Rabu, 01 Mei 2019

Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu

00.24 0 Comments

Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
(Menonton pakai perasaan/ Bukan Spoiler Evengers:Endgame)


Jauh-jauh hari, teman sekaligus editorku yang baik hati memintaku dengan sangat manis untuk menemaninya menonton film kesukaannya, Avengers:Endgame. Dia sangat takut dengan spoiler-spoiler yang bertebaran seperti hantu di sekitarnya, saking pengennya dia menghayati film ini. Konon dia adalah penggemar berat film-film marvels. Untuk itu, dia bahkan membelikanku tiket online dan memintaku mengatur jadwal yang tepat secara aku adalah orang paling sibuk sedunia (ini kulebih-lebihkan).



Aku bukan orang yang mewajibkan diri menonton film sebagai orang dalam golongan pertama. Aku tidak mengharuskan diri pergi ke bioskop. Aku tidak terlalu takut spoiler-spoiler karena bagiku dalam setiap kepala kita tersimpan mekanisme sendiri untuk menikmati sebuah tayangan. Beberapa film yang kutonton di bioskop selalu dalam misi spesial, misal aku kenal baik dengan produsernya (cie, siapa coba aku ini); aku nge-fans berat sama penulis ceritanya; ada puisi, ada hujan dalam film tersebut; atau misi menggalakkan film-film islami. Nah, Avengers ini tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut. Jadi, ini kategori  baru, yaitu ditraktir teman. Ditunggu traktiran lainnya ya. Hehe.
Aku penggemar drama korea. Aku suka film-film India. Aku salut pada film-film Hollywood. Aku pendukung film nasional yang bervisi jelas. Aku menonton semua sequel Iron Man. Aku kagum dengan teknologi yang dipakai Toni. Aku iri pada kecanggihan-kecanggihan yang ada dalam kehidupan Toni. Aku terpesona pada alur romantisme yang menyisip dan menyusup pada seri Iron Man. Bagiku, inilah film yang menyeimbangkan logika dan perasaan. Film yang memperjuangkan pentingnya kemajuan teknologi tapi juga mengedepankan perasaan.
Sebelum ke bioskop, aku menyempatkan diri googling. Mencari semua artikel dengan kata kunci mengarah kepada Avengers. Setidaknya, aku punya referensi di kepala. Sekali lagi aku tidak takut spoiler. Aku ingin jadi teman nonton yang baik, yang cerdas. Di awal penayangan, beberapa kali temanku menanyakan apakah aku mengantuk atau tertidur.  
Nah, ini oleh-oleh dari menonton Avengers. Aku menuliskannya untukmu. Sekali lagi, ini bukan spoiler.
Apalah arti sebuah kisah tanpa ide yang spesial. Endgame memilih ide besar “Andai”. Andai waktu dapat kembali. Andai permasalahan bisa diselesaikan dengan cara memutar waktu kembali. Andai sesuatu yang sudah terjadi tidak pernah terjadi. Ini merupakan persoalan yang sering ada dalam kebanyakan kepala dan hati manusia ketika mengahadapi masalah. Dalam dunia nyata, ini nyaris tidak bisa terjadi bahkan mustahil. Akan tetapi, itulah harapan yang paling banyak diinginkan oleh manusia. 
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Konsep mengulang waktu sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pengisahan. Lorong waktu di sinetron Indonesia, mesin waktu-nya Doraemon, dan masih banyak film lain yang menggunakan konsep ini (silakan googling sendiri). Yang membedakan adalah tekniknya. Keindahan teknik pengembalian para tokoh Avengers ke masa-masa lalu mereka tidak diragukan lagi. Seperti film Hollywood lainnya, teknik selalu nomor satu. Kita dibohongi tanpa merasa dibohongi. Aku tidak akan mengulas teknik panjang lebar. Itu jatah para kritikus film. Aku ingin membagi apa yang ada di kepalaku sepulang menonton. Beberapa hal positif yang kukira akan memberi manfaat untukmu:
      1.    Sekuat apapun para super hero, mereka tetaplah manusia yang punya perasaan.
Ini ditunjukkan oleh semua tokoh dalam film ini. Semuanya memiliki perasaan khusus yang kukira sangat melankolis terhadap masa lalu masing-masing. Hal ini membuat film ini menjadi lebih rasional dan berterima di hati penonton.
      2. Seorang ibu selalu punya insting melindungi, menyayangi dan menasihati anaknya.
Ini dapat dilihat pada bagian Thor yang kembali ke masa lalu sebelum sang ibu meninggal. Sekali lagi, teknik yang membedakan. Dalam film ini, ibu Thor di masa lalu ketika ditemui Thor dengan teknologi yang ditemukan Toni- mengetahui bahwa Thor yang di hadapannya adalah Thor di masa depan. Dalam kasus Thor, fungsi memutar waktu tidak seratus persen berhasil karena ibu Thor dengan instingnya menyadari siapa Thor yang ditemuinya saat itu. Dia bahkan sempat memberikan nasihat bijak kepada Thor. Sebuah adegan yang mengharukan.
      3.   Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan.
Selain memutar waktu, konsep besar sekaligus amanat dalam film ini adalah setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak ada yang free, tidak ada yang bisa didapatkan dengan tangan kosong. Seluruh perjuangan Avengers dibayar dengan kehilangan tokoh-tokoh hebat. Terutama pada salah satu titik pengambilan batu yang harus mengorbankan satu di antara dua tokoh yang saling menyayangi.
      4 . Selalu ada titik keterbatasan, sehebat apapun kita.
Ini merupakan amanat yang juga membuat film ini sejenak membuat kita lupa bahwa itu cuma film, cuma khayalan. Pada adegan menjelang kematian Toni, saat kematiannya hingga pemakamannya. Adegan-adegan tersebut memupuskan kesan bahwa superhero tak akan pernah mati. Ini juga merupakan bagian yang mengaduk-aduk logika dan perasaan dalam film Avengers.

Yang menarik dalam film ini adalah ketika Kapten Amerika menyerahkan posisinya kepada tokoh lain. Tokoh tersebut merupakan manusia berkulit berwarna (maaf, tanpa bermaksud SARA), ini seakan mengingatkan kita pada sejarah Amerika yang pernah dipimpin oleh Barack Obama.
Akhirnya, Meski cuma film, aku berduka karena Toni yang ditakdirkan pergi. Itu artinya (:seharusnya) tidak akan ada lagi sequel Iron Man. Kalaupun ada, dia harus berujung pada kematian Toni. Kita lihat saja nanti, apakah Endgame memang benar-benar akhir dari Iron Man. [] Nai




Kamis, 18 April 2019

Gadis Biasa dan Sebuah Dinasti

22.13 0 Comments
Dear, Diary.

Kali ini aku benar-benar hanya ingin curcol. Kau boleh memaki aku jika kali ini tulisanku termasuk unfaedah bagimu. Aku ingin mengabadikan kisah ini dengan membingkai dan memajangnya di dinding rumah mayaku ini.

----
Ini tentang seorang gadis biasa yang suka berteman dengan siapa saja.  Dia berasal dari klan biasa, hanya saja suatu hari sebuah keberuntungan menimpa gadis itu. Pada sebuah dinasti yang dikuasai para Klan Sempurna, yang sebenarnya akan segera berakhir, terjadilah suatu konflik. Entah bagaimana, gadis itu tiba-tiba saja terlibat dalam konflik yang pada akhirnya membuat ia menduduki sebuah jabatan kecil dalam dinasti tersebut, yaitu sebuah kastil di tengah kota. Dalam konflik tersebut, ia bahkan harus sedikit mengalami drama dengan seorang pembesar yang selama ini baik padanya di dinasti (yang kelak justru akan membuat sang gadis menyesal seumur hidupnya).


Sebagai gadis biasa yang berasal dari klan biasa-biasa saja, gadis itu harus mem-push dirinya untuk secepat kilat menyesuaikan diri di antara para pembesar dinasti yang berasal dari klan-klan istimewa, terutama Maharatu. Para pembesar tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan bakatnya dalam membangun dinasti ke arah yang lebih baik. Sementara, si gadis harus belajar mati-matian untuk mengejar ketinggalannya. Ia bahkan belum punya jubah kerajaan karena ia belum lulus dalam ujian kerajaan. Untuk itu, ia mengenakan jubah pink sebagai tanda ia masih tahap belajar dan akan selalu berada di bawah pengawasan para mentri dan pembesar dinasti. Gadis itu harus mengerjakan proyek uji pengembangan kastil yang diamanahkan oleh Maharaja berdasar Surat Kerajaan Tinggi. Uji pengembangan kastil tersebut terdiri atas 7 standar sakti yang dikenal dengan sebutan rahasia yaitu Borang dan satu lontar kastil yang diberi nama Eva. Beruntung sang gadis bekerja sama dengan para petarung yang berasal dari Klan Sempurna di dalam kastil.


Mampukah gadis itu bertahan? Ataukah ia akan terusir dari Dinasti karena tuntutan para pemuja klan Sempurna terlalu tinggi baginya?



---
Jangan kira ini drama korea semacam The Last Empress ya, guys. Ini drama karangan aku yang terlalu terobsesi dengan drakor, wkwkwk.


Epilog:
Akulah gadis dari klan biasa itu. Untuk Maharatu dan Para Pembesar dari Klan Sempurna, terima kasih telah menerima aku apa adanya dalam Dinasti kalian. Jika aku ditakdirkan pergi lebih dulu, semoga kita bertemu kembali setelah aku reinkarnasi. [] Nai


Note: Versi Seriusnya, ini para pejabat struktural di lingkungan Jurusan Akuntansi :), Biar seru postingannya aku buat versi drakor nya ya! Hehe, maaf yaa Bu Kajur n Bapak Ibu Pejabat lainnya. Just Kidding, have fun, smile up :)

Rabu, 27 Februari 2019

Aku, Teater Wasi Putih (TWP) dan Cinta tak Bertepi

00.25 6 Comments
Prolog
Kautahu apa itu cinta? Cinta tak punya tepi seperti pantai. Tidak ada yang bisa meramal di mana titik terakhir cinta sebagaimana tidak ada yang bisa menyebutkan di mana titik awal sebuah cinta.


Sejak pertama mengetahui ada UKM teater di kampus tempat aku bekerja, ingin rasanya aku mendaftar jadi anggotanya. Tiap lewat di depan sekre UKM bernama Teater Wasi Putih (TWP) seakan ada yang melambai-lambai memanggil.
Hanya saja aku tahu diri. Aku tidak memenuhi syarat utama untuk menjadi anggota. Yup, aku bukan mahasiswa.
Jadi...kusimpan saja keinginanku. Tahun tahun berlalu keinginan itu hanya tinggal keinginan.

Hingga hari itu tiba, 2016 (11 tahun kemudian), menjelang aku berangkat umrah. Wakil Direktur meminta aku membantu anak-anak TWP yang hendak mengikuti Festival Si Palui. Aku diminta membacai atau menilai naskah. Aku bersedia. Eh, ternyata aku ditunjuk menjadi Pembina UKM TWP. Rasanya tidak percaya. Aku hanya menyimpan mimpi untuk menjadi.anggotanya, malah jadi pembina. Saat itu, yang terjadi cukup membuatku shock hehe. Aku bukannya diminta menilai melainkan membuatkan naskah untuk penggarapan si palui. Aku merasa diospek! Haha.
1 pekanan menjelang umrah..aku malah sibuk menulis naskah. Naskah yang kutulis digarap oleh Ipul  di era kepemimpinan Syarwani menuju kepemimpinan Thoyib. Kelak, aku juga terlibat dalam pemggarapan lainnya.
***

Sejak mendapat Surat Keputusan (SK) sebagai pembina TWP, aku mulai mempelajari, mengenali dan melakukan adaptasi. Aku paham dengan baik SOP untuk menjadi anggota. Mulai dari sosialisasi di hari2 OKKMB, pengisian form pendaftaran, wawancara, menuju study pentas, workshop, pemantapan, pelantikan yang biasanya dilakukan di pantai. Setelah itu, mereka berhak mendapat kartu dan nomor anggota, berhak membuat baju PDL yang menurutku keren sekali. Setelah semua proses yang tidak mudah itu mereka akan menjadi anggota selamanya...bahkan kelak setelah mereka lulus dari kampus. Mereka akan menyandang gelar DPO. Aku sering menyebutnya para senior.
Aku belajar banyak hal selama membersamai mereka. Belajar saling menghargai, belajar memaknai sebuah proses, belajar tentang sebuah kepercayaan dan kebersamaan, belajar tentang keteguhan pendirian. Aku merasa sebagai anggota keluarga di antara mereka di samping sebagai seorang dosen pembina UKM.
Akupun larut dalam kebahagiaan menjadi bagian dari TWP. Lalu suatu ketika aku seperti tetiba menyadari satu hal.  Betapa sedihnya. Mereka semua abadi di dalamnya sedang aku...aku tidak abadi. Nasibku tergantung pada selembar SK. Ketika aku sudah bukan pembina mereka lagi maka ketika itulah aku tidak berhak lagi ada di situ. Aku sedih sekali ketika menyadari ini.
Aku beberapa kali menyampaikan kesedihanku ini kepada mereka.
"Dalam lingkaran ini, aku satu-satunya yang tidak abadi. Kalian semua abadi, aku tidak tapi aku akan menyimpan semua kenangan ini dalam hatiku, dalam hidupku"
Aku mengucap kalimat itu sama seperti sebelumnya selalu dengan segenap kepedihan di hati.
***

