Senin, 19 Februari 2018

Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Bahasa Indonesia

12.44 1 Comments
Kali ini, saya menampilkan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Bahasa Indonesia yang saya desain dan saya pakai untuk mengajar di Perguruan Tinggi.




Rencana Pembelajaran Semester

Mata kuliah                           : Bahasa Indonesia               Semester : II  Kode mata kuliah : II  sks :2
Jurusan/ Program Studi      :  
Dosen Pengampu                 : Nailiya Nikmah
Capaian Pembelajaran Lulusan yang dibebankan pada mata kuliah ini :

Sikap

  1. Bertakwa kepada Tuhan Yang MahaEsa dan mampu menunjukkan sikap religius.

  1. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan agama, moral dan etika.

  1. Menginternalisasi nilai, norma dan etika akademik.

  1. Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.

  1. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama dan kepercayaan serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.

  1. Mampu menyusun laporan hasil dan proses kerja secara akurat dan sahih serta mengomunikasikannya secara efektif kepada pihak lain yang membutuhkan.

  1. Mampu bekerja sama, berkomunikasi dan berinovatif dalam pekerjaannya.

  1. Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan kembali data untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi.

Pengetahuan
1.       Memahami konsep penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Keterampilan Umum
1.       Mampu berbahasa Indonesia secara lisan dan tulisan dalam keseharian/umum, akademis dan pekerjaan.

Keterampilan Khusus
1.       Mampu menuliskan beragam komunikasi tulis secara baku khususnya penulisan karya ilmiah.
2.       Mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam komunikasi untuk berbagai keperluan.


(1)
Minggu
Ke-
(2)
Kemampuan Akhir yang Diharapkan
(CP MK)
(3)
Bahan Kajian
(Materi Ajar)
(4)
Metode
Pembelajaran
(5)
Waktu
(6)
Pengalaman Belajar Mahasiswa
(7)
Kriteria Penilaian dan Indikator Penilaian
(8)
Bobot Nilai
1
Mampu menjelaskan sejarah perkembangan dan sumber bahasa Indonesia.

Mampu menjelaskan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.


Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki nasionalisme serta rasa tanggung jawab pada negara dan bangsa.
Perkembangan Bahasa Indonesia
-    Sejarah dan Sumber (cikal bakal) Bahasa Indonesia
-    Kedudukan Bahasa Indonesia
-    Fungsi Bahasa Indonesia
Ceramah

Diskusi

Tugas
Tatap muka
1x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Berdiskusi
Kemampuan mengomunikasi-kan

Kebenaran penjelasan
5%
2
Mampu menjelaskan pengertian ejaan

Mampu menjelaskan sejarah ejaan di Indonesia

Mampu menerapkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam keperluan tata tulis dan tata bahasa sehari-hari terutama dalam situasi formal.

Menginternalisasi nilai, norma dan etika akademik
Ejaan
-    Sejarah Ejaan di Indonesia
-    Ejaan Yang Disempurnakan
Diskusi Kelompok

Pembelajaran Kolaboratif

Tugas mengunduh dan membaca materi EYD
Tatap muka
1x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Diskusi Kelompok

Diskusi Kelas

Akses PUEBI
Kemampuan mengomunikasi-kan pengertian ejaan dan sejarah ejaan di Indonesia

Kebenaran penjelasan tentang penggunaan huruf, penggabungan kata dan tanda baca

Ketepatan penggunaan huruf dan tanda baca dalam setiap tugas tertulis.
10%
3
Mampu menjelaskan pengertian ragam bahasa.

Mampu membedakan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan.

Mampu membedakan ragam baku dan tidak baku.

Mampu menjelaskan pengertian ragam sosial dan menyebutkan contohnya.

Mampu menjelaskan ragam fungsional dan menyebutkan contohnya serta membuat paragraf dengan ragam fungsional tertentu.

Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain.
Ragam Bahasa
-    Pengertian Ragam Bahasa
-    Ragam Lisan dan Ragam Tulisan
-    Ragam Baku dan Ragam Tidak Baku
-    Ragam Sosial
-    Ragam Fungsional

Diskusi Kelompok

Simulasi/ bermain peran

Mencari contoh istilah baku dan tidak baku

Latihan membuat paragraf dengan ragam fungsional tertentu

Tatap muka
1x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Diskusi Kelas

Role Play
Kebenaran penjelasan tentang pengertian ragam bahasa.

Kemampuan mengomunikasi-kan perbedaan ragam lisan dan tulisan.

Kebenaran penjelasan tentang ragam baku dan tidak baku.

Kebenaran penjelasan tentang ragam sosial dan contohnya.

Ketepatan paragraf yang dibuat dengan ragam fungsional yang ditentukan.


5%
4 dan 5
Mampu menjelaskan pengertian kata dan diksi.

Mampu menjelaskan alasan kata-kata harus dipilih.

Mampu membedakan makna kata denotasi dan konotasi serta menggunakannya sesuai keperluan.

Mampu menyebutkan contoh kata bermakna umum dan kata bermakna khusus di bidang yang dipelajari serta mengaplikasikannya dalam kalimat maupun paragraf.

Mampu memahami perbedaan nilai rasa dalam tiap kata yang bersinonim sehingga tepat dalam penggunaannya.

Mampu menganalisis kesalahan dalam pembentukan kata
Kata/ Diksi
-       Pengertian Kata dan Diksi
-       Alasan kata-kata harus dipilih
-       Makna Kata Denotasi dan Konotasi
-       Makna Umum dan Khusus
-       Sinonim
-       Beberapa Kesalahan dalam Pembentukan Kata
Studi Kasus

Latihan mencari kata umum dan khusus di bidang akuntansi dan mengaplikasikan ke dalam kalimat maupun paragraf


Tatap muka
2x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Diskusi Kelas


Kebenaran penjelasan tentang pengertian kata dan diksi.

Kemampuan mengomunikasi-kan alasan kata-kata harus dipilih.

Kebenaran jawaban tugas mencari kata umum dan khusus di bidang yang dipelajari serta kalimat dan paragrafnya.

Ketepatan analisis beberapa kata yang bersinomim.

Ketepatan analisis beberapa kesalahan dalam pembentukan kata.
10%
6










































7
Mampu menjelaskan pengertian kalimat.

Mampu membuat contoh kalimat berdasarkan tujuh pola kalimat dasar.

Mampu menganalisis kalimat berdasar unsur fungsi gramatikalnya.

Mampu membuat kalimat tunggal dan kalimat majemuk.

Mampu menyebutkan ciri-ciri kalimat efektif

Mampu menganalisis kalimat berdasarkan keefektifannya.








UJIAN TENGAH SEMESTER
Kalimat
-       Pengertian Kalimat
-       Pola Kalimat dalam Bahasa Indonesia
-       Jenis Kalimat
-       Kalimat Efektif
Pembelajaran Kooperatif

Studi Kasus

Penugasan mengunduh dan membaca ciri-ciri kalimat efektif


Tatap muka
1x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Diskusi kelas

Unduh contoh kalimat efektif

Kebenaran penjelasan tentang pengertian kalimat.

Kebenaran jawaban soal tentang membuat kalimat berdasar pola kalimat dasar.

Ketepatan analisis kalimat berdasar unsur fungsi gramatikal.

Kebenaran jawaban latihan membuat kalimat tunggal dan majemuk.

Kebenaran penjelasan tentang ciri kalimat efektif.

Ketepatan analisis kalimat efektif.




10%
8 dan 9
Mampu menjelaskan pengertian dan karakteristik paragraf.

Mampu membedakan paragraf deduktif dan induktif serta membuatnya.

Mampu membuat contoh jenis-jenis paragraf menurut teknik pemaparannya.
Paragraf
-       Pengertian dan Karakteristik Paragraf
-       Paragraf Deduktif dan Induktif
-       Jenis-jenis Paragraf Menurut Teknik Pemaparannya

Tatap muka
2x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Proyek Membuat Paragraf

Membuat Kliping Koran
Kemampuan mengomunikasi-kan pengertian dan karakteristik paragraf.

Kreativitas ide membuat kalimat deduktif dan induktif.

Kreativitas dan ketepatan ide membuat jenis-jenis paragraf menurut teknik pemaparannya.
10%
10
Mampu menjelaskan arti dan fungsi surat resmi.

Mampu membuat surat resmi yang baik dan benar berdasarkan teknik penulisan surat resmi.
Menulis Surat Resmi
-       Arti dan Fungsi Surat Resmi
-       Teknik Penulisan Surat Resmi
Pembelajaran berbasis proyek
(proyek membuat surat resmi yang baik dan benar)
Tatap muka
1x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Tugas

Unduh macam- macam contoh surat

Praktik menulis surat
Kreativitas dan ketepatan surat resmi
8%
11
Mampu membuat satu model tulisan kreatif fiksi.

Mampu membuat satu model tulisan kreatif nonfiksi.

Menulis Kreatif
-       Menulis Kreatif Fiksi
-       Menulis Kreatif Nonfiksi
-       MengapresiasiKarya Sastra
Pembelajaran berbasis proyek
(proyek membuat antologi tulisan kreatif fiksi dan nonfiksi)
Tatap muka
1x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Mengapresiasi karya sastra Indonesia dan tulisan kreatif lainnya

Menulis salah satu jenis karya sastra atau tulisan kreatif lainnya
Kreativitas ide

Ketepatan teknik tulisan

Kebenaran tata tulis (ejaan).
7%
12, 13, 14, 15 dan 16
Mampu menjelaskan pengertian, ciri dan jenis karangan/ karya ilmiah.

Mampu menjelaskan teknik penulisan karangan/ karya ilmiah.

Mampu membuat sebuah karangan/ karya ilmiah sederhana.

Mampu mempresentasikan hasil karangan/ karya ilmiah yang sudah dibuat.
Menulis Karangan/Karya Ilmiah
-       Pengertian, Ciri dan Jenis Karangan/ Karya Ilmiah
-       Teknik Penulisan Karangan/ Karya Ilmiah
-       Presentasi Karangan/ Karya Ilmiah
Pembelajaran Berbasis Proyek

(menyusun karangan/ karya ilmiah sederhana).
Tatap muka
5x 2sks x50’

Penugasan terstruktur 1x 2sks x50’

Belajar mandiri
1x2sks x60’
Proyek menyusun makalah/ karya ilmiah sederhana

Presentasi karya ilmiah


Kebenaran penjelasan tentang pengertian, ciri dan jenis karangan/ karya ilmiah

Ketepatan teknik penulisan karangan/ karya ilmiah yang digunakan

Kemampuam mengomunikasi-kan hasil karangan/ karya ilmiah di depan kelas.
35%

Daftar Referensi :

  1. Afra, Afifah. 2007. How To Be A Smart Writer. Surakarta: Indiva Media Kreasi.
  2. Arifin, Zaenal dan Amran Tasai. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
  3. -------. 1998. Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grasindo.
  4. Fajri, Dian Yasmina. dkk. 2004. Buku Sakti Menulis Fiksi. Jakarta: Kimus Bina Tadzkia.
  5. Hakim, M.Arif. 2004. Kiat Menulis Artikel di Media.Bandung: Nuansa Cendekia.
  6. Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah.
  7. Musaba, Zulkifli. 1989. Penuntun Tulis-menulis. Surabaya: Bina Ilmu.
  8. --------.  2013. Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Aswaja.
  9. Rani, Supratman Abdul dan Yani Maryani. 2004. Intisari Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
  10. Semi, M.Atar. 2000. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
  11. Soedjito dan Solchan TW. 2001. Surat-menyurat Resmi Bahasa Indoneswia. Bandung: PT remaja Rosdakarya.
  12. Soeparno, dkk. 2001. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta: Ekonisisa.
  13. Sugiyono. 2005. Metodologi Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
  14. Sutojo, Siswanto dan Michael Setiawan. 2003. Komunikasi Bisnis yang Efektif. Jakarta: Damar Mulia Pustaka.
  15. Tim Penyusun. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  16. Widyamartaya, Al dan Veronica Sudiati. 1997. Dasar-dasar Menulis Karya Imiah. Jakarta: Grasindo.


Menyetujui,



Ketua Program Studi

Dosen Pengampu:

Tanda tangan


Nailiya Nikmah




NIP 198012092005012002

…………………….




Selasa, 13 Februari 2018

PR dan Tugas Anak dikerjakan Orang Tua, Bolehkah?

06.51 8 Comments
Setelah anak memasuki dunia sekolah, sudah tentu akan berhadapan dengan PR atau tugas sekolah. Mulai PR yang sifatnya menyalin ulang teks dari buku paket, PR mengerjakan soal latihan, PR mengarang, PR mencari referensi di internet sampai PR membuat kerajinan tangan atau prakarya. Mulai dari PR yang luar biasa gampang sampai dengan PR yang susahnya minta ampun.

Full day school biasanya tidak memberi anak PR atau tugas yang banyak. Paling-paling PR atau tugas yang memang tidak bisa dilakukan di sekolah pada jam sekolah, misalnya mewawancarai Pak RT, menulis liputan ibadah kurban, dll.
Sementara sekolah negeri pada umumnya memberikan PR yang cukup banyak dengan maksud menambah jam terbang anak alias agar anak rajin latihan soal.

PR yang layak dikerjakan oleh anak

Tahukah, Anda tidak semua PR atau tugas layak dikerjakan oleh anak, lho. Menurut saya PR yang layak dikerjakan oleh anak setidaknya harus memenuhi kriteria berikut;

Dilihat dari jumlah soal
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang jumlah soalnya masuk akal untuk dikerjakan. Masuk akal di sini artinya jumlah soal sebanding dengan waktu pengerjaan dan tingkat atau level pendidikan anak dan jenis soal/mata pelajaran. Misalnya, anak SD mendapat PR matematika dengan jumlah soal 50 s.d 100, jenis soal penerapan beberapa rumus, waktu pengerjaan hanya 1 malam. Ini termasuk contoh PR yang tidak layak dikerjakan oleh anak.

Dilihat dari tingkat kerumitan
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang tingkat kerumitannya sesuai dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor anak. Misalnya, anak kelas 1 SD diberi tugas menyurvei harga sembako di pasar tradisional secara berkelompok tanpa ditemani orang dewasa. Ini termasuk PR atau tugas yang tidak layak dikerjakan oleh anak. Contoh lainnya, anak kelas 2 SD diberi tugas membuat kerajinan tangan yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi seperti menyulam kruistik.
Lain halnya jika tugas tersebut misalnya mengukur panjang aneka daun seperti yang dilakukan oleh anak ini. Tentu tugas semacam ini bisa dikerjakan oleh anak bahkan tanpa ada orang dewasa.


Idealnya tingkat kerumitan dan kesesuaian anak dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor ini sudah tidak perlu diragukan jika dalam penyusunan bahan ajar sudah diperhatikan hal-hal tersebut yang tertuang dalam tujuan pembelajaran maupun kompetensi yang ingin dicapai. Artinya, setiap PR atau tugas menyesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam tiap pembelajaran. Sejatinya, tugas atau PR manfaatnya untuk anak bukan untuk guru.


Dilihat dari keamanan
PR atau tugas hendaknya tidak membahayakan anak baik dari segi fisik maupun mental/psikis. Anak kelas 1 SD misalnya jangan sampai diberi tugas yang memerlukan penggunaan alat-alat berbahaya bagi anak seperti senjata tajam, alat elektronik (colok ke listrik), atau tugas yang harus dikerjakan dekat sungai. Tugas seperti ini kalau tidak didampingi oleh orang dewasa sebaiknya tidak usah dikerjakan oleh anak.

Mengerjakan PR Bersama
Anak memerlukan rasa mampu dan rasa berprestasi dalam dirinya. Penting bagi guru dan orang tua untuk mempertimbangkan apakah tugas atau PR yang diberikan bisa dikerjakan oleh anak secara mandiri. Ketika anak mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri, anak akan mendapatkan rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Ini penting bagi perkembangan emosi dan pribadi anak. Itulah sebabnya perlu ada contoh yang konkret sebelum anak diberi tugas.

Bagaimana kalau anak ternyata mendapat PR yang tidak layak dikerjakan? Bolehkah orang tua membantu? Bukan boleh lagi tapi wajib. Dalam beberapa hal yang kasuistik bahkan bila perlu tugas jangan dikerjakan sebelum mendapat petunjuk lengkap agar anak mampu mengerjakannya. Orang tua bisa menghubungi guru untuk mendiskusikannya.

"Mama, mama saja yang mengerjakan. Aku gak bisa. Kalau gak dikerjakan aku dihukum."

Pernah mendapat kalimat seperti itu dari anak? Bagaimana menyikapinya?


  1. Jangan panik, jangan marah
  2. Jangan sibuk dengan dugaan dugaan sendiri.
  3. Cek soal yang diberikan, cocokkan dengan buku teks atau buku pegangan, cek tujuan pembelajaran.
  4. Tanyai anak satu contoh yang ada di buku, cek kepahamannya terhadap materi. Jika ia tidak paham berarti sudah pasti dia tidak bisa mengerjakan tugas atau PR tersebut.
  5. Beri penjelasan ulang pada anak tentang materi yang menjadi tugas tapi bukan mengerjakan PR dari guru. Jika anak sudah paham, minta dia mengerjakan tugasnya di bawah pengawasan.
  6. Jika hal ini berulang terjadi, barangkali perlu dilakukan diskusi dengan guru. Jika anak memang agak terlambat dari yang lain, berarti perlu dilakukan upaya-upaya lain sesuai kondisi anak.


Pada beberapa buku teks malah terdapat tugas yang khusus dikerjakan anak bersama orang tua. Dengan dibantu orang tua, anak akan lebih bersemangat mengerjakan tugas. Selain itu, ini juga bisa jadi upaya orang tua untuk lebih dekat dengan anak.

Beberapa waktu lalu anak-anak saya mendapat tugas yang harus dikerjakan bersama orang tua. Ada tugas membuat boneka, tugas mengukur aneka daun, tugas membuat pigura dan lain-lain. Mereka senang bukan main. Selain itu, tugas sekolah membuat anak lupa pada gadgetnya. Ini yang penting! []

Jumat, 09 Februari 2018

Menjadi Wanita Karier, salahkah? (Untuk yang hilang malam itu)

19.03 10 Comments
Tulisan yang kupost kali ini adalah curahan hatiku tentang tulisan yang pernah kupost di akun facebook-ku yang membuatku sedikit berseteru dengan seseorang.
Sebenarnya aku menuliskan postingan tersebut karena begitulah yang kurasakan. Siapa kira tulisanku itu membuat aku berkonflik dengan seseorang.


Hai, engkau perempuan yang menjelma sedihku suatu malam, benarkah engkau temanku. Jika ya, mari kita rayakan hari jadi pertemanan. Jika tidak, kurela kaumenghapusku dari daftar temanmu malam itu😔

Menjadi wanita karier, salahkah?*
Catatan kecil Nailiya Nikmah
Kemarin saya membaca sebuah berita tentang anak yang dititipkan ibunya kepada pengasuh lalu anak itu diperlakukan begitu kejam oleh pengasuh. Ramailah para komentator menyampaikan komen dengan beragam gaya bahasa.
Tidak sedikit komen yang isinya menuding dan menyalahkan si ibu yang lebih memilih bekerja daripada menjaga anaknya.
Kalau kamu wanita karier, apa yang kamu rasakan saat membaca komen-komen tersebut? Galau? Samma. Saya juga. 
Lalu, saya tak sengaja menonton sebuah video singkat yang menampilkan adegan anak-anak pulang sekolah berlarian bergegas ke dalam rumah, si ibu (wanita karier) menanti sambil melebarkan tangan hendak memeluk. Eh..anak-anaknya berlalu begitu saja. Mereka malah menghambur ke pelukan pengasuhnya yang menyambutnya juga dengan senyum ceria. Hancurlah hati si ibu. 
Kalau kamu wanita karier, apa yang kamu rasakan saat menonton video tersebut? Galau? Samma. Saya juga.
Salahkah wanita yang berkarier di luar rumah? Jahatkah emak yang meninggalkan anaknya bekerja?
Egoiskah emak yang menitipkan anaknya kepada orang lain?
Saya wanita yang bekerja di luar rumah. Saya pernah menitipkan anak kepada pengasuh, saya juga sering menitipkan anak kepada orang tua. Begitu entengkah tangan saya melepas mereka kepada orang lain selain diri saya sendiri? Begitu ringankah hati ini setiap hari mengucap selamat tinggal sampai jumpa nanti sore?
Mungkin tidak banyak yang tahu. Betapa hati emak yang merangkap wanita karier sering maju mundur cantik dan gelisah galau merana saat berada dalam dilema antara anak dan pekerjaan.
Kalau sudah begitu, apa emak langsung berhenti kerja and say goodbye pada gerbang kantor? Mungkin ada yang menjawab ya tapi banyak juga yang masih bertahan.
Hidup selalu memberikan pilihan-pilihan yang kadang tidak semudah menghitung kancing.
Yang pasti:
Di balik meeting-meeting emak yang kadang sudah seperti artis sinetron (kejar tayang), tersimpan rapal-rapal doa untuk si buah hati.
Di antara sederet schedule emak yang padat merayap terukir rapi impian-impian emak untuk bisa berlibur bersama keluarga ke tempat idaman.
Di setiap langkah kaki emak, baik yang pakai high heels maupun yang jelepak ke lantai, tersulam seluruh kenangan sejak si kecil dalam kandungan sampai menjelma wajah-wajah dewasa.
Di setiap detak jantungnya dan di setiap aliran darahnya, terpahat harapan jiwa-jiwa taat atas permata hatinya.
Mungkin di antaranya ada yang sedikit keliru ketika menapak sebab emak bukan malaikat. Tegurlah baik-baik. Nasihati sembunyi-sembunyi hingga bayangannya sendiri tidak mengetahuinya.
Yang sedang tertatih menjejak di luar rumah dengan tetap menyanjung keluarga, aku bangga padamu.
Yang mantap jiwa memilih berada di rumah, aku menghormatimu.
Apapun yang menjadi pilihan, semoga keluarga kita selalu diberkahi oleh Allah Swt.
*pertama kali saya posting di fb,

Satu atau dua hari setelah tulisan itu kupost, tak sengaja kutemukan sebuah percakapan yang mengomen status seseorang. Isi status tersebut sebenarnya hanya pengulangan singkat atas post-ku di atas. Hanya saja, karena dia bukan wanita bekerja maka tentu saja konteks nya adalah wanita tidak bekerja. Masalah muncul kala aku membaca salah satu komennya yang menyangkutpautkan dengan postinganku di atas. Terjadilah sedikit penggibahan tentang aku yang tanpa mereka sadari aku telah membacanya.

Yang aku sedih..dia mengatakan ini itu tentangku sebagai wanita bekerja -yang semuanya tidak benar. Dia menyimpulkan aku begini begitu hanya karena tulisanku bersudut pandang wanita bekerja.
Padahal sungguh benderang yang kutulis, betapa aku menghormati wanita yang memilih berkhidmad di rumah.

Asal kautahu, aku kerap mengidamkan berada di posisimu. Belakangan aku sadar, kita harus bersyukur apapun peran kita, entah kita memilihnya dengan sadar atau karena terpaksa oleh keadaan.

Oh, teman its so so bagiku.
Bagaimana kamu bisa menulis begitu begini yang tidak benar tentang aku. Kautahu...berbeda pendapat itu tidak aneh tapi mengapa harus menuduhku sejelek itu.

Malam menjadi saksi perdebatan kita di dunia maya. Endingnya kamu minta maaf. Baiklah, Tuhan saja Maha Pengampun. Apalah aku ini jika tidak menerima maaf.

Sayangnya..esok hari, kutengok linimasa, kita sudah tak berteman. Selamat tinggal, teman. Maaf aku harus menegurmu malam itu karena yang kautulis tentangku tidak benar adanya.[]

Kamis, 08 Februari 2018

KISAH ROMANTIS: PUISI, BUKU DAN CERITA CINTA KITA

21.33 13 Comments

Siapa bilang Dilan cowok paling romantis abad ini? Di belahan bumi ini, aku mengenal sesosok cowok romantis selain Dilan. Namanya Jimmy. Dia teman seangkatanku di kampus ungu. Orangnya sederhana, humoris, baik hati dan suka menolong. Ketika aku terpilih menjadi ketua himpunan mahasiswa prodi, dia menjadi ketua di salah satu divisinya. Dari beberapa interaksiku dengannya, aku tahu dia suka menulis puisi. Setelah tahu aku juga suka puisi, kami sering membahas puisi dan tukar-menukar puisi untuk dibahas. Teman-temanku sering mencandai aku.
“Kayaknya ada yang naksir, nih”
Aku cuek saja karena saat itu aku sudah mantap untuk tidak pacaran sebelum nikah. Jadi, ceritanya aku baru mendapat hidayah, berhijab lebih rapi, mencoba belajar agama lebih baik dan menyeluruh.

Dia suka meminjam bukuku. Aku suka mengoleksi novel-novel islami. Jimmy meminjam beberapa. Suatu hari dia menyapaku dan bertanya, “Eh, di mana sih beli buku serial Nida yang judulnya Apapun Namanya Melati Tetap Harum?”

“Lho, bukannya kamu sudah kupinjami buku itu kemaren?”
“Eng, eh, anu,,aku mau beli, bukunya bagus”
“Kayaknya ada yang disembunyikan nih... Jujur saja, bukuku rusak ya?” tanyaku.
Dia pun tertawa malu. Ternyata benar, bukuku tak sengaja rusak lalu ia hendak menggantinya.
“Tidak perlu,” ucapku.
Dia favorit sekali dengan buku itu lho, hehe.

Suatu ketika, aku ikut sebuah pengajian yang membahas beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Salah satunya puisi! Aku pun jadi galau. Apalagi dalam acara tersebut dibahas juga beberapa pekerjaan yang baik untuk  muslimah. Tidak ada penulis puisi atau karya sastra di dalamnya. Cerpen, novel dan yang lainnya adalah cerita bohong, itu yang dikatakan pemateri. Padahal aku baru saja keluar dari kampus teknik dan pindah ke kampus bahasa sastra. Aku memendam kegalauanku sendiri. Tak ada teman sekelas yang mengetahuinya termasuk Jimmy.

Di tengah kegalauanku, sungguh keajaiban, Jimmy meminjami aku sebuah buku. Buku bertema religi sastra. Aku lupa judulnya. Salah satu yang dibahas dalam buku itu adalah tentang para penyair. Itulah pertama kalinya aku tahu ada nama surat dalam kitab suciku yang berhubungan dengan puisi. Nama suratnya adalah Asy-syuaraa yang artinya para penyair. Dalam buku tersebut dikutip QS Asy-Syuaraa ayat 224-227 (cari sendiri yaa dalam Alquran).
Setelah membaca buku itu aku jadi lega. Aku sangat berterima kasih pada Jimmy karena sudah meminjami buku tersebut. Itulah titik “wow” dalam hidupku terhadap kegiatan perpuisian. Aku semakin yakin dengan jalan yang kupilih.

Ketika program kerja kami dipatahkan dan ditentang beberapa dosen prodi, Jimmy malah menyemangatiku. Saat itu, untuk pertama kalinya ada acara bertajuk Olimpiade Sastra Se-Kalimantan Selatan dan kami yang menjadi penyelenggara. Aku sebenarnya takut program ini gagal. Ternyata Jimmy dan kawan-kawan seluruh divisi benar-benar memberikan yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Inilah program terbesar di kepemimpinanku.

Puisi-puisi Jimmy berikutnya menyiratkan rasa hatinya padaku. Aku mulai membenarkan olok-olok temanku dan aku mulai takut dengan sebuah rasa yang mulai muncul.


Akupun berdoa pada Tuhan, doa para jomblo  pada umumnya. Jika dia baik untukku, dekatkanlah, jika dia tidak baik untukku, jauhkanlah.

Di hari lain, sedang asyik kuliah Wacana, seseorang menepuk bahuku dari belakang menggunakan buku. Aku kaget, ternyata Jimmy. Ia menyodorkan sebuah buku tebal. “Aku pinjam di perpus, kayanya kamu suka, aku sudah baca, nih kupinjami,” bisiknya. Buku itu berbungkus kertas koran. Karena penasaran, aku pun segera membukanya, sesaat kemudian aku melotot karena kaget, judul bukunya “Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya”. Saking kagetnya, kertas koran pembungkusnya terjatuh.
Sialnya, dosenku melihat. Salahku juga, duduk paling depan berani-beraninya membuka buku lain di saat kuliah. Beliau mengambil bukuku dan membaca judulnya lantang. “Menikahlah, Engkau Menjadi Kaya”. Beliau tersenyum-senyum lalu menyambung..”Kaya anak barangkali ya?” Malunya akuu.

“Cek email, ya!” pesan Jimmy suatu ketika.
Akupun pergi ke warnet. Zaman old, ngecek email ya ke warnet dulu laah. Ya ampun...isinya puisi sekaligus sebuah lamaran romantis.
Setelah itu Dilan eh Jimmy bertamu ke rumahku, melamarku langsung ke ayahku. 
(Beberapa hari kemudian baru orang tuanya dan orang kepercayaan mereka datang melamarku secara resmi).

Bagaimana? Lebih romants dari kisah Dilan, kan? Hehe.
Jadilah hari itu, 3 November 2002 kami menikah. Saat itu aku masih kuliah s1, baru saja selesai PKL, baru mulai menggarap skrispi dan masih memegang amanah sebagai ketua himpunan mahasiswa prodi....[]


Senin, 05 Februari 2018

Kuliner Unik Urang Banjar

11.46 14 Comments
Aku sedang terkenang dengan kuliner unik/khas Banjar yang waktu kecil dikenalkan ayah kepada kami. Tidak semua orang Banjar bisa memakannya, lho. Yang suka memakan, biasanya jadi ketagihan, apalagi kalau lagi musimnya seperti sekarang.
Berikut kuliner khas yang kumaksud:



Jaruk Tigaron
Ini adalah kembang tanaman tigaron (tigarun: hulu sungai) yang diasinkan, makanya disebut jaruk tigarun. Rasanya agak pahit asam asam gimanaa gitu, krenyes-krenyes pas digigit. Airnya juga enak disiram di atas nasi putih pas untuk teman makan. Selain mengandung serat, sayur ini juga membuat nafsu makan meningkat. Makan bagian bunga atau pucukannya saja, batangnya jangan, keras, kamu takkan kuat, hehe.

Kalangkala
Ini sejenis buah berbentuk bundar. Warnanya merah muda campur putih krem kalau sudah masak. Hati-hati bijinya cukup besar melebihi isinya. Cara menyajikannya: cuci bersih buahnya, kemudian buang bagian penutup atas tempat tangkai menempel (mirip topinya, hehe). Setelah itu, siram dengan air panas, tabur garam secukupnya. Kalau mau masukkan cabe rawit ke dalam wadah. Diamkan beberapa saat. Kalau ingin awet, gunakan sendok ketika mengambil kalangkala dari wadah.
Cara memakannya: kalangkala lebih enak dimakan pakai nasi. Pencet buah dari bagian bawah ke atas sehingga bagian isi keluar, buang bijinya. Isi kalangkala lebih enak kalau dioles di atas nasi panas. Rasa kalangkala agak sepet-sepet gurih, segar, membuat selera makan meningkat. Hm...yummy! Makan nasi akan terasaa lebih nikmat.


