Selasa, 13 Februari 2018

# Parenting

PR dan Tugas Anak dikerjakan Orang Tua, Bolehkah?

Setelah anak memasuki dunia sekolah, sudah tentu akan berhadapan dengan PR atau tugas sekolah. Mulai PR yang sifatnya menyalin ulang teks dari buku paket, PR mengerjakan soal latihan, PR mengarang, PR mencari referensi di internet sampai PR membuat kerajinan tangan atau prakarya. Mulai dari PR yang luar biasa gampang sampai dengan PR yang susahnya minta ampun.

Full day school biasanya tidak memberi anak PR atau tugas yang banyak. Paling-paling PR atau tugas yang memang tidak bisa dilakukan di sekolah pada jam sekolah, misalnya mewawancarai Pak RT, menulis liputan ibadah kurban, dll.
Sementara sekolah negeri pada umumnya memberikan PR yang cukup banyak dengan maksud menambah jam terbang anak alias agar anak rajin latihan soal.

PR yang layak dikerjakan oleh anak

Tahukah, Anda tidak semua PR atau tugas layak dikerjakan oleh anak, lho. Menurut saya PR yang layak dikerjakan oleh anak setidaknya harus memenuhi kriteria berikut;

Dilihat dari jumlah soal
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang jumlah soalnya masuk akal untuk dikerjakan. Masuk akal di sini artinya jumlah soal sebanding dengan waktu pengerjaan dan tingkat atau level pendidikan anak dan jenis soal/mata pelajaran. Misalnya, anak SD mendapat PR matematika dengan jumlah soal 50 s.d 100, jenis soal penerapan beberapa rumus, waktu pengerjaan hanya 1 malam. Ini termasuk contoh PR yang tidak layak dikerjakan oleh anak.

Dilihat dari tingkat kerumitan
PR yang layak dikerjakan oleh anak adalah PR yang tingkat kerumitannya sesuai dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor anak. Misalnya, anak kelas 1 SD diberi tugas menyurvei harga sembako di pasar tradisional secara berkelompok tanpa ditemani orang dewasa. Ini termasuk PR atau tugas yang tidak layak dikerjakan oleh anak. Contoh lainnya, anak kelas 2 SD diberi tugas membuat kerajinan tangan yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi seperti menyulam kruistik.
Lain halnya jika tugas tersebut misalnya mengukur panjang aneka daun seperti yang dilakukan oleh anak ini. Tentu tugas semacam ini bisa dikerjakan oleh anak bahkan tanpa ada orang dewasa.


Idealnya tingkat kerumitan dan kesesuaian anak dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor ini sudah tidak perlu diragukan jika dalam penyusunan bahan ajar sudah diperhatikan hal-hal tersebut yang tertuang dalam tujuan pembelajaran maupun kompetensi yang ingin dicapai. Artinya, setiap PR atau tugas menyesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam tiap pembelajaran. Sejatinya, tugas atau PR manfaatnya untuk anak bukan untuk guru.


Dilihat dari keamanan
PR atau tugas hendaknya tidak membahayakan anak baik dari segi fisik maupun mental/psikis. Anak kelas 1 SD misalnya jangan sampai diberi tugas yang memerlukan penggunaan alat-alat berbahaya bagi anak seperti senjata tajam, alat elektronik (colok ke listrik), atau tugas yang harus dikerjakan dekat sungai. Tugas seperti ini kalau tidak didampingi oleh orang dewasa sebaiknya tidak usah dikerjakan oleh anak.

Mengerjakan PR Bersama
Anak memerlukan rasa mampu dan rasa berprestasi dalam dirinya. Penting bagi guru dan orang tua untuk mempertimbangkan apakah tugas atau PR yang diberikan bisa dikerjakan oleh anak secara mandiri. Ketika anak mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri, anak akan mendapatkan rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Ini penting bagi perkembangan emosi dan pribadi anak. Itulah sebabnya perlu ada contoh yang konkret sebelum anak diberi tugas.

Bagaimana kalau anak ternyata mendapat PR yang tidak layak dikerjakan? Bolehkah orang tua membantu? Bukan boleh lagi tapi wajib. Dalam beberapa hal yang kasuistik bahkan bila perlu tugas jangan dikerjakan sebelum mendapat petunjuk lengkap agar anak mampu mengerjakannya. Orang tua bisa menghubungi guru untuk mendiskusikannya.

"Mama, mama saja yang mengerjakan. Aku gak bisa. Kalau gak dikerjakan aku dihukum."

Pernah mendapat kalimat seperti itu dari anak? Bagaimana menyikapinya?


  1. Jangan panik, jangan marah
  2. Jangan sibuk dengan dugaan dugaan sendiri.
  3. Cek soal yang diberikan, cocokkan dengan buku teks atau buku pegangan, cek tujuan pembelajaran.
  4. Tanyai anak satu contoh yang ada di buku, cek kepahamannya terhadap materi. Jika ia tidak paham berarti sudah pasti dia tidak bisa mengerjakan tugas atau PR tersebut.
  5. Beri penjelasan ulang pada anak tentang materi yang menjadi tugas tapi bukan mengerjakan PR dari guru. Jika anak sudah paham, minta dia mengerjakan tugasnya di bawah pengawasan.
  6. Jika hal ini berulang terjadi, barangkali perlu dilakukan diskusi dengan guru. Jika anak memang agak terlambat dari yang lain, berarti perlu dilakukan upaya-upaya lain sesuai kondisi anak.


Pada beberapa buku teks malah terdapat tugas yang khusus dikerjakan anak bersama orang tua. Dengan dibantu orang tua, anak akan lebih bersemangat mengerjakan tugas. Selain itu, ini juga bisa jadi upaya orang tua untuk lebih dekat dengan anak.

Beberapa waktu lalu anak-anak saya mendapat tugas yang harus dikerjakan bersama orang tua. Ada tugas membuat boneka, tugas mengukur aneka daun, tugas membuat pigura dan lain-lain. Mereka senang bukan main. Selain itu, tugas sekolah membuat anak lupa pada gadgetnya. Ini yang penting! []

8 komentar:

  1. Bener nih mba, ponakan aya suka banget ngerjain PR bareng aya. Katanya lebih semangat dari pada mengerjakan sendiri ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi bukan aya kan yang mengerjakan? Hehe

      Hapus
  2. kalau pelajaran sekarang kayaknya 2 kali lebih susah dari jaman kita dulu ya, kak. dulu kita masih bisa ngerjain pr sendiri. nah kalau anak sekarang emaknya lihat soalnya juga puyeng duluan kayaknya. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe benar Antung. Mama sakit kepala duluan melihat PR anak 😂

      Hapus
  3. Pernah mengerjakan PR anak yang prakarya (kerajinan). Kadang saya merasa, mengapa sih dikasih tugas yang bahkan sebagian besar anak tidak mampu mengerjakannya sendiri. Jelas banyak orang tua yang mengeluh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Bun. Kadang anak putus asa kalau dapat tugas yang susah.

      Hapus
  4. wah jadi nostalgia, dulu waktu sekolah kalo mengerjakan pr jarang banget di kamar, biasanya di ruang tengah ditemenin ayah ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah..baik banget ya ayah ibunya 😗

      Hapus