Selasa, 05 April 2016

# Buku Harianku # Catatan Umrahku

Aku Penuhi Panggilanmu: Catatan Umrahku (1)



Aku Penuhi Panggilanmu
Catatan Umrahku (1)


2011-an aku mengalami sakit yang cukup parah. Sakit yang semula aku remehkan dan aku tunda-tunda untuk mengobatinya. Sebuah Sakit yang membuat aku berada pada titik paling nol dalam hidupku. Sakit yang membuat aku begitu menghargai kata “sehat” dan “hidup”. Sakit yang membuat aku merasa dekat dengan kematian (aku bahkan mulai merancang-rancang dengan siapa anak-anakku hidup nanti jika aku telah tiada). Sakit yang membuat aku memiliki satu lompatan hidup yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Selama sakit itu, dalam tiga hari aku mampu mengkhatamkan membaca Alquran.
Aku sempat stress menghadapinya tapi lambat laun aku menyerah. Aku memilih berdamai dengan penyakitku. Aku mengikuti saran keluargaku untuk berobat ke luar pulau. Akupun pergi ke ibukota negara bersama ayahku. Anak-anakku bersama suami dan ibuku di rumah. Sebelumnya, dokterku bilang, tidak terlalu berarti Anda ke Jakarta atau ke manapun. Obatnya sama saja dengan yang saya berikan selama ini. Tapi aku pergi untuk menuntaskan ikhtiarku sebelum aku mengambil jalan lain. Banyak hal yang aku dapatkan selama berobat di Jakarta. Aku makin mengerti betapa berharganya hidup dan kesempatan untuk berbuat sesuatu dalam hidup. Satu hal lagi, aku semakin yakin, betapa orang miskin tidak boleh sakit. Sama sekali tidak boleh….
Sepulang dari Jakarta, tidak lama kemudian aku memutuskan untuk menghentikan obat dokter. Bukan apa-apa. Aku tidak tahan dengan efek sampingnya. Aku mempelajari banyak buku, terutama tentang pengobatan herbal, pengobatan nabawi, pengobatan timur, pengobatan cina, dll. Lalu aku intens membacai tafsir surat An-Nahl. Dari situ aku yakin, madu adalah salah satu obat segala penyakit. Aku memadukan madu dengan herbal lain. Alhamdulillah aku merasa lebih baikan. (Maaf, ini bukan testimoni produk. Ini hanya sedikit ceritaku). Aku juga mencoba terapi totok, bekam, rukyah syariyah, dll.
Aku merasa lebih segar tapi di kedalaman hatiku aku tak mampu menepis kemungkinan aku lebih cepat mati karena penyakitku. Lalu, tiba-tiba aku terpekur. Aku teringat kabah di Makkah sana. Aku belum pergi haji. Aku belum pernah ke sana…Bagaimana aku bisa mati dalam keadaan belum berhaji?  Aku tiba-tiba diliputi rindu yang sangat mendalam. Aku ingin pergi haji. Itu saja yang aku pikirkan saat itu.
Pelan-pelan aku menyampaikan keinginanku pada suamiku. Semula ia kaget dan ia merasa belum yakin untuk mendaftar haji. Proses yang tidak mudah, hingga akhirnya Ramadhan 2012 kami resmi mendaftar haji. Menurut perkiraan, kami akan berangkat tahun 2026! Kota Banjarmasin merupakan kota yang paling banyak antrian calon jamaah hajinya. Sementara kuota terbatas. Jadi jangan heran kalau masa keberangkatan kami masih sangat lama. Kukatakan, dengan mendaftar, aku sudah menunjukkan kesungguhan niatku pada Tuhan.
Tahun-tahun berikutnya, aku mulai dilanda rindu. Aku mulai berharap agar bisa pergi umrah. Tiap awal tahun, yang menjadi daftar resolusiku di nomor urut pertama adalah pergi umrah. Suamiku geleng-geleng kepala. Setiap mendengar ada yang pergi umrah, diam-diam aku menyeka airmata. Tidak tahu kenapa, selalu saja aku menangis setiap mendengar ada yang pergi ke sana.
Dan Februari 2016 ini, ketika aku akhirnya pergi umrah, tidak ada lagi yang bisa aku tuturkan selain Labbaikallahumma labbaik…(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar