Kamis, 20 Maret 2014

# esai # Lemari Buku Nai

MENYUSURI JALAN PUISI (BERSAMA) IBRAMSYAH AMANDIT



MENYUSURI JALAN PUISI (BERSAMA) IBRAMSYAH AMANDIT
Esai Nailiya Nikmah JKF

Add caption
Seberapa besar cintamu pada puisi? Tunggu, jangan jawab pertanyaan tersebut sebelum menjawab pertanyaan yang satu ini, seberapa jauh perjalanan puisimu? Jawaban atas pertanyaan ini bukan semata tentang jarak dan waktu melainkan tentang ketekunan.  Sebagai pelajaran tentang ketekunan dalam perjalanan puisi, tidak berlebihan kiranya jika kita menengok perjalanan puisi sastrawan yang satu ini untuk mengaca diri sebelum melanjutkan perjalanan puisi kita.
Iberamsyah Amandit (IA) bin H. Lawier lahir di Desa Tabihi Kanan, Kelirahan Karang Jawa, Kec Padang Batung, Kandangan, Kab HSS 9 Agustus 1943. Menempuh pendidikan (1949-1950) di Sekolah Rakyat Desa Tabihi Kiri dan di Karang Jawa (1 tahun), lalu ke SR 6 tahun di Tamban (lulus 1957); dilanjutkan ke Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) di Jalan Masjid Jami, Banjarmasin (lulus 1961), Madrasah Menengah Tinggi – depan Masjid Agung – Yogyakarta (lulus 1965) dan FKIS, Jurusan Ilmu Administrasi, IKIP Negeri Yogyakarta, sampai tingkat sarjana muda (1971). Menulis puisi sejak 1970. Ia bergabung dan lesehan mendengarkan pembacaan puisi oleh penulis-penulis Insani dan para penyair Persada Studi Klub pimpinan “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi.
IA kembali ke Kalimantan Selatan (1972), terus menulis dan membacakan puisi di acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin, asuhan Hijaz Yamani. Setiap tahun ia mengikuti Aruh Sastra (:Aruh Sastra merupakan even sastra tahunan terbesar yang diselenggarakan di Kalimantan Selatan). Ia juga menjadi peserta Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya 5 Negara di Padang (2012); peserta Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Cisarua Bogor (2012). Puisinya dipublikasikan Harian Mercusuar (yogyakarta), Mingguan Sampe (Samarinda), Dinamika Berita, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Beberapa karyanya juga diterbitkan dalam beberapa antologi. Atas dedikasinya, ia pernah mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah.
            Desember 2010, IA mengalami stroke. Yang membanggakan, stroke tidak membuatnya menghentikan perjalanan puisinya. Juni 2013, antologi puisinya yang berjudul Tikar Pandan terbit. Membaca antologi yang diterbitkan oleh UPT Taman Budaya Kalsel, Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Kalsel kerja sama dengan Penerbit Pustaka Banua, akan terbaca perjalanan puisinya di fase stroke.
Definisi menurut WHO: stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan aliran darah otak. Menurut Neil F Gordon:  stroke adalah gangguan potensial yang fatal pada suplai darah bagian otak. Tidak ada satupun bagian tubuh manusia yang dapat bertahan bila terdapat gangguan suplai darah dalam waktu relatif lama sebab darah sangat dibutuhkan dalam kehidupan terutama oksigen pengangkut bahan makanan yang dibutuhkan pada otak dan otak dalah pusat kontrol sistem tubuh termasuk perintah dari semua gerakan fisik (http://infostroke.wordpress.com/pengertian-stroke/ ).    
Diksi seperti lumpuh, lemah, pincang, parau, sisa, compang-camping, lusuh, cacat, dan frase fisik tak sempurna pada puisi Lumpuh (2) begitu konkret menggambarkan keadaan IA pada fase stroke-nya. Menurut ceritanya, IA pernah mengalami stroke dua kali. Dilihat dari judulnya, kiranya puisi “Lumpuh (2)” hlm 6 adalah puisi yang menggambarkan keadaan ketika ia mengalami stroke yang kedua. IA sangat memahami keadaan fisiknya. Ia menyebutnya dengan  orang berfisik tak sempurna. Akan tetapi, puisi ini bukan ungkapan kecengengan atau kelemahan diri. IA mengungkapkan tantangan semangat kebaruan dan melangkahkan kaki cacat. IA memilih untuk menyandingkan kata melangkahkan di depan frase kaki cacat. Tangkaplah optimisme yang ia sampaikan. IA akan tetap melangkah meski kakinya cacat dan tangan terkulai lemah.
Akan tetapi, IA bukan malaikat. Jangan salahkan jika ia pun pernah bimbang (:galau). Siapapun yang didera penyakit berat, akan mengalami saat-saat down. Puisi “Tunjukkan Penyair” hlm 5 mewakili kegalauannya. /Tunjukkan penyair;/ Apa kakiku diam atau derap berjalan/ lewat terminal ke terminal/ mencari titik tuju akhir pemberhentian/ sebelum tamat perambah liar jalanan//…//Tunjukkan penyair;/ Apa kata-kataku galau suara sia-sia/ Apa ucapanku pembawa sabda?/
IA agak ragu untuk meneruskan perjalanannya. Ia mencoba mencari petunjuk tapi petunjuk yang ia cari tak lain adalah dirinya sendiri. Bukan siapa-siapa (termasuk dokter )  yang menetapkan ia akan bisa terus berjalan atau tidak. Dia tahu, dia sendirilah yang memutuskan, apakah perjalanan ini akan berlanjut atau berhenti. Sementara itu, ia yakin kata tamat hanya ada di pemberhentian yang sesungguhnya, yaitu ketika nafas pergi, yang tentu saja berada dalam wilayah kekuasaan-Nya.
Kegalauan IA fluktuatif. Kabar baiknya, kegalauan IA melingkar di seputar area eksistensinya sebagai makhluk Tuhan. Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian kalimat dalam kitab-Nya. Maka konsep maut adalah sesuatu yang harus melekat dalam diri setiap orang yang mengakui adanya Tuhan. Mengingatnya, akan berdampak positif bagi kemanusiawian kita. “Sketsa” hlm 35 menggambarkan dzirul maut yang dilakoni oleh IA. Bukankah Chairil dan Burhanuddin Soebly pun mengalaminya? Itulah hiburan di hati IA di tengah kegalauannya.
Pada puisi “Aset” hlm 13, IA meraih kembali kesadaran dirinya. Ia kembali mengibarkan harga dirinya. Ia berkata, …/Lupakanlah derita lumpuh/ … /Jangan berikan rasa kasihanmu kepada penyair!/caci ia bila berhenti nulis puisi/ mustahil jadi arwah pada jantung berdenyut/ tolol terlanjur wafat dalam diri padahal nafas belum pergi// Hai, penyair lumpuh/ berteriaklah, berteriak!//.
Tidak sedikit orang yang berputus asa ketika menghadapi penyakit berat, merasa tidak mungkin sembuh lagi, menganggap diri sudah tak berarti seperti sudah mati. IA mengingatkan, Mustahil jadi arwah pada jantung berdenyut. Sakit tidak sama dengan mati. Orang yang berputus asa ketika sakit adalah orang yang bodoh. Tolol terlanjur wafat dalam diri padahal nafas belum pergi, demikian pesan IA. Ia juga tidak suka dikasihani. IA melarang keras mengasihani penyair yang sedang menderita lumpuh. Jangan berikan rasa kasihanmu kepada penyair!. Penyair yang seharusnya dikasihani adalah penyair yang berhenti menulis puisi karena penyair yang berhenti menulis puisi itulah sebenarnya penyair yang lumpuh. Maka kepada penyair yang dalam keadaan seperti itulah ia berkata, “Penyair lumpuh, berteriaklah!”.
Stroke memang pernah membuatnya lumpuh tapi tidak membuat perjalanan puisinya terhenti. Keadaannya tersebut malah membawanya pada perjalanan yang hakiki. Tengoklah kisah perjalanannya tersebut dalam puisi berikut:

Jalan Puisi

Puisi perjalanan mikraj;
jalan naik menuju Allah
meniti asma, sifat, af’alullah

Lama diri bersimbah
panas serta berbasah-basah
tunduk tengadah pulang ke diri
nyatanya tak siapa pemilik apa

Puisi perjalanan mikraj;
jalan pupus di dalam Allah
hilang panas hilang basah
punah diri dalam Allah
suara jiwa mengkalamullah

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan pulang dari Allah dengan Allah
ulat kepompong berubah polah
sukma terbang selendang kiswah
Puisiku perjalanan mikraj;
trun di pintu-pintu rumah
sudah bersayap puisi amanah
kata-kata rahmat – petuah

Tamban, 3/11/2012

Setelah sekian lama ia bersusah payah, “berpanas dan berbasah”, terlepas dari ada tidaknya pengaruh ajaran tasawuf yang pernah ia tekuni (IA menyimak ajaran tasawuf 1983-1992(Amandit, 2013:164)), IA kini menemukan keindahannya. Ya, IA telah sampai pada perjalanan puisinya yang paling indah. …//Puisiku perjalanan mikraj;/jalan pulang dari Allah dengan Allah/ ulat kepompong berubah polah/ sukma terbang selendang kiswah/….
Ketika puisi-puisi sudah menjadi amanah, ketika puisi-puisi sudah memiliki sayap, ketika itulah ia telah menemukan tujuannya. “Jalan Puisi” menyampaikan isyarat bahwa ia tak lagi berjalan “di bumi”. Sayap-sayap itu sudah membawanya terbang “ke langit”. Jika ia konsisten dengan jalan ini, tentu tidak akan kita temui lagi puisi-puisi “bumi”-nya. Kemungkinan, hanya puisi-puisi “langit” yang akan dituliskannya dalam perjalanan puisinya ke depan. Yang jelas, ia masih akan menekuni jalan puisinya. Jalan cinta para penyair. Mari kita buktikan…[]
Catatan: esai ini pernah dimuat di harian Media Kalimantan, Minggu, …








Tidak ada komentar:

Posting Komentar