Sabtu, 17 Maret 2018

# esai # Parenting

Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku


Operasi Pemasangan Grommet: Kisah Mendebarkan Seputar Pengobatan Telinga

Sudah pernah mendengar istilah operasi grommet? Operasi pemasangan grommet tepatnya. Jika kamu bukan dokter spesialis THT kujamin kamu bakal mengernyitkan dahi kebingungan, kecuali kamu atau orang dekatmu pernah mengalaminya. Seperti itulah reaksi pertama kami, ditambah cemas, gundah, was-was, takut, bercampur sedikit harapan akan kesembuhan anak kami, ketika pertama kali dokter THT kami yang cantik mengeluarkan statement tersebut.

Ceritanya lengkapnya begini,
Hari itu, anak bungsuku yang berusia 8 tahun untuk kesekiankalinya mengeluhkan pendengarannya yang berkurang.

Sebelumnya, dia sebenarnya sudah sering menunjukkan gejala bermasalahnya pendengarannya. Hanya saja, kami kurang begitu serius menanggapinya (aku meminta ampun kepada Tuhan berkali-kali atas kekhilafanku yang satu ini). Misalnya, kalau diajak bicara ia selalu meminta lawan bicara mengulang kalimat berberapa kali sambil memiringkan kepala ke arah yang lebih dekat dengan lawan bicara.

Indikator lain sebenarnya ada pada seringnya dia memutar televisi dengan volume yang kencang, yang semula kupikir ini bagian keseruan anak-anak saja. Ia juga pernah mengeluhkan ada bagian yang sakit di telinganya.

Waktu itu kamipun membawanya ke dokter anak. Setelah memeriksa anakku, dokter menyimpulkan sakit telinganya hanya karena pilek dan itu biasa. Kami menebus resep, pulang, minum obat, selesai. Itu terjadi beberapa kali.

Hingga hari itu, setelah ayahku pulang dari RS (ayahku opname karena stroke), entah mengapa aku merasa tetiba melek medis. Aku berniat membawa anakku ke spesialis THT langganan kami. Dokter cantik dan ramah itu memeriksa, menanya-nanyai aku dan anakku, lalu meresepkan obat dan memberikan kami sebuah perintah tambahan.

“Gangguan telinga ini akibat pilek, ingus yang tidak bisa dikeluarkan dengan benar menumpuk di telinga. Obat ada dua jenis. Ada obat-obat yang diminum, ada obat yang ditetes di hidung. Kita lihat satu minggu. Kalau belum ada kemajuan, ibu bawa anak ibu ke THT Center di RS XXX, ini saya buatkan surat rujukan untuk tes blablabla (aku belum familiar dengan nama tesnya waktu itu). Setelah itu, bawa ke sini hasil tesnya. Selain itu, anak ibu harus rajin membasuh hidungnya. Dia menunjukkan cara membasuh hidung menggunakan air infuse dan alat suntik. Aku ternganga.

Seumur-umur, baru kali ini aku tahu cairan infuse bisa dipakai untuk membasuh hidung dengan cara dimasukkan ke lobang hidung menggunakan alat suntik.

“Ini biasa saja, Bu. Sama seperti pembiasaan cuci tangan pakai sabun,” kilahnya santai kayak di pantai. Dia seperti menangkap kebengongan kami (aku dan suamiku).
"Coba ibu lihat di Youtube, ada caranya, kalau ibu masih belum paham dengan penjelasan saya tadi” katanya lagi.

Sepulang dari dokter, aku mempelajari tutorial cuci hidung pakai air infuse. Saat mempraktikkannya aku sempat ragu dan takut. Untunglah anakku sangat kooperatif. Luar biasa, kembarannya turut membantu.
Seminggu setelah itu, aku perhatikan belum ada perubahan pada anakku.

Kami segera membawanya ke THT Center untuk dites. Ternyata, nama tesnya adalah tes Audio. Anakku masuk ke dalam ruangan kecil, lalu dipasangi alat semacam headset. Petugasnya sudah memberi petunjuk atau teknis pemerikasaan. Anakku akan mengangkat sebelah tangannya, yaitu tangan yang sesuai dengan sisi telinga yang dapat menerima bunyi. Lagi-lagi aku bersyukur anakku sangat kooperatif. Kutangkap nada cemas di wajah petugasnya. Sepertinya hasilnya akan menjadi kabar buruk bagi kami.

Petugas menulis-nulis seusatu di selembar kertas lalu menjelaskan sedikit hal padaku. Intinya, hasil pemeriksaan anakku jauh di bawah hasil pengecekan kondisi telinga normal. Setelah membayar biaya pengecekan audio, kami membawa hasilnya ke dr.THT.

“Wah, hasilnya di bawah normal. Jauh sekali. Coba ibu tes blablabla lagi untuk lebih akurat”

Kami menuruti sabda sang dokter. Kami kembali lagi ke THT center di RS XXX untuk tes Tympano (ingat-ingat ya namanya).

Ketika sang dokter melihat hasil tes tympano, ia terkejut. “Anak ibu sekarang ini pendengarannya seperti para manula yang kondisi pendengarannya kurang. Ada tumpukan cairan ingus di gendang telinga. Itu harus dikeluarkan dan dipasangi pipa grommet. Supaya operasi pemasangannya lancar, anak ibu akan dibius total nantinya.”

Aku dan suami ternganga. Operasi? Bius total? Kupandangi wajah anakku. Kasihan sekali kamu nak.

“Anak ibu punya kartu BPJS, kan?”
Aku dan suami menggeleng.
“Kalian PNS, kan?”
“Si kembar anak ketiga dan keempat. Hanya kakak-kakaknya yang sudah terdaftar.”
“Anak ketiga masih bisa. Uruskan dulu. Setelah itu, ini prosedur selanjutnya… Dokter menuliskan sesuatu.
“Maaf ya dok.. kalau misal..misal nih dok tidak pakai BPJS, berapa sih biayanya..kisarannya?” tanyaku hati-hati. Sesaat kemudian ekspresiku berganti menjadi setengah shock mendengar kisaran angka yang ia sebutkan.
“Tanggal sekian-sekian saya akan ke luar negeri. Kalau mau operasi dengan saya, berarti harus cepat” sambungnya ramah. “Tapi sebenarnya tidak masalah kalau operasinya dengan dokter lain. Sama saja” sambungnya lagi.

Di rumah, aku dan suami berunding. Kami merasa tidak sreg kalau operasi dengan dokter lain sementara yang memberi saran operasi dan yang selama ini merawat anak kami adalah dokter tersebut. Suamikupun ngebut mengurus BPJS anakku. Kami akan berusaha mengejar kesempatan operasi sebelum dokter baik itu berangkat ke luar negeri.

Perjuangan sesungguhnya baru dimulai
Setelah anakku memiliki kartu BPJS, kami pun memulai prosedurnya (diawali dengan meminta rujukan dokter faskes 1 kami). Barulah kami membawa rujukan tersebut ke rumah sakit. Hari itu, lucu sekali, aku tidak bisa menahan tawa kalau ingat pengalaman ini. Kami sudah menyiapkan diri untuk menginap di RS. Semua perlengkapan ada dalam mobil. Ya, bagaimana aku tidak tertawa, ternyata prosedurnya masih sangat panjaaang dan berhari-hari setelah itu, hehe.

Di rumah sakit, inilah yang kami jalani.

Pertama-tama, kami harus menuju loket pendaftaran peserta BPJS. Untuk itu kami harus mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Kulihat sudah banyak yang duduk di kursi tunggu. Oh, besar sekali angka urutan antrian kami. Pastilah orang-orang yang banyak ini datangnya jauh lebih pagi. Baiklah, mari kita bersabar, ucapku pada diri sendiri. Seorang kakek menyapaku, “Kamu baru ya berobat di sini. Kami sudah lama berobat di sini.”

Beberapa lama kemudian, nomor antrianku disebut untuk menuju loket sekian. Di loket itu aku mendapat karcis (demikian kami menyebutnya) untuk ke poli THT. Kami menuju poli THT. Astaga, antriannya juga banyak betul. Setelah tiba giliran kami, anakku diperiksa oleh seorang dokter senior didampingi para dokter muda. Dokter itu bilang, hanya sebelah saja telinga yang perlu dioperasi. Kami bingung. Padahal dokter kami yang cantik mengatakan kedua telinga anakku bermasalah dan harus dioperasi keduanya. Di poli itu kami dijelaskan langkah selanjutnya. Anakku harus dirontgen dan cek lab darahnya. Artinya, besok kami berjuang lagi.

Dalam lift RS kami bertemu dokter THT kami yang lain. Ya, kami punya dua dokter THT langganan. Keduanya perempuan. Aku memberanikan diri menyapanya. “Dok, masih ingat kami? Ini si kembar yang dulu pernah ketulangan lalu dicabut oleh dokter”

Dokter itu tersenyum menyapa anak-anakku.
“Maaf, dok, boleh bertanya?”
“Oh, silakan Bu,”
“Dokter tahu operasi Grommet?”
“Ya, tentu saja.”
“Apakah operasi grommet sesuatu yang biasa atau sesuatu yang wah.. wow..mengerikan atau gimanaa” tanyaku lagi.
“Biasa saja, kok” jawabnya dengan suara khasnya yang lembut tapi tegas berwibawa.
Pintu lift terbuka. Kami harus segera keluar. Sampai di situ saja percakapanku, aku merasa tidak puas. Malamnya, kami pun ke tempat praktik beliau. Hitung-hitung untuk second atau third opinion.
Dokter itu menjelaskan panjang lebar. Lalu karena kami terlihat ragu, dia menyarankan cek tympano ulang. Kami kembali ke THT center RS xxx. Setelah ada hasil, dokter membacanya dan berkata, “Dari tes ini, malah ada penurunan Bu, kedua telinganya. Sudahlah, ibu pasrah saja. Berdoa dan berusaha. Teruskan saja prosedurnya.

Untuk cek lab darah dan rontgen, lagi-lagi kami harus mengantri. Setelah itu, hari selanjutnya kami ke poli anak dan bagian anastesi. Kami sudah benar-benar pasrah. Dokter sasaran kami sudah terbang ke luar negeri. Kami harus mempercayai siapapun dokter yang akan menanganinya. Setelah mendapat jadwal operasi (sebenarnya pada bagian ini ceritanya masih panjang), kami mencari ruangan. Terkait ini, kami sempat sedikit rumit. Kami hendak memilih dokter tapi tidak bisa kecuali kami memilih kelas VIP dengan bayaran yang tidak sedikit.

Operasi dilakukan
Petang Rabu yang basah oleh hujan, kami memandangi jalanan dari atas jendela RS. Perawat menginstruksikan agar rambut anakku dipotong agak lebih pendek terutama di bagian dekat telinga. Sepupuku membawa tukang cukur yang masih kerabat kami. Untuk menjaga kestabilan emosi, saudara kembarnya mau juga dipotong rambut. Tengah malam perawat masuk mengingatkan kembali bahwa anakku harus puasa.

Pagi-pagi, kami semua sepakat tidak ada adegan sarapan demi menyukseskan puasa anakku yang hendak operasi. Perawat datang memasang infuse. Anakku pun dibawa ke ruang operasi. Lagi-lagi kami mengantri juga. Hingga tiba giliran anakku. Sesaat setelah obat bius disuntikkan lewat infuse, aku masih sempat membacakan doa sebelum tidur di telinganya…

Setelah oporasi selesai dan anakku siuman. Kami kembali ke kamar. Anakku merengek kelaparan. Lalu dia muntah beberapa kali. Aku panik.
Untunglah semua berlalu. Kami pulang dua hari kemudian, dan melanjutkan rawat jalan. Dan inilah takdir Tuhan selanjutnya bagi kami. Kepasrahan kami sebagai pasien BPJS justru mempertemukan kami dengan dokter THT senior lainnya yang sangat detail.

Sekilas tentang Grommet
Jadi, grommet itu semacam alat yang sangat kecil yang dimasukkan dalam gendang telinga.
Gambar asli diambil saat operasi

Keterangan berikut mungkin bisa menambah penjelasan tentang si grommet. Kuambil dari kamusdotcom.

Setelah batas waktu tertentu, grommet pun harus dicabut kembali.
Nanti akan kuceritakan bagaimana proses pencabutan grommet anakku dan apa yang kami jalani selama grommet dipasang. [] Nai.

20 komentar:

  1. Aduh, bu... Ngebayangin aja cemas, apalagi menghadapinya. Itu kenapa bu asalnya? Dari ingus gitu yg ga sembuh2 atau gimana? Memang pank telinga, hidung, mulut berhubungan satu sama lain. Oya, penyuntikan cairan steril ke hidung, telinga pakai alat suntik itu rasanya namanya irigasi, metode pembersihan kotoran paling aman dibanding dg cuttonbud

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..gegara ingus. Dia sering pilek sepertinya karena alergi. Ini aja masih pemulihan..

      Hapus
    2. Bun, saya sdh 6 bulan menderita infeksi telinga bagian tengah.. Sdh bolak balik THT dan blm ada perubahan.. Malah semakin parah rasanya.. Awalnya dr radang tenggorokan trus naik ke telinga.. Alternatif terakhir ya dipasang gromett juga tp saya masih mikir2 krn resiko benda lain atau cairan dr luar yg masuk ke telinga akan semakin tinggi.. Cerita selanjutnya ttg operasinya gmn bun?

      Hapus
    3. Sekarang udah dilepas grommetnya. Cuma ya harus dijagai agar jangan sampai sering pilek lagi. Maaf ini dengan siapa? Dan tinggal di mana?

      Hapus
  2. Wah baru tahu soal grommet ini. Berarti dia tidak permanen ya dipasangnya

    BalasHapus
  3. Berarti salah satu faktornya itu pilek yang lama gitu ya Bu Nai?
    Hmmm... Jadi penasaran bagaimana kondisi sesudah operasi si kembar. Semoga cepat pulih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah operasi jadi sering ngedate ama dokter, hehe.

      Hapus
  4. Bu,ulun takut baca ini dan tiba2 pengen kontrol telinga Farisha lagi kedokter THT. Huhu. Ini beralasan bu, karena Farisha ini punya riwayat alergi parah yg menurun dari ulun. Dy selalu pilek parah saat berhadapan dg cuaca dingin, debu dan bulu kucing. Masalahnya dy tdk bs mengeluarkan ingus dg cara yg benar. Jd pengen belajar pakai infus itu. Huhu. Bbrp bulan sebelumnya ulun jg pernah curhat di blog ttg anak lun yg tiba2 kena otitis media berlanjut dg otitis eksterna. Sayangnya ulun kurang puas dg dokter yg sdh ulun kunjungi yg selalu bilang bahwa telinganya cuma kotor. Padahal dy sering mengeluh gatal dan sakit. Apalagi kalau cuaca dingin. Nice sharing bu, next ulun japri piyan buat nanya2 lagi ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Wind. Japri aja. Aku sudah lama menyiapkan tulisan ini karena pas mau operasi, aku mencari info kurang banyak tentang ini. Asli galau. Takut. Aku berharap tulisan ini bermanfaat buat ibu-ibu lain yang punya problem sama denganku.

      Hapus
  5. Ya ampun mba nai, baru liat aja udah gemetar. Jadi gimana sekarang keadaan si kembar setelah operasi mba nai?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu kisah swlanjutnya ya Aya Cantik..hehe

      Hapus
    2. Tunggu kisah swlanjutnya ya Aya Cantik..hehe

      Hapus
  6. Kaka eny dulu pernah juga mba,punya masalah THT tapi untungnya bisa rawat jalan aja.. Alhamdulillah yaa lancar juga operasinyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Alhamdulillah En. Pemulihan yang harus telaten lagi nih.

      Hapus
    2. Iya. Alhamdulillah En. Pemulihan yang harus telaten lagi nih.

      Hapus
  7. setelah operasibagaimana ya bu? anak sy mengalami hal yg sama. Tp ini msh diusahakan dr obatnya. Bs minta nomer wa nya bu?

    BalasHapus
  8. Bun bisa minta kontak tlpn / wa..? Suami sy br pasang grommet..mgkn bs sharing mslh perawatan dll bun..makasib..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana respon pendengarannya setelah pasang grommet bu? bs share kah?

      Hapus