Sabtu, 12 Mei 2018

Catatan Hari Terakhir

07.52 2 Comments
Catatan ini kutulis pada hari terakhir anakku di SMP-nya. Sebenarnya ini bukan tentang proses 3 tahun saja melainkan perjalanan panjang pendidikan dasar anakku sejak bangku SD. Tulisan ini semacam upaya menyimpan kenangan saja sehingga jangan dibaca dengan sudut pandang rumit dan kening berkerut. Ini cuma catatan seorang emak pada hari terakhir anaknya bersekolah di SMPIT Nurul Fikri Banjarmasin.

3 Tahun yang Lalu
“Yang sekolah aku atau Mama sih?”
Aku tidak akan lupa kalimat andalan yang keluar dari mulut anakku saat itu. Kalimat itulah yang membungkam mulutku sehingga tidak lagi mampu mengeluarkan segala macam bantahan. Akupun teringat saat aku seusianya, rasanya aku tidak seberani dia memutuskan sendiri ingin sekolah apa.
“Baiklah, kau boleh memilih sekolah manapun sesukamu dengan satu syarat, sekolah tersebut menjamin kerudungmu aman dari segala gangguan dan ancaman.” Akhirnya hanya itu yang mampu kuucapkan.
Lalu betapa bersyukurnya aku pagi itu, hari terakhir pendaftaran SMPIT Nurul Fikri anakku memutuskan untuk mendaftar di sana, melanjutkan kembali masa belajarnya setelah sebelumnya SD juga di sana. Betapa bangganya aku, dia mengurus pendaftaran sendiri. Aku tinggal datang saat tes wawancara orangtua/wali murid.

3 Tahun yang Penuh Makna
                “Ma, berangkat...,” pamitnya. Setiap pagi aku melepasnya dengan doa sambil tak henti mengucap syukur melihat dia berangkat sekolah dengan kerudung rapi menjuntai khusyuk. Baju kurung sepaha, rok lebar, manset, ciput, celana panjang dalaman, kaos kaki, tas ransel yang ditaruh dalam kerudung lebar, semua tak pernah luput dari pandanganku. Meski kadang ada desir cemas di hatiku, akankah itu semua akan tetap menjadi identitasnya ketika kelak dia tidak lagi menjadi murid di sekolah yang sekarang? Aku tahu persis bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi seseorang dan betapa seseorang itu tergantung pada siapa ia berteman.
Tiga tahun ini, ah tidak, bahkan sejak SD aku telah berhutang banyak pada para guru alias ustadz dan ustadzah terkait konsistensinya menutup aurat. Hutang yang tidak akan pernah bisa aku lunasi sekalipun dengan seluruh materi yang kupunya.
Hari pertama orientasi sekolah, anakku pulang membawa cerita tentang pemeriksaan kelengkapan uniform sekolah. Lebih tepatnya pemeriksaan seragam muslimah. Setiap murid dipastikan mengenakan celana panjang sebagai bagian dalaman rok, memakai ciput untuk menjaga rambut, memakai manset tangan, dan memakai kaos kaki tentu saja. Kerudung ada standar ukuran (ketebalan dan panjang yang harus dipatuhi).
Aku ingat, suatu hari anakku pulang sambil menahan tangis. Aku langsung khawatir dan bertanya ada apa. Ternyata tanpa sengaja rambut panjangnya tergerai dari ikatannya dan ustadz yang mengetahui hal tersebut menegur dan mengatakan akan memotong rambutnya. Sejak hari itu dia sangat berhati-hati menjaga mahkotanya. Keren juga teguran ustadz.
Masa putih biru menjadi penanda beberapa perubahan anakku. Piring makan yang selalu licin tanpa sisa makanan, pengarsipan dokumen sekolah, pengelolaan perlengkapan sekolah, pengerjaan tugas sekolah semua dikerjakan secara mandiri.
Aku mencatat beberapa hal ini sebagai bagian prasastinya di Nurul Fikri: tahfidz, dhuha rutin, sabit, outbond, persami, ekskul panahan, ekskul korean, ekskul jurnalis/mading, mentoring, lomba puisi dan saritilawah, bimbingan konseling dsb. Pertemuan orang tua murid dan guru setiap bulannya turut pula mewarnai kenangan kami.
Sebelum dia mendapat haid, doa dan tata cara mandi wajib sudah menjadi capaian pembelajaran di tahun-tahun pertama SMPnya. Aku kira kecil kemungkinan sekolah umum akan menjadikan tata cara mandi wajib sebagai materi ujian praktik. 
Selain soal busana dan hijab, puasa sunnah juga menjadi bagian dari program sekolah yang patut diacungi jempol. Meski maafkan jika kadang-kadang aku sempat saja ngomel karena mata masih mengantuk tapi harus menyiapkan sahur. Eh, ujung-ujungnya malah aku ikut-ikutan puasa.
Selama SMP anakku menunjukkan satu hal yang sangat berlawanan denganku. Jika selama SMP nilai olah ragaku paling rendah dalam raport, dia sebaliknya, nilai olah raganya tinggi sekali. Ah, tapi itu hanya angka bukan? Aku nyaris tak terlalu peduli dengan taburan angka dalam raport. Apalagi urutan bernama rangking. Apalagi sampai membandingkannya dengan angka dalam raport anak lain. Wah, bukan aku banget. Meski jujur saja kadang-kadang jauh di kedalaman hatiku tentu saja aku ingin anakku meraih nilai yang tinggi. Bukan supaya aku bangga. Sama sekali bukan. Aku ingin dia bangga terhadap dirinya sendiri.
Suatu ketika aku dipanggil guru anakku. Katanya anakku kurang bagus progres hafalan Qurannya. Katakanlah dia ketinggalan dari beberapa temannya. Its ok. Aku tak berani menuntut banyak pada anakku. Hanya bisa menitipkan harapan dan mengirim doa.

Untuk para guru

Untuk para guru anakku aku mengucapkan salam hormat dan ucapan terima kasih setulus hati. 3 tahun kalian menanam, sepanjang masa kamilah yang akan memetik hasilnya. Usia SMP adalah masa peralihan yang susah susah asyik bagi orang tua, terutama ibu bekerja seperti aku. Terima kasih sudah menjadi teman baik anakku selama tiga tahun ini. Hanya Allah yang dapat mengganti semua jasamu dengan balasan yang terbaik. Maafkan segala kekurangan dan kekhilafan kami dan anak kami selama 3 tahun ini.
Oiya, selesai ujian akhir, anakku dan teman-temannya mendapat kesempatan magang di sekolahnya sendiri menjadi semacam guru atau kakak pendamping di jenjang sekolah yang lebih rendah.
Yang paling mengagumkan adalah capaian akhir sebelum anakku lulus. Kuanggap inilah bagian utama dalam portofolio SMPnya setelah unsur pendidikan islami. Yeay, apalagi kalau bukan menerbitkan buku kumpulan cerpen mereka!

Mungkin ada yang kepo. Dari tadi memuji saja. Memangnya sedang endorse ya si emak? Tidak. Ini bukan endorse, bukan pula iklan. Ini hanya catatan hati seorang emak yang lagi melow di akhir tahun ajaran sebab setelah ini terputus sudah ikatan kami dengan sekolah Islam yang satu ini. Adik-adiknya tidak ada yang bersekolah di sini. Karena ini bukan endorse, aku sampaikan saja sekolah ini bukannya tak punya kekurangan. Hanya saja, kritik dan saran sudah aku salurkan sesuai tempatnya. Pesanku: tidak ada sekolah yang sempurna. Jangan pernah mencari sekolah sempurna. Carilah sekolah yang cocok dengan jiwa dan fitrah anakmu. Carilah guru-guru yang mau menjadi sahabat anakmu dan yang mau menjadi rekan baikmu dalam mendidik anakmu.

3 jam lebih di hari terakhir.

Aku duduk di antara para wali murid yang lain. Menikmati sajian acara demi acara. Sesekali bertegur sapa dan saling bermaafan dengan para wali murid yang lain. Rasanya, inilah pertemuan dan kebersamaan kami yang terakhir. Setelah acara pengukuhan hari ini, aku akan jarang sekali ke sini. Sampai tiba acara menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Nurul Fikri aku berlinangan air mata. Indah dan mulia visi misi sekolah tersimpan dalam syairnya. Aku takkan bisa sendirian mewujudkan visi dam misi tsb



 “Mama ingin aku menjadi apa?” di penghujung musim dia dulu pernah bertanya padaku.
Sungguh, itu pertanyaan terberat yang pernah dia berikan kepadaku. Tidak, aku tidak punya jawaban jika yang dimaksud adalah tentang profesi, pekerjaan, jurusan sekolah dan sejenisnya. Aku terlanjur berdamai dengan hatiku terhadap hal-hal tersebut. Aku tidak ingin memaksakan dia dan adik-adiknya harus menjadi apa kelak. Aku sangat menghargai minat, bakat dan passion. Hanya saja, jika aku masih boleh meminta, aku ingin dia menjadi bagian dari penyeru kebaikan yang mengajak orang untuk berbuat baik dengan cara yang harum dan lembut sebagaimana kusematkan harapan itu pada namanya.



Selamat melepas masa SMP, anakku Nadiya Nisrina. Semoga menemukan sekolah lanjutan yang tepat untukmu. [] Nai.

Minggu, 15 April 2018

Bumi dan Kekuasaan Perempuan dalam Novel Aroma Karsa Karya Dee Lestari

10.25 8 Comments

Novelis cantik Dee Lestari (Dee) pada Maret 2018 kembali menerbitkan novel terbarunya melalui penerbit Bentang Pustaka yang diberi judul Aroma Karsa (AK). Dilihat dari jumlah halamannya (710 hlm) buku setebal hampir 4 cm tersebut tentu bukan termasuk kategori bahan bacaan ringan, setidaknya tidak bagi saya dan kelompok ibu-ibu sibuk. Saya tidak yakin kelompok ibu-ibu sibuk bisa menyelesaikannya dalam sekali baca. Saya membaca AK dalam tiga atau empat fase pembacaan. Saya harus pandai membagi waktu agar bisa menamatkan AK dengan terus berusaha menahan sense-nya setiap saya menutup halaman untuk kemudian membacanya di fase berikutnya. Fase terakhir, saya menyediakan waktu khusus alias begadang untuk menamatkannya.
Saya berusaha menyandera setiap adegan dalam AK dan menampung segala aroma yang dideskripsikan di dalamnya. Selama proses pembacaan tersebut saya tetiba merasa indera penciuman menjadi lebih sensitif, lebih peka. Sesekali saya menciumi, membaui sekitar termasuk kulit tangan sendiri,  seakan-akan saya adalah Jati Wesi atau Tanaya Suma, dua tokoh yag memiliki indera penciuman spesial dalam AK. Diksi yang dipilih Dee dalam bangunan 61 bab tersebut seakan membuat aneka aroma keluar dari novel dan mengajak pembaca menari-nari di antara aroma tersebut.
Halaman-halaman pembuka AK membuat saya membayangkan dua pengusaha perempuan terkenal yang fokus dalam bidang kosmetik dan ramuan tradisional (jamu) di Indonesia. Kemudian saya menimbang-nimbang mana di antara keduanya yang lebih mendekati gambaran dalam novel. Halaman berikutnya saya menyadarkan diri, ini novel. Novel adalah karya fiksi. Sampai kapanpun ia tidak akan menjadi nyata meski dibangun oleh banyak fakta dan data. Jadi, realistis sajalah bahwa yang ada dalam cerita tersebut fiktif.
Terhitung sejak hlm 25, saya merasa (harus) menjadi lebih peka terhadap diksi dan kalimat-kalimat  yang mendeskripsikan kerja indera penciuman. Diikuti halaman setelahnya, saya makin yakin tokoh dalam AK bukan tokoh biasa dalam hal penciuman.

“...Jati meraih baju gantinya yang terjemur di tembok. Pergerakan udara di sekitar mereka berdua mengantarkan bau amonia berbaur sampo aroma apel yang sudah dibiarkan semalaman di rambut... Kibasan udara kini mengantarkan jejak furaneol yang digeontori metanol ke hidungnya.” (Lestari, 2018:25).

Halaman-halaman selanjutnya menambah informasi bahwa Jati Wesi, tokoh utama lelaki dalam AK tidak sekadar mampu membaui aroma tatapi lebih dari itu, ia membuat formulasi, melakukan analisis, membuat sintesis dan simpulan terhadap aneka aroma tersebut.

“Menjelang hujan turun, segala wewangian akan tercium lebih tajam baginya. Tadi, wangi asiri dan sayatan rmput begitu pekat sampai-sampai hidungnya gatal. Yang bakal hadir bukan hujan biasa, demikia Jati menyimpulkan. Hidungnya mengendus kedatangan badai. Ingin jati menyampaikan itu kepada Nurdin, tapi entah harus memulai dari mana.” (hlm 31).


Setelah rampung membacanya, saya menemukan simpul-simpul yang menalikan beberapa kata kunci yaitu bumi (:alam), perempuan dan kekuasaan perempuan yang sangat khas dalam novel ini. Siapa yang mendominasi siapa atau apa, saling silang dalam alur kehendak para tokoh. Paradigma yang dipakai dalam memahami hal-hal tersirat dan tersurat akan sangat menentukan hal-hal yang selanjutnya bakal mengepung kita pasca membaca tuntas AK. Saya menemukan beberapa kata kunci yang menuntun saya pada sebuah paradigma. Selanjutnya, berdasar kata kunci yang saya temukan, saya menggunakan teori ekofeminisme untuk menganalisis AK.
Kajian ulang terhadap paradigma sains yang mendukung dominasi alam dan perempuan sekaligus adalah agenda awal feminis new age. Kajian tersebut menumbuhkan keyakinan bahwa dominasi terhadap perempuan berjalan sudah sangat  lama- bahkan sama tuanya dengan dominasi terhadap bumi (alam). Bumi-perempuan sama-sama menjadi objek eksploitasi. Ini dapat dibuktikan misalnya dari mitos atau legenda yang menyimbolkan bumi sebagai ibu (:perempuan). Kemudian gerakan spiritual feminis lebih khusus digerakkan oleh spiritualitas ekofeminisme yang mengintegrasikan kesadaran spiritual feminis dengan kesadaran ekologis. Ekofeminisme ditafsirkan sebagai gerakan spiritual (spiritual movement) oleh Starhawk – seorang tokoh spiritual ekofeminisme yang tergabung dalam konteks gerakan new age. Hal ini disebabkan oleh sudah tercakupnya transformasi nilai kultural dan ekologis di dalam penafsiran tersebut. Ia pula yang mempopulerkan kata kunci “spiritualitas ekofeminis” yang disandarkan pada bumi (earth-based) dan ekologi (ecology-based). Starhawk memberikan informasi tentang seputar kebangkitan gerakan feminisme yang melindungi kerusakan hutan dengan cara merangkul pohon yang akan di-bulldozer, seperti gerakan Chipko Andolan di India. Masih banyak lagi contoh gerakan spiritual ekofeminisme yang ramah dan sadar-ekologis seperti New Age, Moral Majority dan Happiness of Womanhood di AS (Sukidi, 2001).
Analisis ini sangat relevan dengan peringatan Hari Bumi sedunia yang dirayakan setiap 22 April.  Merayakan hari Bumi tentu tidak hanya dilakukan dengan kegiatan berupa seremonial saja, namun lebih ke peran serta aktif masyarakat sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam upaya pelestarian lingkungan. Di Indonesia, upaya-upaya penyelamatan lingkungan terutama disuarakan oleh para akktivis lingkungan dan masyarakat yang tinggal di area yang mengalami kerusakan alam parah akibat eksploitasi. Sebut saja area pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit, pertambangan intan, penambangan batu alam di pegunungan, penambangan pasir, penebangan hutan secara liar sampai penyempitan area sungai. Baru-baru ini, di provinsi saya tinggal, yaitu Kalimantan Selatan telah banyak masyarakat yang melakukan upaya #savemeratus dengan sangat serius dan mengundang perhatian banyak pihak. Dalam bidang sastra sendiri, ULM pernah mengadakan seminar prosiding bertema Ekologi Sastra (2015).
Dalam kajiannya terhadap beberapa puisi tentang kerusakan hutan di Kalimantan Selatan, Alfianti (2015) menyebutkan bahwa “Yang bertanggung jawab atas kerusakan hutan juga adalah mereka yang memiliki akses pada kekuasaan yang tak bisa dilawan begitu saja oleh masyarakat.” Aroma serupa dengan pernyataan ini dapat saya endus pula dalam AK.
Sementara itu, peran perempuan terkait teori kealaman oleh perempuan Indonesia dapat dilihat dari pelbagai lini kehidupan. Dalam bidang ekonomi misalnya, perempuan Indonesia di Kalimantan Selatan begitu lekat dengan sungai sebagai jalur mata pencaharian, kemudian sawah untuk pertanian, perkebunan, perikanan hingga pertambangan. Di pasar terapung, kita akan melihat setiap subuh para perempuanlah yang mengayuh ekonomi keluarga. Begitu juga di sawah, di kebun dan di area lainnya. Perempuan Indonesia sudah akrab dengan buminya dari masa ke masa.
Meskipun demikian, dalam hal lain, perempuan kerap dijadikan simbol bagi bumi dan unsur alam lainnya. Saya ambil satu contoh, intan sebagai hasil pendulangan sering disebut “galuh” oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Mereka percaya turun-temurun bahwa intan harus disebut “galuh” karena alasan tertentu yang berhubungan dengan tradisi. Galuh adalah panggilan atau sebutan untuk gadis atau perempuan Banjar. Ini kemudian memposisikan perempuan menjadi pihak yang dikuasai (:oleh laki-laki) sebagaimana alam yang dikuasai oleh manusia. Karren J warren dalam Maimunah (2013:233) menyatakan bahwa opresi patriarki terhadap alam dan perempuan disebabkan oleh pandangan bahwa alam/perempuan adalah sesuatu yang feminin, tidak berdaya dan pantas untuk dikuasai. Politik othering ini didasarkan pada cara berpikir maskulin bahwa alam = perempuan. Dari sisi linguistik sering ditemui unsur-unsur yang meng’alam’kan perempuan atau mem’feminin’kan perempuan, misalnya frase “pemerkosaan hutan” atau “penggarapan tanah”.
Salah satu pertanyaan saya dalam analisis sederhana ini adalah “Adakah penyimbolan perempuan terhadap alam (:bumi) dalam AK? Jika ada, bagaimanakah semua hal yang terkait dengannya direpresentasikan oleh Pengarang?

Bumi (:Alam) memberi banyak tapi kehendak manusia tak berujung
Begitu banyak yang diberikan oleh alam akan tetapi manusia selalu punya kehendak di atas kehendak. Selama lebih dari tiga generasi, keluarga Prayagung menghabiskan usia dalam perburuan sumber puspa karsa. Meski percikan kekuatannya sudah berhasil dimiliki, keluarga Prayagung tidak berhenti melakukan perburuan terhadap hal yang turun-temurun diwariskan melalui dua hal kontras, dongeng dan penelitian ilmiah.

Porsi pertama akan mengubah nasibmu
Porsi kedua akan mengubah nasib keturunanmu
Porsi ketiga akan mengubah dunia sebagaimana keinginanmu. (Lestari, 2018:9)

Bermula dari temuannya dalam kotak besi berupa lontar-lontar, tiga tube berisi cairan sari puspa karsa disertai selembar catatan lapuk berisi tiga pesan tersebut, Janirah memulai langkah menuju hal-hal besar dalam hidupnya. Janirah percaya ia bisa menjadi lebih daripada dirinya sebelumnya, seorang abdi keraton yang bersahaja. Janirah bukan saja pencuri benda pusaka melainkan pencuri nasib yang dengan tangannya sendiri hendak mengubah garis hidupnya. Kematian bahkan tidak mampu menghentikan ambisi Janirah. Janirah mewariskan kehendak terbesar sepanjang sejarah pesonanya kepada cucunya. Bumi telah memberi Janirah (:manusia) aneka biji, rempah, bunga, tanaman yang  menjadi bahan baku bisnis Kemara milik keluarga Prayagung beserta sari puspa karsa curian yang mengantarkan mereka menjadi pengusaha sukses dan terkenal seantero negeri. Janirah merupakan simbol yang mewakili manusia – penghuni bumi yang tercipta dalam bentuk sempurna.
Pada halaman 605 diceritakan tentang dunia lain yang tak kasat mata. Pandangan Ambrik mewakili orang Dwarapala terhadap dunia manusia cukup untuk mendeskripsikan seperti apa penghuni bumi bernama manusia. “... Kisah dunia manusia selalu bernada suram; manusia bergerak cepat dalam ragam kendaraan gaduh; jalanan keras panas menyengat telapak, rumah-rumah kotak bertumpang tindih, sesak oleh barang yang tak ia pahami; siang terasa lebih panjang karena tak terputusnya penerangan, tak mengenal sunyi; ladang subur sekaligus tempat bermain sempurna bagi sanghyang Batari Karsa. Terlalu banyak orang muram, tegang, lelah, saling tak tegur sapa, jumlahnya banyak tapi seperti terasing satu sama lain. Di dunia semacam itu, cukup satu percik untuk Sanghyang Batari Karsa memuaskan laparnya.” (Lestari, 2018:605).
Selain Dwarapala, AK mengisahkan Alas Kalingga, sebuah hutan yang tidak biasa. Yang dijaga oleh para Banaspati, yaitu anak hutan. Kisah penjagaan Alas Kalingga ini patut ditiru oleh manusia dalam kehidupan nyata sebagai bentuk kepedulian terhadap bumi. Sebagaimana selama ini yang diperlihatkan oleh juru kunci pegunungan yang dapat memahami bahasa alam.

“...Mereka menyimpannya sebagai pengingat bahwa Bumi bisa dikendalikan dengan aroma. Bukan cuma pedang atau bubuk mesiu.” (Lestari, 2018:11).

Kutipan halaman 11 menggambarkan sebuah realitas tentang penguasaan dan pengendalian bumi (:alam). AK menyampaikan bahkan tidak perlu pedang dan bubuk mesiu untuk mengendalikan bumi. Cukup aroma. Terkesan mistis dan tidak ilmiah. Akan tetapi Dee mengantisipasinya secara kontras dengan menghadirka..n tokoh Raras yang menggunakan metode ilmiah dan ekspedisi serius untuk membuktikan keberadaan aroma tersebut.

Raras mendengar Puspa Karsa pada masa kecilnya, sekitar tahun 1960-an, saat Indonesia telah menjadi republik modern dan zaman kerajaan tinggal menjadi hantu arkais. Bertahun-tahun ia menelan cerita tentang Puspa Karsa tak lebih dari pengantar tidur layaknya Timun Mas dan Malin Kundang. ... semua asumsinya terjungkir pada momen ia membuka kotak besi di bank hari itu. Ia baru tersadar bahwa Eyang Putri tumbuh besar dalam lingkungan kerajaan, dan selama itu pula neneknya menyampaikan petunjuk terbalut dongeng.” (Lestari, 2018:11).

Selanjutnya, Raras menjadi pusaran perjuangan perwujudan ambisi yang diwariskan oleh Janirah. Janirah mengkader Raras sejak dini melalui dongeng masa kecil semacam Timun Mas dan Malin Kundang. Berbeda dengan anak lain seusianya, Raras mendapat tambahan “dongeng”, yaitu Puspa Karsa. Ketika waktu kematiannya telah tiba, Janirah tinggal meng-klik satu tombol dalam benak Raras untuk dalam sekejap mengubah dongeng menjadi warisan “kehendak”.

Puspa Karsa: Simbol Kekuasaan Perempuan
Secara keseluruhan, AK mengirimkan pesan tentang kekuasaan perempuan yang disimbolkan melalui Puspa Karsa. Terdapat beberapa unsur yang merepresentasikan hal tersebut. Inilah beberapa hal yang saya temukan dalam AK:

1. Keturunan laki-laki tidak bisa diandalkan
Janirah menikah dengan seorang keturunan keluarga ningrat Prayagung. Janirah dikaruniai anak laki-laki. Berikut gambaran anak lelaki Janirah yang disuarakan oleh tokoh Raras,

“... Romo ibarat kutukan. Romo tidak kebagian secuil pun keuletan Janirah Prayagung. Romo bertingkah persis ningrat-ningrat kebesaran nama, tapi tak berguna. Kerjanya Cuma makan harta turun-temurun. Romo senang membuat perusahaan baru dan macam-macam, sibuknya bukan main, tapi tak ada satupun yang jalan. Romo kebanyakan perempuan simpanan. Romo terlalu lama menghabiskan waktu di lapangan golf dan klub pria.” (Lestari, 2018:15).

Dengan deskripsi seperti itu, jelas anak kandung Janirah tidak dapat melanjutkan bisnis dan kekuasaan Janirah. Janirah menitis ke cucunya, yaitu Raras. Raras begitu sempurna menjadi replika Janirah. Ia bahkan lebih banyak melakukan gebrakan dibanding Janirah pada masanya.

2. Dominasi Raras terhadap banyak lelaki.
Raras sebagai tokoh perempuan dalam AK memiliki banyak kaki tangan maupun rekan kerja laki-laki. Dalam hidupnya, Raras selalu berhasil membuat para lelaki melakukan banyak hal sesuai dengan keinginannya. Ia bisa melakukan apapun untuk mencapai ambisinya mendapatkan sumber utama Puspa Karsa. Perusahaan Kemara hingga urusan ekspedisi Puspa Karsa memperlihatkan seluruh dominasi perempuan bernama Raras. Semua anggota tim ekspedisi pencarian Puspa Karsa adalah laki-laki yang punya ilmu, posisi dan keterampilan yang tidak main-main. Semuanya  berhasil dikuasai oleh Raras.

3. Empu Smarakandi
Jika di dunia manusia ada perempuan penguasa bernama Raras, maka di dunia dewa dalam AK Alas Kalingga memiliki perempuan hebat bergelar Empu Smarakandi. Selain kepemimpinannya, kepiawaian tokoh perempuan yang satu ini juga terlihat dalam urusan pengobatan hingga urusan asmara. Empu Smarakandi pula yang pertama kali menyadari puspa karsa telah menitis kepada Suma. Ia merupakan simbol perempuan bijak dan kuat dalam AK. Sebagaimana lazimnya kehidupan, selalu ada dua sisi berlawanan. Penokohan Empu Smarakandi menepis anggapan bahwa perempuan hanya memiliki potensi untuk mengacaukan dunia seperti yang dilakukan oleh Raras.

4. Ambrik: Istri sekaligus Ibu terbaik di Dwarapala
Sebagai perempuan yang telah dipilih oleh Batari Karsa sebagai wadak penitisan, Ambrik memahami betul tugas dan perannya serta konsekuensi apa yang harus ia lakukan sewaktu-waktu termasuk kepasrhannya terhadap ritual Girah Rudira. Sebuah ritual yang akan memisahkan ia dengan suami dan anaknya selama-lamanya. Untuk memahami perempuan pilihan bernama Ambrik, kita  bisa menyimak kutipan berikut:

“Di dalam gubuk, Ambrik tahu persis apa yang harus ia lakukan. Ia mengambil bedungan dari tangan Anung, lalu membaringkan bayi itu di dipan., bersisian dengan bayi dari dekapannya. Ambrik meminumkan air dari dalam kendi kecl kepada kedua bayi itu secara bergantian dengan telaten.” (Lestari, 2018:607)

“Sekarang atau nanti, sama saja.” Ambrik mengelus sekilas rambut suaminya. “Bantu aku.” (Lestari, 2018:608)


Kekuatan Puspa Karsa: Kekuasaan Perempuan

Puspa Karsa merupakan simbol kekuasaan dan kekuatan perempuan. Dalam AK fisik aslinya digambarkan sebagai  berikut:

“... organisme berbentuk bunga dengan ukuran sekepala manusia. Tanpa batang dan daun, bunga itu langsung tersambung ke akar. Fisiknya menyerupai anggrek yang memiliki tiga kelopak dan dua mahkota. Bagian kolomnya berbentuk sedemikian rupa hingga menyerupai rengkorak. Terjulur labelum panjang hingga ke lantai gua, bergerak-gerak seperti ular hidup. Warna dan teksturnya soperti daging busuk. ... yang lain tidak melihatnya seperti kita. Sanghyang Karsa sangat lihai membuat tipuan. Semua hewan jadi makanan bagi wujud bunganya tapi temanmu tadi dan semua penduduk Dwarapala, jika tertangkap, adalah makanan bagi rohnya. Kalau sanpai ia lepas dari wujud bunga pergi ke duniamu, beliau tidak akan habis-habis memangsa atma manuia.(Lestari,2018:646-647).

Sementara itu kekuatannya sendiri dimulai dari terbangunnya Sanghyang Batari Karsa dengan ditandai oleh bau atau aroma tajam yang sulit didefinisikan oleh indra biasa. Seiring dengan itu, Talinganbuana, semacam alarm yang dipasang Mahesa Guning akan berbunyi mengingatkan orang-orang Dwarapala akan ancaman terhadap Alas Kalingga. Ancaman terhadap dunia manusia pula. Seluruh makhluk berduyun-duyun menuju pusat aroma yang kemudian akan menjadi mangsa Puspa Karsa.
Seperti inilah efek aroma puspa karsa direpresentasikan melalui suara Lambang, salah satu tokoh AK yang menjadi bagian tim ekspedisi pencarian puspa Karsa:

“Aroma aneh di udara kian menyerang. Lambang tak tahan lagi. Ia beusaha menahan nafas dan malah semakin sesak. Anehnya bau tak lazim itu, yang bersabur limbur antara buah, bunga, kayu, rempah, daging, keringat, lendir kelamin dan entah apalagi. Terkadang begitu lezat hingga memancing liur dan membuat ia ingin menghirup sedalam mungkin. ... yang paling menggetarkan dari bau itu adalah kekuatannya. ... Lambang seperti dikuasai sesuatu dan tak berdaya mengambil alih. ... Di atas sana, di rumah-rumah pohon, pecahlah suara-suara tak terkendali. Laki-laki-perempuan. Jeritan melengking, tawa bengis, lolongan, geraman, racauan. Lambang menyaksikan kengerian baru. Rumah-rumah bergetar karena penghuninya menandak-nandak dan membetot-betot tali yang mengikat tangan dan kaki mereka.” (Lestari, 2018:644).

“Ambrik sudah diincar untuk penitisan. Kalau kalian kawin, punya anak, dan anak kalian perempuan, penitisan Sanghyang Batari Karsa akan bersambung ke anakmu, kecuali Girah Rudira dilakuan.” (Lestari, 2018:614).
Jika penitisan terjadi, maka kembangnya akan bertambah. Dunia pun semakin mudah berada di bawah kendalinya. Dee memilih perempuan sebagai perwujudan penguasa dalam AK. Dewi Puspa yang kemudian dikenal dengan Sanghyang Batari Karsa, menjelma dalam wujud bunga dan manusia perempuan, yang hanya akan menitis kepada perempuan pilihannya. Dialah yang dipanggil oleh Suma sebagai “Ibu”.

Epilog
Demikianlah, saya menemukan kekusaan perempuan dalam novel yang menyimpan pesan “Selamatkan lingkungan dari ambisi manusia” ini. Open ending yang dipilih Dee bagi saya memberikan peluang lebar bagi pemerhati ekofeminisme untuk mengkaji lebih dalam lagi. Manusia mestinya memahami betapa keserakahan dan ketidakarifan terhadap alam akan membuat celaka bagi dirinya sendiri. Semoga pembaca menangkap makna atas frase genderang perang yang dipilih Dee untuk menutup ceritanya. Akankah di dunia nyata bermunculan Banaspati-Banaspati yang dapat menjaga Hutan Meratus misalnya? Mari optimis. Mari melakukan sesuatu sebanyak yang bisa kita lakukan, sesuai peran kita di bumi ini. Selamat Hari Bumi.[] Nai

Referensi
Alfianti, Dewi. “Kerusakan Hutan sebagai Pengetahuan Bersama dalam Perspektif Sosiokognitif
Teun A. Van Dijk (Analisis Wacana Kritis Kumpulan Puisi Konser Kecemasan karya Penyair Kalimantan Selatan)” dalam Prosiding Ecology of Language and Literature, Seminar Proceedings Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Maret, 2015, 45-65.
Lestari, Dewi. 2018. Aroma Karsa. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nikmah, Nailiya. “Alam dan Femininitas dalam Kumpulan Puisi Mantra Rindu Karya Kalsum Belgis“ dalam
Prosiding Ecology of Language and Literature, Seminar Proceedings Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Maret, 2015, 185 -202.
Sukidi. 2001. “Spiritualitas Feminis dalam Gerakan New Age” dalam Jurnal Perempuan No.20 Tahun 2001,
7-21. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Collab Female of Blogger Banjarmasin Edisi April 2018 dengan tema “Hari Bumi” selanjutnya sedang dikaji ulang secara serius untuk sebuah karya tulis ilmiah di bidang sastra oleh penulis.


Selasa, 03 April 2018

Perawatan Wajah Praktis untuk Perempuan Bekerja

17.24 15 Comments
Wajah adalah aset berharga bagi perempuan. Tentu saja pernyataan ini harus dimaknai sesudah memahami bahwa akhlak atau karakterlah yang paling utama.

Sayangnya, tidak sedikit perempuan yang kurang peduli terhadap perawatan wajah dengan berbagai alasan. Memasuki usia 30-an biasanya perempuan baru mulai peduli dengan kesehatan wajahnya. Ini pun setelah berbagai masalah mulai muncul menghiasi wajahnya.

Setiap perempuan seharusnya melakukan perawatan wajah sesibuk apapun dirinya. Melakukan perawatan wajah bukan berarti harus mengeluarkan banyak biaya dengan membeli peralatan kosmetik mahal dan bermerk maupun pergi ke salon-salon ternama. Jika permasalahan kulit tidak terlalu serius kita bisa melakukan perawatan sendiri di rumah.

Lakukan perawatan yang memang benar-benar diperlukan oleh wajah saja. Yang penting adalah wajah harus bersih, tidak tertutup debu dan bekas kosmetik, serta tetap terjaga kelembabannya. Wajah yang bersih dan lembab cenderung bebas dari masalah yang berarti.

Bagaimana kalau tidak punya waktu alias sangat sibuk?
Sempatkan diri untuk melakukan perawatan minimal yang bertujuan menjaga kebersihan dan kelembaban sebab perawatan itulah yang paling penting bagi wajah.

Ada beberapa langkah praktis yang harus dilakukan untuk merawat wajah bagi perempuan sibuk. Anda dapat memilih produk yang sesuai dan cocok dengan jenis kulit. Dalam artikel ini, saya menggunakan contoh produk Wardah dan Viva.
Langkah tersebut yaitu:

1. Gunakan milk cleanser
Milk cleanser atau susu pembersih dari berbagai macam merk dengan berbagai variasi harga dapat kita jumpai di toko-toko kosmetik. Milk Cleanser berfungsi untuk membebaskan wajah dari kotoran baik dari debu maupun sisa make up. Cara memakainya tuang milk cleanser secukupnya, usapkan ke wajah secara perlahan dengan gerakan melawan arah bulu halus pada wajah. Angkat dengan kapas khusus wajah.
Milk cleanser dan face toner


2. Gunakan facial wash atau facial foam.
Facial wash atau facial foam berfungsi membersihkan wajah dengan penggunaan serupa penggunaan sabun pada umumnya. Pilih yang cocok dengan jenis kulit. Usap perlahan lalu bilas dengan air bersih. Gunakan terutama di pagi hari setelah bangun tidur.


3. Gunakan face toner
Face toner adalah rangkaian yang harus kamu pakai setelah menggunakan milk cleanser dan facial wash. Face toner berguna mengangkat sisa kotoran yang tidak terjangkau oleh susu pembersih dan sabun. Selain itu, face toner dapat menyegarkan dan meringkas pori-pori.

4. Gunakan air mawar bila perlu
Air mawar bisa diaplikasilan setelah memakai toner. Air mawar juga bisa dipakai sebagai campuran masker wajah. Wajah akan terasa lebih segar dan lembab sepanjang hari.

Air Mawar dan Face Toner

Sampai langkah ini, kita sudah melakukan upaya perawatan wajah praktis untuk rutinitas harian. Lakukan 2 kali sehari, di pagi hari sebelum kita mengaplikasikan make up dan malam hari sebelum tidur.

5. Gunakan pelembab wajah
Langkah ini sering kali diabaikan oleh perempuan bekerja karena merasa tidak penting dan tidak sempat. Padahal wajah sangat memerlukan pelembab agar tidak mengalami kekeringan yang membuat wajah lebih cepat mengalami penuaan. Tentu saja harus berhati-hati memilih pelembab. Pilih yang cocok dengan jenis kulit. Terutama bagi perempuan yang bekerja dalam ruangan ber-ac, pelembab sangat diperlukan. Sekarang pelembab pun sudah banyak yang mengandung SPF dan zat lain yang diperlukan oleh kulit. Bahkan sekarang banyak ditawarkan pelembab yang berfungsi memutihkan atau mencerahkan. Jangan sampai salah kaprah dalam hal ini. Salah memilih pelembab malah akan menimbulkan masalah bagi wajah.
Masker, Pelembab dan Bedak 


6. Gunakan bedak ketika hendak keluar
Setelah menggunakan pelembab kita bisa menggunakan bedak. Pilih warna dan jenis bedak yang cocok dan sesuai dengan kulit. Warna bedak yang terlalu terang justru akan membuat wajah kita menjadi lebih gelap dan pucat.

7. Gunakan masker secara rutin
Perawatan lain sebagai tambahan yaitu masker. Sekarang tersedia masker aneka jenis dan fungsi. Gunakan yang dibutuhkan oleh wajah. Jangan mudah tergiur dengan iklan yang mengklaim produknya dapat membuat kulit wajah kembali muda seperti kulit bayi misalnya. Teliti kandungan dan efek sampingnya jika ada.

8. Gunakan micellar water
Jika kita benar-benar kehabisan kesempatan untuk membersihkan wajah dengan beberapa langkah yang sudah disebutkan, gunakan produk micellar water. Micellar water diaplikasikan seperti kita menggunakan pembersih dan toner. Setelah kita tuang pada kapas secukupnya, usapkan pada wajah dan kotoran pun terangkat dari wajah. Tanpa perlu dibilas.


Demikian informasi dari saya. Semoga artikel ini bermanfaat. Selamat bekerja, para perempuan pekerja. Tetap semangat, tetap terawat. Jalani hidup dengan selalu bersabar dan bersyukur atas segala yang dititipkan oleh-Nya.
Di atas itu semua, hidup ini hanya sementara. Wajah cantik hanya titipan dan bisa jadi hanya ujian bagi kita.

Salam sayang.
Nai.

Belajar Tata Bahasa untuk Pemula

11.32 16 Comments
Ada baiknya kita mempelajari tata bahasa yang baik dan benar agar tulisan kita lebih bagus dan enak dibaca. Tulisan dengan tata bahasa yang baik dan benar akan membuat pembaca lebih mudah memahami makna dan informasi yang kita sampaikan dalam tulisan kita.

Belajar tata bahasa tentu tidak bisa sekali duduk dan sambil lewat saja. Apalagi sekadar iseng mengisi waktu luang. Mahasiswa jurusan bahasa yang kuliah bertahun-tahun pun belum tentu menguasai tata bahasa dengan baik dan benar jika ia tidak mengaplikasikan ilmu yang sudah ia peroleh. Artikel ini tidak bermaksud menggurui apalagi menghentikan minat dan langkah penulis pemula. Sebaliknya, artikel ini dimaksudkan untuk membantu para penulis agar bisa lebih baik lagi ketika menulis. Kadang-kadang, penulis yang sudah tinggi jam terbangnya pun belum tentu sempurna tata bahasanya. Untuk itulah editor atau peyunting ada, hehe.

Sebagai pendahuluan, berikut saya sampaikan beberapa hal yang membuat orang tidak mau mempelajari tata bahasa.

Tidak ada niat
Alasan pertama ini simpel saja. Sudah tidak bisa diganggu gugat. Kalau tidak ada keinginan belajar, ya mau bagaimana lagi. Hehe.

Anggapan yang keliru
Terdapat beberapa anggapan keliru yang membuat orang tidak mau mempelajari tata bahasa. Berikut beberapa anggapan keliru terkait mempelajari tata bahasa.

Tata bahasa adalah urusan editor/penyunting
Belajar tata bahasa susah
Belajar tata bahasa hanya untuk mahasiswa bahasa
Tata bahasa tidak penting, yang penting adalah konten dan ide
Tidak ada penulis yang sempurna, jadi wajar saja kalau tata bahasa saya salah. 

Rasa malas yang menumpuk
Rasa malas akan menjadi penghalang utama setiap kemajuan dalam bidang apapun, termasuk bidang tulis-menulis dalam hal mempelajari tata bahasa. Sebagai penulis, hendaknya kita membuang jauh-jauh rasa malas terutama malas mempelajari tata bahasa. Cara mengatasinya adalah dengan memberi sugesti kepada diri kita bahwa tulisan dengan ejaan yang baik dan benar akan lebih bagus dan efektif.

Merasa sudah hebat
Ini alasan yang paling merusak. Ketika orang sudah merasa hebat, jangan berharap dia mau belajar lagi apalagi sesuatu yang dianggapnya remeh. Merasa sudah paling bagus dalam menulis, merasa lebih hebat daripada yang lain dan merasa merasa lainnya.

Darimana memulai?

Setelah menyingkirkan semua alasan di atas, langkah berikutnya adalah memulai mempelajari tata bahasa. Apa yang seharusnya dilakukan?

Langkah Pertama
Langkah pertama adalah miliki dan pelajari bahan atau materi. Bahan untuk mempelajari tata bahasa cukup banyak. Saran saya, milikilah buku atau berkas (PDF) yang berisi aturan berbahasa yang berlaku. Sejak 2015, secara resmi ejaan yang berlaku di Indonesia adalah Ejaan Berbahasa Indonesia (EBI). Tentu saja saya tidak menyuruh menghafal EBI. Yang penting adalah mempelajari dan menerapkannya dalam tulisan kita.

Langkah Kedua
Sudah membuka EBI? Syok? Bingung? Pusing? Hehe. Itu biasa. Jangan buang bukumu. Kita mulai dari yang paling sederhana tapi paling banyak dipakai.

Penulisan di (kata depan) dan di- (awalan)
Sejak EYD diberlakukan, sudah diatur bahwa penulisan di dan di- berbeda.

Penulisan di (kata depan)
Penulisan di yang merupakan kata depan ditulis terpisah dari kata setelahnya. Kadang tidak gampang untuk mengingat perbedaan kata depan dan awalan. Untuk gampangnya, kamu cukup mengingat bahwa di yang menunjukkan tempat dipisah penulisannya.
Contoh:
Nailiya membeli buku di toko.
Mila tinggal di Amuntai.

Penulisan di- (awalan)
Penulisan di sebagai awalan ditandai oleh tanda - yang menunjukkan ada kata setelahnya yang masih serangkai sehingga penulisannya pun serangkai atau tidak dipisah.
Contoh: 
Sejak kecil dia dipisahkan dari saudaranya.
Karena marah, buku Sandra disembunyikannya.

Makna dan Ciri Satu Kalimat
Sebuah kalimat diawali oleh huruf kapital atau huruf besar dan diakhiri tanda titik (.) atau tanda seru (!) atau tanda tanya (?).
Dalam ragam resmi, satu kalimat tunggal minimal terdiri atas satu subjek (S) dan satu predikat (P).
Contoh:
Pamanku nelayan. 

Meski hanya terdiri dua kata, ini sudah bisa disebut sebagai sebuah kalimat.
Pamanku (subjek)
nelayan (predikat)

Penulisan Tanda Baca
Tanda baca ditulis atau diketik rapat tanpa spasi dengan huruf sebelumnya. Akan tetapi, berilah spasi satu ketuk setelahnya. Tidak ada kalimat yang diakhiri dengan tanda tanya dan tanda seru jika sudah diberi tanda titik.
Contoh:
Saya membeli kue bersama Mira . Ia tidak mau saya bayari. (salah)
Saya membeli kue bersama Mira. Ia tidak mau saya bayari. (benar)

Mengapa kita harus belajar?. (salah)
Mengapa kita harus belajar? (benar)

Ibu berkata “berilah adikmu buku tulis yang baru”. (salah)
Kalimat tersebut salah karena tidak ada tanda koma setelah kata berkata dan tanda titik diletakkan di luar tanda petik. Kesalahan lainnya terdapat pada huruf b pada kata berilah. Seharusnya huruf pertama petikan langsung adalah huruf kapital.

Ibu berkata, “Berilah adikmu buku tulis yang baru.” (benar)


Kesalahan penggunaan “di mana" dan "Yang mana"
di mana adalah salah satu kata tanya. Kata tanya hanya dipakai dalam kalimat tanya/pertanyaan. Jangan menggunakan di mana kalau kalimatmu bukan kalimat tanya/pertanyaan. 

Contoh penggunaan di mana yang benar:
Di mana kamu tinggal?

Contoh penggunaan di mana yang keliru:
Penggunaan alat ini sudah lama diketahui di mana semua orang memulainya sejak dua tahun terakhir.

Begitu juga dengan yang mana. Yang mana hanya boleh dipakai kalau kalimat kita merupakan kalimat pertanyaan yang bermaksud menanyakan sesuatu (pilihan).

Contoh penggunaan yang mana yang benar:
Yang mana buku pilihanmu?

Contoh penggunaan yang mana yang keliru:
Kemajuan teknologi sudah semakin pesat yang mana kita semakin terbantukan oleh berbagai temuan di bidang tersebut.



Bersambung


Rabu, 28 Maret 2018

7 Tips Agar Selalu Semangat Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

10.00 10 Comments

Tidak semua keluarga memiliki asisten rumah tangga di rumahnya. Pada umumnya, masyarakat menjadikan pekerjaan rumah tangga seakan-akan menjadi tanggung jawab dan beban istri atau ibu. Hal ini kadang terasa sangat menjengkelkan bagi sebagian wanita. Padahal, mengerjakan pekerjaan rumah tangga merupakan salah satu hal biasa yang akan membuat wanita bahagia seperti yang pernah diulas dalam artikel “7 Hal Biasa yang Membuat Wanita Bahagia.”
Hanya saja, sebagaimana iman, ia pun mengalami yang namanya turun-naik. Hari ini semangat senang suka ria besok bisa jadi tidak semangat.

Berikut 7 tips agar selalu semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga versi Tatirah.

Niat
Merasa malas dan gampang bete saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Coba cek niat. Dalam segala hal, niat adalah faktor penentu keberhasilan yang paling utama. Kalau tidak memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tentu saja tidak akan ada pekerjaan yang dikerjakan dengan baik. Niat-niat yang suci akan membuat diri lebih bersemangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Menyandarkan segala pekerjaan rumah tangga sebagai ibadah akan melapangkan hati saat bekerja dan pekerjaan pun akan teras lebih ringan.

Warna dan Aroma Kesukaan
Kurang semangat ketika mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Cek peralatan pendukung. Peralatan pendukung pekerjaan tidak perlu mahal dan lengkap. Belilah peralatan sederhana dan secukupnya dengan warna senada yang sesuai dengan warna favoritmu. Sapu ijuk bergagang pink atau ungu, pengki warna senada, serta pel lantai, tempat sabun, ember dan lain-lain dengan warna kesukaan. Warna-warna kesukaan akan mempengaruhi hati kita saat bekerja. Jika tidak terlalu fanatik dengan satu warna atau tidak punya warna favorit, pilih warna cerah yang dapat memberi efek semangat seperti merah tua, kuning atau orange.
Efek seperti pada warna berlaku pula pada bau. Aroma atau bau-bauan tidak asing lagi sebagai bagian dari terapi penyemangat. Jika tidak ada masalah alergi dengan salah seorang anggota keluarga, pakailah aroma atau bau-bauan dengan varian bau yang dapat memberikan efek segar dalam rumah misalnya aroma lemon, green tea, apel, citrus, amber, floral, lavender dll. Pemilihan aroma kesukaan ini dapat diterapkan pada pembersih lantai dan kloset, sabun cuci piring, deterjen, sabun mandi, sampo, atau pengharum ruangan.

Sedikit tapi rutin
Pekerjaan rumah tangga akan lebih baik dikerjakan sedikit demi sedikit dalam jangka waktu rutin dan teratur selama tidak ada gangguan berarti. Jika selama ini menyetrika seminggu sekali, itu artinya menumpuk setrikaan di akhir pekan. Sesekali cobalah menyelipkan jadwal menyetrika di  hari Rabu atau Kamis dan rasakan perbedaannya. Begitu pula dengan mengepel dan menyapu. Lakukan ini setiap hari ketika mengawali hari atau ketika mengakhiri hari. Begitu pula dengan mencuci piring dan peralatan masak. Lebih baik mencuci piring setiap selesai memakainya. Membiarkannya menumpuk hanya akan membuat kita frustasi.

Kerja Harmoni
Beruntung kita hidup di zaman now. Sudah banyak alat canggih yang dapat membantu meringankan pekerjaan rumah tangga menjadi lebih efektif dan efisien. Mesin cuci misalnya, kehadirannya membuat kita bisa mencuci pakaian sambil mencuci piring bahkan sambil memasak. Pada generasi terbaru, kita malah bisa mencuci sambil tidur. Catatan penting: peralatan yang dibeli harus sesuai anggaran ya! Jangan besar pasak daripada tiang. Oiya, yang dimaksud kerja harmoni di sini adalah mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Saat menggoreng ikan misalnya, daripada bengong memandangi muka ikan yang sedang proses menuju siap santap, lebih baik kita sambil mencuci peralatan kotor bekas membumbui ikan tadi. Daripada bosan menunggu lantai kering habis dipel sebelum digelari karpet, lebih baik menjemur pakaian yang sudah dicuci.

Daftar Prioritas
Ada kalanya kita mengalami hal-hal di luar kekuasaan atau di luar perencanaan kita. Tidak usah panik. Susunlah daftar prioritas. Kerjakan satu per satu dari yang paling penting untuk segera dilakukan. Dahulukan kepentingan anak-anak dan anggota keluarga lain yang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya sendiri (manula dan yang lagi sakit misalnya). Kerjakan pekerjaan rumah yang kalau tidak kita kerjakan bisa memrugikan dan membahayakan orang serumah (:membersihkan pecahan kaca, mengeringkan lantai yang basah, mengangkat jemuran ketika hujan, memberi minum obat pada anak, memasak, dan seterusnya).

Rapikan Peralatan
Ini sepertinya sepele tapi sangat penting. Ya, selalu merapikan peralatan yang sudah selesai dipakai dan meletakkannya di tempatnya akan sangat membantu ketika kita akan memerlukannya kembali. Tempatkan peralatan pada satu pojokan atau rak yang dipercantik dengan aneka hiasan dan warna kesukaan kita. Sekarang sudah banyak contoh kreasi tentang ini yang bisa kita cari di internet. Kita juga bisa menambahkan kalimat-kalimat motivasi di dekatnya.

Hadiahi diri
Jangan lupa menghadiahi diri sendiri setiap selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Reward ur self istilahnya. Tidak perlu yang mahal dan mewah. 

Segelas coklat hangat sambil mendengarkan lagu kesukaan sehabis mengepel lantai adalah hadiah simpel yang berefek menenangkan sekaligus meningkatkan hormon bahagia. Boleh juga ditambah sepiring spageti. Sesaat kemudian kita pun akan merasa segar dan bersemangat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Jika pekerjaannya cukup berat, kita bisa menaikkan level hadiahnya sesuai anggaran yang ada lho ya. Misalnya, belanja skincare sehabis membersihkan gudang belakang rumah!

Nah, gampang, kan. Selamat mencoba! [] Nai

Sabtu, 17 Maret 2018

Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku

08.31 47 Comments

Operasi Pemasangan Grommet: Kisah Mendebarkan Seputar Pengobatan Telinga

Sudah pernah mendengar istilah operasi grommet? Operasi pemasangan grommet tepatnya. Jika kamu bukan dokter spesialis THT kujamin kamu bakal mengernyitkan dahi kebingungan, kecuali kamu atau orang dekatmu pernah mengalaminya. Seperti itulah reaksi pertama kami, ditambah cemas, gundah, was-was, takut, bercampur sedikit harapan akan kesembuhan anak kami, ketika pertama kali dokter THT kami yang cantik mengeluarkan statement tersebut.

Ceritanya lengkapnya begini,
Hari itu, anak bungsuku yang berusia 8 tahun untuk kesekiankalinya mengeluhkan pendengarannya yang berkurang.

Sebelumnya, dia sebenarnya sudah sering menunjukkan gejala bermasalahnya pendengarannya. Hanya saja, kami kurang begitu serius menanggapinya (aku meminta ampun kepada Tuhan berkali-kali atas kekhilafanku yang satu ini). Misalnya, kalau diajak bicara ia selalu meminta lawan bicara mengulang kalimat berberapa kali sambil memiringkan kepala ke arah yang lebih dekat dengan lawan bicara.

Indikator lain sebenarnya ada pada seringnya dia memutar televisi dengan volume yang kencang, yang semula kupikir ini bagian keseruan anak-anak saja. Ia juga pernah mengeluhkan ada bagian yang sakit di telinganya.

Waktu itu kamipun membawanya ke dokter anak. Setelah memeriksa anakku, dokter menyimpulkan sakit telinganya hanya karena pilek dan itu biasa. Kami menebus resep, pulang, minum obat, selesai. Itu terjadi beberapa kali.

Hingga hari itu, setelah ayahku pulang dari RS (ayahku opname karena stroke), entah mengapa aku merasa tetiba melek medis. Aku berniat membawa anakku ke spesialis THT langganan kami. Dokter cantik dan ramah itu memeriksa, menanya-nanyai aku dan anakku, lalu meresepkan obat dan memberikan kami sebuah perintah tambahan.

“Gangguan telinga ini akibat pilek, ingus yang tidak bisa dikeluarkan dengan benar menumpuk di telinga. Obat ada dua jenis. Ada obat-obat yang diminum, ada obat yang ditetes di hidung. Kita lihat satu minggu. Kalau belum ada kemajuan, ibu bawa anak ibu ke THT Center di RS XXX, ini saya buatkan surat rujukan untuk tes blablabla (aku belum familiar dengan nama tesnya waktu itu). Setelah itu, bawa ke sini hasil tesnya. Selain itu, anak ibu harus rajin membasuh hidungnya. Dia menunjukkan cara membasuh hidung menggunakan air infuse dan alat suntik. Aku ternganga.

Seumur-umur, baru kali ini aku tahu cairan infuse bisa dipakai untuk membasuh hidung dengan cara dimasukkan ke lobang hidung menggunakan alat suntik.

“Ini biasa saja, Bu. Sama seperti pembiasaan cuci tangan pakai sabun,” kilahnya santai kayak di pantai. Dia seperti menangkap kebengongan kami (aku dan suamiku).
"Coba ibu lihat di Youtube, ada caranya, kalau ibu masih belum paham dengan penjelasan saya tadi” katanya lagi.

Sepulang dari dokter, aku mempelajari tutorial cuci hidung pakai air infuse. Saat mempraktikkannya aku sempat ragu dan takut. Untunglah anakku sangat kooperatif. Luar biasa, kembarannya turut membantu.
Seminggu setelah itu, aku perhatikan belum ada perubahan pada anakku.

Kami segera membawanya ke THT Center untuk dites. Ternyata, nama tesnya adalah tes Audio. Anakku masuk ke dalam ruangan kecil, lalu dipasangi alat semacam headset. Petugasnya sudah memberi petunjuk atau teknis pemerikasaan. Anakku akan mengangkat sebelah tangannya, yaitu tangan yang sesuai dengan sisi telinga yang dapat menerima bunyi. Lagi-lagi aku bersyukur anakku sangat kooperatif. Kutangkap nada cemas di wajah petugasnya. Sepertinya hasilnya akan menjadi kabar buruk bagi kami.

Petugas menulis-nulis seusatu di selembar kertas lalu menjelaskan sedikit hal padaku. Intinya, hasil pemeriksaan anakku jauh di bawah hasil pengecekan kondisi telinga normal. Setelah membayar biaya pengecekan audio, kami membawa hasilnya ke dr.THT.

“Wah, hasilnya di bawah normal. Jauh sekali. Coba ibu tes blablabla lagi untuk lebih akurat”

Kami menuruti sabda sang dokter. Kami kembali lagi ke THT center di RS XXX untuk tes Tympano (ingat-ingat ya namanya).

Ketika sang dokter melihat hasil tes tympano, ia terkejut. “Anak ibu sekarang ini pendengarannya seperti para manula yang kondisi pendengarannya kurang. Ada tumpukan cairan ingus di gendang telinga. Itu harus dikeluarkan dan dipasangi pipa grommet. Supaya operasi pemasangannya lancar, anak ibu akan dibius total nantinya.”

Aku dan suami ternganga. Operasi? Bius total? Kupandangi wajah anakku. Kasihan sekali kamu nak.

“Anak ibu punya kartu BPJS, kan?”
Aku dan suami menggeleng.
“Kalian PNS, kan?”
“Si kembar anak ketiga dan keempat. Hanya kakak-kakaknya yang sudah terdaftar.”
“Anak ketiga masih bisa. Uruskan dulu. Setelah itu, ini prosedur selanjutnya… Dokter menuliskan sesuatu.
“Maaf ya dok.. kalau misal..misal nih dok tidak pakai BPJS, berapa sih biayanya..kisarannya?” tanyaku hati-hati. Sesaat kemudian ekspresiku berganti menjadi setengah shock mendengar kisaran angka yang ia sebutkan.
“Tanggal sekian-sekian saya akan ke luar negeri. Kalau mau operasi dengan saya, berarti harus cepat” sambungnya ramah. “Tapi sebenarnya tidak masalah kalau operasinya dengan dokter lain. Sama saja” sambungnya lagi.

Di rumah, aku dan suami berunding. Kami merasa tidak sreg kalau operasi dengan dokter lain sementara yang memberi saran operasi dan yang selama ini merawat anak kami adalah dokter tersebut. Suamikupun ngebut mengurus BPJS anakku. Kami akan berusaha mengejar kesempatan operasi sebelum dokter baik itu berangkat ke luar negeri.

Perjuangan sesungguhnya baru dimulai
Setelah anakku memiliki kartu BPJS, kami pun memulai prosedurnya (diawali dengan meminta rujukan dokter faskes 1 kami). Barulah kami membawa rujukan tersebut ke rumah sakit. Hari itu, lucu sekali, aku tidak bisa menahan tawa kalau ingat pengalaman ini. Kami sudah menyiapkan diri untuk menginap di RS. Semua perlengkapan ada dalam mobil. Ya, bagaimana aku tidak tertawa, ternyata prosedurnya masih sangat panjaaang dan berhari-hari setelah itu, hehe.

Di rumah sakit, inilah yang kami jalani.

Pertama-tama, kami harus menuju loket pendaftaran peserta BPJS. Untuk itu kami harus mengambil nomor antrian terlebih dahulu. Kulihat sudah banyak yang duduk di kursi tunggu. Oh, besar sekali angka urutan antrian kami. Pastilah orang-orang yang banyak ini datangnya jauh lebih pagi. Baiklah, mari kita bersabar, ucapku pada diri sendiri. Seorang kakek menyapaku, “Kamu baru ya berobat di sini. Kami sudah lama berobat di sini.”

Beberapa lama kemudian, nomor antrianku disebut untuk menuju loket sekian. Di loket itu aku mendapat karcis (demikian kami menyebutnya) untuk ke poli THT. Kami menuju poli THT. Astaga, antriannya juga banyak betul. Setelah tiba giliran kami, anakku diperiksa oleh seorang dokter senior didampingi para dokter muda. Dokter itu bilang, hanya sebelah saja telinga yang perlu dioperasi. Kami bingung. Padahal dokter kami yang cantik mengatakan kedua telinga anakku bermasalah dan harus dioperasi keduanya. Di poli itu kami dijelaskan langkah selanjutnya. Anakku harus dirontgen dan cek lab darahnya. Artinya, besok kami berjuang lagi.

Dalam lift RS kami bertemu dokter THT kami yang lain. Ya, kami punya dua dokter THT langganan. Keduanya perempuan. Aku memberanikan diri menyapanya. “Dok, masih ingat kami? Ini si kembar yang dulu pernah ketulangan lalu dicabut oleh dokter”

Dokter itu tersenyum menyapa anak-anakku.
“Maaf, dok, boleh bertanya?”
“Oh, silakan Bu,”
“Dokter tahu operasi Grommet?”
“Ya, tentu saja.”
“Apakah operasi grommet sesuatu yang biasa atau sesuatu yang wah.. wow..mengerikan atau gimanaa” tanyaku lagi.
“Biasa saja, kok” jawabnya dengan suara khasnya yang lembut tapi tegas berwibawa.
Pintu lift terbuka. Kami harus segera keluar. Sampai di situ saja percakapanku, aku merasa tidak puas. Malamnya, kami pun ke tempat praktik beliau. Hitung-hitung untuk second atau third opinion.
Dokter itu menjelaskan panjang lebar. Lalu karena kami terlihat ragu, dia menyarankan cek tympano ulang. Kami kembali ke THT center RS xxx. Setelah ada hasil, dokter membacanya dan berkata, “Dari tes ini, malah ada penurunan Bu, kedua telinganya. Sudahlah, ibu pasrah saja. Berdoa dan berusaha. Teruskan saja prosedurnya.

Untuk cek lab darah dan rontgen, lagi-lagi kami harus mengantri. Setelah itu, hari selanjutnya kami ke poli anak dan bagian anastesi. Kami sudah benar-benar pasrah. Dokter sasaran kami sudah terbang ke luar negeri. Kami harus mempercayai siapapun dokter yang akan menanganinya. Setelah mendapat jadwal operasi (sebenarnya pada bagian ini ceritanya masih panjang), kami mencari ruangan. Terkait ini, kami sempat sedikit rumit. Kami hendak memilih dokter tapi tidak bisa kecuali kami memilih kelas VIP dengan bayaran yang tidak sedikit.

Operasi dilakukan
Petang Rabu yang basah oleh hujan, kami memandangi jalanan dari atas jendela RS. Perawat menginstruksikan agar rambut anakku dipotong agak lebih pendek terutama di bagian dekat telinga. Sepupuku membawa tukang cukur yang masih kerabat kami. Untuk menjaga kestabilan emosi, saudara kembarnya mau juga dipotong rambut. Tengah malam perawat masuk mengingatkan kembali bahwa anakku harus puasa.

Pagi-pagi, kami semua sepakat tidak ada adegan sarapan demi menyukseskan puasa anakku yang hendak operasi. Perawat datang memasang infuse. Anakku pun dibawa ke ruang operasi. Lagi-lagi kami mengantri juga. Hingga tiba giliran anakku. Sesaat setelah obat bius disuntikkan lewat infuse, aku masih sempat membacakan doa sebelum tidur di telinganya…

Setelah oporasi selesai dan anakku siuman. Kami kembali ke kamar. Anakku merengek kelaparan. Lalu dia muntah beberapa kali. Aku panik.
Untunglah semua berlalu. Kami pulang dua hari kemudian, dan melanjutkan rawat jalan. Dan inilah takdir Tuhan selanjutnya bagi kami. Kepasrahan kami sebagai pasien BPJS justru mempertemukan kami dengan dokter THT senior lainnya yang sangat detail.

Sekilas tentang Grommet
Jadi, grommet itu semacam alat yang sangat kecil yang dimasukkan dalam gendang telinga.
Gambar asli diambil saat operasi

Keterangan berikut mungkin bisa menambah penjelasan tentang si grommet. Kuambil dari kamusdotcom.

Setelah batas waktu tertentu, grommet pun harus dicabut kembali.
Nanti akan kuceritakan bagaimana proses pencabutan grommet anakku dan apa yang kami jalani selama grommet dipasang. [] Nai.

tulisan selanjutnya dapat dilihat pada artikel berikut, klik di sini.

Rabu, 14 Maret 2018

7 Hal Biasa yang Membuat Wanita Bahagia: Refleksi Hari Kebahagiaan Internasional

22.10 16 Comments

Majelis Umum PBB telah menetapkan tanggal 20 Maret sebagai hari kebahagiaan internasional atau International Day of Happiness. Ada beberapa artikel yang mengupas sejarah ditetapkannya tanggal tersebut sebagai hari kebahagiaan internasional di dunia maya. Salah satu artikel menarik ada di Voaindonesia. Dalam artikel tersebut disebutkan tahun 2012, negara kecil di Himalaya, Bhutan, membujuk Majelis Umum PBB untuk menetapkan hari kebahagiaan internasional. “Di kerajaan Bhutan, ukuran kualitas hidup dinyatakan dalam GNH (Gross National Happiness)."
Seberapa penting kebahagiaan untuk dirayakan sebagai sebuah “Hari” internasional? Akankah memperingatinya memberikan jaminan kita bisa berbahagia setidaknya pada hari itu? Memperingati hari kebahagiaan internasional memang tidak lantas membuat kita pasti bahagia. Setidaknya, pada satu haari dalam setahun kita memiliki momen untuk merefleksikan makna kebahagiaan bagi diri sendiri dan bagaimana menebar kebahagiaan ke sekitar kita.
Begitu banyak hal yang dapat membuat manusia bahagia. Mulai dari hal-hal yang berifat materi sampai hal-hal yang tak terdefinisi. Bahagia adalah hal penting dalam hidup manusia. Sayangnya, masih banyak yang salah kaprah dengan masalah kebahagiaan. Sebagian orang menganggap kesuksesan dalam hidup akan membuat manusia bahagia. Hal ini justru berkebalikan dengan fakta tentang kebahagiaan yang sesungguhnya. Ya, justru perasaan bahagialah yang dapat mendorong orang mencapai banyak hal terbaik dalam hidupnya.
Ada banyak orang di luar sana yang kerap merasa terhalang untuk berbahagia karena hidupnya yang tak kunjung mencapai kesuksesan. Jika Anda pikir Anda salah satunya, mulailah untuk mengubah paradigma Anda tentang kebahagiaan dan kesuksesan. Mulailah untuk berbahagia setiap hari agar minggu depan atau bulan depan atau tahun depan Anda akan mencapai sebuah hal terbaik dalam hidup.
Sejalan dengan waktu dan ritme hidup, tiap orang akan menemukan definisi bahagianya masing-masing. Setiap orang berhak bahagia tapi setiap wanita wajib bahagia. Terutama wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak, bahagia adalah hal wajib dalam hidupnya. Ada banyak orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada seorang wanita yang ia sebut istri, ibu, nenek. Jadi, berbahagia adalah salah satu cara untuk bisa membahagiakan orang lain.

Berikut 7 hal biasa yang membuat wanita berbahagia versi Tatirah:

1. Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga
Wanita pada umumnya memiliki fitrah mengurus pekerjaan rumah tangga. Ketika pekerjaan tersebut secara wajar dan normal dilakukan, wanita akan merasa menjadi wanita seutuhnya. Pekerjaan seperti mencuci piring, mencuci dan menyetrika pakaian, menata perabot, bahkan hal kecil seperti sekadar menggantungkan pewangi dengan aroma pilihannya di dalam toilet adalah hal biasa yang akan membuat wanita berbahagia karena telah mengekspresikan eksistensinya.

2. Melihat Anak Tersenyum
Hal yang paling membahagiakan wanita adalah melihat anak-anaknya tersenyum dan tertawa riang. Ketika anak-anak tersenyum gembira itu pertanda separuh dunia sang wanita sedang baik-baik saja.

   3.  Memastikan Anak-anak Sehat dan Beribadah Sesuai Keyakinan yang Dianut
Memastikan anak sudah menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang dianut adalah hal yang membahagiakan seorang wanita. Begitupun dengan hal kesehatan anak. Memastikan anaknya dalam keadaan sehat adalah kebahagiaan utama seorang wanita. Kadang ini bahkan lebih utama daripada nilai raport yang bagus. Untuk itu, seorang wanita bahkan ada yang sampai harus menghabiskan uangnya untuk membayar aneka vaksin dan multivitamin dari dokter spesialis anak terbaik yang ia kenal.

4. Menuliskan Daftar Impian Sebanyak-banyaknya.
Tidak peduli apakah daftar itu logis atau tidak, bisa terwujud atau tidak, menuliskan sekian impian akan membuat hari seorang wanita lebih menyenangkan. Apalagi kalau ditulis dalam buku diary berdesain cantik. Menulis dan membacanya ulang akan membuat wanita tersenyum simpul dan rasa bahagia pun akan menjalari. Secara teori, hal ini bahkan akan membuat sang penulis daftar akan mencapai impiannya.

    5. Bertemu dengan Teman Se-passion
Tak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Setiap orang memerlukan teman untuk saling berbagi. Bahkan setelah menikah dan mempunyai anak, seorang wanita memerlukan teman seirama dan se-passion untuk sekadar saling sapa dan meyakinkan diri, hei aku tak sendiri di jagad raya ini! Di era digital, pertemuan dengan teman se-passion bahkan tak terbatas dan tersekat oleh ruang dan waktu. Tentu saja ada batasan etika, norma dan agama yang harus selalu dipatuhi. Dalam keadaan wajar, hal ini bisa menjadi satu hal yang membuat wanita berbahagia.

    6. Mengerjakan Hobi di Waktu Luang
Setelah menikah dan mempunyai anak, tak jarang seorang wanita kehilangan kesempatan untuk mengerjakan hobinya. Kembali menekuni hobi terutama di saat luang adalah hal membahagiakan bagi wanita. Tentu saja tidak sebanyak waktu masih single. Jika sebelum menikah bisa membaca tiga buku dalam satu pekan, mungkin setelah mempunyai anak, membaca satu buku favorit selama satu bulan masih terasa cukup untuk menekuni hobi lama membaca buku.

   7. Menjadi Teman Diskusi Suami
Poin terakhir ini sangat penting bagi kebahagiaan hakiki wanita. Wanita memerlukan rekan setara dengannya untuk berdiskusi banyak hal. Ketika suami memilihnya sebagai teman diskusi, wanita akan merasa dihargai dan diakui keberadaannya sebagai teman hidup. Hanya saja, dalam banyak kasus, poin terakhir ini akan terdengar sebagai “memiliki pendengar setia” karena yang terjadi adalah wanita yang akan lebih banyak bicara dan itu sangat membahagiakan bagi wanita.

Demikian 7 hal biasa yang dapat membahagiakan wanita. Selamat berbahagia! [] Nai.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Collaboration Female Blogger BanjarmasinEdisi Maret 2018