Rabu, 14 Mei 2014

Sudut Pandang

13.50 0 Comments


SUDUT PANDANG

Kita sudah menemukan siapa tokoh-tokoh kita, kita sudah pula memberinya nama. Kita sudah tahu bagaimana mengekspresikan/menampilkan para tokoh. Masih ingat dengan materi minggu lalu, kan?
Sekarang, yang perlu kita pikirkan adalah yang mana di antara mereka yang akan mengisahkan kisahmu…
Banyak sudut pandang yang dapat dipilih oleh penulis. Masing-masing punya masalah, tanggung jawab dan efek yang berbeda-beda.

Macam-macam Sudut Pandang

v     Sudut pandang orang pertama
v     Sudut pandang orang kedua
v     Sudut pandang orang ketiga

Beberapa varian

Protagonis Orang Pertama: Seorang tokoh menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada mereka; “aku” adalah tokoh utama yang menceritakan kisahnya sendiri.

Saksi Orang Pertama: Cerita tokoh utama diceritakan oleh orang lain yang mengamati peristiwa-peristiwa.

Pencerita kembali Orang Pertama: Cerita diceritakan, buka oleh saksi atas peristiwa itu tapi oleh orang yang mendengar cerita itu dari orang lain.

Orang Kedua: narator menyebut protagonis sebagai “Anda”. Sudut pandang ini sangat jarang digunakan karena sulit. Pembaca mungkin merasa mereka adalah orang yang diajak bicara dan akan merasa sulit menerima bahwa mereka sedang melakukan hal-hal yang yang diinginkan narator untuk dilakukan.

Orang Ketiga Mahatahu: Narator tahu segala sesuatu; semua pemikiran, perasaan dan tindakan mungkin diceritakan kepada pembaca (atau mungkin disembunyikan).

Orang Ketiga Obyektif: Narator hanya dapat menceritakan kepada pembaca apa yang dilihat atau didengar.

Orang Ketiga Terbatas: Narator dapat melihat ke dalam pikiran satu tokoh.

Tentang “Perlihatkan, Jangan Ceritakan”

Ketahuilah, ada saat untuk memperlihatkan, ada saat untuk menceritakan.

Eksposisi: wacana yang menjelaskan, mendefinisikan, melukiskan atau mengomentari sesuatu. Digunakan untuk menyampaikan informasi yang perlu tapi tidak bisa disampaikan melalui adegan.

Narasi: laporan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dalam urutan kejadian. Merangkum peristiwa yang tidak dapat didramatisasi dalam adegan.

Dialog: percakapan dalam bentuk tertulis.

Kapan membuat dramatisasi?
Pada peristiwa paling penting; peristiwa yang merupakan kunci bagi pergerakan alur; dan peristiwa kunci bagi perkembangan tokoh

Novel Vs Cerpen dari segi struktur

Cerpen = insiden pemicu – aksi menaik – klimaks – aksi menurun – akhir cerita
Novel = insiden pemicu – aksi menaik – pembalikan – dan lain-lain – klimaks – aksi menurun – akhir cerita

Nah, sebagai Latihan, coba tebak sudut pandang apa yang digunakan pada paragraf -paragraf berikut!


Aku ketinggalan bus pagi itu karena aku tidak dapat meyakinkan diriku sendiri untuk bangun dari tempat tidur. Aku merasa terlalu enak di bawah selimut, dengan kucing melingkar di sampingku. Aku terpaksa berjalan kaki ke tempat kerja.

Dia ketinggalan bus. Dia mungkin harus berdebat dengan dirinya sendiri selama sejam ahwa dia mestinya bangun. Aku dapat membayangkan dia di sana, meringkuk di tempat tidur dengan kucing di sampingnya. Sekarang dia terpaksa berjalan kaki ke kantor.

Dia ketinggalan bus. Aku tidak tahu mengapa; mungkin tidak dapat bangun. Anda tau betapa hangat ketika Anda meringkuk di bawah selimut. Dia juga punya kucig, dan kucing menambah sulit untuk bangun di pagi hari. Maka dia ketinggalan bus dan harus berjalan kaki ke kantor.

Kau ketinggalan bus lagi karena kau tidak dapat meyakinkan dirimu sendiri untuk bangun. Selimut menjadi sarang yang enak bagimu, dan ada kucing, dengan bulu-bulunya yang hangat, meringkuk di sampingmu. Maka kau terpaksa berjalan kaki ke kantor.

Dia ketinggalan bus. Dia menghabiskan waktu hampir satu jam berdebat dengan dirinya sendiri tentang bangun. Kau harus bangun sekarang, ini saatnya bekerja. Tapi rasanya hangat sekali. Beberapa menit lagi. Kau akan terlambat. Aku tidak peduli. Ya kau tak peduli. Meringkuk besama kucing, sangat sulit untuk bergerak, sangat hangat dan enak. Dan dia pun ketinggalan bus dan menyumpah, dan mengatakan kepada dirinya sendiri betapa bodohnya ia. Kemudian ia mulai berjalan kaki ke kantor.

Dia tiba dengan terengah-engah di halte bus, ketika bus sudah pergi. Dia melihat jamnya dan bersumpah. “Keparat selimut hangat,” katanya. “Keparat kucing yang hangat dan mendengkur.” Dia melenguh dan berjalan kaki ke arah kantor.

Dia tiba dengan terengah-engah di halte bus dan hanya bisa melihat sekilas bagian punggung bus itu melasat pergi. Dia melihat jamnya. Pukul setengah sembilan. “Keparat selimut hangat itu,” katanya seraya membayangkan bagaimana rasanya meringkuk di balik selimut hangat di tempat tidur. Dia telah berbantah dengan diri sendiri selama satu jam tentang bagaimana dia harus bangun. Dia tinggal di tempat tidur lama sekali sehingga dia tidak punya waktu untuk mandi dan sekarang dia ketinggalan bus. Kucing hangat yang neringkuk di sampingnya itulah yang telah membuatnya sulit untuk bangun. “Keparat kucing hangat dan mendengkur itu,” katanya dan berjalan kaki menuju kantor.



