun. Sayangnya, pramugari memeriksa boarding pass kami dan ia menyuruh duduk di bangku sesuai yang tertera di boarding pass. Saat menukar tempat duduk itu, tas kardus si gadis robek bagian bawahnya. Akibatnya barang-barangnya berhamburan. Aku membantunya memungut barang-barang. Pramugari menyuruhku bergegas duduk. Setelah duduk, aku mengeluarkan tote bag yang kulipat dalam tas selempangku. Tote bag yang kubawa dari Banjarmasin, yang kuniatkan sebagai cadangan kalau terjadi sesuatu hal. Selama di Malaysia aku tak pernah menggunakannya. Aku kasihkan tote bag itu ke dia. Dia kaget dan sangat senang. Ia hendak membayarnya. Kujawab dengan senyum sambil bilang tak perlu bayar. Ia berkali-kali berterima kasih. Aku dan dia bercakap-cakap berbahasa Melayu. Ia fasih sekali berbahasa Melayu. Aku hampir tidak menduga bahwa ternyata ia orang Indonesia. Dia ternyata seorang TKW yang sudah 2 tahun bekerja di Malaysia. Ini kepulangan pertamanya setelah 2 tahun. Itupun hanya untuk 3 hari.

Sesampainya di bandara Sutta, setelah sekian lama bercakap melayu dalam pesawat aku mengingatkan dia, “Bisakah kau mengubah gaya bicaramu ke bahasa Indonesia saja?” Aku mencemaskan dia. Dia bilang dia sama seperti aku, tidak pernah pergi sendirian sebelumnya. Aku takut ada orang akan berniat jahat kepadanya kalau tahu dia asing dan tidak tahu apa-apa, sementara cakapnya pun bukan Indonesia. Sebenarnya terlintas dalam hatiku hendak mengantar dan menemani dia sampai ke rumahnya. Konyolnya aku. Aku sendiri tidak tahu medan bukan? Akhirnya aku menitipkannya pada Tuhan. Semoga gadis TKW itu selamat sampai rumahnya.

Mencari Terminal 1A
Aku mendarat di terminal 2D. Setelah melewati pemeriksaan di bagian paspor dalam negeri, aku mencari pintu keluar untuk menuju terminal 1A. Aku bertanya kepada seseorang. Ia menjelaskan panjang lebar, khas orang Indonesia. Aku harus menyeberang kemudian naik ke atas, mencari Sky Train. Di sana aku bertanya lagi dengan seseorang. Ia mengenakan seragam bersama beberapa temannya. Mereka petugas bandara tapi aku tidak tahu apa persisnya. Mungkin semacam mekanik, teknisi, atau apalah. Ia seorang lelaki yang masih muda. Keramahannya membuatku berkali-kali menggumam dalam hati: I love u Indonesia. Ia menjelaskan padaku bagaimana cara menuju terminal 1A. Ia membersamaiku dalam Sky Train menuju terminal 1. Selama dalam Sky Train ia mengajakku ngobrol. Ia bertanya untuk apa aku ke Malaysia. Aku menjawab seperlunya. Lalu ia bertanya, berarti ibu seorang dosen? Selanjutnya ia bercerita pernah ditawari jadi dosen di sebuah kota di Indonesia dan akan dikuliahkan lagi. Ia sanagt ingin menjadi dosen. “Lalu kenapa tidak diambil?” Tanyaku. Dia menjawab sambil tersenyum, “Tempatnya jauh dari orang tua”. Keluar dari sky train ia menunjukkan arah yang harus kuambil selanjutnya. Aku mengangguk dan berlalu sambil berterima kasih, lalu...lagi-lagi kau berdoa pada Tuhan, semoga suatu hari, cita-citanya tercapai.

Setelah menemukan  dan memastikan letak pintu keberangkatan 1A, akupun mencari tempat makan. Bayangkan, tak ada setetes airpun kuminum sejak bangun tidur. Jamku menunjukkan pukul 16.14 waktu Banjarmasin. Aku makan di AW. Memesan nasi, ayam goreng, sup dan coklat hangat.
Aku makan dengan perasaan tidak karuan yang sulit kutuliskan di sini. Aku rasa, aku kesulitan menelan makanan. Coklat hangatnyapun tak bisa kuhabiskan. Lalu aku mencari mushola. Aku menjamak takhir sholat dhuhur dan Asar.
Makan di AW


Cukup lama waktu aku menunggu di terminal 1A. 



Hingga tiba waktuku terbang. Aku tertidur  sepanjang penerbangan. Bangun dengan perasaan yang campur aduk. Aku terakhir turun dari pesawat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah, aku mampir makan mie bakmi Jawa dan minum segelas jus wortel di sebuah rumah makan di Bandara Syamsudinnor sambil menunggu dijemput. 

Malam sudah larut. Aku pulang.... []








9 komentar:

  1. Ya Allah Ka, ulun rasa umpat lamah lintuhut membaca kisah pian nih. Alhamdulillah sudah bisa sampai di Bjm lagi denga tak kurang satu apapun. Kecuali duit mungkin lah. Heee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, perut saya juga ikutan mulas membacanya. Apalagi saya jarang bepergian naik pesawat,
      jadi rasa mulasnya familiar, keingat betapa gugupnya juga saya dulu saat naik pesawat berdua-an saja dengan adik yg belum pernah sekalipun naik pesawat XD

      Syukurlah bisa sampai dengan selamat ya ^^

      Hapus
  2. mbak Nai perasaanku bercampur aduk baca ceritamu haha.antara terharu, ikutan gugup sekaligus ngakak hehehe.
    kalau aku sebaliknya denganmu. sering banget bepergian sendirian huhu.bener bgt, kuncinya keberanian aja kok.
    bahkan aku pernah dikirim ke LN sendirian hahaha.aku kira rombongan perginya ternyata aku dikirim sendirian.haha.sama kepanikannya :)

    BalasHapus
  3. Detil banget mba gambaran perasaan dn kondisi pian saat itu. Yang baca ikutan gugur dan panik juga.... Serasa ada di depan mata, menghayalkan perjalanan pian dari hotel masuk mobil hingga sampai di bandara Syamsudin Noor... Seru-seruan gugup kaya gitu nah.... Mesin self check in sekarang juga ada di Bandara di Balikpapan mba, lumayan membantu buat mengurangi antrian.

    BalasHapus
  4. aku yg pernah ke KL rombongan aja mungkin kalo sendirian aku panik juga. Baca tulisan pian jadi ada gambaran. Dan bener banget, bertandang ke negeri orang itu bikin kita tau, kalau orang Indonesia ini ramah banget. Kemana pun kita pergi, Indonesia adalah rumah terindah

    BalasHapus
  5. Aku sering mbak bepergian sendiri, kuncinya buat aku sih ketaui dari A kita mau ke B atau C naik kendaraan D atau E. Pokoknya sudah di planning Insyaallah bakalan selamat sampai tujuan

    BalasHapus
  6. Duh bu.. Ternyata phobia kita hampir sama semua. Wkkwwk. Takut keramaian ditengah kesendirian, takut diculik ketika travelling sendirian. Ini ulun banget. Salut banget baca pengalaman diatas. Sampai senyum2 lun membaca. Tp sambil mikir jua, "kalo aku sanggup kah begini?" hihi. Sukses selalu bu. Kereeeeen banget piyan. The best dah.

    BalasHapus
  7. Mbak Nay, rasa ketakutan km sama kayak rasa ketakutan aku. Aku tak pernah travelling sendirian karena hal tersebut. Satu-satunya cara kalo di Bandara adalah mengikuti orang yang penerbangannya sama dengan rute yang sama tapi balik lagi, aku pemalu untuk bertanya kepada orang lain tapi keberanian memang selalu muncul di waktu yang tepat tetapi memang sengaja menekan rasa takut dan malunya sih. Hihi

    BalasHapus
  8. Wahhh mbak nay, jadi ikutan gugup juga ulun. Pernah jua pergi naik bis sendirian rasanya tu pikiran nya wan orang mmbawai bepandir tu was was .

    BalasHapus