Sabtu, 20 Juni 2020

Miniso PINK Melbourne Pink Lake Perfume

12.55 0 Comments
Sudah lama aku tidak memposting review produk. Kali ini aku me-review parfum yang kubeli beberapa waktu lalu.

Ceritanya, aku lagi pengen mengubah suasana hati biar lebih semangat dan fresh. Nah, kalau aku, salah satu caranya adalah dengan aroma terapi alias bau-bauan. Cara paling simpel ya melalui parfum atau wewangian yang aku pakai.

Singkat cerita aku beli parfum ini nih.

Namanya PINK, MELBOURNE PINK LAKE PERFUME, isi 50ml.


Asyiknya:

Packaging alias kemasannya lucu banget. Sweet banget di mataku.

Parfum ini pakai kotak karton berwarna pink ke arah peach dengan sedikit list putih di bagian depan. Sisi depan sangat simpel. Ada tulisan merk parfumnya beserta keterangan jumlah isi. Di sisi kiri kanan ada keterangan product name, product featured, ingredients, expiration date, batch number, how to use, storage and caution. Ada barcode dan logo-logo terkait peduli lingkungan.

Setelah dibuka, bagian dalam masih ada karton pelindungnya. So, parfum aman terlindungi.




Botol parfum sangat cantik berbentuk persegi empat alias balok terbuat dari kaca berwarna pink bening polos, di bagian belakang ada motif polkadot alias bulatan-bulatan warna pink. Penutupnya kaca mika bening yang cukup tebal. Tampilan yang sangat kece memberi kesan elegan tapi simpel.  Cocok buat menghiasi meja rias kamu. Untuk dibawa-bawa juga keren.




Aroma
Aromanya manis tapi lembut, memberikan kesan feminim tapi kuat bersemangat. Sangat cocok dipakai di pagi hari setelah mandi pagi sebelum beraktivitas atau ketika bersantai di sore hari saat kita memerlukan aroma yang menenangkan.

Aku suka parfum ini. Kalau kamu?



Jumat, 19 Juni 2020

Dalgona Rumahan Simpel Pakai Mixer

10.39 0 Comments
Waktu pertama kali minuman varian kopi bernama Dalgona ini muncul dan viral, aku sudah mencoba bikin dan memposting di status FB. Saat itu, aku membuat menggunakan pengaduk atau pengocok manual. Lumayan lelah hayati, hehe. Lelahnya langsung terbayar setelah bisa dapat satu konten foto yang keren.

Nah, beberapa hari kemarin, paksu pulang bawa Mixer listrik. Anak-anak heboh langsung minta buatkan dalgona yang pakai Mixer. Karena kesibukan aku, hari ini baru bisa mengabulkan permintaan mereka.



Namanya juga dalgona rumahan, jangan bayangkan seideal di kafe-kafe ya.

Bahan yang aku pakai, (sengaja nyebut merk biar teman-teman tahu aku bikin gak seperti orang-orang):

1. 2 sachet susu Zee varian vanilla.
2. 2 sendok sedang kopi Indocafe.
3. 4 sendok makan gula putih.
4. Air dan es batu.

Cara membuat ala aku:
1. Susu seperti biasa diseduh dengan air hangat dan aduk sempurna. Tambahkan air putih dingin. Jika suka manis, tambahkan gula secukupnya. Kalau aku, satu sachet bisa untuk dua gelas.

2. Masukkan es batu ke dalam setiap gelas susu.

3. Mixer kopi dan gula bersama sedikit air.




4. Setelah warnanya mulai coklat muda dan terlihat seperti busa atau buih di lautan (kangen pantai), berarti sudah oke. Btw, karena aku pakai kopi yang bukan kopi merk itu tu.. kayaknya kurang mengembang deh. Aku sih gak terlalu penting soal itu. Yang penting rasanya. Hehe.

5. Setelah selesai, sendokki hasil mixeran kopi dan gula tadi ke setiap gelas. Dalgona siap dinikmati bersama sepotong brownies.




Selamat mencoba ya.


Selasa, 09 Juni 2020

5 Langkah Penting Menyiapkan Kampus Menuju Kenormalan Baru #FBBKolaborasi

19.40 15 Comments

Oleh Nailiya Nikmah





Setelah berbagai istilah muncul terkait pandemi covid-19, kini muncul istilah lainnya yaitu new normal. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini disebut kenormalan baru. Istilah new normal dalam konteks Covid-19 merupakan sebuah istilah yang mewakili suatu konsep langkah percepatan penanganan covid-19 dalam bidang sosial, ekonomi dan tentu saja kesehatan. (Istilah ini juga yang menginspirasi FBB Kolaborasi kali ini).

Presiden telah meminta seluruh jajarannya untuk mempelajari kesiapan penerapan new normal alias kenormalan baru di Indonesia. Tidak semua negara, wilayah atau daerah langsung bisa menerapkan kenormalan baru. Ada berbagai pertimbangan dan kriteria sebelum era yang baru ini diterapkan. Menurut WHO salah satu kriteria suatu negara boleh menerapkan new normal adalah negara yang bersangkutan terbukti mampu mengendalikan penularan covid-19.