Tak terasa aku berada di situ sudah beberapa periode kepemimpinan ketum. Kuhitung dari periode akhir Syarwani, periode Thoyib, periode Ardhi hingga kini periode Syarif. Aku seperti orang sekarat yang tinggal menunggu hari kematian. Lalu aku menerima undangan pemantapan dan pelantikan calang angkatan 19. Jika biasanya aku tidak bisa ikut kali ini aku beupaya keras untuk ikut. Jika pada awalnya kehadiranku dicampuri kepentingan sebagai seorang pembina, hari itu aku berangkat lebih karena didasari perasaan sayang. Aku menyayangi mereka entah sejak kapan.

Sabtu sore, 23 Feb 2019 aku berangkat menyusul mereka yang sudah berangkat satu hari sebelumnya. Aku sendiri yang melepas mereka waktu itu.
Aku mengikuti serangkaian  agenda di malam Minggu hingga hari Minggunya.
***
Dalam sesampaianku di acara api unggun, aku kembali mengatakan betapa beruntungnya  mereka bisa abadi. Bisa selamanya berada dalam lingkaran keluarga TWP.
Minggu dini hari, aku berjalan menyusuri pantai sendirian. Duduk di gazebo sambil membaca puisi yang kutulis.



***
Aku diajak menonton pementasan calang. Aku diajak makan bersama mereka. Aku menjalani semuanya dengan perasaan campur aduk. Senang, bangga juga sedih. Sedih karena berpikir..akankah aku bisa selamanya bersama mereka. Ah, rasanya mustahil.

Aku menyeka air mata yang sesekali menetes di antara deru angin pantai.

***
Lalu acara puncak tiba. Aku menyaksikan dan melibatkan diri dalam momen pemantapan dan pelantikan calang. Hingga setelah mereka mengucap janji pelantikan yang sangat mengharukan, aku tersentak kaget. Ketum mengatakan ada sesuatu untukku. "Kami akan mengabulkan permintaan pian"
Aku bingung. Aku merasa tidak pernah meminta apapun.
"Permintaan apa?" Tanyaku.
"Bukan. Bukan permintaan pian. Kami yang meminta" Sahut seorang senior.
Aku bingung.
"Kami meminta pian menjadi anggota TWP seumur hidup"
Aku kaget. "Tidak. Tidak. Aku tidak berhak. Kalian semua berproses untuk menjadi anggota. Aku tidak"
"Pian selama ini sudah berproses bersama kami" Sahut senior lainnya.
Aku benar-benar tidak percaya. Sesuatu yang semula mustahil bagiku, hari ini menjadi mungkin.
"Kami ingin pian jadi keluarga kami tanpa tergantung SK" ucap salah satu senior lagi.
Aku menangis.
Ketum memberiku gelang merah yang selama ini kulihat melingkar di tangan para anggota.
"Mesan PDL segera..."celutuk yang lain.
"Ini serius?" Tanyaku masih tak percaya.
Mereka semua tersenyum. Aku melihat cinta yang tulus di mata mereka. Aku sempat berpelukan dengan beberapa anggota aktif yang perempuan. Kalau saja ketum dan para senior itu perempuan..sudah kupeluk juga mereka satu-satu. Terima kasih, terima kasih banyak.


***
Hei, pantai dan laut. Kamu percaya kan sekarang. Cinta bisa membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Aku merasa menjadi orang paling beruntung hari itu. Sekarang aku sama dengan mereka. Aku akan jadi bagian keluarga TWP. Selamanya...


Batakan, 24 Februari 2019.

Minggu, 03 Februari 2019

Pepes Telur Asin ala Nai

13.32 2 Comments
Siang ini hari ke sekian aku tak enak hati. Salah satu caraku mengatasinya kali ini adalah dengan bereksperimen macam terjun payung tanpa parasut alias memasak tanpa buku panduan.


Di dapurku ada 3 biji telur asin mentah. Ada tomat, jagung, lombok besar hijau, ramania mentah, bawang merah.



Semua bahan kucuci. Kuiris tipis. Kutaburi garam dan gula secukupnya. Di dapurku tidak ada penyedap, tidak ada MSG, semua aman.

Setelah itu semua bahan yang sudah kuiris tipis tadi kumasukkan dalam daun pisang yang sudah diganggang atau diasap di atas api sebelum dan sesudah telur asin mentahnya dimasukkan. Daun dilipat rapat dan disemat pakai lidi, lalu dikukus dalam api sedang.

Bukan belajar namanya kalau tidak ada kesalahan alias keerorran. Hehe. Namanya juga eksperimenku...

Air dalam panci kukus kebanyakan, hehe. Pepesanku nyaris terendam. Ini kalau ketahuan mertua bisa tercemar nama baik. Wkwkwk.

Tidak lama kemudian...pepes telur asinku dah jadi..


Rasanya sih biasa saja tapi bagiku ini pencapaian luar biasa hari ini. Besok besok eksperimen apa lagi ya?

Senin, 28 Januari 2019

3 Destinasi Wisata di Kabupaten Hulu Sungai Tengah

10.12 6 Comments

Hulu Sungai Tengah merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Selatn dengan ibu kota bernama Barabai. Kota Barabai dikenal sebagai kota apam karena salah satu kuliner khasnya adalah kue apam. Kabupaten ini memiliki banyak sekali tempat wisata alam yang dapat dikunjungi. Berikut akan kuceritakan pengalamanku mengunjungi 3 destinasi wisata yang ada di HST.
Berawal dari keinginan mengusir penat setelah menjalani rutinitas dan berharap menemukan inspirasi baru dalam hidup, serta sekelumit data bagian risetku,  aku menghubungi salah satu teman baikku di HST. Aku meminta rekomendasi tempat yang dapat kukunjungi serta menjelaskan dengan rinci tujuan alias visi misiku ke sana.

Aku berangkat ketika sore hampir menjelang. Hari itu, aku sengaja berangkat sendiri dan memilih menggunakan angkutan umum. Kami di sini menyebutnya taksi kol (dari kata Colt). Aku tidak mencarinya di terminal melainkan menunggu alias menghadang di sepanjang jalan. Biasanya ada saja taksi kol yang balaurut. Balarut artinya mobil tersebut tidak mangkal di terminal tapi mencari penumpang sambil jalan.

Perjalanan menuju Barabai dari ibu kota provinsi (Banjarmasin) memakan waktu sekitar 4 atau 5 jam.  Untuk perjalanan ini, aku membayar Rp60.000,00. Aku tiba di Barabai ketika hari sudah malam dan menginap di rumah temanku di Komplek Murakata Muhibbin di daerah Mandingin. Jika kamu hendak mencari penginapan yang pas dengan kantong backpacker aku sarankan kamu memilih hotel Bhima yang terletak di kawasan Pasar Tradisional Barabai.

Petualangan dimulai sejak pukul 08.00 waktu setempat. Dari kawasan Mandingin, aku dan temanku memilih menggunakan transportasi motor menuju destinasi pertama. Kami ditemani oleh remaja setempat yang tidak lain adalah murid temanku sendiri. Seorang ABG manis dan ramah bernama Alif.

Persiapan kecil sebelum petualangan
Karena destinasi yang aku kunjungi ini semuanya bertema sungai alias air, perlengkapan yang wajib dibawa adalah baju ganti dan kantong plastik besar (jika kamu rasa penting, kamu juga bisa bawa handuk). Perlengkapan lainnya standar aja. Aku bawa apa? Ini nih bawaanku:

  1. Dompet
  2. Hp, charger, power bank
  3. Seperangkat baju ganti (beserta pakaian dalamnya tentu saja) dan kerudung serta kaos kaki cadangan
  4. Poket skincare dan make up praktis (pelembab, sun screen, bedak, lipstik)
  5. Minyak kayu putih
  6. Sedikit cemilan

Nah, semua perlengkapan itu aku masukkan dalam kantong plastik besar baru aku masukkan dalam ransel.




Wisata Arung Jeram Nateh


Nateh merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang Alai Timur Kabupaten HST. Perjalanan menuju Nateh sangat menyenangkan. Hujan tadi malam menyisakan hawa sejuk di pagi hari. Pemandangan yang alami membuat mata kita dimanjakan olehnya dan memberi rasa damai di hati. Setelah naik motor kurang lebih 45 menit, kami sampai di destinasi pertama, yaitu wisata Arung Jeram Nateh. Selain warung, di sini terdapat fasilitas umum seperti WC dan empat ganti baju.




Kami datang sebagai pengunjung pertama hari itu. Setelah membayar parkir @Rp5.000,00 kami duduk-duduk di sekitar lokasi sambil menunggu persiapan arung jeram yang dilakukan oleh pengelola. Aku dan temanku membayar Rp150.000,00 untuk merasakan sensasi arung jeram di Nateh. Dengan uang sebesar itu kami mendapatkan satu perahu karet beserta dayungnya tidak lupa satu orang pengelola yang mendampingi kami selama arung jeram. Ia mendayung untuk kami. Sebelumnya, kami diantar pakai mobil menuju rute awal arung jeram.  Rompi pelampung serta helm kami pakai sebagai bagian SOP menikmati wahana ini.




Menyenangkan sekali menyusuri sungai dengan arus yang sedang-sedang saja di pagi hari. Sepinya suasana pagi itu membuat hati tenang. Rasanya Nateh hanya milik kami, hehe. Kiri kanan sungai kita bisa melihat pemandangan yang sangat alami. Pohon, gunung batu, serta sebagian ladang milik warga. Beberapa kali kami harus merunduk ketiaka melewati pohon paring. Aku mencoba ikut mendayung. Gayaku mendayung ditertawakan oleh temanku. "Kamu membuat paman susah, dayungmu berlawanan arah dengan paman," Aku tertawa juga. Kulihat si paman tersenyum simpul. Kupikir, ia terlalu muda dipanggil paman, hehe.







Rute arung jeram berakhir di tempat kami memarkir motor tadi. Kulihat pengunjung lain mulai berdatangan. Beberapa di antaranya kami kenali sebagai para seniman yang sedang menggelar rangkaian acara #Savemeratus.




Menutup agenda di destinasi ini, aku menikmati secangkir kopi hangat di warung yang sudah buka pagi itu di Nateh. Rp5.000,00 untuk kehangatan kopi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sensasinya. Di perjalanan pulang, kami sempat membeli manggis dan pempakin yang dijual oleh penduduk setempat di depan rumahnya. Saat ini sedang musim buahJ

Riam Bajandik



Destinasi kedua adalah Riam Bajandik. Kami tidak lagi bersama Alif tapi bersama Rezqie, sastrawan HST. 


Kami ke sini setelah rehat sebentar untuk makan siang, mandi, ganti baju dan sholat dhuhur. Kali ini, kawanku memilih menggunakan mobil. Untuk masuk ke lokasi wisata yang satu ini, kami harus memarkir mobil agak jauh agar tidak terjebak macet. 



Entah mengapa, saat itu pengunjung sedang banyak-banyaknya. Di kiri kanan jalan, para pedagang buah menggelar dagangannya (kedua temanku pesta durian di tepi jalan, sementara aku hanya memamdangi mereka dengan tulus, hehe. Aku tidak suka durian). Selain pedagang buah, terdapat juga pedagang mainan dan pernik-pernik lainnya. Jika kamu sedang ingin sendiri dan ingin suasana yang tenang dan damai, aku sarankan kamu putar balik.



Untuk menikmati tempat ini, setelah memarkir kendaraan aku dan temanku menyusuri jembatan gantung yang menghubungkan kita dengan dataran di seberangnya. Kata temanku, kemungkinan terbesar inilah sebabnya destinasi ini disebut Riam Bajandik. Bajandik berarti bergoyang atau berayun-ayun. Jembatan gantung itu akan bergoyang/berayun-ayun ketika kita lewat di atasnya. Sensainya beberapa saat akan masih kita rasakan walaupun kita sudah tidak di atas jembatan lagi.
Karena tempatnya sangat ramai, kami tidak jadi berenang di situ.


Manggasang
Dari Riam Banjadik, kami menuju Manggasang. Manggasang terletak di kawasan Batu tunggal, Hantakan. Kita tidak perlu membayar tiket masuk, pengunjung hanya membayar parkir. Tersedia penyewaan ban besar untuk pengunjung. Ada tempat ganti baju dan mushola kecil di sini. Tempat ini relaif aman untuk anak-anak asal di bawah pengawasan orang tua. Kita bisa bermain air dan berenang sepuasnya di sini. Babatuan di dasar sungai membuat tempat ini sangat terasa kealamiannya.


Kali ini kami menemukan destinasi yang tepat dan sesuai dengan visi misi, haha. Pengunjungnya tidak terlalu banyak. Sungainya relatif jernih, sedikit berarus, pemandangan juga indah. Aku melepas kaos kaki dan merendam betis di air sungai sambil ngobrol dengan Rezqie. Sementara temanku Rahme, asyik berendam di sungai. Kulihat pengunjung lain asyik berenang bersama keluarga. Puas menikmati kesegaran air sungai, kami beranjak ke warung tepi Manggasang. Kami masing-masing memesan semangkok mie instan dan dua gelas teh (hangat dan es). Jika beruntung, di sini kita akan menemukan penjual jagung bakar. Manggasang menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Kami kembali ke rumah Rahme ketika azan maghrib berkumandang.

Aku pulang

Aku pulang menggunakan angkutan umum lagi. Kali ini aku menghubungi sopir taksi  kol (sekali lagi, kalian yang bukan orang Banjar jangan membayangkan ini semacam taksi blue bi*d atau sejenisnya ya) dan minta dijepmut di rumah temanku.  Aku memilih taksi kol keberangkatan paling awal, yaitu pukul 03.00.

Pukul 02.00 sopir menelpon aku memberitahu agar aku siap-siap.  Keren ya?!
Tidak lama setelah itu, aku dijemput. Di dalam mobil sudah ada satu penumpang. Kami kemudian menjemput penumpang lain satu per satu,
Aku berusaha menahan kantuk agar tidak tertidur sepanjang jalan, ternyata aku gagal. Aku tertidur dan terbangun ketika mobil berhenti tepat di depan sebuah langgar. Kami semua turun untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.



Satu per satu penumpang turun. Salah satunya ada yang kami hantarkan di bandara Syamsuddin Noor. Oiya, perjalanan Barabai – Banjarmasin merupakan perjalanan yang melewati beberapa kabupaten lain seperti Tapin, HSS, Banjar dan Kota Banjarbaru.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti. Ada yang mau turun lagi. Lalu sopir bertanya padaku, “Pian turun di mana?”
“Di Banjarmasin” jawabku mantap.
“Ini sudah di Banjarmasin.” Jawab sopir.
Aku kaget. Rasanya sebentar banget perjalanan pulang. Hari masih terlalu pagi.
Akhirnya aku turun sebelum terminal. Aku melanjutkan perjalanan menggunakan ojek yang mangkal di tepi jalan. Di atas motor tak henti aku bersyukur bisa pulang dengan selamat di hari Senin. Kautahu hari Senin? Ya, hari kerja! Selamat bekerja kembali, Nai [].






Senin, 03 Desember 2018

ICEGE : my conference story in Malaysia

10.05 10 Comments
Attending of seminary and presenting a paper in a panel discussion is not a difficult thing for me but the Conference international in Malaysia, this is my first experience.

I went to Malaysia with the best lectures of FKIP, University Lambung Mangkurat. Their names are Prof. Rustam Effendi, Prof. Jumadi, Mr. Sunarno, Mr.Sabhan, Mr. Ahsani Taqwiem and Mrs.Rusma. (sorry I cant write the complete names).

We goes to Malaysia from 26 November 2018 till 2 Dec. But I go home faster than it.


Travelling and presenting the paper once... I think thats very nice idea.

In this conference I met many people from other countries in the world.
The man in this picture is Danish, a student from India. He fight for his Ph.D in Malaysia.


When I came to his stall, he make me taste his indian sweets. Its very delicious. Its make from carrot.


Gajar Halwa







Ketika Sendirian di Bandara Internasional

06.33 10 Comments

Apa hal ternekat yang pernah kamu lakukan sepanjang hidupmu? Mencuri brownies ibu di kulkas? Minum air dingin diam-diam di siang bolong saat Ramadhan lalu ngaku puasa full? Mengirim surat cinta kepada gebetanmu yang jadi idola satu sekolah? Melamar pekerjaan tanpa memiliki keterampilan yang diminta perusahaan? Memilih jurusan dengan cara mengundi padahal tidak tahu apa-apa tentang nama-nama jurusan yang ada dalam undian tersebut?

Hal apa yang sebenarnya kita perlukan ketika melakukan kenekatan-kenekatan tersebut? Yup! Hanya satu, keberanian! Keberanian adalah lawan dari ketakutan. Ketakutan identik dengan kemustahilan. Inilah yang aku alami beberapa hari belakangan ini. Aku memilih mengambil segala risiko untuk melawan ketakutan dan kemustahilan yang selama ini memenuhi otak dan hatiku. Aku tahu, keberanian yang kumiliki nyaris nol. Aku mencoba untuk nekat, meski satu sisi hatiku mengatakan aku sedikit bodoh melakukan hal ini dan bisa saja akan mencelakakan aku atau setidaknya membuatku berada dalam masalah besar. Nyatanya, aku tetap melakukannya karena ada satu formula rahasia yang sudah kucampur di dalam kenekatanku. Jangan tanya apa formula rahasiaku karena bukan rahasia namanya kalau aku beri tahu padamu.

Kautahu apa ketakutan terbesarku setelah pocong? Keramaian. Aku takut sendirian berada di tengah-tengah keramaian. Entah kenapa, setiap berada di tengah keramaian, aku justru merasa sepi. Tempat keramaian yang berada di urutan teratas sebagai phobiaku adalah bandara. Aku tidak pernah pergi ke bandara sendirian. Itu artinya, akupun tidak pernah terbang sendirian. Aku membayangkan aku akan diculik ketika berada sendirian di bandara, lalu menjadi korban perdagangan manusia; atau dirampok/dirampas barang bawaanku; atau..ini yang paling kutakutkan: tersesat di bandara, salah masuk pesawat, terbang ke tempat lain yang aku tidak tahu apa-apa, belum lagi hal-hal rumit prosedural di bandara yang harus dijalani dan sebagainya dan sebagainya yang mungkin kamu akan tertawa membacanya.

Hingga hari itu, aku memutuskan untuk mencoba menghadapi semua itu. Sendiri.
Keputusan itu kuambil ketika aku mengikuti international conference selama beberapa hari di sebuah universitas di Malaysia. Sebenarnya aku berangkat bersama rombongan yang terdiri dari beberapa orang penting di universitas lain di kotaku. Mereka sudah mengatur jadwal keberangkatan dan kepulangan yang disesuaikan dengan agenda beberapa trip tambahan selain conference. Akan tetapi, berhubung aku sudah memiliki agenda penting yang sudah kusepakati untuk kulakukan sehari setelah conference, akupun memisah dari rombongan, pulang lebih awal ke tanah air.

Sejak hari keberangkatan, otak dan hatiku sudah dipenuhi “Bagiamana nanti aku pulang sendirian.” Untuk itu, aku memangkas barang bawaan. Aku meminimalkan jumlah baju yang dibawa. Aku mengatur semuanya agar yang kubawa hanya satu tas selempang kecil dan satu koper dorong yang masih bisa masuk kabin pesawat. Aku sengaja tidak memasukkan bawaan ke bagasi. Aku mengurangi satu prosedur di bandara, yaitu prosedur pengambilan barang/bagasi.




Barang yang wajib kubawa dalam tas selempang

1.       Dompet
2.       Kartu identitas/KTP
3.       Paspor
4.       Uang yang berlaku di negaraku dan negara setempat (besar dan kecil)
5.       Bedak, lipstik dan parfum
6.       Telepon genggam/ smartphone
7.       Buku catatan kecil
8.       Pulpen
9.       E-tiket, printout-nya
10.   Boarding-pass
11.   Kacamata
12.   Syal
13.   Peniti cadangan
14.   Earphone
15.   Power bank (tidak melebihi kapasitas yang diizinkan penerbangan), charger dan sambungan tiga lubang (di Malaysia berlaku yang ini).
16.   Sim card (yang berlaku di negara setempat)

Barang yang kumasukkan dalam koper dorong yaitu baju/gamis untuk 4 hari plus kerudungnya, jas hitam, blazer coklat untuk presentasi, pakaian dalam, 2 pasang kaos kaki cadangan, mukena, perlengkapan mandi seperti sabun, sikat gigi dan perlengkapan skincare yang sudah kupindahkan ke dalam botol-botol atau kemasan kecil agar lolos pada pemeriksaan di bandara. Untuk menghemat bawaan, aku tidak membawa handuk, tidak membawa sandal dan sepatu cadangan.

Sendirian Mempelajari Rute Petualangan sekaligus Packing

Setelah menunaikan tugasku di international conference, akupun packing untuk pulang sendirian, lebih awal beberapa hari dibanding rombongan. Malamnya, ketika teman sekamarku sudah pulas tertidur, aku masih mengatur perlengkapan petualanganku.

Hal utama yang aku cek adalah E-ticket. Aku mengecek jam atau waktu keberangkatan pesawatku serta berapa waktu minimal untuk check in. O,iya tempat berlangsungnya acara yang kuikuti ini berada di kota Sintok bukan di Kuala Lumpur.  Bisa ditempuh melalui jalur darat dengan memakan waktu sekitar 6 atau 8 jam dari Kuala Lumpur. Untuk efisiensi, aku memilih jalur udara.

Artinya, rute kepulanganku adalah sebagai berikut:
Dari hotel tempat aku menginap/Sintok, aku memerlukan waktu kurang lebih 45-60 menit ke Bandara Alor Setar. Dari Alor Setar aku terbang ke Kuala Lumpur. Selanjutnya, dari Kuala Lumpur aku terbang ke Jakarta. Barulah dari Jakarta aku terbang ke Banjarmasin. Ada tiga penerbangan yang aku jalani. Ada 4 bandara yang akan aku hadapi. Dua bandara  untuk penerbangan internasional dan dua bandara penerbangan domestik. Dan... itu semua akan aku hadapi sendirian.


Oh, iya. Saranku, pastikan keberangkatanmu dari bandara yang mana. Jangan sampai salah menunggu. Di KL ada bandara KLIA 1 dan KLIA 2 yang jaraknya cukup jauh.

Yang membuatku lebih takut daripada menghadapi pocong  saat aku mempelajari e-ticketku adalah:
Setelah terbang dari Alor Setar, aku akan tiba di bandara KLIA 2. Sementara itu, untuk terbang ke Jakarta, yang tertera di e-ticket ku adalah aku harus terbang dari KLIA 1. Kautahu, itu artinya BIG PROBLEM bagiku yang tidak bisa apa-apa dan luar biasa penakut ini. Hal yang serupa akan aku alami lagi setelah tiba di terminal 2D Bandara Sutta. Aku harus pindah ke terminal 1A karena dari situlah pesawatku akan berangkat ke bandara Syamsudinnor/Banjarbaru. Lalu muncul pemikiran, bagaimana kalau pesawat dari Alor Setar delay? Maka aku akan terlambat tiba di KL dan mungkin akan ketinggalan pesawat ke Jakarta. Oh, aku takut luar biasa.

Petualangan Itupun Tiba
Malam keberangkatan itu, atas ide temanku, aku menghubungi resepsionis hotel untuk melakukan panggilan wake up ke kamarku pada pukul 05.00. aku takut bangun kesiangan. Nyatanya, aku sudah bangun sebelum resepsionis itu menelponku. Tidurku tidak nyenyak dan aku sangat sedikit benar-benar tertidur. Aku mengalami anxiety. Perutku mulas sepanjang waktu.

Dari tempat aku menginap yaitu hotel EDC, aku dijemput oleh panitia pukul 05.45. sebelumnya aku sudah mandi dan berwudhu. Aku tidak sempat breakfast dan minum apapun. Aku sholat dalam mobil karena saat di hotel, waktu subuh belum masuk. Jalan raya yang kami lewati masih gelap dan sunyi. Kesulitan memahami bahasa Melayu Malaysia membuat komunikasiku sedikit terbatas dengan mas-mas yang mengantarku ini. Aku juga heran, ternyata meskipun serupa dan serumpun, tidak serta merta membuat kami lancar berkomunikasi dengan orang Malaysia. Kadang-kadang, makna yang kami maksud akan lebih cepat ditangkap ketika kami sama-sama menggunakan bahasa Inggris.

Dari percakapan singkat, aku menemukan penjelasan bahwa aku memerlukan waktu sekitar 10 menit saja dari KLIA 2 ke KLIA 1. Aku sedikit lega. Ini berbeda dengan keterangan yang kudapat dari mbak guide kami sebelumnya. Dia bilang butuh 1 jam untuk ke KLIA 1 dari KLIA 2. Entah mengapa info ini berbeda-beda.

Sesampainya di bandara, mas-mas itu membukakan pintu  mobil untukku, mengambilkan koperku dari dalam bagasi mobil lalu menyerahkannya padaku. Aku mengucapkan terima kasih dengan tulus. Pada detik itulah, ada gemuruh dalam dadaku. Aku menelan ludah, tetiba tenggorokanku terasa sangat kering. OMG, aku benar-benar sendirian sekarang. What should I do?


Bandara Alor Setar


Pintu otomatis bandara terbuka ketika aku berada tepat di depannya. Aku menyeret koper ke dalam. Rasanya kakiku digelangi rantai besi yang berat. Aku nyaris menyerah. Ada rasa ingin berbalik ke hotel. Bandara Alor Setar masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari selain aku.
Aku duduk sejenak di bangku yang berjejer rapi. “Aku sudah check-in online-kan tiketmu tapi kamu harus tetap lapor secara manual untuk mendapatkan boarding pass.” Aku terngiang kalimat temanku.

Akan tetapi kulihat di sana ada mesin yang berfungsi untuk melakukan check in sendiri dan mencetak boarding pass. Sama seperti yang kulihat di bandara KL. Hanya saja...aku ragu aku bisa mengoperasikannya. Aku mendekati seorang nenek yang di tangannya sudah ada cetakan boarding pass. Akupun bertanya dengan bahasa Melayu. Si nenek bilang gampang saja caranya, dia sudah diajari oleh anaknya sebelumnya. Nenek yang baik itu membantuku mencetak boarding pass.


Mesin self check in

Dari percakapan singkat kami, akupun tahu, nenek ini bukan sembarang nenek. Ia sudah sering terbang bahkan ke beberapa kota di Indonesia. 

Kali ini ia bersama dua orang temannya hendak terbang ke KL lalu besok akan ke Turki dan Ke Makkah untuk umrah. Aku bilang aku belum pernah terbang sendirian. Nenek itu heran, mengapa aku berani terbang sendirian jika belum punya pengalaman. Ia bilang ikuti saja ia sampai nanti masuk pesawat. Akupun bertanya bagaimana cara agar bisa sampai ke KLIA1 dari KLIA2. Ia menatapku prihatin sambil menjelaskan caranya. Aku sudah berusaha menyimak dengan baik. Entanh kecemasanku, entah gangguan bahasa, aku kesulitan memahami penjelasan si Nenek. Ia ada bilang train, kereta, bus, dsb. Aku tidak paham. Yang aku tangkap cuma satu hal, aku akan berhadapan dengan masalah besar di KLIA2!

Menuju KLIA1
Penerbangan yang sangat menegangkan. Sesampainya di KLIA2 aku mulai diserang panik yang luar biasa. Bandara itu berlipat-lipat jauh lebih besar dari bandara Alor Setar tentunya. Aku mulai bertanya kepada beberapa orang. Kautahu, tidak semua orang ramah dan mau menjawab pertanyaanmu di sini. Tetiba aku kangen orang Indonesia. Pantas saja orang asing sering bilang orang Indonesia itu ramah-ramah. Aku sudah mengalaminya. Sekalinya ada yang mau menjawab, ia menggunakan bahasa Melayu dengan sangat cepat. Aku tidak paham. Selebihnya orang-orang menggunakan bahasa china atau semacamnya.

Yang harus aku lakukan pertama-tama adalah keluar dari bangunan KLIA2. Mencari jalan keluarnya saja aku memerlukan waktu 15 menit! Aku haus tapi aku tidak terpikir untuk mencari minum. Setelah menemukan jalan keluar dari KLIA2 aku pun bertanya bagaimana cara ke KLIA1. Ada yang bilang, kau bisa memilih beberapa cara, dengan train atau juga bus. Atau semacam itulah aku lupa namanya. Aku lihat beberapa orang menuju bus berwarna kuning merah. Petugas menagih semacam tiket, aku rasa aku harus membeli tiket juga. Lalu akupun bertanya pada petugas, di mana bisa beli tiket untuk bisa masuk bus itu agar aku bisa ke KLIA1. Astaga, ternyata bus itu bukan bus ke KLIA 1. Petugasnya bilang, ke KLIA1 cari warna purple, free.

Aku mulai bergerilya mencari bus purple yang dimaksud. Untunglah tidak lama kemudian bus tersebut ada. Aku rasa, penjelasan mas-mas sebelumnya salah, ini sudah lebih dari 10 menit kurasa. Tetiba bus berhenti. Orang-orang turun, aku bingung. Tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti bandara. Lebih mirip hutan (setidaknya itu yang mataku tangkap). Ternyata, aku harus naik bus lain lagi setelah itu. Kalau tidak salah bus yang kunaiki ini disebut shuttle bus. Sampailah aku di KLIA1.


Di dalam Shuttle bus


Setelah menyeret koper melewati pintu otomatis bandara, aku tertegun. Selanjutnya apa? Tidak ada tanda-tanda tempat melapor atau semacamnya untuk check in. Aku diserang panik lagi. Perutku mulas. Lalu kulihat serombongan orang dengan seragam seperti hendak umrah. Mereka dipandu seseorang dengan gaya yang mengingatkan aku kepada abang Salih di kartun Upin Ipin. Aku mendekati mereka. Kami berada tepat di depan pintu besar dengan berbagai tulisan keterangan tiap lantai. Ada 5 lantai yang bisa dituju. Aku menebak-nebak, untuk terbang kami harus ke lantai 5. Aku menyerahkan e-ticketku kepada “abang Salih”. Kubilang, aku mau terbang ke Jakarta.  Untunglah dia baik. Dia bilang lantai 5 untuk penerbangan. Ikuti kami katanya. Pintu besar itu membuka, itu lift yang sangat besar tapi tetap tak cukup untuk sejumlah rombongan umrah yang ia bawa. Aku nyaris tertinggal di luar, tapi aku memohon untuk bisa masuk bersama mereka, aku tidak mau sendirian. Jadilah kami berdesakan dan koperku hampir kejepit pintu.

Sampai di lantai 5 barulah aku yakin, ini benar-benar bandara. Aku mencari jalur area yang bertulis penerbangan antarbangsa. Aku harus melewati pemeriksaan seperti biasanya, melewati bagian migrasi juga. Untuk itu, paspor harus selalu ada. Setelah itu, aku mencari tempat untuk check in. Oh iya, ada orang yang bertugas menjawab pertanyaan di sini. Ia memakai selempang bertulis “Ask Me”.  Selain kepada si Ask Me aku harus bertanya ke beberapa orang di mana check in untuk penerbangan Lion atau Malindo. Hingga aku menemukan bahwa aku harus ke jalur A. Aku menerima dua boarding pass. Satu untuk penerbangan ke Jakarta, satu lagi untuk ke Banjarmasin. Selanjutnya aku mencari Gate C31. Untuk sampai ke Gate C31 aku naik eskalator. Aku tiba lebih awal di Gate C31. Akupun bekeliling meihat-lihat. aku sempat membeli coklat di counter coklat. Tidak banyak karena aku kesulitan membawanya.



Tibalah waktu penerbanganku ke Jakarta. Aku duduk bersebelahan dengan seorang gadis muda yang lugu dan polos, berpenampilan sederhana, seadanya. Ia menduduki jatah bangkuku dekat jendela. Aku tidak peduli, bagiku tak soal aku duduk di manapun. Sayangnya, pramugari memeriksa boarding pass kami dan ia menyuruh duduk di bangku sesuai yang tertera di boarding pass. Saat menukar tempat duduk itu, tas kardus si gadis robek bagian bawahnya. Akibatnya barang-barangnya berhamburan. Aku membantunya memungut barang-barang. Pramugari menyuruhku bergegas duduk. Setelah duduk, aku mengeluarkan tote bag yang kulipat dalam tas selempangku. Tote bag yang kubawa dari Banjarmasin, yang kuniatkan sebagai cadangan kalau terjadi sesuatu hal. Selama di Malaysia aku tak pernah menggunakannya. Aku kasihkan tote bag itu ke dia. Dia kaget dan sangat senang. Ia hendak membayarnya. Kujawab dengan senyum sambil bilang tak perlu bayar. Ia berkali-kali berterima kasih. Aku dan dia bercakap-cakap berbahasa Melayu. Ia fasih sekali berbahasa Melayu. Aku hampir tidak menduga bahwa ternyata ia orang Indonesia. Dia ternyata seorang TKW yang sudah 2 tahun bekerja di Malaysia. Ini kepulangan pertamanya setelah 2 tahun. Itupun hanya untuk 3 hari.

Sesampainya di bandara Sutta, setelah sekian lama bercakap melayu dalam pesawat aku mengingatkan dia, “Bisakah kau mengubah gaya bicaramu ke bahasa Indonesia saja?” Aku mencemaskan dia. Dia bilang dia sama seperti aku, tidak pernah pergi sendirian sebelumnya. Aku takut ada orang akan berniat jahat kepadanya kalau tahu dia asing dan tidak tahu apa-apa, sementara cakapnya pun bukan Indonesia. Sebenarnya terlintas dalam hatiku hendak mengantar dan menemani dia sampai ke rumahnya. Konyolnya aku. Aku sendiri tidak tahu medan bukan? Akhirnya aku menitipkannya pada Tuhan. Semoga gadis TKW itu selamat sampai rumahnya.

Mencari Terminal 1A
Aku mendarat di terminal 2D. Setelah melewati pemeriksaan di bagian paspor dalam negeri, aku mencari pintu keluar untuk menuju terminal 1A. Aku bertanya kepada seseorang. Ia menjelaskan panjang lebar, khas orang Indonesia. Aku harus menyeberang kemudian naik ke atas, mencari Sky Train. Di sana aku bertanya lagi dengan seseorang. Ia mengenakan seragam bersama beberapa temannya. Mereka petugas bandara tapi aku tidak tahu apa persisnya. Mungkin semacam mekanik, teknisi, atau apalah. Ia seorang lelaki yang masih muda. Keramahannya membuatku berkali-kali menggumam dalam hati: I love u Indonesia. Ia menjelaskan padaku bagaimana cara menuju terminal 1A. Ia membersamaiku dalam Sky Train menuju terminal 1. Selama dalam Sky Train ia mengajakku ngobrol. Ia bertanya untuk apa aku ke Malaysia. Aku menjawab seperlunya. Lalu ia bertanya, berarti ibu seorang dosen? Selanjutnya ia bercerita pernah ditawari jadi dosen di sebuah kota di Indonesia dan akan dikuliahkan lagi. Ia sanagt ingin menjadi dosen. “Lalu kenapa tidak diambil?” Tanyaku. Dia menjawab sambil tersenyum, “Tempatnya jauh dari orang tua”. Keluar dari sky train ia menunjukkan arah yang harus kuambil selanjutnya. Aku mengangguk dan berlalu sambil berterima kasih, lalu...lagi-lagi kau berdoa pada Tuhan, semoga suatu hari, cita-citanya tercapai.

Setelah menemukan  dan memastikan letak pintu keberangkatan 1A, akupun mencari tempat makan. Bayangkan, tak ada setetes airpun kuminum sejak bangun tidur. Jamku menunjukkan pukul 16.14 waktu Banjarmasin. Aku makan di AW. Memesan nasi, ayam goreng, sup dan coklat hangat.
Aku makan dengan perasaan tidak karuan yang sulit kutuliskan di sini. Aku rasa, aku kesulitan menelan makanan. Coklat hangatnyapun tak bisa kuhabiskan. Lalu aku mencari mushola. Aku menjamak takhir sholat dhuhur dan Asar.
Makan di AW


Cukup lama waktu aku menunggu di terminal 1A. 



Hingga tiba waktuku terbang. Aku tertidur  sepanjang penerbangan. Bangun dengan perasaan yang campur aduk. Aku terakhir turun dari pesawat. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah, aku mampir makan mie bakmi Jawa dan minum segelas jus wortel di sebuah rumah makan di Bandara Syamsudinnor sambil menunggu dijemput. 

Malam sudah larut. Aku pulang.... []