Sabtu, 20 Januari 2018

# Pernik Banjar # Traveling

Suatu Hari di Pantai Turki

Libur tahun baru tadi aku sekeluarga berlibur ke pantai Turki. Hehe, ini bukan pantai yang ada di Turki luar negeri itu lho ya. Ini adalah pantai kecil yang ada di Pelaihari, Desa Swarangan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Pantai Turki disingkat dari Tungkaran Kiri. Dalam arus lalu lintas normal, memakan waktu tempuh kurang lebih 3 jam dari ibu kota provinsi (Banjarmasin). Tiket masuk sekitar Rp20.000,00 lebih mahal daripada di Pantai Batakan dan Pantai Takisung.

Semula pantai Turki masih perawan, lama-lama banyak juga pengunjungnya. Kami ke sana karena belum pernah ke sana sama sekali sementara teman-teman suka cerita tentang pantai yang satu itu.

Kami memutuskan berangkat pagi hari tanggal 1 Januari. Menurut perkiraanku, pantai relatif sepi karena orang-orang sudah pulang habis merayakan tahun baruan. Aku sengaja menunda keberangkatan agar tidak pas malam tahun baru di sana. Aku kurang suka hura-hura semacam itu. Aku berencana berangkat pagi-pagi sekali.
Malamnya, salah satu televisi swasta menayangkan film favorit anak-anakku. Bukannya tidur cepat, mereka malah tidur larut malam karena keasyikan menonton film padahal sudah berkali-kali menonton film tersebut. Tidak salah lagi, besoknya kami kesiangan. Persiapan berangkat cukup merepotkan. Kami membawa dua tenda dan perlengkapan kemping lainnya. Pukul 10 lewat kami baru berangkat.
Di luar dugaanku, sebelum masuk kawasan Gunung Khayangan, jalanan macet. Anakku ngomel-ngomel karena terawanganku salah. Hihi. Untung aku sempat membeli jagung rebus yang banyak dijual di tepi jalan. Hujan yang sempat mengguyur jalan membuat kami dingin dan lapar.
Menuju Pantai Turki macet tambah parah. Kami sempat hendak ganti tempat tujuan tapi anak-anak kadung penasaran sama Pantai Turki. Macet sangat parah karena arus balik dan arus berangkat hampir sama besarnya. Ada beberapa pantai yang menggunakan rute sejalur dengan pantai Turki. Ada Pantai Jorong, Pantai Asmara, Pantai Pagatan, Pantai Angsana dan lain lain.
Kurang lebih tiga jam kami terjebak macet. Untunglah anak-anak tidak cerewet.

Sesaat sebelum memasuki kawasan Pantai Turki, kami mencari lokasi dengan bertanya pada mBak Goggle. Ternyata peta tersebut tidak berlaku lagi. Jalur yang ada di peta google tidak terbuka untuk umum. Jalur tersebut khusus untuk perusahaan.

Kami sampai di Pantai Turki ketika hari sudah sore sekitar pukul 17.00. Sunset di Pantai Turki sangat indah. Aku teringat pasukan pecinta senja, teman-teman puisiku. Anak-anak langsung menyapa pantai. Mereka bermain dengan riang.

Oiya...sampai di pantai aku kecewa banget. Pantai sangat kotor, di mana-mana sampah bertaburan. Bekas botol minuman, bekas gelas plastik air mineral, bungkus makanan ringan, sisa nasi, bahkan ada botol minuman keras. Yang terakhir ini membuatku bergidik ngeri. Sepertinya ada yang habis berpesta habis-habisan malamnya.

Karena kami bermalam, tahap awal yang dilakukan adalah mencari space untuk memasang tenda. Dua tenda untuk kami berenam. Suamiku dan anak nomor dua bertugas memasang tenda. Aku dan anakku yang lain memunguti sampah. Sebelumnya kami solat Asar karena tadi waktu dhuhur belum dijamak.

Menurut info yang kudapat sebelumnya, di Pantai Turki tidak ada wc umum, ternyata pas kami datang sudah ada wc umum tapi sangat sederhana. Kamar mandi dan wc umum dengan dinding yang terbuat dari bahan terpal tanpa atap. Ada air tawar mengalir dari kran. Lumayan buat membilas tubuh dan wudhu.
Kami salat Maghrib dijamak dengan Isya dan diqasar. Si kembar antusias diajari salat jamak dan qasar. Ini praktik langsung buat mereka.
(Sampai rumah efeknya mau menjamak terus, haha).

Dua tenda sudah terpasang. Anakku Ihda sudah lima bulanan ini bergabung dalam klub pendakian. Ia sudah terampil memasang tenda. 1 tenda kecil merah dipakai anak sulungku yang perempuan. 1 tenda lagi diperuntukkan buatku dan si bungsu kembar. Kami bertiga di dalam tenda biru. Udara sangat panas malam itu.
Suami dan anakku yang pendaki memilih tidur di teras tenda. Mereka tidur memakai kantong tidur.
Anak-anakku lambat sekali tidur. Ada saja yang mereka kerjakan. Sambil membersihkan wajah dengan milk ckeanser dan toner serta mengoles serum wardah, aku harus berkali-kali mengingatkan mereka agar cepat tidur. Sunrise besok..sunrise besok.

Yang membuat aku senang, anak-anakku tampak dekat satu sama lain malam itu. Setelah mereka semua tertidur..malah aku yang melek. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Aku membuka ponsel, membiarkan terpajang berjuta memori di benak, mengizinkan sebuah kenangan hadir, mengukirnya perlahan-lahan dengan ketajaman mata hatiku. Beberapa kali mataku memanas dan ada yang mengalir di sudutnya. Ah, kenanganku, duh kutukan itu. Hingga aku mengantuk sangat dan akhirnya terlelap.

Besoknya, aku bangun lebih dulu. Lalu aku bangunkan anakku satu per satu. Setelah salat subuh, kami menikmati pagi di pantai Turki. Aku menyuruh anak-anak meminum madu vitamin Gizidat yang bahan dasarnya madu dan ikan sidat untuk menjaga stamina dan nafsu makannya.
Aku merebus air dan menyiapkan minuman hangat pengganjal perut teman kudapan.
Udara pagi sangat segar. Pengunjung pantai relatif sedikit. Aku berasa jadi pemilik pantai. Haha.

Di pantai Turki ada space terunik untuk berfoto. Aku sekeluarga menyempatkan berfoto di situ. Ada rumah pohon bertulis Pantai Turki nya loh. Setelah itulah baru kami ke pantai.

Keempat anakku asyik berenang dan bermain pasir. Aku sibuk pemotretan. Kulihat dari jauh kapal nelayan berjalan tenang. Macam-macam yang kujadikan objek pemotretan. Tak sengaja, pas main air, anakku melihat udang. Ia pun menangkap udang. Suamiku pun ikut-ikutan seru-seruan menangkap udang rebon. Enak kali ya kalau dimasak, pikirnya iseng. Pucuk dicinta, tak lama ada nelayan yang suka rela memberi kami segayung udang tangkapannya.

Suamiku menyalakan kompor kemping yang kami bawa, lalu menyuruhku memasak udang pantai Turki. Pertama-tama udang dicuci bersih, setelah itu diremas-remas dengan garam dan asam jawa. Ini nih, kalau traveling, bawaan suamiku komplit. Ada bumbu dapur simpel. Udang digoreng dengan irisan bawang merah. Tak lupa tambahkan gula secukupnya. Hm..aromanya sedap banget.
Udang rebon masih mentah

Kami sarapan menjelang siang dengan udang rebon ditambah sozis dan mie goreng rebus. Nasi putih kami beli di warung terdekat.
Anak-anakku lahap sekali makan. Jarang-jarang makan sambil main pasir, kan?
Udang sedang digoreng harum banget

Puas bermain barulah kami mandi di kamar mandi buatan yang sangat darurat. Eits, ini bayar lo yach.
Setelah foto-foto, kami membereskan tenda bersiap pulang. Anak-anak memelas tidak ingin pulang karena mereka masih libur panjang. Maaf ya Nak, besok mama tidak libur.


19 komentar:

  1. Kirain di Turki beneran, gak taunya Turki lokal

    BalasHapus
  2. Di kalimat awal sudah diberitahu,kok sist. Kami di sini memang nyebutnya Pantai Turki. Love Indonesia 😙

    BalasHapus
  3. judulnya clickbait banget mbak, sukses bikin saya jalan2 ke blog mbak.. tapi lumayan juga nambah2 pengetahuan, kalo bukan nyasar saya kayanya ga bakalan tau ada pantai turki di kalimantan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir, mbak Maria 😙

      Hapus
  4. Asyik bgt kemping di pantai :)

    BalasHapus
  5. Minggu lalu, enni juga kesini mbak. Bersih pantainya cuman bagian daratannya aja yg ku bersih krna kemalasan orang buang sampah tapi udah ada petugas kebersihannya. Jadi pengen keaana lagi huhu

    BalasHapus
  6. Wah, asyiknya... Aku jadi ngiler bagian udang rebon plus mie goreng itu, Mbak. ^^

    BalasHapus
  7. Adek aku waktu itu ke pantai ini dan kecewa juga. Dia malah memilih melipir ke pantai lainnya karena satu hal itu "kotor". Sayang banget ya, kurang dijaga. Huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gegara malam tahun baruan aja kayaknya Rim

      Hapus
  8. Aku belum pernah ke turki, aku liat di foto bagus tapi kotor ya ternyata? Bagus mana sama takisung mba nai? Kalo ke asmara aku pernah itu jauh kesananya asmara lagi kah? Hehe

    Mupeng deh liat nginep di pantai pake tenda gtu kaya romantis, untung ga hujan ya wkwk tp aneh kok malam hari panas apalg pinggir pantai kan harusnya dingin ya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kotor hanya gegara orang malam tahun baruan aja kayaknya. Saranku sih kalau mau ke sana jangan musim liburan. Jadi pantai relatif lebih bersih.

      Hapus
  9. Kemping di pantai ini impian suamiku banget. Tp karena anak ke 2 dan 3 masih balita jadi belom bisa terlaksana. Kayanya perusahaan yg di maksud itu tempat aku kerja dulu deh, karena lokasi kerjaku tepi pantai dan masih beroperasi sampai sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kah mbak Ruli? Wah asyik dong kerja dekat pantai. Bisa mendengar debur ombak setiap hari.😙

      Hapus
  10. Wah asyiknya kemping di pantai, ka. Lama banget euy nggak ke pantai. Padahal kemarin teman-teman kantor ngajakin ke pantai ini juga tapi nggak bisa ikut karena suami sibuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari ke pantai lagi cari inspirasi 😗

      Hapus
  11. Waktu berkemah di pantai ada keluarga/orang lain yg berkemah juga gak mbak? Aman aja mbak?

    BalasHapus