Aku merekam dengan cara mencatat semua kejadian di buku diary-ku. Kapan waktu/tanggal-tanggal kejadian, apa yang terjadi, apa yang dimakan anakku, apa obat yang diresepkan, apa yang dikeluhkan dia, semua kucatat. Kuharap kalian sudah membaca link sebelumnya ya, tentang riwayat awal anakku harus menjalani operasi. Agar tidak ada informasi yang hilang atau tidak nyambung.
Rabu, 01 Mei 2019
Blog ini kubangun dengan visi merawat kenangan. Aku menjadikan Tatirah sebagai
tempat memajang prasasti hati, kemudian menjadikannya pelajaran berharga untuk
diri sendiri yang masih suka alfa dan khilaf. Aku pun berharap, Tatirah berguna
buat orang lain, meski hanya seujung kuku.
Suatu hari, aku mengalami problem kesehatan pada salah satu anakku. Hal-hal
yang masih benar-benar asing bagi orang awam sepertiku mendadak harus aku
pelajari. Sebagaimana masyarakat lain yang hidup di zaman millenial, aku
langsung googling mencari informasi. Ternyata tidak banyak artikel yang memuat
persoalan seperti kami alami. Sejak itu aku bertekad menuliskannya. Aku yakin,
di luar sana akan ada orang lain, para ibu yang bernasib sama dan barangkali
memerlukan informasi seperti yang terjadi padaku ketika itu.
Alasan itulah yang membuat artikel yang berjudul Operasi Pemasangan Grommet pada Anakku kutulis. Dugaanku benar. Banyak orang lain yang mencari informasi
sama dengan yang aku tulis. Mereka mampir di Tatirah. Beberapa di antara mereka
malah menghubungi aku melalui akun media sosialku karena ada hal lain yang
ingin ditanyakan. Bagiku, hal yang mungkin receh bagi orang lain itu, umpama intan mungil yang kutemukan di
area pertambangan.
Sebagian besar yang ditanyakan adalah bagaimana keadaan anakku pasca
operasi pemasangan grommet di telinganya; berapa lama benda itu bercokol
mendekam mesra di telinga; bagaimana prosedur pelepasannya serta berapa peluang
keberhasilan operasi untuk kesembuhan anakku. Aku minta maaf yang
sebesar-besarnya karena baru saja bisa menuliskannya.
Aku merekam dengan cara mencatat semua kejadian di buku diary-ku. Kapan waktu/tanggal-tanggal kejadian, apa yang terjadi, apa yang dimakan anakku, apa obat yang diresepkan, apa yang dikeluhkan dia, semua kucatat. Kuharap kalian sudah membaca link sebelumnya ya, tentang riwayat awal anakku harus menjalani operasi. Agar tidak ada informasi yang hilang atau tidak nyambung.
Aku merekam dengan cara mencatat semua kejadian di buku diary-ku. Kapan waktu/tanggal-tanggal kejadian, apa yang terjadi, apa yang dimakan anakku, apa obat yang diresepkan, apa yang dikeluhkan dia, semua kucatat. Kuharap kalian sudah membaca link sebelumnya ya, tentang riwayat awal anakku harus menjalani operasi. Agar tidak ada informasi yang hilang atau tidak nyambung.
Keluar dari Ruang Operasi
Anakku dioperasi Kamis, 16 November 2017.
Cukup lama kami menunggu anakku bisa keluar dari ruang operasi karena
menunggu dia siuman. Reaksi obat bius sepertinya cukup lama bekerja. Ketika
keluar dari ruang operasi, keadaan dan kondisinya terlihat sangat lemah. Badannya
yang kurus membuat dia terlihat sangat memprihatinkan. Sungguh aku tidak tega
melihatnya.
Ingin menangis rasanya tapi sini kuberitahu satu hal, saat-saat seperti
itu, sejak serangkaian pengobatan ini kita pilih, jangan pernah memperlihatkan
isi hati kita sesungguhnya kepada anak. Sebagaimana bahagia, sedih dan cemas menular.
Jangan menularkan kecemasan kita yang tidak beralasan kepada anak. Jangan
membebani anak karena sesungguhnya dalam hati dan otaknya sendiri dia sudah
sangat cemas. Selain mencemaskan dirinya sendiri; anak juga mencemaskan ibunya.
Ia cemas keadaannya akan membuat ibunya bersedih.
Hal pertama yang diinginkan oleh anakku adalah minum dan makan. Sebagaimana
prosedur operasi umumnya, dia harus buang angin dulu baru boleh makan dan
minum. Akan tetapi seingatku saat itu terjadi sedikit perbedaan pendapat antar
tenaga medis. Ada yang menyebut istilah bising usus dulu baru anakku boleh
minum dan makan. Ada yang membolehkan minum, ada yang keras melarangnya. Kami memilih
untuk menahan dulu, meski anakku merengek-rengek kehausan.
Yang membuat keadaan hatiku lebih berat adalah kembarannya yang bersikeras
juga untuk tidak makan.
Tidak lama kemudian anakku muntah. Sepertinya ini bagian dari efek
pembiusan atau mungkin efek proses operasi. Untuk itu dia diresepkan obat
penahan muntah. Setelah muntah itu, kondisi anakku semakin terlihat lemah. Kalau
saja aku tidak menahan diri, aku sudah panik saat itu. Aku bahkan menumpahkan
sebotol obat syirup karena kegugupanku melihat kondisi anakku.
Setelah boleh makan, anakku justru kehilangan selera makannya. Dia hanya
mau disuapi biskuit yang dicelup di air hangat. Dokter juga menyarankan agar
anakku makan yang lembut dan lunak saja dulu. Malamnya, dia mulai makan bubur
nasi.
Dokter jaga yang pada umumnya para dokter muda alias dokter coas bergantian
mengunjungi dan memeriksa. Anak-anakku sangat sosial. Mereka cepat akrab dengan
para tenaga medis yang mendatangi kamar anakku. Beberapa sempat mencandai
tentang siapa yang sakit, siapa yang akan diperiksa karena kekembaran anakku.
Oiya saat itu, selain bermasalah pada telinga, anakku juga ada sedikit
masalah pada hidung. Untuk itu, dia diresepkan obat tetes hidung. Hari kedua,
anakku minum obat batuk karena dia masih batuk pilek. Hari itu suhu badannya
tinggi sehingga belum boleh pulang. Beberapa
nama obat yang diresepkan untuk anakku, yaitu Vometa, Iliadin Oxymetazoline, Ambroxol,
Kamolas, dan Cetrizones.
Selain soal makan, aku juga mengamati timing anakku buang air kecil dan
buang air besar. Bagaimanapun, proses operasi akan mempengaruhi sistem yang
bekerja pada tubuh anakku, seperti sistem kerja lambung, pencernaan,
pengeluaran.
Hari ketiga, ada darah keluar dari telinga kiri anakku. Untungnya telinga
kanan tidak. Akan tetapi menurut dokter, hal tersebut bisa ditangani dengan
rawat jalan. Satu hal yang harus kami ingat juga, penyebab atau rujukan anakku
dalam surat asuransi adalah tindakan operasi-nya bukan hal lain.
Satu pekan berikutnya, 23 November 2017
kami membawa anakku kontrol ke rumah sakit lain, tempat dokter yang
memimpin operasi anakku bertugas di malam hari. Di tempat praktiknya terdapat
sarana atau alat yang memungkinkan kita bisa melihat apa yang terjadi pada
bagian dalam telinga kita melalui tampilan di layar monitor. Hasil pemeriksaan
malam itu bagus. Luka operasi sudah menegring. Hanya, masih ada pilek dan
amandel pada anakku yang harus ditangani.
Cara Kerja Grommet
Grommet itu bukan obat. Grommet bukan penyembuh dalam arti simpel seperti
kita demam lalu minum obat penurun panas, lalu sembuh. Tidak seperti itu. Jadi,
grommet itu adalah alat yang akan membantu proses penyaluran, pengeluaran atau pembuangan cairan yang
menumpuk di dalam telinga. Ketika cairan yang memenuhi telinga sudah keluar
semua, itulah fase sembuhnya.
Inilah yang harus kami
lakukan pasca operasi
Ada beberapa hal yang harus kami perjuangkan. Kami harus menyembuhkan pilek,
batuk dan amandelnya dengan segera lalu mempertahankan kondisi positif tersebut
pada anakku. Jika tidak, grommet pada anakku tidak bisa dilepas karena artinya
proses pengeluaran cairan masih diperlukan. Sementara itu, grommet itu sendiri
ada masa kadaluarsanya untuk bisa bertahan di dlam telinga. Sebuah dilema bukan? Melepas grommet sebelum anakku sembuh
berarti kegagalan.
Kata dokter, jika anakku segera sembuh, sebenarnya kadang grommet yang
sangat kecil itu bahkan bisa lepas sendiri tanpa perlu dilepas oleh dokter. Akan
tetapi peluang dia terlepas sendiri pada saat anakku belum sembuh juga ada.
Anakku harus benar-benar dijaga keadaan telinganya untuk tetap kering. Tidak
boleh kemasukan air. Ini tantangan terberat juga bagi kami karena anakku hobi
main air. Aku membelikan dia penutup kepala dari plastik yang biasa dipakai
untuk mandi agar rambut tidak basah tetapi aku memasangkannya sampai ke
telinga. Di tahap awal aku malah memasangkan bulatan kapas di telinganya
sebelum dia mandi untuk lebih berhati-hati. Tiap bangun tidur, kami memeriksa
sprei apakah grommet terlepas. Ini lucu sekaligus mencemaskan.
Satu pekan berikutnya, Jumat 1 Desember 2019, anakku pusing hebat seharian
dan muntah-muntah. Aku mencari informasi di internet, kudapatkan hasil bahwa
kemungkinan ada yang tidak beres dengan telinga anakku.
Besoknya, kami membawanya ke tempat praktik dokter. Menurut dokter, anak
kami kena radang/infeksi pada telinga kanannya, ada nanah. Inilah yang
menyebabkan dia pusing sedemikian hebat. Telinga kiri sudah membaik. Malam itu
telinga anakku dibersihkan. Kami menebus resep obat dari dokter.
Problem utama anakku adalah alergi yang menyebabkan batuk pileknya lambat
sembuh. Beberapa pantangan diberitahu oleh dokter. Tidak hanya makanan dan
minuman, udara, benda dan hewan di sekitar, bahkan debu bisa menjadi pemicu
alerginya. Alergi itu yang menyebabkan
dia lambat sembuh. Aku menjadi ibu phobia debu.
8 Desember 2017, sehari sebelum hari ulang tahunku kami kontrol lagi ke
dokter. Grommet-nya aman masih terpasang
manis keduanya di telinga, amandelnya tidak radang lagi tetapi pilek
masih ada sedikit. Anakku harus menjaga pola makan dan dianjurkan olahraga
sendiri seperti melompat-lompat setiap pagi sebelum mandi sebanyak 50 kali. Kebersihan
rumah harus benar-benatr dijaga dari debu. Aku menggulung semua karpet berbulu,
menyingkirkan bantal, guling, boneka dan benda-benda berbulu lainnya yang
berpeluang menyimpan debu.
27 Desember 2017 anakku pusing lagi sampai muntah-muntah. Saat itu dokter
langganan kami sedang tidak ada. Penggantinya ternyata sama kerennya dalam
komunikasi dan pelayanan. Malam itu, anakku muntah dua kali sesampai d rumah. Anakku
diresepkan obat.
Proses Melepas Grommet
10 Januari 2018 anakku kontrol lagi dan keadaannya mulai membaik sehingga
15 Februari 2018, grommet pada anakku siap dilepas. Kami mengantri di tempat
praktik dokter dengan nomor antrian 7. Janagn tanya bagaimana kecemasan dan
kepanikan kami. Bahkan asisten dokter yang ramah itu bisa kulihat kecemasannya
juga. Anakku dioles salep yang bekerja sebagai penahan nyeri. Semacam bius
lokal. Salep itu dioles 20 menit sebelum grommet dilepas.
Jadi, untuk melepas grommet tidak
diperlukan prosedur operasi yang seperti operasi sebelumnya. Tidak perlu bius
total. Anak tidak perlu dibuat tidur
atau hilang kesadaran. Dokter melepasnya dengan menggunakan peralatan dia di
ruang praktiknya dan kami bisa melihat prosesnya. Grommetnya diperlihatkan dan
disimpan oleh dokter. Aku tidak tertarik menyimpannya. Itu seperti mimpi buruk
bagi kami. Benda itu akan membuat kami mengenang hal tidak baik.
Seluruh rangkaian tersebut dijalani anakku dengan sangat manis. Dia tidak
menangis sama sekali. Asisten dan sang dokter berkali-kali mengacungi jempol
sambil memperlihatkan ekspresi kagum. Asisten dokter membisikiku, “Anak ibu
hebat, luar biasa. Anak lain sering kali menangis dan mengamuk menjalani proses
ini.”
Masih Harus Berjuang
13 Februari 2018 dan 22 Februari 2018 anakku kembali mengeluh pusing.
Pada kedua tanggal itu, aku melarikan anakku ke praktik dokter THT. Aku lagi-lagi
berfirasat ini ada hubungannya dengan telinganya. Dokter yang baik itu begitu
telaten mengobati anakku.
Hingga ketika 1 April 2019 anakku mengeluh pusing lagi, sesuai saran
dokterku sebelumnya, kami kali ini ke dokter spesialis anak. Kami menceritakan
semua kronologinya. Dokter membuat rujukan ke lab untuk cek darah. Alhamdulillah
setelah itu anakku sembuh.
Catatan penting
Ketika anak sakit, pada anak usia sekolah, maka dia akan ketinggalan
pelajaran. Dalam hal ini, aku tidak pernah memaksa anakku untuk mengejar
ketinggalannya. Aku membiarkan semua apa adanya sebatas kemampuan anakku. Aku hanya
ingin anakku sembuh, sehat dan selalu bahagia.
Ketika ini terjadi pada anak kembar, maka yang ditangani oleh orang tua
bukan hanay satu anak melainkan keduanya. Terutama pada anak kembar identik. Aku
selalu berusaha memperhatikan kondisi psikologis keduanya.
Ketika anak sakit dan kita harus menjalani semua prosedur medis yang kadang
menguras seluruh energi, kita harus selalu menekan emosi, menguatkan kesabaran,
dan jangan mengeluh di hadapan anak. Perbanyak berdoa dan mendekatkan diri
kepada Tuhan.
Ketika para tamu dewasa datang menengok, pastikan kita tidak membicarakan penyakit
anak di depan anak. Bisa saja dia mendengarkan dan menyimpulkan hal-hal menurut
persepsi dia sendiri yang berakibat buruk di kemudian hari.
Berusahalah menjalin komunikasi dengan petugas medis dan jadilah orang tua
pasien yang cerdas, tanggap terhadap semua situasi. Bertanyalah pada orang yang
tepat jika kita mengalami kebingungan. Jangan lupa menjaga kesehatan diri agar
kita tetap fit karena kita diperlukan oleh anak kita.
Terima kasih sudah mampir di Tatirah. Aku mencintai kalian. Semoga kita
tetap sabar dan survive apapun yang terjadi. [] Nai
Semua genre dalam dunia pengisahan pondasinya adalah ide cerita. Ide cerita
merupakan ruh yang akan memberi energi bagi jalannya cerita melalui para tokoh
dan unsur instrinsik lainnya. Terutama dalam film, ide cerita merupakan bagian
utama yang akan menentukan keberhasilan dunia pengisahan. Kekuatan idelah yang
akan menuntun para aktor untuk memerankan tokoh yang diamanatkan kepadanya. Dalam
idelah tersimpan pesan-pesan bijak dunia seni dan kisah. Kualitas idelah yang
akan menyemangati para penggarap untuk bertahan hingga akhir. Puncaknya, ide
cerita yang berterima di hati dan otak penontonlah yang akan memuaskan dan
memberi manfaat bagi mereka.
Hal tersebut menghantui pikiran saya ketika melangkahkan kaki menuju acara Screening
Layar Film Banjar yang digagas oleh Forum Sineas Banua. Saya mendapat tiket
gratis menghadiri acara tersebut sebagai hadiah sebuah kuis di akun instagram
panitia. Dari berbagai informasi yang tayang di akun-akun media sosial panitia,
saya menemukan screening schedule sebagai berikut:
Berdasarkan beberapa pertimbangan - di antaranya kelonggaran waktu dan
kemungkinan bisa ngopi di lokasi - saya memilih menghadiri yang 30 April 2019 di
Capung Cafe n Resto Banjarmasin dimulai pukul 20.00 wita.
***
Malam itu, ada 8 film yang terpilih untuk ditayangkan dengan durasi bervariasi.
Kedelapan film tersebut yaitu Mahiyau, Puan Panting, Dindra, Terlambat, Anum,
Kada Bara Wara, Sarakap dan Pamit.
Lokalitas dan Sebuah Ide
Sejak awal mendengar dan mengetahui ada acara ini, saya bertanya-tanya,
apakah yang dimaksud dengan film Banjar dalam hal ini. Sisi peneliti, dunia
akademik saya membuat saya bertanya-tanya apakah definisi operasional film
Banjar dalam konsep penyelenggara. Apakah seluruh film yang dibuat oleh orang
Banjar; apakah film berbahasa Banjar; ataukah film yang bersetting Banjar atau
perpaduan semuanya?
Menonton film-film tersebut, saya menyimpulkan sendiri apa yang dimaksud
film Banjar dalam hal ini, yaitu perpaduan semua hal tersebut.
Para penggarap dan penyumbang ide film-film tersebut saya kira berusaha
keras menghadirkan ide-ide yang bersinggungan dengan lokalitas. Lokalitas sampai
sejauh ini (bahkan di era millenial) masih merupakan tema seksi dalam dunia
pengisahan. Kajian-kajian tentang lokalitas tidak akan saya bahas semuanya di
sini, yang pasti lokalitas tidak melulu persoalan bahasa dan atribut-atribut
kesukuan atau kedaerahan. Lokalitas merujuk pada hal-hal yang menjadi denyut
nadi dan inti persoalan yang ada. Oleh sebab itu, ia tidak hanya
tempelan-tempelan penghias yang akan menjadi simbol tanpa makna. Tidak. Ia lebih
dari itu. Ia adalah jantung cerita. Yang tanpanya, cerita tidak akan hidup. Yang
tanpanya cerita akan hambar, basi dan biasa saja. Itulah hakikat lokalitas.
Dari kedelapan film yang saya tonton, Film Mahiyau yang diproduksi oleh Neotimo merupakan film dengan tingkat
lokalitas terbaik sependek pengetahuan saya. Keseluruhan unsur yang ada dalam
film ini diangkat dari tema besar hal-hal mistis yang memang menjadi bagian
dari hal-hal yang dipercayai oleh sebagian orang Banjar. Dalam film yang
disutradarai oleh Akhmad Megryan ini, nyaris tidak ada sisi yang mubazir atau
sekadar tempelan. Setiap dialog, setiap adegan menjalankan peran dan fungsinya
sebagai sebuah sistem yang mengarah pada satu sistem ide yang sama dengan judul
film ini, yaitu Mahiyau (sebuah ritual pemanggilan jiwa orang yang dipercayai
disembunyikan di alam gaib). Pelaksanaan ritual yang dilakukan Bainah; ritual
yang dilakukan Khairi, merupakan sisi mistis yang masih dipercaya oleh sebagian
masyarakat kita.
Sarakap yang disutradari oleh Upin Barikin berada
pada nomor urut dua dalam hal lokalitas
yang jika diungkapkan dengan angka atau point, secara kuantitas bersaing ketat
dengan Mahiyau. Kemampuan pemilik ide
dan para penggarap dalam menghadirkan sisi kehidupan urang pahumaan dan urang
paiwakan merupakan hal utama yang benar-benar mewakili satu sudut lokalitas
urang Banjar. Film ini mengungkap sisi geografis tanah Banjar, lingkungan dan
alam yang mempengaruhi mata pencaharian mereka. Dalam film ini tersampaikan ide
bahwa ketika mereka tercerabut dari akar kehidupan yang melahirkannya, berbagai
kesulitan pun muncul. Hanya saja, kemulusan sisi lokalitasnya sedikit goyang
dengan munculnya isu kecurangan yang dilakukan oleh pambakal. Isu ini sedikit mengaburkan kekuatan utama film ini dari
segi lokalitas.
Kada Bara Wara yang disutradarai oleh Rizwan Azhar menempati
urutan ketiga menurut perspektif saya dari sisi lokalitas. Isu-isu dan wacana
dalam dunia pertambangan di Banjar (:Kalimantan) merupakan sisi lokalitas yang
sangat jelas. Dalam film ini batu bara menjadi hal utama yang menjadi nafas
cerita, bukan tempelan, bukan hiasan. Kalaupun ada sedikit kelemahan dalam film
ini adalah setting dan suasana. Film tersebut mengambil setting Banjar di tahun
yang sangat jauh di depan. Masa depan. Masa yang seharusnya didukung oleh
perubahan-perubahan budaya, sikap, bahkan karakter.
Selebihnya, bagi saya sebagian besar film ini bicara tentang hal-hal
psikologis. Film-film ini bicara tentang konflik batin, pencarian identitas dan
jati diri, pertahanan hidup manusia yang dibalut dengan isu-isu karakter dan
budaya.
Puan Panting, Dindra
dan Pamit memiliki kekuatan pada
teknik penggarapan, jalan cerita dan pengaluran. Menonton ketiga film ini
berasa sedang menonton film-film nasional yang tayang di bioskop-bioskop besar.
Mulai dari kemampuan para aktor/artis, teknik kamera/pengambilan gambar, tata
suara, backsound, serta hal-hal
teknis lainnya patut diacungi jempol. Hampir tidak terdapat cela dari ketiga
film ini.
Film Anum, memiliki kekuatan dari
teknik dan pemeran utama. Kemampuan akting pemeran utama dalam film ini layak
mendapat apresiasi. Di usianya yang relatif masih muda, keterampilannya dalam
seni peran sangat bagus. Meski tokoh utama film yang disutradarai oleh Yuniardo
Alvares ini adalah anak-anak, saya kira film ini bukan untuk anak-anak. Di antara
delapan film yang saya tonton, film Anum
merupakan film yang cukup berat, yang memerlukan keseriusan lebih ketika
menontonnya untuk mendapatkan inti cerita. Rumah Jomblo yang menjadi setting
film ini, bisa jadi merupakan peran atau tokoh bayangan yang menjadi simbol
utama cerita Anum.
Selain menghibur, sastra dan seni itu hendaknya bermanfaat. Saya kira, film
dengan nilai positif terbanyak yang disampaikan - ada pada film Terlambat yang disutradrai oleh M.
Nafidz Khalifa. Sedikit perbaikan pada teknik penceritaan dan alur akan membuat
film ini berpotensi luar biasa positif untuk ditonton oleh seluruh pelajar.
Sebuah Ramalan
Secara umum, film-film yang saya tonton malam itu memberi angin segar bagi
perfilman lokal khususnya film Banjar. Menyaksikan dengan seksama film-film
tersebut membuat kita memiliki harapan yang positif terhadap masa depan film
Banjar. Keberadaan film Banjar, kesuksesan film Banjar akan memberikan efek
yang sangat baik bagi perkembangan budaya secara umum serta bahasa Banjar
secara khusus yang pada ujungnya akan mempengaruhi bidang ekonomi dan bidang
lainnya.
Terkait bahasa Banjar, saya kira inilah satu-satunya kritik yang ingin saya
sampaikan. Bahasa Banjar sebagaimana bahasa lainnya memiliki kekhasan. Bahasa
Banjar yang digunakan sebaiknya bukanlah bahasa Indonesia yang dialihbahasakan
seadanya ke bahasa Banjar melainkan bahasa Banjar dengan diksi-nya yang khas
sesuai konteks.
Akhirnya, selamat berkarya, tidak ada keberhasilan tanpa proses yang
sungguh-sungguh. Semoga para sineas banua fokus pada pergerakannya dan
melahirkan film-film terbaik yang dapat bersaing dengan film lainnya.
Harapan vs Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
Nailiya Nikmah
00.24
0 Comments
Harapan vs
Kenyataan dalam Avengers: Menyelesaikan Masalah dengan Memutar Waktu
(Menonton pakai
perasaan/ Bukan Spoiler Evengers:Endgame)
Jauh-jauh hari, teman sekaligus editorku yang baik hati memintaku dengan
sangat manis untuk menemaninya menonton film kesukaannya, Avengers:Endgame. Dia
sangat takut dengan spoiler-spoiler yang bertebaran seperti hantu di sekitarnya,
saking pengennya dia menghayati film ini. Konon dia adalah penggemar berat
film-film marvels. Untuk itu, dia bahkan membelikanku tiket online dan memintaku mengatur jadwal
yang tepat secara aku adalah orang paling sibuk sedunia (ini kulebih-lebihkan).
Aku bukan orang yang mewajibkan diri menonton film sebagai orang dalam
golongan pertama. Aku tidak mengharuskan diri pergi ke bioskop. Aku tidak
terlalu takut spoiler-spoiler karena bagiku dalam setiap kepala kita tersimpan
mekanisme sendiri untuk menikmati sebuah tayangan. Beberapa film yang kutonton
di bioskop selalu dalam misi spesial, misal aku kenal baik dengan produsernya
(cie, siapa coba aku ini); aku nge-fans berat sama penulis ceritanya; ada
puisi, ada hujan dalam film tersebut; atau misi menggalakkan film-film islami. Nah, Avengers ini tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut. Jadi, ini
kategori baru, yaitu ditraktir teman. Ditunggu
traktiran lainnya ya. Hehe.
Aku penggemar drama korea. Aku suka film-film India. Aku salut pada
film-film Hollywood. Aku pendukung film nasional yang bervisi jelas. Aku menonton
semua sequel Iron Man. Aku kagum dengan teknologi yang dipakai Toni. Aku iri
pada kecanggihan-kecanggihan yang ada dalam kehidupan Toni. Aku terpesona pada
alur romantisme yang menyisip dan menyusup pada seri Iron Man. Bagiku, inilah
film yang menyeimbangkan logika dan perasaan. Film yang memperjuangkan
pentingnya kemajuan teknologi tapi juga mengedepankan perasaan.
Sebelum ke bioskop, aku menyempatkan diri googling. Mencari semua artikel
dengan kata kunci mengarah kepada Avengers. Setidaknya, aku punya referensi di
kepala. Sekali lagi aku tidak takut spoiler. Aku ingin jadi teman nonton yang
baik, yang cerdas. Di awal penayangan, beberapa kali temanku menanyakan apakah
aku mengantuk atau tertidur.
Nah, ini oleh-oleh dari menonton Avengers. Aku menuliskannya untukmu. Sekali
lagi, ini bukan spoiler.
Apalah arti sebuah kisah tanpa ide yang spesial. Endgame memilih ide besar “Andai”.
Andai waktu dapat kembali. Andai permasalahan bisa diselesaikan dengan cara
memutar waktu kembali. Andai sesuatu yang sudah terjadi tidak pernah terjadi. Ini
merupakan persoalan yang sering ada dalam kebanyakan kepala dan hati manusia
ketika mengahadapi masalah. Dalam dunia nyata, ini nyaris tidak bisa terjadi
bahkan mustahil. Akan tetapi, itulah harapan yang paling banyak diinginkan oleh
manusia.
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Pemilihan tema besar tersebut menjadi ironi. Dibalik kekuatan para tokoh ternyata mereka memilih cara melankolis untuk menyelesaikan masalah. Beranjak dari harapan yang bertentangan dengan kenyataan. Marvel sukses mengaduk-aduk logika dan perasaan penonton dengan memilih tema ini.
Konsep mengulang waktu sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pengisahan.
Lorong waktu di sinetron Indonesia, mesin waktu-nya Doraemon, dan masih banyak
film lain yang menggunakan konsep ini (silakan googling sendiri). Yang membedakan
adalah tekniknya. Keindahan teknik pengembalian para tokoh Avengers ke
masa-masa lalu mereka tidak diragukan lagi. Seperti film Hollywood lainnya,
teknik selalu nomor satu. Kita dibohongi tanpa merasa dibohongi. Aku tidak akan
mengulas teknik panjang lebar. Itu jatah para kritikus film. Aku ingin membagi
apa yang ada di kepalaku sepulang menonton. Beberapa hal positif yang kukira
akan memberi manfaat untukmu:
1. Sekuat
apapun para super hero, mereka tetaplah manusia yang punya perasaan.
Ini ditunjukkan oleh semua tokoh dalam film ini. Semuanya
memiliki perasaan khusus yang kukira sangat melankolis terhadap masa lalu masing-masing.
Hal ini membuat film ini menjadi lebih rasional dan berterima di hati penonton.
2. Seorang
ibu selalu punya insting melindungi, menyayangi dan menasihati anaknya.
Ini dapat dilihat pada bagian Thor yang kembali ke
masa lalu sebelum sang ibu meninggal. Sekali lagi, teknik yang membedakan. Dalam
film ini, ibu Thor di masa lalu ketika ditemui Thor dengan teknologi yang
ditemukan Toni- mengetahui bahwa Thor yang di hadapannya adalah Thor di masa
depan. Dalam kasus Thor, fungsi memutar waktu tidak seratus persen berhasil
karena ibu Thor dengan instingnya menyadari siapa Thor yang ditemuinya saat
itu. Dia bahkan sempat memberikan nasihat bijak kepada Thor. Sebuah adegan yang
mengharukan.
3. Setiap
perjuangan membutuhkan pengorbanan.
Selain memutar waktu, konsep besar sekaligus
amanat dalam film ini adalah setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Tidak ada
yang free, tidak ada yang bisa didapatkan dengan tangan kosong. Seluruh perjuangan Avengers dibayar dengan kehilangan tokoh-tokoh hebat. Terutama pada salah satu
titik pengambilan batu yang harus mengorbankan satu di antara dua tokoh yang
saling menyayangi.
4 . Selalu
ada titik keterbatasan, sehebat apapun kita.
Ini merupakan amanat yang juga membuat film ini
sejenak membuat kita lupa bahwa itu cuma film, cuma khayalan. Pada adegan
menjelang kematian Toni, saat kematiannya hingga pemakamannya. Adegan-adegan
tersebut memupuskan kesan bahwa superhero tak akan pernah mati. Ini juga
merupakan bagian yang mengaduk-aduk logika dan perasaan dalam film Avengers.
Yang menarik dalam film ini adalah ketika Kapten Amerika menyerahkan
posisinya kepada tokoh lain. Tokoh tersebut merupakan manusia berkulit berwarna
(maaf, tanpa bermaksud SARA), ini seakan mengingatkan kita pada sejarah Amerika
yang pernah dipimpin oleh Barack Obama.
Akhirnya, Meski cuma film, aku berduka karena Toni yang ditakdirkan pergi. Itu
artinya (:seharusnya) tidak akan ada lagi sequel Iron Man. Kalaupun ada, dia
harus berujung pada kematian Toni. Kita lihat saja nanti, apakah Endgame memang
benar-benar akhir dari Iron Man. [] Nai
Kamis, 18 April 2019
Dear, Diary.
Kali ini aku benar-benar hanya ingin curcol. Kau boleh memaki aku jika kali ini tulisanku termasuk unfaedah bagimu. Aku ingin mengabadikan kisah ini dengan membingkai dan memajangnya di dinding rumah mayaku ini.
----
Ini tentang seorang gadis biasa yang suka berteman dengan siapa saja. Dia berasal dari klan biasa, hanya saja suatu hari sebuah keberuntungan menimpa gadis itu. Pada sebuah dinasti yang dikuasai para Klan Sempurna, yang sebenarnya akan segera berakhir, terjadilah suatu konflik. Entah bagaimana, gadis itu tiba-tiba saja terlibat dalam konflik yang pada akhirnya membuat ia menduduki sebuah jabatan kecil dalam dinasti tersebut, yaitu sebuah kastil di tengah kota. Dalam konflik tersebut, ia bahkan harus sedikit mengalami drama dengan seorang pembesar yang selama ini baik padanya di dinasti (yang kelak justru akan membuat sang gadis menyesal seumur hidupnya).
Sebagai gadis biasa yang berasal dari klan biasa-biasa saja, gadis itu harus mem-push dirinya untuk secepat kilat menyesuaikan diri di antara para pembesar dinasti yang berasal dari klan-klan istimewa, terutama Maharatu. Para pembesar tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan bakatnya dalam membangun dinasti ke arah yang lebih baik. Sementara, si gadis harus belajar mati-matian untuk mengejar ketinggalannya. Ia bahkan belum punya jubah kerajaan karena ia belum lulus dalam ujian kerajaan. Untuk itu, ia mengenakan jubah pink sebagai tanda ia masih tahap belajar dan akan selalu berada di bawah pengawasan para mentri dan pembesar dinasti. Gadis itu harus mengerjakan proyek uji pengembangan kastil yang diamanahkan oleh Maharaja berdasar Surat Kerajaan Tinggi. Uji pengembangan kastil tersebut terdiri atas 7 standar sakti yang dikenal dengan sebutan rahasia yaitu Borang dan satu lontar kastil yang diberi nama Eva. Beruntung sang gadis bekerja sama dengan para petarung yang berasal dari Klan Sempurna di dalam kastil.
Mampukah gadis itu bertahan? Ataukah ia akan terusir dari Dinasti karena tuntutan para pemuja klan Sempurna terlalu tinggi baginya?
---
Jangan kira ini drama korea semacam The Last Empress ya, guys. Ini drama karangan aku yang terlalu terobsesi dengan drakor, wkwkwk.
Epilog:
Akulah gadis dari klan biasa itu. Untuk Maharatu dan Para Pembesar dari Klan Sempurna, terima kasih telah menerima aku apa adanya dalam Dinasti kalian. Jika aku ditakdirkan pergi lebih dulu, semoga kita bertemu kembali setelah aku reinkarnasi. [] Nai
Note: Versi Seriusnya, ini para pejabat struktural di lingkungan Jurusan Akuntansi :), Biar seru postingannya aku buat versi drakor nya ya! Hehe, maaf yaa Bu Kajur n Bapak Ibu Pejabat lainnya. Just Kidding, have fun, smile up :)
Kali ini aku benar-benar hanya ingin curcol. Kau boleh memaki aku jika kali ini tulisanku termasuk unfaedah bagimu. Aku ingin mengabadikan kisah ini dengan membingkai dan memajangnya di dinding rumah mayaku ini.
----
Ini tentang seorang gadis biasa yang suka berteman dengan siapa saja. Dia berasal dari klan biasa, hanya saja suatu hari sebuah keberuntungan menimpa gadis itu. Pada sebuah dinasti yang dikuasai para Klan Sempurna, yang sebenarnya akan segera berakhir, terjadilah suatu konflik. Entah bagaimana, gadis itu tiba-tiba saja terlibat dalam konflik yang pada akhirnya membuat ia menduduki sebuah jabatan kecil dalam dinasti tersebut, yaitu sebuah kastil di tengah kota. Dalam konflik tersebut, ia bahkan harus sedikit mengalami drama dengan seorang pembesar yang selama ini baik padanya di dinasti (yang kelak justru akan membuat sang gadis menyesal seumur hidupnya).
Sebagai gadis biasa yang berasal dari klan biasa-biasa saja, gadis itu harus mem-push dirinya untuk secepat kilat menyesuaikan diri di antara para pembesar dinasti yang berasal dari klan-klan istimewa, terutama Maharatu. Para pembesar tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuan dan bakatnya dalam membangun dinasti ke arah yang lebih baik. Sementara, si gadis harus belajar mati-matian untuk mengejar ketinggalannya. Ia bahkan belum punya jubah kerajaan karena ia belum lulus dalam ujian kerajaan. Untuk itu, ia mengenakan jubah pink sebagai tanda ia masih tahap belajar dan akan selalu berada di bawah pengawasan para mentri dan pembesar dinasti. Gadis itu harus mengerjakan proyek uji pengembangan kastil yang diamanahkan oleh Maharaja berdasar Surat Kerajaan Tinggi. Uji pengembangan kastil tersebut terdiri atas 7 standar sakti yang dikenal dengan sebutan rahasia yaitu Borang dan satu lontar kastil yang diberi nama Eva. Beruntung sang gadis bekerja sama dengan para petarung yang berasal dari Klan Sempurna di dalam kastil.
Mampukah gadis itu bertahan? Ataukah ia akan terusir dari Dinasti karena tuntutan para pemuja klan Sempurna terlalu tinggi baginya?
---
Jangan kira ini drama korea semacam The Last Empress ya, guys. Ini drama karangan aku yang terlalu terobsesi dengan drakor, wkwkwk.
Epilog:
Akulah gadis dari klan biasa itu. Untuk Maharatu dan Para Pembesar dari Klan Sempurna, terima kasih telah menerima aku apa adanya dalam Dinasti kalian. Jika aku ditakdirkan pergi lebih dulu, semoga kita bertemu kembali setelah aku reinkarnasi. [] Nai
Note: Versi Seriusnya, ini para pejabat struktural di lingkungan Jurusan Akuntansi :), Biar seru postingannya aku buat versi drakor nya ya! Hehe, maaf yaa Bu Kajur n Bapak Ibu Pejabat lainnya. Just Kidding, have fun, smile up :)
Rabu, 27 Februari 2019
Prolog
Kautahu apa itu cinta? Cinta tak punya tepi seperti pantai. Tidak ada yang bisa meramal di mana titik terakhir cinta sebagaimana tidak ada yang bisa menyebutkan di mana titik awal sebuah cinta.
Sejak pertama mengetahui ada UKM teater di kampus tempat aku bekerja, ingin rasanya aku mendaftar jadi anggotanya. Tiap lewat di depan sekre UKM bernama Teater Wasi Putih (TWP) seakan ada yang melambai-lambai memanggil.
Hanya saja aku tahu diri. Aku tidak memenuhi syarat utama untuk menjadi anggota. Yup, aku bukan mahasiswa.
Jadi...kusimpan saja keinginanku. Tahun tahun berlalu keinginan itu hanya tinggal keinginan.
Hingga hari itu tiba, 2016 (11 tahun kemudian), menjelang aku berangkat umrah. Wakil Direktur meminta aku membantu anak-anak TWP yang hendak mengikuti Festival Si Palui. Aku diminta membacai atau menilai naskah. Aku bersedia. Eh, ternyata aku ditunjuk menjadi Pembina UKM TWP. Rasanya tidak percaya. Aku hanya menyimpan mimpi untuk menjadi.anggotanya, malah jadi pembina. Saat itu, yang terjadi cukup membuatku shock hehe. Aku bukannya diminta menilai melainkan membuatkan naskah untuk penggarapan si palui. Aku merasa diospek! Haha.
1 pekanan menjelang umrah..aku malah sibuk menulis naskah. Naskah yang kutulis digarap oleh Ipul di era kepemimpinan Syarwani menuju kepemimpinan Thoyib. Kelak, aku juga terlibat dalam pemggarapan lainnya.
***
Sejak mendapat Surat Keputusan (SK) sebagai pembina TWP, aku mulai mempelajari, mengenali dan melakukan adaptasi. Aku paham dengan baik SOP untuk menjadi anggota. Mulai dari sosialisasi di hari2 OKKMB, pengisian form pendaftaran, wawancara, menuju study pentas, workshop, pemantapan, pelantikan yang biasanya dilakukan di pantai. Setelah itu, mereka berhak mendapat kartu dan nomor anggota, berhak membuat baju PDL yang menurutku keren sekali. Setelah semua proses yang tidak mudah itu mereka akan menjadi anggota selamanya...bahkan kelak setelah mereka lulus dari kampus. Mereka akan menyandang gelar DPO. Aku sering menyebutnya para senior.
Aku belajar banyak hal selama membersamai mereka. Belajar saling menghargai, belajar memaknai sebuah proses, belajar tentang sebuah kepercayaan dan kebersamaan, belajar tentang keteguhan pendirian. Aku merasa sebagai anggota keluarga di antara mereka di samping sebagai seorang dosen pembina UKM.
Akupun larut dalam kebahagiaan menjadi bagian dari TWP. Lalu suatu ketika aku seperti tetiba menyadari satu hal. Betapa sedihnya. Mereka semua abadi di dalamnya sedang aku...aku tidak abadi. Nasibku tergantung pada selembar SK. Ketika aku sudah bukan pembina mereka lagi maka ketika itulah aku tidak berhak lagi ada di situ. Aku sedih sekali ketika menyadari ini.
Aku beberapa kali menyampaikan kesedihanku ini kepada mereka.
"Dalam lingkaran ini, aku satu-satunya yang tidak abadi. Kalian semua abadi, aku tidak tapi aku akan menyimpan semua kenangan ini dalam hatiku, dalam hidupku"
Aku mengucap kalimat itu sama seperti sebelumnya selalu dengan segenap kepedihan di hati.
***
Tak terasa aku berada di situ sudah beberapa periode kepemimpinan ketum. Kuhitung dari periode akhir Syarwani, periode Thoyib, periode Ardhi hingga kini periode Syarif. Aku seperti orang sekarat yang tinggal menunggu hari kematian. Lalu aku menerima undangan pemantapan dan pelantikan calang angkatan 19. Jika biasanya aku tidak bisa ikut kali ini aku beupaya keras untuk ikut. Jika pada awalnya kehadiranku dicampuri kepentingan sebagai seorang pembina, hari itu aku berangkat lebih karena didasari perasaan sayang. Aku menyayangi mereka entah sejak kapan.
Sabtu sore, 23 Feb 2019 aku berangkat menyusul mereka yang sudah berangkat satu hari sebelumnya. Aku sendiri yang melepas mereka waktu itu.
Aku mengikuti serangkaian agenda di malam Minggu hingga hari Minggunya.
***
Dalam sesampaianku di acara api unggun, aku kembali mengatakan betapa beruntungnya mereka bisa abadi. Bisa selamanya berada dalam lingkaran keluarga TWP.
Minggu dini hari, aku berjalan menyusuri pantai sendirian. Duduk di gazebo sambil membaca puisi yang kutulis.
***
Aku diajak menonton pementasan calang. Aku diajak makan bersama mereka. Aku menjalani semuanya dengan perasaan campur aduk. Senang, bangga juga sedih. Sedih karena berpikir..akankah aku bisa selamanya bersama mereka. Ah, rasanya mustahil.
Aku menyeka air mata yang sesekali menetes di antara deru angin pantai.
***
Lalu acara puncak tiba. Aku menyaksikan dan melibatkan diri dalam momen pemantapan dan pelantikan calang. Hingga setelah mereka mengucap janji pelantikan yang sangat mengharukan, aku tersentak kaget. Ketum mengatakan ada sesuatu untukku. "Kami akan mengabulkan permintaan pian"
Aku bingung. Aku merasa tidak pernah meminta apapun.
"Permintaan apa?" Tanyaku.
"Bukan. Bukan permintaan pian. Kami yang meminta" Sahut seorang senior.
Aku bingung.
"Kami meminta pian menjadi anggota TWP seumur hidup"
Aku kaget. "Tidak. Tidak. Aku tidak berhak. Kalian semua berproses untuk menjadi anggota. Aku tidak"
"Pian selama ini sudah berproses bersama kami" Sahut senior lainnya.
Aku benar-benar tidak percaya. Sesuatu yang semula mustahil bagiku, hari ini menjadi mungkin.
"Kami ingin pian jadi keluarga kami tanpa tergantung SK" ucap salah satu senior lagi.
Aku menangis.
Ketum memberiku gelang merah yang selama ini kulihat melingkar di tangan para anggota.
"Mesan PDL segera..."celutuk yang lain.
"Ini serius?" Tanyaku masih tak percaya.
Mereka semua tersenyum. Aku melihat cinta yang tulus di mata mereka. Aku sempat berpelukan dengan beberapa anggota aktif yang perempuan. Kalau saja ketum dan para senior itu perempuan..sudah kupeluk juga mereka satu-satu. Terima kasih, terima kasih banyak.
***
Hei, pantai dan laut. Kamu percaya kan sekarang. Cinta bisa membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Aku merasa menjadi orang paling beruntung hari itu. Sekarang aku sama dengan mereka. Aku akan jadi bagian keluarga TWP. Selamanya...
Batakan, 24 Februari 2019.
Kautahu apa itu cinta? Cinta tak punya tepi seperti pantai. Tidak ada yang bisa meramal di mana titik terakhir cinta sebagaimana tidak ada yang bisa menyebutkan di mana titik awal sebuah cinta.
Sejak pertama mengetahui ada UKM teater di kampus tempat aku bekerja, ingin rasanya aku mendaftar jadi anggotanya. Tiap lewat di depan sekre UKM bernama Teater Wasi Putih (TWP) seakan ada yang melambai-lambai memanggil.
Hanya saja aku tahu diri. Aku tidak memenuhi syarat utama untuk menjadi anggota. Yup, aku bukan mahasiswa.
Jadi...kusimpan saja keinginanku. Tahun tahun berlalu keinginan itu hanya tinggal keinginan.
Hingga hari itu tiba, 2016 (11 tahun kemudian), menjelang aku berangkat umrah. Wakil Direktur meminta aku membantu anak-anak TWP yang hendak mengikuti Festival Si Palui. Aku diminta membacai atau menilai naskah. Aku bersedia. Eh, ternyata aku ditunjuk menjadi Pembina UKM TWP. Rasanya tidak percaya. Aku hanya menyimpan mimpi untuk menjadi.anggotanya, malah jadi pembina. Saat itu, yang terjadi cukup membuatku shock hehe. Aku bukannya diminta menilai melainkan membuatkan naskah untuk penggarapan si palui. Aku merasa diospek! Haha.
1 pekanan menjelang umrah..aku malah sibuk menulis naskah. Naskah yang kutulis digarap oleh Ipul di era kepemimpinan Syarwani menuju kepemimpinan Thoyib. Kelak, aku juga terlibat dalam pemggarapan lainnya.
***
Sejak mendapat Surat Keputusan (SK) sebagai pembina TWP, aku mulai mempelajari, mengenali dan melakukan adaptasi. Aku paham dengan baik SOP untuk menjadi anggota. Mulai dari sosialisasi di hari2 OKKMB, pengisian form pendaftaran, wawancara, menuju study pentas, workshop, pemantapan, pelantikan yang biasanya dilakukan di pantai. Setelah itu, mereka berhak mendapat kartu dan nomor anggota, berhak membuat baju PDL yang menurutku keren sekali. Setelah semua proses yang tidak mudah itu mereka akan menjadi anggota selamanya...bahkan kelak setelah mereka lulus dari kampus. Mereka akan menyandang gelar DPO. Aku sering menyebutnya para senior.
Aku belajar banyak hal selama membersamai mereka. Belajar saling menghargai, belajar memaknai sebuah proses, belajar tentang sebuah kepercayaan dan kebersamaan, belajar tentang keteguhan pendirian. Aku merasa sebagai anggota keluarga di antara mereka di samping sebagai seorang dosen pembina UKM.
Akupun larut dalam kebahagiaan menjadi bagian dari TWP. Lalu suatu ketika aku seperti tetiba menyadari satu hal. Betapa sedihnya. Mereka semua abadi di dalamnya sedang aku...aku tidak abadi. Nasibku tergantung pada selembar SK. Ketika aku sudah bukan pembina mereka lagi maka ketika itulah aku tidak berhak lagi ada di situ. Aku sedih sekali ketika menyadari ini.
Aku beberapa kali menyampaikan kesedihanku ini kepada mereka.
"Dalam lingkaran ini, aku satu-satunya yang tidak abadi. Kalian semua abadi, aku tidak tapi aku akan menyimpan semua kenangan ini dalam hatiku, dalam hidupku"
Aku mengucap kalimat itu sama seperti sebelumnya selalu dengan segenap kepedihan di hati.
***
Tak terasa aku berada di situ sudah beberapa periode kepemimpinan ketum. Kuhitung dari periode akhir Syarwani, periode Thoyib, periode Ardhi hingga kini periode Syarif. Aku seperti orang sekarat yang tinggal menunggu hari kematian. Lalu aku menerima undangan pemantapan dan pelantikan calang angkatan 19. Jika biasanya aku tidak bisa ikut kali ini aku beupaya keras untuk ikut. Jika pada awalnya kehadiranku dicampuri kepentingan sebagai seorang pembina, hari itu aku berangkat lebih karena didasari perasaan sayang. Aku menyayangi mereka entah sejak kapan.
Sabtu sore, 23 Feb 2019 aku berangkat menyusul mereka yang sudah berangkat satu hari sebelumnya. Aku sendiri yang melepas mereka waktu itu.
Aku mengikuti serangkaian agenda di malam Minggu hingga hari Minggunya.
***
Dalam sesampaianku di acara api unggun, aku kembali mengatakan betapa beruntungnya mereka bisa abadi. Bisa selamanya berada dalam lingkaran keluarga TWP.
Minggu dini hari, aku berjalan menyusuri pantai sendirian. Duduk di gazebo sambil membaca puisi yang kutulis.
***
Aku diajak menonton pementasan calang. Aku diajak makan bersama mereka. Aku menjalani semuanya dengan perasaan campur aduk. Senang, bangga juga sedih. Sedih karena berpikir..akankah aku bisa selamanya bersama mereka. Ah, rasanya mustahil.
Aku menyeka air mata yang sesekali menetes di antara deru angin pantai.
***
Lalu acara puncak tiba. Aku menyaksikan dan melibatkan diri dalam momen pemantapan dan pelantikan calang. Hingga setelah mereka mengucap janji pelantikan yang sangat mengharukan, aku tersentak kaget. Ketum mengatakan ada sesuatu untukku. "Kami akan mengabulkan permintaan pian"
Aku bingung. Aku merasa tidak pernah meminta apapun.
"Permintaan apa?" Tanyaku.
"Bukan. Bukan permintaan pian. Kami yang meminta" Sahut seorang senior.
Aku bingung.
"Kami meminta pian menjadi anggota TWP seumur hidup"
Aku kaget. "Tidak. Tidak. Aku tidak berhak. Kalian semua berproses untuk menjadi anggota. Aku tidak"
"Pian selama ini sudah berproses bersama kami" Sahut senior lainnya.
Aku benar-benar tidak percaya. Sesuatu yang semula mustahil bagiku, hari ini menjadi mungkin.
"Kami ingin pian jadi keluarga kami tanpa tergantung SK" ucap salah satu senior lagi.
Aku menangis.
Ketum memberiku gelang merah yang selama ini kulihat melingkar di tangan para anggota.
"Mesan PDL segera..."celutuk yang lain.
"Ini serius?" Tanyaku masih tak percaya.
Mereka semua tersenyum. Aku melihat cinta yang tulus di mata mereka. Aku sempat berpelukan dengan beberapa anggota aktif yang perempuan. Kalau saja ketum dan para senior itu perempuan..sudah kupeluk juga mereka satu-satu. Terima kasih, terima kasih banyak.
***
Hei, pantai dan laut. Kamu percaya kan sekarang. Cinta bisa membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Aku merasa menjadi orang paling beruntung hari itu. Sekarang aku sama dengan mereka. Aku akan jadi bagian keluarga TWP. Selamanya...
Batakan, 24 Februari 2019.
Minggu, 03 Februari 2019
Siang ini hari ke sekian aku tak enak hati. Salah satu caraku mengatasinya kali ini adalah dengan bereksperimen macam terjun payung tanpa parasut alias memasak tanpa buku panduan.
Di dapurku ada 3 biji telur asin mentah. Ada tomat, jagung, lombok besar hijau, ramania mentah, bawang merah.
Semua bahan kucuci. Kuiris tipis. Kutaburi garam dan gula secukupnya. Di dapurku tidak ada penyedap, tidak ada MSG, semua aman.
Setelah itu semua bahan yang sudah kuiris tipis tadi kumasukkan dalam daun pisang yang sudah diganggang atau diasap di atas api sebelum dan sesudah telur asin mentahnya dimasukkan. Daun dilipat rapat dan disemat pakai lidi, lalu dikukus dalam api sedang.
Bukan belajar namanya kalau tidak ada kesalahan alias keerorran. Hehe. Namanya juga eksperimenku...
Air dalam panci kukus kebanyakan, hehe. Pepesanku nyaris terendam. Ini kalau ketahuan mertua bisa tercemar nama baik. Wkwkwk.
Tidak lama kemudian...pepes telur asinku dah jadi..
Rasanya sih biasa saja tapi bagiku ini pencapaian luar biasa hari ini. Besok besok eksperimen apa lagi ya?
Di dapurku ada 3 biji telur asin mentah. Ada tomat, jagung, lombok besar hijau, ramania mentah, bawang merah.
Semua bahan kucuci. Kuiris tipis. Kutaburi garam dan gula secukupnya. Di dapurku tidak ada penyedap, tidak ada MSG, semua aman.
Setelah itu semua bahan yang sudah kuiris tipis tadi kumasukkan dalam daun pisang yang sudah diganggang atau diasap di atas api sebelum dan sesudah telur asin mentahnya dimasukkan. Daun dilipat rapat dan disemat pakai lidi, lalu dikukus dalam api sedang.
Bukan belajar namanya kalau tidak ada kesalahan alias keerorran. Hehe. Namanya juga eksperimenku...
Air dalam panci kukus kebanyakan, hehe. Pepesanku nyaris terendam. Ini kalau ketahuan mertua bisa tercemar nama baik. Wkwkwk.
Tidak lama kemudian...pepes telur asinku dah jadi..
Rasanya sih biasa saja tapi bagiku ini pencapaian luar biasa hari ini. Besok besok eksperimen apa lagi ya?
Senin, 28 Januari 2019
Hulu Sungai Tengah merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan
Selatn dengan ibu kota bernama Barabai. Kota Barabai dikenal sebagai kota apam
karena salah satu kuliner khasnya adalah kue apam. Kabupaten ini memiliki banyak
sekali tempat wisata alam yang dapat dikunjungi. Berikut akan kuceritakan
pengalamanku mengunjungi 3 destinasi wisata yang ada di HST.
Berawal dari keinginan mengusir penat setelah menjalani rutinitas dan
berharap menemukan inspirasi baru dalam hidup, serta sekelumit data bagian
risetku, aku menghubungi salah satu
teman baikku di HST. Aku meminta rekomendasi tempat yang dapat kukunjungi serta
menjelaskan dengan rinci tujuan alias visi misiku ke sana.
Aku berangkat ketika sore hampir menjelang. Hari itu, aku sengaja berangkat
sendiri dan memilih menggunakan angkutan umum. Kami di sini menyebutnya taksi
kol (dari kata Colt). Aku tidak mencarinya di terminal melainkan menunggu alias
menghadang di sepanjang jalan. Biasanya ada saja taksi kol yang balaurut. Balarut artinya mobil tersebut tidak
mangkal di terminal tapi mencari penumpang sambil jalan.
Perjalanan menuju Barabai dari ibu kota provinsi (Banjarmasin) memakan
waktu sekitar 4 atau 5 jam. Untuk perjalanan
ini, aku membayar Rp60.000,00. Aku tiba di Barabai ketika hari sudah malam dan
menginap di rumah temanku di Komplek Murakata Muhibbin di daerah Mandingin. Jika
kamu hendak mencari penginapan yang pas dengan kantong backpacker aku sarankan
kamu memilih hotel Bhima yang terletak di kawasan Pasar Tradisional Barabai.
Petualangan dimulai sejak pukul 08.00 waktu setempat. Dari kawasan
Mandingin, aku dan temanku memilih menggunakan transportasi motor menuju
destinasi pertama. Kami ditemani oleh remaja setempat yang tidak lain adalah
murid temanku sendiri. Seorang ABG manis dan ramah bernama Alif.
Persiapan kecil sebelum
petualangan
Karena destinasi yang aku kunjungi ini semuanya bertema sungai alias air,
perlengkapan yang wajib dibawa adalah baju ganti dan kantong plastik besar
(jika kamu rasa penting, kamu juga bisa bawa handuk). Perlengkapan lainnya
standar aja. Aku bawa apa? Ini nih bawaanku:
- Dompet
- Hp, charger, power bank
- Seperangkat baju ganti (beserta pakaian dalamnya tentu saja) dan kerudung serta kaos kaki cadangan
- Poket skincare dan make up praktis (pelembab, sun screen, bedak, lipstik)
- Minyak kayu putih
- Sedikit cemilan
Nah, semua perlengkapan itu
aku masukkan dalam kantong plastik besar baru aku masukkan dalam ransel.
Wisata Arung Jeram Nateh
Nateh merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang Alai Timur
Kabupaten HST. Perjalanan menuju Nateh sangat menyenangkan. Hujan tadi malam
menyisakan hawa sejuk di pagi hari. Pemandangan yang alami membuat mata kita
dimanjakan olehnya dan memberi rasa damai di hati. Setelah naik motor kurang
lebih 45 menit, kami sampai di destinasi pertama, yaitu wisata Arung Jeram
Nateh. Selain warung, di sini terdapat fasilitas umum seperti WC dan empat
ganti baju.
Kami datang sebagai pengunjung pertama hari itu. Setelah membayar parkir
@Rp5.000,00 kami duduk-duduk di sekitar lokasi sambil menunggu persiapan arung
jeram yang dilakukan oleh pengelola. Aku dan temanku membayar Rp150.000,00
untuk merasakan sensasi arung jeram di Nateh. Dengan uang sebesar itu kami
mendapatkan satu perahu karet beserta dayungnya tidak lupa satu orang pengelola
yang mendampingi kami selama arung jeram. Ia mendayung untuk kami. Sebelumnya, kami diantar pakai mobil
menuju rute awal arung jeram. Rompi pelampung
serta helm kami pakai sebagai bagian SOP menikmati wahana ini.
Menyenangkan sekali menyusuri sungai dengan arus yang sedang-sedang saja di
pagi hari. Sepinya suasana pagi itu membuat hati tenang. Rasanya Nateh hanya
milik kami, hehe. Kiri kanan sungai kita bisa melihat pemandangan yang sangat
alami. Pohon, gunung batu, serta sebagian ladang milik warga. Beberapa kali
kami harus merunduk ketiaka melewati pohon paring. Aku mencoba ikut mendayung. Gayaku mendayung ditertawakan oleh temanku. "Kamu membuat paman susah, dayungmu berlawanan arah dengan paman," Aku tertawa juga. Kulihat si paman tersenyum simpul. Kupikir, ia terlalu muda dipanggil paman, hehe.
Rute arung jeram berakhir di tempat kami memarkir motor tadi. Kulihat pengunjung lain mulai berdatangan. Beberapa di antaranya kami kenali sebagai para seniman yang sedang menggelar rangkaian acara #Savemeratus.
Rute arung jeram berakhir di tempat kami memarkir motor tadi. Kulihat pengunjung lain mulai berdatangan. Beberapa di antaranya kami kenali sebagai para seniman yang sedang menggelar rangkaian acara #Savemeratus.
Menutup agenda di destinasi ini, aku menikmati secangkir kopi hangat di
warung yang sudah buka pagi itu di Nateh. Rp5.000,00 untuk kehangatan kopi yang
tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sensasinya. Di perjalanan pulang, kami
sempat membeli manggis dan pempakin yang dijual oleh penduduk setempat di depan
rumahnya. Saat ini sedang musim buahJ
Riam Bajandik
Destinasi kedua adalah Riam Bajandik. Kami tidak lagi bersama Alif tapi bersama
Rezqie, sastrawan HST.
Kami ke sini setelah rehat sebentar untuk makan siang, mandi, ganti baju dan sholat dhuhur. Kali ini, kawanku memilih menggunakan mobil. Untuk masuk ke lokasi wisata yang satu ini, kami harus memarkir mobil agak jauh agar tidak terjebak macet.
Entah mengapa, saat itu pengunjung sedang banyak-banyaknya. Di kiri kanan jalan, para pedagang buah menggelar dagangannya (kedua temanku pesta durian di tepi jalan, sementara aku hanya memamdangi mereka dengan tulus, hehe. Aku tidak suka durian). Selain pedagang buah, terdapat juga pedagang mainan dan pernik-pernik lainnya. Jika kamu sedang ingin sendiri dan ingin suasana yang tenang dan damai, aku sarankan kamu putar balik.
Kami ke sini setelah rehat sebentar untuk makan siang, mandi, ganti baju dan sholat dhuhur. Kali ini, kawanku memilih menggunakan mobil. Untuk masuk ke lokasi wisata yang satu ini, kami harus memarkir mobil agak jauh agar tidak terjebak macet.
Entah mengapa, saat itu pengunjung sedang banyak-banyaknya. Di kiri kanan jalan, para pedagang buah menggelar dagangannya (kedua temanku pesta durian di tepi jalan, sementara aku hanya memamdangi mereka dengan tulus, hehe. Aku tidak suka durian). Selain pedagang buah, terdapat juga pedagang mainan dan pernik-pernik lainnya. Jika kamu sedang ingin sendiri dan ingin suasana yang tenang dan damai, aku sarankan kamu putar balik.
Untuk menikmati tempat ini, setelah memarkir kendaraan aku dan temanku
menyusuri jembatan gantung yang menghubungkan kita dengan dataran di
seberangnya. Kata temanku, kemungkinan terbesar inilah sebabnya destinasi ini
disebut Riam Bajandik. Bajandik berarti bergoyang atau berayun-ayun. Jembatan gantung
itu akan bergoyang/berayun-ayun ketika kita lewat di atasnya. Sensainya beberapa
saat akan masih kita rasakan walaupun kita sudah tidak di atas jembatan lagi.
Karena tempatnya sangat ramai, kami tidak jadi berenang di situ.
Manggasang
Dari Riam Banjadik, kami menuju Manggasang. Manggasang terletak di kawasan
Batu tunggal, Hantakan. Kita tidak perlu membayar tiket masuk, pengunjung hanya
membayar parkir. Tersedia penyewaan ban besar untuk pengunjung. Ada tempat
ganti baju dan mushola kecil di sini. Tempat ini relaif aman untuk anak-anak
asal di bawah pengawasan orang tua. Kita bisa bermain air dan berenang
sepuasnya di sini. Babatuan di dasar sungai membuat tempat ini sangat terasa
kealamiannya.
Kali ini kami menemukan destinasi yang tepat dan sesuai dengan visi misi,
haha. Pengunjungnya tidak terlalu banyak. Sungainya relatif jernih, sedikit
berarus, pemandangan juga indah. Aku melepas kaos kaki dan merendam betis di
air sungai sambil ngobrol dengan Rezqie. Sementara temanku Rahme, asyik
berendam di sungai. Kulihat pengunjung lain asyik berenang bersama keluarga. Puas
menikmati kesegaran air sungai, kami beranjak ke warung tepi Manggasang. Kami masing-masing
memesan semangkok mie instan dan dua gelas teh (hangat dan es). Jika beruntung,
di sini kita akan menemukan penjual jagung bakar. Manggasang menjadi tempat
terakhir yang kami kunjungi. Kami kembali ke rumah Rahme ketika azan maghrib
berkumandang.
Aku pulang
Aku pulang menggunakan angkutan umum lagi. Kali ini aku menghubungi sopir
taksi kol (sekali lagi, kalian yang
bukan orang Banjar jangan membayangkan ini semacam taksi blue bi*d atau
sejenisnya ya) dan minta dijepmut di rumah temanku. Aku memilih taksi kol keberangkatan paling
awal, yaitu pukul 03.00.
Pukul 02.00 sopir menelpon aku memberitahu agar aku siap-siap. Keren ya?!
Tidak lama setelah itu, aku dijemput. Di dalam mobil sudah ada satu
penumpang. Kami kemudian menjemput penumpang lain satu per satu,
Aku berusaha menahan kantuk agar tidak tertidur sepanjang jalan, ternyata
aku gagal. Aku tertidur dan terbangun ketika mobil berhenti tepat di depan
sebuah langgar. Kami semua turun untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.
Satu per satu penumpang turun. Salah satunya ada yang kami hantarkan di
bandara Syamsuddin Noor. Oiya, perjalanan Barabai – Banjarmasin merupakan
perjalanan yang melewati beberapa kabupaten lain seperti Tapin, HSS, Banjar dan
Kota Banjarbaru.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti. Ada yang mau turun lagi. Lalu sopir
bertanya padaku, “Pian turun di mana?”
“Di Banjarmasin” jawabku mantap.
“Ini sudah di Banjarmasin.” Jawab sopir.
Aku kaget. Rasanya sebentar banget perjalanan pulang. Hari masih terlalu
pagi.
Akhirnya aku turun sebelum terminal. Aku melanjutkan perjalanan menggunakan
ojek yang mangkal di tepi jalan. Di atas motor tak henti aku bersyukur bisa
pulang dengan selamat di hari Senin. Kautahu hari Senin? Ya, hari kerja! Selamat
bekerja kembali, Nai [].