Atas: kalangkala
Bawah: mandai

Mandai
Mandai atau kadang ada yang menyebutnya dami, terbuat dari kulit kedua buah tiwadak (mirip nangka). Buah tiwadak biasanya dimakan langsung atau kadang dijadikan bahan isi gorengan yang disebut guduh tiwadak atau gaguduh tiwadak. Nah, bagian luarnya dipotong sesuai selera, taburi garam, goreng dengan minyak panas.
Kadang ada yang membuatnya menjadi olahan lain seperti ditumis campur bahan lain. Kalau aku lebih suka digoreng begitu saja setelah digarami. Oiya sebaiknya kulitnya jangan dicuci. Kalau kulit ini dicuci bersih-bersih maka rasanya akan berubah menjadi hambar dan kurang enak.
Mandai juga dimakan pakai nasi sebagai lauk. Entah mengandung apa, kalau makan nasi pakai mandai membuat selera makan berlipat.


Kamis, 01 Februari 2018

Separuh Jiwaku, FLP, dan Sebuah "Kutukan"

21.26 0 Comments
Aku, Adikku dan Saprudi
Aku sedang berlibur ke pantai Turki Kalsel hari itu bersama keluarga kecilku tersayang. Sesuai hasil musyawarah keluarga, kami mengisi hari libur dengan berkemah di pantai. Kami tiba di pantai ketika hari menjelang sore sehingga sempat menikmati indahnya matahari terbenam di pantai. Akupun berharap besok bisa menikmati keindahan matahari terbit. Aku setengah memaksa anak-anak tidur cepat, meski dalam hati aku memaklumi mereka susah tidur karena sulit beradaptasi dengan tenda yang pengap. Setelah keempat anakku terlelap, aku malah bengong sambil berkipas-kipas. Aku belum bisa memejamkan mata meski penat mendera. Sementara itu, malam semakin jauh merayap.


***
Dari Pantai, dengan Cinta…
Iseng-iseng aku membuka ponsel, sekadar membuka beberapa pesan di grup WA yang belum sempat kubaca karena kesibukanku. Sinyal tidak terlalu bagus, tidak bisa membuka medsos yang lain. Kulihat cukup banyak notif di grup FLP. Artinya aku cukup lama tidak membuka grup. Sedikit ragu kubuka dan kubaca chat kawan-kawan. Ternyata ada satu postingan info tentang lomba blog oleh FLP. Temanya “Aku, Kamu dan FLP”. Seketika aku tersentak. Terasa ada yang meletup dalam dada. Februari di ambang pintu. Milad FLP lagi. Kali ini yang ke-21. Selama itu, aku belum pernah mencatatkan kenanganku bersama FLP di rumah mayaku, Tatirah. Bukankah visi Tatirahku adalah merawat kenangan? Mengapa aku sampai alpa merawat kenanganku bersama FLP? Aku mencoba memastikan dan mengingat-ingat, apa benar aku benar-benar lalai dalam hal ini. Aku tersenyum, ah tidak juga. Ada satu catatanku di Tatirah tentang FLP. Catatan itu berupa artikel atau esai yang cukup formal yang pernah dimuat di koran daerahku. Tulisan itu berjudul FLP dalam Kesusastraan Kalimantan Selatan, kutulis dalam rangka milad FLP ke-16. Aku pun bertekad, kali ini aku harus ikut lomba blog FLP, harus! Bukan sekadar untuk meramaikan milad FLP melainkan karena inilah satu-satunya peluangku untuk “memaksa” diri memahat prasasti bertajuk FLP di Tatirah sebelum segalanya hilang bersama angin.

Setelah memancang tekad tersebut, aku berhasil terlelap tapi kemudian kembali terjaga sekitar pukul 03.00 wita. Aku mencoba menyusun ulang puzzle kenanganku bersama FLP. Tetiba aku teringat seseorang bernama Ra dan selorohnya tentang sebuah "kutukan". Aku menyelimuti kaki dengan kantong tidur, udara pantai sudah berubah drastis.

Proses Pencatatan
Sebelumnya, aku minta maaf, mungkin saja ada kekeliruan dalam pencatatanku karena aku manusia biasa. Ingatkan aku dengan cara yang baik karena demi kebenaran sejarah aku siap mengubahnya. Ditemani debur ombak yang hanya berjarak 100 meter dari tendaku, aku menyusun draf ini (:selanjutnya draf kulengkapi di rumah). Aku menulisnya dengan pena mata hati, mengukirnya berdasar ketajaman memoriku. Bagaimanapun, bicara tentang FLP adalah bicara tentang separuh jiwaku. Sesekali aku menyeka butiran airmata yang mengalir di sudut pipi. Saatnya aku membagi kisah jiwaku. Inilah derap kenanganku bersama FLP, serta kutukannya….

Aku dilahirkan oleh FLP, dibesarkan oleh KSI



Jika ada yang bertanya tentang riwayat kepenulisanku, dengan bangga aku menjawab “Aku dilahirkan oleh FLP dan dibesarkan oleh KSI (Komunitas Sastra Indonesia) Banjarmasin.”

Sejak menguasai baca tulis huruf latin, aku sudah keranjingan membaca dan menulis. Di bangku SD aku sudah memiliki kebiasaan menulis diary. Aku menulis apa saja, menulis puisi, menulis cerita dan hal-hal lain yang membuat aku merasa asyik. Ini seirama dengan hobi membacaku. Seingatku, di bangku SD, selain membaca majalah Bobo, Ananda dan Kawanku serta majalah anak lainnya, aku sudah membaca majalah Anita Cemerlang, Tempo, Senang, Intisari serta serial Wiro Sableng dan novel “Jangan Ambil Nyawaku” (tapi jangan tanya detil kisahnya, aku sudah lupa). Tentu saja aku harus sembunyi-sembunyi ketika membaca bacaan yang tidak sesuai umur itu, sebab kalau tidak aku akan dimarahi oleh ibuku. Kecuali majalah Tempo, lho yaa. Ayah dan ibu tidak pernah melarangku membaca Tempo mungkin karena Tempo enak dibaca dan perlu, hehe. Selain itu, aku suka membaca kisah petualangan seperti Lima Sekawan-nya Enid Blyton.

Bicara FLP Selalu Teringat Annida
Kelas 6 SD menuju SMP, aku mulai hobi korespondensi dan filateli. Aku punya banyak sahabat pena dari berbagai pulau di luar Kalsel. Salah satunya seorang santri dari Prenduan. Cukup lama aku bersahabat pena dengannya. Dia juga membuatku tergabung dalam sebuah klub menulis jarak jauh bernama Kharisma Fans Club (KFC). Aku suka mengirim puisi ke klub. Sampai aku kuliah kami masih terhubung. Santri tersebut dalam salah satu suratnya menasihatiku agar mulai membaca majalah-majalah islami seperti Ummi dan Annida. Aku bingung. Majalah macam apa itu, dari namanya saja terdengar kampungan. Tidak sekeren bekennya Aneka dan tidak sesyahdu Ceria Remaja yang mulai rutin kubeli dengan uang sakuku sendiri. Siapa sangka, di bangku kuliahlah untuk pertama kalinya aku mengenal majalah-majalah tersebut.
Beberapa Koleksi Annida-ku yang masih Tersisa

Seiring proses hijrahku dalam berislam, aku rutin membeli Annida. Yang aku heran, saat itu sulit sekali mendapatkan Annida di Banjarmasin padahal aku sudah kesengsem berat. Sampai akhirnya aku mengenal keluarga Ustadz yang menjadi agen majalah islami di kotaku. Lalu, aku malah menjadi pengedar Annida di kampus. Setalah membaca Annida, aku mulai punya visi “menulis untuk dakwah.” Aku mengagumi para penulisnya.

Aku langsung ikut memesan ketika ada info terbitnya buku kumpulan cerpen islami berjudul Sembilan Mata Hati. Buku tersebut buku pertama yang menjadi media aku menyampaikan nilai-nilai baik kepada kawan-kawan dengan cara meminjamkannya kepada mereka. Aku bukan tipikal teman yang banyak omong kalau tidak dimintai pendapat. Caraku menyampaikan sesuatu adalah lewat tulisan, baik itu tulisanku sendiri maupun tulisan orang lain. 

Setelah Sembilan Mata Hati, satu per satu terbit buku fiksi islami yang hampir tak pernah kulewatkan (beli, baca, pinjamkan). Ketika Mas Gagah Pergi, Hingga Batu Bicara (nah, aku punya kisah menarik tentang koleksi Hingga Batu Bicara yang kini sudah tidak di tanganku lagi)), Pinkan, Tiga Ribu Tanda Tangan, Serial Aisyah Putri, Muara Kasih, Nyanyian Perjalanan, Trilogi Gola Gong, dll. Bacaan-bacaan fiksi islami tersebut cukup besar perannya dalam keistiqomahanku menapak jalan dakwah, selain nasyid-nasyid seperti yang dinyanyikan grup Raihan, Brother, The Mupla, Bestari, Saujana, dkk (terbayang kan aku angkatan lama?). Gara-gara prinsip beli, baca dan pinjamkan ini, aku dan adikku sempat membuka perpustakaan kecil di rumah, khusus bacaaan islami. Selain fiksi aku juga mengoleksi dan meminjamkan majalah  nonfiksi seperti Sabili, Tarbawi dan Ummi.

Beberapa Di antara Koleksi Buku Fiksi Islamiku

Inilah mulanya...
Suatu ketika, dalam salah satu edisinya, Annida membuka pendaftaran kelompok penulis islami bernama “Forum Lingkar Pena (FLP)." Maaf, aku sudah lupa bagaimana detil pengumumannya. Yang jelas, di halaman tersebut ada formulir yang harus diisi. Akupun mengisi formulir dan mengirimnya bersama selembar foto ke alamat yang tertera di majalah. Aku bersemangat sekali ingin menjadi bagian dari komunitas tersebut, sama semangatnya ketika aku bergabung dalam sebuah kelompok pergerakan Islam di kampus. Aku menunggu balasan dari forum tersebut.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Aku ditelepon oleh panitianya. Tidak lama kemudian, aku menerima sepucuk amplop berisi beberapa formulir peserta yang berasal dari provinsiku. Aku malah diminta menjadi koordinator FLP di Kalsel. Bukan, bukan karena aku paling hebat. Kurasa karena akulah satu-satunya pengirim yang memiliki alamat paling lengkap plus nomor telepon rumah. Singkat cerita, suatu hari aku berhasil mengundang para pengirim formulir tersebut ke rumahku melalui surat yang kukirim ke alamat masing-masing. Mereka dari berbagai kampus, berbagai kelompok dakwah, bahkan ada juga yang masih SMA. (Kelak, hal ini - bahwa aku koordinator FLP Kalsel diabadikan Mbak Helvy dalam bukunya Segenggam Gumam).

Sampai bagian ini, aku agak kesulitan mengingat. Aku membayangkan slide demi slide seputar berdirinya FLP di bumi Antasari, bumi Lambung Mangkurat. (Sepulang dari pantai, aku membuka “kotak pandoraku”, di situ aku temukan kembali benda-benda yang menjadi saksi bisu persekutuanku dengan FLP. Aura kutukannya menguar membuatku kewalahan menepis kenangan).

Membongkar Kotak Pandora; Memutar Slide Memori

Disket FLP diantar oleh Mas Bahtiar HS ke rumahku

2001 rumahku didatangi Mas Bahtiar HS. Beliau memberiku satu disket berkaitan dengan FLP tapi aku lupa apa saja persisnya isi disket ini. Aku diminta mengaktifkan FLP di Kalsel, setidaknya Banjarmasin. Aku sempat beberapa kali mengadakan pertemuan dengan teman-teman untuk koordinasi dalam hal ini.

Februari 2002, Mbak Asma Nadia datang ke Kalsel. Sebenarnya waktu itu bukan acara FLP. Akan tetapi, Mbak Asma mencari kontak FLP (aku) dan mencetuskan ide perekrutan anggota di acara tersebut. Kebetulan panitia acara tersebut ada yang berteman dengan teman-temanku di FLP. Mereka tidak keberatan acara Peluncuran Buku Ketika Duka Tersenyum disisipi agenda perekrutan calon anggota FLP.

Acara Bersama Mbak Asma Nadia

Seterusnya aku dibantu teman-teman (termasuk adikku Nailiya Noor Azizah) dari organisasi dakwah kampus . Mereka bersedia menjadi anggota tambahan. Beberapa di antaranya mau gabung karena mereka yakin betapa perlunya dakwah melalui tulisan dan ingin belajar menulis, beberapa lagi karena menyukai cerpen islami, sisanya adalah orang-orang yang tidak terlalu suka membaca dan menulis tapi bersedia bergabung karena ingin membantu sisi manajemen organisasinya. Dari sinilah kepengurusan FLP di Bjm/Kalsel yang lebih rapi terbentuk. Tahap berikutnya adalah Diklat FLP Banjarmasin. Karena aku kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, aku lebih mudah mencari pemateri Diklat di bidang Sastra.

Juli 2002, FLP mengadakan Silaturrahmi Nasional (Silnas) I bertempat di Kuningan Jakarta. Kami bertekad akan mengirim utusan ke Jakarta. Setelah dirapatkan, diputuskan ada 4 orang yang berangkat. 2 laki-laki, yaitu Khairani dan Saiful; 2 perempuan, yaitu aku dan Irva. Waktu itu tiket pesawat masih mahal. Dana hasil sebar proposal tidak terlalu banyak (terima kasih teman-teman yang rela bersusah payah mencari dana), kami harus merogoh saku pribadi alias minta dengan ortu secukupnya. Tidak mungkin kami bisa berangkat menggunakan pesawat terbang. Di antara kami berempat, hanya Irva yang sudah berpengalaman ke luar pulau karena orang tuanya tinggal di Jakarta (dia kos di Banjarmasin).

Silnas 1 adalah pengalaman pertamaku ke Jakarta; naik kapal laut dan kereta api.



Kenangan Silnas 1 
Ayah merelakan ponselnya kubawa (saat itu, ponsel masih barang mewah eui). Kami berangkat menggunakan kapal laut, Banjarmasin-Surabaya. Aku tidak akan pernah lupa pengalaman naik kapal laut kelas ekonomi. Betapa panik dan takutnya aku sesaat setelah gerbang keberangkatan dibuka, para calon penumpang berlarian dan berdesakan masuk kapal. Aku tidak siap. Tas yang kubawa cukup besar, tidak sebanding dengan tenagaku. Aku sempat terjatuh ketika berdesakan. Sampai dalam kapal aku hampir menangis karena Irva sudah tidak ada di sampingku. Sesaat aku bengong. Tidak tahu harus berbuat apa. Penumpang lain sudah mulai menempati tempat duduk. Nyaris tak ada lagi kursi kosong. Banyak penumpang yang duduk di lantai. Ibu-ibu dengan bayinya yang rewel, tua-muda, laki-perempuan, aku pusing, berdiri di tengah-tengah sambil menjinjing tas besar. Aku berdoa, berharap Irva mencariku. Lalu seorang lelaki bertubuh besar menyapaku. Dia memberikan tempat duduknya padaku. Tidak, jangan berharap ini berlanjut dengan perkenalan, tukar nomor ponsel dan seterusnya seperti adegan di film-film romantis, India, Korea atau FTV. Aku paranoid, sempat takut dan berprasangka buruk. Sambil duduk, aku tetap waspada, memasang kuda-kuda. Dalam hati aku menggumam, ingat ya…ingat…kalau ditawari minum jangan mau, siapa tahu ada obat tidurnya; kalau ditanya-tanya jangan lihat matanya. Mulutku komat-kamit membaca aneka doa yang kuhafal. Aku membayangkan lelaki itu penjahat, penculik, germo wanita tuna susila, antagonis pokoknya. Kupasang tampang jelek sejelek-jeleknya, lalu dia begitu saja hilang dari pandanganku. Saking takutnya aku sampai-sampai lupa berterima kasih sudah dikasih kursi (maafkan aku). Untunglah, tidak lama Irva datang menemuiku. Adegan selanjutnya, aku mabuk laut, muntah-muntah ketika ombak mengombang-ambing kapal. Kami menginap satu malam di Surabaya, di rumah saudara kandung ketua KAMMI Bjm. Setelah itu, lanjut perjalanan dengan bis ke Jakarta.

Aku tidak akan pernah lupa, kami tiba di Jakarta dengan pakaian kusut dan sederhana sementara teman-teman dari Kaltim datang dengan seragam yang rapi jali, mereka tiba dengan pesawat terbang. Lucunya, ada yang mengira Kalsel dan Kaltim itu sama sehingga ada yang bertanya padaku, “Kamu kok tidak memakai seragam seperti mereka?” Aku tersipu sambil menjelaskan bahwa aku dari Banjarmasin. Banjarmasin itu di Kalsel sedangkan Kaltim itu lain lagi. Tidak butuh waktu lama, teman-teman langsung paham. 




bersama HTR, GG, Ali Muakhir dan teman FLP daerah lain

Banyak cerita berharga di Silnas 1. Rasanya tak percaya aku bisa bertemu dan berfoto dengan para pendiri FLP seperti Mbak Helvy Tiana Rosa dan Mbak Asma Nadia yang karya-karyanya berperan dalam semangat hidupku. Lebay dikit gapapa kan ya? O,iya yang paling berkesan di Silnas 1 adalah berkenalan dengan Mbak Dee (yang super enerjik dan ramah), berdiskusi dengan anggota FLP utusan seluruh Indonesia bahkan ada juga FLP Mesir. Selain itu aku juga berkenalan dengan Mas Gola Gong. Aku juga sempat bertemu Pak Taufiq Ismail di acara ini, sempat berfoto dengan beliau. Wuiih... aku berasa mimpi bisa ngobrol dengan Pak Taufiq Ismail. Sebelumnya hanya bisa menikmati karyanya di buku dan pelajaran sekolah.
Atas: Aku Bersama Pak Taufiq Ismail
Bawah: Aku, Khairani dan Saiful Nazar

Di Silnas 1 aku juga membeli buku. Salah satunya antologi cerpen FLP Cermin dan Malam Ganjil. Buku tersebut jadi "azimat" bagiku. Di sana ada tanda tangan beberapa orang penting. Tanda tangan kenalanku di silnas, tanda tangan para penulisnya dan tanda tangan Pak Taufiq Ismail. 


Dalam salah satu rute perjalanan pulang, rombongan kami sempat menggunakan kereta api (Kereta api beneran! yang selama kecil kunyanyikan saja, hehe.)

FLP Banjarmasin pernah mengadakan kerja sama dengan Annida dalam acara Kafe Nida

3 November 2002, aku dan adikku menikah bersamaan. Acara pernikahan kami dihadiri oleh teman-teman FLP dan aktivis dakwah lainnya (aku dan adikku tergabung juga dalam Masyarakat Peduli Jilbab). 
Dalam rentang fase ini, FLP Banjarmasin sempat mengadakan acara Kafe Nida bekerja sama dengan majalah Annida mengundang Mbak Dian Yasmina Fajri. Yang zaman dulu bacaannya Annida pasti tahu Kafe Nida:)
Proposal Kafe Nida FLP Bjm

Adikku pindah ke Jogja mengikuti suaminya. Sebelumnya, FLP sempat mengadakan 
acara rihlah tapi aku tidak bisa ikut.

Aku hamil. Untuk itu, aku bergegas menyelesaikan skripsiku yang berjudul “Realitas Ideologi dalam Novel Setitik Kabut Selaksa Cinta Karya Izzatul Jannah”. (Selain HTR, IJ adalah penulis yang karyanya termasuk menggelitik dan membangun jiwaku). Semula novel yang kupilih ini ditentang oleh beberapa dosen. Mereka tidak mengizinkan aku mengangkat novel tersebut. Alasannya novel-novel islami (FLP) yang aku dan teman-teman ajukan dianggap tidak nyastra. Padahal aku berani menjamin, betapa nyastranya karya penulis-penulis FLP. Untunglah masih ada dosen yang mendukung. (Aku sempat menghubungi Mbak Helvy dan Mbak Ije untuk menanyakan beberapa hal seputar judulku). Alhamdulillah, proposalku disetujui oleh dosen-dosen penguji. Aku sungguh-sungguh menggarapnya. Maka, betapa bangganya aku, ketika skripsiku mendapat nilai memuaskan. Ya, aku dapat A. Februari 2003 aku lulus S1 dengan IPK tertinggi di Prodi dan menyelesaikan S1 dalam waktu 3,5 tahun.

FLP Banjarmasin Mati Suri
Setelah melahirkan anak pertama, aku masih sempat menjadi panitia dan menjuri lomba menulis yang kami adakan. Setelah itu, rumah sekretaris FLP kebakaran. Semua arsip dan dokumen kami terbakar. Bendahara pindah ke Jakarta. Pengurus lain, satu satu menikah. Ada juga yang melanjutkan pendidikan ke luar daerah. Lalu, tidak tahu bagaimana kejadiannya, lambat laun FLP Banjarmasin pun mati suri. (Bisa jadi fase awal FLP di bumi Antasari yang aku tulis ini terlupakan).

2007
Aku baru saja menyelesaikan S2-ku. Selain itu, suamikupun sudah berhasil mutasi ke Banjarmasin (kami sempat terpisah 3 tahun karena pekerjaan). Lepasnya beban-beban itu membuatku lebih lancar menulis. Selintasan, aku mendengar ada oknum-oknum yang mengaku sebagai pengurus FLP Banjarmasin padahal bukan. Rasanya tidak rela saja kalau nama FLP dipakai oleh orang yang bukan kader FLP. Akupun membicarakannya dengan adikku dan mengontak Khairani. Dalam rapat kecil di rumahku, kami sepakat untuk mengaktifkan kembali FLP secara resmi di kotaku.

Februari 2007, Cerpenku dimuat pertama kali di Koran Minggu daerahku. Perjalanan menulis fiksiku panjang betul hingga 2007 baru melahirkan karya yang di-publish di media cetak. Di bagian catatan kaki cerpen tersebut aku tulis “Penulis adalah Pengurus Forum Lingkar Pena Banjarmasin.” Cerpen inilah tonggak awal kiprahku di dunia sastra kreatif. Satu minggu setelah cerpenku dimuat, seorang kritikus sastra menulis ulasan cerpenku. Isinya puja-puji yang membuatku melambung (hehe). Dalam ulasan tersebut, dia juga menyebut nama FLP. Sejak itu aku rajin mengirim tulisan ke Koran. Tidak hanya cerpen, aku pun mengirim esai dan puisi.