Sabtu, 10 Mei 2014

Sebutir Impian yang Terwujud

14.24 0 Comments


Sebutir Impian yang Terwujud
Catatan Kecil Nailiya Nikmah

Sejak kecil, satu hal yang termasuk dalam daftar impianku adalah menjadi penyiar radio. Entah mengapa aku sangat ingin menjadi penyiar radio. Mungkin karena sejak kecil hobiku adalah mendengarkan radio, mungkin pula karena aku sadar diri wajahku pas-pasan jadi tidak mungkin aku jadi penyiar televisiJ
Aku pernah menjuarai lomba baca puisi, pernah pula menjuarai lomba pidato (semacam dai cilik). Aku bahkan pernah mewakili TPA ku untuk menyampaikan tausiyah di acara peresmian sebuah TPA lain. Di SMP, aku selalu menjadi juara 1 lomba pidato, begitu pula di SMA. Kalau ada acara yang memerlukan siswa menyampaikan pidato atau sambutan, guru-guru biasanya memilihku (narsis.com).
Yang tak terlupa dalam memori abu-abu putihku (bukan kisah kasih di sekolah;)) adalah ketika dalam satu pekan ada lomba di sekolah dalam rangka bulan bahasa alias memperingati sumpah pemuda, aku memenangi beberapa cabang lomba. Akibatnya aku terpilih menjadi juara umum se-SMA ku. Aku juara lomba menulis berita, juara pidato, dan juara lomba baca berita. Yang terakhir ini nih yang paling berkesan. Aku masih ingat, waktu itu aku dapat no urut 2. Para juri adalah guru bahasa Indonesia di sekolahku. Selesai aku membacakan berita dengan gaya yang sangat “penyiar TVRI”, guru-guruku tersenyum-senyum dan ada yang bilang, “Langsung jadi penyiar RRI saja kamu…” Dalam hati aku sangat senang. Aku memang sangat ingin menjadi penyiar radio. Kalimat guruku membuatku semakin ingin jadi penyiar. Sayang aku belum menemukan jalan ke sana. Mungkin pula aku kurang gigih. Aku belum berani melamar menjadi penyiar. Yang kulakukan waktu SMA hanya menjadi fans radio swasta di kotaku. Aku hadir di beberapa acaranya dan menjalin persahabatn dengan sesama fans. Kulihat penyiarnya keren dan cantik (ceritanya dulu aku minderan).
Kesukaanku pada radio, membuatku sering bermain sandiwara radio. Adikku adalah pendengar setianya. Tiap malam aku mengudara dalam kamar. Ceritanya kubuat bersambung. Seingatku kisahnya kisah persilatan. Aku begitu menghayati. Kalau ceritanya pas tokohnya naik kuda, maka kubuatlah suara ringkikan kuda dari mulutku sendiri. (lama-lama aku capek pake suara, akhirnya cerita kutulis…).
Setiap ada pelatihan motivasi, aku selalu mencantumkan ingin menjadi penyiar radio sebagai salah satu daftar impianku. Waktu aku pindah ke kota lain karena melanjutkan studi, aku dengar salah seorang kawan akrabku berhasil menjadi penyiar radio. Betapa irinya aku saat mendengarnya. Belakangan, aku sadar, mungkin aku memang tidak ditakdirkan menjadi penyiar radio. Impianku kupersempit, okelah aku tidak bisa jadi penyiar radio tapi setidaknya aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengudara, berbicara sendiri dengan suara sebagus-bagusnya tapi ada yang denger di seberang sana. Beberapa kali aku hampir mendapat kesempatan menjadi nara sumber di radio tapi selalu berbelok alias tidak jadi.
Hingga tibalah hari itu. Hari ketika seorang kawan menelponku. Aku diminta mengisi acara di radio, temanya tentang seni budaya, terserah aku mau ngomong tentang apa. Saat itu anak bungsuku sedang sakit dan rasanya tidak mungkin meninggalkannya. Selain itu, aku sendiri kurang sehat. Tenggorokanku sakit, hidungku meler, suaraku serak. Bagiku pastilah suaraku tidak sempurna. Akan tetapi hati kecilku berkata, saat ini kamu diminta karena tugas organisasi dan sepertinya inilah kesempatanu untuk mencapai salah satu impian masa kecil. Akupun menyiapkan diri sebaik-baiknya. Mencari ide, menyusun kerangka, mengumpulkan referensi. Aku memilih topik sastra daerah.
Rasanya tidak percaya ketika aku sampai di halaman RRI. Lebih tidak percaya lagi ketika aku memasuki ruangannya dan memasang peralatan siaran. Hei, here I am! Aku terkenang guruku yang dulu pernah berkata Langsung jadi penyiar RRI saja… Oh Bu Guru, apakah kautahu ucapanmu tersebut kini menjadi nyata walau hanya sekali ini.
Selesai aku siaran, aku berfoto dengan kru dan penyiarnya (salah satunya ternyata teman kuliahku!). Yang menyenangkanku, sorenya ketika pulang kerja, suamiku memutar suaraku saat sedang mengudara. Ternyata ia merekamkannya untukku. Malam itu akupun narsis mendengarkan suara sendiri. Terima kasih Tuhan, kini aku sudah tahu rasanya mengudara alias siaran…:) hehe.


Kamis, 20 Maret 2014

MENYUSURI JALAN PUISI (BERSAMA) IBRAMSYAH AMANDIT

14.17 0 Comments


MENYUSURI JALAN PUISI (BERSAMA) IBRAMSYAH AMANDIT
Esai Nailiya Nikmah JKF

Add caption
Seberapa besar cintamu pada puisi? Tunggu, jangan jawab pertanyaan tersebut sebelum menjawab pertanyaan yang satu ini, seberapa jauh perjalanan puisimu? Jawaban atas pertanyaan ini bukan semata tentang jarak dan waktu melainkan tentang ketekunan.  Sebagai pelajaran tentang ketekunan dalam perjalanan puisi, tidak berlebihan kiranya jika kita menengok perjalanan puisi sastrawan yang satu ini untuk mengaca diri sebelum melanjutkan perjalanan puisi kita.
Iberamsyah Amandit (IA) bin H. Lawier lahir di Desa Tabihi Kanan, Kelirahan Karang Jawa, Kec Padang Batung, Kandangan, Kab HSS 9 Agustus 1943. Menempuh pendidikan (1949-1950) di Sekolah Rakyat Desa Tabihi Kiri dan di Karang Jawa (1 tahun), lalu ke SR 6 tahun di Tamban (lulus 1957); dilanjutkan ke Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) di Jalan Masjid Jami, Banjarmasin (lulus 1961), Madrasah Menengah Tinggi – depan Masjid Agung – Yogyakarta (lulus 1965) dan FKIS, Jurusan Ilmu Administrasi, IKIP Negeri Yogyakarta, sampai tingkat sarjana muda (1971). Menulis puisi sejak 1970. Ia bergabung dan lesehan mendengarkan pembacaan puisi oleh penulis-penulis Insani dan para penyair Persada Studi Klub pimpinan “Presiden Malioboro”, Umbu Landu Paranggi.
IA kembali ke Kalimantan Selatan (1972), terus menulis dan membacakan puisi di acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni RRI Banjarmasin, asuhan Hijaz Yamani. Setiap tahun ia mengikuti Aruh Sastra (:Aruh Sastra merupakan even sastra tahunan terbesar yang diselenggarakan di Kalimantan Selatan). Ia juga menjadi peserta Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya 5 Negara di Padang (2012); peserta Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Cisarua Bogor (2012). Puisinya dipublikasikan Harian Mercusuar (yogyakarta), Mingguan Sampe (Samarinda), Dinamika Berita, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Beberapa karyanya juga diterbitkan dalam beberapa antologi. Atas dedikasinya, ia pernah mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah.
            Desember 2010, IA mengalami stroke. Yang membanggakan, stroke tidak membuatnya menghentikan perjalanan puisinya. Juni 2013, antologi puisinya yang berjudul Tikar Pandan terbit. Membaca antologi yang diterbitkan oleh UPT Taman Budaya Kalsel, Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Kalsel kerja sama dengan Penerbit Pustaka Banua, akan terbaca perjalanan puisinya di fase stroke.
Definisi menurut WHO: stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan aliran darah otak. Menurut Neil F Gordon:  stroke adalah gangguan potensial yang fatal pada suplai darah bagian otak. Tidak ada satupun bagian tubuh manusia yang dapat bertahan bila terdapat gangguan suplai darah dalam waktu relatif lama sebab darah sangat dibutuhkan dalam kehidupan terutama oksigen pengangkut bahan makanan yang dibutuhkan pada otak dan otak dalah pusat kontrol sistem tubuh termasuk perintah dari semua gerakan fisik (http://infostroke.wordpress.com/pengertian-stroke/ ).    
Diksi seperti lumpuh, lemah, pincang, parau, sisa, compang-camping, lusuh, cacat, dan frase fisik tak sempurna pada puisi Lumpuh (2) begitu konkret menggambarkan keadaan IA pada fase stroke-nya. Menurut ceritanya, IA pernah mengalami stroke dua kali. Dilihat dari judulnya, kiranya puisi “Lumpuh (2)” hlm 6 adalah puisi yang menggambarkan keadaan ketika ia mengalami stroke yang kedua. IA sangat memahami keadaan fisiknya. Ia menyebutnya dengan  orang berfisik tak sempurna. Akan tetapi, puisi ini bukan ungkapan kecengengan atau kelemahan diri. IA mengungkapkan tantangan semangat kebaruan dan melangkahkan kaki cacat. IA memilih untuk menyandingkan kata melangkahkan di depan frase kaki cacat. Tangkaplah optimisme yang ia sampaikan. IA akan tetap melangkah meski kakinya cacat dan tangan terkulai lemah.
Akan tetapi, IA bukan malaikat. Jangan salahkan jika ia pun pernah bimbang (:galau). Siapapun yang didera penyakit berat, akan mengalami saat-saat down. Puisi “Tunjukkan Penyair” hlm 5 mewakili kegalauannya. /Tunjukkan penyair;/ Apa kakiku diam atau derap berjalan/ lewat terminal ke terminal/ mencari titik tuju akhir pemberhentian/ sebelum tamat perambah liar jalanan//…//Tunjukkan penyair;/ Apa kata-kataku galau suara sia-sia/ Apa ucapanku pembawa sabda?/
IA agak ragu untuk meneruskan perjalanannya. Ia mencoba mencari petunjuk tapi petunjuk yang ia cari tak lain adalah dirinya sendiri. Bukan siapa-siapa (termasuk dokter )  yang menetapkan ia akan bisa terus berjalan atau tidak. Dia tahu, dia sendirilah yang memutuskan, apakah perjalanan ini akan berlanjut atau berhenti. Sementara itu, ia yakin kata tamat hanya ada di pemberhentian yang sesungguhnya, yaitu ketika nafas pergi, yang tentu saja berada dalam wilayah kekuasaan-Nya.
Kegalauan IA fluktuatif. Kabar baiknya, kegalauan IA melingkar di seputar area eksistensinya sebagai makhluk Tuhan. Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian kalimat dalam kitab-Nya. Maka konsep maut adalah sesuatu yang harus melekat dalam diri setiap orang yang mengakui adanya Tuhan. Mengingatnya, akan berdampak positif bagi kemanusiawian kita. “Sketsa” hlm 35 menggambarkan dzirul maut yang dilakoni oleh IA. Bukankah Chairil dan Burhanuddin Soebly pun mengalaminya? Itulah hiburan di hati IA di tengah kegalauannya.
Pada puisi “Aset” hlm 13, IA meraih kembali kesadaran dirinya. Ia kembali mengibarkan harga dirinya. Ia berkata, …/Lupakanlah derita lumpuh/ … /Jangan berikan rasa kasihanmu kepada penyair!/caci ia bila berhenti nulis puisi/ mustahil jadi arwah pada jantung berdenyut/ tolol terlanjur wafat dalam diri padahal nafas belum pergi// Hai, penyair lumpuh/ berteriaklah, berteriak!//.
Tidak sedikit orang yang berputus asa ketika menghadapi penyakit berat, merasa tidak mungkin sembuh lagi, menganggap diri sudah tak berarti seperti sudah mati. IA mengingatkan, Mustahil jadi arwah pada jantung berdenyut. Sakit tidak sama dengan mati. Orang yang berputus asa ketika sakit adalah orang yang bodoh. Tolol terlanjur wafat dalam diri padahal nafas belum pergi, demikian pesan IA. Ia juga tidak suka dikasihani. IA melarang keras mengasihani penyair yang sedang menderita lumpuh. Jangan berikan rasa kasihanmu kepada penyair!. Penyair yang seharusnya dikasihani adalah penyair yang berhenti menulis puisi karena penyair yang berhenti menulis puisi itulah sebenarnya penyair yang lumpuh. Maka kepada penyair yang dalam keadaan seperti itulah ia berkata, “Penyair lumpuh, berteriaklah!”.
Stroke memang pernah membuatnya lumpuh tapi tidak membuat perjalanan puisinya terhenti. Keadaannya tersebut malah membawanya pada perjalanan yang hakiki. Tengoklah kisah perjalanannya tersebut dalam puisi berikut:

Jalan Puisi

Puisi perjalanan mikraj;
jalan naik menuju Allah
meniti asma, sifat, af’alullah

Lama diri bersimbah
panas serta berbasah-basah
tunduk tengadah pulang ke diri
nyatanya tak siapa pemilik apa

Puisi perjalanan mikraj;
jalan pupus di dalam Allah
hilang panas hilang basah
punah diri dalam Allah
suara jiwa mengkalamullah

Puisiku perjalanan mikraj;
jalan pulang dari Allah dengan Allah
ulat kepompong berubah polah
sukma terbang selendang kiswah
Puisiku perjalanan mikraj;
trun di pintu-pintu rumah
sudah bersayap puisi amanah
kata-kata rahmat – petuah

Tamban, 3/11/2012

Setelah sekian lama ia bersusah payah, “berpanas dan berbasah”, terlepas dari ada tidaknya pengaruh ajaran tasawuf yang pernah ia tekuni (IA menyimak ajaran tasawuf 1983-1992(Amandit, 2013:164)), IA kini menemukan keindahannya. Ya, IA telah sampai pada perjalanan puisinya yang paling indah. …//Puisiku perjalanan mikraj;/jalan pulang dari Allah dengan Allah/ ulat kepompong berubah polah/ sukma terbang selendang kiswah/….
Ketika puisi-puisi sudah menjadi amanah, ketika puisi-puisi sudah memiliki sayap, ketika itulah ia telah menemukan tujuannya. “Jalan Puisi” menyampaikan isyarat bahwa ia tak lagi berjalan “di bumi”. Sayap-sayap itu sudah membawanya terbang “ke langit”. Jika ia konsisten dengan jalan ini, tentu tidak akan kita temui lagi puisi-puisi “bumi”-nya. Kemungkinan, hanya puisi-puisi “langit” yang akan dituliskannya dalam perjalanan puisinya ke depan. Yang jelas, ia masih akan menekuni jalan puisinya. Jalan cinta para penyair. Mari kita buktikan…[]
Catatan: esai ini pernah dimuat di harian Media Kalimantan, Minggu, …








Antara Bakat dan Sekolah

13.59 0 Comments


Antara Bakat dan Sekolah
(Catatan Nailiya Nikmah JKF)

Anak pertama kami, seorang anak perempuan yang suka membaca dan menulis. Di raportnya, mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang nilainya paling tinggi di antara mata pelajaran lainnya selain mata pelajaran Agama Islam. Ini sangat menyenangkanku. Yang lebih menyenangkan lagi, ia bilang, ia paling suka dua mata pelajaran tersebut. Aku pikir, kombinasi keduanya akan bermuara pada “muslimah yang berdakwah lewat tulisan.”
Awal semester, aku membaca sebuah buku tentang menjadikan anak gila membaca. Ini artinya levelnya sudah di atas suka membaca. Aku bertekad untuk menerapkannya pada anak-anakku terutama Nisrina, anak pertama kami. Yang paling tua biasanya akan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Ya…semacam pilot project lah.
Di luar perkiraanku, dalam sepekan, upayaku sudah mulai membuahkan hasil. Nisrina benar-benar sudah mulai gila membaca. Setiap waktu ia membaca. Ketika ada bazaar buku, ia selalu merengek minta dibelikan buku. Buku-buku yang disukainya adalah novel dan buku-buku psikologi.
Selain itu, ia juga kugiring pada kegiatan lain yang masih saudara dengan membaca, yaitu menulis. Kukatakan bahwa setelah membaca, pasti lebih menyenangkan lagi kalau menulis. Ia sempat rajin membuat ulasan singkat dari novel-novel yang sudah ia baca. Salah satu ulasannya kukirim ke media lokal dan dimuat. Ia juga suka menulis puisi, cerpen dan semi novel.
Suatu hari, ia bilang guru di sekolah menyuruhnya ikut lomba menulis dengan tema angka 17. Sebelumnya ia pernah mengikuti beberapa lomba tapi belum pernah menang. Aku sempat ragu ketika membaca selebarannya. Lomba menulis cerpen tapi pengirimannya melalui facebook (FB). Ketentuan lombanya, peserta harus berteman dengan grup panitia, lalu wajib men-share postingan lomba dan menge-tagnya pada akun sekian orang. Cerpen juga ditulis di Catatan FB dan diposting dengan menge-tag sekian orang (jumlah minimal ditentukan panitia). Untunglah banyaknya jumlah teman yang me-like postingan cerpen tidak dijadikan salah satu ketentuan lomba.
Yang merepotkan, Nisrina belum mempunyai akun FB. Aku memang belum mengizinkan anak-anakku untuk eksis di jejaring sosial. Aku tidak ingin ia meminjam akunku. Akhirnya, aku membuatkan satu akun untuknya dengan kata sandi yang kurahasiakan. Jadi, untuk sementara, ia hanya bisa membuka akunnya di bawah pengawasanku. Ia menulis draf cerpennya di buku tulis. Setiap pulang sekolah, meski sudah capek seharian belajar, ia menulis cerpen. Malam sebelum tidur juga menulis cerpen. Setelah drafnya selesai, aku pinjami laptop untuk mengetik. Setelah itu, hasil ketikannya kubaca. Beberapa kesalahan ejaan, diksi, kalimat kuberi tanda lalu kudiskusikan dengannya apakah ia mau memperbaikinya atau tidak (semua terserah padanya) kuberitahu alasan-alasannya. Ada hal yang mau ia terima, ada juga yang ia tolak. Dalam hati aku salut dengan kegigihannya. Oiya satu hal lagi, lomba ini terbuka untuk semua usia. Artinya, Nirina akan bersaing dengan para mahasiswa juga. Aku sempat melarangnya ikut. Aku takut ia kecewa tapi ia bersikeras untuk ikut.
Kurang lebih seminggu (atau dua minggu?) kemudian, aku membaca pengumuman pemenang lomba yang ditulis di status panitia. Kulihat namanya tertera sebagai juara tiga. Hadiahnya voucher pembelian buku. Nisrina sangat gembira. Yang paling membuat ia gembira ketika dari voucher itu ia bisa mendapatkan buku yang sudah lama ia idamkan. Sebuah novel tentang balerina cilik.
Setelah itu, ia bertekad ingin menulis banyak cerpen agar bisa dibukukan. Aku hanya tersenyum mendengar impiannya. Ia kembali asyik membaca. Kali ini tambah gila. Disuruh makan, ia membaca. Disuruh tidur, ia membaca. Disuruh mandi, ia membaca. Aku mulai kerepotan. Suamiku bilang, “Nah tuh programmu sudah berhasil. Selamat menikmati efeknya,”
Selain membaca, kini ia juga lagi kepengen-kepengennya sholat tahajud. Niat awalnya memang karena takut dimarahi guru di sekolah. Katanya, sekarang anak kelas 5 wajib sholat tahajud minimal sekali dalam sepekan (sebelumnya kegiatan tahajud sudah dikenalkan pada anak melalui agenda mabit tiap akhir semester di sekolah). Tiap malam ia minta dibangunkan di sepertiganya. Di hari pertama ia tahajud, setelah kami selesai sholat dan berdoa, aku menyodorkan buku “Akibat-akibat Fatal karena Meremehkan Sholat Tahajud”. Kubilang, “Sholatlah karena Allah, bukan karena gurumu”. Dalam buku itu terdapat beberapa keutamaan sholat tahajud, mengapa kita sholat tahajud, ayat-ayat atau dalilnya dan apa akibatnya jika melalaikan tahajud. Ia manggut-manggut membacanya.
Tiba pekan ujian tengah semester (UTS). Tiap malam kami belajar. Kata Nisrina, “Bahasa dan Agama gampil, Ma.” Maksudnya, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Agama ia sudah paham. Gampang saja. Ia sempat bilang, coba SD itu seperti kuliah, belajar yang disukai aja (:sudah penjurusan). Anehnya, meski suka menulis, Nisrina malah bercita-cita ingin jadi dokter. Kalau tidak, ingin jadi peracik obat.
Hanya saja, kali ini Nisrina mendapat ujian. Ia mendapat nilai rendah pada dua mata pelajaran yang ia bilang gampil. Sore itu ia menanyaiku dengan sedih, “Mama percaya tidak, Nisrina harus remidi ulangan Bahasa Indonesia,”. Aku tak dapat menyembunyikan kekagetanku. Sayangnya hasil ulangan tidak dibagi, aku tidak tahu apa kesalahannya. “Untunglah tidak dibagi. Nisrina malu sekali. Saat guru mengumumkan nama-nama yang remidi, saat nama Nisrina disebut, teman-teman riuh karena tidak percaya. Tidak ada yang percaya bahwa Nisrina harus remidi bahasa Indonesia.” Ia terlihat sangat terpukul. “Agama juga…” gumamnya.
Aku jadi gundah. Saat Nisrina sedang giat-giatnya membaca dan menulis, nilai Ulangan Bahasa Indonesianya malah jatuh. Saat Nisrina sedang getol-getolnya tahajud, nilai Ulangan Agamanya malah jatuh juga. Antara praktik dengan teori seperti tidak terhubung baginya.
Aku teringat buku Home Schooling-nya Kak Seto. Di situ ada cerita tentang anak Kak Seto yang bernama Minuk. Pada saat itu, anak pertama saya, Minuk, berusia lima belas tahun. Minuk duduk di kelas 3 SMP, di sebuah sekolah favorit dan berstatus “nasional plus”. Namun rupanya, tidak semua sekolah favorit membuat anak senang belajar. Minuk sangat frustasi karena dia merasa memiliki potensi unggul di bidang kesenian, namun nilai kesenian yang diperolehnya di sekolah hanya 4 (2007:116). Ceritanya panjang sampai akhirnya Minuk memilih untuk homeshooling.
Sebenarnya ide homeschooling ini sudah ada di benakku ketika aku S2 (saat itu anak-anakku masih sangat kecil dan baru dua orang). Ketika itu, aku mendapat tugas mereview sebuah buku karangan Ivan Illich, tentang kemungkinan pendidikan di luar sekolah. Aku mencari beberapa referensi untuk menunjang presentasiku. Salah satunya majalah Ummi Edisi Spesial. Sepertinya konsep homeschooling menarik karena saat itu aku belum menemukan sekolah yang (kuanggap) aman untuk anak-anakku di kota kami. Aku menghela nafas panjang. Mungkin aku harus meperbaiki dan mencoba beberapa hal dulu sebelum aku memberi kesempatan Nisrina untuk memilih, tetap hidup di sekolah atau memilih homeshooling. Bagaimanapun ini adalah keputusan besar. Keputusan yang akan sangat berpengaruh dalam rutinitas keseharian kami. Sebab bisa jadi, ketika Nisrina menganggap di rumah lebih nyaman baginya, maka akupun harus keluar dari kantor. Menurutku, untuk anak bisa sukses homeshooling, ibu harus stand by di rumah.
***
“Ma, amputasi itu artinya dipotong ya?” tanya Nisrina beberapa hari kemudian.
“Iya, kenapa?”
“Aku baru tahu. Pantas saja aku salah waktu ulangan bahasa kemarin”
Aku tertegun. Selama ini memang satu kata itu hampir tak pernah terdengar di rumah kami. Kata itu terlalu mengerikan bagiku dan keluarga. Terlebih setelah salah satu anak kembarku punya masalah pada salah satu kakinya di bagian paha (saat ini aku sedang melakukan terapi herbal padanya). Kami seakan menganggap kata itu tidak ada di kamus manapun di dunia ini. Kata itu seperti hantu bagiku.
Siangnya, di salah satu stasiun TV diputar Film Heart yang dibintangi Acha Septriasa, Irwansyah dan Nirina Zubir. Sebenarnya dulu Nisrina sudah pernah menontonnya tapi mungkin waktu itu ia belum terlalu menghayati. Di film itulah ia menemukan diksi “amputasi” lengkap dengan contohnya. Sebuah kebetulan yang sangat betul meski aku yakin, tidak ada yang kebetulan.
“Film yang sangat mengharukan. Film yang adil” komentarnya.
“Maksudmu?”
“Syukurlah Rahel mati. Kalau ia hidup, kasihan dia. Lagipula, hatinya kan sudah disumbangkan.”
Ah, Nisrina… ternyata melalui film ia menemukan satu kata dan maknanya secara utuh. Satu kata yang menjadi salah satu penyebab nilai bahasa Indonesianya jatuh. Mungkin masih banyak kata lain yang selama ini aku tutupi darinya. Sepertinya banyak PR untukku tentangmu, Nak…


Kisah Topi di Hari Senin

13.53 0 Comments


Kisah Topi di Hari Senin
(Catatan Nailiya Nikmah JKF)

Senin itu giliranku mengantar anak-anak ke sekolah sebelum menuju tempat kerja. Karena awal bulan, tugas mengantar hari itu ditambah dengan tugas membayar SPP anak-anak di loket pembayaran SPP sekolah yang merangkap dengan koperasi sekolah. Sebelum giliranku, ada dua Bapak yang sedang melakukan pembayaran di loket. Pas tiba giliranku, tiba-tiba ada anak laki-laki menyela transaksi kami. Aku mengenalinya sebagai teman sekelas anak keduaku. Rupanya dia ingin membeli topi.
Aku teringat anak keduaku, aku cemas dan bertanya-tanya dalam hati, apakah tadi dia sudah membawa topinya. Di rumah ada tiga topi seragam sekolah (belum termasuk yang hilang). Tentu saja kami tidak membelinya tiga sekaligus. Topi seragam tersebut menjadi tiga gara-gara topi tidak ditemukan di saat diperlukan. Macam-macam penyebabnya, bisa karena lupa di mana meletakkan, terselip dalam lipatan baju yang tidak karuan lagi bentuknya, dan kadang ketinggalan di sekolah.
 Hari Senin adalah hari pencarian topi karena pada hari Seninlah topi wajib dipakai. Anakku termasuk yang tidak terlalu suka pakai topi. Di sekolah mereka, murid laki-laki wajib memakai topi saat upacara bendera tapi tidak bagi murid perempuan karena  mereka berkerudung. Kadang benda yang satu itulah sumber kehebohan di rumah kami. Apalagi kalau bukan pencarian topi yang hilang di saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Aku masih di loket pembayaran ketika para murid sudah dipanggil untuk segera berbaris dalam rangka persiapan upacara bendera. Dari jauh kulihat anak laki-lakiku sedang berbaris bersama teman sekelasnya. Kulihat tidak ada topi di kepalanya. Aku pun jadi cemas. Tidak lama mataku melihat tangannya sedang memain-mainkan topinya. Aku lega meski sedikit heran kenapa dia tidak segera memasang topinya dengan baik. Ia malah memasukkan topinya ke dada, ke dalam kemeja putihnya. Aku jadi risau karena teringat sesuatu.
Beberapa pekan sebelumnya, anakku bercerita, ia tidak memakai topi sewaktu upacara padahal ia membawa topi. Waktu kutanya apa sebabnya, dia hanya menjawab bahwa topinya dipakai teman selama upacara. Aku kaget. Dari jawaban-jawaban yang ia berikan selama interogasi terselubungku, aku simpulkan dia melakukan itu karena kasihan dengan temannya yang kepanasan sewaktu upacara bendera. Aku puji dia karena baik hati tapi aku tanya lagi, bagaimana pas razia kelengkapan setelah upacara. Dia jawab, topinya sudah dikembalikan oleh temannya kepada anakku sehingga dia tidak dihukum.
Aku tidak bisa membiarkan hal sepele ini terjadi pada anakku karena aku pernah memiliki kisah yang cukup menyebalkan tentang selembar topi di hari Senin. Aku masih ingat, Senin itu masih pekan-pekan pertamaku di sebuah sekolah dasar negeri biasa. Sejak kelas satu SD, aku sudah tidak diantar jemput apalagi ditunggui (karena jaraknya cukup dekat dari rumah Nenek, saat itu kami masih tinggal di rumah Nenek). Ayahku pegawai kantoran yang disiplin, ibuku guru di sebuah SD inti yang berdedikasi tinggi terhadap tugasnya. Tidak ada waktu untuk aku merengek-rengek di pagi hari sekalipun itu pagi Senin. Setelah mendapat uang saku secukupnya, aku berangkat sekolah bersama seorang anak tetanggaku yang sekelas denganku. Entah bagaimana ceritanya (aku lupa), setelah waktu istirahat, aku terlibat perseteruan dengan seorang anak laki-laki. Dia bersikeras bahwa topi kami tertukar dan topi yang ada di tanganku adalah topinya. Sementara dia tidak memegang topi satupun. Artinya, dia ingin mengatakan bahwa topiku hilang. Tentu saja aku tidak mau menyerahkan topi yang ada di tanganku. Bagiku lebih baik aku berseteru dengannya daripada aku harus kehilangan topiku. Aku tidak tahu apa sebabnya sampai ia menganggap topi yang ada di tanganku adalah topinya. Saat itu tak terpikir sedikitpun olehku untuk mengalah dan membiarkan topi itu diambilnya lalu pulang ke rumah sambil merengek minta topi baru pada orang tuaku. Tidak, aku tidak akan melibatkan orang tuaku dalam perkara topi. Aku berangkat memakai topi, pulangpun harus memakai topi.
