Rabu, 01 Mei 2019

# esai # Parenting

Pasca Operasi Pemasangan Grommet pada Telinga Anakku


Blog ini kubangun dengan visi merawat kenangan. Aku menjadikan Tatirah sebagai tempat memajang prasasti hati, kemudian menjadikannya pelajaran berharga untuk diri sendiri yang masih suka alfa dan khilaf. Aku pun berharap, Tatirah berguna buat orang lain, meski hanya seujung kuku.
Suatu hari, aku mengalami problem kesehatan pada salah satu anakku. Hal-hal yang masih benar-benar asing bagi orang awam sepertiku mendadak harus aku pelajari. Sebagaimana masyarakat lain yang hidup di zaman millenial, aku langsung googling mencari informasi. Ternyata tidak banyak artikel yang memuat persoalan seperti kami alami. Sejak itu aku bertekad menuliskannya. Aku yakin, di luar sana akan ada orang lain, para ibu yang bernasib sama dan barangkali memerlukan informasi seperti yang terjadi padaku ketika itu.

Alasan itulah yang membuat artikel yang berjudul Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku kutulis. Dugaanku benar. Banyak orang lain yang mencari informasi sama dengan yang aku tulis. Mereka mampir di Tatirah. Beberapa di antara mereka malah menghubungi aku melalui akun media sosialku karena ada hal lain yang ingin ditanyakan. Bagiku, hal yang mungkin receh bagi orang lain  itu, umpama intan mungil yang kutemukan di area pertambangan.
Sebagian besar yang ditanyakan adalah bagaimana keadaan anakku pasca operasi pemasangan grommet di telinganya; berapa lama benda itu bercokol mendekam mesra di telinga; bagaimana prosedur pelepasannya serta berapa peluang keberhasilan operasi untuk kesembuhan anakku. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena baru saja bisa menuliskannya. 

Aku merekam dengan cara mencatat semua kejadian di buku diary-ku. Kapan waktu/tanggal-tanggal kejadian, apa yang terjadi, apa yang dimakan anakku, apa obat yang diresepkan, apa yang dikeluhkan dia, semua kucatat. Kuharap kalian sudah membaca link sebelumnya ya, tentang riwayat awal anakku harus menjalani operasi. Agar tidak ada informasi yang hilang atau tidak nyambung.



Keluar dari Ruang Operasi
Anakku dioperasi Kamis, 16 November 2017.
Cukup lama kami menunggu anakku bisa keluar dari ruang operasi karena menunggu dia siuman. Reaksi obat bius sepertinya cukup lama bekerja. Ketika keluar dari ruang operasi, keadaan dan kondisinya terlihat sangat lemah. Badannya yang kurus membuat dia terlihat sangat memprihatinkan. Sungguh aku tidak tega melihatnya.
Ingin menangis rasanya tapi sini kuberitahu satu hal, saat-saat seperti itu, sejak serangkaian pengobatan ini kita pilih, jangan pernah memperlihatkan isi hati kita sesungguhnya kepada anak. Sebagaimana bahagia, sedih dan cemas menular. Jangan menularkan kecemasan kita yang tidak beralasan kepada anak. Jangan membebani anak karena sesungguhnya dalam hati dan otaknya sendiri dia sudah sangat cemas. Selain mencemaskan dirinya sendiri; anak juga mencemaskan ibunya. Ia cemas keadaannya akan membuat ibunya bersedih.
Hal pertama yang diinginkan oleh anakku adalah minum dan makan. Sebagaimana prosedur operasi umumnya, dia harus buang angin dulu baru boleh makan dan minum. Akan tetapi seingatku saat itu terjadi sedikit perbedaan pendapat antar tenaga medis. Ada yang menyebut istilah bising usus dulu baru anakku boleh minum dan makan. Ada yang membolehkan minum, ada yang keras melarangnya. Kami memilih untuk menahan dulu, meski anakku merengek-rengek kehausan.
Yang membuat keadaan hatiku lebih berat adalah kembarannya yang bersikeras juga untuk tidak makan.
Tidak lama kemudian anakku muntah. Sepertinya ini bagian dari efek pembiusan atau mungkin efek proses operasi. Untuk itu dia diresepkan obat penahan muntah. Setelah muntah itu, kondisi anakku semakin terlihat lemah. Kalau saja aku tidak menahan diri, aku sudah panik saat itu. Aku bahkan menumpahkan sebotol obat syirup karena kegugupanku melihat kondisi anakku.
Setelah boleh makan, anakku justru kehilangan selera makannya. Dia hanya mau disuapi biskuit yang dicelup di air hangat. Dokter juga menyarankan agar anakku makan yang lembut dan lunak saja dulu. Malamnya, dia mulai makan bubur nasi.
Dokter jaga yang pada umumnya para dokter muda alias dokter coas bergantian mengunjungi dan memeriksa. Anak-anakku sangat sosial. Mereka cepat akrab dengan para tenaga medis yang mendatangi kamar anakku. Beberapa sempat mencandai tentang siapa yang sakit, siapa yang akan diperiksa karena kekembaran anakku.
Oiya saat itu, selain bermasalah pada telinga, anakku juga ada sedikit masalah pada hidung. Untuk itu, dia diresepkan obat tetes hidung. Hari kedua, anakku minum obat batuk karena dia masih batuk pilek. Hari itu suhu badannya tinggi sehingga belum  boleh pulang. Beberapa nama obat yang diresepkan untuk anakku, yaitu Vometa, Iliadin Oxymetazoline, Ambroxol, Kamolas,  dan Cetrizones.
Selain soal makan, aku juga mengamati timing anakku buang air kecil dan buang air besar. Bagaimanapun, proses operasi akan mempengaruhi sistem yang bekerja pada tubuh anakku, seperti sistem kerja lambung, pencernaan, pengeluaran.
Hari ketiga, ada darah keluar dari telinga kiri anakku. Untungnya telinga kanan tidak. Akan tetapi menurut dokter, hal tersebut bisa ditangani dengan rawat jalan. Satu hal yang harus kami ingat juga, penyebab atau rujukan anakku dalam surat asuransi adalah tindakan operasi-nya bukan hal lain.
Satu pekan berikutnya, 23 November 2017
kami membawa anakku kontrol ke rumah sakit lain, tempat dokter yang memimpin operasi anakku bertugas di malam hari. Di tempat praktiknya terdapat sarana atau alat yang memungkinkan kita bisa melihat apa yang terjadi pada bagian dalam telinga kita melalui tampilan di layar monitor. Hasil pemeriksaan malam itu bagus. Luka operasi sudah menegring. Hanya, masih ada pilek dan amandel pada anakku yang harus ditangani.

Cara Kerja Grommet
Grommet itu bukan obat. Grommet bukan penyembuh dalam arti simpel seperti kita demam lalu minum obat penurun panas, lalu sembuh. Tidak seperti itu. Jadi, grommet itu adalah alat yang akan membantu proses penyaluran,  pengeluaran atau pembuangan cairan yang menumpuk di dalam telinga. Ketika cairan yang memenuhi telinga sudah keluar semua, itulah fase sembuhnya.

Inilah yang harus kami lakukan pasca operasi
Ada beberapa hal yang harus kami perjuangkan. Kami harus menyembuhkan pilek, batuk dan amandelnya dengan segera lalu mempertahankan kondisi positif tersebut pada anakku. Jika tidak, grommet pada anakku tidak bisa dilepas karena artinya proses pengeluaran cairan masih diperlukan. Sementara itu, grommet itu sendiri ada masa kadaluarsanya untuk bisa bertahan di dlam telinga. Sebuah dilema  bukan? Melepas grommet sebelum anakku sembuh berarti kegagalan.
Kata dokter, jika anakku segera sembuh, sebenarnya kadang grommet yang sangat kecil itu bahkan bisa lepas sendiri tanpa perlu dilepas oleh dokter. Akan tetapi peluang dia terlepas sendiri pada saat anakku belum sembuh juga ada.
Anakku harus benar-benar dijaga keadaan telinganya untuk tetap kering. Tidak boleh kemasukan air. Ini tantangan terberat juga bagi kami karena anakku hobi main air. Aku membelikan dia penutup kepala dari plastik yang biasa dipakai untuk mandi agar rambut tidak basah tetapi aku memasangkannya sampai ke telinga. Di tahap awal aku malah memasangkan bulatan kapas di telinganya sebelum dia mandi untuk lebih berhati-hati. Tiap bangun tidur, kami memeriksa sprei apakah grommet terlepas. Ini lucu sekaligus mencemaskan.
Satu pekan berikutnya, Jumat 1 Desember 2019, anakku pusing hebat seharian dan muntah-muntah. Aku mencari informasi di internet, kudapatkan hasil bahwa kemungkinan ada yang tidak beres dengan telinga anakku.
Besoknya, kami membawanya ke tempat praktik dokter. Menurut dokter, anak kami kena radang/infeksi pada telinga kanannya, ada nanah. Inilah yang menyebabkan dia pusing sedemikian hebat. Telinga kiri sudah membaik. Malam itu telinga anakku dibersihkan. Kami menebus resep obat dari dokter.
Problem utama anakku adalah alergi yang menyebabkan batuk pileknya lambat sembuh. Beberapa pantangan diberitahu oleh dokter. Tidak hanya makanan dan minuman, udara, benda dan hewan di sekitar, bahkan debu bisa menjadi pemicu alerginya.  Alergi itu yang menyebabkan dia lambat sembuh. Aku menjadi ibu phobia debu.
8 Desember 2017, sehari sebelum hari ulang tahunku kami kontrol lagi ke dokter. Grommet-nya aman masih terpasang  manis keduanya di telinga, amandelnya tidak radang lagi tetapi pilek masih ada sedikit. Anakku harus menjaga pola makan dan dianjurkan olahraga sendiri seperti melompat-lompat setiap pagi sebelum mandi sebanyak 50 kali. Kebersihan rumah harus benar-benatr dijaga dari debu. Aku menggulung semua karpet berbulu, menyingkirkan bantal, guling, boneka dan benda-benda berbulu lainnya yang berpeluang menyimpan debu.
27 Desember 2017 anakku pusing lagi sampai muntah-muntah. Saat itu dokter langganan kami sedang tidak ada. Penggantinya ternyata sama kerennya dalam komunikasi dan pelayanan. Malam itu, anakku muntah dua kali sesampai d rumah. Anakku diresepkan obat.

Proses Melepas Grommet
10 Januari 2018 anakku kontrol lagi dan keadaannya mulai membaik sehingga 15 Februari 2018, grommet pada anakku siap dilepas. Kami mengantri di tempat praktik dokter dengan nomor antrian 7. Janagn tanya bagaimana kecemasan dan kepanikan kami. Bahkan asisten dokter yang ramah itu bisa kulihat kecemasannya juga. Anakku dioles salep yang bekerja sebagai penahan nyeri. Semacam bius lokal. Salep itu dioles 20 menit sebelum grommet dilepas.
Jadi, untuk melepas  grommet tidak diperlukan prosedur operasi yang seperti operasi sebelumnya. Tidak perlu bius total.  Anak tidak perlu dibuat tidur atau hilang kesadaran. Dokter melepasnya dengan menggunakan peralatan dia di ruang praktiknya dan kami bisa melihat prosesnya. Grommetnya diperlihatkan dan disimpan oleh dokter. Aku tidak tertarik menyimpannya. Itu seperti mimpi buruk bagi kami. Benda itu akan membuat kami mengenang hal tidak baik.
Seluruh rangkaian tersebut dijalani anakku dengan sangat manis. Dia tidak menangis sama sekali. Asisten dan sang dokter berkali-kali mengacungi jempol sambil memperlihatkan ekspresi kagum. Asisten dokter membisikiku, “Anak ibu hebat, luar biasa. Anak lain sering kali menangis dan mengamuk menjalani proses ini.”
Masih Harus Berjuang
13 Februari 2018 dan 22 Februari 2018 anakku kembali mengeluh pusing.
Pada kedua tanggal itu, aku melarikan anakku ke praktik dokter THT. Aku lagi-lagi berfirasat ini ada hubungannya dengan telinganya. Dokter yang baik itu begitu telaten mengobati anakku.
Hingga ketika 1 April 2019 anakku mengeluh pusing lagi, sesuai saran dokterku sebelumnya, kami kali ini ke dokter spesialis anak. Kami menceritakan semua kronologinya. Dokter membuat rujukan ke lab untuk cek darah. Alhamdulillah setelah itu anakku sembuh.

Catatan penting
Ketika anak sakit, pada anak usia sekolah, maka dia akan ketinggalan pelajaran. Dalam hal ini, aku tidak pernah memaksa anakku untuk mengejar ketinggalannya. Aku membiarkan semua apa adanya sebatas kemampuan anakku. Aku hanya ingin anakku sembuh, sehat dan selalu bahagia.
Ketika ini terjadi pada anak kembar, maka yang ditangani oleh orang tua bukan hanay satu anak melainkan keduanya. Terutama pada anak kembar identik. Aku selalu berusaha memperhatikan kondisi psikologis keduanya.
Ketika anak sakit dan kita harus menjalani semua prosedur medis yang kadang menguras seluruh energi, kita harus selalu menekan emosi, menguatkan kesabaran, dan jangan mengeluh di hadapan anak. Perbanyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ketika para tamu dewasa datang menengok, pastikan kita tidak membicarakan penyakit anak di depan anak. Bisa saja dia mendengarkan dan menyimpulkan hal-hal menurut persepsi dia sendiri yang berakibat buruk di kemudian hari.
Berusahalah menjalin komunikasi dengan petugas medis dan jadilah orang tua pasien yang cerdas, tanggap terhadap semua situasi. Bertanyalah pada orang yang tepat jika kita mengalami kebingungan. Jangan lupa menjaga kesehatan diri agar kita tetap fit karena kita diperlukan oleh anak kita.
Terima kasih sudah mampir di Tatirah. Aku mencintai kalian. Semoga kita tetap sabar dan survive apapun yang terjadi. [] Nai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar