Sabtu, 07 November 2020

# esai

Si Cantik dan Traumatik Politik

 (Sejarah yang Dititipkan dalam Novel May Karya Sandi Firly)

Oleh Nailiya Nikmah JKF

 


 

Prolog

Disadari atau tidak, sejarah hanya memuat dua hal besar dalam perjalanannya, yaitu rasa cinta dan rasa benci. Perasaan cinta dan benci sama-sama memberikan energi yang besar pada seseorang untuk melakukan sesuatu. Cinta cenderung mengarah kepada hal-hal positif sedangkan benci cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Rasa cinta atau benci yang mendominasi hati seseorang akan menutupi dirinya dari segala hal yang bernama objektivitas. Segalanya menjadi subjektif dan menjadi sulit untuk menerima pendapat orang lain. Mampukah kita menjadi lebih adil ketika berhadapan dengan berbagai peristiwa demi sesuatu yang bernama sejarah sebab sejatinya sebuah sejarah adalah riwayat mengadanya kita dan segala yang pernah ada.

 

Sastra dan Psikologi

Fenomena sastra sebagai cermin pribadi telah lama berkembang. Hanya saja, istilah “cermin” di sini bukan berarti sebagai cermin pribadi pengarang karena tidak selamanya pribadi pengarang selalu masuk ke dalam karya sastra yang ia ciptakan ( Endraswara dalam Minderop, 2013). Tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita, ada untuk membangun kisah, membangun suatu objek, secara psikologis merupakan wakil sang pengarang. Pesan-pesan pengarang muncul melalui para tokoh yang ia hidupkan dalam ceritanya.

John Keble berpendapat kedekatan antara karya sastra dan psikologi dapat dicermati melalui, misalnya karya-karya sastra yang merupakan ungkapan pemuasan motif konflik – desakan keinginan dan nafsu yang ditampilkan para tokoh untuk mencari kepuasan imajinatif yang dibarengi dengan upaya menyembunyikan dan menekan perasaan – dengan menggunakan ‘cadar’ atau ‘penyamar’ dari lubuk hati yang paling dalam (Abrams dalam Minderop). Gelora jiwa dan nafsu yang tampil melalui para tokoh inilah yang dapat digali melalui pendekatan psikologi. Psikologi sastra merupakan sebuah interdisiplin psikologi dan sastra. Mempelajarinya sama dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Menurut Minderop, daya tarik psikologi sastra adalah manusia yang melukiskan potret jiwa. Bukan jiwa sendiri saja yang muncul, melainkan perwakilan jiwa-jiwa orang lain. Setiap pengarang menambahkan pengalamannya sendiri dalam karyanya, pengalaman tersebut sering pula dialami oleh orang lain.

 

May

Membaca May (2019) adalah membaca jiwa-jiwa para tokoh; membaca sekelumit peristiwa sejarah yang menjadi hal traumatik bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung. Peristiwa kelam yang dalam kepala masyarakat serta-merta berlabel “Politik” dengan sebutan khusus yaitu Jumat Kelabu. Jumat Kelabu mungkin menjadi satu-satunya tragedi besar di bidang politik bagi warga Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin. Ia menambah satu lagi point dalam daftar abu-abunya sejarah Indonesia. Tidak jelas diketahui apa sebenarnya yang terjadi, siapa, mengapa dan bagaimana.

 

...bukankah terkadang kebenaran sejarah itu sering ditutup-tutupi, bahkan disembunyikan sampai mati? Sejarah menjadi sejarah itu sendiri.”

“Lalu apa yang hendak kamu sampaikan dengan novelmu?”

“Mungkin tentang tragedi manusia-manusia setelah peristiwa kerusuhan itu.”(hlm 128).

 

Kutipan tersebut dan kutipan lainnya yang senada dengan itu (cari dan bacalah sendiri), sejalan dengan teori psikologi sastra sebelumnya yang menyebutkan bahwa pesan-pesan pengarang muncul melalui para tokoh yang ia hidupkan dalam ceritanya. Sandi memunculkan Kin sebagai sosok yang tidak terlalu jauh berbeda dengan dirinya. Seakan-akan Kin adalah Sandi yang sesungguhnya. Sandi sebagai pengarang bisa saja berlindung dibalik fiksionalitas sebuah novel. Akan tetapi, sesungguhnya, sandi terjebak pada fiksionalitas tersebut. Dengan beberapa pengaburan, ia justru seperti memperlihatkan banyak hal yang ia titipkan dalam May. Berikut, beberapa hal yang dititipkan Sandi dalam May.

1.       Ketakutan, kegamangan sebagai orang yang hidup dalam masa terjadinya tragedi tersebut.

Kegamangan dan ketakutan Sandi sudah terbaca dari sisi penamaan para tokoh. Ketakutan-ketakutan yang lumrah setiap kita hendak bicara politik menjangkiti pemikiran Sandi. Menyebut satu kata, satu nama, bisa jadi akan membuat kita terlibat banyak dalam suatu kejadian. Karena itulah kita takut, takut menyebut nama seseorang, takut membuat orang terfitnah atau tertuduh tanpa pembuktian yang jelas. Sandi memilih menamai tokohnya dengan gadis kedai, pak tua, laki-laki berjenggot, lelaki gendut, laki-laki muda, perempuan dewasa, pelaut muda, pemuda berdasi. Penamaan yang teramat umum, sulit untuk diidentifikasi terutama jika dikaitkan dengan lokalitas setting novel ini. Beberapa tokoh yang diberi nama misalnya, May, ini semacam berlindung dibalik penanda waktu kejadian saja. Tidak bisa dirujuk kepada satu sosok tertentu. Pak Gun, juga bukan nama seseorang yang mewakili tempat peristiwa ini terjadi secara khusus.

2.       Opini Sandi tentang tidak adanya penanda tragedi Jumat Kelabu dan karakter orang Banjar.

Jika kita membaca hlm 125 – 127 kita akan dapatkan hal utama yang hendak disampaikan pengarang dalam novel ini.

“Mengenai peristiwa 23 Mei, apakah ada tugu peringatannya? Tanya kin.

“Tidak ada.” Jawab May singkat. (hlm 125).

....

3.       Alam bawah sadar dan traumatik para tokoh

Hampir seluruh tokoh yang terlibat dalam tragedi 23 Mei dalam novel ini mengalami traumatik gangguan kejiwaan. Sebagai orang Banjar yang biasanya pemaaf, May merasa harus sudah bisa memaafkan dan melupakan. Tidak banyak orang tahu bahwa tanpa penanganan psikologis yang tepat, alam bawah sadar selamanya akan bekerja mengenang peristiwa sebagaimana kejadian awalnya.Yang paling parah, tidak salah lagi adalah May si gadis kedai. Sayangnya, ia pun ditulis dalam kegamangan hingga ending.

 

Kegamangan dalam novel ini bukan sesuatu yang buruk. Inilah sebuah pilihan tema yang dengan berani diambil oleh pengarangnya. Ia adalah bukti nyata bahwa demikianlah fenomena sejarah kita. Entahlah.

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar