Rabu, 25 Februari 2015

Akan ke mana aku?

15.31 2 Comments
Akhir-akhir ini topik pembicaraan di rumah kami adalah "Akan ke mana Nisrina setamat SD ini?"
Ini adalah pertanyaan tersulit bagi kami. Perundingan, debat, diskusi, adu argumen telah kami lakukan. Kata Nisrina, "Yang mau sekolah kan Nisrina, bukan Mama. Jadi, terserah aku dong milih sekolah mana?"
Hm..ada benarnya juga sih. Masuk akal.
Akhirnya, inilah yang keluar dari mulutku,
"Baiklah, keputusan ada di tanganmu. Pilihan ada di hatimu. Saran Mama, pilihlah sekolah yang mendekatkanmu pada Allah dan yang mendukungmu untuk tetap bisa dengan nyaman dan aman memakai kerudung dengan sempurna." Kuberikan contoh-contoh kasus seputar hal-hal yang kutakutkan.
Diskusi ini tidak sehari dua, teman. Butuh waktu panjang.
"Begitu, yaa. Baiklah" jawab Nisrina.
Well, kesepakatan telah diraih. Semua pihak senang:)
Lihat saja nanti, Nisrina ada di sekolah mana!

Senin, 12 Januari 2015

Misteri Kerinduan Micky Hidayat

11.18 0 Comments


Misteri Kerinduan Micky Hidayat*
Esai Nailiya Nikmah JKF

Membaca sajak “Meditasi Rindu” karangan Micky Hidayat seperti menghitung bintang di langit. Kita mungkin tidak akan memperoleh angka pasti tapi kita pasti akan memperoleh keindahannya. Inilah kerinduan terindah yang menyimpan sebuah misteri dari seorang penyair nasional kelahiran Banjarmasin, 4 Mei 1959 yang namanya pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil menciptakan rekor membaca puisi selama 5,5 jam nonstop.


Meditasi Rindu
bagi ayahanda Hijaz Yamani

1
Mengingat kembali dirimu
Keterasingan dan sunyi pun menyapa
Menulisi air mata, di antara kata-kata liar buruanku
Mengaliri duka cita tak pernah terucapkan
Serombongan camar membelah laut
Kumandang takbir melayang-layang di udara
Menyusuri riwayat dunia yang tak pernah tamat kubaca
Selalu kubaca, berulang-ulang aku membacanya

2
Tiba-tiba rinduku padamu memuncak
Menjelma jadi sebuah menara kaca menjulang
Mengajari udara beterbangan
Dengan kesabaran
Mengusik angin dan cuaca
Cahaya matahari mengirimkan salam dan doa
Yang tumpah dalam kenikmatan ruang dan waktu
Dalam keheningan sempurna

3
Bayang-bayang wajahmu
Menjelma jadi rembulan dan bintang-bintang
Di hamparan sajadah kebijaksanaan
Kekhusyukan tasbih dan tahmid
Dengan kesetiaan samudera
Berkelebatan ayat-ayat
Berkilauan rahasia-rahasia
Tebing-tebing mimpi dunia
Yang diselimuti kabut
Dalam tahajud sunyi

4
Mendaki, mendaki
Mendakilah!
Meditasi, meditasi
Meditasilah!
Hingga ke puncak zikir kembara
Telah engkau reguk kehidupan fana
Dengan linangan air mata
Telah engkau enyahkan kilau-kemilau
Dan kecemasan dunia
Menuju ketenangan maha sempurna

5
Telah engkau tamatkan membaca beribu ayat
Hingga menerangi alam semesta
Telah engkau tuntaskan tafakkur dalam keheningan
Berkhalwat dalam gumaman salawat
Berharap pancaran cahaya Rasul Muhammad
Mengembara di keluasan padang mahsyar
Telah engkau kumandangkan takbir
Tak habis-habis bertakbir
Di keluasan sajadah keagungan-Nya
Hingga setiap sujud dalam rakaat demi rakaatmu
Menyentuh lantai surga

6
Sedangkan aku di sini, di puncak kerinduan ini
Beribu tahun memunguti kesepian tak terperi
Dalam ketidakberdayaan – di ruang kefanaanku
Dan menanti, akankah kau bakal datang lagi
Dengan senyum tulusmu
Kemudian pergi begitu saja, tanpa pamit dan jejak
Bersama mimpiku yang mawar
Juga rinduku tak terpuaskan

7
Sebagaimana sajak-sajak yang mengalir
Dari kawah batinku, pada setiap puncak pendakianku
Selalu saja menulisi kecemasan dunia
Menangisi luka bulan, bintang-bintang, dan matahari
Mentasbihkan kebijakan dan kebajikan
Menzikirkan kebaikan dan kebenaran
Yang pernah kau ajarkan diam-diam padaku
Seperti kediaman batu-batu

8
O, bapak, sebagaimana sajak-sajakmu
Yang kini tak bisa lagi bicara
Tetapi masih saja berulang-ulang kubaca
Senantiasa aku membacanya
Sebagaimana aku terus belajar mengeja
Dan mencari kata-kata
Sebagaimana aku terus belajar membaca
Isyarat dan gerak zaman
Sambil mengumandangkan ayat-ayat kebenaran
Dengan cahaya zikir semesta
Dan air mata doa
Mengkristal dalam jiwamu yang mawar
Bersemayam cahaya maha cahaya-Nya


Di gerbang penafsiran terhadap Meditasi Rindu, sajak ini seakan menawarkan kegamblangan pada pembaca untuk menikmatinya. Setidaknya itulah yang kita dapatkan dari frase bagi ayahanda Hijaz Yamani. Ini semacam rambu-rambu bahwa segala hal yang tertulis di Meditasi Rindu adalah ungkapan-ungkapan seorang anak terhadap ayahnya. Di rimba puisi, sebenarnya ini sesuatu yang biasa. Cukup banyak kita temukan sajak atau puisi yang ditulis seorang anak kepada ayahnya. Persoalannya menjadi tidak sederhana ketika kita memandang siapa Micky Hidayat dan siapa Hijaz Yamani. Meditasi Rindu tidak hanya bicara tentang fase bersemedinya Micky Hidayat tapi ia juga menjadi salah satu jendela kecil bagi kita untuk membaca Micky Hidayat di fase kepergian ayahnya sekaligus membaca sang maestro Hijaz Yamani serta hubungan mereka berdua.
Bait pertama dan kedua adalah tahap awal kegiatan meditasi sekaligus jendela kecil untuk membaca Micky Hidayat. 1 /Mengingat kembali dirimu/ Keterasingan dan sunyi pun menyapa/ Menulisi air mata, di antara kata-kata liar buruanku/ Mengaliri duka cita tak pernah terucapkan/…// Bait ini memperlihatkan aku lirik tengah mengingat kembali sang ayah. Artinya, hal tersebut bukan pertama kalinya dia lakukan. Seperti sebelumnya, aku dilanda rasa asing, sunyi dan sedih di tengah kesibukannya beraktivitas. Duka yang mendalam karena kepergian sang ayah bahkan membuatnya menangis namun hebatnya ia tak pernah mampu mengucapkannya. Apakah yang membuat duka cita aku lirik tak pernah terucapkan? 
Lalu, apa yang aku lirik lakukan untuk mengatasi kedukaannya tersebut? Inilah yang menjadi fokus utamanya. /…/ menyusuri riwayat dunia yang tak pernah tamat kubaca/ selalu kubaca, berulang-ulang aku membacanya//. Aku lirik melakukan pembacaan demi pembacaan. Dalam keheningannya, dalam kesadarannya akan kebesaran Allah, dengan sengaja ia ‘membaca’, merenungkan, dan memikirkan alam semesta. Inilah makna meditasi secara harfiah. Secara teori, meditasi tidak sama dengan melamun. Ia merupakan tindakan sadar karena yang melakukannya tahu dan paham akan apa yang sedang ia lakukan.
Bait kedua dan seterusnya merupakan tahap selanjutnya dalam meditasi. /Tiba-tiba rinduku padamu memuncak/ menjelma jadi sebuah menara kaca menjulang/ …/Cahaya matahari mengirimkan salam dan doa/ Yang tumpah dalam kenikmatan ruang dan waktu/ Dalam keheningan sempurna//. Puncak meditasi aku lirik adalah ketika kerinduan menjelma menjadi menara kaca yang menjulang yang disinari matahari. Obyek ‘Menara kaca yang menjulang’ menyiratkan dua hal kontras. Satu sisi, ia merupakan sesuatu yang sangat indah, agung, kemilau ketika ditimpa matahari tapi di sisi lain ia juga punya kelemahan, yaitu mudah pecah. Akhirnya, meditasi itu mengantarkan aku pada bayang-bayang wajah sang ayah. Di bait ketiga hal ini tertulis, 3/ Bayang-bayang wajahmu/ Menjelma jadi rembulan dan bintang-bintang/…. Hingga bait keempat, kenikmatan aku lirik dalam meditasinya tumpah ruah.
Diksi-diksi seperti menara kaca, bayang-bayang, matahari, rembulan, bintang-bintang, berkilauan menjadi kata kunci dalam meditasi. Sebuah artikel tentang meditasi menyebutkan bahwa salah satu tahapan meditasi adalah membayangkan sebuah objek, utamanya matahari, kemudian secara perlahan setelah terus-menerus membayangkan objek tersebut sambil merenungi-Nya, akan muncul berkas cahaya/bayangan (www.tejasurya.com/artikel-spiritual/blogs-meditasi-yoga/197-dasar-meditasi-umum-teja-surya.html). Artikel lain menyebutnya dharana atau tahap ‘memegang’ obyek dengan baik, tahap selanjutnya disebut dhyana atau tahap memasuki meditasi. Apabila kita telah dapat “memegang” obyek meditasi dengan baik, maka “saluran-saluran energi” dalam tubuh kita akan mulai terbuka dan berkembang. Inilah tahap memasuki meditasi. Pada setiap orang akan mengalami pengalaman yang berbeda-beda, ada juga yang seolah tidak mengalami hal ini tapi langsung ke tahap selanjutnya, savikalpa samadhi. Bagi yang mengalami, sensasinya bermacam-macam. Ada yang melihat cahaya biru kecil, ada yang melihat cahaya dari langit menghujam ke seluruh badan, ada yang melihat cahaya warna-warni yang indah sekali, ada yang tubuhnya merasa ringan sampai seperti terbang, ada yang merasa terangkat dari tempat duduknya, ada yang merasa tubuhnya membesar atau sebaliknya tubuhnya mengecil, dll. Ada juga yang [kadang-kadang, jarang] menerima seperti wangsit atau suruhan melalui suara yang masuk. (https://alitarimbawa.wordpress.com/2012/01/07/belajar-sendiri-meditasi-pranayama-dhyana/)
4/Mendaki, mendaki/ Mendakilah!/ Meditasi, meditasi/ Meditasilah!/ Hingga ke puncak zikir kembara/ Lima baris pertama bait keempat merupakan bait-bait yang sakral. Bait-bait yang ambigu. Bait-bait ini mengungkapkan pendakian aku lirik sekaligus pendakian sang ayah dalam pikiran aku lirik. Agaknya, inilah puncak meditasinya. Jika di bait kedua aku lirik sampai dalam keheningan sempurana, maka pada saat yang bersamaan (pada bait keempat) ia menyadari sang ayah dalam pendakiannya menuju ketenangan maha sempurna.
Lima baris terakhir pada bait keempat sampai dengan bait kelima merupakan jendela kecil untuk mengenali Hijaz Yamani. …/ Telah engkau reguk kehidupan fana/ Dengan linangan air mata/ Telah engkau enyahkan kilau-kemilau/ Dan kecemasan dunia/ Menuju ketenangan maha sempurna// 5/Telah engkau tamatkan membaca beribu ayat/ Hingga menerangi alam semesta/ …/ Hingga setiap sujud dalam rakaat demi rakaatmu/ Menyentuh lantai surga//. ‘Engkau’ dalam hal ini adalah ayahanda aku lirik yang telah berpulang. Semasa hidupnya, ia adalah orang yang sederhana, rendah hati, taat beragama, ahli ibadah, rajin mengkaji banyak hal.
Yang teristimewa, ayahanda aku lirik bukan hanya seorang yang soleh tapi juga menyolehkan orang lain. Dengan kata lain, Hijaz Yamani juga mendakwahkan nilai-nilai relijius yang ia pelajari dan yakini kepada orang lain. Hal itu dapat dilihat pada baris Telah engkau tamatkan membaca beribu ayat/ Hingga menerangi alam semesta/. Sebuah artikel yang mengupas hal ini pernah dimuat di Tabloid Serambi Ummah, 19 Desember 2001 dengan judul Hijaz Yamani: Berdakwah Lewat Puisi (terdapat dalam buku Malam Hujan). Baris-baris keistimewaan Hijaz Yamani dalam Meditasi Rindu tersebut merupakan bait-bait puncak meditasi Micky Hidayat.
Selanjutnya, pada bait keenam, ketujuh dan kedelapan, Micky sudah mengakhiri meditasinya, dengan perginya bayang-bayang sang ayah. Dengan melankolis aku lirik bertanya /…,akankah kau bakal datang lagi/ Dengan senyum tulusmu/ Kemudian pergi begitu saja, tanpa pamit dan jejak/ Bersama mimpiku yang mawar/ Juga rinduku tak terpuaskan//. Mimpi yang mawar dan rindu yang tak terpuaskan ini membuat aku lirik kembali bermeditasi. /… pada setiap puncak pendakianku/ menyiratkan meditasi rindu kerap dilakukan oleh aku lirik.
Sebagaimana sajak-sajak yang mengalir/ Dari kawah batinku…/…/ Yang pernah kau ajarkan diam-diam padaku/ Seperti kediaman batu-batu//
Inilah bait-bait sendu tentang hubungan Micky Hidayat dan Hijaz Yamani. Bukan hubungan antara seorang ayah dan anak biasa melainkan hubungan antara ayah yang penyair dan anak yang juga penyair. Ini pulalah bait kerinduan Micky yang paling misteri dalam sajak Meditasi Rindu.  Segala sajak, segala tulisan, tasbih, zikir, empati, dan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran lainnya diajarkan secara diam-diam oleh sang ayah kepada anaknya. Diam-diam yang seperti apa? Sajak ini memberi jawaban yang penuh misteri, tidak tanggung-tanggung, kediaman tersebut diumpamakan seperti kediaman batu-batu. Mengapa harus diam-diam? Apakah ini tentang seorang anak yang dilarang mengusik ruang kerja atau ruang perpustakaan ayahnya? Apakah ini tentang ‘dunia sunyi’ yang didiami para penyair? Ataukah ini tentang mengajarkan kebaikan yang cukup dilakukan tapi tak perlu diomongkan? Bagaimana dengan /…, sebagaimana sajak-sajakmu/ Yang kini tak bisa lagi bicara/, adakah diam-diam di sini bermakna tak banyak cakap antara ayah beranak itu sehingga sebenarnya sajak-sajak sang ayahlah yang mengajarinya selama ini?
Apapun itu, yang jelas, pengajaran yang seperti kediaman batu-batu itu telah berhasil mengantarkan Micky Hidayat menjadi manusia pembelajar sejati. …/Tetapi masih saja berulang-ulang kubaca/ Senantiasa aku membacanya/ Sebagaimana aku terus belajar mengeja/ Dan mencari kata-kata/ Sebagaimana aku terus belajar membaca/ Isyarat dan gerak zaman/. Dalam masa pembacaannya yang berulang-ulang terhadap sajak-sajak ayahnya, Micky Hidayat membuatkan prasasti intelektual untuk sang ayah. Desember 2012, dalam Malam Mengenang Hijaz Yamani, diluncurkan buku Malam Hujan yang dieditori oleh Micky Hidayat. Di antara sekian sajak Hijaz Yamani yang dikumpulkan itu, tentu ada alasan khusus mengapa sajak Malam Hujan yang dipilih menjadi judul buku – yang kalau disingkat menjadi MH sama dengan singkatan Micky Hidayat. Adakah ini suatu upaya meditasi lain yang dilakukan oleh Micky? 
 Sekali lagi, apapun itu, yang jelas Micky sudah melakukan hal yang akan membuat ayahnya senang. Di samping itu, inilah yang dilakukan Micky, yang akan membuat sang ayah berbahagia di kampung barunya, …/Sambil mengumandangkan ayat-ayat kebenaran/ Dengan cahaya zikir semesta/ Dan air mata doa/…. []

Referensi
  1. Hidayat, Micky. 2009. Meditasi Rindu. Jakarta: Bukupop.
  2. Yamani, Hijaz. 2012. Malam Hujan. Banjarmasin: Rumah Dokumentasi Sastra Hijaz Yamani

* Dimuat di Harian Media Kalimantan, Minggu 11 Januari 2014, Halaman Sastra

Jumat, 19 Desember 2014

Romansa Tanah Basah

03.46 2 Comments


ROMANSA TANAH BASAH

Kepada Hulu Sungaiku

berterima kasihlah pada hujan pagi ini
gemericiknya menaruh harapan
pada huruf-huruf di ujung jemari
biarkan sebaris kenangan
menyertai aku yang musafir

Sayang, engkaulah
makna yang tak habis kupahami
api yang tak bisa kupadam-padam
rindu yang tak mampu kubunuh-bunuh

di jalan sunyi tak bernama
engkau melambai-lambai
seperti tangkai mawar ditimpa hujan

akankah kaupanggil aku kekasih hujan
sedang langit sebentar lagi benderang
lalu tinggal tanah basah


Banjarmasin Utara, Juni 2013

Romansa Tanah Basah 2

03.43 0 Comments


ROMANSA TANAH BASAH 2
Puisi Nailiya Nikmah JKF

mengapa kauresahkan musim yang
tak kunjung berganti
tidakkah kaudengar
banyak nada tercipta di antara daun-daun kering
apa perlunya memaknai seluruh janji
lagunya takkan terganti

tanah ini akan terus menabur harap
pada kenangannya
di menit pertama sehabis hujan pagi-pagi

(Flamboyan, 2014)

Senin, 20 Oktober 2014

Kurikulum 2013 Itu...

14.25 0 Comments
Waktu mendengar ada kurikulum baru yang akan diterapkan di sekolah-sekolah, aku tidak terlalu "ngeh" karena toh aku bukan guru. Aku mulai "wake up" ketika tiba hari UTS di sekolah anakku. Aku kesulitan memahaminya. Kubuka buku pegangan yang dipakai di sekolahnya, aku mencari TIU dan TIK, mencari standar kompetensi dan kompetensi dasarnya, akupun mulai panik. Ternyata aku harus mempelajarinya walaupun aku bukan guru sebab anak-anakku kalau mau ulangan, belajarnya harus dengan aku. BAgaimana ini, besok anak-anakku sudah UTS dan aku belum selesai mempelajari buku berkurikulum baru. Ini salahku, harusnya aku tidak secuek ini. Apa boleh buat, aku pasrah.
Syukurlah, pulang sekolah anakku bilang UTS ditunda minggu depan. Oh, Terima kasih Tuhan. TAk henti aku mengucap tahmid. Aku semangat lagi. Aku pergi ke toko-toko buku. Kusurvei buku-buku yang berlogo kurikulum 2013. sampai aku menjatuhkan pilihan pada dua buku untuk kubeli. Inilah bekalku untuk sementara.
Besoknya, suamiku datang membawakan referensi kurikulum baru. Tebalnya minta ampun. Aku garuk-garuk kepala. Berasa jadi mahasiswa FKIP kembali:) Padahal, suer aku hanya seorang ibu yang ingin anaknya bisa lancar dan sukses ketika ulangan. Baiklah, aku akan belajar lagi. Untuk kalian, anak-anak:)

Hujan dan Kenangan Tiga Lelaki (Celotehku Tentang Buku Nun, Kota (di) Tanah Rawa

13.54 1 Comments


HUJAN DAN KENANGAN TIGA LELAKI
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Terbitnya buku Kumpulan Puisi Nun, Kota (Di) Tanah Rawa (Juni 2014) yang memuat puisi-puisi tiga lelaki asal Kalimantan, yaitu Sandi Firly, Hajriansyah dan M. Nahdiansyah Abdi menambah deretan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh para penyair asal banua.  Buku tersebut memiliki sampul yang didominasi warna kuning, warna yang erat dengan kesakralan budaya Kalimantan Selatan. Separuh buku ini berisi kata pengantar yang ditulis oleh penyair Micky Hidayat. Lumayan banyak untuk sebuah kata pengantar. Hal ini menyiratkan betapa terbitnya buku kumpulan puisi tersebut adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga oleh Micky Hidayat.
Buku tersebut pernah pula diulas oleh Sumasno Hadi dari sudut pandang filsafat yang dimuat secara bersambung di harian Media Kalimantan. Sumasno Hadi membagi-bagi pokok pembahasannya berdasarkan tiga nama penyairnya, sama seperti yang dilakukan oleh Micky Hidayat dalam pengantarnya terhadap buku ini. Pembagian seperti ini menyiratkan bahwa ketiga penyair tersebut adalah tiga pribadi yang sudah memiliki “posisi” masing-masing di mata publik sehingga agak sulit bagi pembaca untuk memandang puisi-puisi tersebut secara independen sebagai sebuah puisi (tanpa melihat siapa penulisnya). Sulit untuk membaca “Hujan Bulan November” misalnya, tanpa mengaitkannya dengan posisi Sandi sebagai seorang penulis prosa. Begitu juga dengan puisi-puisi dua penyair lainnya.
Hal tersebut sejalan dengan dengan pendapat Maman S. Mahayana yang menyebutkan bahwa memberi kebebasan seluas-luasnya kepada pembaca tidak berarti mematikan pengarang. Secara faktual, benar teks sudah terlepas dari diri pengarangnya. Tetapi secara kultural, teks itu tetap menyimpan ruh kultural pengarangnya.
Puisi merupakan genre sastra yang paling unik. Entah itu puisi lama, entah itu puisi baru (modern). Terlebih puisi modern yang tidak terikat dengan baris dan larik seperti yang terdapat pada puisi lama. Kata-kata menjadi permainan indah di tangan para penyair. Hal yang rumit bisa menjadi sederhana dalam sebuah puisi. Sebaliknya hal yang sederhana bisa menjadi ‘wah’ dalam sebuah puisi. Hujan salah satunya. Fenomena alam ini bagi sebagian orang adalah hal yang biasa namun bagi sebagian yang lain ia merupakan fenomena alam yang spesial.
Dalam kumpulan puisi NK(d)TR, hujan adalah salah satu hal yang istimewa. Setidaknya, ia menjadi istimewa karena tiap penyair menyertakan puisi tentang hujan dalam kompilasi tersebut. Baik yang menggunakannya sebagai judul puisi maupun yang menggunakannya sebagai bagian dari isi puisi. Hujan Bulan November ditulis oleh Sandi (hlm 54), Rumput bulan April; Kenangan ditulis oleh Hajri (hlm 78), UntukMu ditulis oleh M. Nahdiansyah Abdi (hlm 92). Berikut puisinya,


Hujan Bulan November
Puisi Sandi Firly

Hujan kali ini mengingatkan aku
pada basah rambutmu
tanah yang menguap sehangat pipimu
juga kopi sore hari
senyummu, selalu seperti gerimis ini,
rinai dan kupetik menjadi kembang gula

Kucari denting langkahmu pada aspal
yang mengkilap sehabis hujan
itu seperti baru saja terjadi
kaki kecilmu berlari jauh
memecahkan genangan air
di kolam hatiku

Pandangi hujan kali ini
dan rasakan deru angin rindu
yang kukirim dari lembah tersunyi
tempat yang dulu pernah kita singgahi 

November 2008


Rumput Bulan April; Kenangan
Puisi Hajriansyah

Hujan april tak semeriah kejutanmu
Daun dan kembang menari di jendelaku
Kita berdua berhadapan, tapi tak saling
berpandangan

Ya, bukankah kita telah sama lelah
Menguraikan kenangan jadi rumputan
UntukMu
Puisi M. Nahdiansyah Abdi

Hujan membekas di hatiku
penuh rasa iba dan dingin
Buru-buru puisi ini kubikin
hidup menderaku sambil membanyol

18022001

Mari kita bicara keunikan tiga puisi ini. Pertama,  ketiga puisi ini memiliki bait berurutan dari angka terbanyak hingga tersedikit yaitu, 3, 2, dan 1. Puisi Sandi 3 bait, puisi Hajri 2 bait dan puisi Nahdi 1 bait. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan “posisi” mereka di luar perpuisian. Sandi sebagai seorang novelis (yang cenderung menulis lebih banyak kata), Hajri seorang cerpenis dan Dian seorang esais.
Kedua, kecuali puisi Nahdi, puisi ini mengaitkan hujan dengan bulan tertentu. Sandi mengaitkannya dengan November sedangkan Hajri dengan April. Dalam konteks pembagian musim di Indonesia, tidak ada yang istimewa dengan hujan bulan November karena pada bulan tersebut memang musim hujan. Inilah pertanyaan awal ketika memasuki gerbang puisi hujan Sandi. Ada hal spesial apa di hujan bulan November?
Sementara Hajri memilih hujan di bulan April sebagai baris pertama puisinya. /Hujan april tak semeriah kejutanmu/…. Pemilihan lirik tersebut sebagai baris awal puisi ini mengundang tanya di benak pembaca. Haruskah hujan April meriah? Meriah apa yang dimaksud oleh penyair? Bulan April termasuk bulan yang bukan musim hujan di Indonesia. Artinya, memang hujan di bulan ini adalah sesuatu yang jarang terjadi. Lalu ada apa dengan kejutan di bulan April? Mungkinkah yang dimaksud penyair adalah kejutan semacam April Mop? Jika ya, maka hujan tersebut memang sangat tidak seru.
Berbeda dengan Sandi dan Hajri, Nahdi tidak menyebutkan secara tersurat hujan di bulan apa yang sedang ia tuliskan dalam puisinya. Akan tetapi, pembaca masih dapat menafsirkan dari catatan kecil di bawah puisi. Berdasarkan catatan kecil tersebut dapat diketahui puisi ini ditulis pada 18 Februari. 4 hari setelah orang-orang merayakan hari kasih sayang. Hari yang didominasi warna pink dan bentuk-bentuk hati. Hanya saja, sama dengan April Mop, hari yang satu inipun bukan budaya yang melekat pada Hajri dan Nahdi sebagai masyarakat Kalimantan Selatan yang kental nilai-nilai islaminya. Barangkali inilah pengaruh interaksi keduanya dengan budaya-budaya luar.
Ketiga,  puisi-puisi tersebut bicara tentang penyikapan mereka (para lelaki) terhadap kenangan dan hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi. Hal ini dapat ditelusuri dari pembacaan ketiganya.
Benarkah hujan di bulan November tidak istimewa?
/Hujan kali ini mengingatkan aku pada basah rambutmu/…. Demikian tulis Sandi. Inilah jawaban pertama tentang istimewanya hujan bulan November. Begitu banyak kenangan aku lirik yang terjadi ketika hujan. November kerap disambangi hujan. Alangkah perih yang dirasakan aku lirik karena pada bulan itu ia kerap pula disambangi kenangan tentang seseorang yang sekarang sudah tidak lagi bersamanya. Begitu lekat kenangan yang ia miliki sehingga seakan-akan semua itu baru saja terjadi.
Hujan membangkitkan kenangan dan kenangan yang pertama kali diingat aku lirik adalah fisik orang yang dirinduinya dalam hal ini rambut. Berturut-turut kemudian pipi, bibir (yang diungkapkan dengan ‘senyum’) dan kaki. Ini mengingatkan kita pada pandangan bahwa laki-laki lebih banyak menilai perempuan dari fisiknya.
…//Pandangi hujan kali ini/ dan rasakan deru angin rindu /yang kukirim dari lembah tersunyi/. Kutipan ini memperlihatkan bahwa aku lirik mencoba berkomunikasi kembali dengan seseorang yang dirindukannya. Ia berharap kesunyian yang ia rasakan juga dapat dirasakan oleh seseorang itu. Sandi berupaya membangun monumen kenangan. Kenangan yang tidak bisa dilupakan, kenangan yang menurut aku lirik harus juga dipahat oleh seseorang yang sudah berlari jauh.
Pandangan Hajri jauh berbeda tentang kenangan dalam puisi Rumput bulan April; Kenangan. Keadaan yang datar, monoton, menjadi sesuatu yang ingin disampaikan dalam puisi ini. //Ya, bukankah kita telah sama lelah/ Menguraikan kenangan jadi rumputan//. Baris terakhir puisi Hajri memperjelas situasi. Jika Sandi sangat asyik dengan kenangannya, Hajri justru merasa lelah dalam kenangan. Hajri menyampaikan kejujurannya tentang yang ia rasakan. Ia berharap sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan.
…//Daun dan kembang menari di jendelaku/…. Hujan yang jatuh menimpa tetanaman membuat daun dan kembangnya terlihat seperti menari. Daun dan kembang selalu berpasangan. Puisi ini bicara tentang ‘keharusan’ berpasangan. Bahwa sebuah hubungan harus tetap dipertahankan, seburuk apapun keadaannya. Tidak sedikit pasangan yang mengalami hal seperti ini.
 …/Kita berdua berhadapan, tapi tak saling/ berpandangan//. Dalam teori komunikasi, kontak mata merupakan hal yang penting untuk tercapainya komunikasi yang efektif. Bahkan, kontak mata juga menjadi indikasi kejujuran karena salah satu ciri orang berbohong adalah menghindari kontak mata dengan lawan bicara. Kutipan tersebut menyiratkan tentang pasangan yang bersama tapi dalam kebersamaannya tidak terjalin komunikasi yang efektif. Bisa jadi karena masing-masing menyimpan kebohongan. Ini adalah tentang harapan untuk bisa memaknai kembali arti kebersamaan. Sebab apalah artinya bersama tanpa komunikasi yang baik.
Nahdi memiliki pula kenangan dalam hujan. Ia begitu hemat dengan 1 bait untuk bicara kenangan dan hujan. /Hujan membekas di hatiku/, /penuh rasa iba dan dingin/, /Buru-buru puisi ini kubikin/, /hidup menderaku sambil membanyol.
Bagi Nahdi, hujan membekas di hatinya. Hujan yang membekas dalam hati adalah kenangan. Aku lirikpun menjadi melankolis, penuh rasa iba dan dingin. Perasaan-perasaan sendu, haru-biru yang oleh orang zaman sekarang disebut ‘galau’ dialami aku lirik. Akan tetapi, berbeda dengan Sandi dan Hajri, entah mengapa, Nahdi tampak ‘jual mahal’. Ia seperti merasa perlu buru-buru mengalihkan kesenduannya. Nahdi seakan-akan mencoba menyampaikan aku tidak cengeng seperti yang kaukira. Aku bisa cepat melupakanmu. Ini terlihat dari kata ‘buru-buru’. Sayang sekali, Nahdi gagal menunjukkan ‘kekuatannya’. Pengalihan yang ia lakukan justru makin memperjelas betapa ia masih merasakan kesenduan itu. … /Buru-buru puisi ini kubikin/…. Nahdi menuliskan kenangannya menjadi puisi. Tidakkah menuliskan kenangan menjadi puisi adalah mengabadikan kenangan itu sendiri? Bisa jadi, Nahdi sengaja menipu pembaca. Bisa jadi pula, Nahdi yang tertipu oleh kenangannya sendiri. Deraan hidup yang dijalani Nahdi, baik suka maupun duka, baik serius maupun lelucon, semuanya sejatinya takkan mampu membuat Nahdi menghapus hujan(:kenangan) dalam hatinya.  
Satu hal yang menjadi misteri dalam puisi ini (jika ini bukan kesalahan teknis) adalah penggunaan huruf m besar pada judul UntukMu. Apakah Mu di sini dimaksudkan Nahdi merujuk pada Tuhan karena menurut ejaan yang benar, UntukMu yang merujuk pada Tuhan seharusnya ditulis Untuk-Mu. Seandainya Mu di sini dimaksudkan sebagai Tuhan, maka inilah bentuk komunikasi Nahdi pada penciptanya. Inilah pengaduan singkat Nahdi kepada Tuhannya, bahwa ia makhluk yang lemah. Yang salah satu kelemahannya itu muncul ketika  menghadapi ‘kenangan’.[] Menanti hujan di Flamboyan, Oktober 2014


*Dimuat di Media Kalimantan, 19 Oktober 2014


Senin, 13 Oktober 2014

5 Tahun Si Kembar

14.12 0 Comments


5 Tahun Menjadi Mamanya Si Kembar
Oleh Nailiya Nikmah JKF

Hari ini, 13 Oktober 2014 si kembar genap berusia 5 tahun. Itu artinya sudah 5 tahun 9 bulan aku diamanahii-Nya menjaga sepasang anak laki-laki yang istimewa. Aku menyebutnya istimewa karena memiliki bayi kembar semula dalam pikiranku adalah hal yang sangat jauh dari kemungkinan akan kualami (mustahil). Sungguh aku harus menambah keyakinanku tentang tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Allah berkehendak.
Lebih dari 5 tahun yang lalu, ketika anak pertamaku berusia 5 tahun dan anak keduaku berusia 4 tahun, aku merasa hidupku sudah lengkap. Anak pertama perempuan yang cantik, anak kedua laki-laki yang ganteng. Mereka sudah pula kusekolahkan di sebuah TK yang menurutku cukup bagus masih di kawasan kecamatan kami tinggal. Aku tiap hari berangkat kerja, begitu juga suamiku. Aku rutin menulis, mengikuti organisasi, semua terasa sudah berada pada level “aman” setelah tahun-tahun sebelumnya aku harus menghadapi berbagai rintangan rumah tangga yang tidak mudah.
Maka, ketika ada yang menawari kami untuk membeli tanah di sebuah kawasan prospektif, aku pikir tidak ada salahnya kami mencobanya. Hitung-hitung sebagai simpanan. Tempatnya di luar kota, dekat dengan bandara. Pemandangannya cukup bagus. Pada hari yang ditentukan, kami mendatangi lokasinya. Aku masih ingat, hari itu aku dan suami naik motor, membawa kedua anak kami. Hitung-hitung rekreasi. Banyak ilalang di sana. Mengingatkanku pada rencanaku membukukan kumpulan cerpen RRI (kelak, akhirnya RRI terbit).
Di perjalanan pulang, entah kenapa kami merasa sangat haus dan lapar. Kami mampir di warung pinggir jalan masih kawasan tanah yang kami beli. Penduduk setempat ramah-ramah. Aku mserasa berada di Hulu Sungai. Gorengan dan minuman yang dijual juga mengingatkanku pada masa kecilku di Hulu Sungai. Ada minuman panta tapi bukan Fanta yang seperti sekarang lhoo.
Pulang dari sana aku selalu ingin mencari makanan yang (kadang) aneh. Gorengan ala Hulu Sungai, Panta ala masa kecilku, dan sore itu tiba-tiba saja aku pengen makan buah ketapi pake kecap lombok. Kata suamiku sekarang lagi tidak musim ketapi. Pas ia pulang kampung, ia berhasil mendapatkan buah ketapi yang masih kecut dan aku memakannya dengan lahap pake kecap lombok. Aku juga mengeluhkan badanku yang masih saja pegal-pegal habis pulang dari lokasi tanah yang kami beli. Kupikir karena jaraknya yang lumayan jauh untuk kami tempuh pakai motor. Aku juga merasa kulitku jadi kusam gara-gara terpapar matahari hari itu. Akupun membeli suplemen kulit yang mengandung Vitamin E. Anehnya setelah mengonsumsinya aku merasa sangat mual. Akupun menghentikannya. Akupun ingat, biasanya kalau mual dan pegal seperti ini tanda aku mau datang tamu bulanan. Lalu aku mencoba minum ramuan pegel linu kemasan yang dijual di mini market dekat rumahku. Aku juga berpikir, dengan minum ramuan itu, mungkin haidku bisa cepat keluar agar pegelku juga berakhir. Sayangnya tidak berhasil juga.
Lama-lama suamiku curiga. Ia mulai menghitung sudah berapa lama aku telat. Ia mencoba menghubung-hubungkan keinginan-keinginan anehku terhadap makananan dan minuman akhir-akhir ini terutama ketapi pake kecap lombok. Ia menyuruhku membeli alat tes kehamilan. Jangan mengada-ada, bantahku. Aku tidak hamil, kok. Cuma lagi mau dapet haid aja. Tapi aku tetap membelinya untuk menyenangkan hati suamiku.
Subuhnya, masih setengah ngantuk, aku mencoba alat tersebut pada urine yang kutampung di wadah kecil. Mataku langsung melek melihat dua garis merah yang begitu cepat muncul di alat mungil itu. Aku hamil?!? Anak ketiga?
Besoknya aku memborong susu Ibu Hamil. Mulai membuka-buka lagi buku-buku kehamilan. Lalu menyampaikan berita ini kepada keluarga besar. Semua senang. Aku teringat tahun-tahun tersebut harusnya aku sudah mengurus kepangkatan fungsionalku ke 3C. Setahuku persiapannya tidak semudah waktu fungsional 3A. Aku mengelus perutku dan aku menjadi pening. Aku memandangi motor butut suamiku. Aku menghibur hatiku, pasti akan tambah seru naik motor bersama tiga anak.
Di bulan keempat kehamilanku, aku masih beraktivitas seperti biasa. Toh ini kehamilan ketiga, aku sudah pegalaman dua kali hamil. Semua lancar dan aman saja. Kupikir untuk anak ketiga ini aku tidak perlu tiap bulan ke dokter spesialis kandungan. Periksa di bidan puskesmas saja cukup. Hitung-hitung berhemat. Aku juga sempat iseng mikir. Anak pertama sudah perempuan, anak kedua sudah laki-laki. Artinya aku sudah tahu akan menghadapi anak yang ketiga ini seperti apa. Sudah pengalaman, gitu loh.
Pagi naas itu, aku dibonceng suami. Kami ada keperluan keluar rumah. Entah kenapa motor yang dikendarainya terpeleset, kami jatuh di perempatan jalan. Ia panik menanyaiku berkali-kali apakah aku baik-baik saja. Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Besoknya, ada flek darah di celana dalamku. Kamipun khawatir. Malamnya aku ke dokter kandungan. Rupanya doketr tersebut masih ingat denganku. Ia terperanjat karena aku hamil lagi (:2 kali melahirkan, aku selalu bermasalah). Waktu kubilang ada flek, dokternya agak cemas. Ia pun melakukan USG.
“Lho, lho…kok, jantungnya ada dua ya?” gumamnya. Aku bingung. Apa maksudnya jantung ada dua. Apakah bayiku mengalami pembelahan jantung gara-gara aku jatuh. Ataukah bayiku ada kelainan jantung?
“Coba ibu dan bapak lihat, itu yang berdenyut-denyut, ada dua, nah..itu..itu jantungnya..” katanya sambil menunjuk layar. Aku tidak terlalu jelas melihatnya.
“Bayi ibu kembar” sambungnya.
Kembar? Aku diamanahi bayi kembar???
“Ibu sebaiknya rutin USG,…”
Aku tidak menyimak lagi. Aku hanya sedang mikir, ada maksud apa Tuhan kali ini? Bahagia, senang, cemas, takut, semua bercampur aduk. Anak kembar! Aku akan punya anak kembar, bukankah itu istimewa? Tapi itu artinya aku harus belajar lagi. Dimulai dari buku menyususi anak kembar, merawat anak kembar, memberi nama anak kembar, membeli perlengkapan bayi kembar, bagaimana anak kembar sekolah, psikologi anak kembar, oooh banyak sekali yang harus kupelajari. Bagaimana urusan kantorku?
Dan, sejak insiden berdarah itu, aku tidak boleh naik motor sendiri lagi. Akupun menjadi tergantung dengan suami. Sungguh menyebalkan menggantungkan diri dengan orang lain. Pulang kerja nunggu suami dulu padahal pinggang dah capek berat. Aku mulai blues gitu. Kalau makan, porsinya dua kali lipat ibu hamil biasa. Makan bakso semangkok gak berasa. Makan bingka sebijian sendiri aja. Makan anggur 1 kilo belum puas. Sebentar-sebentar aku lapar. Berat badanku naik drastis. Anehnya waktu USG bulan-bulan berikutnya dokter bilang anakku beratnya masih kurang. Mungkin nanti akan diinkubator setelah lahir. Kelahirannya sendiri, menurut dokter bisa saja normal karena posisinya bagus saja keduanya. Akupun tidak ingin cesar. Aku paling takut cesar.
Tibalah hari itu, ketika ciri atau tanda melahirkan sudah nampak. Kami pergi ke rumah sakit. Sampai bukaan lengkap sikembar tidak ada yang mau keluar duluan. Rasa sakit luar biasa sudah menjalariku. Akhirnya diputuskan untuk cesar. Aku takut tapi rasa sakit mengalahkan rasa takutku. Aku ingin bayi-bayiku segera keluar dengan selamat. Suami dan orang tuaku panik karena kami tidak menyiapkan untuk cesar. Mencari tapih bahalai saja baru hari itu. Aku tidak ingat apa-apa lagi, terakhir yang kulihat para perawat dan dokter yang menyiapkan operasiku.
Aku menggigil kedinginan. Ketika kubuka mata aku sudah di ruangan rawat inap. Keluargaku ramai, semua hepi terhadap kelahiran bayi kembarku. Aku pikir, tidak ada yang peduli dengan rasa sakit yang kualami. Oh, rupanya baby blues mulai menjangkitiku. Aku berusha duduk tapi semua berputar-putar. Akupun diperiksa. Tes hb, tensi. Ternyata hb ku sangat rendah. Tensiku juga. Menurut dokter aku harus tambah darah, 4 kantong. Aku takut. Seumur hidup aku belum pernah transfusi darah. Pihak keluarga segera mencarikan donor darah yang cocok denganku. Aku mendapat donor darah dari 4 orang yang berbeda. 3 orang masih keluarga dekat ibu, 1 orang teman ayahku. Semuanya laki-laki.
Bayi-bayiku alhamdulillah normal dan sehat, laki-laki keduanya dengan berat masing-masing 3kg dan 2,6kg. Kembar identik, satu tembuni saja. Pantas agak susah keluar normal. Tidak ada yang perlu masuk inkubator. Tidak ada yang akan tertinggal di rumah sakit, justru akulah yang masih harus menjalani perawatan.
Menyusui bayi kembar sekaligus ternyata hanya gampang dibaca di buku tapi tidak gampang untuk dijalani. Apalagi ditambah suara-suara sumbang di sekitar kita yang akan menyurutkan langkah. Aku bersyukur ada adikku yang selalu memotivasiku tentang ASI. Ah, memberi ASI adalah perjuangan yang paling berat bagi seorang ibu setelah melahirkan. Bahkan mungkin lebih berat daripada proses melahirkannya itu sendiri. Apalagi bagiku yang selalu jatuh sakit setelah melahirkan. Apalagi setelah aku masuk kerja kembali.
Banyak hal yang sudah kami jalani selama 5 tahunan ini. Banyak cerita sebenarnya. Mungkin cukup dulu untuk kali ini. Yang pasti, jika ada yang bertanya padaku, “Sudah punya anak?”, waktu kujawab ya dan ada 4, rata-rata mereka tidak percaya. Badan kecil gini anaknya 4? Hehe.
Selamat ulang tahun yang ke 5 anak-anakku, semoga jadi anak yang soleh, kuat, sehat, disayang Allah, calon penghuni surga, berguna bagi umat. Amiin… Terima kasih, Tuhan, telah memberiku kepercayaan sampai detik ini. Insha Allah aku akan terus belajar menjadi ibu yang baik, mengantarkan anak-anakku ke gerbang kesuksesan mereka, dunia akhirat.