Sabtu, 20 Januari 2018

Suatu Hari di Pantai Turki

20.46 23 Comments
Libur tahun baru tadi aku sekeluarga berlibur ke pantai Turki. Hehe, ini bukan pantai yang ada di Turki luar negeri itu lho ya. Ini adalah pantai kecil yang ada di Pelaihari, Desa Swarangan, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Pantai Turki disingkat dari Tungkaran Kiri. Dalam arus lalu lintas normal, memakan waktu tempuh kurang lebih 3 jam dari ibu kota provinsi (Banjarmasin). Tiket masuk sekitar Rp20.000,00 lebih mahal daripada di Pantai Batakan dan Pantai Takisung.

Semula pantai Turki masih perawan, lama-lama banyak juga pengunjungnya. Kami ke sana karena belum pernah ke sana sama sekali sementara teman-teman suka cerita tentang pantai yang satu itu.

Kami memutuskan berangkat pagi hari tanggal 1 Januari. Menurut perkiraanku, pantai relatif sepi karena orang-orang sudah pulang habis merayakan tahun baruan. Aku sengaja menunda keberangkatan agar tidak pas malam tahun baru di sana. Aku kurang suka hura-hura semacam itu. Aku berencana berangkat pagi-pagi sekali.
Malamnya, salah satu televisi swasta menayangkan film favorit anak-anakku. Bukannya tidur cepat, mereka malah tidur larut malam karena keasyikan menonton film padahal sudah berkali-kali menonton film tersebut. Tidak salah lagi, besoknya kami kesiangan. Persiapan berangkat cukup merepotkan. Kami membawa dua tenda dan perlengkapan kemping lainnya. Pukul 10 lewat kami baru berangkat.
Di luar dugaanku, sebelum masuk kawasan Gunung Khayangan, jalanan macet. Anakku ngomel-ngomel karena terawanganku salah. Hihi. Untung aku sempat membeli jagung rebus yang banyak dijual di tepi jalan. Hujan yang sempat mengguyur jalan membuat kami dingin dan lapar.
Menuju Pantai Turki macet tambah parah. Kami sempat hendak ganti tempat tujuan tapi anak-anak kadung penasaran sama Pantai Turki. Macet sangat parah karena arus balik dan arus berangkat hampir sama besarnya. Ada beberapa pantai yang menggunakan rute sejalur dengan pantai Turki. Ada Pantai Jorong, Pantai Asmara, Pantai Pagatan, Pantai Angsana dan lain lain.
Kurang lebih tiga jam kami terjebak macet. Untunglah anak-anak tidak cerewet.

Sesaat sebelum memasuki kawasan Pantai Turki, kami mencari lokasi dengan bertanya pada mBak Goggle. Ternyata peta tersebut tidak berlaku lagi. Jalur yang ada di peta google tidak terbuka untuk umum. Jalur tersebut khusus untuk perusahaan.

Kami sampai di Pantai Turki ketika hari sudah sore sekitar pukul 17.00. Sunset di Pantai Turki sangat indah. Aku teringat pasukan pecinta senja, teman-teman puisiku. Anak-anak langsung menyapa pantai. Mereka bermain dengan riang.

Oiya...sampai di pantai aku kecewa banget. Pantai sangat kotor, di mana-mana sampah bertaburan. Bekas botol minuman, bekas gelas plastik air mineral, bungkus makanan ringan, sisa nasi, bahkan ada botol minuman keras. Yang terakhir ini membuatku bergidik ngeri. Sepertinya ada yang habis berpesta habis-habisan malamnya.

Karena kami bermalam, tahap awal yang dilakukan adalah mencari space untuk memasang tenda. Dua tenda untuk kami berenam. Suamiku dan anak nomor dua bertugas memasang tenda. Aku dan anakku yang lain memunguti sampah. Sebelumnya kami solat Asar karena tadi waktu dhuhur belum dijamak.

Menurut info yang kudapat sebelumnya, di Pantai Turki tidak ada wc umum, ternyata pas kami datang sudah ada wc umum tapi sangat sederhana. Kamar mandi dan wc umum dengan dinding yang terbuat dari bahan terpal tanpa atap. Ada air tawar mengalir dari kran. Lumayan buat membilas tubuh dan wudhu.
Kami salat Maghrib dijamak dengan Isya dan diqasar. Si kembar antusias diajari salat jamak dan qasar. Ini praktik langsung buat mereka.
(Sampai rumah efeknya mau menjamak terus, haha).

Dua tenda sudah terpasang. Anakku Ihda sudah lima bulanan ini bergabung dalam klub pendakian. Ia sudah terampil memasang tenda. 1 tenda kecil merah dipakai anak sulungku yang perempuan. 1 tenda lagi diperuntukkan buatku dan si bungsu kembar. Kami bertiga di dalam tenda biru. Udara sangat panas malam itu.
Suami dan anakku yang pendaki memilih tidur di teras tenda. Mereka tidur memakai kantong tidur.
Anak-anakku lambat sekali tidur. Ada saja yang mereka kerjakan. Sambil membersihkan wajah dengan milk ckeanser dan toner serta mengoles serum wardah, aku harus berkali-kali mengingatkan mereka agar cepat tidur. Sunrise besok..sunrise besok.

Yang membuat aku senang, anak-anakku tampak dekat satu sama lain malam itu. Setelah mereka semua tertidur..malah aku yang melek. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Aku membuka ponsel, membiarkan terpajang berjuta memori di benak, mengizinkan sebuah kenangan hadir, mengukirnya perlahan-lahan dengan ketajaman mata hatiku. Beberapa kali mataku memanas dan ada yang mengalir di sudutnya. Ah, kenanganku, duh kutukan itu. Hingga aku mengantuk sangat dan akhirnya terlelap.

Besoknya, aku bangun lebih dulu. Lalu aku bangunkan anakku satu per satu. Setelah salat subuh, kami menikmati pagi di pantai Turki. Aku menyuruh anak-anak meminum madu vitamin Gizidat yang bahan dasarnya madu dan ikan sidat untuk menjaga stamina dan nafsu makannya.
Aku merebus air dan menyiapkan minuman hangat pengganjal perut teman kudapan.
Udara pagi sangat segar. Pengunjung pantai relatif sedikit. Aku berasa jadi pemilik pantai. Haha.

Di pantai Turki ada space terunik untuk berfoto. Aku sekeluarga menyempatkan berfoto di situ. Ada rumah pohon bertulis Pantai Turki nya loh. Setelah itulah baru kami ke pantai.

Keempat anakku asyik berenang dan bermain pasir. Aku sibuk pemotretan. Kulihat dari jauh kapal nelayan berjalan tenang. Macam-macam yang kujadikan objek pemotretan. Tak sengaja, pas main air, anakku melihat udang. Ia pun menangkap udang. Suamiku pun ikut-ikutan seru-seruan menangkap udang rebon. Enak kali ya kalau dimasak, pikirnya iseng. Pucuk dicinta, tak lama ada nelayan yang suka rela memberi kami segayung udang tangkapannya.

Suamiku menyalakan kompor kemping yang kami bawa, lalu menyuruhku memasak udang pantai Turki. Pertama-tama udang dicuci bersih, setelah itu diremas-remas dengan garam dan asam jawa. Ini nih, kalau traveling, bawaan suamiku komplit. Ada bumbu dapur simpel. Udang digoreng dengan irisan bawang merah. Tak lupa tambahkan gula secukupnya. Hm..aromanya sedap banget.
Udang rebon masih mentah

Kami sarapan menjelang siang dengan udang rebon ditambah sozis dan mie goreng rebus. Nasi putih kami beli di warung terdekat.
Anak-anakku lahap sekali makan. Jarang-jarang makan sambil main pasir, kan?
Udang sedang digoreng harum banget

Puas bermain barulah kami mandi di kamar mandi buatan yang sangat darurat. Eits, ini bayar lo yach.
Setelah foto-foto, kami membereskan tenda bersiap pulang. Anak-anak memelas tidak ingin pulang karena mereka masih libur panjang. Maaf ya Nak, besok mama tidak libur.


Minggu, 14 Januari 2018

Ada Duka di Wibeng

22.23 0 Comments
 Analisis Buku Serial Ada Duka di Wibeng Karya Jazhimah Al-Muhyi*
Oleh Nailiya Nikmah JKF


Pendahuluan

Akhir-akhir ini media massa sedang heboh memberitakan peristiwa penarikan beberapa buku yang dianggap porno dan SARA dari sekolah-sekolah. Seperti biasa, masyarakat pun mendadak latah bicara buku porno. Tidak sedikit masyarakat yang langsung memvonis bahwa buku-buku yang disebutkan oleh media massa tersebut memang buku porno- tanpa melakukan cross-chek. Salah satunya adalah buku Ada Duka di Wibeng (ADdW) karya Jazhimah Al-Muhyi. Berikut adalah hasil pembacaan penulis terhadap ADdW.
Buku ini merupakan sebuah bacaan nonfiksi yang bergelar Serial Akta. Ia terdiri atas 15 bagian (bab), yaitu Empati untuk Bik Sum; Ada yang Lagi Jatuh Cinta (Lagi); Jilbab Kodok…Eh, Kedok; Gak Pede? Ke Laut Aje!; Bertemu Eks…; Heboh Ka El Pe; Sms-sms Dukungan; Ka El Pe Tandingan; Asal Mau Sama Mau?; Mau Jadi Jagoan?; Ada Duka di Widya Bangsa; Pisah Kelas?; Kala Duka Menyapa; Sahabat Sejati; dan Tataplah Dunia, Ze! Bab-bab dalam ADdW tersebut bercerita tentang kehidupan remaja dengan segala kekhasannya. AddW adalah seri ketiga, sebelumnya ada dua buku serial Akta yang lain. Serial Akta ini pernah juga dimuat di majalah remaja Annida.
1. Penokohan
Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang ABG bernama Akta. Akta adalah gadis remaja yang bersekolah di sebuah SMA. Ia mewakili gambaran remaja berjilbab/berkerudung yang cerdas, kreatif, pemikir, kritis dan peduli sesama. Ia hampir selalu bereaksi terhadap hal-hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.
Dengan karakter yang demikian, tokoh Akta diceritakan pernah mengemukakan ketidaksetujuannya terhadap seks bebas dan upaya beberapa LSM yang mengampanyekan kondom untuk seks (bebas) aman. Akta diutus oleh pihak sekolah untuk menghadiri Seminar Fenomena Pacaran dan Seks Bebas di Kalangan Remaja. Dalam seminar itu, Akta mendengar kalimat “Sebaiknya jangan melakukan ‘itu’ sebelum nikah. Namun, jika terpaksa…do it savely!” Akta langsung bereaksi. Ia melakukan interupsi namun tidak diperkenankan. Akhirnya ia berhasil mengemukakan pendapatnya ketika sesi tanya jawab.
“Mohon adakan pelatihan tentang seks untuk remaja secara benar. Kalau banyak yang melakukan seks di luar nikah, memangnya apa sih baiknya buat negeri ini? Biar makin banyak anak di luar nikah atau banyak aborsi? Oke, mungkin kita bisa selamat dari AIDS dan kehamilan, tapi tak mungkin selamat dari murka Allah dalam azab neraka jahanam”
Akta kembali ke tempat duduknya. Banyak pasang mata mengikuti dan menatapnya. Setelah hari itu, Akta mendapat banyak sekali teror. Teror berupa kalimat-kalimat tak senonoh dalam surat tak bernama, sms-sms gelap, juga gambar-gambar porno (hlm 104).

            Selain reaktif, Akta juga sangat sensitif terhadap penderitaan orang lain di sekitarnya. Salah satunya adalah ketika Akta mengetahui penyakit Bik Sum, si penjaga kantin sekolahnya.
Hari-hari jadi menyedihkan bagi Akta. Disadarinya kantin Bik Sum selama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan perut, namun juga batiniahnya. …. Padahal Akta baru saja membeli bunga untuk Bik Sum, baru memecah tabungan logam seribuannya untuk membantu membeli obat. …. (hlm 8).

2. Pelataran
Latar tempat cerita pada umumnya adalah SMA Widya Bangsa (Wibeng), yaitu tempat Akta menimba ilmu sehari-hari. Seperti SMA pada umumnya, SMA Wibeng pun berisi ABG dengan berbagai karakter khas remaja. Hampir tiap bab menggambarkan hal ini.
 Sementara untuk latar yang berkaitan dengan suasana, ADdW berlatar kombinasi. Kadang-kadang suasana sedih, kadang-kadang gembira dan semangat. Tentu saja suasana tersebut tidak lepas dari suasana yang sering dialami para ABG. Jatuh cinta, patah hati, galau dan lain-lain. Suasana sedih misalnya dapat ditemukan pada bab satu, yaitu “Empati untuk Bik Sum”; bab sebelas “Ada Duka di Widya Bangsa”; dan tiga bab terakhir, yaitu “Kala Duka Menyapa”, “Sahabat Sejati” dan “Tataplah Dunia, Ze!” Sementara suasana galau dapat dilihat di bab dua “Ada yang Lagi Jatuh Cinta (Lagi) dan di bab lima, “Bertemu Eks…”.
3. Penyudutpandangan
Adapun sudut pandang cerita ADdW adalah sudut pandang third-person-omniscient atau diaan-mahatahu. Dengan sudut pandang ini, pengarang berada di luar cerita, pengarang hanya menjadi seorang pengamat dan bahkan mampu berdialog dengan pembaca. Salah satu kutipan ini bisa dijadikan contohnya.
Akta tak habis pikir. Setahunya, anak-anak Kelib bahkan menjadikan kuantitas dan kualitas hukuman yang diterima sebagai tolak ukur reputasi. … Akta dapat cerita itu dari Diana. Diana dari Zeus, Zeus dari Dani. Kalau ingin tahu hubungan keempatnya, baca seri-seri Akta sebelum ini, ya. Kan bete tuh kalo diulang-ulang :) (hlm 114).

4. Bahasa
Dilihat dari bahasa, ADdW menggunakan bahasa khas remaja/ABG yang gaul sehingga mudah dicerna oleh remaja. Pengarang sangat piawai menerjemahkan ajaran-ajaran kebaikan dan kebenaran ke dalam bahasa remaja. Hal ini membuat pembaca tidak merasa sedang digurui apalagi diomeli oleh pengarang – suatu hal yang paling dihindari oleh remaja.
Haaa! Sama guru kok manggil mas, yang bener aja!
Meski sudah tahu objeknya, tetap saja kekagetan itu tak bisa Akta sembunyikan dari raut muka yang berubah ekspresi secara tiba-tiba..
“Kenapa? Apa orang kayak aku gak boleh jatuh cinta ama orang kayak dia?”
Akta mengumpulkan energi untuk tersenyum. Tersenyum dengan tulus. “Emangnya, untuk jatuh cinta ke seseorang, diperlukan syarat-syarat tertentu? Kok, aku baru denger kali ini.”
“Hey, ternyata kamu lucu dan pintar!” Myrna terliha senang dengan jawaban Akta. “Jadi, aku boleh jadi pacar dia, kan?”
Ha, kok larinya ke situ? Otak Akta pun segera mengolah memori dan cepat menganalisisnya. … “Ngg…kalau untuk masalah itu, kamu bilang aja sendiri ke Mas… eh, Pak Wahib!”. Akta melakukan tindakan yang seolah-olah memberi peluang karena menurut analisisnya, Pak Wahib pasti bisa mengatasi Myrna lebih baik….(hlm 13).

Salah satu bab dalam AddW, yaitu bab sepuluh “Asal Mau Sama Mau?” berisi keprihatinan pengarang – yang disuarakan melalui tokoh Akta – terhadap fenomena seks bebas di kalangan remaja. Dalam bab ini terdapat adegan ketika Akta secara tidak sengaja mendengar percakapan temannya tentang seks bebas. Berikut kutipannya,
"Pokoknya, asal mau sama mau, gak masalah, kok."
Akta menegakkan telinga.
"Eh, tapi harus tahu trik-trik jitunya. Jangan sampai hamil, juga kena penyakit kelamin. Gawat kan kalau sampai kena gituan."
"Eh, ini nih... ada cara praktis yang manjur. Udah banyak yang ngebuktiin!"
"Mana ... mana?"
"Eh, katanya sperma itu..."
"Nah, di majalah ini dikatakan, sel telur itu kalau ketemu ama sperma...."
"Eh, ada yang asyik punya, nih. Petunjuk dengan pakai KB kalender!"
Akta berlalu dengan cepat mendengar obrolan di lokasi kamar mandi yang diselingi suara cekikikan. Suara-suara perempuan. Akta merasa sangat risi. Kok bisa sih, mereka tidak malu membicarakan masalah semacam itu? Niat utama ke kamar mandi menguap sudah. HIV alias ‘hasrat ingin vivisnya’ entah lenyap ke mana.
Seks, kalau itu berkaitan dengan diskusi tentang kesehatan reproduksi sih bagus. Malah akan mendalamkan ilmu biologi. Lha ini, seks yang diobrolin hanya berorientasi pada ‘how to make baby’ (hlm 94).