Aku sempat mengikuti kelas menulis jarak jauh oleh FLP pusat, namanya PMJ FLP (lupa apa kepanjangannya). Kelas ini berbayar, lho. Cukup mahal untuk ukuranku saat itu. Aku memilih konsultasi pembelajaran menggunakan print-out yang dikirim via pos. Kalau aku tidak salah ingat, nama mentorku Denny Prabowo. Sayangnya, aku tidak menyelesaikan tugas akhir sehingga aku tidak sempat mendapatkan sertifikat.
Beberapa Materi PMJ FLP

Tidak lama setelah cerpen-cerpenku dimuat di Koran daerahku, aku diundang dalam sebuah pertemuan di Taman Budaya Kalimantan Selatan. Aku diundang untuk bergabung dalam kepengurusan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Banjarmasin (ditunjuk sebagai bendahara). Dalam pertemuan itu, aku disebut-sebut berpotensi memajukan KSI mengingat aktivitasku di FLP. FLP merupakan sebuah organisasi yang rapi di mata teman-teman. Mereka sedikit banyaknya sudah mengetahui FLP melalui anggota KSI cabang lain. Inilah yang kumaksud dengan aku dilahirkan oleh FLP dan dibesarkan oleh KSI. Berbagai kegiatan keren di bidang sastra (tingkat Kalsel) mulai kuikuti semenjak aku tergabung dalam KSI.

Sejalan dengan baktiku di FLP (aku dan adikku juga mulai aktif di FLP bersama suami kami masing-masing). Aku mulai dipercaya menjadi pemateri, pembicara, juri, dalam acara kebahasaan dan kesusastraan di Kalimantan Selatan. Terkait dengan itu, namaku sulit dipisahkan dari nama FLP. FLP seolah melekat menjadi identitasku. Setiap aku berkumpul teman-teman sastra, mereka kerap bertanya bagaimana kabar FLP? – entah itu pertanyaan basa-basi atau beneran mau tahu.

Pada fase ini FLP Banjarmasin bermetamorfosis menjadi FLP Wilayah Kalsel (Ketua Khairani) dan untuk FLP Cabang Banjarmasin sendiri ada juga dibentuk (ketuanya Sri Murni, lalu ada Hangga, setelah itu Panji, selanjutnya Ervina). FLP Cabang Banjarmasin sempat mengundang Mbak Sinta Yudisia dalam sebuah acara kepenulisan. Sementara itu FLP Banjarbaru pernah diketuai oleh Saprudi dan Erry Zulfian.

Oiya, seingatku aku tidak pernah mau jadi ketua, baik itu ketua wilayah maupun ketua cabang Bjm. Aku merasa bebanku sebagai koordinator Kalsel sudah cukup berat. Aku dan teman-teman mempercayai Khairani untuk memimpin kami. Lelaki aktivis bersahaja dari kampus lain yang dulu pernah jadi rekan bisnisku berdagang majalah islami😊. Kelak setelah dia sangat sibuk menjadi orang penting di sebuah sekolah swasta islami, FLP wilayah Kalsel dipercayakan kepada adikku, Nailiya Noor Azizah.

Silaturrahmi Nasional FLP di LPPTK Jakarta dan Kutukan Itu…

Juli 2008 FLP mengadakan Silnas lagi bertajuk "Pekan Sastra Hijau". Aku pun bertekad ikut. Kayaknya aku hobi ikut silnas, hehe. Kalau urusan Munas, biasanya Pak Khairani yang berangkat. Kali ini aku berangkat bersama suami dan kedua anakku. Kami memakai dana pribadi. Sementara dana yang ada di FLP akan dipakai oleh teman lain yang juga berangkat ke Silnas. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku berangkat menggunakan pesawat terbang. O,iya aku selalu membawa anak-anakku dalam kegiatan-kegiatanku, terutama kegiatan FLP. Hitung-hitung mengkader anak sendiri, hehe.

Sebelum berangkat, aku menghubungi teman lama sesama anggota FLP. Ia dari pulau seberang, kupanggil ia Ra.


Album Kenangan Silnas 2
Awalnya aku iseng saja untuk mengecek apakah nomor ponsel Ra masih berlaku. Ketika tersambung dan sapaan khas darinya terdengar, aku terlonjak kegirangan. Ra salah satu pengurus FLP dari pulau sebrang yang kukenali di Silnas 1. Setelah tanya ini-itu basa-basi, aku menanyakan apakah Ra masih aktif di FLP. Kusampaikan aku akan berangkat ke Jakarta untuk Silnas lagi. Dari seberang Ra terkejut lalu terkekeh.
anak-anakku tertidur saat materi
“Apa?! Kau masih saja bersibuk di FLP? Tak ada regenerasi atau bagaimana? Kita ni orang lama, sudah terlalu tua di kepengurusan. Jadi penasihat sajalah. Atau jangan-jangan…kau sama seperti si A (dia menyebut sebuah nama, aku lupa), dia juga kena kutukan FLP, begitu kami menyebutnya. Kalau kena kutukan FLP memang susah untuk berhenti dari kepengurusan, hahaha…” dia tertawa riang.
Aku membelokkan pembicaraan. Kami ngobrol kesana kemari. Di akhir pembicaraan dia masih saja menyebutku kena kutukan. Aku menggenggam ponsel sambil terus memikirkan kata kutukan yang diucapkan Ra. Ah, Ra. Kau tahu,  kutukan ini terlalu indah dan sungguh aku belum mau melepaskannya. 


Berita acr FLP di SK
09 November 2008 FLP Banjarmasin mencoba gaya baru, kami mengadakan acara bertajuk Seminar Pendidikan yang pesertanya adalah para guru se-kalimantan selatan, bahkan waktu itu ada peserta dari luar provinsi. Bertema Menjadi Guru Idola, menghadirkan Penulis Buku Amir Tengku Ramly. Ketua Kegiatan waktu itu Jumiadi KF alias suamiku, hehe.

Kepemimpinan Adikku (2011 s.d 2013)
Buku Kumpulan Cerpenku Rindu Rumpun Ilalang termasuk dalam daftar buku yang boleh diresensi dalam Lomba Resensi Buku Memperingati Milad FLP ke-15 tahun 2012. Aku turut senang ketika yang meresensi bukuku tersebut menjadi salah satu pemenang. 
Profil FLP Banjarmasin di Radar Banua

2011 s.d 2013 FLP Wilayah Kalsel diketuai oleh adikku, Nailiya Noor Azizah. Semula aku masih hendak diajukan sebagai ketua tapi aku lantas teringat Ra dan olok-olok kutukan yang ia celotehkan. Suamiku, Jumiadi Khairi Fitri terpilih menjadi Bendahara. Aku sendiri ada di Divisi Pengkaderan. Mungkin sudah takdirku untuk menerima “kutukan” ini, pikirku. Pelantikan sekaligus up-grading dihadiri oleh Mbak IJ. Seminar menulis juga diadakan untuk menyemarakkan agenda kami. Selainbak IJ, hadir juga Y.S. Agus Suseno sebagai pembicara. 

Pada acara tersebut FLP Wilayah Kalsel me-launching buku antologi cerpen berjudul “Pelangi di Pelabuhan”. Dalam masa kepengurusan tersebut, 2 cabang baru terbentuk, yaitu FLP Cabang Amuntai dan FLP Cabang Barabai. Kami mengunjungi kota-kota tersebut dalam rangkaian acara FLP goes to School sekaligus pelantikan pengurus cabang. Dengan FLP Banjarmasin dan FLP Banjarbaru, maka total ada 4 Cabang FLP di lingkup Wilayah Kalimantan Selatan.

Pada fase ini FLP Wilayah Kalsel menjadi satu komunitas menulis yang sudah "dianggap" oleh kawan-kawan sastra di Kalsel. Aku dan adikku serta teman-teman FLP wilayah memiliki agenda silaturrahim ke sastrawan-sastrawan Kalsel. Kalsel banyak penyairnya. Satu-satu kami jadwalkan untuk didatangi. Pada periode ini pula, FLP mendapat undangan resmi Acara Aruh Sastra Kalsel (sebuah event sastra yang sangat keren di Kalsel).