Penerapan kenormalan baru juga harus diiringi dengan kedisiplinan protokol kesehatan yang memerlukan peran dan kerja sama berbagai pihak. Yang perlu disadari bersama adalah kenormalan baru tidak sama dengan normal. Ada banyak hal yang berubah. Ada banyak kebiasaan baru yang harus kita tanamkan dan lakukan. Ini tidak mudah. Butuh kemauan, kedisplinan, kerelaan dan kesadaran yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.

Civitas akademika alias masyarakat kampus merupakan salah satu kelompok atau lapisan dalam struktur masyarakat kita. Kelompok ini merupakan kelompok orang-orang yang dekat dengan dunia ilmu pengetahuan dan informasi. Jadi, sudah seharusnya menjadi contoh pelaksanaan kenormalan baru yang baik dan benar kerika nantinya era ini diterapkan.

Nah, apa saja yang harus dilakukan ketika kampus hendak menerapkan kenormalan baru? Berikut persiapannya versi Tatirah di nailiyanikmah.com yang ditulis dalam rangka FBB Kolaborasi edisi Juni 2020.

Memastikan bahwa kampus merupakan zona aman

Memastikan status zona kampus adalah langkah awal yang harus dilakukan sebelum kampus benar-benar menerapkan kenormalan baru. Apakah kampus termasuk zona hijau, merah atau mungkin hitam? Untuk itu, pastikan data yang diterima akurat, tepat dan dapat dipercaya. Transparansi informasi sangat diperlukan dalam hal ini sebab ketika gerbang kampus telah dibuka, itu artinya kerumunan orang akan segera memenuhi lingkungan kampus. Orang-orang yang selanjutnya berada di bawah tanggung jawab kampus selama mereka berada di kampus.

Memiliki suatu kepanitiaan khusus penanganan covid-19

Alangkah idealnya jika kampus memiliki suatu kepanitiaan khusus terkait covid-19, kepanitiaan yang bisa saja melibatkan dosen dan mahasiswa dalam kegiatannya. Sebaiknya dipilih orang-orang yang memang concern dan peduli terhadap pandemi ini – yang juga berfungsi sebagai pusat data dan informasi per-covid-an di kampus.

Melakukan sosialisasi dan persamaan persepsi terhadap konsep kenormalan baru

Sebelum gerbang kampus dibuka alias kenormalan baru diterapkan, sebaiknya pihak kampus sudah melakukan sosialisasi ke seluruh elemen kampus tentang prinsip-prinsip kenormalan baru yang akan diterapkan kampus sehingga terjadi proses penyamaan persepsi tentang bagaimana seharusnya konsep ini dilakukan bersama, dengan visi dan spirit yang sama. Jika ini sudah dilakukan maka setiap orang akan mudah diarahkan untuk melakukan penyesuaian seperti akan sukarela dan senang hati memakai masker ketika berada di kampus bahkan mengubah strategi pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan semangat new normal. Misalnya waktu untuk berada di kelas lebih singkat, jika perlu membuat jadwal baru dengan sistem bergiliran, selain itu lebih mengoptimalkan PBM Daring.

Memiliki kebijakan dan protokol kenormalan baru yang baik dan benar hingga ke unit terkecil

Semua langkah akan percuma jika langkah yang satu ini dilalaikan oleh pihak kampus. Kampus harus menyiapkan kebijakan dan protokol kenormalan baru yang baik dan benar yang mengatur kehidupan kampus di era yang baru hingga ke unit-unit terkecil. Diperlukan kedisiplinan, ketegasan, jika perlu ada sanksi-sanksi bagi yang tidak menaati kebijakan atau protokol. Sebuah langkah yang bukan saja dimulai dari depan gerbang kampus (dengan pemeriksaan suhu badan dan kelengkapan atribut standar) melainkan langkah yang sudah harus dimulai dari rumah sejak mau berangkat ke kampus.

Menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai

Bagian akhir dari persiapan yang juga tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai. Beberapa hal yang harus diprioritaskan misalnya melakukan penyemprotan desinfektan; menyediakan sumber air untuk cuci tangan di banyak titik beserta dengan sabunnya plus handsanitizer; menyediakan tempat sampah sesuai jenis sampah; menyiapkan para petugas kebersihan yang cekatan, sigap dan paham akan tugasnya; menyediakan masker cadangan; mengatur ulang tata ruang dengan jarak tertentu untuk setiap posisi. Bukan hanya ruangan untuk PBM dan administrasi/pelayanan, perlu juga diperhatikan kelayakan dan kesiapan ruangan /fasilitas lain seperti tempat parkir, kantin, perpustakaan, mushola/ tempat ibadah, laboratorium, dsb (:sebaiknya pelajari referensi dari badan kesehatan dunia).

Demikian hal yang sebaiknya sudah disiapkan. Jika semua sudah siap, apa yang perlu ditakutkan? Kita wajib takut jika kita belum siap. Tagar #dirumahsaja jika belum siap. Nah, bagaimana menurut para peserta FBB Kolaborasi lainnya? Mari bersiap!

*Tulisan ini diikutkan pada momen FBB Kolaborasi edisi Juni 2020. 

Sabtu, 06 Juni 2020

Semalam Bersama Kenangan, Setelah itu Lahirlah Kembali (Catatan Kumpulan Puisi Aku Ingin Lahir dari Rahim Puisimu Karya Ikhlas El Qasr)

22.53 2 Comments

Oleh Nailiya Nikmah JKF


                Diterbitkan oleh Edulitera 2020, Kumpulan Puisi Aku Ingin Lahir dari Rahim Puisimu (AILdRP) karangan Ikhlas El Qasr menambah satu lagi daftar buku kumpulan puisi karya penulis Kalimantan Selatan. Sebagaimana buku-buku lainnya, ia akan menemukan takdirnya sendiri kelak. Bahwa puisi adalah istimewa, tidak akan membuat nasib sebuah buku puisi serta-merta menjadi istimewa. Bahwa puisi adalah kata-kata yang bermantra, lihatlah bagaimana mantra itu bekerja pada Ikhlas, padaku, padamu, dan padanya yang lain.


sesaat menjelang bedah buku daring

Pendahulauan
Masih ingat silang pendapat soal kata mudik dan pulang kampung? Itu contoh kasus tentang diksi yang relevan dengan sikon kekinian pada masa covid. Hanya pada masa covid, kedua kata tersebut menjadi perdebatan. Tetiba sebagian besar orang berpikir dan seperti baru saja menyadari bahwa kata-kata memiliki makna. Ya, setiap kata memiliki makna. Lebih dari itu, ia memiliki jiwa. Hanya jiwa-jiwa terpilih yang mampu menembus dinding hati pembaca atau pendengar.
Untuk itulah kata-kata selalu dipilih sebelum digunakan. Proses pemilihan itu ada meski kadang prosesnya berlangsung begitu cepat dan kita tidak menyadarinya. Geraf (2002) pernah mengungkapkan bahwa “Pengertian pilihan kata atau diksi jauh kebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan.”
Kita bisa saja menemukan kata-kata yang bermakna mirip atau nyaris sama persis, tetapi kita tidak serta-merta bisa memakai maupun menukar posisi penggunaan kata-kata tersebut dalam sebuah karya. Dipilihnya kata gadis, perempuan  atau wanita misalnya. Meski ketiganya bersinonim, ada nilai rasa yang tidak bisa sepenuhnya dianggap sama. Terlebih ketika ia sudah berada dalam situasi, kondisi dan ruang tertentu. Bahkan ketika kata-kata tersebut memiliki tingkat kesamaan makna yang nyaris sempurna seperti kursi dan bangku, tidak akan membuat kita lantas seenaknya saja menaruh sebuah kata dalam karangan. Otak dan hati kita akan bertarung bersama-sama dalam waktu yang sangat cepat untuk memutuskan kata apa yang dipilih.
Kata-kata adalah mantra bagi para penyair. Sayap-sayap makna yang dibawanya membuat kata-kata dalam puisi tidak bisa diukur secara mutlak sebagaimana ilmu pasti. Seringkali kita menemukan kata-kata yang bermakna ambigu dalam puisi, bahkan bisa jadi, satu puisi yang dibaca seratus orang akan menghasilkan seratus penafsiran dan mungkin lebih. Meskipun demikian, puisi yang bagus tidak selalu yang memuat kata-kata rumit berbelit. Kadang, puisi-puisi sederhana; puisi-puisi yang menggunakan kata-kata lugas justru menjadi sangat menyentuh dan memikat hati pembacanya. Kita tidak akan lupa betapa sederhananya cinta yang ingin diungkap Sapardi dalam puisi “Aku Ingin” – yang sering dipakai para pecinta untuk mengungkapkan cintanya kepada sang kekasih. Tengok pula kesederhanaan diksi yang dipilih Taufiq Ismail dalam puisi-puisi sosialnya. Begitu pula yang ditulis oleh Y.S. Agus Suseno dan Micky Hidayat. Pada umumnya, semua puisi itu hadir secara sederhana, kita penafsirnyalah yang membuatnya berjuta makna. Ruang-ruang dalam jiwa, kerja otak dan hati yang berkolaborasi dengan pengalaman hidup membuat kita menemukan proses klik yang berbeda-beda terhadap suatu puisi.

Teori dan Pendekatan
Membaca sebuah karya adalah membaca pengarangnya. Meski ada yang berpendapat, setelah sebuah karya tercipta dan dilempar menjadi milik pembaca, maka matilah pengarangnya, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Jika kita memahami bahwa selalu ada dua unsur dalam sebuah karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik, kita tidak akan pernah bisa mengabaikan sang pengarang. Siapa dia, apa profesinya, apa pandangan hidupnya, bagaimana masa kecilnya, buku apa yang dia baca, di masa apa dia hidup, siapa yang membuat ia jatuh setengah mati, siapa yang membuat ia bangkit beribu kali, semua itu sedikit banyak akan mempengaruhi karyanya. Termasuk kata-kata atau diksi apa yang paling menghantuinya. Bukan, mungkin bukan kata-katanya secara fisik, melainkan konsep atau makna dari kata-kata tersebutlah yang menghantuinya.
Carlyle (1827) menulis kritik sastra tentang keterkaitan antara seorang penyair yang puisinya mencerminkan tingkah laku yang berhubungan secara psikologis. Cukup lama orang menganggap karya-karya sastra terkait dengan masalah biografi pengarang; karya sastra merupakan cerminan perasaan, dan lebih ekstrim lagi sastra merupakan ekspresi impuls seksual yang terpendam dari si pencipta. Menurut Abrams, sebelum telaah mendalam tentang hal tersebut, ada beberapa unsur yang peru diketahui.  Salah satu unsur tersebut adalah perlunya membaca suatu karya sastra untuk menemukan cerminan kepribadian si pengarang dalam karya tersebut. Fenomena sastra sebagai “cermin” pribadi telah lama berkembang meskipun demikian Endraswara menyatakan tidak selamanya pribadi pengarang selalu masuk ke dalam karya sastranya. (Minderop, 2013:61-62).
Pendekatan psikologi sastra menjadi pilihan yang tepat untuk membedah kumpulan puisi ini setelah melalui observasi awal yang menghasilkan suatu temuan betapa banyak puisi dalam buku ini yang berbicara tentang keadaan batin aku lirik – yang ditengarai tidak jauh berbeda dengan keadaan batin sang pengarang.

Pembahasan
Buku ini memuat 100 judul puisi – yang jika ditelusuri titi mangsanya tata urutan peletakan halamannya sangat acak – dengan jumlah bait setiap puisi rata-rata empat sampai lima bait. Lirik-lirik yang tidak bisa dibilang pendek di setiap bait menggambarkan penyair memiliki nafas yang cukup panjang dalam berkreasi. Secara keseluruhan puisi-puisi dalam buku ini bertema cinta, lebih tepatnya deraan cinta yang menciptakan kesedihan berkepanjangan.
Sejak kemarin, kita masih duduk di bangku keheningan.
Memeluk biji-biji cemas yang tumbuh liar di kepala kita.
Berakar pada jalar-jalar yang mematikan logika

Aku tahu, merindu adalah jantung dari segala kesakitan yang menyetubuhi raga
(Meruntuhkan Hening, hlm 134)

Beberapa kata yang menjadi key word dalam bait tersebut yaitu keheningan, cemas, liar, kepala, mematikan logika, jantung, kesakitan, raga dan merindu. Kita akan temukan satu benang merah dalam hal ini yaitu merindu sebagai entah hulu entah hilir-nya perasaan cinta menyebabkan munculnya gangguan-gangguan seperti perasaan cemas, logika yang mati, keliaran dalam berpikir. Orang yang sedang jatuh cinta adalah orang yang sedang mengalami distorsi tanda petik. Logika bisa terbolak-balik bahkan bisa jadi mati alias tidak rasional lagi dalam berpikir dan bertindak. Gangguan-gangguan psikologis tersebut ketika sudah berada pada taraf akut akan menyerang fisik seperti munculnya rasa sakit pada raga. Pernah mendengar orang muntah mendengar nama mantan disebut? Atau mendadak sakit kepala atau jantung berpacu lebih cepat ketika lewat depan rumah mantan? Semacam itulah yang ingin diungkapkan dalam puisi tersebut.
Tema cinta sudah biasa. Tidak terhitung berapa karya di dunia ini yang bicara soal cinta. Inilah kenyataan, inilah data bahwa persoalan cinta adalah persoalan utama umat manusia di muka bumi. Tema cinta yang tak sampai selalu menjadi serbuan like para patah hati-wan. Perasaan senasib sependeritaan membuat empati mudah dibangun. Tulisan-tulisan seputar cinta yang mati berkali-kali entah karena dikhianati, entah karena diri sendiri yang ke lain hati membuat manusia menyadari mereka tidak sendirian di planet ini.
Konon, sebuah penelitian yang menjadi salah satu dasar teori psiko-analisis menyebutkan bahwa obat bagi penderita histeria - sebuah gangguan kejiawaan yang berefek ke fisik- begitu sederhana, yaitu bercerita. Inilah yang dipilih oleh aku lirik dalam buku ini.  Beberapa puisi ditulis begitu panjang dengan bentuk jalinan kisah. Persis seperti orang yang sedang bercerita.
Aku tahu, kamu tidak benar-benar ingin pergi, Tidak pernah. Kamu hanya hilang ditelan malam saat sepi lebih sering menyungkupmu dengan beragam kecemasan. (Sebuah Ikatan, hlm 51).
Orang yang sedang dimabuk cinta adalah orang yang paling keras kepala. Sering kali kekeraskepalaan itu membuat ia jatuh dalam kesengsaraan yang berpanjangan. Kekeraskepalaan atau kekerashatian tersebut sebenarnya hanyalah merupakan upaya menghibur dirinya sendiri. Sebuah upaya dengan cara menipu diri sendiri. “Dia tidak jahat, kok. Dia terlalu baik malah. Dia tidak bermaksud menyakiti aku. Dia cuma sedang ingin sendiri” dst. Pernah dengar kalimat pembelaan semacam itu? Atau barangkali kalimat itu yang keluar dari mulutmu ketika dijahati orang tercinta? Kutipan bait hlm 15 menuturkan sikap menipu diri sendiri aku lirik dengan sangat baik. Salah satu sikap yang akan kita tunjukkan ketika menghadapi rasa sakit adalah berupaya menolak kenyataan. Mencoba mencarikan argumen dan pembelaan agar hati senang karena masih telalu menyayangi. Pada fase ini perbedaan antara terlalu cinta dan terlalu bodoh seringkali amat tipis.
Puisi “Semalam Bersama Kenangan” hlm 100-102 habis-habisan memuntahkan seluruh penderitaan aku lirik. Seluruh kata, tidak bisa tidak, adalah jantung buku ini. Ia menyimpan seluruh rahasia aku lirik. Ia adalah cerita utuh perjalanan hati aku lirik. Ia adalah gambaran fluktuatif perasaan aku lirik yang menyeluruh. Diksi yang merupakan key word-nya seperti retakan rembulan, kenangan, menyakitkan, menyesal, bersahabat dengan luka, memaafkan, lebih dari cukup untuk deskripsi sebuah kisah luka batin yang aku alami.
Puisi “Semalam Bersama Kenangan” adalah sebuah trial and error –nya aku lirik dalam upaya move on. Ia mencoba membersamai kenangan dalam satu malam untuk mengukur kekuatan hatinya. Seseorang bisa saja bilang “Aku sudah menyadari aku disakiti, aku sudah memaafkan. Aku sudah melupakan. Aku sudah move on. Aku baik-baik saja”. Tentu saja itu yang terjadi di alam sadar. Sebagai manusia yang baik, seseorang harus memaafkan, demikian super ego bicara. Seseorang harus melangkah maju dsb. Akan tetapi yang terjadi di alam bawah sadar sering kali jauh bertolak belakang daripada yang diperlihatkan oleh alam sadar. Cobalah dengarkan kembali lagu kenangan bersama si dia. Jika sudah tidak menangis lagi, berbahagialah. Setidaknya di alam sadar, kita sudah tidak bersimbah air mata lagi. Adapun yang terjadi dengan alam bawah sadar baru bisa kita buktikan dengan melihat impact dan wujudnya pada apa yang kita lakukan dan jalani di tahun-tahun setelahnya.
Puisi “Aku Ingin Lahir dari Rahim Puisimu” hlm 18 menggambarkan sebuah keadaan baru bagi aku lirik. Ini juga harus dibaca secara utuh. Barangkali kelahiran baru aku lirik  dalam puisi ini bisa disetarakan dengan era new normal pasca gempuran korona. Ada banyak persiapan yang harus dilakukan sebab sebagaimana serangan virus ce o ve i d yang bisa ada gelombang  kedua ketiga dst, itu berarti peluang untuk serangan berikutnya masih terbuka lebar. Peluang untuk sakit hati kembali oleh orang yang sama masih ada selama kita masih satu planet dengannya. Di sinilah aku lirik memilih langkah cerdas. Ia memilih untuk move on dengan cara yang berbeda, yaitu ingin terlahir dari rahim puisi. Ya, ia memilih jalan sunyi para penyair.

Penutup
Puisi bisa jadi hanya permainan kata bagi sebagian orang yang tidak memahami makna cinta. Puisi bisa jadi sekadar bualan di mulut para penipu hati. Penyair dan waktu yang akan membuktikan seberapa jujur puisi bertutur dan seberapa rapi ia bisa menyimpan rahasia. Lalu, ingatlah sekeras apapun seseorang melawan kenangan; senyaring apapun seseorang berteriak bahwa ia sudah move on, hanya sebuah kelahiran jiwa yang baru yang akan menjawabnya. Selamat lahir kembali, Ikhlas El Qasr. [] Nai, Zona Merah, 2020.


catatan:
Tulisan ini disampaikan oleh Nailiya dalam Bedah Buku Daring, Sabtu, 6 Juni 2020.





Minggu, 24 Mei 2020

7 Langkah Efektif Melupakan Orang yang Pernah Disayangi

09.38 2 Comments
Selama roda kehidupan masih terus berjalan, akan ada berbagai kemungkinan yang terjadi. Tidak ada yang abadi. Tidak ada hubungan yang selalu baik-baik saja. Orang yang dulu menyayangi kita, bisa jadi hari ini adalah orang yang paling membenci kita. Ketika mengingat semua itu hanya akan membuat kita menderita, maka tidak ada saran terbaik selain melupakan.

Berikut 7 langkah efektif melupakan orang yang pernah disayangi dan menyayangi.

1. Dekatkan diri pada Tuhan


Tidak ada cara terbaik untuk mengatasi masalah apapun dalam hidup ini selain mendekatkan diri kepada Tuhan. Tuhanlah yang Maha Membolak-balik hati kita. Mintalah pada-Nya untuk memudahkan kita melupakan si dia.

2. Olah Raga


Lakukanlah kegiatan fisik yang rutin dan teratur yang dapat membuatmu berkeringat. Olah raga seperti senam, renang, naik sepeda, dan sebagainya akan melatih fisikmu dengan baik. Kegiatan fisik akan sangat membantu mengatasi masalah yang mengendap dalam pikiran. Olah raga membuat fisik lebih sehat dan kuat serta bersemangat menjalani hidup. Tubuh yang sehat akan membantu kita mengembalikan semangat positif dalam hidup.

3. Lakukan Hobi


Setiap orang memiliki hobi atau passion masing-masing. Kerjakan hobimu setiap hari. Lakukan hal-hal yang kamu senangi. Ini akan membuat hati gembira sepanjang hari. Hati yang gembira akan lebih mudah diajak berpikir jernih. Hari-hari akan dijalani dengan pemikiran yang lebih positif.

4. Bersosiallah.



Jangan terlalu lama menyendiri. Jangan terlalu lama menyembunyikan diri. Kembalilah bergaul dengan orang-orang. Bersosiallah dengan semua kalangan. Ini akan memperluas pergaulan badan wawasan. Kamu akan melihat dan menyadari bahwa dunia tidak sesempit yang kamu kira. Dunia sangat luas. Tidak hanya dia aja yang ada dalam lingkaran hidup kamu.

5. Tingkatkan Kualitas Diri

Selain berguna secara internal. Ini juga akan sangat berguna, jika kamu berpikir hendak melakukan "balas dendam" yang elegan. Kamu memperlihatkan pada orang tersebut juga pada dunia bahwa kamu baik-baik saja tanpanya. Upaya meningkatkan kualitas diri juga akan membuat kamu sibuk sehingga akan lebih mudah dan cepat melupakan. Hanya saja, kamu jangan melakukannya setengah hati. Nanti yang ada malah pura-pura bahagia. Jalani dengan niat sungguh-sungguh dan upaya yang benar.

6. Menulislah


Sudah ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa menulis akan membantu mengurangi berbagai beban masalah.
Tulislah semua hal yang sedang kamu hadapi . Tulislah semua kesedihanmu. Lebih bagus lagi kalau kamu juga menulis semua kejelekannya. Tulislah bahwa kamu ingin melupakan beberapa hal dalam hidup ini yaitu dia. Tulislah bahwa kamu ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentunya ini hanya untuk ditulis bukan untuk dipublikasikan. Jangan memosting keambyaranmu di media sosial karena semua itu tidak ada keuntungannya, kecuali kamu menggubahnya menjadi karya seni atau karya sastra.

7. Bekonsul pada ahlinya

Jika kamu sudah tidak sanggup lagi, pergilah ke psikolog atau sejenisnya. Mintalah saran dan pendapat ahlinya. Jika perlu lakukan konsul rutin dan terjadwal sampai kamu benar-benar move on.

Selamat mencoba.

Senin, 13 April 2020

10 Strategi Jitu Kelola Uang Bagi Anak Kost

02.35 0 Comments

Strategi Jitu Kelola Uang bagi Anak Kost
Oleh Nailiya Nikmah



Situasi tertentu seperti rumah yang jauh dari tempat menimba ilmu akan membuat seseorang harus menyewa rumah atau kamar untuk tempat tinggal sementara dan menjalani hidup sebagai anak kost. Menjadi anak kost memerlukan seni tersendiri dalam hidup. Kemandirian dalam segala hal sangat diperlukan agar survive menghadapi segala kemungkinan yang ada.

Anak kost harus bisa membawa diri di tengah lingkungan baru yang bisa saja berbeda adat dan tradisi dari tempat asal. Ia juga harus pandai mengurus keperluan dirinya sendiri dari bangun tidur hingga tidur lagi. Anak kost harus pandai memanajemen waktu karena tidak ada lagi yang akan mengingatkan ketika ia lalai dari tugas. Anak kost juga harus selektif memilih lingkungan pergaulan karena sudah tidak ada lagi pengawasan orang tua secara langsung. Lebih dari itu, yang tidak kalah penting adalah anak kost harus terampil mengelola keuangan.

Pada umumnya anak kost mendapatkan uang sekali sebulan dari orang tua atau walinya. Uang tersebut bisa ditransfer maupun diantar langsung oleh orang tua atau diambil oleh anak ketika pulang kampung dalam waktu tertentu. Diperlukan strategi untuk mengelola uang tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehabisan uang jauh sebelum tiba waktu pengiriman berikutnya. Berikut ini beberapa strategi jitu mengelola keuangan bagi anak kost:

1.    Meletakkan biaya sewa kamar di urutan pertama daftar anggaran

Sebagai anak kost, pengeluaran wajib yang utama adalah membayar sewa kamar (dengan catatan biaya kuliah/SPP tidak termasuk dalam uang bulanan). Uang untuk membayar kost tidak boleh dipakai untuk keperluan lain karena menunggak pembayaran kost bisa berakibat fatal. Bagi anak kost, tidak punya tempat tinggal akan berpengaruh pada stabilitas hidup dan ini bisa mengganggu studi.

2.    Menyusun rencana menu makan selama satu bulan beserta biaya yang diperlukan
Salah satu strategi pengelolaan keuangan anak kost adalah dengan menyusun menu makan selama satu bulan beserta anggaran biayanya. Kita perlu melakukan analisis perhitungan mana yang lebih efektif dan efisien antara memasak sendiri dengan membeli yang sudah jadi. Memasak sendiri tidak selalu lebih efektif dan efisien. Terutama pada tahap awal yang memerlukan banyak penyesuaian. Yang perlu diingat adalah makan untuk hidup bukan untuk gaya hidup.

3.    Mengurangi kebiasaan ngemil

Anak kost biasanya menumpuk makanan (snack) dan minuman ringan (soft drink) dalam kamar dan mengonsumsinya terus-menerus di sela waktu makan utama. Selain tidak baik untuk kesehatan, kebiasaan tersebut juga membuat pengeluaran bertambah. Ini bisa diganti dengan kebiasaan minum air putih serta pola makan yang teratur. Bawalah botol minum kemanapun kita pergi. Bawalah bekal makan siang jika jadwal kuliah sangat padat dan tidak memungkinkan untuk pulang sehingga kita tidak tergoda untuk membeli soft drink dan yang lainnya sebagai penunda lapar.

4.    Mengutamakan keperluan kuliah di atas keperluan lainnya

Selain urusan bayar kuliah, masih banyak pengeluaran lain terkait keperluan kuliah misalnya membeli alat tulis dan buku kuliah, mengopi diktat, mencetak dan menjilid laporan tugas, iuran organisasi, dan sebagainya. Keperluan-keperluan ini harus diutamakan sebelum kita berpikir untuk melakukan pengeluaran lain yang sifatnya hanya untuk kesenangan dan gaya hidup seperti nongkrong di tempat hiburan bersama teman setiap pulang kuliah atau membeli baju model terbaru padahal baju lama masih layak pakai.

5.    Mengatur pengeluaran untuk kuota internet

Di era sekarang, kebutuhan terhadap kuota internet bagi seseorang hampir setara dengan kebutuhannya terhadap makanan. Jika tidak dikelola dengan baik, pembelian paket kuota internet akan sangat mempengaruhi keuangan anak kost. Lakukan upaya-upaya penghematan dan pergunakan kuota dengan bijak.

6.    Melakukan penghematan dengan mencuci dan menyetrika baju sendiri

Kadang-kadang anak kost malas mencuci bajunya sendiri. Tidak jarang, ada yang menumpuk baju kotor di kolong tempat tidur atau menggantungnya di dinding kamar sampai tidak tersisa lagi satupun baju  bersih untuk dipakai. Tumpukan baju kotor yang menyerupai anak gunung membuat anak kost putus asa lalu mengantarnya ke tempat laundry.  Tentu saja Ini akan menambah daftar pengeluaran. Aturlah jadwal mencuci dan menyetrika baju sendiri secara berkala sebelum menumpuk di dalam kamar.

7.    Menyimpan 25% dari uang bulanan sebagai cadangan

Anak kost sebaiknya melakukan pencadangan dana. Kita tidak tahu apa yang terjadi di bulan berikutnya. Sisihkan dan simpanlah setidaknya 25% (kalian bisa menyesuaikannya) dari uang bulanan sebagai dana cadangan. Dana ini tidak boleh dipakai kecuali keadaan darurat.

8.    Mencoba peluang beasiswa

Sebagai student/mahasiswa, kita memiliki peluang untuk memperoleh beasiswa. Rajinlah mengikuti informasi dari pihak kampus termasuk info beasiswa dan cobalah setiap peluang yang ada. Jika beruntung dan berhasil mendapatkan beasiswa, ini akan sangat membantu keuangan kita. Kalaupun uang bulanan kita sudah lebih dari cukup, kita bisa menabung/menyimpannya sebagai investasi.

9.    Mulai usaha kecil-kecilan sebagai tambahan keuangan
Jika kita kreatif, kemajuan teknologi memberi banyak kesempatan untuk kita melakukan usaha kecil-kecilan yang dapat menambah pemasukan. Tentu saja ini dilakukan tanpa menomorduakan urusan studi. Pilih kegiatan usaha yang tidak mengganggu studi. Jadikan teman-teman dan lingkungan studi sebagai bagian dari kemajuan usahamu.

10. Memiliki tempat khusus untuk menyimpan uang receh/koin

Uang receh/koin sebagai bagian dari uang kembalian seringkali mengisi cukup banyak dompet atau tas. Tidak jarang ada yang sembarangan menaruhnya, berceceran di area kamar kost. Sebaiknya kita memiliki tempat khusus untuk mengumpulkan dan menyimpan uang receh/koin. Saat diperlukan, kita dengan mudah mengambilnya. Jika tidak digunakan, ini akan menjadi tabungan. Nah, selamat mencoba! [] Nai

Versi ringkas pernah dimuat di B.Post/ News Analysis/Smartmoney

Jumat, 20 Maret 2020

Catatan Hari-hari Pembelajaran Daringku dengan Zoom Cloud Meetings

13.59 0 Comments




Ditetapkannya corona sebagai pandemi oleh WHO, membuat berbagai kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah yang wilayahnya telah terdapat kasus covid-19. Berbagai spekulasi dan persepsi bertebaran di media. Semua berusaha belajar dari China dan Italia. Masyarakat mulai lebih melek setelah Arab Saudi (KSA) menutup akses umrah bagi sebagian besar negara yang terdapat kasus covid-19. Indonesia yang semula nyaris membusungkan dada karena nol kasus, nyatanya harus mengambil langkah juga setelah diumumkan secara resmi oleh presiden tentang adanya pasien 01 dan 02.

Masyarakat yang lebih dulu paham, mulai melakukan edukasi di media-media yang mereka punya. Hingga sampailah Indonesia pada fase menerapkan 14 hari di rumah alias work from home (WFH) untuk menekan angka penyebaran virus ini. Hal ini menimbulkan efek ke berbagai hal, di antaranya dalam dunia pendidikan. Kampus-kampus mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh, melarang kegiatan yang menimbulkan potensi berkumpulnya orang-orang bahkan menunda kegiatan penting yang sebelumnya sudah direncanakan hingga akhir Maret 2020.

Sebagai pengajar, aku turut merasakan dampaknya. Kami harus kreatif melakukan pembelajaran dari jarak jauh. Aku di rumahku. Mahasiswaku di rumahnya masing-masing. Berbagai aplikasi dan platform yang ada aku coba. Sebenarnya aku sudah tidak asing dengan pembelajaran elektronik (e-learning). Aku pernah menggunakan edmodo dan google classroom serta sarana e-learning yang telah disediakan kampusku.  Hanya saja beberapa aplikasi masih ada yang aku belum terampil menggunakannya. Ini yang aku coba dalam situasi sekarang.


Hari pertama
Aku nekat menggunakan aplikasi zoom meeting cloud, meski sebelumnya aku hanya pernah berperan sebagai peserta sebuah teleconference dengan aplikasi ini. Tepat pada hari dan jam perkuliahan aku mengunduh aplikasi tersebut di laptop. Mahasiswaku juga sudah kuberitahu di grup WA. Aku membagi password dan meeting ID agar mahasiswaku bisa bergabung.

Pengalaman pertama sungguh lucu dan membuat aku ternganga. Aku bersiap seperti biasa. Mandi, berbaju kerja, berias muka, memakai jam tangan, dan tetap berparfum. Bagiku itu penting untuk membangun suasana kerja. Ya, aku kan mau mengajar. Hehe. Jam perkuliahanku ada di jam pertama. Ternyata, mahasiswaku rata-rata baru bangun tidur. Mereka masih awut-awutan. Aku yakin mereka belum mandi. Kumaafkan karena ini hari pertama dan salahku juga tidak membuat aturan sebelumnya.

Pesanku, buatlah aturan dan kesepakatan sebelumnya tentang ini. Penampilan harus tetap dijaga. Berpakaian rapi dan sopan selayaknya peserta kuliah.



Hari Kedua
Aku sudah memberitahu mahasiswaku agar berpakaian rapi dan sopan sebelum mengaktifkan kamera. Hari ini lebih baik meski masih ada beberapa yang sepertinya cuma cuci muka. Ada beberapa orang yang gagal join entah apa masalahnya.




Di tengah PBM, aku tiba-tiba kehilangan akses. Ya ampun, ternyata hp yang kupakai untuk teathring kuota kehabisan batrai. Setelah kuisi baterai, aku gagal masuk room lagi. Akhirnya PBM kulanjutkan di grup WA.

Pesanku di hari kedua: Cek baterai selalu, jangan sampai putus di tengah jalan

Hari Ketiga

Persiapanku lebih matang. Mahasiswaku juga telah melakukan simulasi sebelumnya. Malamnya aku juga sudah membuat kelas-kelas di google classroom buat jaga-jaga. Materi sudah kukirim. Penjelasan bisa lebih efektif dan selesai hampir tanpa gangguan berarti. Mahasiswa komen berebut, ada suara lain yang masuk, dan semua terhenti atas kesadaran mereka sendiri mematikan mikrofon.

Tiba-tiba aku kehilangan akses padahal baterai masih ada, mahasiswaku ramai chat di grup wa, “Kami keluar sendiri, Bu.”

Pesanku di hari ketiga: kenali, pelajari dan teruslah berusaha menguasai aplikasi yang kamu pilih

Rupanya waktu yang disediakan zoom sudah habis, alias 40 menit gratisan sudah berakhir. Untunglah materi memang sudah selesai dan sudah sempat tanya jawab. Hari ini, aku tidak memberikan tugas. Setahuku, dosen lain sudah banyak yang memberi mereka tugas. Kasihan juga, kan?

Pekan Kedua

Aku mulai lebih memahami aplikasi tersebut (Begitu juga dengan mahasiswaku hehe- pastilah mereka ada yang iseng dan mengakal. Cari saja lelucon seputar ini. Banyak berhamburan di dunia maya). Ada banyak tools yang bisa digunakan. Aku bisa mengajar sambil menjalankan slide PPT; sambil menulis-nulis di layar; sambil mempelajari manajemen personalnya. Aku juga mulai menyadari ada beberapa bagian dari materi yang harus ku-setting ulang. Ada tugas-tugas yang harus direvisi; ada pencapaian-pencapaian yang akan diminimalkan.

Pesanku di pekan kedua: Jangan terlalu serius, kendorkan sedikit agar kita tetap waras

Pekan Ketiga

Aku mulai mengurangi power, menghemat energi. Ternyata WFH kami tidak cukup dua pekan. Akupun mulai yakin, WFH ini akan berlangsung masih sangat lama. Aku benar-benar serius memikirkan PBM dan ketercapaiannya. Sekali lagi, jangan terlalu memberatkan, baik diri sendiri maupun mahasiswa.

Pekan Keempat


Aku memberikan opsi-opsi kepada mahasiswaku. Mereka boleh me-request hendak PBM menggunakan aplikasi apapun. Masih ada kelas yang menyukai zoom; ada kelas yang minta menggunakan WA; ada yang meminta menggunakan google classroom. Apapun, akan kuterima, asal mereka tetap semangat belajar. Sayangnya, di tiap kelas ada saja yang absen. Bukan apa-apa, mereka ternyata pada pulang kampung alias mudik. Terus, di kampung tidak ada sinyal. Ya, gitu deh.

Pesanku di pekan keempat: Jika sudah pulang kampung, sudahlah, relakan saja mereka.

Oiya, sejak pekan kedua aku sudah mulai merekam sebagian pertemuan kami. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin menyimpannya sebagai sebuah kenangan, sebuah dokumen. Seperti halnya tulisan receh ini, aku hanya ingin meninggalkan jejak digital tentang secuil peranku dalam perjuangan manusia menghadapi covid-19.

Jika kamu membacanya, terima kasih telah singgah di rumahku.[]Nai