Sikap Akta menyiratkan bahwa pengarang menolak seks bebas di kalangan remaja. Bagian ini merupakan sex education bagi remaja yang disampaikan dengan bahasa remaja dan sesuai dengan keseharian remaja di era buku tersebut terbit. Penyampaiannya dikemas seapik mungkin agar pembaca bisa menangkap bahwa dalam cerita tersebut teman-teman Akta ada yang menjadikan seks sebagai topik pembicaraan. Titik tekan pada bagian ini adalah pengarang mencoba menyampaikan bahwa fenomena seperti itu ada di kalangan remaja.

5. Tema dan Amanat
ADdW bertemakan problematika remaja. Sebagai bacaan remaja, ADdW mengandung banyak pesan positif. Buku ini tidak hanya memaparkan indahnya dunia remaja dengan segala problematikanya tapi juga memberikan alternatif solusi pemikiran-pemikiran yang mencerahkan. Bacalah peran Akta dan teman-temannya ketika memberi dukungan kepada Zeus. Zeus sempat kehilangan semangat saat orang tuanya cekcok dan ingin bercerai. ADdW menyampaikan amanat jadilah sahabat sejati, sahabat yang selalu ada, tidak hanya di saat kita senang tapi juga di saat kita sedih. Sahabat yag tidak akan membiarkan kita terjerumus ke jalan yang salah apalagi tenggelam dalam keputusasaan. Tidak hanya kepada Zeus, Akta pun bersimpati kepada tiga kawannya yang dikeluarkan dari sekolah enam bulan menjelang ujian akhir karena kenakalan mereka.
Simpulan
Penulis tidak menemukan satu pun tanda yang bisa membuat buku ini termasuk dalam kategori buku porno. Ibarat menu makanan, ADdW adalah menu komplet bagi remaja. Hidangan ADdW begitu enak, bergizi dan halal. Mungkin, penempatan buku ini lah yang membuat sesuatu jadi janggal. Karena buku ini berlatar SMA, bertokoh ABG, mungkin sebaiknya buku ini berada di perpustakaan SMP dan SMA. Sesuai dengan yang tertera di kover bukunya, For Teenager. Tapi jika kita mau membuka mata dan telinga lalu memilih jujur, sebenarnya pun anak-anak SD sekarang lebih cepat matang.
Begitu banyak faktor yang bisa menjadi penyebab mereka lebih cepat meninggalkan masa kanak-kanaknya – yang tidak cukup dibahas di sini. Di luar hal-hal tersebut, dalam situasi yang demikian, justru mereka harus mendapat bacaan yang dapat mengarahkan mereka ke jalan yang benar – bisa jadi ADdW adalah salah satunya.
Buku ini sangat bagus dan layak dibaca oleh anak-anak atau adik-adik kita yang sedang dan akan memasuki masa remaja. Sebagai pencinta literasi bermutu, saya sarankan Anda membaca ADdW. Setelah itu, terserah Anda…

*Dimuat di Media Kalimantan, Minggu 24 Juni 2012





Sumber:Goodreads

Senyum Ibu

22.17 0 Comments
Senyum Ibu
Cerpen Nailiya Nikmah JKF

Ini yang ke lima kali aku mengganti bajuku. Rahmi mengajakku makan siang di sebuah restoran, dia akan menjemputku. Dia baru saja memenangi lomba foto. Aku akui jepretan Rahmi selalu keren.  Foto bidikan Rahmi seperti memiliki jiwa, menyentuh hati siapa saja yang memandangnya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali dia menang lomba tapi kali ini dia merasa harus merayakannya denganku. Menurutnya, ide foto tersebut berasal dariku padahal aku tak merasa memberinya ide. Dia juga mengajak kedua orangtua dan kakaknya. Untuk itulah, pertama kali sepanjang hidupku, aku mau direpotkan dengan urusan baju. Tolong, ya Firda, tampil yang agak manis dikit, pintanya. Ah, sudah lama aku tak dipanggil ‘Firda’.
Aku tak tahu apakah kemeja kotak-kotak merah hitam yang lengannya kugulung sampai siku dengan celana kain hitam akan membuatku’ tampil yang agak manis dikit’ seperti permintaan Rahmi. Biasanya aku memakai celana jeans dan kaos oblong, lalu melengkapinya dengan jaket lusuh dan topi. Aku sungguh terkejut ketika mendapati Rahmi dengan sebuah bungkusan di depan kamarku.
“Hm, lumayan tapi untuk bawahnya kamu ganti dengan ini,” ia menyorongkan kantong plastik hitam entah apa isinya.
Aku bergegas membukanya lalu melotot setelah mengibaskan isinya, “Rahmi, kau memaksaku pakai rok!” aku memekik. Rok hitam berlipit-lipit warna hitam semata kaki seperti tersenyum menggodaku.
“Ayolah, sekali ini saja. Oh, iya bisakah kau memakai anting yang biasa saja di kedua telingamu?” Rahmi menunjuk telinga kananku yang dihiasi sederet anting berbagai bentuk.
Aku nyaris berkata tidak punya sampai Rahmi mengeluarkan sepasang anting mutiara putih, tentu saja imitasi. Ia juga menjepitkan sebuah pita model serupa di pinggir belahan rambut pendekku. Tidak cukup sampai di situ, Rahmi membedaki wajahku dan memerahi bibirku tipis-tipis. Aku merasa akan menjadi badut sebelum aku memandang bayanganku sendiri di depan cermin.
“Sekarang, berhentilah bersedih. Senyumlah… Senyum perempuan,” kata Rahmi. Ia beberapa kali menjepretku sementara aku masih terpana di depan cermin mengagumi bayang yang dipantulkannya. Aku seperti melihat seseorang. Seseorang yang sangat kukenal. Aku mencoba mengingat dan aku hampir menangis ketika berhasil mengingatnya. Wajah itu, wajah ibuku!
Aku mencoba tersenyum. Oh, inikah jawaban salah satu pertanyaanku tentang senyum Ibu? Pertanyaan-pertanyaan yang membuat Rahmi menemukan ide dan memenangi lomba foto. Aku membendung airmata yang hampir keluar.
***
Pernahkah Ibu Tersenyum?
“Ayo semua ikuti Ibu guru, kita senyum sama-sama. Siapa yang tidak senyum kita gelitiki rame-rame” seperti biasa Bu Tia selalu mengawali pagi dengan mengajak aku dan teman-teman tersenyum. Hampir semua anak di TKku menyebut Bu Tia dengan sebutan Bu Senyum. Para orang tua murid juga.
Kata Bu Tia, dengan tersenyum kita akan lebih sehat. Semua kesakitan dan kesedihan akan berlalu ketika kita tersenyum. Aku percaya dengan yang dikatakannya. Buktinya setelah aku mengikuti perintahnya, aku sudah lupa kalau beberapa jam sebelumnya aku berpikir bahwa aku anak paling malang sedunia. Aku sudah lupa bagaimana sakitnya cubitan Ibu karena aku ngompol lagi di kasurnya yang tipis. Aku sudah lupa bagaimana sedihnya diejek Kikan karena hari itu aku tidak membawa pensil warna lagi. Aku sudah lupa bagaimana risaunya memiliki enam kakak perempuan yang sama galaknya dengan ibuku.
Pertama kali dapat pelajaran tentang senyum, pulang sekolah aku berloncat-loncat mencari ibuku. Aku ingat, ibuku berkali-kali pernah bilang, “Ibu sedih, tau, gara-gara kamu” atau “Jangan membuat ibu sakit hati lagi. Cukup sudah semuanya!”. Seingatku Ibu belum pernah tersenyum, pantas ibu selalu sedih dan risau. Aku menemukan Ibu sedang meracik bawang di dapur. Kotak-kotak berserakan. Ibu sedang menyiapkan nasi kotak pesanan pelanggan. Sebenarnya aku tahu, aku harus menunggu sampai pekerjaan Ibu selesai tapi aku juga tahu pekerjaan Ibu tak pernah benar-benar selesai. Bahkan ketika waktunya tidurpun Ibu masih bekerja di dapur. Aku tidak yakin ibu punya waktu khusus untukku.
“Ibu! Ibu pernah tersenyum, tidaak?” aku bertanya manja.
Kulihat mata ibu yang berair karena bawang melotot setajam pisau yang dipegangnya. Udara di dapur yang panas karena beberapa kompor menyala bersamaan terasa tambah panas setelah ibu berteriak, “Bocah nakal, datang-datang nanya yang tidak-tidak. Keluar sana, ganti baju, cuci piring!”
Setelah itu aku memang segera ganti baju karena aku gerah dengan rok ungu di bawah lutut yang wajib kupakai ke sekolah, menggantinya dengan kaos dan celana pendek. Ibu tak pernah peduli tentang rok atau celana yang kupakai. Ibu hanya ingin aku mencuci piring. Sayangnya, aku tidak mencuci piring. Aku tak mau mencuci piring. Mencuci piring adalah pekerjaan kakak-kakakku yang cerewet. Lebih baik aku main bola dengan teman-teman sekomplek. Seperti biasa, aku mendapat hukuman dari Ibu.
Malamnya, sebelum tidur sempat-sempatnya aku menanyakan hal yang sama pada Ibu. Lagi-lagi Ibu melotot dan membentakku. Malah ditambah dengan cubitan di lengan kananku. Sejak malam itu sampai aku berpisah dengan Bu Tia, aku tak pernah bertanya lagi pada Ibu.

Seperti apakah senyum Ibu?
Di antara enam kakakku, hanya Rastri yang agak mudah diajak bicara. Mungkin karena usianya hanya terpaut satu tahun denganku. Itupun kalau lagi angin baik. Seperti sore itu, kulihat Rastri sedang menyiram mawarnya. Dia bersenandung sambil senyum-senyum sendiri.
“Ras, senyum tulus itu seperti apa, sih?” tanyaku hati-hati takut salah ngomong.
“Senyum tulus? Ya…senyum yang tidak dibuat-buat, apa adanya, nggak pakai maksud apa-apa. Begitu barangkali,” lalu ia tersenyum.
Kupandangi senyumnya. Seperti itukah senyum tulus? “Memangnya, senyum macam-macam ya, Ras? Apa saja?” tanyaku.
Rastri berhenti menyiram. Ia menegakkan tubuhnya. Dahinya berlipat-lipat sebentar, “Ada berapa, ya? Senyum simpul, senyum manis, senyum kecut, senyum sinis, senyum hambar, senyum menggoda, senyum terpaksa, senyum pura-pura…Ah, entahlah, aku tak yakin,” jawabnya. “Kenapa sih nanya tentang senyum?” Kali ini kulihat senyumnya berubah, tidak seperti yang pertama tadi. Ia seperti menggodaku.
“Ras, pernah lihat Ibu senyum nggak? Seperti apakah senyum Ibu?” tanyaku lagi.
Rastri menggeleng, “Aku tidak ingat, Fir. Memang kenapa?” Berikutnya aku yang menggeleng.
“Apakah Ibu tak mau tersenyum karena Ayah sudah tiada?” gumamku. Aku masih ingin berbincang dengan Rastri, sayang Adi telah menjemputku. Kami mau latihan futsal di SMP teman Adi.
***
“Berapa kali Ibu bilang. Berhenti main band. Berhenti bergaul dengan anak-anak tidak beres itu!” Ibu melemparkan buku raport ke wajahku. Sakit tapi hatiku lebih sakit. Aku ingin sekali menangis tapi tak pernah bisa.
“Tahun depan kamu ujian akhir. Kalau nilaimu masih seperti ini, kamu tidak usah kuliah,” ancaman Ibu membuatku takut. Aku ingin sekali kuliah. Kuliah di teknik. Aku suka mesin. Listrik juga bagus.
Menjelang ujian akhir aku mati-matian belajar. Aku ikut bimbingan belajar. Sebuah keberuntungan besar bagiku, Yati kakak sulungku mau membiayai. Di tempat kursus bimbingan belajar itulah aku bertemu Sonya. Tingginya sama denganku, matanya sipit, alisnya seperti diukir, bibirnya merah muda, kulitnya putih bersih, rambutnya sepinggang merah kecoklatan, suaranya lembut, kalau dia tersenyum hatiku tidak karuan.
Sonya membuatku terdampar di sebuah pulau yang paling asing. Kulihat burung-burung pemangsa siap menerkamku. Anehnya, di pulau itu aku juga melihat beratus-ratus bunga aneka warna yang harumnya menusuk hidungku. Sonya yang lembut, Sonya yang ‘perempuan’ membuatku menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam diriku. Aku berpikir aku adalah sejiwa laki-laki yang terperangkap dalam tubuh perempuan. Ah, mungkin ini adalah pemikiran klise dari orang senasibku. Dan semua itu hanya berawal dari senyum Sonya yang indah. Seiring tumbuhnya rasa itu, samar-samar kudengar tanya seorang anak TK, Ibu pernah tersenyum tidaak.

Mengapa Ibu Tak Pernah Tersenyum Lagi?
“Anak tak tahu untung! Kurang ajar! Kucincang kamu!” Ibu memukulku bertubi-tubi dengan gagang sapu ijuk.
“Ampun, Bu…, ampun…” aku memohon pada Ibu. Ibuku tak mau mendengarkan. Sama seperti yang sudah-sudah, mana pernah Ibu mau mendengarkanku. Kali inipun tidak. Aku ingin menjelaskan, aku tidak mengapa-apakan Sonya. Aku hanya men-ci-um. Ya, aku tidak tahan melihat pipinya yang kemerahan saat tersenyum. Lalu aku menciumnya. Sonya dan Mentor di tempat kursus bilang aku hendak memperkosa Sonya. Aku dikeluarkan dari bimbel.
Ibu mendorongku ke kamar mandi. Ia mengguyurku dengan air berember-ember. Kakak-kakakku menonton dengan tatapan jijik, kecuali Rastri. Hanya Rastri yang menonton sambil menangis. Aku tersengal-sengal. Mataku sakit, hidungku sakit, kepalaku sakit, tubuhku sakit, dan hari itu aku pun tahu satu hal, jiwaku sakit. Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku mendengar suara Bu Tia, senyum akan membuat rasa sedih dan sakit hilang… Berjam-jam – aku lupa persisnya –  aku dikurung dalam kamar mandi. Rastri bilang aku pingsan ketika ia membuka pintu kamar mandi setelah diizinkan Ibu. Aku membantah. Kukatakan aku hanya tertidur. Dalam tidur aku melihat Ibu tersenyum tapi senyumnya menakutkan seperti monster.
Sejak itu aku jarang berbicara dengan Ibu meski dalam hati aku masih sering bertanya, apakah Ibu pernah tersenyum. Sejak itu pula Ibu memanggilku ‘Firdon’. Panggilan yang mengejek tapi sama sekali tidak menyakitkan bagiku. Aku malah senang dipanggil Firdon. Kakak-kakak, teman main, semua ikut-ikutan Ibu. Hanya Rastri yang tidak.
Gara-gara kasus itu aku kacau balau. Nilaiku jelek dan aku nyaris gagal kuliah karena Ibu tak mau membiayaiku. Lagi-lagi Rastri dewi penolongku. Ia merelakan seluruh tabungannya untuk biaya pendaftaran kuliah dan SPP semester pertamaku. Seterusnya aku membiayai kuliahku sendiri. Aku mengamen di warung-warung dekat kampus, menjadi tukang ketik di rental komputer, menjaga warnet, sesekali mengemis. Yang terakhir ini sangat jarang kulakukan, itupun kalau terpaksa dan aku hampir selalu gagal karena aktingku kurang meyakinkan. Rata-rata temanku tahu siapa aku. Aku tak pernah menyembunyikan identitasku. Yang tidak tulus perlahan-lahan mundur dan menjauh, yang tulus – ini sangat sedikit – akan selamanya menjadi temanku. Rahmi di antara yang sedikit ini.
Waktu itu Rahmi sedang asyik menikmati semangkok mie ayam. Sejak pagi aku belum makan. Aku memetik gitar sambil menyanyikan lagu Opick. Entah mengapa melihat Rahmi aku jadi ingin menyanyi lagu Opick, mungkin karena ia berkerudung lebar dan bergaun panjang. Hujan kau ingatkan aku pada satu rindu… Lagu itu tentang Ibu! Aku menyanyi sambil memikirkan Ibu. Aku ingat Sonya, ingat Rastri, kejadian di kamar mandi, senyum Bu Tia. Ketika lagu itu berakhir, aku seperti tidak menyadari kalau lagu itu sudah berakhir. Aku bahkan tidak menyangka bahwa aku yang menyanyikannya. Rahmi bertepuk tangan pelan. Ia mengeluarkan selembar lima ribuan dari dompetnya.
“Aku mau request lagu, boleh?”tanyanya sambil menatap wajahku.
Aku diam. Sebenarnya berapa lagupun aku mau menyanyi tapi saat itu aku sangat lapar.
“Kutambah, “ ia mengeluarkan selembar lima ribuan lagi.
“Tidak, tidak usah, aku mau. Mau lagu apa?”tanyaku buru-buru. Ia menyebut sebuah judul lagu. Aku menggeleng. Aku tak tahu lagunya.
“Kalau begitu, terserah kau saja,” putusnya.
Aku menyanyikan ulang lagu Opick. Kulihat ia berdiri. Kupikir mau pergi. Ternyata ia mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. Sesaat kemudian ia memotretku dari berbagai sudut. Mulanya aku merasa malu. Lama-lama aku membayangkan diriku seorang artis. Selesai aku menyanyi, Rahmi mengulurkan tangan, menjabat tanganku, menyebut namanya dan mentraktirku semangkok mie ayam.
Selanjutnya seperti air mengalir, Rahmi menjadi sahabatku dan aku menjadi sahabat Rahmi. Siasat persahabatan selalu sama, aku sudah sering mempelajarinya dari gelantungan awan yang ditiup angin. Kejujuran adalah taktik paling rahasia dalam persahabatan. Rahmi satu-satunya teman yang kuceritakan riwayat hidupku dengan lengkap. Termasuk tentang Sonya. Rahmi sama sekali tidak berubah. Ia malah menawarkan diri menjadi pengobatku. Ia mengajakku ke lingkungannya. Lingkungan para malaikat, aku menyebutnya. Rahmi tersenyum sambil menggeleng, “Kami bukan malaikat. Kami sama sepertimu, tercipta dari saripati tanah…” lalu ia mendongengiku tentang jutaan sperma yang berebut menuju sel telur dan kejadian dalam rahim. Dongeng yang sepertinya belum pernah kudengar.
***
“Apakah semua perempuan mempunyai satu jenis senyum yang sama untuk anak-anaknya?”tanyaku suatu hari pada Rahmi. Waktu itu aku menemaninya berburu daun kering. Rahmi ingin mengoleksi foto berbagai jenis daun yang sudah kering.
Rahmi terdiam. Kamera tergantung di lehernya. Ia menghela nafas. Beberapa detik kemudian alisnya bertaut, matanya setengah terpejam. “Pertanyaanmu! Pertanyaanmu indah sekali, Fir. Terima kasih, terima kasih,” Rahmi memelukku erat lalu menarik tanganku menerabas ilalang. Setelah itu Rahmi berburu senyum perempuan.
“Coba kau tanya kakak pertamamu. Mungkin dia mengetahui sesuatu, sesuatu yang merahasiakan senyum ibumu.” Rahmi memberiku saran.
Bersama Rahmi, aku mendatangi rumah Kak Yati. Ia menikah ketika aku semester dua.
“Aku tak tahu mengapa kau sangat ingin tahu tentang senyum Ibu,” desahnya.
“Aku juga tak tahu, Kak. Tapi aku berfirasat, itu ada hubungannya denganku,”timpalku.
“Ayah sangat ingin punya anak laki-laki. Sayang takdir sudah menulis bahwa semua yang keluar dari rahim Ibu adalah perempuan,” ungkap Kak Yati. Aku melihat beban yang sangat berat di wajahnya.
“Tapi mengapa Ibu hanya membenciku? Bukankah kalian semua perempuan sama sepertiku?”tanyaku.
“Setelah Rastri lahir, Ayah memaksa Ibu hamil lagi. Lalu Ibu hamil lagi. Bidan, tukang urut, semua tempat Ibu memeriksakan kehamilannya meramalkan adik kami tersebut kelak adalah laki-laki. Ibu pun bahagia. Ayah sumringah. Kami bersuka cita. Semua persiapan diarahkan ke satu titik ’anak laki-laki’ yang lucu.”
“Tapi kenapa dengan anak laki-laki? Kenapa juga dengan anak perempuan?” aku melolong. Aku pikir aku sudah tahu kelanjutannya. Ada nyeri di ujung lorong hatiku. Aku mengajak Rahmi pamit. Aku sudah tahu, tidak lama setelah itu, Ayah meninggal karena sakit yang tidak sembuh-sembuh. Ibu sudah pernah menceritakannya sewaktu aku kecil. Tangan Kak Yati menahanku. Ia masih ingin membagi rahasia.
 Jauh di luar dugaanku, ternyata aku belum cukup tahu semuanya. Lorong itu belum berujung. Penjelasan Kak Yati selanjutnya membuatku terperosok ke jurang yang sangat dalam dan penuh duri.
Sejak kamu keluar dari rahim Ibu, sejak dukun beranak itu bilang, ‘perempuan’, sejak itulah senyum Ibu hilang. Sejak itu pula seorang istri kehilangan suami dan tujuh anak perempuan kehilangan Ayah. Ayah tidak meninggal. Ayah meninggalkan kita, menikah dengan perempuan lain untuk mencari anak laki-laki.[]


Pernah dimuat di Media Kalimantan, kemudian disunting sebelum diterbitkan dalam Antologi Mandi Bungas.
6

Kamis, 04 Januari 2018

3 Drama Korea Terbaik Sepanjang Masa yang Memuat Kisah Cinta Anak Perempuan Kepada Ayahnya

19.54 6 Comments
Apa yang terbayang di benakmu mendengar “Korea Selatan”? Apakah Kosmetik? Musik K-Pop? Tampang-tampang putih mulus dengan mata sipit? Kostum dengan rok mini? Atau film-film alias dramanya yang so romantic? Ya, semua hal tersebut memang menjadi bagian trend Korea Selatan. Hal-hal tersebut tidak akan habisnya untuk dibahas terutama oleh para penggemar Korea.
Di antara sekian hal berbau Korea, kali ini aku akan membahas satu hal yang paling aku sukai, yaitu film alias dramanya. Secara umum, melalui film atau drama, tidak hanya hiburan yang bisa kita peroleh tetapi juga hal-hal lain yang berada di sebaliknya, salah satunya adalah nilai budaya. Begitu juga dengan drama Korea. Bukan hanya sisi romantisnya yang bisa kita nikmati (:sebagai sebuah hiburan), melainkan nilai penting lainnya seperti budaya Korea itu sendiri, terutama budaya keluarga.
Semua anggota keluarga penting, tentu saja. Begitupun dalam budaya Korea. “Secara khusus, kebudayaan garis keluarga di Korea berdasarkan atas sistem patrilineal. Pria memegang peranan penting dalam kesejahteraan keluarga dan diwajibkan untuk bekerja. Budaya perkawinan Korea menghormati kesetiaan. Para janda, walaupun suaminya sudah meninggal di usia muda, tidak diizinkan menikah lagi, dan harus mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tua dari suaminya, begitu juga sebaliknya jika istri yang meninggal lebih dulu.” (viegagaby.wordpress.com).
Kita bisa mencari sinopsis aneka film dan drama korea (drakor) melalui mesin pencarian google tapi tentu saja akan lain rasanya dibanding dengan menontonnya sendiri. Dengan alasan itulah, tulisan ini hanya membahas beberapa drakor yang sudah pernah kutonton sendiri. Aku bahkan menontonnya lebih dari 1 kali. Dari beberapa yang kutonton, secara umum aku menemukan dalam drama Korea terdapat nilai budaya berupa sikap dan pengungkapan rasa cinta seseorang kepada anggota keluarga lainnya – bisa orang tua, saudara, kakek atau nenek, dan anggota keluarga lainnya. Secara spesifiknya lagi, aku akan membahas cinta anak perempuan kepada ayahnya yang terdapat dalam film Korea, baik itu sebagai hal yang mendominasi maupun hal selintasan saja karena kisah cinta anak perempuan kepada ayahnya adalah kisah teristimewa yang pernah ada di jagat raya.
Berikut adalah 3 drama Korea terbaik yang memuat kisah cinta anak perempuan kepada ayahnya – yang pernah kutonton (urutan tidak mempengaruhi):



1. 49 Days.
Drama ini termasuk dalam kategori drama fantasi Korea Selatan yang awalnya disiarkan oleh SBS pada 2011 berjumlah 20 episode. 49 Days sebenarnya berkisah tentang cinta sejati yang sangat luas. Tokoh perempuan Ji Hyun sedang koma di RS yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan mobil. Selama ia koma, rohnya meninggalkan tubuhnya dan bertemu malaikat. Ji Hyun dapat berkomunikasi kembali ke kehidupan nyata dengan meminjam tubuh orang lain, yaitu Song Yi-Kyeong. Ji Hyun bisa hidup kembali kalau selama 49 hari (ini ada dalam bagian kepercayaan Budha) ia bisa mendapatkan 3 tetes airmata masing-masing dari orang yang mencintainya (di luar anggota keluarganya). Selama proses pencarian 3 tetes air mata itulah banyak kebenaran terungkap di mata Ji Hyun yang selama ini menjalani hari dengan kepolosan dan keceriaan sebagai anak tunggal seorang pengusaha kaya. Saat koma, Ia baru mengetahui bahwa tunangannya menipunya, begitu juga sahabatnya. Kemudian ia juga mengetahui ada lelaki lain yang lebih mencintainya dan sebenarnya juga lebih ia cintai daripada tunangannya. Keinginan Ji Hyun untuk bisa hidup semata-mata karena ia ingin menyelamatkan keluarganya, khususnya ayahnya. Ayahnya telah ditipu oleh tunangannya sendiri. Di sinilah muncul sisi kecintaan seorang anak perempuan pada ayahnya ditonjolkan. Bagaimana kita mengungkapkan cinta kepada orang yang kita cintai dengan meminjam tubuh orang lain (yang di akhir cerita terungkap sebagai saudara kandungnya yang dulu hilang), inilah konflik batin drama 49 days. Beberapa adegan mengharukan yang melibatkan Ji Hyun dengan ayah menguras airmata.

   2. Prime Minister and I

Drama ini termasuk dalam kategori drama komedi romantis berjumlah 17 episode. Tokoh utamanya adalah Nam Da –jung (Yoona), seorang jurnalis yang menulis pada sebuah tabloid untuk mengobati ayahnya yang sedang sakit. Perjuangannya membuat ia harus menjalani pernikahan kontrak dengan seorang perdana mentri – duda dengan 3 anak. Sebagaimana kisah drama romantic, sudah bisa ditebak jika nantinya Nam Da-jung dan perdana mentri akan saling jatuh cinta beneran. Yang mengharukan adalah Nam Da-jung merahasiakan semua itu pada ayahnya. Ia sedang berjuang mengobati ayahnya. Ia pikir, ayah tidak boleh tahu segalanya yang telah ia lakukan. Sementara itu, Ayahnya sedang berjuang melawan penyakit yang lambat laun akan melumpuhkan ingatannya. Ayah memahami dengan baik apa yang sedang ia derita. Selama dirawat, ayah menulis di buku harian. Yang ia tulis pernah dibaca oleh Nam Da, ia pun menangis tersedu ketika membaca diary ayah. Ayah menulis nama Nam dan tanggal lahirnya, ayah tahu suatu saat ia akan lupa segalanya termasuk siapa dirinya dan Nam. Ia tidak ingin kehilangan memori tentang anak gadisnya yaitu Nam Da. Adegan mengharukan ketika Nam menikah meski hanya pura-pura dengan Perdana Mentri. Akan tetapi, kebaikan hati Nam membuat Perdana Mentri pun memperlakukan ayah sebagaimana mertua sebenarnya. Ayah hampir saja percaya selamanya bahwa pernikahan mereka asli jika saja ia tidak membaca diary Nam. Betapa penting membuat ayah selalu bahagia ditunjukkan oleh Nam dalam drama ini. Betapa hancur hati ayah ketika tahu pernikahan Nam bukan sesungguhnya, akan tetapi sesaat kemudian penyakit ayah semakin parah. Ayah mulai kehilangan memorinya. Nam pun harus merelakan kepergian ayah untuk selamanya.

   3. Will it Snow for Christmas
 

Ini termasuk drama romans berjumlah 16 episode, tayang pertama kali oleh SBS 2 Des 2009 – 28 Jan 2010. Film ini juga bercerita tentang cinta sejati. Kang Jin dan Ji won, sepasang remaja yang awalnya tidak ada hubungan apa-apa menjadi saling tertarik satu sama lain. Akan tetapi sebuah tragedy membuat cinta keduanya selalu diuji sepanjang masa. Kang Jin kehilangan liontin berharga dari ayahnya. Liontin itu hilang di sungai dalam sebuah perseteruan. Secara tidak langsung penyebabnya adalah Ji won. Ji Won merasa bersalah dan kasihan. Setiap hari ia menyelam mencari liontin sampai kakaknya turun tangan membantu. Malang, kakak Ji Won tewas tenggelam dalam pencarian liontin. Ibunya marah dan memaki-maki Ji Won. Ji Won pun membenci Kang Jin. Pada akhirnya nanti mereka berdua disatukan kembali. Akan tetapi dalam proses tersebut, Ji Won pergi meninggalkan rumah karena tidak tahan atas perlakuan ibunya yang selalu menyalahkannya atas kematian sang kakak. Ayahlah yang melindungi Ji Won. Ketika harus pergi, Ji Won sangat sedih karena harus meninggalkan ayah yang mencintai dan dicintainya. Ji Won tidak terlalu dicintai ibunya sendiri.
Selanjutnya, Ji Won meneruskan bakat ayahnya dalam pengobatan tradisional. Meski waktu kecil Ji Won tidak terlalu pintar, ternyata ia dapat mewarisi bakat ayah meski untuk itu ia harus bekerja dan belajar lebih keras.  Adegan mengharukan adalah ketika mereka bertemu kembali dan saat itu Ji Won harus menghadapi dilemma antara cinta ayah dan Kang Jin. Ibu Kang Jin ternyata adalah selingkuhan ayahnya.  
Demikian 3 Drama Korea terbaik yang memuat kisah cinta anak gadis kepada ayahnya. Melalui drakor tersebut kita bisa melihat bagimana rasa cinta sejati yang diberikan oleh anak kepada ayah yang bahkan kadang harus mengalahkan cintanya kepada sang kekasih pujaan hati. Semoga bermanfaat dan menginspirasi! [Nai]

Kamis, 28 Desember 2017

Arti Piagam dan Piala bagi Anak

12.21 9 Comments

doc pribadi
Setiap piagam, sertifikat, piala, tentu punya arti yang berbeda bagi semua orang  meski pada umumnya sama-sama menyuratkan prestasi-prestasi yang layak dibanggakan oleh pemiliknya. Terlebih jika yang mendapatkannya seorang anak, maka orang tuanyalah yang paling berbangga hati.

Piagam dan Piala Perspektif Keluargaku 
Bagi kami sendiri, benda-benda tersebut selalu membawa cerita unik di sebaliknya. Tentang gigihnya perjuangan, pentingnya giat latihan serta yang lebih penting adalah tetap sportif apapun yang terjadi. Menang tidak sombong, kalah jangan patah. Coba lagi. Itu yang kutanamkan pada anak-anak.
Menanamkan sportivitas pada anak bukan pekerjaan yang gampang. Aku masih ingat ketika anak sulung dan anak keduaku mengikuti beberapa cabang lomba mewakili sekolahnya bersama beberapa temannya. Artinya, selain bersaing dengan orang lain, mereka juga bersaing dengan teman-temannya sendiri. Dan alangkah menyakitkan ternyata, ketika kemenangan diraih oleh teman yang satu sekolah denganmu. Lebih menyakitkan daripada ketika kemenangan diraih okeh utusan sekolah lain. Beragam cara kulakukan untuk menghibur mereka, termasuk menasihati agar tetap sportif, misalnya dengan memberi ucapan selamat pada teman yang menang.
Yang susah itu kalau standar penilaian juri tidak sama dengan konsep yang ada di kepala kita. Namanya lomba, pasti ada menang ada kalah, pasti ada unsure subjektivitas sedikit banyaknya. Ini pernah terjadi ketika anak-anakku ikut lomba puisi dan melukis (bisa jadi aku salah menyikapinya saat itu). Temanya keragaman budaya. Kupikir pastilah konsepnya tentang bagaimana kita berbeda tapi tetap satu. Anakku yang ikut lomba puisi menulis puisi tentang persahabatannya bersama teman beda suku. Sementara anakku yang ikut lomba melukis cerita bergambar memilih melukis kisah Ben Ten yang keliling Indonesia, ke beberapa pulau dengan ciri khas daerah masing-masing (ia sudah melatihnya di tempat kursus). Dari gaya dan teknik anakku melukis, aku yakin dia menang. Paling tidak dapat nomor 3. Ternyata kami keliru. Anakku tidak menang sama sekali. Yang menang justru yang teknik melukisnya masih jauh dari anakku. Tidak berkarakter sama sekali. Aku terbelalak. Sepertinya kami salah konsep. Yang menang adalah yang mengangkat satu saja sisi lokalitas daerah kami. Ya, tidak salah lagi, yang menang rata-rata yang melukis pasar terapung! Itu juga terjadi pada anakku yang ikut cabang puisi. Kalian mau tahu apa yang kuucapkan pada anak-anakku? Kalian kalah bukan karena jelek. Kalian kalah bukan karena kurang latihan. Kalian kalah karena konsep jurinya tidak sama dengan kita. Gambarmu bagus, puisimu bagus. Mari kita rayakan dengan makan-makan (kaya iklan). Meski luka, kuajari anakku menegakkan kepala di depan temannya yang menang. “Beri selamat pada temanmu.” Bahkan kuambil fotonya bersama temantemannya.
Sepanjang jalan aku tahu persis bagaimana kecewanya mereka. Besoknya, kusuruh anakku melukis sebagus mungkin. Kubantu ia membereskan puing-puing hatinya. “Perhatikan, Mama. Gambarmu akan mama kirim ke majalah. Mama akan buktikan gambarmu bagus dan akan lebih berharga di media nasional sana.”

Aku melonjak kegirangan, ketika suatu hari ada sebuah paket dari majalah anak. Paket berisi boneka yang berarti lukisan anakku dimuat! Aku menangis lega. Bagaimana tidak, aku sedang bertaruh dengan ucapanku sendiri. Aku sedang bertaruh dengan harga diri dan kepercayaan anakku. Halaman majalah yang memuat lukisannya kami beri pigura, kami pajang di dinding rumah.
Di lain kesempatan, anakku ikut lomba lagi (tidak kapok). Waktu itu dia pulang membawa piala tapi kok wajahnya tidak ceria. “Kenapa? Kan dapat piala?”
“Ambil saja mama pialanya. Aku kalah kok. Ini piala bohongan, Cuma buat menghibur hati. Semua peserta dapat piala”
Aku tertegun. Bukan piala yang membuat mereka senang. Mereka sudah paham arti kekalahan.
Lama-lama anakku kapok jua ikut lomba. Malas katanya.
***
Sejak kakak-kakaknya malas lomba, si kembar juga tidak pernah kuikutkan lomba. Terus terang aku trauma. Lalu hari itu, TK-nya bekerja sama dengan sebuah rumah makan mengadakan lomba mewarna. Semua anak ikut. Kubilang kita hepi-hepi saja. Seru-seruan. Ternyata kekalahan itupun membuat mereka mengomel sepanjang masa dan bertekad tidak mau ikut lomba lagi hingga takdir berkata lain. Itu terjadi ketika mereka sudah SD.
Inilah cerita keramat itu, jeng-jeng…
“Ma, aku dipaksa guru ikut lomba mewarnai kaligrafi mewakili kelasku. Aku padahal tidak mau” kata kembar 1 sebel.
“Lhaa, kan bagus ikut lomba”
“Malas ah, Ma!”
“Kamu harusnya senang dan bersyukur.” Gumam kembar 2.
“Senang apanya?” Kata kembar 1
“Padahal… aku pengen lho..ikut lomba mewarnai kaligrafi,” gumam kembar 2.
“Lho, kenapa gak bilang ke guru kalau kamu mau ikut?”
“Kan dipilih, Maaa. Aku gak dipilih. Yang dipilih dia” sahutnya sedih.
“Jangan sedih, aku juga gak mau ikut kok!” teriak kembar 1.
Sampai bagian ini aku mulai mengendus sesuatu. Astaga, aku memahaminya sekarang. Kembar 2 sedang sakit hati karena kalah dengan kembarannya sendiri dan kembar 1 tidak mau ikut lomba karena toleransi dengan hati kembar 2. Kalah dari kembaranmu sendiri? Ow, aku memang belum pernah merasakannya. Membayangkannya saja hatiku terasa ditusuk-tusuk duri. Ini harus diselesaikan dengan baik. Tidak boleh ada yang merasa tersakiti tapi setiap anak punya hak untuk maju dan berkembang. Aku memutar otak.
“Ah, mama ada ide. Kamu gantikan dia ikut lomba. Gurumu mana tahu, muka kalian kan mirip”
“Mama, baju kami kan pakai nama?!” seru keduanya.
“Gampang, tuker aja bajunya”
“Mama pikir kami bisa menukar suara dan tahi lalat?” mereka berebut protes menyebut ciri khas masing-masing.
Aku tertawa sambil menutup mulut.
“Lagipula, Ma. Dia terpilih karena memang warnaannya dia lebih bagus daripada aku” ucap kembar 2.
Aku tersentak. That’s the point! Horayy. We did it.
“Bagaimana guru bisa tahu warnaan siapa yang lebih bagus?” tanyaku.
“Kami semua diminta mewarnai lembaran kaligrafi, dikumpul, lalu dipilih yang terbagus” cerita mereka.
“Ooow begitu.” Aku mengangguk-angguk.
“Makanya tadi kubilang harusnya senang dan bersyukur” kata kembar 2.
“Iyaa yaa… Kalau begitu, tugasmu memberi semangat untuknya. Boleh kan saat lomba diberi semangat?”
“Iya..mama benar. Ayo, kamu ikut lomba, aku akan memberi semangat pas kamu lomba nanti” kembar 2 berkata antusias.
Melihat keceriaan kembar 2, kembar 1 berangsur-angsur tersenyum. Baiklah, aku akan ikut lomba besok”
Penasaran dengan hasilnya? Ya, piagam itu jawabannya. Semula kembar 1 ragu dan takut melihat piagam itu. “Aku sebenarnya tidak ingin menang. Aku mewarnanya tidak bagus kok. Aku tidak mau juga piagam ini” aku menatap mata beningnya. Toleransi yang sangat tinggi, Nak.
“Beri bingkai Ma, piagam ini!” kata kembar 2. “Ini kenanganmu lho!” katanya semangat. Aku tahu, itu bukan kalimat basa-basi. Aku tahu dia tulus.
Kembar 1 tersenyum senang. “Tidak usah dipajang. Simpan saja baik baik, Ma”
Tentu aku akan menyimpannya baik-baik. Insya Allah. Piagam itu saksi keberhasilan kembar 1. Eits, bukan. Piagam itu adalah saksi kemenangan mereka berdua karena berhasil melewati satu fase yang nyaris merusak hubungan mereka sebagai saudara dan nyaris menghalangi kemajuan satu sama lain. Kalau boleh aku narsis sedikit…hiks..aku ingin pula mengklaim piagam itu adalah saksi cintaku pada mereka berdua. Boleh kan yaaa? []

Senin, 11 Desember 2017

Selamat Jalan Luka, Selamat Datang 2018

13.26 29 Comments

Selamat Jalan Luka, Selamat Datang 2018
(Resolusi 2018 Nailiya Nikmah JKF)


Aku bukan tipe orang yang suka merayakan sesuatu berlebihan, termasuk tahun baru. Bagiku, tahun baru lebih dari sekadar sebuah perayaan atau pesta. Tahun baru kujadikan sebuah momen untuk menyetting perubahan diri ke arah yang lebih baik. Bukankah terkadang orang memerlukan momen tertentu sebagai pemicu upgrade diri? Kebetulan aku lahir bulan Desember, pas sekali momen tahun baru Masehi sekaligus momen “tahun baru” ku secara pribadi.
Biasanya aku membuat daftar “ini-itu” alias daftar perencanaan untuk tahun mendatang. Aku menuliskannya di buku Diary. Kadang beberapa kutuliskan di kertas yang kutempel di dinding kamar. Kadang, ada juga sebagian kecil yang hanya kucatatkan di langit-langit kamar, di angan-angan dan khayalku (yang ini biasanya sifatnya rahasia).
Sebelum menulis resolusi untuk tahun baru, biasanya juga aku kilas balik tahun yang sudah dijalani. Hal apa yang sudah dicapai, hal apa yang belum. Termasuk hal-hal yang mengganggu otak dan hati, jangan sampai mengganggu kewarasan diri di tahun berikutnya (hehe).

2017 dalam Kenangan
2017 nyaris sama dengan tahun sebelumnya jika saja aku tidak mempunyai anak-anak yang special. Keempat anakku sama spesialnya. Pada 2017, si kembar bermasalah dengan sekolahnya. Kami bahkan sampai harus memindahkan mereka ke sekolah yang lain. Sementara itu, para kakak baru saja memasuki dunia ABG. Dunia kupu-kupu kertas menurut Ebiet G. Ade. ABG kami yang perempuan sedang asyik dengan K-Pop, yang laki-laki sedang asyik dengan kegiatan naik gunung. Keduanya mulai tertarik dengan lawan jenis. Mereka pun sudah mulai suka membantah, melawan dan menolak aturan kami. Sebagai ibu yang merangkap wanita karier, semua persoalan itu cukup membuat hatiku was-was.

2017 adalah tahun kami sekeluarga melek dokter dan rumah sakit. Diawali dengan ayahku yang mendapat serangan stroke yang kedua (serangan pertama tidak kami sadari). Ayah yang selama sakit tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit, akhirnya pasrah kami bawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Tepat setelah kami sholat Idul Adha, 5 September 2017, kami sekeluarga (:keluarga besar) membawa ayah ke rumah sakit. Di ruang IGD, kami bahkan berkali-kali ditegur satpam karena kelebihan penjaga. Banyak sekali pelajaran dan hikmah selama ayah sakit. Ayah nyaris terlambat ditangani. Ayah salah minum obat, ayah kena dampak buruk beli obat sembarangan. Ayah kena stroke dua kali! Bukan sakit biasa. Ayah juga kena gangguan ginjal, untung tidak sampai harus cuci darah. Ayah kehilangan memorinya, demensia istilahnya. 14 hari opname, pulang ke rumah 5 hari, balik lagi opname seminggu. Aku berburu buku dan referensi tentang stroke, ternganga-nganga membaca, kadang sambil berderai airmata. Bagaimana aku bisa setolol ini selama ini – gumamku setiap habis satu bacaan. Kami seperti baru ngeh dengan dunia kedokteran dan medis. Intinya, kami melek dokter dan rumah sakit. Aku yang sebelumnya sudah bye-bye dan menyatakan loe-gue end dengan dokter, kembali mencoba menjalin hubungan baik (apa coba).

Belum selesai mengurus ayah, salah satu anak adikku mendapat sakit yang tidak sepele yang membuatnya harus opname juga di rumah sakit yang lain. Kami seperti pontang-panting menghadapi serangan penyakit. Belum lama ke-shock-an kami, anakku yang bungsu bermasalah dengan telinga. Singkat cerita, ia harus operasi pemasangan grommet. Apa itu grommet? Bius total? Oh, aku seperti tersesat di dunia entah. Nanti akan kuceritakan di kesempatan lain. Kata dokter, anakku sering pilek karena alergi. Aku harus menjaganya dari debu, rumah harus dipel setiap hari. Makanan juga harus dijaga. Harusnya aku memasak sendiri makanan untuk anakku. Oh, ini kelemahanku.

2017 bagi karierku: aku mumet urusan jurnal. Cemas tunjangan akan dipotong. Sama saja dengan yang dikeluhkan orang lain. Kadang aku juga merasa berada di tempat yang kurang tepat. Bagi dunia tulis-menulisku, aku merasa tidak banyak kemajuan. Belum bisa membuang luka akibat novelku yang diplagiat orang. Aku juga belum bisa menerbitkan kumpulan puisi seperti yang kutargetkan sebelumnya. Draft novelku belum tergarap juga. Banyak lomba dan acara sastra yang terlewatkan. selain itu semua, ada satu lagi yang menggangguku di 2017. Aku bosan dengan warna lipstikku dan sepertinya aku akan menggantinya.

Resolusi 2018
Nah, karena aku termasuk makhluk multidimensi, di 2018 ini resolusiku kubagi beberapa kelompok:

Dalam Kehidupan Rumah Tangga, aku ingin
  1.  Meningkatkan ibadah kepada Tuhan YME sesuai agama yang kuanut: merutinkan lagi salat Tahajud, salat Dhuha, dan salat sunah lainnya; meningkatkan kepedulian terhadap perkembangan dan hal-hal yang menimpa umat secara global; mengaktifkan lagi One Day One Juz.
  2. Meneruskan pengobatan dan terapi sesuai saran dokter untuk anakku dan ayahku.
  3.  Meneruskan perawatan gigi anak-anakku biar giginya rapi dan sehat (jangan kayak mamanya yang telat merawat gigi,hehe).
  4.  Mencarikan halaqoh untuk anak gadisku.
  5. Mencarikan sekolah menengah atas yang bagus untuk anakku.
  6. Belajar memasak makanan yang sehat. Entah bagaimana memulainya. Aku rasa, harusnya dimulai dengan merenovasi dapur agar dapur lebih cantik (biar semangat masaknya). Aku inginnya dapurku bergaya ala-ala shabby atau kalau tidak, ya..yang simple (dengan tempelan kata motivasi di salah satu dinding dapur).
  7.  Membeli vacuum cleaner agar membantu meringankan pekerjaanku mengusir debu dari rumah yang membuat alergi anakku kambuh. Rumah harus bersih setiap hari, setiap saat. Kalau massih ada budget, pengen juga memperbaharui karpet di ruang tengah yang sudah mulai robek.
  8.  Menata ulang kamar anakku yang kembar agar lebih gampang dipel dan dibersihkan setiap hari. Perabot yang tidak perlu pun disingkirkan. Ini terkait dengan agenda mengepel karena mengepel adalah agenda wajib tiap hari. Hidup mengepel!
  9.  Membeli timbangan berat badan untuk mengontrol berat badan seluruh anggota keluarga (terutama aku yang mulai ditanya orang “Berapa bulan?” – sangkanya aku hamil, efek perut membesar).
  10.  Mengurangi parfum karena anakku bisa saja alergi parfum.
  11.  Membongkar lemari pakaian, mengeluarkan yang harus dikeluarkan (agar bisa diizinkan suami beli yang baru, hehe).
  12.  Membelikan anakku tenda baru yang lebih kecil.
  13. Mencarikan tempat les untuk anak-anakku. Sepertinya ini sudah sangat urgen. (les umum dan agama).
  14.  Mencoba mesin jahit kecil yang sudah lama kubeli.
  15.  Memiliki jadwal keluar jalan-jalan dengan suami.
  16.  Menjalankan olah raga rutin tiap pekan/ syukur kalau bisa ikut kelas senam.
  17. Membeli lipstik baru.
  18. Mengulang kursus menyetir dan mengurus SIM A (menurut ayahku, aku harus mengulang!)

Dalam Pekerjaan/Karierku, aku ingin:
  1. Menulis 3 artikel ilmiah untuk 3 jurnal
  2.  Memperbaiki RPS sesuai buku terbaru dan mengacu profil lulusan
  3.  Menyusun perangkat pembelajaran baru
  4. Menyusun bahan ajar
  5. Mempelajari bahasa Inggris
  6. Mengajar di kampus lain agar ilmuku tidak stag.

Dalam Dunia Tulis-Menulisku (Sastra), aku ingin:
  1. Memaafkan kesalahan orang-orang yang telah melukai hatiku di dunia sastra (walaupun masih luka, tetap berkarya).
  2. Membeli beberapa buku sastra.
  3. Menyunting puisi-puisi di laptop, mencari dan menghubungi editor, proses menerbitkan kumpulan puisiku.
  4. Menulis esai untuk dikirim ke media.
  5.  Membenahi rumah mayaku- Tatirah, mendisiplinkan diri kembali untuk mengisi Tatirah dengan tulisan berkualitas tinggi agar tidak memalukan menjadi member of Female Banjarmasin Blogger (FBB).
  6. Menyeriusi draft novel. Harus serius. H-A-R-U-S.
  7. Mencoba menulis di Wattpad. (ini ikut-ikutan anakku saja sebenarnya).


Nah, demikian resolusiku. Adakah yang sama dengan resolusimu? Jangan-jangan kita bisa kerja bareng? Yuuk… hubungi aku ya! [Nai].

Selasa, 15 Agustus 2017

Jika Nafasmu Masih Puisi (oleh Nailiya Nikmah)

10.59 0 Comments


Jika Nafasmu Masih Puisi
(Nailiya Nikmah)

Jika nafasmu masih puisi
pinjami aku sebait kenangan
agar masih bisa
menengok pantai sandiwaramu
Berjalan dengan kaki telanjang
Bersuka cita meraup desau angin

Senja berkali-kali mengirimi aku kabar buruk
menjelma gema dalam sunyi
Ombak menjadi wajahmu
yang tak pandai menjaga setia
Umpama bayang-bayang tertimpa cahaya

Tidak apa jika aku benar-benar sendiri
Tak perlu sakit hati pada pinus yang tak henti
berbisik tentang pecundang sejati
Permainan baru saja dimulai
Akan tiba masa kita tak lagi bisa
memilih lakon sesuka hati
Bintang laut atau kunang-kunang
semua terlihat sama

Jangan lagi berharap pada sekawanan hujan
Karena derainya kini racun

Bjm, Juli 2017