Sabtu, 21 November 2020

# esai # sastra

APA YANG KAUHARAPKAN DARI HATI YANG RAPUH; DALAM CERUK KESEDIHAN; DI PINTU SEPI

 Tentang Antologi Puisi Tangan-tangan Kecil Semesta Karya Mahasiswa Prodi PBSI FKIP ULM 2020


 

 


Terkadang butuh waktu menyendiri

Bukan tuk melamun

Hanya saja merenung diri

Menjauh dari keramaian

Dan berteman dengan keheningan

....

(“Insecure (Aku Terlalu Rapuh)” Puisi Karya Muhammad Hendriansyah, hlm 38)

 

***

Pendahuluan

Dari sekian puisi yang terdapat dalam antologi Tangan-tangan Kecil Semesta (TtKS) karya mahasiswa PBSI ULM (2020) yang dieditori oleh Sainul Hermawan, puisi berjudul “Insecure (Aku Terlalu Rapuh)” Karya Muhammad Hendriansyah menarik untuk dijadikan pintu masuk sebagai salah satu jalan menyelami kanal puisi para generasi milenial ini. Dia ibarat portal menuju dunia entah yang hectic, hiruk-pikuk; dipenuhi pernik-pernik kemajuan zaman dan teknologi, perubahan tradisi, revolusi industri terbaru. Portal yang setelah berhasil kita lewati justru akan membuat kita tercekat dan tersadar bahwa tidak ada yang berubah sebenarnya. Hidup dan kehidupan berpola. Kisah-kisah berjalan mengikuti pola. Cerita mungkin berbeda tapi amanat yang dibawa tak berubah, tak lekang oleh masa.

Amanat kehidupan yang dititipkan pada sehelai puisi tidak semudah karya sastra lainnya untuk ditelisik. Meski kita sudah memahami seluruh unsur intrinsiknya, menelusuri unsur ekstrinsik puisi juga sangat baik dan perlu dilakukan jika kita benar-benar ingin menemukan makna yang sesungguhnya. Di akhir pengantarnya untuk antologi puisi TtKS, Sunu Wasono menyampaikan satu harapan semoga pembaca bisa berdialog dengan sajak-sajak yang terhimpun dalam antologi tersebut. Sebuah harapan yang sangat solutif. Bukankah berdialog merupakan salah satu cara manusia untuk bisa (saling) memahami. 

Antologi TtKs ditulis oleh sekelompok mahasiswa yang menjalani kehidupan sebagai generasi milenial. Generasi yang sering kali diklaim baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain sebagai sebuah generasi paling maju. Sayangnya, berbagai kemajuan yang melingkupi mereka tidak serta-merta menjadikan mereka sebagai manusia baru yang terlepas dari kemungkinan-kemungkinan buruk atau negatif. Salah satunya, perasaan insecure yang saya jadikan gerbang untuk meyingkap seluruh puisi. Dengan pendekatan psikologi sastra, inilah bedah kecil yang saya lakukan untuk TtKS.

Di Pintu Insecure

Insecure, atau rasa tidak aman, bisa diartikan sebagai rasa takut akan sesuatu yang dipicu oleh rasa tidak puas dan tidak yakin akan kapasitas diri sendiri. Rasa insecure inilah yang pada akhirnya, memicu anak untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Perilaku insecure pada anak dapat dicegah dengan mengasuh anak dalam cara-cara yang dapat meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan optimisme anak. (Muaawanah, 2017) http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/assibyan/article/view/1336

Perasaan secure dan insecure yang dimiliki oleh seseorang tergantung dari internal working models of attachment yang dimilikinya (Bowlby dalam Collins & Feeney, 2004). Perasaan tersebut merupakan representasi umum tentang bagaimana orang terdekat memberi respon dan memberikan dukungan setiap kali seseorang membutuhkan orang lain dan bahwa dirinya sangat mendapat perhatian dan dukungan. Ini juga sangat berperan untuk membentuk kognisi, afeksi dan perilaku seseorang dalam konteks yang berhubungan dengan attachment. Individu yang mendapat secure attachment akan mengembangkan sebuah working model tentang dirinya sebagai orang yang dicintai dan memandang orang lain dekat, perhatian dan responsif terhadap kebutuhannya. Sebaliknya, individu yang mendapat insecure attachment akan mengembangkan working model diri yang tidak berharga, tidak kompeten dan sebagainya (Aji, Pranoto dan  Zahrotul Uyun, 2010).

Sebuah penelitian berjudul Hubungan antara Insecure Attachment dengan Kesepian yang dilakukan oleh Veri Aristi Amalia (2016) mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menghasilkan simpulan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara insecure attachment dengan kesepian.

 

 

Pembahasan


Butuh waktu bagiku menerimanya

Sempat raga dan batin tak seirama

Bahkan hatipun tak jelas suaranya

 

Aku sudah terlalu rapuh untuk dipatahkan

Bahkan terlalu retak untuk dipecahkan

Dihujani cacian seakan hal biasa

Lirikan matanya seolah menghina

 

Lidahnya bak seribu duri

Tiap percikan liur hanya menggores sembilu di hati

 

Dalam tes-tes atau wawancara psikologi, biasanya kata demi kata atau diksi/ pilihan kata yang diucapkan oleh klien merupakan petunjuk berharga yang tidak bisa diabaikan. Kadang-kadang kata diwakili oleh simbol-simbol, lambang, gambar, coretan-coretan tangan untuk kemudian diselami, dimaknai. Pendekatan semacam itulah yang harus dilakukan saat kita menyelami TtKS melalui pintu bernama insecure.

Meski tidak disebutkan siapa yang melakukannya, dapat dilihat dan didengar dengan jelas bahwa aku lirik dalam cuplikan bait-bait puisi  di atas mendapatkan perlakuan yang buruk. Ini bisa diketahui dari frase-frase seperti  dihujani cacian, lirikan menghina, lidah seribu duri, tiap percikan liur hanya menggores sembilu di hati. perlakuan-perlakuan yang ia terima inilah yang kemudian membuat aku lirik mengembangkan working model diri yang tidak berharga, tidak kompeten dan sebagainya seperti disebutkan oleh Aji dan  Zahrotul Uyun (2010). Aku sudah terlalu rapuh untuk dipatahkan. Bahkan terlalu retak untuk dipecahkan. Seperti itu yang muncul dalam perasaan aku lirik. Perasaan bahwa dirinya rapuh dan retak merupakan sebuah pernyataan alias dialog yang coba disampaikan sebagai salah satu bentuk insecure yang dialami.

Selanjutnya tengoklah Linda Pahlina dalam Puisinya “Segaris” hlm 37.

dalam garisku sebagai manusia

aku hanyalah orang yang penuh kegagalan

tanpa ada seorangpun yang sudi

menjadi tempat sekadar berbagi pelukan

saat hidup ini terasa menyakitkan

 

dalam garisku sebagai manusia

aku hanyalah orang yang kalah

yang menyerah, dipermainkan imajinasiku sendiri

....

                Sungguh sedih mendengar aku lirik bertutur sebagaimana dalam cuplikan bait puisi di atas. Akan tetapi, kejujurannya menyampaikan semua yang dirasakan merupakan sebuah kabar baik. Ini artinya, aku lirik mengenali perasaan-perasaan insecure yang ada pada dirinya. Aku lirik juga dengan lugas menyampaikan apa yang ia inginkan, apa yang ia harapkan dalam garis hidupnya sebagai seorang manusia. kutipan-kutipan ini selanjutnya menjadi petunjuk. .../aku lelah merasa terbuang/.../aku jatuh.../.../aku hanya ingin memanusiakan diriku/hingga disematkan kata pantas/diperlakukan sebagai manusia.//

                “Bunga Tak Bernama” ditulis oleh Firda Nabila Hidayati pada halaman 30, memperlihatkan insecure attachment yang diterima aku lirik, duri yang tumbuh bersamanya terus membisikkan bahwa dirinya tak lebih dari bunga buangan, bunga yang tak pernah diharapkan. Jika pada puisi sebelumnya tidak jelas siapa yang memberikan perlakuan-perakuan buruk terhadap aku lirik, pada puisi Firda ditulisnya bahwa duri yang tumbuh bersama sang bunga lah yang menumbuhkan perasaan insecure itu. Siapakah duri yang tumbuh bersama bunga? Orang-orang terdekat, orang-orang yang masih berada dalam satu lingkaran utama. Inilah salah satu contoh insecure attachment. Perlakuan-perlakuan tidak nyaman justru dilakukan oleh orang terdekat. Ini tidak bisa dipungkiri. Berita-berita di berbagai belahan bumi sudah banyak yang menginformasikan peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti orang tua yang menganiaya anaknya - melakukan kekerasan fisik dan psikis, anak yang menjahati orang tuanya, kakak terhadap adik, adik terhadap kakak, paman, bibi, sepupu, sahabat dll. Pada puisi Ayu Anindya Sekarndari, “Asalkan Ibu Tetap di Sini” hlm 24 makin memperjelas pentingnya secure attachment bagi seseorang. Ibu sebagai individu pertama dan utama dalam kehidupan manusia dalam puisi tersebut dengan lugas dituturkan oleh aku lirik .../Asalkan ibu tetap di sini/ Hidupku akan selalu penuh makna//.

Selanjutnya Annida Fitriani di hlm 9 dalam puisinya "Dalam Ceruk Kesedihan" menulis /jiwa-jiwa yang rapuh/lirih kumembisik sebuah ratapan/tentang leburnya perasaan/....Cahaya Nor Hidayah dalam puisi “Ruang Jiwa”hlm 27 menyuguhkan tentang keadaan sunyi tanpa suara. Sepercik semangatpun hampir tak ada/ tampak kuat padahal tak tersisa apa-apa/.../ingin rasanya berdebat dengan jiwa/.... Sunyi, sepi berkaitan dengan insecure. Kemudian rasa insecure ini pada akhirnya, memicu seseorang untuk menciptakan ‘topeng’ agar sisi lain yang ingin kita sembunyikan itu tidak terlihat oleh orang lain. Tampak kuat padahal tak tersisa apa-apa.

                Lantas, bagaimanakah perasaan-perasaan tidak aman alias insecure tersebut sebaiknya disikapi? Antologi ini memaparkan dengan apik melalui beberapa puisi. Jika diamati maka polanya adalah pertama-tama ada rasa terluka, marah, benci, ingin melampiaskan semuanya, lalu tahap berikutnya melakukan perenungan, memilih untuk diam, hingga menemukan satu titik kembali pada hakikat sebagai manusia, makhluk yang tunduk pada ketetapan Tuhan. Seperti sambungan puisi insecure berikut ini

Ingin kumarah dan melepas amarah

Tapi lisan lebih memilih untuk tidak

Kadang semangatku membara

Dan tak heran  jika awan hitam bisa saja datang tiba-tiba

Pada akhirmya diri memilih tak peduli dan menutup telinga

Dan mencoba berdamai dengan realita

 

Ada fase untuk memilih, seperti kata Nur Anggia Febrina dalam “Memilih” (hlm 46). Dalam menjalani hidup kita akan selalu/memilih antara memacik nafsu atau/memeluk nurani/.... ada proses bagi makhluk yang berpikir. Selain itu, Anisa Nurul Fadilah memberikan sebuah altenatif paling keren melalaui puisi “Syukur” pada halaman 10. Perasaan-perasaan tidak nyaman dan tidak puas terhadap diri sendiri kadang juga disebabkan oleh kurang bersyukurnya kita terhadap kehidupan kita. .../Begitu bodohnya aku/tidak bisa bersyukur dengan apa yang kumiliki//.

Cahaya Nor Hidayah menulis di bait terakhir “Ruang jiwa” ah, tapi tenang saja/bukankah tuhan maha tahu/apa-apa yang tersembunyi di balik segalanya/dan takkan pernah mengacuhkan hamba yang datang/kepadanya//.

Sri Annisa dalam “Tangan-tangan Kecil Semesta” memberikan gambaran .../Aku berjalan merenungi semesta/Kita diberikan kehidupan yang berbeda, dengan/punggung yang beda juga kuatnya/.... Puisi Annisa sekaligus yang menjadi judul antologi ini dengan bijak menepuk pundak kita saat hati bersimpah duka. Kehidupan yang berbeda dengan punggung yang berbeda juga. Menerima kenyataan bahwa kita berbeda dari orang lain kadang perlu untuk menyadarkan kita agar tidak selalu menjadikan kehidupan orang lain sebagai tolak ukur. Kita perlu menyadari bahwa Tuhan tidak akan membebani di luar batas kemampuan kita; menyadari bahwa tidak akan tejadi apapun kepada kita selama tidak tertulis dalam takdir kita.

                Lantas, berterima kasihlah pada Dina Septiana Dewi yang dengan lugasnya pada hlm 29 menulis “Takdir Tuhan Pasti Baik”.

Ketika kau hampir menyerah pada tujuanmu

Jangan pernah kau berbalik arah

Apalagi berhenti untuk menggapainya

Ingatlah Tuhan selalu di sisimu

Mungkin apa yang kauminta sekian lama

Belum juga terwujud

Bukan karena Tuhan tak mendengar doamu

Tuhan lebih tahu apa yang kaubutuhkan

Karena takdir Tuhan pasti baik

 

***

 

 

Epilog

 

Saya akan kembali sekarang, melewati portal yang berbeda. Di penghujung esai ini, saya kutipkan sebuah puisi yang akan menghantarkan kita menuju jalan pulang. Ditulis oleh Anugrah Gio Pratama, begini bunyinya:

 

 

Di Pintu Sepi

 

Di pintu Sepi,

Pecahan pagi berguguran

 

Aku menyentuhnya

Lalu keributan mengungsi

Ke dalam dada

Lalu kesedihan tumpah

Di pelupuk mata

 

Tidak masalah jika saat ini kita merasa sedang insecure, tidak aman, tidak nyaman. Tidak masalah jika hari ini kita menangis atau bersedih dalam takaran yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh penduduk lain di muka bumi ini. Jika fase itu sedang kita jalani, itu artinya kita perlu jeda, perlu rehat. Jemputlah kata-kata sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga dada. Kata-kata indah, positif, penuh harapan, penuh doa, agar besok jauh lebih baik daripada hari ini.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar