Jumat, 09 Februari 2018

# Buku Harianku

Menjadi Wanita Karier, salahkah? (Untuk yang hilang malam itu)

Tulisan yang kupost kali ini adalah curahan hatiku tentang tulisan yang pernah kupost di akun facebook-ku yang membuatku sedikit berseteru dengan seseorang.
Sebenarnya aku menuliskan postingan tersebut karena begitulah yang kurasakan. Siapa kira tulisanku itu membuat aku berkonflik dengan seseorang.


Hai, engkau perempuan yang menjelma sedihku suatu malam, benarkah engkau temanku. Jika ya, mari kita rayakan hari jadi pertemanan. Jika tidak, kurela kaumenghapusku dari daftar temanmu malam ituπŸ˜”

Menjadi wanita karier, salahkah?*
Catatan kecil Nailiya Nikmah
Kemarin saya membaca sebuah berita tentang anak yang dititipkan ibunya kepada pengasuh lalu anak itu diperlakukan begitu kejam oleh pengasuh. Ramailah para komentator menyampaikan komen dengan beragam gaya bahasa.
Tidak sedikit komen yang isinya menuding dan menyalahkan si ibu yang lebih memilih bekerja daripada menjaga anaknya.
Kalau kamu wanita karier, apa yang kamu rasakan saat membaca komen-komen tersebut? Galau? Samma. Saya juga. 
Lalu, saya tak sengaja menonton sebuah video singkat yang menampilkan adegan anak-anak pulang sekolah berlarian bergegas ke dalam rumah, si ibu (wanita karier) menanti sambil melebarkan tangan hendak memeluk. Eh..anak-anaknya berlalu begitu saja. Mereka malah menghambur ke pelukan pengasuhnya yang menyambutnya juga dengan senyum ceria. Hancurlah hati si ibu. 
Kalau kamu wanita karier, apa yang kamu rasakan saat menonton video tersebut? Galau? Samma. Saya juga.
Salahkah wanita yang berkarier di luar rumah? Jahatkah emak yang meninggalkan anaknya bekerja?
Egoiskah emak yang menitipkan anaknya kepada orang lain?
Saya wanita yang bekerja di luar rumah. Saya pernah menitipkan anak kepada pengasuh, saya juga sering menitipkan anak kepada orang tua. Begitu entengkah tangan saya melepas mereka kepada orang lain selain diri saya sendiri? Begitu ringankah hati ini setiap hari mengucap selamat tinggal sampai jumpa nanti sore?
Mungkin tidak banyak yang tahu. Betapa hati emak yang merangkap wanita karier sering maju mundur cantik dan gelisah galau merana saat berada dalam dilema antara anak dan pekerjaan.
Kalau sudah begitu, apa emak langsung berhenti kerja and say goodbye pada gerbang kantor? Mungkin ada yang menjawab ya tapi banyak juga yang masih bertahan.
Hidup selalu memberikan pilihan-pilihan yang kadang tidak semudah menghitung kancing.
Yang pasti:
Di balik meeting-meeting emak yang kadang sudah seperti artis sinetron (kejar tayang), tersimpan rapal-rapal doa untuk si buah hati.
Di antara sederet schedule emak yang padat merayap terukir rapi impian-impian emak untuk bisa berlibur bersama keluarga ke tempat idaman.
Di setiap langkah kaki emak, baik yang pakai high heels maupun yang jelepak ke lantai, tersulam seluruh kenangan sejak si kecil dalam kandungan sampai menjelma wajah-wajah dewasa.
Di setiap detak jantungnya dan di setiap aliran darahnya, terpahat harapan jiwa-jiwa taat atas permata hatinya.
Mungkin di antaranya ada yang sedikit keliru ketika menapak sebab emak bukan malaikat. Tegurlah baik-baik. Nasihati sembunyi-sembunyi hingga bayangannya sendiri tidak mengetahuinya.
Yang sedang tertatih menjejak di luar rumah dengan tetap menyanjung keluarga, aku bangga padamu.
Yang mantap jiwa memilih berada di rumah, aku menghormatimu.
Apapun yang menjadi pilihan, semoga keluarga kita selalu diberkahi oleh Allah Swt.
*pertama kali saya posting di fb,

Satu atau dua hari setelah tulisan itu kupost, tak sengaja kutemukan sebuah percakapan yang mengomen status seseorang. Isi status tersebut sebenarnya hanya pengulangan singkat atas post-ku di atas. Hanya saja, karena dia bukan wanita bekerja maka tentu saja konteks nya adalah wanita tidak bekerja. Masalah muncul kala aku membaca salah satu komennya yang menyangkutpautkan dengan postinganku di atas. Terjadilah sedikit penggibahan tentang aku yang tanpa mereka sadari aku telah membacanya.

Yang aku sedih..dia mengatakan ini itu tentangku sebagai wanita bekerja -yang semuanya tidak benar. Dia menyimpulkan aku begini begitu hanya karena tulisanku bersudut pandang wanita bekerja.
Padahal sungguh benderang yang kutulis, betapa aku menghormati wanita yang memilih berkhidmad di rumah.

Asal kautahu, aku kerap mengidamkan berada di posisimu. Belakangan aku sadar, kita harus bersyukur apapun peran kita, entah kita memilihnya dengan sadar atau karena terpaksa oleh keadaan.

Oh, teman its so so bagiku.
Bagaimana kamu bisa menulis begitu begini yang tidak benar tentang aku. Kautahu...berbeda pendapat itu tidak aneh tapi mengapa harus menuduhku sejelek itu.

Malam menjadi saksi perdebatan kita di dunia maya. Endingnya kamu minta maaf. Baiklah, Tuhan saja Maha Pengampun. Apalah aku ini jika tidak menerima maaf.

Sayangnya..esok hari, kutengok linimasa, kita sudah tak berteman. Selamat tinggal, teman. Maaf aku harus menegurmu malam itu karena yang kautulis tentangku tidak benar adanya.[]

10 komentar:

  1. Emang sih org bnyk berpikir kaya gitu, tapi menurut eny hidup itu piliham semua itu pasti yg terbaik semangatt mbaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.. atas semangatnya πŸ€— semoga kamu juga tetap semangat menjalani hari.

      Hapus
  2. I feel u bu.. :'(
    Meski ulun adl IRT sejati tp ulun ngerti banget perasaan ibu krn ulun selalu teringat mama ulun. Jadi tiap perempuan mmg punya pilihan. Entah sejak kapan pilihan wanita skrg suka diperdebatka jadi'mommy war' yg tiada habisnya didunia maya. Sebenarnya jawabannya krn masing2 mrs perannya lebih baik. Padahal tanpa mereka sadari tiap wanita itu berhubungan simbiosis mutualisme. Contoh spt ibu.. Siapa sangka kan suatu saat anak atau keluarga ibu 'tersebut' akan jadi murid ibu. N dia tidak tau sbrp besar peran ibu untuk masa depannya. Dia cm melihat oh wanita pekerja itu bla bla.. Ah, biarlah.. Bagi lun tiap guru itu keren. Tiap Ibu itu keren. Semangat terus bu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Momy war yang dia lancarkan sangat serius dan menyangkut ideologi tertentu lho Wind. Padahal hidup emak sederhana aja..seputaran bahagia anak n suami. Ya gak? Hehe.

      Hapus
    2. Wah, lun kd wani lg mun ad bau2 ideologi masuk nih. Ngalih mun kena racun isu feminisme kapitalis.. Wkwk.. Dulu lun prnh tergabung lwn grup emak2 kekayatu.. Seminggu, dua minggu lgsg keluar. Kada tahan panas. Hihi.. Padahal ya didalemnya rata2 IRT tulen. Tp omongannya kada suka lun..n rata2 emak2 spt it emg sensitif tingkat tinggi jd kd kw salah pender sedikit lgsg meraju.. �� *ulun nang ampih bekawan lgsg.. Haha

      Hapus
  3. Kata" itu memang selalu ada ya mba, tapi menurut aya apapun yang kita pilih pasti ada aja alasan orang buat ngomentarin ��, semangat terus bu nai ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Ay. Hak orang sih ngomentarin kita tapi kalau yang dia komentari jelas bNget gak benarnya yaa tepaksa dah aku ingetin.

      Hapus
  4. Wah, benar banget Mba kelihatannya aja ya seorang wanita karir yang menitipkan anaknya atau meninggalkan anaknya terlihat tegar. Padahal dibalik itu, ya gundah gulana tadi. Kalo orang lain mah pasti mikirnya enteng, padahal gak tau ya kalau hati si Ibu pedihh :((

    Sabar ya mba, hidup itu kita yang jalanin. Yang tau keadaan sebenarnya ya kita juga, jangan dengerin perkataan orang mba. Tetap semangat!

    BalasHapus
  5. waduh sedih banget ya ka kalau sampai teman sendiri sampai memusuhi karena status kita. padahal meninggalkan anak sama orang lain aja sebenarnya kita nggak rela. lebih sedih lagi kalau misal anaknya nggak mau makan sama ibunya dan lebih lahap sama yang mengasuhnya. periih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah..itu benar benar perih Antung πŸ˜‚

      Hapus