Aku baru saja berganti pakaian ketika nenekku bilang ada teman yang mencariku di luar. Aku heran. Rasanya aku belum memiliki teman dekat apalagi yang mau main ke rumahku secepat ini. Aku bergegas ke luar. Di pintu depan yang terbuka lebar, kulihat sosok seorang anak laki-laki seusiaku bersama dua anak perempuan yang badannya lebih tinggi daripada kami. Astaga! Aku memekik. Dia anak laki-laki itu. Anak laki-laki yang tadi berebut topi denganku di kelas. Ternyata dua anak perempuan yang berbadan lebih besar itu kakak-kakaknya, yang satu kelas 5, satunya lagi kelas 6. Akupun memutar ke dalam kamar, tidak jadi menemui mereka tapi tentu saja mereka sudah melihatku. Aku memegangi topiku seperti layaknya melindungi benda mahal yang tiada tara nilainya. Tidak terpikir sedikitpun untuk minta bantuan pada nenek, atau pada anggota rumah lainnya.
Tidak lama berselang, nenekku masuk ke kamar sambil berkata, “Dia anak orang kaya di kampung ini. Oiya, kata kakak-kakaknya, kamu membawa topinya. Benar begitu?”
Dengarlah, nenekku pun seperti tidak mungkin akan menolongku. Apakah aku harus menunggu kedatangan orang tuaku agar bisa membelaku? Bagaimana kalau merekapun bersikap seperti nenek? Ini tidak boleh dibiarkan. Topi ini milikku, aku akan mempertahankannya sampai kapanpun (lebay juga aku waktu itu yaaJ). Oh, iya tadi nenek bilang dia anak orang kaya? Bukankah itu artinya dia bisa membeli topi baru dengan mudah? Aku menegakkan kepala lalu berkata, “Tidak Nek. Ini topiku.”
“Lalu, mana topi anak itu?” tanya nenek.
“Aku tidak tahu.” Hanya itu jawabanku.
“Kalau begitu, kaukatakan sendiri pada mereka” kata nenek mantap.
Mendengar nada suara nenek yang mantap, akupun keluar menemui mereka. Mereka akhirnya pulang tanpa membawa topiku.
Lamunanku buyar oleh kedatangan seorang anak laki-laki bersama ibunya. Kulihat ia memakai topi tapi mengapa wajahnya seperti menyimpan persoalan? Tentu persoalannya lebih dari sekadar topi. “Kami kehilangan rompi,” Kata sang Ibu kepada penjaga koperasi. Ah, rompi. Anak-anakku masing-masing punya dua rompi seragam. Sejarahnya tak jauh beda dengan topi.
“Maaf, Bu tapi kita sedang kehabisan stok rompi ukuran L.” Jawab penjaga koperasi yang disambut wajah mendung sang anak. Inilah beberapa persoalan di pagi hari yang kadang membuat orang tua (terutama ibu yang pekerja) sedikit kalang kabut.
Persoalan tersebut muncul karena anak-anak pada umumnya (terutama anak laki-laki) masih sulit memanajemen dirinya dalam hal penyimpanan barang-barang pribadi. Sepulang sekolah, mereka ingin memuaskan hati bermain saja. Ah, benar. Selain itu masih banyak persoalan lain yang membuat heboh pagi hari. Ikat pinggang, kaos kaki, kaos dalam, pensil, penggaris, buku paket, krayon, bahkan si kecil karet penghapus!  Tentu saja untuk hari Senin, topi yang paling populer.
Aku tersenyum mengingat kisah topiku. Setelah transaksi selesai, aku menuju tempat parkir. Sebelumnya aku lihat anakku berbaris rapi mengikuti upacara bendera dengan topi seragam bertengger di kepalanya. Selamat mengikuti upacara bendera, Nak. Kenang-kenanglah jasa para pahlawan yang membuatmu bisa menikmati kibaran merah putih di halaman sekolah. Bersama topi seragam tentunya.
Di tengah perjalanan dari sekolah menuju tempat kerja, aku melihat selembar topi seragam sekolah yang masih terlihat baru, tergeletak di tengah jalan raya dilindas roda-roda kendaraan. Aku jadi sedih membayangkan ada satu anak hari itu sedang gundah hatinya karena telah kehilangan topi di pagi Senin….
***
Dua hari kemudian, aku baru menyadari di tali jemuran tergantung dua buah celana olah raga. Artinya, anak laki-lakiku pada hari olah raga membawa pulang dua celana (salah satu pasti punya temannya) tanpa bajunya. Ini berarti pula, ada anak lain yang membawa pulang dua baju olah raga (salah satunya pasti punya anakku) tanpa celana. Aku teringat ibu dan anak yang mencari rompi baru di koperasi sekolah tapi bayangan itu segera kutepis. Tidak mungkin aku membeli baju olah raga yang baru. Anakku harus mengembalikan celana yang bukan miliknya dan ia pun harus mendapatkan kembali baju olah raganya. Aku segera menghubungi gurunya untuk meminta bantuan agar tidak terjadi salah paham antara anakku dengan temannya. Celana yang bukan punya anakku diserahkannya pada gurunya. Kata anakku, sang guru sudah mengumumkannya di kelas. (Sekadar informasi, karena menerapkan pemisahan murid berdasar jenis kelamin, kelas anak laki-lakiku tentu saja berisi murid laki-laki semua). Anehnya, sampai satu pekan tidak ada anak yang menyadari bahwa ia kehiangan celana olah raga. Sampai tiba hari olah raga kembali, anakku berangkat sekolah tanpa baju olah raga. Hanya saja, hari itu aku tidak cemas. Aku percaya guru anakku pasti bisa menyelesaikan masalah ini.
Sorenya, ketika pulang sekolah, anakku menyerahkan selembar baju olah raga yang wanginya asing di penciuman kamiJ

Jumat, 03 Januari 2014

Misteri dalam Buku The Jacatra Secret

12.29 0 Comments
Mengikat ingatan tentang buku The Jacatra Secret
Oleh Nailiya Nikmah

Judul Buku : The Jacatra Secret
Pengarang: Rizki Ridyasmara
Jenis Buku: Fiksi/ Novel
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit:Juli 2013 (cetakan pertama), September 2013 (cetakan kedua)
Jumlah Halaman: 438 hlm


Yang pernah baca buku-bukunya Dan Brown pasti setuju kalau buku The Jacatra Secret (TJS) mirip banget dengan buku tersebut. Aku bahkan membayangkan tokoh yang ada di novel ini sama dengan tokoh yang ada dalam bukunya Dan Brown. Sepertinya pengarangnya pembaca buku Dan Brown juga.
Dalam buku ini kita menemukan banyak rahasia yang menghubungkan Jakarta dengan misteri Freemason. Ksatria Templar, misteri simbol-simbol, paganisme, semua mirip dengan yang ada di Dan Brown.
Yang istimewa, terutama bagi pembaca WNI, setting TJS asli Indonesia, tepatnya di Jakarta. Kita akan mengenali sisi lain dari sejarah Jakarta, sejarah bangsa kita, Indonesia.
Sebelum membaca TJS, aku sudah membaca beberapa buku non fiksi pengarangnya. Ya, Rizki Ridyasmara adalah nama yang tidak asing lagi bagiku. Ia pernah menulis buku tentang zionis. Aku suka buku-buku tersebut. Aku lupa judul-judul yang pernah kubaca dan kubeli, lagi malas mengubek-ubek perpus pribadi...
Menurutku, Rizki bagus sekali menulis non fiksi tapi untuk fiksi, aku agak kurang sreg. Entahlah, ungkin karena aku lebih dulu membaca buku non fiksinya.
Cerita yang dibangun, para tokoh, seperti tidak hidup. Mereka, para tokoh ini seperti hanya orang-orang yang diminta membawa pemikiran/wawasan pengarang dalam bentuk fiksi. Sepertinya memang itulah tujuan pengarangnya. Well, its not bad.
Akan tetapi aku juga curiga, jangan-jangan penilaianku ini sudah tidak murni lagi karena aku terlalu banyak membaca Dan Brown, hehe.
So far, bagi pembaca yang anti baca buku non fiksi apalagi sejarah, membaca novel TJS adalah pilihan terbaik. Banyak sekali info penting yang tidak bakalan kita dapat di bangku sekolah formal. Lumayan buat membuka wawasan. Mungkin suatu hari novel ini bisa difilmkan. Ya...itu kalau Indonesia berani menguak sejarahnya!

Sabtu, 28 Desember 2013

Paragraf

05.50 0 Comments


1.      Pembagian Paragraf Menurut Teknik Pemaparannya
Oleh Nailiya Nikmah, S.Pd., M.Pd.

                   Paragraf menurut teknik pemaparannya dapat dibagi dalam empat macam, yaitu:
a.  Deskriptif
Paragraf deskriptif disebut juga paragraf yang melukiskan (lukisan). Paragraf ini melukiskan apa yang terlihat di depan mata. Jadi, paragraf ini bersifat tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dapat berurutan dari atas ke bawah atau dari kanan ke kiri. Dengan kata lain, deskriptif berurusan dengan hal-hal yang kecil yang tertangkap oleh pancaindera.
Contoh paragraf deskriptif:


Menikmati senja di pantai Batakan adalah aktivitas yang dapat menenangkan pikiran dan mendekatkan diri pada sang pencipta. Matahari yang sebentar lagi akan pulang ke peraduannya bergerak indah dengan warnamerah jingga di ufuk barat. Burung-burung terbang bergegas ingin kembali ke sarangnya, melayang di atas debur ombak yang menjilati pasir Batakan. ….


       
b.    Ekspositoris
               Paragraf ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf ini menampilkan suatu objek. Peninjauannya tertuju pada satu objek saja.

Penyampaiannya dapat menggunakan perkembangan analisis kronologis atau keruangan. Contoh paragraf ini ada pada cara membuat sesuatu, cara mengoperasikan sesuatu, atau kejadian/peristiwa.
 Contoh:
Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit demam berdarah adalah menguras bak mandi dan tempat penampungan air lainnya paling sedikit satu minggu sekali. Langkah kedua adalah menutup tempat-tempat penampungan air dengan rapat. Langkah ketiga adalah menimbun atau mengubur benda-benda bekas yang dapat menampung air. Langkah lain adalah penyemprotan. ….



c.    Argumentasi
               Paragraf argumentatif sebenarnya dapat dimasukkan kedalam ekspositoris. Paragraf argumentatif disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.
Contoh paragraf argumentasi:


Selain menunaikan perintah Allah, membayar zakat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Dengan memberikan zakat pada orang yang berhak, zakat dapat mengatasi masalah kemiskinan. Zakat juga dapat mengurangi kesenjangan ekonomi antara si miskin dan si kaya. Zakat dapat mempererat ikatan persaudaraan sesama muslim. Marilah kita tanamkan kesadaran membayar zakat mulai dari lingkungan terdekat kita. Mulailah dari diri sendiri.


           
d.   Naratif
               Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi dapat kita temukan pada cerpen, novel, cerita-cerita lainnya.
Contoh: 


     Sisti mengangguk. Kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku teringat beberapa pekan sebelumnya Sisti menangis sepulang dari sekolahnya. Waktu itu ia baru saja bersitegang dengan rekan kerja dan kepala sekolahnya. Semua sepakat menempel kunci jawaban di tiap meja, ditutupi kartu peserta ujian. Hanya Sisti yang menolak ide tersebut. Hasilnya, tentu saja Sisti kalah. Setelah curhat, Sisti berlari ke kamar mandi, ia muntah-muntah. Itulah momen muntah Sisti yang cuma sekali selama kehamilannya. Sisti bahkan sempat ingin berhenti saja mengajar. Ia putus asa melihat kecurangan yang dilakukan teman-temannya. (cerpen "Segelas Teh untuk Anakku" karya Nailiya Nikmah dalam buku kumpulan cerpen HSU "Ketika Api Bicara")