Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2019

Pasca Operasi Pemasangan Grommet pada Telinga Anakku

10.34 10 Comments

Blog ini kubangun dengan visi merawat kenangan. Aku menjadikan Tatirah sebagai tempat memajang prasasti hati, kemudian menjadikannya pelajaran berharga untuk diri sendiri yang masih suka alfa dan khilaf. Aku pun berharap, Tatirah berguna buat orang lain, meski hanya seujung kuku.
Suatu hari, aku mengalami problem kesehatan pada salah satu anakku. Hal-hal yang masih benar-benar asing bagi orang awam sepertiku mendadak harus aku pelajari. Sebagaimana masyarakat lain yang hidup di zaman millenial, aku langsung googling mencari informasi. Ternyata tidak banyak artikel yang memuat persoalan seperti kami alami. Sejak itu aku bertekad menuliskannya. Aku yakin, di luar sana akan ada orang lain, para ibu yang bernasib sama dan barangkali memerlukan informasi seperti yang terjadi padaku ketika itu.

Alasan itulah yang membuat artikel yang berjudul Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku kutulis. Dugaanku benar. Banyak orang lain yang mencari informasi sama dengan yang aku tulis. Mereka mampir di Tatirah. Beberapa di antara mereka malah menghubungi aku melalui akun media sosialku karena ada hal lain yang ingin ditanyakan. Bagiku, hal yang mungkin receh bagi orang lain  itu, umpama intan mungil yang kutemukan di area pertambangan.
Sebagian besar yang ditanyakan adalah bagaimana keadaan anakku pasca operasi pemasangan grommet di telinganya; berapa lama benda itu bercokol mendekam mesra di telinga; bagaimana prosedur pelepasannya serta berapa peluang keberhasilan operasi untuk kesembuhan anakku. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena baru saja bisa menuliskannya. 

Aku merekam dengan cara mencatat semua kejadian di buku diary-ku. Kapan waktu/tanggal-tanggal kejadian, apa yang terjadi, apa yang dimakan anakku, apa obat yang diresepkan, apa yang dikeluhkan dia, semua kucatat. Kuharap kalian sudah membaca link sebelumnya ya, tentang riwayat awal anakku harus menjalani operasi. Agar tidak ada informasi yang hilang atau tidak nyambung.



Keluar dari Ruang Operasi
Anakku dioperasi Kamis, 16 November 2017.
Cukup lama kami menunggu anakku bisa keluar dari ruang operasi karena menunggu dia siuman. Reaksi obat bius sepertinya cukup lama bekerja. Ketika keluar dari ruang operasi, keadaan dan kondisinya terlihat sangat lemah. Badannya yang kurus membuat dia terlihat sangat memprihatinkan. Sungguh aku tidak tega melihatnya.
Ingin menangis rasanya tapi sini kuberitahu satu hal, saat-saat seperti itu, sejak serangkaian pengobatan ini kita pilih, jangan pernah memperlihatkan isi hati kita sesungguhnya kepada anak. Sebagaimana bahagia, sedih dan cemas menular. Jangan menularkan kecemasan kita yang tidak beralasan kepada anak. Jangan membebani anak karena sesungguhnya dalam hati dan otaknya sendiri dia sudah sangat cemas. Selain mencemaskan dirinya sendiri; anak juga mencemaskan ibunya. Ia cemas keadaannya akan membuat ibunya bersedih.
Hal pertama yang diinginkan oleh anakku adalah minum dan makan. Sebagaimana prosedur operasi umumnya, dia harus buang angin dulu baru boleh makan dan minum. Akan tetapi seingatku saat itu terjadi sedikit perbedaan pendapat antar tenaga medis. Ada yang menyebut istilah bising usus dulu baru anakku boleh minum dan makan. Ada yang membolehkan minum, ada yang keras melarangnya. Kami memilih untuk menahan dulu, meski anakku merengek-rengek kehausan.
Yang membuat keadaan hatiku lebih berat adalah kembarannya yang bersikeras juga untuk tidak makan.
Tidak lama kemudian anakku muntah. Sepertinya ini bagian dari efek pembiusan atau mungkin efek proses operasi. Untuk itu dia diresepkan obat penahan muntah. Setelah muntah itu, kondisi anakku semakin terlihat lemah. Kalau saja aku tidak menahan diri, aku sudah panik saat itu. Aku bahkan menumpahkan sebotol obat syirup karena kegugupanku melihat kondisi anakku.
Setelah boleh makan, anakku justru kehilangan selera makannya. Dia hanya mau disuapi biskuit yang dicelup di air hangat. Dokter juga menyarankan agar anakku makan yang lembut dan lunak saja dulu. Malamnya, dia mulai makan bubur nasi.
Dokter jaga yang pada umumnya para dokter muda alias dokter coas bergantian mengunjungi dan memeriksa. Anak-anakku sangat sosial. Mereka cepat akrab dengan para tenaga medis yang mendatangi kamar anakku. Beberapa sempat mencandai tentang siapa yang sakit, siapa yang akan diperiksa karena kekembaran anakku.
Oiya saat itu, selain bermasalah pada telinga, anakku juga ada sedikit masalah pada hidung. Untuk itu, dia diresepkan obat tetes hidung. Hari kedua, anakku minum obat batuk karena dia masih batuk pilek. Hari itu suhu badannya tinggi sehingga belum  boleh pulang. Beberapa nama obat yang diresepkan untuk anakku, yaitu Vometa, Iliadin Oxymetazoline, Ambroxol, Kamolas,  dan Cetrizones.
Selain soal makan, aku juga mengamati timing anakku buang air kecil dan buang air besar. Bagaimanapun, proses operasi akan mempengaruhi sistem yang bekerja pada tubuh anakku, seperti sistem kerja lambung, pencernaan, pengeluaran.
Hari ketiga, ada darah keluar dari telinga kiri anakku. Untungnya telinga kanan tidak. Akan tetapi menurut dokter, hal tersebut bisa ditangani dengan rawat jalan. Satu hal yang harus kami ingat juga, penyebab atau rujukan anakku dalam surat asuransi adalah tindakan operasi-nya bukan hal lain.
Satu pekan berikutnya, 23 November 2017
kami membawa anakku kontrol ke rumah sakit lain, tempat dokter yang memimpin operasi anakku bertugas di malam hari. Di tempat praktiknya terdapat sarana atau alat yang memungkinkan kita bisa melihat apa yang terjadi pada bagian dalam telinga kita melalui tampilan di layar monitor. Hasil pemeriksaan malam itu bagus. Luka operasi sudah menegring. Hanya, masih ada pilek dan amandel pada anakku yang harus ditangani.

Cara Kerja Grommet
Grommet itu bukan obat. Grommet bukan penyembuh dalam arti simpel seperti kita demam lalu minum obat penurun panas, lalu sembuh. Tidak seperti itu. Jadi, grommet itu adalah alat yang akan membantu proses penyaluran,  pengeluaran atau pembuangan cairan yang menumpuk di dalam telinga. Ketika cairan yang memenuhi telinga sudah keluar semua, itulah fase sembuhnya.

Inilah yang harus kami lakukan pasca operasi
Ada beberapa hal yang harus kami perjuangkan. Kami harus menyembuhkan pilek, batuk dan amandelnya dengan segera lalu mempertahankan kondisi positif tersebut pada anakku. Jika tidak, grommet pada anakku tidak bisa dilepas karena artinya proses pengeluaran cairan masih diperlukan. Sementara itu, grommet itu sendiri ada masa kadaluarsanya untuk bisa bertahan di dlam telinga. Sebuah dilema  bukan? Melepas grommet sebelum anakku sembuh berarti kegagalan.
Kata dokter, jika anakku segera sembuh, sebenarnya kadang grommet yang sangat kecil itu bahkan bisa lepas sendiri tanpa perlu dilepas oleh dokter. Akan tetapi peluang dia terlepas sendiri pada saat anakku belum sembuh juga ada.
Anakku harus benar-benar dijaga keadaan telinganya untuk tetap kering. Tidak boleh kemasukan air. Ini tantangan terberat juga bagi kami karena anakku hobi main air. Aku membelikan dia penutup kepala dari plastik yang biasa dipakai untuk mandi agar rambut tidak basah tetapi aku memasangkannya sampai ke telinga. Di tahap awal aku malah memasangkan bulatan kapas di telinganya sebelum dia mandi untuk lebih berhati-hati. Tiap bangun tidur, kami memeriksa sprei apakah grommet terlepas. Ini lucu sekaligus mencemaskan.
Satu pekan berikutnya, Jumat 1 Desember 2019, anakku pusing hebat seharian dan muntah-muntah. Aku mencari informasi di internet, kudapatkan hasil bahwa kemungkinan ada yang tidak beres dengan telinga anakku.
Besoknya, kami membawanya ke tempat praktik dokter. Menurut dokter, anak kami kena radang/infeksi pada telinga kanannya, ada nanah. Inilah yang menyebabkan dia pusing sedemikian hebat. Telinga kiri sudah membaik. Malam itu telinga anakku dibersihkan. Kami menebus resep obat dari dokter.
Problem utama anakku adalah alergi yang menyebabkan batuk pileknya lambat sembuh. Beberapa pantangan diberitahu oleh dokter. Tidak hanya makanan dan minuman, udara, benda dan hewan di sekitar, bahkan debu bisa menjadi pemicu alerginya.  Alergi itu yang menyebabkan dia lambat sembuh. Aku menjadi ibu phobia debu.
8 Desember 2017, sehari sebelum hari ulang tahunku kami kontrol lagi ke dokter. Grommet-nya aman masih terpasang  manis keduanya di telinga, amandelnya tidak radang lagi tetapi pilek masih ada sedikit. Anakku harus menjaga pola makan dan dianjurkan olahraga sendiri seperti melompat-lompat setiap pagi sebelum mandi sebanyak 50 kali. Kebersihan rumah harus benar-benatr dijaga dari debu. Aku menggulung semua karpet berbulu, menyingkirkan bantal, guling, boneka dan benda-benda berbulu lainnya yang berpeluang menyimpan debu.
27 Desember 2017 anakku pusing lagi sampai muntah-muntah. Saat itu dokter langganan kami sedang tidak ada. Penggantinya ternyata sama kerennya dalam komunikasi dan pelayanan. Malam itu, anakku muntah dua kali sesampai d rumah. Anakku diresepkan obat.

Proses Melepas Grommet
10 Januari 2018 anakku kontrol lagi dan keadaannya mulai membaik sehingga 15 Februari 2018, grommet pada anakku siap dilepas. Kami mengantri di tempat praktik dokter dengan nomor antrian 7. Janagn tanya bagaimana kecemasan dan kepanikan kami. Bahkan asisten dokter yang ramah itu bisa kulihat kecemasannya juga. Anakku dioles salep yang bekerja sebagai penahan nyeri. Semacam bius lokal. Salep itu dioles 20 menit sebelum grommet dilepas.
Jadi, untuk melepas  grommet tidak diperlukan prosedur operasi yang seperti operasi sebelumnya. Tidak perlu bius total.  Anak tidak perlu dibuat tidur atau hilang kesadaran. Dokter melepasnya dengan menggunakan peralatan dia di ruang praktiknya dan kami bisa melihat prosesnya. Grommetnya diperlihatkan dan disimpan oleh dokter. Aku tidak tertarik menyimpannya. Itu seperti mimpi buruk bagi kami. Benda itu akan membuat kami mengenang hal tidak baik.
Seluruh rangkaian tersebut dijalani anakku dengan sangat manis. Dia tidak menangis sama sekali. Asisten dan sang dokter berkali-kali mengacungi jempol sambil memperlihatkan ekspresi kagum. Asisten dokter membisikiku, “Anak ibu hebat, luar biasa. Anak lain sering kali menangis dan mengamuk menjalani proses ini.”
Masih Harus Berjuang
13 Februari 2018 dan 22 Februari 2018 anakku kembali mengeluh pusing.
Pada kedua tanggal itu, aku melarikan anakku ke praktik dokter THT. Aku lagi-lagi berfirasat ini ada hubungannya dengan telinganya. Dokter yang baik itu begitu telaten mengobati anakku.
Hingga ketika 1 April 2019 anakku mengeluh pusing lagi, sesuai saran dokterku sebelumnya, kami kali ini ke dokter spesialis anak. Kami menceritakan semua kronologinya. Dokter membuat rujukan ke lab untuk cek darah. Alhamdulillah setelah itu anakku sembuh.

Catatan penting
Ketika anak sakit, pada anak usia sekolah, maka dia akan ketinggalan pelajaran. Dalam hal ini, aku tidak pernah memaksa anakku untuk mengejar ketinggalannya. Aku membiarkan semua apa adanya sebatas kemampuan anakku. Aku hanya ingin anakku sembuh, sehat dan selalu bahagia.
Ketika ini terjadi pada anak kembar, maka yang ditangani oleh orang tua bukan hanay satu anak melainkan keduanya. Terutama pada anak kembar identik. Aku selalu berusaha memperhatikan kondisi psikologis keduanya.
Ketika anak sakit dan kita harus menjalani semua prosedur medis yang kadang menguras seluruh energi, kita harus selalu menekan emosi, menguatkan kesabaran, dan jangan mengeluh di hadapan anak. Perbanyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ketika para tamu dewasa datang menengok, pastikan kita tidak membicarakan penyakit anak di depan anak. Bisa saja dia mendengarkan dan menyimpulkan hal-hal menurut persepsi dia sendiri yang berakibat buruk di kemudian hari.
Berusahalah menjalin komunikasi dengan petugas medis dan jadilah orang tua pasien yang cerdas, tanggap terhadap semua situasi. Bertanyalah pada orang yang tepat jika kita mengalami kebingungan. Jangan lupa menjaga kesehatan diri agar kita tetap fit karena kita diperlukan oleh anak kita.
Terima kasih sudah mampir di Tatirah. Aku mencintai kalian. Semoga kita tetap sabar dan survive apapun yang terjadi. [] Nai

Sabtu, 12 Mei 2018

Catatan Hari Terakhir

07.52 2 Comments
Catatan ini kutulis pada hari terakhir anakku di SMP-nya. Sebenarnya ini bukan tentang proses 3 tahun saja melainkan perjalanan panjang pendidikan dasar anakku sejak bangku SD. Tulisan ini semacam upaya menyimpan kenangan saja sehingga jangan dibaca dengan sudut pandang rumit dan kening berkerut. Ini cuma catatan seorang emak pada hari terakhir anaknya bersekolah di SMPIT Nurul Fikri Banjarmasin.

3 Tahun yang Lalu
“Yang sekolah aku atau Mama sih?”
Aku tidak akan lupa kalimat andalan yang keluar dari mulut anakku saat itu. Kalimat itulah yang membungkam mulutku sehingga tidak lagi mampu mengeluarkan segala macam bantahan. Akupun teringat saat aku seusianya, rasanya aku tidak seberani dia memutuskan sendiri ingin sekolah apa.
“Baiklah, kau boleh memilih sekolah manapun sesukamu dengan satu syarat, sekolah tersebut menjamin kerudungmu aman dari segala gangguan dan ancaman.” Akhirnya hanya itu yang mampu kuucapkan.
Lalu betapa bersyukurnya aku pagi itu, hari terakhir pendaftaran SMPIT Nurul Fikri anakku memutuskan untuk mendaftar di sana, melanjutkan kembali masa belajarnya setelah sebelumnya SD juga di sana. Betapa bangganya aku, dia mengurus pendaftaran sendiri. Aku tinggal datang saat tes wawancara orangtua/wali murid.

3 Tahun yang Penuh Makna
                “Ma, berangkat...,” pamitnya. Setiap pagi aku melepasnya dengan doa sambil tak henti mengucap syukur melihat dia berangkat sekolah dengan kerudung rapi menjuntai khusyuk. Baju kurung sepaha, rok lebar, manset, ciput, celana panjang dalaman, kaos kaki, tas ransel yang ditaruh dalam kerudung lebar, semua tak pernah luput dari pandanganku. Meski kadang ada desir cemas di hatiku, akankah itu semua akan tetap menjadi identitasnya ketika kelak dia tidak lagi menjadi murid di sekolah yang sekarang? Aku tahu persis bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi seseorang dan betapa seseorang itu tergantung pada siapa ia berteman.
Tiga tahun ini, ah tidak, bahkan sejak SD aku telah berhutang banyak pada para guru alias ustadz dan ustadzah terkait konsistensinya menutup aurat. Hutang yang tidak akan pernah bisa aku lunasi sekalipun dengan seluruh materi yang kupunya.
Hari pertama orientasi sekolah, anakku pulang membawa cerita tentang pemeriksaan kelengkapan uniform sekolah. Lebih tepatnya pemeriksaan seragam muslimah. Setiap murid dipastikan mengenakan celana panjang sebagai bagian dalaman rok, memakai ciput untuk menjaga rambut, memakai manset tangan, dan memakai kaos kaki tentu saja. Kerudung ada standar ukuran (ketebalan dan panjang yang harus dipatuhi).
Aku ingat, suatu hari anakku pulang sambil menahan tangis. Aku langsung khawatir dan bertanya ada apa. Ternyata tanpa sengaja rambut panjangnya tergerai dari ikatannya dan ustadz yang mengetahui hal tersebut menegur dan mengatakan akan memotong rambutnya. Sejak hari itu dia sangat berhati-hati menjaga mahkotanya. Keren juga teguran ustadz.
Masa putih biru menjadi penanda beberapa perubahan anakku. Piring makan yang selalu licin tanpa sisa makanan, pengarsipan dokumen sekolah, pengelolaan perlengkapan sekolah, pengerjaan tugas sekolah semua dikerjakan secara mandiri.
Aku mencatat beberapa hal ini sebagai bagian prasastinya di Nurul Fikri: tahfidz, dhuha rutin, sabit, outbond, persami, ekskul panahan, ekskul korean, ekskul jurnalis/mading, mentoring, lomba puisi dan saritilawah, bimbingan konseling dsb. Pertemuan orang tua murid dan guru setiap bulannya turut pula mewarnai kenangan kami.
Sebelum dia mendapat haid, doa dan tata cara mandi wajib sudah menjadi capaian pembelajaran di tahun-tahun pertama SMPnya. Aku kira kecil kemungkinan sekolah umum akan menjadikan tata cara mandi wajib sebagai materi ujian praktik. 
Selain soal busana dan hijab, puasa sunnah juga menjadi bagian dari program sekolah yang patut diacungi jempol. Meski maafkan jika kadang-kadang aku sempat saja ngomel karena mata masih mengantuk tapi harus menyiapkan sahur. Eh, ujung-ujungnya malah aku ikut-ikutan puasa.
Selama SMP anakku menunjukkan satu hal yang sangat berlawanan denganku. Jika selama SMP nilai olah ragaku paling rendah dalam raport, dia sebaliknya, nilai olah raganya tinggi sekali. Ah, tapi itu hanya angka bukan? Aku nyaris tak terlalu peduli dengan taburan angka dalam raport. Apalagi urutan bernama rangking. Apalagi sampai membandingkannya dengan angka dalam raport anak lain. Wah, bukan aku banget. Meski jujur saja kadang-kadang jauh di kedalaman hatiku tentu saja aku ingin anakku meraih nilai yang tinggi. Bukan supaya aku bangga. Sama sekali bukan. Aku ingin dia bangga terhadap dirinya sendiri.
Suatu ketika aku dipanggil guru anakku. Katanya anakku kurang bagus progres hafalan Qurannya. Katakanlah dia ketinggalan dari beberapa temannya. Its ok. Aku tak berani menuntut banyak pada anakku. Hanya bisa menitipkan harapan dan mengirim doa.

Untuk para guru

Untuk para guru anakku aku mengucapkan salam hormat dan ucapan terima kasih setulus hati. 3 tahun kalian menanam, sepanjang masa kamilah yang akan memetik hasilnya. Usia SMP adalah masa peralihan yang susah susah asyik bagi orang tua, terutama ibu bekerja seperti aku. Terima kasih sudah menjadi teman baik anakku selama tiga tahun ini. Hanya Allah yang dapat mengganti semua jasamu dengan balasan yang terbaik. Maafkan segala kekurangan dan kekhilafan kami dan anak kami selama 3 tahun ini.
Oiya, selesai ujian akhir, anakku dan teman-temannya mendapat kesempatan magang di sekolahnya sendiri menjadi semacam guru atau kakak pendamping di jenjang sekolah yang lebih rendah.
Yang paling mengagumkan adalah capaian akhir sebelum anakku lulus. Kuanggap inilah bagian utama dalam portofolio SMPnya setelah unsur pendidikan islami. Yeay, apalagi kalau bukan menerbitkan buku kumpulan cerpen mereka!

Mungkin ada yang kepo. Dari tadi memuji saja. Memangnya sedang endorse ya si emak? Tidak. Ini bukan endorse, bukan pula iklan. Ini hanya catatan hati seorang emak yang lagi melow di akhir tahun ajaran sebab setelah ini terputus sudah ikatan kami dengan sekolah Islam yang satu ini. Adik-adiknya tidak ada yang bersekolah di sini. Karena ini bukan endorse, aku sampaikan saja sekolah ini bukannya tak punya kekurangan. Hanya saja, kritik dan saran sudah aku salurkan sesuai tempatnya. Pesanku: tidak ada sekolah yang sempurna. Jangan pernah mencari sekolah sempurna. Carilah sekolah yang cocok dengan jiwa dan fitrah anakmu. Carilah guru-guru yang mau menjadi sahabat anakmu dan yang mau menjadi rekan baikmu dalam mendidik anakmu.

3 jam lebih di hari terakhir.

Aku duduk di antara para wali murid yang lain. Menikmati sajian acara demi acara. Sesekali bertegur sapa dan saling bermaafan dengan para wali murid yang lain. Rasanya, inilah pertemuan dan kebersamaan kami yang terakhir. Setelah acara pengukuhan hari ini, aku akan jarang sekali ke sini. Sampai tiba acara menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Nurul Fikri aku berlinangan air mata. Indah dan mulia visi misi sekolah tersimpan dalam syairnya. Aku takkan bisa sendirian mewujudkan visi dam misi tsb



 “Mama ingin aku menjadi apa?” di penghujung musim dia dulu pernah bertanya padaku.
Sungguh, itu pertanyaan terberat yang pernah dia berikan kepadaku. Tidak, aku tidak punya jawaban jika yang dimaksud adalah tentang profesi, pekerjaan, jurusan sekolah dan sejenisnya. Aku terlanjur berdamai dengan hatiku terhadap hal-hal tersebut. Aku tidak ingin memaksakan dia dan adik-adiknya harus menjadi apa kelak. Aku sangat menghargai minat, bakat dan passion. Hanya saja, jika aku masih boleh meminta, aku ingin dia menjadi bagian dari penyeru kebaikan yang mengajak orang untuk berbuat baik dengan cara yang harum dan lembut sebagaimana kusematkan harapan itu pada namanya.



Selamat melepas masa SMP, anakku Nadiya Nisrina. Semoga menemukan sekolah lanjutan yang tepat untukmu. [] Nai.

Sabtu, 17 Maret 2018

Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku

08.31 47 Comments

Operasi Pemasangan Grommet: Kisah Mendebarkan Seputar Pengobatan Telinga

Sudah pernah mendengar istilah operasi grommet? Operasi pemasangan grommet tepatnya. Jika kamu bukan dokter spesialis THT kujamin kamu bakal mengernyitkan dahi kebingungan, kecuali kamu atau orang dekatmu pernah mengalaminya. Seperti itulah reaksi pertama kami, ditambah cemas, gundah, was-was, takut, bercampur sedikit harapan akan kesembuhan anak kami, ketika pertama kali dokter THT kami yang cantik mengeluarkan statement tersebut.

Ceritanya lengkapnya begini,
Hari itu, anak bungsuku yang berusia 8 tahun untuk kesekiankalinya mengeluhkan pendengarannya yang berkurang.

Sebelumnya, dia sebenarnya sudah sering menunjukkan gejala bermasalahnya pendengarannya. Hanya saja, kami kurang begitu serius menanggapinya (aku meminta ampun kepada Tuhan berkali-kali atas kekhilafanku yang satu ini). Misalnya, kalau diajak bicara ia selalu meminta lawan bicara mengulang kalimat berberapa kali sambil memiringkan kepala ke arah yang lebih dekat dengan lawan bicara.

Indikator lain sebenarnya ada pada seringnya dia memutar televisi dengan volume yang kencang, yang semula kupikir ini bagian keseruan anak-anak saja. Ia juga pernah mengeluhkan ada bagian yang sakit di telinganya.

Waktu itu kamipun membawanya ke dokter anak. Setelah memeriksa anakku, dokter menyimpulkan sakit telinganya hanya karena pilek dan itu biasa. Kami menebus resep, pulang, minum obat, selesai. Itu terjadi beberapa kali.

Hingga hari itu, setelah ayahku pulang dari RS (ayahku opname karena stroke), entah mengapa aku merasa tetiba melek medis. Aku berniat membawa anakku ke spesialis THT langganan kami. Dokter cantik dan ramah itu memeriksa, menanya-nanyai aku dan anakku, lalu meresepkan obat dan memberikan kami sebuah perintah tambahan.

“Gangguan telinga ini akibat pilek, ingus yang tidak bisa dikeluarkan dengan benar menumpuk di telinga. Obat ada dua jenis. Ada obat-obat yang diminum, ada obat yang ditetes di hidung. Kita lihat satu minggu. Kalau belum ada kemajuan, ibu bawa anak ibu ke THT Center di RS XXX, ini saya buatkan surat rujukan untuk tes blablabla (aku belum familiar dengan nama tesnya waktu itu). Setelah itu, bawa ke sini hasil tesnya. Selain itu, anak ibu harus rajin membasuh hidungnya. Dia menunjukkan cara membasuh hidung menggunakan air infuse dan alat suntik. Aku ternganga.

Seumur-umur, baru kali ini aku tahu cairan infuse bisa dipakai untuk membasuh hidung dengan cara dimasukkan ke lobang hidung menggunakan alat suntik.

“Ini biasa saja, Bu. Sama seperti pembiasaan cuci tangan pakai sabun,” kilahnya santai kayak di pantai. Dia seperti menangkap kebengongan kami (aku dan suamiku).
"Coba ibu lihat di Youtube, ada caranya, kalau ibu masih belum paham dengan penjelasan saya tadi” katanya lagi.

Sepulang dari dokter, aku mempelajari tutorial cuci hidung pakai air infuse. Saat mempraktikkannya aku sempat ragu dan takut. Untunglah anakku sangat kooperatif. Luar biasa, kembarannya turut membantu.
Seminggu setelah itu, aku perhatikan belum ada perubahan pada anakku.

Kami segera membawanya ke THT Center untuk dites. Ternyata, nama tesnya adalah tes Audio. Anakku masuk ke dalam ruangan kecil, lalu dipasangi alat semacam headset. Petugasnya sudah memberi petunjuk atau teknis pemerikasaan. Anakku akan mengangkat sebelah tangannya, yaitu tangan yang sesuai dengan sisi telinga yang dapat menerima bunyi. Lagi-lagi aku bersyukur anakku sangat kooperatif. Kutangkap nada cemas di wajah petugasnya. Sepertinya hasilnya akan menjadi kabar buruk bagi kami.

Petugas menulis-nulis seusatu di selembar kertas lalu menjelaskan sedikit hal padaku. Intinya, hasil pemeriksaan anakku jauh di bawah hasil pengecekan kondisi telinga normal. Setelah membayar biaya pengecekan audio, kami membawa hasilnya ke dr.THT.

“Wah, hasilnya di bawah normal. Jauh sekali. Coba ibu tes blablabla lagi untuk lebih akurat”

Kami menuruti sabda sang dokter. Kami kembali lagi ke THT center di RS XXX untuk tes Tympano (ingat-ingat ya namanya).

Ketika sang dokter melihat hasil tes tympano, ia terkejut. “Anak ibu sekarang ini pendengarannya seperti para manula yang kondisi pendengarannya kurang. Ada tumpukan cairan ingus di gendang telinga. Itu harus dikeluarkan dan dipasangi pipa grommet. Supaya operasi pemasangannya lancar, anak ibu akan dibius total nantinya.”

Aku dan suami ternganga. Operasi? Bius total? Kupandangi wajah anakku. Kasihan sekali kamu nak.

“Anak ibu punya kartu BPJS, kan?”
Aku dan suami menggeleng.
“Kalian PNS, kan?”
“Si kembar anak ketiga dan keempat. Hanya kakak-kakaknya yang sudah terdaftar.”
“Anak ketiga masih bisa. Uruskan dulu. Setelah itu, ini prosedur selanjutnya… Dokter menuliskan sesuatu.
“Maaf ya dok.. kalau misal..misal nih dok tidak pakai BPJS, berapa sih biayanya..kisarannya?” tanyaku hati-hati. Sesaat kemudian ekspresiku berganti menjadi setengah shock mendengar kisaran angka yang ia sebutkan.
“Tanggal sekian-sekian saya akan ke luar negeri. Kalau mau operasi dengan saya, berarti harus cepat” sambungnya ramah. “Tapi sebenarnya tidak masalah kalau operasinya dengan dokter lain. Sama saja” sambungnya lagi.

Di rumah, aku dan suami berunding. Kami merasa tidak sreg kalau operasi dengan dokter lain sementara yang memberi saran operasi dan yang selama ini merawat anak kami adalah dokter tersebut. Suamikupun ngebut mengurus BPJS anakku. Kami akan berusaha mengejar kesempatan operasi sebelum dokter baik itu berangkat ke luar negeri.

Perjuangan sesungguhnya baru dimulai
Setelah anakku memiliki kartu BPJS, kami pun memulai prosedurnya (diawali dengan meminta rujukan dokter faskes 1 kami). Barulah kami membawa rujukan tersebut ke rumah sakit. Hari itu, lucu sekali, aku tidak bisa menahan tawa kalau ingat pengalaman ini. Kami sudah menyiapkan diri untuk menginap di RS. Semua perlengkapan ada dalam mobil. Ya, bagaimana aku tidak tertawa, ternyata prosedurnya masih sangat panjaaang dan berhari-hari setelah itu, hehe.

Di rumah sakit, inilah yang kami jalani.

Pertama-tama, kami harus menuju loket pendaftaran peserta BPJS. Untuk itu kami harus mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Kulihat sudah banyak yang duduk di kursi tunggu. Oh, besar sekali angka urutan antrian kami. Pastilah orang-orang yang banyak ini datangnya jauh lebih pagi. Baiklah, mari kita bersabar, ucapku pada diri sendiri. Seorang kakek menyapaku, “Kamu baru ya berobat di sini. Kami sudah lama berobat di sini.”

Beberapa lama kemudian, nomor antrianku disebut untuk menuju loket sekian. Di loket itu aku mendapat karcis (demikian kami menyebutnya) untuk ke poli THT. Kami menuju poli THT. Astaga, antriannya juga banyak betul. Setelah tiba giliran kami, anakku diperiksa oleh seorang dokter senior didampingi para dokter muda. Dokter itu bilang, hanya sebelah saja telinga yang perlu dioperasi. Kami bingung. Padahal dokter kami yang cantik mengatakan kedua telinga anakku bermasalah dan harus dioperasi keduanya. Di poli itu kami dijelaskan langkah selanjutnya. Anakku harus dirontgen dan cek lab darahnya. Artinya, besok kami berjuang lagi.

Dalam lift RS kami bertemu dokter THT kami yang lain. Ya, kami punya dua dokter THT langganan. Keduanya perempuan. Aku memberanikan diri menyapanya. “Dok, masih ingat kami? Ini si kembar yang dulu pernah ketulangan lalu dicabut oleh dokter”

Dokter itu tersenyum menyapa anak-anakku.
“Maaf, dok, boleh bertanya?”
“Oh, silakan Bu,”
“Dokter tahu operasi Grommet?”
“Ya, tentu saja.”
“Apakah operasi grommet sesuatu yang biasa atau sesuatu yang wah.. wow..mengerikan atau gimanaa” tanyaku lagi.
“Biasa saja, kok” jawabnya dengan suara khasnya yang lembut tapi tegas berwibawa.
Pintu lift terbuka. Kami harus segera keluar. Sampai di situ saja percakapanku, aku merasa tidak puas. Malamnya, kami pun ke tempat praktik beliau. Hitung-hitung untuk second atau third opinion.
Dokter itu menjelaskan panjang lebar. Lalu karena kami terlihat ragu, dia menyarankan cek tympano ulang. Kami kembali ke THT center RS xxx. Setelah ada hasil, dokter membacanya dan berkata, “Dari tes ini, malah ada penurunan Bu, kedua telinganya. Sudahlah, ibu pasrah saja. Berdoa dan berusaha. Teruskan saja prosedurnya.

Untuk cek lab darah dan rontgen, lagi-lagi kami harus mengantri. Setelah itu, hari selanjutnya kami ke poli anak dan bagian anastesi. Kami sudah benar-benar pasrah. Dokter sasaran kami sudah terbang ke luar negeri. Kami harus mempercayai siapapun dokter yang akan menanganinya. Setelah mendapat jadwal operasi (sebenarnya pada bagian ini ceritanya masih panjang), kami mencari ruangan. Terkait ini, kami sempat sedikit rumit. Kami hendak memilih dokter tapi tidak bisa kecuali kami memilih kelas VIP dengan bayaran yang tidak sedikit.

Operasi dilakukan
Petang Rabu yang basah oleh hujan, kami memandangi jalanan dari atas jendela RS. Perawat menginstruksikan agar rambut anakku dipotong agak lebih pendek terutama di bagian dekat telinga. Sepupuku membawa tukang cukur yang masih kerabat kami. Untuk menjaga kestabilan emosi, saudara kembarnya mau juga dipotong rambut. Tengah malam perawat masuk mengingatkan kembali bahwa anakku harus puasa.

Pagi-pagi, kami semua sepakat tidak ada adegan sarapan demi menyukseskan puasa anakku yang hendak operasi. Perawat datang memasang infuse. Anakku pun dibawa ke ruang operasi. Lagi-lagi kami mengantri juga. Hingga tiba giliran anakku. Sesaat setelah obat bius disuntikkan lewat infuse, aku masih sempat membacakan doa sebelum tidur di telinganya…

Setelah oporasi selesai dan anakku siuman. Kami kembali ke kamar. Anakku merengek kelaparan. Lalu dia muntah beberapa kali. Aku panik.
Untunglah semua berlalu. Kami pulang dua hari kemudian, dan melanjutkan rawat jalan. Dan inilah takdir Tuhan selanjutnya bagi kami. Kepasrahan kami sebagai pasien BPJS justru mempertemukan kami dengan dokter THT senior lainnya yang sangat detail.

Sekilas tentang Grommet
Jadi, grommet itu semacam alat yang sangat kecil yang dimasukkan dalam gendang telinga.
Gambar asli diambil saat operasi

Keterangan berikut mungkin bisa menambah penjelasan tentang si grommet. Kuambil dari kamusdotcom.

Setelah batas waktu tertentu, grommet pun harus dicabut kembali.
Nanti akan kuceritakan bagaimana proses pencabutan grommet anakku dan apa yang kami jalani selama grommet dipasang. [] Nai.

tulisan selanjutnya dapat dilihat pada artikel berikut, klik di sini.

Selasa, 13 Februari 2018

PR dan Tugas Anak dikerjakan Orang Tua, Bolehkah?

06.51 8 Comments
Setelah anak memasuki dunia sekolah, sudah tentu akan berhadapan dengan PR atau tugas sekolah. Mulai PR yang sifatnya menyalin ulang teks dari buku paket, PR mengerjakan soal latihan, PR mengarang, PR mencari referensi di internet sampai PR membuat kerajinan tangan atau prakarya. Mulai dari PR yang luar biasa gampang sampai dengan PR yang susahnya minta ampun.

Full day school biasanya tidak memberi anak PR atau tugas yang banyak. Paling-paling PR atau tugas yang memang tidak bisa dilakukan di sekolah pada jam sekolah, misalnya mewawancarai Pak RT, menulis liputan ibadah kurban, dll.
Sementara sekolah negeri pada umumnya memberikan PR yang cukup banyak dengan maksud menambah jam terbang anak alias agar anak rajin latihan soal.

PR yang layak dikerjakan oleh anak

Tahukah, Anda tidak semua PR atau tugas layak dikerjakan oleh anak, lho. Menurut saya PR yang layak dikerjakan oleh anak setidaknya harus memenuhi kriteria berikut;

Dilihat dari jumlah soal
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang jumlah soalnya masuk akal untuk dikerjakan. Masuk akal di sini artinya jumlah soal sebanding dengan waktu pengerjaan dan tingkat atau level pendidikan anak dan jenis soal/mata pelajaran. Misalnya, anak SD mendapat PR matematika dengan jumlah soal 50 s.d 100, jenis soal penerapan beberapa rumus, waktu pengerjaan hanya 1 malam. Ini termasuk contoh PR yang tidak layak dikerjakan oleh anak.

Dilihat dari tingkat kerumitan
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang tingkat kerumitannya sesuai dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor anak. Misalnya, anak kelas 1 SD diberi tugas menyurvei harga sembako di pasar tradisional secara berkelompok tanpa ditemani orang dewasa. Ini termasuk PR atau tugas yang tidak layak dikerjakan oleh anak. Contoh lainnya, anak kelas 2 SD diberi tugas membuat kerajinan tangan yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi seperti menyulam kruistik.
Lain halnya jika tugas tersebut misalnya mengukur panjang aneka daun seperti yang dilakukan oleh anak ini. Tentu tugas semacam ini bisa dikerjakan oleh anak bahkan tanpa ada orang dewasa.


Idealnya tingkat kerumitan dan kesesuaian anak dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor ini sudah tidak perlu diragukan jika dalam penyusunan bahan ajar sudah diperhatikan hal-hal tersebut yang tertuang dalam tujuan pembelajaran maupun kompetensi yang ingin dicapai. Artinya, setiap PR atau tugas menyesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam tiap pembelajaran. Sejatinya, tugas atau PR manfaatnya untuk anak bukan untuk guru.


Dilihat dari keamanan
PR atau tugas hendaknya tidak membahayakan anak baik dari segi fisik maupun mental/psikis. Anak kelas 1 SD misalnya jangan sampai diberi tugas yang memerlukan penggunaan alat-alat berbahaya bagi anak seperti senjata tajam, alat elektronik (colok ke listrik), atau tugas yang harus dikerjakan dekat sungai. Tugas seperti ini kalau tidak didampingi oleh orang dewasa sebaiknya tidak usah dikerjakan oleh anak.

Mengerjakan PR Bersama
Anak memerlukan rasa mampu dan rasa berprestasi dalam dirinya. Penting bagi guru dan orang tua untuk mempertimbangkan apakah tugas atau PR yang diberikan bisa dikerjakan oleh anak secara mandiri. Ketika anak mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri, anak akan mendapatkan rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Ini penting bagi perkembangan emosi dan pribadi anak. Itulah sebabnya perlu ada contoh yang konkret sebelum anak diberi tugas.

Bagaimana kalau anak ternyata mendapat PR yang tidak layak dikerjakan? Bolehkah orang tua membantu? Bukan boleh lagi tapi wajib. Dalam beberapa hal yang kasuistik bahkan bila perlu tugas jangan dikerjakan sebelum mendapat petunjuk lengkap agar anak mampu mengerjakannya. Orang tua bisa menghubungi guru untuk mendiskusikannya.

"Mama, mama saja yang mengerjakan. Aku gak bisa. Kalau gak dikerjakan aku dihukum."

Pernah mendapat kalimat seperti itu dari anak? Bagaimana menyikapinya?


  1. Jangan panik, jangan marah
  2. Jangan sibuk dengan dugaan dugaan sendiri.
  3. Cek soal yang diberikan, cocokkan dengan buku teks atau buku pegangan, cek tujuan pembelajaran.
  4. Tanyai anak satu contoh yang ada di buku, cek kepahamannya terhadap materi. Jika ia tidak paham berarti sudah pasti dia tidak bisa mengerjakan tugas atau PR tersebut.
  5. Beri penjelasan ulang pada anak tentang materi yang menjadi tugas tapi bukan mengerjakan PR dari guru. Jika anak sudah paham, minta dia mengerjakan tugasnya di bawah pengawasan.
  6. Jika hal ini berulang terjadi, barangkali perlu dilakukan diskusi dengan guru. Jika anak memang agak terlambat dari yang lain, berarti perlu dilakukan upaya-upaya lain sesuai kondisi anak.


Pada beberapa buku teks malah terdapat tugas yang khusus dikerjakan anak bersama orang tua. Dengan dibantu orang tua, anak akan lebih bersemangat mengerjakan tugas. Selain itu, ini juga bisa jadi upaya orang tua untuk lebih dekat dengan anak.

Beberapa waktu lalu anak-anak saya mendapat tugas yang harus dikerjakan bersama orang tua. Ada tugas membuat boneka, tugas mengukur aneka daun, tugas membuat pigura dan lain-lain. Mereka senang bukan main. Selain itu, tugas sekolah membuat anak lupa pada gadgetnya. Ini yang penting! []

Kamis, 28 Desember 2017

Arti Piagam dan Piala bagi Anak

12.21 9 Comments

doc pribadi
Setiap piagam, sertifikat, piala, tentu punya arti yang berbeda bagi semua orang  meski pada umumnya sama-sama menyuratkan prestasi-prestasi yang layak dibanggakan oleh pemiliknya. Terlebih jika yang mendapatkannya seorang anak, maka orang tuanyalah yang paling berbangga hati.

Piagam dan Piala Perspektif Keluargaku 
Bagi kami sendiri, benda-benda tersebut selalu membawa cerita unik di sebaliknya. Tentang gigihnya perjuangan, pentingnya giat latihan serta yang lebih penting adalah tetap sportif apapun yang terjadi. Menang tidak sombong, kalah jangan patah. Coba lagi. Itu yang kutanamkan pada anak-anak.
Menanamkan sportivitas pada anak bukan pekerjaan yang gampang. Aku masih ingat ketika anak sulung dan anak keduaku mengikuti beberapa cabang lomba mewakili sekolahnya bersama beberapa temannya. Artinya, selain bersaing dengan orang lain, mereka juga bersaing dengan teman-temannya sendiri. Dan alangkah menyakitkan ternyata, ketika kemenangan diraih oleh teman yang satu sekolah denganmu. Lebih menyakitkan daripada ketika kemenangan diraih okeh utusan sekolah lain. Beragam cara kulakukan untuk menghibur mereka, termasuk menasihati agar tetap sportif, misalnya dengan memberi ucapan selamat pada teman yang menang.
Yang susah itu kalau standar penilaian juri tidak sama dengan konsep yang ada di kepala kita. Namanya lomba, pasti ada menang ada kalah, pasti ada unsure subjektivitas sedikit banyaknya. Ini pernah terjadi ketika anak-anakku ikut lomba puisi dan melukis (bisa jadi aku salah menyikapinya saat itu). Temanya keragaman budaya. Kupikir pastilah konsepnya tentang bagaimana kita berbeda tapi tetap satu. Anakku yang ikut lomba puisi menulis puisi tentang persahabatannya bersama teman beda suku. Sementara anakku yang ikut lomba melukis cerita bergambar memilih melukis kisah Ben Ten yang keliling Indonesia, ke beberapa pulau dengan ciri khas daerah masing-masing (ia sudah melatihnya di tempat kursus). Dari gaya dan teknik anakku melukis, aku yakin dia menang. Paling tidak dapat nomor 3. Ternyata kami keliru. Anakku tidak menang sama sekali. Yang menang justru yang teknik melukisnya masih jauh dari anakku. Tidak berkarakter sama sekali. Aku terbelalak. Sepertinya kami salah konsep. Yang menang adalah yang mengangkat satu saja sisi lokalitas daerah kami. Ya, tidak salah lagi, yang menang rata-rata yang melukis pasar terapung! Itu juga terjadi pada anakku yang ikut cabang puisi. Kalian mau tahu apa yang kuucapkan pada anak-anakku? Kalian kalah bukan karena jelek. Kalian kalah bukan karena kurang latihan. Kalian kalah karena konsep jurinya tidak sama dengan kita. Gambarmu bagus, puisimu bagus. Mari kita rayakan dengan makan-makan (kaya iklan). Meski luka, kuajari anakku menegakkan kepala di depan temannya yang menang. “Beri selamat pada temanmu.” Bahkan kuambil fotonya bersama temantemannya.
Sepanjang jalan aku tahu persis bagaimana kecewanya mereka. Besoknya, kusuruh anakku melukis sebagus mungkin. Kubantu ia membereskan puing-puing hatinya. “Perhatikan, Mama. Gambarmu akan mama kirim ke majalah. Mama akan buktikan gambarmu bagus dan akan lebih berharga di media nasional sana.”

Aku melonjak kegirangan, ketika suatu hari ada sebuah paket dari majalah anak. Paket berisi boneka yang berarti lukisan anakku dimuat! Aku menangis lega. Bagaimana tidak, aku sedang bertaruh dengan ucapanku sendiri. Aku sedang bertaruh dengan harga diri dan kepercayaan anakku. Halaman majalah yang memuat lukisannya kami beri pigura, kami pajang di dinding rumah.
Di lain kesempatan, anakku ikut lomba lagi (tidak kapok). Waktu itu dia pulang membawa piala tapi kok wajahnya tidak ceria. “Kenapa? Kan dapat piala?”
“Ambil saja mama pialanya. Aku kalah kok. Ini piala bohongan, Cuma buat menghibur hati. Semua peserta dapat piala”
Aku tertegun. Bukan piala yang membuat mereka senang. Mereka sudah paham arti kekalahan.
Lama-lama anakku kapok jua ikut lomba. Malas katanya.
***
Sejak kakak-kakaknya malas lomba, si kembar juga tidak pernah kuikutkan lomba. Terus terang aku trauma. Lalu hari itu, TK-nya bekerja sama dengan sebuah rumah makan mengadakan lomba mewarna. Semua anak ikut. Kubilang kita hepi-hepi saja. Seru-seruan. Ternyata kekalahan itupun membuat mereka mengomel sepanjang masa dan bertekad tidak mau ikut lomba lagi hingga takdir berkata lain. Itu terjadi ketika mereka sudah SD.
Inilah cerita keramat itu, jeng-jeng…
“Ma, aku dipaksa guru ikut lomba mewarnai kaligrafi mewakili kelasku. Aku padahal tidak mau” kata kembar 1 sebel.
“Lhaa, kan bagus ikut lomba”
“Malas ah, Ma!”
“Kamu harusnya senang dan bersyukur.” Gumam kembar 2.
“Senang apanya?” Kata kembar 1
“Padahal… aku pengen lho..ikut lomba mewarnai kaligrafi,” gumam kembar 2.
“Lho, kenapa gak bilang ke guru kalau kamu mau ikut?”
“Kan dipilih, Maaa. Aku gak dipilih. Yang dipilih dia” sahutnya sedih.
“Jangan sedih, aku juga gak mau ikut kok!” teriak kembar 1.
Sampai bagian ini aku mulai mengendus sesuatu. Astaga, aku memahaminya sekarang. Kembar 2 sedang sakit hati karena kalah dengan kembarannya sendiri dan kembar 1 tidak mau ikut lomba karena toleransi dengan hati kembar 2. Kalah dari kembaranmu sendiri? Ow, aku memang belum pernah merasakannya. Membayangkannya saja hatiku terasa ditusuk-tusuk duri. Ini harus diselesaikan dengan baik. Tidak boleh ada yang merasa tersakiti tapi setiap anak punya hak untuk maju dan berkembang. Aku memutar otak.
“Ah, mama ada ide. Kamu gantikan dia ikut lomba. Gurumu mana tahu, muka kalian kan mirip”
“Mama, baju kami kan pakai nama?!” seru keduanya.
“Gampang, tuker aja bajunya”
“Mama pikir kami bisa menukar suara dan tahi lalat?” mereka berebut protes menyebut ciri khas masing-masing.
Aku tertawa sambil menutup mulut.
“Lagipula, Ma. Dia terpilih karena memang warnaannya dia lebih bagus daripada aku” ucap kembar 2.
Aku tersentak. That’s the point! Horayy. We did it.
“Bagaimana guru bisa tahu warnaan siapa yang lebih bagus?” tanyaku.
“Kami semua diminta mewarnai lembaran kaligrafi, dikumpul, lalu dipilih yang terbagus” cerita mereka.
“Ooow begitu.” Aku mengangguk-angguk.
“Makanya tadi kubilang harusnya senang dan bersyukur” kata kembar 2.
“Iyaa yaa… Kalau begitu, tugasmu memberi semangat untuknya. Boleh kan saat lomba diberi semangat?”
“Iya..mama benar. Ayo, kamu ikut lomba, aku akan memberi semangat pas kamu lomba nanti” kembar 2 berkata antusias.
Melihat keceriaan kembar 2, kembar 1 berangsur-angsur tersenyum. Baiklah, aku akan ikut lomba besok”
Penasaran dengan hasilnya? Ya, piagam itu jawabannya. Semula kembar 1 ragu dan takut melihat piagam itu. “Aku sebenarnya tidak ingin menang. Aku mewarnanya tidak bagus kok. Aku tidak mau juga piagam ini” aku menatap mata beningnya. Toleransi yang sangat tinggi, Nak.
“Beri bingkai Ma, piagam ini!” kata kembar 2. “Ini kenanganmu lho!” katanya semangat. Aku tahu, itu bukan kalimat basa-basi. Aku tahu dia tulus.
Kembar 1 tersenyum senang. “Tidak usah dipajang. Simpan saja baik baik, Ma”
Tentu aku akan menyimpannya baik-baik. Insya Allah. Piagam itu saksi keberhasilan kembar 1. Eits, bukan. Piagam itu adalah saksi kemenangan mereka berdua karena berhasil melewati satu fase yang nyaris merusak hubungan mereka sebagai saudara dan nyaris menghalangi kemajuan satu sama lain. Kalau boleh aku narsis sedikit…hiks..aku ingin pula mengklaim piagam itu adalah saksi cintaku pada mereka berdua. Boleh kan yaaa? []